Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mimpi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2025

Insecure + Inferior

 Kehidupan bergerak, berjalan, beserta orang-orang yang kulihat hebat-hebat. 

Tapi dari dulu rasa-rasanya mimpiku sama. Menjadi penulis dan editor, yang karyanya disenangi anak-anak. Sekarang ketika sudah lihat dunia yang luas sekali soal itu, mimpinya jadi bertambah. Pengen dapet penghargaan (bukan sekadar materi atau penghargaannya, aku rasa ini memang karena ingin punya karya yang benar-benar disuka banyak orang), pengen bisa ke mana-mana bahkan keliling dunia karena buku, pengen bisa meneliti sesuatu yang terkait sama buku anak (dan jujur gatau ga kebayang caranya since aku ga ada background pendidikan soal ini).

Jujur insecurenya ada banget. Di antara semua penerima beasiswa, kayaknya cuma aku yang minat ke bidang nulis buku anak (plus editing translating publishingnya), udah gitu skor ielts kurang pula. Rasa-rasanya kayaknya cuma aku yang  ibu rumah tangga dan kerjaannya freelance/part time as ada proyek aja (yah meski mungkin ini juga karena belum ketemu penerima jalur ETG yang lain). Rasa-rasanya kesiapan lanjut sekolahku cemen banget. Yah gitulah, feel inferior. Rasanya pengen escape maraton drakor aja, huft.

Ditambah segala hal yang kayak bikin makin insecure. Gak deng, bikin makin pengen growth (kayak orang-orang, padahal mah ya tiap orang punya jalannya masing-masing). 

Sejak kapan aku nulis? Seserius apa aku nulis? Somewhat yang gue tanyakan tapi gue gantung jawabannya. Aku mebayangkan wajahku di korcil Republika 2004 silam. Senyum, pakai seragam pramuka. Hal-hal yang terasa kecil dan ga ada apa-apanya dibanding orang-orang/ Tapi, lagi-lagi, kenapa harus dibandingin? 

Kadang gue takut bagaimana kehidupan di depan sana. Di saat yang sama ada orang-orang yang gue wondering pengen kalau nanti jadi kayak mereka. Huft, hidup, hidup. 

Somehow, perih rasanya tahu mimpi itu kayak jauh, dan lama. Kayak tertinggal, dan sendirian. Padahal ya ... gak gitu-gitu amat. 

Nangis aku, jadinya aku nulis ini. 

Momennya lagi ada iibf, promotor sastra, penghargaan buku anak, liat cll clmce baru mulai tahun ajaran, liat anak cll clmce presentasi di negara mana-mana. 

Selasa, 07 Mei 2019

Being QA

Menjalani keseharian sebagai QA itu banyak sekali hal yang bisa diceritakan. Tapi aku mau cerita sedikit saja tentang hari ini.

Jaid aku sudah lama tidak mengetes mobile app. Karena dialihtugaskan menjadi pengisi konten dan urus-urus @yaumikids dan di tebi lagi proyekan web sehingga aku mengetes web. Kemarin saat menjelang rilis updatean baru Yaumi, aku kayak ngerasa lain. Kayak kalau punya anak tiba-tiba ndak ngurusin anak gitu lah wkwk. Emang suka lebay nih kalo udah sayang suka dianggep anak, kayak urus iCare 2011 dulu.

Jadi kemarin aku pulang bisa cepat, ndak nunggu rilis karena memang sedang tidak ada kewajiban di sana. Di pengalamanku, resiko pulang malam QA cukup besar jika sudah beririsan dengan momentum dan karena testing itu kerjanya terakhiran kan setelah kerjaan developer. Meskipun dulu waktu atasanku meng-hire freelance QA aku ada pikiran, kayaknya nanti tetep bantu ngetes deh menjelang rilis, soalnya cukup besar dan banyak update kali ini. Dan tiga hari kemarin QA freelancenya mudik dan ke klien, bekerja secara remote. Jadi kemarin aku ndak melihat ia gimana handlenya. Tapi memang pro dan hebat sih menghandle di sela-sela proyekan tuh. Rapi banget lagi kerjanya. Salut dan bangga :")

Hari ini, aku diminta tolong bantu ngetes lagi dan kuterima dengan senang hati. Rasanya kayak ketemu teman lama. Devnya sempet nggak enakan tapi sebenarnya fine-fine aja sih. Sampai mereka bilang, "Fitri telah kembali pada fitrahnya." Aku hanya ketawa saja. Hari ini pulangnya jadi mundur hampir satu jam dari rencana, tapi alhamdulillah, setidaknya bisa membantu sedikit (Ya meskipun konten juga belum selesai, atau aku emang lagi bosan juga makanya ngetes jadi selingan yang menarik dan menyenangkan(?)). Dan nggak nyangka juga akhirnya mereka memutuskan update lagi hari ini :"""". Autosalut. Terbaiq.

Alhamdulillah.
Yuk upate Yaumi 2.0!




Jumat, 26 April 2019

Lesson Learn 24-26 April 2019

1. Hubungan manusia ke manusia itu cerminan hubungan manusia sama Allah
-kata-kata my fav girls yang saat ini tidak menemani di ruangan. Jadi ingat ingin menulis obrolan sama mereka tentang dekat dengan Alquran belum jadi-jadi.

2. Belajar ndak menyerah dan berjuang lebih keras
setelah segala lelah sepagian (u can guess from last post that i draft), sorenya aku dapat email kalau naskah yang aku ikutin seleksi belum rezekinya lagi :") Jadi emang judul April ini semacam bulan penolakan //gaboleh ngomong gitu nanti jadi doa *kata bedah buku magnet rezekinya kak big//, sampai tanggal 23 kemarin aja ya semogaaaaa. Ada naskah bardbook yang tahun ini aku kirim lagi ke penerbit lain setelah 2017 belum rezeki~yang ditolak waktu hari buku anak 2 april kemarin. ada naskah cerpen kartiniku yang aku mentorin lagi ke mas teguh dan itu idenya udah dikirim dari 2017 sebagai rubrik opini umum gitu, lalu 2018 aku kirim as cerpen juga cuman mungkin terlalu mepet ngirimnya, tahun ini aku sampakan lagi pada peraduan. tapi namanya belum rezeki ya gimana yaa. mungkin aku kelewat pede dan salah juga ga nyoba kirim ke media cetak lain (untuk yang mau kasi feedback boleh kasi email nanti kukirim insya Allah). lalu terakhir yang kemarin ditolak 23 april, waktu hari buku. naskahnya dulu sempat diapresiasi waktu pelatihan soal 3 paragraf pertama di Bandung Februari lalu, meski tetap ada masukan juga. kemarin aku kerjakan masukannya namun memang belum rezeki :")) Hanya lucu aja, semua momen penolakan naskahnya pas hari buku anak, hari di mana diperingati karena Kartini menulis, dan hari buku. Masya Allah, bagus sekali untuk dikenang.

Tapi ada teman pelatihanku yang lolos. Namanya Mas Dwi, dulu peserta pelatihan Si Bintang juga di Jogja November lalu. Positifnya jadi ada obrolan di grup itu lagi. Mas Dwi dulu juga bantu aku kasih masukan ke naskah boardbook yang aku kirim. Aku masih ingat wajah beliau yang runyam waktu mikir revisi berjenjang selama workshop. Namun memang pengalaman beliau sudah lebih banyak. Mas Dwi ini kalo aku liat mirip ayahnya temenku hihi. Aku minta belajar dari naskah mentah beliau tapi rupanya pihak pelatihan yang sekarang melarang ngeshare naskah mentahnya.

Lalu juga membuka obrolan soal peserta yang lulus Gerakan Literasi Nasional. Daeng Gegge yang lolos GLN juga dulu sempat kasih testimoni susah banget ya bikin naskah buku anak tuh. Waktu pelatihan di Jogja, Daeng sebagai salah satu petinggi di FLP yang udah nulis buku buat umum, pertama kali nulis buku anak di pelatihan ini dan mengungkapkan kesulitannya. Jadi ya sama-sama. Tapi Daeng meski belum punya portofolio, nekat bikin aja buku anak indie sendiri, ngusahsin nyetak sendiri dan urus ISBN, sama ya cantumin aja buku hasil pelatihan FLP di portofolionya walau belum jadi. Lalu Daeng lolos dooong peserta GLN yang kemarin seleksinya emang mengharuskan punya portofolio buku dulu :") Malah tempat beliau nyetak buku, juga ikut seleksi, lalu tidak lolos. Memang ya rezeki Allah itu ndak bisa ditebak, tapi selalu ada, dalam bentuk yang tepat untuk setiap hambanya :")

Aku ga kut seleksi GLN karena ga ada portofolio dan waktu itu udah japri panitia buat nanya, tapi ternyata gaes, masih ada jalan menuju Roma ya. Itu lihat Daeng Gegge juga ndak nyerah gitu aja, cobain aja tetep kirim berkas, usahain apa yang bisa diusahain. Emang kalo ga nyoba ya kemungkinan kalah langsung 100%, kalo nyoba kan seenggaknya punya modal awal menang alias lolos seleksi 50% :") Aku terharu sih sama perjuangan suhu-suhu dan senior-seniorku di grup ini.

