Tampilkan postingan dengan label repost. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label repost. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 November 2020

Worry and Prayer

Worry is a conversation you have with yourself about things you cannot change.

Prayer is a conversation you have with God about thungs He can change.

-foto profil Kak Laili, ibunya Ayyash sama Hanna 

Kamis, 04 Juli 2019

Yang Kehilangan Sabar


Begitu banyak orang yang kehilangan sabar, kemudian kehilangan lebih banyak lagi.
-Menentukan Arah, difoto 16 Februari 2019 dalam perjalanan ke Bandung

Sejak aku menyadari bahwa ujian sabar merupakan ujian yang aku perlu banyak belajar menghadapinya sewaktu kuliah akhir dulu, kalau Allah izinkan aku punya anak, ingin sekali di namanya ada arti yang bermakna sabar-sabarnya. Shabira, atau shabrina mungkin? Atau apa lagi ya nama yang maknanya sabar?

#sisakemarin #kemarinhanyajadidraft #bacadehparagrafyangawalnyakalimatitu

3 Juli 2019

Ah, tanggal ini mengingatkanku banyak hal!
Termasuk HPku yang hilang 2 Juli 2012 dan resensi novel Angpau Merah

Juga, obrolan kecil pagi yang cukup melegakan, walau akhirnya sempat membuat bertanya-tanya kembali.

Selasa, 21 Mei 2019

R, yang Takut Tidak Sampai Usianya

Beberapa hari lalu sempat dapat cerita dari R, salah seorang teman yang sudah sekitar 30 bulan seatap. Lima belas juni esok dia insya Allah akan menikah. Sedikit kisahnya sudah pernah kami ketahui waktu dulu ia cerita-cerita ketika kami masih tinggal di bawah atap yang sama, di hari ulang tahunnya. Usianya lebih tua dariku sebenarnya, tapi karena sempat mengulang sbmptn jadinya angkatan kuliahnya dibawahku. Anaknya menyenangkan, suka belajar, dan luas pergaulannya. 

Ada kata-kata yang aku suka dari ceritanya waktu dia cerita tentang kekhawatiran menuju pernikahan.Katanya sih overall tidak ada, dan hanya tersisa satu hal.

"Tp ada ko kaa, smpe skrg msh khawatir sm 1 hal,
Nympe ga ya umurku? nympe ga ya umurnya? 
Soalnya apa ya ka, aku blm siap bekal ke kubur, sedangkan dr jalan menikah ini in sya Allah bs banyak pundi" pahala, kebaikan yg sama" akan kami dapat, smg masih Allah sampaikan ya ke ibadah terpanjaaang, jd ibu berjuangnya diitung kan ya ka sm Allah jg ka :')"

R yang suka dipanggil mama-chan. Terlihat bocil namun tidak. Kekhawatiran justru soal kematian, hal yang memang paling dekat dibanding apapun.

Semoga Allah sampaikan Ma. Biar seluruh pundi-pundi kebaikan bisa kamu dapatkan, menjadi bekal ke akhirat kelak. Aamiin.

Salam sayang,
Fitri yang kagum.

Racau Malam Hari, Membaca Kembali, Menulis, Sabtu Bersama Bapak

menemukan gambar ini, di sela-sela pencarian akan sesuatu. tertanggal 3 april 2016, tanggal yang sama tiga tahun kemudian, ada file yang dikirim, dan baru saya baca tadi pagi, karena penerimanya lupa meneruskan. tapi tidak apa-apa.

kenapa pengen pos? ga kenapa-napa. dan bukan karena kebetulan sama tanggalnya. saya nyadar sama juga pas udah mau upload. saya jadi mengenang buku ini. salah satu buku yang baik untuk dibaca. Sabtu Bersama Bapak. Sebelumnya, saya pernah pos di sini, beserta pesan yang amat manis yang saya tulis kembali di bagian akhir. karena fotonya sangat terbatas, dengan hp sekenan dari abi, yang sebenarnya dulunya juga abi beli seken di 2011 (jadi da akunya mah pengguna ketiga kayaknya). buram, sulit dibaca, tapi masih menyimpan kenangan.

