Tampilkan postingan dengan label Kaisa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaisa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Desember 2024

Meninggal

 K: Ibu, aku maunya kita meninggal bareng. Terus nanti dikuburnya sebelahan sama-sama bisa nggak sih? Soalnya aku maunya sama ibu terus. 

***

K: Ibu, aku nggak mau meninggal tapi disuruh. *mungkin maksud disuruh itu semacam, tiap orang pasti ada ajalnya

F: Emang kalau masih hidup Kaisa mau ngapain? 

K: Baca buku.

Senin, 16 September 2024

Growing - Tumpahan Pikiran Sesore-Malam 15 Sept 2024

Her.

My daughter is growing. And also my heart. 

My mind discovers my past. Finding myself beneath all my struggle and sorrow. 

===

Sore ini Kaisa mengajakku main anak-anakan. Kaisa dengan anaknya, seekor oneka unicorn bernam Loli-Lolipop. Dan aku bersama Buci, boneka beruang wisuda punya tantenya. 

Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan anaknya, dan menyadari bahwa itu semua bagaimana ia menyerap interaksi ibu-anak yang terjadi di antara kami. Hatiku terharu menyadari semua berlalu dengan begitu banyak hal membekas yang kadang tak disadari. Kerunyaman hari, ketidakstabilan emosi, parenting is so big thing for me. 

Aku melihat anakku memperlakukan anaknya dengan sangat baik, penuh kelembutan dan kasih sayang. Air mataku kutahan kuat-kuat. Anakku tumbuh, dan berkembang. Lalu aku merefleksi seluruh masa lalu yang kulewati bersamanya. Kusebut masa lalu padahal baru 4 tahun hidup bersamanya. Empat tahun yang mengubah dan memperjuangkan banyak hal-untuk tak bilang mengorbankan. Empat tahun aku berjuang beradaptasi dengan segala motherhood ini-dan begitu juga dengannya. Empat tahun yang menumbuhkannya sebagai seorang anak, sebagai seorang individu, sebagai seseorang yang mengetahui baik buruk versinya-versi keluarga kami, sebagai seseorang yang gaining knowledge dari interaksi harian kami. 

My daughter is growing. 

Aku mengingat fase-fase berat melewati adaptasi di awal menjalani peran sebagai ibu. Juga fase-fase berat saat ini yang kadang membayang. Bayangan yang tidak perlu dan melawan diri sendiri. Ah Nak. 

Cerdasmu, riangmu, celotehmu, kadang kutahu hal-hal itu kelak akan kurindukan. Sangat. Meski kadnag di saat yang sama pula aku tak berimbang membersamaimu. Aku melihatmu ingin meraih perhatianku dengan permainan tadi. Dengan cara dan strategi yang baru. Boneka-boneka itu merepresentasi perasaanmu, barangkali. Atau hanya tebakan dan cocoklogiku saja? Entahlah, siapa yang tahu. 

Hei Nak, kehidupan kadang berjalan tak menyenangkan dan tidak terasa menyenangkan. Ibu juga kadang menangis atau merasa tak nyaman karena suatu hal. Tak mudah, terus berjuang. Ah, apapun yang muncul di benak kutulis saja walau rasanya tak beraturan. 

Menyenangkan melihatmu tumbuh dengan kecintaan pada dua hal, buku atau membaca, dan menggambar. Merunut balik proses kita sampai di titik ini. Ah, entah bagaimana rasanya menggambarkan perasaanku. Kebanggaanmu menunjukkan buku demi buku di telepon, pertanyaan spontanmu, imajinasi yang kau tuangkan di atas kertas dengan definisimu sendiri. 

Aku mengingat hari-hari panjang di masa lalu ketika menyusui menjadi hal baru yang kadang membosankan. Ilmuku tahu menyusui sebaiknya dibersamai dengan apa tapi sebagian hatiku iri dengan yang lain-lainnya. Aku mengingat hari-hari membaca buku kita di bawah. Dan yang menurutku juga punya banyak kontribusi, atas izin Allah, merumput yang tak terhitung banyaknya di lapangan atas, sering juga bersama ayah. Hari-hari ini aku sering berpikir kok bisa ya dulu kayak seluang itu merumput di atas. Tak peduli banyaknya pandangan bingung orang kotor-kotoran di rumput bahkan lumpur. Hujan-hujanan dan nyeker. Kalau kubilang semua butuh perjuangan ya memang butuh. Ilmu dan amal, tak ada yang instan. Mematangkan refleks, memuaskan motorik kasar, memberi ruang luas untuk bebas bergerak. Semua yang kusyukuri menjadi pembentuk harimu kini, atas izin Allah. Pencil grip, toilet training, less tantrum, artikulasi bicara yang baik. Hai Nak :") 

Apalagi yang ingin kubicarakan padamu? 

Ah, kalau itu sih biasanya kusampaikan langsung, ya. Tak berlama-lama. Di sini aku hanya menuliskan apa yang membenak sepanjang sore-malam. Oh ya, tadi aku terngiang kata-kata mbak penjual jamu ke salah satu tetangga yang sudah bekerja lagi 3 bulan belakangan. Putrinya SD dan seumur Kaisa. Mbak itu bilang, sayang sekolah tinggi-tinggi kalau nggak kerja. 

Klise sekali memang. Aku tertawa dalam hati, meskipun setiap menatapi hal yang sama biasanya juga aku meringis. Buatku, kerja terasa jauh berkali lipat lebih mudah dari pada membersamai anak. Mungkin karena kerjaku less berhadapan dengan manusia meski tetap menuntut empati. Dan membersamaimu adalah pilihan sadar yang telah kutabung jauh sebelum aku menikah. Namun, memang menjalaninya penuh perjuangan dan tak mudah. Walau demikian, insyaAllah aku tak pernah menyesalinya. Menyenangkan sekaligus bangga melihatmu bertumbuh dengan semua yang Allah titipkan padamu saat ini. Ingatan-ingatanku tentang kakak gurumu, pikiranku yang penasaran tentang persepsi kakak guru tentangmu, ingatan tentang cerita Mbak N bedanya ketika ia bekerja dan tidak dengan anak-anaknya. Aku tahu, aku memperjuangkan hal yang, setidaknya aku percaya ini hal yang benar bagi nilai dan paham yang kuamini. 

Berat, tapi berjuang. Allah kan lihat semua perjuangan itu ya. 

Walau kadang kuakui, aku juga kadang mager untuk berjuang. Dasar manusia zaman sekarang. 

Nak, kelak, kamu jadi seperti apa ya? 

Semoga Allah jaga Kaisa selalu, ya. Ibu sayang Kaisa. 


Uncountable tears. Countless exhaustion. 

Semoga, yang lebih banyak tetap cinta, dan kemauan mengejar ridhaNya. 

Rabu, 31 Juli 2024

Doa

Doa Kaisa sebelum tidur: 
Ya Allah, sembuhkanlah semua yang ada di dunia, aamiin. Atau yang ada di Indonesia, aamiin. 


*tiba-tiba aja, ngomong begitu dia

Senin, 21 Agustus 2023

Tiga Tahun Kaisa

Assalamualaikum...

Halo, Nak. 

Harinya sudah lewat. Tiga tahun lalu, kita ada di kasur ruangan inap di klinik bidan kecil yang cukup ramai di pinggiran Depok sana. Mataku menatapmu kelu menakjubi setiap inci dirimu yang lahir dari diriku. Kamu, anakku. 

Hari ini, genap tiga tahun berlalu. Lewat nyaris satu hari. Usia unconscious mind-mu resmi lewat. Tiga tahun yang penuh berkah dari Yang Kuasa. Tiga tahun yang menjadikanku belajar sangat banyak hal, terutama tentang merawat sabar. Tiga tahun yang jelas sangat berdinamika. Tiga tahun yang mengubah hidup kami sebagai Ayah Ibumu. Tiga tahun pula Allah janjikan peluang pahala yang begitu besar--sekaligus menantang, kalau boleh kubilang. 

Aku mengambil jeda usai naskah sibi-ku kutunaikan 12 babnya. Menyimak videomu kala dua bulan yang Ayah compile waktu itu. Tubuhmu yang begitu kecil dan kurus. Tulang kakinya terlihat begitu jelas. Ayah yang membacakan buku di kasur. Kamu yang tummy time di punggung Ayah. Fatih yang ikut seumpama dirijen saat Ayah menggendongmu-mungkin kala itu Ayah mendendangkan shalawat. Aku mereka ulang jejak langkah yang kutunaikan beriringan dengan hadirnya dirimu. Adaptasiku, belajarku, kelas-kelas yang kuikuti, resignku, pergolakan emosiku, hingga dirimu yang ceria dan banyak bicara, juga hari-hari negoisasi panjang dan keluhanku yang kadang serupa tak berujung. 

Betapa panjang kasih sayang Allah pada kita, ya, Nak. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Melihatmu yang riang gembira membuka Al Quran, mencari surat yang dipilih, berpura-pura membaca arab dan artinya, persis seperti kelas-kelas Alkindi yang kita lalui.

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Jujur aku kagum pada dirimu menahan diri. Paham saat bukan waktunya beli balon atau jeli. Meski kamu sulit juga jika tergoda makanan bergula. Tapi kita sama-sama belajar, kan? Menantang memang hidup di masa kini yang mana upf dianggap normal sana-sini. Ibu tahu masih banyak yang belum bisa ibu hadirkan untukmu, terima kasih sudah belajar ya Nak. Terima kasih sudah kooperatif. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Hari-hari yang berat, ya Rabb ... semoga selalu bisa kami lalui dengan syukur. Hari-hari yang rasanya ingin kamu tidur sangat lama, atau waktu di mana aku kesal karena rasanya sudah berupaya sebegitu rupa tapi kam tak tidur juga. Egoku bermain, aku mulai rush karena ingin punya waktu juga. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Terima kasih sudah berupaya jujur di lomba makan kerupuk kemarin. Aku tak bicara apapun soal lomba, karena memang tak mau mengenalkan persaingan di enam tahun pertama. Tapi, aku tak menyangka kamu seberusaha itu ketika kulihat anak lain pegang kerupuk dengan tangannya. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Ibu yang compang camping dan masih jauh dari sempurna. Belum belajar yang gimana-gimana untuk merinci iman islammu. Ah Nak, masih banyak PR Ibu, semoga Allah kuatkan dan mudahkan selalu ya Rab....

Kaisa, melihatmu begitu mengesankan. Betapa kuasa Allah menanamkan pada dirimu fitrah iman serta fitrah-fitrah lainnya. Betapa kuasa Allah mempertemukan Ibu dan Ayah, juga pada ilmu-ilmu yang kami tekuni sebagai upaya mendidikmu sebaik-baiknya. Kami tahu masih jauh dari sempurna. Namun, melihat bicaramu, polahmu, gayamu, sungguh hanya Allah yang mampu hadirkan itu semua pada kita, Nak. 

Nak, Ibu minta maaf jika ada yang tak pantas ibu lakukan di depanmu, teladan yang tidak baik, atau hal-hal yang melukai dirimu. Semoga Allah ampuni dan maafkan dalam memorimu. Tiga tahun yang saat ini rasanya pendek, namun sesunggunya terdiri dari hari=hari panjang yang melelahkan. Ya Allah, semoga Engkau ridha, semoga Engkau ridha. 

