Sabtu, 07 Oktober 2017

Ujian

Kemarin di sekitaran magrib. Lupa sebelum atau sesudah. Saya buka beranda rumah (baca:blog) dan menemukan kutipan update dari tumblr Maryam. Saya tentu saja terperanjat membaca tulisan yang tak lain dan tak bukan adalah repost-an saya yang ini.

Bukan hanya karena saya membaca kembali tulisan saya. Saya lebih terperanjat melihat waktu tulisan itu dibuat. Sudah sepekan. Tidak terasa. Dan saya kembali bertanya-tanya kemajuan apa yang sudah saya buat sejak tulisan itu saya buat. Karena kemarin saya ingat persis kejadiannya dan perasaan kesal pada pagi itu. Kesal dan kecewa pada diri sendiri yang berujung terlintas kalimat-kalimat doa itu.

Dulu mentor saya di SXI Badr pernah bilang soal ujian. Pernah saya pos di sini. Intinya, Allah nggak akan berhenti menguji kita sampai kita lulus dari ujian itu. Pekan lalu bisa jadi saya merasakan salah satu peak dari apa yang saya sebut sebagai ujian ulang. Ujian yang saya sangat tidak berharap terjadi lagi tapi Allah beri. Saya kira yang dulu itu, setelah sekian lama prosesnya, saya sudah lolos. Tapi ternyata belum :")

Tadi saya kembali kepikiran. Waktunya sama-sama sekitaran magrib. Bedanya malam ini hujan.
Dalam hidup, ada orang-orang yang ketemu kita sebagai ujian. Ujian apapun. Kesabaran, mengalahkan rasa takut, ketaatan pada pemimpin, percaya pada orang lain, perasaan, respect, menumbuhkan empati, dan lain sebagainya. Ada banyak ragam. Yang kita perlu berusaha untuk bisa memosisikan diri menerima setiap orang dengan porsi yang cukup. Saya sebut yang cukup dengan mengingat aturan Allah sebagi bentengnya.

Lalu tiba-tiba saya merasa terhenyak.
Vice versa.
Maka bisa jadi-sangat boleh jadi, bahkan- saya juga menjadi ujian bagi orang lain. Ujian dalam banyak hal.
Bukankah kita pernah belajar hukum aksi-reaksi?
Dan banyak hal yang terjadi pada kita, adalah respon balik atas hal yang kita lakukan sebelumnya. Lalu terkait ujian yang saya rasakan itu tadi saya merefleksi. Berapa banyak andil saya turut ambil bagian dalam persoalan yang pada akhirnya jadi saya alami sendiri...?
Kemudian randomly jadi berpikir ulang dan terpikir juga case ini;
Berapa banyak saya belajar dan menahan diri untuk tidak menjadi bagian dari ujian orang lain....?


Hei, Kamu tahu? Sifat buruk bisa jadi ujian. Tapi baik pun bisa jadi ujian.
Bisakah kita sama-sama tidak menjadi ujian bagi yang lainnya?


Rumah, 7102017
*tanggalnya bisa dibaca dari depan dan belakang

masih banyak pr-nya. mohon kuatkan, ya Allah .


Rabu, 04 Oktober 2017

Baju Hari Ini (2)

Tadi pagi saya kira, cerita baju ini hanya akan selesai pada nostalgia saya dengan Memey dan Farah. Tapi ternyata tidak.

Surprisingly, ketika semua anak temanbisnis tidak datang kecuali saya dan Abidah, kami justru pakai baju dengan tone warna sama yang selingan gitu. Toska-abu. Itu difoto keliatannya item ya wkwk. Maklum udah mah abunya abu gelap,  foto disininya juga dapet dari motoin foto hehe. Hari ini hari yang cukup sesuatu :")
Tapi nggakpapa. Banyak hal di depan yang perlu kita pelajari. Semangat untuk kita, ya, team!
Untuk ibuk PO, Abidah, kuat-kuat :')

penasaran kita lagi nggarap apa? bisa buka bit.ly/temanBisnis atau kepoin temanbisnisapp.com
#whyujungujungnyaendorse

Baju Hari Ini

 hari ini pakai baju ini lagi setelah sekian lama. terakhir pakai di Jogja.
lalu ingat foto waktu sidang farah lalu ingat foto bertiga bareng farah dan memey. lalu kangen.
Farah sekarang di Jakarta, Memey tentu belum lama mendarat di tanah Jerman. Melanjutkan kuliah s2nya.
Dulu Farah cerita lagu ending Doraemon. Terus kita baru tahu. Terus jadi suka soalnya baru tau ternyata bermakna :"). Apalagi bagian kutipan kata 'berikhtiar' (walau ada yang sumber yang nyebut ber-hip riang juga sih).
Farah sama Memey mundur lulusnya karena keduanya exchange. Farah ke Irlandia 6 bulan. Memey ke Itali 10 bulan. Aku? Ahaha, emang telat sih lulusnya :")
Suka bareng di lab SC. Dari yang ngerjain skripsi, cuma wifian, sampai Memey yang belajar ielts buat menuhin syarat daftar S2.
Kuingat sekali waktu masih suka nebeng Farah ke kelas Pancasila di Fakultas Filsafat. Dan kujuga ingat waktu nemenin Memey nge-transate ijazah dan berkas-berkas lain buat daftar exchange kala itu.
Kuingat sekai waktu Memey jadi koor acara Crayon. Lalu rapat di macam-macam tempat. Termasuk di KFC (yang modal memey beli minum 5000an sama satu lagi lupa siapa beli krim sup yang 5000an juga). Lalu gatau diri rapat sampe kfcnya tutup, wkwk. Kuingat sekali pagi-pagi ke Taman Pintar ditebengin Farah, juga pulangnya. Hari itu senang sekali kepanitiaannya :)
Kuingat sekali, bareng Memey nyari mahkota bunga buat sidang Farah. Inspired by wisudaan Itali yang kata Memey mereka suka pada pake flower crown gitu.
Kuingat sekali Google lagi ke Jogja ada event traktiran sepekan dan hari Selasa itu traktirannya di Gelato. Waktu di lab udah bodo amat soalnya males, gelatonya jauh arah Jalan Parangtritis. Tapi sekitar magrib Farah ngeline dan akhirnya kita kesana wkwkwk demi cup gelato (kalo beli bisa 25rebuan sih 1nya).
Kuingat Memey cerita keterima exchange di tengah kuliah SPK. Pak Yoyok masih jelasin di depan. Lalu aku tanya, Memey jadi daftar exchange (yang lain pokoknya). Lalu Memey berbisik, "Alhamdulillah Aku udah keterima erasmus, Fit."
Kuingat pinjam komik Conan Farah, tapi baru 1-30. Masih pingin pinjem sisanya sampai edisi terbaru aku Far :"
Kuingat sekali awal-awal tau berita nikahnya Nana dan Rian. Lalu kami ketemu Nana di warung nasi goreng deket mandiri, bareng Deffi juga. Ah kangen ya :" Lalu hari H berangkat Farah ngajakin aku biar bisa bareng sama rombongannya yang naik mobil :')
Kuingat sekali waktu aku ke Jogja di tengah magang untuk mubes FLP. Lalu ketemu Memey dan Farah. Padahal dadakan 500an. Lalu Farah cerita perjuangan lamar kerjanya dan Memey cerita sidang dan berita S2nya.
Kuingat sekali mereka suka bilang, "Tuh kan temennya Fitri keren-keren" kalo aku abis cerita tentang siapa gitu. Its like mereka ga sadar...mereka kan temen aku juga wkwkwk. Dan proven sih, meeka keren-keren B)
Ahaha, kangen ya. Terima kasih pertemanannya :') Terimakasih untuk obrolan apapuuun yang sering kita obrolin dari jaman masih sering masuk kuliah sampai obrolan karena bingung di lab mau ngapain saking stucknya :") Semoga bisa jadi pertemanan sampai kelak di surga, ya :) Aamiin
Selamat melanjutkan perjuangan Papamu di Jerman dulu Mey! Banyak cerita, ya.
Dan Farah, aku tau kamu juga kepengen S2. Selesaikan papermu atau kamu minta rekomendasi dari spv di tempat kerja! Kuat-kuat ya kamu yang 20an tahun hidup di Jogja sekarang jadi anak ibukota! wkwkwk.

Salam sayang,
Fitri-yang baper diawali dari baju


Halo @setyanich

halo set, 
teman seruang kala pertama masa aliyah
lalu teman bareng di jogja 
lalu teman rapat di perpustakaan kota

teman yang sama-sama punya cita pingin kerja di penerbitan, wkwk
*makanya seneng bisa foto dengan gambar itu 
(dan di teknik grafika dan penerbitan lagi wkwk)

selamat mempersiapkan kembali pulang ke jogja ya ty
semangat ayam (s)krispinya 
semoga kepulangan ini bisa ngecas semangat yak

yay, aku sangat senang bisa main ke rumah tyani
sendirian, setelah 8 tahun++ berteman

seminggu lalu berawal dengan motoran ke nikahan aisyah di cibubur
dan diakhiri main ke tgpfest
*duaduanya punya ekor sesuatu di belakangnya sih
tapi nggapapa :")

semoga bisa jalan-jalan bareng lagi yak, dear @setyanich :")


suatu kamis, 29 sepember 2017
kemarin rabu hujannya awet banget

Pola (dan Modus)

jadi itu susunan botol, yang ternyata emang keliatannya dari jauh polanya apa

Saya ngeliat dari deket, ngira bebotolan itu bisa disusun-susun biar polanya terserah kita. Udah megang salah satu botol dan berusaha ngambil.
Tapi ternyata enggak, udah nempel jadi satu rangkaian satu sama lain.

Saya menjauh dari kumpulan botol itu, mendekati Tyani.
F : "apa sih bacanya? Oh, i love you."
T : "Love you too."
F : "Eh? Hah?"
F & T : *diem sebentar* "Ahahaha."
F : "Bisa juga ya ginian buat modus" -masih ketawa

Lalu perbincangan kami pun menjadi ide modus lain berkaitan dengan pola botol itu. 

