Ya Allah yang maha segala,
Tenangkan hatiku menuju takdir terbaikmu
Mampukan, kuatkan diriku, mengupayakan yang semestinya
Tautkan hati dan diriku menujuMu selalu
Ya Allah yang punya segala
Tenangkan hatiku kala aku resah atas apa yang belum menjadi kuasaku
mungkin waktu yang terasa sempit,
kecerdasan yang sering terasa jauh,
kemampuan yang masih terasa berjarak,
lapangkan hatinya, luaskan sabarnya
yakinkan aku bahwa semua sudah Engkau beri sesuai porsinya
bahwa hak yang aku kesali adalah bagian dari ketentuanMu
yang pasti terbaik untuk kondisi saat ini
Ya Allah,
aku ingin terus mencintaiMu lagi dan lagi
Tolong buat cintaku padaMu
terus terlukis dalam keseharianku
terus mewujud dalam kehidupanku
izinkan aku selalu bermuara padaMu.
Kamis, 29 Januari 2026
Doa
Rabu, 26 Februari 2025
Dear, Langit
Sudah lama sepertinya tidak menulis seperti ini. Mengawalinya dengan: Dear, Langit.
Aku mau bilang kalau hidup itu lucu. Tapi otak rasionalku langsung membantah. Sebenarnya tidak begitu, bukan? Allah merencanakan hidup yang sesuai dengan kita, bukan buat lucu-lucuan.
Yah, tapi kamu mengerti kan maksudnya.
Kadang hidup di atas, kadang di bawah. Sering nano-nano.
Cuma satu yang Allah minta: bersabar dan bersyukur. Dua deng jadinya.
Barusan aku telepon satu jam lebih bahas sesuatu sama teman. Kadang, hal yang enggak pernah terpikirkan olehku Allah sodorkan pelan-pelan. Kadang, hal yang diperjuangkan mati-matian gak ada hilalnya. Mungkin ada, tapi belum aja. Mungkin ada, entah kapan. Atau mungkin, tidak ada hilal ini adalah hilal untuk tegaknya diagnosa: belum jalannya.
Manusia punya banyak keinginan. Sementara, rupanya ada masa bosan memperjuangkan keinginan.
Kalau begitu, apa hal tersebut tidak pantas disbeut keinginan, bahkan mimpi?
Bukankah bosan itu wajar? Stuck dan gatau mau ngapain juga mungkin terjadi?
Entahlah, melelahkan memang jadi dewasa.
Gelap terang bergiliran menjelang.
Ya Allah, rasanya aku sangat bodoh, dan masih banyak kurangnya. Tolong bimbing ya Allah, bersamai, bersamai.
Oya, hari-hari belakangan rasanya sepi sekali. Sepi, huhuhu.
Jumat, 26 Januari 2024
Dunia Literasi dan Perbukuan Saat Ini
Setiap ikut diskusi atau bincang literasi plus ikut kelas How to Read a Book kemarin rasanya kepala penuh dengan banyak overthinking tentang budaya literasi. Sedekat itu rasanya sama buku, akan tetapi di saat yang sama juga sejauh itu ternyata lingkungan di sekitar kita dengan buku. Kalau dulu buku adalah hiburan, sekarang banyak yang menggantikannya di jajaran hiburan, gratis pula dapatnya. Bayar kuota paling tak dirasa seberapa. Kalau dulu buku menambah wawasan, sekarang kita punya mesin peramban bahkan kecerdasan buatan yang ‘terasa’ bisa mendongkrak kejeniusan.
Banyak yang cinta buku. Namun, rasanya lebih banyak lagi yang tidak secinta itu. Banyak mimpi kita soal literasi, akan tetapi kadang rasanya tawar seperti slogan tak berarti. Teringat akan salah seorang dosen muda yang menyampaikan pendapatnya di sesi diskusi workshop HTRAB. Mahasiswa-mahasiswa yang isi tugasnya hampir sama, buku yang jarang dibaca, modul yang mulai menggantikan buku teks yang dahulu biasanya menjadi referensi wajib tiap mata kuliah, padahal jurusannya sastra. Hmm, ada yang salah rupanya dalam literasi kita. Sampai-sampai seorang guru saya pernah bicara, isu skripsi ditiadakan nampaknya mengakomodir generasi yang kian berjarak dengan buku.