Lalu soal seleksi satunya juga aku belajar. Ini kegagalanku yang keempat. Tapi ya setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing menuju sukses. Aku japrian sama Kak Marissa dan Kak Marissa cerita tentag kata-kata Dinda, teman kami juga. Dia pernah bilang ke Kak Marissa tentang kegagalan Kak Mar, dibilang, "baru 8 kan Mar, yaudah coba lagi aja...."
Kata Kak Mar, mungkin rezeki kit nanti di percobaan ke 10, atau ke 12. Kalo berhenti sekarang gak ketemu, hahaha. Walau capek. Gapapa, niatnya karena senang kan?"
Kak Marissa pernah tanya aku beberapa kali kayaknya, tapi senang kan Fit ngelakuinnya?



Momen ini jug membuat aku dapat suntikan semangat dari orang-orang yang percaya gitu sama keinginanku. Huhu aku terharu dapet japrian. dapet virtual hug juga dari arum.





Kemarinnya juga habis baca tulisannya Masgun tentang mengejar mimpi. Lalu hari ini pas dapet pengumuman ini juga sempat bahas mimpi dan levelnya. Aku pun pernah ada pada pikiran, apakah ini bener yang aku pengen? Apakah aku betulan ingin menulis cerita anak? Bagaimana kalau nanti berubah? Bagaimana jika aku tiba-tba merasa nggak mau lagi mengejar impian ini? Bagaimana kalau ternyata hal itu mengecewakan orang, bahkan orang terdekat yang mendukungku? Atau bagaimana jika setelah terwujud, euforia membuatku berhenti? Atau bagaimana jika aku mentok kalau udah terwujud, kayak bingung habis ini apa ya?
Padahal mah ya jangan mikir gitu atuh Fit. Ayo menanam dan menumbuhkan pikiran baik dan positif biar hidupnya penuh energi positif. Kayaknya emang butuh banget ni aku pikiran-pikiran positif, perasaan-perasaan posiitif, dan motivasi positif.


Ohiya, ini dak terlau penting sih (kayak tulisan ini penting aja woi), kemarin waktu rasanya lagi sedih tu, denger lagu yang isinya ungkapan sayang ayah ke anak Kayak jadi oase aja dari kegersangan lagu yang kalo isinya perasaan antar lawan jenis seringnya. manis ya. terus di videoklipnya ada buku summerhill school yang dijadiin panduan dan referensi temenku dalam mendidik bahkan dia taruh di proposal nikahnya 2017 lalu. jadi penasaran sama isi bukunya (padahal umi lagi nyuruh baca macem-macem ehe). terus reflek sama lagu hatiku sedihnya film musikal sherina. emang yang reflek-reflek susah diboongin ya tentang isi hati dan perasaan. ckckck.
Kepikir mau cerita tentang tidak lolos ini tapi ternyata sarannya sebaiknya ga usah.

3. Momen Kecil yang Membahagiakan
Salah satu hal menyenangkan kalo lagi ngerasa down adalah dihubungin orang-orang. Pernah suatu ketika di tahun lalu perasaanku lagi ga enak banget, temen KKNku tiba-tiba weh nelpon. Aku langsung ke balkon dan aku kayaknya pas itu sampe nangis bentar gara-gara seneng banget disapa orang lama ngga ketemu dan ngga bertukar kabar di tengah segala perasaan lelah.
Lalu kemarin Selasa juga gitu. Tiba-tiba saja Ayah Umak KKN ku nelpon dari Madinah :") video call bahkan di perjalanan ke stasiun. Terus ada beberapa japri, ada diskusi kecil, ada inspirasi besar, ada perasaan senang membagi duniaku ke orang lain. Senang sekali rasanya dikelilingi teman-teman yang baik dan supportif. Senang sekali disapa, dijapri bahkan sesederhana, Fit kalu mau ngerjain di mushala nggakpapa, meski temenku ini nebaknya aku cukup down dengan hal satu, namun waktu itu aku lebih sedih lagi karena ditolak :"). Tapi yaudah, everything shall pass. And what doesn't kill you make you stronger.

4. Fokus
Rabu waktu aku pulang, aku kepleset di tangga. Sudah berdiri dari posisi semi jatuh dan melangkah lagi, aku kepleset lagi. Membuat panik kaka-kaka yang melihat saja....
Pulangnya di perjalanan hampir nyerempet atau kesrempet orang (entah mana yang hampir nyerempet mana yang diserempet)). Pagi  kemarin hampir nabrak orang. Aku jadi bertanya-tanya kenapa ya aku? Susah fokus apa aku akhir-akhir ini?Tapi emang fokus lagi menjadi tantangan sih kalau aku coba merenungi beberapa tindakanku hari-hari belakangan. entah mengapa

5. Merenung
Aku butuh kontemplasi ni kayaknya. Butuh banyak ngobrol sama Allah.
Itu isi kepalaku di perjalanan pulang saat hampir sampai rumah, Selasa atau Rabu lalu. Belum done tapi huhuhu.

6. Belajar
Memang ya, Allah ga akan ngebiarin hambaNya ga diuji walau sedikit saja. Sedih ujian, senang juga ujain. Jadi emang lagi kerasa, saat membulatkan tekad, mau jadi lebih baik di suatu hal. Langsung Allah kasih aku ujiannya. Lalu aku gagal melewatinya :"""""
Lalu Allah kasih aku lagi ujian yang mirip karena aku ndak berhasil melewatinya.
Sungguh pas banget ujiannya sama apa yang sudah aku niatkan. Padahal waktu ga diniatin, ga ada tuh ujian kek gitu. Masya Allah ya :""""
Jadi kepikir, memang kalau mau menghindari atau lulus dari suatu ujian. Bisa jadi yang bisa diusahakan di skup kecil adalah menjauhi triggernya :")

7. Menjadi Orang Tua
Kemarin diskusi soal beberapa prinsip sama teman, tentang value yang diajarkan orang tua yang kok kayakanya kacamata manusia kita masih sulit ya nerapin itu di kehidupan sehari-hari. Lalu aku jadi kepikir, masya Allah, susah banget ya jadi orang tua. Bagaimana anak mau nurut tapi bukan karena takut, karena tau kalau itu memang perintang untuk menaati Allah. Soalnya kalo karena takut gitu nanti anak cari aman deh, yaudah gapapa kalo ga ketahuan, hihihi.
Tapi kata Ummi emang, jangan dipikir takutnya. Mirip semangat dari Kak Big waktu bedah buku magnet rezeki nih, ubah pikirannya jadi bisa. Insya Allah Allah mampukan.

8. Menjadi Orang Tua part 2
Tadi pagi lihat igstori kak Asti tentang GTM (Gerakan tutup mulutnya Hafshah). Terus ada beberapa poin soal minta ke Allah supaya anaknya mau makan. Tertulis, mungkin ini sebuah permintaan receh ke Allah, tapi kalau ga minta sama Allah terus sama siapa lagi?
Lihat juga wastory Suci tentang cerita keahiran anaknya (cepat sekali ci hampir setahun berlalu sejak kamu menikah :")). Yang masya Allah dimudahkan sekali Mulai dari afirmasi positif, dukungan keluarga, dan pengharapan ke Allah, usaha dan doa. Terharu :"). Luar biasa ya orang tua tuh. Tapi lebih luar biasa lagi orang tua yang sepenuh hati doa, ikhtiar, dan tawakal ke Allahnya kerja bareng-bareng. Semoga Allah kuatkan dan mampukan.


9. Doa yang Panjang
Tadi aku lihat seorang Kakak, yang baru saja usia menikahnya 11 harian. Doanya lama usai zuhur. Aku tersenyum haru bahkan sampe berkaca-kaca. Peran baru, amanah baru, keluarga baru. Aih, banyak sekali tentu pinta yang perlu dilangitkan, soal kesakinahan keluarga, soal kekuatan menjalani peran dan amanah baru, soal menjadi sebaik-baik istri untuk suaminya, soal kekompakan keluarga. Karena kalau ngga minta ke Allah, ke siapa lagi dong ya? :") Pantas saja ya doa ibu makin panjang Makin banyak anaknya juga mungkin akan bertambah panjang :"")
Ya itu tebakan dan kesoktauan aku aja sih. Tapi rasanya manis :")

10. Apa yang Disenangi
Aku pernah punya rasa penolakan dalam diri mengerjakan sesuatu yang aku tahu itu bukan pengejaranku jangka panjang Tidak ada dalam rencana-rencana atau keinginan.
Tapi kemudian tersadar aja kemarin, ah ternyata aku masih egois ya, menghindar karena itu. Padahal kan masih relate sama pekerjaan. Dan pekerjaan juga amanah. Dan akhirnya hal tersebut pun kuusahakan jua :")
Satu dua aku kadang sampai juga pada pertanyaan, apa sudah menjalani apa yang diinginkan? Walau ya aku senang dan sayang kok dengan pekerjaan sekarang Tapi kadang-kadang ada aja tu muncul momen begitu. Hehe, emang manusiaaa manusia. Bingung ya? Maksudku, kadang aku nanya, kenapa ngerjain ini itu tapi ga bisa ngebela-belain buat nulis. Kenapa willingnessku menambah skill di bidang kerjaan ngga semenggugah dan seinisiatif buat ikut dan daftar-daftar di bidang menulis. Duh apa aku mesti diwork on lagi kayak waktu itu. Nggak mau tapi adang rindu. Rindu semangatnya :") Ckckck, manusia. Hayo Fit, ga bisa apa emang ga agendain? ga bisa apa emang ga meluangkan waktu? ga bisa apa ga mau?

