Selasa, 16 Juni 2026
Jumat, 27 Desember 2024
Meninggal
K: Ibu, aku maunya kita meninggal bareng. Terus nanti dikuburnya sebelahan sama-sama bisa nggak sih? Soalnya aku maunya sama ibu terus.
***
K: Ibu, aku nggak mau meninggal tapi disuruh. *mungkin maksud disuruh itu semacam, tiap orang pasti ada ajalnya
F: Emang kalau masih hidup Kaisa mau ngapain?
K: Baca buku.
Senin, 16 September 2024
Growing - Tumpahan Pikiran Sesore-Malam 15 Sept 2024
Her.
My daughter is growing. And also my heart.
My mind discovers my past. Finding myself beneath all my struggle and sorrow.
===
Sore ini Kaisa mengajakku main anak-anakan. Kaisa dengan anaknya, seekor oneka unicorn bernam Loli-Lolipop. Dan aku bersama Buci, boneka beruang wisuda punya tantenya.
Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan anaknya, dan menyadari bahwa itu semua bagaimana ia menyerap interaksi ibu-anak yang terjadi di antara kami. Hatiku terharu menyadari semua berlalu dengan begitu banyak hal membekas yang kadang tak disadari. Kerunyaman hari, ketidakstabilan emosi, parenting is so big thing for me.
Aku melihat anakku memperlakukan anaknya dengan sangat baik, penuh kelembutan dan kasih sayang. Air mataku kutahan kuat-kuat. Anakku tumbuh, dan berkembang. Lalu aku merefleksi seluruh masa lalu yang kulewati bersamanya. Kusebut masa lalu padahal baru 4 tahun hidup bersamanya. Empat tahun yang mengubah dan memperjuangkan banyak hal-untuk tak bilang mengorbankan. Empat tahun aku berjuang beradaptasi dengan segala motherhood ini-dan begitu juga dengannya. Empat tahun yang menumbuhkannya sebagai seorang anak, sebagai seorang individu, sebagai seseorang yang mengetahui baik buruk versinya-versi keluarga kami, sebagai seseorang yang gaining knowledge dari interaksi harian kami.
My daughter is growing.
Aku mengingat fase-fase berat melewati adaptasi di awal menjalani peran sebagai ibu. Juga fase-fase berat saat ini yang kadang membayang. Bayangan yang tidak perlu dan melawan diri sendiri. Ah Nak.
Cerdasmu, riangmu, celotehmu, kadang kutahu hal-hal itu kelak akan kurindukan. Sangat. Meski kadnag di saat yang sama pula aku tak berimbang membersamaimu. Aku melihatmu ingin meraih perhatianku dengan permainan tadi. Dengan cara dan strategi yang baru. Boneka-boneka itu merepresentasi perasaanmu, barangkali. Atau hanya tebakan dan cocoklogiku saja? Entahlah, siapa yang tahu.
Hei Nak, kehidupan kadang berjalan tak menyenangkan dan tidak terasa menyenangkan. Ibu juga kadang menangis atau merasa tak nyaman karena suatu hal. Tak mudah, terus berjuang. Ah, apapun yang muncul di benak kutulis saja walau rasanya tak beraturan.
Menyenangkan melihatmu tumbuh dengan kecintaan pada dua hal, buku atau membaca, dan menggambar. Merunut balik proses kita sampai di titik ini. Ah, entah bagaimana rasanya menggambarkan perasaanku. Kebanggaanmu menunjukkan buku demi buku di telepon, pertanyaan spontanmu, imajinasi yang kau tuangkan di atas kertas dengan definisimu sendiri.
Aku mengingat hari-hari panjang di masa lalu ketika menyusui menjadi hal baru yang kadang membosankan. Ilmuku tahu menyusui sebaiknya dibersamai dengan apa tapi sebagian hatiku iri dengan yang lain-lainnya. Aku mengingat hari-hari membaca buku kita di bawah. Dan yang menurutku juga punya banyak kontribusi, atas izin Allah, merumput yang tak terhitung banyaknya di lapangan atas, sering juga bersama ayah. Hari-hari ini aku sering berpikir kok bisa ya dulu kayak seluang itu merumput di atas. Tak peduli banyaknya pandangan bingung orang kotor-kotoran di rumput bahkan lumpur. Hujan-hujanan dan nyeker. Kalau kubilang semua butuh perjuangan ya memang butuh. Ilmu dan amal, tak ada yang instan. Mematangkan refleks, memuaskan motorik kasar, memberi ruang luas untuk bebas bergerak. Semua yang kusyukuri menjadi pembentuk harimu kini, atas izin Allah. Pencil grip, toilet training, less tantrum, artikulasi bicara yang baik. Hai Nak :")
Apalagi yang ingin kubicarakan padamu?
Ah, kalau itu sih biasanya kusampaikan langsung, ya. Tak berlama-lama. Di sini aku hanya menuliskan apa yang membenak sepanjang sore-malam. Oh ya, tadi aku terngiang kata-kata mbak penjual jamu ke salah satu tetangga yang sudah bekerja lagi 3 bulan belakangan. Putrinya SD dan seumur Kaisa. Mbak itu bilang, sayang sekolah tinggi-tinggi kalau nggak kerja.
Klise sekali memang. Aku tertawa dalam hati, meskipun setiap menatapi hal yang sama biasanya juga aku meringis. Buatku, kerja terasa jauh berkali lipat lebih mudah dari pada membersamai anak. Mungkin karena kerjaku less berhadapan dengan manusia meski tetap menuntut empati. Dan membersamaimu adalah pilihan sadar yang telah kutabung jauh sebelum aku menikah. Namun, memang menjalaninya penuh perjuangan dan tak mudah. Walau demikian, insyaAllah aku tak pernah menyesalinya. Menyenangkan sekaligus bangga melihatmu bertumbuh dengan semua yang Allah titipkan padamu saat ini. Ingatan-ingatanku tentang kakak gurumu, pikiranku yang penasaran tentang persepsi kakak guru tentangmu, ingatan tentang cerita Mbak N bedanya ketika ia bekerja dan tidak dengan anak-anaknya. Aku tahu, aku memperjuangkan hal yang, setidaknya aku percaya ini hal yang benar bagi nilai dan paham yang kuamini.
