Senin, 29 Oktober 2012

Efti dan Rendy

Efti. Ya, namanya Efti. Sebut saja ia begitu.

Jadi begini, suatu ketika, di siang yang biasa saja, kami duduk-duduk di bangku kantin. Aku baru saja ikut bergabung sebenarnya. Bergabung di antara delapan teman lainnya, yang sudah sedari tadi asyik bercengkrama sambil menghabiskan santapan pesanan.

Bergabung, dan awalnya pastilah mendengarkan.

“Udah wajahnya mirip...”
“Iya, ya.... Sama-sama tinggi lagi.”
“Makan apa sih kalian, tiang?” Segera yang lainnya menyambut tawa.
“Cocok kok cocok...”

Semua tampak setuju, mendukung. Hei, kau tahu kan apa yang kumaksud?

Efti hanya bisa mengulum senyum, sekilas, sedikit. Senyumnya tampak malu-malu. Bersemukah kedua pipinya? Ya, mungkin saja.

Ya, begitulah. Efti dan Rendy. Entah sejak kapan keduanya mulai diledek, mulai dijodoh-jodohi. Mungkin sejak mereka sering boncengan bareng naik motor. Entah hanya sekedar kuliah ke fakultas filsafat, maupun jemput ke kosan untuk kumpul organisasi (sekalipun mereka beda divisi).

Menyadari sudah ada dua pasang yang jadi. Ledekan orang-orang serasa berkata, Tunggu apa lagiii? Nggak mau nyusul? Biar gak jomblo, punya status jelaaas.

Ya, saya tahu di dunia saya kini, semuanya jadi terlihat lumrah, wajar.

Tapi, bukan itu yang kali ini ingin saya bahas. Ah, sebenarnya bukan bahas sih, cuma mau bilang:
Mungkin bagaimana pun juga, memang wanita yang selalu menunggu. Juga tentang kepastian, mereka selalu menunggu kepastian.

Begitu juga dengan Efti. Saya berspekulasi kalau hatinya juga sempat terbolak-balik ketika yang lainnya meledek. Hatinya gerimis--lewat senyum kecilnya yang tak dapat ia bendung lagi. Lewat rasa buncahnya--yang selalu ia sembunyikan--setidaknya sampai saat ini.

Seperti apa yang pernah saya baca di situsnya Fahd Djibran : http://www.fahdisme.com/2012/07/kepastian.html
(di situs itu kini artikelnya sudah tak seutuhnya. Dulu lengkap, namun kini tidak. Kelihatannya karena Bang Fahd sedang membuat Bukunya yang berjudul Perjalanan Rasa, sehingga tulisannya diganti dengan gambar kecil yang intinya : SEGERA DIBUKUKAN. Tapi saya tahu, intinya tulisannya di bawah ini (kalian bisa lihat komentarnya jika tidak percaya, saya pernah baca artikel utuhnya Juli lalu).

"tetapi adam perempuan lebih suka kepastian"

[saya percaya, kalian akan benar-benar tersentuh membaca teks utuhnya, ketika kalian benar-benar tahu rasanya seperti apa, sungguh]
*tapi yang penting, adalah ketika kita sungguh mengerti apa sih sebenarnya, bagaimana sih seharusnya, memahami seluruh aturan-aturan main yang telah diatur, juga memahami mana waktu yang benar-benar tepat*oh dear, ini bukan masalah siap tidak siap bilang. bahkan urusan ini, jauh lebih serius lagi dari apa yang kita pikirkan. sekali lagi : sungguh.
sehingga kita benar-benar mengerti, dan menyiapkan diri .


note : terinpirasi kisah nyata : ya. ditambahi : juga iya. Maka jangan anggap lagi ini kisah sama seperti aslinya. mungkin iya, mungkin tidak kubilang. tetap anggap ini tak nyata, ya. *karena lebih banyak saya berspekulasi :P


Minggu, 28 Oktober 2012

A New World-Nadya Fatira


"It’s strange, it’s a new, new world
It’s loud, it’s a hectic world
And I miss my home, 
I miss myself
And I miss you"


Kemarin, main ke blognya anisah, liat postingannya yang judulnya Perahu Kertas 2, terus jadi pengen tahu lagunya A New Worldnya Nadya Fatira.

