Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kampus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Belajar dari Orang-orang Baik

Suatu masa saat aliyah, pada suatu kepanitiaan bakti sosial, kami berdiskusi tentang peminjaman mobil sekolah untuk urusan operasional panitia. Kala itu menjelang dua acara besar di sekolah, bakti sosial yang tadi saya sebut, dan satu lagi kompetisi antar sekolah yang telah melegendaris dari masa ke masa. Dua-duanya tentu butuh mobil sekolah untuk urusan operasional kepanitiiaan.

Saat itu saya bilang, Kita pinjam aja duluan mobilnya daripada keduluan sama panitia acara lomba (saya nyebut nama acaranya).
Tapi salah satu teman saya yang ikut rapat bilang, Jangan. Kita obrolin aja sama mereka biar sama-sama enak. kapan mereka mau pakai, kapan kita mau pakai.
Honestly, saat itu saya maluuu banget. Kayak saya kok egois banget ya mentingin acara yang saya termasuk panitia intinya. Padahal di acara kompetisi antar sekolah itu saya juga jadi panitia.

Waktu berjalan, obrolan itu ternyata berkesan dan masih saya ingat sampai hari ini.
***
Suatu hari di tingkat akhir kuliah. Skripsi saya mentok, saya perlu bimbingan. Ibu dosen pembimbing sedang masa-masa sulit dihubungi, dan anaknya beberapa kali jatuh sakit sehingga sulit sekali janjian untuk bimbingan. Drama-drama skripsi yang pake nangis sudah berlangsung.

Kala itu pikiran saya berbunyi, kalau memang nggak bisa bimbingan, setidaknya ada kabar kalau memang tidak bisa. Atau kalau memang tidak bisa ketemu, email progress saya mengapa tidak ditanggapi. Email pertanyaan dan chat minta bimbingan kenapa tidak dijawab. Itu kalo gak salah ceritanya ibu dosen abis sulit dihubungi yang sulitnya tuh semacam lapor progress tak ada balasan, tanya konsul tak ada balasan, dsb dll. Padahal biasanya meski nggak ketemu Ibu dosen tetap membalas email-email itu.

Lalu waktu saya nelpon Ummi ceritalah saya hal-hal tersebut.

Saya ingat sekali, salah satu hal yang Ummi saya bilang adalah, Doain dosennya. Doain semoga anaknya lekas sehat. Doain semoga urusan-urusan dosennya lancar.

Saat itu saya tertegun. Iya, ya. Kenapa dari dulu doanya hanya sekadar semoga dosennya mau balas email saya. Semoga janjian bimbingannya mudah. Semoga saya dikuatkan dan dimudahkkan dalam mengerjakan skripsi saya.

Egois sekali doa-doa saya. Padahal doa kita ke orang lain akan malaikat aminkan untuk diri kita juga. Padahal doa tuh gratis, murah, mudah. Tapi kenapa isi doa itu saya ngak kepikiran, ya. Doa untuk kebaikan-kebaikan Ibunya. Bukan melulu terpusat pada saya.

Hiks, malu sekali saat itu.
***
Suatu hari di Badr, saat teman saya menyadari ada sedikit bug pada salah satu aplikasi yang kami jadikan benchmark.
Saya bilang, lapor aja ke mereka bug yang kamu temuin. Kali aja dapet sesuatu. Kalimat terakhir rada-rada oportunis sih hehe soalnya dulu ketemu temennya Nilam yang ngelaporin bug ke Gojek terus dapet saldo gopay sekian ratus ribu. Tolong abaikan saja kalimat itu karena itu bukan ini utama tulisan ini ehehe dan jangan ditiru pls.

Temen saya bilang, Gak mau ah, nanti mereka jadi lebih bagus daripada punya kita.

Lalu saya dengan reflek bilang, Tenang aja, kebaikan itu pasti berbalik ke kita juga, kok. Abis ngomong gitu saya bengong juga sih sama kata-kata saya sendiri.

Pulang dari Badr, di perjalanan saya mikir juga, kok bisa ya tadi seenteng dan serefleks itu ngomong begitu. Mikir, mikir, mikir, lalu terngiang lah saya akan obrolan semasa aliyah dan obrolan sama Ummi yang tadi saya tulis. Mungkin nggak nyambung-nyambung banget ya Tapi otak saya merelate ke situ aja secara otomatis. Dua hal itu.

Dua hal itu yang membuat saya berpikir bahwa, kebaikan orang itu magis, meskipun orang-orang tadi tidak menyadari.

Teman aliyah saya barangkali (dan saya yakin wkwk) sudah lupa isi obrolan itu. Dia tidak tahu bahwa obrolan itu saya ingat sampai hari ini dan bahkan bisa mendukung lahirnya ucapan lain setelahnya. Teman saya mengajakan saya untuk mencari titik temu, dibandingkan merasa menang terhadap yang lain. Ummi juga barangkali tidak berpikir bahwa kalimatnya akan membekas bagi saya. Bahkan juga tidak tahu bahwa saya sempat mengatakan hal tersebut pada teman saya yang sempat sulit mencari tanda tangan dosennya kala pengurusan skripsi. Ummi mengajarkan untuk peduli, mengajarkan untuk coba perhatikan juga urusan orang lain, dan doakan. Berpikir untuk tidak mementingan diri sendiri bahkan dari sudut pandang doa, sudut terkecil yang kalau dipikir-pikir, isi doa itu nggak banyak kan orang yang tau. Paling ya kita saja sebagai orang yang berdoa.

Saya berpikir, dua obrolan kecil itu saja bisa mengubah pola pikir saya beberapa waktu setelahnya tanpa saya sadari.

Saya bersyukur akan keberadaan orang-orang baik di sekitar saya. Kebaikan yang bahkan bisa mengubah pola pikir. Kebaikan yang bisa membuka mata untuk melihat dari kaca mata yang lebih luas. Di sisi lain, mereka tentu tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan berkesan dan menimbulkan bekas bagi saya yang dalam case ini mengorol dengan mereka. Pelajarannya apa? Kita tidak pernah tau apa yang bisa dipelajari orang lain dari diri kita, dan, ya tidak perlu tahu juga sih. Tapi, berbuat baiklah di manapun, tanpa perlu berharap apa-apa. Kebaikan akan menimbulkan kebaikan lainnya, insya Allah.

Semoga Allah memberi kebaikan pada teman saya, Ummi, dan juga orang-orang baik di sekitar saya.


Rumah, 1 Maret 2018
tulisan ini sudah lama menjadi draft di kepala

Kamis, 07 Desember 2017

7/12/2016 dan Hari-hari Setelahnya

Menjejak Desember; maka saya tidak lupa hari-hari kala itu.
Suatu hari setelah sekian lama disemangati oleh dosen untuk submit Desember, tapi sempat merasa terabaikan beberapa waktu. Suatu Selasa, saya ingin pergi dari keramaian orang-orang kontrakan (yang ramai berisikan 11 orang) untuk menenangkan diri dan memaksa berprogress.

Lalu saya nginap di rumah Afifah.
Tapi, apa yang bisa dilakuakn bocah semester sembilan yang kemampuan ngodingnya belum fasih dan tidak punya data yang hendak diolah. Menatap nanar muka layar sambil ngga tau harus gimana :"""

Malam itu, yang awalnya diniatkan akan begadang, jadi gagal karena saya stuck tidak tau harus gimana. Besoknya pagi-pagi pulang ke kontrakan dengan rasa-rasa sedih gimana gitu. di prodi deadline akhir submit naskah unttuk bisa sidang Desember (dengan kata lain juga wisuda Februari) adalah tanggal 9 (malah sempat ada gosip tanggal 2). Saya pulang tanpa harapan. Lalu sempat saling menyemangati dengan +Maryam Zakkiyyah lewat DM instagram itu, kira-kira pukul 7 pagi, setelah sebelumnya mengirim postingan chibird yg unyu dan cukup mendongkrak diri.

