Ada Allah
Berhenti
Bukan ngobrol sama orang lain, banyakin ngobrol sama diri sendiri.
Tampilkan postingan dengan label #selfnote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #selfnote. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Mei 2019
Senin, 20 Mei 2019
Menerima Diri Sendiri (2)
Menerima diri sendiri sekecil
-menerima kalau diri ini capek, sehingga belum bisa seproduktif yang lain.
-menerima kalau aktivitas suatu hari melebihi hari yang lain, sehingga target tilawahnya jauh dari yang diinginkan (at that time aku kebayang, oh ini ya rasanya buibu yang target ngajinya gabisa kayak waktu single karena pasti adaaaa aja hal-hal yang meminta perhatian lebih dari anak, bahkan anak sebesar Fatih pun, sebagaiman aaku melihat Ummi sejak beberapa tahhun silam saat aku masih kuliah)
-menerima kalau diri ini bisa jauh lebih lelah dari baisanya, sehingga sisa harinya kepake buat tidur terus, tapi belajar biar nggak kebablasan
-menerima kalau agenda dakwah semestinya menjadi prioritas, dan belajar gimana ngaturnya biar bisa jadi prioritas-setidaknya sama pentingnya sama rutinitas sehari-hari
-menerima kalau diri ini memang tidak sempurna, dan sebagaimana demikian, karena berarti masih ada ruang untuk tumbuh
-menerima bahwa oh emang diri ini mudah sekali lelah, mungkin karena ternyata jarang ya olahraga
-menerima bahwa bolak balik sejak jam setengah enam kantor-tempat agenda pekanan yang lebih jauh dari rumahku lalu ke depok lagi yang lebih jauh dari jarak sebelumnya ke kantor, lalu mampir kantor untuk ambil barang dan sampai rumah, baru istirahat sejenak sudah harus pergi ke agenda sore, kayaknya kecil dan sepele, tapi buat tubuh ini emang mungkin nggak mudah melaluinya
-menerima bahwa setelah itu aku ketiduran berkali-kali sepanjang perjalanan pulang, setelah terakhir melakukannya Februari 2018
-menerima bahwa susah sekali memotong obrolan hanya untuk pulang duluan dan buka puasa
-menerima bahwa aku adalah kakak dari adik-adik yang kadang mereka berisik di saat aku butuh waktu yang tenang
-menerima bahwa aku adalah dominan i yang kalau sudah banyak sekali terserap energinya oleh kegiatan luar dan interaksi, aku butuh diam, menyendiri, menarik diri dari obrolan, memberi energi untuk diriku sendiri. tapi belum ada waktu untuk itu.
-menerima segala kekhawatiran dan menjadi titik untuk bergantung ke Allah, dengan lebih menghamba
-menerima bahwa tanggal merah barengan sama hari ahad, rasanya ga ikhlas karena aku pengen satu hari lagi buat istirahat
-menerima bahwa keinginan untuk cuti hanya karena pengen istirahat tidak semudah itu
-menerima bahwa orang lain bisa begitu mudah mengiyakan akad lalu mengcancelnya dengan alasan pribadi, yang sesungguhnya rasanya diri ini pun ingin kabur dari amanah yang ada, sesekali
-menerima kalau memang pada saat tertentu perempuan secara hormonal didesain untuk tidak stabil
-menerima bahwa memang ada fase hidup yang membutuhkan perhatian lebih, yang kadang lelah, tapi semestinya bisa senang menjalaninya
-menerima kalau ada teman yang pemahamannya masih jauh sehingga memang sulit menyampaikan hal yang di mata dia ga ideal
-menerima bahwa diri ini kadang kehasut hal-hal ga guna atau membuang waktu, hal-hal yang ga disukai Allah. putuskan kapan harus berhenti.
-menerima pikiran pikiran nanti gimana ya sepanjang materi
-menerima kegemasan diri ini pengen sharing ke orang lain setelah dapat materi kemarin dan hari ini (materi yang berbeda), tapi memang perlu ditahan. tidak bisa sekarang
-menerima kalau diri ini level berjuang dan anticapeknya belum setegar Ummi dan barangkali seluruh ibu di dunia, huhu ini supersalut sih sama semua ibu
-menerima bahwa ada notifikasi chat yang terlihat kuabaikan gegara kukebablasan tidurnya
-menerima bahwa kadang aku pengen rasanya keluar dari keramaian notifikasi wa, uninstal atau left semua grup sementara, saking crowdnya
-menerima kalau Allah kadang kasih hal yang tidak kita suka, justru itu bisa belajar dan membuat kita deket sama Allah, tidak melulu memintanya hilang adalah pilihan terbaik
nggakpapa ya diri, kita belajar ya.
maaf ya kalau aku meminta terlalu banyak, kalau aku menuntut terlalu ideal, kalau aku merasa kesel kenapa kok kayaknya gampang banget capek, kalau aku merasa nggak ada yang nemenin, kenapa aku berkutat di hal-hal dan pikiran itu-itu aja, kenapa aku dan kenapa aku lainnya....
Bersyukur
-Abi dan Ummi dukung kegiatan-kegiatan itu
-Abi dan Ummi kasih izin aku ngapa-ngapain
-Kantor memberi aku ruang untuk belajar hal baru
-Bisa belajar dari para guru dan ibu-ibu, ketika jawaban anaknya usia berapa tidak bisa aku jawab dengan angka, haha
-Abi mau kembali ke masjid lagi buat pinjem barang yang tadi lupa ketika aku sudah menitip
-Abi mau bukain pager
-Abi Ummi mau belajar dari orang lain
-Ummi mau maklum karena komitmen keluarga untuk menjadi pribadi yang bermanfaat buat sekitar, walaupun aku jadi nggak bantuin Ummi nyiapin takjil dan beberes rumah, dan ummi sama sekali nggak keberatan karena kembal lagi, semangat agar keluarga ini bisa kontribusi kebermanfaatan buat yang lainnya. di saat aku kesel sama orang yang cancel karena alasan bantu ibunya (dan aku berpikir, emang aku gamau bantu ibukuuuu huhu)
-Abi Ummi mau kasih spare time ngobrol habis shalat
-Icha mau bantu dan ngorbanin waktu rumahnya
-Ada teman yang mau menjawab dengan lapang hal-hal yang ditanyakan
-Ada anak-anak yang bisa dengan ringannya bilang mau jadi Kak Fitri
-Teteh kasih izin aku untuk ikut agenda di tempat yang lebih dekat dan tanpa sadar membuatku jadi perlu izin rapat
-Pertemuan nggak sengaja dengan Mbak yang dulu aku respect di Jogja
-Ada rumah yang hangat, ada pertemuan dengan adik walau tidak melulu menyenangkan, ada kebersamaan keluarga yang mungkin didambakan banyak orang
-Ada waktu sekedar untuk merem istirahat sejenak walau akhirnya setelahnya aku kebablasan tidur lagi
-Ada teman-teman dan lingkungan kantor yang menyenangkan dan kondusif yang nggak semua orang punya
-Ada teman yang tertarik buat belajar, dan semoga bisa kasih hal baik yang bisa dia pelajari
-Kemarin ketika aku mau cerita betapa capeknya,eh ketemu twitan orang yang doain calon anaknya sambil share hafiz indonesia. Yang aku udah takut kalo ngekik nanti air mataku tumpah saking malunya.
-Karena Allah hadirkan diri ini ke dunia dengan fisik yang sempurna (aku mengingat Naja yang tadi disebut Fahri, beberapa hari lalu aku baca kisah singkat dia. celebral palsy, jalan baru bisa usia dua tahun atau berapa gitu, tapi Allah muliakan ia dengan menitipkan hafalan 30 juz dalam dirinya)
-Ada orang yang mau mendengarkan, dan memberi dorongan semangat, yang aku rasakan sayangnya
-Ada perasan sedih ketika kondisi ruhiyah lagi jauh, lagi nggak khusyuk, lagi mudah mengantuk saat ibadah, lagi nggak ngaji selama tempo beberapa jenak waktu (more than 24hour). Sedih banget sebenernya, tapi seenggaknya, bersyukur masih Allah hadirkan rasa sedih itu.
-Ada pesan yang menyadarkan dari teman, yang rupanya masih mau berbagi sedikit ceritanya.
-Ada orang yang mau berbagi pengalamannya ke banyak orang, dan tanpa sengaja itu membuat aku belajar
-Ada kesempatan untuk kolaborasi bareng yang sudah lama aku inginkan
-Ada orang, yang entah bagaimana cerita di blog ini, udah terlalu banyak keluh dan ketidakfaedahan, masih mau baca ceritaku. Mungkin itu kamu salah satunya. Huhu, jadi terima kasih.
Jadi, terima kasih.
Terima kasih Allah, Abi Ummi, adik-adik, kantor, lingkungan sekitar, teman-teman, anak-anak, juga barangkali kamu, yang mau repot-repot maish main ke laman ini.
Terima kasih diri.
Penerimaan diri mungkin sulit. Tapi aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang support. Contohnya Ummi tadi, waktu aku kesel bilang, kenapa sih orang gampang banget cancel dengan alasan mau bantu ibunya di rumah. Emang aku ga mau bantu Ummi? Emang aku juga ga ngerasa bersalah ga bantu Ummi.
Ummi dengan sangat ringan bilang, kalau Ummi, kalau keluarga kita tahu bermanfaat buat orang lain juga salah satu tujuan. Ummi nggak keberatan siapin takjil nggak dibantu, karena tahu Mbak Fitri ke luar buat kebermanfaatan. Ada wajah-wajah yang senang dan kegembiraan untuk orang lain setelahnya. Contoh lain, misalnya. Ummi praktek sampe sore atau ngisi radio dan pulang mepet, yaudah satu dua kali beli nggak masak juga nggak masalah. Atau misalnya kondisi rumah yang berantakan yang bisa dimaklumi oleh kami semua. (Aku selalu kagum sih Abi hampir nggak pernah protes makan apa aja yang ada, beli atau umi masak cuma rebus-rebus aja, atau juga kondisi rumah yang berantakan) Selalu ada prioritas, dan selama tau apa yang dituju, hal-hal kecil tidak pernah jadi masalah.
Atau Ummi kemarin bilang. Mbak Fitri mungkin nggak dapat tilawahnya, ngerasa capek, tapi lihat agenda seharian ini, dapat ilmu baru, pengalaman baru. Lalu aku denial, bilang, tilawah aku masih bisa nerima. Tapi kenapa aku segini capeknya. Gini aja udah capek gimana nanti kalau udah lebih banyak tanggung jawabnya.
Ummi bilang sedikit, berdoa, minta dikuatin. Kupikir, ya bener sih itu aja senjata yang kita punya, ya nggak. Doa. Bergantung sama Allah. Minta dimampukan sebagaimaan doa yang juga ahir-akhir ini aku minta dalam term yang lebih general. Ternyata alau dispesifikkin bisa sampe segitunya ya.
Lalu aku ingat kata-kata Kak Shanin menjalani kewajiban barunya. Katanya, dulu aku juga males banget ini itu, sekarang, kayak mau aja gitu. Aku gak ngerasa itu tanggung jawab. Aku seneng aja ngelakuinnya.
Menjadi suporter, memang harus selalu bisa melihat dari sisi yang tidak terlihat ya. Mendukung sepenuh hati, mengingat tujuan besar yang dicapai. Menenangkan kala orang lain sedang runyam dan mengeluh yang bisa aja sebenernya bukan keluh, tapi kayak pengen cerita aja, pengen didengar. Memahami kondisi hormonal atau lingkungan atau kondisi sekitar lawan bicaranya.
