Kebersamaan Adalah

Kamis, 24 Juli 2014

"Kebersamaan adalah saat kita memperjuangkan hal yang sama bukan menghabiskan waktu bersama."
dikutip dari kata-kata Mbak Tika di grup WA Srikandi 7

[Resensi#12] 33 Pesan Nabi#2 : Jaga Hati, Buka Pikiran (Komik Hadis Bukhari Muslim)

Sabtu, 19 Juli 2014

Judul Buku          : 33 Pesan Nabi : Jaga Hati, Buka Pikiran (Komik Hadis Bukhari Muslim)
Penulis                 : vbi_djenggoten
ISBN                      : 978-602-9346-36-7
Penerbit              : Zaytuna
Ketebalan           : 158 halaman
Ukuran                 : 22 cm

Sebagaimana buku pertama, komik hadis nabi ini kembali membawa pencerahan bagi umat muslim dengan cara yang mengasyikkan. Diubuka dengan prolog yang cukup menyidir secara halus soal Indonesia dengan negara muslim terbesar di dunia. Banyak orang bergelar haji, namun persoalan korupsi masih mendominasi. Masjid tumbuh di berbagai penjuru, tapi maksiat juga semakin kencang melaju. Kajian pagi hari penuhi televisi, namun siang sampai malam diisi oleh acara kemaksiatan nyaris tiada henti. Lantas, Iman, tokoh dalam komik tersebut bertanya pada ayahnya, “Kenapa bisa begitu? Kenapa harus bangga?”

Sampai kemudian anak ini menjawab sendiri, “Apakah karena jumlah yang banyak itu tidak lebih seperti buih? Buih yang mudah tertiup angina ke sana ke mari, terbawa arus tak tahu arah, rapuh dan mudah pecah… Apakah karena itu?” kemudian dilanjut lagi, “Apakah ayah juga termasuk buih itu?” sang ayah kaget, tapi mungkin sebagai pembaca, kita juga kaget. Apakah bahkan kita termasuk buih itu? Cerita kemudian ditutup oleh hadits yang isinya tentang manusia yang banyak jumlahnya tetapi justru seperti buih kotor yang terbawa air saat banjir, yang kemudian merasa wahn, cinta dunia dan takut mati.

Seperti komik edisi sebelumnya, ada 33 komik pengisi yang akan mengantarkan pembaca menjemput hikmah dari hadis nabi melalui kejadian yang dekat dengan keseharian pembaca pada umumnya. Bercerita tentang seorang anak yang menjadi pelawak tapi malah menertawakan orang tua dalam lawakannya, tentang seorang bos perusahaan yang mulanya terlalu mencintai kemewahan dunia akhirnya tersadar oleh tulisan hadits pada surat pengunduran diri stafnya yang sudah tidak tahan terhadap sikap bosnya itu, berbohon yang dibolehkan, cerita tentang orang yang mengeluarkan begitu banyak uangnya untuk kampanye menjadi caleg, orang yang suka mengutuk, dan bagaimana ayah data tersentuh karena keikhlasana naknya menyedekahkan tabungan yang ia miliki.

Beberapa kisah yang diceritakan sebagaimana keseharian di rumah. Beberapa kisah merupakan keseharian di ranah perusahaan beberapa tentang adab dan kebiasaan baik seorang muslim. Kisah yang menyentuh, mnyindir, dan menyadarkan. Ketiganya tergabung menjadi satu dan diperkuat dengan adanya hadits nabi. Buku ini tidak hanya cocok dibaca oleh segala usia, namun juga sehgala kalangan. Baik pelajar, penduduk, maupun orang-orang yang menempati jabatan strategis di pemerintahan maupun perusahaan, karena ada beberapa cerita yang peran utamanya dalah tokoh tersebut. Komik ini mengajari tanpa menggurui, dan tentunya memberi kesan mendalam terhadap emmaknai hikmah-hikmah dari hadits nabi.


Tidak Harus Passion

Jumat, 18 Juli 2014

"Kamu ga harus passion di bidang tertentu, yang penting kamu ketemu dengan sesuatu yang ingin kamu ubah dengan ilmu yang kamu punya selama mempelajari bidang ilmu tersebut"
kata-kata Kak Suci Fadhilah semalam, dengan sedikit perubahan tanpa mengurangi makna

[Resensi#11] 33 Pesan Nabi : Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut (Komik Hadis Bukhari Muslim)

Kamis, 17 Juli 2014

Judul Buku          : 33 Pesan Nabi : Jaga Mata, Jaga Telinga, Jaga Mulut (Komik Hadis Bukhari Muslim)
Penulis                 : vbi_djenggoten
ISBN                      : 978-602-9159-00-4
Penerbit              : Zaytuna
Ketebalan           : 132 halaman
Ukuran                 : 22 cm

Ketika menyampaikan kebaikan dengan cara biasa sudah bertemu pada kebosanan, maka komik ini adalah salah satu alternative penyampai kebaikan. Ada 33 hadis Bukhari Muslim yang disampaikan melalui komik. Kejadian sehari-hari yang menjadi cerita dan menyiratkan hikmah dari hadis nabi membuat pembaca tersentil dan tertegun, kemudian tersadar karena kejadian itu merupakan kejadian yang dekat dengan keseharian. Ada kisah polisi yang menolak suap karena akin Allah melihat meskipun kejujurannya tidak terlihat oleh masyarakat. Ada kisah seorang bapak yang mencela makanan, kemudian tertegun melihat anak kecil yang mengorek tempat sampah untuk mencari makan, kemudian ia tersadar.tentang takhayul yang masih jadi kebiasaan masyarakat.

Ada cerita yang membuat terenyuh berjudul Malu. Mengisahkan orang miskin yang datang ke pembagian daging kurban hanya karena ingin menyenangkan ibunya meskipun ibunya telah melarang. Sampai di tempat pembagian, ia malah menjadi malu, karena untuk berebut sekerat daging, banyak rang harus berebut dan menyakiti hati orang lain seolah-olah manusia tidak lebih brharga dari sekerat daging kambing. Si orang miskin ini malu sekali engan keadaan yang terus berulang. Katanya, “Jumlah intelektual muslim kita banyak, tapi kenapa hal remeh seperti ini terus berulang?” Kemudian katanya lagi, “Kadang saya berpikir, apakah mungkin orang-orang seperti kami ini memang sengaja dibiarkan begini, agar kaum berharta bisa menjadikan kami tumbal dosa mereka? Menjaga prasaan suci dengan menabur remah-remah roti… kalau benar-benar begitu…saya malu…saya malu dengan muslim di negeri ini….” Kisah ini kemudian dittup dengan hadis nabi tentang malu.

Masih banyak kisah lain yang menggugah. Dekatnya kisah yang diceritakan dengan rutinitas keseharian membuat pembaca sadar akan masih banyak perilaku yang perlu dibenahi. Semisal adab mendengarkan khutbah Jumat, soal mematuhi perintah atasan, tentang makanan pesta yang mestinya juga diberikan pada orang-orang miskin, dan lain sebagainya.

Dengan kedekatan kisahnya pada keseharian, buku ini cocok dibaca oleh segala usia. Muda maupun tua, laki-laki maupun perempuan. Bisa disampaikan kepada anak-anak dalam pengajaran formal maupun non formal, serta cocok dijadikan kado untuk sahabat. Semoga bermanfaat J !


Sakinah-Mawaddah-Warahmah

“Sakinah itu kalau kita tahu kekurangannya (pasangan), maka yang dilihat adalah kelebihannya. 
Mawaddah itu kalau kita tahu kekurangannya (pasangan), justru kelebihannya itulah yang membuatnya sempurna : kelebihannya menyempurnakan kekuranganku. 
Warahmah itu kalau kita tahu kekurangannya (pasangan), kita bilang : Ya Allah, jadikan kekurangannya ini menjadi jalan kebaikan bagiku.”

-Bunda Ningrum Maurice, dalam salah satu kajiannya di Deresan :”)
[nggak lagi ikut kajian munakahat kok, kajiannya tentang ini]

Kita : Sang Peminta

Selasa, 15 Juli 2014

"Di depanmu malu-malu ku memandangmu
Di depan Tuhanku terang-terangan aku memintamu"
-
Hari ini crowded. Dan saya cukup malu untuk mengakui beberapa ketertinggalan. Ketertinggalan dari teman, target, niat, bahkan apa yang seharusnya dilakukan. Dan entah kenapa, secara tidak sengaja, Maghrib tadi saat sedang puncak-puncaknya, saya ingat quote di atas itu.

Oke, itu kalimat yang mungkin terdengar galau. Atau apapun terserah kalian. Kalimat itu saya dapat semalam di pos salah satu teman di sebuah grup WA. Tapi Maghrib tadi, yang saya pikirkan justru kebalikannya.
Bagaimana jika kita di depan manusia terang-terangan meminta. Namun di depan Tuhan kita malah jadi pendiam. Bukan, bukan bingung atau terlalu tidak bisa berkata-kata. Tapi justru malah menjadi sombong.