#random #tgpfest2017 #akuinginkeartjogtapiudahlewatdaneffortnyasusahjugasekarang:"



Jumat, 29 September 2017

Jauhkan

Ya Allah, jauhkan aku dari kecenderungan-kecenderungan yang perlahan menjauhkanku dariMu. Kecenderungan pada urusan-urusan dunia yang menyibukkan. Kecenderungan pada manusia yang membuat tidak tenang. Kecenderungan pada hal-hal fisik yang membuang waktu. 


Rabu, 27 September 2017

Dunia yang Semakin Ramai

Belakangan, saya merasa dunia semakin bising. Grup-grup berbunyi tanpa henti. Tiba-tiba saja notifikasi sudah ratusan. Diskusi/sosialisasi tentang sesuatu rasanya sudah tiada sempat terjamah. Tiba-tiba notifikasi 700an. Belum sempat terbaca, beberapa hari kemudian sudah narasumber kedua. Detik ini, notifikasinya 1.353. Entah saya yang terlalu banyak ikut grup, atau memang di sisi lain ini adalah konsekuensi logis dari kondisi kekinian di mana ukhuwah lebih mudah tersambung tanpa batas jarak dan waktu lagi.

Postingan igstori atau wastori pun demikian. Makin hari rasanya makin banyak saja yang posting sesuatu yanag disengaja hanya untuk 24 jam saja. Saya kadang lucu ingat betapa dulu orang-orang suka bilang "Nggak suka sama WA pake ada fitur stori segala. Nyama-nyamain IG aja." Tapi sekarang, yang bilang demikian juga ada yang jadi rajin posting di wastori. Saya beberapa kali pun menemui beberapa orang yang mengepos gambar yang sama baik di igstori maupun wastorinya.
Belakangan, saya merasa dunia semakin ramai secara visual. Dan saya, masih saja seringkali menyengaja menginvestasikan waktu untuk menjadi penikmat update-an itu (saya nggak bilang aktivitas ini salah, cuman kadang niat refreshing buka igstory, misalnya, jadi kebablasan).

Belakangan saya jadi nanya sih sama diri sendiri. Mana yang imbalance? Saya yang nggak bisa bagi waktu untuk memantau aktivitas yang tejadi di grup-grup itu, atau memang load tanggung jawab sedang pada peak-peaknya. Atau ya emang sesimply aku nggak niat buka grup-grup itu (dari yang mulai  ngobrol aja sampai yang emang grup dengan bahasan berbobot)? Ehm, kalau pernah belajar niat=hasil sih opsi ini yang paling ngena. Cuman di sisi lain, i feel sad when it's like i late to know something semacam si X sidang atau baca bahasan-bahasan diskusi yang  sesunggunya bisa memperkaya diri.

And it's also happen sama kebiasaan saya beberapa bulan lalu. Jadi ada momen di mana akun IG rasanya kupake cuman buat ngepoin akun-akun penerbit/produsen/reseller/perpustakaan/penulis buku anak. Ya Allah itu senengnyaaa dari liat update-an tentang sisi parenting, sisi berkolaborasi bersama anggota keluarga, ilustrasi, konten buku, sampe promo buku anak mana yang bisa kubeli dengan harga murah wkwkwk. Tapi belakangan itu kayak hilang gitu aja. Dan sama seperti paragraf sebelumnya, sih. Saya kembali mempertanyakan soal imbalance dan apa yang salah belakangan ini terhadap diri saya.

Di sisi lain, dengan semaraknya media sosial (simply ini mengacu ke igstory wastory; mungkin bisa juga baca tulisan ini). Saya kadang jadi nanya ke diri sendiri. Am I too introvert? Kalau baca posingan yang barusan saya link mungkin akan sedikit paham maksud statement barusan. Di fitur story, orang (termasuk saya juga) kadang mengepos hal yang gak penting sampai penting, yang nostalgic sampai yang so update, yang aib sampai yang inspiratif, yang ditujukan buat banyak orang atau sebenernya cuma ditujukan ke satu orang (terus kenapa ampe bikin story segala wkwk, tentunya ini saluran naluri eksistensi diri sih). Ini tentu saja mengesampingkan akun-akun endorse ya. Tapi sungguh, saya tertarik sih masihan dengan fenomena ini. Motivasi dibalik setiap postingan IG sampai refleksi ke diri sendiri, diri saya, jarang pos-pos gitu apa terlalu introvert, apa less expression (padahal kalo orang udah kenal banget bisa bilang saya nih suka heboh gitu-__-), apa gimana sih? Wkwk. Ini ga gitu penting (kalo ada yang baca), tapi bagi saya ini part of rasa penasaran sih. Seenggaknya penasaran sama diri sendiri. Buat identify diri sendiri biar lebih kenal.

Ya baik sekian curcol random (yang saya rindukan)  di blog ini yeay!


Salam,
Fitri
yang belakangan kerjaanya ngecekin stori-stori yang bukan igstori atau wastori (tapi kadang disambi), wkwkwk.

Rumah, 27 Sept 2017
23.43

Jumat, 25 Agustus 2017

Bukit Sleker Asri; Wisata Baru Hutan Pinus Magelang

Salah satu objek wisata yang belum lama ini saya datangi adalah Bukit Sleker Asri. Mulanya, dalam rangka halal bi halal kami sekeluarga mengunjungi rumah budenya Abi di daerah Soropaten, Bandongan, Magelang. Rumah yang terletak dekat sawah membuat adik-adik saya tertarik untuk mengeksplor sawah. Jadilah Ibu, saya, dan adik-adik berjalan ke sawah dekat rumah yang kami kunjungi sementara Ayah masih mengobrol dengan budenya. Maklum, di Bogor kami tidak tinggal di daerah persawahan. Sampai di sawah, kami disguhkan pemandangan yang indah memanjakan mata. Termasuk sekumpulan pohon pinus yang berjejer rapi yang terihat dari kejauhan.

itu yang padat berdempet-dempet di tengah pohon pinusnya waktu dilihat dari kejauhan

Selesai mengeksplor sawah, Ayah mengajak kami mengunjungi Bukit Sleker Asri. Dari budenya Ayah, kami jadi tahu kalau Bukit Sleker Asri itu serupa dengan hutan pinus. Saat beberapa hari setelah idul Fitri lalu tempat wisata ini baru 4 bulan dibuka. Karena ternyata letaknya cukup dekat, maka kami sekeluarga dadakan memutuskan untuk mengunjunginya. Sayang, tempat ini belum bisa diakses oleh kendaraan umum di Magelang.

Kalau ditempuh dari pusat kota Magelang, Bukit Sleker Asri dapat dicapai setelah kira-kira memakan waktu sektar 30-40 menit menggunakan kendaraan pribadi. Arahnya kalau dari tugu Pasar Bandongan belok kanan, lalu setelah lapangan kecamatan lurus. Setelah tanjakan ambil kiri arah SMAN 1. Lurus terus dan setelah jembatan belok kanan, lurus terus lalu sampai. Sebagai tempat wisata baru, area parkir kendaraannya tidak cukup luas dan sehingga agak sulit bagi mobil. Namun jangan khawatir, ada petugas parkir yang siap memandu dan  membantu kelancaran parkir.

Mendekati lokasi, kami baru tahu kalau Bukit Sleker Asri ini merupakan pepohonan pinus yang kami lihat sebelumnya di sawah. Tempat wisata ini mematok harga tiket masuk sebesar 4.000 per pengunjung (harga akhir Juli 2017). Di sini, pengunjung dapat melihat hutan pinus yang telah dipasangi beberapa bangku-bangku untuk bersantai dan area-area untuk aktivitas bermain anak. Tidak ketinggalan juga, gapura bunga, hiasan-hiasan gantung. dan payung-payung yang sengaja didesain sebagai spot foto. Kita juga bisa melihat kejauhan dari gardu pandang dan bisa bersantai di hammock-hammock yang tersedia.


Di Bukit Seker Asri terdapat juga arena-arena yang biasa digunakan untuk outbond seperti flying fox, jalan di tali, dan lain sebagainya. Waktu saya berkunjung ini, saya terpikir bahwa tentu seru dan asyik jika tempat ini digunakan sebagai lokasi family gathering. Apalagi saat mudik begini. Karena selain lokasinya yang sejuk, daerah yang tidak dipasangi wahana juga masih cukup luas untuk menggelar tikar, bersantai, mengobrol, makan bersama, bermain game keluarga dan juga menikmati arena-arena bermain yang ada di tempat wisata ini. Suasana yang rimbun dan teduh membuat betah berlama-lama sambil melihat pepohonan pinus yang tinggi sembari bercengkrama bersama keluarga. Anak-anak pun bisa lebih intens berinteraksi fisik di lingkungan bebas. Sayangnya mudik kemarin keluarga besar belum sempat melaksanakan. Semoga kumpul keluaga berikutnya bisa dilaksanakan. Aamiin.

Banyak spot menarik yang sayangnya kemarin belum sempat tertangkap kamera (baru sadar waktu sudah pulang). Kayaknya saya keburu terpesona sama dekorasi tempat wisatanya, hehehe. Tapi tenang, buat teman-teman yang penasaran dengan foto-foto yang lebih menarik bisa cek langsung IG-nya Bukit Sleker Asri di sini.

#KelasNgeblogSeru2 #NgeblogBersamaNaqiyyahSyam

Senin, 21 Agustus 2017

Shalat Sendiri Apa Jamaah?

Gejala asma Fatih muncul lagi sejak Sabtu sore. Batuk-batuk, agak sesak, nafasnya berat. Jadi nggak shalat ke masjid dan shalat sendiri di rumah (karena kalau ikut jamaah nanti either Ummi yang nggak tenang shalatnya karena takut Fatih nggak kuat dan jadi nyepetin shalat dan dia bisa ngukur dirinya sendiri).

Terus tadi Isya karena Fahri belum pulang dari ngaji di RT lain, Ummi sempet ragu mau shalat sekaraang apa nunggu anak itu balik karena dia gakbawa kunci, kasihan kalau nunggu kelamaan di luar.
Fatih abis wudhu datang ke tempat kami hendak shalat.
Terus awalnya agak ragu Fatih mau ikut shalat jamaah nggakpapa nih? Apa Fatih nungguin Fahri pulang aja ya jadi sahlatnya gantian.
Fatih nanya, "Gimana Mi Fatih jadinya shalatnya?"
"Terserah Fatih."