Berat, tapi berjuang. Allah kan lihat semua perjuangan itu ya.
Walau kadang kuakui, aku juga kadang mager untuk berjuang. Dasar manusia zaman sekarang.
Nak, kelak, kamu jadi seperti apa ya?
Semoga Allah jaga Kaisa selalu, ya. Ibu sayang Kaisa.
Uncountable tears. Countless exhaustion.
Semoga, yang lebih banyak tetap cinta, dan kemauan mengejar ridhaNya.
Rabu, 31 Juli 2024
Doa
Doa Kaisa sebelum tidur:
Ya Allah, sembuhkanlah semua yang ada di dunia, aamiin. Atau yang ada di Indonesia, aamiin.
*tiba-tiba aja, ngomong begitu dia
Senin, 21 Agustus 2023
Tiga Tahun Kaisa
Assalamualaikum...
Halo, Nak.
Harinya sudah lewat. Tiga tahun lalu, kita ada di kasur ruangan inap di klinik bidan kecil yang cukup ramai di pinggiran Depok sana. Mataku menatapmu kelu menakjubi setiap inci dirimu yang lahir dari diriku. Kamu, anakku.
Hari ini, genap tiga tahun berlalu. Lewat nyaris satu hari. Usia unconscious mind-mu resmi lewat. Tiga tahun yang penuh berkah dari Yang Kuasa. Tiga tahun yang menjadikanku belajar sangat banyak hal, terutama tentang merawat sabar. Tiga tahun yang jelas sangat berdinamika. Tiga tahun yang mengubah hidup kami sebagai Ayah Ibumu. Tiga tahun pula Allah janjikan peluang pahala yang begitu besar--sekaligus menantang, kalau boleh kubilang.
Aku mengambil jeda usai naskah sibi-ku kutunaikan 12 babnya. Menyimak videomu kala dua bulan yang Ayah compile waktu itu. Tubuhmu yang begitu kecil dan kurus. Tulang kakinya terlihat begitu jelas. Ayah yang membacakan buku di kasur. Kamu yang tummy time di punggung Ayah. Fatih yang ikut seumpama dirijen saat Ayah menggendongmu-mungkin kala itu Ayah mendendangkan shalawat. Aku mereka ulang jejak langkah yang kutunaikan beriringan dengan hadirnya dirimu. Adaptasiku, belajarku, kelas-kelas yang kuikuti, resignku, pergolakan emosiku, hingga dirimu yang ceria dan banyak bicara, juga hari-hari negoisasi panjang dan keluhanku yang kadang serupa tak berujung.
Betapa panjang kasih sayang Allah pada kita, ya, Nak.
Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Melihatmu yang riang gembira membuka Al Quran, mencari surat yang dipilih, berpura-pura membaca arab dan artinya, persis seperti kelas-kelas Alkindi yang kita lalui.
Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Jujur aku kagum pada dirimu menahan diri. Paham saat bukan waktunya beli balon atau jeli. Meski kamu sulit juga jika tergoda makanan bergula. Tapi kita sama-sama belajar, kan? Menantang memang hidup di masa kini yang mana upf dianggap normal sana-sini. Ibu tahu masih banyak yang belum bisa ibu hadirkan untukmu, terima kasih sudah belajar ya Nak. Terima kasih sudah kooperatif.
Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Hari-hari yang berat, ya Rabb ... semoga selalu bisa kami lalui dengan syukur. Hari-hari yang rasanya ingin kamu tidur sangat lama, atau waktu di mana aku kesal karena rasanya sudah berupaya sebegitu rupa tapi kam tak tidur juga. Egoku bermain, aku mulai rush karena ingin punya waktu juga.
Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Terima kasih sudah berupaya jujur di lomba makan kerupuk kemarin. Aku tak bicara apapun soal lomba, karena memang tak mau mengenalkan persaingan di enam tahun pertama. Tapi, aku tak menyangka kamu seberusaha itu ketika kulihat anak lain pegang kerupuk dengan tangannya.
Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Ibu yang compang camping dan masih jauh dari sempurna. Belum belajar yang gimana-gimana untuk merinci iman islammu. Ah Nak, masih banyak PR Ibu, semoga Allah kuatkan dan mudahkan selalu ya Rab....
Kaisa, melihatmu begitu mengesankan. Betapa kuasa Allah menanamkan pada dirimu fitrah iman serta fitrah-fitrah lainnya. Betapa kuasa Allah mempertemukan Ibu dan Ayah, juga pada ilmu-ilmu yang kami tekuni sebagai upaya mendidikmu sebaik-baiknya. Kami tahu masih jauh dari sempurna. Namun, melihat bicaramu, polahmu, gayamu, sungguh hanya Allah yang mampu hadirkan itu semua pada kita, Nak.
Nak, Ibu minta maaf jika ada yang tak pantas ibu lakukan di depanmu, teladan yang tidak baik, atau hal-hal yang melukai dirimu. Semoga Allah ampuni dan maafkan dalam memorimu. Tiga tahun yang saat ini rasanya pendek, namun sesunggunya terdiri dari hari=hari panjang yang melelahkan. Ya Allah, semoga Engkau ridha, semoga Engkau ridha.
Masih banyak yang ingin dituang, tapi kok rasanya banyak yang ingin dipikir sendirian.
Sabtu, 10 September 2022
Seminggu ini, 10 Sept 2022
Seminggu berlalu, kadang rasanya jadi cepat sekali. Sabtu lalu maraton di RS, antrinya super rame. Kaisa passien ke-34 dan perlu cek lab. Pulanglah kami sampai rumah jam 11.15 malam Alhamdulillah so far kondisi Kaisa sebenarnya baik-baik saja. Sedikit bapil dan nafasnya agak grok-grok serta BBnya stuck, entahlah apa benar ini permasalahan sejagat raya ibu-ibu anak usia dini: BB seret.