Masih banyak yang ingin dituang, tapi kok rasanya banyak yang ingin dipikir sendirian. 

Sabtu, 10 September 2022

Seminggu ini, 10 Sept 2022

Seminggu berlalu, kadang rasanya jadi cepat sekali. Sabtu lalu maraton di RS, antrinya super rame. Kaisa passien ke-34 dan perlu cek lab. Pulanglah kami sampai rumah jam 11.15 malam Alhamdulillah so far kondisi Kaisa sebenarnya baik-baik saja. Sedikit bapil dan nafasnya agak grok-grok serta BBnya stuck, entahlah apa benar ini permasalahan sejagat raya ibu-ibu anak usia dini: BB seret.

Aku juga berobat, Hilmy juga kepikiran berobat, dan akhirnya wkwk.

Hari itu melelahkan rasanya. Sampai RS sepi dan petugas lab nanya kenapa malam sekali ke dokternya. Lha kami dari setengah 5 di sana. Petugas lab sampai bilang, wah ini hampir satu shift. 

Sepekan berlalu. Aku mengerjakan draft yang masih sama. Hilmy yang kehabisan ide ajak main Kaisa akhirnya pergi dan rencana nginap ke nenek kakeknya Kaisa, tanpa aku. 

Tapi sore ini rasanya sepi dan mewek juga ditinggal. Padahal biasanya gak kayak gini. Seminggu lalu meluk Kaisa di penghujung malam di rumah sakit karena dia kecapekan (tentu saja), dan Hilmy harus menghadapi antrian kasir yang melelahkan. Alhamdulillah semua dimudahkan. 

Ditambah badan yang agak gak enak, mau tidur gak bisa, cuaca dingin, dengar lagu tutur batin dan lihat ucapan-ucapan seputar meninggalnya Reza Gunawan. Rasanya keluarga jadi apa ya, berasa banget the important thing in our life, yang ssejujurnya akhir-akhir ini aku rindu ssekali menikmati waktu bersama banyak orang. Karena begitu aku ada waktu kadang jadi fokus sama seluruh hal yang harusnya kukerjakan sebagai kewajibanku dengan instansi, yang sulit kukerjakan kalau aku pegang Kaisa. 

Kemarin kajian offline tentang pendidikan bareng Growtheseed. Dapet inssight menarik yang bikin mikir dan mewek seputar bagaimana para ilmuwan dan ulama terdahulu justru menemukan ilmu-ilmu lain karena kebutuhannya mempelajari dan memahami Al-Qur'an. Bahkan ilmu bahasa kayak nahwu, sharaf, balaghoh, dsb itu lahir karena keperluan mempelajari tafsir Al-Qur'an. Muqaddimah kitabnya Aljabar bercerita kalau ilmu ini lahir dari kebutuhan mempelajari waris, yang akan sulit kalau disimbolkan dengan angka romawi. Juga ilmu falak, bagaimana para ulama yang berdakwah sampai jauh harus tahu waktu shalat, dan ke mana arah kiblat. Halo, saya ada di mana?

Masya Allah ya, zaman dulu itu semangatnya karena masalah fardhhu ain, karena kebutuhan memahami Al-Qur'an, jadi munculnya bidang baru yang fardu kifayah. Yang kalau ga ada yang memahami ya jadi dosa juga buat orang muslim. 

"Di akhir kita harus tentukan, mana yang fardhu ain untuk anak kita, dan mana yang fardhu kifayah buat anak kita. Kalau anak kita belajar fardhu kifayah, jangan sampai melebihi fardhu ain dan atau tidak memberi nilai tambah buat fardhu ainnya. Contoh, apakah kalau belajar data sains, seseorang akan makin wara'; makin beirman atau tidak, makin takwa atau tidak, shalatnyaa bagaimana, lebih baik atau tidak?"

"Kita itu sering ga adil sama agama, kalau ilmu duniawi, kita rancang dari dasar sampai kuliah. Tapi kalau ilmu agama, ya kita ke taklim, denger yutub, podcast, dsb. Kita bingung menyusunnya kayak apa, 10 tahun berlalu mungkin kitab bisa mengukur ilmu apa yang nambah, tapi coba kita refleksi soal diniyah kita dari segi ilmu atau amal apakah bertambah?"

"Produktif itu harus dikaitkan dengan amal shalih, segala sesuatu yang tidak menemani kamu sampai akhirat, itu duniawi" -Al Ghazali

Lalu kemarin sore pulang naik motor, kena hujan. Kayaknya udah lamaaa banget ga pulang abis maghrib dan kena hujan kayak gitu. Sampe mikir apa terakhir kuliah ya? Terus kepikir lagi ah mungkin sebelum nikah ya, wkwkwk.

Sesorean inget Kaisa, inget Hilmy. Walau kadang rempong tapi kangen juga celoteh Kaisa, wkwk. Sehat-sehat kalian semua, ya. Sayang selalu <3.  

Kamis, 16 Desember 2021

Sudah lama tidak menulis

Halo Kaisa, sedang apa? Apa kabar Kaisa hari ini? Apakah harinya menyenangkan? Ibu berdoa semoga menyenangkan, tapi kalau tidak pun tidak apa-apa. Hidup memang kadang sulit dan begitulah hidup. Tapi Ibu berdoa semoga Kaisa bisa melewatinya dengan baik. 

Aih, baru paragraf pembuka Ibu sudah menangis. Padahal Ibu rasa Ibu akan menangis nanti di tengah-tengah.

Tadi Ibu kepikiran membuka dengan apa, tapi sekarang Ibu sudah lupa. Padahal tidak ada jeda satu jam saja. Ibu akhir-akhir ini mudah lupa Nak. alau kata Ayah ibarat mesin, loadnya udah terlalu banyak jadi mudah ngehang, sedih amat ya hehe. 

Kaisa, Ibu sedang merasa hari-hari terakhir ini semua berjalan terburu-buru. Lelah sekali rasanya. Tanpa jeda, tanpa istirahat yang dimaknai sebenarnya. Ibu seperti berjalan dari satu agenda ke agenda yang lain, berlari dari tidurmu ke tidur yang lain, merangkum banyak kegiatan di satu waktu sampai lupa menaruh hati pada agendanya, sesederhana buru-buru ingin membaca suatu tulisan saat menidurkanmu. Ibu tahu itu bukan prinsip Ibu tapi jadi dilanggar sekian kurun waktu belakangan ini. Huff.

Rasanya banyak yang ingin Ibu lakukan, di tengah peran menjadi ibumu. Tapi tampaknya akhir-akhir ini jadi lupa mengenal diri. Memang yang satu ini belum pernah diajarkan sejak kecil rasa-rasanya, ya. Baru booming belakangan ini. Tapi ya biar bagaimanapun orang-orang dulu juga tanpa istilah tersebut bisa mengejar apa yang dia tuju. Tidak perlu istilah nampaknya, sudah menjelma dalam laku begitu saja. Aduh, ke mana sih arah bicara ibu ini, haha.

Kaisa, Ibu ingin jeda dulu mengetiknya. Sepertinya Ibu tidak kuat melanjutkan. Atau tidak mau karena sedang bohong pada diri sendiri dan terlalu takut meneruskannya? Entahlah. Padahal Ibu sengaja tidak mengikuti suatu acara demi menulis ini, lho. Insya Allah Ibu lanjutkan, ya. 

Salam Sayang, Ibu. 

Rabu, 20 Januari 2021

Kaisa 5 Bulan

Waktu berjalan; cepat maupun lambat.
Kaisa hari ini memasuki usia 5 bulan. Rasanya udah kayak bayi remaja.
5 bulan jadi ibu, banyak sekali yang terjadi *hua mulai merinding, jangan nangis plis wkwk
Lalu tetiba aku membayangkan masa Kaisa beneran beranjak remaja dan mungkin sudah ada bahasa gaul pada masanya ia tumbuh, wkwkwk ini akan jadi bahasa jadul yang gak kekinian sama sekali hahaha

Kaisa di usia ini belum bisa tengkurap. Kadang cemas, tapi alhamdulillah sedikit saja. Ingat tugas penting orang tua adalah percaya dulu sebelum anak bisa melakukannya. Jadi so far percaya penuh sama Kaisa. Baru kalau memang secara akademik sudah red flag atau menujunya (semoga saja tidak), kami insya Allah akan konsul lebih serius ke ahlinya. 

Ah tapi, ketimbang fokus pada hal yang belum Kaisa bisa. Kaisa sungguh tumbuh begitu menakjubkan. Hebat ya, usia sangat kanak-kanak ini kalau diamati betul, benar-benar menunjukkan keMahaBesaran Allah. 

Hal paling fenomenal akhir-akhir ini adalah: Kaisa bisa mundur-mundur. Bukan merangkak tentunya karena memang belum kapabilitasnya di usia segini dan kami pun bukan yang bangga kalau dia lompat milestone, karena mengamini bahwa lompat milestone justru perlu dicek lagi karena tiap milestone penting untuk fase tumbuh kembangnya. 

Terjauh selama ini adalah Ahad kemarin, ditaruh di kasur potongan di ruang tengah, dia mundur sampai karpet, lalu lantai (yang mana ubin dan orang dewasa mikirnya itu dingin), sampai lintasan kabel internet dan hampir masuk kamar umi. Hua terhura.

Kalau kata Hilmy, Kaisa kayak udah makin ngerti diajak bicara. Aih, jadi feeling guilty kalau aku bareng Kaisa tapi masih nyambi pegang hape.

Menjalani 5 bulan menjadi Ibu, jujur bukan hal mudah sih. Banyak sekali yang perlu kami sesuaikan, kami pahami, kami kendorkan standarnya. Terutama aku sebagai ibunya. Tapi tentu saja ayahnya juga berperan banyak. Banyak sekali. Terutama juga untuk kewarasan ibunya. wkwkwk lah malah kesini yah.

Lama ga nulis blog emang asa bikin kangen mengejawantahkan pikiran satu satu pelan pelan sampai yang ga kepikiran tadinya pun ikut pengen dituliskan.

Jadi kenal diri sendiri lagi, oh ternyata masalah utamanya tuh aku masih terlalu mudah merasa iri, misalnya (asli ga gampang jujur di pblic space, tapi aih blog mah saha nu maca yah, biarlah jadi kenangan pribadi). Jadi berusaha lebih buat bisa deep talk bareng pasangan. Yah, walau mungkin masih banyak juga yang belum dilakukan. Ah jangan sebut banyak lah, kayak ga menghargai diri sendiri aja. Masih ada yang belum dilakukan. Nah gitu lah, hehe.

