Tampilkan postingan dengan label ummi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ummi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2020

Ibu-Anak; Anak jadi Ibu-dan Punya Anak


Bun, kalau saat hancur ku disayang⁣
⁣Apalagi saat ku jadi juara⁣
Saat tak tahu arah kau di sana⁣
Menjadi gagah saat ku tak bisa

 Lagu ini, lagi.

Tapi kali ini bukan tentang komentarnya. Tentang liriknya.

Entah kenapa dua hari ini bisa nangis kalau dengernya. Kadang lagi merasa rapuh sekali jadi diri sekarang ini. Auto dalem hati, lu kok cerita di sini yg sedih mulu sih fit? Kemarin mau nulis hal yang ga sedih tapi ya ketiduran lah apa lah. Tapi intinya, seperti media sosial yang sering kalian lihat lainnya, tidak ada media sosial yang bisa menunjukan kehidupan seseorang secara persis.

Masih nangis detik nulis ini.
Mulai dari Ummi.
Yang cintanya utuh setengah mati. Yang kuatnya tidak pernah bisa dikalahkan siapapun di rumah. Yang baiknya aku yakin akan memesona siapa saja.
Di buku ungu yang aku baca (males ngambil buat ulis ulang judulnya karena panjang dan bahasa inggris dan ga apal), di bab bab awal ada yang judulnya, Ma, Bagaimana Engkau Melakukannya? Berkisah tentang seorang anak yang udah jadi ibu dan dia masih sering wondering dan bertanya (aku bayanginya bertanya mengarah ke langit) "Ma, bagaimana dulu kau melakukannya?" setiap si ibu ini rungsing dengan kerjaan rumah. Meanwhile dulu ibunya adalah ibu dengan anak (kalau ga salah) berjumlah sebelas. Yah, kebayang lah ya. Eh salah, gak kebayang ding.

25 tahun hidup, jelas sering ngerepotin ummi. mau masih piyik ga bisa apa-apa, kecil yang mungkin belum paham kenapa diminta ini itu sama orang tua, beranjak remaja yang moodnya labil sebagaimana abege pada umumnya, bahkan nikah dan punya anak pun, masih sangat bergantung sama ummi.

Kalau sekarang beredar akun akun atau platform platform tentang kesehatan mental ibu, aku bahkan bertanya ke diriku sendiri danpernah tanya padanya, apakah ummi punya waktu buat diri sendiri? 

Kalau aku kesel, kalau aku runyam, kalau aku merasa aku ga guna dan ga produktif, aku jadi kembali bertanya juga seperti kalimat tadi. Apa ummi pernah begini? Misal aku kesal sama suami, mersa capek dan pengen nyerah ngurus anak, ingin diperhatikan dan diakui, merasa malas suatu waktu karena ingin mengerjakan hal lain, aku bertanya, ummi akan apa kalau di posisi ini?

Aih, ya Allah :"

Sedikit ku jelaskan tentang ku dan kamu⁣
Agar seisi dunia tau⁣
Keras kepala ku sama denganmu⁣
Cara ku marah cara ku tersenyum⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Aku masih ada sampai disini⁣
Melihatmu kuat setengah mati⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Bun aku masih tak mengerti banyak hal⁣
Semua nya berenang di kepala⁣
Dan kau dan semua yang kau tau tentangnya

Terlalu banyak kalau aku deskripsikan satu-satu. Aku takut tangisnya ga selesai karena tulisan ini belum selesai.



Kedua tentang Kaisa.
Usia dua bulan mungkin yang selama ini rasanya udah banyak dipelajari, tentang rutinitas nyuci popok, mandiin, ilmu nyusuin, ilmu gendong dan nyari gendongan, ilmu perclodian, dikit-dikit bocoran tentng mpasi, perkembangan motorik fisik dll dsb. Bahkan buat aku, nyari baju dia di marketplace aja butuh ilmu dan kesabaran panjang. Mohon maaf kalau lebay.

Nyatanya masih jauh yang harus dipelajari lagi. *tariknafaspanjang
Kadang kalau merasa gagal, merasa kesal, merasa kecewa, aku bahkan ada waktu-waktu pengen menyiksa diri. Kadang merasa seburuk itu aku jadi orang. Kadang kalau kecapean mudah tersulut emosi.

Padahal bu, anaknya baru dua bulan.

Dulu pas masih newborn banget dan akunya fluktuatif, aku pengen dia gedean dikit udah bisa paham diajak berkomunikasi. Sekarang juga kayak udah ngerti sih, tapi maksudku tadi kaya yang udah ngerti beneran paham gitu.

Sekarang, kayak mau gini terus rasanya.
Kayak belum siap menghadapi anak ini tumbuh dan menghadapi milestone yang rasanya aku belum punya ilmu di sana, belum menambah stok sabar di sana, dan kok kayak-kayaknya ga kuat duluan :(

ya ya kalian benar bahwa ini semua ketakutan di kepala aja, kzl kan yha.

semakin belajar tentang  milestone tahap perkembangan anak, belajar pengasuhan di kelas pelatihan keluarga kita (kalau ini udah tertarik dari belom nikah sih), jadi semakin paham ramainya dunia per-orang tua-an dan masya Allah :")

speechless adang sampe gatau mau ngomong apa terus nyerocos aja di mari.

