Ternyata sudah lama sekali tidak menulis.
Program shortcourse x internship yang saya ikuti akan selesai pekan depan. Banyak sekali hal yang saya dapatkan selama 5 pekan belakangan. Bukan hanya soal pelajaran-pelajaran selama program. Tapi juga pengamatan soal Depok-Jogja yang kadang-kadang sekadar soal perbandingan. Hal ini suka terlintas kalau lagi di perjalanan. Soalnya bawa motor 30-50 menit itu lama juga ya. Terus sendiri gak ada temen ngobrol.
Instead of program yang saya jalani (niatnya mau ditulis di tulisan terpisah), saya belajar melihat Depok-Jogja secara 5 minggu. Depok sejujurnya tidak banyak saya jelajahi karena ke tepat magang ya lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Tapi perjalanan lintas kecamatan-kota ini membuat saya melihat perbedaan kcil intas geografis yang ah sesungguhnya ini mah baru begini doang, masih banyak perbedaan lintas geografis lainnya di Indonesia, bahkan dunia.
#1. Mal
Nggak tau mau nge-poin-in gimana. Selama di Jogja, saya super jarang nge-mal. Seinget saya pernah ke Galeria cuman pas nemenin bude dan demi nemuin temen yang lagi ke sana. Yang lagi seolah tidak ada apa-apa padahal mereka sebenarnya kenapa-napa. Hehehe, kejadian masa lalu sih. Kesana mau bantuinn mereka baikan. Ke Hartono nemenin orang nyari box doang, super spesifik sehingga emang gak pake liat-liat apa-apa. Ke beberapa mal lain cuman ke bioskopnya di tahun-tahun akhir kuliah. Tanpa jalan-jalan keliling mal. Amplaz taun pertama nyari kalkulator, masih naik transjog, dan terakhir kayanya nonton filmnya petinggi FLP. Dibela-belain nonton di awal masa tayang. Pas jaman masuk UGM malnya kayaknya cuma Amplaz sama Gale aja. Jogja berkembang banget soal per-mal-an dan per-apartemen-an. Sebenernya agak sedih juga sih.
Kalo dibaca ulang, rasanya kok jadi hedon banget itu nyebut nama mal banyak banget heu. Tapi percayalah, bahwa kadang saya nonton dengan pertibangan harga momentum, misal ada temen yang mau pergi, atau karena projek nonton dari asrama (yang ini kayanya spesifik di XXI sih), atau ikutan ngeramein film muslim. Nonton bukan tipikal short escape saya. Dan kenapa banyak mal yang disebut karena ada tipikal bioskop yang hargana bisa 25an atau bisa beli 2 gratis 1 dan itu hanya di mal tertentu.
Lucunya, hal ini baru saya sadari waktu hidup di pekan-pekan pertama di Cibinong. Jadi kalau di Jogja saya kenal mau nyari barang ini di mana barang itu di mana. Mal cuma singgah bentar tanpa liat-liat tempat lain. Palingan ya numpang mushala. kayak ke sana cuman ke bioskopnya aja wkwk. Kalo di Cibinong-Depok, ke mal kayak mau beli to do list. Semacam karena belum kenal daerah mungkin ya. Dan semacam, ada toko buku X, tapi di sana mahal banget, terus sukanya ke TMBookstore-nya Detos yang baik hati ngasih diskonan yang akan didiskon lagi kalo termasuk 0 buku pertama hari itu (meski gatau dibanding Togamas murahan mana), dan juga akan disampulin. Padahal Detos jauh dari rumah. Kemudian ke Detos sambil nyari keperluan lain, yang sebenarnya nggak perlu juga nyari di mal kalo di Jogja. Dan pas nanya senior yang sekarang kosannya di Depok dia ke Detos juga kalo mau beli sabun. Which is, di sana belinya di ~mart (ykwim). Yaampun, i miss mirota, gading mas, pamela, dsb dkk here. Kukaaget yang di Jogja bisa 7.000 di sini 11.000. Padahal sama-sama supermarket :( I miss sunmor yang jual apa aja ada, sehinggaa nyaris nggak perlu ke mal untuk cari kebutuhan-kebutuhan.
#2. Jalan Raya yang Ramai
Di Jogja, apalagi sejak masuk asrama, Jalan Kaliurang adalah sahabat dekat. Saya lewat jalan ini hampir setiap hari. Dari daerah yang masih ramai di bilangan KM 6 ke bawah, sampai ke asrama yang berangsur sepi tapi masih gak sepi-sepi banget. Di Depok, saya samakan jalanan ini seperti Margonda.
Perbedaan #1, adalah, Margonda kalo nyebrang harus pakai jembatan penyebrangan. Jalan tengahnya disekat sehingga rang nyebrang gak bisa bebas nyebrang dimanapun. Which is...motor pun gak bisa ujuk-ujuk nyebrang di mana aja. Harus cari puteran kalo mau muter balik. Kalo kata Abidah, "Iya Fit gue heran di Jogja kok mau nyebrang kita bisa dikasih ya sama pengendara." Jadi kalo di Depok kamu mau nyebrang jalanlah dulu sampe jembatan penyebrangan baru kamu bisa nyebrang-dengan menaiki jembatan itu-. Hm, gak Depok ja sih sebenernya. Saya menemukan hal iini banyak di Jakarta dan pernah juga nemu di Bogor.
Perbedaan #2, adalah, ternyata Margonda di malam Minggu jam 11an itu masih super ramai. Bukan cuman ramai bahkan, tapi macetttt. Saya lupa sih pernah keluar sampai jam segitu apa nggak di Jogja kalo malem minggu. Tapi sejauh ingatan saya ketika pulang dari Jogokariyan ja 10 malam dari sana, dengan mampir jam setengah 11 mungkin masih beli makan malam karena memang belum beli makan, jalanan sangat sepi dan rasanya sangat tidak mungkin ada macet jam 10 malam ke atas. Kalo liburan beda lagi kali ya. Nggak pernah di jalan sampe malem gitu pas muslim liburan.
Perbedaan #3, adalah, Jl. Kaliurang masih lebih ramai dan lebih terang dibandingkan Jl. Raya Jakarta Bogor di malam hari. Ada 3 jalan untuk sampai ke tempat sxi dan saya nggak pernah pulang lewat Jl. Raya Jakara Bogor samai suatu hari penasaran aja pengen lewat sana pas malam. Dan karena itu jalan raya, nyaris tidak ada polisi tidur seagaimana jalan tembus kecil yang biasanya saya lewati. Ukuran jalannya juga lebih besar, secara, itu jalan raya antar provinsi.
Heu, tapi ternyata, jalan raya antar provinsi itu gelap. Lampunya reman-remang dann membutuhkan konsentrasi lebih saat berjalan di atasnya. Di atasnya, saya jadi ingat jalan kaliurang yang terang benderang. Yang saya tidak perlu ragu perlukah menyalakan lampu jauh karena lampu dekat terasa masih kurang.
Bersambung ya insya Allah. Masih pengen bahas soal dunia kampus, budaya sekitar, dan bahkan mungkin soal pertemuan-pertemuan, mimpi, cita-cita, dan kesempatan.
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 April 2017
Rabu, 25 Januari 2017
Lama Ndak Nulis
Lama dak nulis. Laptopnya beberapa tombol mati. Sepeti huruf a, q, z, angka 1 sekalgius tanda !-nya, tombol tab, serta simbol ` dan ~. Yang paling kerasa bagian huruf a, hmmm sama mugkin angka 1 dan ! (eaaa apakah tertebak aku nulis apa ya kalo pake huruf, angka, dan simbol tersebut?).
Hanya segitu, tapi kadang dah jadi alasan aja untuk agak malas membuka laptop. Karena harus mempaste setiap mau nulis hal-hal yang error tersebut. Padahal esensinya mah ndak disitu. Sepekan lalu lumayan deadline sesuatu. Jadilah ku nulis pakai hp. Alhamdulillah tugas tersebut selesai juga :").