Kaisa kalau bangun pagi suka senyum-senyum. Menyenangkan sekali.
Kaisa kalau ditengkurepin, sudah bisa angkat kepala tinggi sekali. Tangannya juga pijakannya sudah bukan ke siku, tapi telapak tangannya. Pun kadang sudah mau angkat tubuhnya kayak mau push up aja.
Kalau baca buku bareng Kaisa, dia merhatiin, kayak pahaaam gitu.
Kaisa suka menyemburkan ludah sekarang, kayaknya udah dari bulan lalu sih. Kami memberi nama perilakunya itu sebagai "habu habu". Soalnya bibirnya akan buka mulut dulu haaaa lalu brrrruuuuu, nyembur deh, haha.
Kaisa masih sua mempertemukan kedua tangannya di hadapan, mainin, ngeliatin.. Sebagaimana yang ada di checklist point buku tumbang anak.
Oh iya! Kaisa sudah punya mau sekarang. Sudah punya teritori. Jadi kan dia lagi suka ditengkurepin dan mundur-mundur gitu yah. Kalau diangkat-misal kayak kita mau shalat git uterus khawatir dia kecapean kalau tengkurep terus, atau area yang dia tempatin buat tengkurep mau dipake shalat-kadang jadi nangiiiis hihi lucu yah.
Kalau ganti popok kadang miring-miring gitu, jadi agak leulah baliinnya biar lurus dulu sejenak make popok dulu.
Oh ya ritme BAB-nya agak beda lagi nih dari sebelumnya. Belum ketauan polanya.
Hihi apa lagi yah.

Sebulan lagi Kaisa makan. Aku jujur agak degdegan sih. Bismillah yah naak.

Turbulensi menjadi ibu pastilah naik turun dan ada lagi ada lagi di setiap fase usia. Kadang usia segini udah kepikiran nanti gimana. Yah begitulah tipikal buibu kayak aku yang suka kebanyakan overthinking. Pelan-pelan mau dikurangin lah, bikin capek kalau ga terkontrol soalnya. Sebelum nikah kerasa, makin punya anak makin kerasa lagi.

Punya anak memang hidup akan bukan tentang diri sendiri lagi. (Naha jadi bahas ini yah, asa kepikiran tiba-tiba). Kami belajar banyak yang mungkin baru disadari ketika hening dan menulis. Tapi memang dasar manusia yang umumnya tidak dibiasakan menghargai diri sendiri sejak kecil. Melihat hal ini emang jujur, sulit. Masih banyakan fokus sama hal yang belum selesai atau belum terlaksana. Aih, jadi kepiiran tiba-tiba bikin buku anak berjudul Terima Kasih, Diriku.

Banyak sekali yang kalau dirasa-rasa, waktu seolah direnggut dan direbut (nangis loh nulisnya asli), padahal tanpa sadar nabung buat akhirat. Banyak sekali yang dirasa-rasa menimbulkan iri dan kesal, padahal mungkin sedang belajar mengenali kebutuhan diri dan belajar mengisi tangki cinta dengan beljar meminta bantuan. Banyak sekali adaptasinya. Bahkan aku ngerasa punya temen banget baca dua HL nya Teh @annisast seputaran baby blues dan adaptasi jadi ibu. 
Memang gak mudah.
Kalau ada yang mudah, ya gak semua orang seperti itu, jadi tidak apa-apa.

5 bulan jadi ibu, kadang ngerasa oh whyyyy kenapa yang harus dipelajarin banyak banget. Kenapa kenapa kenapa jadi ibu mesti tau ini itu. Kenapa jadi ibu ga pernah diajarin di jenjang sekolah manapun padahal ini lifeskill kehidupan semua perempuan mau berpendiidkan atau tidak. 
Kesel karena skill dalam berkehidupan ini lebih penting dari pelajaran fisikaku dulu; rasanya.
Seumur hidup pula.
Kenapa urusan berat badan aja bikin khawatir. Kenapa orang kadang menyederhanakan khawatirku. Kenapa orang mengkhawatirkan yang aku gakpapakan.
Memang jadi banyak hal terasa setelah punya anak sih. Bahkan khawatir akan friksi atau perbedaan pola asuh dan pendapat dengan orang tua, mertua, atau keluarga besar, dan orang-orang lainnya mulai terasa munculnya. Lebih terasa dibanding awal menikah.

Kadang kalau liat Kaisa, kepikiran juga bahwa rasanya ingin aku genggam waktu. Waktu masih mudah melihat senyum dia, selama apapun. Sebebas apapun. Menikmati waktu. Menikmati canda tawa dan bersama-sama. Waktu dia belum punya ingin yang dibuat-buat dan menjadikan tangis sebagai senjata. 
Emosia bayi yang natural, tanpa rasa ingin sesuatu yang disembunyikan sebagai alasan. Emosi yang jujur bahwa ia hanya ingin ditemani dan bersama-sama. Seolah kami orang paling penting seumur hidupnya, tak terganti dan tak tertukar sesiapapun.

Haduh, nangis lagi.

Senyum menyenangkan dan menenangkannya. Senyum pricelessnya yang melelehkan hati. Atau bahkan tawa renyahnya yang memikat hati sesiapa saja kecuali kalau sebelah lagi asik hapean #eh. 

Kadang ada perasaan gak rela mengetahui bahwa senyum tulusnya sewaktu-waktu akan berubah. Seiring berjalannya usia akan lebih dewasa dan bisa memilih untuk memberikannya pilih-pilih.

Tapi nak, Ibu harap kita selalu punya alasan untuk senyum tanpa alasan yah.(lah bingung yah)
Semoga kita selalu bisa meredam dan menenangkan, serumit apapun hari itu. 

Ibu lihat jam. Pukul 03.18. 5 bulan lalu Ibu baru sampai klinik tampaknya, berjalan kesusahan sembari menahan kontraksi; pesan cinta darimu untuk lahir ke dunia. 

Salam sayang, Ibu.

Jumat, 18 Desember 2020

Cerita Malem-malem

 Kalimat terbaik dari Ayah kemarin (eh sudah kemarin aja yah, udah ganti hari soalnya) untuk menenangkan istrinya yang rungsing dan kesal karena hal-hall gak berjalan sesuai rencana adalah;

"Tau gak waktu abi kamu nerima aku apa yang aku rasain?
Aku merasa sempurna."

Sudah hampir 4 bulan usia Kaisa dan sudah seusia itu pula saya jadi ibu. Kalau kata @annisast, adaptasi terbesar adalah saat menjadi ibu. Dan kagetku adalah beliau nulis beliau butuh 3 tahun untuk adaptasi. Tapi ya ga ada salahnya sih, mari apresiasi diri dan berterima kasih sudah mau berjuang melewati ini semua. Kamu hebat!

Kadang-kadang doa tuh udah kayak curhat aja deh sama Allah saking gak terstukturnya kata-kata, bingung mau merangkai jadi permintaan yang bagaimana. Segala pasrah sekaligus syuur, sekaligus minta diberikan petunjuk. Kadang-kadang kesel sedih ngadu juga nangis. Yah, apa weh.

Sudah hampir 4 bulan saya lahir dalam keadaan menjadi ibu. Perjalanan yang jujur gak mudah. Tapi sejuta kali orang akan bilang bahwa itu worth it, untuk mendapatkan pahala mulia di sisi Allah kalau saya bener ngejalaninya. 

Aih, berjuang nih nahan nangis, lagi gamau nangis mewek haha.

Sekaligus melanjutkan postingan sebelumny kali ya markipel yang bukan mari kita ngepel tapi mari kita rapel hahaha.

Kaisa di usia 3 bulan sudah bisa ketawa ngekek-kalau ga salah ini di usia 3 bulan. Sudah...hm, jujur lupa dan kumenyesal dulu tak langsung nulis.

3 ke 4 bulan sudah suka mempertemukan tangan di depan dada dan meihatnya dengan seksama. etawa alau liat foto nikah umi sama abi yang dipasang di ruang tengah. akhir-akhir ini aku coba rutin nidurin dia setelah isya, perjuangan banget sih so true-tapi kadang yg lebih berjuang adalah menenangkan diri sendiri untuk menerima kalau aku ketiduran dan ga bisa ngapa-ngapain malemnya. Kaisa belum sempurna belajar miring-miring tapi ya mari kita apresiasi miringnya yang sedikit itu, semoga lancar ya nak belajar tengkurepnya meski masih secimit banget agak miringnya! Hehehe.

3 ke 4 bulan ini belajar lebih mengenal diri sendiri lagi setelah sempat ada konflik sama pasangan. masalahnya sepele, tapi aku pun heran kenapa diriku bisa kayak gitu. kita belajar lagi ya sayangku, dear diri!

sebulan terakhir daftar banyak kelas onlen sampe munek rasanya wkwkwk. ikhtiar belajar, doain ya sahabat semua.

hmm apa lagi ya.

ukuran baju kaisa agak oversize. alhamdulilah target BB bulan ke3 tercapai walau menuju bulan ke-4 agak deg-degan juga karena ditimbang kasar pakai berat ibu/uti gendong dikurang bb penggendong baru naik se-ons, mohon doanya ya semua heuheu. di usia 3 bulan ini karena telah banyak baju yg naik kalau dia udah berubah-ubah posisi, kaisa dapat beasiswa baju dari Ayah, wkwkwk. aku beli ukuran 9 bulan, bahkan ada merk yg aku ga nemu celan apanjangnya akhirnya beli celana pendek (yg mana adanya) ukuran 1 tahun, yaaa baiklah, pantes aja sih menurutku wk.

perasaan dan mood ibu berusaha lebih jujur mengenali diri di masa-masa terakhir ini. jujur kadang merasa iri kalau suami bisa rapat dengan khidmat atau ngobrol/diskusi seru sama temen-temennya. Dunia ibu kadang ya hanya itu-itu aja. mungkin bosan ya, atau butuh sosialisasi. cuma kadang aku jadi merasa apa ada hal lain yang belum selesai dalam diriku?

hm, apa lagi ya.

oh ya beberapa kali bocor pakai clodi malam membuatku lebih mencoba gimana caranya biar gak bocor kalau bobok malam. Alhamdulillah pekan ini lebih baik.

btw, ada hal yang menarik dan aku suka sebenarnya dari suami. mau belajar tapi belum ahli nih, pelan-pelan ya. hal itu adalah menerima keadaan dan tidak menyesali yang telah berlalu. 

dari dulu aku selalu kesal kalau ketiduran, apalagi kalau udah merasa gak ngapa-ngapain karena ketiduran huhu. 

tapi suami gak gitu, dia selalu menerima, dan merasa cukup, let it flow dan let it go. ringan banget hatinya, makanya ga jadi beban. ini yang aku lagi pengen belajar banget. gimana agar bisa melihat semuanya dari kacamata syukur. alhamdulillah it's happened dan okay let's be better next. jadi fokus ke depan dan ga menyesali masa lalu. 

jujur aku struggle banget di sini heuheu.

karena bersama anak, ada ekspektasi yang mesti disesuaikan, di adjust, diterima bukan berarti mukul mundur diri, tapi yaudah ayo melatih hati agar ringan dan menerima segala kondisi baik, belajar reflek untuk bersyukur.

karena bisa jadi bukan karena gak bersyukur, tapi gimana biar syukur itu jadi reflek, jadi kebiasaan baik.

hm apa lagi ya.