And, that's good :D





ini ada liriknya, copast dr blognya anis yg dia ambil juga dr kapanlagi.com

These days are gonna be those days

Which I’ll look back with a happy smile

And a twinkle in my eyes
And life will never be the same
A different life than the one we’ve had
From our simple, fun, fairytales

It’s strange, it’s a new, new world
It’s loud, it’s a hectic world
And I miss my home, I miss myself
And I miss you
And yet, I finally found that love
Inside my soul
And I jump in joy and I sing my heart away

Your face is gonna be that face
That I’ll look back with a loving smile
And a warm glow in my heart
And love will never be the same
A kind of love that I hold so dear
Yet I’m ready to let it go

Will you remember how we are?
Will you stay with me when I try
To be a better one for you?
In this new world…

credit:http://lirik.kapanlagi.com/artis/ost_perahu_kertas/a_new_world


"It’s strange, it’s a new, new world
It’s loud, it’s a hectic world
And I miss my home, 
I miss myself
And I miss you"



Sabtu, 27 Oktober 2012

Idul Adha #4 : [Berita] Pengurus Masjid Menangis Terima 2 Hewan Qurban dari Pemulung

Sebuah kisah yang Subhanallah. 
"Tapi saya pikir sekali seumur hidup masak tidak pernah qurban. Malu cuma nunggu daging kurban."
sesuai pesan di web tersebut untuk menyebarkan tulisan ini. Semangat menabung, semangat berkurban !


Pengurus Masjid Menangis Terima 2 Hewan Qurban dari Pemulung


Yati & Maman (foto: merdeka.com)
JAKARTA (SALAM-ONLINE.COM): Pasangan suami istri yang berprofesi sebagai pemulung memberikan dua hewan qurban di Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Pengurus masjid yang menerima dua ekor kambing itu menangis terharu.
“Saya nangis, tidak kuat menahan haru,” ujar Juanda (50), salah satu pengurus Masjid Al Ittihad kepada merdeka.com, Jumat (26/10/2012).
Juanda menceritakan, Selasa (23/10/2012), seorang pemulung bernama Maman datang ke Masjid Al Ittihad. Masjid megah ini terletak di kawasan elit Tebet Mas, Jaksel.
“Bawanya pakai bajaj. Dia kasih dua ekor kambing untuk qurban. Dia bicara tegas, justru saya yang menerimanya tak kuat. Saya menangis,” kata Juanda.
Dua kambing qurban yang diserahkan pemulung itu berwarna cokelat dan putih. Kambing itu justru yang paling besar di antara kambing-kambing lain.
Juanda menceritakan, pengurus lain pun terharu mendengar cerita ini. Begitu juga jamaah shalat Idul Adha saat mendengar pengumuman lewat pengeras suara sebelum shalat dilaksanakan. Mungkin, saat membaca cerita ini, mata Anda pun berkaca-kaca.
Adalah pasangan suami istri Yati (55)  dan Maman (35), keduanya pemulung, menabung susah payah untuk berqurban. Yati mengaku,  sempat ditertawakan saat bercerita seputar niatnya untuk berqurban.
“Pada ketawa, bilang sudah pemulung, sudah tua, nggembel, ngapain qurban,” cerita Yati, Jumat (26/10/2012).
Tapi Yati bergeming. Dia tetap meneruskan niatnya untuk membeli hewan qurban. Akhirnya setelah menabung tiga tahun, Yati bisa berqurban tahun ini.
“Pada bilang apa tidak sayang, mending uangnya untuk yang lain. Tapi saya pikir sekali seumur hidup masak tidak pernah qurban. Malu cuma nunggu daging kurban,” beber Yati.
Yati dan suaminya, Maman, sama-sama berprofesi sebagai pemulung. Pendapatan mereka jika digabung cuma Rp 25 ribu per hari. Tapi akhirnya mereka bisa membeli dua ekor kambing. Masing-masing berharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta.
Dua kambing ini disumbangkan ke Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Jemaah masjid megah itu pun meneteskan air mata haru.
Pasangan suami istri ini tinggal di gubuk triplek kecil di tempat sampah Tebet, Jakarta Selatan. Saat merdeka.com mengunjungi gubuk Yati usai Shalat Idul Adha, Jumat (26/10/2012), Juanda, pengurus Masjid Al Ittihad, ikut menemani.
Yati membukakan pintu dan mempersilakan masuk. Tak ada barang berharga di gubuk 3×4 meter itu. Sebuah televisi rongsokan berada di pojok ruangan. Sudah bertahun-tahun TV itu tak menyala.
Wanita asal Madura ini bercerita soal mimpinya bisa berqurban. Dia malu setiap tahun harus mengantre meminta daging. “Saya ingin sekali saja bisa berqurban. Malu seumur hidup hanya minta daging,” katanya.
Yati mengaku sudah lama tinggal di pondok itu. Dia tak ingat sudah berapa lama membangun gubuk dari triplek di jalur hijau peninggalan Gubernur Legendaris Ali Sadikin itu.
“Di sini ya tidak bayar. Mau bayar ke siapa? Ya numpang hidup saja,” katanya ramah.
(Foto: merdeka.com)
Setiap hari Yati mengelilingi kawasan Tebet hingga Bukit Duri. Dia pernah kena asam urat sampai tak bisa jalan. Tapi Yati tetap bekerja, dia tak mau jadi pengemis.
“Biar ngesot saya harus kerja. Waktu itu katanya saya asam urat karena kelelahan kerja. Maklum sehari biasa jalan jauh. Ada kali sepuluh kilo,” akunya.
Juanda yang menjaga Masjid Al Ittihad terharu saat Yati bercerita mimpi bisa berqurban lalu berusaha keras mengumpulkan uang hingga akhirnya bisa membeli dua ekor kambing.
“Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil,” gumamnya.
Di tengah kemiskinan yang mendera, Yati-Maman, dua pemulung ini berqurban dua kambing–setelah dengan susah payah menabung selama 3 tahun. Bagaimana bagi yang memiliki kemampuan, tapi tak tergerak untuk berqurban? (sumber:merdeka.com)