Aku juga berobat, Hilmy juga kepikiran berobat, dan akhirnya wkwk.
Hari itu melelahkan rasanya. Sampai RS sepi dan petugas lab nanya kenapa malam sekali ke dokternya. Lha kami dari setengah 5 di sana. Petugas lab sampai bilang, wah ini hampir satu shift.
Sepekan berlalu. Aku mengerjakan draft yang masih sama. Hilmy yang kehabisan ide ajak main Kaisa akhirnya pergi dan rencana nginap ke nenek kakeknya Kaisa, tanpa aku.
Tapi sore ini rasanya sepi dan mewek juga ditinggal. Padahal biasanya gak kayak gini. Seminggu lalu meluk Kaisa di penghujung malam di rumah sakit karena dia kecapekan (tentu saja), dan Hilmy harus menghadapi antrian kasir yang melelahkan. Alhamdulillah semua dimudahkan.
Ditambah badan yang agak gak enak, mau tidur gak bisa, cuaca dingin, dengar lagu tutur batin dan lihat ucapan-ucapan seputar meninggalnya Reza Gunawan. Rasanya keluarga jadi apa ya, berasa banget the important thing in our life, yang ssejujurnya akhir-akhir ini aku rindu ssekali menikmati waktu bersama banyak orang. Karena begitu aku ada waktu kadang jadi fokus sama seluruh hal yang harusnya kukerjakan sebagai kewajibanku dengan instansi, yang sulit kukerjakan kalau aku pegang Kaisa.
Kemarin kajian offline tentang pendidikan bareng Growtheseed. Dapet inssight menarik yang bikin mikir dan mewek seputar bagaimana para ilmuwan dan ulama terdahulu justru menemukan ilmu-ilmu lain karena kebutuhannya mempelajari dan memahami Al-Qur'an. Bahkan ilmu bahasa kayak nahwu, sharaf, balaghoh, dsb itu lahir karena keperluan mempelajari tafsir Al-Qur'an. Muqaddimah kitabnya Aljabar bercerita kalau ilmu ini lahir dari kebutuhan mempelajari waris, yang akan sulit kalau disimbolkan dengan angka romawi. Juga ilmu falak, bagaimana para ulama yang berdakwah sampai jauh harus tahu waktu shalat, dan ke mana arah kiblat. Halo, saya ada di mana?
Masya Allah ya, zaman dulu itu semangatnya karena masalah
fardhhu ain, karena kebutuhan memahami Al-Qur'an, jadi munculnya bidang baru
yang fardu kifayah. Yang kalau ga ada yang memahami ya jadi dosa juga buat orang muslim.
"Di akhir kita harus tentukan, mana yang fardhu ain untuk anak kita, dan mana yang fardhu kifayah buat anak kita. Kalau anak kita belajar fardhu kifayah, jangan sampai melebihi fardhu ain dan atau tidak memberi nilai tambah buat fardhu ainnya. Contoh, apakah kalau belajar data sains, seseorang akan makin wara'; makin beirman atau tidak, makin takwa atau tidak, shalatnyaa bagaimana, lebih baik atau tidak?"
"Kita itu sering ga adil sama agama, kalau ilmu duniawi,
kita rancang dari dasar sampai kuliah. Tapi kalau ilmu agama, ya kita ke
taklim, denger yutub, podcast, dsb. Kita bingung menyusunnya kayak apa, 10
tahun berlalu mungkin kitab bisa mengukur ilmu apa yang nambah, tapi coba kita
refleksi soal diniyah kita dari segi ilmu atau amal apakah bertambah?"
"Produktif itu harus dikaitkan dengan amal shalih, segala sesuatu yang tidak menemani kamu sampai akhirat, itu duniawi" -Al Ghazali
Lalu kemarin sore pulang naik motor, kena hujan. Kayaknya udah lamaaa banget ga pulang abis maghrib dan kena hujan kayak gitu. Sampe mikir apa terakhir kuliah ya? Terus kepikir lagi ah mungkin sebelum nikah ya, wkwkwk.
Kamis, 16 Desember 2021
Sudah lama tidak menulis
Halo Kaisa, sedang apa? Apa kabar Kaisa hari ini? Apakah harinya menyenangkan? Ibu berdoa semoga menyenangkan, tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. Hidup memang kadang sulit dan begitulah hidup. Tapi Ibu berdoa semoga Kaisa bisa melewatinya dengan baik.
Aih, baru paragraf pembuka Ibu sudah menangis. Padahal Ibu rasa Ibu akan menangis nanti di tengah-tengah.
Tadi Ibu kepikiran membuka dengan apa, tapi sekarang Ibu sudah lupa. Padahal tidak ada jeda satu jam saja. Ibu akhir-akhir ini mudah lupa Nak. alau kata Ayah ibarat mesin, loadnya udah terlalu banyak jadi mudah ngehang, sedih amat ya hehe.
Kaisa, Ibu sedang merasa hari-hari terakhir ini semua berjalan terburu-buru. Lelah sekali rasanya. Tanpa jeda, tanpa istirahat yang dimaknai sebenarnya. Ibu seperti berjalan dari satu agenda ke agenda yang lain, berlari dari tidurmu ke tidur yang lain, merangkum banyak kegiatan di satu waktu sampai lupa menaruh hati pada agendanya, sesederhana buru-buru ingin membaca suatu tulisan saat menidurkanmu. Ibu tahu itu bukan prinsip Ibu tapi jadi dilanggar sekian kurun waktu belakangan ini. Huff.
Rasanya banyak yang ingin Ibu lakukan, di tengah peran menjadi ibumu. Tapi tampaknya akhir-akhir ini jadi lupa mengenal diri. Memang yang satu ini belum pernah diajarkan sejak kecil rasa-rasanya, ya. Baru booming belakangan ini. Tapi ya biar bagaimanapun orang-orang dulu juga tanpa istilah tersebut bisa mengejar apa yang dia tuju. Tidak perlu istilah nampaknya, sudah menjelma dalam laku begitu saja. Aduh, ke mana sih arah bicara ibu ini, haha.