Tapi hebatnya, ada Allah yang bisa kapan aja kita minta kekuatan, kita minta kesabaran.

:")

Halo Nak, kita siap menghadapi banyak langkah kehidupan di depan ya :")

*gatau cara mengakhirinya, udah basah lengket ini muka nangis dari tadi. bahkan refleksi liriknya terhadap kehidupanku belum ada yang ditulis sepeserpun

Senin, 27 Mei 2019

Ibuk

Ibuk, dalam bahasaku Ummi.

"Mbak, pulang jam berapa?"
Sampai rumah.
"Itu tadi buat Mbak Fitri belum digorengin, soalnya Mbak Fitri kan suka yang anget jadi gorengnya pas udah pulang aja."
Kadang-kadang akunya yang malah belum balas jam berapa, sehingga Ummi jadi gatau mesti goreng jam berapa. Padahal, untuk alasan semengharukan itu Ummi nanya jam. Karena tau anaknya suka banget makanan anget baru mateng huhu. Mau gorengin sebelum aku pulang banget biar aku nyampe masih anget.

atau.
"Buat Mbak Fitri yang masih ada di serokan (peniris minyak) deket wajan ya. Tadi digorengnya paling belakangan biar anget."

atau.
"Punya Mbak Fitri yang ada di serokan (peniris minyak) deket wajan, itu semua pakai tepung pedes."

atau.
"Kangkung buat Mba Fitri yang diwajan ya. Yang di sana cabe rawitnya Ummi hancurin biar pedes. Kasian kalau dicampur sama adik-adik."
Padahal ga pernah rikues. Tapi Ummi tau aku suka bilang ga pedes untuk takaran yang kata Ummi udah pedes.

atau.
"Mbak, tadi Ummi beli ini." Nunjukin semacam risol yang dibikin pake kulit lumpia, yang tepungnya terlihat krispi sekali dan membuat gaya hidup sehatku ramadhan ini goyah, wkwkwk.
Tapi di piring-piring buat buka puasa juga ada.
"Ummi pisahin, soalnya ini keliatannya paling crispy. Mbak Fitri kan sukanya yang tepungnya kayak gini."

Aku tulis karena haru gegara barusan saja Ummi pamit mau beli sayur.

Baru jalan beberapa jenak, lalu kembali ke rumah. Tergopoh-gopoh.
"Lupa, janji bangunin Fafa jam setengah tujuh."
Lalu bergegas mengambil ponselnya. Menelepon.


Minggu, 05 Mei 2019

Kangen (Juga)

My Mom was in rush beberapa hari terakhir. Waktu aku nextdev dan bertanya, Ummi belum bisa menjelaskan, katanya masih fokus ngerjain PRnya. Kemarin juga, sibuk sekali seharian sedari Jumat aku pulang sampai Sabtu malam. PR-PRnya, bikin jawaban diskusi online, nyiapin arisan, haflah di sekolah fahri, dsb dll.

Saya selalu tahu, Ummi sibuk dalam kebaikan. Ga ada ceritanya Ummi scroll instagram atau main twitter kayak saya. Palingan yang agak takes time karena Ummi bacain notifikasi WA yang sudah terlanjur banyak karena Ummi jarang-jarang lihat HP, sudah terlau sibuk dengan segala urusan rumah tangga dan amanah-amanahnya. Atau menghapus pesan yang tak diperlukannya, satu per satu.

Tapi, aku kangen.

Kemarin waktu bantu nyiapin a b c d arisan, misalnya. Aku merasa Ummi rush banget. Bahkan sampe Ummi bingung dengan hal-hal kecil kayak mau yang mana makanan yang disajiin yang mana yang dimasukin kotak. Hal kecil yang biasanya gak Ummi ribetin, tapi jadi sangat dipikirin ketika lagi rush. Aku jadi ngeh kalau aku juga ribet nurun siapa, hehehe. Atau Ummi jadi salah sebut, atau salah instruksi, atau kalau bukan salah jadi nggak lengkap, atau kalau lagi perfeksionis. Dan lain sebagainya. Pada beberapa hal aku jadi oh Ummi gitu juga ya, aku nurun Ummi nih kayaknya sifat-sifatnya, hehe.

Aku jadi ingat waktu Desember Fatih dirawat di RS, lalu Ummi mesti isi acara sosialisasi kesehatan remaja. Nggak ada cerita dicancel. Gantian jaga Fatih, bagi tugas buat beli snack, nyapu ruang sosialisasi, dan lain sebagainya. Lalu kemarin pun, Alhamdulillah Abi mengerti dan ikut bantu, cuci piring, dan maklum jika adabeberapa urusan rumah yang belum beres.

