Sabtu, 20 Februari 2021

Tengah malam, dengan segala letih dan khawatir, tak ada sinyal wifi entah kenapa pun bablas aja tethering.


cuma mau bilang, apresiasi buat diri sendiri.


terima kasih ya fitri, sudah berjuang.

6 bulan perjalanan jadi ibu. tentu nggak mudah.

terima kasih, terima kasih sekali.

sudah beradaptasi banyak hal sampai di titik ini. 

melow bgt rasanya. nangis ga karuan, seperti merayakan sendirian. ah, entah merayakan entah setengah merasa terpuruk sebagian, rasanya jadi tak ada bedanya.

belajar terus mengenali kebutuhan diri, tiada henti. kadang rasanya capek sekali.


baru kali ini ngomong makasih ke diri sendiri sebombai ini rasanya.

Kamis, 21 Januari 2021

#sisakemarin: Tsani dan Ipeh

 


#sisakemarin, Rabu 20 Jan 2021, terjaga sejak nyaris pergantian hari di Selasa
feeling good ingat masa-masa bercengkrama mereka di bumi Sakura sana :")

Rabu, 20 Januari 2021

Ali Si Pemanggul Gandum Misterius

read: karena buat bahan pengen post di ig jadi wording captionnya gak akan banyak iklan seperti biasa haha. Yang aku posting di sini tulisan asli yang ga muat di caption ig yah. Biasa, sulit emang kebanyakan karakter ๐Ÿ˜‚


Pagi ini nangis baca buku ini. Tentang Ali putra Husein cucunya Rasulullah salallahu alaihi wasallam. Sebelumnya aku belum pernah tau tentang sosok ini sepanjang hidupku; ya Allah sedih amat yak.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣Singkat cerita part yang bikin nangis adalah, saat dewasa, Ali ini dagangnya lancar dan mendapatkan keuntungan yang banyak dari tahun ke tahun. Allah izinkan kekayaannya melimpah.⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣Namun, Ali dianggap sebagai orang yang pelit karena tidak pernah '๐™ฉ๐™š๐™ง๐™ก๐™ž๐™๐™–๐™ฉ' memberi sedekah pada orang lain. Orang-orang mencemooh. Katanya, "Untuk apa kaya, tapi pelit?"⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣Di sisi lain, beberapa kali saat malam tampak sosok misterius yang suka memberi sedekah pada para fakir miskin. Ia panggul sendiri karung gandumnya di tengah malam gelap; karung yang ia letakkan langsung, tepat depan pintu rumah para fakir miskin.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣Kejadian ini berlangsung bertahun-tahun. Berkat jasa orang misterius ini, tak ada yang kelaparan saat itu. Tak ada yang tahu siapa ia.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣Sampai suatu hari Ali bin Husein meninggal dunia. Keluarga & para sahabat yang memandikan jenazahnya menemukan bekas luka menghitam di pundak Ali. Bekas luka yang tampak seperti luka seseorang yang sering memanggul beban berat di pundaknya.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣Penduduk Makkah menerka-nerka. ๐˜ˆ๐˜ฑ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ด๐˜ต๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ช๐˜ถ๐˜ด ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ข๐˜ฎ๐˜ข ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ข๐˜ฅ๐˜ข๐˜ญ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ˆ๐˜ญ๐˜ช ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ฏ ๐˜๐˜ถ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ช๐˜ฏ?⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣Benar saja. Keesokan harinya, tak ada lagi karung gandum di depan rumah para fakir miskin. Sampai hari-hari berikutnya pun tak pernah ada lagi sosok pemanggul gandum misterius itu. Akhirnya semua orang menyimpulkan bahwa sosok misterius itu adalah Ali bin Husein.⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣

⁣⁣⁣⁣⁣⁣I couldn't hold on my tears. Benarlah ini dibilang salah satu buku selebritas langit. Biar apa kata dunia, dikenal Allah aja itu: sudah cukup. Kalau dikenal dunia bisa membuat kita disayang Allah ya tentu boleh banget. Kisah Ali menjadi kisah sederhana yang mengingatkan bahwa ga perlu peduli sama kata orang selama kita terus beramal baik. Dicemooh pun, ia merasa ga perlu mencari pembenaran & pembuktian kalau 'akutu ga seperti yang kalian bilang loh'.⁣

