Kamis, 27 September 2012

Satu Bulan Saya di Jogja

Baiklah, baiklah
sudah satu bulan saya di Jogja .
Sebenarnya waktu itu tanggal 26. Ulang tahun Nikari sama Abid ya? Oh iya, proposal iCare 2011 juga *apa kabar kau nak :')?
tanggal 27 sebulan lalu saya ambil almamater, terus keliling naik transjog sama beberapa temen baru

ya, sudah sebulan saya di Jogja
sebulan yang lalu sibuk mengurusi ini itu perlengkapan ospek
ini bahkan jalan minggu ke empat saya kuliah
kenalan sama kampus,
tiga minggu sejak ulang tahun Gycen yang ke3

kadang waktu melesat begitu cepat

dan kadang juga ia terasa begitu lambat

sudah satu bulan. dapat apa?
oh ya, banyak yang belum saya ceritakan di sini sebenarnya.

saya belum cerita kan, masalah wawancara *mau saya beri judul pertanyaan-pertanyaan, masalah matematika diskrit *yang kadang meminta kita jadi detektif, atau kadang juga memusingkan,hahaha
ya...ehm, banyak ya sepertinya, kadang cuma terencana doang. kadang udah mau ngepost lewat hp, udah cape2 ngetik, eh koneksi hpnya bermasalah :'( sebel deh kalo udh gitu..

satu bulan saya di jogja, nyaris satu bulan saya kuliah,
tiap minggu selalu lewatin FK buat ngejar kelas yang letaknya berjauhan. ke filsafat buat belajar pancasila. tiap hari di kampus yang bangunannya itu-itu saja. naik tangga, kelas besar, dosen ngajar, papan tulis sepidol dan kapur, masuk mushala bawah tangga, kran wudhu berjumlah tiga, papan-papan pengumuman, dosen bahasa Inggris yang tak datang entah berapa kali, 22 sks saya semester ini, walau tanpa kalkulus, sepertinya lebih banyak dibanding prodi lainnya.

nyaris satu bulan saya kuliah. entah saya mau bilang waktu berjalan cepat atau tidak.
dan dalam waktu itu, hari ini ada sepasang teman saya yang jadian.

satu bulan saya di Jogja, semoga semuanya selalu bisa baik-baik saja. untukku, untukmu, untuk kalian semua yang entah di mana. termasuk kawan-kawan saya juga di sini.

semoga Allah selalu menganugerahkan pada kita keistiqamahan pada jalan yang sudah kita pahami bahwa memang begitu adanya, begitu seharusnya. menunjukkan jalan agar kita bisa senantiasa berubah ke arah yang lebih baik. dan bagi apa saja yang belum kita mengerti, semoga Allah selalu menunjukkan jalannya.

--begitu juga untuk beberapa, yang tadi saya rasa merasa bahagia dan iri atas jadiannya sepasang kawan saya

Minggu, 23 September 2012

duluan, dan alasan

aku tahu, sungguh tak mudah lakukan itu
jika mudah bagi kau, di posisi itu, sungguh tak mudah bagiku
jika aku harus lakukan hal yang sama seperti itu

maka, maafkan aku, yang memaksa untuk mengulang kalimat itu
aku tahu, ucapan yang terburu mungkin karena malu
atau jika tidak, hanya aku yang sok tahu

dan aku tahu, saat itu juga tak mudah bagimu
dan maka
mana tega aku untuk menolaknya
permintaan sederhana
hasil melawan
segala yang bilang jangan
karena biasanya, bahkan untuk yang lebih sederhana
hampir tak ada yang mau memulainya

dan satu lagi cerita, di pagi tadi
niatan yang selama ini hendak mendahului
namun disanggah sendiri oleh hati
jangan, tunggu saat yang lebih baik saja, bukan waktunya
hahaha
dan benar, entah apa pasal
ditanya mengapa
aku tahu kau hanya karang alasan
sayang, aku tak sampai hati
bahkan untuk mengorek lebih dalam lagi
alasan yang lebih sejati
karena aku tahu, random pun sepertinya tak akan menunjuk diri ini

Malam Ini Aku Ingin Sendiri

Aku memutuskan menyelesaikan semua tanggung jawabku sesegera mungkin. Aku ingin segera pulang.
Ah, pulang? Tidak juga sebenarnya.
Pada teman-teman aku hanya bilang, ini tanggung jawabku sudah selesai. Ehm, maaf aku tak bisa menunggu sampai semuanya selesai. Aku..Boleh aku izin pulang duluan?
Dan, beberapa temanku pun mengangguk.