11. Fahri UN, Fatih Sakit
Fahri ujian nasional. Sebenarnya niatan aku dari pekan lalu, aku pengen pulang sore terus sepanjang Fahri UN. Tapi ternyata itu tidak kuusahakan maksimal. Aku masih menjadi budak bukan tuan pekerjaan dan ndak memprioritaskan huhuhu.
Apa ya, ada perasaan pengen nunjukin dukunganku ke Fahri. Kemarin-kemarin pun selama Fahri UN, kalau aku kalah oleh lelah, aku bahkan tidur duluan daripada dia. Meskipun hanya erbaring dan melihat langit-langit. Ngobrol sendiri maupun sama Allah. Jadilah mulai hari keberapa kemarin itu, pokoknya pagi harus salim, harus ngasih semangat, gitu kataku ke diri sendiri. Suka malu kalau dia belajar, atau pas liat aku pagi-pagi, akunya malah sibuk sama HP. Itu di aku perasaannya kayak, ini gue lagi berusaha, si kakak kok kayaknya enak banget ya. Kan kalo lagi berjuang enaknya dapet temen berjuang bareng-bareng ya :"), jadi aku tu niat awalnya pengen jadi temen berjuang dia... Dulu aku UN SMP SMA selalu sama temen-temen asrama. Jadi kerasa semua orang berjuang gitu. Aku senang juga dia pakai rumus yang kurangkumin dari bukunya :")
Memang being elder sister rasanya suka ngga mudah.

Fatih sakit. Tapi tadi pagi ngomongnya sudah banyak. Sudah bisa melucu. Sudah bisa ngasih soal ke aku tentang faktorial (padahal aku baru tau faktorial juga SMA). Kadang ngerasa bersalah kalau Fatih lagi banyak cerita akunya lagi balesin pesan jadi ga fokus sama dia. Dia di rumah libur UN. Tapi karena sakit ya ndak banyak aktivitas memang. Lucu tadi pagi tiba-tiba minta makan, tapi mintanya Indom**, katanya, alasannya kan lagi sakit. Hahaha, bisa ae emang anak ini. Atau salim tapi arahnya minta ke kompresnya, katanya biar keteken lagi kompresannya.

Pulang hari ini aku sembari pesan makanan. Tadinya mau kubeli tapi kalo aku mampir jatuhnya aku same rumahnya lebih lama. Niatnya beli mensyukuri Fahri yang sudah selesai UN. Fahri senang, alhamdulillah. Meski di akhir setelah Makasih ya Mbak, dia bilang, Fahri jadi takut kalau nilainya nggak sesuai harapan (memang ya rejection doesn't kill you, expectation does, ckckck). Tapi aku bilang ndak apa-apa. Kan sudah berusaha, sekarang waktunya berdoa. Aku senang sih dia terlihat hepi sekali waktu makan. Walaupun katanya maunya burger hihihi.

Pernah suatu waktu Fahri nih curhat sama aku. Dia merasa nggak diapresiasi sama Umi Abi. Aku tahu, bukan Umi ga apresiasi sih, tapi memang dia ni keliatannya minim banget belajarnya. Banyak main rubiknya. Pinjem HP Umi buat main game. dsb dll. Tapi dia sampe nunjukin akun ig sesuatu aku lupa yang isinya video sepasang orang tua dengan 2 anaknya. Yang satu nilainya bagussss banget yang satu jelek. Tapi si ibunya tau anak yang nilainya jelek ini usahanya keras, belajar sampe begadang, dsb. Terus waktu suasana ga enak di meja makan karena bahas nilai, ibunya alihkan pembicaraan dan nyendokin lauk yang enak gitu kalau ga salah ke anak yang nilainya jelek. Penghargaan atas usaha kerasnya.

Aku minta link video itu ke Fahri terus aku forward ke Umi. Aku bilang apa yang dia rasain. Aku pun menyadari sih, beda banget dia mau UN sama dulu aku mau UN Ya mungkin karena aku sekolah asrama juga ya jadinya kerasa banget, lha wong semuanya UN kan iklimnya iklim belajar. Dia nih kemarin waktu masa-masa TO, UASBN, dan pemantaan materi, ngga ada feel-feel UNnya sama sekali aku tu ngerasanya. Jadi aku paham, sudut pandang Umi kalau ngasih nasehat, kalo gemes, karena dia ngga keliatan belajarnya. Terus udah gitu alesan dia, kan udah belajar di sekolah. Ya kan kurang maaaas kalo hanya di sekolah aja. Lalu juga dengan hasil TO yang agak sedih kan Umi makin gemes ya. Memang ujian cem ujian nasional ini yang disiapkan dua sih, mental aanak dan mental orang tua. Karena kadang ada, yang anaknya biasa aja lalu orang tuanya yag panik, atau bahkan menekan. Ummi sebenarnya nggak ada sih kalo sampe menekan yang gimana gitu. Pengennya sih anaknya sadar, mau belajar dan meningktkan intensitasnya. Juga meningkatkan intensitas mendekat ke Allahnya. Kalau diingat-ingat aku pun dulu kayaknya Umi ajarin buat tahajud waktu menjelang UN SD deh. Ya mungkin telat juga, tapi ndak papa dari pada tidak sama sekali hehe.

Ya gitu sih, hanya sedikit makanan yang dibeli tapi dia senang alhamdulillah :")

Sudah malam, ikan bobo (ala-ala iklan taun berapa ya? hehe)
Eh tau ga funfact kalau ikan bobo ga merem loh. Karena dia ga punya kelopak mata.

Semoga jadi lebih baik setelah menuliskan hal-hal ini. Semoga menjadi pelajaran yang tertuang dalam laku.

Rumah, 1.59
tadi aku udah tepar duluan.

Minggu, 24 Maret 2019

"Mimpimu Itu Seru."

"Kak," seseorang, usianya lebih tua dari pada aku. Tapi kadang manggil aku pake sebutan Kakak.
"Aku seneng kamu ikutan agenda ini," katanya. "Seneng waktu kamu revisi naskahmu, semoga ini bisa jadi jalan mewujudkan mimpimu, ya." Dia diam...."Mimpimu itu seru banget."

Aku sebenernya kaget dapet kata-kata kayak gini. Tapi aku tersenyum. Berterima kasih sudah dikirimi gambar-gambar foto buku anak terbitan oxford. Buat saran aku revisi naskahku. Dan i have no idea kenapa si kakak ini bilang gitu ke aku. Entah tulisan mana yang dia baca. Entah kalimat apa yang ia dengar dariku selama acara.

Mungkin nggak banyak ya orang di sekitarku yang tertarik sama hal-hal seputar buku-buku dan anak-anak. Ya gimana ya akunya juga masih gini-gini aja. kalo udah profesionl mungkin lingkarannya banyak. Tapi itu bukan alasan sih. cuma cerita aja aku juga.

Pernah suatu ketika aku gemes banget pengen cerita tentang pameran buku atau nemu buku anak baru Tapi zaki udah ga di Badr terus aku bingung cerita ke siapa wkwk. Akhirnya aku belajar. Belajar meredam.

Itu kata-kata lama. November, 2018

Pengen ditulis dari dulu tapi akhirnya sekarang karena ketrigger tulisan ini

Menikahlah dengan seseorang yang juga mau menikahi mimpi-mimpimu. Yang matanya berbinar ketika citamu berbinar. Yang senyumnya ikut terkembang ketika asamu terkembang.
- melangkah searah by : Aji Nur Afifah
beberapa waktu lalu juga nemu kalimat ini di skrinsut-skrinsutan hp lama, tapi belum kepikiran re share hehe

sungguh, bukan kode ini mah ya. tolong jangan mikir aneh-aneh. zzzz

Ai, Aku, dan Kenangan Masa Kecil

Senin saat meetup, Ai pm aku di line. Ngajak ketemu.
Ai adalah teman SDku. Terakir ketemu mugkinn waktu buka puasa SD yangg saat itu kami semua lulus SMA. 2012 kalau begitu. Nikahan Tria kemarin di Andalusia dia sakit. Ai ngajar les bahasa Jepang di Depok juga, nggak jauh dari kantorku. Aku baru tahu beberapa waktu lalu waktu kami berencana datang ke nikahan namun Ai tidak jadi bisa datang.