Lalu Fatih bilang, "Jamaah sama Ummi aja deh. Udah terlalu banyak Fatih shalat sendiri."

Ummi tersenyum haru.

-Karena jawaban Fatih itu tentu lahir dari pehamahan yang nggak sederhana soal pentingnya shalat jamaah, dan saya nggak tahu bagaimana itu bisa perlahan tumbuh di kepalanya, maasya Allah  :')

Apa Yang Saya Pelajari Sebulan Belakangan

I have met many things in a month (until today).
Dan banyak sekali hal baru yang saya dapat.

Saya belajar mengenal orang-orang yang mimpinya bukan hanya kebermanfaatan sesaat. Tapi yang rasa-rasanya unbelievable. Orang-orang yang ingin punya portofolio kebaikan yang bisa dirasakan sekian juta orang dua tahun lagi. Saya belajar untuk menjadi bagian dari mereka. Saya belajar untuk bisa mengasah sense lebih dari sekadar 'aplikasi ini akan bermanfaat untuk pedagang UMKM dan bisa berpotensi menscaling usaha mereka' ke 'kalau usaha mereka sudah terbantu, mereka akan punya waktu lebih untuk mengenal Tuhannya, untuk mempelajari agamanya'. Kala itu, kumerasa malu karena belum kepikir sampek sana semangatnya :""

Saya belajar mengenal orang-orang yang bilang, "saya tuh kalau kepikiran ide nggak bisa ngak dipikirin jangka panjangnya". Lalu ia bercerita soal mimpi sekian ribu kebermanfaatan yang bisa diberikan di 2012, lalu terwujud. Sedikit demi sedikit ditingatkan. Lalu puluh (atau ratus-saya lupa) ribu kebermanfaatan, dan ia mulai mencari cara bagaimana agar kebermanfaatan yang ia hasilkan bisa semakin sustain. Dan sebagaimana niatnya yang 100%, maka Allah tunjukkan banyak cara meraihnya. Saya belajar untuk bisa membantu mewujudkannya.

Saya belajar dari ketulusan seorang kakak yang mau-maunya meluangkan waktu untuk membina adik-adik yang punya minat yang sama. Padahal kakanya kerja. Padahal kakanya juga punya projek pribadi. Dan kakanya fast response, mau nanggepin bocil-bocil (yang sebenernya udah gede ini) kalo nanya atau komen.

Saya belajar dari managing peoplenya seorang kakak yang megang product. Dari bagaimana mengapresiasi para anggota timnya bahkan untuk urusan kecil kehadiran pada waktu yang dijanjikan. Dari bagaimana cara ia menghandle ketidakhadirannya dengan -seniat itu- bikin video buat briefing. Dari bagaimana ia memanage diri padahal target di depan mata dan requirementnya banyak printilanya. Dari bagaimana nggak cuma 1 project yang dihandle tapi sebisa mungkin bisa memenuhi hak keduanya. Dari -kalo kata temen saya- how to coping stress. Manage banyak orang tentu nggak mudah; perangainya macem-macem, maunya beda-beda, belum kalo berhubungan sama third party. Juga meluangkan waktu di luar jam kantor untuk tercapainya target yang lebih baik.

Terima kasih kakak-kakak dan teman-teman semua, kalian luar biasa :') Semoga Allah senantiasa menjaga dan membalas kebaikan kalian dengan yang lebiiih baik lagi.

Semoga besok launch PAnya sukses :")

#liveatbadrinteractive
#liveatbookprojectgemabi
#liveatgrupbimbingankaknovi
#liveatpaproduct


Minggu, 13 Agustus 2017

Transfer Antar Bank Tanpa Biaya? Di-Flip-in aja!

Sejak punya rekening sendiri, saya sering melakukan kegiatan transfer uang. Mulai dari kegiatan yang berhubungan dengan akademik seperti ikut seminar berbayar yang diadakan oleh jurusan, beli buku kuliah online, donasi, sampai juga membeli kebutuhan pribadi maupun keluarga. Karenanya, kegiatan transfer sering saya lakukan. Alhamdulillah fasilitas online banking yang saya aktifkan sangat menunjang aktivitas ini sehingga saya tidak perlu selalu mampir ke ATM atau Bank untuk melakukan transfer.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa transfer antar bank  yang memiliki konsekuensi biaya transfer sebesar 6.500, 7.500, 2.000, dan biaya yang disepakati antar bank itu, kalau dikumpul-kumpul banyak juga. Saya yang merasa sayang dengan uang yang harus dialokasikan hanya untuk biaya transfer berpikir bahwa lebih baik saya datang ke bank tujuan untuk setor di teller. Antri sedikit biarlah tak apa. Yang penting uang di rekening tidak terpotong biaya untuk transfer.

Kala itu, saya selalu melakukan strategi tesebut untuk mengantisipasi pengeluaran tambahan untuk biaya transfer. Fasilitas online banking saya gunakan untuk antar bank jika memang kepepet dan tidak sempat datang ke bank tujuan. Lama-lama saya merasa ribet juga. Dan tentu saja, tetap ada biaya transfer yang saya harus keluarkan.
tampilan website flip.id

Suatu hari, saya dikenalkan dengan Flip. Saat itu flip masih merupakan aplikasi berbasis website yang membantu melakukan transfer antar bank tanpa biaya. Wah, saya langsung tertarik dong. Saya coba dan ternyata cara kerjanya adalah saya transfer melalui rekening perantara yang satu bank dengan bank yang saya gunakan. Nanti dari admin akan meneruskan transfer saya ke bank tujuan.

Kala itu Flip masih baru. Rekening perantara yang digunakan juga belum rekening perusahaan. Namun saya percaya karena direkomendasikan oleh teman yang telah menggunakan Flip. Transfer melalui flip biasanya ditambah kode unik. Tapi tenang saja, nominal kode unik ini nantinya akan menjadi saldo yang disimpan di setiap akun menjadi deposit dan dapat diambil.

Sejauh ini, Flip sangat membantu saya dalam melalukan kegiatan transfer. Kabar baiknya, setelah survive dalam bentuk website, Flip juga hadir dalam bentuk aplikasi mobile. Terasa sekali manfaat Flip yang telah saya rasakan. Karena selama saya menggunakan Flip, ada juga teman saya yang menggunakan akun saya untuk transfer, tertera pada halaman depan bahwa selama  menggunakan Flip, saya (dan orang-orang yang menitip) telah melakukan penghematan sebesar 162.500.

Nggak sadar kan ternyata dari biaya-biaya transfer itu kalau dikumpulkan bisa menghasilkan angka besar. Tertarik? Cobain yuk!

Tulisan Ini Adalah Tugas Dari Kelas Ngeblog Seru #2 Bersama Naqiyyah Syam




Selasa, 08 Agustus 2017

Al Hadid#3:Edisi

Kemarin waktu jadwal tilawah, notice hanya ke Al Hadid ayat 11 dan 21 yang ada di postingan sebelumnya di Al Hadid#1 dan Al Hadid#2. Eh, malamnya lihat postigan IG Kak Septi yang mengutip ayat lain.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (Al Hadid 22-23) 

Allah knows best. Tapi kitanya-bahkan yang sudah tahu-, memang harus senantiasa diingatkan :')



Al Hadid#2:Edisi Surga Seluas Langit dan Bumi

"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."-Al Hadid:21

Saya pernah baca di notes Dina* di Qurannya, kurang lebih kalimatnya begini  Betapa sedih ketika kita mengetahui bahwa surga luasnya seluas langit dan bumi, tapi belum tentu kita ada di dalamnya...




*Dina ini musyrifah saya di suatu agenda, alumni aliyah HK, aslinya sekolahnya seangkatan. Sedang masa penjagaan hafalan 30 juz :')


dibaca di Badr,
7 Agustus 2017


Al Hadid#1:Edisi Pinjaman Kepada Allah

"Barang siapa meminjamkan kepada Allah denan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipatganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia," -Al Hadid:11 
"Sesunggunya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia."-Al Hadid:18

Belakangan, setiap ke Badr lewat jalan dalam, saya selalu melihat kambing dan domba. Gak terasa sudah kurang dari sebulan lagi, idul adha akan diselenggarakan. Setiap lihat kayak gini tuh inget jaman masih di PPSDMS lewatin Jl. Kaliurang area tertentu yang di sana berderet jual kambing untuk kurban. Jadi ancang-ancang kalau nggak mau nyium baunya dari jauh-jauh udah nahan nafas. Dan tahun ini pun-untuk pertamakalinya setelah 2007-ngerasain suasana pra-idul adha di sekitar Cibinong (baca: baru Depok, ding).

Terus kemarin waktu jam tilawah di Badr terjemah ayat ini yang dibaca. Sempet diem sebentar dan tercenung. Kita itu, dari seluruh nikmat yang sudah Allah beri, seberapa bisa ya meminjamkannya kembali ke Allah. Padahal mah semua yang kita punya juga pinjaman sih. Tapi kita teh masih suka itung-itungan ke Allah. Belum bisa setotalitas para sahabat yang dulu mah sampe rela miskin karena nyumbangnya banyak untuk keperluan dakwah Islam.

Di sisi lain, momen menjelang idul adha ini saya teringat kisah yang pernah saya dengar. Kisah ini kisah asli. Alkisah ada seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang udah niat pengen kurban. Dan alhamdulillah, Allah berikan ia kemampuan kurban di usia tersebut. Bertahun-tahun kemudian, ia punya anak yang mau masuk kuliah. Kala itu si ibu sempat bercerita tentang niat kurbannya jaman kuliah itu. Setelahnya, si anak punya azzam yang sama. Bisa kurban sendiri sejak usia 19 dan kalau bisa setelah-setelahnya. Singkat cerita, anak itu berhasil mewujudkan niatnya.