Sekitar pukul 9 dosen saya tiba-tiba mengirim pesan untuk bertemu jam 11. Saya iyakan dengan setumpuk perasaan bersalah sekaligus bertanya-tanya dalam hati, Ibu, mana datanya yang harus saya olah Ibuuuu hiks hiks. Karena data yang saya olah itu semacam data dari lab ibunya kala S3 dulu dan ngambilnya dari server ibunya. Tapi sampai hari itu belum dapat juga.

Pukul 11 saya ke gedung S2/S3, bertemu ibu dosen pembimbing. Kalimatnya tidak panjang, tapi sangat berarti. Intinya, saya harap Fitri bisa sidang bulan ini. Dibuat dulu naskahnya, nanti sambil kita susul dengan yang ada hasil penelitiannya.

I dont have any words. Saya ngga tau harus gimana. Tapi tentu saja harus dipatuhi. Ibu dosen sudah berusaha membuat saya bisa tuntas skripsinya secepat mungkin. Dosen saya merencanakan akan menyanggupi hadir di hari-hari terakhir pekan sidang agar saya tetap bisa mempersiapkan naskah sampai hari terakhir banget sidang.

Tidak ada 24 jam, keputusasaan saya Allah ubah dengan secercah harapan.

Lalu pekan-pekan panjang dimulai. Tahu rasanya ngumpulin berkas naskah yang akan disiap sidangkan tapi belum selesai :" ? Ah, kekhawatiran saya dari hari ke hari memuncak. Saya menyembunyikan berita ini dari sesiapapun karena terlalu takut diselamatin mau sidang, dibarakallahin, diledekin bentar lagi lulus, karena saya tahu seberapa nekat sederhana naskah saya yang sesungguhnya belum selesai itu.

Mana awalnya sempat ngga boleh submit karena kartu bimbingan saya dari awal emang dipegang dosen pembimbing dan hari H ngumpulin berkas ibunya bilang nanti saya susulin sementara petugas TU kayak gak yakin gitu :""

suatu masa saya sempat baru
terbangun dan kaget karena
ada pesan dari dosen.
Jam 2 pagi cobaaaa :""
Perjuangan dosen yang juga
seorang ibu yang punya bayi kecil :")
Waktu berjalan. Saya dan dosen saya berpacu bareng-bareng. Ada masa saya ngintilin dosen banget sembari beliau waktu itu juga bimbing beberapa anak S3, atau sesi tambahan presentasi tugass akhir matkul adik-adik tingkat (seperti yang diketahui bersama Desember adalah masa ujung dari suatu semester di mana pengumpulan tugas mulai mainstream). Ada masa bimbingan di tempat penitipan anaknya (Dek kamu sekarang dah bisa apa Dek :"). Ada masa saya ngintilin ibunya sembari ibunya mempersiapkan persiapan ransum buat anaknya :")). Ada masa saya nanya temen cara pikir suatu algoritma tapi tetep aja ngga mudeng. Di kampus, di angkringan deket aula yang dipake bulu tangkis warga sekitar :"""

Ada masa saya tertekan banget nangis-nangis. Ada masa saling menguatkan sama anak ssidang Desember (thanks Amel, Denis, Deni, Rilut, Erwin). Ada masa saya ngga bisa tenang tidur karena sekali nge-run program bisa 3 jam. Kayak gamau rugi habis selesai ngerun satu harus kelar ngerun yang lain. Ada masa saya tambah sering ke perpus teknik sampe perpusnya mau tutup (ini udah agak mulai dari sebelum submit itu sih). Lalu ngerjain di KPFT (terus ke-gap temen gycen :")))).


Ingat sekali H-1, saya telpon Ummi sambil nangis sore-sore. Udah ngga bisa dibendung lagi khawatir dan paniknya, nangis depan perpus teknik. Paginya saya nyerahin draft terakhir, harapannya bisa dikasih feedback mana yang diperbaiki, tapi malah dikasih feedback mana yang ditambahin. Ditambahin cobaaaa gimana gak mau nangis dari mana lagi saya nyari sumbernya. Print naskah buat besok aja bbelum kelar. Apalagi mikirin slide huhu.

Lalu salah satu yang paling diingat, Ibu saya akhirnya bilang minta doa sama teman-teman. Akhirnya H-kurang dari 24 jam itulah saya kabari 2 grup; Gycen Jogja dan Srikandi. Meminta doa setelah meenjelaskan kondisi. Muncul cuma buat itu doang. lalu ga buka wa lagi (sebelumnya juga saya ga buka2 WA sama sekali setelah sempat uninstal WA dan instal lagi krn khawatir dosen saya tiba-iba hubungi ke WA).

Malamnya saya sempat berniat print draft. Tapi ujung-ujungnya belum selesai juga. Di KPFT udah lebih dari jam 8 malam. Saya ngga mau pulang dari kampus terlalu malam karena khawatir pada banyak hal. Akhirnya malem itu secara mendadak saya nginep kontrakan Nikari (karena di sana ada printer jadi kalau mendadak butuh bsia sewaktu-waktu). Dengan perasaan gak enaaak banget sama teman yang belum sidang di kontrakan itu :")

Pada akhirnya malam itu saya masih saja belum bsai menyelesaikan apa yang harus diprint. Saya edit-edit slide, kebangun-tidur secara random. Pada akhirnya nebeng print yang halamannya landscape (karena kalau di rentalan mesti susah ngatur-ngaturnya). Jam 7 ngeprint 4 bundel naskah fix di fotokopian GOR klebengan (favorit :")) dan jam 11.30an baru selesai slidenya. Saya gak nafsu makan tapi terpaksa beli sarapan karena saya gak mau sakit mendadak karena gak ada makanan masuk. Saya paksa diri menahan malu minta bantuan temen (yang saya tahu dia antara sedih dan senang waktu saya akan sidang) minta bantuan beli roti dan susu buat saya konsusi mendekati sidang (karena sidang siang dan tentu saja agak akan sempat makan siang).

Bada zuhur ke kampus. Ke ruangan ibu dosen, dapet briefing macem-macem. Jam 1 kurang sudah  di ruangan sidang. Sempat ketemu temen yang geleng-geeng kepala karena saya masih benerin slide :")

Ada dua kekhawatiran besar menjelang sidang. Pertama, saya takut nggak lulus, karena sebelumnya emang ada yang nggak lulus sidang dan itu tentu rasanya sedih banget :'. Tapi ini yang kemudian saya pasrahkan benar-benar ke Allah bahwa apapun hasilnya semoga saya ikhlas, dan bisa jadi lebih baik lagi. Kedua, saya takut banet ditonton orang banyak. Jadi sidang di ilkom itu sifatnya terbuka dan orang bisa keluar masuk kapan aja. Selain itu mengganggu konsentrasi, bagi saya yang sungguh merasa minder dengan hal-hal ilmiah dan takut nggak lulus ini, hal tersebut sangat mengkhawatirkan.