Waktu aku datang, Ai baru dapat telepon. Rupanya pihak perusahaan tempat Ai melamar yang menelepon. Meminta Ai mengirim CV lengkapnya untuk diteruskan ke perusahaan Jepang.

Dulu Ai adalah murid pindahan. Ia masuk di kelas empat saat kami hendak ujian kenaikan kelas ke kelas lima. Ai pindahan dari Jepang dan seharusnya sudah naik kelas lima. Tapi kalau dia ke kelas lima, akan sulit ssekali ikut ujian kenaikan kelas ke kelas enam. Ai di Jepang dari TK besar. Waktu Ai baru masuk, Ai masih kesulitan berbahasa Indonesia. Bekalnya pun masih gaya Jepang. Makannya masih pakai sumpit. Aku juga ingat waktu menemukan komik conan yang tebalnya kayak Nakayoshi kalau di Indonesia. Lalu aku baca dan berpura-pura menebak apa dialog gambar yang menunjuk pulpen di saku. Lau benar. Dan kami tertawa kala itu.

Kami juga sempat pada fase-fase seneng banget ngobrolin conan the movie yang tayang panjang hari minggu sekitar waktu maghrib. Bahkan bisa ngobrolinnya via telepon waktu iklan. Ckckck, segitu nggak bisa tahannya ya ngorolin filmnya. Padahal besok di sekolah juga ketemu.

Dia juga sempat cerita setiap malam ibunya semacam ngebimbelin dia dan kakak adiknya buat belajar bahasa Indonesia. Bahkan Ai sempat muntah-muntah karena stres dengan pelajaran di sini. Luar biasa ya perjuangan Ai. Bahkan ayah ibuku-ayahku kenal ayahnya Ai ternyata-sampe nyebut Ai itu Aisyah Jepang, padahal nama aslinya juga bukan Aisyah, tapi Aisyiyah

Ai bercerita dengan semangat sekali tentang melamar kerja di Jepang. Tentang inginnya Ai bekerja di Jepang. Tentang bayangannya. Kalau aku tanya, kenapa Ai ingin bekerja di Jepang, Ai tidak bisa menjawab. Tapi aku jadi sadar, Ai mirip aku.

Kesenanganku soal masa kecil yang menyukai buku anak cukup merasuki alam bawah sadarku. Sehingga aku ingin menjadi penulis buku anak sampai sekarang. Mimpi yang entah kapan aku akan mengusahakannya demikian keras *huft. Mimipi yang masih aku inginkan dengan malu-malu. Semoga saja terwujud, aamiin.

Kupikir, Ai juga begitu. Ia punya keterikatan masa kecil dengan Jepang, sehingga sepenasaran itu ia ingin kembali ke Jepang. Sejak pulang ke Indonesia waktu SD, Ai sudah pernah dua kali ke Jepang. Waktu menang lomba pidato Bahasa Jepang dan liburan dengan nabung. Tapi mungkin begitu ya, namanya ingatan masa kecil... Entah apa yang terjadi pada kami. Sehingga punya ingatan masa kecil yang masuk dalam alam bawah sadar, mengetuk-ngetuk dan meletup-letup minta diwujudkan.

Tadinya pengen nyari foto aku SD sama Ai. Ada beberapa. Tapi aku malas beranjak dan membuka file-file lama yang tidak di laptop ini....

Semoga lancar ya Ai :)
Semoga kelak aku juga bisa ke Jepang dan mengunjungi Ai di sana :")

Selasa, 12 Februari 2019

Central Park dan Anak-anak

Saya sampai di tempat pemberhentian Taman Anggrek pukul 9 lebih sekian belas menit. Tujuan saya central park. Sebuah frase tempat yang pertama saya tahu daru novel terbitan Noura berjudul Petang Panjang d Central Park; yang ketika itu saya tahu adalah nama taman di Amerika. Tidak tahu kalau ini (juga) nama mal di Indonesia. Seperti yang saya bilang sebelumnya di postingan blog lalu lalu. Saya jarang banget tertarik lihat-lihat mal. Kalau kata Abi, lihat mal tuh untuk nambah wawasan aja. Hahaha.

Saya jalan saja mengikuti dua orang di depan saya, yang setelah lama saya ikuti, saya bingung kenapa mereka ke basement lewat pintu kecil,. Lalu saya jadi tahu. Mereka karyawan mal ini dan tentu saja bukan masuk lewat pintu utama karena mal pun belum buka.

Saya berjalan sampai arah mushala dan ternyata mushala pun belum buka. Kehidupan mal baru mulai pukul sepuluh. Lampu-lampu masih gelap.

Saya duduk di kursi-kursi dekat toilet yang lampu depannya pun masih remang-remang. Membuka dashboard blog. Membuka blog kak marissa. Kembali, saya berkaca-kaca, menangis.

Saya merasakan cinta dan ketulusan besar di sana. Saya menangis. Membayangkan betapa besar cinta dan ketulusan yang disampaikan oleh anak-anak. Bukan sekadar cinta dan ketulusan kak marissa yang sampai pada saya. Tidak hanya itu.

Lima belas menit menjelang pukul 10. Saya memutuskan berjalan-jalan. Ada gramedia big sale di tengah-tengah yang sudah dibuka sebagian terpalnya. Saya mendekati rak buku impor anak. Ah tapi kalau lihat-lihat nanti khawatir ditegur. Karena saya adalah pengunjung yang datang bukan di waktu yang tepat. Mal belum buka.

Saya berjalan. Tiba-tiba saja saya mendengar suara celoteh riang anak-anak yang ramai. Dari arah atas. Saya ke selasar samping karena saya searah dengan alur jalan anak-anak itu sehingga tidak bisa melihat mereka. Saya menatap mereka yang berjalan beriringan. Duh, saya mulai baper lagi. Saya menyusul ke atas, menaiki eskalator yang mesinnya juga belum berjalan. Eskalator rasa tangga manual.

Ramai sekali anak-anak itu. Datang dengan riang gembira. Berceloteh. Saya baru tahu Jakarta Aquarium itu di sini. Rupanya perjalanan dalam basement saya yang panjang tidak mengantarkan saya ke central park, tapi juga neo soho di sebelahnya (buta arah lah lewat basement tu, di atas aja saya bingung....). Satu anak ada di paling belakang. Agaknya bisa dibilang tertinggal rombongan. Perempuan. Rambutnya keluar-keluar kerudungnya. Walau jauh, ia loncat-loncat. Riang. Gembira. Tak peduli soal dia datang lebih belakang. Toh ia akan sampai juga.

Lagi-lagi entah kenapa, saya kembali menangis melihat anak-anak itu. Tadi saat duduk saya begitu bingung kenapa saya mudah sekali menangis beberapa hari belakangan. Dulu waktu saya lagi banyak nangis, Kak Marissa baca pola saya menangis. Sekarang, saya kembali bertanya-tanya, pola apa sih yang bikin saya mudah sekali haru atau nangis kecil-kecil gini?


Eskalator bergerak. Menjelang pukul 10 dan mal akan beroperasi sebagaimana adanya.
.
ditulis di tempat tadi, baru dirapikan sekarang.
.
.
.
belakangan saya bertanya pada diri sendiri,
bisa nggak ya apply seleksi 3 paragraf ini 
bisa nggak ya jadi penulis bacaan anak
bisa ngga ya kasih kebermanfaatan yang luas buat anak-anak
bisa nggak ya menjalani dan percaya itu semua bisa di tengah-tengah segala kehectican pekerjaan akhir-akhir ini (saya selalu berpikir untuk menjadi penulis itu bisa sambil kerja yang non penulis)
.
saya nggak mau ragu sama diri sendiri :"
jadi inget juga, kalau ngga bisa jaga perpus tuh suka sedih, kasihan sama anak-anak....
(tadi bilang ini juga sama kak marissa abis baca postingannya setelah yang tadi kubaca)

.
ah fit, kamu banyak pr yang belum selesai malah curhat di sini,
bukannya diselesein....

Sabtu, 26 Januari 2019

Jumat, 11 Januari 2019

Keluarga dan Mimpi

Denger lagu one million dreams di radio.
"Bagus itu filmnya."
"Iya, gue nyesel ga nonton di bioskop."
"Yang aku suka itu tentang keluarga," kataku.
"Keluarga dan mimpi," kata temanku.
Lalu aku tercenung.
***
Halo masa depan, keluarga dan mimpi bersama seperti apa yang kelak akan kujalani dan kuhidupi?

Rabu, 21 November 2018

Saya dan Konten Kebaikan untuk Anak-anak

Saya begitu melankolis akhir-akhir ini. Mudah sekali menangis, sebabnya masih saya terka-terka. Bisa jadi multi alasan, bisa jadi hanya satu alasan terkuatnya. Belum ditemukan.
Dan saya pikir saya akan menahannya sampai Januari, baru bercerita banyaak.