Padahal sejatinya, banyaaaak hal yang harus disyukuri. Kamu masih bisa mikir, ketikan tidak akan berlangsung tanpa nikmat kamu yang masih bisa mikir. Laptopmu masih ada, dengan segala data yang dijaga dengan sebaik-baiknya. Kamu masih punya smartphone, yang bisa kamu pake nulis walaupun formattingnya susah. Juga hamdallah, itu terjadi di detik-detik akhir urus revisi--termasuk jatuh dari motor saat mau jilid skripsi :""". Somehow, that's all enough but we still ask for more.
Sudahlah, ndak usah banyak-banyak. Ndak usah menyalahkan. Kangen nulis, kangen mbaca blog orang-orang. Biar ndak maenan sosmed, ngechat, ama scrolling ig mulu
Literally Rumah, 25 Januari 2017
Jumat, 13 Januari 2017
Sakit di Indonesia, Negara dengan Muslim Mayoritas
Salah satu 'hal mewah' dari sakit di Indonesia yang notabene muslimnya mayoritas, adalah ingatan perawat atau dokter yang sempat mengatakan hal-hal kecil namun bermakna seperti ini,
"Wah ini lututnya yang kena, tumpuan sujud ini," kata Mbak Perawat. Lalu dokternya mengiyakan. "Oh iya ya dipake sujud."
atau...
"Kalau puasa nanti saya kasih obatnya yang untuk 2x sehari saja."
Hal kecil, namun bagi saya ada kenikmatan yang tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana nikmat mendengar azan ataupun banyaknya muslimah yang menggunakan kerudung sehingga kita tidak perlu khawatir soal diskriminasi akibat kewajiban menutup aurat ini :").
"Wah ini lututnya yang kena, tumpuan sujud ini," kata Mbak Perawat. Lalu dokternya mengiyakan. "Oh iya ya dipake sujud."
atau...
"Kalau puasa nanti saya kasih obatnya yang untuk 2x sehari saja."
Hal kecil, namun bagi saya ada kenikmatan yang tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana nikmat mendengar azan ataupun banyaknya muslimah yang menggunakan kerudung sehingga kita tidak perlu khawatir soal diskriminasi akibat kewajiban menutup aurat ini :").
Selasa, 01 November 2016
Murottal Ibu
"Dengerin murottal, X?"
"Iya."
"Syekh siapa?"
"Ini suara Ibuku Fit."
.
:"
"Iya."
"Syekh siapa?"
"Ini suara Ibuku Fit."
.
:"
-ketika masih tahun pertama di kampus,
barangkali redaksinya sedikit berbeda, tapi intinya tetep itu
Senin, 24 Oktober 2016
GycJogLife:Abis Kampus Mau Ngapain?
"Lo kalo abis kuliah mau ngapain?" -temen di kanan pas di meja, nanya temen di serong saya yang baru pulang KP.
"Kerja gue pengennya."
"Kerja di mana?"
"Bekasi aja yang deket rumah."
"Wah jauh itu luar planet, hahaha."
Saya : "Kelamaan ya soalnya kita-kita ini ninggalin rumah..."
"Iya Fit, kasian yang di rumah ditinggal mulu."
#baladaanakasramasejaksmpkuliahjugajauh
#marikitasemangat,gyc!
quote of the day : lucu adalah ketika kamu udah janjian di Gelato dan anak cowo ga ada yang tau kalo Gelato adalah tempat es krim. dan pada akhirnya masuk dan duduk di Gelato cuman buat diskusi mau makan di mana (yang mayan takes time juga). #whatthegycjoglyfe
"Kerja gue pengennya."
"Kerja di mana?"
"Bekasi aja yang deket rumah."
"Wah jauh itu luar planet, hahaha."
Saya : "Kelamaan ya soalnya kita-kita ini ninggalin rumah..."
"Iya Fit, kasian yang di rumah ditinggal mulu."
#baladaanakasramasejaksmpkuliahjugajauh
#marikitasemangat,gyc!
quote of the day : lucu adalah ketika kamu udah janjian di Gelato dan anak cowo ga ada yang tau kalo Gelato adalah tempat es krim. dan pada akhirnya masuk dan duduk di Gelato cuman buat diskusi mau makan di mana (yang mayan takes time juga). #whatthegycjoglyfe
percayalah bahwa banyak dari kami yang baru kali itu ke Hokben dan ini pun karena ditraktir
Ahad, 23 Oktober 2016,
karena suka atau tidak, kalian satu per satu juga akan pergi
secara fisik, entah kalau hati
:")
Kamis, 20 Oktober 2016
Bandara(1) dan (Eksperimen Sosial) Instagram
kemarin saya di ngepos foto di instagram story. fotonya kayak gini. Tadinya mau video tapi saya yang agak perfeksionis ini susah dapetin video yang proper haha, malah dapetnya ada cowok geret koper jalan gitu ketangkep kamera. kan gawat nanti saya dikira ngerekam siapa terus galau gimana gitu wkwkwk.
saya punya tujuan tersendiri kenapa ngepos foto ini. ceritanya saya pengen sok eksperimen sosial yang kesimpulannya juga sudah (sok) saya siapkan di awal. yah namanya juga sok, tentu saja gak ada dasar teori apapun dan landasan manapun. jadi harapan saya adalah, kalau orang yang cukup kenal sama saya, dan memahami -setidaknya sampai saat ini- saya jarang ngepos foto instagram real time yang shows where am i now, what am i doing now, what am i feel now, maka tentu akan tau bahwa i am going nowhere. saya ndak ke mana-mana, nggak naik pesawat, nggak mau pergi jauh. i am still here, di Jogja ajah.
"kalo saya ngepos foto ini tanggapan orang-orang apa ya? "
yaudah, itu aja sih yang pengen saya tau
ada 6 orang yang nge-dm ig saya. yang pertama adek tingkat, pernah seorganisasi, tapi ngga sampe yang kenal dalam personalitynya (naon). masih oke dia nanyanya mau kemana.
Tapi ternyata 5 orang selanjutnya juga pertayaannya sama -________-
hahaha, saya ketawa, ini mah udah sok-sokan mau eksperimen sosial. hasilnya seragam. semuanya nanya mau ke mana. mana itu gatenya kan buat domestic dan international departure ya jadi mungkin mikirnya saya mau pergi ke mana gitu jauh(padahal bandara jogja aja yang kecil, terminal ada dua juga baru setaunan belakangan). dan kemudian pada akhirnya saya menyimpulkan bahwa, mereka yang nge-dm adalah mereka yang perhatian....atau sebatas kepo, wkwk. yha meski harapan saya ada yang bisa nebak i am going nowhere gitu sih. (atau mungkin ada yang nebak cuman gak dm aja, hahaha). tapi saya juga ngga bisa otomatically menyimpulkan kalau mereka ngga kenal saya sih, hehe, soalnya memang kebannyaan orang publisg ig-story secara what-real-time-heppened.
disamping itu semua, saya cukup kagum sama sosial media instagram. makanya saya sampe kepikiran eksperimen sosial yang agak ga penting ini. tapi seriusan lho, selain kodratnya manusia yang lebih seneng liat gambar daripada baca tulisan (maksud saya semacam mudah menyimpulkan atas gambar daripada tulisan, bukan soal baca caption loh ya), ig itu semacam teman menunggu kalau beneran ga ada kerjaan yang bisa dilakuin. apalagi yang udah jadi refleks gitu. cek ig, scroll, ngelike. kalo gak ya instagram story-an (entah bikin apa nontonin punya orang). saya kadang ngerasa instagram story orang-orang dibikin pas lagi agak gabut, atau ngisi waktu, atau ngantri nunggu, atau bosen, dsb. tapi intinya cerita, sih : apa yang lagi dimakan, ditonton, dibaca, dilihat, dirasa #eaa. kalo saya pribadi kadang seneng liat tapi juga kadang males sih. kadang sekali liat banyak buat nemenin makan (soalnya saya suka makan pake tangan, ig-story bisa jalan sendiri tanpa dipencet-pencet. kalo yang nemenin makan itu film soalnya nanti malah keterusan liat filmnya meskipun makannya udah abis).