Tahu, bagaimana Allah beri saya kejutan?
Dosen penguji saya tiba-tiba banget bilang, "Saya nggak suka ada yang keluar masuk di tengah sidang" Lalu beliau ke TU, minta kertas dan spidol, lalu nempel tulisan yang tidak boleh masuk jika sidang sudah dimulai. Ya Allah ini seumur-umur aku nonton sidang kaka tingkat atau teman pas ada bapaknya, ngga pernah aku tau sekalipun bapaknya nulis larangan nonton sidang kalo udah mulai :"
Jadilah waktu itu yang nonton hanya 2 orang; Farah dan Erwin :"))

once upon a time


Waktu berlalu. Tibalah saya pada hari ini. Setelah nyaris satu tahun berlalu sejak kejadian-kejadian itu :")

Rabu, 29 November 2017

29/11/2016


foto ini foto 29 November 2016, tepat setahun lalu
saya masih ingat sekali, sebagaimana biasa saya dan beberapa teman masa itu sehari-hari ke lab untuk mengerjakan skripsi, walaupun akhirnya memang bisa berujung kemana-mana aktivitasnya; bisa saja tidak mengerjakan skripsi tapi malah ngapa-ngapain yang lain.

lalu pukul 5 sore lab tutup. saya belum mau pulang. teman-teman mau pulang.
sebagaimana orang introver, saat-saat seperti ini adalah saat tidak mau bertemu banyak orang.
skripsi tak kunjung kelar; dan bingung menuntaskannya, jika pulang saya akan bertemu orang, karena saya tinggal di kontrakan berisi 11 orang.

lalu saya ambil haluan ke gedung C. kala itu masih gedung baru yang kalau tidak salah baru dipakai jalan 1 semester. saya pun belum pernah merasakan kuliah di gedung baru itu. saya cari ruang yang sepi, ada colokan, dan jika duduk pandangannya berbelakangan dengan orang-orang; menghindari pertemun-pertemuan.

tentu saja tidak sepenuhnya berjalan mulus. saya bertemu satu dua adik tingkat yang saya kenal, hendak mengerjakan tugas kelompok :") bertemu jua dengan teman seangkatan. tetap ada saja yang bertemu lah :"")

lalu senja itu, lupa saya tuntaskan hingga pukul berapa saya pulang

dulu, emang suka ngedokumentasiin foto-foto saat ngerjain skripsi
hal-hal yang saya sendiri anggap sebagai pantas untuk dikenang :""

perasan tidak ingin bertemu banyak orangnya sama,
dengan yang akhir-akhir ini saya rasakan
i don't definetely know the reason
meskipun ada sebagiannya yang saya asumsikan jadi penyebab


Rabu, 04 Oktober 2017

Baju Hari Ini

 hari ini pakai baju ini lagi setelah sekian lama. terakhir pakai di Jogja.
lalu ingat foto waktu sidang farah lalu ingat foto bertiga bareng farah dan memey. lalu kangen.
Farah sekarang di Jakarta, Memey tentu belum lama mendarat di tanah Jerman. Melanjutkan kuliah s2nya.
Dulu Farah cerita lagu ending Doraemon. Terus kita baru tahu. Terus jadi suka soalnya baru tau ternyata bermakna :"). Apalagi bagian kutipan kata 'berikhtiar' (walau ada yang sumber yang nyebut ber-hip riang juga sih).
Farah sama Memey mundur lulusnya karena keduanya exchange. Farah ke Irlandia 6 bulan. Memey ke Itali 10 bulan. Aku? Ahaha, emang telat sih lulusnya :")
Suka bareng di lab SC. Dari yang ngerjain skripsi, cuma wifian, sampai Memey yang belajar ielts buat menuhin syarat daftar S2.
Kuingat sekali waktu masih suka nebeng Farah ke kelas Pancasila di Fakultas Filsafat. Dan kujuga ingat waktu nemenin Memey nge-transate ijazah dan berkas-berkas lain buat daftar exchange kala itu.
Kuingat sekai waktu Memey jadi koor acara Crayon. Lalu rapat di macam-macam tempat. Termasuk di KFC (yang modal memey beli minum 5000an sama satu lagi lupa siapa beli krim sup yang 5000an juga). Lalu gatau diri rapat sampe kfcnya tutup, wkwk. Kuingat sekali pagi-pagi ke Taman Pintar ditebengin Farah, juga pulangnya. Hari itu senang sekali kepanitiaannya :)
Kuingat sekali, bareng Memey nyari mahkota bunga buat sidang Farah. Inspired by wisudaan Itali yang kata Memey mereka suka pada pake flower crown gitu.
Kuingat sekali Google lagi ke Jogja ada event traktiran sepekan dan hari Selasa itu traktirannya di Gelato. Waktu di lab udah bodo amat soalnya males, gelatonya jauh arah Jalan Parangtritis. Tapi sekitar magrib Farah ngeline dan akhirnya kita kesana wkwkwk demi cup gelato (kalo beli bisa 25rebuan sih 1nya).
Kuingat Memey cerita keterima exchange di tengah kuliah SPK. Pak Yoyok masih jelasin di depan. Lalu aku tanya, Memey jadi daftar exchange (yang lain pokoknya). Lalu Memey berbisik, "Alhamdulillah Aku udah keterima erasmus, Fit."
Kuingat pinjam komik Conan Farah, tapi baru 1-30. Masih pingin pinjem sisanya sampai edisi terbaru aku Far :"
Kuingat sekali awal-awal tau berita nikahnya Nana dan Rian. Lalu kami ketemu Nana di warung nasi goreng deket mandiri, bareng Deffi juga. Ah kangen ya :" Lalu hari H berangkat Farah ngajakin aku biar bisa bareng sama rombongannya yang naik mobil :')
Kuingat sekali waktu aku ke Jogja di tengah magang untuk mubes FLP. Lalu ketemu Memey dan Farah. Padahal dadakan 500an. Lalu Farah cerita perjuangan lamar kerjanya dan Memey cerita sidang dan berita S2nya.
Kuingat sekali mereka suka bilang, "Tuh kan temennya Fitri keren-keren" kalo aku abis cerita tentang siapa gitu. Its like mereka ga sadar...mereka kan temen aku juga wkwkwk. Dan proven sih, meeka keren-keren B)
Ahaha, kangen ya. Terima kasih pertemanannya :') Terimakasih untuk obrolan apapuuun yang sering kita obrolin dari jaman masih sering masuk kuliah sampai obrolan karena bingung di lab mau ngapain saking stucknya :") Semoga bisa jadi pertemanan sampai kelak di surga, ya :) Aamiin
Selamat melanjutkan perjuangan Papamu di Jerman dulu Mey! Banyak cerita, ya.
Dan Farah, aku tau kamu juga kepengen S2. Selesaikan papermu atau kamu minta rekomendasi dari spv di tempat kerja! Kuat-kuat ya kamu yang 20an tahun hidup di Jogja sekarang jadi anak ibukota! wkwkwk.

Salam sayang,
Fitri-yang baper diawali dari baju


Jumat, 13 Januari 2017

Sakit di Indonesia, Negara dengan Muslim Mayoritas

Salah satu 'hal mewah' dari sakit di Indonesia yang notabene muslimnya mayoritas, adalah ingatan perawat atau dokter yang sempat mengatakan hal-hal kecil namun bermakna seperti ini,
"Wah ini lututnya yang kena, tumpuan sujud ini," kata Mbak Perawat. Lalu dokternya mengiyakan. "Oh iya ya dipake sujud."
atau...
"Kalau puasa nanti saya kasih obatnya yang untuk 2x sehari saja."

Hal kecil, namun bagi saya ada kenikmatan yang tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana nikmat mendengar azan ataupun banyaknya muslimah yang menggunakan kerudung sehingga kita tidak perlu khawatir soal diskriminasi akibat kewajiban menutup aurat ini :").