Belum mengerti maksud kalimat random saya? Baiklah, mungkin tanggapan dari teman lain di grup tersebut dapat cukup membantu.
“Iyap.. klo minta sesuatu sama yg punya..syp yg pny dia?? Ya Allah lah yg punya dia ?”

Kalo diartiin ke urusan jodoh, jelas ini bikin senyum-senyum sendri (hayo ngaku! :P). Tapi sadarkah bahwa dalam urusan meminta, bisa jadi selama ini kita terlalu tergantung pada makhluk hingga lupa meminta pada Sang Segala Maha. Padahal kembali lagi, bahwa ya cuma Allah yang punya kuasa atas segala sesuatu. Cuma Allah yang bisa memberi segala hal. Cuma Allah yang bisa menghendaki apapun yang terjadi dengan diri kita, keinginan kita, harapan kita.

Semuanya harus dikembalikan pada Allah. Lelahnya harus disandarkan pada Allah. Bebannya juga harus diceritakan pada Allah. Kedekatan kita padanyalah yang menjadi jembatannya. Lewat apa? Ibadah-ibadah, perenungan, doa, serta segala prioritas yang mengedepankan Allah. Maka, Tanya lagi lubuk hatimu, Fit. Adakah?

Tiba-tiba saya merasa benar-benar seperti orang yang sedang mencari ketenangan dalam hidup. Mirip-mirip yang suka ada di buku-buku itu :”

Tulisan hari tujuh belas.
(masih di) Jogja, 15 Juli 2014

Handphone dan Mukena

Minggu, 13 Juli 2014

Tulisan hari kelimabelas Ramadhan 1435 H

Hari ini saya jadi ingat cerita teman seprodi. Sudah terhitung lama sekali ceritanya. Antara diceritakan saat semester satu atau awal-awal semester dua. Kala itu kami ketemu di mushala. Sebut saja nama teman saya ini Diana.

Sebelumnya saya klarifikasi dulu, ya. Cerita ini fakta, tentu saja. Hanya saja mungkin dalam penyampaiannya ada redaksi kata yang tidak benar-benar sesuai dengan kondisi saat itu. Tapi insya Allah saya ingat garis besar ceritanya.

Kala itu Diana cerita kejadian yang ia alami bersama beberapa teman lain di suatu mal di Jogja. Singkat cerita, mereka menyempatkan shalat  di mushala itu—saya lupa shalat zhuhur atau ashar. Nah kebetulan, di mushala sana mukenanya terbatas. Alhasil, mereka shalat tidak satu kloter, saling tunggu giliran gentian mukena.

Namanya juga nunggu, kadang bosen juga kan. Ada juga nih yang buka hp. Ya mungkin nggak semua juga sih. Nah ternyata di mushala itu ada seorang ibu-ibu yang memperhatikan rombongannya Diana ini. Dan tanpa disangka…

“HP aja bawa, mukena enggak!” 
Ibu-ibu tadi berbicara dengan sinis. Suaranya terdengar cukup keras dan cukup menghentak perasaan mereka yang sedang menunggu. Saat Diana cerita, Tia, teman lain yang juga ada di rombongan itu, juga ikut mengutarakan kekesalannya pada sang ibu. Dia bilang yang intinya ya iya sih ngingetin, tapi jangan kayak gitu lah caranya.
***
Tia benar. Saya sepakat bahwa ibu tadi mengingatkan dengan cara yang kurang sopan. Jangankan diingatkan dengan cara demikian, diingatkan secara sopan saja tidak semua orang suka, kan? Tapi habis dengar cerita ini saya jadi kepikiran, coba kita lihat dari sisi lain.

Kita bisa melihat dari sisi urgensi HP dan mukena. Bahwa betapa kita biasanya panik kalau HP ketinggalan. Komunikasi yang terputus, jarkom yang nggak sampai, informasi penting yang bisa jadi kita telat tahu. Kebutuhan primer banget lah gampangnya. Mau ngabarin dan kelihataannya apa-apa jadi gampang. Apalagi dengan adanya smartphone yang sangat pintar dan memudahkan hidup manusia.

Kemudian, mari lihat dari sisi mukena. Banyak banget ya alibi buat beralasan nggak bawa mukena. Males lah, ketinggalan lah, lupa lah, berat lah. Yah macem-macem lah. Manusia kan tempatnya salah dan lupa…juga…bikin alasan, hehe. Tapi sadar nggak sih kalau mukena itu biasa dipakai buat apa? Shalat. Shalat itu kebutuhan apa? Primer bukan? Nah lho pikir lagi.

Kalau kita tiap shalat butuh pake mukena, ya harusnya menyadari bahwa harusnya mukena itu ada di tas setiap saat. Minimal kalo kita ngeh perginya bakal melewati waktu shalat. Kan ada mukena di mushala? Ya emang sih, tapi setidaknya bawa mukena pribadi itu upaya berhati-hati kalau-kalau mukena mushala lagi abis gegara mushala rame, atau misal lagi dilaundry sama takmir, atau case lainnya yang nggak tepat. Saya sendiri ngeh kalo di mushala kecil fakultas saya sering banget berkloter-kloter orang buat —selain nunggu gantian tempat buat shalat—ngantri gantian mukena juga. Udah gitu saya sendiri suka ngerasa nggak tenang kalo pake mukena mushala saat jam ramai, habis shalat tuh udah ditepok aja sama orang lain buat gentian mukena. Jangankan sempet diam bentar nyempetin baca Quran masih dengan mukena, dapat kesempatan berdoa lebih lama atau shalat sunnah di mushala aja udah bagus banget. Di sisi lain kalo mukena sendiri insya Allah udah terjamin kebersihannya kan? ;)

Kemudian pertanyaan selanjutnya. Nah kalo gitu mukena yang disediain mushala buat siapa? Ya mushala nyediain mukena bukan berarti itu jadi tempat bergantung kita terus kan. Alhamdulillah takmir mushala atau masjid itu baik fasilitas pelayanan jamaahnya. Tapi tentu harapannya semua orang sadar dong ya, kan mukena itu nyaris selalu dicari dan dipakai ketika shalat. Dan faktanya masih banyak orang yang nggak menyadari hal ini. Menggantungkan diri aja sama mukena mushala atau masjid.

Lah emang shalat harus banget pakai mukena? Nggak harus sebenarnya, yang harus itu : nutup aurat. Kalau saya pernah baca di tumblrnya Masi, Hijab yang baik itu, saat shalat bisa langsung dikenakan tanpa mukena. Kan emang Allah nyuruhnya pakai kerudung menutup dada, bajunya nggak ketat, dan nggak transparan. Kalau mau aman paling bawa kaos kaki bersih buat ganti kaos kaki pas mau shalat. Namun mungkin sebagian orang merasa nyaman pakai mukena untuk jaga-jaga misalnya terhadap rok yang tersingkap dan memperlihatkan sedikit bagian kaki makanya sebagian orang lebih prefer pakai mukena. Atau ya kalau orang-orang yang belum menutup aurat dengan sempurna, suka ngerasa kalau kayak gitu nggak pantes buat shalat (padahal berpakaian itu ya dilihat Allah juga, hehe).

Yah begitulah, pada akhirnya emang kembali ke diri masing-masing untuk merenungi seberapa penting sih emang mukena? Kalau ngerasa penting, apalagi mukena itu buat menghadap Allah, lho. Masih males bawa? Masih lebih mentingin HP yang kebanyakan digunakan buat menemui Rabb kita?

Yuk bebenah :) saya juga masih belajar :) 
*btw saya pernah bikin cerpen tentang ini mungkin bisa dipos lain waktu :))


Menjaga Allah

Sabtu, 12 Juli 2014

Abdullah bin ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”

Di suatu forum, Bunda bilang bahwa seharusnya kita tidak pernah merasa bosan, BT, kesal, sebal karena kita punya Allah. Merasa ada Allah yang begitu dekat seharusnya akan memberikan rasa tenang. Katanya lagi, aneh kalau kita rajin shalat tapi masih suka sedih, atau masih suka pusing kalau nggak punya uang. Rugi kalau kita punya Allah, tapi kita nggak ngerasa happy.