Dalam perkara cerita tersebut, barangkali teman-teman juga pernah mendengar kisah yang sama, mirip, atau bahkan lebih heroik dalam artian perjuangan yang lebih sulit. Tapi di atas itu semua, saya ingin menekankan pada teladan orang tua bagi anaknya. Saya tidak tahu apakah terselip harapan baahwa si anak akan mengikuti jejaknya ketika sang Ibu bercerita. Namun, yang saya tangkap, sang anak merasa terinspirasi oleh niatan ibunya yang mengazzamkan diri untuk berkurban di usia 19, sehingga ia pun memiliki tekad yang sama.

Hal ini sama dengan bagaimana Ismail rela disembelih oleh Nabi Ibrahim ketika tahu bahwa tu adalah perintah Allah. Tentu ada suatu metode pendidikan dari Ibrahim yang membuat Ismail sedeikian taatnya pada Ayahnya atas dasar ketaatan pada Allah.

Hm, awalnya mau nulis yang intinya 2 ayat tadi sih, tentang pinjaman kepada Allah. Tapi ternyata ini jadi nyambung ke keteladanan orang tua. Untuk menutup, semoga kita bisa jadi orang yang dermawan untuk berinfaq di jalan Allah, dan semoga kelak bisa juga memberikan teladan yang baik bagi anak-anak kita (takut eh nulis yang terakhir). Semoga kita bisa terus nabung sampai eksekusi untuk bisa senantiasa ikut berkurban da menunaikan haji (karena idul adha kan momennya momen ibadah haji juga).

Aamiin.

Baca juga : Merencanakan Makkah

Badr-Rumah
7-8 Agustus 2017



Minggu, 06 Agustus 2017

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle: Kalau ada orang bisa menghafal satu halaman Qur'an hanya dengan 10 menit dan ada orang yang baru bisa menghafal satu halaman Qur'an ...

"Ketika orang bisa sukses dengan mudah, bisa memiliki pencapaian hidup dengan cepat, maka dia haru segera berpindah menuju pencapaian sebelumnya. Supaya ga banyak waktu sia-sia yang terbuang. Itu rezeki dia, dengan segala akselerasi dalam hidupnya, dia bisa memiliki banyak hal dan mencapai banyak hal dalam hidup. Tapi, kalau cepat sukses naun gampang terlena, waktunya habis untuk banyak kesia-siaan. Menikmati kemewahan hidupnya.


Sedangkan orang yang struggle dan tidak menyerah dengan tujuannya, maka kemungkinan besar hidupnya selalu diisi oleh attempt-attempt yang baik, selalu bersyukur, bersabar sambil menikmati proses menuju pencapaiannya. Bisa jadi dalam perjalanannya dia mendapat pelajaran hidup yang banyak, dikasi kesempatan untuk beramal yang banyak dulu, berdoa yang banyak, beribadah yang banyak, sehingga prosesnya selalu diisi oleh hal-hal yag bermanfaat.

So, that's okay kalo struggle. Ga perlu iri dengan keberhasilan orang, karena untungnya Allah nilai kita dari proses, bukan hanya dari hasil. But for some people out there who are lucky enough to achieve success quickly, segeralah berpindah mencari proyek kebaikan selanjutnya karena keerhasilan kadang emang melenakan. "


thank you, anisah!

Lika Liku Awal Belajar Tata Letak Blog

Tulisan ini ingin saya mulai dari pendahuluan bahwa saya mulai punya blog dari kelas 5 SD.

Dulu, platformnya pakai multiply. Alasannya, karena banyak penulis-penulis FLP yang saya tahu lewat profil penulis di buku-bukunya, punya blog di multiply. Jadilah blog pertama saya yang berdomain multiply, dibuat kelas 5 SD. Posting tulisan pertama, lalu selesai, tidak pernah disentuh lagi.

Sampai ketika saya kelas 8 (2 SMP), kalau tidak salah, laboratorium komputer baaru di SMP saya selesai dibangun dan sudah boleh dioperasikan. Ketika akses internet mulai bisa kami lakukan, maka saya teringat dengan blog itu, dan mulai coba-coba merawatnya.

Blog dengan platform multiply itu tampilannya memang seperti kita punya rumah besar dengan banyak ruang. Kita punya teras (home), punya tempat album sendiri, punya rak untuk daftar link, punya rak daftar video, bisa buat daftar lagu yang ingin didengar, punya bagian khusus untuk agenda, dan punya bagian khusus kalau kita mau me-review buku ataupun film. Nah, untuk yang pertama, karena punya home, dan waktu itu media sosial friendster lagi ngetren, jadilah sekali dayung dua pulau terlampaui untuk belajar "menghias" bagian home dengan hiasan alay ala-ala yang hits waktu itu; glitter, jam, teks dengan segala efeknya (efek gerak efek ilang timbul, dsb), formatting berbeda tiap ada penekanan pada kalimat tertentu, dan lain sebagainya.

tampilan blog ketika itu :" itu judulnya gerak-gerak gitu jalan dari kanan ke kiri

Dan di sini perjuangan selanjutnya adalah mencari template blog yang pas dan sesuai dengan mau kita.

Kamis, 03 Agustus 2017

Ilmu dengan Adab

Ibu Sufyan Ats Tsauri merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.”

Sang ibu juga berpesan, “Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah itu mengubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.”

(Al Kawakib Ad Durriyah, 1/231)

Pada suatu masa di perjalanan dari warung sop-soto di Karangwuni, masih di atas jok motor, saya bersama Nusa, si calon ketua KAMMI Sleman  membicarakan kutipan ini. Bagaimana bisa ilmu dibilang dapat mengubah cara jalan, keadaan, kelembutan, serta ketenangan. Menambah hal-hal di luar pemahaman, wawasan, dan kebijakan.

Lalu Nusa berkata, karena ilmu, semestinya diperoleh dengan adab. Maka adab menuntut ilmu lah yang membuat kita mendapatkan hal-hal tersebut, sehingga tersebutlah ilmu itu memberikan manfaat; bukan justru membahayakan.

Semoga, adab dalam menuntut ilmu bisa terus kita ingat dan laksanakan dalam setiap kesempatan. Sehingga kita bisa memperoleh apa yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat dalam kutipan tersebut.

Yassarallahu amrana!

#ntms
Terima kasih berbagi insightnya, Nusa! Semangat kamu skripsinyaa :")

*ps: itu halaman motto di skripsi, dulu pertama banget nemu quote itu dari akun OA Dakwah Islam di line

Picture : Kodomo Raiburari

when i suddenly found this pict and...i wanna post these all
-perpus yang jauuuh banget dari stasiun, dibela-belain bujuk temanjalan waktu itu kesana setelah ke beberapa tujuan dan ternyata perpusnya....tutup hari itu :")

*kumenyesal ndak foto bersama gambar sebelumnya. eh tapi di yang di sparklingin itu masih keliatan ding :") Semoga Allah kasih kesempatan di lain waktu untuk masuk dan mengeksplor.

btw, setelah kepo, nama website perpus ini id URL nya kodomo (gemes banget gak sih, kodomo tu artinya anak-anak :")


dilihat dari pintunya aja, kita bisa menebak bahwa dalamnya akan banyak petualangan :")

once upon a time, kita harus ketemu lagi, ya :')

tambahan bonus
-perpuskota Jogjakarta; setelah dikasih blokade area khusus yang lumayan tinggi itu, belum pernah baca-baca lagi. Dulu mah, masuk aja dan baca buku-buku di sana. Ada beberapa buku anak yang ngga biasa ceritanya; tapi matter dan bisa ngasih pandangan soal case kehidupan yang ngga biasa jadi konten bacaan anak. Sayang, terakhhir nyari di toko buku ndak ada :"

-perpus Magelang, depannya doang soale masih tutup libur lebaran

-There is a reason why I posted these pictures after accidentally finding the first photo that evokes my memories :')

-Rumah, 3 Agustus 2017




Minggu, 30 Juli 2017

untuk Shofi


Rasanya masih tidak percaya ketika pertama kali mendengar kabar Shofi Jumat kemarin. Bukankah rasanya baru saja pagi atau semalam aku lihat update igstory kamu, Shof?

Dear Shofi,
aku kehabisan kata-kata sore itu. Jumat itu. Aku merinding dan bahkan sampai sekarang pun masih sesekali. Riangmu, semangatmu, ambisiusmmu, jurnal ilmiahmu, keimpulsifanmu, galaumu.
Barangkali aku belum sedekat itu sama Shofi. Tapi, aku belajar banyak hal soal kesungguh-sungguhan yang kau cerminkan. Aku mengagumi tekad kuatmu untuk jadi scientist. Aku heran kenapa energimu tidak pernah habis, kenapa kamu begitu betah baca jurnal ilmiah, kenapa kamu bisa terlihat sebegitu riang walaupun terkadang kamu tidak enak badan.

Perginya Shofi jadi teguran keras buat kami;
Apakah kematian tidak cukup menjadi pengingat?

Bukannya baru semalam kamu menempuh kereta Jakarta-Yogyakarta? Bukankah paginya pukul delapan kamu baru selesai mengirim email untuk deadlinemu? Bukankah beberapa teman kita baru saja berbalas komen denganmu dua jam yang lalu sebelum berita itu sampai pada kami?Bukankah rencana kembalimu dari Jogja tinggal senin besok? 

Tapi Allah memintamu pulang duluan. Lebih dulu dari rencanamu. Lebih abadi dibanding tujuan pulang awalmu.

Dear Shofi,
aku yang tidak sealmamater kampus saja menyaksikan bahwa betapa banyak yang kehilangan sosokmu. Apalagi mereka yang banyak irisannya denganmu, ya :"
Mereka mengenang kebaikan-kebaikanmu. Semangat juangmu yang terus menyala. Energi yang tidak pernah habis. Kontriubsimu yang jauh dari rasa lelahmu. Keinginanmu untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat lewat mimpi-mimpi penemuanmu.

Semoga rahmat dan ampunan Allah selalu ada padaMu Shof. Semoga kebaikanmu masih terus mengaalir, karena kami yang kamu tinggalkan, rasa-rasanya masih menerima itu semua. Kelak, semoga kita bisa berjumpa di surga,, ya Shof.