Kaisa, Ibu ingin jeda dulu mengetiknya. Sepertinya Ibu tidak kuat melanjutkan. Atau tidak mau karena sedang bohong pada diri sendiri dan terlalu takut meneruskannya? Entahlah. Padahal Ibu sengaja tidak mengikuti suatu acara demi menulis ini, lho. Insya Allah Ibu lanjutkan, ya.
Salam Sayang, Ibu.
Rabu, 20 Januari 2021
Kaisa 5 Bulan
Jumat, 18 Desember 2020
Cerita Malem-malem
Kalimat terbaik dari Ayah kemarin (eh sudah kemarin aja yah, udah ganti hari soalnya) untuk menenangkan istrinya yang rungsing dan kesal karena hal-hall gak berjalan sesuai rencana adalah;
"Tau gak waktu abi kamu nerima aku apa yang aku rasain?
Aku merasa sempurna."
Sudah hampir 4 bulan usia Kaisa dan sudah seusia itu pula saya jadi ibu. Kalau kata @annisast, adaptasi terbesar adalah saat menjadi ibu. Dan kagetku adalah beliau nulis beliau butuh 3 tahun untuk adaptasi. Tapi ya ga ada salahnya sih, mari apresiasi diri dan berterima kasih sudah mau berjuang melewati ini semua. Kamu hebat!
Kadang-kadang doa tuh udah kayak curhat aja deh sama Allah saking gak terstukturnya kata-kata, bingung mau merangkai jadi permintaan yang bagaimana. Segala pasrah sekaligus syuur, sekaligus minta diberikan petunjuk. Kadang-kadang kesel sedih ngadu juga nangis. Yah, apa weh.
Sudah hampir 4 bulan saya lahir dalam keadaan menjadi ibu. Perjalanan yang jujur gak mudah. Tapi sejuta kali orang akan bilang bahwa itu worth it, untuk mendapatkan pahala mulia di sisi Allah kalau saya bener ngejalaninya.
Aih, berjuang nih nahan nangis, lagi gamau nangis mewek haha.
Sekaligus melanjutkan postingan sebelumny kali ya markipel yang bukan mari kita ngepel tapi mari kita rapel hahaha.
Kaisa di usia 3 bulan sudah bisa ketawa ngekek-kalau ga salah ini di usia 3 bulan. Sudah...hm, jujur lupa dan kumenyesal dulu tak langsung nulis.
3 ke 4 bulan sudah suka mempertemukan tangan di depan dada dan meihatnya dengan seksama. etawa alau liat foto nikah umi sama abi yang dipasang di ruang tengah. akhir-akhir ini aku coba rutin nidurin dia setelah isya, perjuangan banget sih so true-tapi kadang yg lebih berjuang adalah menenangkan diri sendiri untuk menerima kalau aku ketiduran dan ga bisa ngapa-ngapain malemnya. Kaisa belum sempurna belajar miring-miring tapi ya mari kita apresiasi miringnya yang sedikit itu, semoga lancar ya nak belajar tengkurepnya meski masih secimit banget agak miringnya! Hehehe.
3 ke 4 bulan ini belajar lebih mengenal diri sendiri lagi setelah sempat ada konflik sama pasangan. masalahnya sepele, tapi aku pun heran kenapa diriku bisa kayak gitu. kita belajar lagi ya sayangku, dear diri!
sebulan terakhir daftar banyak kelas onlen sampe munek rasanya wkwkwk. ikhtiar belajar, doain ya sahabat semua.
hmm apa lagi ya.
ukuran baju kaisa agak oversize. alhamdulilah target BB bulan ke3 tercapai walau menuju bulan ke-4 agak deg-degan juga karena ditimbang kasar pakai berat ibu/uti gendong dikurang bb penggendong baru naik se-ons, mohon doanya ya semua heuheu. di usia 3 bulan ini karena telah banyak baju yg naik kalau dia udah berubah-ubah posisi, kaisa dapat beasiswa baju dari Ayah, wkwkwk. aku beli ukuran 9 bulan, bahkan ada merk yg aku ga nemu celan apanjangnya akhirnya beli celana pendek (yg mana adanya) ukuran 1 tahun, yaaa baiklah, pantes aja sih menurutku wk.
perasaan dan mood ibu berusaha lebih jujur mengenali diri di masa-masa terakhir ini. jujur kadang merasa iri kalau suami bisa rapat dengan khidmat atau ngobrol/diskusi seru sama temen-temennya. Dunia ibu kadang ya hanya itu-itu aja. mungkin bosan ya, atau butuh sosialisasi. cuma kadang aku jadi merasa apa ada hal lain yang belum selesai dalam diriku?
hm, apa lagi ya.
oh ya beberapa kali bocor pakai clodi malam membuatku lebih mencoba gimana caranya biar gak bocor kalau bobok malam. Alhamdulillah pekan ini lebih baik.
btw, ada hal yang menarik dan aku suka sebenarnya dari suami. mau belajar tapi belum ahli nih, pelan-pelan ya. hal itu adalah menerima keadaan dan tidak menyesali yang telah berlalu.
dari dulu aku selalu kesal kalau ketiduran, apalagi kalau udah merasa gak ngapa-ngapain karena ketiduran huhu.
tapi suami gak gitu, dia selalu menerima, dan merasa cukup, let it flow dan let it go. ringan banget hatinya, makanya ga jadi beban. ini yang aku lagi pengen belajar banget. gimana agar bisa melihat semuanya dari kacamata syukur. alhamdulillah it's happened dan okay let's be better next. jadi fokus ke depan dan ga menyesali masa lalu.
jujur aku struggle banget di sini heuheu.