Tapi barusan saya makan sendirian di ruang tebi yang sepi karena pada wfh dan ke wisma mandiri. Lalu saya yang (ngakunya) tidak suka makan sambil disambi, memutuskan buka youtube. Sebenernya bingung mau nonton apa. Kepikiran dengerin kajian kali ya, udah lama banget ga dengerin kajian. Tapi ada notifikasi episode launching perdana Nussa. Bukan, bukan yang animasinya, tapi yang kayak ada sepatah dua patah kata dari kreatornya.

I don't expect i will cry, di tengah-tengah menonton sambil memitili daging ikan oleh tangan. Yha, rasanya itu posisi nangis yang gak banget. Alhamdulilah sendirian di ruangan.
Saya nangis bagian mereka bahas soal konten untuk anak. Soal korelasi maling dan kisah kancil, maling dan kisah mencuri kain bidadari lalu menikahinya. Bukan, ini bukan pertama kalinya saya dengar soal korelasi itu. Saya nangis, ngga tau kenapa. Tapi rasanya campur aduk antara saya pengen banget bisa contribute soal buat konten yang baik untuk anak-anak. Dan Nussa dengan kerennya sangat percaya diri membranadingkan diri sebagai Islamic Edutainment Series. Selalu bangga liat orang yang bangga dengan keislamannya. Kayak flip yang kalo jam shalat dia ngasih tau usernya kalau mereka lagi break shalat.

Mungkin ini juga berkorelasi sama perasaan saya terhadap adik-adik.
Beberapa hari belakangan saya punya perasaan gagal sebagai kakak. Saya kadang merasa gagal saat nggak bisa membatasi adik bungsu saya menonon video review game, menonton youtube atau tv kelamaan, sulit mengajaknya ke masjid atau sikat gigi, nggak bisa memberi alternatif kegiatan untuk ia mengisi waktunya, belum bisa menstimulus otak cerdasnya. Merasa gagal menjadi kakak yang bsia menjadi teman buat adik kedua saya. Saat ia pulang dengan lelah dan saya merasa bertanya baik--baik tapi ia bentak. Dan saya merasa lelah atas itu semua. Lelah yang nonsense mungkin. Tapi ya itulah. Saya juga manusia, sebagai tambahan barangkali, yang melankolis.

Semalam, sebelum tidur, saya menonton Serial pertama Nussa bersama Fatih. Hepi sekali saya yang telat pulang dari Jakarta sampai rumah dan Fatih belum tidur (padahal harusnya udah). Dan dia belum nonton juga, padahal tadi sebeluum berangkat dia bilang mau nonton meski gakpapa nonton lagi sama saya. Seperti biasa Fatih sulit sikat gigi, tapi senangnya dia mau tidur saya temani. Kadang-kadang dia nolak aku gituloh milih sama Ummi aja. Lalu kami berkemas mengeluti kasur (istilah Jawa-menebah dengan sapu lidi). Memasang posisi yang cukup nyaman, lalu menonton Nussa.
Pas sekali Nussa episode pertamanya soal tidur sendiri. Lebih dalam lagi, itu adalah tentang adab sebelum tidur.

Usai menonton, saya reflek mengingat usaha saya kala menulis cerita yang masih sebutir jagung. Udah mah sebutir jagung, jiper banget karena ngerasa ini kok ceita biasa aja. Padahal kalau saya lihat Nussa, dia juga cerita anak-anak biasa. Bukan yang penuh drama atau pake plot twist dan konfliknya super sederhana. Even saya juga bertanya-tanya apakah wajar kakak laki-laki yang juga masih kecil mau menemani adiknya tidur (sungguh itu mulia dan manis sekali), mengajari adab tidur, small talk sebelum tidur. Yang saya tahu yang biasa demikian adalah orang tuanya. Tapi peduli apa? Buat saja kontennya, itu bisa diurus belakangan. Niat baik, konten yang baik, ada banyak sekali yang menyukainya.

Kalau saya menulis cerita, saya sering sekali merasa ini kok biasa aja sih, ga ada konfliknya, ga ada klimaksnya, gitu-gitu aja. Tapi ya dari ngobrol bersama teman saya suatu waktu, saya jadi belajar soal nulis yaudah nulis aja. Ga usah kebeban sama harus beda dari yang lain, harus unik, harus punya plot yang menarik. Ah, nggak nulis-nulis kalo gitu.

Ingatan setelah nonton Nussa juga terbang pada ingatan ketia saya mengikuti seminar nulis cerita anak oleh Litara saat FDII 2017 di perpusnas. Saya ingat saat itu ada peserta yang berasal dari Serial Sopo Jarwo mendatangi pembicara saat usai acara. Mereka menawari pembicara untuk membuat naskah script untuk serial Sopo Jarwo selanjutnya. Di detik yang sama semalam saat mengenangnya, to be honest, i am envy. Saya iri sama semua pembuat konten kebaikan itu. Yang kontennya bisa dirasakan manfaatnya sama anak-anak. Membangun karakter karena mudah sekali anak-anak mengidolakan tayangan visual saat ini. Saya mengenang masa kecil saya yang diisi oleh cerita sebelum tidur dengan 5 huruf vokal (misal saya minta tokoh Botol, maka Ummi akan membuat cerita dengan 5 tokoh: Batal, Bitil, Butul, Betel, Botol, (yang saya ingat tokoh yang lain adalah pintu), begitu seterusnya) dan dongeng di kaset warisan kakak sepupu saya yang saya dengarkan sepulang sekolah, barangkali masih mengenakan seragam saat itu.

Saat ini, badan saya merinding, merinding yang kayak pengen nangis gitu.

Ingin sekali bisa berkontribusi membuat kebaikan untuk anak-anak. Yang bisa menjadi investasi bagi karakter dan akhlak baik untuk anak-anak kelak. Yang nggak cuma sendiri, tapi punya tim, dan boleh jadi itu keluarga. Tadi saya ingat Devi Raissa sang pembuat buku anak Rabithole yang bekerja sama dengan suaminya dalam pembuatan buku. I don't say it is a must. Tapi saya pikir kolaborasi seperti itu akan menyenangkan. Tapi nggak usah muluk-muluk ke sana sih. Menjadi tim bersama diri sendiri pun mesti diusahakan, meski punya tim tentu menyenangkan (sepaket dengan segala tantangannya). Sedalam apa niatan saya untuk membuat konten-konten kebaikan dan hubungan orang tua-anak yang seperti apa yang saya inginkan. Bukan bergantung dari orang lain. Why besar yang datang dari diri saya sendiri. Saya kembali bertanya pada diri sendiri.

Mohon doanya agar bisa berkiprah di dunia konten kebaikan untuk anak-anak, ya :) Kalau mau kolaborasi boleh bangeeeet :")))
ohya, karena ini dilanjut malam hari dan kemudian saya jadi ingat saran teman untuk mencoba membuat blog yang isinya cerita anak (walaupun saya pikir itu ngga perlu pas itu), tapi ada baiknya saya coba. Silakan kalau mau berkunjung ke mari. *Sungguh tidak terpikir awalnya akan ngeshare ini.

dimulai dan diakhiri di ruang yawme, sepi juga sih
dimulai setelah makan siang-sekitar magrib

//terus aku lanjutin lagi
salah satu hal gemas yang menjadi pemicu aku nulis ini adalah kejadian kemarin, inget tadi siang tapi pas menyelesaikan tulisan ini malah ketinggalan ditulis

"Dek mau masak ager lagi nggak?" tanyaku ke Fatih.
"Mau Mbak," jawab Fatih, di tengah bujukan sikat gigi.
"Bikin di loyang yuk, buat syukuran ulang tahun Mas Fahri," kataku. Pikirku, Fatih itu lagi seneng-senengnya sama ager. Pasti dia semangat deh akan ager banyak. Seloyang kan banyak banget.
"Nggak mau Mbak." Aku kecewa. Kenapa nggak mau?
"Fatih maunya seember," katanya polos.
Hahaha, Dek, gemes aku.

Lalu lebih malam lagi, usai menemani Fatih tidur. fahri lagi nyalin catatan gitu dari buku tulis ke bindernya.
"Dek, nulis apa?" maksudku sebenarnya adalah dia lagi nyatet apa, materi apa, pelajaran apa.
"Fahri tuh kayak dulu lho Mbak, pas zaman Rasul. Pas Quran turun kan pada nulis di mana-mana. Nah sebelum punya binder Fahri juga nulis di mana-mana. Sekarang mau disatuin."
Yha, ini anak memang kadang lucu juga :")

Sudah, sekian. 
Tadi di jalan bulannya purnamaaa. Kayak udah lama banget ga liat bulan bulet meskipun tadi samar gitu, kayaknya langit cukup berawan.