oh ya akhir-akhir ini kayak rame banget temen-temen main saham, bahas naik turunnya.sebenernya udah dari lama sih, cuman mungkin aku sama hilmy baru bahas aja. cuman, berdasar hal-hal yang kami pelajari, amini, dan teladani dari ayah kami, kami gak mengambil jalan investasi di saham untuk mengelola keuangan. dengan beberap aobrolan finansial akhir-akhir ini kadang mikir juga, rumah itu kapan ya bisa diperoleh, apalagi kalau udah mikir gimana nanti kondisi keluarga, apakah ada adik yang perlu didukung biaya sekolahnya, keluarga yang perlu dibantu perihal finansialnya, dsb. kadang kayak wondering gitu nanti bakal gimana ya.

kadang satu sama lain di antara kita saling ngingetin soal ada Allah, sholawatin kalau lagi ragu liat rumah-rumah gitu, atau ya menenangkan satu sama lain biar ga terlalu dipikir-dipikir amat. well, perihal finansial, menabung, mengelola, ini memang kadang dari matematika manusia kayak waw besar ya, jauh ya. tapi kan ada matematika Allah :")
btw, soal saling ngingetin ada Allah ini baru kepikir pas nulis ini loh. aku jadi inget momen-momen di mana Hilmy yang wondering atau mikir uangnya dari mana terus aku kayak enteng banget bilang, ada Allah atau bilang, udah solawatin dulu aja (sampe lucu bgt pas hilmy ada acara di sentul dan liat rumah-rumah bagus terus chat aku laporan liat rumah bagus dan bilang, udah aku sholawatin). dan ada juga momen aku menelisik keadaan dan perkiraan kebutuhan keluarga lalu aku yang kepikiraaan terus seharian, lalu hilmy yang nenangin dan bilang udah ada Allah ga usah terlalu dipikirin.

jadi ingat tulisan mbak Lia iip (yang aku gagal lanjut transcity wkwk), nulis ulang kata-kata ust. Syatori (ya Allah kujadi kangen jogjaaaa),

"Ya Allah jadikanlah mudah urusan duniaku karena aku tidak mau pusing karenanya." kata beliau ini doa yang diajarin Ust. Syatori supaya bisa fokus ngejar akhirat :")

nulis apa lagi, ya...

Sampai sini dulu aja kali ya. Senang juga ya nulis, jadi ngerinci satu-satu meski mungkin belum banyak. Terima kasih blog :")

Awalnya wondering nulis pas menyadari kalau murottal juz 4 sebentar lagi akan ke Juz 5 :") 
Masya Allah :")

Sabtu, 31 Oktober 2020

Ibu-Anak; Anak jadi Ibu-dan Punya Anak


Bun, kalau saat hancur ku disayang⁣
⁣Apalagi saat ku jadi juara⁣
Saat tak tahu arah kau di sana⁣
Menjadi gagah saat ku tak bisa

 Lagu ini, lagi.

Tapi kali ini bukan tentang komentarnya. Tentang liriknya.

Entah kenapa dua hari ini bisa nangis kalau dengernya. Kadang lagi merasa rapuh sekali jadi diri sekarang ini. Auto dalem hati, lu kok cerita di sini yg sedih mulu sih fit? Kemarin mau nulis hal yang ga sedih tapi ya ketiduran lah apa lah. Tapi intinya, seperti media sosial yang sering kalian lihat lainnya, tidak ada media sosial yang bisa menunjukan kehidupan seseorang secara persis.

Masih nangis detik nulis ini.
Mulai dari Ummi.
Yang cintanya utuh setengah mati. Yang kuatnya tidak pernah bisa dikalahkan siapapun di rumah. Yang baiknya aku yakin akan memesona siapa saja.
Di buku ungu yang aku baca (males ngambil buat ulis ulang judulnya karena panjang dan bahasa inggris dan ga apal), di bab bab awal ada yang judulnya, Ma, Bagaimana Engkau Melakukannya? Berkisah tentang seorang anak yang udah jadi ibu dan dia masih sering wondering dan bertanya (aku bayanginya bertanya mengarah ke langit) "Ma, bagaimana dulu kau melakukannya?" setiap si ibu ini rungsing dengan kerjaan rumah. Meanwhile dulu ibunya adalah ibu dengan anak (kalau ga salah) berjumlah sebelas. Yah, kebayang lah ya. Eh salah, gak kebayang ding.

25 tahun hidup, jelas sering ngerepotin ummi. mau masih piyik ga bisa apa-apa, kecil yang mungkin belum paham kenapa diminta ini itu sama orang tua, beranjak remaja yang moodnya labil sebagaimana abege pada umumnya, bahkan nikah dan punya anak pun, masih sangat bergantung sama ummi.

Kalau sekarang beredar akun akun atau platform platform tentang kesehatan mental ibu, aku bahkan bertanya ke diriku sendiri danpernah tanya padanya, apakah ummi punya waktu buat diri sendiri? 

Kalau aku kesel, kalau aku runyam, kalau aku merasa aku ga guna dan ga produktif, aku jadi kembali bertanya juga seperti kalimat tadi. Apa ummi pernah begini? Misal aku kesal sama suami, mersa capek dan pengen nyerah ngurus anak, ingin diperhatikan dan diakui, merasa malas suatu waktu karena ingin mengerjakan hal lain, aku bertanya, ummi akan apa kalau di posisi ini?

Aih, ya Allah :"

Sedikit ku jelaskan tentang ku dan kamu⁣
Agar seisi dunia tau⁣
Keras kepala ku sama denganmu⁣
Cara ku marah cara ku tersenyum⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Aku masih ada sampai disini⁣
Melihatmu kuat setengah mati⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Bun aku masih tak mengerti banyak hal⁣
Semua nya berenang di kepala⁣
Dan kau dan semua yang kau tau tentangnya

Terlalu banyak kalau aku deskripsikan satu-satu. Aku takut tangisnya ga selesai karena tulisan ini belum selesai.



Kedua tentang Kaisa.
Usia dua bulan mungkin yang selama ini rasanya udah banyak dipelajari, tentang rutinitas nyuci popok, mandiin, ilmu nyusuin, ilmu gendong dan nyari gendongan, ilmu perclodian, dikit-dikit bocoran tentng mpasi, perkembangan motorik fisik dll dsb. Bahkan buat aku, nyari baju dia di marketplace aja butuh ilmu dan kesabaran panjang. Mohon maaf kalau lebay.

Nyatanya masih jauh yang harus dipelajari lagi. *tariknafaspanjang
Kadang kalau merasa gagal, merasa kesal, merasa kecewa, aku bahkan ada waktu-waktu pengen menyiksa diri. Kadang merasa seburuk itu aku jadi orang. Kadang kalau kecapean mudah tersulut emosi.

Padahal bu, anaknya baru dua bulan.

Dulu pas masih newborn banget dan akunya fluktuatif, aku pengen dia gedean dikit udah bisa paham diajak berkomunikasi. Sekarang juga kayak udah ngerti sih, tapi maksudku tadi kaya yang udah ngerti beneran paham gitu.

Sekarang, kayak mau gini terus rasanya.
Kayak belum siap menghadapi anak ini tumbuh dan menghadapi milestone yang rasanya aku belum punya ilmu di sana, belum menambah stok sabar di sana, dan kok kayak-kayaknya ga kuat duluan :(

ya ya kalian benar bahwa ini semua ketakutan di kepala aja, kzl kan yha.

semakin belajar tentang  milestone tahap perkembangan anak, belajar pengasuhan di kelas pelatihan keluarga kita (kalau ini udah tertarik dari belom nikah sih), jadi semakin paham ramainya dunia per-orang tua-an dan masya Allah :")

speechless adang sampe gatau mau ngomong apa terus nyerocos aja di mari.

Tapi hebatnya, ada Allah yang bisa kapan aja kita minta kekuatan, kita minta kesabaran.

:")

Halo Nak, kita siap menghadapi banyak langkah kehidupan di depan ya :")

*gatau cara mengakhirinya, udah basah lengket ini muka nangis dari tadi. bahkan refleksi liriknya terhadap kehidupanku belum ada yang ditulis sepeserpun

Kamis, 22 Oktober 2020

Cerita Malem-Malem ft. Anakku - Vina Panduwinata


Semalam nangis denger ini sambil bobokin Kaisa. Dan tentu saja nangis dong hiks. Ingat awal-awal adaptasinya berasa lamaaaaa banget padahal usia Kaisa juga masih seiprit. Padahal nanti kalau udah berjalan bahkan Kaisa makin besar juga mungkin akan kerasa cepet bahkan gak berasa. Gak kebayang kalau dia sudah makin besar, remaja, bahkan dewasa :"

Lalu nangiss juga karena kebayang dan keinget Ummi. Dulu aku masih kecil, ditimang-timang. Lalu beranjak jadi anak kecil, remaja, dewasa. Tentu banyak sekali dalam perkembangannya anak tuh bikin kesel, bikin sedih orang tuanya, dan lain sebagainya. Gak kebayang gimana ya emosi ortu terutama ibu tuh keaduk-aduk sepanjang perjalanan jadi orang tua masya Allah :""" auto berasa banyak dosa sampai usia saat ini T^T

Bismillah, pengen mulai esok (which means hari ini) dengan lebih baik ke orang tua, dan detik itu juga langsung baper liat Kaisa yang sekarang masih kecil banget dan bergantung sepenuhnyaaa penuh sama orang di sekelillingnya. Kaisa yang gak ngelawan dibopong mandi meski ayah ibunya aja bisa jadi gak mandi dua kali sehari, Kaisa yang gak ngelawan diganti popok. Digendong bopong bawa ke sana ke sini. Bener-bener utuh pasrah sama orang sekitar. Kelak dia bisa menjelajah sendiri, bisa nurut bahkan bisa menolak, huhu. Semoga Allah mampukan Ibu Ayah mengisi setiap detik hidupmu dengan ikhtiar terbaik yang selalu sesuai dengan maunya Allah ya Nak, semoga Allah ridha <3


-semalam so suprisingly ayah juga dataang pas nidurin Kaisa dan tiba-tiba bijak gitu ayo Kaisa tidur udah malam (padahal sebelumnya doi bobo malem bahkan pagi), ibu ikut ketiduran dan hari ini alhamdulillah kebangun sekitar jam setengah dua, bisa nana nini dikit lah, salah satunya nulis ini :") soale kadang bahkan sering deng syulit mau nulis blog begini :"

Selasa, 20 Oktober 2020

Kaisa 2 Bulan

Hari ini Kaisa dua bulan.
Kalau dibilang waktu berjalan cepat. Ya cepet sih ternyata ya. Udah hari ini aja. Tapi kalau dibilang berasa, ya berasa banget jujur hahaha.

Alhamdulillah tsumma alhamdulillah.

Berjarak sebulan dari tulisan satu bulan kemarin. Rasanya pengen baca ulang sih sebenarnya, tapi nantidulu lah. Biar tulisan ini original dari apa yang terngiang dan terlintas di kepala saja. Satu bulan berlalu, rasanya Kaisa sudah berkembang banyak. Satu yang paling terasa adalah dia sangat mudah dan senang senyum saat ini. Walaupun ya gak mudah mudah banget sampe yang dipancing dikit dan diminta senyum langsung senyum ((yakali langsung paham)). Tapi udah sering senyum gitu. Sampe kata orang-orang gak nguatin senyumnya. 

Kalau Fatih bilang, lucu banget. Entah udah kesekian kali ke berapa dia bilang gitu. Sampai kadang saking gemesnya, dia cubit pipi umi pas umi mangku Kaisa. 