⁣⁣Dan hebatnya, ia jaga erat-erat sampai akhir hayat :")⁣⁣

Kaisa 5 Bulan

Waktu berjalan; cepat maupun lambat.
Kaisa hari ini memasuki usia 5 bulan. Rasanya udah kayak bayi remaja.
5 bulan jadi ibu, banyak sekali yang terjadi *hua mulai merinding, jangan nangis plis wkwk
Lalu tetiba aku membayangkan masa Kaisa beneran beranjak remaja dan mungkin sudah ada bahasa gaul pada masanya ia tumbuh, wkwkwk ini akan jadi bahasa jadul yang gak kekinian sama sekali hahaha

Kaisa di usia ini belum bisa tengkurap. Kadang cemas, tapi alhamdulillah sedikit saja. Ingat tugas penting orang tua adalah percaya dulu sebelum anak bisa melakukannya. Jadi so far percaya penuh sama Kaisa. Baru kalau memang secara akademik sudah red flag atau menujunya (semoga saja tidak), kami insya Allah akan konsul lebih serius ke ahlinya. 

Ah tapi, ketimbang fokus pada hal yang belum Kaisa bisa. Kaisa sungguh tumbuh begitu menakjubkan. Hebat ya, usia sangat kanak-kanak ini kalau diamati betul, benar-benar menunjukkan keMahaBesaran Allah. 

Hal paling fenomenal akhir-akhir ini adalah: Kaisa bisa mundur-mundur. Bukan merangkak tentunya karena memang belum kapabilitasnya di usia segini dan kami pun bukan yang bangga kalau dia lompat milestone, karena mengamini bahwa lompat milestone justru perlu dicek lagi karena tiap milestone penting untuk fase tumbuh kembangnya. 

Terjauh selama ini adalah Ahad kemarin, ditaruh di kasur potongan di ruang tengah, dia mundur sampai karpet, lalu lantai (yang mana ubin dan orang dewasa mikirnya itu dingin), sampai lintasan kabel internet dan hampir masuk kamar umi. Hua terhura.

Kalau kata Hilmy, Kaisa kayak udah makin ngerti diajak bicara. Aih, jadi feeling guilty kalau aku bareng Kaisa tapi masih nyambi pegang hape.

Menjalani 5 bulan menjadi Ibu, jujur bukan hal mudah sih. Banyak sekali yang perlu kami sesuaikan, kami pahami, kami kendorkan standarnya. Terutama aku sebagai ibunya. Tapi tentu saja ayahnya juga berperan banyak. Banyak sekali. Terutama juga untuk kewarasan ibunya. wkwkwk lah malah kesini yah.

Lama ga nulis blog emang asa bikin kangen mengejawantahkan pikiran satu satu pelan pelan sampai yang ga kepikiran tadinya pun ikut pengen dituliskan.

Jadi kenal diri sendiri lagi, oh ternyata masalah utamanya tuh aku masih terlalu mudah merasa iri, misalnya (asli ga gampang jujur di pblic space, tapi aih blog mah saha nu maca yah, biarlah jadi kenangan pribadi). Jadi berusaha lebih buat bisa deep talk bareng pasangan. Yah, walau mungkin masih banyak juga yang belum dilakukan. Ah jangan sebut banyak lah, kayak ga menghargai diri sendiri aja. Masih ada yang belum dilakukan. Nah gitu lah, hehe.