Selasa, 01 November 2016

Murottal Ibu

"Dengerin murottal, X?"
"Iya."
"Syekh siapa?"
"Ini suara Ibuku Fit."
.
 :"
-ketika masih tahun pertama di kampus,
barangkali redaksinya sedikit berbeda, tapi intinya tetep itu

Selasa, 18 Oktober 2016

Nulis untuk Orang Lain

Nulis buat orang lain itu jangan sampai bikin ndak nulis buat diri sendiri. #pelajaran5hariterakhir

Selasa, 27 September 2016

Zahra


Halo Zahra, apa kabar?
Tulisan ini kumulai pada 6 September 2016. Saat aku kangeeen banget sama kamu, kamunya lagi sibuk urusan Brunei dan banyak hal lainnya. Dan setelah kuobok-obok isi hardisk, satu setengah tahun terakhir kedekatan di asrama tidak pernah menelurkan foto kita yang berdua doang, ya. Padahal kita se-tim-sat lebih dari enam bulan. Dilanjut obrolan pas kamu mau nyiapin KKN dan setelahnya. Diskusi di kasur masing-masing sama teteh Ditta pas di kamar pojok nomor empat. Kamu yang suka numpuk buku, minta bangunin, begadang parah, sampai kamu yang sekarang.

Hari ini aku membaca postingan terakhirmu di blog. Maka aku selesaikan tulisan rindu ini untuk memelukmu dari kejauhan. Menyenangkan sekali membayangkan dirimu yang penuh ide dan sangat semangat memulai ide baru. Walau aku tahu ada saja yang bilang bingung sama kamu yang terlalu banyak ide dan urusan, tapi aku tahu, tahuuuu sekali semangatmu untuk perbaikan umat.

Halo Zahra, apa kabar?
Menyenangkan sekali sepertinya kehidupanmu akhir-akhir ini yang penuh gairah. Senang sekali mendengarnya, karena kalau aku melihat kaca, hal-hal itu yang sekarang kabur dari diriku untuk bersemangat memulai hal baru. Maafkan aku yang belakangan tidak menyapa, bahkan aku ragu menuliskan satu patah dua patah kata komentar di blogmu sebulan belakangan. Padahal kamu sendiri yang bilang, kan, kalau aku orang yang sangat senang komen di sana. Aku ikut mendoakan kebaikan untukmu, semoga Allah menguatkan pundakmu mewujudkan segala mimpi untuk perbaikan umat, beserta menemukan parter hidup terbaik untuk membantu bersinergi mewujudkannya.


Saling mendoakan dalam kebaikan ya Zahra.


Peluk jauh Deresan-Imogiri Timur.

untuk Zahratul Iftikar Jadna Masyhida,
di manapun ia berada saat ini.

Kamis, 22 September 2016

Khawatir

Maka barangkali, jika Allah pemilik segala. Jika Allah penentu segala. Lupa kita pun ada maksudnya. Lalai kita ada tujuannya.
Mempercayai Allah sebagai konsekuensi keimanan berarti yakin setelah kesulitan ada kemudahan. Meyakini Allah menilai segala usaha kebaikan, walaupun itu kecil. Yakin seyakin-yakinnya.  Setelah usaha panjang, yang jika hasil dunianya tak nampak, semoga Allah ganti sebagai bekal hadapi akhirat.
Karena selama segalanya ada pada koridor syariat, ridha Allah lah sebaik-baik jawabnya.
Senyum itu harus senantiasa terkembang sebagai bentuk upaya tabungan sedekah. Walau akhir-akhir ini, tetiba rasanya jadi berat. Kadang-kadang setelah memupuk semangat, perjumpaan satu dua meruntuhkan dinding pertahanan lawan sifat kekanakan. Kadang-kadang, setelah menabung percaya diri, obrolan kanan kiri patahkan keyakinan. Padahal, kata Nadiyah yang penting kita yakin.
Hari ini, saya menyadari. Saya bukan takut ditinggal karena saya takut pergi sendirian.
Saya takut ditinggal
.
.
.
karena saya takut tidak bisa menyusul....


Masih di Jogja.
Masih bingung besok ikut ke IC dan nikahan eja atau enggak. Padahal sudah beli tiket pp.

Terimakasih : kabar buruknya, dir; kabar bahagianya, lim; teleponnya, fah; obrolannya, cep; optimismenya, kakfin, pertemuannya, dis. Semoga ini semua melahirkan kebaikan.
Siang menuju sore ini, terlalu banyak hal yang terjadi .

Kamis, 08 September 2016

Randompost

"I've several times started learning XUL, but every time got distracted by other problems in life."

ternyata ada juga yang ngomong gini di internet . I know what you feel bang *emangnya abang-abang.

-Kamis 8 Sept 16, 21.52
Lab Mikrobiologi, Gedung Pascasarjana
nemenin ma twins Ibu Direktur Kopma Ufairoh Nurulhayah ngelab
//terus ngasih bukti

mari sudahi pencitraan ini

Minggu, 28 Agustus 2016

Keluarga

Sebagaimana postingan sebelumnya, ingatan soal ini menstimulus saya untuk meninggalkan print-printnan yang sedang saya baca. Sudah gemas rupanya.

Bukan tentang keluarga saya (atau mungkin nanti ada sebagiannya). Tapi saya pengen cerita soal keluarga, secara umum, sepengamatan saya.

Suatu ketika saya menemukan realita kakak kelas saya, yang gaul banget tapi termasuk yang saya respect-in karena gaulnya bukan tipikal hedon. Yang sederhana, dan belakangan saya kagum karena cerita temen soal kehati-hatian kakanya milih makanan. Yang lebih paham dan tau menempatkan bagaimana bersikap sama tipikaal orang kayak begini dan begitu. Yang saya kira termasuk tipikal objektif yang nggak mudah misuh kalau ada isu baru, yang barangkali sekelilingnya lebih suka misuh duluan.

Terus randomly saya baru tau kakanya ini kakanya temennya temen saya di kampus lain. Terus saya jadi kepo kan #duh. Terus ada kesimpulan yang saya tarik. Soal keluarga. Ada sikap-sikap si kakak yang merupakan cerminan dari keluarganya.

Suatu waktu saya teringat sama cerita orang yang ibunya rajin banget sholat sunnah. Bukan cuma yang muakkad, bahkan yang ghairu muakkad juga dikerjain. Syukrul wudhu kalau bisa pun dikerjain. Belakangan, pasca sholat anaknya suka keinget ibunya yang nyaris selalu nambah sholat sunnah. Meski nggak selalu ngefek sama anaknya jadi serajin ibunya, tapi rajin dia secara otomatis jadi alarm tersendiri buat ngingetin dia soal keutamaan shalat sunnah sebagai penyempurna shalat wajib.

Saya keinget cerita temen, anak psdm di salah satu organisasi kampus yang sering dicurhatin temen-temen organisasinya. Dia bilang, rata-rata temen yang punya masalah adalah karena ada aja hal yang brmasalah di keluarganya. Temen saya ini meski sibuk banget tapi njaga hubungan sama orang-orang di sekitarnya cool banget. Termasuk keluaarga, bahkan se kakek neneknya. Dan boleh jadi, itu pula yang membuat dia sestabil itu di perhelatan dunia kampus dan bisa jadi tempat curhat yang baik buat anak-anak di sekitarnya. Karena di rumah dia juga sangat didengar dan dia punya tempat pulang yang nyaman di keluarga.

Saya juga teringat soal orang yang sebelum kuliah ibunya cerita kalau beliau pernah menarget usia 19 tahun untuk kurban pertama kali. Jadilah si anak berupaya menarget pada usia yang sama dengan ibunya, 19, sebagai target kurban pertamanya. Dan setelahnya dia tetap menjaga semangat berkurban itu agar tidak putus di usia selanjutnya.