Bunda bilang, ada makna lebih dari sekadar Allahu akbar dan itu harus dirasakan oleh seorang Muslim. Ketika bertakbir ada nikmat yang harus dirasakan atas kebesaran Allah yang begitu banyak memberi nikmat pada diri kita. “Seratus dua kali kita takbir dalam sehari tidak merasakannya, rugi kita jadi orang Islam kalau begitu!” Ah, betapa shalat ini masih harus terus diperbaiki dan diperbaiki agar dapat memaknai kekhusyuannya :”

Bunda bilang, utamakan ridha Allah daripada ridha manusia. Betapa masih sering diri ini takut pada murka manusia tapi abai pada murkaNya.
“Sesungguhnya barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan marahnya  manusia, maka Allah akan cukupkan baginya akan segala keperluannya di dunia ini. Tetapi barangsiapa yang mencari ridha manusia dalam keadaan Allah murka, maka Allah menyerahkan nasibnya kepada manusia.” [Hadits Riwayat At Tirmidzi]
Betapa masih sering diri ini ingin merasa lapang di dunia tapi lupa bagaimana cara lapang di akhirat. Padahal, bukankah hidup abadi adalah hidup di akhirat? Masih begitu cepat mengeluh pada cobaan dunia padahal Allah pun sudah pernah bilang bahwa hambaNya pasti akan diuji (QS Al Baqarah 155-157). Dan bahkan, bukankah kita tidak akan diuji melampaui batas kemampuan? Dalam suatu cerita Bunda, ada sesorang yang sedang dalam keadaan ihram ia datang bulan. Mengeluhlah ia, marah-marah pada Tuhannya. Lantas apa? Sampai selesai serangkaian agenda (saya lupa haji atau umrah) ia masih dalam keadaan datang bulan. Kemudian Bunda bercerita lagi tentang seseorang yang mengalami nasib sama. Tapi orang kedua ini memasrahkan pada Allah. Ia bilang (kurang lebih) begini, “Ya Allah, kalau ini memang kehendakMu, maka aku ikhlas. Sesungguhnya Engkau tahu yang terbaik bagi hambaMu.” Dan selesai satu perjalanan, entah bagaimana kuasa Allah terhadapnya, ia tak lagi datang bulan. Selesai hanya dalam hitungan jam. Ah, sungguh Allah sesuai persangkaan hambaNya ya :’).

Allah amat menyayangi kita. Kita harus percaya itu. Bahwa kalau kita mendekatinya satu jengkal, maka Ia mendekati kita satu hasta. Jika kita mendekatinya satu hasta, maka ia mendekati kita astu depa. Kalau kita mendekatinya dengan berjalan, maka Ia akan mendekati kita dengan berlari (HR Bukhari). Betapa kalimat ini sudah sering kita dengar, tapi memang begitu bukan sifat kajian? Kadang mendatangi beberapa majelis ilmu akan memberi kita ilmu yang pernah diperoleh sebelumnya. Persoalannya adalah terkadang kajian dapat mencharge semangat kita kembali untuk terus menerapkan kebaikan yang dikehendakiNya. Atau baiklah, bahasa formalnya, mendatangi kajian akan mencharge iman kita.


Maka sekarang, sudah seberapa besar penjagaan kita terhadapNya? Padahal dari jauh-jauh hari kita juga sudah tahu : jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.

(masih di) Jogja, 
kajian yang bisa dibilang termasuk pada catatan cinta dari Deresan
Tulisan hari empat belas yang ditulis agak terlambat

Apa Rasanya Melihat Kami Tumbuh Mi, Bi?

Jumat, 11 Juli 2014

Tulisan hari ketigabelas ramadhan ini

Hujan sedari tadi turun membasahi Jogja, tepatnya sekitar tempat kami tinggal ini. Menyebabkan kami akhirnya berbalik arah mengurungkan niat pergi. Dan… menyenangkan sekali mengamati Aya dan Kakak di halaman kos kami senja sendu ini. Aya (5 tahun) dan Kakak (6 tahun), merupakan cucu ibu kos kami. Keduanya putih, tembem, menggemaskan sekali. Bermain-main di pekarangan rumah ibu yang luas dengan membawa payung lebar masing-masing. Aya mencangklong tas punggung barunya. Wajahnya berseri bahagia.

Selalu menyenangkan melihat wajah-wajah bahagia anak kecil, bukan? Seperti ketika kamu mungkin pernah mengunjungi panti dan mengamati suasana keceriaan anak-anak itu. Atau anak didik TPA yang kau ajar di masjid ujung jalan. Atau bahkan adik kandungmu sendiri. Wajah-wajah polos yang cepat sekali belajar banyak hal baru. Usia yang penuh akan tanya dan rasa penasaran. Wajah-wajah yang kalau kata Kak Nisa entah mengapa membuat lelah seolah menguap begitu saja, entah kemana.

Apakah rasa senang memperhatikan mereka sama halnya dengan perasaan yang sama dengan yang dirasakan orang tua kita? Entah, aku tidak pernah tahu. Aku belum pernah jadi orang tua dan mungkin sulit membayangkannya. Tapi biar bagaimanapun, aku tahu, Ummi dan Abi, juga seperti orang tua kalian semua, tentu begitu memperhatikan tumbuh kembang kita, para anak-anaknya.


Aku pernah memikirkan bagaimana perasaan Ummi ketika liburan usai dan aku harus kembali : memasuki asrama atau harus pergi lagi ke Jogja. Mungkin Ummi sedih, akan kangen, tapi tentu melepas ikhlas sesuatu yang dinamainya ‘perjuangan’ ini.

Aku juga pernah membayangkan bagaimana Ummi menatap wajah-wajah kami ketika telah terlelap tidur. Kita tidak pernah mengetahuinya, bukan? Aku pun tahu ketika Ummi menatap dan mengusap lembut wajah adik-adikku. Dan siapa yang bisa menjamin Ummi tidak melakukannya juga padaku? Mungkin memori Ummi dapat dengan cepat berpindah pada belasan tahun lalu : saat aku masih bayi, atau saat baru bisa berjalan, atau saat masih belajar naik sepeda roda tiga, atau saat baru masuk TK, atau saat…ah, terlalu banyak saat yang tentu diingat betul oleh Ummi.

Bukankah kita begitu sering berkata tentang terlalu cepatnya waktu berlalu. Tau-tau enam tahun SD sudah selesai, tiga tahun SMP sudah berlalu, tiga tahun SMA juga sudah berakhir. Bahkan seperti yang sering kami bicarakan akhir-akhir ini : bahwa semester empat sudah berlalu which means semester depan bakal peminatan, tahun depan bakal KKN, dan ternyata udah dua tahun aja lulus SMA. Time flies so fast, itu yang kita bilang. Tanpa sadar, orang tua kita juga merasakan hal yang sama.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Memasuki bangku sekolah pertamanya, bercerita tentang teman paling menyebalkan di sekolah, mengeluh ada PR yang rasanya terlalu sulit dikerjakan, atau merepotkan ketika lupa ada tugas dan menuntut minta dibantu mengerjakan sembari cemberut. Membuat mereka kesal pagi-pagi saat kita harusnya sudah beranjak bangun dan bergegas mandi sementara rasanya malas sekali. Padahal sedari tadi Ummi sudah di dapur bahkan juga tempat cuci baju. Entah kemampuan multitasking ibu kita mana lagi yang bisa kita dustakan, bukan?

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Ketika kita mulai punya rahasia yang tak lagi bisa diceritakan pada keduanya. Kemudian kita memilih teman untuk jadi tumpuan cerita. Ketika kita mulai menarik diri dari terlalu dekat dengan mereka dan mulai lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman. Izin pergi kesana kemari tanpa peduli bahwa mereka selalu cemas setiap kita pulang lebih dari maghrib. Dulu aku kira Ummi dan Abi biasa saja. Aku baru tahu mereka sekhawatir itu ketika adikku yang pulang agak telat.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Yang mulai memilih jarak untuk alasan mencari ilmu. Padahal kalau kita telusuri lagi, porsi mana yang lebih dominan di perantauan? Apa iya benar-benar serius menuntut ilmu? Padahal keduanya tak pernah luput berdoa untuk kita. Tapi mungkin kita masih terlalu sibuk untuk senantiasa mendoakannya selepas shalat.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Yang menaruh harap besar pada sukses dunia akhirat anak-anaknya. Suatu ketika selepas shalat, aku, Fafa, dan Ummi pernah berbincang sejenak. Kemudian kami bertanya, Ummi ingin anak-anaknya jadi apa? Ummi bilang, harapannya cuma satu : kami jadi anak yang sholihah. Itu saja. Ummi tidak pernah neko-neko meminta pada kami agar jadi apa. Beberapa teman yang kuceritakan bilang merasa speechless atas pinta Ummi. Sholihah, hanya itu. Terdengar sederhana tapi bermakna luas. Kata yang pendefinisiannya punya arti berbeda dari tiap orang yang ditanya. Pada Abi, ak umasih belum berani menanyakannya. Doakan saja ya biar segera berani, atau Abi malah tanpa sengaja bilang sendiri.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Mungkin syukur, bahagia, dan sesekali juga kesal. Kita cuma bisa berasumsi dari hari-hari yang pernah kita lalui bersama dengan mereka. Tidak pernah tahu kalau tidak bertanya langsung, bukan? Aku beberapa kali bertanya hal-hal semacam pertanyaan itu. Ummi selalu menjawab dengan senyum, menjawab pendek, “Ya senang lah”. Aku tahu, pasti rasanya lebih berwarna dari itu, karenanya sulit sekali digambarkan oleh kata-kata. Tentunya, ada sebal juga.