Filmnya udah ada. tapi hasil ngobrolin sama Abidah, saya yang belum pernah nonton filmnya menyimpulkan bagusan bukunya daripada film. Karena ada part yang saya ingat namun tidak ada di film, kata Abidah yang sudah nonton tapi belum baca. Jadi dak lengkap. Saya ada bukunya kalau mau pinjam.

omong-omong kenangan, terkait file yang baru tadi pagi saya baca itu. Sempat menyebut blog saya. lantas tadi siang saya pergi ke blog saya di Maret 2019, sekiaran tulisan itu dikirim.

Waktu berlalu, Maret ke Mei baru berjeda sejenak. Tapi kadang saya jadi bisa mengingat kembali perasaan-perasaan yang ada lewat tulisan. Ada tulisan tentang keberkahan waktu yang akhirnya muncul juga di Mei ini. tulisan interaksi dengan Alquran yang belum ada. Dan tulisan-tulisan lain. Yang saya ingat perasaannya. Harapnya, cemasnya, ingin ikut berjuangnya, rindunya, momen dngerin ust Hanan Attakinya, dan lain sebagainya.

Tulisan tadi juga membuat saya membuka kembai file yang pernah saya tulis sebelumnya yang membuat dokumen yang lupa diforward itu ada. Lalu mengingat file lain sebelumnya. Takjub dengan hal-hal yang saya tulis sendiri.

Setiap tulisan menyimpan informasi. Satu dua menyimpan harapan besar.
Momen waktu kita, atau baiklah, diri ini membaca, tentu punya kesan tersendiri. Kemudian setelah jeda lama, mungkin sudah lupa lagi.
Jadi berpikir, ada baiknya, meluangkan waktu, untuk membaca kembali apa yang pernah dituliskan. Sendiri atau bersama, umpama target-target kuartal kantor. Agar ingat kembali, ke mana harapan pernah dibawa, dan ditambatkan, untuk mengejar ridha yang kuasa. Dengan cara apa, yang sempat dicanangkan masing-masing, untuk diwujudkan, sendiri atau bersama-sama.
Benar-benar merasa perlu, membaca kembali sesuatu yang barangkali sudah dilupa. Agar diri ini ingat, berpikir sebab akibat dan serius itu memang perlu. #ntms

***

Tadi pulang kepikir, kenapa ya aku suka sekali menulis hal-hal. Walau yang gini-gini aja. Sekedar racau atau coretan.
Dulu jaman sekolah aku punya buku harian. Ada sampai aliyah walau waktu SD ga sering diisi, SMP awal lumayan, lalu jarang karena surat-suratan sama kaka kelas kali ya wkwkwk (cewek kok, uwe kan smp cewe semua), dan aliyah, apalagi menjelang akhir, deras sekali tinta pulpennya. Tidak ada laptop yang kubawa, dan menjadi i dengan sulit memulai cerita, sekaligus menjadi orang yang suka mengenang, butuh media menuangkan isi kepalanya. Kadang nulis blog juga sih kalau dapat komputer perpus atau labsis yang berinternet. Atau saat libur reguler maupun panjang.
Lepas aliyah, pegang laptop. Nulis di buku ujungnya ketiduran. Akhirnya jadi lari ke blog kembali. Walau kalau di blog emang ga bisa se ga disaring buku harian ya. Namun setidaknya, membantu melegakan. Dan membantu mengingat banyak hal, termasuk perasaan saat mengalami a b c kehidupan. Cuman ya gitu, kadang kasihan yang baca, kalau ada itu juga.
Jadi intinya mah blog ini emang bukan dibuat untuk menginspirasi. Meski jika kamu sudah terlanjur mampir, semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Salam, Fitri
Hari ini nggak ada masalah berarti alhamdulillah
namun rupanya aku masih kalah
sama pertanyaan di ujung jari yang membuat aku bolak balik dan berpikir berlebihan
sama pertanyaan nyebelin sok-sok minta cerita
sama diri ini yang manja sama diri sendiri.
.
Terima kasih Allah



Kamis, 16 Mei 2019

Menjadi Pendakwah

"Gimana mau nyambung, mau jadi pendakwah kalau aktivitas kita sehari-hari jarang ke arah sana?"