Ah, tapi suporter yang baik pun perlu bisa menerima dulu. Menerima dengan lapang dan luas lawan bicaranya. Karena kalau enggak, rebutan deh pengen dimengerti duluan. Tidak jadi menenangkan, namun membuat semakin runyam.
.
.
Dear diri,
Kita belajar lagi, ya.
-menerima kalau diri ini capek, sehingga belum bisa seproduktif yang lain.
-menerima kalau aktivitas suatu hari melebihi hari yang lain, sehingga target tilawahnya jauh dari yang diinginkan (at that time aku kebayang, oh ini ya rasanya buibu yang target ngajinya gabisa kayak waktu single karena pasti adaaaa aja hal-hal yang meminta perhatian lebih dari anak, bahkan anak sebesar Fatih pun, sebagaiman aaku melihat Ummi sejak beberapa tahhun silam saat aku masih kuliah)
-menerima kalau diri ini bisa jauh lebih lelah dari baisanya, sehingga sisa harinya kepake buat tidur terus, tapi belajar biar nggak kebablasan
-menerima kalau agenda dakwah semestinya menjadi prioritas, dan belajar gimana ngaturnya biar bisa jadi prioritas-setidaknya sama pentingnya sama rutinitas sehari-hari
-menerima kalau diri ini memang tidak sempurna, dan sebagaimana demikian, karena berarti masih ada ruang untuk tumbuh
-menerima bahwa oh emang diri ini mudah sekali lelah, mungkin karena ternyata jarang ya olahraga
-menerima bahwa bolak balik sejak jam setengah enam kantor-tempat agenda pekanan yang lebih jauh dari rumahku lalu ke depok lagi yang lebih jauh dari jarak sebelumnya ke kantor, lalu mampir kantor untuk ambil barang dan sampai rumah, baru istirahat sejenak sudah harus pergi ke agenda sore, kayaknya kecil dan sepele, tapi buat tubuh ini emang mungkin nggak mudah melaluinya
-menerima bahwa setelah itu aku ketiduran berkali-kali sepanjang perjalanan pulang, setelah terakhir melakukannya Februari 2018
-menerima bahwa susah sekali memotong obrolan hanya untuk pulang duluan dan buka puasa
-menerima bahwa aku adalah kakak dari adik-adik yang kadang mereka berisik di saat aku butuh waktu yang tenang
-menerima bahwa aku adalah dominan i yang kalau sudah banyak sekali terserap energinya oleh kegiatan luar dan interaksi, aku butuh diam, menyendiri, menarik diri dari obrolan, memberi energi untuk diriku sendiri. tapi belum ada waktu untuk itu.
-menerima segala kekhawatiran dan menjadi titik untuk bergantung ke Allah, dengan lebih menghamba
-menerima bahwa tanggal merah barengan sama hari ahad, rasanya ga ikhlas karena aku pengen satu hari lagi buat istirahat
-menerima bahwa keinginan untuk cuti hanya karena pengen istirahat tidak semudah itu
-menerima bahwa orang lain bisa begitu mudah mengiyakan akad lalu mengcancelnya dengan alasan pribadi, yang sesungguhnya rasanya diri ini pun ingin kabur dari amanah yang ada, sesekali
-menerima kalau memang pada saat tertentu perempuan secara hormonal didesain untuk tidak stabil
-menerima bahwa memang ada fase hidup yang membutuhkan perhatian lebih, yang kadang lelah, tapi semestinya bisa senang menjalaninya
-menerima kalau ada teman yang pemahamannya masih jauh sehingga memang sulit menyampaikan hal yang di mata dia ga ideal
-menerima bahwa diri ini kadang kehasut hal-hal ga guna atau membuang waktu, hal-hal yang ga disukai Allah. putuskan kapan harus berhenti.
-menerima pikiran pikiran nanti gimana ya sepanjang materi
-menerima kegemasan diri ini pengen sharing ke orang lain setelah dapat materi kemarin dan hari ini (materi yang berbeda), tapi memang perlu ditahan. tidak bisa sekarang
-menerima kalau diri ini level berjuang dan anticapeknya belum setegar Ummi dan barangkali seluruh ibu di dunia, huhu ini supersalut sih sama semua ibu
-menerima bahwa ada notifikasi chat yang terlihat kuabaikan gegara kukebablasan tidurnya
-menerima bahwa kadang aku pengen rasanya keluar dari keramaian notifikasi wa, uninstal atau left semua grup sementara, saking crowdnya
-menerima kalau Allah kadang kasih hal yang tidak kita suka, justru itu bisa belajar dan membuat kita deket sama Allah, tidak melulu memintanya hilang adalah pilihan terbaik
nggakpapa ya diri, kita belajar ya.
maaf ya kalau aku meminta terlalu banyak, kalau aku menuntut terlalu ideal, kalau aku merasa kesel kenapa kok kayaknya gampang banget capek, kalau aku merasa nggak ada yang nemenin, kenapa aku berkutat di hal-hal dan pikiran itu-itu aja, kenapa aku dan kenapa aku lainnya....
Bersyukur
-Abi dan Ummi dukung kegiatan-kegiatan itu
-Abi dan Ummi kasih izin aku ngapa-ngapain
-Kantor memberi aku ruang untuk belajar hal baru
-Bisa belajar dari para guru dan ibu-ibu, ketika jawaban anaknya usia berapa tidak bisa aku jawab dengan angka, haha
-Abi mau kembali ke masjid lagi buat pinjem barang yang tadi lupa ketika aku sudah menitip
-Abi mau bukain pager
-Abi Ummi mau belajar dari orang lain
-Ummi mau maklum karena komitmen keluarga untuk menjadi pribadi yang bermanfaat buat sekitar, walaupun aku jadi nggak bantuin Ummi nyiapin takjil dan beberes rumah, dan ummi sama sekali nggak keberatan karena kembal lagi, semangat agar keluarga ini bisa kontribusi kebermanfaatan buat yang lainnya. di saat aku kesel sama orang yang cancel karena alasan bantu ibunya (dan aku berpikir, emang aku gamau bantu ibukuuuu huhu)
-Abi Ummi mau kasih spare time ngobrol habis shalat
-Icha mau bantu dan ngorbanin waktu rumahnya
-Ada teman yang mau menjawab dengan lapang hal-hal yang ditanyakan
-Ada anak-anak yang bisa dengan ringannya bilang mau jadi Kak Fitri
-Teteh kasih izin aku untuk ikut agenda di tempat yang lebih dekat dan tanpa sadar membuatku jadi perlu izin rapat
-Pertemuan nggak sengaja dengan Mbak yang dulu aku respect di Jogja
-Ada rumah yang hangat, ada pertemuan dengan adik walau tidak melulu menyenangkan, ada kebersamaan keluarga yang mungkin didambakan banyak orang
-Ada waktu sekedar untuk merem istirahat sejenak walau akhirnya setelahnya aku kebablasan tidur lagi
-Ada teman-teman dan lingkungan kantor yang menyenangkan dan kondusif yang nggak semua orang punya
-Ada teman yang tertarik buat belajar, dan semoga bisa kasih hal baik yang bisa dia pelajari
-Kemarin ketika aku mau cerita betapa capeknya,eh ketemu twitan orang yang doain calon anaknya sambil share hafiz indonesia. Yang aku udah takut kalo ngekik nanti air mataku tumpah saking malunya.
-Karena Allah hadirkan diri ini ke dunia dengan fisik yang sempurna (aku mengingat Naja yang tadi disebut Fahri, beberapa hari lalu aku baca kisah singkat dia. celebral palsy, jalan baru bisa usia dua tahun atau berapa gitu, tapi Allah muliakan ia dengan menitipkan hafalan 30 juz dalam dirinya)
-Ada orang yang mau mendengarkan, dan memberi dorongan semangat, yang aku rasakan sayangnya
-Ada perasan sedih ketika kondisi ruhiyah lagi jauh, lagi nggak khusyuk, lagi mudah mengantuk saat ibadah, lagi nggak ngaji selama tempo beberapa jenak waktu (more than 24hour). Sedih banget sebenernya, tapi seenggaknya, bersyukur masih Allah hadirkan rasa sedih itu.
-Ada pesan yang menyadarkan dari teman, yang rupanya masih mau berbagi sedikit ceritanya.
-Ada orang yang mau berbagi pengalamannya ke banyak orang, dan tanpa sengaja itu membuat aku belajar
-Ada kesempatan untuk kolaborasi bareng yang sudah lama aku inginkan
-Ada orang, yang entah bagaimana cerita di blog ini, udah terlalu banyak keluh dan ketidakfaedahan, masih mau baca ceritaku. Mungkin itu kamu salah satunya. Huhu, jadi terima kasih.
Jadi, terima kasih.
Terima kasih Allah, Abi Ummi, adik-adik, kantor, lingkungan sekitar, teman-teman, anak-anak, juga barangkali kamu, yang mau repot-repot maish main ke laman ini.
Terima kasih diri.
Penerimaan diri mungkin sulit. Tapi aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang support. Contohnya Ummi tadi, waktu aku kesel bilang, kenapa sih orang gampang banget cancel dengan alasan mau bantu ibunya di rumah. Emang aku ga mau bantu Ummi? Emang aku juga ga ngerasa bersalah ga bantu Ummi.
Ummi dengan sangat ringan bilang, kalau Ummi, kalau keluarga kita tahu bermanfaat buat orang lain juga salah satu tujuan. Ummi nggak keberatan siapin takjil nggak dibantu, karena tahu Mbak Fitri ke luar buat kebermanfaatan. Ada wajah-wajah yang senang dan kegembiraan untuk orang lain setelahnya. Contoh lain, misalnya. Ummi praktek sampe sore atau ngisi radio dan pulang mepet, yaudah satu dua kali beli nggak masak juga nggak masalah. Atau misalnya kondisi rumah yang berantakan yang bisa dimaklumi oleh kami semua. (Aku selalu kagum sih Abi hampir nggak pernah protes makan apa aja yang ada, beli atau umi masak cuma rebus-rebus aja, atau juga kondisi rumah yang berantakan) Selalu ada prioritas, dan selama tau apa yang dituju, hal-hal kecil tidak pernah jadi masalah.
Atau Ummi kemarin bilang. Mbak Fitri mungkin nggak dapat tilawahnya, ngerasa capek, tapi lihat agenda seharian ini, dapat ilmu baru, pengalaman baru. Lalu aku denial, bilang, tilawah aku masih bisa nerima. Tapi kenapa aku segini capeknya. Gini aja udah capek gimana nanti kalau udah lebih banyak tanggung jawabnya.
Ummi bilang sedikit, berdoa, minta dikuatin. Kupikir, ya bener sih itu aja senjata yang kita punya, ya nggak. Doa. Bergantung sama Allah. Minta dimampukan sebagaimaan doa yang juga ahir-akhir ini aku minta dalam term yang lebih general. Ternyata alau dispesifikkin bisa sampe segitunya ya.
Lalu aku ingat kata-kata Kak Shanin menjalani kewajiban barunya. Katanya, dulu aku juga males banget ini itu, sekarang, kayak mau aja gitu. Aku gak ngerasa itu tanggung jawab. Aku seneng aja ngelakuinnya.
Menjadi suporter, memang harus selalu bisa melihat dari sisi yang tidak terlihat ya. Mendukung sepenuh hati, mengingat tujuan besar yang dicapai. Menenangkan kala orang lain sedang runyam dan mengeluh yang bisa aja sebenernya bukan keluh, tapi kayak pengen cerita aja, pengen didengar. Memahami kondisi hormonal atau lingkungan atau kondisi sekitar lawan bicaranya.