Minggu, 30 September 2018

Anak yang Menunggu Ayahnya

"Tau ga..." Mas Salingga diam sejenak, menarik perhatian kami. "Kalo pas pulang nih, udah deket rumah, suara motor udah kedengeran dari rumah tuh. Terus markir motor, standarnya diturunin. Anak-anak lari keluar, teriak, Ayah, Ayah! Ayah pulang! " jeda sejenak.
.
.
"Itu precious banget."

***
Saya tiba-tiba saja ingat kembali kalimat itu. Kayaknya udah lama banget deh Mas Salingga cerita itu di ruangan. Mungkin pas Yawme masih di bawah. Ndak tau kenapa ingat itu. Kemudian jadi ingat juga entah igstory Kak Reqgi atau wastory Kak Amri yang Kak Amri ada di dalam sarung terus Zayd sama Aqila teriak, "Ayah, Ayah hilang! Ayah hilang!" Hangat sekali melihatnya.

Anak-anak tidak pernah berbohong. Dalam menunggu waktu berharga dari orang tuanya. Their pure willingness  :")

Jadi inget juga video ini yang dishare di grup tebi pas temen-temen nyari inspirasi konsep video campaign.





Ingatan soal cerita Mas Salingga tadi membuat saya jadi mengingat Abi yang belakangan bolak-balik keluar kota. Mungkin dalam setengah bulan terakhir, tidak ada sampai setengah hari ketemu abi kalau ditotal, atau bahkan sepertiga hari juga tidak sampai. Di usia saya yang sekarang, kalau Abi pulang, apakah saya sungguh-sungguh menyambutnya? Heu. Jangan-jangan malah sibuk sendiri, main HP misalnya.

Terus saya jadi kepengen bikin konsep buku yang isinya tentang menunggu seseorang pulang ke rumah. Dulu pernah liat-liat di gramed pas masih di jogja (mungkin hampir dua tahunan yang lalu berarti) ada buku anak terjemahan dari Jepang kalau nggak salah, berjudul Nanti itu Kapan? Isinya tentang seorang anak yang ibunya lagi sibuk menjaga dan melayani pembeli di toko sehingga seringkali saat anaknya minta atau bertanya sesuatu, ibunya menjawab, "Nanti." Lalu si anak wondering gitu nanti itu apa dan kapan. (kalau mau cari, keywordnya Nanti itu Kapan? Satoko Miyano atau liat spoiler isi dalamnya secara online di sini)

Kepikirannya  semacam bagaimana anak menunggu Ayahnya pulang dari ia masih kecil sampai ia dewasa. Dan bagaimana juga yang berlaku sebaliknya; bagaimana orang tua menunggu anaknya pulang, dari si anak kecil sampai dewasa. Yang paling penting adalah eksekusinya sih. Karena menyedihkannya aku ini udah lama sekali ngga nulis. Hiks :((


jadi ingin menghambur meluk abi kalau abi pulang .
dan...
jadi ingin punya suporter dalam masalah tulis menulis ini .



Minggu, 04 Februari 2018

Oliver Jeffers dan Buku-Bukunya

gambar dari sini

  • About Oliver
Beerawal dari share-an di suatu grup tentang titip menitip buku di kinokuniya Alih-alih mencari referensi, saya justru melihat-lihat buku anak (dan membandingkan dengan bookdepository).
Lalu saya menemukan...buku-bukunya Oliver Jeffers.

Berawal dari ketertarikan terhadap buku yang berjudul How to Catch a Star, lalu menemukan beberapa buku yang mirip style covernya. Maka saya mencari tau tentang Oliver Jeffers dan menemukan beberapa situs tentangnya dan karya-karyanya.


Setelah kepo sinopsis-sinopsis buku dari brief yang ada di bookdepository, saya menemukan spoiler-spoiler isi bukunya dari laman http://www.oliverjeffers.com/picture-books/ dan amaze dengan karya-karyanya. Beberapa yang jadi wishlist adalah Here We Are, A Child of Books, The Day The Crayons Came Home, The Heart and The Bottle, dan...tentu saja How to Catch A Star. Bisa jadi ada buku lain yang menarik tapi saya menahan diri buka satu-satu karena khawatir sama wishlist yang semakin banyak *lah.
gambar dari sini

Here We Are saya tertarik soalnya membahas tentang alam semesta tempat kita tinggal, dan ilustrasinya yang begitu menyeluruh dan detail. A Child of Books karena spoiler halamannya yang ada di sini yang salah satunya bisa dilihat di gambar paling pertama. 

gambar dari sini

The Day The Crayons Came Home karena idenya kreatif bangeeet. Imagine bahwa bagaimana jika semua krayon yang dimiliki oleh seorang anak bernaa Duncan pergi dari rumah Duncan, ada yang karena ingin meliat dunia luar dan merasa dirinya membosankan (warna pea green), ada yang karena berantem merasa dirinya warna matahari dan ingin membuktikannya ke matahari (orange and yellow, dan akhirnya mereka tahu bahwa warna matahari adalah..warna hot! wkwk), dan krayon berwarna lainnya yang uniknya krayon-krayon ini ngirim kabar juga ke Duncan dengan postcard. Aku berpikir bahwa dari judulnya, nanti akan ada episodde bahwa si krayon-krayon ini balik ke rumah Duncan. 
gambar dari sini


The Heart and The Bottle karena ceritanya mengisahkan seorang anak perempuan yang ingin meletakkan hatinya di dalam botol untuk mengamankana hatinya. Aku penasaran sih kisah selanjutnya gimana si anak ini dengan hati yang dia taruh di botol itu. Terakhir judul yang How to Catch A Star tentu saja karena aku suka bintang di langit dan cerita di sini mengisahkan keinginan sederhana seorang anak yang begitu menyukai bintang. Ia suka sekali mengamati bintang dari jendela kamarnya dan bermimpi bisa berteman dan bermain bersama bintang. Akhirnya dia membuat rencana agar bisa menangkap satu bintang untuk dirinya.
gambar dari sini
Saya pernah ngobrolin soal cerita anak dari luar negeri bersama salah seorang editor di Noura. Beliau waktu itu bilang cerita anak dari luar itu sifatnya menghibur dulu, kalau di sini masih lebih banyak yang sifatnya memberi informasi dan pelajaran lebih dulu. Masih sedikit sekali yang menghibur, begitu katanya. Waktu lihat-lihat buku Oliver Jeffers ini saya kembali ingat kata-kata beliau. Betapa lepasnya imajinasi penulis seperti Oliver Jeffers tapi masih bisa dimengerti dan tetap logis untuk ranah imajinasi. *nahlho bingung kan. 

Senin, 13 November 2017

Oleh-oleh FDII

Sudah lama sekali rasanya nggak model-model yang habis ikut sesuatu terus share ke blog, ehehe.
Tapi momen FDII 2017 kemarin rasanya spesial sekali :")

I gain many inspirations and bunch of feelings there. Sejak masuk di gedung perpusnas, melihat para panitia yang dresscodenya adalah celemek bertuliskan "Penjaga Mimpi", dan melihat banyaaak sekali anak-anak di sana. Beserta ayah bundanya :") Rasanya terharu sekali, nggak cuma karena liat anak-anak dan kebahagiaan mereka di sana, tapi juga melihat perjuangan orang tuanya mau berlelah-lelah ke tempat acara untuk nganter dan ndampingin anaknya.

Kelas pertama yang saya ikuti adalah kelas membaca nyaring. Istilah ini diadaptasi dari istilah read aloud yang diambil dari buku berjudul Read Aloud-nya Jim Trelease. Jadi Bu Rosie, yang suka banget sama buku ini dan menggagas buku ini untuk diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, bilang kalau mendongeng itu kan nggak pakai buku, nah read aloud ini pakai buku. Dan ya tentu saja membacanya tetap dengan intonasi yang sesuai dengan ekspresi dan tanda baca. Oh ya, Bu Rosie ini dari Komunitas Reading Bugs yang mengingatkan kerjaan saya untuk mencari bug di aplikasi wkwk dan beliau ini sudah punya cucu. Sungguh by the way aku terinspirasi untuk bagaimana tetap produktif di usia sudah punya cucu.

Buku yang Ibunya bawa menarik-menariiiiik :")) jadi nambah wawasan tentang buku anak dan kuingin mengoleksinya jadinya. Kabar baiknya beliau bilang suka ndapetin di toko buku bekas, tapi di Pasmod BSD *dulu pernah ke sana jaman masih jadi anak tangsel. Nama yang jual Pak Husni kalau nggak salah. Kabar buruknya, nggatau kapan bisa ke sana. Ibunya dapet 1 buku Franklin dengan arga 5000 cobaaa.

Oh ya dari Bu Rosie juga aku tau kalau buku anak itu sebaiknya ditulisnya bukan dengan huruf a ang kayak di font Times New Roman, tapi a yang bulet itu yang gendut dan garisnya di samping kanan.

