Minggu, 13 Agustus 2017

Transfer Antar Bank Tanpa Biaya? Di-Flip-in aja!

Sejak punya rekening sendiri, saya sering melakukan kegiatan transfer uang. Mulai dari kegiatan yang berhubungan dengan akademik seperti ikut seminar berbayar yang diadakan oleh jurusan, beli buku kuliah online, donasi, sampai juga membeli kebutuhan pribadi maupun keluarga. Karenanya, kegiatan transfer sering saya lakukan. Alhamdulillah fasilitas online banking yang saya aktifkan sangat menunjang aktivitas ini sehingga saya tidak perlu selalu mampir ke ATM atau Bank untuk melakukan transfer.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa transfer antar bank  yang memiliki konsekuensi biaya transfer sebesar 6.500, 7.500, 2.000, dan biaya yang disepakati antar bank itu, kalau dikumpul-kumpul banyak juga. Saya yang merasa sayang dengan uang yang harus dialokasikan hanya untuk biaya transfer berpikir bahwa lebih baik saya datang ke bank tujuan untuk setor di teller. Antri sedikit biarlah tak apa. Yang penting uang di rekening tidak terpotong biaya untuk transfer.

Kala itu, saya selalu melakukan strategi tesebut untuk mengantisipasi pengeluaran tambahan untuk biaya transfer. Fasilitas online banking saya gunakan untuk antar bank jika memang kepepet dan tidak sempat datang ke bank tujuan. Lama-lama saya merasa ribet juga. Dan tentu saja, tetap ada biaya transfer yang saya harus keluarkan.
tampilan website flip.id

Suatu hari, saya dikenalkan dengan Flip. Saat itu flip masih merupakan aplikasi berbasis website yang membantu melakukan transfer antar bank tanpa biaya. Wah, saya langsung tertarik dong. Saya coba dan ternyata cara kerjanya adalah saya transfer melalui rekening perantara yang satu bank dengan bank yang saya gunakan. Nanti dari admin akan meneruskan transfer saya ke bank tujuan.

Kala itu Flip masih baru. Rekening perantara yang digunakan juga belum rekening perusahaan. Namun saya percaya karena direkomendasikan oleh teman yang telah menggunakan Flip. Transfer melalui flip biasanya ditambah kode unik. Tapi tenang saja, nominal kode unik ini nantinya akan menjadi saldo yang disimpan di setiap akun menjadi deposit dan dapat diambil.

Sejauh ini, Flip sangat membantu saya dalam melalukan kegiatan transfer. Kabar baiknya, setelah survive dalam bentuk website, Flip juga hadir dalam bentuk aplikasi mobile. Terasa sekali manfaat Flip yang telah saya rasakan. Karena selama saya menggunakan Flip, ada juga teman saya yang menggunakan akun saya untuk transfer, tertera pada halaman depan bahwa selama  menggunakan Flip, saya (dan orang-orang yang menitip) telah melakukan penghematan sebesar 162.500.

Nggak sadar kan ternyata dari biaya-biaya transfer itu kalau dikumpulkan bisa menghasilkan angka besar. Tertarik? Cobain yuk!

Tulisan Ini Adalah Tugas Dari Kelas Ngeblog Seru #2 Bersama Naqiyyah Syam




Selasa, 08 Agustus 2017

Al Hadid#3:Edisi

Kemarin waktu jadwal tilawah, notice hanya ke Al Hadid ayat 11 dan 21 yang ada di postingan sebelumnya di Al Hadid#1 dan Al Hadid#2. Eh, malamnya lihat postigan IG Kak Septi yang mengutip ayat lain.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (Al Hadid 22-23) 

Allah knows best. Tapi kitanya-bahkan yang sudah tahu-, memang harus senantiasa diingatkan :')



Al Hadid#2:Edisi Surga Seluas Langit dan Bumi

"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."-Al Hadid:21

Saya pernah baca di notes Dina* di Qurannya, kurang lebih kalimatnya begini  Betapa sedih ketika kita mengetahui bahwa surga luasnya seluas langit dan bumi, tapi belum tentu kita ada di dalamnya...




*Dina ini musyrifah saya di suatu agenda, alumni aliyah HK, aslinya sekolahnya seangkatan. Sedang masa penjagaan hafalan 30 juz :')


dibaca di Badr,
7 Agustus 2017


Al Hadid#1:Edisi Pinjaman Kepada Allah

"Barang siapa meminjamkan kepada Allah denan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipatganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia," -Al Hadid:11 
"Sesunggunya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia."-Al Hadid:18

Belakangan, setiap ke Badr lewat jalan dalam, saya selalu melihat kambing dan domba. Gak terasa sudah kurang dari sebulan lagi, idul adha akan diselenggarakan. Setiap lihat kayak gini tuh inget jaman masih di PPSDMS lewatin Jl. Kaliurang area tertentu yang di sana berderet jual kambing untuk kurban. Jadi ancang-ancang kalau nggak mau nyium baunya dari jauh-jauh udah nahan nafas. Dan tahun ini pun-untuk pertamakalinya setelah 2007-ngerasain suasana pra-idul adha di sekitar Cibinong (baca: baru Depok, ding).

Terus kemarin waktu jam tilawah di Badr terjemah ayat ini yang dibaca. Sempet diem sebentar dan tercenung. Kita itu, dari seluruh nikmat yang sudah Allah beri, seberapa bisa ya meminjamkannya kembali ke Allah. Padahal mah semua yang kita punya juga pinjaman sih. Tapi kita teh masih suka itung-itungan ke Allah. Belum bisa setotalitas para sahabat yang dulu mah sampe rela miskin karena nyumbangnya banyak untuk keperluan dakwah Islam.

Di sisi lain, momen menjelang idul adha ini saya teringat kisah yang pernah saya dengar. Kisah ini kisah asli. Alkisah ada seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang udah niat pengen kurban. Dan alhamdulillah, Allah berikan ia kemampuan kurban di usia tersebut. Bertahun-tahun kemudian, ia punya anak yang mau masuk kuliah. Kala itu si ibu sempat bercerita tentang niat kurbannya jaman kuliah itu. Setelahnya, si anak punya azzam yang sama. Bisa kurban sendiri sejak usia 19 dan kalau bisa setelah-setelahnya. Singkat cerita, anak itu berhasil mewujudkan niatnya.

Dalam perkara cerita tersebut, barangkali teman-teman juga pernah mendengar kisah yang sama, mirip, atau bahkan lebih heroik dalam artian perjuangan yang lebih sulit. Tapi di atas itu semua, saya ingin menekankan pada teladan orang tua bagi anaknya. Saya tidak tahu apakah terselip harapan baahwa si anak akan mengikuti jejaknya ketika sang Ibu bercerita. Namun, yang saya tangkap, sang anak merasa terinspirasi oleh niatan ibunya yang mengazzamkan diri untuk berkurban di usia 19, sehingga ia pun memiliki tekad yang sama.

Hal ini sama dengan bagaimana Ismail rela disembelih oleh Nabi Ibrahim ketika tahu bahwa tu adalah perintah Allah. Tentu ada suatu metode pendidikan dari Ibrahim yang membuat Ismail sedeikian taatnya pada Ayahnya atas dasar ketaatan pada Allah.

Hm, awalnya mau nulis yang intinya 2 ayat tadi sih, tentang pinjaman kepada Allah. Tapi ternyata ini jadi nyambung ke keteladanan orang tua. Untuk menutup, semoga kita bisa jadi orang yang dermawan untuk berinfaq di jalan Allah, dan semoga kelak bisa juga memberikan teladan yang baik bagi anak-anak kita (takut eh nulis yang terakhir). Semoga kita bisa terus nabung sampai eksekusi untuk bisa senantiasa ikut berkurban da menunaikan haji (karena idul adha kan momennya momen ibadah haji juga).

Aamiin.

Baca juga : Merencanakan Makkah

Badr-Rumah
7-8 Agustus 2017



Minggu, 06 Agustus 2017

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle: Kalau ada orang bisa menghafal satu halaman Qur'an hanya dengan 10 menit dan ada orang yang baru bisa menghafal satu halaman Qur'an ...

"Ketika orang bisa sukses dengan mudah, bisa memiliki pencapaian hidup dengan cepat, maka dia haru segera berpindah menuju pencapaian sebelumnya. Supaya ga banyak waktu sia-sia yang terbuang. Itu rezeki dia, dengan segala akselerasi dalam hidupnya, dia bisa memiliki banyak hal dan mencapai banyak hal dalam hidup. Tapi, kalau cepat sukses naun gampang terlena, waktunya habis untuk banyak kesia-siaan. Menikmati kemewahan hidupnya.


Sedangkan orang yang struggle dan tidak menyerah dengan tujuannya, maka kemungkinan besar hidupnya selalu diisi oleh attempt-attempt yang baik, selalu bersyukur, bersabar sambil menikmati proses menuju pencapaiannya. Bisa jadi dalam perjalanannya dia mendapat pelajaran hidup yang banyak, dikasi kesempatan untuk beramal yang banyak dulu, berdoa yang banyak, beribadah yang banyak, sehingga prosesnya selalu diisi oleh hal-hal yag bermanfaat.

So, that's okay kalo struggle. Ga perlu iri dengan keberhasilan orang, karena untungnya Allah nilai kita dari proses, bukan hanya dari hasil. But for some people out there who are lucky enough to achieve success quickly, segeralah berpindah mencari proyek kebaikan selanjutnya karena keerhasilan kadang emang melenakan. "


thank you, anisah!

Lika Liku Awal Belajar Tata Letak Blog

Tulisan ini ingin saya mulai dari pendahuluan bahwa saya mulai punya blog dari kelas 5 SD.

Dulu, platformnya pakai multiply. Alasannya, karena banyak penulis-penulis FLP yang saya tahu lewat profil penulis di buku-bukunya, punya blog di multiply. Jadilah blog pertama saya yang berdomain multiply, dibuat kelas 5 SD. Posting tulisan pertama, lalu selesai, tidak pernah disentuh lagi.

Sampai ketika saya kelas 8 (2 SMP), kalau tidak salah, laboratorium komputer baaru di SMP saya selesai dibangun dan sudah boleh dioperasikan. Ketika akses internet mulai bisa kami lakukan, maka saya teringat dengan blog itu, dan mulai coba-coba merawatnya.