Waktu Abi nyempetin ngobrol sama aku, aku sampe bilang, Ummi sibuk banget ya Bi. Waktu itu Ummi masih sibuk di depan laptop. Detik ini pun begitu. ((Namun Ummi sibuk dengan urusan dakwah, lalu aku malah ngeblog -__-).

Ada masa-masa aku kangen sama Ummi. Kangen denger cerita apa aja dari Ummi. Kangen mau cerita tapi susah nemu waktunya (apalagi kalau pengennya ga ada yang ganggu atau maunya sekali cerita ke Ummi Abi barengan). Ada masa-masa aku iri sama adik-adik yang di-sun saat sudah tidur. Ada masa-masa aku pengen ngabisin waktu bareng Ummi.

Atau kadang waktunya ndak match. Saat Ummi udah selesai amanahnya, akunya yang pulang malam, atau lembur, atau jaga perpus, dan lain sebagainya.

Tapi Ummi akhir-akhir ini memang sedang banyak pikiran, tugas, dan urusan. Amanah-amanah yang banyak. Untuk amanah dakwah, yang aku tahu terutama. Selalu ngak habis pikir sama tekad dan kontribusi Ummi, yang aku rasanya jauh sekali masihan.

Semoga Ummi sehat selalu, ya. Semoga lelah Ummi selalu dihilangkan sama Allah :")

Pesan Ummi dari dulu satu,
minta sama Allah kekuatan dalam menjalani hidup, bukan hidup yang mudah.

Minggu, 28 April 2019

Ditemenin Motokopi

"Mbak Fitri mau Ummi temenin fotokopi?" Ummi bertanya bada isya. Aku terperanjat.
"Ummi kenapa mau nemenin aku?" tanyaku. Dasar ya, aku malah menjawabnya dengan tanya ckckck.
"Biar Mbak Fitri semangat." Kata Ummi, huhu aku haru. Yha kan masa motokopi aja ditemenin. Tapi Ummi so suddenly mau nemenin aku.
.
Kayaknya aku mulai kebanyakan ngeluh. Kondisi badan yang gak nyaman, misalnya. Terus Ummi tadi bilang, "Iya lah Mbak, kamu akhir-akhir ini pulang malam." -padahal sesungguhnya dear netizen, aku selama Fahri UN tu Senin sampe Kamis niatnya sampe rumah sebelum maghrib heu, bahkan kalo bisa jam 4 cau dari Badr.

Lalu aku bilang, "Mi, aku tadi jadinya survey naik motor ke Kebun Raya."
Ummi kaget, "Ya pantes lah Mbak, badanmu jadi ga enak, pegel-pegel."
..
Atau aku ngeluh lagi, "Mi, kok aku kayaknya hidupnya gak teratur." "Mi, aku bingung." "Mi aku nggak tau aku kenapa." "Mi perasaanku nggak enak." "Mi ini gimana dong huhu." "Mi kok aku gini-gini aja ya."

Sampai juga kalimat
"Besok selesaaaai bismillah insya Allah." Meski aku malas sekali merespon beberapa chat hari ini. Meski harusnya peran-peran ini bisa dimaksimalkan. Meski aku ngerasa ini bukan better version. Bukan 100% yang bisa dilakukan :"(

Ya begitulah cerita singkat ini. Banyak keluhan itu nggak saling berhubungan sebenarnya, tapi kalo dari Ummi sih satu, jangan ngomong gitu, pakai kalimat positif.
.
Intinya sih aku terharu Ummi nawarin nemenin motokopi doang.
Dan, emang kayaknya butuh merenung dan kontemplasi, demi kehidupan yang lebih baik. Demi diri yang lebih baik.

aku, yang masih buang-buang waktu tapi mau berubah, mau belajar biar lebih baik
biar bisa nerapin, istirahatnya di surga aja.
mohon doanya ya temaaan
(pake nada Rarra ngomong jangan lupa subscribe ya temaaan!")

Senin, 08 April 2019

Buku Harian Ummi-1995
















Tadinya aku tidak mau menulis apa-apa seputar hari ini. Lalu aku ingat buku yang kutemukan waktu smp dan memutuskan membacanya kembali. Buku yang sejak kutemukan, belum pernah kubilang ke Ummi kalau aku menemukannya.

Rabu, 02 Maret 2016

Tentang Menerima

di tengah koneksi yang kian tidak stabil, alih-alih membuka referensi jurnal untuk daftar pustaka, koneksi menghubungkan saya lebih cepat dengan tumblrnya Kak Azhar. Lama juga nih ngga buka tumblrnya Kak Azhar btw. Tulisannya tentang saling mengenal sebelum pernikahan. Biasa aja sih awalnya mah. Eh terus saya tertegun dibagian paragraf akhir.

Kadang-kadang kita suka terkejut gitu kan yah sama hal yang kita udah tau.