Mengapa demikiaaaan...salah satu alasannya juga adalah karena membaca dari buku itu akan megenalkan anak pada huruf, meskipun mereka belum bisa membaca. Sebagaimana manusia lebih mudah menangkap sesuatu melalui gambar, begitu pula kata juga kumpulan dari gambar; gambar huruf.
"Anak itu maunya bukan dibacainnya, tapi mau waktu orang tua."
Satu hal yang aku suka juga dari konsep membaca nyaring ini adalah. Membaca nyaring ini cukup 15 menit setiap hari. Dan yang penting itu prosesnya. Jadi kalau misal satu buku dibacainnya tiap 4 halaman terus dilanjut besok ya gakpapa. Anak akan penasaran dan itu memang prosesnya. Juga dengan ngobrol banyak tentang isi buku, detil gambar buku, apapun. Itu prosesnya. Anyway ada lo picture book ang isinya pure emang gambar ajaa tanpa teks. Ehh tapi ya kalau mau baca sebuku juga nggak ada larangan.
"Di otak itu ada bagian limbik yang berhubungan dengan perasaan. Limbik ini punya pintu yang tertutup di usia seitar 6 tahun.  Kalau bagian itu tertutup dengan suara orang tua yang menyenangkan, kelak besar keika ia punya masalah, yang ia cari adalah suara orang tuanya. Dia tidak akan cari kemana-mana lagi." 
-Bu Rosie Setiawan
((quote yang gini-gini nih yang menstimulus pingin jadi fulltime mother kelaak :"))

Oh ya dari sesi kelas ini ada buu yang menarik perhatian: Emillia Belum Mau Tidur dan Coba Lagi Coba Lagi yang diilustrasi oleh Mbak Gina. Ilustrator ini aku sebut karena  ada hubungannyaa nanti di akhir :")

((sapai jumpa di tulisan kedua))

ini slesai sampai sini Senin lalu kayanya, 6/11. Entah kenapa kemarin ga langsung dipos

Kamis, 03 Agustus 2017

Picture : Kodomo Raiburari

when i suddenly found this pict and...i wanna post these all
-perpus yang jauuuh banget dari stasiun, dibela-belain bujuk temanjalan waktu itu kesana setelah ke beberapa tujuan dan ternyata perpusnya....tutup hari itu :")

*kumenyesal ndak foto bersama gambar sebelumnya. eh tapi di yang di sparklingin itu masih keliatan ding :") Semoga Allah kasih kesempatan di lain waktu untuk masuk dan mengeksplor.

btw, setelah kepo, nama website perpus ini id URL nya kodomo (gemes banget gak sih, kodomo tu artinya anak-anak :")


dilihat dari pintunya aja, kita bisa menebak bahwa dalamnya akan banyak petualangan :")

once upon a time, kita harus ketemu lagi, ya :')

tambahan bonus
-perpuskota Jogjakarta; setelah dikasih blokade area khusus yang lumayan tinggi itu, belum pernah baca-baca lagi. Dulu mah, masuk aja dan baca buku-buku di sana. Ada beberapa buku anak yang ngga biasa ceritanya; tapi matter dan bisa ngasih pandangan soal case kehidupan yang ngga biasa jadi konten bacaan anak. Sayang, terakhhir nyari di toko buku ndak ada :"

-perpus Magelang, depannya doang soale masih tutup libur lebaran

-There is a reason why I posted these pictures after accidentally finding the first photo that evokes my memories :')

-Rumah, 3 Agustus 2017




Rabu, 11 Mei 2016

Ngga Papa Patah Hati

"Aku nggak papa (mbak) Fit kalau patah hati berkali-kali. Urusan suka sama orang, urusan apalah yang lain. Tapi jangan sampai aku patah hati sama urusan mimpi dan cita-citaku. Termasuk soal penelitian."

*ada mbak yang dikurungin untuk mengaburkan ini siapa orangnya dan angkatan berapa.

Semangat ya! Semoga Allah memudahkan dan menguatkan jalanmu ke Swedia :'). Kalo kata Ummi, ketika usaha kita udah-wawancara dsb, sekarang ruhiyahnya harus terus dikuatin. Semoga ini jadi jalan Allah memberi peluang-peluang kebaikan dan perbaikan untukmu ya :')

Terima kasih telah menginspirasi ;) #SaudaraSampaiSurga

Kamis, 15 Januari 2015

Nusa pada Saya

"Aku lebih mengingat kamu sebagai penulis Fir, bukan sebagai mahasiswa"
"Aaaaa, gapapa Nus gapapaaaa.... "

-Nusaybah Amatullah :')
yang kerap memanggil saya Firti daripada Fitri
Senin, 5 Januari 2014 sesaat sebelum Shalat Zuhur

Minggu, 20 Oktober 2013

Tentang 10 November


Halo ! Jadi saya ngepost foto ini bukan karena saya lolos seleksi sebagai lima besar yang beruntung. Pengumuman ini termasuk pengumuman yang saya tunggu-tunggu BANGETTTT sejak 30 September kemarin. Pengumuman yang menentukan keadaan saya buat 10 November besok. Yang jelas, saya pengen hadir di acara yang bisa dihadiri kelima orang beruntung itu.

Tapi, mungkin memang bukan rezeki saya. Atau kabar baiknya, ini rezeki yang Allah berikan pada saya dengan caraNya. Allah tahu mana yang terbaik, bukan? Mungkin memang saya yang kurang persiapan, kurang bahan materi, kurang banyak hal lah. Tapi overall, ikut lomba ini setidaknya membuat saya membuat satu karya. Tidak dirugikan, insya Allah :")


Bismillah, tetap semangat, tetap menulis Fitriii. Semoga kamu bisa lolos di lain kesempatan. Meski 10 November itu sebenernya sesuatu yang kamu inginkan pake banget, pangkat sekianlah pokoknya, hehe. Tapi Allah memberi begini, ya syukuri. Kehidupan terus berjalan, bukan? Dan harus dengan dirimu yang makin produktif!

Semangat menulis, semangat berbagi dan menebar kebaikan :) !

Ohya, bacaan keren hari ini : http://azaleav.wordpress.com/2013/10/20/tentang-mimpi-no-20/
Mohon bantuan doanya juga ya, saya pengen bisa jadi seorang penulis :) , yang bisa berbagi rahmat ke seluruh alam pokoknya *inget Teh Karin, ceritanya bahkan belum saya post* aamiin

Terimakasih buat semua yang mau baca dan ikut mendoakan ^^

Kamis, 11 Oktober 2012

Buku, Perpus, dan Membaca

Dan buku....mungkin hari ini ia jawaban dan pengusir kesal yang baik .

Sebenarnya hari ini saya cuma mampir ke toko buku. Tapi entah kenapa ya...rasanya menyenangkan dan penuh harapan banget pergi ke toko itu.
Dan entah mengapa bagian yang nampaknya amat menyenangkan untuk saya lihat-lihat adalah bagian buku anak-anak. Bauklah, kita mulai dari awal.
Hari ini sepulang kuliah saya mampir ke suatu tempat, kemudian mampir juga ke toko buku, padahal say agak niat-niat amat ngerencanain mau ke toko buku ini. Toko bukunya cukup besar, dan...lagi ada diskon di halamannya. Ya..lumayan gede juga sih diskon bukunya,,,tapi akhirnya jadi pengen liat-liat juga.
Entah kenapa, saya paling excited ngeliat buku buat anak-anak. Serial-serial buku pengetahuan yang dibikin kayak komik jadi menyenangkan, cerita-cerita teladan sahabat dan para Nabi buat anak-anak *aduh, udah bukunya menarik, hard cover, warnanya  bagus dan enak diliat, seri tokoh dunia*yang per buku satu tokoh dibahas itu looh, serial st clairenya Enid Blyton *dari dulu SD suka liat di toko buku tapi belom pernah baca T.T, buku-buku Chicken Soup yang zaman sekarang mah udah banyak banget versi for-siapanya *ada yang buat Mom, buat wanita karir, buat remaja, buat pecinta kucing--ya Allah banyak banget deeh, pengen baca semua rasanyaaaa >.<. Aku juga tertarik pas liat buku tentang pengajaran di Jepang tuh intinya pake pujian, bukan hukuman *pengen baca banget gatau kepana, buku serial what*ada tentang profesi, dan macem-macem deeh. Ya Allah---rasanya pengen bisa punya kesempatan buat baca buku itu semua~~*bahkan saya jadi ngerasa pengen beli, buat suatu saat nanti kalo saya jadi guru, atau buat suatu saat nanti~~buat anak saya *setiap liat buku anak-anak jadi pengen punya anak :P *colek Nikari>> yang kata Tyani juga suka bilang gitu, *haha, nis~kita sehati :P