Sebenarnya entah kali ini aku bohong atau tidak. Aku belum ingin pulang. Tadi juga aku sudah izin pada orang rumah bahwa aku akan pulang telat. Ada tugas organisasi yang harus dikerjakan. Aku hanya ingin...sendiri.

Aku berjalan menyusuri trotoar jalan utama dekat kampusku. Lalu lalang kendaraan, antrian panjang ketika lampu merah, sahut-sahutan klakson saat lampu lalu lintas berubah jadi hijau, warung-warung tenda yang tak terhitung jumlahnya. Aroma masakan yang sungguh menggoda perutku yang sebenarnya mulai lapar. Tapi tidak, aku tak ingin makan sekarang. Aku hanya ingin sendiri.

Aku memang berjalan ke arah parkiran motor yang agak jauh jaraknya dari tempat kumpulku tadi. Tapi, tempat itu bukan tujuan utamaku saat ini. Aku ingin mampir ke alun-alun. Alun-alun yang berada di antara parkiran motorku dan tempat kumpul tadi.

Aku menyebrang jalan, kemudian belok kiri dekat sebuah warung tenda yang nampak ramai. Aku menghela nafas panjang. Melihat-lihat sekitar. Malam ini, banyak sekali orang. Masih musim liburan sekolah nampaknya. Di suatu sudut ada orang mendemonstrasikan ular besarnya, dikerubungi begitu banyak orang. Kalau adikku di sini, pasti ia begitu tertarik. Sayangnya aku tidak. Sekalipun aku menyempatkan mampir melihat sekilas, aku bukannya semakin tertarik malah memilih menjauh, penjelasan si abang pendemonstrasi terlalu panjang, terlalu bertele-tele.

Maka aku memutuskan duduk, di kursi yang dibuat melingkar dan bersusun seperti anak tangga. Aku memilih duduk di barisa nomor dua dari atas. Di dekatku ada orang pacaran. Bodo amat, apa peduliku? Mau bilang aku pengganggu? Siapa suruh pacaran? Haha, sinis sekali aku  malam ini.

Dari sini aku masih bisa mengamati kerumunan orang-orang yang makin ramai mengerumuni si abang-abang pembawa ular. Tapi tetap saja tak terlihat jelas. Tak apa, memang bukan itu tujuanku ke sini. Hufff...aku menghela nafas lagi, entah untuk yang ke sekian kalinya.

Mendekati jam delapan, alun-alun kian ramai. Para keluarga baru, sepertinya, banyak yang datang. Ayah, Ibu, dan balita kecil mereka. Ah, lucu sekali! Anak kecil merengek minta dibelikan mainan yang ada lampunya dilontarkan ke langit bak main ketapel, kemudian mainan itu akan berputar-putar di udara, sambil memamerkan kelip lampu yang sudah dipasang dibadannya. Sebagian lagi minta dibelikan balon sabun. Kadang, ayah ibunya berselisih pendapat sebentar. Bilang, bisa dibuat sendiri di rumah. Yang lainnya membela, berkata, tak apa, beli saja. Jarang-jarang kita keluar ke alun-alun begini. Pasti ia (anaknya) suka sekali. Dan akhirnya mainan-mainan itu dibeli. Lima ribu, tampaknya malam ini banyak yang lima ribu di sini.

Sesekali aku tersenyum melihat tingkah laku anak-anak kecil itu. Dibantu ayahnya melontarkan ainan ke udara. Si ayah juga kadang tak bisa-bisa. Ibu memberi semangat pada Ayah, tak lupa anaknya merengek minta gantian mencoba. Apa daya, zaman ayah kecil tak ada mainan seperti ini sih nak, jadi Ayah penasaran juga. Begitu mungkin pikir ayah mereka.

Lainnya beberapa meminta ayah bundanya yang meniupkan balon sabun itu. Lalu ia berjalan penuh gaya di antara gelembung sabun yang melambung tak lama-lalu pecah. Si anak tertawa geli, kegirangan. Begitu juga ayah bundanya.

Aku tersenyum kecil, ingat masa lalu. Mungkin dulu aku juga begitu. Ingat tiba-tiba, dulu adikku juga.