"Kebangkitan Islam nggak pernah terealisasi kalau kita usaha di waktu sisa, tenaga sisa, harta sisa. Kalau ini yang dilakukan, maka kita nggak mencontoh Rasulullah. Apa Islam bisa bangkit dengan yang sisa? Masa yang sisa-sisa yang kita gadaikan buat dapat Jannah? Emang sepadan?
Kalau iya itu yang kita lakukan, berarti kita lagi nego ke Allah, yaudah deh ya Allah, nggak usah Jannah juga nggak papa."

"Yang kita cari itu yang berharga di sisi Allah, masa mau kayak gitu pakenya waktu sisa. Ini bukan menjual diri dengan sesuatu yang receh seperti kebahagiaan dunia.

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." - QS At Taubah:111

"Jadikan dakwah itu prioritas hidup kita. Dakwah itu mahkota kewajiban. Bukan berdakwah ketika ilmu kamu sudah banyak, tapi sampaikanlah walau 1 ayat."


#sisakemarin #sabtu
mau ditulis dari kemarin-marin gajadi-jadi

Ya Allah, jadikanlah kami istiqomah di jalanMu. Membela agamaMu. Menyampaikan kebaikan syariat lewat kata, laku, bahkan diamnya kami. Menjadi bagian dari pejuang kebangkitan Islam. Aamiin.

Minggu, 05 Mei 2019

Mempersiapkan (Kematian)

"Masih untung nikah itu (meski banyak repotnya) bisa dipersiapin, kalau meninggal itu Mbak, ngga bisa disiapin."

-Abi out of nowhere ngomong gitu kemarin. Di hari aku mendengar dua kabar meninggal. Anaknya guruku, yang dulu kukenal saat masih SD, dan kena kanker waktu SMA. Dan Ibunya temanku, yang mendadak info meninggalnya. Maksudnya ngga bsia disiapin tentu saj abukan soal memperbanyak bekal. Tapi karena nggak tau kapan jadi ngga bisa bener-bener ddisiapin menuju hari H kayak orang mau nikah gitu.

Jumat, 19 April 2019

Tumbuh Bersama (dan Insight Menarik Lainnya dari Video Maudy-Najwa)

"Proses grow bareng-bareng itu sih yang bikin hubungan jadi kuat" - kata Najwa Shihab tentang dirinya yang nikah di usia 20.
*


selama sekolah, hampir aku gak pernah punya pengalaman ngerjain tugas diteemenin denger sesuatu. hari ini, setelah rabu kemarin ada pada percakapan,
"Mbak, katanya mau bantuin Fahri kan?" Fahri ngomong gitu sebelum berngkaat lagi ke sekolah untuk ngelanjutin camp sebelum UN nya, jenak sebentar karena libur pemilu.
"Iya, apa yang bisa Mbak Fitri bantu?"
"Tulisin semua rumus dong dari dua buku ini." Ngeluarin buku persiapan UN IPA sama Matematika wkwkwk.
.
Ya  intinya baru terealisasi Jumat pagi ini (belum selesai juga sih). Agak teat karena doinya juga ternyata dijemput dari sekolah Jumat pagi. Lalu aku cari temen ngerjain soal dari yutub. Sampai akhirnya nyetel ini juga setelah video lain. 
*
Tapi menarique sih, sebelum-sebelumnya emang yang bikin aku tertarik adalah postingan orang tentang gimana sih orang tua Maudy Ayunda mendidik beliau. No TV, menjadikan buku itu alat hiburan yang bahkan ayahnya bela-belain ke SG demi bawa buku-buku berkualitas. Lalu juga ibunya yang selalu mengajak Maudy ngobrol yang ngajak mikir. Maudy yang cinta belajar :") (ini lucu banget sih pas mereka berdua sama-sama awalnya bilang aku aneh banget kayaknya, tapi aku suka belajar, lalu ternyata keduanya sama-sama suka ujiaaan :D )