Kami sayang Kamu, Shof.


Selamat Jalan, Kepulangan. Selamat Datang, Kepergian..Kebanyakan dari kita selalu rindu kepulangan akan rumah. Menanti-nanti waktu berakhirnya hari dan menyambut lonceng tanda pulang dengan kebahagiaan. Akankah kelak kita menyambut dengan suka cita pula, saat Allah menyerukan panggilan untuk pulang menuju ke rumah keabadian?Pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat. Kepulangan seperti senja yang indah adalah akhir yang tenang dan membahagiakan. Mungkin ia adalah perpisahan, tetapi ia menjadikan kepergiannya membekas indah pada orang-orang yang ditinggalkannya.. -via Siti Nur Rosifah


Fitri-yang merasa kehilangan
semoga aku bukan menjadi orang yang merugi 
karena tidak menjadikan kabar ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri





update
“Karunia yang Allah berikan lebih besar daripada musibah, karenanya kita harus bersyukur.” -Abinya Shofi-via tulisan indah 

Jumat, 28 Juli 2017

#KomikPalestina : Rekomendasi Buku Anak Edisi Hari Anak 2017

Ahad lalu bertepatan dengan tanggal 23 Juli 2017. Tentu kita sudah tidak asing mengenal tanggal ini sebagai hari anak yang diperingati setiap tahunnya di Indonesia. Saya yang kebetulan banyak follow akun media sosial penerbit buku anak dan penulis buku anak pun melihat banyak postingan yang berkenaan dengan hari anak ini. 

Bagi beberapa orang, suatu tanggal diabadikan jadi tanggal peringatan suatu momen mungkin tidak terlalu penting. Saya pribadi juga nggak menganggap itu penting yang gimana banget gitu sih. Tapi, bagi saya momen peringatan adalah waktu untuk kita jadi semcam dikasih alokasi waktu untuk ngeh sama hal-hal yang berkaitan dengan momen itu. Kayak dikasih porsi khusus gitu, lho.


Khusus pada momen hari anak kemarin, selain peringatan hari anak, di media sosial juga lagi gencar soal Palestina. Bukan hanya konten berita, tapi juga komen-komen soal Palestina. Salah satunya soal anak-anaknya. Karenanya saya sempat terbayang tentang momen hari anak di Palestina.

Two Mates of This Week

Juli ini memang sesuatu :")

Kamis, 27 Juli 2017

Al Fath : 11; Hati dan Mulut Kita


(
((mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya))

Halo, seberapa sering mengatakan (se)suatu doa karena kebiasaan, bukan memang karena sungguh-sungguh ingin dikabulkan isi bacaannya?

Seberapa sering membaca bacaan hanya karena yahu harus dibaca saja, tanpa paham apa makna bacaannya?


Badr, 25 Juli 2017

Minggu, 23 Juli 2017

Kapan Waktu Terbaik Memulai Puasa Daud?

Saya baru tahu praktik puasa daud waktu di Insan Cendekia. Sebelumnya, saya tahu secara teori namun belum pernah tahu ada yang mempraktikannya. Di Insan Cendekia, saya mulai melihat orang-orang yang memulai puasa daud (maupun meneruskan kebiasaan shaumnya sejak sebelum masuk IC).

Singkat cerita, Bu Evi, wali asrama putri angkatan saya ketika itu pernah berkata.
"Kalau mau mulai puasa daud, waktu yang paling baik itu, setelah selesai puasa Ramadhan. Karena saat itu perutnya sudah terbiasa dengan ritme puasa."

(baca:tentunya setelah menyelesaikan tanggungan hutang Ramadhan dan menuntaskan syawal).

-edisi tetiba ingat karena besok sudah penghujung syawal
Terima kasih, Bu Evi :)

Rabu, 19 Juli 2017

19-7-2017:This Night Vibes❤

Sudah lama menunda menulis. Kadang takut orang berprasangka. Kadang takut orang berlebihan mehgira-ira. Kadang pingin nuangin apa yang udah jadi draft berpekan-pekan lalu. Kadang sesederhana tidak menyediakan waktu. Maka, untuk merayakan dua postingan ini, instead of saya pos di igstory atau wastory, ditaruh sini saja, ditaruh rumah.




Halo, apa kabar kalian semua?

Selasa, 11 Juli 2017

Di Stasiun (Cibinong)


Stasiun Cibinong, sebagaimana stasiun-stasiun lainnya. Menyimpan banyak cerita. Tentang berpindah. Tentang pergi dan kembali. Tentang peluk-tangis-berpisah. Tentang perjuangan pagi-pagi. Tentang berebut antri keluar dari loket tiket. Tentang banyaknya penjemput yang mencaricari. Tentang gelisah protes orangorang yang penjemputnya belum sampai. Terlebih, tentang kontemplasi.
Stasiun ini sebenarnya sudah lama. Baru beroperasi kembali sekitar 1-1,5 tahun terakhir, kalau tidak salah. Terakhir dulu waktu saya awal-awal SD. Selebihnya, karena tidak dipakai, maka dinikmati sebagai tempat jalan-jalan : jalan habis sahur, ngabuburit, atau ahad pagi sebagai pemuas penasaran anak-anak kecil yang ingin tahu bagaimana rupa kereta tapi belum pernah mengindaranya langsung dengan mata. Maka cukuplah rel menuntaskan penasarannya.

Stasiun ini kecil. Tak punya kedai roti rasa kopi, minimarket, atau penjual roti maryam. Bahkan mesin atm satupun ia tak punya. Pekarangannya yang dulu terbengkalai sering dipakai main bola-bahkan sampai sekarang. Satu dua kali ada orang belajar motor di sana. Parkiran hanya bisa menampung motor dan itu pun akhir-akhir ini. Tidak ada parkiran mobil sama sekali. Tidak dilalui angkot di depannya. Depan stasiun ada dua sekolah dasar sehingga ramai abang jualan. Dari jualan jajanan sampai makan besar. Ada saja yang jualan dari jam jual abang bubur pagi-pagi sampai pecel lele kala malam.

Stasiun ini menyenangkan. Setidaknya bagi saya yang cukup menempuhnya hanya dalam bilangan rerata 10 menit berjalan kaki dari rumah. Kadang kurang, kadang pula lebih. Walaupun jalannya menanjak. Tidak apa. Tapi bisa mengantar kemana-mana. Meskipun jadwalnya masih terbatas; hanya 9x satu hari. 

Di stasiun suatu ketika, seorang anak perempuan dilepas ayah bundanya. Bawaannya memperlihatkan ia hendak pergi ke tempat yang jauh karena tasnya yang besar dan berjumlah dua. Orang tuanya memeluk lekat-lekat. Erat. Dua satpam menelan ludah. Amboi, betapa lamanya dirnya tidak dipeluk lekat-lekat oleh orang tua. Wajahnya menyiratkan rindu yang tak terkira. Stasiun, sebagaimana biasanya, selalu melukiskan pisah dan jumpa, antar dan jemput, temu atau lalu.

Di stasiun suatu ketika, seorang nenek bingung bagaimana tiket kartu bekerja. Maka petugas membantu dengan sukarela. Rombongan keluarga kerepotan hendak pergi ke rumah saudara. Petugas membantu dengan sukarela. Berulangkali orang bertanya memastikan arah. Maka sebanyak itu pula petugas menjawab. Di atas itu semua, barangkali hati petugas sering juga membatin: kapankah aku bisa ajak orang tua di kampung coba kereta antar kota? Kapankah bisa bersama berlibur naik kereta antar kota? Kapankah aku memijak tempat-tempat yang tadi ditanya.

Orang-orang terburu. Memenuhi loket keluar untuk segera mencapai tujuannya masing-masing. Ada yang ingin bergegas shalat karena tadi kereta berangkat persis waktu azan. Ada yang ingin lekas mampir beli oleh-oleh untuk buah hati: sekadar jajanan SD yang masih ada di dekat sekolah. Ada yang menunggu temannya. Ada yang ingin segera melepas penat di rumah. Ada yang ingin buru-buru melepaskan segala tumpah ruah pikiran dan perasaan di sudut ruang ternyamannya.
Cerita-cerita itu barulah yang tertampak mata. Runyamnya hati orang-orang disana tentu jauh lebih banyak. Berbagai pikiran memenuhi benak, mengisi ruang hati. Ada yang menimbulkan sesak, ada yang menaburkan bunga. Ada yang ingin dipendam sendirian, ada yang ingin segera diceritakan. Ada yang menyebabkan diam, memilih duduk lama di pinggir. Ada yang memburu-buru harus segera sampai.

Stasiun (Cibinong) selalu menyimpan banyak cerita.