Ah, tapi suporter yang baik pun perlu bisa menerima dulu. Menerima dengan lapang dan luas lawan bicaranya. Karena kalau enggak, rebutan deh pengen dimengerti duluan. Tidak jadi menenangkan, namun membuat semakin runyam.
.
.
Dear diri,
Kita belajar lagi, ya.
Rumah,
sudah 20 Mei 2019
1.16
mengganjal sejak Sabtu
Selasa, 14 Mei 2019
Doa Khatmil Quran
Mencari Keberkahan Waktu (2)
"Karena waktu yang panjang, atau luang, yang bahkan kita usahain gak melakukan hal lain dulu (yang bisa jadi lebih wajib atau udah ada janjian duluan) biar suatu task bisa kelar, belum tentu jamin kita produktif di ngerjain task itu. Bisa jadi tergantung berkahnya waktu itu."-seseorang Jumat lalu, dan, ternyata nyambung juga sama postingan ini.
Istiqlal Hari Ini-3: Lingkungan yang Baik
Dari seantero perjanjian antara aku dan teman-temanku, rasanya baru kali ini disebutkan tepat bertemu: Istiqlal.
Bukan tempat makan, mungkin memang karena kami puasa.
Tapi benarlah kata orang-orang, pergilah ke tempat yang baik, maka kamu akan bertemu orang yang baik.
Dari awal Kay ngajak ketemu, Kay sudah bilang:
ketemunya pagi aja biar buka puasanya bisa sama keluarga dan sholat tarawih ๐
Aku senyum. Senang. Kay berbeda dengan orang-orang yang cenderung ingin ketemu untuk bukber ketika bulan puasa.
Lalu yang bikin aku amaze lagi, tempat ketemunya: Istiqlal. Memang benar sulit ketika lagi puasa ketemu siang-siang di public space. Terus juga orangnya dari mana-mana jadi perlu mencari titik tengah. Ketemu di masjid benar-benar mengingatkan pada masa-masa ideal di sekolah, atau masa-masa di Jogja. Aih, rindu.
Padahal, sebagaimmana orang tahu. Aku malas pergi-pergi. Udah gitu kalau ke Jakarta manapun entah kenapa rasanya jauh, hihi. Berkebalikan banget sama Ima yang bagi dia Jakarta manapun dekat.
#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019
Bukan tempat makan, mungkin memang karena kami puasa.
Tapi benarlah kata orang-orang, pergilah ke tempat yang baik, maka kamu akan bertemu orang yang baik.
Dari awal Kay ngajak ketemu, Kay sudah bilang:
ketemunya pagi aja biar buka puasanya bisa sama keluarga dan sholat tarawih ๐
Aku senyum. Senang. Kay berbeda dengan orang-orang yang cenderung ingin ketemu untuk bukber ketika bulan puasa.
Lalu yang bikin aku amaze lagi, tempat ketemunya: Istiqlal. Memang benar sulit ketika lagi puasa ketemu siang-siang di public space. Terus juga orangnya dari mana-mana jadi perlu mencari titik tengah. Ketemu di masjid benar-benar mengingatkan pada masa-masa ideal di sekolah, atau masa-masa di Jogja. Aih, rindu.
Padahal, sebagaimmana orang tahu. Aku malas pergi-pergi. Udah gitu kalau ke Jakarta manapun entah kenapa rasanya jauh, hihi. Berkebalikan banget sama Ima yang bagi dia Jakarta manapun dekat.
#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019
Kamis, 09 Mei 2019
Mencari Keberkahan Waktu
Waktu itu Abidah izin nelpon, dia bilang hanya 10 menit, rupanya jadi sekitaran 30 menit.
Maret, sebelum ke Klaten. Saat banyak deadline mampir dan menghampiri. Saat rasa-rasanya ragu, apakah bisa semua konten selesai sebelum April, lalu cetak dummy dsb. Apakah kalau ikut ke Klaten (tadinya aku pikir aku nggak ikut), aku tetap bisa submit naskah buat seleksi pelatihan, tetap bisa handle kepanitiaan acara. Dan apakah bisa semua berjalan sesuai timeline. Termasuk targetan testing dan development yang belum usai.
Lalu aku bilang soal mencari keberkahan waktu, yang kala itu pernah jadi status whatsappku. sekaligus reminder buat diri sendiri. "Bid," kubilang, "Di kayak gini aku cuma bisa berharap sama keberkahan waktu."
Aku ndak mau alasan-alasan kesibukan atau pekerjaan yang satu jadi mematikan pekerjaan yang lain, atau jadi alasan untuk ga jadi submit naskah, atau jadi alasan untuk membatalkan amanah yang sudah diambil sebelumnya. Is it easy? Tentu saja tidak. Nguatin diri sendiri bahwa ini sekarang waktunya buat aktivitas yang lain, bukan lagi kerjaan, kadang-kadang ya ada penolakan juga. Tapi memang perlu diingat lagi itu adalah hak tubuh yang lainnya. Kuatin niatnya, inget tujuannya. Kan hidup orientasinya nggak satu kerjaan aja terus hidup mati di sana. Ada aktivitas lainnya yang bisa jadi itu justru jadi pemberat amal kita.
***
Dulu waktu kelas 9, tarawih di masjid sekolah. Ramadhannya beririsan sama masa-masa UTS atau UAS entahlah, namun intinya sama: pekan ujian.
Ada sekumpulan adik-adik kelas, kelas 7 yang hanya ikut takbiratul ihram, lalu saat jamaah sudah shalat--mungkin saat sudah mulai Al Fatihah, mereka membatalkan shalatnya, duduk, membaca buku. Aku ingat sekai cover hijau putih berjudul, IPS Terpadu. Aih, mungkin tidak tepat disebut bata kalau dari awa memang hanya berpura-pura, agar terlihat guru yang ikut shalat di masjid.
Adik-adik ini belajar. Untuk ujian. Meninggalkan tarawih dan mereka masih di shafnya. Nanti saat tarawihnya mendekati salam, mereka akan duduk umpama orang tahiyat, lalu ikutan salam. Sehingga guru asrama yang ada satu shaf depan mereka tidak akan menangkap kegiatan curi-curi waktu yang mereka gunakan selama shalat tarawih untuk belajar ujian. Sedih sekali melihatnya
Aku tidak ingat apakah momen ini atau ada momen lain, atau siapa yang memberi nasehat, yang memberikan aku insight bahwa semua punya waktunya masing-masing. Semua punya porsinya.
Ada waktu ibadah, ada waktu mendengar ceramah, ada waktu tilawah, ada waktu belajar di kelas, ada waktu diskusi, ada waktu belajar dalam forum, ada waktu mandiri, ada waktu makan, semua punya porsi waktunya.
Dan aku lupa momen apa yang membuatku berusaha menerapkannya.
Sehingga saat aliyah, saat ada kajian bada subuh di masjid sementara hari itu ulangan. Aku berusaha tidak membaca catatan kecil atau buku catatan-yang semula bisa dibawa ketika menunggu atau nanti dibaca di perjalanan. Ini waktunya kajian bada subuh. Dengarkan. Dengarkan dengan baik, tidak disambi.
Atau juga saat muhadharah bada zuhur. Dengarkan, tidak disambi belajar. Tidak ditinggal tilawah mengejar targetan. Usahakan. Atau ketika ceramah tarawih, kadang aku melihat ada saja orang yang memiih tidak mendengarkan dan mengejar targetan tilawahnya. Tapi aku berusaha menanamkan pada diri bahwa, ini sekarang haknya penceramah untuk didengar, haknya aku untuk mendapatkan pelajaran Jadwalnya saat ini ceramah tarawih, bukan waktunya tilawah. Sehingga, nggak jadi baper juga kalau tilawahnya udah kekejar sama yang lain. Toh ada yang kita penuhi haknya pada saat yang sama.
Karena setiap waktu punya porsinya, dan setiap agenda ada waktunya.
Kadang rasanya memang gemas, kayak, aku pengen banget belajar ini, tadi belum selesai belajarnya. Baca pas kajian aja apa ya? Menyingkir ke ruang permadani (perpustakaan masjid insan cendekia) aja apa ya habis shalat? Biar nggak keliatan-keliatan amat kalau ada yang di mimbar kalo lagi sibuk sendiri.
Tapi pengalaman tadi waktu mts atau entah pengalaman yang mana membuatku sampai hari ini percaya bahwa ada hak-hak dan kewajiban yang perlu ditunaikan. Hak untuk menuntut ilmu, kewajiban mendengarkan dan menghargai orang lain yang berbicara dan mengisi, hak tubuh untuk dicharge imannya, untuk belajar.
Apa tidak khawatir nanti ulangan nggak bisa? Atau sebel sendiri karena waktunya bisa dipakai (egois) untuk mengisi diri sendiri pelajaran yang mau diujianin?
Tentu saja khawatir.
Makanya berharapnya hanya pada keberkahan waktu. Minta sama Allah dikasih keberkahan waktu. Agar pada waktu yang sempit, yang sedikit, yang terbatas, Allah kasih keberkahan. Allah beri kemudahan. Karena diri ini mau berusaha memenuhi hak-haknya. Keberkahan waktu, udah itu aja satu-satunya alternatif biar masih bisa mengusahakan apa yang perlu diusahakan, dan memenuhi hak terhadap waktu yang sudah dijadwalkan, oleh sistem, oleh hal-hal yang diikuti, dan lain sebagainya.
Jadilah waktu itu, di tengah segala kekhawatiran dan ketakutan akan melewati deadline, akan banyak hal yang kelewat, akan banyak hal yang nggak memenuhi ekspektasi, akan batas watu yang semakin dekat sementara pekerjaan meminta banyak, juga amanah yang belum tuntas di suatu kepanitiaan, cuma bisa mengarahkanku pada: meminta keberkahan waktu sama Allah, meminta keberkahan waktu dari Allah.
Biar Allah yang kasih jalannya, dan diri ini masih bisa memenuhi amanah-amanah di berbagai tempat. Sekitaran ke Klaten itu, aku pusing banget rasanya. Load testing, load konten, deadline ikutan seleksi pelatihan menulis, load pegang amanah jadi ketua acara dan CP konfirmasi peserta yang meski ga gede-gede banget aku tahu aku nggak maksimal di situ, bahkan udah ga mampu merekap peserta sepulang dari bandara di Damri. Sudah terlalu lelah.
Tapi yang bisa diusahakan, hari H acara tetap standby sama acaranya, nggak nyambi ngerjain yang belum selesai. Habis itu ngejar targetan dan naskah buat seleksi, ke kantor, ngusahain biar kondusif. Berusaha nggak pake nyalah-nyalahin kenapa awalnya nggak perlu ke klaten jadi harus ikut, atau ngga pake nyalah-nyalahin kenapa aku mau jadi ketua dan ga izin aja, dsb dsb.
Yang aku akui masih belum mampu, belum bisa kayak yang Kak Ridho suka bilang, "Ane kerasa banget, kalau kualitas ibadahnya nurun, produktivitas kerjanya juga nurun." Ini senada sama postingan lalu-lalu yang aku nanya ke Ima gimana biar tilawahnya bsia teratur. PR banget ini masihan buatku.
Hem, mungkin ada yang melihat aku terlihat strict ya. Atau kok kayaknya kaku banget.
Tapapa. Hanya berusaha menempatkan hal-hal pada tempatnya.
Meski ku tahu kujuga masih proses belajar ke sana. Ke kondisi ideal itu. Banget.