Kalau kata Abi, lucu banget ya senyum yang belum punya gigi gitu. 
Jadi mikir juga sih, apa emang kalau kakek nenek yang udah ga punya gigi juga senyumnya gemesin ya? haha.

Kaisa juga udah punya liur, kadang menggelembung di antara kedua bibirnya. Kadang ngeces juga. Kaisa juga udah bisa genggam dan narik baju atau kain. Kalau ditengkurepin atau tummy time, ngangkat kepalanya makin tinggi dan udah mulai betah lebih lama dari dulu. Masya Allah. Kaisa juga makin keliatan kalau dia suka memperhatikan percakapan yang terjadi di sekitarnya. Pun saat kami mendapat telepon yang cukup panjang. Kalau kata Ayahnya, kayaknya dia suka suasana ramai deh. Gitu katanya abis mengamati waktu Kaisa main ke rumah depan tempat Uti Akungnya. 

Ibu juga punya prestasi haha. Ibu makin biasa pake clodi dan belajar-belajar seputar itu. Thanks to Mbak Ainun dan timnya di umaiyo yang ngadain kelas clodi dan mau aku ributin nanya ini itu bahkan kayaknya dari sebelum lahiran haha. Bismillah semoga Allah kuatin ke depannya buat perclodian ini.

Hm, apa lagi ya.
Sebulan terakhir juga sempet ada momen nangis parah sama Ayah. Haha. Tapi habis itu masya Allah leganya. 

Materi-materi pelatihan di Keluarga Kita berikut sharing dari peserta-peserta lain makin menyadarkan aku tentang betapa masya Allahnya tantangan yang ada di setiap fase tumbuh kembang anak, fase berkeluarga, dan lain sebagainya. Masya Allah di sini aku artikan sebagai apa ya, semacam, dari hubungan pernikahan itu muncul simpul hubungan yang banyaak sekali. Penyesuaian, hubungan antara istri dan suami, ayah dan ibu, anak dan masing-masing kedua orang tua, mertua menantu, kakak dan adik, dan lain sebagainya. Tapi biar bagaimanapun, mental belajar dan mengalahkan ego tentu menjadi prioritas demi nyamannya hidup bersama dan meraih surgaNya bersama-sama kelak. Aamiin.

Oh iya jadi kepikiran juga bikin buku tentang pengasuhan dan lain sebagainya itu. Tapi kadang eh, kepikrin juga, lah ini ibu anak satu dan masih bayi, pengalaman apa ya yang bisa merangkumnya menjadi kara yang istimewa. Kita lihat saja ya, semoga Allah kuatkan dan mampukan.

Oh ya sebulan ke belakang, 2 kali mati lampu malam-malam. Yang satu bikin jadi ganti popoknya ngungsi deh. 

Sampai sini dulu mungkin ya, salam peluk teman-teman onlenqu. Semoga memancarkan oksitosin ya, haha. 

20 10 20
23.53

Update 22.10.20, 03.05

Ayah menulis juga tentang dua bulannya Kaisa dan ini perfectly well. Ayah nulisnya pagi sih, aku malam campuran lelah dan mengejar agar belum gnti hari *alasan. 

Yap betul, Kaisa sudah gemar bercerita dan senang senyum, walau kata dokter anak, usia 2 bulan memang senyum sama semua orang. Nanti di atas empat, dia sudah mulai bisa pilih-pilih, bisa senyumnya sama yang dekat aja. Tapi kami berharap Kaisa bisa jadi anak yang murah senyum dan senang senyum pada siapa saja :")

Dan betul, tiba-tiba ada suara kayak ngemut gitu (bahkan aku baru sadar kalau ngemut juga ada suaranya). Ternyata dia sudah mulai coba icip-icip masukin jarinya ke mulut. Kalau dulu-dulu biasanya masukin tangan tanda lapar, ini jari. APakah sudah masuk fase oral? Kayaknya sih mestinya belum, entahlah.

Oh ya di usia 2 bulan ini juga ada fase-fase aku deg-degan banget soal BB Kaisa, bahkan sampai nangis. Sampai akhirnya lepas dengan mengusahakan apa yang saat ini bisa diusahakan seperti usahakan kasih hind milk lebih banyak. Tapi di awal-awal aku maksain banget (mungkin karena panik ya) Kaisanya muntah ya Allah sedih gak sih T^T. Kayaknya karena aku gak tenang juga. Finally setelah cobin sehari kasih hind milk lebih banya dengan aku yang sudah lebih tenang, aku balik lagi ke ritme awal. Sambil beberapa kali ini nampung dulu dengan harapan dari awal udah dapet hind milk. Bismillah, kita lihat timbangan besok pas imunisasi ya Nak. Meskipun kemaren sampe pinjem timbangan posyandu ampe bawa ke rumah. Gini ya rasanya khawatir BB ya Allaah, padahal usia masih 2 bulan. Semoga ke depannya ga ada gini-ginian lagi. Sambil kencengin doanya :"


Kamis, 15 Oktober 2020

Kaisa Nanti yang Sudah Punya Ingin


 
Senin kemarin, dua kali nangis abis shalat. Dhuha sama ashar apa ya, pas liat Kaisa.
Pas abis Dhuha ingat suatu puisi dari buku yang sedang kubaca. Tentang bagaimana pekerjaan bisa menunggu, sementara penulisnya terlalu sibuk untuk mengamati perkembangan putrinya setiap harinya. Pas abis ashar, karena di tengah sesi pelatihan keluarga kita, mayoritas yang sharing itu orang tua yang anaknya lebih dari satu lah, yang anaknya udah besar, balita, intinya bukan yang bayik bayik kayak Kaisa gini.

Pas itu habis shalat banget. Dan Kaisa bobok di kasur sebelah kanan saya. Di situ aku merasa, wah anakku kelak akan bertumbuh besar. Kelak akan beranjak dewasa. Kelak akan punya keinginan, kelak akan bisa menolak, kelak akan bisa memilih. Bayi yang sekarang masih belum punya ingin yang bisa disampaikan, nanti insya Allah bisa ngoceh macam-macam. Menyampaikan apa yang menjadi keinginanya, menanyakan apa yang menjadi pertanyaannya, menolak apa yang tidak diinginkannya, menerima dan bersenandung riang karena senang dengan apa yang diminta ayah ibunya untuk dilakukan. 

Huhu baper deh rasanya kemarin tuh ampe acara nangis-nangis segala.

Menjadi orang tua dan mengasuh anak yang masih bayi di tahapan awal-awal gini tuh berasaaaa banget. Cuma kalau lagi fase akyak gini jadi terasa hal-hal yah jangan cepet-cepet gedenya atau kayak duh momen dia masih polos dn kayak gini tuh pengen dikekep teruuus karena masih ibunya khawatir belum siap menghadapi fase selanjutnya. Tapi eh, kan ada Allah.

Heuheu, abis solat ini meskipun kelas juga masih jalan, langsung deh brb motoin Kaisa, hihi. Padahal biasanya langsung ke kelas ga mau ketinggalan stu kata pun. 
Manusia, ya :")


Senin, 05 Oktober 2020

Sedari Pagi: Ingin Menulis Saja

Rupanya 1,5 bulan belum cukup untuk serta merta senantiasa beradaptasi dengan semua ini.Masih kadang nangis,masih suka bingung, masih bertanya-tanya ini itu bagaimana, juga soal mengenal diri yang kok kayak tiada akhir ya, ckckck.

 Let's describe this feeling another way
disclaimer: yng saya rasakan hari-hari belakangan ini
  1. Saya kecewa karena merasa tidak diperhatikan
  2. Saya sedih karena terganggu saat sesi praktek di kelas online
  3. Saya bingung dengan apa yang menjadi kebutuhan diri saya
  4. Saya capek
  5. Saya pengen nangis
  6. Saya tidak tahu mau jadi apa saya ke depannya
  7. Saya bingung dengan masa depan
  8. Saya kecewa dengan diri saya sendiri
  9. Saya khawatir disalahkan dalam pengasuhan anak
  10. Saya takut dan overthinking dengan komentar-komentar terhadap anak saya karena didikan saya
  11. Saya kesal dengan stigma dan label bahwa pengasuhan seolah-olah tanggung jawab ibu padahal itu tanggung jawab bersama
  12. Saya takut disalahkan dalam hal semisal mandi, makan, dan tumbuh kembang anak yang hanya menyudutkan saya. Padahal haloooo, pengasuhan itu tanggung jawab bersama kedua orang tuanya
  13. Saya takut ditinggalkan
  14. Saya takut anak saya punya kenangan buruk di alam bawah sadarnya karena perlakuan yang tanpa sengaja saya lakukan yang kecilnamun tanpa sadar itu berdampak
  15. Saya iri dengan suami atas waktu luang yang dimilikinya
  16. Saya kesal kalau suami main game kelamaan
  17. Saya malu sama ibu saya, kok hebat banget tulus ikhlasnya, saya pengen bisa kayak gitu
  18. Saya takut diabaikan
  19. Saya takut menyampaikan apa yang saya butuhkan meski sudah belajar menyampaikanya terus dan terus
  20. Saya kesal jika orang yang saya sayang ngobrol dan asik banget lamaaa sama lingkaran temannya dengan volume keras dan ketawa-tawa yang unfaedah dan malam-malam
  21. Saya kadang merasa tidak nyaman karena sakit pinggang kalo nunduk-nunduk angkat gendong atau pegal di punggung dan pundak
  22. Saya gemes kalau tau orang-orang berpotensi besar kelamaan main gamenya dan sampai menggeser hal produktif lain. Ditambah, saya lama kelamaan jadi itu dengan waktu luangnya.

Apa yang saya inginkan?
disclaimer: btw, yang saya tulis saya ingin apa bukan berarti ga dapat ya. Ya pengen nulis aja lah 
  1. Saya dipeluk tiap hari
  2. Saya diperhatikan
  3. Saya menikmati waktu berharga bersama orang yang saya sayang, dan juga sebaliknya
  4. Saya bahagia
  5. Saya ikut kelas tanpa gangguan
  6. Sesekali dapet popok yang ga ada pupnya biar gampang tinggal dibilas
  7. Saya mengenal diri saya
  8. Saya tahu kebutuhan diri saya
  9. Saya cukup
  10. Saya dicintai
  11. Saya diberi hadiah kejutan
  12. Saya rileks
  13. Saya tidak overthinking (mau nulis lawannya tapi gatau apa sih lawan overthinking)
  14. Saya ingin liburan tanpa pikiran kerjaan
  15. Saya ingin pacaran lagi sama suami haha
  16. Kami sepasang orang tua yang rajin menimba ilmu mempersiapkan bekal untuk pengasuhan
  17. Saya bisa tenang dan tidak terburu dalam shalat dan berdoa
  18. Saya bisa shalat khusyuk
  19. Saya ingin bisa ngobrol seru
  20. Saya ditemani
  21. Saya dihargai dengan cara waktu yang saya gunakan untuk perintilan urusan anak dan rumah tangga ini orang lain yang punya waktu luang gunakan dengan hal bermanfaat atau produktif. Jika tidak membuat sesuatu, bisa dengan belajar, mengaji, membaca buku, atau hal-hal lain yang sungguh sebenarnya ingin saya lakukan namun terhalang hal-hal tadi itu.

