Minggu, 26 Juni 2016

Di Balik

"Saya tulis di facebook ya Fitri. Biar menginspirasi."
//saya teringat postingan rian yang ini. Ga ditulis disana sih tapi inget dia pernah nyatut soal mengabarkan rezeki sebagaimana di Ad Dhuha:11
"Hmm baik bu kalau begitu"
.
.
"Tapi sebenarnya saya malu, Bu"
//lama nggak dibalas
"Saya tulis ya **maksa"
//kemudian saya khawatir sama responnya.
***

Tidak ada teman jurusan yang tahu soal rencana kepergian saya hari ini sebenarnya, sampai dosen pembimbing saya memaksa mengabarkan via akun sosmednya kamis lalu-dimana sejak hari itu saya beneran belum buka home fb lagi (udah lama sih ga buka home fb, awalnya karena menghindari baper sidang yang tidak perlu)
Sebenarnya saya sudah kabari beliau sejak lama. Tapi setidaknya saya bersyukur beliau nggak ngeh, karena kalau ngeh maka pengumuman via akun fbnya akan lebih awal dikabarkan.

Bukan apa-apa. Saya hanya menahan diri agar tidak terlalu mengumumkan-atau sederhananya memberi tahu banyak orang soal agenda ini. Karena tipe pemikir berlebihan yang entah mengapa saya anut, somehow membuat saya menjadi lebih lelah pikiran pasca lolosnya saya pada summer program ini-ketimbang ketika melalui liku pendaftaran-pendaftaran yang pernah saya lalui. Saya khawatir dengan ekspektasi orang. Saya tidak suka segala hal ini dikaitkan dengan ke-ayah-an. Saya takut orang hanya menilai luarnya saja ketimbang bahwa saya punya kekhawatiran bahwa setelah serangkaian agenda ini, saya harus jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sebelumnya saya ingin bilang bahwa, adalah kesyukuran tiada hingga ketika Allah memberi saya nikmat lolos pada program ini. Memberi saya kemampuan untuk ikut programnya. Lahir maupun batin.

Salah satu ketakutan juga adalah tentang apa yang orang lain lihat dan tangkap secara sekilas, secara tersirat, ketika tahu saya lolos program ini. Karena di dunia kita sekarang, kita cenderung melihat prestasi dan posisi dunia sebagai sesuatu yang keren. Ketua A, B, C, D. Sekjend J, K, L, M. Juara F, G, H, I. Sudah ke P, Q, R, S. Padahal jaman para ulama dulu, kata seorang kakak, orang dilihat dari berapa banyak ia berguru menuntut ilmu, seberapa jauh ia berjalan untuk benar-benar memvalidasi dalam proses meriwayatkan hadits. Dan betapa-sungguh kita masih jauh daripada itu.

Barangkali kita bisa menyangkal; kalau ya itu dulu para ulama bukan konteks kekinian. Tapi ketika menuntut ilmu agama adalah fardu ain dan  pemahaman melandaskan kegiatan apapun sebagai upaya ibadah masih bukan menjadi prioritas. Mau dibawa kemana akhirat kita :" ?

Jadi, maksud saya menulis ini adalah saya takut sekali dengan pandangan orang-orang setelah tau. Takut sekali dengan ekspektasi orang-orang. Sayanya yang khawatiran sih ya. Tapi saya pribadi benar-benar mengalami yang namanya resah ketika mampir OIA buat ngambil berkas kelengkapan visa yang dikirim langsung dari Jepang. Saya nanya ke diri sendiri. Saya meyakinkan diri sendiri. And it was never been easy. Makanya saya bilang tadi kalau ternyata ngurus segala proses pasca lolos lebih mengaduk-aduk diri dibandingkan proses daftar-daftarnya meskipun yang ini capek fisik :"

Anyway, semoga kita semua jadi pribadi yang lebih baik lagi. Selamat 100 hari terakhir. Pamungkas. Semoga ridha Allah tetap jadi tujuan utama :')

-penerbangan kode AK 349
-di atas awan
-18.02

Rabu, 22 Juni 2016

Bukan Tentang Diri Sendiri

Ketidaksengajaan perjalanan mengantarkan saya dan Husna ke Masjid Jogokariyan. Sudah lama sebenarnya penasaran sama masjid ini kalo pas Ramadhan. katanya, lagi nggak Ramadhan aja subuhnya penuh. Dan, kalau diingat-ingat mungkin terakhir kesini ada enam bulanan yang lalu saat jadwal asrama.