karena bersama anak, ada ekspektasi yang mesti disesuaikan, di adjust, diterima bukan berarti mukul mundur diri, tapi yaudah ayo melatih hati agar ringan dan menerima segala kondisi baik, belajar reflek untuk bersyukur.
karena bisa jadi bukan karena gak bersyukur, tapi gimana biar syukur itu jadi reflek, jadi kebiasaan baik.
hm apa lagi ya.
oh ya akhir-akhir ini kayak rame banget temen-temen main saham, bahas naik turunnya.sebenernya udah dari lama sih, cuman mungkin aku sama hilmy baru bahas aja. cuman, berdasar hal-hal yang kami pelajari, amini, dan teladani dari ayah kami, kami gak mengambil jalan investasi di saham untuk mengelola keuangan. dengan beberap aobrolan finansial akhir-akhir ini kadang mikir juga, rumah itu kapan ya bisa diperoleh, apalagi kalau udah mikir gimana nanti kondisi keluarga, apakah ada adik yang perlu didukung biaya sekolahnya, keluarga yang perlu dibantu perihal finansialnya, dsb. kadang kayak wondering gitu nanti bakal gimana ya.
kadang satu sama lain di antara kita saling ngingetin soal ada Allah, sholawatin kalau lagi ragu liat rumah-rumah gitu, atau ya menenangkan satu sama lain biar ga terlalu dipikir-dipikir amat. well, perihal finansial, menabung, mengelola, ini memang kadang dari matematika manusia kayak waw besar ya, jauh ya. tapi kan ada matematika Allah :")
btw, soal saling ngingetin ada Allah ini baru kepikir pas nulis ini loh. aku jadi inget momen-momen di mana Hilmy yang wondering atau mikir uangnya dari mana terus aku kayak enteng banget bilang, ada Allah atau bilang, udah solawatin dulu aja (sampe lucu bgt pas hilmy ada acara di sentul dan liat rumah-rumah bagus terus chat aku laporan liat rumah bagus dan bilang, udah aku sholawatin). dan ada juga momen aku menelisik keadaan dan perkiraan kebutuhan keluarga lalu aku yang kepikiraaan terus seharian, lalu hilmy yang nenangin dan bilang udah ada Allah ga usah terlalu dipikirin.
jadi ingat tulisan mbak Lia iip (yang aku gagal lanjut transcity wkwk), nulis ulang kata-kata ust. Syatori (ya Allah kujadi kangen jogjaaaa),
"Ya Allah jadikanlah mudah urusan duniaku karena aku tidak mau pusing karenanya." kata beliau ini doa yang diajarin Ust. Syatori supaya bisa fokus ngejar akhirat :")
nulis apa lagi, ya...
Sampai sini dulu aja kali ya. Senang juga ya nulis, jadi ngerinci satu-satu meski mungkin belum banyak. Terima kasih blog :")
Awalnya wondering nulis pas menyadari kalau murottal juz 4 sebentar lagi akan ke Juz 5 :")
Masya Allah :")
Sabtu, 31 Oktober 2020
Ibu-Anak; Anak jadi Ibu-dan Punya Anak
Tapi kali ini bukan tentang komentarnya. Tentang liriknya.
Kamis, 22 Oktober 2020
Cerita Malem-Malem ft. Anakku - Vina Panduwinata
Semalam nangis denger ini sambil bobokin Kaisa. Dan tentu saja nangis dong hiks. Ingat awal-awal adaptasinya berasa lamaaaaa banget padahal usia Kaisa juga masih seiprit. Padahal nanti kalau udah berjalan bahkan Kaisa makin besar juga mungkin akan kerasa cepet bahkan gak berasa. Gak kebayang kalau dia sudah makin besar, remaja, bahkan dewasa :"
Lalu nangiss juga karena kebayang dan keinget Ummi. Dulu aku masih kecil, ditimang-timang. Lalu beranjak jadi anak kecil, remaja, dewasa. Tentu banyak sekali dalam perkembangannya anak tuh bikin kesel, bikin sedih orang tuanya, dan lain sebagainya. Gak kebayang gimana ya emosi ortu terutama ibu tuh keaduk-aduk sepanjang perjalanan jadi orang tua masya Allah :""" auto berasa banyak dosa sampai usia saat ini T^T
Bismillah, pengen mulai esok (which means hari ini) dengan lebih baik ke orang tua, dan detik itu juga langsung baper liat Kaisa yang sekarang masih kecil banget dan bergantung sepenuhnyaaa penuh sama orang di sekelillingnya. Kaisa yang gak ngelawan dibopong mandi meski ayah ibunya aja bisa jadi gak mandi dua kali sehari, Kaisa yang gak ngelawan diganti popok. Digendong bopong bawa ke sana ke sini. Bener-bener utuh pasrah sama orang sekitar. Kelak dia bisa menjelajah sendiri, bisa nurut bahkan bisa menolak, huhu. Semoga Allah mampukan Ibu Ayah mengisi setiap detik hidupmu dengan ikhtiar terbaik yang selalu sesuai dengan maunya Allah ya Nak, semoga Allah ridha <3
-semalam so suprisingly ayah juga dataang pas nidurin Kaisa dan tiba-tiba bijak gitu ayo Kaisa tidur udah malam (padahal sebelumnya doi bobo malem bahkan pagi), ibu ikut ketiduran dan hari ini alhamdulillah kebangun sekitar jam setengah dua, bisa nana nini dikit lah, salah satunya nulis ini :") soale kadang bahkan sering deng syulit mau nulis blog begini :"
Selasa, 20 Oktober 2020
Kaisa 2 Bulan
Kamis, 15 Oktober 2020
Kaisa Nanti yang Sudah Punya Ingin
Senin kemarin, dua kali nangis abis shalat. Dhuha sama ashar apa ya, pas liat Kaisa.
Pas abis Dhuha ingat suatu puisi dari buku yang sedang kubaca. Tentang bagaimana pekerjaan bisa menunggu, sementara penulisnya terlalu sibuk untuk mengamati perkembangan putrinya setiap harinya. Pas abis ashar, karena di tengah sesi pelatihan keluarga kita, mayoritas yang sharing itu orang tua yang anaknya lebih dari satu lah, yang anaknya udah besar, balita, intinya bukan yang bayik bayik kayak Kaisa gini.