Fitri,
yang masih belajar
sudah lama tulisan ini ingin ditulis
Maret, sebelum ke Klaten. Saat banyak deadline mampir dan menghampiri. Saat rasa-rasanya ragu, apakah bisa semua konten selesai sebelum April, lalu cetak dummy dsb. Apakah kalau ikut ke Klaten (tadinya aku pikir aku nggak ikut), aku tetap bisa submit naskah buat seleksi pelatihan, tetap bisa handle kepanitiaan acara. Dan apakah bisa semua berjalan sesuai timeline. Termasuk targetan testing dan development yang belum usai.
Lalu aku bilang soal mencari keberkahan waktu, yang kala itu pernah jadi status whatsappku. sekaligus reminder buat diri sendiri. "Bid," kubilang, "Di kayak gini aku cuma bisa berharap sama keberkahan waktu."
Aku ndak mau alasan-alasan kesibukan atau pekerjaan yang satu jadi mematikan pekerjaan yang lain, atau jadi alasan untuk ga jadi submit naskah, atau jadi alasan untuk membatalkan amanah yang sudah diambil sebelumnya. Is it easy? Tentu saja tidak. Nguatin diri sendiri bahwa ini sekarang waktunya buat aktivitas yang lain, bukan lagi kerjaan, kadang-kadang ya ada penolakan juga. Tapi memang perlu diingat lagi itu adalah hak tubuh yang lainnya. Kuatin niatnya, inget tujuannya. Kan hidup orientasinya nggak satu kerjaan aja terus hidup mati di sana. Ada aktivitas lainnya yang bisa jadi itu justru jadi pemberat amal kita.
***
Dulu waktu kelas 9, tarawih di masjid sekolah. Ramadhannya beririsan sama masa-masa UTS atau UAS entahlah, namun intinya sama: pekan ujian.
Ada sekumpulan adik-adik kelas, kelas 7 yang hanya ikut takbiratul ihram, lalu saat jamaah sudah shalat--mungkin saat sudah mulai Al Fatihah, mereka membatalkan shalatnya, duduk, membaca buku. Aku ingat sekai cover hijau putih berjudul, IPS Terpadu. Aih, mungkin tidak tepat disebut bata kalau dari awa memang hanya berpura-pura, agar terlihat guru yang ikut shalat di masjid.
Adik-adik ini belajar. Untuk ujian. Meninggalkan tarawih dan mereka masih di shafnya. Nanti saat tarawihnya mendekati salam, mereka akan duduk umpama orang tahiyat, lalu ikutan salam. Sehingga guru asrama yang ada satu shaf depan mereka tidak akan menangkap kegiatan curi-curi waktu yang mereka gunakan selama shalat tarawih untuk belajar ujian. Sedih sekali melihatnya
Aku tidak ingat apakah momen ini atau ada momen lain, atau siapa yang memberi nasehat, yang memberikan aku insight bahwa semua punya waktunya masing-masing. Semua punya porsinya.
Ada waktu ibadah, ada waktu mendengar ceramah, ada waktu tilawah, ada waktu belajar di kelas, ada waktu diskusi, ada waktu belajar dalam forum, ada waktu mandiri, ada waktu makan, semua punya porsi waktunya.
Dan aku lupa momen apa yang membuatku berusaha menerapkannya.
Sehingga saat aliyah, saat ada kajian bada subuh di masjid sementara hari itu ulangan. Aku berusaha tidak membaca catatan kecil atau buku catatan-yang semula bisa dibawa ketika menunggu atau nanti dibaca di perjalanan. Ini waktunya kajian bada subuh. Dengarkan. Dengarkan dengan baik, tidak disambi.
Atau juga saat muhadharah bada zuhur. Dengarkan, tidak disambi belajar. Tidak ditinggal tilawah mengejar targetan. Usahakan. Atau ketika ceramah tarawih, kadang aku melihat ada saja orang yang memiih tidak mendengarkan dan mengejar targetan tilawahnya. Tapi aku berusaha menanamkan pada diri bahwa, ini sekarang haknya penceramah untuk didengar, haknya aku untuk mendapatkan pelajaran Jadwalnya saat ini ceramah tarawih, bukan waktunya tilawah. Sehingga, nggak jadi baper juga kalau tilawahnya udah kekejar sama yang lain. Toh ada yang kita penuhi haknya pada saat yang sama.
Karena setiap waktu punya porsinya, dan setiap agenda ada waktunya.
Kadang rasanya memang gemas, kayak, aku pengen banget belajar ini, tadi belum selesai belajarnya. Baca pas kajian aja apa ya? Menyingkir ke ruang permadani (perpustakaan masjid insan cendekia) aja apa ya habis shalat? Biar nggak keliatan-keliatan amat kalau ada yang di mimbar kalo lagi sibuk sendiri.
Tapi pengalaman tadi waktu mts atau entah pengalaman yang mana membuatku sampai hari ini percaya bahwa ada hak-hak dan kewajiban yang perlu ditunaikan. Hak untuk menuntut ilmu, kewajiban mendengarkan dan menghargai orang lain yang berbicara dan mengisi, hak tubuh untuk dicharge imannya, untuk belajar.
Apa tidak khawatir nanti ulangan nggak bisa? Atau sebel sendiri karena waktunya bisa dipakai (egois) untuk mengisi diri sendiri pelajaran yang mau diujianin?
Tentu saja khawatir.
Makanya berharapnya hanya pada keberkahan waktu. Minta sama Allah dikasih keberkahan waktu. Agar pada waktu yang sempit, yang sedikit, yang terbatas, Allah kasih keberkahan. Allah beri kemudahan. Karena diri ini mau berusaha memenuhi hak-haknya. Keberkahan waktu, udah itu aja satu-satunya alternatif biar masih bisa mengusahakan apa yang perlu diusahakan, dan memenuhi hak terhadap waktu yang sudah dijadwalkan, oleh sistem, oleh hal-hal yang diikuti, dan lain sebagainya.
Jadilah waktu itu, di tengah segala kekhawatiran dan ketakutan akan melewati deadline, akan banyak hal yang kelewat, akan banyak hal yang nggak memenuhi ekspektasi, akan batas watu yang semakin dekat sementara pekerjaan meminta banyak, juga amanah yang belum tuntas di suatu kepanitiaan, cuma bisa mengarahkanku pada: meminta keberkahan waktu sama Allah, meminta keberkahan waktu dari Allah.
Biar Allah yang kasih jalannya, dan diri ini masih bisa memenuhi amanah-amanah di berbagai tempat. Sekitaran ke Klaten itu, aku pusing banget rasanya. Load testing, load konten, deadline ikutan seleksi pelatihan menulis, load pegang amanah jadi ketua acara dan CP konfirmasi peserta yang meski ga gede-gede banget aku tahu aku nggak maksimal di situ, bahkan udah ga mampu merekap peserta sepulang dari bandara di Damri. Sudah terlalu lelah.
Tapi yang bisa diusahakan, hari H acara tetap standby sama acaranya, nggak nyambi ngerjain yang belum selesai. Habis itu ngejar targetan dan naskah buat seleksi, ke kantor, ngusahain biar kondusif. Berusaha nggak pake nyalah-nyalahin kenapa awalnya nggak perlu ke klaten jadi harus ikut, atau ngga pake nyalah-nyalahin kenapa aku mau jadi ketua dan ga izin aja, dsb dsb.
Yang aku akui masih belum mampu, belum bisa kayak yang Kak Ridho suka bilang, "Ane kerasa banget, kalau kualitas ibadahnya nurun, produktivitas kerjanya juga nurun." Ini senada sama postingan lalu-lalu yang aku nanya ke Ima gimana biar tilawahnya bsia teratur. PR banget ini masihan buatku.
Hem, mungkin ada yang melihat aku terlihat strict ya. Atau kok kayaknya kaku banget.
Tapapa. Hanya berusaha menempatkan hal-hal pada tempatnya.
Meski ku tahu kujuga masih proses belajar ke sana. Ke kondisi ideal itu. Banget.
Fitri,
yang masih belajar
sudah lama tulisan ini ingin ditulis
Belajar dan Baca Buku
Kemarin Senin Kak Amri ngisi meet up dengan knowledge sharing dari buku. Terus selama bicara, bertanya pada audiens, banyak hal. Tentang tau ini nggak, tau tokoh ini gak, pernah denger ini nggak, pernah nonton ini nggak?
Tapi audiens sepi.
.
Aku jadi malu. Sama diri sendiri. Lama nggak menutrisi diri ini dengan bacaan bergizi. Heu.
#sisakemarin #senin
Tapi audiens sepi.
.
Aku jadi malu. Sama diri sendiri. Lama nggak menutrisi diri ini dengan bacaan bergizi. Heu.
#sisakemarin #senin
Jumat, 26 April 2019
Lesson Learn 24-26 April 2019
1. Hubungan manusia ke manusia itu cerminan hubungan manusia sama Allah
-kata-kata my fav girls yang saat ini tidak menemani di ruangan. Jadi ingat ingin menulis obrolan sama mereka tentang dekat dengan Alquran belum jadi-jadi.2. Belajar ndak menyerah dan berjuang lebih keras
setelah segala lelah sepagian (u can guess from last post that i draft), sorenya aku dapat email kalau naskah yang aku ikutin seleksi belum rezekinya lagi :") Jadi emang judul April ini semacam bulan penolakan //gaboleh ngomong gitu nanti jadi doa *kata bedah buku magnet rezekinya kak big//, sampai tanggal 23 kemarin aja ya semogaaaaa. Ada naskah bardbook yang tahun ini aku kirim lagi ke penerbit lain setelah 2017 belum rezeki~yang ditolak waktu hari buku anak 2 april kemarin. ada naskah cerpen kartiniku yang aku mentorin lagi ke mas teguh dan itu idenya udah dikirim dari 2017 sebagai rubrik opini umum gitu, lalu 2018 aku kirim as cerpen juga cuman mungkin terlalu mepet ngirimnya, tahun ini aku sampakan lagi pada peraduan. tapi namanya belum rezeki ya gimana yaa. mungkin aku kelewat pede dan salah juga ga nyoba kirim ke media cetak lain (untuk yang mau kasi feedback boleh kasi email nanti kukirim insya Allah). lalu terakhir yang kemarin ditolak 23 april, waktu hari buku. naskahnya dulu sempat diapresiasi waktu pelatihan soal 3 paragraf pertama di Bandung Februari lalu, meski tetap ada masukan juga. kemarin aku kerjakan masukannya namun memang belum rezeki :")) Hanya lucu aja, semua momen penolakan naskahnya pas hari buku anak, hari di mana diperingati karena Kartini menulis, dan hari buku. Masya Allah, bagus sekali untuk dikenang.
Tapi ada teman pelatihanku yang lolos. Namanya Mas Dwi, dulu peserta pelatihan Si Bintang juga di Jogja November lalu. Positifnya jadi ada obrolan di grup itu lagi. Mas Dwi dulu juga bantu aku kasih masukan ke naskah boardbook yang aku kirim. Aku masih ingat wajah beliau yang runyam waktu mikir revisi berjenjang selama workshop. Namun memang pengalaman beliau sudah lebih banyak. Mas Dwi ini kalo aku liat mirip ayahnya temenku hihi. Aku minta belajar dari naskah mentah beliau tapi rupanya pihak pelatihan yang sekarang melarang ngeshare naskah mentahnya.