Stasiun Cibinong,
17.17
11-7-17
*tanpa rekayasa waktu



Senin, 10 Juli 2017

Sepuluh Kebaikan

Saya menemukan ayat ini di Quran. Lalu, saya ingat postingan lama di sini. Waktu itu nggak nemu ayat ini jadinya pake ayat di Al Baqarah yang tentang sedekah.
Sekalian saya repost di sini. Postingan ini 2014 (meskipun lupa kejadian eksaknya lebih lama lagi). Kala itu umur Fatih barangkali 5 tahun lebih sedikit.
Matematika Kebaikan
Di rumah, Ummi pernah ngajarin Fatih kalau berbagi itu akan dapet 10 kebaikan.
Sampai pada suatu hari Ummi gorengin bakso buat Fahri sama Fatih. Bakso yang digoreng ini ukurannya masing-masing dipotong dulu, jadi per buah udah ukuran 1/2.
Kemudian bakso jatah Fahri udah habis. Sedangkan Fatih belum. Sisa empat buah (bakso ukuran 1/2) di piringnya.
Ummi : "Fatih udah nggak mau?"
Fatih : "Enggak, Mi."
Ummi : "Kasih Mas Fahri, ya?"
Fatih : "Yaudah deh Mi buat Mas Fahri aja."
Ummi pun udah mau ngasih baksonya buat Fahri, sampai kemudian Fatih ngomong lagi.
Fatih : "Dipotong-potong dulu deh Mi baksonya. Satu-satu dipotong-potong jadi dua aja." *(jadi ukurannya masing-masing 1/4 maksudnya)
Ummi : "Lho, kenapa ? Fatih masih mau?"
Fatih : "Enggak, Mi. Biar Fatih dapet pahalanya delapan puluh." *ngebayangin wajah polos anak ini
Ummi senyum, jelas gemes banget sama anak ini.
Ini cerita udah lumayan lama. Saya sendiri diceritain pas liburan kemarin. Jadi dalam kenyataannya mungkin redaksi kata-katanya ada yang beda, tapi insya Allah inti ceritanya tetap sama.
Mungkin Fatih emang itung-itungan jadinya, tapi secara logika, walapun masih kecil, Fatih ngerti kalau makin banyak berbagi, maka kita akan semakin banyak dapet kebaikan dari Allah. Meski ya emang aplikasinya kelihatannya kecil banget, cuma bakso yang kalo dipotong-potong lagi pun nggak akan nambah total pemberiannya.
Hayo, kita yang udah gede dan ngerti prinsip berbagi yang dijanjiin Allah ini, masih suka pelit dan perhitungan nggak?
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah : 261)
btw, mungkin dengan mengajarkan hal seperti ini belajar Matematika buat anak kecil akan terasa lebih menyenangkan #eh #salahfokus
Renungan buat diri sendiri juga
kangen kamu, Dek :')

Al A'raf : 23; Doa

Untuk yang belakangan terjadi dan terpikirkan :"

pas banget buka, pas banget ayat ini :"

Stasiun Cibinong, Kereta Nambo-Angke


Rabu, 28 Juni 2017

Cerita Puasa : Cipratan Saos

Ini postingan yang udah pengen ditulis dari jaman kemarin puasa itu.
Singkatnya, buka pertama puasa di ruamh tiga tahun belakangan sejak 2015, jatuh pada hari ke 10 puasa Ramadhan ini.

Waktu itu, pas sekali Abi dan Ummi pulang sore. Saya diminta nemenin adek-adek nyari buka di luar. Ummi mah nyuruhnya cuma sampai ke ujung gang. Tapi karena adik-adik mah udah niat pisan nyari jajanan favorit (yang ujungnya nggak nemu abang milung-cilung), akhirnya mantep banget kami bertiga jalan ke stasiun.

Abangnya nggak ketemu, tapi dekadek nemu jajanan lain yang akhirnya jadi kayak harta karun mereka. Ada abang takoyaki (yang biasa mangkal di depan SD). Ini abang takoyaki standar jajanan SD, jadi harganya murah 1000 per bulatan takoyaki. Kalo biasa yang suka dijual pas bazaar atau pameran gitu kan biasanya 10.000 dapet 4. Semangatlah adek-adek itu, walau isinya juga bukan gurita. Dan karena ini untuk pertama kalinya kami beli takoyaki di abang-abang mangkal SD, adik saya -terutama yang bungsu- excited banget. Sampai mepet-mepet abangnya demi melihat seluruh proses pembuatan takoyaki dari nuang adonan sampai packaging.

Waktu si abang tako ngasih saos, saosnya sempet muncrat. Ngenain kerudung putih yang saya pakai, ngenain kaos putih yang Fatih pakai. Heu, saya yang sudah besar ini sesungguhnya agak kesel, karena mikirin pikiran standar, heu ini bekas saos ngilanginnya susah gak ya? Mana putih kerudungnya. Harus langsung direndem nih? Baru dipake juga.

Tapi adik saya si Fatih tiba-tba nyeletuk. "Untung kenanya ke kaos, bukan masuk mulut. Kalo masuk mulut, bisa batal puasa Fatih." 

Si abang yang tadinya minta maaf, terus ketawa "Wah, bisa dosa nanti Abang, Dek."

Saya geli sekaligus malu. Malu eh, masa saya yang udah besar ini kurang syukurnya. Iya ya ini kan cuma kena baju. Nah kalo masuk mulut kan lebih repot.
*Dek, makanya mulutnya mingkem, wkwkwk. Suka gitu ya bocil kalo terpesona sama sesuatu mulutnya kebuka tanpa sadar, wkwkwk.

Makasih, ya, Dek :")

Senin, 26 Juni 2017

Ayat of The Day : Keburukan yang Menarik Hati


di Quran syamil yang kubaca disebutkan : hai orang-orang yang berakal sehat (ada sehatnya). Jadi kepikir euy, selama ini berakal sehat nggak ya saya. Kok kadang masih khilaf ngelakuin hal yang menarik hati padahal mah tau itu buruk :"

Selasa, 13 Juni 2017

Jalan

Captionnya antara :
Quarter-life-crisis sama "Duhai Allah, aku mohon bantuan-Mu"

Cibinong, 13 Juni 2017
Iya, sudah lama tidak menulis. Sudah lama ngedraf doang di kepala.

Jumat, 05 Mei 2017

Jakarta dari Balik Jendela

Jakarta adalah rumah-rumah pinggir yang dilihat dari jendela kereta sekaligus bangunan tinggi menjulang gagah yang dilihat dari jendela bus kota. Jakarta adalah banyak cerita yang tersimpulkan dari dua jendela itu.

-Jakarta, 5 Mei 2017
Terlintas di kereta kedua hari ini
Ditulis di kereta keempat hari ini
//masih hutang satu tulisan fit tentang Jakarta

Impact Doing The Best

"Doing the best itu impactnya banyak, dan kadang bukan dari kacamata yang mampu kita pandang saat ini."
-Kak Jay, 5 Mei 2017
pekan lalu pas CEO Talk di MeetUp Badr

Saya menuliskan ini pada catatan di Google Keep sewaktu meetup. Suka lupa ya sama Allah akan menilai segala usaha kebaikan. Sekecil apapun. Dan kita masih suka menilai balasan yang harusnya Allah beri dari kacamata materi saja. Lupa sama nikat-nikmat lainnya. Ya Allah, mampukan kami menjadi hambaMu yang terus penuh syukur....

Senin, 01 Mei 2017

Doa Air Zam-zam

Fatih : "Mbak ini ada air zam-zam", sambil nunjuk oleh-oleh Himmah yang belum saya minum itu.
Saya : "Iya nih Dek dikasih temen."
Fatih : "Mbak, boleh gak Mbak kalo nanti Mbak Fitri minum, Fatih minta sedikiiiit aja satu tetes."
Saya : "Biar doanya dikabulin ya Dek? Emang Fatih mau doa apa?"
Fatih : "Fatih mau berdoa biar Allah kasih rezeki yang banyaaa banget ke Palestina, ke Suriah, ke Rohingnya, pokoknya ke negeri-negeri muslim." Besoknya dia cerita kalau kemenangan itu termausk ke rezeki, makanya mintanya rezeki.
Saya : "Terus mau doa apa lagi?"
Fatih : "Fatih mau doa...semoga semua dosa berubah jadi pahala."
Saya : *terharu, meski yang terakhir lucu juga mintanya, tapi minta kan gratis ya? "Nanti kita minum airnya sama-sama ya..."
Fatih : "Mbak kita boleh nggak sih Mbak minta buat dunia?"
Saya : "Boleh dong Dek, waktu Mbak Fitri minta doa biar lulus, itu buat dunia 'kan?"
Fatih : "Oh, iya juga ya Mbak..."
Saya : *dalam hati * Ya Allah Dek, seumur Kamu bahkan nanya boleh nggak doa buat dunia? Aku seumurmu malah mungkin doanya buat dunia aja :"

redaksi mungkin agak berbeda (karena keterbatasan ingatan), tapi insya Allah konten overall sama

5 Weeks Behind (3)

Hm, harusnya sih 6 weeks behind. Tapi ini udah kepiirannya dari pekan lalu.

Khusus postingan inni pengen cerita soal pertemanan aja sih.

Di tempat baru di Cibinong-Depok ini, sesungguhnya saya tidak punya daily friend sebelumnya.
Sekolah SMP-SMA di lingkungan asrama dan kuliah di Jogja membuat saya kalau pulang suka bingung mau pergi ke mana ata janjian ama siapa. Ada tapi jauh, atau mager, atau ya momen tertentu aja. Paling di rumah juga ya main-main aja sama adik di rumah. Makanya jarang keluar dan kalaupun keluar kalo ada kebutuhan aja. Maka aktvitas tetap selama di rumah adalah dengan daily routine pulang pergi ke kantor Badr, dan ini untuk pertama kalinya setelah hal rutin di rumah saya adalah sekolah SD, wkwkwk.

Di Badr, kebanyakan anak UI. Founder Badr juga alumni Fasilkom UI 3-3nya, yang dua orang satu angkatan, yang satunya jauh lebih senior. Dan sekarang keluarga di Badr sudah hampir 40 orang. Lama-lama saya jadi penasaran sama pertemanan kakak-kakak di Badr, penasaran sama kehidupan kampusnya dulu, juga misalnya eh ternyata Kak ini kenal Kak ini, dsb, hehehe. Penasaran sama asrama apa aja yang ada di sekeliling UI, penasaran sama lingkungan sekitar, penasaran sama kultur kampus UI, dan hal-hal  yang pernah membesarkan Kakak-kakak yang saya kenal di Badr.

Terus kalo abis tau certa pertemanan, misalnya. Saya jadi flashbck ke kampus saya dulu (berasa dah lama --"). Sama juga ketika tau pola organisasi, pola oh Kakak ini dulunya saingan pas di kampus?,  pola oh ternyata Kakak ini dulunya udah temenan?, pola oh Kakak itu pasangannya anak UI juga? Fakultas apa?. atau Eh ternyata ada juga yang sama temen SMA-nya. Wkwkwk gakpentinglah ini sebenernya. Tapi penasaran aja.

Penasaran karena tempat sekolah/kuliah adalah salah satu tempat yang berkontribusi membesarkkan orang-orang yang saya kenal (dan juga kita) hari ini. Budaya sekitar, budaya pertemanan, kultur kampus/sekolah. Dan akan memberi efek juga mana yang memberi kita kesan paling dalam dari seluruh cerita hidup kita, bahkan yang akan berdapak bagi kehidupan setelahnya.