Kita tumbuh, berkembang, kemudian menua dan tentunya harus juga mendewasa. Satu per satu meninggalkan rumah berkenalan dengan banyak hal lain di pelosok negeri, bahkan dunia. Tanpa sadar, seiring dengan itu semua, ayah dan ibu kita di rumah yang pada akhirnya menarik nafas lega setelah anak-anaknya satu per satu meniti hidupnya secara mandiri, juga menua. Wajahnya mulai mengeriput, rambutnya perlahan memutih, penglihatannya perlahan menjadi kabur. Tapi jelas, kasih sayangnya tak pernah berubah seiring berjalannya waktu. Doanya tetap melangit tanpa peduli apakah kita mendoakannya atau tidak. Jika pun perhatiannya tidak terindra, barangkali itu karena cinta adalah kata kerja. Cintanya menjelma menjadi doa, menjadi teh di atas meja, menjadi masakan-masakan dengan bumbu cinta. Menjelma menjadi pertanyaan kabar atau pertanyaan kapan pulang, menjadi penggantian seprai menjelang kepulangan, menjadi berondongan pertanyaan dan obrolan hangat di rumah. Menjelma menjadi upaya membangunkan kita pada pagi hari, menjadi menunggui shalat sunnah sebelum jamaah shubuh, menjadi anjuran tilawah, shalat sunnah, bahkan urusan dakwah dan menunaikan amanah. Dan seperti kata Abi, tanggung jawab orang tua tidak pernah selesai. Bahkan sekalipun anak-anaknya sudah punya keluarga sendiri dan hidup terpisah nantinya.

Karena, percaya atau tidak, mereka ingin berada bersama kita di surganya kelak :”)

Yogyakarta, 11 Juli 2014
Ummi, Abi, bagaimana rasanya?
Selamat ber-birrul walidain teman-teman yang sudah liburan di rumah :)

gambar dari sini

Quote : Menyampaikan Kebaikan

Kamis, 10 Juli 2014

"Prinsip saya : Kalau kita menyampaikan kebaikan, menasehati orang, sebenarnya yang dengar paling keras itu telinga kita sendiri. Yang paling butuh nasihat itu, ya diri kita sendiri. Dan yang paling banyak dapat manfaat dari sana, juga kita sendiri."
-Bu Supartiningsih dalam acara talkshow hari ini. Jadi inget, kalo nulis di blog suka ngerasa ngga pantes nulis gitu. Tapi karena saya sedang berproses untuk menulis, saya nulis ya nulis aja, sambil berproses untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari seraya mengingatkan diri sendiri.

Sedikit Belajar tentang Menjadi Wanita pada Fitrahnya (Bagian 3 : Tanya Jawab)

Cerita hari keduabelas Ramadhan 1435 H ini...(lanjutan)

Tahap terakhir adalah Tanya jawab. Ini saya juga suka banget karena ada poin-poin menarik yang bisa diambil lagi.

Pertama, Bagaimana sebaiknya menyeimbangkan antara keluarga dengan kerja?

Jawab :
Pembicara 1 (secara general):
Fitrahnya seorang wanita letika sudah berkeluarga adalah sebagai istri dan ibu. Ia baru wajib bekerja jika ada tuntutan syariat dan atau dibutuhkan oleh masyarakat. Seperti apa contohnya? Misal di sebuah perkampungan ada seorang bidan. Jika ada penduduk yang mau melahirkan, maka ia wajib membantunya, karena ilmu yang ia miliki itu tidak ada yang dapat menggantikannya.

Tapi yang harus menjadi pertimbangan adalah : apa kebermanfaatan yang didapat oleh kita dan masyarakat melalui pekerjaan ini. Kemudian apa pekerjaan ini membuat kita mendapatkan pahala? Kalau iya dapat pahala, maka saya lakukan. Kalau tidak, ya tidak saya lakukan. Jangan sampai tujuan bekerja itu adalah materi.

Pembicara 2 (menjawab lebih ke pengalaman):
Yang paling penting kita itu harus membuat komitmen-komitmen dulu di awal : keluarga seperti apa yang mau kita buat. Ada komunikasi di awal. Saya karena berasal dari keluarga yang kurang mampu, saya harus bekerja untuk biaya kuliah anak-anak saya. Dulu ketika saya akan menikah, saya Tanya dengan calon suami, “Mau perempuan yang tipe Makkah, atau tipe Madinah?” *setelah itu dijelasin kalau tipe Makkah itu tipe yang selalu ada di rumah* Suami saya bilang : Jadilah dirimu sendiri. Kemudian saya bilang lagi, saya tidak bisa menjadi tipe Makkah, karena saya masih harus membiayai adik-adik saya kuliah. Dan suami pun mengerti.

Kemudian kesini-sininya, malah suami saya yang terus mendukung saya. Ketika saya sudah tidak berniat melanjutkan kuliah sementara ada peluang S3, suami saya yang malah mendukung padahal suami saya pun hanya S1 kuliahnya. Katanya,”Ambil aja S3nya. Mumpung anak-anak sudah besar dan bisa ditinggal.” Akhirnya kita saling sepakat dan saya ambil kesempatan S3 itu. Yang penting ridha suami. Saya jadi dosen pun didukung suami, katanya, “Masih sedikit orang-orang yang punya pemahaman Islam yang baik di Filsagat. Kalau keluar nanti malah tergantikan oleh orang lain.” Akhirnya saya pun mantap.

Kedua, pertanyaan berbasis kasus. Mungkin penanya punya kenalan orang yang ditanyakan ini. 
"Ada dua orang mau menikah. Namun si perempuan ada kontrak kerja 13 tahun karena ada ikatan beasiswa yang mengikatnya. Nah masalahnya, kalau pernikahan jadi dilakukan, si laki-laki ini akan melanjutkan kuliah ke Inggris. Sementara kalau si perempuan ikut mereka harus mengganti seluruh perolehan beasiswa yang sudah didapat oleh si perempuan. Bagaimana sebaiknya?"

Jawab : 
“Mungkin jawaban saya agak klise, tapi kita haru kembali lagi ke tujuan. Tujuan pernikahan itu apa. Pernikahan sebagai sarana ibadah. Bukan tujuan hidup kita itu menikah lalu semuanya harus ngikutin. Tapi tujuan kita tetap harus Allah, dan salah satu medianya adalah dengan menikah. Kalau pernikahan itu membuat kita jauh dari Allah, maka jangan dilakukan. Sahabat nabi, Abu Hurairah, Ibnu Sina, mereka tidak menikah. Tapi jika iya pernikahan itu dilakukan akan membuat kita lebih baik (dan dekat dengan Allah), maka lakukan."

Jawaban ini sebenarnya nggak menjawab secara langsung, tapi saya suka jawabannya :’).

baiklah, semoga bermanfaat ^^

Sedikit Belajar tentang Menjadi Wanita pada Fitrahnya (Bagian 2)

Cerita hari keduabelas Ramadhan 1435 H ini...(lanjutan)
Kemudian pemateri kedua, saya tulis inti ilmu-ilmunya saja, ya J

Namanya Bu Supartiningsih. Agar tidak terlalu panjang, sayatulis Bu Ningsih saja, ya. Beliau dosen Fakultas Filsafat UGM, dan dulu pernah ngajar saya makul Pancasila semasa semester satu. Beliau cerita, bahwa bekerja baginya adalah menghasilkan kebermanfaatan bagi sekitarnya, meskipun tidak ada nominal rupiah. Dulu selepas S1, Bu Ningsih pun sama seperti kebanyakan wisudawan lainnya : bingung mau bekerja apa. Akhirnya Bu Ningsih aktif bantu-bantu kegiatan masjid, remaja masjid, isi training, dan lain sebagainya. Singkat cerita, pada suatu hari sepulang dari masjid, ada info beasiswa S2 dan kemudian Bu Ningsih mendaftar. “Karena saat itu saya nggak mampu kalau melanjutkan kuliah dengan biaya sendiri. Alhamdulillah, Allah memberikan keberkahan lain dari apa yang saya maknai bekerja.”