Apa yang saya syukuri?
  1. Alhamdulillah kami sehat sekeluarga
  2. Alhamdulillah masih bisa makan, masih ada pekerjaan
  3. Alhamdulillah Kaisa sehat (this so spesific)
  4. Alhamdulillah keluarga rukun
  5. Alhamdulillah bisa gantian jagain Kaisa saat mau makan, shalat, ke toilet
  6. Alhamdulillah masih bisa konek ke internet, bisa cari info, kirim kabar, belajar
  7. Alhamdulillah masih hari-hari cuti, sekarang latihan manage waktunya
  8. Alhamdulillah suami wfh, bisa nemenin di sela-sela kerjanya juga
  9. Alhamdulillah masih terbantu banyak oleh Ummi :"
  10. Alhamdulillah masih bisa bernaung di rumah orang tua
  11. Alhamdulillah ada laptop bisa nulis ini
  12. Alhamdulillah meski rasanya masih patah-patah, belajar terus komunikasi sama Allah
  13. Alhamdulillah asi lancar
  14. Alhamdulillah ada mesin cuci, ada bantuan nyetrika belakangan
  15. Alhamdulillah ada gendongan stretchy wrap
  16. Alhamdulillah Ayah Kaisa suka bacain buku
  17. Alhamdulillah gumaman Kaisa makin banyak
  18. Alhamdulillah ada grup belajar nyusuin, belajar clodi
  19. Alhamdulillah umi kadang-kadang beliin kue
  20. Alhamdulillah dikelilingi orang baik
  21. Alhamdulillah bisa bangun pagi walau masih cari pola agar bisa comeback again bangunnya lebih pagi
  22. Alhamdulillah Allah kasih kesempatan belajar secara online
  23. Alhamdulillah Allah kasih waktu nulis ini
  24. Alhamdulillah Allah titipkan Kaisa pada kami, Allah mudahkan proses persalinannya dan Allah takdirkan ia lahir dengan sehat dan selamat
  25. Alhamdulillah Ayah baik mau kasih beasiswa buat ibuk
Tadinya mau nulis pagi, sambil minum coklat hangat dan makan roti. Tapi tentu saja tidak bisa nyambi ketiga hal itu. Coklat hanya tersisa sedikit, makan roti butuh tangan dan jadi agak susah ngetik. Qadarullah Allah kasih waktu malam ini. Nulis apa saja tapa rencana. Mengalir begitu aja di teks box kosong blog ini. Berusaha (banget rupanya!) menuliskan lebih banyak syukur daripada meleburkan apa yang dirasakan belakangan ini. Atas ketidaksempurnaan diri, terima kasih. Atas tangis senguk yang hebat semalam tadi, terima kasih. Atas kesal, tidak berdaya, perasaan terbebani yang pernah terasa, terima kasih. Atas kecewa yang pernah ada terima kasih. Atas salah tangkap, terima kasih. Atas ketidakberdayaan diri dan perasaan ingin ngomong tapi segan lalu meledak bum dalam hati, terima kasih. Atas rasa sayang yang besaaaar sekali, terima kasih. Atas capek dan lelah dan kesal, dan iri dan pasrah, terima kasih. Kamu hebat, dear Fitri. Semua berproses dan berjalan. Bismillah, pelan-pelan, bisa ya.

Cerita
365 hari jadi istri. 
46 hari jadi ibu.

365 hari jadi istri. Terima kasih Hilmy, sudah membersamai sejauh ini. Sudah bersabar dengan segala drama kehidupanku yang belum selesai sampai sekarang. Tolong bantu aku menyelesaikan dan menguraikannya pelan-pelan ya. Ayo kita belajar jadi lebih baik yuk. Pelan-pelan belajar, ya.

46 hari jadi ibu. Terima kasih Kaisa, sudah mau bersabar atas ibu yang jauh dari sempurna ini. Tentu saja perlu super banyak ilmu membersamaimu pada fase-fase kehidupan berikutnya. Ibu tidak mau menyesal, bantu ibu ya Nak. Mudahkan kami ya Nak. 

Minggu, 27 September 2020

A Little Hello

Halo .
Malam ini lelah sekali, ya seperti malam-malam kemarin juga, sih.

Tapi dua kesayangan sudah tidur. Dan kalau bukan hari-hari baru menjadi ibu dengan segala adaptasinya, barangkali saya enggak akan ngalah-ngalahin istirahat dengan duduk di depan laptop detik ini. Karena hal ini, rasanya, mahal sekali. Heu.

Jadi apa memang yang akan ditulis?
Entah, entah apa. Dua draft baru-baru ini ada di sudut daftar tulisan. Bukan tentang hari-hari sih. Tapi belum jadi jadi juga untuk diselesaikan. 
Jadi, mulai dari mana kita?

Waktu buka laptop, masih ada hasil search lagu yang diputar di opening kelas online yang malam kemarin kuikuti. Terus baca satu dua liriknya dan meraba-raba maknanya, jadi pengen dengerin. Jalan hampir setengah memutuskan play ulang dair awal sambil mencermati liriknya. Dengan segala kemampuan bahasa inggrisku yang terbatas, nangis dong baca liriknya pas lagunya diputer :""""""""""""""""""""""""""""""" heu, dasar aku.

Hari ini tadi pagi ikut acara remaja yang diselenggarain secara online. Saya bukan panitia bertugas tapi ya panitia belakang layar juga sih. Alhamdulillah meski gak in charge banget, selesai juga meski peranku gak maksimal.

Siangnya, imunisasi dan tindik Kaisa. 
Perjalanan, dengan segala drmaanya mulai dari siap-siap, makan siang, capek, dsb, rasanya haru waktu liat Kaisa begitu anteng sepanjang perjalanan, sepanjang nunggu, sampai saat disuntik imunisasi dia gak nangis sama sekali. Tindik pun nangis karena kaget aja. Bentar, sebentar banget. Pinter banget anak ibu :"

Perjalanan pergi ngantuk rasanya, begitu juga pulangnya. Di perjalanan pergi sempet kerasa, kangen eh pergi berdua ama ayah aja, haha.

Sore berlalu, ashar, mandiin Kaisa, maghrib, makan, isya, nidurin kaisa, janjian gantian jagain kaisa sama ayah Kaisanya agak susah tidur awalnya.Sekarng alhamdulillah sudah tidur. 

Badan saya dan Ayah Kaisa pegel-pegel. Sejak punya anak dan gendong-gendong, berasa banget emang punggung pinggang. Semoga Allah mampukan kami dan kuatkan kamiii aamiin. Ayah akhirnya memutuskan pergi tidur lebih dulu. Saya masih punya kerjaan sebenernya. Tapi setelah menyelesaikan beberapa saja, saya memutuskan yang lain entar dulu deh. Padahal badan capek juga ini sebenernya pengen rebahan.

Ya Allah, ini tulisan ga ada intinya amat yak. Kenapa sih kalian masih tahan baca? Haha.

Perjalanan menjadi ibu baru seper sekian tentu saja. Masih ada hari-hari berikutnya yang tentu saja akan banyakpembelajaran. Semoga Allah senantiasa beri kami kesabaran :")

Hmm apa lagi ya.
Kemarin ikut acara, semacam acara jeda buat mama gitu. Walaupun pas acara inti say amalah gabisa ikut karena Kaisa masih melek dan masih mau nemplok. Sampeeee ternyata baju saya basah oleh ompolnya tapi bukan dari rembes, halah. Yha pokoknya gitu sih, Sedih juga ga bisa ikut sesi inti, tapi alhamdulillah hati entah gimana berasa lapang dan gak kesel. Kayak udah pasrah aja kali ya.

Agenda ini adalah agenda kolaborsi dari aimi (komunitas menyusui), jabodetabek menggendong (komunitas menggendong), temanlahiran, dan Keluarga Kita. Pada satu titik waktu kelas, saya tetiba mikir. Kok kayaknya saya tertarik banget sama pengasuhan ya. Dari dulu kayaknya, sebelum nikah. Ikut sesi bicara Rangkul Depok (Keluarga Kita) pun udah sedari 2018, sebelum nikah. Terus pas persiapan lahiran dan ikut kelas nyusuin, makin amazing sama ilmu seputar menyusui. Sau dua disaranin Kak Shanin soal akun gendong juga amaze. Sebelumnya juga pernah ikutin iglive temanlahiran dan pas kepo background Mbak Prita amaze juga aku, ternyata backgroundnya bukan bidan dan semacamnya. Tapi karena pengen semua orang punya proses persalinan yang menyenangkan, jadi memperdalam ilmu seputar persalinan, yoga, menyusui, dan pas ngisi kemarin juga ilmunya kalo ga salah ilmu internasional gitu, healing dan relaksasi (bahasaku karena lupa istilahnya apa kemarin), sampai bikin temanlahiran.

Terus jadi mikir, akan ada jalan apa ya dari hal ini? Ya kalau ada sih, semoga aja ada sih. Penasaran juga...

Sepanjang sekolah, sepanjang hidup bahkan. Gak ada materi tentang bagaimana menjadi ibu, terutama persiapan mental setelahnya rupanya. Kenapa saya sebut soal mental? Karena ini penting banget rupanyah. Di atas semua ilmu lainnya maksudku. Oh baik, mundur dikit ke pernikahan. Sepanjang sekolah formal juga ga ada ilmu tentang kehidupan pernikahan. Bab nikah di pelajaran Fiqih aja aku engga tau apakah sekolah umum juga ada. Tapi yha itu formalitas aja sihkayak syarat, rukun, dalil, hukum, gitu-gitu aja. 

Setelah menikah, banyak yang kemudian disadari mesti dipelajari sebelumnya. Sedih amat yak kalau cuma bisa jadi generasi google yang dikit-dikit nanya ke doi. Kemudian hamil, apa ada pelajaran soal gimana kalau hamil, gimana mengusahakan bisa lahir normal, gerakan apa, amalan apa, dan segala hal lainnya yang penting semasa kehamilan.

Tidak ada. Sedih banget yak, ini ilmu yang insya Allah semua orang akan jalani, tapi gak dipersiapkan dalam kurikulum kita. 

Alhamdulillah kemudian ikut kelas nyusuin, yang sangat membantu dalam menjalani proses menyusui yang rupanya ya Allah ini mah perlu banget ilmuuu. Lalu kalau grup-grup ada yang bahas toilet training, anaknya jatoh dari kasur, manajemen popok, asi, stimulus anak, berasa banyak bgt si yang mesti dipelajarin heuheuheu. MPASI juga deg-degan, padahal Kaisanya baru 40 hari ehehe. Tapi ya deg-degan juga sih liat buibu yang mikirin BB anaknya gitu. Terus kemarin sekali nyoba ikut kelas MPASI online gitu, wahhh ini sih iya ibu butuh banget ilmu. Kapan hari baca akun soal SIDS (meninggal mendadak karena posisi tidur bayi-yang aku tangkep), tummy time, 0 time screen time buat bayi sapai usia 2 tahun, dsb dsb, ga boleh pake sarung tangan dan kaki terus-terusan, dsb dsb.

its like ya Allah ko info kayak gini tuh ga semua orang tau ya.