Jogokariyan dikenal sebagai kampung Ramadhan. Dari jaman 2014 kayanya aku tau kalo Ramahan di Jogokariyan itu rame banget. Dan benar. rame jualan. Rame acara. Rame dekorasinya Rame jugaaa hidangan berbukanya. Pas kita datang di waktu yang mepet azan, kita langsung disuguhi sepiring nasi gudeg, kurma,  dan air minum. Dan masih super banyak hidangan yang tersaji, padahal semua jamaah yang udah datang juga udah dapat hidangan tersebut. Dan yang membuat takjub adalah, seluruh hidangan ini disajikan pake piring beling. Which is itu harus dicuci, bukan sekali buang kayak nasi kotak atau nasi bungkuss kayak dua masjid lain yang saya pernah buka di sana.
.
.
.
soalnya....masyarakatnya mau berburu pahala nyuci piring-piring kotor itu :"

kemudian bada shalat magrib, kami kedapatan shaf di halaman, beralaskan tikar. dan depan samping kami ada meja yang tadi dipakai buat menghidangkan bertumpuk piring dan gelas.
terus ada yang lagi beresin piring dan gelas kotornya. Cekatan sekali.
seorang bapak bertangan satu. tangan kirinya hanya sebatas siku.
.
.
.
saat itu kami berdua makin tersadar-sebenarnya saya pernah mau bikin tulisan sejenis setelah menyadari kondisi seorang ibu dengan anak kecil saat Ramadhan-bahwa Ramadhan bukan hanya soal peningkatan capaian diri sendiri. Barangkali kita masih sibuk sama capaian-capaian pribadi. Kuaantitas halaman, rakaat shalat malam, ziyadah dan murajaah hafalan, seberapa sering ikut kajian, berapa banyak yang sudah disedekahkan. Dan dengan bangganya kita merasa Ramadhan kali ini lebih baik dibanding A, B, C, D yang mungkin capaian pribadinya belum sejauh itu.


Lupa kalau masih ada hal-hal yang barangkali untuk orang lain, yang dilakukan teman-teman kita. Hemh, jauh sekali ya masihan levelnya. Mari bebenah diri. Suka kagum sama orang yang baiiik banget nawarin bantuan buat orang lain. Semoga Allah menguatkan kita semua untuk kian bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.


Jumat, 17 Juni 2016

Sidang Satu-per-Satu

Saya menulis ini di ruang sidang skripsinya Maya. Reflek begitu saja setelah kebaperan baru tau Nana sidang nanti siang. Bahkan pake keypad hp. Sekarang sidang Maya-temen (seper)juangan saya di makul sistem pakar. Dan akumulasi mengawal perjuangan 3 malamnya Zahra atas nulis skripsinya.
Ada yang saya takut : ditinggal skripsi-sidang-wisuda. Ditinggal nikah juga takut sih. Tapi saya sadar itu niscaya. Sangat mungkin. Ih apalagi kalo buka sosmed. Itu yang namanya temen itebe kayak panen aja sidangnya. Pekan ini-sejak aturan prodi berubah soal jadwal submit dan sidang-adalah jadwal sidang. Dan karenanya jadwal sidang itu bertubi-tubi tanpa ampun. Bisa paralel sampai 4. Dan bisa berturut-turut 3 sesi. Dan saya tau saya tetap bahagia atas kebahagiaan teman saya.  Walaupun di balik itu semua bisa baper guling-guling *hiks
Barangkali memang saya yang belum bisa atur waktu dan prioritas. Juga fokus yang akhir-akhir ini susah diduakan ke sana *bukan multitasking jenis fokus yang bisa dilakukan cewek macem saya ternyata. Ayo bangun Fiit :')
Dear gengs, kuminta doa ya huhu. Kalian yang membaca tidak perlu komen (di sini ataupun di dunia nyata). Cukup doa saja. Nggak perlu bilang-bilang juga. Saya butuh banyak doa, tapi saya tau saya juga butuh usaha lebih. Semoga Allah menguatkan saya :"
Terimakasih sudah mampir dan membaca. Menjenak dan barangkali menyempatkan doa. Sungguh pada doa-doa kita malaikat akan memintakan pada Allah doa yang sama bagi si pemgucap doa. Dan saya mendoakan teman-teman juga dilancarkan buat skripsinya. Yang udah selesai, saya doakan lancar, kuat, manfaat pasca skripsi. Sampai jumpa juga dalam keadaan yang lebih baik (baca: saya lulus makul TA)

Sabtu, 11 Juni 2016

Sampai Jummpa Besok, FLP-ku :")



sampai jumpa besok, FLP ranger!
#KatakanCinta;
kajian tentang agama dan cerita tentang apa saja
12-6-2016