Hal selanjutnya *makin seru nih :v* dibahas tentang peran ibu dan ayah dalam keluarga *ya ampun, saya beneran nggak nyangka kalau acaraya akan bahas topik ini, hehe*. Awalnya bermula dari bahas fenomena kaum feminis yang sekarang sudah mulai diangkat dan terlihat eksistensinya. Bahkan semboyan kaum feminis radikal, yang dalam Bahasa Indonesia kalau diartikan adalah : perempuan dengan laki-laki seperti ikan dengan sepeda. Maknanya? Ya emang nggak nyambung, dan nggak saling membutuhkan. Naudzubillahimindzalik, ya. Padahal perempuan dan laki-laki memang diciptakan berbeda karena pada keduanya Allah telah menitipkan peran dan amanah masing-masing.
Kelebihan ayah adalah, kaum laki-laki ini lebih visioner. Ia bisa merencanakan bahwa keluarga ini mau dibawa kemana. Ia kemudian bisa membuat kerangka tujuan yang akan dibangun dan dicapai oleh keluarga, kemudian ibu akan berperan pada detilnya, bagaimana mengisi kerangka tersebut untuk kemudian diterapkan di keluarga. 
Waktu disampaikan, saya cuma bisa manggut-manggut, terus entah kenapa saya langsung ingat sama Musa yang 5,5 tahun dan hafal 29 juz itu. Terus ingat kalau dari talkshownya, ayahnya emang kelihatannya lebih berperan pada membangun tujuan apa yang akan dicapai oleh anaknya, bahkan ibunya yang nggak tegaan diberi pengertian oleh sang ayah bahwa ini baik untuk Musa, dan pengertian-pengertian lainnya. Subhanallah, emang perlu kerja sama tim yang baik, ya^^!

Saya membayangkan keluarga itu kayak organisasi kecil. Kalau buat organisasi aja kita mampu kerja sama buat bikin proker dan mewujudkannya semaksimal mungkin, buat keluarga juga harus bisa. Masa proker organisasi yang palingan satu tahun masa baktinya bisa buat keluarga nggak bisa lebih serius dan sungguh-sungguh? Malu lah sama Allah. Apalagi anak itu—kalau kata tulisan di SD saya—investasi dunia akhirat.


Harus diingat bahwa, laki-laki dan perempuan diciptakan untuk memaksimalkan potensi kebaikan yang sudah Allah beri. Kalo kata QS Al Baqarah ayat 207 : “Orang yang mengorbankan diri karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun bagi hambaNya.” Nggak usah takut kalau harus berkorban banyak buat anak. Waktu, tenaga, uang, dan lain sebagainya. Contoh kecilnya, anak kecil yang suka bertanya terus menerus, nggak boleh dipatahkan, karena itu bisa memutus daya kritis anak. Allah maha pemberi, penyantun bagi hambanya. Sementara rezeki itu datangnya dari Allah kan? Emang yang susah adalah pengaplikasiannya, sih. Mungkin karena kita masih sangat ‘berproses’ menjadi orang-orang yang sabar.

Oke, part 2 sampai di sini. Part terakhir tanya jawab aja sih. Tapi kayanya mending dipisah aja soalnya menurut saya kalo males baca yang part 1 sama 2 baca tanya jawabnya aja udah lumayan mewakili.

Sedikit Belajar tentang Menjadi Wanita pada Fitrahnya (Bagian 1)

Catatan hari keduabelas Ramadhan 1435 H…(bagian 1)

Hari ini, atas izin Allah, saya berkesempatan datang ke acara talkshow yang diadakan panitia RDK (Ramadhan di Kampus). Padahal suatu kejadian di pagi hari membuat saya nyaris membatalkan rencana untuk pergi pagi ini. Tapi emang semuanya kuasa Allah, hanya sekejap, niatan saya berubah haluan kurang dari waktu satu menit.

Saya tidak menyangka kalau materi talkshow ini akan berujung pada permasalahan yang sedikit menyinggung munakahat. Lihat saja topik pada posternya, perempuan menjawab tantangan zaman. Saya kira yang dibahas nantinya paling seputar bagaimana kita sebagai perempuan menjawab arus globalisasi yang terjadi saat ini. Ternyata tidak. Mmm, mungkin sedikit iya juga sih.

Ada banyak ilmu yang saya dapat hari ini, mungkin saya kurang bisa sistemati menyampaikannya layaknya pemateri tadi menyampaikan. Tapi semoga tetap bisa didapat kebermanfaatannya.

Acara ini diisi oleh tiga pembicara, dan pembicara pertama cukup bisa membawa iklim acara menjadi menarik. Saya rasa sebenarnya acara ini lebih cocok disebut seminar daripada talkshow. Baiklah, topik bahasan yang pertama adalah konsep pemberdayaan wanita dari perspektif Islam. Bahwa saat ini budaya barat yang sudah diadopsi oleh masyarakat kita adalah bahwa wanita dituntut menjadi superwoman. Di mana perannya sebagai pengurus rumah tangga juga digandakan sebagai wanita karir. Kemudian menjadi ke arah wanita sebagai single mother, ketika ia harus menghidupi keluarga tanpa bantuan suami. Dan kemudian pada fenomena maraknya penitipan anak sebagai solusi ketika sang ibu bekerja. Tidak sampai disitu, penitipan anak tidak dapat dijangkau biayanya oleh beberapa keluarga. Hal yang nyesek yang saya dengar tadi adalah bahkan ada ibu yang sampai hati meninggalkan anaknya selama delapan jam di mobil ketika ia bekerja. Tahu apa ujungnya? Anaknya itu meninggal. Ini kejadian nyata di luar negeri. Naudzubilahimindzalik.

Tidak ada yang salah dengan penitipan anak, selama sang ibu tetap bisa memberi kasih sayang yang cukup. Berkaca dari sejarah, dulu Rasulullah saw. juga disusui oleh Halimah As Sa’diyah. Tapi coba diperhatikan lagi, bahwa Halimah adalah ibu susu yang dipilih karena punya kualitas lebih dari ibunda Rasulullah sendiri. Halimah berasal dari suku yang bahasa Arabnya adalah bahasa Arab yang murni. Kalau ibu Erma selaku pemateri tadi bilang, “Saya belum pernah menemukan ada pembantu rumah tangga yang pendidikannya lebih tinggi dari ibu kandungnya sendiri.”

Kemudian poin selanjutnya adalah tentang fakta-fakta yang terjadi di masa ini.

Pertama, disfungsi ayah/suami.
Di poin ini saya baru tahu kalau pendidikan adalah tanggung jawab ayah, sementara pengasuhan adalah tanggung jawab ibu. Selama usia 0-2 tahun, peran ibu sangat penting karena di usia ini anak masih diberi asi. Dan pemberian asi secara langsung itu penting, karena di sini ada interaksi secara langsung antara ibu dan anak. Ketika menyusui, sang ibu bisa memmbacakan Al Quran, membaca doa, mengajak ngobrol sang anak, dan lain sebagainya yang akan mendatangkan kedekatan pada anak. Sementara jika menyusu menggunakan botol, anak akan cenderung memegang botol dan berusaha sendiri. Ia tidak berinteraksi secara langsung degan ibunya.

Sebagian ibu, merasa galau ketika punya tuntutan pekerjaan dan anak yang masih dalam usia wajib asi. Untuk menjawab kegalauan ini, Bu Erma bilang, kembalikan lagi pada prioritas. Apakah prioritas kita itu Allah? QS Al Baqarah ayat 233 menyebutkan bahwa seorang ibu hendaknya menyusui selama dua tahun penuh. Quran lho yang bilang. Sekarang kembali lagi pada diri masing-masing, prioritasnya pada siapa? *ternyata prioritas itu nggak cuma ibadah kayak shalat ngaji saja*

Kemudian usia selanjutnya 2-7 tahun masih menjadi tanggung jawab ibu. Di mana pada usia ini anak masih belum mandiri. Ia belajar makan sendiri, ke kamar mandi, dan lain sebagainya yang masih membutuhkan perhatian dan kesabaran ibunda. Namun setelah usia 7 tahun, anak sudah mandiri, maka ibu sudah tidak punya kewajiban lagi pada Allah dalam segi pendidikan anak. Kewajiban ini ada pada ayah, namun karena ibu sebagai seorang istri, ketika diminta menaati suami dalam bekerja sama mendidik anak, disitulah letak kewajibannya. Jujur saya juga baru tahu kalau kewajiban mendidik itu lebih dititikberatkan pada ayah. Bahkan Bu Erma bilang, ketika ayah dan ibu cerai, namun letak tinggalnya berdekatan maka si anak bisa siang ikut ayah untuk mendapat pendidikan lalu malam ikut ibu untuk mendapatkan perhatian dan kasih saying yang lebih. Namun jika ayah dan ibu kemudian tinggal berjauhan, ia mestinya ikut pada sang ayah karena padanyalah terletak kewajiban mendidik itu, sementara kasih sayang adalah hak sang anak yang bisa didapat dari ibunya. Dan kewajiban harus didahulukan daripada hak.

Poin kedua, fenomena bahwa istri tidak digaji.
Titel ibu rumah tangga pada kebanyakan orang masih dianggap kurang terhormat dibandingkan jabatan karir. Padahal kalau kita sadari, subhanallah, dari ibulah generasi yang lebih baik akan dimulai. Dan alasan kemandirian ekonomi membuat sebagian IRT bekerja. Alasan lain yang melatarbelakanginya seperti misalnya ketakutan jika nanti menjadi single mother (baik karena suami meninggal maupun cerai). Padahal dalam QS Ath Thalaq ayat 6 disebutkan bahwa meskipun sudah cerai, istri itu teta digaji (baca : dinafkahi). Sayangnya fenomena zaman sekarang udah nggak ngikutin kaidah-kaidah yang ditetapkan Al Quran.