Blog dengan platform multiply itu tampilannya memang seperti kita punya rumah besar dengan banyak ruang. Kita punya teras (home), punya tempat album sendiri, punya rak untuk daftar link, punya rak daftar video, bisa buat daftar lagu yang ingin didengar, punya bagian khusus untuk agenda, dan punya bagian khusus kalau kita mau me-review buku ataupun film. Nah, untuk yang pertama, karena punya home, dan waktu itu media sosial friendster lagi ngetren, jadilah sekali dayung dua pulau terlampaui untuk belajar "menghias" bagian home dengan hiasan alay ala-ala yang hits waktu itu; glitter, jam, teks dengan segala efeknya (efek gerak efek ilang timbul, dsb), formatting berbeda tiap ada penekanan pada kalimat tertentu, dan lain sebagainya.

tampilan blog ketika itu :" itu judulnya gerak-gerak gitu jalan dari kanan ke kiri

Dan di sini perjuangan selanjutnya adalah mencari template blog yang pas dan sesuai dengan mau kita.

Kamis, 03 Agustus 2017

Ilmu dengan Adab

Ibu Sufyan Ats Tsauri merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.”

Sang ibu juga berpesan, “Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah itu mengubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.”

(Al Kawakib Ad Durriyah, 1/231)

Pada suatu masa di perjalanan dari warung sop-soto di Karangwuni, masih di atas jok motor, saya bersama Nusa, si calon ketua KAMMI Sleman  membicarakan kutipan ini. Bagaimana bisa ilmu dibilang dapat mengubah cara jalan, keadaan, kelembutan, serta ketenangan. Menambah hal-hal di luar pemahaman, wawasan, dan kebijakan.

Lalu Nusa berkata, karena ilmu, semestinya diperoleh dengan adab. Maka adab menuntut ilmu lah yang membuat kita mendapatkan hal-hal tersebut, sehingga tersebutlah ilmu itu memberikan manfaat; bukan justru membahayakan.

Semoga, adab dalam menuntut ilmu bisa terus kita ingat dan laksanakan dalam setiap kesempatan. Sehingga kita bisa memperoleh apa yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat dalam kutipan tersebut.

Yassarallahu amrana!

#ntms
Terima kasih berbagi insightnya, Nusa! Semangat kamu skripsinyaa :")

*ps: itu halaman motto di skripsi, dulu pertama banget nemu quote itu dari akun OA Dakwah Islam di line

Picture : Kodomo Raiburari

when i suddenly found this pict and...i wanna post these all
-perpus yang jauuuh banget dari stasiun, dibela-belain bujuk temanjalan waktu itu kesana setelah ke beberapa tujuan dan ternyata perpusnya....tutup hari itu :")

*kumenyesal ndak foto bersama gambar sebelumnya. eh tapi di yang di sparklingin itu masih keliatan ding :") Semoga Allah kasih kesempatan di lain waktu untuk masuk dan mengeksplor.

btw, setelah kepo, nama website perpus ini id URL nya kodomo (gemes banget gak sih, kodomo tu artinya anak-anak :")


dilihat dari pintunya aja, kita bisa menebak bahwa dalamnya akan banyak petualangan :")

once upon a time, kita harus ketemu lagi, ya :')

tambahan bonus
-perpuskota Jogjakarta; setelah dikasih blokade area khusus yang lumayan tinggi itu, belum pernah baca-baca lagi. Dulu mah, masuk aja dan baca buku-buku di sana. Ada beberapa buku anak yang ngga biasa ceritanya; tapi matter dan bisa ngasih pandangan soal case kehidupan yang ngga biasa jadi konten bacaan anak. Sayang, terakhhir nyari di toko buku ndak ada :"

-perpus Magelang, depannya doang soale masih tutup libur lebaran

-There is a reason why I posted these pictures after accidentally finding the first photo that evokes my memories :')

-Rumah, 3 Agustus 2017




Minggu, 30 Juli 2017

untuk Shofi


Rasanya masih tidak percaya ketika pertama kali mendengar kabar Shofi Jumat kemarin. Bukankah rasanya baru saja pagi atau semalam aku lihat update igstory kamu, Shof?

Dear Shofi,
aku kehabisan kata-kata sore itu. Jumat itu. Aku merinding dan bahkan sampai sekarang pun masih sesekali. Riangmu, semangatmu, ambisiusmmu, jurnal ilmiahmu, keimpulsifanmu, galaumu.
Barangkali aku belum sedekat itu sama Shofi. Tapi, aku belajar banyak hal soal kesungguh-sungguhan yang kau cerminkan. Aku mengagumi tekad kuatmu untuk jadi scientist. Aku heran kenapa energimu tidak pernah habis, kenapa kamu begitu betah baca jurnal ilmiah, kenapa kamu bisa terlihat sebegitu riang walaupun terkadang kamu tidak enak badan.

Perginya Shofi jadi teguran keras buat kami;
Apakah kematian tidak cukup menjadi pengingat?

Bukannya baru semalam kamu menempuh kereta Jakarta-Yogyakarta? Bukankah paginya pukul delapan kamu baru selesai mengirim email untuk deadlinemu? Bukankah beberapa teman kita baru saja berbalas komen denganmu dua jam yang lalu sebelum berita itu sampai pada kami?Bukankah rencana kembalimu dari Jogja tinggal senin besok? 

Tapi Allah memintamu pulang duluan. Lebih dulu dari rencanamu. Lebih abadi dibanding tujuan pulang awalmu.

Dear Shofi,
aku yang tidak sealmamater kampus saja menyaksikan bahwa betapa banyak yang kehilangan sosokmu. Apalagi mereka yang banyak irisannya denganmu, ya :"
Mereka mengenang kebaikan-kebaikanmu. Semangat juangmu yang terus menyala. Energi yang tidak pernah habis. Kontriubsimu yang jauh dari rasa lelahmu. Keinginanmu untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat lewat mimpi-mimpi penemuanmu.

Semoga rahmat dan ampunan Allah selalu ada padaMu Shof. Semoga kebaikanmu masih terus mengaalir, karena kami yang kamu tinggalkan, rasa-rasanya masih menerima itu semua. Kelak, semoga kita bisa berjumpa di surga,, ya Shof.


Kami sayang Kamu, Shof.


Selamat Jalan, Kepulangan. Selamat Datang, Kepergian..Kebanyakan dari kita selalu rindu kepulangan akan rumah. Menanti-nanti waktu berakhirnya hari dan menyambut lonceng tanda pulang dengan kebahagiaan. Akankah kelak kita menyambut dengan suka cita pula, saat Allah menyerukan panggilan untuk pulang menuju ke rumah keabadian?Pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat. Kepulangan seperti senja yang indah adalah akhir yang tenang dan membahagiakan. Mungkin ia adalah perpisahan, tetapi ia menjadikan kepergiannya membekas indah pada orang-orang yang ditinggalkannya.. -via Siti Nur Rosifah


Fitri-yang merasa kehilangan
semoga aku bukan menjadi orang yang merugi 
karena tidak menjadikan kabar ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri





update
“Karunia yang Allah berikan lebih besar daripada musibah, karenanya kita harus bersyukur.” -Abinya Shofi-via tulisan indah 

Jumat, 28 Juli 2017

#KomikPalestina : Rekomendasi Buku Anak Edisi Hari Anak 2017

Ahad lalu bertepatan dengan tanggal 23 Juli 2017. Tentu kita sudah tidak asing mengenal tanggal ini sebagai hari anak yang diperingati setiap tahunnya di Indonesia. Saya yang kebetulan banyak follow akun media sosial penerbit buku anak dan penulis buku anak pun melihat banyak postingan yang berkenaan dengan hari anak ini. 

Bagi beberapa orang, suatu tanggal diabadikan jadi tanggal peringatan suatu momen mungkin tidak terlalu penting. Saya pribadi juga nggak menganggap itu penting yang gimana banget gitu sih. Tapi, bagi saya momen peringatan adalah waktu untuk kita jadi semcam dikasih alokasi waktu untuk ngeh sama hal-hal yang berkaitan dengan momen itu. Kayak dikasih porsi khusus gitu, lho.


Khusus pada momen hari anak kemarin, selain peringatan hari anak, di media sosial juga lagi gencar soal Palestina. Bukan hanya konten berita, tapi juga komen-komen soal Palestina. Salah satunya soal anak-anaknya. Karenanya saya sempat terbayang tentang momen hari anak di Palestina.

Two Mates of This Week

Juli ini memang sesuatu :")

Kamis, 27 Juli 2017

Al Fath : 11; Hati dan Mulut Kita


(
((mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya))

Halo, seberapa sering mengatakan (se)suatu doa karena kebiasaan, bukan memang karena sungguh-sungguh ingin dikabulkan isi bacaannya?

Seberapa sering membaca bacaan hanya karena yahu harus dibaca saja, tanpa paham apa makna bacaannya?


Badr, 25 Juli 2017

Minggu, 23 Juli 2017

Kapan Waktu Terbaik Memulai Puasa Daud?

Saya baru tahu praktik puasa daud waktu di Insan Cendekia. Sebelumnya, saya tahu secara teori namun belum pernah tahu ada yang mempraktikannya. Di Insan Cendekia, saya mulai melihat orang-orang yang memulai puasa daud (maupun meneruskan kebiasaan shaumnya sejak sebelum masuk IC).

Singkat cerita, Bu Evi, wali asrama putri angkatan saya ketika itu pernah berkata.
"Kalau mau mulai puasa daud, waktu yang paling baik itu, setelah selesai puasa Ramadhan. Karena saat itu perutnya sudah terbiasa dengan ritme puasa."

(baca:tentunya setelah menyelesaikan tanggungan hutang Ramadhan dan menuntaskan syawal).

-edisi tetiba ingat karena besok sudah penghujung syawal
Terima kasih, Bu Evi :)

Rabu, 19 Juli 2017

19-7-2017:This Night Vibes❤

Sudah lama menunda menulis. Kadang takut orang berprasangka. Kadang takut orang berlebihan mehgira-ira. Kadang pingin nuangin apa yang udah jadi draft berpekan-pekan lalu. Kadang sesederhana tidak menyediakan waktu. Maka, untuk merayakan dua postingan ini, instead of saya pos di igstory atau wastory, ditaruh sini saja, ditaruh rumah.




Halo, apa kabar kalian semua?

Selasa, 11 Juli 2017

Di Stasiun (Cibinong)


Stasiun Cibinong, sebagaimana stasiun-stasiun lainnya. Menyimpan banyak cerita. Tentang berpindah. Tentang pergi dan kembali. Tentang peluk-tangis-berpisah. Tentang perjuangan pagi-pagi. Tentang berebut antri keluar dari loket tiket. Tentang banyaknya penjemput yang mencaricari. Tentang gelisah protes orangorang yang penjemputnya belum sampai. Terlebih, tentang kontemplasi.
Stasiun ini sebenarnya sudah lama. Baru beroperasi kembali sekitar 1-1,5 tahun terakhir, kalau tidak salah. Terakhir dulu waktu saya awal-awal SD. Selebihnya, karena tidak dipakai, maka dinikmati sebagai tempat jalan-jalan : jalan habis sahur, ngabuburit, atau ahad pagi sebagai pemuas penasaran anak-anak kecil yang ingin tahu bagaimana rupa kereta tapi belum pernah mengindaranya langsung dengan mata. Maka cukuplah rel menuntaskan penasarannya.