Kutipan itu berbunyi begini :
Daripada kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, padahal itu tidak menjamin apa-apa kecuali peluang untuk melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk menerima. Sehingga siapa pun yang kelak menjadi teman kita dalam membina rumah tangga, apakah kita sudah begitu mengenalnya atau baru sekadar tahu nama, ia akan bahagia karena kesediaan kita menerima ketidaksempurnaanya. Bahwa di dalam diri kita ada jiwa yang begitu lapang, yang siap menampung berbagai cerita, mimpi, amarah, keluh, kesah, luka dan air mata. 

Saya jadi inget, dalam suatu perjalanan, saya pernah nanya ke Abi.
"Bi, titik apa yang membuat seseorang merasa siap menikah?"

Terus Abi jawab, "Saat dia sudah bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain."

At that time, saya merasa biasa aja. Palingan cuma ngebatin, ooh kalo versi Abi orang siap menikah itu saat dia sudah bisa menerima kelebihan dan kekurangan orang lain. Udah. Selesai. Titi. Gitu aja. Nggak pake pemaknaan dan pendalaman apapun pas itu mah.

Tapi malam ini, waktu saya baca tumblr Kak Azhar, saya jadi semacam ngeh. Bahwa kesiapan menerima adalah suatu kesiapan yang besar. Yaelah, jangankan sama seseorang yang akan mengisi sisa usia kita, bahkan sama temen maen aja kadang ngga sependapat, kadang tengkar, kadang main aja kita cocok-cocokan *ngaku deh plis-_-. Barangkali kita, atau baiklah, saya, belum punya hati seluas samudera untuk menerima seluruh orang yang pernah saya kenal di kehidupan saya.

Maka, menerima menjadi suatu akta kerja yang begitu hebat kali ini kedengarannya. Karena dalam tulisannya juga, beliau menyebutkan bahwa pernikahan selalu memaksa sifat buruk kita keluar satu per satu, membongkar aib-aib yang telah lama kita simpan, sehingga pelan-pelan kita sadar kita tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

Terusnya, saya jadi kepikir juga kata Ummi.
Liburan kemarin, dalam suatu obrolan soal menikah, terjadilah percakapan soal persiaapan sebelum menikah.
"Menikah itu perlu perisapan. Kalau soal masak, nyuci, beres-beres rumah, itu mah gampang Mbak belajarnya. Belajar mengalahkan ego, menerima orang lain, itu yang benar-benar harus dipersiapkan. Karena nggak semudah itu lho mengalahkan ego." yah kira-kira begitulah kata Ummi, walaupun redaksinya mungkin berubah, hehe.

Hohoho, ternyata belajar menerima seseorang itu sesuatu banget yah :")

#udahgituaja #cumasharing #bukanpengenikahsekarang

Selasa, 22 Desember 2015

selamat-hari-ibu-!

Selamat Pagi, Selamat Hari Ibu!
Barangkali hari ini ibu kita tidak terlalu ingin dipajang fotonya di media sosial. Ia hanya ingin anaknya lebih sering menelefon dan lebih sering menyempatkan pulang :')

Jumat, 11 Juli 2014

Apa Rasanya Melihat Kami Tumbuh Mi, Bi?

Tulisan hari ketigabelas ramadhan ini

Hujan sedari tadi turun membasahi Jogja, tepatnya sekitar tempat kami tinggal ini. Menyebabkan kami akhirnya berbalik arah mengurungkan niat pergi. Dan… menyenangkan sekali mengamati Aya dan Kakak di halaman kos kami senja sendu ini. Aya (5 tahun) dan Kakak (6 tahun), merupakan cucu ibu kos kami. Keduanya putih, tembem, menggemaskan sekali. Bermain-main di pekarangan rumah ibu yang luas dengan membawa payung lebar masing-masing. Aya mencangklong tas punggung barunya. Wajahnya berseri bahagia.

Selalu menyenangkan melihat wajah-wajah bahagia anak kecil, bukan? Seperti ketika kamu mungkin pernah mengunjungi panti dan mengamati suasana keceriaan anak-anak itu. Atau anak didik TPA yang kau ajar di masjid ujung jalan. Atau bahkan adik kandungmu sendiri. Wajah-wajah polos yang cepat sekali belajar banyak hal baru. Usia yang penuh akan tanya dan rasa penasaran. Wajah-wajah yang kalau kata Kak Nisa entah mengapa membuat lelah seolah menguap begitu saja, entah kemana.

Apakah rasa senang memperhatikan mereka sama halnya dengan perasaan yang sama dengan yang dirasakan orang tua kita? Entah, aku tidak pernah tahu. Aku belum pernah jadi orang tua dan mungkin sulit membayangkannya. Tapi biar bagaimanapun, aku tahu, Ummi dan Abi, juga seperti orang tua kalian semua, tentu begitu memperhatikan tumbuh kembang kita, para anak-anaknya.


Aku pernah memikirkan bagaimana perasaan Ummi ketika liburan usai dan aku harus kembali : memasuki asrama atau harus pergi lagi ke Jogja. Mungkin Ummi sedih, akan kangen, tapi tentu melepas ikhlas sesuatu yang dinamainya ‘perjuangan’ ini.