i am no worry tentang perubahan behaviour orang soal akibat instagram. ya karena emang belum pernah baca penelitian soaal itu sih. kalo saya yang nyimpulin kan takutnya soal asumsi (apa masa depan harus diteliti juga biar ga asumsi-_-zzz). tapi its true dari instagram saya bisa tau si A lagi di mana i B lagi baca buku apa, si C makan apa kemaren, bahkan sampe resep makan, cara bikin do it yourself, sampe olshop dan updatean film bisa kita tau dari IG.
eh tetiba inget The New Digital Age, buku yang beloman selese saya baca. katanya suatu saat bahkan orang mengasuransikan akun-akun medsosnya (apa gimana ya intinya penjagaan nama baik di dunia publik digital lah).
sebagai akhir(emangnya apa), tempat sampah ternyaman saya di sosmed itu blog, sih-kalau you know me so well hahaha. tapi nggak ada yang ngalahin Allah sebagai tempat teraman dan nyaman sih (idealnya, lho ya). mari kita terus benahi diri untuk menumpahkan segalanya pada Allah.
p.s : kemaren saya nganter orang tua angkat KKN untuk balik ke Temajuk (yang lewat Pontianak) *jadiingathutangceritaKKNhiks
Rabu, 28 September 2016
Hujan
Hari-hari ini hujannya awet sekali. Tidak hanya di Jogja. Ternyata Jakarta juga. Kata Fidah, di Bangka juga
Sepagi ini sudah hujan. Kalau saat-saat masih sekolah, shalat jamaah beralih ke living room, apel pagi akan diliburkan, dan berangkat ke sekolah menjadi tantangan tersendiri.
Hujan katanya membangkitkan banyak kenangan. Entah kenapa. Tidak hanya menguarkan bau khas hujan, tapi juga menguarkan hal-hal lama yang memaksa diingat. Membuat memori me-reka kata-kata (galau) mana yang bisa dikeluarkan pada sosial-sosial media. Sampai lupa bahwa hujan adalah waktu mustajab untuk doa.
Maka, daripada yang saya sebut sebelumnya, mari langitkan doa-doa terbaik :")
Sepagi ini sudah hujan. Kalau saat-saat masih sekolah, shalat jamaah beralih ke living room, apel pagi akan diliburkan, dan berangkat ke sekolah menjadi tantangan tersendiri.
Hujan katanya membangkitkan banyak kenangan. Entah kenapa. Tidak hanya menguarkan bau khas hujan, tapi juga menguarkan hal-hal lama yang memaksa diingat. Membuat memori me-reka kata-kata (galau) mana yang bisa dikeluarkan pada sosial-sosial media. Sampai lupa bahwa hujan adalah waktu mustajab untuk doa.
Maka, daripada yang saya sebut sebelumnya, mari langitkan doa-doa terbaik :")
Rabu, 22 Juni 2016
Bukan Tentang Diri Sendiri
Ketidaksengajaan perjalanan mengantarkan saya dan Husna ke Masjid Jogokariyan. Sudah lama sebenarnya penasaran sama masjid ini kalo pas Ramadhan. katanya, lagi nggak Ramadhan aja subuhnya penuh. Dan, kalau diingat-ingat mungkin terakhir kesini ada enam bulanan yang lalu saat jadwal asrama.
Jogokariyan dikenal sebagai kampung Ramadhan. Dari jaman 2014 kayanya aku tau kalo Ramahan di Jogokariyan itu rame banget. Dan benar. rame jualan. Rame acara. Rame dekorasinya Rame jugaaa hidangan berbukanya. Pas kita datang di waktu yang mepet azan, kita langsung disuguhi sepiring nasi gudeg, kurma, dan air minum. Dan masih super banyak hidangan yang tersaji, padahal semua jamaah yang udah datang juga udah dapat hidangan tersebut. Dan yang membuat takjub adalah, seluruh hidangan ini disajikan pake piring beling. Which is itu harus dicuci, bukan sekali buang kayak nasi kotak atau nasi bungkuss kayak dua masjid lain yang saya pernah buka di sana.
.
.
.
soalnya....masyarakatnya mau berburu pahala nyuci piring-piring kotor itu :"
kemudian bada shalat magrib, kami kedapatan shaf di halaman, beralaskan tikar. dan depan samping kami ada meja yang tadi dipakai buat menghidangkan bertumpuk piring dan gelas.
terus ada yang lagi beresin piring dan gelas kotornya. Cekatan sekali.
seorang bapak bertangan satu. tangan kirinya hanya sebatas siku.
.
.
.
saat itu kami berdua makin tersadar-sebenarnya saya pernah mau bikin tulisan sejenis setelah menyadari kondisi seorang ibu dengan anak kecil saat Ramadhan-bahwa Ramadhan bukan hanya soal peningkatan capaian diri sendiri. Barangkali kita masih sibuk sama capaian-capaian pribadi. Kuaantitas halaman, rakaat shalat malam, ziyadah dan murajaah hafalan, seberapa sering ikut kajian, berapa banyak yang sudah disedekahkan. Dan dengan bangganya kita merasa Ramadhan kali ini lebih baik dibanding A, B, C, D yang mungkin capaian pribadinya belum sejauh itu.
Lupa kalau masih ada hal-hal yang barangkali untuk orang lain, yang dilakukan teman-teman kita. Hemh, jauh sekali ya masihan levelnya. Mari bebenah diri. Suka kagum sama orang yang baiiik banget nawarin bantuan buat orang lain. Semoga Allah menguatkan kita semua untuk kian bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.
Jogokariyan dikenal sebagai kampung Ramadhan. Dari jaman 2014 kayanya aku tau kalo Ramahan di Jogokariyan itu rame banget. Dan benar. rame jualan. Rame acara. Rame dekorasinya Rame jugaaa hidangan berbukanya. Pas kita datang di waktu yang mepet azan, kita langsung disuguhi sepiring nasi gudeg, kurma, dan air minum. Dan masih super banyak hidangan yang tersaji, padahal semua jamaah yang udah datang juga udah dapat hidangan tersebut. Dan yang membuat takjub adalah, seluruh hidangan ini disajikan pake piring beling. Which is itu harus dicuci, bukan sekali buang kayak nasi kotak atau nasi bungkuss kayak dua masjid lain yang saya pernah buka di sana.
.
.
.
soalnya....masyarakatnya mau berburu pahala nyuci piring-piring kotor itu :"
kemudian bada shalat magrib, kami kedapatan shaf di halaman, beralaskan tikar. dan depan samping kami ada meja yang tadi dipakai buat menghidangkan bertumpuk piring dan gelas.
terus ada yang lagi beresin piring dan gelas kotornya. Cekatan sekali.
seorang bapak bertangan satu. tangan kirinya hanya sebatas siku.
.
.
.
saat itu kami berdua makin tersadar-sebenarnya saya pernah mau bikin tulisan sejenis setelah menyadari kondisi seorang ibu dengan anak kecil saat Ramadhan-bahwa Ramadhan bukan hanya soal peningkatan capaian diri sendiri. Barangkali kita masih sibuk sama capaian-capaian pribadi. Kuaantitas halaman, rakaat shalat malam, ziyadah dan murajaah hafalan, seberapa sering ikut kajian, berapa banyak yang sudah disedekahkan. Dan dengan bangganya kita merasa Ramadhan kali ini lebih baik dibanding A, B, C, D yang mungkin capaian pribadinya belum sejauh itu.
Lupa kalau masih ada hal-hal yang barangkali untuk orang lain, yang dilakukan teman-teman kita. Hemh, jauh sekali ya masihan levelnya. Mari bebenah diri. Suka kagum sama orang yang baiiik banget nawarin bantuan buat orang lain. Semoga Allah menguatkan kita semua untuk kian bermanfaat bagi orang lain. Aamiin.