Stasiun ini kecil. Tak punya kedai roti rasa kopi, minimarket, atau penjual roti maryam. Bahkan mesin atm satupun ia tak punya. Pekarangannya yang dulu terbengkalai sering dipakai main bola-bahkan sampai sekarang. Satu dua kali ada orang belajar motor di sana. Parkiran hanya bisa menampung motor dan itu pun akhir-akhir ini. Tidak ada parkiran mobil sama sekali. Tidak dilalui angkot di depannya. Depan stasiun ada dua sekolah dasar sehingga ramai abang jualan. Dari jualan jajanan sampai makan besar. Ada saja yang jualan dari jam jual abang bubur pagi-pagi sampai pecel lele kala malam.

Stasiun ini menyenangkan. Setidaknya bagi saya yang cukup menempuhnya hanya dalam bilangan rerata 10 menit berjalan kaki dari rumah. Kadang kurang, kadang pula lebih. Walaupun jalannya menanjak. Tidak apa. Tapi bisa mengantar kemana-mana. Meskipun jadwalnya masih terbatas; hanya 9x satu hari. 

Di stasiun suatu ketika, seorang anak perempuan dilepas ayah bundanya. Bawaannya memperlihatkan ia hendak pergi ke tempat yang jauh karena tasnya yang besar dan berjumlah dua. Orang tuanya memeluk lekat-lekat. Erat. Dua satpam menelan ludah. Amboi, betapa lamanya dirnya tidak dipeluk lekat-lekat oleh orang tua. Wajahnya menyiratkan rindu yang tak terkira. Stasiun, sebagaimana biasanya, selalu melukiskan pisah dan jumpa, antar dan jemput, temu atau lalu.

Di stasiun suatu ketika, seorang nenek bingung bagaimana tiket kartu bekerja. Maka petugas membantu dengan sukarela. Rombongan keluarga kerepotan hendak pergi ke rumah saudara. Petugas membantu dengan sukarela. Berulangkali orang bertanya memastikan arah. Maka sebanyak itu pula petugas menjawab. Di atas itu semua, barangkali hati petugas sering juga membatin: kapankah aku bisa ajak orang tua di kampung coba kereta antar kota? Kapankah bisa bersama berlibur naik kereta antar kota? Kapankah aku memijak tempat-tempat yang tadi ditanya.

Orang-orang terburu. Memenuhi loket keluar untuk segera mencapai tujuannya masing-masing. Ada yang ingin bergegas shalat karena tadi kereta berangkat persis waktu azan. Ada yang ingin lekas mampir beli oleh-oleh untuk buah hati: sekadar jajanan SD yang masih ada di dekat sekolah. Ada yang menunggu temannya. Ada yang ingin segera melepas penat di rumah. Ada yang ingin buru-buru melepaskan segala tumpah ruah pikiran dan perasaan di sudut ruang ternyamannya.
Cerita-cerita itu barulah yang tertampak mata. Runyamnya hati orang-orang disana tentu jauh lebih banyak. Berbagai pikiran memenuhi benak, mengisi ruang hati. Ada yang menimbulkan sesak, ada yang menaburkan bunga. Ada yang ingin dipendam sendirian, ada yang ingin segera diceritakan. Ada yang menyebabkan diam, memilih duduk lama di pinggir. Ada yang memburu-buru harus segera sampai.

Stasiun (Cibinong) selalu menyimpan banyak cerita.

Stasiun Cibinong,
17.17
11-7-17
*tanpa rekayasa waktu



Senin, 10 Juli 2017

Sepuluh Kebaikan

Saya menemukan ayat ini di Quran. Lalu, saya ingat postingan lama di sini. Waktu itu nggak nemu ayat ini jadinya pake ayat di Al Baqarah yang tentang sedekah.
Sekalian saya repost di sini. Postingan ini 2014 (meskipun lupa kejadian eksaknya lebih lama lagi). Kala itu umur Fatih barangkali 5 tahun lebih sedikit.
Matematika Kebaikan
Di rumah, Ummi pernah ngajarin Fatih kalau berbagi itu akan dapet 10 kebaikan.
Sampai pada suatu hari Ummi gorengin bakso buat Fahri sama Fatih. Bakso yang digoreng ini ukurannya masing-masing dipotong dulu, jadi per buah udah ukuran 1/2.
Kemudian bakso jatah Fahri udah habis. Sedangkan Fatih belum. Sisa empat buah (bakso ukuran 1/2) di piringnya.
Ummi : "Fatih udah nggak mau?"
Fatih : "Enggak, Mi."
Ummi : "Kasih Mas Fahri, ya?"
Fatih : "Yaudah deh Mi buat Mas Fahri aja."
Ummi pun udah mau ngasih baksonya buat Fahri, sampai kemudian Fatih ngomong lagi.
Fatih : "Dipotong-potong dulu deh Mi baksonya. Satu-satu dipotong-potong jadi dua aja." *(jadi ukurannya masing-masing 1/4 maksudnya)
Ummi : "Lho, kenapa ? Fatih masih mau?"
Fatih : "Enggak, Mi. Biar Fatih dapet pahalanya delapan puluh." *ngebayangin wajah polos anak ini
Ummi senyum, jelas gemes banget sama anak ini.
Ini cerita udah lumayan lama. Saya sendiri diceritain pas liburan kemarin. Jadi dalam kenyataannya mungkin redaksi kata-katanya ada yang beda, tapi insya Allah inti ceritanya tetap sama.
Mungkin Fatih emang itung-itungan jadinya, tapi secara logika, walapun masih kecil, Fatih ngerti kalau makin banyak berbagi, maka kita akan semakin banyak dapet kebaikan dari Allah. Meski ya emang aplikasinya kelihatannya kecil banget, cuma bakso yang kalo dipotong-potong lagi pun nggak akan nambah total pemberiannya.
Hayo, kita yang udah gede dan ngerti prinsip berbagi yang dijanjiin Allah ini, masih suka pelit dan perhitungan nggak?
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah : 261)
btw, mungkin dengan mengajarkan hal seperti ini belajar Matematika buat anak kecil akan terasa lebih menyenangkan #eh #salahfokus
Renungan buat diri sendiri juga
kangen kamu, Dek :')

Al A'raf : 23; Doa

Untuk yang belakangan terjadi dan terpikirkan :"

pas banget buka, pas banget ayat ini :"

Stasiun Cibinong, Kereta Nambo-Angke


Rabu, 28 Juni 2017

Cerita Puasa : Cipratan Saos

Ini postingan yang udah pengen ditulis dari jaman kemarin puasa itu.
Singkatnya, buka pertama puasa di ruamh tiga tahun belakangan sejak 2015, jatuh pada hari ke 10 puasa Ramadhan ini.

Waktu itu, pas sekali Abi dan Ummi pulang sore. Saya diminta nemenin adek-adek nyari buka di luar. Ummi mah nyuruhnya cuma sampai ke ujung gang. Tapi karena adik-adik mah udah niat pisan nyari jajanan favorit (yang ujungnya nggak nemu abang milung-cilung), akhirnya mantep banget kami bertiga jalan ke stasiun.

Abangnya nggak ketemu, tapi dekadek nemu jajanan lain yang akhirnya jadi kayak harta karun mereka. Ada abang takoyaki (yang biasa mangkal di depan SD). Ini abang takoyaki standar jajanan SD, jadi harganya murah 1000 per bulatan takoyaki. Kalo biasa yang suka dijual pas bazaar atau pameran gitu kan biasanya 10.000 dapet 4. Semangatlah adek-adek itu, walau isinya juga bukan gurita. Dan karena ini untuk pertama kalinya kami beli takoyaki di abang-abang mangkal SD, adik saya -terutama yang bungsu- excited banget. Sampai mepet-mepet abangnya demi melihat seluruh proses pembuatan takoyaki dari nuang adonan sampai packaging.

Waktu si abang tako ngasih saos, saosnya sempet muncrat. Ngenain kerudung putih yang saya pakai, ngenain kaos putih yang Fatih pakai. Heu, saya yang sudah besar ini sesungguhnya agak kesel, karena mikirin pikiran standar, heu ini bekas saos ngilanginnya susah gak ya? Mana putih kerudungnya. Harus langsung direndem nih? Baru dipake juga.

Tapi adik saya si Fatih tiba-tba nyeletuk. "Untung kenanya ke kaos, bukan masuk mulut. Kalo masuk mulut, bisa batal puasa Fatih." 

Si abang yang tadinya minta maaf, terus ketawa "Wah, bisa dosa nanti Abang, Dek."

Saya geli sekaligus malu. Malu eh, masa saya yang udah besar ini kurang syukurnya. Iya ya ini kan cuma kena baju. Nah kalo masuk mulut kan lebih repot.
*Dek, makanya mulutnya mingkem, wkwkwk. Suka gitu ya bocil kalo terpesona sama sesuatu mulutnya kebuka tanpa sadar, wkwkwk.

Makasih, ya, Dek :")

Senin, 26 Juni 2017

Ayat of The Day : Keburukan yang Menarik Hati


di Quran syamil yang kubaca disebutkan : hai orang-orang yang berakal sehat (ada sehatnya). Jadi kepikir euy, selama ini berakal sehat nggak ya saya. Kok kadang masih khilaf ngelakuin hal yang menarik hati padahal mah tau itu buruk :"

Selasa, 13 Juni 2017

Jalan

Captionnya antara :
Quarter-life-crisis sama "Duhai Allah, aku mohon bantuan-Mu"

Cibinong, 13 Juni 2017
Iya, sudah lama tidak menulis. Sudah lama ngedraf doang di kepala.

Jumat, 05 Mei 2017

Jakarta dari Balik Jendela

Jakarta adalah rumah-rumah pinggir yang dilihat dari jendela kereta sekaligus bangunan tinggi menjulang gagah yang dilihat dari jendela bus kota. Jakarta adalah banyak cerita yang tersimpulkan dari dua jendela itu.

-Jakarta, 5 Mei 2017
Terlintas di kereta kedua hari ini
Ditulis di kereta keempat hari ini
//masih hutang satu tulisan fit tentang Jakarta

Impact Doing The Best

"Doing the best itu impactnya banyak, dan kadang bukan dari kacamata yang mampu kita pandang saat ini."
-Kak Jay, 5 Mei 2017
pekan lalu pas CEO Talk di MeetUp Badr

Saya menuliskan ini pada catatan di Google Keep sewaktu meetup. Suka lupa ya sama Allah akan menilai segala usaha kebaikan. Sekecil apapun. Dan kita masih suka menilai balasan yang harusnya Allah beri dari kacamata materi saja. Lupa sama nikat-nikmat lainnya. Ya Allah, mampukan kami menjadi hambaMu yang terus penuh syukur....