Dan di hari terakhir SxI kemarin, saya sempet bilang salah satu teman (yang sebelum-sebelumnya banget sempat bilang Kalian kok mau sih temenan sama aku, aku kan galak...). Saya bilang, "Terima kasih ya sudah mau temenan sama aku.... :') Karena kalo boleh jujur, saya semacam nggak punya temen di sini. Maksudnya lebih ke yang bisa saya temui dan ajak ngobrol setiap hari, ajak diskusi, dan lain sebagainya. Soalnya pulang ke rumah dan dateng ke Depok tu kayak adaptasi sama lingkungan baru :"").

Terima kasih ya Allah atas pertemuan-pertemuan ini :")


Rabu, 26 April 2017

5 Weeks Behind (2)

Postingan ini mungkin akan lebih ngalor ngidul dan tidak punya alur yang cukup jelas dibanding postingan sebelumnya.

5 pekan berlalu di Cibinong-Depok. 5 pekan bertemu orang-orang baru. 5 pekan belajar mengidentifikasi sesuatu. 5 pekan yang membuat ada kembali pada titik, seteah program ini berakhir, apa yang akan aku lakukan?

Lima pekan belakangan, selain saya menemui banyak perbedaan fisik dari keseharian saya sebelumnya di Jogja, saya bertemu juga dengan lingkungan baru. Teman-teman baru, cara berpikir baru, pengenalan terhadap insight-insight dan metode-metode baru. Tentu saja kebanyakan berasal dari teman-teman selama SXI dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Overall, hal ini menyenangkan. Ohya, lingkungan rumah meski nggak baru tetap memberikan pemahaman baru soal keseharian.

Ada di rumah dalam waktu lama memberikan pemahaman bahwa, sebagai anak di rumah, waktu yang kamu miliki tidak sebebas waktu masih di kosan. Ada di rumah, dengan dua adek yang masih sekolah (kelas 7 dan 2) menuntut peran saya sebagai anak sulung sekaligus kakak untuk adik-adik. Dari nyiapin makan, nyuapin, nemenin main, ngingetin mandi, bahkan sekedar untuk dateng disambut dan ditanyain, “Mbak Fitri kok pulangnya lama banget sih?”. Ya walaupun gak begitu juga sih tiap hari. Wkwkwk.

Saya kadang berpikir, teman-teman yang bungsu, atau mungkin adeknya udah pada gede, mungkin tidak merasakan dinamika ini. Dinamika di mana rumah nggak bisa sunyi sesuai keinginan. Nggak bisa selalu tenang ngelakuin sesuatu tanpa gangguan. Bukan berarti nggak bersyukur kok, cuman sharing aja hehehe. Di rumah dengan adek-adek membuat saya belajar dari Ummi untuk memikirkan selalu provide makanan di rumah. Ibarat Ummi pulang telat pun Ummi sudah memikirkan dari hari kemarinnya besok ini adek-adek pulang harus sudah ada makanan apa yang mereka bisa makan. Punya adik kecil juga membuat saya yang kalo dikosan makannya variasinya nggak terlalu banyak, jadi kenal sama makanan bocil –mulai dari daging olahan cem nugget dan bakso ikan, sampai menu olahan sederhana yang adek-adek dapetin dari majalah anak-anak (contoh : bola-bola nasi). Lucu kalo keinget ginian :”)

Hal ini baru kerasa misal saya main ke tempat temen yang udah gak ada adek kecilnya. Misal saya pernah main ke rumah temen yang di rumah hanya berdua saja sama ibunya. Ayahnya lagi ke luar kota dan adiknya kuliah dan ngekos. Karena ibunya lagi diet ceritanya, ya nanti provide makan buat temen saya kalo ada yang lewat. Ini make sense sih secara masak nasi kalo cuma buat satu orang mungkin rasanya nanggung gitu ya hehehe. Beda sama yang kalo di rumah isinya masih banyak orang. Tapi ini share aja kok no offense terhada tipikal keluarga manapun.

Kemudian di tempat SXI. Part paling menambah pengalaman menurut saya dalah validasi produk yang berbasis dengan kebutuhan (dan keinginan) user. Bagaimana membuat produk yan emang sesuai dengan behavior user. Dan understanding user tuh kayak understanding manusia. Lucu, seru, dan melihat beapa diversenya manusia ciptaan Allah :")

Tapi pelajaran tentu saja nggak cuma saya dapat dari bangku kelas (dah kayak kuliah wkwk). Saya pun belajar bertemu orang baru, belajar berkenalan, belajar berinteraksi. Ini nih sesuatu loh btw. Soalnya dulu sempet saya takut ketemu orang baru. Tapi dak usah diceritainlah kenapanya hehehe. Saya belajar mendengar dan belajar bertemu orang yang karakteristiknya belum pernah saya jumpai sebelumnya. Saya belajar untuk memvalidasi asumsi yang kadang tu kita kayak suuzonan gitu lho sama orang. Belajar juga untuk mengetahui tipe-tipe belajar orang. Belajar juga dengan ikim yang volatile dan agile dan segala dinamika yang kadang udah dipikirin kayak apa tau eh ternyataaa :"" semalam *bahkan dalam hitungan jam* segala bisa terjadi mengubah keadaan.

Maha suci Allah yang memberikan saya kesempaan berada di sini :")



Minggu, 23 April 2017

No Loose .

"There is no loose. Only win or learn."
-Imaji, 2017

Dengan memercayai takdir yang sudah Allah gariskan, tugas kita tinggal berupaya sekuat tenaga. Mengalahkan rasa takut, barrier yang biasa menjadi batasan antara jadi-tidaknya sesuatu dilakukan-atau bahkan jadi tidaknya keberhasilan. Bahasa di The Alchemist-nta Paulo Ceolho mungkin, menjemput takdir..

Tidak ada kalah. Yang ada hanya menang atau pembelajaran. Darinya kita bisa belajar sesuatu. Darinya kita mengevaluasi. Kalo dari artikel medium yang saya baca belum lama ini istilahnya retrospective, atau lesson learn dari pembelajaran selama SxI di Badr.

Semua yang saya tulis di atas, adalah superb ntms buat saya yang masih suka takutan. Kalau ada yang mau kasih insight untuk mengalahkan ketakutan, dan mengubah ide jadi eksekusi, feel free to contact ya :")


Thx Kak Shanin untuk quotes di kala hujannya!

Sabtu, 22 April 2017

5 Weeks Behind

Ternyata sudah lama sekali tidak menulis.
Program shortcourse x internship yang saya ikuti akan selesai pekan depan. Banyak sekali hal yang saya dapatkan selama 5 pekan belakangan. Bukan hanya soal pelajaran-pelajaran selama program. Tapi juga pengamatan soal Depok-Jogja yang kadang-kadang sekadar soal perbandingan. Hal ini suka terlintas kalau lagi di perjalanan. Soalnya bawa motor 30-50 menit itu lama juga ya. Terus sendiri gak ada temen ngobrol.

Instead of program yang saya jalani (niatnya mau ditulis di tulisan terpisah), saya belajar melihat Depok-Jogja secara 5 minggu. Depok sejujurnya tidak banyak saya jelajahi karena ke tepat magang ya lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Tapi perjalanan lintas kecamatan-kota ini membuat saya melihat perbedaan kcil intas geografis yang ah sesungguhnya ini mah baru begini doang, masih banyak perbedaan lintas geografis lainnya di Indonesia, bahkan dunia.

#1. Mal
Nggak tau mau nge-poin-in gimana. Selama di Jogja, saya super jarang nge-mal. Seinget saya pernah ke Galeria cuman pas nemenin bude dan demi nemuin temen yang lagi ke sana. Yang lagi seolah tidak ada apa-apa padahal mereka sebenarnya kenapa-napa. Hehehe, kejadian masa lalu sih. Kesana mau bantuinn mereka baikan. Ke Hartono nemenin orang nyari box doang, super spesifik sehingga emang gak pake liat-liat apa-apa. Ke beberapa mal lain cuman ke bioskopnya di tahun-tahun akhir kuliah. Tanpa jalan-jalan keliling mal. Amplaz taun pertama nyari kalkulator, masih naik transjog, dan terakhir kayanya nonton filmnya petinggi FLP. Dibela-belain nonton di awal masa tayang. Pas jaman masuk UGM malnya kayaknya cuma Amplaz sama Gale aja. Jogja berkembang banget soal per-mal-an dan per-apartemen-an. Sebenernya agak sedih juga sih.

Kalo dibaca ulang, rasanya kok jadi hedon banget itu nyebut nama mal banyak banget heu. Tapi percayalah, bahwa kadang saya nonton dengan pertibangan harga momentum, misal ada temen yang mau pergi, atau karena projek nonton dari asrama (yang ini kayanya spesifik di XXI sih), atau ikutan ngeramein film muslim. Nonton bukan tipikal short escape saya. Dan kenapa banyak mal yang disebut karena ada tipikal bioskop yang hargana bisa 25an atau bisa beli 2 gratis 1 dan itu hanya di mal tertentu.

Lucunya, hal ini baru saya sadari waktu hidup di pekan-pekan pertama di Cibinong. Jadi kalau di Jogja saya kenal mau nyari barang ini di mana barang itu di mana. Mal cuma singgah bentar tanpa liat-liat tempat lain. Palingan ya numpang mushala. kayak ke sana cuman ke bioskopnya aja wkwk. Kalo di Cibinong-Depok, ke mal kayak mau beli to do list. Semacam karena belum kenal daerah mungkin ya. Dan semacam, ada toko buku X, tapi di sana mahal banget, terus sukanya ke TMBookstore-nya Detos yang baik hati ngasih diskonan yang akan didiskon lagi kalo termasuk 0 buku pertama hari itu (meski gatau dibanding Togamas murahan mana), dan juga akan disampulin. Padahal Detos jauh dari rumah. Kemudian ke Detos sambil nyari keperluan lain, yang sebenarnya nggak perlu juga nyari di mal kalo di  Jogja. Dan pas nanya senior yang sekarang kosannya di Depok dia ke Detos juga kalo mau beli sabun. Which is, di sana belinya di ~mart (ykwim). Yaampun, i miss mirota, gading mas, pamela, dsb dkk here. Kukaaget yang di Jogja bisa 7.000 di sini 11.000. Padahal sama-sama supermarket :( I miss sunmor yang jual apa aja ada, sehinggaa nyaris nggak perlu ke mal untuk cari kebutuhan-kebutuhan.