Selasa, 10 Mei 2016
This Last Week
Satu minggu terakhir saya tidak di Jogja. Terhitung sejak Sabtu 30 April sampai Ahad 8 Mei. Kalau diingat-ingat, ini rekor terlama ada di Bogor-Depok-Jakarta lebih dari seminggu dalam rekam jejak nyaris dua tahun terakhir.
Ada banyak hal yang terjadi, termasuk keriwehan dan kenaik-turunnya emosi. Kebahagiaan, kenyataan rempong, bingung memutuskan sesuatu, bete-bete lucu, bahagia, kumpul, sayang, ngga mau pisah, bangga, sekaligus takut.
Dalam seminggu.
Many things happen. Dari jaman pulang, lama nunggu kereta, ke wisuda adik tanpa abi, ngobrol panjang sama Ummi, main sama fatih (yang sedih banget gegara kangen sama Abi (yang lagi ngga di rumah) padahal pengen main catur atau ular tangga dianya-bahagia anak kecil yang sangat sederhana, ya?). Main ke IC setelah-mungkin 2-3 tahunan ngga kesana. Dikirimin data dan ada DL ketika saya ngga bawa laptop selama pulang itu. Urus form online yang abisnya tanggal 6 (sampe akhirnya nitip temen). HAFLAH SUPER KEREN, kesayangan! NLC2016; SaudaraSampaiSurga untuk RK7, esp. rasa bangga-sayang-haru sama RK3Jogja. Berita adik yang lolos SNMPTN-perasaan amaze yang reflek juga dan membuat saya jadi merasa, saat inilah fungsionalitas saya sebagai kakak benar-benar bekerja (bcs saya sama dia sejak SD selalu hidup di dua dunia berbeda). Ah iya, juga baper-baperan masalah susah mengontrol kemelankolisan saya soal kenang-mengenang hiks.
--Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end.
Nanti yang bisa saya tumpahkan saya tumpahkan, ya. Tapi barangkali tulisan mini atau sekadar foto. Kalau nyamah ngga usah dibaca, kan saya udah bilang ini mah writing like no one's watching.
Ada banyak hal yang terjadi, termasuk keriwehan dan kenaik-turunnya emosi. Kebahagiaan, kenyataan rempong, bingung memutuskan sesuatu, bete-bete lucu, bahagia, kumpul, sayang, ngga mau pisah, bangga, sekaligus takut.
Dalam seminggu.
Many things happen. Dari jaman pulang, lama nunggu kereta, ke wisuda adik tanpa abi, ngobrol panjang sama Ummi, main sama fatih (yang sedih banget gegara kangen sama Abi (yang lagi ngga di rumah) padahal pengen main catur atau ular tangga dianya-bahagia anak kecil yang sangat sederhana, ya?). Main ke IC setelah-mungkin 2-3 tahunan ngga kesana. Dikirimin data dan ada DL ketika saya ngga bawa laptop selama pulang itu. Urus form online yang abisnya tanggal 6 (sampe akhirnya nitip temen). HAFLAH SUPER KEREN, kesayangan! NLC2016; SaudaraSampaiSurga untuk RK7, esp. rasa bangga-sayang-haru sama RK3Jogja. Berita adik yang lolos SNMPTN-perasaan amaze yang reflek juga dan membuat saya jadi merasa, saat inilah fungsionalitas saya sebagai kakak benar-benar bekerja (bcs saya sama dia sejak SD selalu hidup di dua dunia berbeda). Ah iya, juga baper-baperan masalah susah mengontrol kemelankolisan saya soal kenang-mengenang hiks.
--Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end.
Nanti yang bisa saya tumpahkan saya tumpahkan, ya. Tapi barangkali tulisan mini atau sekadar foto. Kalau nyamah ngga usah dibaca, kan saya udah bilang ini mah writing like no one's watching.
Selasa, 26 April 2016
Pre Order Dormi(s)tory : Cerita Kita di Jalan Cendekia
wanna have this one?
.
.
yang Jogja insya Allah kalo bisa ketemu saya bisa ngga perlu ongkir, hehe
atau ada yang mau dikirim dari alamat saya? *naonsihfit
//saya yakin tiap sekolah, di manapun itu punya cerita menyenangkan masing-masing
ya, kan?
//saya yakin tiap sekolah, di manapun itu punya cerita menyenangkan masing-masing
ya, kan?
Selasa, 24 November 2015
#Selamat6TahunGycen
#Selamat6TahunGycen
semoga semakin antiwacana dan bermanfaat buat sekitar
sebenernya ada foto anak-anak yang disiapin dalam rangka milad Gycen 6 September kemarin
tapi belum jadi dipos
nanti saya pengen pos deh, minta izin dulu sama Tyani, hehe :3
-6 September 2015-
Jumat, 15 Mei 2015
Jogja Kota Pelajar
Jogja kota pelajar. Ramai karena pelajar. Bukan hanya kampus yang penuh pelajar dari berbagai daerah, sekolah menengah atas pun sama. Bisnis kos-kosan tumbuh di mana-mana. Juga bisnis makanan. Mulai dari sekadar angkringan, jawa banget, lombok banget, china banget, sampai yang italia banget. Mulai dari tahu tempe, jamur jejamur, sampai makanan laut. Jogja kota pelajar, makanya harga makanan disesuaikan-meskipun ada juga yang tidak. Saya pernah beli nasi-ayam 4000-an dan jus 1000-an jaman 2012. Dan saya juga pernah tau temen beli paketan yang isinya bisa nasi, oseng cumi, dan jus, totalnya 10ribuan. Nggak ngerti lagi kadang-kadang.
Jogja kota pelajar. Isinya pelajar. Ramai di jalan raya dengan plat yang berupa huruf depan penunjuk kota asal. Pameran seni dan arsitektur juga ramai oleh pelajar. Seminar-seminar, pelatihan jurnalistik, training pengembangan diri, isinya pelajar. Pasar malam, awul-awul, bagi-bagi makanan gratis, isinya pelajar. Galang dana bakti sosial, konser-konser artis, bagik panitia maupun peserta, dominasinya anak jalanan. Setiap minggu di kampus mesti punya agenda sendiri-sendiri yang diikuti oleh pelajar. Organisasi tanpa batasan usia didominasi oleh pelajar. Semuanya pelajar.
Beakangan libur panjang. Para pelajar pada pulang. Tempat-tempat makan sepi kedatangan. Jalan raya lengang sepanjang mata memandang. Aku dan Tyani dua malam ini sepulang FU upgrading makan di tempat-tempat sepi, padahal biasanya ramai. Para pelajar pulang. Para pelajar pulang.
Jogja, benar-benar penuh oleh pelajar yang berdatangan.
Jogja kota pelajar. Isinya pelajar. Ramai di jalan raya dengan plat yang berupa huruf depan penunjuk kota asal. Pameran seni dan arsitektur juga ramai oleh pelajar. Seminar-seminar, pelatihan jurnalistik, training pengembangan diri, isinya pelajar. Pasar malam, awul-awul, bagi-bagi makanan gratis, isinya pelajar. Galang dana bakti sosial, konser-konser artis, bagik panitia maupun peserta, dominasinya anak jalanan. Setiap minggu di kampus mesti punya agenda sendiri-sendiri yang diikuti oleh pelajar. Organisasi tanpa batasan usia didominasi oleh pelajar. Semuanya pelajar.
Beakangan libur panjang. Para pelajar pada pulang. Tempat-tempat makan sepi kedatangan. Jalan raya lengang sepanjang mata memandang. Aku dan Tyani dua malam ini sepulang FU upgrading makan di tempat-tempat sepi, padahal biasanya ramai. Para pelajar pulang. Para pelajar pulang.
Jogja, benar-benar penuh oleh pelajar yang berdatangan.
Aku juga pelajar yang memenuhi Jogja-yang ingin pulang.