Senin, 01 Mei 2017

Doa Air Zam-zam

Fatih : "Mbak ini ada air zam-zam", sambil nunjuk oleh-oleh Himmah yang belum saya minum itu.
Saya : "Iya nih Dek dikasih temen."
Fatih : "Mbak, boleh gak Mbak kalo nanti Mbak Fitri minum, Fatih minta sedikiiiit aja satu tetes."
Saya : "Biar doanya dikabulin ya Dek? Emang Fatih mau doa apa?"
Fatih : "Fatih mau berdoa biar Allah kasih rezeki yang banyaaa banget ke Palestina, ke Suriah, ke Rohingnya, pokoknya ke negeri-negeri muslim." Besoknya dia cerita kalau kemenangan itu termausk ke rezeki, makanya mintanya rezeki.
Saya : "Terus mau doa apa lagi?"
Fatih : "Fatih mau doa...semoga semua dosa berubah jadi pahala."
Saya : *terharu, meski yang terakhir lucu juga mintanya, tapi minta kan gratis ya? "Nanti kita minum airnya sama-sama ya..."
Fatih : "Mbak kita boleh nggak sih Mbak minta buat dunia?"
Saya : "Boleh dong Dek, waktu Mbak Fitri minta doa biar lulus, itu buat dunia 'kan?"
Fatih : "Oh, iya juga ya Mbak..."
Saya : *dalam hati * Ya Allah Dek, seumur Kamu bahkan nanya boleh nggak doa buat dunia? Aku seumurmu malah mungkin doanya buat dunia aja :"

redaksi mungkin agak berbeda (karena keterbatasan ingatan), tapi insya Allah konten overall sama

5 Weeks Behind (3)

Hm, harusnya sih 6 weeks behind. Tapi ini udah kepiirannya dari pekan lalu.

Khusus postingan inni pengen cerita soal pertemanan aja sih.

Di tempat baru di Cibinong-Depok ini, sesungguhnya saya tidak punya daily friend sebelumnya.
Sekolah SMP-SMA di lingkungan asrama dan kuliah di Jogja membuat saya kalau pulang suka bingung mau pergi ke mana ata janjian ama siapa. Ada tapi jauh, atau mager, atau ya momen tertentu aja. Paling di rumah juga ya main-main aja sama adik di rumah. Makanya jarang keluar dan kalaupun keluar kalo ada kebutuhan aja. Maka aktvitas tetap selama di rumah adalah dengan daily routine pulang pergi ke kantor Badr, dan ini untuk pertama kalinya setelah hal rutin di rumah saya adalah sekolah SD, wkwkwk.

Di Badr, kebanyakan anak UI. Founder Badr juga alumni Fasilkom UI 3-3nya, yang dua orang satu angkatan, yang satunya jauh lebih senior. Dan sekarang keluarga di Badr sudah hampir 40 orang. Lama-lama saya jadi penasaran sama pertemanan kakak-kakak di Badr, penasaran sama kehidupan kampusnya dulu, juga misalnya eh ternyata Kak ini kenal Kak ini, dsb, hehehe. Penasaran sama asrama apa aja yang ada di sekeliling UI, penasaran sama lingkungan sekitar, penasaran sama kultur kampus UI, dan hal-hal  yang pernah membesarkan Kakak-kakak yang saya kenal di Badr.

Terus kalo abis tau certa pertemanan, misalnya. Saya jadi flashbck ke kampus saya dulu (berasa dah lama --"). Sama juga ketika tau pola organisasi, pola oh Kakak ini dulunya saingan pas di kampus?,  pola oh ternyata Kakak ini dulunya udah temenan?, pola oh Kakak itu pasangannya anak UI juga? Fakultas apa?. atau Eh ternyata ada juga yang sama temen SMA-nya. Wkwkwk gakpentinglah ini sebenernya. Tapi penasaran aja.

Penasaran karena tempat sekolah/kuliah adalah salah satu tempat yang berkontribusi membesarkkan orang-orang yang saya kenal (dan juga kita) hari ini. Budaya sekitar, budaya pertemanan, kultur kampus/sekolah. Dan akan memberi efek juga mana yang memberi kita kesan paling dalam dari seluruh cerita hidup kita, bahkan yang akan berdapak bagi kehidupan setelahnya.

Dan di hari terakhir SxI kemarin, saya sempet bilang salah satu teman (yang sebelum-sebelumnya banget sempat bilang Kalian kok mau sih temenan sama aku, aku kan galak...). Saya bilang, "Terima kasih ya sudah mau temenan sama aku.... :') Karena kalo boleh jujur, saya semacam nggak punya temen di sini. Maksudnya lebih ke yang bisa saya temui dan ajak ngobrol setiap hari, ajak diskusi, dan lain sebagainya. Soalnya pulang ke rumah dan dateng ke Depok tu kayak adaptasi sama lingkungan baru :"").

Terima kasih ya Allah atas pertemuan-pertemuan ini :")


Rabu, 26 April 2017

5 Weeks Behind (2)

Postingan ini mungkin akan lebih ngalor ngidul dan tidak punya alur yang cukup jelas dibanding postingan sebelumnya.

5 pekan berlalu di Cibinong-Depok. 5 pekan bertemu orang-orang baru. 5 pekan belajar mengidentifikasi sesuatu. 5 pekan yang membuat ada kembali pada titik, seteah program ini berakhir, apa yang akan aku lakukan?

Lima pekan belakangan, selain saya menemui banyak perbedaan fisik dari keseharian saya sebelumnya di Jogja, saya bertemu juga dengan lingkungan baru. Teman-teman baru, cara berpikir baru, pengenalan terhadap insight-insight dan metode-metode baru. Tentu saja kebanyakan berasal dari teman-teman selama SXI dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Overall, hal ini menyenangkan. Ohya, lingkungan rumah meski nggak baru tetap memberikan pemahaman baru soal keseharian.

Ada di rumah dalam waktu lama memberikan pemahaman bahwa, sebagai anak di rumah, waktu yang kamu miliki tidak sebebas waktu masih di kosan. Ada di rumah, dengan dua adek yang masih sekolah (kelas 7 dan 2) menuntut peran saya sebagai anak sulung sekaligus kakak untuk adik-adik. Dari nyiapin makan, nyuapin, nemenin main, ngingetin mandi, bahkan sekedar untuk dateng disambut dan ditanyain, “Mbak Fitri kok pulangnya lama banget sih?”. Ya walaupun gak begitu juga sih tiap hari. Wkwkwk.

Saya kadang berpikir, teman-teman yang bungsu, atau mungkin adeknya udah pada gede, mungkin tidak merasakan dinamika ini. Dinamika di mana rumah nggak bisa sunyi sesuai keinginan. Nggak bisa selalu tenang ngelakuin sesuatu tanpa gangguan. Bukan berarti nggak bersyukur kok, cuman sharing aja hehehe. Di rumah dengan adek-adek membuat saya belajar dari Ummi untuk memikirkan selalu provide makanan di rumah. Ibarat Ummi pulang telat pun Ummi sudah memikirkan dari hari kemarinnya besok ini adek-adek pulang harus sudah ada makanan apa yang mereka bisa makan. Punya adik kecil juga membuat saya yang kalo dikosan makannya variasinya nggak terlalu banyak, jadi kenal sama makanan bocil –mulai dari daging olahan cem nugget dan bakso ikan, sampai menu olahan sederhana yang adek-adek dapetin dari majalah anak-anak (contoh : bola-bola nasi). Lucu kalo keinget ginian :”)

Hal ini baru kerasa misal saya main ke tempat temen yang udah gak ada adek kecilnya. Misal saya pernah main ke rumah temen yang di rumah hanya berdua saja sama ibunya. Ayahnya lagi ke luar kota dan adiknya kuliah dan ngekos. Karena ibunya lagi diet ceritanya, ya nanti provide makan buat temen saya kalo ada yang lewat. Ini make sense sih secara masak nasi kalo cuma buat satu orang mungkin rasanya nanggung gitu ya hehehe. Beda sama yang kalo di rumah isinya masih banyak orang. Tapi ini share aja kok no offense terhada tipikal keluarga manapun.

Kemudian di tempat SXI. Part paling menambah pengalaman menurut saya dalah validasi produk yang berbasis dengan kebutuhan (dan keinginan) user. Bagaimana membuat produk yan emang sesuai dengan behavior user. Dan understanding user tuh kayak understanding manusia. Lucu, seru, dan melihat beapa diversenya manusia ciptaan Allah :")

Tapi pelajaran tentu saja nggak cuma saya dapat dari bangku kelas (dah kayak kuliah wkwk). Saya pun belajar bertemu orang baru, belajar berkenalan, belajar berinteraksi. Ini nih sesuatu loh btw. Soalnya dulu sempet saya takut ketemu orang baru. Tapi dak usah diceritainlah kenapanya hehehe. Saya belajar mendengar dan belajar bertemu orang yang karakteristiknya belum pernah saya jumpai sebelumnya. Saya belajar untuk memvalidasi asumsi yang kadang tu kita kayak suuzonan gitu lho sama orang. Belajar juga untuk mengetahui tipe-tipe belajar orang. Belajar juga dengan ikim yang volatile dan agile dan segala dinamika yang kadang udah dipikirin kayak apa tau eh ternyataaa :"" semalam *bahkan dalam hitungan jam* segala bisa terjadi mengubah keadaan.

Maha suci Allah yang memberikan saya kesempaan berada di sini :")



Minggu, 23 April 2017

No Loose .

"There is no loose. Only win or learn."
-Imaji, 2017

Dengan memercayai takdir yang sudah Allah gariskan, tugas kita tinggal berupaya sekuat tenaga. Mengalahkan rasa takut, barrier yang biasa menjadi batasan antara jadi-tidaknya sesuatu dilakukan-atau bahkan jadi tidaknya keberhasilan. Bahasa di The Alchemist-nta Paulo Ceolho mungkin, menjemput takdir..

Tidak ada kalah. Yang ada hanya menang atau pembelajaran. Darinya kita bisa belajar sesuatu. Darinya kita mengevaluasi. Kalo dari artikel medium yang saya baca belum lama ini istilahnya retrospective, atau lesson learn dari pembelajaran selama SxI di Badr.

Semua yang saya tulis di atas, adalah superb ntms buat saya yang masih suka takutan. Kalau ada yang mau kasih insight untuk mengalahkan ketakutan, dan mengubah ide jadi eksekusi, feel free to contact ya :")


Thx Kak Shanin untuk quotes di kala hujannya!