Kaisa kalau bangun pagi suka senyum-senyum. Menyenangkan sekali.
Kaisa kalau ditengkurepin, sudah bisa angkat kepala tinggi sekali. Tangannya juga pijakannya sudah bukan ke siku, tapi telapak tangannya. Pun kadang sudah mau angkat tubuhnya kayak mau push up aja.
Kalau baca buku bareng Kaisa, dia merhatiin, kayak pahaaam gitu.
Kaisa suka menyemburkan ludah sekarang, kayaknya udah dari bulan lalu sih. Kami memberi nama perilakunya itu sebagai "habu habu". Soalnya bibirnya akan buka mulut dulu haaaa lalu brrrruuuuu, nyembur deh, haha.
Kaisa masih sua mempertemukan kedua tangannya di hadapan, mainin, ngeliatin.. Sebagaimana yang ada di checklist point buku tumbang anak.
Oh iya! Kaisa sudah punya mau sekarang. Sudah punya teritori. Jadi kan dia lagi suka ditengkurepin dan mundur-mundur gitu yah. Kalau diangkat-misal kayak kita mau shalat git uterus khawatir dia kecapean kalau tengkurep terus, atau area yang dia tempatin buat tengkurep mau dipake shalat-kadang jadi nangiiiis hihi lucu yah.
Kalau ganti popok kadang miring-miring gitu, jadi agak leulah baliinnya biar lurus dulu sejenak make popok dulu.
Oh ya ritme BAB-nya agak beda lagi nih dari sebelumnya. Belum ketauan polanya.
Hihi apa lagi yah.

Sebulan lagi Kaisa makan. Aku jujur agak degdegan sih. Bismillah yah naak.

Turbulensi menjadi ibu pastilah naik turun dan ada lagi ada lagi di setiap fase usia. Kadang usia segini udah kepikiran nanti gimana. Yah begitulah tipikal buibu kayak aku yang suka kebanyakan overthinking. Pelan-pelan mau dikurangin lah, bikin capek kalau ga terkontrol soalnya. Sebelum nikah kerasa, makin punya anak makin kerasa lagi.

Punya anak memang hidup akan bukan tentang diri sendiri lagi. (Naha jadi bahas ini yah, asa kepikiran tiba-tiba). Kami belajar banyak yang mungkin baru disadari ketika hening dan menulis. Tapi memang dasar manusia yang umumnya tidak dibiasakan menghargai diri sendiri sejak kecil. Melihat hal ini emang jujur, sulit. Masih banyakan fokus sama hal yang belum selesai atau belum terlaksana. Aih, jadi kepiiran tiba-tiba bikin buku anak berjudul Terima Kasih, Diriku.

Banyak sekali yang kalau dirasa-rasa, waktu seolah direnggut dan direbut (nangis loh nulisnya asli), padahal tanpa sadar nabung buat akhirat. Banyak sekali yang dirasa-rasa menimbulkan iri dan kesal, padahal mungkin sedang belajar mengenali kebutuhan diri dan belajar mengisi tangki cinta dengan beljar meminta bantuan. Banyak sekali adaptasinya. Bahkan aku ngerasa punya temen banget baca dua HL nya Teh @annisast seputaran baby blues dan adaptasi jadi ibu. 
Memang gak mudah.
Kalau ada yang mudah, ya gak semua orang seperti itu, jadi tidak apa-apa.

5 bulan jadi ibu, kadang ngerasa oh whyyyy kenapa yang harus dipelajarin banyak banget. Kenapa kenapa kenapa jadi ibu mesti tau ini itu. Kenapa jadi ibu ga pernah diajarin di jenjang sekolah manapun padahal ini lifeskill kehidupan semua perempuan mau berpendiidkan atau tidak. 
Kesel karena skill dalam berkehidupan ini lebih penting dari pelajaran fisikaku dulu; rasanya.
Seumur hidup pula.
Kenapa urusan berat badan aja bikin khawatir. Kenapa orang kadang menyederhanakan khawatirku. Kenapa orang mengkhawatirkan yang aku gakpapakan.
Memang jadi banyak hal terasa setelah punya anak sih. Bahkan khawatir akan friksi atau perbedaan pola asuh dan pendapat dengan orang tua, mertua, atau keluarga besar, dan orang-orang lainnya mulai terasa munculnya. Lebih terasa dibanding awal menikah.

Kadang kalau liat Kaisa, kepikiran juga bahwa rasanya ingin aku genggam waktu. Waktu masih mudah melihat senyum dia, selama apapun. Sebebas apapun. Menikmati waktu. Menikmati canda tawa dan bersama-sama. Waktu dia belum punya ingin yang dibuat-buat dan menjadikan tangis sebagai senjata. 
Emosia bayi yang natural, tanpa rasa ingin sesuatu yang disembunyikan sebagai alasan. Emosi yang jujur bahwa ia hanya ingin ditemani dan bersama-sama. Seolah kami orang paling penting seumur hidupnya, tak terganti dan tak tertukar sesiapapun.