Lalu juga membuka obrolan soal peserta yang lulus Gerakan Literasi Nasional. Daeng Gegge yang lolos GLN juga dulu sempat kasih testimoni susah banget ya bikin naskah buku anak tuh. Waktu pelatihan di Jogja, Daeng sebagai salah satu petinggi di FLP yang udah nulis buku buat umum, pertama kali nulis buku anak di pelatihan ini dan mengungkapkan kesulitannya. Jadi ya sama-sama. Tapi Daeng meski belum punya portofolio, nekat bikin aja buku anak indie sendiri, ngusahsin nyetak sendiri dan urus ISBN, sama ya cantumin aja buku hasil pelatihan FLP di portofolionya walau belum jadi. Lalu Daeng lolos dooong peserta GLN yang kemarin seleksinya emang mengharuskan punya portofolio buku dulu :") Malah tempat beliau nyetak buku, juga ikut seleksi, lalu tidak lolos. Memang ya rezeki Allah itu ndak bisa ditebak, tapi selalu ada, dalam bentuk yang tepat untuk setiap hambanya :")
Aku ga kut seleksi GLN karena ga ada portofolio dan waktu itu udah japri panitia buat nanya, tapi ternyata gaes, masih ada jalan menuju Roma ya. Itu lihat Daeng Gegge juga ndak nyerah gitu aja, cobain aja tetep kirim berkas, usahain apa yang bisa diusahain. Emang kalo ga nyoba ya kemungkinan kalah langsung 100%, kalo nyoba kan seenggaknya punya modal awal menang alias lolos seleksi 50% :") Aku terharu sih sama perjuangan suhu-suhu dan senior-seniorku di grup ini.Lalu soal seleksi satunya juga aku belajar. Ini kegagalanku yang keempat. Tapi ya setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing menuju sukses. Aku japrian sama Kak Marissa dan Kak Marissa cerita tentag kata-kata Dinda, teman kami juga. Dia pernah bilang ke Kak Marissa tentang kegagalan Kak Mar, dibilang, "baru 8 kan Mar, yaudah coba lagi aja...."
Kata Kak Mar, mungkin rezeki kit nanti di percobaan ke 10, atau ke 12. Kalo berhenti sekarang gak ketemu, hahaha. Walau capek. Gapapa, niatnya karena senang kan?"
Kak Marissa pernah tanya aku beberapa kali kayaknya, tapi senang kan Fit ngelakuinnya?

Momen ini jug membuat aku dapat suntikan semangat dari orang-orang yang percaya gitu sama keinginanku. Huhu aku terharu dapet japrian. dapet virtual hug juga dari arum.

Kemarinnya juga habis baca tulisannya Masgun tentang mengejar mimpi. Lalu hari ini pas dapet pengumuman ini juga sempat bahas mimpi dan levelnya. Aku pun pernah ada pada pikiran, apakah ini bener yang aku pengen? Apakah aku betulan ingin menulis cerita anak? Bagaimana kalau nanti berubah? Bagaimana jika aku tiba-tba merasa nggak mau lagi mengejar impian ini? Bagaimana kalau ternyata hal itu mengecewakan orang, bahkan orang terdekat yang mendukungku? Atau bagaimana jika setelah terwujud, euforia membuatku berhenti? Atau bagaimana jika aku mentok kalau udah terwujud, kayak bingung habis ini apa ya?
Padahal mah ya jangan mikir gitu atuh Fit. Ayo menanam dan menumbuhkan pikiran baik dan positif biar hidupnya penuh energi positif. Kayaknya emang butuh banget ni aku pikiran-pikiran positif, perasaan-perasaan posiitif, dan motivasi positif.
Ohiya, ini dak terlau penting sih (kayak tulisan ini penting aja woi), kemarin waktu rasanya lagi sedih tu, denger lagu yang isinya ungkapan sayang ayah ke anak Kayak jadi oase aja dari kegersangan lagu yang kalo isinya perasaan antar lawan jenis seringnya. manis ya. terus di videoklipnya ada buku summerhill school yang dijadiin panduan dan referensi temenku dalam mendidik bahkan dia taruh di proposal nikahnya 2017 lalu. jadi penasaran sama isi bukunya (padahal umi lagi nyuruh baca macem-macem ehe). terus reflek sama lagu hatiku sedihnya film musikal sherina. emang yang reflek-reflek susah diboongin ya tentang isi hati dan perasaan. ckckck.
Kepikir mau cerita tentang tidak lolos ini tapi ternyata sarannya sebaiknya ga usah.
3. Momen Kecil yang Membahagiakan
Salah satu hal menyenangkan kalo lagi ngerasa down adalah dihubungin orang-orang. Pernah suatu ketika di tahun lalu perasaanku lagi ga enak banget, temen KKNku tiba-tiba weh nelpon. Aku langsung ke balkon dan aku kayaknya pas itu sampe nangis bentar gara-gara seneng banget disapa orang lama ngga ketemu dan ngga bertukar kabar di tengah segala perasaan lelah.
Lalu kemarin Selasa juga gitu. Tiba-tiba saja Ayah Umak KKN ku nelpon dari Madinah :") video call bahkan di perjalanan ke stasiun. Terus ada beberapa japri, ada diskusi kecil, ada inspirasi besar, ada perasaan senang membagi duniaku ke orang lain. Senang sekali rasanya dikelilingi teman-teman yang baik dan supportif. Senang sekali disapa, dijapri bahkan sesederhana, Fit kalu mau ngerjain di mushala nggakpapa, meski temenku ini nebaknya aku cukup down dengan hal satu, namun waktu itu aku lebih sedih lagi karena ditolak :"). Tapi yaudah, everything shall pass. And what doesn't kill you make you stronger.
4. Fokus
Rabu waktu aku pulang, aku kepleset di tangga. Sudah berdiri dari posisi semi jatuh dan melangkah lagi, aku kepleset lagi. Membuat panik kaka-kaka yang melihat saja....
Pulangnya di perjalanan hampir nyerempet atau kesrempet orang (entah mana yang hampir nyerempet mana yang diserempet)). Pagi kemarin hampir nabrak orang. Aku jadi bertanya-tanya kenapa ya aku? Susah fokus apa aku akhir-akhir ini?Tapi emang fokus lagi menjadi tantangan sih kalau aku coba merenungi beberapa tindakanku hari-hari belakangan. entah mengapa
5. Merenung
Aku butuh kontemplasi ni kayaknya. Butuh banyak ngobrol sama Allah.
Itu isi kepalaku di perjalanan pulang saat hampir sampai rumah, Selasa atau Rabu lalu. Belum done tapi huhuhu.
6. Belajar
Memang ya, Allah ga akan ngebiarin hambaNya ga diuji walau sedikit saja. Sedih ujian, senang juga ujain. Jadi emang lagi kerasa, saat membulatkan tekad, mau jadi lebih baik di suatu hal. Langsung Allah kasih aku ujiannya. Lalu aku gagal melewatinya :"""""
Lalu Allah kasih aku lagi ujian yang mirip karena aku ndak berhasil melewatinya.
Sungguh pas banget ujiannya sama apa yang sudah aku niatkan. Padahal waktu ga diniatin, ga ada tuh ujian kek gitu. Masya Allah ya :""""
Jadi kepikir, memang kalau mau menghindari atau lulus dari suatu ujian. Bisa jadi yang bisa diusahakan di skup kecil adalah menjauhi triggernya :")
7. Menjadi Orang Tua
Kemarin diskusi soal beberapa prinsip sama teman, tentang value yang diajarkan orang tua yang kok kayakanya kacamata manusia kita masih sulit ya nerapin itu di kehidupan sehari-hari. Lalu aku jadi kepikir, masya Allah, susah banget ya jadi orang tua. Bagaimana anak mau nurut tapi bukan karena takut, karena tau kalau itu memang perintang untuk menaati Allah. Soalnya kalo karena takut gitu nanti anak cari aman deh, yaudah gapapa kalo ga ketahuan, hihihi.
Tapi kata Ummi emang, jangan dipikir takutnya. Mirip semangat dari Kak Big waktu bedah buku magnet rezeki nih, ubah pikirannya jadi bisa. Insya Allah Allah mampukan.
8. Menjadi Orang Tua part 2
Tadi pagi lihat igstori kak Asti tentang GTM (Gerakan tutup mulutnya Hafshah). Terus ada beberapa poin soal minta ke Allah supaya anaknya mau makan. Tertulis, mungkin ini sebuah permintaan receh ke Allah, tapi kalau ga minta sama Allah terus sama siapa lagi?
Lihat juga wastory Suci tentang cerita keahiran anaknya (cepat sekali ci hampir setahun berlalu sejak kamu menikah :")). Yang masya Allah dimudahkan sekali Mulai dari afirmasi positif, dukungan keluarga, dan pengharapan ke Allah, usaha dan doa. Terharu :"). Luar biasa ya orang tua tuh. Tapi lebih luar biasa lagi orang tua yang sepenuh hati doa, ikhtiar, dan tawakal ke Allahnya kerja bareng-bareng. Semoga Allah kuatkan dan mampukan.



9. Doa yang Panjang
Tadi aku lihat seorang Kakak, yang baru saja usia menikahnya 11 harian. Doanya lama usai zuhur. Aku tersenyum haru bahkan sampe berkaca-kaca. Peran baru, amanah baru, keluarga baru. Aih, banyak sekali tentu pinta yang perlu dilangitkan, soal kesakinahan keluarga, soal kekuatan menjalani peran dan amanah baru, soal menjadi sebaik-baik istri untuk suaminya, soal kekompakan keluarga. Karena kalau ngga minta ke Allah, ke siapa lagi dong ya? :") Pantas saja ya doa ibu makin panjang Makin banyak anaknya juga mungkin akan bertambah panjang :"")
Ya itu tebakan dan kesoktauan aku aja sih. Tapi rasanya manis :")
10. Apa yang Disenangi
Aku pernah punya rasa penolakan dalam diri mengerjakan sesuatu yang aku tahu itu bukan pengejaranku jangka panjang Tidak ada dalam rencana-rencana atau keinginan.
Tapi kemudian tersadar aja kemarin, ah ternyata aku masih egois ya, menghindar karena itu. Padahal kan masih relate sama pekerjaan. Dan pekerjaan juga amanah. Dan akhirnya hal tersebut pun kuusahakan jua :")
Satu dua aku kadang sampai juga pada pertanyaan, apa sudah menjalani apa yang diinginkan? Walau ya aku senang dan sayang kok dengan pekerjaan sekarang Tapi kadang-kadang ada aja tu muncul momen begitu. Hehe, emang manusiaaa manusia. Bingung ya? Maksudku, kadang aku nanya, kenapa ngerjain ini itu tapi ga bisa ngebela-belain buat nulis. Kenapa willingnessku menambah skill di bidang kerjaan ngga semenggugah dan seinisiatif buat ikut dan daftar-daftar di bidang menulis. Duh apa aku mesti diwork on lagi kayak waktu itu. Nggak mau tapi adang rindu. Rindu semangatnya :") Ckckck, manusia. Hayo Fit, ga bisa apa emang ga agendain? ga bisa apa emang ga meluangkan waktu? ga bisa apa ga mau?
11. Fahri UN, Fatih Sakit
Fahri ujian nasional. Sebenarnya niatan aku dari pekan lalu, aku pengen pulang sore terus sepanjang Fahri UN. Tapi ternyata itu tidak kuusahakan maksimal. Aku masih menjadi budak bukan tuan pekerjaan dan ndak memprioritaskan huhuhu.