Sampai aku juga sempet terdiam aja pas Najwa bilang, mimpi itu nggak boleh nanggung. 
Aku kayak langsung diem, mikir. Apa ya mimpiku. Beneran gak ya itu mipiku. Apakah itu masih nanggung, padahal emang bener sih, katanya mimpi emang jangan setengah-setengah. Dan kalau memang menginginkannya, atanya semesta akan mendukung. Aku jadi nanya gitu, apakah aku udah sepenuh hati kalau aku punya keinginan? Apa udah didoain terus menerus habis shalat? Aku siap gak ya memperjuangkan mimpiku? Gimana kalau mimpiku berubah. Gimana kalau ternyata aku nggk seingin itu? Gimana kalau aku gak cukup berani untuk itu, gitudeh. Anyway, Maudy pun pengen masuk Harvard udah dari SD bayangin. Aku jadi merasa orang tuanya juga hebat sekali bisa membuat Maudy punya cita-cita yang ia kejar bahkan sedari kecil. 

Aku juga sempet kepikiran sih, apakah kelak aku akan S2? Kalau ternyata pengen belajar lagi, akan ada waktu, ruang, kesempatan, dan izin yang diberikan gak ya? 

Hehe jadi ke mana-mana, ya. Padahal pertama pengen ngepos quotenya Mbak Nana aja yang aku posting di awal itu. Bagus, hehehe. Jadi maaf kalau judulnya begitu. 

Rabu, 17 April 2019

Kuat, Yakin, dan Percaya

tadi nangis liat dan mencermati lirik ost ini
.
banyak banget kejadian orang tua yang jadi kuat karena melihat anaknya berjuang menghadapi kondisi spesianya ketika lahir, atau ketika sakit. seperti ketika aku dulu lihat kisah adam fabumi, lihat kisah illonaillonalona (total udah 40 operasi sampai usia 4 tahun bayangin :"", dan waktuu lihat ayahnya nangis, dia masih bisa bilang, don't be sad daddy, be strong like me).

orang dewasa selalu rasional ya. mungkin pengalaman hidup membuatnya demikian. tidak melulu salah, namun kadang bisa mematahkan semangat, kadang bisa mematikan harapan. ah, padahal dibandingkan anak-anak, orang dewasa yang justru lebih paham soal menggantungkan segalanya ke Allah. harusnya malu ya :"

coba lihat harapan dalam bola mata anak-anak yang selalu jujur itu :")
harapan yang yakin bisa. harapan yang optimis. harapan yang yakin bakal nyampe sama apa yang dicita-citakan. pertanyaannya, jika harapan mereka mati, jangan-jangan, orang dewasa atau justru kitalah yang membuatnya demikian, naudzubillahimindzaliik.

kalau tadi lihat lagi edisi filmnya ada kutipan kata-kata begini, "umma akan selalu percaya kalau nussa...bisa"

lagi-lagi tentang percaya, ya :")

Rabu, 10 April 2019

Kamis, 04 April 2019

Repost: Jaga Allah

Jaga Allah, Allah akan jaga kamu.

-itu inti dari segala nasihat.
Ust. Hanan Attaki dari video Ubah Ketakutan jadi Kejutan part 1, belum selesai juga sih aku mendengarkannya, ya bbaru sampai kalimat-kalimat itu aja.

Jaga hak Allah, Allah akan jaga hak kita. Jaga perasaan Allah, Allah akan jaga perasaan kita. Jaga panggilan Allah, Allah akan jaga panggilan kita.
Kalau ke Allah, nggak ada ceritanya kita akan kecewa. Beda urusan sama ke manusia. Kita ngecewain Allah. Tetap aja Allah datang ke kita.

Jumat, 29 Maret 2019

Hadits: Yang Mencintai Alquran

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).


Baca selengkapnya https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

tadi sore menemukan kutipan ini di antara sumber-sumber dan referensi, ingat pingin nyeritain obrolan tahun lalu dengan dua temanku di waktu yang berbeda tentang seseorang dengan Alquran. tapi belum. semoga segera kulengkapi ketika tiada malas :)

Kamis, 28 Maret 2019

Nggak Mungkin

"Nggak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Nggak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan kalau kalian mencintai seseorang, atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu nggak mungkin.

Bukan hanya nggak mungkin. Bahkan Allah mengancam, dengan sebuah ancaman. Fatarabbasu. Hati-hati kalian, kata Allah. Artinya nggak boleh, seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk. Itu nggak boleh.