Haduh, nangis lagi.

Senyum menyenangkan dan menenangkannya. Senyum pricelessnya yang melelehkan hati. Atau bahkan tawa renyahnya yang memikat hati sesiapa saja kecuali kalau sebelah lagi asik hapean #eh. 

Kadang ada perasaan gak rela mengetahui bahwa senyum tulusnya sewaktu-waktu akan berubah. Seiring berjalannya usia akan lebih dewasa dan bisa memilih untuk memberikannya pilih-pilih.

Tapi nak, Ibu harap kita selalu punya alasan untuk senyum tanpa alasan yah.(lah bingung yah)
Semoga kita selalu bisa meredam dan menenangkan, serumit apapun hari itu. 

Ibu lihat jam. Pukul 03.18. 5 bulan lalu Ibu baru sampai klinik tampaknya, berjalan kesusahan sembari menahan kontraksi; pesan cinta darimu untuk lahir ke dunia. 

Salam sayang, Ibu.

Selasa, 22 Desember 2020

Hari Ibu

 Sejujurnya mataku lelah sekali hari ini. Tapi kupaksakan menulis.


Hari ini hari ibu. Hari ibu pertamaku.

Tak ada yang terlalu spesial hari ini. Fafa mengirimi makanan dan tulisan selamat hari ibu. Ayah bertanya mau pesan apa, kujawab, dari Ayah aku tidak mau sesuatu yang dinilai dengan nominal rupiah. Entah Ayah menyimak dan akan ingat atau tidak.

Aku merenung dan mengingat-ingat hariku yang rasanya runyam 4 bulan belakangan. Hari-hari yang aku tak bisa bohong kalau aku bilang tidak melelahkan. Menjadi ibu sangat melelahkan. Bahkan tadi pagi aku tanya ke temanku, kenapa aku rasanya capek terus. Kenapa gak ngapa-ngapain pun rasanya capek. Kukira tak akan ada jawabnya, atau ya semacam, itu natural saja. Ternyata temanku menyodorkan link tulisan kakak kelas kami. Bisa baca di sini.

Dan, tentu saja ada bahagianya juga lah 4 bulan ini, haha.

Aku hanya mau jujur ke diri sendiri dan bilang. Halo diriku, selamat hari Ibu. Hari yang mungkin biasanya kamu anggap sebagai formalitas. Aku sudah jauh mengurangi akun yang kufollow di instagram. Tapi aku sejak semalam bertekad kuat untuk tak buka-buka instagram hari ini. Menghindari rasa iri atau ingin diapresiasi yang mungkin sesungguhnya tak perlu. Cih, kadang aku melengos seperti ingin meludahi diri sendiri.

Allah sangat memberkahi kami dengan hadirnya Kaisa. Sekaligus di waktu yang sama Ia ingin mendewasakan kami semua. Kehadiran Kaisa setidaknya empat bulan belakangan ini bukan tentang dirinya. Tapi juga aku yang belajar beradaptasi dengan ketergantungan penuh dirinya. Juga Ayahnya yang merelakan waktu-waktu yang ia inginkan untuk membantuku, dan juga merelakan diri bertambah sakit sendinya. Juga tentang Utinya yang mempelajari peran baru menjadi nenek, Akungnya yang juga bantu menenangkan atau mengambil alih saat kami belum shalat maghrib seperti hari kemarin. Juga dua omnya yang suka heboh sama ponakannya walau kadang-kadang ya bahas game juga dekat-dekat ponakannya ini.

Dan waktu berjalan empat bulan.

Sungguh bukan waktu yang mudah buatku *nada tangisu agak memuncak di bagian ini).

Aku hampir saja ikut challenge akun nktchi dan senyum pepsodent tentang menulis pengalaman favorit dengan ibu. Tapi karena kutunda-tunda rupanya hari ini sudah telat pengumpulannya. Aku ingin menulis:

Tidak ada ibu favorit. Semua ibu favorit. 