Apa ya, ada perasaan pengen nunjukin dukunganku ke Fahri. Kemarin-kemarin pun selama Fahri UN, kalau aku kalah oleh lelah, aku bahkan tidur duluan daripada dia. Meskipun hanya erbaring dan melihat langit-langit. Ngobrol sendiri maupun sama Allah. Jadilah mulai hari keberapa kemarin itu, pokoknya pagi harus salim, harus ngasih semangat, gitu kataku ke diri sendiri. Suka malu kalau dia belajar, atau pas liat aku pagi-pagi, akunya malah sibuk sama HP. Itu di aku perasaannya kayak, ini gue lagi berusaha, si kakak kok kayaknya enak banget ya. Kan kalo lagi berjuang enaknya dapet temen berjuang bareng-bareng ya :"), jadi aku tu niat awalnya pengen jadi temen berjuang dia... Dulu aku UN SMP SMA selalu sama temen-temen asrama. Jadi kerasa semua orang berjuang gitu. Aku senang juga dia pakai rumus yang kurangkumin dari bukunya :")
Memang being elder sister rasanya suka ngga mudah.
Fatih sakit. Tapi tadi pagi ngomongnya sudah banyak. Sudah bisa melucu. Sudah bisa ngasih soal ke aku tentang faktorial (padahal aku baru tau faktorial juga SMA). Kadang ngerasa bersalah kalau Fatih lagi banyak cerita akunya lagi balesin pesan jadi ga fokus sama dia. Dia di rumah libur UN. Tapi karena sakit ya ndak banyak aktivitas memang. Lucu tadi pagi tiba-tiba minta makan, tapi mintanya Indom**, katanya, alasannya kan lagi sakit. Hahaha, bisa ae emang anak ini. Atau salim tapi arahnya minta ke kompresnya, katanya biar keteken lagi kompresannya.
Pulang hari ini aku sembari pesan makanan. Tadinya mau kubeli tapi kalo aku mampir jatuhnya aku same rumahnya lebih lama. Niatnya beli mensyukuri Fahri yang sudah selesai UN. Fahri senang, alhamdulillah. Meski di akhir setelah Makasih ya Mbak, dia bilang, Fahri jadi takut kalau nilainya nggak sesuai harapan (memang ya rejection doesn't kill you, expectation does, ckckck). Tapi aku bilang ndak apa-apa. Kan sudah berusaha, sekarang waktunya berdoa. Aku senang sih dia terlihat hepi sekali waktu makan. Walaupun katanya maunya burger hihihi.
Pernah suatu waktu Fahri nih curhat sama aku. Dia merasa nggak diapresiasi sama Umi Abi. Aku tahu, bukan Umi ga apresiasi sih, tapi memang dia ni keliatannya minim banget belajarnya. Banyak main rubiknya. Pinjem HP Umi buat main game. dsb dll. Tapi dia sampe nunjukin akun ig sesuatu aku lupa yang isinya video sepasang orang tua dengan 2 anaknya. Yang satu nilainya bagussss banget yang satu jelek. Tapi si ibunya tau anak yang nilainya jelek ini usahanya keras, belajar sampe begadang, dsb. Terus waktu suasana ga enak di meja makan karena bahas nilai, ibunya alihkan pembicaraan dan nyendokin lauk yang enak gitu kalau ga salah ke anak yang nilainya jelek. Penghargaan atas usaha kerasnya.
Aku minta link video itu ke Fahri terus aku forward ke Umi. Aku bilang apa yang dia rasain. Aku pun menyadari sih, beda banget dia mau UN sama dulu aku mau UN Ya mungkin karena aku sekolah asrama juga ya jadinya kerasa banget, lha wong semuanya UN kan iklimnya iklim belajar. Dia nih kemarin waktu masa-masa TO, UASBN, dan pemantaan materi, ngga ada feel-feel UNnya sama sekali aku tu ngerasanya. Jadi aku paham, sudut pandang Umi kalau ngasih nasehat, kalo gemes, karena dia ngga keliatan belajarnya. Terus udah gitu alesan dia, kan udah belajar di sekolah. Ya kan kurang maaaas kalo hanya di sekolah aja. Lalu juga dengan hasil TO yang agak sedih kan Umi makin gemes ya. Memang ujian cem ujian nasional ini yang disiapkan dua sih, mental aanak dan mental orang tua. Karena kadang ada, yang anaknya biasa aja lalu orang tuanya yag panik, atau bahkan menekan. Ummi sebenarnya nggak ada sih kalo sampe menekan yang gimana gitu. Pengennya sih anaknya sadar, mau belajar dan meningktkan intensitasnya. Juga meningkatkan intensitas mendekat ke Allahnya. Kalau diingat-ingat aku pun dulu kayaknya Umi ajarin buat tahajud waktu menjelang UN SD deh. Ya mungkin telat juga, tapi ndak papa dari pada tidak sama sekali hehe.
Ya gitu sih, hanya sedikit makanan yang dibeli tapi dia senang alhamdulillah :")
Sudah malam, ikan bobo (ala-ala iklan taun berapa ya? hehe)
Eh tau ga funfact kalau ikan bobo ga merem loh. Karena dia ga punya kelopak mata.
Semoga jadi lebih baik setelah menuliskan hal-hal ini. Semoga menjadi pelajaran yang tertuang dalam laku.
Rumah, 1.59
tadi aku udah tepar duluan.
Kamis, 11 April 2019
Pulang
Kemarin aku nggak tahu kenapa pengen banget ubah whatsapp status jadi Pulang. Kayaknya ngubahnya juga udah di kantor sih. Lalu hari ini melhat postingan itu di dashboard blog. Aku jadi sedih. Tapi banyak benarnya.
Hari ini karena ngejar deadline caption habis zuhur, dan waktu aku selesai Ima lagi nanggung, kami ngaji jam dua di mushala. Aku bilang ke Ima, "Ma, gimana Ma ngajiku nggak teratur banget nih...." Rencana tilawah persiapan ramadhanku buyar. Sudah tertinggal jauh. Hariannya juga cuma dikit-dikit, bahkan pernah skip. Aku sedih banget rasanya.
Lalu Ima bilang, "Dahulukan urusan Allah. Nanti Allah yang urus urusan kita."
Me like: tertampar bolak-balik.
Ima bilang lagi soal tilawah sehabis subuh dan sehabis kerjaan. Aku sempat cerita aku lemah banget habis subuh tu. Tapi bener sih yang dia bilang habis dhuha. Itu bisa dicoba. Aku jadi sedih aja kayak nggak prioritasin Allah, padahal diri ini kan selalu butuh sama Allah.
Mungkin karena itu juga kali ya, Allah kasih aku pilek, meler, tenggorokan ga enak, pusing, di tengah kerjaan yang tetiba jadi banyak ini. Lalu jadi kayak ingin menarik diri dari segala yang ramai-ramai, meski kadang aku kangen obrolan-obrolan di ruangan. Maafin hambaMu ini ya Allah :"(Bersyukur Fit, sudah disadarkan.
Tapi cara bersyukur terbaik adalah berbuat. Jangan lupa.
Kekhawatiran-kekhawatiran (yang Bertingkat)
Kekhawatiran tentu saja menyebalkan. Tapi ia tak berakhir begitu saja. Kekhawatiran barangkali umpama urusan yang tiada selesai. Setelah usai satu kekhawatiran, akan hadir lagi kekhawatiran lainnya. Begitu saja terus. Jadi ketika satu kehawatiran sudah terjawab, siap-siap saja, akan ada kekhawatiran lainnya yang menunggu. Seperti seorang anak yang sudah menyelesaikan kekhawatiran soal ujian nasional, lalu ia kembali khawatir dengan hasilnya, atau dengan ujian masuk SMA. Ya, mungkin saja. Seperti pasangan yang khawatir soal kapan momongan datang, lalu setelah datang, khawatir apakah mampu bisa menjadi orang tua yang baik atau tidak.
Maksudku bukan mengecilkan, tapi, nikmati saja tiada akhir kekhawatiran itu. Mungkin termsuk sunnatullah. Dan sebagaimana masalah yang membesar, kekhawatiran ungkin juga bagian dari itu, yang akan membuat kita naik kelas. Dan barangkali, khawattir juga membat sadar, bahwa diri ini perlu banyak sekali belajar, perlu banyak sekali menerima, perlu banyak sekali memberi, perlu banyak sekali memperbaiki.
Maksudku bukan mengecilkan, tapi, nikmati saja tiada akhir kekhawatiran itu. Mungkin termsuk sunnatullah. Dan sebagaimana masalah yang membesar, kekhawatiran ungkin juga bagian dari itu, yang akan membuat kita naik kelas. Dan barangkali, khawattir juga membat sadar, bahwa diri ini perlu banyak sekali belajar, perlu banyak sekali menerima, perlu banyak sekali memberi, perlu banyak sekali memperbaiki.
-isi pikiran Sabtu beberapa pekan lalu, di jalan raya bogor,
ketika mau menyebrang jalaan pagi-pagi pukul enam
aku, yang kemarin merinding sendiri karena hanya membatin lalu langsung Allah kabulkan
aku, yang lagi tahap merasa sedih karena pileknya dominan lagi, saat makan, saat shalat
aku, yang telah menunda banyak hal
aku, yang hari ini merasa mulai ga enak badan, khawatir kayaknya mau sakit
aku, yang membaca ulang sesuatu barusan lalu nangis entah mengapa
Kamis, 04 April 2019
Repost: Jaga Allah
Jaga Allah, Allah akan jaga kamu.
-itu inti dari segala nasihat.
Ust. Hanan Attaki dari video Ubah Ketakutan jadi Kejutan part 1, belum selesai juga sih aku mendengarkannya, ya bbaru sampai kalimat-kalimat itu aja.
Jaga hak Allah, Allah akan jaga hak kita. Jaga perasaan Allah, Allah akan jaga perasaan kita. Jaga panggilan Allah, Allah akan jaga panggilan kita.
Kalau ke Allah, nggak ada ceritanya kita akan kecewa. Beda urusan sama ke manusia. Kita ngecewain Allah. Tetap aja Allah datang ke kita.
-itu inti dari segala nasihat.
Ust. Hanan Attaki dari video Ubah Ketakutan jadi Kejutan part 1, belum selesai juga sih aku mendengarkannya, ya bbaru sampai kalimat-kalimat itu aja.
Jaga hak Allah, Allah akan jaga hak kita. Jaga perasaan Allah, Allah akan jaga perasaan kita. Jaga panggilan Allah, Allah akan jaga panggilan kita.
Kalau ke Allah, nggak ada ceritanya kita akan kecewa. Beda urusan sama ke manusia. Kita ngecewain Allah. Tetap aja Allah datang ke kita.
Minggu, 17 Maret 2019
Dear Nak: Bicara Cinta
Jumat, 15 Maret 2019
Assalamualaikum Nak,
Banyak sekali yang ingin ibu ceritakan akhir-akhir ini. Sampai-sampai rasanya tidak mampu mengetikkan semua hal. Ingin langsung diceritakan saja. Tentang pameran buku di London Book Fair, misalnya. Tapi bingung bagaimana dan ke siapa membaginya jika bercerita langsung.
Barusan saja, Ibu ingin bercerita tentang jatuh cinta. Lalu tiba-tiba Ibu membayangkan, kalau kamu kelak jatuh cinta, apakah kelak kamu cerita pada Ibu. Ibu harap begitu. Ibu harap kita bisa saling terbuka untuk saling percaya dan bercerita.
Tapi Ibu mendadak urung bercerita tentang jatuh cinta. Rasa-rasanya Ibu malu. Karena kalau dibandingkan dengan persoalan saudara kita di New Zealand, masalah Ibu tidak ada apa-apanya. Jauh sekali.