Saya teringat teman saya yang punya cita-cita tinggi sekali soal sekolah, ayahnya dosen, dan juga sekolahnya tinggi, Saya ingat teman saya yang ayahnya termasuk pejabat publik, lalu ia juga ingin jadi pejabat publik, menjadi pemutus kebijakan yang baik untuk daerahnya. Saya ingat teman sya yang begitu bangga dengan ibunya yang ibu rumah tangga, yang bisa mengajari dia apa-apa lebih dulu daripada sekolah. Sehingga dia merasa ranking di sekolah yang dia peroleh itu wajar, karena itu memang hal yang ia pelajari di rumah. Semangat temen saya ini tinggi buat ikut sekolah calon ibu, yang katanya nanti kalau nggak secepet itu berguna buat dianya, dia bisa sharing ke ibunya materi yang didapat. Saya teringat foto-foto wisuda yang meluap-luap di sosial media, diupload foto yang  bersama orang tua, atau jika tidak, maka captionnya akan mebawa-bawa orang tua. Menyatakan terima kasih, menyatakan dedikasi, menyatakan merekalah alasan dan atau penyemangat terbesar di balik seluruh perjuangan ini.

Baiklah, barangkali ini memang tidak bisa terlalu di generalkan bagi semua orang. Tapi saya ingin menarik kesimpulan.

Bahwa keluarga memberikan efek yang sangat besar bagi anak-anaknya. Pola pikir, pola asuh, pola berpakaian, pola mengambil keputusan, bahkan yang remeh sampai pola ketawa, pola milih makanan, cara masak. Juga standar-standar dalam keluarga yang akan menurun pada anak-anaknya. Sekali lagi, boleh jadi memang tidak semua.

Dan....sesunggunya poin dari perenungan ini semua membawa saya pada satu titik pertanyaan besar, keluarga seperti apa yang kelak akan saya bangun :"

//habis baca ini jangan-jangan komennya yaelah fit--". Tapi saya sungguhan serius kepikiran ini dari hal-hal yang diurai di atas.

karena keluarga, dari pengamatan-pengamatan itu, adalah batas, adalah pengendali, adalah lingkungan pertama, adalah tempat pulang, adalah titik bangkit, adalah pijakan, adalah tempat menjadi diri sendiri. yang menjadi sekolah keseharian anak-anaknya, karena di sanalah ia melihat bagaimana keseharian orang tuanya. yang menjadi pola kopian yang akan mengganda. yang akan jadi pola sikap, atau bahkan pola hidup. jadi orang-orang, jadi lingkungan yang pertama kali diliat, dan dijadiin referensi.

makanya terus jadi mikir, bahkan terbersit takut. tapi memang nggak ada jawaban lain selain hadapi dan terus belajar sih, to be honest.

:")


Sabtu, 13 Agustus 2016

How Geek Are You?

so now, how geek are you?

menemukan ini depan mushala lantai tiga gedung SIC,
2 Agustus 2016

Minggu, 07 Agustus 2016

Cinta Karena Allah

"Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti."
.
.
.
"Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain."
***

Sejujurnya saya cukup tertegun mendengarnya. Terutama yang tentang cinta karena Allah.
mendengar-mencatat-membaca-mengulang-berpikir.

Kadang hal kayak gini Allah datengin tepat pada waktunya.

Bukan soal sayanya (wkwkwk). Belakangan saya dapat cerita baik yang curhat maupun yang ngebantuin prosesnya orang. Ada curahatan temen yang saya salut banget, dihubungin terus sama kakak tingkat. Temen saya lagi berusaha keras menghindar, setelah dulu sempat dekat. Keduanya, uh saya tau banget aktif di mana ekstra kampusnya yang juga erat dengan aktivitas Islam-meski saya gapernah interaksi langsung sama kakaknya, tapi namanya cukup sering saya dengar-mungkin karena temen saya ini sering nyebut nama itu, baik sadar maupun tidak sadar, dalam cerita-ceritanya. Yah seaktivis Islam apa juga belum bisa menjamin bagaimana bersikap. Yatapi, kalo aktivis yang erat ama Islam aja masih bisa kegoda, apalagi yang belum banyak belajar Islam #hiks #ayobelajarislamlebihbanyak

Ada kisah proses, yang saya dengar lewat seorang kakak. Betapa si perempuan, begitu ada yang tertarik, langsung menghubungi orang yang bisa dijadikan perantara untuk membantu. Sebisa mungkin pengen terjaga. Dari ceritanya, prosesnya rumit. Apalagi ada latar belakang budaya si lelaki yang mengharuskan keribetan itu ada-bahkan untuk acc-nya. Tapi kalau jodoh-katanya sih-pasti Allah permudah. Meski tentu, cobaan itu ada.

Juga cerita lain yang sempat saya perhatikan, kisah orang yang saya cermati, juga cerita via LINE yang bisa menghabiskan tiga jam, yang kesemuanya, kadang suka sadar nggak sadar, akan merefleksikan juga pada diri saya sendiri-dan apa yang saya lihat dan saya maknai .

Terus saya denger kata-kata di atas pas kajian di Masjid LPP sebelah XXI. Kajian reramai yang diisi Ust. Felix Siauw, khusus ngomongin cinta, meski sebelumnya ngomongin dulu hijrah Islamnya karena ini berhubungan sama orang yang menjadi pacar beliau sebelum dan bahkan sampai masuk Islam, hingga apa yang terjadi sesudahnya. Di mana sebelum saya kesana, saya ngobrol sama orang, sayanya cerita apa, eh lawan bicara saya entah kenapa ngomongin ikhtilat.

Kadang saya ngerasa mestakung, ginian mah. Selain yang saya omongin soal obrolan temen tentang ikhtilat. Seluruh cerita yang saya dengar dan amati sebelumnya adalah kisah yang saya dengar literally seminggu belakangan. Entah kenapa bisa pas terjadinya sekarang-sekarang ini banget. Juga galau-galau yang soon to be alay di masa depan yang sempat dirasakan akhir-akhir ini, termasuk kebimbangan saya melakukan sesuatu.

Dulu pas saya denger cinta karena Allah, saya hanya berpikir bahwa itu adalah cinta pada seseorang yang (1)kita mencintai dia karena akhlaknya mengingatkan pada Allah dan (2)ia adalah seseorang yang bisa meningkatkan cinta kita juga ke Allah.

Barangkali itu bisa benar. Tapi terus saya merasa makin kaya dan sempurna pahamnya ketika dengar pengertian ini :
Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu mencintai Allah dulu.
Artinya segala yang kamu lakukan, kamu timbang-timbang dengan matang : itu diridhain Allah nggak ya? Segala ah-nggak-papa, ah-kan-gini-doang, yaelah-ama-yang-lain-juga-gitu-kali itu apa emang udah verified diridhai Allah? #terusmenghelanafaspanjang. Perlakuan yang sama ke banyak orang aja belum tentu Allah ridha. Pada akhirnya emang hal ini menuntut kita buat tau dan mau gak mau harus belajar lagi soal apa aja yang boleh dan engga, dalam segala lini kehidupan.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu sudah lebih lama mencintai Allah dibandingkan yang lain.
Jadi, sepanjang sejarah hidup kita ini, apakah kita sudah lebih lama cinta sama Allah? Iya gitu? Atuh pede banget. Seberapa banyak kemudian alokasi waktu yang terbuang untuk berinteraksi, mengingat, mengkepo, dan lain sebagainya kalau dibandingkan sama ibadah (dalam artian luas, ya-termasuk menjalankan amanah, menuntut ilmu, dst.).

Cinta karena Allah adalah ketika kamu sudah memprioritaskan Allah.
Yakinkah sudah bisa memprioritaskan Allah dengan usaha maksimal? Seberapa sering nggak menyegerakan shalat? Seberapa sering menolerir diri sendiri dan berpikir dua kali dalam melakukan amal kebaikan?

Itu susah? Jelas. Soalnya ngelawan nafsu. Soalnya ngelawan tren. Soalnya ngelawan kenyamanan. Soalnya ngelawan naluri, karena kecenderungan pada lawan jenis itu fitrah. Tapi Allah punya aturan tuh. Tugas kita sebagai orang yang yakin sama Allah dan Islam, ya ngejalanin aturannya.
.
Soalnya butuh tekad keras buat bisa konsisten.
Soalnya butuh membiasakan.
Soalnya butuh melawan kebiasaan sebelumnya :".
Soalnya, seperti kalimat pertamanya : Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti.

