Sederhana saja, saya tadi tiba-tiba terpikir.
Kalau saya mau, saya bisa saja cerita apa yang terjadi hari ini, PPSMB Palapa UGM, ospek univ yang cuman sehari doang, nyeritain apa aja yang terjadi dari pagi tadi sampe penutupan acara Meski belum semenegangkan ospek fakultas yang tugasnya aja --" . Ya,,kalau saya mau..
Saya mau, tapi hati saya belum sepenuhnya mau menceritakannya. Saya bisa saja memaksakan diri menulisnya. Tapi, bagi saya hanya akan jadi curhat semata, tanpa nyawa. Bagi saya tulisan yang bernyawa itu yang diperintah dari hati, entah tiba-tiba hati berkata ingin menulis tentang ini, ah... atau membatin perlahan merangkai kata.
Dan tuluisan dengan nyawa, selalu dikerjakan dengan penuh semangat, dan perasaan yang lebih tercurah.
Singkatnya saja, ambil saja contohnya diary. Ngerti kan maksudnya. Bagi orang-orang yang suka nulis diary, pasti lebih ekspresif dan terasa "sepenuhnya" kalau ditulis pas emang lagi pengen. Beda sama tulisan yang udah niat pengen ditulis, tapi ngga sempet-sempet (atau seringnya kitanya aja yang nggak nyempetin, hehehe :P), pas nanti tiba-tiba inget terus mau nulis *biar ampe nanti tetep inget #halah* pasti feelnya nggak 100% deh..
Ya, malam ini, inilah tulisan saya yang dari hati. Tiba-tiba tadi saya terinspirasi buat nulis ini. Padahal sekali lagi, kalo mau saya bisa aja cerita tentang ospek univ tadi, sekalian sama foto kelompok saya pajang juga bisa.
Tapi sayangnya saya belum pengen.
Ya, jadi malem ini.
Inilah tulisan bernyawa (milik) saya .
Kamis, 30 Agustus 2012
Rabu, 29 Agustus 2012
Quotes#1
kalo ga keliatan, ya udah saya gedein, hehe :p
Semangat kuliah yaa temen-temenku semuaa ! *meski masih ospek T^T
nb : saya gatau ini quote keberapa, mulai sekarang saya hitung yang kesatulah,,,hehe:D
Mbak, Maaf, Mau Jamaah? | Budaya Jamaah Disekitar Kita...
Sebenernya harus ngerjin tugas, tapi kalo didundur-undur nulis itu nanti kehilangan feelnya, sekarang aja menurut saya telat banget. Uh, kalo bisa ya ditulis tadi langsung ba'da shalat Zuhur, mungkin saya bakal lebih menjiwai segenap jiwa raga *apasih.
Saya mau menulis tentang...shalat berjamaah.
Kalau ditanya kelebihan, jujur saja ilmu saya juga belum bisa menerangkan berbagai keutamaan dari shalat berjamaah. Tentu saja yang umum diketahui adalah shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian. Selain itu apa masih ada lagi? Tentu. Jika mau lihat berbagai keutamaan bisa silakan googling atau salah satunya bisa klik di sini. Mungkin di sini saya tidak akan membahas panjang lebar masalah keutamaan. Seperti yang tadi dibilang, saya mungkin belum punya banyak ilmu mengenai itu, dan tentu di banyak situs juga telah dimuat. Saya hanya ingin berbagi pengalaman.
Pendidikan formal saya setingkat SMP dan SMA dihabiskan di sekolah berasrama. Meski berbeda (sekolah waktu SMP dan SMA), di sana, kami para siswa selalu dibiasakan untuk shalat berjamaah. Sekalipun masbuq. Di IGBS Darul Marhamah, MTs saya, kalau masbuq imamnya selalu nyaris wanita, karena sekolah kami memang khusus wanita. Sementara di MAN Insan Cendekia, jikalau masbuq pun, jamaah putri selalu berusaha mencari jamaah baru dari putra--kemudian makmum, ataupun menunggu sejenak sampai ada jamaah baru yang diimami anak putra (karena di IC memang ada siswa dan siswi). Sekalipun shalat zuhur putri selepas shalat jumat, pasti ada saja jamaah yang dibentuk--sekalipun ada juga segelintir siswi yang memilih shalat sendiri.