Aku juga pernah membayangkan bagaimana Ummi menatap wajah-wajah kami ketika telah terlelap tidur. Kita tidak pernah mengetahuinya, bukan? Aku pun tahu ketika Ummi menatap dan mengusap lembut wajah adik-adikku. Dan siapa yang bisa menjamin Ummi tidak melakukannya juga padaku? Mungkin memori Ummi dapat dengan cepat berpindah pada belasan tahun lalu : saat aku masih bayi, atau saat baru bisa berjalan, atau saat masih belajar naik sepeda roda tiga, atau saat baru masuk TK, atau saat…ah, terlalu banyak saat yang tentu diingat betul oleh Ummi.

Bukankah kita begitu sering berkata tentang terlalu cepatnya waktu berlalu. Tau-tau enam tahun SD sudah selesai, tiga tahun SMP sudah berlalu, tiga tahun SMA juga sudah berakhir. Bahkan seperti yang sering kami bicarakan akhir-akhir ini : bahwa semester empat sudah berlalu which means semester depan bakal peminatan, tahun depan bakal KKN, dan ternyata udah dua tahun aja lulus SMA. Time flies so fast, itu yang kita bilang. Tanpa sadar, orang tua kita juga merasakan hal yang sama.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Memasuki bangku sekolah pertamanya, bercerita tentang teman paling menyebalkan di sekolah, mengeluh ada PR yang rasanya terlalu sulit dikerjakan, atau merepotkan ketika lupa ada tugas dan menuntut minta dibantu mengerjakan sembari cemberut. Membuat mereka kesal pagi-pagi saat kita harusnya sudah beranjak bangun dan bergegas mandi sementara rasanya malas sekali. Padahal sedari tadi Ummi sudah di dapur bahkan juga tempat cuci baju. Entah kemampuan multitasking ibu kita mana lagi yang bisa kita dustakan, bukan?

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Ketika kita mulai punya rahasia yang tak lagi bisa diceritakan pada keduanya. Kemudian kita memilih teman untuk jadi tumpuan cerita. Ketika kita mulai menarik diri dari terlalu dekat dengan mereka dan mulai lebih suka menghabiskan waktu dengan teman-teman. Izin pergi kesana kemari tanpa peduli bahwa mereka selalu cemas setiap kita pulang lebih dari maghrib. Dulu aku kira Ummi dan Abi biasa saja. Aku baru tahu mereka sekhawatir itu ketika adikku yang pulang agak telat.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Yang mulai memilih jarak untuk alasan mencari ilmu. Padahal kalau kita telusuri lagi, porsi mana yang lebih dominan di perantauan? Apa iya benar-benar serius menuntut ilmu? Padahal keduanya tak pernah luput berdoa untuk kita. Tapi mungkin kita masih terlalu sibuk untuk senantiasa mendoakannya selepas shalat.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Yang menaruh harap besar pada sukses dunia akhirat anak-anaknya. Suatu ketika selepas shalat, aku, Fafa, dan Ummi pernah berbincang sejenak. Kemudian kami bertanya, Ummi ingin anak-anaknya jadi apa? Ummi bilang, harapannya cuma satu : kami jadi anak yang sholihah. Itu saja. Ummi tidak pernah neko-neko meminta pada kami agar jadi apa. Beberapa teman yang kuceritakan bilang merasa speechless atas pinta Ummi. Sholihah, hanya itu. Terdengar sederhana tapi bermakna luas. Kata yang pendefinisiannya punya arti berbeda dari tiap orang yang ditanya. Pada Abi, ak umasih belum berani menanyakannya. Doakan saja ya biar segera berani, atau Abi malah tanpa sengaja bilang sendiri.

Apa rasanya menjadi Ummi dan Abi yang melihat satu per satu anaknya tumbuh dan berkembang? Mungkin syukur, bahagia, dan sesekali juga kesal. Kita cuma bisa berasumsi dari hari-hari yang pernah kita lalui bersama dengan mereka. Tidak pernah tahu kalau tidak bertanya langsung, bukan? Aku beberapa kali bertanya hal-hal semacam pertanyaan itu. Ummi selalu menjawab dengan senyum, menjawab pendek, “Ya senang lah”. Aku tahu, pasti rasanya lebih berwarna dari itu, karenanya sulit sekali digambarkan oleh kata-kata. Tentunya, ada sebal juga.