Kalau dia mencintai makhluk. Harus karena Allah. Kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah, Allah bilang fatarabbasu, hati-hati.

Kenapa kita nggak berani bertaruh untuk Allah. Ini masa depan nih saya pertaruhkan nih. Kalau saya nggak pacaran apakah saya tetap akan bisa menikah? 

Taruh aja pertaruhannya pada Allah. Allah bilang, siapa yang istiqomah, Kami tolong dia.
Duh, kalau saya putusin, ntar dia sama yang lain, gimana ya?

Nggak usah khawatir, udah aja pertaruhkan masa depan kita sama Allah. Nanti kita akan bilang, untung dulu saya putusin."

-Ust. Hanan Attaki
Tau saya dapat kata-kata ini dari mana?
push notif Yawme ke oase, artikelnya sebenarnya tentang empat perkara yang akan ditanya
lalu di bawah ada sumber ig yang bikin desainnya, saya buka, eh lalu lihat postingannya salahs satunya ada ini.

Sebenernya jarang-jarang klik push notif aplikasi. Tapi ya kayak it's all by designed gitu. Semoga jadi pengingat diri :)


Rabu, 27 Maret 2019

Bacaan Beberapa Hari Terakhir

Jadi karena blogspot bisa follow tumblr aku fllow tumblr Kak Uti dan Kak Fira udah sejak lama, banget. Terus ada tulsain yang menurutku cukup bagus untuk dibaca dan dibagikan.

1. Yang Harus Selesai
Tidak banyak komentar tentang post-an Kak Uti di sini. Benar, kalau orang berpikir menikah adalah untuk menyelesaikan masalah, sebenarnya menikah itu membawa masalah baru, wkwk. Kalau kapan gitu waktu chat sama Kak Marissa, Kak Mar bilang, Aufar pernah bilang bahwa menikah itu agak gila, bikin susah hidup, barenga lagi dua orang. Lalu aku balas, tapi mau ya dengan sukarela. Terus Kak Marissa bilang, ya, makanya kalo ga karena Allah, ya susah mau pegangan ke mana. Cinta cuma bertahan 2 tahun katanya. Hati cuma satu, yang kosong harusnya diisi Allah aja, tapi kalau jatuh cinta suka lupa sama yang ngasih cinta.
Gitu kata Kak Mars. Kalimat terakhir membuatku ingat, aku pernah cerita sama Ummi Terus Ummi bilang, kalau manusia bisa segitunya kalau lagi jatuh cinta, kepikiran, pengen cerita, pengen dekat. Harusnya itu membuat ingat bahwa manusia perlu begitu juga sama Allah. Iya ya, Allah kan mencintai hambanya tanpa tapi.Tulisan ini juga bilang, tentang 'jangan berharap deh bahwa kamu bisa mengubah seseorang. kalau sayang ya pasti dia menjadi dirinya yang terbaik.' dulu temenku pernah bilang, ngubah kebiasaan orang itu susah, jadi ya jangan bikin pr kalau mau nikah tuh. dia hidup dengan kebiasaan itu selama dua puluh sekian tahun, misalnya. ya ngarep apa mau tiba-tiba berubah (ya Allah penasaran banget aku baca di mana ya kalimat-kalimat ini). namun, instead of wondering to others, kalau dipikir-pikir, diri sendiri pun punya banyak hal-hal buruk yang bahkan bisa jadi mungkin cuma Allah aja yang tau. terus frase kalimat keduanya, kalau sayang pasti menjadi yang terbaik, beberapa hari lalu liat sih tulisan orang (lupa tapi di mana) yang istilahnya kalau gabisa masak aja bisa deh nanti masak karena pengen bahagiain pasanganya. Tapi fokusku bukan itu sih itu mah contoh aja karena keliatan baru-baru ini (lupa tapi di mana). cuma hebat banget ya kalau bisa gitu dalam setiap hal. dan yang paling penting, coba bisa gitu terus ke Allah, gimana Allah tega ngasih azab ke hambanya atau gak ngampunin dosanya, huhu. yang ada kan Allah bakal sayang banget sama hambanya yang kalau sayang pasti jadi diri terbaik di hadapan Allah