Sabtu, 22 April 2017

5 Weeks Behind

Ternyata sudah lama sekali tidak menulis.
Program shortcourse x internship yang saya ikuti akan selesai pekan depan. Banyak sekali hal yang saya dapatkan selama 5 pekan belakangan. Bukan hanya soal pelajaran-pelajaran selama program. Tapi juga pengamatan soal Depok-Jogja yang kadang-kadang sekadar soal perbandingan. Hal ini suka terlintas kalau lagi di perjalanan. Soalnya bawa motor 30-50 menit itu lama juga ya. Terus sendiri gak ada temen ngobrol.

Instead of program yang saya jalani (niatnya mau ditulis di tulisan terpisah), saya belajar melihat Depok-Jogja secara 5 minggu. Depok sejujurnya tidak banyak saya jelajahi karena ke tepat magang ya lebih banyak menghabiskan waktu di dalamnya. Tapi perjalanan lintas kecamatan-kota ini membuat saya melihat perbedaan kcil intas geografis yang ah sesungguhnya ini mah baru begini doang, masih banyak perbedaan lintas geografis lainnya di Indonesia, bahkan dunia.

#1. Mal
Nggak tau mau nge-poin-in gimana. Selama di Jogja, saya super jarang nge-mal. Seinget saya pernah ke Galeria cuman pas nemenin bude dan demi nemuin temen yang lagi ke sana. Yang lagi seolah tidak ada apa-apa padahal mereka sebenarnya kenapa-napa. Hehehe, kejadian masa lalu sih. Kesana mau bantuinn mereka baikan. Ke Hartono nemenin orang nyari box doang, super spesifik sehingga emang gak pake liat-liat apa-apa. Ke beberapa mal lain cuman ke bioskopnya di tahun-tahun akhir kuliah. Tanpa jalan-jalan keliling mal. Amplaz taun pertama nyari kalkulator, masih naik transjog, dan terakhir kayanya nonton filmnya petinggi FLP. Dibela-belain nonton di awal masa tayang. Pas jaman masuk UGM malnya kayaknya cuma Amplaz sama Gale aja. Jogja berkembang banget soal per-mal-an dan per-apartemen-an. Sebenernya agak sedih juga sih.

Kalo dibaca ulang, rasanya kok jadi hedon banget itu nyebut nama mal banyak banget heu. Tapi percayalah, bahwa kadang saya nonton dengan pertibangan harga momentum, misal ada temen yang mau pergi, atau karena projek nonton dari asrama (yang ini kayanya spesifik di XXI sih), atau ikutan ngeramein film muslim. Nonton bukan tipikal short escape saya. Dan kenapa banyak mal yang disebut karena ada tipikal bioskop yang hargana bisa 25an atau bisa beli 2 gratis 1 dan itu hanya di mal tertentu.

Lucunya, hal ini baru saya sadari waktu hidup di pekan-pekan pertama di Cibinong. Jadi kalau di Jogja saya kenal mau nyari barang ini di mana barang itu di mana. Mal cuma singgah bentar tanpa liat-liat tempat lain. Palingan ya numpang mushala. kayak ke sana cuman ke bioskopnya aja wkwk. Kalo di Cibinong-Depok, ke mal kayak mau beli to do list. Semacam karena belum kenal daerah mungkin ya. Dan semacam, ada toko buku X, tapi di sana mahal banget, terus sukanya ke TMBookstore-nya Detos yang baik hati ngasih diskonan yang akan didiskon lagi kalo termasuk 0 buku pertama hari itu (meski gatau dibanding Togamas murahan mana), dan juga akan disampulin. Padahal Detos jauh dari rumah. Kemudian ke Detos sambil nyari keperluan lain, yang sebenarnya nggak perlu juga nyari di mal kalo di  Jogja. Dan pas nanya senior yang sekarang kosannya di Depok dia ke Detos juga kalo mau beli sabun. Which is, di sana belinya di ~mart (ykwim). Yaampun, i miss mirota, gading mas, pamela, dsb dkk here. Kukaaget yang di Jogja bisa 7.000 di sini 11.000. Padahal sama-sama supermarket :( I miss sunmor yang jual apa aja ada, sehinggaa nyaris nggak perlu ke mal untuk cari kebutuhan-kebutuhan.

#2. Jalan Raya yang Ramai
Di Jogja, apalagi sejak masuk asrama, Jalan Kaliurang adalah sahabat dekat. Saya lewat jalan ini hampir setiap hari. Dari daerah yang masih ramai di bilangan KM 6 ke bawah, sampai ke asrama yang berangsur sepi tapi masih gak sepi-sepi banget. Di Depok, saya samakan jalanan ini seperti Margonda.

Perbedaan #1, adalah, Margonda kalo nyebrang harus pakai jembatan penyebrangan. Jalan tengahnya disekat sehingga rang nyebrang gak bisa bebas nyebrang dimanapun. Which is...motor pun gak bisa ujuk-ujuk nyebrang di mana aja. Harus cari puteran kalo mau muter balik. Kalo kata Abidah, "Iya Fit gue heran di Jogja kok mau nyebrang kita bisa dikasih ya sama pengendara." Jadi kalo di Depok kamu mau nyebrang jalanlah dulu sampe jembatan penyebrangan baru kamu bisa nyebrang-dengan menaiki jembatan itu-. Hm, gak Depok ja sih sebenernya. Saya menemukan hal iini banyak di Jakarta dan pernah juga nemu di Bogor.

Perbedaan #2, adalah, ternyata Margonda di malam Minggu jam 11an itu masih super ramai. Bukan cuman ramai bahkan, tapi macetttt. Saya lupa sih pernah keluar sampai jam segitu apa nggak di Jogja kalo malem minggu. Tapi sejauh ingatan saya ketika pulang dari Jogokariyan ja 10 malam dari sana, dengan mampir jam setengah 11 mungkin masih beli makan malam karena memang belum beli makan, jalanan sangat sepi dan rasanya sangat tidak mungkin ada macet jam 10 malam ke atas. Kalo liburan beda lagi kali ya. Nggak pernah di jalan sampe malem gitu pas muslim liburan.

Perbedaan #3, adalah, Jl. Kaliurang masih lebih ramai dan lebih terang dibandingkan Jl. Raya Jakarta Bogor di malam hari. Ada 3 jalan untuk sampai ke tempat sxi dan saya nggak pernah pulang lewat Jl. Raya Jakara Bogor samai suatu hari penasaran aja pengen lewat sana pas malam. Dan karena itu jalan raya, nyaris tidak ada polisi tidur seagaimana jalan tembus kecil yang biasanya saya lewati. Ukuran jalannya juga lebih besar, secara, itu jalan raya antar provinsi.
Heu, tapi ternyata, jalan raya antar provinsi itu gelap. Lampunya reman-remang dann membutuhkan konsentrasi lebih saat berjalan di atasnya. Di atasnya, saya jadi ingat jalan kaliurang yang terang benderang. Yang saya tidak perlu ragu perlukah menyalakan lampu jauh karena lampu dekat terasa masih kurang.


Bersambung ya insya Allah. Masih pengen bahas soal dunia kampus, budaya sekitar, dan bahkan mungkin soal pertemuan-pertemuan, mimpi, cita-cita, dan kesempatan.




Kamis, 06 April 2017

Behavior: /Tingkah Laku/

So many random things sejak di perjalanan pulang malem tadi sampai detik ini. Heu, jarang-jarang banget jam segini masih melek di rumah. Sampe mau nulis bingung apa dibikin beberapa pos dan tapi isinya dikit-dikit apa gimana. Tapi yaudahlah dijadiin satu pos aja. Kalo mau dipersingkat sih mungkin jadi tingkah laku. Eit sebenernya gak pas-pas amat sih soalnya kan tingkah laku kayak akhlak gitu jatohnya. Sebenrnya lebih pengen ke bahas respon laku. Nahlo apaan tuh. Lebih ke respon manunsia terhadap sesuatu yang jadi pilihan tindakan. Gitu sih keknya. Susah yak ngebahasainnya wkwk.

Tadi diperjalanan, gue lagi kepikir aja soal makul Informatika Sosial. Hem, nyesel sih ngga ngambil makul ini sementara gue *ngeklaim sih, belum validate, wkwk* kalo boleh dibilang, tertarik sama behavior orang yang trjadi karena teknologi (PR, baca buku Hooked). Tapi emang how can banget sih, pengen belajar aja soal ini.

Trus selanjutnya, nggak tau kenapa akhir-akhir ini meski jarang skroling IG, tapi agak mulai reflek kalo cek HP cek ig meski bentar, dan cek IG story. terus kepikir begini.

Hari ini orang-orang berubah cara nyapa orang lain. Dia berangkat bukan dari apa kabar. Tapi lebih ke kepo gitu. Kepo dari mana? Dari IGstorynya salah satunya (pada umumnya ya dari medsos sih). Kepo ini macem-macem ya bentuknya. Bisa nanya kabar, bisa memastikan posisi si lawan bicara. Soalnya kan IGstory suka banget ya ngepos location, time, tempat makan, acara, dsb. Apdet-apdet gitu. Ini juga belum validate sih. Cuman ngerasa dari pengamatan aja (pengamatan sendiri pulak -_-). Hari ini kita nanya orang berdasar rasa ingin tahu dari apa yang sudah dia achieve. Apa ya, semacam kita butuh trigger eksternal gitu loh buat tau. Terus gue jadi penasaran, mana batasan antara rasa penasaran dan memang murni ingin tanya kabar (dan juga mungkin, batasan yang cuman basa basi aja).

Di sisi lain, igstory ini powerful banget men-trigger orang buat berebut update. Wkwk, berebut sebenernya nggak tepat sih. Mungkin rame-rame kali ya. Kadang pesen kita cuman buat seseorang, tapi kita pengen sedunia (follower kita) tau semua. Ngga semua orang suka apdet sih, tapi ya mayoritas senang aktivitasnya diketahui orang banyak. Gue jadi penasaran aja sih, batas naluri eksistensi ini akan sejauh mana kita share dan kalau misal ada yang berubah, titik apa yang kemudian bisa menstop orang buat update. Dulu orang banyak yang suka apdet status di FB. Sekarang bergeser ke IG. Terlepas dari sisi orang ninggalin FB karena banyak debat atau emang males aja nyampah di FB, kalo di IGstory kan ntar ilang juga. Kalau emang buat alasan ilang, gue ngerasa IGstory emang ditujukan untuk lonjakan-lonjakan emosi atau perasaan yang temporer. Canggih juga ya kepikiran beginian si IG. Terus sisi lain mikir : itu dari riset loh, dia dapaet insight dengan membaca pola loh, wkwkwk.