Ah, aku mendesah kecil. Tidak, bukan ingatan masa kecil yang menggangguku. Sungguh bukan itu. Bukan aku rindu masa laluku lantas aku memilih ke sini. Kangen ayah bunda juga tidak. Biasa saja. Aku bisa pulang saat ini juga kalau aku mau. Di rumah, ayah bunda pun ada. Lantas apa?

Aku juga tak tahu mengapa aku begitu ingin menghabiskan waktuku di sini dulu. Mampir, baru kemudian pulang. Memandangi sekitar, menikmati malam yang kian kelam. Merasakan hawa dinginnya yang tak begitu menusuk tulang. Aku hanya ingin, Aku hanya bergerak sesuai keinginan hati. Hanya itu, sungguh.

Lagi-lagi aku menghela nafas.

Aku mendongakkan kepala, menatap sekitar. Lampu PDAM kota yang berwarna-warni menyala. Indah nian. Dulu sahabatku berkunjung hanya untuk foto-foto di sini. Dan kemudian aku menatap langit. Langit cerah hari ini. Bulannya...purnama.

Aku menatap purnama itu, cukup lama. Sebelum setelahnya menghela nafas panjang dan menundukkan kepala, meletakkan kepalaku di atas tangan yang sedari tadi di pangkuan. Rembulan itu...

Dan mungkin rembulan selalu punya banyak makna bagiku. Mungkin rembulan selalu bisa mengingatkanku pada beberapa hal yang telah tertinggal lama di belakang. Mungkin ia selalu bisa...entah mengapa.

Dan cukup lama setelah aku berupaya menetralkan semua perasaan yang tadi sempat buncah, aku memutuskan pulang. Dan aku tersenyum ketika melihat penjual jagung bakar. Ah, dari satu setengah tahun yang lalu aku ingin, baru sekarang tercapai. Entah kenapa tak dari dulu saja aku berniat ke sini untuk membeli jagung bakar yang lama diidam-idamkan. Jagung bakar ini, mungkin sungguh kejutan malam ini. Kejutan sekaligus teman yang menyenangkan:')

Maka sebelum aku benar-benar menuju parkiran motor untuk pulang, aku memutuskan untuk menghabiskannya di alun-alun ini. Ditemani ramainya celotehan anak-anak kecil, obrolan muda-mudi, suara menawarkan penjual mainan, skenario abang-abang dengan ularnya, gonjang ganjing gitar pengamen, asap yang mengepul dari tungku pedagang tenda. Kau tahu, kadang paradoks itu memang ada. Seperti perasaanku saat ini, saat aku merasa begitu sepi di tengah alun-alun yang begitu ramai.

---hanya tulisan, bukan kisah nyata

Tentara Allah

"Aghna kalau sudah besar mau jadi apa?" tanyaku pada keponakanku, anak dari kakak sepupu. Entah urutannya keponakanku yang keberapa. Seluruh keponakanku (tentunya dari kakak sepupu semua, ada 13 orang. Bahkan dulu Fatih sempat dipanggil Om Bayi dan Om kecil yang lucu sama salah satu ponakan)

"Tentara Allah," jawabnya mantap.

Aku terhenyak, terkejut, berpikir lama hendak melanjutkan percakapan.

"Kenapa pengen jadi tentara Allah?"

Aghna cuma senyum.

"Dikasih tau Ummi sama Abi, ya biar cita-citanya jadi Tentara Allah?" tanyaku penuh selidik. Dari mana anak ini tahu istilah 'tentara Allah' segala?

"Nggak, aku pengen sendiri kok."

Aghna namanya, baru kelas dua SD. Cita-citanya? Jadi tentara Allah. Mantap sekali ia menjawabnya.

-catatan kecil Sabtu seminggu yang lalu, 17 September 2012

Sabtu, 22 September 2012

Maaf Pak, Saya Mengganggu

Maaf Pak, saya mengganggu

Karna saya paham, bagaimana perasaan pada saat yang sama
dulu

saya juga pernah mengalaminya

Dan saya tahu betul rasanya
paham benar rasa tak ingin diganggunya

bahkan rasa ingin berlama-lama

seperti yang Bapak katakan tadi,
saat saya tawarkan pilihan lainnya

Sungguh, maaf Pak
saya tahu, rasanya pasti kesal, sekali

Tahukah Bapak, saya juga sungguh rindu masa-masa dulu itu :')

catatan kecil ketika saya diminta membelikan galon di suatu warung,
mungkin 10-15 menitan menjelang Maghrib