#2. Jalan Raya yang Ramai
Di Jogja, apalagi sejak masuk asrama, Jalan Kaliurang adalah sahabat dekat. Saya lewat jalan ini hampir setiap hari. Dari daerah yang masih ramai di bilangan KM 6 ke bawah, sampai ke asrama yang berangsur sepi tapi masih gak sepi-sepi banget. Di Depok, saya samakan jalanan ini seperti Margonda.

Perbedaan #1, adalah, Margonda kalo nyebrang harus pakai jembatan penyebrangan. Jalan tengahnya disekat sehingga rang nyebrang gak bisa bebas nyebrang dimanapun. Which is...motor pun gak bisa ujuk-ujuk nyebrang di mana aja. Harus cari puteran kalo mau muter balik. Kalo kata Abidah, "Iya Fit gue heran di Jogja kok mau nyebrang kita bisa dikasih ya sama pengendara." Jadi kalo di Depok kamu mau nyebrang jalanlah dulu sampe jembatan penyebrangan baru kamu bisa nyebrang-dengan menaiki jembatan itu-. Hm, gak Depok ja sih sebenernya. Saya menemukan hal iini banyak di Jakarta dan pernah juga nemu di Bogor.

Perbedaan #2, adalah, ternyata Margonda di malam Minggu jam 11an itu masih super ramai. Bukan cuman ramai bahkan, tapi macetttt. Saya lupa sih pernah keluar sampai jam segitu apa nggak di Jogja kalo malem minggu. Tapi sejauh ingatan saya ketika pulang dari Jogokariyan ja 10 malam dari sana, dengan mampir jam setengah 11 mungkin masih beli makan malam karena memang belum beli makan, jalanan sangat sepi dan rasanya sangat tidak mungkin ada macet jam 10 malam ke atas. Kalo liburan beda lagi kali ya. Nggak pernah di jalan sampe malem gitu pas muslim liburan.

Perbedaan #3, adalah, Jl. Kaliurang masih lebih ramai dan lebih terang dibandingkan Jl. Raya Jakarta Bogor di malam hari. Ada 3 jalan untuk sampai ke tempat sxi dan saya nggak pernah pulang lewat Jl. Raya Jakara Bogor samai suatu hari penasaran aja pengen lewat sana pas malam. Dan karena itu jalan raya, nyaris tidak ada polisi tidur seagaimana jalan tembus kecil yang biasanya saya lewati. Ukuran jalannya juga lebih besar, secara, itu jalan raya antar provinsi.
Heu, tapi ternyata, jalan raya antar provinsi itu gelap. Lampunya reman-remang dann membutuhkan konsentrasi lebih saat berjalan di atasnya. Di atasnya, saya jadi ingat jalan kaliurang yang terang benderang. Yang saya tidak perlu ragu perlukah menyalakan lampu jauh karena lampu dekat terasa masih kurang.


Bersambung ya insya Allah. Masih pengen bahas soal dunia kampus, budaya sekitar, dan bahkan mungkin soal pertemuan-pertemuan, mimpi, cita-cita, dan kesempatan.




Kamis, 06 April 2017

Behavior: /Tingkah Laku/

So many random things sejak di perjalanan pulang malem tadi sampai detik ini. Heu, jarang-jarang banget jam segini masih melek di rumah. Sampe mau nulis bingung apa dibikin beberapa pos dan tapi isinya dikit-dikit apa gimana. Tapi yaudahlah dijadiin satu pos aja. Kalo mau dipersingkat sih mungkin jadi tingkah laku. Eit sebenernya gak pas-pas amat sih soalnya kan tingkah laku kayak akhlak gitu jatohnya. Sebenrnya lebih pengen ke bahas respon laku. Nahlo apaan tuh. Lebih ke respon manunsia terhadap sesuatu yang jadi pilihan tindakan. Gitu sih keknya. Susah yak ngebahasainnya wkwk.

Tadi diperjalanan, gue lagi kepikir aja soal makul Informatika Sosial. Hem, nyesel sih ngga ngambil makul ini sementara gue *ngeklaim sih, belum validate, wkwk* kalo boleh dibilang, tertarik sama behavior orang yang trjadi karena teknologi (PR, baca buku Hooked). Tapi emang how can banget sih, pengen belajar aja soal ini.

Trus selanjutnya, nggak tau kenapa akhir-akhir ini meski jarang skroling IG, tapi agak mulai reflek kalo cek HP cek ig meski bentar, dan cek IG story. terus kepikir begini.

Hari ini orang-orang berubah cara nyapa orang lain. Dia berangkat bukan dari apa kabar. Tapi lebih ke kepo gitu. Kepo dari mana? Dari IGstorynya salah satunya (pada umumnya ya dari medsos sih). Kepo ini macem-macem ya bentuknya. Bisa nanya kabar, bisa memastikan posisi si lawan bicara. Soalnya kan IGstory suka banget ya ngepos location, time, tempat makan, acara, dsb. Apdet-apdet gitu. Ini juga belum validate sih. Cuman ngerasa dari pengamatan aja (pengamatan sendiri pulak -_-). Hari ini kita nanya orang berdasar rasa ingin tahu dari apa yang sudah dia achieve. Apa ya, semacam kita butuh trigger eksternal gitu loh buat tau. Terus gue jadi penasaran, mana batasan antara rasa penasaran dan memang murni ingin tanya kabar (dan juga mungkin, batasan yang cuman basa basi aja).

Di sisi lain, igstory ini powerful banget men-trigger orang buat berebut update. Wkwk, berebut sebenernya nggak tepat sih. Mungkin rame-rame kali ya. Kadang pesen kita cuman buat seseorang, tapi kita pengen sedunia (follower kita) tau semua. Ngga semua orang suka apdet sih, tapi ya mayoritas senang aktivitasnya diketahui orang banyak. Gue jadi penasaran aja sih, batas naluri eksistensi ini akan sejauh mana kita share dan kalau misal ada yang berubah, titik apa yang kemudian bisa menstop orang buat update. Dulu orang banyak yang suka apdet status di FB. Sekarang bergeser ke IG. Terlepas dari sisi orang ninggalin FB karena banyak debat atau emang males aja nyampah di FB, kalo di IGstory kan ntar ilang juga. Kalau emang buat alasan ilang, gue ngerasa IGstory emang ditujukan untuk lonjakan-lonjakan emosi atau perasaan yang temporer. Canggih juga ya kepikiran beginian si IG. Terus sisi lain mikir : itu dari riset loh, dia dapaet insight dengan membaca pola loh, wkwkwk.

Kemudian, gue habis liat updatean tumblr orang. Terus gue jadi kagum. Di jaman di mana orang berubah mulai menyukai yang instan-instan, masih ada orang yang bisa konsisten mengupdate sesuatu di tumblrnya. Mana isinya bukan curhat tapi sesuatu yang ngebawa value, yang bisa ditulis setelah disarikan dari bab-bab buku. Mungkin sebenanya orang jenis ini nggak sedikit, tapi secara umum, gue masih ngerasa kalau update yang instan kayak IG-IGstory lebih rame daripada tulisan yang udah serius isinya, panjang nulisnya, perlu proses pula bikinnya. Bukan segampang re-blog tumblr loh sis. Bahkan ada temen yang dulu konsisten banget nulis di blog -mana tulisannya juga panjang-panjang dan bikin mikir- sekarag konsistennya apdet IGstor *yah sedih.

Titik ini membuat gue berpikir dan kagum pada sosok-sosok yang banyak bacaannya, banyak referensinya, sehingga dunia yang dia kenal luas. Bukan sekadar ngomongin siapa yang lagi di mana seusuai update-an IGstorynya. Ya ampun, kerasa banget deh quotes yang great people talk about ideas, average people talk about things, and small people talk about other peoples. Kalau mengingat beberapa orang yang pernah diajak berinteraksi, gue cukup teringat sama tipikal orang yang kalo ngajak jalan ke museum, sama orang yang kalo ngajak jalan ke mall. Orang yang bisa tetiba ngomongin artis, dan orang yang dadakannya ngomongin quote atau inspirasi dari orang lain. Orang yang bisa menghargai semua plihan lawan bicaranya, dan orang yang strict dan males duluan kalau lawan bicaranya nggak sama pendapatnya kayak dia. Kalau dulu anak asrama pernah nyebut kondisi kayak gini related to istilah mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam. Hal ini rasanya bisa ditambah sama: insightmu kurang banyak, which is ini adalah turunan dari banyak baca buku atau dapet insight-insight dari sumber lain. Ini juga nyambung sih kalo dipikir-pikir sama quote Farras yang gue pos di postingan tadi (ups, kemaren) siang. Jadi pengen bisa lebih banyak mengisi diri dengan hal baik biar keluar di lisan juga hal-hal baik terus.

Kemudian terakhir, gue abis baca blog Jadn soal tahsin qiroati di sini. Setelah apa yang terjadi di seharian ini berkutat pada dunia pembahasan validasi ide, teknikal mengidentifikasi masalah, dunia finansial, postingan Jadn ini semacam insigt lain yang memberi topik berbeda. Ada hal-hal yang menyulut perasaan sebenernya pas baca. Soal tahsin yang dulu itu, soal sebaik-baik akhlak kita dengan Quran, sampai sejauh apa gue kelak siap menjadi ibu yang bisa mendeliver belajar Quran dengan baik ke anak-anak kelak :" Ah, bersyukur sekali punya teman dengan berbagai kisahnya masing-masing.

Yap, ini random sekali sih sebenarnya. Mari kita akhiri. Besok akan ada perjalanan panjang. Literally perjalanan panjang. Btw, lama gak nulis impulsif begini.