Kita tumbuh, berkembang, kemudian menua dan tentunya harus juga mendewasa. Satu per satu meninggalkan rumah berkenalan dengan banyak hal lain di pelosok negeri, bahkan dunia. Tanpa sadar, seiring dengan itu semua, ayah dan ibu kita di rumah yang pada akhirnya menarik nafas lega setelah anak-anaknya satu per satu meniti hidupnya secara mandiri, juga menua. Wajahnya mulai mengeriput, rambutnya perlahan memutih, penglihatannya perlahan menjadi kabur. Tapi jelas, kasih sayangnya tak pernah berubah seiring berjalannya waktu. Doanya tetap melangit tanpa peduli apakah kita mendoakannya atau tidak. Jika pun perhatiannya tidak terindra, barangkali itu karena cinta adalah kata kerja. Cintanya menjelma menjadi doa, menjadi teh di atas meja, menjadi masakan-masakan dengan bumbu cinta. Menjelma menjadi pertanyaan kabar atau pertanyaan kapan pulang, menjadi penggantian seprai menjelang kepulangan, menjadi berondongan pertanyaan dan obrolan hangat di rumah. Menjelma menjadi upaya membangunkan kita pada pagi hari, menjadi menunggui shalat sunnah sebelum jamaah shubuh, menjadi anjuran tilawah, shalat sunnah, bahkan urusan dakwah dan menunaikan amanah. Dan seperti kata Abi, tanggung jawab orang tua tidak pernah selesai. Bahkan sekalipun anak-anaknya sudah punya keluarga sendiri dan hidup terpisah nantinya.

Karena, percaya atau tidak, mereka ingin berada bersama kita di surganya kelak :”)

Yogyakarta, 11 Juli 2014
Ummi, Abi, bagaimana rasanya?
Selamat ber-birrul walidain teman-teman yang sudah liburan di rumah :)

gambar dari sini

Selasa, 04 Februari 2014

Puncak Cinta

"Puncak dari cinta itu adalah doa. Sebab melibatkan Tuhan sebagai pihak ketiga." 
--via ini
pengen reblog tulisan ini, kemaren habis baca buku Open Your Heart Follow Your Prophet dan dapet satu note (yang ngingetin lagi bahwa) : cinta orang tua adalah cinta yang paling tulus yang pernah dan selalu ada.

Bahkan pintu manapun tentang cerita sukses kita, mungkin selalu ada campur tangan doa mereka.

Kita tidak pernah tahu.

Minggu, 29 September 2013

Mother -by Seamo


"Hi Mother, Haikei, genki ni shitemasuka?
Saikin renraku shinakute gomen 
Boku wa nantoka yattemasu..."

Hi Mother, Dear Mother, how are you doing?
Sorry I haven’t called recently, I’m getting by okay

Hi mam, Ibuku sayang.., Apa yang sedang kamu lakukan?
Maaf, akhir-akhir  ini aku tidak menghubungimu..
Aku ingin beri tahu, kalau kini aku baik-baik saja…”

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I want to tell my kids about this love that supported me

Tubuhmu kecil dan begitu juga tanganmu
rambut putih dicampur hitam yang sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapapun
Aku ingin bilang kepada  anak-anak ku tentang cinta ini “cinta yang mendukung  ku”

Chikaku ni iru to iradatsu kuse ni Tooku ni iru to sabishiku kanji
Anata wa sonna sonzai Donna mondai mo Mi wo kezutte kaiketsu suru
Soshite Boku no shitteru dare yori mo Ichi-ban gamandzuyoku TAFU desu
Itsumo massaki ni ki ni suru Jibun janaku boku no karada de

Even though I grow impatient when I’m near you
When you’re far away from me I grow lonely
That’s who you are to me, you can cut through any problem and solve it
And you have the most patience and toughness of anyone I know
You would always be concerned over my well-being before your own

Meskipun aku tumbuh dengan tidak sabar  ketika aku dekat mu…
Ketika engkau jauh dari ku, aku merasa kesepian
Itu yang engkau lakukan untuk ku,
Engkau dapat menyelesaikan masalah  dengan menyelesaikannya
Dan engkau pemilik kesabaran yang luar biasa dan engkau adalah orang tertangguh yang aku kenal
Engkau akan selalu prihatin terhadap kesejahteraan ku sebelum dirimu sendiri

Suiji sentaku Souji ni ikuji Amatta jikan sara ni shigoto shi
Ichi-ban hikui basho ni aru mono shika Motomenakattano Anata yo
Atarimae sugi wakaranakatta Hitori de kurashi hajimete wakatta
Anata no sugosa Taihensa Sore wo omoeba Kyou mo boku ganbareru sa
Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai

Cooking, doing the laundry, cleaning, raising a child
You even worked during your free time
You would only require things from the lowest places
I didn’t understand even though it was so obvious
It wasn’t until I started living by myself that I understood
Whenever I think of how much you’ve accomplished
And how hard it must have been, I feel like I can try my best today

Memasak, mencuci pakaian, membersihkan, membesarkan anak
Engkau bahkan bekerja selama waktu senggang
Engkau hanya akan membutuhkan hal-hal dari tempat terendah
Aku tidak mengerti meskipun saat itu begitu jelas
Barulah aku mulai hidup seorang diri dan kini aku mengerti
Setiap kali aku memikirkan berapa banyak yang telah engkau capai
Dan betapa sulitnya pasti, aku merasa seperti aku bisa mencoba melakukan sesuatu yg terbaik hari ini