Nak, siang tadi saudara kita di New Zealand ditembaki. Di Masjid. Saat jumatan. Sedih sekali mendengar kabarnya. Kamu tahu Nak, di negara tempat Ibu tinggal saat ini, ibadah mudah sekali dilakukan. Meskipun ibadah individu belum yang bersifat komunal dan menyeluruh pada setiap aspek kehidupan. Di New Zealand, negara dengan tingkat keamanan yang baik, penembakan itu terjadi. Entah apa yang menjadi pikiran penembaknya. Entah apa yang jadi pikiran orang-orang yang membenci Islam.
Nak, kadang-kadang cinta terlihat rumit. Tapi kalau Ibu sedang merasa demikian-seperti tadi saat di jalan pulang, Ibu ingat Tere Liye--salah satu penulis favorit Ibu yang mengajarkan Ibu banyak hal tentang cinta lewat buku-bukunya--cinta sejati selalu sederhana. Cinta kita pada Islam mungkin juga demikian. Terlihat rumit dan banyak mengandung kewajiban. Tapi itu cara sederhana untuk memperoleh cinta Allah yang kekal di surgaNya. Sekedar itu, patuh pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Pada penerapannya, sulit. Sama seperti jatuh cinta bukan Nak? Tahu-tahu semua rasanya rumit. Padahal kalau dilihat dari jauh dan kita tidak menjadi tokohnya, seharusnya rasanya bisa mudah saja dilalui bukan? Apalagi kalau jauhnya adalah kita di masa lalu dan masa depan. Mungkin kita akan merasa malu mengingat kita di masa lalu. Tapi, begitulah kehidupan. Yang berjalan, yang menumbuhkan. Mungkin kalau dalam pekerjaan, sama seperti hasil design challange yang sudah disepakati tapi saat dikerjakan developer, yang mana rasa-rasanya udah tinggal implementasi seperti itu aja, plek, persis. Nyatanya tidak mudah bagi developer membuatnya sama persis. Feedback minor seperti margin atau garis masih saja ada.
Begitu juga mencintai Islam Nak. Agama yang lengkap ini sudah dihadirkan lengkap dengan segala hal yang akan mencukupi hidup manusia Tapi bagi sebagian orang, rumit sekali memahaminya bahwa hanya dengan Islamlah kehidupan akan sejahtera. Bahwa hanya dengan Islamlah Allah menjamin keberkahan bagi seluruh alam. Bahwa manusia tidak perlu membuat-buat hukum dan aturan yang baru. Padahal, bisa jadi sesederhana memelajari dahulu, mencari tahu, meresapi, menghadirkan hati, melihat fakta bagaimana dahulu nabi dan sahabat. Kalau kelak yakin dan paham, tentu menyetujui bahwa dengan Islamlah solusi banyak hal yang menjadi permasalahan saat ini.
Atau barangkali yang lebih susah adalah menundukkan ego. Bahwa bukan manusia atau bahkan bukan kita yang secerdas itu sampai-sampai bisa membuat aturan yang lebih pantas digunakan ketimbang Allah. Cinta pada Islam-atau pada Allah lebih spesifiknya-pada akihrnya terkalahkan oleh cinta pada diri sendiri. Sehingga menyederhanakan konsep percaya pada apa yang telah Allah jamin menjadi tidak lebih sederhana daripada membuat sendiri hukumnya lalu menerapkannya. Kan mudah saja, lakukan usulan, kaji kaji kaji, terapkan. Mungkin begitu ya mikirnya..
Kalau manusia jatuh cinta, mungkin juga begitu. Ada hal yang ia inginkan untuk dilakukan. Ada penasaran yang ingin ditunaikan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang entah jawabannya akan ada kapan. Ada kesabaran panjang yang dipasrahkan. Tapi manusia yang cerdas, yang bertanggung jawab atas pilihannya, yang sadar bahwa pilihannya saat ini akan Allah perhitungkan di yaumil hisab, akan menjadikan Islam sebagai standar yang menjadikan tindakan selanjutnya. Sehingga ia akan memilih tindakan yang akan menyelamatkan. Kalau manusia terlalu besar cintanya pada kekuasaan, pada dirinya sendiri, lalu sadar dan menjadikan standar cintanya pada Islam, ia akan sadar aturan siapa yang pantas ditegakkan. Tapi kalau poin penting standarnya lupa-atau sengaja ditinggalkan-ia akan masa bodoh terabas saja. Standar cintanya jadi kebermanfaatan, buat dirinya, buat kelompoknya. Sama kan, orang jatuh cinta juga begitu. Standar kebermanfaatannya jadi apakah menyenangkan hatinya-padahal sesungguhnya tidak menenangkan.
Nak, jatuh cinta selalu rumit. Yang sejati akan sederhana. Tapi tidak ada yang bilang ia hadir tanpa ujian.
Mencintai Islam, sesederhana menaati dan menjalankan, terlihatnya. Tapi ujiannya banyak. Saudara kita di New Zealand bukti terbarunya. Bagaimana menyikapi musibah bagi mereka, bagaimana dunia melihat Islam, bagaimana setidaknya penguasa negeri muslim menunjukkan kecaman. Itu menjadi ujian. Penangkapan OTT KPK yang baru-baru ini terjadi, membuktikan bahwa megamalkan apa yang dikatakan menjadi begitu sulit, apalagi kalau orang di sekeliling juga bukan orang-orang yang hidup tumbuh, dan memperjuangkan sistem yang baik. Orang-orang yang memilih untuk menyalurkan perasaan cintanya pada tindakan yang salah juga biasanya lingkungannya berbuat serupa. Semoga itu bukan lingkunganmu kelak tumbuh besar, ya Nak.
Yang sejati akan sederhana Nak. Kalau pikiranmu rumit, belajarlah menaklukkan pikiran itu sendiri. Kelak kita akan takjub bahwa kita bisa memenangi diri sendiri. Semoga.
Ibu juga sedang belajar.
Assalamualaikum Nak,
Banyak sekali yang ingin ibu ceritakan akhir-akhir ini. Sampai-sampai rasanya tidak mampu mengetikkan semua hal. Ingin langsung diceritakan saja. Tentang pameran buku di London Book Fair, misalnya. Tapi bingung bagaimana dan ke siapa membaginya jika bercerita langsung.
Barusan saja, Ibu ingin bercerita tentang jatuh cinta. Lalu tiba-tiba Ibu membayangkan, kalau kamu kelak jatuh cinta, apakah kelak kamu cerita pada Ibu. Ibu harap begitu. Ibu harap kita bisa saling terbuka untuk saling percaya dan bercerita.
Tapi Ibu mendadak urung bercerita tentang jatuh cinta. Rasa-rasanya Ibu malu. Karena kalau dibandingkan dengan persoalan saudara kita di New Zealand, masalah Ibu tidak ada apa-apanya. Jauh sekali.
Nak, siang tadi saudara kita di New Zealand ditembaki. Di Masjid. Saat jumatan. Sedih sekali mendengar kabarnya. Kamu tahu Nak, di negara tempat Ibu tinggal saat ini, ibadah mudah sekali dilakukan. Meskipun ibadah individu belum yang bersifat komunal dan menyeluruh pada setiap aspek kehidupan. Di New Zealand, negara dengan tingkat keamanan yang baik, penembakan itu terjadi. Entah apa yang menjadi pikiran penembaknya. Entah apa yang jadi pikiran orang-orang yang membenci Islam.
Nak, kadang-kadang cinta terlihat rumit. Tapi kalau Ibu sedang merasa demikian-seperti tadi saat di jalan pulang, Ibu ingat Tere Liye--salah satu penulis favorit Ibu yang mengajarkan Ibu banyak hal tentang cinta lewat buku-bukunya--cinta sejati selalu sederhana. Cinta kita pada Islam mungkin juga demikian. Terlihat rumit dan banyak mengandung kewajiban. Tapi itu cara sederhana untuk memperoleh cinta Allah yang kekal di surgaNya. Sekedar itu, patuh pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Pada penerapannya, sulit. Sama seperti jatuh cinta bukan Nak? Tahu-tahu semua rasanya rumit. Padahal kalau dilihat dari jauh dan kita tidak menjadi tokohnya, seharusnya rasanya bisa mudah saja dilalui bukan? Apalagi kalau jauhnya adalah kita di masa lalu dan masa depan. Mungkin kita akan merasa malu mengingat kita di masa lalu. Tapi, begitulah kehidupan. Yang berjalan, yang menumbuhkan. Mungkin kalau dalam pekerjaan, sama seperti hasil design challange yang sudah disepakati tapi saat dikerjakan developer, yang mana rasa-rasanya udah tinggal implementasi seperti itu aja, plek, persis. Nyatanya tidak mudah bagi developer membuatnya sama persis. Feedback minor seperti margin atau garis masih saja ada.
Begitu juga mencintai Islam Nak. Agama yang lengkap ini sudah dihadirkan lengkap dengan segala hal yang akan mencukupi hidup manusia Tapi bagi sebagian orang, rumit sekali memahaminya bahwa hanya dengan Islamlah kehidupan akan sejahtera. Bahwa hanya dengan Islamlah Allah menjamin keberkahan bagi seluruh alam. Bahwa manusia tidak perlu membuat-buat hukum dan aturan yang baru. Padahal, bisa jadi sesederhana memelajari dahulu, mencari tahu, meresapi, menghadirkan hati, melihat fakta bagaimana dahulu nabi dan sahabat. Kalau kelak yakin dan paham, tentu menyetujui bahwa dengan Islamlah solusi banyak hal yang menjadi permasalahan saat ini.
Atau barangkali yang lebih susah adalah menundukkan ego. Bahwa bukan manusia atau bahkan bukan kita yang secerdas itu sampai-sampai bisa membuat aturan yang lebih pantas digunakan ketimbang Allah. Cinta pada Islam-atau pada Allah lebih spesifiknya-pada akihrnya terkalahkan oleh cinta pada diri sendiri. Sehingga menyederhanakan konsep percaya pada apa yang telah Allah jamin menjadi tidak lebih sederhana daripada membuat sendiri hukumnya lalu menerapkannya. Kan mudah saja, lakukan usulan, kaji kaji kaji, terapkan. Mungkin begitu ya mikirnya..
Kalau manusia jatuh cinta, mungkin juga begitu. Ada hal yang ia inginkan untuk dilakukan. Ada penasaran yang ingin ditunaikan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang entah jawabannya akan ada kapan. Ada kesabaran panjang yang dipasrahkan. Tapi manusia yang cerdas, yang bertanggung jawab atas pilihannya, yang sadar bahwa pilihannya saat ini akan Allah perhitungkan di yaumil hisab, akan menjadikan Islam sebagai standar yang menjadikan tindakan selanjutnya. Sehingga ia akan memilih tindakan yang akan menyelamatkan. Kalau manusia terlalu besar cintanya pada kekuasaan, pada dirinya sendiri, lalu sadar dan menjadikan standar cintanya pada Islam, ia akan sadar aturan siapa yang pantas ditegakkan. Tapi kalau poin penting standarnya lupa-atau sengaja ditinggalkan-ia akan masa bodoh terabas saja. Standar cintanya jadi kebermanfaatan, buat dirinya, buat kelompoknya. Sama kan, orang jatuh cinta juga begitu. Standar kebermanfaatannya jadi apakah menyenangkan hatinya-padahal sesungguhnya tidak menenangkan.
Nak, jatuh cinta selalu rumit. Yang sejati akan sederhana. Tapi tidak ada yang bilang ia hadir tanpa ujian.
