Sabtu, 08 Oktober 2022

Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik?

 Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 1)

Secara pribadi, saya tertarik dengan ilmu dan topik parenting sejak duduk di bangku kuliah. Meski entah kapan prakteknya, tapi ya tertarik saja. Menurut saya menarik sekali mempelajari sebab akibat atau akar dari perilaku anak. Atau misal perilaku dan respon yang seperti apa yang bisa menumbuhkan anak tumbuh sesuai fitrahnya, mencintai Allah dan rasulnya, menjadi individu yang utuh, merasa cukup dengan dirinya dan mengetahui peran kehidupannya selama di dunia dan menjalaninya sebagai tujuan kebermanfaatan penciptaannya. Berat? Yah ambillah satu saja, menumbuhkan ank yang pandai mengatur emosi, saja dulu. Untuk menumbuhkan seorang anak yang sampai dewasa mampu meregulasi emosinya, nggak kabur kalau ada masalah atau berlebihan nangisnya, itu rupanya nggak sederhana. 

Suami saya pernah mengatakan, suatu ketertarikan pada belajar tumbuh kembang anak adalah suatu privilese, karena tidak semua orang memiliki ketertarikan terhadapnya. Waktu mendengar kalimat itu, saya cukup kaget karena tidak menyangka seistimewa itu posisi mempelajari tumbuh kembang anak dengan serius. Namun seiring berjalannya waktu, saya makin menyadari mengasuh sangat butuh ilmu. Bagaimana ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan pengasuhan, optimalisasi tumbuh kembang, bahkan kebutuhan gerak anak aja ternyata ada teorinya. Ini soal kebutuhan anak yang wajib dipenuhi orang tuanya, bukan sekadar cuma ikut-ikutan atau biar anaknya seneng.

Saya pernah memprediksi kalau urusan alasan pengasuhan saya pada Kaisa itu akan ditentang orang atau minimal dikomentari yang kurang lebih begini, "Dulu juga neneknya ngga begitu tapi anaknya pada sukses, ada yang  jadi dokter juga." atau "Dulu juga neneknya ngga begitu anaknya 'jadi' semua." atau "Dulu nggak pake teori-teori dan nggak aneh-aneh, sekarang juga anaknya pada berhasil." Yha, dan kejadian juga rupanya.

See, orang umumnya melihat tujuan pengasuhan adalah menjadikan anak yang berhasil dalam kacamata umum. Entah menjadi dokter atau ahli IT, businessman atau ustadz, penghafal Quran, masuk kampus terbaik, dapat kerja bonafit.

(lanjut di postingan setelah ini)


Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 2)

Tidak pernah ada apresiasi untuk mereka yang mampu mengelola emosinya dengan baik, yang mengenali apa keinginannya dan mampu mengambil keputusan tanpa takut apa kata orang, yang bisa mengendalikan dirinya, yang memahami minatnya dan ingin berkontribusi dengan jalan yang ia yakini (dalam batasan syariat tentunya), yang terus menjadi pembelajar bahkan sammpai sudah tua kelak (iya kan? Bukannya lebih cepat mencap orang sukses karena kerja daripada dibandingkan yang senang sekali belajar). 

Kadang tuh rasanya kayak kita tuh berjuang banget lho tidak mengiyakan semua keinginan anak, tidak cepat membujuknya dengan 'nanti ibu/ayah sedih lho biar nggak jadi people pleasure', melatih urutan makannya anak biar misal cemilan atau susu nggak dekat sama jam makan, dan mengerem semua komentar atau pertanyaan saaat anak sedang asyik-asyiknya bekerja dan mengobservasi. Dan untuk itu semua, jalannya jauh dan seringkali memutar, bos. Karena ngasih iming-iming, ngasih ancaman bahkan sekecil nanti ibu sedih kalau kamu ngga makan, atau langsung kasih hal yang diinginkan pas anak udah mewek memang jalan pintas.

Tapi lagi-lagi karena ilmu, kita berusaha lagi dan lagi. Dan kadang orang dengan mudahnya memotong itu semua dengan dalih, dulu juga nggak pake teori-teorian sekarang anaknya 'jadi' tuh rasanya nggak enak banget ya ternyata. Memang kita butuh lingkungan untuk membesarkan seorang anak, it takes a village to raise a child. Tapi lebih butuh lagi ilmu, keteguhan hati, dan keyakinan serta terus memohon pada Allah buat dikuatkan di seluruh prosesnya. 

Peluk buat semua orang tua yang mau belajar dan terus mengiringi penngasuhan dengan doa dan tawakkal terbaik. Kalian luar biasa :")