*yang masih banyak belajar. mohon ingatkan kalau saya lalai.
duh, ini mah tamparan juga kok buat saya.
kalimat-kalimat tadi btw menjawab kebingungan atas keinginan plus minus beberapa hari sekitaran hari ini euy.
.
semuanya, biar melangit saja :")
karena yang mencintai Allah, akan saling mencintai dengan standar yang sama, yang akan mengembalikan dan memasrahkan seluruhnya padaNya.

Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.”(HR Bukhari dan Muslim)

Rabu, 06 Juli 2016

Dari Putri untuk 1 Syawalku

Halo Putri, kabarku baik alhamdulillah :"
Too many things hal yang belum aku ceritakan.
Akan kucicil disini ya. Meski kalau ketemu kamu mungkin tetep akan diulang lagi.
.
.
Sama Temajuk, kangen ya, Put :"
Aku juga kangen.
Kalau Allah kasih kesempatan buat ke sana lagi. Anak-anak udah seberapa gede ya?

00.29 JST
Subuh tinggal 2 jam lagi :"

Minggu, 26 Juni 2016

Di Balik

"Saya tulis di facebook ya Fitri. Biar menginspirasi."
//saya teringat postingan rian yang ini. Ga ditulis disana sih tapi inget dia pernah nyatut soal mengabarkan rezeki sebagaimana di Ad Dhuha:11
"Hmm baik bu kalau begitu"
.
.
"Tapi sebenarnya saya malu, Bu"
//lama nggak dibalas
"Saya tulis ya **maksa"
//kemudian saya khawatir sama responnya.
***

Tidak ada teman jurusan yang tahu soal rencana kepergian saya hari ini sebenarnya, sampai dosen pembimbing saya memaksa mengabarkan via akun sosmednya kamis lalu-dimana sejak hari itu saya beneran belum buka home fb lagi (udah lama sih ga buka home fb, awalnya karena menghindari baper sidang yang tidak perlu)
Sebenarnya saya sudah kabari beliau sejak lama. Tapi setidaknya saya bersyukur beliau nggak ngeh, karena kalau ngeh maka pengumuman via akun fbnya akan lebih awal dikabarkan.

Bukan apa-apa. Saya hanya menahan diri agar tidak terlalu mengumumkan-atau sederhananya memberi tahu banyak orang soal agenda ini. Karena tipe pemikir berlebihan yang entah mengapa saya anut, somehow membuat saya menjadi lebih lelah pikiran pasca lolosnya saya pada summer program ini-ketimbang ketika melalui liku pendaftaran-pendaftaran yang pernah saya lalui. Saya khawatir dengan ekspektasi orang. Saya tidak suka segala hal ini dikaitkan dengan ke-ayah-an. Saya takut orang hanya menilai luarnya saja ketimbang bahwa saya punya kekhawatiran bahwa setelah serangkaian agenda ini, saya harus jadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sebelumnya saya ingin bilang bahwa, adalah kesyukuran tiada hingga ketika Allah memberi saya nikmat lolos pada program ini. Memberi saya kemampuan untuk ikut programnya. Lahir maupun batin.

Salah satu ketakutan juga adalah tentang apa yang orang lain lihat dan tangkap secara sekilas, secara tersirat, ketika tahu saya lolos program ini. Karena di dunia kita sekarang, kita cenderung melihat prestasi dan posisi dunia sebagai sesuatu yang keren. Ketua A, B, C, D. Sekjend J, K, L, M. Juara F, G, H, I. Sudah ke P, Q, R, S. Padahal jaman para ulama dulu, kata seorang kakak, orang dilihat dari berapa banyak ia berguru menuntut ilmu, seberapa jauh ia berjalan untuk benar-benar memvalidasi dalam proses meriwayatkan hadits. Dan betapa-sungguh kita masih jauh daripada itu.

Barangkali kita bisa menyangkal; kalau ya itu dulu para ulama bukan konteks kekinian. Tapi ketika menuntut ilmu agama adalah fardu ain dan  pemahaman melandaskan kegiatan apapun sebagai upaya ibadah masih bukan menjadi prioritas. Mau dibawa kemana akhirat kita :" ?

Jadi, maksud saya menulis ini adalah saya takut sekali dengan pandangan orang-orang setelah tau. Takut sekali dengan ekspektasi orang-orang. Sayanya yang khawatiran sih ya. Tapi saya pribadi benar-benar mengalami yang namanya resah ketika mampir OIA buat ngambil berkas kelengkapan visa yang dikirim langsung dari Jepang. Saya nanya ke diri sendiri. Saya meyakinkan diri sendiri. And it was never been easy. Makanya saya bilang tadi kalau ternyata ngurus segala proses pasca lolos lebih mengaduk-aduk diri dibandingkan proses daftar-daftarnya meskipun yang ini capek fisik :"

Anyway, semoga kita semua jadi pribadi yang lebih baik lagi. Selamat 100 hari terakhir. Pamungkas. Semoga ridha Allah tetap jadi tujuan utama :')

-penerbangan kode AK 349
-di atas awan
-18.02

Senin, 23 Mei 2016

Nasri7 #SemingguTerakhir...

ada yang aku sayang,
namanya : kalian


Tinggal 7 hari lagi loh kita di asrama, hmm baper yah 😢
Yuk kita liat-liat file-file lama, saat kamu begitu lucunya, saat aku begitu jahatnya, saat kita begitu bahagianya. Boleh juga kalau ada pesan yang belum tersampaikan, kisah-kisah heroik sampai memalukan yang belum diceritakan, ataaau sekedar sesi haha hihi bareng orang-orang aneh yang 22 bulan ini seatap bareng kamu 😴Dateng yak malam ini, di jam biasa di tempat biasa 😊Kutunggu kehadiranmu, enggak juga sih, biar jatah coklatmu bisa buatku 🙈~Tata Program Nakula Srikandi~

habis ini pinjem buku, copy film, nitip oleh-oleh, pinjem abc, xyz, def, pqr, apapun;
.
.
ngga semudah : besok pas tahsin, nanti pas kajian, pas apel aja, nanti aku rapat di nakula kok sekalian aja, etc. etc.

credit picture to : ibnufajri
temen dari jaman gmif.yang dua taun sefakultas tapi kok baru liat muka ini di gmif.yang pas mau daftar ppsdms katanya jarang baca tapi baca bukunya langsung malcolm apa gladwell gitu, yang pas dikasitau lolos ppsdms gayakin dan bilang, "yang bener Fit?" terus "webnya ngga bisa dibuka" terus "akhirnya aku jadi santriiii....!"

Selasa, 05 April 2016

Belajar dari Perjalanan ke Bhumi Naraya Farm


Ada yang menarik sore ini. Yes, ini tentang skripsi. Tapi bukan skripsi saya sih -__-. Sore tadi, alih-alih saya ngga jadi rapat PH, Ammah (baca : Mbak) Tika yang mau ambil data fisik alias fenotipnya kambing meminta saya menemaninya ambil data di peternakan (abis ditanyain sama temen yang dimintatolongin buat gendong kambing (buat dapet berat badannya) : nanti sama siapa?--nggak enak dong kalo cuma sendiri sementara temennya ini laki-laki). Jadilah saya nemenin Ammah Tika dan ternyata temennya Ammah juga bawa temen. 

Awal-awal berangkat sebenarnya nggak kepikiran gitu sih kalo bakal ada agenda yang mengisi, abis kan ekspektasi awalnya sore ini selo gitu. Sempet kaget juga karena perjalanan ke sana katanya hampir setengah jam. Tapi akhirnya waktu berjalan tidak terasa. Kami ke daerah Turgo yang mana itu nanjak banget jalannya dan telinga saya bahkan sampe kerasa perbedaan tekanan udara (kayak kalo naik pesawat gitu lho~).