Senin, 05 Oktober 2020
Sedari Pagi: Ingin Menulis Saja
- Saya kecewa karena merasa tidak diperhatikan
- Saya sedih karena terganggu saat sesi praktek di kelas online
- Saya bingung dengan apa yang menjadi kebutuhan diri saya
- Saya capek
- Saya pengen nangis
- Saya tidak tahu mau jadi apa saya ke depannya
- Saya bingung dengan masa depan
- Saya kecewa dengan diri saya sendiri
- Saya khawatir disalahkan dalam pengasuhan anak
- Saya takut dan overthinking dengan komentar-komentar terhadap anak saya karena didikan saya
- Saya kesal dengan stigma dan label bahwa pengasuhan seolah-olah tanggung jawab ibu padahal itu tanggung jawab bersama
- Saya takut disalahkan dalam hal semisal mandi, makan, dan tumbuh kembang anak yang hanya menyudutkan saya. Padahal haloooo, pengasuhan itu tanggung jawab bersama kedua orang tuanya
- Saya takut ditinggalkan
- Saya takut anak saya punya kenangan buruk di alam bawah sadarnya karena perlakuan yang tanpa sengaja saya lakukan yang kecilnamun tanpa sadar itu berdampak
- Saya iri dengan suami atas waktu luang yang dimilikinya
- Saya kesal kalau suami main game kelamaan
- Saya malu sama ibu saya, kok hebat banget tulus ikhlasnya, saya pengen bisa kayak gitu
- Saya takut diabaikan
- Saya takut menyampaikan apa yang saya butuhkan meski sudah belajar menyampaikanya terus dan terus
- Saya kesal jika orang yang saya sayang ngobrol dan asik banget lamaaa sama lingkaran temannya dengan volume keras dan ketawa-tawa yang unfaedah dan malam-malam
- Saya kadang merasa tidak nyaman karena sakit pinggang kalo nunduk-nunduk angkat gendong atau pegal di punggung dan pundak
- Saya gemes kalau tau orang-orang berpotensi besar kelamaan main gamenya dan sampai menggeser hal produktif lain. Ditambah, saya lama kelamaan jadi itu dengan waktu luangnya.
- Saya dipeluk tiap hari
- Saya diperhatikan
- Saya menikmati waktu berharga bersama orang yang saya sayang, dan juga sebaliknya
- Saya bahagia
- Saya ikut kelas tanpa gangguan
- Sesekali dapet popok yang ga ada pupnya biar gampang tinggal dibilas
- Saya mengenal diri saya
- Saya tahu kebutuhan diri saya
- Saya cukup
- Saya dicintai
- Saya diberi hadiah kejutan
- Saya rileks
- Saya tidak overthinking (mau nulis lawannya tapi gatau apa sih lawan overthinking)
- Saya ingin liburan tanpa pikiran kerjaan
- Saya ingin pacaran lagi sama suami haha
- Kami sepasang orang tua yang rajin menimba ilmu mempersiapkan bekal untuk pengasuhan
- Saya bisa tenang dan tidak terburu dalam shalat dan berdoa
- Saya bisa shalat khusyuk
- Saya ingin bisa ngobrol seru
- Saya ditemani
- Saya dihargai dengan cara waktu yang saya gunakan untuk perintilan urusan anak dan rumah tangga ini orang lain yang punya waktu luang gunakan dengan hal bermanfaat atau produktif. Jika tidak membuat sesuatu, bisa dengan belajar, mengaji, membaca buku, atau hal-hal lain yang sungguh sebenarnya ingin saya lakukan namun terhalang hal-hal tadi itu.
- Alhamdulillah kami sehat sekeluarga
- Alhamdulillah masih bisa makan, masih ada pekerjaan
- Alhamdulillah Kaisa sehat (this so spesific)
- Alhamdulillah keluarga rukun
- Alhamdulillah bisa gantian jagain Kaisa saat mau makan, shalat, ke toilet
- Alhamdulillah masih bisa konek ke internet, bisa cari info, kirim kabar, belajar
- Alhamdulillah masih hari-hari cuti, sekarang latihan manage waktunya
- Alhamdulillah suami wfh, bisa nemenin di sela-sela kerjanya juga
- Alhamdulillah masih terbantu banyak oleh Ummi :"
- Alhamdulillah masih bisa bernaung di rumah orang tua
- Alhamdulillah ada laptop bisa nulis ini
- Alhamdulillah meski rasanya masih patah-patah, belajar terus komunikasi sama Allah
- Alhamdulillah asi lancar
- Alhamdulillah ada mesin cuci, ada bantuan nyetrika belakangan
- Alhamdulillah ada gendongan stretchy wrap
- Alhamdulillah Ayah Kaisa suka bacain buku
- Alhamdulillah gumaman Kaisa makin banyak
- Alhamdulillah ada grup belajar nyusuin, belajar clodi
- Alhamdulillah umi kadang-kadang beliin kue
- Alhamdulillah dikelilingi orang baik
- Alhamdulillah bisa bangun pagi walau masih cari pola agar bisa comeback again bangunnya lebih pagi
- Alhamdulillah Allah kasih kesempatan belajar secara online
- Alhamdulillah Allah kasih waktu nulis ini
- Alhamdulillah Allah titipkan Kaisa pada kami, Allah mudahkan proses persalinannya dan Allah takdirkan ia lahir dengan sehat dan selamat
- Alhamdulillah Ayah baik mau kasih beasiswa buat ibuk
Minggu, 27 September 2020
A Little Hello
Senin, 21 September 2020
Tentang Ayah (4) : Senang Sama Ayah
Senang adalah ketika mendengar Ayah bilang, "Ayah mau main dulu sama Kaisa." Lalu meninggalkan segala devicenya, meninggalkan media sosial yang sedang dibuka, atau film/acara yang sedang diputar, atau game yang tengah dimainkan.