Perpus Pusat UGM
15 Mei 2015, 19.27
Jumat, 05 Desember 2014
Pelangi
halo @temaya_ , aku dapet foto pelangi yang jelaaas
ini motonya pas banget harinya sama kayak foto pelangi yang kamu pos di blogmu itu :')
Rabu, 12-11-14
Sabtu, 28 Juni 2014
Pulang
Halo!
Selamat malam, selamat Ramadhan :). Masih empat makul, satu rapat eval, dan satu acara camprock lagi sebenarnya menjelang pulang. Niat pulang maksimal tgl 10 udah tancap gas dari Jogja tapi apa daya, berita Jumat kemarin membuat saya harus lebih lama ada di kota pelajar ini.
Jujur, saya sedih banget tau keterpaksaanharusan pulang yang diundur ini. Pengen nangis, malu, abisnya lagi di forum. Ahaha, iya emang selain melankolis saya masih terlalu kekanakan untuk urusan kepulangan kali ini, yah :"
Ada di asrama enam tahun ditambah ini tahun kedua kuliah ternyata nggak membuat saya nggak kepengen pulang liburan ini. Entah, tapi kalo saya pikir-pikir, alasan utamanya adalah permintaan pulang dari Fatih (5 tahun), Fahri (9 tahun), dan Fafa (ini udah gede sebenernya, 15 tahun, tapi masih suka bilang kangen ama saya :P) setiap telepon. Hampir tiap telepon semuanya nanya, merengek, bahkan kesel khasnya Fatih bilang, "Mbak Fitri pulangnya lama banget sih, kan enak kalau ada Mbak Fitri..." Ah, gimana nggak melting punya adek kayak mereka ini :". Bahkan Ummi juga pernah cerita kalo mereka bertiga lagi ngelakuin suatu hal bareng, mereka suka bilang, "Coba ada Mbak Fitri ya, kan nanti lebih seru...."
Maaf ya Dek, Mbak Fitri nggak bisa pulang cepet liburan ini. bahkan nanti di Cibinong nggak ada dua minggu. Ah, padahal nggak daftar panitia apapun. ospek univ enggak, fakultas enggak, bahkan nggak daftar panitia RDK :". Padahal udah niat pulang cepet, apalagi sejak liat postingannya Masi yang ini. Padahal pengen nganter Fatih sekolah, pengen nganter Fahri sekolah, bahkan pengen jemput Fafa pulang sekolah dan nemenin belajar naik motor. Pengen nemenin Ummi dan ngobrol banyak sama Abi. Yang terasa paling berat adalah pas SMS Ummi kemarin Jumat, rasanya berat banget bilang maaf pulangnya baru bisa kapan. Sekalipun Ummi nggak pernah ngerengek minta saya pulang (yaiyalah), saya tahu Ummi pasti kangen (aaah, jadi inget Ummi pernah bilang, kangen kita ketemu lewat doa, ya Mbak... :" ).
Entah, rasanya sedih aja mau ngelewatin ramadhan lebih dari setengah bulan di Jogja. Padahal dulu jaman SMP-SMA biasa aja -.-. Bahkan pas di IC pernah sampe tiga minggu juga nggak kenapa-kenapa. Iya, mungkin karena saya udah naruh harapan lebih buat bisa pulang maksimal banget tanggal 10. Jadinya gini deh, kalau udah ngarep tinggi-tinggi, jatohnya sakit juga, sakit banget malah... :" Kalo dulu jaman sekolah kan jadwal pulangnya jelas, mungkin karena itu kali ya jadi biasa aja.
Ahaha, selain itu kalo di asrama ada yang masakin sahur (terimakasih Bu Jamilah dkk (ibu masak DM) serta pegawai kantin IC yang selalu setia :)). Kalau dikosan ya...begitulah. Hihi, padahal kalo shaum sunnah biasa aja, ini kenapa rasanya jadi beda banget ya Ramadhan gini. Ahaha jadi inget pembicaraan di kampus tadi abis tutorial. Ceritanya lagi bahas Firly (ada Firlynya juga kok) yang semalem udah puasa sejak hari ini dan semalem dia tarawih di kosan karena gatau masjid mana yang udah tarawih. Terus ada yang nyeletuk, "Belum ada imam sih ya Fir, makanya cari imam~". Yah, semacam jleb hening bentar dan kemudian ketawa~
Baiklah, saya tutup postingan ini dengan hamdalah. Ada foto sih mau diposting tapi besok aja deh ya. Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik dan maksimal dari sebelumnya. Aamiin :)
Selamat malam, selamat Ramadhan :). Masih empat makul, satu rapat eval, dan satu acara camprock lagi sebenarnya menjelang pulang. Niat pulang maksimal tgl 10 udah tancap gas dari Jogja tapi apa daya, berita Jumat kemarin membuat saya harus lebih lama ada di kota pelajar ini.
Jujur, saya sedih banget tau ke
Ada di asrama enam tahun ditambah ini tahun kedua kuliah ternyata nggak membuat saya nggak kepengen pulang liburan ini. Entah, tapi kalo saya pikir-pikir, alasan utamanya adalah permintaan pulang dari Fatih (5 tahun), Fahri (9 tahun), dan Fafa (ini udah gede sebenernya, 15 tahun, tapi masih suka bilang kangen ama saya :P) setiap telepon. Hampir tiap telepon semuanya nanya, merengek, bahkan kesel khasnya Fatih bilang, "Mbak Fitri pulangnya lama banget sih, kan enak kalau ada Mbak Fitri..." Ah, gimana nggak melting punya adek kayak mereka ini :". Bahkan Ummi juga pernah cerita kalo mereka bertiga lagi ngelakuin suatu hal bareng, mereka suka bilang, "Coba ada Mbak Fitri ya, kan nanti lebih seru...."
Maaf ya Dek, Mbak Fitri nggak bisa pulang cepet liburan ini. bahkan nanti di Cibinong nggak ada dua minggu. Ah, padahal nggak daftar panitia apapun. ospek univ enggak, fakultas enggak, bahkan nggak daftar panitia RDK :". Padahal udah niat pulang cepet, apalagi sejak liat postingannya Masi yang ini. Padahal pengen nganter Fatih sekolah, pengen nganter Fahri sekolah, bahkan pengen jemput Fafa pulang sekolah dan nemenin belajar naik motor. Pengen nemenin Ummi dan ngobrol banyak sama Abi. Yang terasa paling berat adalah pas SMS Ummi kemarin Jumat, rasanya berat banget bilang maaf pulangnya baru bisa kapan. Sekalipun Ummi nggak pernah ngerengek minta saya pulang (yaiyalah), saya tahu Ummi pasti kangen (aaah, jadi inget Ummi pernah bilang, kangen kita ketemu lewat doa, ya Mbak... :" ).
Entah, rasanya sedih aja mau ngelewatin ramadhan lebih dari setengah bulan di Jogja. Padahal dulu jaman SMP-SMA biasa aja -.-. Bahkan pas di IC pernah sampe tiga minggu juga nggak kenapa-kenapa. Iya, mungkin karena saya udah naruh harapan lebih buat bisa pulang maksimal banget tanggal 10. Jadinya gini deh, kalau udah ngarep tinggi-tinggi, jatohnya sakit juga, sakit banget malah... :" Kalo dulu jaman sekolah kan jadwal pulangnya jelas, mungkin karena itu kali ya jadi biasa aja.