Kemudian, gue habis liat updatean tumblr orang. Terus gue jadi kagum. Di jaman di mana orang berubah mulai menyukai yang instan-instan, masih ada orang yang bisa konsisten mengupdate sesuatu di tumblrnya. Mana isinya bukan curhat tapi sesuatu yang ngebawa value, yang bisa ditulis setelah disarikan dari bab-bab buku. Mungkin sebenanya orang jenis ini nggak sedikit, tapi secara umum, gue masih ngerasa kalau update yang instan kayak IG-IGstory lebih rame daripada tulisan yang udah serius isinya, panjang nulisnya, perlu proses pula bikinnya. Bukan segampang re-blog tumblr loh sis. Bahkan ada temen yang dulu konsisten banget nulis di blog -mana tulisannya juga panjang-panjang dan bikin mikir- sekarag konsistennya apdet IGstor *yah sedih.

Titik ini membuat gue berpikir dan kagum pada sosok-sosok yang banyak bacaannya, banyak referensinya, sehingga dunia yang dia kenal luas. Bukan sekadar ngomongin siapa yang lagi di mana seusuai update-an IGstorynya. Ya ampun, kerasa banget deh quotes yang great people talk about ideas, average people talk about things, and small people talk about other peoples. Kalau mengingat beberapa orang yang pernah diajak berinteraksi, gue cukup teringat sama tipikal orang yang kalo ngajak jalan ke museum, sama orang yang kalo ngajak jalan ke mall. Orang yang bisa tetiba ngomongin artis, dan orang yang dadakannya ngomongin quote atau inspirasi dari orang lain. Orang yang bisa menghargai semua plihan lawan bicaranya, dan orang yang strict dan males duluan kalau lawan bicaranya nggak sama pendapatnya kayak dia. Kalau dulu anak asrama pernah nyebut kondisi kayak gini related to istilah mainmu kurang jauh, pulangmu kurang malam. Hal ini rasanya bisa ditambah sama: insightmu kurang banyak, which is ini adalah turunan dari banyak baca buku atau dapet insight-insight dari sumber lain. Ini juga nyambung sih kalo dipikir-pikir sama quote Farras yang gue pos di postingan tadi (ups, kemaren) siang. Jadi pengen bisa lebih banyak mengisi diri dengan hal baik biar keluar di lisan juga hal-hal baik terus.

Kemudian terakhir, gue abis baca blog Jadn soal tahsin qiroati di sini. Setelah apa yang terjadi di seharian ini berkutat pada dunia pembahasan validasi ide, teknikal mengidentifikasi masalah, dunia finansial, postingan Jadn ini semacam insigt lain yang memberi topik berbeda. Ada hal-hal yang menyulut perasaan sebenernya pas baca. Soal tahsin yang dulu itu, soal sebaik-baik akhlak kita dengan Quran, sampai sejauh apa gue kelak siap menjadi ibu yang bisa mendeliver belajar Quran dengan baik ke anak-anak kelak :" Ah, bersyukur sekali punya teman dengan berbagai kisahnya masing-masing.

Yap, ini random sekali sih sebenarnya. Mari kita akhiri. Besok akan ada perjalanan panjang. Literally perjalanan panjang. Btw, lama gak nulis impulsif begini.



Rabu, 05 April 2017

Kata Cermin Hati

"Setiap perkataan mencerminkan keadaan hati kita."
-Farras, 2017
@badr, ruangan madinah


jaga lisan, sebagai upaya jaga hati
jaga hati, sebagai upaya jaga lisan
kalo ngomong tiati :" bahkan yang kita anggap bercanda sekalipun, bisa jadi standar hidup kita keliatan dari perkataan. kadang nggak semua orang bisa mendengar sesuatu dengan cara tangkap yang sama. cermati lagi yuk lisan kita :")

#ntms

SXI 4 April 2017 : Makhluk Akhirat

"Kita itu sebenarnya makhluk akhirat. Kita suka yang kekal. Masalahnya sekarang kita itu hidup di dunia. Di dunia nggak ada yang kekal. Kita cari kebahagiaan di dunia, nanti jadi sedih lagi. Nggak bakal kekal. Makanya di Islam, manusia yang paling cerdas yang paling sering mengingat kematiannya. Mengingat hari akhir. Pentingnya visi kita kelak akan jadi pertimbangan bagi apa yang sedang kita kerjakan sekarang. Beruntung elo jadi muslim."

"Ya dunia ini emang penuh ketidakjelasan. Kalau kita dikasih certainty dari awal, mungin kita gak pernah doa. Kalo emang uncertainty itu dikasih sebagai cara biar kita doa terus sama Allah, why not? Tau gak, waktu umatnya Nabi Musa nyebrang Laut Merah apa yang beliau bilang ke umatnya? Habis nyebrang itu kan di sananya masa paceklik, apa-apa susah. Beliau nggak bilang sama umatnya buat bersabar. Beliau bilang ke ummatnya buat bersyukur. Kenapa? Karena dalam bersyukur itu ada kesabaran."

"Gue kadang mikir kenapa Allah ngasih gue masalah yang kayaknya nggak dialami sama orang-orang seumuran gue. Lama kelamaan, gue mikir, oh mungkin ini Allah pengen gue berakselerasi Karena kualitas orang akan bergantung sama problem apa yang dia hadapi. Kan di Quran bilang sendiri kalau kita nggak akan dibiarkakn beriman kalau kita tidak diuji. Ya berarti ujian ada untuk ngecek kita ini beriman apa enggak. Kalau ada problem ya selesein jangan lari. Kalau ditinggal malah nanti kita akan diuji dengan persoalan yang sama karena yang dulu itu belum lulus."

@badr, 4 April 2017
Terima kasih banyak Kak @wrismawan
juga untuk fellas fellas semua :  Kak Ridho, Kak Shanin, Abidah
dan Farras yang folower IGnya 1500 *harus banget disebut

Minggu, 02 April 2017

A Little Hello for Long Time Goodbye

Dalam hidup, ada orang-orang yang bertemu dengan kita dengan alasan tertentu. Setiap pertemuan pasti terjadi karena alasan. Tapi yang saya maksud di sini adalah alasan tertentu. Yang spesifik. Yang...baiklah saya sebut saja yang meninggalkan kesan.

Dalam hidup, ada irisan pertemuan yang sesungguhnya cuma secuil dari seluruh waktu kehidupan kita. Tapi kitanya larut dalam keadaan hingga merasa besar bahwa pada pertemuan itu rasanya sudah terjadi terlalu banyak hal yang padahal ujungnya sebenarnya tidak mengarah ke mana-mana.

Atas apapun, sesungguhnya saya sangat berterima kasih atas hal-hal yang membuat saya belajar banyak sekali hal. Yang semoga menjadi jalan agar diri saya menjadi lebih baik.

Jalan tol dari Bandung
-btw, banyak sekali hal yang selama ini terjadi di kota ini ya ternyata
ditulis di Depok, 2 April 2017
00.42

Pada akhirnya a little hello yang kau saya buat editan foto terposkan juga, dengan akhir kalimat yang ternyata cepat untuk diberikan.

Jumat, 31 Maret 2017

SXI Hari 6 : Kemampuan untuk Mendengarkan

-Ini cuma sedikit insight yang saya dapat dari sesi pembuka hari sih-

Hari keenam adalah hari Rabu rasa Senin yang fenomenal. Iya, soalnya Selasanya libur nyepi dan Rabunya jadi rasa Senin. Sebagaimana Senin kemarin yang setelah terjeda dua hari ditanya kabar, hari ini juga ditanya kabar sama Kak Wahyu selaku mentor kami. Ditanya kabar tuh semacam diminta cerita apa saja yang mau dieritain Rata-rata pada cerita kemarin ngapain sih.

Bagi saya sendiri, ada perasaan sulit bercerita awalnya waktu ditanya kabar dan suruh cerita apapun. Jedanya cuman sehari dan Senin kemarin saya udah cerita apa yang saya ddapatkan sepekan sebelumnya jadinya kayak bingung mau cerita apa lagi dan akhirnya saya cerita apa yang saya alami di rumah (doang) Selasanya.Ini mau dirapel sama tulisan hari 2 SXI (lah kok rapelnya malah mundur wkwk).

Di akhir sesi, Kak Wahyu bilang, sesi saling sharing kabar itu bukan cuma biar deket. Nah lho, saya yang selama ini mikir ini adalah sesi ya emang buat biar saling tau, saling kenal, dan bisa mempererat persaudaraan di antara kami gitu kan, jadi penasaran. Kalo nggak buat ini, buat apa dong?

"Jadi sesi kabar-kabar ini tuh bukan cuma buat pengakraban, biar deket, bukan. Tapi juga sesi untuk latihan mendengarkan. Listening itu skill, butuh dilatih." -mungkin redaksi kalimatnya ngga persis-persis amat.

Ya Allah! Rasanya kaget banget pas Kak Wahyu bilang gitu. Iya ya kenapa nggak pernah ngeh dan kepikiran kalo sesi sharing atau khususnya sesi kabar-kabar itu adalah momen untuk belajar mendengar. Kemana aja saya selama ini?

Betapa seringnya momen kayak gini kita sambi sama yang lain. Sama main gadget, sambil ngobrol, sambil makan, sambil leptopan. Sambil main gadget aja bisa diturunin lagi tuh jadi sambil chat, sambil skroling sosmed, sambil main game, bahkan sambil sekedar yaudah main-main aja ngescroll menu-menu di HP ke kanan kiri.

Padahal momen gini udah nggak asing lagi sebenarnya. Momen FM asrama misalnya, atau pas kumpul-kumpul lagi sama temen habis liburan, atau yaudah pas sengaja ketemu temen lama gitu. Heu, jadi sedih, ya belum menangkap skill lain yang harusnya bisa dilatih dari momen ini.

Yaudah, nggakpapa telat daripada ngga sadar sama sekali. Mari berlatih untuk bisa menyediakan diri mendengarkan orang lain :)

@badr, 29 Maret 2017

Kamis, 30 Maret 2017

SXI Hari 5 : Visioning and Ideation

Hari ini dapat materi soal visi an ide startup dari Kak Jay. You may know Kak Jay as tokoh yang cukup dikenal sebagai salah satu pendiri Badr dan sekarang CEO igrow, salah satu starup yang sudah terseleksi ikutan 500 DemoDay dan ikut acara Google Launchpad juga di US. Materinya menarik karena menambah wawasan sekali. Soal gambaran awal dan general soal startup lyfe. Tapi yang paling pengen saya highlight di sini sebenarnya adalah quote yang membekas sekali;

Jadi ceritanya ada orang yang konsul ke Steve Blank soal dia lagi bingung antara dua hal : membangun startup atau menjalani bisnisnya gitu, apalagi semacam mau didanain sama orang terus jawaban si Steve Blank adalah :
"pilihan menjadi founder startup bukan diambil oleh orang yang masih punya pilihan. Karena ini adalah pilihan jangka panjang."