"Ashita asa shichi-ji ni okoshite" to itte
Anata jikan doori ni okoshite kurete
Shikashi Rifujin na boku wa
Neboke nagara ni iu kotoba wa "Urusee!"
Konna kurikaeshi no RUUTIN Iyana kao hitotsu sezu ni
Anata Mainichi okoshite kureta
Donna mezamashi yori atatakaku seikaku datta

I’d say, “Wake me up at seven a.m.”
And you would wake me up right on time
But I would be unfair to you
And say the words “shut up” while I was still half-asleep
This was the daily routine
You never made one tired face
And woke me up every day
Warmer and more accurately than any alarm clock

Aku akan mengatakan, "Bangunkan aku jam 07:00"
Dan engkau akan membangunkan aku tepat pada waktunya
Dan aku akan bersikap tidak adil kepada mu…
Dan mengucapkan “tutup mulut”, ketika aku masih setengah tertidur 
Ini rutin setiap hari
Tapi, Engkau tidak pernah melihatkan wajah lelahmu di hadapanku
Dan itulah yang membuat ku terbangun setiap hari
Lebih hangat dan lebih akurat daripada jam alarm

Sore de mo aru hi Gakkou wo ZURUyasumi "Ikitakunai" to ii
Futon kara ichido mo denu boku mae ni Kao wo ryoute de ooikakushi
Oogoe agete naita Boku mo kanashikute naita
Sono toki boku wa "Nante baka na koto wo shitan da" to jibun semeta

But then one day I skipped school and said, “I don’t wanna go”
I wouldn’t leave my futon and you stood in front of me
Hid your face with both hands and cried loudly
I also felt sad and cried
At that time I blamed myself wondering, “How could I be so stupid?”

Tapi kemudian suatu hari aku bolos sekolah dan berkata, "Aku tidak mau pergi"
Aku tidak akan meninggalkan kasur ku dan engkau berdiri di depanku
Engkau pergi untuk menyembunyikan wajahmu dan menutup wajahmu dengan kedua tanganmu dan engkau  menangis keras
Akupun merasa sangat sedih dan menangis
Pada waktu itu aku sangat menyesal dan aku bertanya-tanya , "Bagaimana mungkin aku bisa begitu bodoh?"

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Kanshashitemasu 
My Mother...

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

Tubuh kecil dan begitu juga tangan mu
rambut putih dicampur hitam dan engkau sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapa pun
Aku ucapkan terima kasih untuk cintamu selama ini “cinta yang mendukung ku,”
ibu ku….

Kodomo ni sakidattareru hodo Tsurai koto nante Kono yo ni nai no dakara
Tatta ichi-byou de mo Anata yori nagaku ikiru koto Kore dake wa mamoru
Kore dake wa...

I know there’s nothing more painful in the world
Than a parent burying their child
So I’ll make sure it never happens
Even if I only live one second longer than you
I’ll make sure of it…

Aku tau tidak ada lebih menyakitkan di dunia
Dari orang tua yang mengubur anak mereka
Jadi aku akan memastikan itu tidak pernah akan  terjadi
Bahkan jika aku hanya tinggal satu detik lebih lama dari mu
Aku akan memastikan itu ...

Your body is small and so are your hands
White hairs are mixed in and you’ve grown more genial
But to me you’re still bigger than anything, stronger than anyone
I give you thanks for this love that supported me, my mother

Anata no kodomo de yokatta Anata ga boku no haha de yokatta
Itsu made mo kawaranai Zutto zutto kawaranai
Boku wa anata no ikiutsushi dakara...

I’m glad I’m your child
I’m glad you’re my mother
And that won’t ever change
It won’t ever change for all time
Because I am the very image of you…

Aku senang  karena aku adalah  anak mu
Aku senang karena  kau adalah ibuku
yang tak akan pernah berubah
Dan Itu tidak akan pernah berubah untuk  selamanya
Karena aku adalah sesuatu yg sangat berharga bagi mu ...

Chiisana karada ni chiisana te Shiraga mo majiri Marukunatte
Shikashi boku ni wa Nani yori mo ookikute Dare yori mo tsuyokute
Sasaete kureta kono ai Dakara kodomo ni mo tsutaetai


Tubuh mu kecil dan begitu juga tangan mu
rambut putih dicampur hitam dan engkau sudah tumbuh lebih lama
Tapi bagiku kau masih lebih besar dari apa pun, lebih kuat dari siapa pun
Aku ingin bilang kpd  anak-anak ku tentang cinta ini “cinta yang mendukung  ku”

"Zutto boku no haha de ite Zutto genki de ite
Anata ni wa mada shigoto ga aru kara Boku no oyakoukou uketoru shigoto ga..."

Be my mother forever
Be well forever
You still have one more job left to do
And that’s to accept your son’s love and respect for you

"Jadilah ibu ku untuk selamanya
Engkau masih memiliki satu pekerjaan yang tersisa untuk melakukannya
Dan itu adalah  untuk menerima cinta dan penghormatan dr anak mu..."