Ahaha, selain itu kalo di asrama ada yang masakin sahur (terimakasih Bu Jamilah dkk (ibu masak DM) serta pegawai kantin IC yang selalu setia :)). Kalau dikosan ya...begitulah. Hihi, padahal kalo shaum sunnah biasa aja, ini kenapa rasanya jadi beda banget ya Ramadhan gini. Ahaha jadi inget pembicaraan di kampus tadi abis tutorial. Ceritanya lagi bahas Firly (ada Firlynya juga kok) yang semalem udah puasa sejak hari ini dan semalem dia tarawih di kosan karena gatau masjid mana yang udah tarawih. Terus ada yang nyeletuk, "Belum ada imam sih ya Fir, makanya cari imam~". Yah, semacam jleb hening bentar dan kemudian ketawa~
Baiklah, saya tutup postingan ini dengan hamdalah. Ada foto sih mau diposting tapi besok aja deh ya. Semoga Ramadhan kali ini bisa lebih baik dan maksimal dari sebelumnya. Aamiin :)
Minggu, 15 Juni 2014
Selangkah Lagi
Seperti ketika hendak selangkah lagi kamu kesini
Dan burung gereja bergegas terbang
Entah merasa diusik, atau merasa tak nyaman
Padahal kamu ingin menyapa burung-burung gereja itu, bukan?
Apapun yang dilakukan mereka, berprasangka baiklah
Jika pun kau menuai prasangka, hapuslah
Sampai ketika kamu tidak lagi bisa duduk tenang karena segala asumsi
Tanya saja, biar jelas dan terang jadinya
Daripada mengira-ngira, siapa tahu itu hanya kekhawatiran semata
Atau bukan kekhawatiran, lebih buruk lagi jika hanya prasangka
Kalau tak berani, atau memang sebaiknya tak perlu,
Mungkin lebih baik telusuri sendiri
Tapi bukan sembarang telusuri,
Cari alasan paling rasional yang ada dan mudah diterima logika
Dengan melandaskan segalanya pada prinsip agama ini
Mengembalikan segala sesuatu padaNya akan berakhir tentang hal paling baik dimataNya, bukan?
Tidak lagi subjektivitas manusia semata
Seperti ketika ada kabar bahagia yang rasanya belum pantas diterima
Mungkin itu hanya ingin Tuhan yang belum kau mengerti alasannya
Ada yang lebih pantas, kau bilang begitu
Tapi takdir Allah jatuh padamu, lantas bagaimana?
Ikuti saja tracknya, ambil bagian di dalamnya
Baiklah, kau boleh menjalaninya sambil mencari-cari alasannya
Mungkin ada yang Allah mau atas dirimu
Tugasmulah mencari, mungkin, iya mungkin
Berusahalah, Allah selalu menilai segala usaha baik
Sekalipun mata manusia tak mampu menjangkaunya
Jogjakarta, 15 Juni 2014
habis denger kata-kata temen
habis tahu dari adik tingkat
Sabtu, 14 Juni 2014
Syukur
"Kadang bosen gitu nggak sih, deket kosan kita kalo mau beli makan pilihannya ya kalo nggak ke warung tenda A, warung tenda B, ya ke warung makan C?"
"Iyaaa *ngomongnya beneran semangat dan setengah teriak*, aku juga ngerasa gitu. Kadang bosen gitu ya lauknya ini-ini aja."
*hening*
"Tapi harusnya kita bersyukur tau. Kita masih punya pilihan. Sekali-kali juga mungkin kita beli makan diluar dua itu, walau paling sering ya kesana. Yang harusnya lebih bosen itu...yang jual. Karena mereka nggak bisa milih. Menu masak mereka tiap hari mungkin sama."
*diem*
"Iya, ya...bener juga :')."
"Iyaaa *ngomongnya beneran semangat dan setengah teriak*, aku juga ngerasa gitu. Kadang bosen gitu ya lauknya ini-ini aja."
*hening*
"Tapi harusnya kita bersyukur tau. Kita masih punya pilihan. Sekali-kali juga mungkin kita beli makan diluar dua itu, walau paling sering ya kesana. Yang harusnya lebih bosen itu...yang jual. Karena mereka nggak bisa milih. Menu masak mereka tiap hari mungkin sama."
*diem*
"Iya, ya...bener juga :')."
obrolan yang udah lumayan lama di kosan
Kamis, 12 Juni 2014
Sembunyi
| gambar dari sini |
Aku yakin ada yang kau sembunyikan. Jika saja kau bilang tidak, mungkin yang kau sembunyikan itu sengaja hanya kau tunjukkan padaNya. Di sepertiga malammu, mungkin. Atau di ucapan sepanjang perjalanan. Atau di gumaman-gumaman kecilmu saat kau sendirian. Kau bisikkan itu dalam keheningan. Saat tiada seorang pun mendengar. Kau terlalu takut ada orang lain yang mendengar. Mungkin.
Aku yakin ada yang kau sembunyikan. Jika saja kau bilang tidak, aku yakin kau tetap menyimpan rasa khawatir. Sejauh apapun aku bertanya, kau akan senantiasa bilang baik-baik saja. Atau bilang tidak ada apa-apa. Ditambah sesungging senyuman yang berusaha meyakinkanku bahwa semuanya benar-benar baik-baik saja. Agar aku tak curiga. Padahal mungkin kau sedikit salah mengiraku cukup yakin bahwa tidak ada yang kau pikirkan. Aku justru sibuk menerka tentang apa yang kau sembunyikan. Kamu...khawatirkah?
Aku yakin ada yang kau sembunyikan. Jika saja kau bilang tidak, mungkin ini saatnya aku menentukan langkah. Mungkin ini waktunya kamu mencoba melepasku perlahan dan pelan-pelan : sedikit demi sedikit. Mungkin ini waktunya kamu benar-benar ingin menyuruhku mengemban arti kata dewasa. Saat aku harus memutuskannya sendiri. Mempertimbangkannya sendiri matang-matang. Menyerahkan padaku nyaris sepenuhnya. Padahal aku tahu resikonya tidak sedikit yang mungkin juga akan terkena padamu. Tapi kamu ikhlas, sungguh ikhlas. Sekhawatir dan setakut apapun dirimu. Mungkin aku tidak pernah tahu.
Allah, bantu aku melawan segala kekhawatiran itu :"
Yogyakarta, 12 Juni 2014
dalam hening yang kadang terasa menyesakkan
ketika adzan Isya berkumandang :
aku sungguh sayang kalian .
Senin, 19 Mei 2014
Yogyakarta ~ :')
Yogyakarta -Kla Project-
Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
(Instrumental)
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi (untuk s'lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi (s'lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati
Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu abadi)
(Music Ending)
Saya pertama kali dengar lagu ini kemarin, saat acara #MimbarInspirasi di FK UGM. Yang nyanyi Suara Bhineka, grup akustik yang isinya tiga orang, anak Psikologi, Gizi, sama FEB. Terus baru denger saya langsung semacam tercuri perhatian *apasih fit, bahasanya-_-. Pertama, mereka nyanyinya bagus banget, terus entah kenapa, saya (yang akhir-akhir ini mendegar isu tentang peran kepemudaan) langsung mikir :
1. Banyak anak muda keren sebenernya di negara ini. Bahkan jangan jauh-jauh negara. Saya langsung flashback ke kampus saya yang isinya banyaaaak banget mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang di pundak kitalah tersimpan harapan akan kemajuan bangsa. Aduh mikirnya jadi kemana-mana ya padahal cuman ngeliat mereka bertiga doang. Itu pun mereka cuma nyanyi. Tapi seriusan, lagunya bagus, dan suaranya bagus *nggak sampe kayak video di atas itu lah, itu mah banyak yang nyanyi. Ini cuma satu orang vokalisnya, tapi baguuuus :3 Dan bakat ini bisa jadi suatu saat punya dampak besar buat sekitar. Siapa tahu? :)
2. Lagu ini isinya tentang Jogja. Saya sebenernya langsung keinget Cibinong sih. Hihi, agak ga nyambung ya? Jadi gini, saya ngebayangin ini adalah perasaan orang Jogja atau setidaknya pernah tinggal dalam jangka waktu tertentu di Jogja dan sudah mencintai tanah istimewa ini. Nah terus suatu saat dia kangen banget gitu sama Jogja. Terus lagu ini kayak membangkitkan kenangan gitu deh.