Mencintai Islam, sesederhana menaati dan menjalankan, terlihatnya. Tapi ujiannya banyak. Saudara kita di New Zealand bukti terbarunya. Bagaimana menyikapi musibah bagi mereka, bagaimana dunia melihat Islam, bagaimana setidaknya penguasa negeri muslim menunjukkan kecaman. Itu menjadi ujian. Penangkapan OTT KPK yang baru-baru ini terjadi, membuktikan bahwa megamalkan apa yang dikatakan menjadi begitu sulit, apalagi kalau orang di sekeliling juga bukan orang-orang yang hidup tumbuh, dan memperjuangkan sistem yang baik. Orang-orang yang memilih untuk menyalurkan perasaan cintanya pada tindakan yang salah juga biasanya lingkungannya berbuat serupa. Semoga itu bukan lingkunganmu kelak tumbuh besar, ya Nak.
Yang sejati akan sederhana Nak. Kalau pikiranmu rumit, belajarlah menaklukkan pikiran itu sendiri. Kelak kita akan takjub bahwa kita bisa memenangi diri sendiri. Semoga.
Ibu juga sedang belajar.
Awalnya ditulis Jumat, saat semua hal rasanya banyak menyesakkan
Dari Jumat ke Jumat, dan perjalanan pulang yang meneteskan air mata
Aku pun heran menjadi mudah menangis akhir-akhir ini.
*tadinya postingan ini mau kubuat panjang cerita sepekan terakhir.
ternyata aku pernah buat dearnak juga di sini
ternyata aku pernah buat dearnak juga di sini
Rabu, 06 Maret 2019
Senyum
Kadang-kadang kita kita tuh ngerasa dunia, atau situasi, atau kondisi, lagi ngga bersahabat sama kita. Terus kita jadi mukanya sedih gitu, atau ekspresi galau, nelangsa. Pokoknya rasanya maleeees banget senyum.
Padahal coba deh senyum dulu. Nanti kamu ngeradain sendiri bagaimana merasa lebih baik setelahnya.
fitri kepada fitri
nasihat pada diri sendiri;
bukan based on experience,
tapi lagi perjuangan menerapkan
Padahal coba deh senyum dulu. Nanti kamu ngeradain sendiri bagaimana merasa lebih baik setelahnya.
fitri kepada fitri
nasihat pada diri sendiri;
bukan based on experience,
tapi lagi perjuangan menerapkan
Sabtu, 09 Februari 2019
Ngobrol sama Allah
M : Coba dibawa ngobrol sama Allah
A : Kakak biasanya ngobrol sama Allah gimana kaak. Abis shalat gitu apa tbtb menyingkir dr hirukpikuk keramaian?
M : Aku sambil bengong aja
Allah ini gimana ya aku bingung
Allah aduh aku gatau mau apa
Kayak ngobrol sama temen
Allah kan sayang sm kita
Ada dimana mana
Aku kmrin ga ke Bandung karena ada uang tp mepet hahahah sdgkan msh tgl sgini
Eh kmrin dpt lemburan bs dipake buat ke Bandung
Alhamdulillah :')
A : Kapanpun ya kaa
M : Iyaaa aku lg biasain itu sih
Biar ngarepnya ga sm makhluk
A : Kakak biasanya ngobrol sama Allah gimana kaak. Abis shalat gitu apa tbtb menyingkir dr hirukpikuk keramaian?
M : Aku sambil bengong aja
Allah ini gimana ya aku bingung
Allah aduh aku gatau mau apa
Kayak ngobrol sama temen
Allah kan sayang sm kita
Ada dimana mana
Aku kmrin ga ke Bandung karena ada uang tp mepet hahahah sdgkan msh tgl sgini
Eh kmrin dpt lemburan bs dipake buat ke Bandung
Alhamdulillah :')
A : Kapanpun ya kaa
M : Iyaaa aku lg biasain itu sih
Biar ngarepnya ga sm makhluk
#ceritasiangtadi
Selasa, 29 Januari 2019
Sumber Ketenangan
"Ala bidzikrillahi tatmainnal qulub"
Kalau ingat Allah kita akan tenang.
.
Waktu Mas Yuwono menyampaikan itu, aku langsung teringat soal hubungan kalimat ini dengan kalimat Kak Big kemarin.
Kak Big kemarin bilang soal libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Tau apa relasinya?
Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Kelak setelahnya, kalau sudah melibatkan Allah, maka kita akan tenang.
Jadi, sudah tau dari mana ketidaktenangan itu berasal, my dear?
Kalau ingat Allah kita akan tenang.
.
Waktu Mas Yuwono menyampaikan itu, aku langsung teringat soal hubungan kalimat ini dengan kalimat Kak Big kemarin.
Kak Big kemarin bilang soal libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Tau apa relasinya?
Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Kelak setelahnya, kalau sudah melibatkan Allah, maka kita akan tenang.
Jadi, sudah tau dari mana ketidaktenangan itu berasal, my dear?
fitri kepada fitri
Senin, 15 Oktober 2018
Perempuan dan Rasa Malu
"Perempuan dan rasa malu." Kamu tiba-tiba membatin.
"He?" Dahiku berkerut. Bingung tiba-tiba kamu menggumam.
"Iya, aku abis liat suatu video. Terus dua kata itu terngiang-ngiang banget."
"Hm, seperti iffah, izzah, dan muru'ah ya."
"Iya."
"He?" Dahiku berkerut. Bingung tiba-tiba kamu menggumam.
"Iya, aku abis liat suatu video. Terus dua kata itu terngiang-ngiang banget."
"Hm, seperti iffah, izzah, dan muru'ah ya."
"Iya."
Rabu, 10 Oktober 2018
Selasa, 09 Oktober 2018
Cemas
Suatu hari aku cemas. Cemas sekali sedari pagi, sedari subuh. Muncul banyak pertanyaan di kepalaku. Dan aku takut dengan pertanyaan-peranyaan itu. Aku takut dengan kemungkinan-kemungkinan.
Mulanya aku mau konfirmasi ke temanku karena kupikir dia bisa menjawab pertanyaan yang muncul. Tadinya mau ke X, urung. Terus aku pikir apa ke Y aja ya, urung lagi.
Maka mulailah aku menjalani hari dengan perasaan cemas dan perasaan bertanya-tanya karena aku tidak menemukan jawaban sementara diriku bahkan mulai memunculkan pertanyaan lainnya.
Sampai ada akhirnya yang kutanyakan Pertanyaannya bukan pertanyaan awal sedari subuh yang muncul. Tapi ternyata aku salah bertanya. Ternyata malah menimbulkan masalah baru, yang bikin aku tambah nggak tenang.
Lalu aku menchat dua teman, salah satunya Kak Shanin. Aku bertanya bagaimana mengatasi cemas. Kak Shanin nanya beberapa hal, sampai akhirnya menjawab ini;
Kedua, dari sharing Kak Shanin.
Kalau Allah nggak berkehendak, nggak akan terjadi apa yang terjadi itu.
Bahkan kalau yang aku khawatirkan itu terjadi, mungkin memang Allah pengennya itu terjadi ke aku. Nggak mengenakkan, mungkin. Tapi kalau Allah sudah berkehendak mau bagaiana? Allah inginnya gitu kok.
Kabar baiknya, apa yang dari Allah insya Allah selalu ada kebaikannya. Tinggal manusianya aja yang perlu melebarkan jangkauan pandang.
Bayangan-bayangan buruk muncul. Tapi terus ada konsep, kalau Allah nggak berkehendak juga nggak akan terjadi kok; kalau berkehendak, kayak gimanapun, pasti jadi. Terus bener yang Kak Shanin bilang. Lalu jadi lega. Jadi pasrah. Jadi berserah.
Esok lusa, semoga aku bisa mengingat apa-apa yang aku dapat di atas ini. Belajar nggak cemas berlebihan yuk Fit! Juga belajar untuk menahan diri mengonfirmasi kalau memang tidak seurgen itu. Jangan-jangan setelah dapat jawaban konfirmasinya malah bikin makin cemas.
Mulanya aku mau konfirmasi ke temanku karena kupikir dia bisa menjawab pertanyaan yang muncul. Tadinya mau ke X, urung. Terus aku pikir apa ke Y aja ya, urung lagi.
Maka mulailah aku menjalani hari dengan perasaan cemas dan perasaan bertanya-tanya karena aku tidak menemukan jawaban sementara diriku bahkan mulai memunculkan pertanyaan lainnya.
Sampai ada akhirnya yang kutanyakan Pertanyaannya bukan pertanyaan awal sedari subuh yang muncul. Tapi ternyata aku salah bertanya. Ternyata malah menimbulkan masalah baru, yang bikin aku tambah nggak tenang.
Lalu aku menchat dua teman, salah satunya Kak Shanin. Aku bertanya bagaimana mengatasi cemas. Kak Shanin nanya beberapa hal, sampai akhirnya menjawab ini;
dan ada beberapa chat setelahnya, tapi yang kucopy ini aja ya
Aku pernah stress juga. Bahkan sampe maag kambuh, padahal udh lama gak kambuh.Kemudian aku jadi berpikir. Pertama, dari skrinsut yang dishare Kak Shanin; apa yang menjadi responku ketik cemas? Pada hati, pada lisan, pada tangan. Apa aku jadi melayangkan doa, jadi sibuk dengan kebaikan, jadi sabar, jadi meyakini bahwa balasan untuk kebaikan adalah kebaikan pula? Atau aku malah sibuk kesel sendiri, marah, protes, masih sibuk melakukan dosa? Menyadarinya akan membuat saya tahu harus bagaimana setelah ini. Seharusnya
Sampe waktu ngaji aku baca ayat : "Segala yg ada di langit dan di bumi milik Allah. Allah maha berkehendak atas segala sesuatu". Dulu kalau baca ini yaudah selewat aja. Tp waktu itu aku coba renungin. Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Bahkan daun yg jatuh aja atas izin Allah. Habis itu belajar ikhlas buat menerima semua ketentuanNya.
Kedua, dari sharing Kak Shanin.
Kalau Allah nggak berkehendak, nggak akan terjadi apa yang terjadi itu.
Bahkan kalau yang aku khawatirkan itu terjadi, mungkin memang Allah pengennya itu terjadi ke aku. Nggak mengenakkan, mungkin. Tapi kalau Allah sudah berkehendak mau bagaiana? Allah inginnya gitu kok.
Kabar baiknya, apa yang dari Allah insya Allah selalu ada kebaikannya. Tinggal manusianya aja yang perlu melebarkan jangkauan pandang.
Bayangan-bayangan buruk muncul. Tapi terus ada konsep, kalau Allah nggak berkehendak juga nggak akan terjadi kok; kalau berkehendak, kayak gimanapun, pasti jadi. Terus bener yang Kak Shanin bilang. Lalu jadi lega. Jadi pasrah. Jadi berserah.
Esok lusa, semoga aku bisa mengingat apa-apa yang aku dapat di atas ini. Belajar nggak cemas berlebihan yuk Fit! Juga belajar untuk menahan diri mengonfirmasi kalau memang tidak seurgen itu. Jangan-jangan setelah dapat jawaban konfirmasinya malah bikin makin cemas.
ini chat 20-21 oktober 2018
Kamis, 20 September 2018
Dan Bersegeralah .
133. Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,
134. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui.
136. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.
134. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,
135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui.
136. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.
QS Ali Imran: 133-136
Rabu, 12 September 2018
Senyum
Apa tidak cukup hadits 'senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah' untuk membuatmu urung menampilkan muka tidak enak dan menunjukkan bahwa perasaanmu sedang tak karuan?
Langganan:
Postingan (Atom)