Di rumah, Ummi dan Abi juga membiasakan untuk bisa selalu shalat berjamaah. Abi pun kadang bilang masalah menjaga shalat agar bisa selalu berjamaah. Kalau kadang Ummi atau Abi pulang telat, nyaris selalu sms meminta menunggu shalat sampai Ummi atau Abi pulang--atau shalat dijadikan dua kloter, tapi tetap berjamaah. Dan saya pun terbiasa, apalagi belakangan ini setelah lulus SMA saya liburan panjang di rumah, jadi kebiasaan ini makin terasa. Mungkin saking terbiasanya saya pernah merasa heran sekali ketika main ke rumah saudara, di sana mereka shalat sendiri-sendiri. Jika jamaah pun hanya ayah-ibunya, anak-anaknya sendiri, tidak memilih berjamaah. Sebenarnya saya sedikit sedih saat itu. Rupanya budaya jamaah juga bergantung pada penanaman di keluarga--selain di sekolah.
Dan kemudian, Senin Maghrib ketika shalat di masjid kampus, saya termasuk generasi masbuq. Sudah telat juga ke masjidnya, jaraknya lumayan, toilet dan tempat wudhunya sangat ramai. Ya, lagi rame-ramenya maba pada ngurusin ospek sih, belum kakak2 panitianya juga. Kemudian saat hendak memulai shalat maghrib, di antara kami berenam (empat teman sekelompok, saya, dan satu kakak pemandu) hanya saya dan kakak pemandu yang jamaah. Entah karena memang udah ada yang duluan ke tempat shalat atau gimanalah. Masjid kampus rameeee banget maghrib itu. Namun saya pun miris. Saya tidak melihat adanya jamaah-jamaah seperti yang biasanya ada di masjid DM ataupun IC. Entah bagaimana, saya kangen~ Kemudian saya berpikir, Oh, mungkin pada gengsi ya ngajak shalat bareng. Karena kebanyakan juga pasti orang-orang baru...
Bicara soal gengsi, saya teringat waktu mampir di mushala untuk shalat maghrib di perjalanan mudik. Karena waktu itu lagi nunggu Ummi dateng dari tempat wudhu dan jagain Fatih di pojokan ushala, aku tersentuh sekali mendengar seorang Bapak dari shaf pria mengajak bapak-bapak yang lainnya untuk shalat berjamaah. Saya tidak tahu kenapa, tapi yang jelas saat itu saya tersentuh sekali rasanya.
"Pak, mau shalat maghrib Pak? Ayo jamaah saja, Pak." selang bentar, beliau udah ngajak bapak-bapak yang lain lagi "Bapak mau shalat maghrib? Ayo Pak, bareng-bareng saja, jangan shalat sendiri..."
Dan saya tidak tahu kalau hari ini saya juga akan mengalami hal yang sama.
Zhuhur ini saya juga telat. Ngga bisa ikut jamaah pertama masjid. Ngerjain tugas kelompok di tempat yang ngga terlalu deket sama masjid kampus. Udah gitu belum tau juga tempat shalat yang deket di fakultas apa gitu di sekitar situ. Akhirnya saya memilih meminjam sepeda kampus menuju masjid kampus.
Sama halnya dengan Maghrib selanjutnya. Masjid ramai sekali. Selain hari itu ada wisuda, tampaknya kumpul maba psikologi juga di halaman sekitar masjid kampus. Jadilah masjid ramai betul. Saya sendiri ke masjid, sendiri naik tangga menuju lantai dua--tempat shalat jamaah putri.
Saya menaruh tas perlahan, memandangi sekitar, mendesah pelan. Masjid kampus seperkiraan saya luasnya mungkin 4x masjid IC, besar sekali. Bedanya dengan IC, karena jamaah putri di atas, biar masbuq pun, sulit sekali untuk menjadi makmum dari jamaah masbuq putra--tidak seperti di IC. Dan di masjid sebesar ini, orang shalat menyebar.
Ah, tiba-tiba saya kangeeen sekali dengan shalat berjaamaah di sekolah dulu. Kemudian saya berfikir, bagaimana caranya agar bisa shalat berjamaah?--apalagi saya datang sendiri, tidak bawa teman yang bisa diajak shalat jamaah.