Terus aku juga inget skrinsutan dari November 2018 lalu. Wkwk, kebiasaan pengen dipos langsung tapi gajadi-jadi. Singkat cerita mah ada yang sharing gitu. Lalu ditanya dan ini cukup mengena.
Waktu itu, aku langsung berpikir. Iya ya, kenapa kadang mikirnya tuh mau bahagiain pasangan dengan a, b, c, d (wk gaya bet kek udah nikah aja). Pengen melakukan apa bareng-bareng atau mau bersikap apa nanti di rumah tangga, jadi istri atau suami yang gimana, jadi ibu atau ayah yang gimana).
Kenapa ndak dibalik ya. Koitmen ke diri sendiri apa. Mau jadi pribadi yang seperti apa, jadi pribadi yang terbuka, jadi pribadi yang memberi, jadi pribadi yang mendengar, jadi pribadi yang peduli. Duh aku lupa dulu kayaknya pertama baca ngena banget. Tapi mungkin kalau versi sekarang aku mengira-ngira kalimat ini mmungkin maksudnya adalah, ketika diri sendiri fokus unttuk menjadi diri yang seperti apa, ia akan melakukan itu dalam semua ini kehidupan, nggak berfokus sama pasangannya aja. Dan itu memberi energi lebih untuk menjadi 100% dalam seluruh kehidupannya.
Bahasan setelah chat ini menarik sih, yaitu tentang menjadi sempurna. Kadang orang berpikir untuk menjadi 100% sempurna, lalu ketika belum mencapai itu, dia jadi tertutup. Ga cerita sama orang lain karena mau sharingnya saat udah sempurna aja gitu. Padahal, ketika ayah, ibu, atau siapapun tidak sempurna, apakah membuat kita berhenti menyayangi orang itu? Mana yang lebih efektif, menjadi terbuka dengan ketidaksempurnaan atau tidak menerima ketidaksempurnaan dan menutup-nutupinya? Mana yang lebih membuat lega?

2. Yang Menyenangkan
Satu hal yang terlintas saat baca ini adalah hal yang penah kupelajari di este. Bahwa meminta tolong tidak berarti lemah, bahkan itu bisa membuat yang diminta tolong merasa dihargai dan dianggap keberadaannya. Serta, menerima bantuan orang lain adalah bentuk penghargaan. Bentuk berterima kasih. Tidak melulu merepotkan. Seperti cerita Masgun di buku Menentukan Arah yang awalnya beliau merasa nggak perlu lah dibuatkan teh sama istrinya karena masi hidup dengan perasaan lama sebagai anak kos yang biasa mandiri, biasa ga dibantuin orang. Sampai beliau sadar, istrinya senang jika beliau menerima teh buatannya. Dan toh (ini ga ada di buku sih) ibarat ga maunya karena ga suka minum tehnya atau ga suka minum manisnya atau ga biasa atau menghindari atau ga biasa minum teh di jam sekian (banyak banget ataunya) bisa dikomunikasikan, kan? tapi atas itu semua, menerima adalah menghargai. menerima bantuan pun membuat senang yang membantu :")

3. #tentangpernikahan: Mempersiapkan Diri
ini bagus untuk memperkaya wawasan. dan menggambarkan oh bosan tuh ya beneran kayak gitu ta. oh realita tuh kayak gitu wkwk. perasaan sepi dan sendirian itu nyata. jadi inget ifdhal waktu asdul (agenda kealumnian asrama sharing2 kabar gitu di grup) bilang, suka kasihan sama istrinya kalau pulang malam. dan tulisan ini meski sudut pandangnya perempuan, peru juga sih dibaca laki-laki. soalnya kan rumah tangga kehidupan bersama.
oiya saya dulu pernah pos tulisan Kak Fira yang judulnya Tentang Pernikahan

Eh beberapa waktu lalu kan sempet pengen bikin tulisan tentang Menikahi Perempuan (dengan Kekhawatiran-Kekhawatiran), terus ternyata aku pernah repost tulisan Masgun juga di sini