Dan paling super penting mental. Luar biasa kadang aku pun masih fluktuatif kadang emosinya. Beuh apalagi awal-awal jadi ibu :")

Ya iya sih ilmu gini bisa seiring berjalanya waktu, tapi kayaknya seindonesa raya aja mungkin lebih banyak orang yang tau rumus lingkaran ketimbang ilmu dasar penting yang akan berpengruh pada pengasuhan anak :"

Gemes aja. 

yang mana pengasuhan anak itu berlangsung seumur hidupnya si anak dan berpengaruh pada kehidupannya sejak bayi:")

eh ini tulisan mau dibawa kemana sih sebenernya.

kadang belajar ini semua kayak tertairk gitu. kita lihat saja. 
kadang mikir juga, ya semua ibu kayaknya tertarik sih fit, gak elo aja. 
cuma kadang ngerasa aja sih kayak ada energi yang besar gitu kalau tau sesuatu dan mau nyampein lagi. semisal ada temen udah low expectation gitu anaknya bisa asi eksklusif, rasanya langsung pengen encourage dia buat gak nyerah dan berjuang teruuuus.

ah jadi inget ngomongin pengasuhan anak di asrama dulu.

kadnag sekarang jadi lucu sendiri. aku merasa dulu belajar dan tertarik banget sama hal-hal parenting. sempet ikut sekolah calon ibu waktu masih mahasiswa. tapi beneran pas ngejalaninya kerasa banget. WOY GAK ADA YANG NGASIH TAU AKU KALAU JADI IBU TUH PERASAAN AWAL DAN ADAPTASINYA KEK GINI!!!
//ya mungkin lo aja kali fit yang lebay -__________-
haha kzl kan.
kadang ku mikir, apa aku yang berlebihan dan kelamaan adaptasinya. apa aku ini aneh dan laen sendiri, dsb lainnya. 
kadang masih kesel sama bayi rasanya pengen ayo dong udah ngerti, ibu capek, tidur ya tolong, atau kesel sama ayah kok kayaknya ibu mulu, atau apa gitulah. 
ya gitu perempuan. oh salah, ya gitu aku deh, tar dibilang blaming semua perempuan kan repot juga aku. kadang rasanya pengen balik ke anak belum lahir, atau pas belum nikah.

tapi waktu bergerak dan menjadikan pembelajaran.
somehow kadang aku mikir, rumah tangga yang kami jalani belum ideal. masih gabung sama umi abi juga, atau dengan plus minus lainnya lah. ya belum kebayang juga kalau nanti udah beneran kita doang akan gimana. tapi ya begitulah, semua juga akan terjawab waktu. ga selamanya ketakutan akan membayangi. ga selamanya sedih, nanti juga senang lagi. ga selamanya kesel, orang kese aja sayangnya masih, hahaha. 

kadang rasanya pengen banget semua orang tau kalau punya anak akan kayak gini, menikah mesti siapin ini, dsb dll. tapi trus mikri lagi, apa ini aku doang ya? haha. ya tentu sebenernya ada aja sih case-case lainnya, bahkan yang lebih ekstrim dari aku pun :")

sesi kemarin yang aku ndak bisa ikut sesi utamanya namanya jeda buat mama. manis sekali ya dengar namanya. setelah jadi ibu, waktu luang adalah harta karun. bisa selonjoran rada lama itu precious. tanpa sseluruh support system ini mungkin susah sekali makan tenang. orang dengan mereka aja kadang aku makan sampe keselek dan ga menikmati lah wes pokoknya :") 

emosi yang turun naik, keinginan yang rasanya semakin jauh, rasa iri sama orang yang punya waktu luang-bahkan (bukan bahkan sih mungkin lebih tepat: apalagi!, karena ini orang deket banget) sama suami, perasaan yang kayaknya berputar-putar di situ aja, rasa kayak bingung maungapain, merasa ga punya cita-cita untuk dicapai, capek, capek, capek,pinggang pegel, pundak pegel, punggung pegel, cucian pampers dan popok, rutinitas mandiin, perasaan ingin didengar dan ditemani lebih banyak, dan segala hal lainnya. suatu hari nanti, tentu manis buat dikenang .
woy nulis baris-baris awal paragraf di atas aja udah nangis aku :" cemen ya haha.
tapi isi lain kayak selalu mikir, ilmu seputarpengasuhan ini menarik banget. kayak awal-awal kata-kata mbak nia di sambutan kemarin, ini adalah acara yang dibuat tanpa konflik kepentingan. oleh ornag-orang yang percaya untuk menyusui asi selama 2 tahun, yang eprcaya pengasuhan dengan attachment, elekatan, ang percaya pada menggendong untuk mengasuh dengan kelekatan dan tidak percaya dengan bau tangan. di situ saya merasa bahwa banya banget orang yang pengen semua ibu itu punya pola pengasuhan yang baik, bisa memberikan asi yang merupakan nutrisi terbaik seantero muka bumi dari ibu masing-masing pada anak masing-masing, senang menggendong dan dekat dengan menggendong. huhu terharu :"

jadi ibu, jujur gak mudah, tapi nikmatin aja ya fitri sayaaang.
seperti kata kemarin,
terima kasih ya sudah berjuang (heuheu nangis dong nulisnya :")
maafin perasaan-perasaan kesel kemarin ya
maafin diri kamu yang masih terasa gampang capek
maafin diri kamu yang masih berjuang buat belajar bahagia
maafin diri kamu yang kadang masih bosen kalau nyusuin dan jadinya malah cari kegiatan yang sebenarnya bertentangan dengan value kamu
maafin diri kamu yang masih bingung sama masa depan, sama mau jadi apa, sama mau ngapain
maafin diri kamu yang masih sering minder, 
maafin diri kamu yang kadang masih pengen makan tapi Kaisa udah nangis dan tatapan ayah seolah-olah ayo cepetan fit itu anak udah nunggu (padahal seolah-olah aja di mataku, belum klarifikasi)
maafin diri kamu yang belum tau semua hal
maafindiri kamu yang kadang masih kesel sendiri

kita belajar lagi ya sayang
masih ada waktu, masih ada hari
isi,nikmati, penuhi.
terima kasih diriku, aku sayang kamu fit!
terima kasih sudah berjuang sejauh ini
terima kasih sudah mau coba lagi 
terima kasih sudah coba beradaptasi
terima kasih untukgak nyerah walau lelah, terima kasih kalau iya pun cuma sampai di pikiran aja
terima kasih sudah menyayangi dirimu sendiri, terima kasih sudah menyayangi Kaisa dan ayahnya, belajar menyayangi mereka setiaaaap hari :")
((ya Allah nangis lagi))


belajar lagi ya fit
belajar lagi kenali diri, 
belajar lagi kenali kebutuhan diri
biar ga mudah kesal ketika lihat ayah atau kaisa dalam saat-saat tertentu
peluk sayang fit. bukan cuma kamu yang butuh keluarga kamu saat ini. mereka pun 

terakhir, aku nangsi mecermati lirik ini dari awal

its like, kadang kita gagal, kadang kita ga mendapatkan sesuai keinginan. kalau aku, ngartiin memori di sini kayak ingatan-ingatan aku pada fase hidup sebelumnya, kayak pas belum nikah, pas belum punya anak, tapi ya, well, kadang-kadang orang pun patah hati, orang tersakiti, orang hilang arah, kehilangan, dan begitu pula aku :"

tapi this too shall pass :")

terima kasih, Allah. semoga fitri bisa jadi hamba yang Engkau ridhai, ya. 


sebuah tulisan jujur, dari hati.
aku
ahad, 27 september 2020 22.48



Senin, 21 September 2020

Tentang Ayah (4) : Senang Sama Ayah

Senang adalah ketika mendengar Ayah bilang, "Ayah mau main dulu sama Kaisa." Lalu meninggalkan segala devicenya, meninggalkan media sosial yang sedang dibuka, atau film/acara yang sedang diputar, atau game yang tengah dimainkan. 

Lalu Ayah beringsut mendekati Kaisa.

Senang adalah saat dengar ayah memancing Kaisa untuk menangkap jarinya, atau untuk bilang a.

"Tangkap tangan Kaisa!"
Lalu Ayah menangkap tangan Kaisa.

"Sekarang Kaisa tangkap tangan Ayah ya. Ini tangan Ayah di sini."
Ayah menggerak-gerakan jarinya.
Kaisa mengamati.
Kaisa menggerak-gerakkan tangan. Lalu tak lama berhasil meraih tangan Ayah. Kalua belum berhasil, Ayah akan memancing Kaisa terus, dan didukung oleh orang sekelilingnya agar Kaisa meraih jari Ayah.
Saat berhasil, kami yang lihat akan terpukau kagum dan takjub. Lalu memuji Kaisa, "Kaisa hebat, masya Allah. Kaisa pintar!"

Senang adalah saat Ayah membacakan Kaisa buku. Walau kadang Ayah ketiduran, kadang bisa ekspslorasi banyak, atau kadang Kaisanya kayak menolak dan ga mau gitu kayak tadi pagi. Lalu Ayah bilang, "Oh, Kaisa belum suka ya buku ini. Yaudah nanti dulu ya."

Senang adalah ketika sedang berdua-dua dengan Kaisa dan Ayah masih dengan apa yang diurusnya, lalu Ayah meluangkan waktu nyamperin dan nemenin kami :")

Terima kasih Ayah, segala waktu bersamamu menjadi berharga .

-

"Waah ada Ayah datang, Kaisa senang!"

"Waah terima kasih Ayah sudah bacakan buku/sudah mandikan/sudah gendong/____, Kaisa senang!"

.

.

Ibuknya apa lagi, Nak :")

-

Sungguh aku sering sekali cemburu, takut kalau Kaisa bahkan lebih deket sama ayahnya. Emang gini ya namanya lihat orang lain wkwk *julid rasa media sosial. Gak deeeng, ya mungkin sesimpel kita kan bisa liat orang lain tapi ga bisa liat diri sendiri waktu main sama Kaisa yak...


Rumah, 21 Sep 2020, 01.26


Jumat, 18 September 2020

Hari ke 28

 Hari ini Kaisa 28 hari usianya. Berarti sudah 28 hari menjadi ibu.

28 Hari yang kalau boleh dibilang, jujur tidak mudah. Tapi pada akhirnya sampai juga ke angka 28 ini.

Banyak sekali yang menjadi adaptasi bagi saya. Dan alhamdulillah Allah beri banyak kemudahan walau saya masih sering mengekspresikan beberapa kalimat yang mungkin terdengar mengeluh tapi sejatinya saya ingin didengar...