Kemudian saya ingat bapak-bapak di mushala yang tadi saya ceritakan, yang saya mampir di perjalanan mudik. Saya yang harus mengajak, begitu pikir saya. Kemudian saya melihat seseorang yang sedang hendak memakai mukena, tapi tampaknya sedang dapat telepon namun suaranya tidak jelas. Saya memutuskan menunggu untuk mengajaknya. Sampai akhirnya ketika beliau (mungkin) menyerah pada keadaan telepon, saya mendekatinya dari samping kanan. Bertanya pelan,"Mbak, maaf, mau jamaah?"
Si mbak menoleh, kemudian...mengangguk. Alhamdulillah, batin saya. Namun saat itu rasa haru saya sungguh luar biasa.
Si Mbak yang tadi saya sapa itu kemudian menjadi imam. Lagipula, kelihatannya beliau pun kakak senior, sudah mahasiswa. Dan saya pun tidak mengerti kenapa, tepat di rakaat pertama,tak lama setelah takbir, air mata saya menetes. Saya menangis. Entah, mungkin saya terharu dengan shalat berjamaah kali itu. Atau tiba-tiba kangen luar biasa pada sekolah saya dulu. Atau mungkin juga kangen shalat berjamaah di rumah. Saya tidak tahu persisnya. Tapi jelas saya sungguh terharu karena saya menangis cukup lama dalam shalat itu, tidak hanya pada rakaat pertama. Bahkan pada rakaat terakhir, air mata saya masih enggenang di pelupuk mata. Mungkin akan jatuh jika tidak saya usap.
Saya mungkin berpikir tiba-tiba saya menjadi minoritas. Kemudian saya jadi rindu di mana hal shalat berjamaah ini menjadi hal yang sering sekali kami lakukan dulu ketika di bangku sekolah dan di rumah. Entahlah, mungkin ini berlebihan, dan kalian boleh saja enilainya begitu. Saya mungkin merasa begitu karena yang lain saat itu tidak melakukannya--jika ada pun sungguh sedikit sekali. Karena terbiasa, maka janggal bagi saya ketika tidak dilakukan, apalagi sesungguhnya kondisinya memungkinkan. Bukan karena kitalah yang masbuq sendirian.
Ternyata, masih minim ya penanaman rasa terbiasa/budaya untuk shalat berjamaah di masyarakat. Padahal keutamaannya--saya yakin sekali--pasti banyak. Semoga saja kita bisa turut membudayakannya ya :)
Semoga ilmu-amal-dakwah-sabar itu bisa terus menjadi hal-hal konsisten yang kita lakukan, ya. Amiiin :)
Wallahu a'lam bish shawab.
Saya mau menulis tentang...shalat berjamaah.
Kalau ditanya kelebihan, jujur saja ilmu saya juga belum bisa menerangkan berbagai keutamaan dari shalat berjamaah. Tentu saja yang umum diketahui adalah shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh derajat dari pada shalat sendirian. Selain itu apa masih ada lagi? Tentu. Jika mau lihat berbagai keutamaan bisa silakan googling atau salah satunya bisa klik di sini. Mungkin di sini saya tidak akan membahas panjang lebar masalah keutamaan. Seperti yang tadi dibilang, saya mungkin belum punya banyak ilmu mengenai itu, dan tentu di banyak situs juga telah dimuat. Saya hanya ingin berbagi pengalaman.
Pendidikan formal saya setingkat SMP dan SMA dihabiskan di sekolah berasrama. Meski berbeda (sekolah waktu SMP dan SMA), di sana, kami para siswa selalu dibiasakan untuk shalat berjamaah. Sekalipun masbuq. Di IGBS Darul Marhamah, MTs saya, kalau masbuq imamnya selalu nyaris wanita, karena sekolah kami memang khusus wanita. Sementara di MAN Insan Cendekia, jikalau masbuq pun, jamaah putri selalu berusaha mencari jamaah baru dari putra--kemudian makmum, ataupun menunggu sejenak sampai ada jamaah baru yang diimami anak putra (karena di IC memang ada siswa dan siswi). Sekalipun shalat zuhur putri selepas shalat jumat, pasti ada saja jamaah yang dibentuk--sekalipun ada juga segelintir siswi yang memilih shalat sendiri.