Idul Adha #3 : Repost Penyemangat !

Mungkin belum bisa tahun ini, tahun selanjutnya semoga bisa :) ayo semangat !
*saya tergerak me-repost ini, postingan Bang Tere Liye 14 Oktober lalu (yang juga di postkan kira-kira sebulan sebelum Idul Adha), setelah saya membaca berita mengenai 2 Hewan Qurban dari Pemulung di sini (saya turut publikasikan juga di #4 sesuai pesan di web tersebut untuk menyebarkan tulisan ini)


*cerita seekor kambing dan dua remaja yg cantik hatinya

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.

Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.

Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.

Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.

Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.

Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.

Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya--kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.

Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.

Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: 'Kaleng Kurban' keluarga mereka.

*Kurang 12 hari lagi hari raya kurban, semoga ada yg tergerak setelah membaca cerita ini. Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan utk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tdk punya uang utk berkorban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berkurban. Beli pulsa itu setelah menabung utk kurban, bukan sebaliknya berkurban datang dari sisa2 beli pulsa.

**ayo tulisan ini di share, repost, copy paste kemana2, satu saja teman kalian tergerak hatinya utk berkurban karena share tulisan dari kalian, maka itu sudah kabar bahagia.

Jumat, 26 Oktober 2012

Idul Adha #2 : Esensi Idul Adha

Idul Adha :')
Malam ini, satu malam sebelum Idul Adha. Selepas Maghrib tadi, tiba-tiba saya menyadari.
Bagaimanapun juga, Idul Adha beda sekali ya dengan Idul Fitri
Saya tidak akan menyinggung masalah dasar hukum bla bla bla. Ya kalo itu sih orang juga tahu, masalah dasar hukumnya mesti beda, pelaksanaan dkk juga pasti beda.
Ya entahlah, mungkin karena saya nggak ngerasain tahun-tahun yang sama kayak bertahun-tahun lalu.