Saya jadi ingat,
dulu semasa SD, saya  sukaaa banget banget baca novel untuk anak-anak usia saya. suka banget baca tulisannya Asma Nadia sama Helvy Tiana Rosa, sama serial Novel anaknya Benny Rhamdani, Serial Fathia-nya Eka Wardhana, dan entah masih banyak lagi serial-serial itu kini masih berjejer manis di Cibinong sana. Suka banget juga baca karya-karyanya Enid Blyton *pasukan Mau Tahu--walaupun cuma punya 4 atau 5, Lima Sekawan *walaupun cuma punya 2, sama ada juga buka lainnya yang dapet minjem dari Pakde Nani sama Pakde Fikri. Suka banget baca serial STOP *akronimnya Sporty-Thomas-Oskar-Petra--dengan latar belakang Jerman. Juga Sapta Siaga. Pasukan Mau Tahu, Lima Sekawan, STOP, sama Sapta Siaga semua intinya sama. Model sekelompok orang yang menguak misteri apalah, menyelidiki, mengendap-endap, pokoknya semacam detektif gitu. Liburan kemarin waktu liat satu set Lima Sekawan di toko buku *dengan model cover baru tentunya. uwaaaaa rasanya mau banget. meskipun entah kenapa rasanya saya kepingin yang model lama aja. Ah sungguh saya pengen~ .
Dulu, kalo main ke rumah tante Ima atau ke rumah Ifa, juga suka banget baca-baca buku keren. Gak tau deh itu namanya serial apa. Pokoknya di tante Ima sama di rumah Ifa yang saya maksud sih sama. Satu set, bukunya tuh kalo gak salah disebutnya buku berjendela. Jadi ada kotak-kotak yang bisa di buka, terus ada gambar lain di sana. Misalnya ada gambar rumah, terus bagian pintunya itu bisa dibuka, tanpa menembus ke halaman belakangnya, jadi seakan-akan gambarnya berubah ke yang punya rumah itu bukain pintu. Aduuh dulu aku seneng banget buku itu.*sekarang juga kalo ada yang beliin mau ko :3. Dulu bukunya bisa tentang mengenal asal-usul warna, nari-nyari benda, semacam itulah. Bukunya keren banget, hard cover, full colour, *dan harganya so pasti juga kereen--" hehe :D. Tapi alhamdulillah , bisa baca juga meski minjem.

Rasanya pengeen banget, suatu ketika nanti, saya punya perpustakaan dengan isi buku-buku yang keren itu. Buku-buku sirah Nabi dan sahabat buat anak-anak, buku-buku ilmu pengetahuan buat anak-anak, buku-buku cerita, dongeng, novel, buat anak-anak, buku-buku adab buat anak-anak *yang biasanya diterbitin mizan itu looh, buku-buku biografi, buku-buku kisah inspirasi,buku-buku yang menyenangkan buat dibaca anak-anak deh pokoknya.Saya juga nggak ngerti kenapa saya begitu pengen punya ini semua, terutama yang buat anak-anak. Di bayangan saya, saya suatu saat mengajar, membawa buku tentang banyak hal, tentang dunia, dan anak-anak itu dapat mengenal dunia dari sana--sekalipun belum pernah mengunjunginya. Mengenal berbagai tokoh dunia, dan termotivasi dapat seperti mereka. Sungguh saya ingin. Juga membayangkan suatu ketila saya membacakannya untuk anak-anak, seperti bagaimana saya membacakan buku Andai Aku Sebuah Mobil Balap pada adik bungsu saya Fatih sambil menyuapinya makan*ah, sungguh saya rindu :")

Tapi sungguh, membaca itu benar-benar menyenangkan. Dan penting. Mengapa penting? Membaca bagaimanapun juga akan membuka imajinasi, pikiran kita secara otomatis akan membayangkan bagaimana setting dalam cerita, mengikuti nafas perjalanannya, merasakan debar-debar ketika mengendap-endap dalam persembunyiannya, bahkan bisa juga ikut teriak berseru kaget ketika tokoh utama kaget. Kadang imajinasi kita bisa seolah menjadikan suatu tempat yang kita tahu sebagai objek yng diceritakan dalam cerita yang kita baca. Di sisi lain, kita juga bisa menciptakan suatu latar baru bagi cerita yang sedang kita baca.

Dan usia anak-anak...sungguh usia yang tepat untuk semua itu. Ehm, mungkin saya belum cukup pantas ngomong banyak masalah ini. Tapi saya mengerti bahwa usia anak-anak (TK dan SD terutama) biasanya belum banyak aktivitas selain sekolah, ibadah, dan main. Jadi kebiasaan membaca sungguh amat baik untuk ditanamkan sejak dini. Saya sadar sekali waktu yang saya habiskan untuk membaca lebih banyak saat usia saya SD daripada ketika SMP dan SMA. *tapi tiap orang beda sih

Biarlah anak lebih suka membaca daripada menonton. Dengan membaca, imajinasi anak-anak akan lebih berkembang. Tapi saya ingat dulu pernah baca di notes FBnya seorang penulis, bahwa jangan harap anak-anak kita akan suka membaca, suka menulis, jika orang tuanya hanya mendorong tanpa mencontohkan. Dan memang benarlah kalimat itu. Jangan-jangan kita sibuk menyuruh mereka, tapi di sisi lain juga sukanya fesbukkan*dalam artian bukan melakukannya untuk hal berguna(saya tahu FBan pun aada manfaatnya juga :)).

Dan usia anak-anak juga usia emas :'). Usia yang baik untuk menanamkan berjuta kebiasaan baik. Selain lewat peneladanan, buku pun bisa jadi contoh yang bagus dan memotivasi. Oh iya, dongeng sebelum tidur juga bisa memberi banyak pengaruh baik lewat anak. Selain dengannya orang tua akan menggunakan waktunya khusus dengan anak, artinya menambah kedekatan. Dengan dongeng juga anak akan banyak belajar, ia juga bisa bersifat kritis. Bertanya ini-itu. Kok bisa? Mengapa begitu? Mengapa ia membalas dengan perbuatan baik? Mengapa ia baik sekali membagi kepunyaannya? (aduuuh, rasanya manis sekali membicarakan hal ini :') )


Baiklah, selamat membaca buat semuanya, selamat berimajinasi, selamat bersenang-senang di dalamnya. Saya selalu iri jika banyak orang yang bisa menyempatkan diri untuk membaca *terutama membaca banyak hal baik dan bijak dalam kehidupan. itu juga membaca kan?

Rabu, 21 Desember 2011

Menulis dan Inspirasi

Di IC, seringkali aku dapet inspirasi. Ya, gak seringkali juga sih. Ya, inspirasi kadang-kadang secara tiba-tiba muncul. Tapi emang bener kata orang-orang. Inspirasi muncul kalo lagi gak dicari. Kalo lagi dikasih tugas buat nulis atau bikin suatu karya, inspirasinya malah mentok. Ya, entahlah mengapa bisa begini.

Kalo inspirasi udah mampir ke kepala, rasanya aku pengen langsung nulis. Biasanya yang muncul di kepala itu ide buat bikin tulisan, pandangan atau opini, cerpen, cerita pelajaran hidup. Ah, apa deh yang tentang itu.

Cuman masalahnya di IC gak gampang buat tiba-tiba langsung ada komputer buat nulis, terusnyadi publish ke blog. Yah, buat nulis langsung aja susah apalagi dipublish segala. Ada mungkin ya komputer perpus kalo mau ngebela-belain tiap istirahat kesana. Tapinya seperti yang dibilang tadi. Inspirasi datengnya tiba-tiba dan bisa dimana aja. Berhubung gak setiap saat-setiap waktu ada komputer n gak setiap saat juga aku punya waktu luang buat nulis. Jadi kadang ide-ide itu muncul, seru dipikirin sendiri, terus entar melayang entah kemana, terlupakan.

Aku udah coba buat mengantisipasi ide-ide ini biar meskipun terus berlarian, aku masih bisa ingat. Yaitu dengan menuliskanide-ide tersebut. Ya, nulis inti-intinya aja, sih. Walaupun dengan cara ini gak semua ide bisa ketulis semuanya. At least aku udah coba untuk membingkaikan mereka, meski belum sempurna.

Cuma kadang kalo begini caranya, feelnya kurang dapet. Maksudku, kalo kia tiba-tiba dapet ide, terus langsung dituangkan ke tulisan pasti feelnya lebih terasa dan waktu nulis lebih bersemangat daripada kalo nulis ide kemudian dibikin tulisannya ntar-ntar. Tapi, ya itulah. Mau gimana lagi, coba?

Sampai sekarang, aku berkeinginan untuk menjadi penulis. Sekalipun aku belum pernah membuat cerpen terus dimuat di majalah, sekalipun aku nggak ikutan kelompok yang biasa bikin cerpen di sekolah. Ehm, sepertinya penglaman yang mendukung cuma karya yang pernah dimuat di rubrik Korcil Republika waktu kelas 4 atau 5 SD. Hehehe XD

Tapi, ya entahlah. Aku tetap ingin jadi penulis! Seorang penulis yang dapat meginspirasi orang banyak. Yang dapat membuat karya bermutu yang memuat nilai-nilai islami. Aku ingin jadi seorang penulis yang dapat membuat perubahan ke arah yang lebih baik bagi aku dan pembacanya.  Ya, aku ingin jadi penulis !