Di rumah, Ummi dan Abi juga membiasakan untuk bisa selalu shalat berjamaah. Abi pun kadang bilang masalah menjaga shalat agar bisa selalu berjamaah. Kalau kadang Ummi atau Abi pulang telat, nyaris selalu sms meminta menunggu shalat sampai Ummi atau Abi pulang--atau shalat dijadikan dua kloter, tapi tetap berjamaah. Dan saya pun terbiasa, apalagi belakangan ini setelah lulus SMA saya liburan panjang di rumah, jadi kebiasaan ini makin terasa. Mungkin saking terbiasanya saya pernah merasa heran sekali ketika main ke rumah saudara, di sana mereka shalat sendiri-sendiri. Jika jamaah pun hanya ayah-ibunya, anak-anaknya sendiri, tidak memilih berjamaah. Sebenarnya saya sedikit sedih saat itu. Rupanya budaya jamaah juga bergantung pada penanaman di keluarga--selain di sekolah.
Dan kemudian, Senin Maghrib ketika shalat di masjid kampus, saya termasuk generasi masbuq. Sudah telat juga ke masjidnya, jaraknya lumayan, toilet dan tempat wudhunya sangat ramai. Ya, lagi rame-ramenya maba pada ngurusin ospek sih, belum kakak2 panitianya juga. Kemudian saat hendak memulai shalat maghrib, di antara kami berenam (empat teman sekelompok, saya, dan satu kakak pemandu) hanya saya dan kakak pemandu yang jamaah. Entah karena memang udah ada yang duluan ke tempat shalat atau gimanalah. Masjid kampus rameeee banget maghrib itu. Namun saya pun miris. Saya tidak melihat adanya jamaah-jamaah seperti yang biasanya ada di masjid DM ataupun IC. Entah bagaimana, saya kangen~ Kemudian saya berpikir, Oh, mungkin pada gengsi ya ngajak shalat bareng. Karena kebanyakan juga pasti orang-orang baru...
Bicara soal gengsi, saya teringat waktu mampir di mushala untuk shalat maghrib di perjalanan mudik. Karena waktu itu lagi nunggu Ummi dateng dari tempat wudhu dan jagain Fatih di pojokan ushala, aku tersentuh sekali mendengar seorang Bapak dari shaf pria mengajak bapak-bapak yang lainnya untuk shalat berjamaah. Saya tidak tahu kenapa, tapi yang jelas saat itu saya tersentuh sekali rasanya.
"Pak, mau shalat maghrib Pak? Ayo jamaah saja, Pak." selang bentar, beliau udah ngajak bapak-bapak yang lain lagi "Bapak mau shalat maghrib? Ayo Pak, bareng-bareng saja, jangan shalat sendiri..."
Dan saya tidak tahu kalau hari ini saya juga akan mengalami hal yang sama.
Zhuhur ini saya juga telat. Ngga bisa ikut jamaah pertama masjid. Ngerjain tugas kelompok di tempat yang ngga terlalu deket sama masjid kampus. Udah gitu belum tau juga tempat shalat yang deket di fakultas apa gitu di sekitar situ. Akhirnya saya memilih meminjam sepeda kampus menuju masjid kampus.
Sama halnya dengan Maghrib selanjutnya. Masjid ramai sekali. Selain hari itu ada wisuda, tampaknya kumpul maba psikologi juga di halaman sekitar masjid kampus. Jadilah masjid ramai betul. Saya sendiri ke masjid, sendiri naik tangga menuju lantai dua--tempat shalat jamaah putri.
Saya menaruh tas perlahan, memandangi sekitar, mendesah pelan. Masjid kampus seperkiraan saya luasnya mungkin 4x masjid IC, besar sekali. Bedanya dengan IC, karena jamaah putri di atas, biar masbuq pun, sulit sekali untuk menjadi makmum dari jamaah masbuq putra--tidak seperti di IC. Dan di masjid sebesar ini, orang shalat menyebar.
Ah, tiba-tiba saya kangeeen sekali dengan shalat berjaamaah di sekolah dulu. Kemudian saya berfikir, bagaimana caranya agar bisa shalat berjamaah?--apalagi saya datang sendiri, tidak bawa teman yang bisa diajak shalat jamaah.
Kemudian saya ingat bapak-bapak di mushala yang tadi saya ceritakan, yang saya mampir di perjalanan mudik. Saya yang harus mengajak, begitu pikir saya. Kemudian saya melihat seseorang yang sedang hendak memakai mukena, tapi tampaknya sedang dapat telepon namun suaranya tidak jelas. Saya memutuskan menunggu untuk mengajaknya. Sampai akhirnya ketika beliau (mungkin) menyerah pada keadaan telepon, saya mendekatinya dari samping kanan. Bertanya pelan,"Mbak, maaf, mau jamaah?"