Idul Fitri, jelas lebih semarak. Sms-sms silih bergantian berdatangan *ampe mumet gimana balesinnya. Orang-orang berbondong meminta maaf. Siaran televisi ramai-ramai bikin acara spesial Idul Fitri. Produk-produk mulai bikin scene iklan baru edisi Idul Fitri. Presenter acara yang udah mulai kerudungan dari mulai Ramadhan, film dalem negeri maupun luar negeri, acara musik spesial Idul Fitri, bahkan kartun anak-anak sekalipun meski kadang juga ga ada nyambungnya sama lebaran.

Di Idul Adha, ehm...mungkin esensinya adalah berkurban. Berkurban, mengikhlaskan sebagian nikmat yang sudah Allah beri buat kita. Sebagai tanda bahwa kita mencintaNya, bahwa kita merelakan sebagian harta kita untuk dikurbankan kepadaNya. Sebagaimana kisah Ibrahim dan Ismail dulu, ketika Ibrahim saja rela hendak menyembelih anaknya ketika Allah perintahkan. Buah hati yang amat dicintaiNya. Namun keduanya sama-sama rela, memasrahkan diri pada Allah karena memang itu perintahNya pada Ibrahim. Dan kemudian setelah diganti seekor gibas (seperti kambing/domba).

Hei, bukankah ini amat menohok, ketika kita yang mampu bahkan belum bisa melakukannya? belum bisa mengikhlaskan sebagian harta kita untuk dikurbankan? Bukankah Allah sudah berbaik hati dengan tidak meminta kita untuk mengorbankan orang-orang yang kita cintai?

Dosen mata kuliah agama saya bilang, bahwa dengan berkurban, seseorang sedang melakukan upaya untuk taqarrub ilallah, mendekatkan diri kita pada Allah. Dan...ya, lewat kurban yang ikhlas, lewat ketulusan hati, lewat betapa mulianya orang-orang yang menyisihkan hartanya untuk berkurban yang kemudian daging kurbannya itu akan disalurkan kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Sehingga mereka pada hari idul adha itu bisa berbahagia memiliki sedikit 'menu mewah' untuk dimasak.

Saya jadi ingat (aduh ini alur tulisannya agak random gapapa ya, udah malem soalnya :P), waktu pelajaran agama itu saya mengangkat tangan, bertanya.
"Pak, apa tujuan seseorang itu berkurban atas nama orang lain? Seperti Ibunya, anaknya, ya seperti itu Pak."
Dosen agama saya pun tersenyum sejenak sebelum menjawab.
"Seperti yang saya katakan tadi. Bahwa berkurban tujuannya adalah taqarrub ilallah. Maka tujuannya adalah mendekatkan diri kita kepada Allah. Maka ketika kita berkurban atas nama orang lain, ibu kita, anak-kita, orang-orang yang kita cintai, itu tandanya kita turut mendoakan mereka agar dapat dekat dengan Allah."

Dengan kurban itu, tandanya kita turut mendoakan mereka agar mereka dapat dekat dengan Allah.
Senantiasa dekat dengan Allah.

Sungguh, saya tercekat, dan terharu. Bahwa betapa dalamnya makna tersebut ketika saya tahu.
Sungguh terlihat dan tergambar, betapa kurban bahkan mengalirkan rasa sayang yang begitu dalam. Ungkapan sayang pada Allah, sekaligus ungkapan menyayangi seseorang karena Allah ketika kita merelakan kurban atas nama orang lain.

Mungkin itu esensi Idul Adha yang saya rasakan kini. Tidak banyak iklan yang menggembar-gemborkan. Tidak banyak sms bilang selamat Idul Adha. Jarang sekali ada ketupat. Tidak ada diskon spesial khas Idul Fitri. Tidak, tidak ada.

Yang ada mungkin perekrutan kepanitiaan idul adha di berbagai tempat, pengiklanan paket-paket kurban, poster dan pamflet tentang idul adha. Ya, semua itu.

Ummi pernah bilang, sejak sekarang, buat target usia berapa sudah bisa berkurban dengan uang sendiri. *ayo teman-teman, kita buaaat! Kalo kita bisa pengen banget sama sesuatu terus nabung mati-matian demi sesuatu itu, kenapa buat kurban belum bisa? Ingat, akhirat itu abadi dan dunia itu sementara :')

Selamat Idul Adha semuanya :') !