Saya jadi keinget Cibinong karena kalo saya inget-inget, ini menginjak tahun kedelapan saya nggak sekolah dekat rumah. Cuma bisa pulang jarang-jarang dan...ya gitu deh ngga gitu up to date sama keadaan Cibinong Jadi kalo misalnya pulang ke rumah itu, misal libur sekolah atau sekarang libur kuliah pulang ke Cibinong, rasanya tuh semacam ada perasaan yang...aduh susah lah diungkapinnya :P. Saya benar-benar menikmati Cibinong. Angkotnya, macetnya, pemandangannya, kenangannya *uhuk padahal mah biasa aja, cuma dramatisir :P . Ujung jalanan Pemda yang kini beridiri mall besar. Bahkan mal yang kian tumbuh di sisi-sisi Jalan Raya Jakarta Bogor, ruko-ruka Jalan Mayor Oking, perumahan-perumahan mini, pembangunan di mana-mana. Walaupun saya akui kalau nggak suka juga sih jadi banyak mall gini. Dan kata Abi, Cibinong itu bukan wilayah yang penduduknya banyak kayak Bandung atau Jogja misalnya yang penduduknya makin banyak sama mahasiswa. Tapi ngeliat Cibinong sedang tumbuh itu rasanya... :')
Kadang kalau lagi pulang dan di kendaraan umum, saya suka kepikiran, Cibinong beberapa tahun lagi, 20 tahun lagi, misalnya, udah kayak apa ya? Sekarang aja pasar kaget pagi hari Pemda *semacam sunmornya Cibinong, lah* udah nggak ada gegara pembangunan mall. Saya nggak kebayang rasanya ketika beberapa tahun lagi ada di sana suasananya sudah jauh berubah. Kadang-kadang aja pulang-pulang udah ada pembangunan mall, atau ITC yang namanya jadi ganti jadi Cibinong Mall. Atau Gramedia yang udah ga ada di Cibinong T^T *yang ini sedih. Harapannya sih makin banyak taman dan kawasan hijau, terus ada kereta lagi di stasiun deket rumah yang udah lama banget gak aktif itu.
That's really something ketika lewat jalanan setu, jalanan depan RSUD, jalanan ke Al-Ishlah, jalanan belakang Al-Ishlah, jalanan tempat saya nyari nomer enambelas tapi gaketemu-ketemu sampe sekarang, jalanan perpustakaan umum, bahkan jalanan lewat depan kantor polisi sekalipun. Saya bersyukur ada di Cibinong yang notabene ibu kota Kabupaten Bogor. Ujian SIM (yang ngulang berkali-kali T^T) setidaknya nggak jauh-jauh amat dari rumah. Saya nggak kebayang yang tinggal di Cileungsi sana kalo mau ujian SIM mesti ke Cibinong. Hemh, harusnya emang ujian SIM nggak usah terpusat gini kai ya, di Cileungsi misalnya ada juga tempat buat ujian SIM. Tapi mungkin emang nggak mudah ngurus hal itu.
Cibinong ngangenin. Beneran. Saya kangen jalan sama Ummi dari rumah sampai gang depan. Kangen liat tukang-tukang depan gang itu. Kangen jemput Fatih di sekolahnya. Ah, sekalipun mungkin menghabiskan waktu di Cibinong juga cuman 8-9 tahunan (yaampun, berarti waktu saya di Cibinong dan diluar itu sudah hampir mendekati sama!). Bahkan lebih up to date-an adek tentang daerah dan jalanan kemana-kemana dan tentang bapak ibu tetangga yang rumahnya agak jauh. Ah, tapi bagaimanapun, saya selalu suka...dan rindu :')
3. Yogyakarta Istimewa
Saya sebenarnya belum cinta-cinta amat sama Jogja. Iya, cinta kan butuh proses *aish._. . Tapi kalo dari lagu ini rasanya jadi inget lagi tentang sisi Jogja yang udah pernah saya tau (iya emang baru sedikit sih). Kalo kata Pak Anies Baswedan, "Jogja itu setiap sudutnya romantis." Dan kalo kata Pipeh (dikasih tau Nikari), "Kalau udah nikah nanti kesini (Malioboro) sama suami!" Yah, kalo makna tersiratnya sih soalnya Malioboro pas malem bagus banget dan kalo kesana bareng suami mungkin seru dan so sweet kali yah (mungkin yah, Pipeh lo yang bilang bukan saya :P). Ah tapi kan emang yang penting bukan di mana tapi sama siapa *aduh, fokus Fit, fokus!
Seperti yang dibilang, ada banyak musisi jalanan yang kreatif di sini. Mereka nggak ngamen pakai kecrekan kayak di angkot-angkot Cibinong. Mereka kayak paduan angklung yang kece banget (bahkan kalo ikut Avalanche -acara Divisi Bahasa OSIS IC- kayanya bakalan menang). Bahkan terkenal sampe kalo ada acara ada yang dipanggil buat jadi bintang tamu. Ga bakal tau sih kalo belum liat sendiri. Orang saya aja yang di sini belum pernah merhatiin banget dari awal sampe akhir *ketauan jarang kemana-mana*.
Terus apa ya, ramai kaki lima. Kalo ini sih saya inget nasi kucing deket kosan. Harganya seribu, terus enak :) *abis ini ditanyain di mana itu jualannya* Iya kalo makan satu kurang kenyang sih, makanya belinya lebih dari satu :P. Tapi selain inget itu jadi keinget juga cerita Najwa Shihab pas kemarin beli nasi kucing depan kantor KR di Jalan Mangkubumi. Pengen deh kapan-kapan nikmati suasana malma Jogja kayak gitu, hehe.
Apalagi ya? Kalau liat lagunya yang disorot selain rasa haru dalam rindu itu ya musisi jalanan sama ramai kaki lima. Banyak sudut Jogja yang memang belum pernah saya kunjungi, sih. Overall, saya yakin setiap tempat memiliki kenangan dan kesannya masing-masing. Terutama buat penduduk asalnya, suatu tempat pasti punya kesan tersendiri. Eh nggak penduduk asal juga, sih. Pendatang juga *inget dua asrama yang pernah saya huni sebelum kuliah :')
Sabtu, 15 Februari 2014
Dari Milan ke Milan
ini halaman depan kampus kami, serta satu jalur dari vokasi yang selalu dilewati mahasiswa yang berkendaraan motor sendiri. Teman bilang kampus milan (Mipa Selatan) kami telah berubah menjadi Milan (Italia) yang sebenarnya. Seperti bersalju, walau kenyataannya abu-abu. Teman lain bilang, ia bahkan sampai mengira kalau begitu bangun tidur dirinya telah berdeportasi keluar negeri. Nenek di Magelang heran mengapa pagi tidak terang, ternyata tebal abu sudah 0,5 senti pagi itu.
sampe dibikin meme
Minggu, 25 November 2012
Gycen feat. Kantin Bu Siti : Jus Seribu !
Jadi ceritanya untuk mengobati rindu yang makin mendendam *apasih fit bahasa lo kita sisa Gycen yang ada di Jogja dan yang kebetulan bisa, kumpul di kontrakan Umar buat buka puasa bareng. Yaaah, habis kan kita agak sedih gimana gitu ceritanya ga bisa ke IC di acara Roadshow IAIC, tapi ya Alhamdulillah lah Allah masih ngasih kesempatan buat tetep kumpul meski cuman berlima dan di akhir ujung-ujungnya dateng Sofyan pas banget kita pulang dari makan dan dia belum makan *maaf banget Soof : gue aja gatau lo mau dateng, hehe :D
Sebenernya kisah ini bermula tragis, di mana gue janjian sama Nikari tapi ternyata kumpul bikin mading belom selesai-selesai karena satu dan lain hal*halah . Udah mana ternyata pas gue mau nyamper ke kosan Dilho (sebelum ke BSR asramanya Nikari) bressss, ujan dengan ganasnya turun dari kahyangan, eh langit deng maksudnya. Masih alhamdulillah deh tuh pokoknya gue udah sampe di kosan Dilho. Seengganya selamat sebentar dari ujan. Kenapa gue bilang sebentar? Karena abis itu ita bener-bener basah (ya ga seratus persen juga sih). Akhirnya kita naik ojek dan jadi mahal gara-gara ke kontrakan Umarnya lewat jalan kaliurang dan gue taunya jalan yang lewat depan fakultas peternakan. Tapi ya udahlah ga usah disesali. Seneng aja Fit ketemu anak-anak, hehe.