Di poin ini juga dibahas tentang pemisahan harta antara suami dan istri. Bukan apa-apa, hal ini jika tidak dilakukan akan menimbulkan kesulitan ketika salah seorang meninggal dan harus dilakukan pembagian waris. Ingat, ahli waris bukan hanya anak, ada juga hak ayah, ibu maupun saudara-saudara. Salah-salah jika harta istri semuanya harta suami atau sebaliknya, maka orang-orang tadi tidak mendapatkan haknya. Ada lima hal yang termasuk harta wanita : mahar, waris (dari orang tua, saudara, dll), hadiah, nafkah dari suami, dan upah yang didapat dari luar. Kalau harta suami sama kayak istri tapi tanpa mahar dan nafkah dari suami.

Poin selanjutnya, disfungsi wali.

Bu Erma bilang, seharusnya orang itu tidak usah khawatir ketika ayahnya meninggal. Dalam konsep Islam, setiap anak yatim akan otomatis memiliki wali. Dan wali inilah yang akan mengambil alih semua urusan sang anak. Tapi, katanya lagi, kalau zaman sekarang mah repot ngurus wali itu cuma kalau mau nikah *apalagi anak perempuan*. Dan dalam Islam, konsep wali itu nyata. Hal ini perlu digarisbawahi. Ironisnya, masa sekarang ini solusi Islam masih belum diminati.

Baiklah, poinnya nggak saya bahas semua ya, nanti kalo mau kita ngobrol aja ;)

Kemudian yang menarik dan seringkali membuat dilema kaum hawa adalah tentang bekerja. Terutama pada para mahasiswa yang baru saja diwisuda alias sarjana. Mana yang akan dipilih? Kerja atau keluarga?
Kalau menilik ke pembahasan tadi, perempuan itu sebenarnya sudah ada yang menanggung. Jika bukan ayahnya, atau suaminya, maka akan ada walinya. Maka perempuan itu pada dasarnya tidak wajib bekerja. Ia baru wajib bekerja jika ada tuntutan syariat. Seperti apa contohnya? Misal di sebuah perkampungan ada seorang bidan. Jika ada penduduk yang mau melahirkan, maka ia wajib membantunya, karena ilmu yang ia miliki itu tidak ada yang dapat menggantikannya. Perempuan bekerja, seharusnya bukan karena tuntutan materi.

Yap, ini part 1nya, part 2 dan 3 segera saya post. Kalau dijadiin satu postingan nanti kepanjangan dan bikin males baca lagi, hehe. Tapi insya Allah ilmunya tadi dapet banget. Kalau ada yang kurang jelas, sila ditanyakan :))

Derma Istimewa

Rabu, 09 Juli 2014

Catatan hari kesebelas Ramadhan…

Derma selalu istimewa, karena begitulah janji yang diberikan Tuhan kita. Dan kita mau tidak mau harus percaya pada janji-janjiNya, sebagai salah satu wujud mengimaniNya. Dalam QS Al Baqarah ayat 261, Allah menjanjikan bahwa perumpamaan nafkah yang diberikan di jalan Allah akan serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, kemudian pada tiap bulir tersebut terdapat seratus biji. Melalui Matematika sederhana, dengan cepat kita dapat melakukan kalkulasi bahwa hasilnya adalah tujuh ratus kali lipat dari nafkah yang diberikan di jalan Allah tersebut. Subhanallah, betapa besarnya.

Tapi kajian hari ini memberi kami pengertian lebih luas, bahwa balasan Allah yang tujuh ratus itu tak melulu berwujud serupa dengan apa yang kita nafkahkan (baca : uang). Adakah kita sadar bahwa nikmat kesehatan, kecerdasan, keluarga, lingkungan, sahabat, rasa aman dan nyaman, dan lain sebagainya bisa jadi merupakan balasan yang diberikanNya. Kita mungkin jarang menyadari, karena yang terindra lebih mudah terasa. Kesehatan, misalnya, tak terindra secara langsung bukan? Bukankah sering sekali orang bijak bilang bahwa nikmatnya sehat baru terasa ketika sakit?

Kemudian pemateri melanjutkan lagi. Ayat selanjutnya yang menyebutkan bahwa amalan yang tidak diiringi oleh manna dan adzaa akan berbalas ajrun ‘inda rabbihim, pahala di sisi Tuhan mereka. Kita mulai dari kata manna. Saat tadi disebutkan, saya mencoba merecall materi Quran Hadits semasa kelas delapan. Saya ingat betul Bu Ajeng, guru kami kala itu menyuruh kami menghafalkan serangkaian ayat tentang derma ini. QS Al Baqarah ayat 261-264. Empat ayat yang lumayan panjang dalam satu bab pembahasan di buku paket Quran Hadits kami. Akhirnya satu orang tidak menghafal keempat ayatnya, Bu Ajeng memilih membagi satu ayat bagi satu oarng dan hari itu juga setoran.

Kata manna yang saya pahami saat itu memiliki arti ‘menyebut-nyebut pemberiannya’. Dan kalau malam ini saya lihat lagi di Quran, terjemahnya memang itu. Tapi sekali lagi, kajian tadi memberi pemahaman lain yang lebih luas, manna berarti merasa bangga, merasa berjasa.

Saya tercekat, merasa bangga dan tidak menyebut-nyebut lagi adalah dua hal yang berbeda. Begitu mudah menahan lisan untuk tidak menyebut-nyebut pemberian. Juga begitu mudah untuk menahan jari menekan tuts keyboard untuk update status tentang sedekah hari ini, atau yang telah lalu. Tapi merasa bangga? Kita masing-masing punya jawabannya sendiri.

Sangat tidak mudah untuk lari dari rasa bangga. Seperti ketika kita telah meraih prestasi, rasa bangga menyelinap muncul. Seperti ketika kita telah membantu meringankan beban orang lain, rasa bangga perlahan timbul. Juga seperti ketika tangan kanan sudah memberi dan mengupayakan tangan kiri tidak tahu, akankah perasaan ini benar-benar luput dari perasaan bangga? Merasa berjasa atas pemberian yang telah dilakukan? Sudah semurni itukah pemberian yang telah kita berikan ? :””

“Jangan merasa berjasa atas Islammu,” begitu yang terdengar tadi. Megutip QS. Al Hujurat ayat 17, “Mereka merasa berjasa atas keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” Ah, emang semua ini miliknya Allah, ya :” Bahkan Qarun pun dibinasakan karena ia ketika ditanya asal muasal harta bendanya ia menjawab “Sesungguhnya aku diberi harta semata-mata karena ilmu yang ada padaku” (QS Al Qasas : 78).

Kemudian adzaa, artinya menyakiti penerima. Ayat ini menyatakan bahwa sedekah yang tanpa diiringi manna dan adzaa akan berbalas pahala di sisi Allah. Kalau di ayat sebelumnya yang tujuh ratus itu balasan di dunia. Sementara pada ayat 262 ini yang dimaksud adalah pahala yang kelak akan di dapatkan di akhirat. Pahala akhirat yang nilainya jauh lebih berharga dari balasan-balasan di dunia. Karena akhirat itu selamanya sementara dunia ini? Hanya permainan dan senda gurau, bukan?

Bagaimana jika kita tidak memiliki uang atau harta untuk didermakan? Maka Allah jawab dengan ayat selanjutnya, Al Baqarah ayat 263, bahwa kata-kata yang baik dan pemberian maaf pun dapat dikatakan sebagai sedekah. Keduanya bahkan lebih baik daripada derma yang diiringi dengan sedekah yang menyakiti penerima. Menyakiti ini bisa diartikan dengan menyakiti secara fisik (memberi dengan cara dilempar, misalnya) atau menyakiti hati (memberi disertai cemoohan, misalnya).

Kemudian selanjutnya, ayat 264. Bahwa tidak semua derma serta merta akan diterima Allah, maka seruan Allah berbunyi Yaa ayyuhalladziina aamanuu, khusus untuk orang-orang beriman. Dan agar diterima, tentu harus memenuhi hal-hal yang disebutkan tadi, seperti tidak diiringi manna dan adzaa, juga tidak diiringi riya. Kalaulah yang pertama tadi perumpamaannya seperti benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang masing-masingnya berisi seratus biji maka derma yang seperti ini seumpama batu licin yang di atasnya terdapat tanah, kemudian terguyur oleh hujan. Maka bersihlah batu itu dari tanah, tidak tertinggal sedikit pun, tidak menyisakan apapun.