Sejak aku menjadi ibu lalu membayangkan semua temanku bahkan rekan yang paling mengesalkanku pun, berasal dari rahim seorang Ibu. Menyusu air susu Ibu yang ia dapatkan dengan perjuangan keras ibunya; mengorbankan waktunya, makan dan minum sehat sebisanya, menahan lapar haus keinginan ke kamar mandi apalagi keinginan leyeh-leyeh demi melakukannya. Dan tentu saja, dalam bahasa kasar: merepotkan Ibu.

Tapi kita tak kenal bahasa kasar itu. Kita hanya tahu bahasa Ibu yang mengorbankan segalanya demi anaknya. Dalam bahasa agama, Ibu yang tahu surganya bisa diraih dengan menyayangi, merawat, dan mendidik anaknya. Dalam bingkai ikhlas, ilmu, doa, harap, dan jalan yang Allah ridhai. 

Adanya Kaisa membuka banyak sisi yang jadi aku pertanyakan dari dalam diri. Tentang sabarku, bahkan lebih parah lagi tentang konflik antara aku dan ayahnya. Mengenali diri rasanya jadi tak berujung. Aku di saat yang sama ingin belajar banyak hal sekaligus aku enek belajar banyak hal. Aku menyadari bahwa aku suka belajar dan berjuang amat keras dalam prakteknya. Atau aku salah belajar? Atau tidak tepat dalam belajar? Entahlah.

Kadang-kadang aku bertanya, berapa lama waktu adaptasi sampai benar-benar semua terasa nyaman? Salah satu temanku adayang berkata tiga bulan, tapi hm, tadi pagi dia pun masih cerita tentang letihnya dan harapannya. Teman lain bilang sampai 6 bulan masih suka nangis. Teman lainnya lagi bilang sampai 9 bulan ia baru merasa mendingan.

Ayah bilang aku bisa lebih cepat. Dan aku berharap demikian. 

Rasanya aneh mengatakan pada diri sendiri tentang: Selamat hari Ibu, diriku. Selamat hari Ibu, Fitri. Aku tidak berharap mengatakannya pada diri sendiri. Sebagaimana sebenarnya aku pun ingin hari ini berjalan biasa saja. Namun badai informasi (udah gak buka IGku loh aku niiiiih. Cuma buka yang maksimal giveaway batasnya hari ini doang) membuatku jadi korban hari ibu. Halah, ngomong apaan sih kamu Fit.

Memang kadang aneh rasanya. Jauh sebelum nikah aku menghilangkan tanggal lahir di sosial media karena tak berharap ada yang mengucapkan karena liat sosmed, i highly appreciate yang INGAT. Tapi ya ga ada yg inget juga ga masalah. Keluarga, atau sebatas ibu mendoakanku dan mengingat proses lahir sekian tahun silam sudah sangat cukup. Namun setelah menikah, entah kenapa keinginan diapresiasi itu ada. Saat aku ulang tahun, saat hari-hari spesial, saat hari ulang tahun pernikahan, saat hari ibu, saat kelak Kaisa ulang tahun. Entah apa yang aneh dari diriku. Aku seperti konslet, kena sesuatu.

Hei, kalian pikir aku gak malu nulis gini? Ya jelas malu lah. Jadi kalau baca simpen sendiri aja, ga usah share ke orang lain apalagi digibahin, wkwk.

Waktu berjalan dan tidak bisa diputar. Kadang aku jadi mudah menyesali sesuatu. Tapi Allah sayang sama aku dan ingin peluk aku dengan bilang, aku akan belajar mendewasa. Aku hanya butuh waktu. Percaya itu. Allah kuatkanmu.

Aku jujur lelah, lelah sekali. Aku bisa menertaai diriku sendiri yang kadang ikut sesi-sesi jeda atau semacam meditasi tapi tak ada yang berhasil sama sekali. Sampai-sampai aku berpikir, kayaknya Allah pengennya aku menjadikanNya satu-satunya cara aja, bukan yang lain.

Apa lagi, ya. 

Jadi pengen dengerin bertaut dulu sebentar. Biarin mewek lagi.

Selamat hari ibu, diriku. Belajarlah mencintai dirimu sepenuh hati, sepenuh jiwa raga, sepenuh tubuh.