Si mbak menoleh, kemudian...mengangguk. Alhamdulillah, batin saya. Namun saat itu rasa haru saya sungguh luar biasa.
Si Mbak yang tadi saya sapa itu kemudian menjadi imam. Lagipula, kelihatannya beliau pun kakak senior, sudah mahasiswa. Dan saya pun tidak mengerti kenapa, tepat di rakaat pertama,tak lama setelah takbir, air mata saya menetes. Saya menangis. Entah, mungkin saya terharu dengan shalat berjamaah kali itu. Atau tiba-tiba kangen luar biasa pada sekolah saya dulu. Atau mungkin juga kangen shalat berjamaah di rumah. Saya tidak tahu persisnya. Tapi jelas saya sungguh terharu karena saya menangis cukup lama dalam shalat itu, tidak hanya pada rakaat pertama. Bahkan pada rakaat terakhir, air mata saya masih enggenang di pelupuk mata. Mungkin akan jatuh jika tidak saya usap.
Saya mungkin berpikir tiba-tiba saya menjadi minoritas. Kemudian saya jadi rindu di mana hal shalat berjamaah ini menjadi hal yang sering sekali kami lakukan dulu ketika di bangku sekolah dan di rumah. Entahlah, mungkin ini berlebihan, dan kalian boleh saja enilainya begitu. Saya mungkin merasa begitu karena yang lain saat itu tidak melakukannya--jika ada pun sungguh sedikit sekali. Karena terbiasa, maka janggal bagi saya ketika tidak dilakukan, apalagi sesungguhnya kondisinya memungkinkan. Bukan karena kitalah yang masbuq sendirian.
Ternyata, masih minim ya penanaman rasa terbiasa/budaya untuk shalat berjamaah di masyarakat. Padahal keutamaannya--saya yakin sekali--pasti banyak. Semoga saja kita bisa turut membudayakannya ya :)
Semoga ilmu-amal-dakwah-sabar itu bisa terus menjadi hal-hal konsisten yang kita lakukan, ya. Amiiin :)
Wallahu a'lam bish shawab.
Senin, 27 Agustus 2012
Blogwalking (lagi)
Sebelumnya, duluuuu, kalo nggak salah Desember 2011 saya juga pernah ngepost tentang blogwalking.
Saya sukaaa sekali blogwalking, baca tulisan orang-orang, ngeliatin blognya yang didesain semenarik mungkin, ah,,, saya suka banget :)
Saya senang, banyak teman saya dari MAN Insan Cendekia Serpong yang punya blog, rajin menulis, suka meng-update. Apapun itu, menurut saya menulis akan memiliki dampak yang baik bagi diri sendiri. Dengan menulis, kita bisa mengungkapkan lebih banyak hal. Saya pernah berniat untuk membuat tulisan mengenai kekuatan tulisan, namun sayang sekali, belum dibuat juga sampai sekarang. Ditunggu ya :P
Kadang ada juga fanpage di facebook yang sering saya buka, telusuri, baca-baca. Seperti fanpagenya Tere Liye. Dan saya setuju sekali terhadap pandangan beliau tentang menulis.
Yaa,,,beberapa saya copas disini ya..
Ada perbedaan besar antara bangsa yg suka membaca buku dgn bangsa yg suka menonton televisi atau menghabiskan waktu di jejaring sosial.
Ada perbedaan besar antara bangsa yg mengajari anak2nya pintar menulis dibanding bangsa yg mengajarkan anak2nya pintar bicara/komen.
kemudian yg ini :
Ingat selalu kebijaksanaan itu: 1 artikel pendek yg ditulis dgn segenap rasa senang di blog/mp/notes lebih baik dibanding 100x komen/postingan status di jejaring sosial. Mari menulis.
dan juga notes tere liye yang pernah saya baca yang intinya menulis pun harusnya dibiasakan sejak kecil.
dan,,, ya...dengan menulis, kita bisa produktif, bukan :D
Jika mungkin sekarang belum bisa memberi dampak bagi orang lain, tak apa, teruskan saja.