Setelah sampai, satu kesan pertama : ini peternakan bau kambing banget-____- Tapi saya ngga bisa nyalahin juga sih, namanya juga peternakan kambing, hehe. Awalnya males gitu jalan masuk-masuk, eh tapi setelah masuk ke kandang besar gitu kok malah jadi tertarik ya :". Lama-lama sayanya yang jadi norak :P

Kandang pertama yang kami kunjungi adalah kandang lima kalo nggak salah. Penomoran kandnag ini isinya dua deretan bilik-bilik buat kambingnya gitu. Banyak banget lah isinya satu kandang. Saya baru kali ini ke peternakan. Sembari beradaptasi dengan bau kambing, saya mengamati rupa kambing-kambing itu. Saya jadi tau kalau cara nimbang kambing (karena timbangan ternak yang dimiliki peternakan sedang rusak) adalah dengan digendong oleh orang (yang membantu Ammah Tika) kemudian nanti dikurangi berat orang tersebut. Kemudian nanti kambing ini juga dicari data panjang dan tinggi tubuhnya. Kalau saya amati, cukup rempong menangkap, menggendong, dan mengukur masing-masing kambing. Dalam satu bilik yang pertama kami kunjungi, 5 kambing itu lari-lari kecil gitu ngiterin bilik mereka untuk menghindar. Untuk tau usia kambing juga temennya Ammah liat gigi Kambing itu. Temen satunya lagi njagain pintu bilik biar kambingnya ngga keluar.

Karena saya penasaran, saya jalan-jalan lah di sepanjang jalan tengah kandang itu (padahal mah ya isinya kambing dan kambing, tiada yang lain). Ngamatin wajah si kambing, nyoba-nyoba ngedeketin wajah dan liat apa reaksinya, sok-sok mau hipnotis kambing dengan hanya mendirikan jari telunjuk dan arahkan ke kanan dan kiri (ini beneran saya lakuin dan kambingnya ternyata ngga ngaruh-__-)

Kambing-kambing di sini excited banget liat manusia kayak kita dateng dan ujuk-ujuk milih kambing buat dicek fisik kambingnya. Saking excitednya ada tuh yang ampe manjat bilik gitu. Ada juga yang mengembik-embik terus. Dan kata Ammah, kalau kita dateng pas jam makan mereka, embekannya lebih keras dan kompak. Sayang, kambingnya di sini nggak sadar kamera, jadi belum berhasil dapet foto bagus ala kambing gitu. Ya maklumlah ya mereka belum kenal smartphone.

Pas ke sini yang bikin saya excited juga adalah ini merupakan ranah yang belum pernah saya jamah sama sekali : peternakan. Peternakan ayam paling pernah liat di kartun aja. Tapi bahkan dari bentuk kandangnya yang kayak gitu saya takjub, hehe (kalo kata Tyani mah, Fitri diajak ke mana aja pasti heboh, haha--heboh means bahagia :P). Pokoknya kerjaan di sini mah nggumam ooh-ooh, begitu deh, tapi ngga terus-terusan juga sih. Sempet juga kepikiran, aplikasi apa ya yang bisa jadi peluang untuk menyelesaikan masalah di peternakan? Kan kalo ikan udah ada tuh eFishery sama kalo tumbuhan juga ada iGrow.

Di perjalanan mau pulang, saya ngobrol sama Ammah Tika yang memang anak Peternakan (dan dulu pernah jadi ketua BEM Peternakan *lha terus(?)).

"Am, kandang sebanyak ini misah-misahin isinya berdasarkan apa Am?"
"Macem-macem Kak (Ammah kadang manggil saya pake Kak). Ada yang karena umur, jenis, dan lain-lain (sayanya lupa-_-)."
"Yah, kenapa dipisahin Am? Biar produktif gitu kah?"
"Iya jahat ya manusia, misahin anak dari induknya. Bisa biar anaknya nggak nyusu terus."
"Lha emang kenapa Am kalo nyusu juga?"
"Kan kalo gitu nanti susunya nggak bisa diperah manusia dong Kak? Nggak bisa buat produksi dong."
"Ooooh," saya baru paham. "Terus anak kambingnya minum apa Am?"
"Bisa minum dari dot..."
"Dot Am?" saya kaget.
"Iya bisa dari dot, bisa dari induknya langsung."
"Kalau dari dot diisi apa Am?"
"Bisa susu sapi, bisa susu kambing. Susu sapi itu lebih murah lho Kak daripada susu kambing. Bisa juga nyusu sama induknya tapi misalnya cuma 2-3 bulan, sementara induk kambing bisa produksi susu sampai 6 bulan. Tergantung metode yang dipilih peternaknya sih Kak. Jahat ya manusia...."

Kemudian di perjalanan kami melanjutkan percakapan kembali. Ammah Tika menunjuk beberapa peternakan yang juga ada di sana. kata Ammah daerah Turgo ini kenapa banyak peternakan karena udaranya juga cukup bagus. Ammah juga cerita tentang salah satu Bapak pemilik peternakan yang ada di sekitar situ. Bapak ini dulunya kerja di Jakarta, dan tiap bulan menghabiskan minimal 2-4 juta untuk biaya berobat. Menjelang pensiun, ada pelatihan-pelatihan agar kelak orang-orang yang pensiun dapat mandiri atau ada alternatif usaha/kegiatan lain. Akhirnya Bapak ini tertarik pada peternakan. Dan jadilah ia juga memiliki peternakan di daerah Turgo ini dan selama ngurus peternakan Bapaknya belum pernah sakit lagi.

Di daerah ini, Mbak Tika juga cerita kalau ibu-ibunya tidak ditemukan di rumah saat pagi-pagi hari karena semuanya akan saling membantu untuk melakukan pengolahan susu kambing demi pemberdayaan koperasi masing-masing. Sementara bapak-bapaknya akan mencari rerumputan untuk pakan kambingnya.


1. kambing yang excited sampe manjaat-manjat biliknya liat kita pada ngapain | 2. kambing mengintip Am Tik mau nulis apa di sana | 3. Lorong satu kandang | 4. Tampak luar Bhumi Naraya Farm | 5. ada kambing mengintip dari belakang, penasaran Am Tik mau apa sih dateng ke kandangna, ungkin dia mikir begitu :"

Ketika saya di sana, saya sempet keinget kata-kata Rilut yang pengen berkembun aja habis lulus. Saya jadi mikir aja sih, ini juga usaha memaksimalkan sumber daya yang dipunya ya.Saya sempet juga tanya Ammah Tika soal banyak ga sarjana peternakan yang punya peternakan kayak gini. Ammah  Tika jawab sekarang mulai banyak. Saya tanya lagi, emang kalo dulu gimana Am? Dijawab, kalau dulu pada kerja di bank...."

Pulangnya saya juga dapat info baru terkait susu kambing. Kenapa susu kambing lebih mahal dari susu sapi? Karena ada kepercayaan bahwa susu kambing itu bisa buat obat. Sebenarnya, kalau dari yang saya tangkap, jadi globular susu kambing itu lebih kecil dari globular susu sapi. Globular itu semacam wujud bulatan lemak yang akan menghasilkan energi. Nah selain energi kan lemak juga otomatis akan menghasilkan panas. Globular yang bentuknya lebih kecil akan relatif lebih mudah diserap tubuh, maka juga lebih cepat bertransformasi jadi energi. Sehingga ketika globular lemak susu kambing menghasilkan panas, jalur pernafasan orang asma yang menyempit akan berangsur-angsur melebar (sama kayak kita pakai minyak kayu putih pas sakit perut, kan pembuluh darahnya juga melebar). Makanya orang asma dipercaya bagus minum susu kambing dan jadilah orang menganggap susu kambing sebagai obat dan berefek pada harganya yang jadi lebih mahal.