Wkwk dasar tukang nyimpen link dan repost Fit Fit, ckck. Eh tapi beneran bagus sih menurutku 3 link itu yang dinomerin, yang kubaca beberapa hari terakhir ini.. Ingat Kak Uti jadi ingat mau baca teman imaji lagi tapi belum jadi jadii

Selasa, 26 Februari 2019

Worth

"You're worth more
than a maybe."
-angel lindberg vazquez
dari wa storynya kak marissa
tetiba ingin mengisi kekosongan aja di mari
besok kak mars-kakakfavoritqueini-isi kulwap siaware di sini

Distance

"Distance doesn't separate people, silence does."
-wa story mas ucup 5 april 2018, 
katanya sih quote dari igstori temennya

cuma nemu remahan quote, bukan curhat baper
*kenapa banyakan notenya daripada intinya ck

Senin, 18 Februari 2019

Showing Not (Only) Telling

kalo kesimpulan foto bukunya yang paing bawah: Ternyata I Love You  banyak sinonimnya

tulisan yang atas adalah catatan belajar kemarin. Bahwa showing not tell. bukan bercerita bahwa tokoh itu baik dermawan, cerewet. tapi tunjukkan aksinya. aksi apa yang membuat anak-anak tokoh dari cerita memang benar punya sifat demikian. contohnya Wuri di Aku Suka Caramu. Anaknya nanya-nanya mulu, nawarin bantuan mulu. Kukira itu bentuk helpful people. Ternyata itu showingnya cerewet (mungkin helpful juga, tapi ga dibahas). tidak ada satupun kata cerewet di sana.

Lalu waktu nulis aku ingat buku yang aku baca tadi di perjalanan. Buku yang hmmm tiga minggu terakhir kubaca (lama juga ya), karena cerita dari seorang kakak di mushala, dan cerita teman seruangan. Menentukan Arah, Kurniawan Gunadi. Tapi bukan berarti ga boleh juga telling, karena itu juga salah satu cara kan. Bahkan kalau tipe bahasa cintanya words of affirmation. Tulisan Maryam ini mengingatkan saya pertama tahu tentang Love Language dari Abidah dan Ima.
.
waktu nulis catatan di buku itu langsung ingat si buku yang dibaca ini.
pas banget.

Sabtu, 09 Februari 2019

Thaha 31-35

اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ
usydud bihī azrī
teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia,
وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
wa asyrik-hu fī amrī
dan jadikanlah dia teman dalam urusanku,
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ
kai nusabbiḥaka kaṡīrā
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,
وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ
wa nażkuraka kaṡīrā
dan banyak mengingat-Mu,
اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
innaka kunta binā baṣīrā
sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”

QS Thaha 31-35
*
tadi khilaf mainan instagram, masuk-masuk ke akun orang, sampai menemukan potongan doa ini yang menjadi kepsyen di foto orang saat khidmat (sepertinya) pasca akad di sini

da akunya mah dak kenal

Jumat, 01 Februari 2019

"Dan jawaban hari ini, adalah salah satu bentuk penjagaannya Allah buat kamu...."