Di akhir, disebutkan bahwa jika kita mendapat kebaikan, terapkanlah ayat terakhir surat Ad Dhuha, di mana terhadap nikmat yang didapat dari Tuhan, hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur). Menyatakan di sini juga bisa berwujud syukuran kecil-kecilan tanpa melupakan syukur kepada Allah (ini jelas yang utama). Bukan menerapkan apa yang disebutkan QS Al Ma’arij ayat 21, di mana ketika seseorang mendapat kebaikan, maka ia amat kikir. Na’udzubillahimindzalik, semoga kita senantiasa diberi petunjuk oleh Allah untuk senantiasa bersyukur dan dapat menafkahkan sebagian rizki di jalanNya. Aamiin.


Sulit memang mengikhlaskan harta benda yang menjadi kecintaan di dunia sebagai derma di jalan Allah. Juga sulit untuk melakukannya tanpa perasaan telah berjasa atau rasa bangga. Tapi itulah, karena sulit itulah maka janji Allah adalah balasan tiada tara. Bukan balasan serupa kipas angin, voucher belanja, piring cantik, ataupun malah kupon gesek dengan tulisan coba lagi atau anda kurang beruntung. Yang ini pahalanya besar, dan yang punya kuasa untuk memberikannya? Hanya Allah semata.

[semacam resume dari kabuma di maskam hari ini, terbaca serius banget ya ;) ? Semoga bisa diambil hikmahnya dan sama-sama menjadi pelajaran buat kita semua]

gambar dari sini

Urusan Niat Seseorang yang ‘Lebih’ dari yang Lainnya

Sabtu, 05 Juli 2014

Ini tulisan hari ketujuh Ramadhan saya. Baca judulnya intonasinya dijeda habis niat. Jadi kata lebih itu punyanya seseorang [biar ga ambigu].


Suatu ketika, pernah terbersit di pikiran saya, untuk orang-orang yang punya hafalan banyak, apabila ia jadi imam di tengah-tengah orang yang hafalannya di bawahnya (atau mungkin jauh di bawahnya), bagaimana sebaiknya ketika ia menjadi imam? Apakah tidak apa ia bacakan saja hafalan-hafalannya yang sudah jauh dari yang lainnya itu (apalagi memang jika biasanya shalat ia membaca demikian), atau lebih baik ia baca saja hafalan yang dihafal juga oleh orang kebanyakan, serupa surat-surat pendek juz 30. Bukan, orangnya bukan saya. Saya hanya pengamat keadaan. Dan hari ini hal yang mirip terjadi lagi, sehingga pikiran-pikiran ini muncul kembali di kepala.

Saya juga pernah terpikir, orang-orang yang biasa melakukan shalat sunnah ba’diyah atau qabliyah, saat berada satu jamaah shalat dengan orang-orang yang jarang melakukannya, bagaimana sebaiknya. Apakah ia melakukan saja kebiasaannya itu, atau tidak usah. Ketakutan ini semata-mata karena kekhawatiran tidak murninya niat ketika ia melakukannya. NIat, menurut saya, adalah hal krusial yang begitu rawan. Sebegitu krusialnya sampai sebuah hadits mengatakan bahwa segala perbuatan tergantung pada niatnya. Rawan, karena kemurniannya begitu mudah tergoyahkan oleh hal-hal sederhana saja, serupa perhatian orang-orang disekitar kita.

Membaca surat seperti surat-surat di luar juz 30 (karena juz 30 mungkin sudah terlalu mainstream dihafal mayoritas orang), bisa jadi menimbulkan kekaguman dari orang-orang sekitarnya, karena hal ini jarang dilakukan. Terutama di lingkungan-lingkungan umum, bukan di lingkungan-lingkungan pendidikan yang memang siswa siswinya banyak yang menghafalkan surat-surat serupa. Kekaguman inilah yang bisa jadi membuat seseorang goyah niatnya. Salah-salah secuil perasaan di hati ingin dirinya diperhatikan dan tanpa sadar muncul secuil rasa sombong. Urusan niat ini, takutnya, tidak terasa. Kadang seseorang rasanya senang kan ketika punya kelebihan dibanding yang lain? Dan, naudzubillahimindzalik, kita tidak pernah tahu kapan rasa sombong itu muncul pelan-pelan dalam niat kita, menyelinap tipis dalam perbuatan kita. Kita tidak pernah tahu, atau malah terlalu sombong untuk mengakuinya juga.

Pun halnya ketika berdiri kembali selepas shalat wajib untuk menunaikan shalat sunnah. Bisa jadi, ada perasaan tidak nyaman bagi seseorang ketika ia berdiri sementara lainnya masih duduk. Apalagi jika shalat jamaah dengan lawan jenis di tempat tanpa hijab/sekat pembatas antara shaf putra dan putri. Takut sombong, tapi tidak mengerjakan rasanya bagaimana. Apalagi jika selama ini ia sudah bersusah payah mengerjakan tanpa putus, misalnya. Tapi disisi lain, ia pun takut dengan kemungkinan-kemungkinan berbeloknya niat itu. Saat ia berdiri, ia berpikir, apakah orang akan melihatku kemudian kagum? Atau bilang ‘alim banget sih dia’? Atau jadi terkesan rajin? Awalnya bisa jadi ia ragu, tapi setelah menimbang kebiasaannya shalat sunnah, ia mungkin akan mengerjakan. Meski takut juga salah-salah tanpa sadar secuil perasaan hatinya memuji diri sendiri.

Saya pernah memikirkan hal tersebut dan kemudian mencari-cari apa alasan yang paling tepat untuk menjadi jawaban. Di sisi lain saya membenarkan bahwa hal tersebut bisa jadi pemicu sombong, tapi di sisi lain hal ini dapat memacu semangat orang-orang di lingkarannya untuk memacu diri menjadi lebih baik, dalam hal hafalan surat dan shalat saja misalnya. Sedemikian rumit masalah niat ini sampai saya teringat blog Gian  yang memposting ulang kalimat-kalimat dari akun @bersamadakwah, begini isinya :

"Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali.
Jangan meninggalkan dzikir karena ketidakhadiran hati. Kelalaianmu dari zikir lebih buruk daripada kelalaianmu saat berdzikir.
Jangan meninggalkan tilawah karena tak tahu maknanya. Ketidaktahuan makna dalam tilawah masih lebih baik daripada ketidakmauan membaca firmanNya.
Jangan meninggalkan dakwah karena kecewa. Kesabaranmu bersama orang-orang shalih lebih baik daripada kesenanganmu bersama orang-orang yang tidak shalih.
Jangan meninggalkan amanah karena berat. Beratnya amanah yang kau emban sebanding dengan beratnya timbangan amal yang akan kau dapatkan.
Jangan meninggalkan medan juang karena terluka. Kematian di medan juang lebih baik daripada hidup dalam keterlenaan.
Jangan meninggalkan kesantunanmu karena lingkungan kasar. Santunmu saat dikasari hanya akan menambah kemuliaan dan mengundang simpati.
Jangan meninggalkan kesetiaan karena dikhianati. Setia kepada janji selalu lebih baik daripada mengkhianati orang yang mengkhianati.
Jangan meninggalkan cinta karena cemburu. Kecemburuan dalam cinta jauh lebih indah daripada kegersangan jiwa tanpa cinta."

Mungkin yang paling relevan adalah poin pertama, Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali. Meski di sini saya posting semuanya karena isinya menarik dan membuat seseorang (kalo bahasa sekarang mah) stand on their side. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, selama itu baik, dan lakukanlah sambil meluruskan niat.

Jangan meninggalkan amal karena takut tidak ikhlas. Beramal sambil meluruskan niat lebih baik daripada tidak beramal sama sekali. Mungkin kita perlu berdoa kuat-kuat dalam hati, agar diri ini senantiasa ikhlas melakukan segala sesuatu. Doanya tentu bisa kata-kata ciptaan sendiri, karena tidak ada batasan bahasa untuk meminta apapun kan? Tapi saya tetiba jadi teringat Surat Al Isra ayat 80. Ayatnya demikian  :


“Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku).”

Nah yang menarik, salah satu dari sedikit tafsirann ayat tersebut di Quran saya, tertulis di sana begini,”Memohon kepada Allah agar kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala…”

Semoga perbuatan kita semua selalu dilandasi oleh istilah ini : ikhlas. Dulu di DM saya pernah baca IKHLAS itu : Ibadah Karena Hati Lebih Allah Sukai, pas banget ya kayak kepanjangannya ikhlas gitu. Pada akhirnya, saya menarik kesimpulan. Kalau memang biasa membaca surat yang panjang, atau biasa shalat sunnah, atau kebiasaan baik lainnya, lakukan saja. Selama kebiasaan baik itu juga hal yang disenangi Allah. Tentunya sambil berusaha penuh untuk senantiasa meluruskan niat, semua orang berproses kok. Dan kita pun bisa belajar untuk meluruskan niat salah satunya dengan senantiasa bedoa memohon agar selalu diluruskan niatnya, ikhlas menjalani segala perbuatan kita.