Susu kambing juga bagus buat anak-anak yang alergi sama susu sapi (saya pernah denger nih kondisi anak-anak yang alergi susu sapi). Ternyata kenapa muncul alergi? Karena globularnya itu besar sehingga sulit diserap tubuh. Dan pada akhirnya, tubuh menganggap bahwa globular ini adalah benda asing yang akan merusak tubuh. Makanya banyak kita dengar kisah anak alergi susu sapi karena secara fisik pun memang kondisinya globular susu sapi leih besar sehingga pada tuuh tertentu mereka perlu usaha lebih keras untuk mencerna zat tersebut.

Perjalanan kali ini seru. Dapat ilmu dan pengalaman baru. Membuka wawasan dari sisi lain. Bikin pengen dapet pengalaman perjalanan lain ke bidang pertanian, misalnya ke Bumi Langit Institut. Semoga masih Allah kasih waktu :)

Minggu, 03 April 2016

Ki, Atuhlah...

Ki, atuhlah ajarin gue baca : buku dan fenomena masyarakat
atuhlah ajarin gue nulis yang berat-berat

atuhlah ayuk kita ketemuan :"

Senin, 14 Maret 2016

#1st 2012 Tripel S.Kom Soon

couldn't be more proud of you all
esp. Fauzi dan Rian yang temen sebimbingan, yang kadang pernah aku tanyain, kamu buka file skripsi tiap hari? terus dijawab, ya iyalah Fit. terus saya rasanya jiper, pengen merayap diem-diem, hahaha. jadi habis ini kelas bimbingan tanpa kalian? kalian kehilangan obrolan kita loh! hahaha *naon sih Fit :v

juga ada Miki temen seangkatan yang digadang-gadang dari awal semester bakal pendadaran pertama. at least kamu anak IUP pertama yang pendadaran Mik.

eh, ada kak dete juga, kaka kelas dari jaman smp

semoga ilmunya berkah dan manfaat ya teman-teman dan kakak-kakak :")

#ceritadiharideadlinepengumpulanproposal
*ngomong tripel soalnya ada di cara kerja BLAST :P*

credit photo to Haydar  *padahal tadi saya moto di kampus tapi belum selengkap ini jadwalnya*

Kamis, 03 Maret 2016

#randompost:soal dunia kuliah kini dan nanti

Hari ini, ada dua agenda akademik yang saya ikuti. Yang pertama sosialisasi kegiatan lab Sistem Cerdas (SC) *terusingetmemey* dan yang kedua adalah zemi, istilah Jepang yang dosen kami sebut untuk pertemuan rutin mingguannya ketika S3, yang kami sadur untuk sebutan pertemuan bimbingan kami.

Yang pertama, sosialisasi kegiatan lab SC.
saya tidak menyangka kalau kumpul ini adalah kumpul S1 sampai S3-walaupun tadi kalo ga salah ga ada anak S3nya. Tapi tadi anak S2nya banyak banget. Anak 2012 aja cuma 4 orang --a. Selain tabrakan sama kuliah, mungkin sosialisasinya kurang dan cukup ndadak juga sih. Tapi bukan itu fokus saya. Pagi ini ketika menjelang masing-masing orang berkenalan, saya yang kalo di kampus selatan (yang notabene isinya mayoritas anak S1) udah merasa tua langsung merasa bocil dan butiran jasjus *ehsebutmerek* di antara kakak-kakak S2 itu.

Terus yang saya garisbawahi sih...kuliah itu butuh passion ya :"

Sampai detik ini, saya belum pengen ambil kuliah S2. ya belum pengen aja, belum ada kecenderungan hati #apasih. Terus saya memandang kagum aja sama kakak-kakak S2 di sini, apalagi kalo niat banget ngasih usulan buat kegiatan lab setahun ke depan. Melihat betapa dunia S2 itu sepertinya lebih akademis dibanding anak S1 yang masih demen aja main ama anak hima wkwk. Saya jadi inget kan kata Tere Liye, harusnya kita tuh bahkan udah kepikiran ide skripsi sejak hari pertama kita masuk kampus. Mungkin lebay emang, tapi saya pikir ada benernya juga. Itu bisa jadi sesuatu yang menjadi ketertarikan awal kita kenapa milih prodi tersebut buat kuliah. Kalau dalam perjalanannya berubah, it doesn't matter.

Kuliah butuh passion, karena kalau bicara tridharma perguruan tinggi, penelitian, pengabdian, dan pendidikan itu sangat tidak main-main. Bayangkan, semester ini saja ada 229 orang yang mengambil mata kuliah Tugas Akhir, di mana saya adalah mahasiswa urutan ke-200 yang mengambil mata kuliah ini. It means, jika berjalan linear (sayangnya kemungkinan besar tidak) akan ada 229 karya ilmiah baru hasil penelitian (wow!). Passion akan menggerakan setiap individunya mengerjakan karya ilmiah dengan suka cita. Sehingga mahasiswanya ini tidak terlalu banyak yang ditahan di kampus dan hanya memenuhi tempat parkir saja :". Lebih baik lagi, jika penelitiannya adalah penelitian yang membawa kemaslahatan ummat. Sayang, godaan di luar skripsi barangkali lebih dominan mengganggu ornang-orang lemah macam saya *mohonbantudoa*.

Kemudian yang kedua, pasca zemi.
Kelas tinggal isi 6 orang dengan saya. Dan teman saya nanya, kamu mau ngapain Fit habis kuliah? Hahaha, its common question di usia senja perkuliahan ini yah. Saya sih cuma ketawa terus bilang, mau ke GSP, wisuda. Setelah bilang ini pertanyaan mengerikan, tentunya :P.

Terus saya yang nggak mau rugi ini nanya balik dong, kan saya nggak mau rugi :P. Temen sya ketawa.. Saya bilang, lha iya Mam, resiko nanya itu ditanya balik. Eh sekarang saya lupa tadi temen saya bilang apa.

Setelahnya kami terlibat dengan obrolan teman-teman lain. Bilang mau maganglah, nyobain daftar S2 dululah, riset di Jepang lah, macam-macam yang dibahas. awalnya ngga ngikutin sih. sampai kemudian saya tertarik sama kutipan ini :
"Tapi ngga mau ah kalo kerjaan ngoding. tapi terus ngga tau lagi mau kerja apa dong?"
Saya ngebatin, adalah, mesti ada.
Faktanya we know designer, system analyst, business analyst, data analyst, digital media planner, atau bahkan teller bank pun bisa alumni komputer, hehe. Nggak mesti developer, kan? kalo emang ngga mau...

"Aku juga. Kok bayanginnya kerja kayak gitu tuh depan komputer terus...."

"Iya sama. Ngapain juga kan ngerjain kerjaan orang. Ngoding depan laptop mulu."

Terus saya jadi inget Ust. Fadli reza pernah bilang dalam suatu kelas kepemimpinan. "Jangan sampai kita hidup itu menghidupi mimpi orang lain. Tapi lupa menghidupi mimpi sendiri."

Terus saya sampein aja pesan itu. Ah ternyata pada jadi baper dan mikirin kata-kata itu juga. Ya meski gatau sih sampe sekarang masih dipikirin apa ngga. Saya juga sekarang-sekarang ini mikir hal itu kok. Soal mimpi sendiri dan apakah nanti saya akan mengerjakan mimpi orang lain#nggamaudong. Tapi...untuk masa depan yang belum pasti, mari kita mengusahakan segala hal baik saat ini juga untuk perencanaan masa depan :")

manatsemangats!
#endingnyanggabagusbanget ya :"