-webseries hijabalila edisi terakhir

Kamis, 24 Januari 2019

[Repost] Tentang Pernikahan


Kalau kau berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan semua masalah yang kau miliki saat ini, kamu salah besar. Kau bahkan akan menambah daftar jumlah masalah yang kamu punya dalam hidup.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan membuatmu terbebas dari perintah ayah dan ibu, kamu salah besar. Karena ibumu tetap tidak akan tinggal diam ketika melihat anaknya terlihat hidup susah. Ketika kamu merasa cukup pun, mungkin masih akan selalu kurang di matanya.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan melepaskanmu dari rentetan pertanyaan orang lain seputar kehidupan, kamu salah besar. Mereka tidak akan pernah berhenti dan akan selalu bertanya dan terus menanyakan apa yang tidak mereka ketahui.
Tidak perlu terlalu terburu-buru.
Tetapi juga jangan terlalu menuntut kesempurnaan.
Sampai kapanpun tidak akan pernah kau temui sebuah sempurna, bahkan menikah dengan yang kau anggap sempurna pun akan tetap kamu temui celah kekurangannya.
Tetapi bila telah kau niatkan bahwa menikah adalah sebuah ibadah yang akan menyempurnakan separuh agamamu, maka kau akan mengerti. Bahwasanya separuh agama itu memang berat, namun harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Bahkan sholat 5 waktu saja terkadang sulit untuk ditegakkan secara khusyu’ dan tepat waktu, padahal ia tidak disebutkan sebagai separuh yang lainnya.
Menikah adalah ibadah seumur hidup. Kau tidak akan pernah tau saat yang tepat itu kapan, tetapi Allah yang akan memberi sinyal dan semesta yang akan menunjukkan kepadamu. Tenang saja.
Jangan pula kau anggap orang yang menikah itu adalah sebuah hal yang gampang, hanya perkara ijab dan qobul. Tetapi, makna dibalik itulah yang sesungguhnya sangat berat. Tak selamanya yang menikah lebih cepat darimu itu tak mengalami pergumulan hebat dihatinya, mungkin tak mudah baginya untuk sampai dikeputusannya saat ini, maka jangan pernah kau anggap itu mudah.
Latihlah dirimu untuk siap menerima. Karena mungkin ia, yang akan mendampingimu, sifatnya tidak akan persis seperti bayanganmu. Latihlah dirimu untuk berbesar hati. Karena mungkin kesalahan kecilnya sebenarnya membuatmu kecewa. Latihlah dirimu selalu menjadi yang paling sabar. Karena mungkin ia akan egois dan tak mau dikalahkan. Latihlah dirimu menjadi seseorang yang kuat. Karena mungkin ia akan butuh pundak untuk bersandar dan pelukan hangat untuk meredamkan emosinya.
Setiap pilihan itu memiliki konsekuensi, dan seharusnya kamu telah mempersiapkan menghadapi semua itu.
Tak ada yang salah untuk memilih cepat atau lambat. Tetapi memang, setiap pilihan itu ada pengorbanannya.
Yang terpenting adalah memahami bahwa menikah bukan hanya karena atas dasar cinta dan mencari kebahagiaan, tetapi berdasarkan iman dan mencari keberkahan.
“Barakah adalah keajaiban. Keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman. Jadi, yang dicinta di sisi Allah tak selalu mereka yang senantiasa tertawa dan gembira, tersenyum dan terbahak semata karena nikmat, kemudahan hidup, kekayaan, dan kelimpahan. Sebagaimana bukan berarti dibenci Allah jika senantiasa merasakan kesempitan, kelemahan, kekurangan, dan kefakiran. Di dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apapun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih. Apapun keadaannya, pernikahan adalah keindhan dan keagungan, kenikmatan dan kemuliaan, kehangatan dan ketinggian. Jika dan hanya bila kita senantiasa membawanya kepada makna barakah.”
-Ust. Salim A. Fillah, dalam buku “Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta”
Selamat berjuang yang masih bertanya-tanya akan kedatangan dan selamat meluaskan sabar bagi yang telah menemukan.
Dalam ruang kotak berpetak, diiringi deras hujan dan angin badai, 24 Januari 2019.
Dari aku, yang baru saja memulai.
shafiranoorlatifah quote aksara wordsntms selfreminder life muhasabahdirisalimafillah tulisan pernikahan menikahbarakah hijrah ustadsalim bahagia cinta

Sumber dari sini.

Terus kemarin aku baca ini dan, aku suka.

Cerita saya nemu blog Mbak Fira lumayan panjang. Dari 2014 kalau tidak salah. Jadi ceritanya, kapan-kapan saja, ya.

Rabu, 16 Januari 2019

[Reblog Tumblr] Tentang Jodoh

.... 
Di saat seperti ini, kita perlu menilik kembali. Siapa yang kita cari, seseorang yang sempurna, ataukah yang mampu sama-sama? 
Pada akhirnya, pencarianmu akan bermuara bukan kepada kesempurnaan melainkan penerimaan. Karena tak akan ada orang yang sempurna untuk dipilih, namun selalu ada orang yang layak untuk diterima. 
Jika sudah ada penerimaan, maka sisanya adalah keberanian.

-Taufik Aulia 
dari sini