I wouldn't say that i want to be a startup founder now. Kutipan ini mengingatkan saya terhadap teman-teman saya di dunia kampusyang sedang membangun startup di tengah berbagai aktivitas dan keinginan seperti S2, bekerja, dan lain sebagainya, bahkan salah satu temen SXI saya uga merasakan hal yang sama. Sebelumnya waktu Kak Jay cerita soal kenapa sih orang mau jadi founder startup? Ada banyak alasan yang bisa jadi diungkapkan sama orang, bisa jam kerja fleksibel, bisa alasan sekalian wirausaha dan jadi bos (padahal kalo jadi bos sebenernya bos adalah si user-lebih serem lagi), dan lain sebagainya. Tapi alasan menjadi founder startup yang paling baik adalah karena dia benar-benar ingin melakukannya. That's it. Alasan yang sederhana, nggak neko-neko dan banyak mau, serta yaudah dari hati aja.

-itu btw ada kak jay nya di sebelah kanan

Sama mungkin kayak berbagai pilihan dalam hidup, ada pilihan-pilihan yang menuntut kita untuk menjadi apa yang paling kita inginkan, yang harus mengorbankan hal-hal lain yang juga kita inginkan. Tapi, mungkin kayak kata evaluasi-evaluasi RK (dulu PPSDMS) sebelumnya, kalau kayak gitu itu berarti belum benar-benar mau, atau berarti masih keinginan-keinginan saja, belum jadi mimpi.

Kenapa Kak Jay menyebutkan itu, karena mengembangkan startup adalah pilihan yang memakan banyak waktu. Bahkan waktu 10 tahun pun masih menjadi parameter yang sedang-sedang saja, dan 5 tahun masih mencari bentuk. Tidak semua startup bisa sukses denga pertumbuhan eksponensial. Ada faktor-faktor yang kadang tidak bisa terlihat di awal selain kesiapan produk itu sendiri, bisa kesiapan pasar, ekosistem, kondisi masyarakat, momentum yang pas, misalnya. Pengetahuan startup founder terhadap teknis si aplikasi (sebagai bentuk launch startup) bukan harga mati dari produk itu sendiri. Misalnya sekarang, toko-toko online bisa marak karena masyarakat sudah mulai percaya untuk berbelanja online. Jika pada ekosistem ini ada suatu toko online sebagai pendatang baru, kalau bukan karena dana funding yang cukup besar, dia nggak akan bisa survive.

Kalau biasanya startup sering dikaitkan dengan usia anak muda, sebenarnya usia tua pada founder startup pun memiliki kekhasan tersendiri. Orang-orang yang sudah berusia meiliki unfair advantage pengalaman dan jaringan. Orang-orang muda punya kekurangan dari sisi domain expert itu. Ide yang biasa saja dapat ditonjolkan dari sisi eksekusi yang memiliki faktor pembeda, dan hal itu kadang merupakan hal kecil seperti orang dengan pengalaan tertentu yang di-hire, UX, hal yang didapat selama perjalanan eksekusi, dan lain sebagainya. Hal-hal yang muncul selama pengembangan produk tidak akan didapat hanya lewat tampilan muka (interface) sehingga hal-hal internal itu tidak akan mudah ditiru oleh pihak yang misalnya memiliki ide yang sama atau bahkan menduplikasi ide startupnya. Privilege anak muda (seperti anak-anak kampus) biasanya ada dua : ide gila dan tim. Untuk urusan tim ini emang sebaiknya yang sudah pernah mengerjakan sesuatu bersama, nggak bisa orang yang tiba-tiba kenal disuruh ngerjain sesuatu. I guess ini ada kaitannya sih sama kalimat di hari pertama bahwa ide itu sebenarnya receh dan yang sangat perlu dijaga adalah tim.

Teknologi merupakan lokomotif perubahan Kalau kita tidak bisa menysuaikan, maka sulit untuk berkembang. Pas banget materi ini disampaikan ketika di Depok-Bogor lagi rame banget soal demo angkot gegara transportasi online. Tapi emang sih ya, Taksi BurungBiru pun sekarang gabung sama MobilPergi. Bahkan valuasi perusahaan OjekPergi sekarang 17T, lebih tingggi daripada PesawatGI yang punya valuasi senilai 12T padahal sudah puluhan tahun berdiri. Dan di OjekPergi si perusahaan nggak puunya motor maupun driver padahal, nggak kayak pesawat yang sampe sepesawat-pesawatya dia punya. Sama kayak Fujifilm yang dulu kalah pamor sama kamera Kodak. Tapi sekarang Fujifilm masih bisa survive dengan mengembangkan produk kosmetik (iya sih jauh haluannya, tapi dia masih  bisa survive!

Kurang penutup yang pas, tapi kesimpulan dari sesi ini yang paling ngena sih soal startup sebagai pilihan. Semoga bermanfaat :)


diambil dari catatan sesi shortcourse di Badr, 
24 Maret 2017




Siapa yang Buta

Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al Hajj : 46)


@badr, kemarin siang
29 Maret 2017
lama nggak ngepos terjemah lagi;
dan bagi saya faakta ini menyiratkan banyak hal :"

Kamis, 23 Maret 2017

SXI Hari 4 : Mentor dan Cita-cita

Seri Shortcourse X Internship ini rasanya pengen saya bikin dari hari pertama, tapi  kemarin nunggak. Semoga ga lama-lama nunggaknya.

Hari ini gajadi sesi kelas. Dan sebenernya nggakpapa kalo nggak masuk. Tapi saya baru tau pas baru sampe, hahaha. gapapalah ada Kak Shanin sebagai temen di sana. (sebenernya kalo tau Rabu Kamis boleh gak masuk saya pengen ke Jogja heu).

Sebagaimana hari kemain, tugas hari ini masih cari sebanyak-banyaknya ide, dibikin madlibs dan poin-poin lainnya buat mendetailkan ide itu. Kadang suka lucu isi idenya. Tapi bukan itu sih yang pengen gue bahas disini. *terus kena efek ngomong gue-elo lagi.

Allah kayak ngeset hari ini bersinggungan sama cita-cita. Tadi pagi Faizah, temen SMA saya nelfon dan kita sempet ngomongin what after this-hal paling hits buat diomongin, walau agak-agak bosen dan semacam bingung ini endingnya apa yaaaa. Faizah bilang apa yang dia pengenin, saya juga.

Dan tadi di Badr, gue tercengang denger percakapan antara Kak Ridho sama Kak Wahyu.
"Maaf ya Kak, lama belajarnya."
"Ih nggak papa saya juga seneng ngajarin orang." Hening bentar. "Saya tuh sebenernya pengen jadi guru."

Skip. Pembicaraan ini gak berlanjut lama dan banyak. Tapi saya jadi semacam menyimpulkan bahwa bener apa yang dulu pernah dibilang Nabil (yang juga pagi tadi saya bahas sama Faizah), bahwa setiap kita mungkin punya semacam keinginan terpendam di hati kecil. Kayak ya kita pengen lah ke luar negeri, caranya gimana? ya banyak. Dikemas dengan mulai hal-hal berbau exchange dan kuliah lanjut sampai sekedar pelesir.

Hal kedua yang saya dapat hari ini adalah soal menulis dengan dokumentasi yang rapi. Bukan dokumentasi dalam arti yang sering dipake kalo lagi nyobain framework baru di kodingan loh. Mentor kami secara gak langsung mengajarkan itu, sambil mengajarkan soal sifat semangat untuk terus belajar dan mengupgrade diri. Heu, semakin jiper.

Selanjutnya satu-satunya catatan selama di Badr tadi adalah soal bagaimana aplikasi itu bisa membuat usernya ketagihan. Semacam misal IG yang kita bosen dikit refleknya skroling IG. Kayak-kayak gitu, katanya ada teorinya di buku yang judulnya Hooked. Saya jadi tertarik karena ini bahas behaviour manusia. Kak Wahyu sempet nyebut istilah behaviour engineering.

Oh ada juga ding, bahas aplikasi yang memudahkan transfer tanpa biaya. Kita bahas aplikasi ini dapet duit dari mana. Dan seperti kita bahas whatsapp dua hari lalu, aplikasi gratis yang gak masang iklan akan menggunakan data kita sebagai hal yang kita bayarkan pada mereka. Who knows apakah pola transaksi nanti bisa ditafsirkan menjadi sesuatu sama data scientist mereka. Oh ya, tadi ditunjukin juga website https://mixpanel.com/ yang bisa digunakan untuk membaca apa yang dilakukan user. Dari web ini kita bisa mantau project kita, si user melakukan kegiatan apa pukul berapa sehingga polanya nanti kita bisa pelajari. "Kadang tugas developer tuh bukan membuat yang baru, tapi menerjemahkan apa yang sudah ada."

btw, hari ini agak terasa 'kosong' setelah ada telpon siang tadi
Cibinong, 23 Maret 2017 21.16

Selasa, 21 Maret 2017

Tahu Bulat

Aku : "Dek, kenapa tahu bulat?"
Fatih : "Soalnya kalau tahu kotak, Mbak Fitri juga bakal nanya, kan?"

Apa yang Terjadi Belakangan? ft. Jogja yang Sekarang Perlu Diusahakan

Hidup berjalan, tulisan saya tidak. Lama-lama 'suka menulis' yang saya gadang-gadang jadi hambar.

Kehidupan menjadi semakin sulit rasanya setelah sidang selesai. Tipikal kesulitan yang berbeda sama skripsi meski sama-sama sulit. Soal identifikasi diri yang tak kunjung selesai dan masih menuai pertanyaan.

Saya menyelesaikan urusan akademik dan semmpat pulang sebelum wisuda. Kemudian wisuda di pertengahan Februari. Lalu sempat ke Bandung di penghujung Februari. Satu bulan dengan secuil pengamatan soal keseharian di Jakarta-Bogor-Jogja-Bandung pengen saya  tulliskan di tuliasn tersendiri. Semoga gak berujung niatan belaka.

Saya mulai gelisah dan hidup dengan kebimbangan. Hahaha *nertawain diri sendiri. Ngobrol sama orang, nyobain apply apa, kepo-kepo akun tertentu, bikin akun di laman tertentu, baca-baca buku, sampai punya tema spesifik buat nyari topik buku tertentu waktu togamas diskon 30%. Di Jogja juga sempat gabung kelas dongeng dan a little bit menolak tawaran nyoba ngajar bocil di perpus kota Jogja yang menyenangkan dan ingin saya coba. Oiya ada juga yang coba bantu solve sesuatu tapi kayaknya belum ngebantu-bantu banget. But that thing makes me learn enough sih :")

Beberapa hal membuat saya pergi lintas kota, semacem pengen pulang atau acara FLP (wkwkwk, mikirnya tes kerja ye :P?). Namun salah satu hal yang saya syukuri adalah. Teman saya menikah beberapa hari sebelum saya tetiba harus ke Jakarta. Alhamdulillah masih sempat datang :') Eh sebenernya itu fase-fase gak mesti pergi-pergi sih. Itu masuknya fase kenalan sama diri sendiri jadi emang officially di Jogja ngurus FLP aja.