Terakhir, buat closing statement, saya suka sekali kata-kata Bu Evi, wali asrama Gycentium putri (angakatan 15 MAN Insan Cendekia Serpong), kurang lebih begini,

“Setiap baru bangun tidur, usahakan selalu ingat untuk meluruskan niat, berdoa kepada Allah agar apa-apa yang kita lakukan seharian ini selalu diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah. Karena kalau sudah beraktivitas itu mungkin sulit lagi ingat tentang meluruskan niat.”

Yuk sama-sama belajar meluruskan niat :), saya juga masiiiiih belajar :”)

gambar dari sini

Kangen Kalian Gyc :")

kangen kalian gyc :"
ini posternya pake font bikinan Ariq ya?
itu ada Alam sama Romadon mengarah ke Aam sama Roma kah?
Vincus cus nya cusriana apabanget lah *nama aslinya yusriana, tapi apadaya dipanggilnya Vincus*
kapan ya bisa kumpul sama kalian lagi, kumpul yang ramean
tahun depan jelas puasa nggak pulang, kan KKN
semoga kabar kalian selalu baik-baik saja :")

Memprioritaskan Allah

Ini tulisan untuk hari keenam Ramadhan. Kemarin, isi tulisan ini sama sekali bukan salah satu di antara topik yang sempat saya pikirkan. Tapi pada akhirnya saya menyerah pada kondisi fisik dan hati yang sudah sangat lelah. Saya tidur sepulang tarawih. Menyetel beker agar terbangun sekitar 20 menit kemudian. Dan galau akut menjelang memejamkan mata, menangis pula. Kemudian tertidur. (Merasa) Lelah mungkin membuat tidur saya jadi berkepanjangan. Tapi apa daya, bahkan kalau nggak dibangunin salah seorang Mbak kos, saya nggak dapat sahur juga pagi ini.

Saya lelah. Lelah fisik, pikiran, hati. Meski saya pun menertawakan diri sendiri atas pernyataan lelah ini. Lelah apa yang layak saya keluhkan kalau bahkan ini tidak ada apa-apanya dibanding apa-apa yang dulu dilakukan rasul dan para sahabatnya selama Ramadhan. Bahkan keharusan berperang saat Ramadhan. Dan satu hal, semua itu tidak akan bisa dilalui tanpa rasa cinta yang besar, ikhlas yang tinggi, serta keridhaan atas segala ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah serta janji surga sebagai jaminan abadi atas seluruh pengorbanan.

Kemudian saya bertanya pada diri sendiri, prioritas macam apa yang sudah kamu berikan pada Rabbmu? Saya sadar bahwa dua hari belakangan bahkan tilawah saya tertinggal jauh dari targetan. Shalat yang cenderung tidak khusyu’, bahkan hal kecil seperti senyum (dari hati) sulit sekali dilakukan. Saya dengan egoisnya merasa bahwa saya sedang berada pada kondisi yang tidak saya harapkan. Apa yang menyenangkan daripada berada pada kondisi yang ingin segera saya akhiri (karena merasa pada akhirnya, niat kegiatan itu hanya berorientasi pada dunia), deadline yang mendadak dan harus dipenuhi seolah-olah segalanya akan selesai semudah itu, serta rasa rindu yang meletup sampai pada ujung-ujung pelupuk mata?

Maha suci Allah yang begitu mudah membolak-balikkan hati dan perasaan. Kemarin misalnya, saya merasa kesal, tetiba bahagia, semangat, pesimis, takut, dalam satu hari yang sama. Perpindahan ruang dan orang-orang yang saya temui memudahkan perpindahan perasaan itu terjadi. Saya sadar, pada semua titik, saya harus mengembalikan segalanya pada Allah. Maka kemudian pada kondisi yang ingin segera saya akhiri tadi, saya mencoba untuk mengeksplor alasan apa yang masih dapat membuat saya bersyukur pada kondisi ini. Nihil, belum ketemu. Berminggu lalu saya sudah melakukannya untuk keadaan yang sama pula, kemudian bisa terobati. Hari ini entah kenapa sulit sekali menemukannya. Apa barangkali hati saya yang terlalu keras, atau makin sulit saja melompati tembok-tembok keegoisan itu. Saya sadar, prioritas dan hal yang mendominasi kami masing-masing bukan acara ini, dan mungkin karena niat utamanya masih dunia, sulit sekali menemukan titik yang membuat saya percaya bahwa pengeluaran yang sudah terjadi itu memang layak dipertanggungjawabkan.

Tapi kalau demikian, kalau saya ingin berbaikan dengan takdir untuk mencintai proses ini, maka saya harus segera menemukannya. Setidaknya dengan demikian saya tidak rugi dengan keputusan pulang yang masih (ah Arum, kamu bikin aku sadar bahwa ini masih 2 minggu lagi T^T)…berhari-hari lagi.

Selepas acara itu saya beranjak ke mushala, ada rapat selepas ashar. Saya sudah di sana, tapi pikiran saya tidak. Saya merindukan tempat bersandar tapi entah mengapa saya tidak menemukannya. Shalat tidak membuat perasaan kunjung tenang. Mungkin ada yang salah pada shalat saya. Dan saya tidak juga menemukan bahu yang bisa saya sandari di dunia. Perasaan campur aduk tak kunjung membaik. Bahkan pada shalat pun belum juga memberi ketenangan.

Mungkin saya belum memberi ruang yang cukup untuk Allah sebagai prioritas. PR saya besar untuk kemudian mendekat lagi padaNya dan menemukan ketenangan seperti yang dijanjikannya. Menemukan keikhlasan agar saya kian maksimal dalam ibadah dan tak perlu mengharap apa-apa selain ridhaNya. Saya sesekali heran, begitu banyak orang di luar sana yang juga belum memberi ruang lebih untuk tuhannya, tapi mengapa saya melihat mereka sepertinya baik-baik saja. Apa karena saya pernah berada di lingkungan asrama di mana semua berjalan secara sistemik dan merasa hal seperti itulah yang ideal. Saya tahu sistemik berarti buatan dan realita pada kehidupan yang sesungguhnya adalah justru diri sendiri lah yang akan benar-benar punya kuasa penuh atas diri ini.

Dulu, saya setidaknya pernah mengalami di mana rapat akan benar-benar selesai maksimal setengah enam, untuk memberi ruang mempersiapkan maghrib (jika maghrib benar-benar jam enam—standar waktu Jabodetabek). Dan menjalani maghrib akan satu paket dengan isya, yang ditengah-tengahnya dapat diisi dengan makan, istirahat, ataupun membaca Quran. Jika pun kegiatan dilanjutkan lagi, maka akan dilanjutkan selepas Isya. Semua proses berjalan beriringan dan seimbang. Tanpa menerlantarkan waktu shalat dan memberi ruang untuk tilawah ataupun diskusi ringan lain. Tapi ini sistem, dan terikat atas instansi. Di luar, diri kitalah sang pemegang kendali. Banyak pilihan dan saya harus pintar-pintar bagi waktu, juga untuk memprioritaskanNya. Kalau baca postingan Mbak Yasmin yang ini, maka benar, rasanya ingin menangis. Terlalu banyak hal dunia yang masih berebut perhatian dan saya masih terlalu sibuk meladeninya. Jika saya masih belum memberi prioritas pada Allah, mau sampai kapan seperti ini? Apa siap kalau nanti dipanggil menghadapnya. Apa sudah siap?
***
 Saya ingat cerita seorang teman yang pernah diceritakannya secara langsung pada saya. Suatu hari ia bercerita pada murabbinya tentang kekecewaannya pada suatu lembaga yang ia ada di dalamnya. Jadi kadep pula. Setelah menasihati tentang meluruskan niat, MRnya bilang gini,
“Kamu tilawah aja dek, dua juz. Nanti juga hilang sendiri.”
Kemudian saya bertanya, lalu kelanjutannya gimana? Dia bilang waktu itu dia kemudian juga tilawah. Meski nggak sampai dua juz, tapi saat itu ia melebihkan bacaannya dari biasanya. “Dan habis itu….bener Fit, hilang. Rasanya jadi tenang.” Saat itu saya tersenyum, kemudian meminta izin suatu saat mengutip percakapan ini di blog saya. Dia mengizinkan.

Kalau shalat masih belum memberi ketenangan, mungkin karena di dalamnyalah kita bercakap-cakap langsung dengan Allah dan belum melakukan persiapan sebelum memulainya. Tapi bercakap-cakap juga butuh intro dan mungkin kalau dianalogikan, semacam latihan agar ‘percakapannya’ bisa lancar dan mengalir secara enak penuh ketenangan. Shalat agar khusyu salah satunya adalah dengan mendahuluinya dengan tilawah Quran, atau dzikir, atau memurajaah hafalan. Mungkin jika diintro demikian, shalatnya akan lebih khusyu, coba saja.

Wallahu a’lam bish shawwab, saya juga masih harus banyak belajar.

yang sedang menerapi diri dengan menulis.

Oh iya kalau mau mungkin juga bisa baca tulisan ini

gambar dari sini 
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS