Idul Adha ke-9 tidak di rumah. Sejak kelas delapan (karena pas kelas tujuh pas banget liburan semester).
Idul Adha depan di mana ya?
Rabu, 23 September 2015
Selasa, 22 September 2015
[Musikalisasi Puisi FLP]
tutup mata dan biarkan semua
biarkan air mata jatuh bersama hujan
andai ada luka
hapuskan semua
biarkan takdir Tuhan bicara
.
.
.
-lagu musikalisasi flp, lupa judulnya apa. entah terngiang-ngiang terus.
biarkan air mata jatuh bersama hujan
andai ada luka
hapuskan semua
biarkan takdir Tuhan bicara
.
.
.
-lagu musikalisasi flp, lupa judulnya apa. entah terngiang-ngiang terus.
Senin, 21 September 2015
Keluarga Camar Bulan
repost dari Deta :
-Rumah Dayak, Pontianak, Kalimantan Barat
Inilah orang-orang yang selalu membersamai saya di bulan Juli hingga Agustus lalu. Adalah abang Fadhil, Haikal, Mbak Piiyya, Nabil si Ibu Negara, si Ummi Fitri, Rina temen serumahku, Endri Atjeh dan Ibnu si Cimol (maap ya nuu). Saya rindu rapat setiap malam di rumah Pak Kades sama kalian. Saya rindu main UNO sama Suwandy ketika nunggu yang lain belum datang rapat. Saya rindu nyanyi-nyayi di sela-sela rapat. Saya rindu tiap Senin pagi ikut upacara, jadi inget kalau nyamperin Ibnu sama Abang trus bu Marni bilang, “Masih pada tidur”. Saya rindu kelas sore / sekolah bahari sama kalian, di PAUD, di perpus, di pantai dan di dermaga. Saya rindu kita yang saling nunggu satu sama lain kalau mau rapat unit. Saya rindu naik tosa / kaisar di sopirin Abang Fadhil dan kita nahan teriak kalau tiba-tiba ada goncangan atau lompatan. Saya rindu main kartu di atas tosa. Saya rindu nyanyi; “tiga puluh menit kita di sini” atau “kemarin ku lihat awan membentuk wajahmuuu” atau “tetaplah bersamaku jadi teman hidupku” –sountracknya geng cibi kalau lagi nganggur. Saya rindu ngajar TIK sama kalian, nyiapin roll kabel, genset, minjemin laptop. Saya rindu naik siBugar yang akhir-akhir sering kehabisan minyak di jalan malem-malem. Saya rindu naik ghost rider, boti lagi. Saya rindu mendengar kata-kata: segebok tronton, I see, off course, dengerin lagu, oppa, boleh jadi, in case. Saya rindu sama kalian kalau lagi baper-baperan. Saya rindu jadi bagian dari Camar Bulan sama kalian smile emoticon
Camar Bulan adalah keluarga-terlepas beberapa konflik dan eteb-eteban yang terjadi di dalamnya, kami sudah merasa nyaman satu sama lain dengan kebersamaan ini *nanti si Abang sensi banget denger kata nyaman wkwkwk. Uno-rapat tiap malem-upacara SD-adek-adek SD-sekolah bahari-kapal-kapal di dermaga Camar Bulan-kantor desa-pasar-warung andalan-susu clevo-tossa cibi-lagu galau hape Endri-curhatan sebelum tidurnya bakpia, ngeledekin nabil, sebel kalo ngomong sama Ibnu kalo tanggepannya semau-mau, abang yang kadang polos, Deta yang baper, Haikal ahli hiperbola, Rina yang kongkrit.Udah pada sibuk ya sama kegiatan amsing-masing? kayaknya kita perlu raapat keluarga lagi deh, haha.
Kumpul lagi yuk :')
Minggu, 20 September 2015
Harap Tenang, Ada Ujian!
Kemarin, saya habis ikutan semacam seminar jurnalistik. Yang ngadain pers mahasiswanya FEB. Nama acaranya Equality. saya beberapa kali ikut seminar jurnalistik, tapi bener-bener baru kali ini
yang ada pendekatan litbangnya.Selain pendekatan litbang yang menarik. Latihan nulis saat seminar juga seru. Jadi kami diminta lihat film Harap tenang, Ada Ujian! yang diputar di ruangan. Film pendek ini dibuat dengan menangkap momen gempa Jogja yang berlangsung 10 hari sebelum UN SD dan 14 hari sebelum Piala Dunia. At that time, saya langsung keinget cerita Farid waktu camprock OTI bahwa gempa Jogja ngefek banget sama kondisi ketika ujian nasional. Saya jadi lebih kebayang lagi. Ngeri juga ya.
Setelah nonton, kami diminta untuk membuat judul, lead, dan paragraf. Terserah pendekatannya yang mana. Dan karena dibolehkan untuk searching-because of ini pelatihan menulis based on litbang. Saya jadi googling kan. Nah...saya takjub deh habis googling.
Film ini film pendek, tapi udah pernah meraih tiga penghargaan dan bahkan ditampilkan dalam festival-festival internasional. FIlm ini selesai di tahun yang sama dengan tahun kejadian gempa. which means pembuatan film ini niat banget. Penghargaan yang didapat juga di tahun yang sama. Saya nggak kebayang dulu pas 2006 itu gimana film ini cepat digarap dengan serius.
terus waktu searching saya juga nemu abstrak dan pendahuluan skripsi yang ngebahas film ini (asik banget ya emang anak komunikasi *envy *agak jadi inget masa lalu). Pada intinya sih si penulis melihat ada kritik sosial sekaligus makna yang terkandung dalam film ini. Saya jadi membayangkan seorang pembuat film itu mikir film ngak boleh cuma luaran doang kalau mau berkualitas. Harus ada makna dan value sekaligus apa yang mau disampaikan pada penontonnya. (saya lihat link ini).
Ini jasil tulisan saya kemarin. Nggak sempet dicek pembicara sih. Cuman sayang dibuang aja, hehehe.
----------
Harap Tenang, Ada Ujian!
Menceritakan Peristiwa, Menyampaikan Makna
Seorang bocah kelas 6 SD
ketakutan melihat relawan asal Jepang yang membantu evakuasi korban gempa bumi
Yogyakarta. Dalam pikirannya, orang Jepang yang datang ke Indonesia hanya akan
melakukan penjajahan kembali, sesuai cerita yang ada pada buku pelajarannya.
Ifa Ifansyah mengangkat peristiwa gempa bumi Yogyakarta dengan caranya
sendiri. Kepiawannya dalam menyutradai film dituangkannya dalam film pendek
berjudul Harap Tenang, Ada Ujian! Film
ini memotret peristiwa gempa Yogyakarta dengan mengangkat dua peristiwa yang
dekat dengan kejadian gempa tersebut, yakni ujian nasional SD yang
pelaksanaannya terjadwal 10 hari setelahnya serta Piala Dunia 2006 yang digelar
14 hari setelahnya.
Adegan demi adegan seolah menyampaikan maknanya masing-masing. Contohnya,
dikisahkan seorang bocah kelas 6 SD yang merupakan korban gempa masih memiliki
semangat yang tinggi untuk belajar menghadapi ujian nasional. Dibacanya
keras-keras sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Semangat ini terus
tergambar hingga ia memiliki rasa pertahanan diri yang tinggi dari relawan
Jepang yang datang untuk membantu. Menyimpan kritik atas sistem pendidikan
Indonesia dengan menunjukkan ketidaktahuan anak-anak dengan menggeneralisir
orang Jepang secara keseluruhan hanya melalui buku cetaknya. Pada akhirnya,
film menceritakan ujian sekolah yang tetap dilaksanakan tepat pada waktunya di
tenda-tenda darurat.
Keseriusan dalam menggarap film ini dibukitkan dari tahun produksi
film yang sama dengan tahun kejadiannya pada 2006. Walau hanya berdurasi 15
menit, film ini dapat menceritakan suasana kejadian dengan baik beserta
siratan-siratan maknanya hingga mendapatkan berbagai penghargaan seperti film
pendek terfavorit JAFF Yogyakarta dan film pendek terbaik FFI pada tahun yang
sama dengan tahun produksinya di 2006.
Konspirasi Semesta
Judulnya keren banget, padahal saya pengen mengusahakan tulisan ini hanya dimengerti saya sendiri.
Alam semesta seolah berkonspirasi dua minggu belakangan ini. Mulai dari cerita Anggita, Kak Lili, teman dekat semasa kuliah, Bude Ninik, Maryam, Kak Dewina.
Hemh,
Juga Kehadiran Kak Arum kemarin siang.
Alam semesta seperti kompor. Mirip-mirip Abang sama Haikal kalo udah ngeledek di kelompok KKN. Kompor banget. Kompor banget. Tapi, bukan kompor yang ditertawakan.
Allah, izinkanlah, izinkanlah.
Alam semesta seolah berkonspirasi dua minggu belakangan ini. Mulai dari cerita Anggita, Kak Lili, teman dekat semasa kuliah, Bude Ninik, Maryam, Kak Dewina.
Hemh,
Juga Kehadiran Kak Arum kemarin siang.
Alam semesta seperti kompor. Mirip-mirip Abang sama Haikal kalo udah ngeledek di kelompok KKN. Kompor banget. Kompor banget. Tapi, bukan kompor yang ditertawakan.
Allah, izinkanlah, izinkanlah.
Langganan:
Postingan (Atom)