Lalu Ayah beringsut mendekati Kaisa.
Senang adalah saat dengar ayah memancing Kaisa untuk menangkap jarinya, atau untuk bilang a.
"Tangkap tangan Kaisa!"
Lalu Ayah menangkap tangan Kaisa.
"Sekarang Kaisa tangkap tangan Ayah ya. Ini tangan Ayah di sini."
Ayah menggerak-gerakan jarinya.
Kaisa mengamati.
Kaisa menggerak-gerakkan tangan. Lalu tak lama berhasil meraih tangan Ayah. Kalua belum berhasil, Ayah akan memancing Kaisa terus, dan didukung oleh orang sekelilingnya agar Kaisa meraih jari Ayah.
Saat berhasil, kami yang lihat akan terpukau kagum dan takjub. Lalu memuji Kaisa, "Kaisa hebat, masya Allah. Kaisa pintar!"
Senang adalah saat Ayah membacakan Kaisa buku. Walau kadang Ayah ketiduran, kadang bisa ekspslorasi banyak, atau kadang Kaisanya kayak menolak dan ga mau gitu kayak tadi pagi. Lalu Ayah bilang, "Oh, Kaisa belum suka ya buku ini. Yaudah nanti dulu ya."
Senang adalah ketika sedang berdua-dua dengan Kaisa dan Ayah masih dengan apa yang diurusnya, lalu Ayah meluangkan waktu nyamperin dan nemenin kami :")
Terima kasih Ayah, segala waktu bersamamu menjadi berharga .
-
"Waah ada Ayah datang, Kaisa senang!"
"Waah terima kasih Ayah sudah bacakan buku/sudah mandikan/sudah gendong/____, Kaisa senang!"
.
.
Ibuknya apa lagi, Nak :")
-
Sungguh aku sering sekali cemburu, takut kalau Kaisa bahkan lebih deket sama ayahnya. Emang gini ya namanya lihat orang lain wkwk *julid rasa media sosial. Gak deeeng, ya mungkin sesimpel kita kan bisa liat orang lain tapi ga bisa liat diri sendiri waktu main sama Kaisa yak...
Rumah, 21 Sep 2020, 01.26
Jumat, 18 September 2020
Hari ke 28
Hari ini Kaisa 28 hari usianya. Berarti sudah 28 hari menjadi ibu.
28 Hari yang kalau boleh dibilang, jujur tidak mudah. Tapi pada akhirnya sampai juga ke angka 28 ini.
Banyak sekali yang menjadi adaptasi bagi saya. Dan alhamdulillah Allah beri banyak kemudahan walau saya masih sering mengekspresikan beberapa kalimat yang mungkin terdengar mengeluh tapi sejatinya saya ingin didengar...
Alhamdulillah Kaisa sehat
Alhamdulillah asi lancar
Alhamdulillah suami wfh
Alhamdulillah banyak dibantu umi
Alhamdulillah mepet-mepet ada yang bisa dititipin Kaisa kalau kepepet
Alhamdulillah ada rezeki
Alhamdulillah saya dan suami sehat, umi abi adik-adik sehat
Alhamdulillah bisa gantian gendong kalau Kaisa mulai merasa gak nyaman dan saya mulai pusing mesti gimana lagi
Alhamdulillah masih ada stok pospak kalau udah lelah nyuci popok kain dan sepaket bebajuan dan kain lain yang kena najisnya, atau kalo udah stres dan gamau nambah pikiran
Alhamdulillh Kaisa keliatan naik BBnya walau belum nimbang di timbangan bayi lagi, meski kalau gendong udah kerasa pegel juga :")
Alhamdulillah dapet cuti 3 bulan dari kantor
Alhamdulillah ada hadiah-hadiah yang datang
Alhamdulillah alhamdulillah :")
It's okay Fitri, to not being okay
untuk menjadi pusing gegara obrolan grup-grup soal mpasi, toilet training, jatuh dari kasur, akan ada waktu kamu juga belajar satu-satu. pelan-pelan dulu aja ya
untuk belum jadi ibu sempurna. karena pengalaman umi adalah 4 anak sementara ini baru anak pertama. selalu akan ada hari baru untuk perbaikan :')
untuk belajar sabar yang tiada bertepi, ini sejak dulu kamu tau kan akan ada terus ujiannya. walau jadi ibu adalah ternyata...tbh yang paling challenging, dibanding sabar soal nikah bahkan! hahaha. bismillah yaa, sedikit-sedikit perbaiki yaa, saking pengenya jadi orang yang sabar ini kan dari jaman belum nikah kalau punya anak mau ada kata sabarnya? :")
untuk iri sama ayah Kaisa yang kayaknya kok ada aja sih waktu buat main medsos, nonton, skrolling dan dapet informasi apa gitu, main game. kamu punya ladang pahala yang buesar, begitu juga dengan Ayah Kaisa. Kalau Ayah banyak bantu kerjaan ibu tentu ladang pahala ayah makin besar, huehehehe. Gakpapa pelan-pelan hatinya ditata dan ga usah iri yaaa, kan kalo butuh bantuan tinggal bilang kata Ayah juga
untuk iri sama orang-orang hebat di luar sana yang kayaknya keren banget dah berbuat banyak sementara diri ini kayak merasa makin kecil aja, makin ga karuan, ga teratur, ga produktif. Semua akan ada masanya, who knows rencana Allah di masa depan. Terus bergerak dan berbuat baik, kita lihat nanti akan gimana. Yang penting kamu nambah kapasitas diri dan terus coba berkarya, bergerak. jadi lebih baik dari sebelumnya ya Fit!
untuk hari-hari, waktu-waktu, dan masa-masa yang seolah terenggut. Percayalah kamu sedang menata batu bata kebaikan yang akan menjadi pondasi tumbuh kembang terbaik buat Kaisa. Dan itu keren dan sangat produktif!!!