Saya apply sih emang beberapa hal. Sejak sidang, saya masih punya jatah kontrakan sampai akhir april dan sepanjang menunggu wisuda saya pikir ngapain ya saya. Ada project KKN yang belum kelar. Tapi sayanya masih belum meluangkan waktu. Pas itu teh rasanya asa harus dikerjain tapi masih belum mendekat nyeriusin ke sana. Ada hal yang harus diedit, yang harus diseriusin, yang harus dirapiin. Tapi fase-fase paska kampus yang belum ketauan arahnya diambah niat saya yang masih belum serius membuat perasaan up and down. Sharing bareng Nikari dan Tyani juga cukup menguatkan saya kalaau mau balik rumah abis Ramadhan aja soalnya Raadhan di Jogja itu....sesuatu banget :"

Singkat cerita, ada program magang yang saya coba dafar di Jogja. Salah satu motivasinya pas itu buat belajar, cari pengalaman, dan kenapa Jogja? Ya biar ngabisin jatah Jogjanya aja. Dulu ada perasaan pengen pulang cepet-cepet. Pas udah di limit waktu tertentu rasanya gimanaaa gitu. Suatu senin, saya dapat kabar alau lolos seleksi magang tersebut, untuk tanda tangan kontrak di hari Rabu. Itu masa saya mulai cari tempat bernaung lain yang bisa bayar bulanan sampe program maang selesai atau bolehlah kalau sampai Ramadhan kelar.

Di hari yang sama saya dapat info shortcourse x internship di Badr buat batch 2. Lokasinya di Depok. Saat itu saya mikir ih kepengen ya daftar program ini. Dulu pas batch 1 masih Januari, Masih urus-urus revisi, yudisium, dan lain sebagainya. Dan finally nggak jadi daftar. Tapi karena saya baru keterima program magang di Jogja ini akhirnya saya berpikir, yaudahlah nanti-nanti dulu aja Badrnya :'. Ikut yang batch selanjutnya eski entah kapan juga.

Hari Rabu tiba. Saya datang ke kantor tempat saya diterima magang dan at that time, saya baru tahu kalau program ini cuma buat KTP DIY karena program magang ini disponsori sama departemen tenaga kerja DIY. Apalah saya satu-satunya yang tidak ber-KTP DIY. Surat kontrak yang sudah di depaan mata cuma saya baca-baca aja dan akhirnya kata mas yang meengurusi kami, nanti saya dikabari lagi, setelah sebelumnya dikasih gambaran kalau saya akan garap bidang apa.

Berkecamuklah pikiran saya kala itu. Which is hari tersebut adalah hari yang sama dengan deadline shortcourse X internship di Badr. Tapi saya khawatir kalau daftar dan keterima terus nanti tiba-tiba dikabarin sama GI (tempat magang di Jogja), gimana, takut dibilang nggak komit atau gimana. Siang itu saya ditanya abi soal kontraknya dan setelah saya cerita (termasuk soal program Badr), abi nyaranin buat nyoba semuanya.

Hari itu saya baru bisa ngelengkapin fornya pas malem. Itu malem jam 9nan gitu dan pas ngisi nggak banyak ekspektasi karena tau batch sebelumnya yang apply 960an orang dan cuma diambil 6 :". Ngisi checkbox keahlian cuman 1, ngisi ekspektasi juga rasanya jawabannya kurang keren, tapi yaudahlah.

Hari senin pekan kemarin, saya ada urusan soal tanya-tanya suatu tes. Hari itu juga saya dikabarin kalau saya ada suatu tes di Jakarta untuk Jumat. Singkat cerita (sebenernya ada cerita lain di Selasa soal jadwal yang tiba-tiba terarrange gitu sih) hari Selasa dapat kabar lolos berkas programnya Badr dn saaat itu saya nggak nyangka banget. Interview di Rabu siang via video call dan telepon, Rabu malem pulang Rumah. Nyampe rumah Kamis dan Jumat ke Jakarta. Subhanallah, dapet pelajaran berharga soal bagaimana rasanya komuter arah Jakarta di jam-jam rush hour :'

Jumat malam itu juga ada pengumuman saya lolos program Badr. Cukup surpise di mana saya saat itu mulanya tidak banyak berekspektasi. Soal waktu dan kesempatan, emang hak Allah banget ya. Kabar itu membei arti banyak hal. Berarti saya akan meneruskan kepulangan ini selama beberapa pekan ke depan. Bahkan juga pada artian bahwa ada banyak hal yang saya tinggal di Jogja. Semacam Jogja yang tetiba menjadi hal yang harus saya upayakan *tiket pas long wiken dah habis semua :"(

Ada semacam perasaan aneh pergi tanpa pamit. Ya sebenernya saya juga nggak tahu kalau bakal pergi sebentar eh tapinya jadi agak lama. Ada hal-hal yang saya tinggal di Jogja, bahkan termasuk amanah hingga Mei di FLP yang sekarang hanya bisa saya bantu dari jauh. Kelas dongeng yang pengen ambil bagian banyak di dalamnya. Kenalan sama orang baru yang belum maksimal. Qtime dengan anak kontrakan (diskusi woy bukan ngobrol). Qtime diskusi berfaedah dengan anak Gycjog. Barang masih di Jogja banyak banget karena belum pindahan samsek (pulang ini aja gabawa daily things). Nggak bisa dateng sidang Maret *ya Allah sedih banget ini temen-temen sebimbingan ada tiga T.T. Nggak jadi pinjem komik Conan-nya Farah yang punya dari nomer 1 sampai the latest. Dan juga ngak bawa buku-buku yang saya bilang beli di Togamas pas diskonan itu. Urusan-urusan di rumah kontrakan bahkan jemuran yang baru saya jemur sebelum pulang karena mikir gak bakal lama pulangnya. Hadiah buat orang-orang yang belum saya kasih. Dan lain sebagainya.

Ada semacam hal yang mengganjal. Soal pergi tanpa pamit. I dont know which one best antara kabar pergi yang tiba-tiba sehingga kita tidak bersedih sebelumnya (akan menumpuk di akhir sih mungkin abis tau gitu) atau memang pergi yang dikasih intro dan briefing dulu. Tapi bagaimanapun, kejelasan akan menjelma jadi kelegaan sih. Tapi saya ngeh satu hal bahwa kita harus siap dengan rencana-rencana Allah dalam hidup yang kadang kayak lonjakan dan ledakan. Di Badr, niat saya untuk belajar dan dapet pengalaman. Apa yang ingin saya capai selepas program Badr ini i still dont know. It's still a mystery. Sekarang niatan saya mau mulai nyoba nulis banyak lagi. Gitu aja sih dulu. Mohon doanya biar bisa belajar sebanyak-banyaknya dan ngasih manfaat juga buat Badr. Sekian.


mulai ditulis di Badr, diselesaikan di rumah

Senin, 06 Maret 2017

Jarak

Semoga jarak yang ada diantara kita tak sia-sia. Semoga jauhnya kita di dunia adalah jalan untuk bersatu abadi di surgaNya.

-dikutip dari tumblr bulek hana. dah lama gak baca. tulisannya tentang orang tua kok. Tapi kalo dipikir-pikir yang kalimat pertama maknanya luas #eh


heu, dah lama gak nulis. kangen. kangen mulu.

Sabtu, 04 Februari 2017

Titip Salam dan Kartu Pos

Waktu berjalan. Banyak hal berubah. Saya ingin mengangkat dua hal ini.

Pertama, soal titip salam.
Hal ini terngiang pasca saya ketemu teman. Yang dia juga kenal teman saya yang lain. Mereka ketemu di suatu program.
Nah terus kan, kadang tu kta kalo kenal temen yang kenal temen kita yang lain kan suka mikir, nitip salam ah. Tapi pas itu saya jadi kepikir aja sih.
Orang dulu suka titip salam karena nggak punya alat komunikasi pribadi. Kalau punya pun biayanya tidak semurah sekarang. Makanya jadi priceless banget kalau kita dapat salam dari siapa gitu, terus nanti heboh sendiiri. Eh, ketemu di mana? Gimana dia sekarang kabarnya? dll. dsb.

Kalo sekarang, pas saya mau titip salam aja rasanya lidah jadi kelu. Terus balik nanya ke diri sendiri, selama itu kah kita nggak ngontak dia? Padahal kamu punya akun-akun dia dari nomer HP, WA, akun Line, FB, IG, Twitter, bahkan alamat email. Sedih eh . Btw, ini bukan berarti nggak boleh titip salam ya. Terus kalo sekarang kadang ada hal-hal yang membuat kita jadi tau sebelum bertanya. Apa? Nice. Benar. Sosial media. Hahaha, tapi suka lucu juga kalo misal saya dulu pernah bilang ke temen. "Kamu ngerjain kuisioner apa Fid?"  Terus dia kaget gitu, "Kamu tau dari mana Fit?". Wkwk, heran yah, orang dia sendiri yang publish ke igstory. Akhirnya kita bahas soal orang yang masih suka kaget kegiatannya diketahui orang. Padahal  tanpa sadar dia sendiri yang secara tidak langsung mengumumkan pada dunia kegiatannya apa.

Kedua, soal kartu pos.
Jadi waktu itu lagi bongkar foto-foto lama yang ada di album. Foto-foto jaman masih pake kamera film belum digital. Terus ada kartu pos Malaysia nyelip. Gambar petronas.
Terus Abi bilang, "Sekarang kita cari gambar di pinterest bisa nemu yang jauh lebih bagus."
Terus saya jadi notice satu hal : ketika itu, jaman internet belum aksesibel oleh seluruh umat di muka bumi (lebay amat). Ngasih oleh-oleh kartu pos sama dengan berbagi keindahan kota yang kita kunjungi. Yang mana kartu itu bisa temen kita pegang dan bawa kemana-mana dia mau. Di pigura buat hiasan kamar juga bisa. Pendek kata, that's very worth it. (saya aja belakangan sempet kepikiran ngebingkain postcard).

Kalau sekarang, rupanya berbagi kartu pos sebagai oleh-oleh (yang bukan dikirim langsung) not very recommended. Bayangkan bahwa we can google it everywhere and everytime (sejak kapan google jadi kata kerja?). Bahkan kalo kita mau liat Paris kita pake google streetview juga bisa. Itu bahkan ndak cuma liat, tapi ngerasain jalannya. Menjadikan gambar-gambar itu wallpaper smartphone dan laptop, bahkan ngeprint gede-gede tempel di kamar juga bisa. Teknologi memudahkan semua itu.

But, trust me.
Getting postcard means you are one of someone who is loved by your friend.