Suatu saat nanti pasti ada waktunya :)
Saya sukaaa sekali blogwalking, baca tulisan orang-orang, ngeliatin blognya yang didesain semenarik mungkin, ah,,, saya suka banget :)
Saya senang, banyak teman saya dari MAN Insan Cendekia Serpong yang punya blog, rajin menulis, suka meng-update. Apapun itu, menurut saya menulis akan memiliki dampak yang baik bagi diri sendiri. Dengan menulis, kita bisa mengungkapkan lebih banyak hal. Saya pernah berniat untuk membuat tulisan mengenai kekuatan tulisan, namun sayang sekali, belum dibuat juga sampai sekarang. Ditunggu ya :P
Kadang ada juga fanpage di facebook yang sering saya buka, telusuri, baca-baca. Seperti fanpagenya Tere Liye. Dan saya setuju sekali terhadap pandangan beliau tentang menulis.
Yaa,,,beberapa saya copas disini ya..
Ada perbedaan besar antara bangsa yg suka membaca buku dgn bangsa yg suka menonton televisi atau menghabiskan waktu di jejaring sosial.
Ada perbedaan besar antara bangsa yg mengajari anak2nya pintar menulis dibanding bangsa yg mengajarkan anak2nya pintar bicara/komen.
kemudian yg ini :
Ingat selalu kebijaksanaan itu: 1 artikel pendek yg ditulis dgn segenap rasa senang di blog/mp/notes lebih baik dibanding 100x komen/postingan status di jejaring sosial. Mari menulis.
dan juga notes tere liye yang pernah saya baca yang intinya menulis pun harusnya dibiasakan sejak kecil.
dan,,, ya...dengan menulis, kita bisa produktif, bukan :D
Jika mungkin sekarang belum bisa memberi dampak bagi orang lain, tak apa, teruskan saja.
Suatu saat nanti pasti ada waktunya :)
Dan Saya Pun Teringat...
Dan air mata saya pun tak dapat dibendung lagi ketika membacanya
teringat duduk di antara dua tembok--sesekali membaca di sana
teringat begitu banyak teman pun, melakukan hal yang sama
cari-cari pojok menyenangkan, tempat-tempat membetahkan
teringat dulu malam-malam-seusai membaca, saling bertanya pada teman, mengajak makan malam
teringat malam-malam panjang yang kemudian dihabiskan bersama, walau kadang berujung obrolan pada akhirnya
teringat suara lembut ibu ketika membacanya--lirih, patah-patah satu dua
karena perjuangan agar tak diganggu si adik ketika membaca
teringat tempat satu lantai beratap tinggi,
minggu pagi yang panjang karena tempat begitu sepi
karena mayoritas berpikir kembali dalam ruang-ruang hangat yang diciptakannya sendiri
dan pagi-pagi penuh aktifitas itu
yang lama telah tertinggal
dengan begitu banyak orang di luar kelas membawa sebuah tentengan
di masjid-lorong-lorong kelas-lobi sekolah-lobi kantor guru-bawah pohon jambu dan rambutan
saat-saat membawanya kemana-mana, bahkan ke kantin sekalipun
dibaca, sekalian menunggu pesanan
hingga tiba saat-saat mengharukan untuk kelulusan
Ah Ya Allah, aku sungguh-sungguh rindu masa-masa itu :")
teringat duduk di antara dua tembok--sesekali membaca di sana
teringat begitu banyak teman pun, melakukan hal yang sama
cari-cari pojok menyenangkan, tempat-tempat membetahkan
teringat dulu malam-malam-seusai membaca, saling bertanya pada teman, mengajak makan malam
teringat malam-malam panjang yang kemudian dihabiskan bersama, walau kadang berujung obrolan pada akhirnya
teringat suara lembut ibu ketika membacanya--lirih, patah-patah satu dua
karena perjuangan agar tak diganggu si adik ketika membaca
teringat tempat satu lantai beratap tinggi,
minggu pagi yang panjang karena tempat begitu sepi
karena mayoritas berpikir kembali dalam ruang-ruang hangat yang diciptakannya sendiri
dan pagi-pagi penuh aktifitas itu
yang lama telah tertinggal
dengan begitu banyak orang di luar kelas membawa sebuah tentengan
di masjid-lorong-lorong kelas-lobi sekolah-lobi kantor guru-bawah pohon jambu dan rambutan
saat-saat membawanya kemana-mana, bahkan ke kantin sekalipun
dibaca, sekalian menunggu pesanan
hingga tiba saat-saat mengharukan untuk kelulusan
Ah Ya Allah, aku sungguh-sungguh rindu masa-masa itu :")
Langganan:
Postingan (Atom)