Alhamdulillah Kaisa sehat

Alhamdulillah asi lancar

Alhamdulillah suami wfh

Alhamdulillah banyak dibantu umi

Alhamdulillah mepet-mepet ada yang bisa dititipin Kaisa kalau kepepet

Alhamdulillah ada rezeki

Alhamdulillah saya dan suami sehat, umi abi adik-adik sehat

Alhamdulillah bisa gantian gendong kalau Kaisa mulai merasa gak nyaman dan saya mulai pusing mesti gimana lagi

Alhamdulillah masih ada stok pospak kalau udah lelah nyuci popok kain dan sepaket bebajuan dan kain lain yang kena najisnya, atau kalo udah stres dan gamau nambah pikiran

Alhamdulillh Kaisa keliatan naik BBnya walau belum nimbang di timbangan bayi lagi, meski kalau gendong udah kerasa pegel juga :")

Alhamdulillah dapet cuti 3 bulan dari kantor

Alhamdulillah ada hadiah-hadiah yang datang

Alhamdulillah alhamdulillah :")

It's okay Fitri, to not being okay

untuk menjadi pusing gegara obrolan grup-grup soal mpasi, toilet training, jatuh dari kasur, akan ada waktu kamu juga belajar satu-satu. pelan-pelan dulu aja ya

untuk belum jadi ibu sempurna. karena pengalaman umi adalah 4 anak sementara ini baru anak pertama. selalu akan ada hari baru untuk perbaikan :')

untuk belajar sabar yang tiada bertepi, ini sejak dulu kamu tau kan akan ada terus ujiannya. walau jadi ibu adalah ternyata...tbh yang paling challenging, dibanding sabar soal nikah bahkan! hahaha. bismillah yaa, sedikit-sedikit perbaiki yaa, saking pengenya jadi orang yang sabar ini kan dari jaman belum nikah kalau punya anak mau ada kata sabarnya? :")

untuk iri sama ayah Kaisa yang kayaknya kok ada aja sih waktu buat main medsos, nonton, skrolling dan dapet informasi apa gitu, main game. kamu punya ladang pahala yang buesar, begitu juga dengan Ayah Kaisa. Kalau Ayah banyak bantu kerjaan ibu tentu ladang pahala ayah makin besar, huehehehe. Gakpapa pelan-pelan hatinya ditata dan ga usah iri yaaa, kan kalo butuh bantuan tinggal bilang kata Ayah juga

untuk iri sama orang-orang hebat di luar sana yang kayaknya keren banget dah berbuat banyak sementara diri ini kayak merasa makin kecil aja, makin ga karuan, ga teratur, ga produktif. Semua akan ada masanya, who knows rencana Allah di masa depan. Terus bergerak dan berbuat baik, kita lihat nanti akan gimana. Yang penting kamu nambah kapasitas diri dan terus coba berkarya, bergerak. jadi lebih baik dari sebelumnya ya Fit!

untuk hari-hari, waktu-waktu, dan masa-masa yang seolah terenggut. Percayalah kamu sedang menata batu bata kebaikan yang akan menjadi pondasi tumbuh kembang terbaik buat Kaisa. Dan itu keren dan sangat produktif!!!

Belajar lapang lagi yuk, belajar melepas, belajar rela, belajar ikhlas, belajar adaptasi, fleksibel, diluaskan lagi sayangnya. Kaisa menerima kamu apa adanya, tapi tentu ia akan jadi ana paling bahagia kalau tau ibunya mau memperbaiki diri dan gak males dan gak banyak alasan, hahaha.


Terima kasih, Allah.


Fitri, 23.59
Ternyata, nangis juga di ujung tulisan :"

Senin, 14 September 2020

Tyani: Mempersiapkan Kematian

"Kalau kita mempersiapkan kematian dengan baik, kita akan jadi ibu yang baik."

Tadi nulis panjang, tapi hp error dan hilang semua, intinya dulu aja ya nanti diedit hiks

Updated----
Saya masih ingat betul hari itu waktu suatu weekend di September 2017 ke rumah Tyani di Depok karena kami mau berangkat bareng ke nikahan di Wiladatika. Tentu saja sepulangnya kami masih berbincang ringan sebagaimana saat kami juga masih sekamar 2010 lalu. Aih, waktu berjalan cepat sekali.

Kami mengobrol ke mana-mana. Seputar dunia perkoasan Tyani, stase obgyn, stase anak, stase forensik, pernikahan, punya anak, film yang ditonton, olahraga, hataraku saibo, hadits arbain pertama, keluarga seperti apa di masa depan, dan lain sebagainya. Hingga di tengah obrolan itu semua,tercetuslah kalimat dari mulutku waktu bahas tentang masa depan tentang takut menikah dan takut punya anak (ini yang bikin Tyani bahas hadits arbain pertama dan keluarga masa depan).

Sempat aku tanya, mau jadi ibu kayak gimana Tyani? Lalu dia bilang, "Fit, emang yakin akan jadi ibu?" Di sini awal-awal kayak tertohok dong, arah obrolannya mau ke mana nih. Lalu dia lanjutin. "Stase forensik ngajarin aku kalau jangan kePDan kita bakal jadi ibu, PD itu kita mau mati."

Intinya Tyani bilang saat itu. "Padahal belum tentu loh usia kita sampai ke jadi ibu."
Ea ea ea, bener juga sih. 


Lalu meluncurlah kalimat di atas itu, "Kalau kita mempersiapkan kematian dengan baik, kita akan jadi ibu yang baik." Kalimat yang sampai sekarang masih di-pin di google keep wizard hp saya. Dipikir-pikir, kalimat ini relate banget sama semua fase kehidupan. Kalau kita mempersiapkan kematian dengan baik, mestinya kita bisa jadi ibu yang baik, jadi ayah yang baik, jadi pasangan yang baik, jadi anak yang baik, jadi karyawan yang amanah, jadi mahasiswa yang amanah dengan tiitelnya sejauh apapun merantau dari rumah, dan lain sebagainya. 

Untuk Tyani, semangat ishipnya ya. Semoga perjalanan dan masa akan membentukmu menjadi dokter yang berbeda. Yang  jauh lebih hangat hatinya, jauh lebih sayang  sama orang lain, jauh lebih berani melawan segala ketakutan yang sesungguhnya hanya ada dalam diri sendiri. Tentu saja doa ini #ntms juga.

Salam sayang :)

Senin, 07 September 2020

Hari-hari Ini

Hari-hari ini, jujur adalah menerima bahwa menjadi ibu itu memang gak mudah.

Hari-hari ini, lapang adalah menerima bahwa kalau memang diri ini masih jauh dari orang lain, maka cukupkan, berhenti membandingkan. 

It was a heavy things, when doing writing is about know what happen in ma self. Aften talking many words to my husband before maghrib.

Dear diri, terima kasih sudah mau lelah ya. Beradaptasi dengan seluruh hal baru yang belum kamu kenal sepanjang 25 tahun sebelumnya. 

Dear diri, terima dulu ya. Kalau kamu belum se power ibu-ibu lainnya, atau teman-temanmu yang sudah lebih dulu jadi ibu. Kita belajar lagi dulu, ya. Satu-satu, pelan-pelan. Perlahan. 

Membayangkan ibuk ku dulu berkutat dengan 4 anak, mengulang rutinitas yang itu itu saja sambil mengisi kehidupan dengan banyak hal bermanfaatan lain semasa kami piyik-piyik dahulu kala. Menentang bosan sembari mengiyakan lelah, namun tak pasrah untuk terus menghadapinya. Betapa luar biasa :"

Pun begitu juga dengan ibunya suami, 4 kelahiran, 5 anak. Sekali waktu menghadapi anak kembar. Dua bayi di waktu yang sama. Betapa luar biasa :"

Setiap kelahiran pasti punya cerita. Ya Allah, kuatkan hamba. Cukupi hamba. Mampukan hamba. Semoga sabar dan syukur selalu mengisi hari-hari kami. Aamiin. Terima kasih ya Allah.

Ahad yang sudah jadi Senin. Malam Ahad kemarin, Kaisa lebih rewel, dan aku lebih baper sama banyak hal sampai kirim banyak pesan ke suami. Terima kasih sudah melewatinya, Fitri. Terima kasih sudah banyak membantu, Ayah.

Senin, 31 Agustus 2020

Tentang Ayah, Nak (3)

Nak, tersebab menjalani peran Ayah pun tentu berat ssekali. Kemarin ibu baca tulisan teman ibu. Bunyinya begini:

https://www.instagram.com/p/CEW4zLmMv6j/

Menjadi Ayah
.
Di film Marriage Story, ada scene pengacara perempuan yang menggebu-gebu bilang bahwa tuntutan pada ibu itu tinggi sekali, sementara ayah tidak. Ayah boleh absen, boleh buruk, boleh tidak terlalu peduli pada anak; sementara ibu tidak. Sedih sekali nontonnya..
.
"Banyak yang bilang membesarkan anak laki-laki itu tidak sesulit anak perempuan, tapi itu karena tidak banyak anak laki-laki dididik dengan benar." utas sebuah akun di Twitter beberapa waktu lalu
.
Iya, mendidik tentang besarnya peran dan tanggung jawab ketika ia menjadi seorang ayah itu sulit sekali. Seorang laki-laki tidak bisa memilih untuk hanya menjadi ayah sebagaimana ibu bisa memilih fokus pada perannya sebagai ibu. Seorang ayah harus tetap bekerja, memegang peran penting memberi manfaat untuk sekitar dan menjemput rezeki. Ia wajib menjadi penjaga yang paling baik dan sayang pada istrinya. Ia juga seorang anak yang wajib menyayangi dan merawat ibunya. Ia juga seorang kakak, adik, sahabat, dan bagian dari masyarakat. Di agama Islam, justru banyak sekali contoh pendidikan yang dilakukan oleh ayah: Lukman, Ibrahim, Umar, Ya'kub, Rasulullah.. Menggambarkan bahwa pendidikan anak ya tugas ayah juga, bukan ibu seorang. Visi pendidikan kuncinya di Sang Ayah
.
Melihat perjuangan suamiku setiap hari, aku belajar bahwa jadi ayah itu berat sekali, jika dijalani dengan mindset dan pemahaman yang benar tentang peran seorang ayah. Dan ketika pemahaman ini dimiliki oleh semakin banyak laki-laki, aku rasa tidak akan ada lagi perempuan yang harus begitu berjuang dalam mendapatkan hak-haknya atau merasa terpuruk menjalankan perannya sebagai ibu sendirian
.
.
Bismillah ya Ayah @rizaherzego. Terima kasih sudah berjuang menjalankan semua peranmu dengan sebaik-baiknya. You'll be our forever hero.

Ibu selalu berpikir bahwa Ayah banyak sekali menyembunyikan perasaannya. Walaupun sekaligus juga Ayah orang yang suka terang-terangan. Tapi kalau ditanya Ayah suka kesulitan jawabnya. Atau menjawab, ya biasa aja, atau jawawan singkat lain yang terang namun mengndang tanya seanjutnya bagi ibu, hehehe. Bingung ya? Ibu juga, hehehe...

Tapi biar bagaimanapun, sependek usiamu saat ini, Ayah adalah pahlawan terbaik untuk kita Nak. Yang menenangkan Ibu saat kalut. Yang menenangkan Kaisa saat menangis. Yang sayang sekali dengan kita sampai tak bisa rasanya ibu tulis satu-satu di tulisan ini. 

Semoga Allah jaga Ayah selalu, ya. Semoga Ayah selalu jadi pribadi yang lebih baik, semakin dekat dengan Allah, dan bisa menjadi imam keluarga yang membawa kita juga semakin dekat dengan Allah.