Uuuuu udah lama nggak ngeblog lagi u.u...
Jadi awalnya saya lagi searching tentang ibunda Imam Syafi'i sama Imam Malik, terus buka web ini, dan...kemudian saya interesting banget sama lagunya. Download video yang bawah (soalya yang atas kayaknya udah nggak ada gitu) dan ternyata itu video yang sama kayak training entah kapan (lupa beneran), dan...saya jadi searching lagunya :").

Tentang ibu, liriknya bagus. lagunya  semangat gitu. Mohon maaf kalau ada kesalahan penulisan --pengkopian-- lirik sih lebih tepatnya. 


Disadur dari : sini dan sini dengan beberapa perubahan.

Senin, 18 Februari 2013

What a Night

what a night~~ jam segini masih bangun gara-gara ga sadar kalo disuruh ngelampirin alamat di daftar sekolah, tangan pegel searching alamat sekolah satu-sau. akhirnya saya memutuskan untuk ngambil durian sisa bekal semalem. What a asuperMom ! :D

Hoho, makasih Ummi, baru kemaren rasanya saya se exited itu buat ngebekel nasi sama ngeplastikin lauk-sayur-kerupuk #eh. Menyenangkan rasanya perasaan exited kayak gitu #eh? haha...
Aku ngeplastikin rambutan, eh Ummi tiba-tiba dateng dan udah masukin gitu aja seplastik durian, haha :D
thanks Mom ! Makasih buat semuamua yang udah Ummi kasih ;''), perhatian, doa, dan semuanya. Semoga Fitri bisa menjadi apa yang sering kau bisikkan itu, ya. Aamiin.
"Jadi anak shalihah, ya Mbak. Jadi anak yang kuat."


Senin, 14 Januari 2013

Jadikan Kami Orang yang Kuat

Ya Allah, kalau memang cobaan di dunia ini terasa begitu banyak dan berat bagi kami, maka jadikanlah kami sebagai orang-orang yang kuat, yang mampu menjalani berbagai macam seni kehidupan--Aamiin

Senin, 27 Agustus 2012

Dan Saya Pun Teringat...

Dan air mata saya pun tak dapat dibendung lagi ketika membacanya
teringat duduk di antara dua tembok--sesekali membaca di sana
teringat begitu banyak teman pun, melakukan hal yang sama
cari-cari pojok menyenangkan, tempat-tempat membetahkan
teringat dulu malam-malam-seusai membaca, saling bertanya pada teman, mengajak makan malam
teringat malam-malam panjang yang kemudian dihabiskan bersama, walau kadang berujung obrolan pada akhirnya

teringat suara lembut ibu ketika membacanya--lirih, patah-patah satu dua
karena perjuangan agar tak diganggu si adik ketika membaca

teringat tempat satu lantai beratap tinggi,
minggu pagi yang panjang karena tempat begitu sepi
karena mayoritas berpikir kembali dalam ruang-ruang hangat yang diciptakannya sendiri

dan pagi-pagi penuh aktifitas itu
yang lama telah tertinggal
dengan begitu banyak orang di luar kelas membawa sebuah tentengan
di masjid-lorong-lorong kelas-lobi sekolah-lobi kantor guru-bawah pohon jambu dan rambutan
saat-saat membawanya kemana-mana, bahkan ke kantin sekalipun
dibaca, sekalian menunggu pesanan
hingga tiba saat-saat mengharukan untuk kelulusan

Ah Ya Allah, aku sungguh-sungguh rindu masa-masa itu :")

Jumat, 10 Agustus 2012

dari hati ♥

Tadi pagi cerita sama Ummi, obrolan kemaren sore sama seorang ibu tetangga yang nonmuslim

Ibu itu (I) : Masih puasa Fit?
Fitri (F) : Ya, insya Allah Bu.
I : Fahri juga masih puasa? *fahri : adikku kelas 3 sd
F : Iya bu.
I : Kuat ya dia mah, hebat. Padahal kata Ummi nggak pernah sahur, ya?
F : Pernah kok Bu, cuman jarang aja dia mah. susah dibangunin, kadang udah bangun tapi males sahur, terus tidur lagi.
I : Hebat ya tapinya, wah...aku aja kalah Fit. Dia mah hebat, kuat.

Pas aku cerita ke Ummi, Ummi bilang gini. Ya beda mbak,,,kita puasa karena kita mengerti dasarnya. Karena yang paling kuat itu ruhiyah, bukan masalah pemiasaan karena orang Islam puasa sebulan sekali tiap tahunnya, atau mungkin udah tebiasa puasa daud, misalnya. Ruhiyah itu yang paling bisa bikin kuat, niatnya. Makanya kenapa Ummi nggak pernah ngejanjiin apa-apa ke anak-anak Ummi, biar paham kalau puasa itu memang karena perintah Allah, bukan semata-mata karena materi. Ya,,kalau Ummi bilang ke ibu-ibu yang lainnya yang bilang susah membiasakan anaknya puasa, Ummi bilang boleh Bu, tapi harus tau sampai kapan batasnya.

Innamal a'malu binniyat :)