Belajar lapang lagi yuk, belajar melepas, belajar rela, belajar ikhlas, belajar adaptasi, fleksibel, diluaskan lagi sayangnya. Kaisa menerima kamu apa adanya, tapi tentu ia akan jadi ana paling bahagia kalau tau ibunya mau memperbaiki diri dan gak males dan gak banyak alasan, hahaha.
Terima kasih, Allah.
Fitri, 23.59
Ternyata, nangis juga di ujung tulisan :"
Senin, 14 September 2020
Tyani: Mempersiapkan Kematian
Senin, 07 September 2020
Hari-hari Ini
Hari-hari ini, jujur adalah menerima bahwa menjadi ibu itu memang gak mudah.
Hari-hari ini, lapang adalah menerima bahwa kalau memang diri ini masih jauh dari orang lain, maka cukupkan, berhenti membandingkan.
It was a heavy things, when doing writing is about know what happen in ma self. Aften talking many words to my husband before maghrib.
Dear diri, terima kasih sudah mau lelah ya. Beradaptasi dengan seluruh hal baru yang belum kamu kenal sepanjang 25 tahun sebelumnya.
Dear diri, terima dulu ya. Kalau kamu belum se power ibu-ibu lainnya, atau teman-temanmu yang sudah lebih dulu jadi ibu. Kita belajar lagi dulu, ya. Satu-satu, pelan-pelan. Perlahan.
Membayangkan ibuk ku dulu berkutat dengan 4 anak, mengulang rutinitas yang itu itu saja sambil mengisi kehidupan dengan banyak hal bermanfaatan lain semasa kami piyik-piyik dahulu kala. Menentang bosan sembari mengiyakan lelah, namun tak pasrah untuk terus menghadapinya. Betapa luar biasa :"
Pun begitu juga dengan ibunya suami, 4 kelahiran, 5 anak. Sekali waktu menghadapi anak kembar. Dua bayi di waktu yang sama. Betapa luar biasa :"
Setiap kelahiran pasti punya cerita. Ya Allah, kuatkan hamba. Cukupi hamba. Mampukan hamba. Semoga sabar dan syukur selalu mengisi hari-hari kami. Aamiin. Terima kasih ya Allah.
Ahad yang sudah jadi Senin. Malam Ahad kemarin, Kaisa lebih rewel, dan aku lebih baper sama banyak hal sampai kirim banyak pesan ke suami. Terima kasih sudah melewatinya, Fitri. Terima kasih sudah banyak membantu, Ayah.
Senin, 31 Agustus 2020
Tentang Ayah, Nak (3)
Nak, tersebab menjalani peran Ayah pun tentu berat ssekali. Kemarin ibu baca tulisan teman ibu. Bunyinya begini:
https://www.instagram.com/p/CEW4zLmMv6j/
Menjadi Ayah
.
Di film Marriage Story, ada scene pengacara perempuan yang menggebu-gebu bilang bahwa tuntutan pada ibu itu tinggi sekali, sementara ayah tidak. Ayah boleh absen, boleh buruk, boleh tidak terlalu peduli pada anak; sementara ibu tidak. Sedih sekali nontonnya..
.
"Banyak yang bilang membesarkan anak laki-laki itu tidak sesulit anak perempuan, tapi itu karena tidak banyak anak laki-laki dididik dengan benar." utas sebuah akun di Twitter beberapa waktu lalu
.
Iya, mendidik tentang besarnya peran dan tanggung jawab ketika ia menjadi seorang ayah itu sulit sekali. Seorang laki-laki tidak bisa memilih untuk hanya menjadi ayah sebagaimana ibu bisa memilih fokus pada perannya sebagai ibu. Seorang ayah harus tetap bekerja, memegang peran penting memberi manfaat untuk sekitar dan menjemput rezeki. Ia wajib menjadi penjaga yang paling baik dan sayang pada istrinya. Ia juga seorang anak yang wajib menyayangi dan merawat ibunya. Ia juga seorang kakak, adik, sahabat, dan bagian dari masyarakat. Di agama Islam, justru banyak sekali contoh pendidikan yang dilakukan oleh ayah: Lukman, Ibrahim, Umar, Ya'kub, Rasulullah.. Menggambarkan bahwa pendidikan anak ya tugas ayah juga, bukan ibu seorang. Visi pendidikan kuncinya di Sang Ayah
.
Melihat perjuangan suamiku setiap hari, aku belajar bahwa jadi ayah itu berat sekali, jika dijalani dengan mindset dan pemahaman yang benar tentang peran seorang ayah. Dan ketika pemahaman ini dimiliki oleh semakin banyak laki-laki, aku rasa tidak akan ada lagi perempuan yang harus begitu berjuang dalam mendapatkan hak-haknya atau merasa terpuruk menjalankan perannya sebagai ibu sendirian
.
.
Bismillah ya Ayah @rizaherzego. Terima kasih sudah berjuang menjalankan semua peranmu dengan sebaik-baiknya. You'll be our forever hero.
Ibu selalu berpikir bahwa Ayah banyak sekali menyembunyikan perasaannya. Walaupun sekaligus juga Ayah orang yang suka terang-terangan. Tapi kalau ditanya Ayah suka kesulitan jawabnya. Atau menjawab, ya biasa aja, atau jawawan singkat lain yang terang namun mengndang tanya seanjutnya bagi ibu, hehehe. Bingung ya? Ibu juga, hehehe...
Tapi biar bagaimanapun, sependek usiamu saat ini, Ayah adalah pahlawan terbaik untuk kita Nak. Yang menenangkan Ibu saat kalut. Yang menenangkan Kaisa saat menangis. Yang sayang sekali dengan kita sampai tak bisa rasanya ibu tulis satu-satu di tulisan ini.
Semoga Allah jaga Ayah selalu, ya. Semoga Ayah selalu jadi pribadi yang lebih baik, semakin dekat dengan Allah, dan bisa menjadi imam keluarga yang membawa kita juga semakin dekat dengan Allah.