Karena hujan, akhirnya Nikari udah duluan kan. terus kita (gue dan Dilho) sampe sana dan Saeju Umar sama Nikari udah depan pintu. Jadi begitu turun, tanpa masuk ke rumah (tapi udah bayar ojeklah), kita langsung jalan ke Kantin Bu Siti.
Jadi.....Kantin Bu Siti itu Kantin yang lumayan terkenal. Diso pernah bahkan ke sana sampe keabisan piring saking ramenya. Tapi kita kemarin alhamdulillah gak rame2 banget. Apa karena weekend sekaligus ujan jadinya gak terlalu rame, ya? Sayangnya Diso yang usul tempat ini malah ga bisa dateng gara-gara dia masih TKAD (Teknik apaaa gitu, pokoknya gambar-gambar gitu deh pokoknya).
Kantin Bu Siti murah banget deh beneran. Jus aja seribu. Hehehe, kenapa jadi bersemangat gini. Bailah, mari kita lihat foto Saeju yang lagi bawa payung gue, eh maksudnya foto spanduk harga Kantin Bu Siti di bawah ini (jangan liat ke bawah, tetaplah menatap layar) :
Ya udah deh terus udahan makan kita balik ke kontrakan. Kan belum maghriban. Sampe kontrakan, ternyata Sofyan baru nyampe dan dia juga belum makan. Jadi ngerasa bersalah. Maaf ya Sof :"(
Akhirnya Sofyan beli bazaar di kontrakan Umar. Sebenernya gue juga heran (nggak gue doang kok, Nikari juga heran tuh). Jadi di kontrakan mereka itu ada bazaar kayak jaman di IC gitu lho. Ada bazaarnya Kurni sama bazaarnya Fadli kalo ga salah. Banyak deh. Dari momogi, mi instan, sampe kiko yang dibekuin di freezer ituloh, ada di kontrakan mereka.
Jadi kita magriban. Dingin masih mencekam. Ujan bro~ Baju basah, tapi malam ini, kebersamaan menghangatkan kami *cieeeeee
Selanjutnya ngobrol-ngobrol, niat skypean sama yang pada di IC. Udah janjian sama Novi. Sebelum dia ke IC gue udah usul skype-an. Dia bilang, iya kok Ft aku bawa laptop. Eh emang bener sih sia bawa Tapi modemnya ngga. Sama aja-____________-
Tapi lumayan lah, kita sempet telponan sama anak-anak. Meski ngomongnya sama anak cewe doang sih. Nggak papa. Obat kangen :")
Oh iya sebenernya ada juga sih obrolan kita tentang perempuan dan laki-laki beserta antara keduanya. Meski akhirnya ngebahas perempuan itu gimana dan laki-laki itu gimana. Apalagi kalo udah nyambung ke masalah perasaan. Tapi di skip aja ya. Nanti cerita di postingan lainnya deh :D, sabar aja ya :")
Sebenernya kisah ini bermula tragis, di mana gue janjian sama Nikari tapi ternyata kumpul bikin mading belom selesai-selesai karena satu dan lain hal
Karena hujan, akhirnya Nikari udah duluan kan. terus kita (gue dan Dilho) sampe sana dan Saeju Umar sama Nikari udah depan pintu. Jadi begitu turun, tanpa masuk ke rumah (tapi udah bayar ojeklah), kita langsung jalan ke Kantin Bu Siti.
Jadi.....Kantin Bu Siti itu Kantin yang lumayan terkenal. Diso pernah bahkan ke sana sampe keabisan piring saking ramenya. Tapi kita kemarin alhamdulillah gak rame2 banget. Apa karena weekend sekaligus ujan jadinya gak terlalu rame, ya? Sayangnya Diso yang usul tempat ini malah ga bisa dateng gara-gara dia masih TKAD (Teknik apaaa gitu, pokoknya gambar-gambar gitu deh pokoknya).
Kantin Bu Siti murah banget deh beneran. Jus aja seribu. Hehehe, kenapa jadi bersemangat gini. Bailah, mari kita lihat foto Saeju yang lagi bawa payung gue, eh maksudnya foto spanduk harga Kantin Bu Siti di bawah ini (jangan liat ke bawah, tetaplah menatap layar) :
Jadi itu yang dibilang Nasi ayam 4500 itu bisa dideskripsikan seperti ini : nasi ambil sepuasnya terserah, pake lauk ayam (terserah juga mau ayam yang diapain, dan ayamnya ukuran normal kok teman-teman. Manusiawi buat dimakan, ga kecil sekayak apaan gitu) sama pake sayur sekalian (meski ga dicantumin di namanya di spanduk itu). Ya pokoknya gitu deh, murah banget ya. Kita berlima tapi gelasnya 10. Dasar keausan buka puasa, hehehe :D. Dilho ampe mesen jus 3 walaupun uangnya sampe tanggal 26 tinggal 20.000. Ya tapi dia emang gak makan nasi sih waktu itu. Saeju sampe nyesel soalnya dia agak ngirit malem ini. Katanya, kenapa gue ngirit banget ya sekarang, jadi nggak bisa menikmati nih...
Oiya, terus itu kan diblangnya menu siang sampe jam 5 ya. Tapi kayaknya itu sampe malem juga tuh. Buktinya pas gue makan juga harganya masih segitu. Padahal ya kita kan makannya abis maghrib. Terus pas kita makan juga Ibunya ngeluarin ayam yang baru mateng juga. Nah lho, jadi kayaknya spanduknya itu mesti di update lagi deh. Sampe malem kok kayaknya berlakunya.
![]() |
| Saeju pas foto ini : gue kayak punya......3 (silakan isi sendiri) |
![]() |
| gantian moto sama Umar. Ceweknya mager buat ngambil foto, hehehe :D |
![]() |
| Umar : Ya Allah, Dilho minum berapa gelas?? |
Akhirnya Sofyan beli bazaar di kontrakan Umar. Sebenernya gue juga heran (nggak gue doang kok, Nikari juga heran tuh). Jadi di kontrakan mereka itu ada bazaar kayak jaman di IC gitu lho. Ada bazaarnya Kurni sama bazaarnya Fadli kalo ga salah. Banyak deh. Dari momogi, mi instan, sampe kiko yang dibekuin di freezer ituloh, ada di kontrakan mereka.
Jadi kita magriban. Dingin masih mencekam. Ujan bro~ Baju basah, tapi malam ini, kebersamaan menghangatkan kami *cieeeeee
Selanjutnya ngobrol-ngobrol, niat skypean sama yang pada di IC. Udah janjian sama Novi. Sebelum dia ke IC gue udah usul skype-an. Dia bilang, iya kok Ft aku bawa laptop. Eh emang bener sih sia bawa Tapi modemnya ngga. Sama aja-____________-
Tapi lumayan lah, kita sempet telponan sama anak-anak. Meski ngomongnya sama anak cewe doang sih. Nggak papa. Obat kangen :")
Oh iya sebenernya ada juga sih obrolan kita tentang perempuan dan laki-laki beserta antara keduanya. Meski akhirnya ngebahas perempuan itu gimana dan laki-laki itu gimana. Apalagi kalo udah nyambung ke masalah perasaan. Tapi di skip aja ya. Nanti cerita di postingan lainnya deh :D, sabar aja ya :")
![]() |
| Ini sebelum pulang, Saeju jadi pasiennya dr. Sofyan dulu :") *aamiin :D *ini Saeju mau di tensi |
Langganan:
Postingan (Atom)