Salah satu momen penting bagi saya di 2023 adalah ketika terpilih menjadi peserta workshop penyusunan buku model yang diselenggarakan Kemdikbud-setelah bertahun-tahun gagal lagi gagal lagi ikut sayembara dari kementerian yang sama. Saya kaget sekaligus minder ketemu banyak penulis yang banyak karyanya. Bahkan, saya gagu waktu ditanya, penulis? Padahal jawabannya hanya satu, iya, karena tidaklah mungkin saya ilustrator, hahaha. Belum lagi masa workshop itu bertepatan dengan pengumuman dua sayembara level provinsi dan nasional yang cukup menggemparkan meja-meja. Duh, rasanya tidak ada apa-apanya. Ragam genre mereka tulis. Aneka jenjang mereka cicip. Jumlah buku tentu sudah banyak jumlahnya.
Namun momen itu membuat saya berpikir bahwa kecakapan literasi terus diupayakan sebaik mungkin. Bagaimana tidak, pemerintah serius membuat program-program. Saya pun bertemu puluhan penulis yang telah menelurkan begitu banyak karya. Bukankah janji itu memang makin nampak di depan mata?
Di lapangan, seorang ibu anak SD yang peduli literasi mendatangiku dan rupanya tak pernah dengar buku-buku yang digarap bekerja sama dengan pemerintah. Padahal itu semua gratis dan sekolah anaknya cukup baik literasinya. Belanja pakaian juga kembaran lebih prioritas ketimbang memilih buku berkualitas. Jualan skin care dianggap lebih menguntungkan. Bisnis les baca yang baru berdiri omsetnya melebihi bisnis buku yang lebih dulu digarap. Salah seorang teman bercerita, tetangga seperumahannya-yang notabene komplek cukup berada-lebih memilih buku murah dengan kertas kelabu di fotokopian ketimbang buku bermutu padahal ia mampu. Dengar cerita literasi di luar negeri yang dari janin sudah dikasih sosialisasinya sama bidan, paket buku yang dikasih abis lahiran, dan program di sekolah anak usia dini menunjukkan ekosistem perbukuan yang kuat. Di sisi lain, saya sempat kaget ada orang minder baca buku di tengah keramaian. Hah? Seberjarak itukah?
Tentu uneg-uneg ini belumlah valid karena memang saya tidak membawa data. Hanya isi kepala yang muncul seketika. Buku juga tak pernah berdiri sendiri, apalagi untuk anak usia dini. Mereka butuh dialog dan pantikan dari orang dewasa yang mendampingi. Lagi pula buku memang bukan harga mati, akan tetapi kemampuan membaca, menangkap makna, menyimpulkan, menghadirkan gagasan, mengolah data, menghasilkan ide, akan senantiasa dibutuhkan bahkan di masa-masa yang akan datang nanti.
Jumat, 08 April 2022
Hari Ini
Pagi ini sudah ada niatan mau ngapain, eh lalu batal Karena salep lagi disayang-sayang biar ngendep dulu di kulit, kupilihlah ngerjain hal lain yang ga perlu wudhu lagi semacam muter mmc yang wajib, ke kamar mandi, dan ngejemur pakaian.
Lalu membuka blog ini. Memutuskan menulis instead of ngerjain kerjaan yang juga perlu sudah menjad pilihan saya sejak tadi. Tapi menulis apa? Entahlah. Apakah karena hari ini kamu ulang tahun? Hm, ya, mungkin.
Memasuki usia 27, dengan kondisi emosi yang tidak stabil dan perasaan kepayahan tentu bukan memori yang nyaman untu diingat, dirasakan, dan dijalani. Tapi sungguh mengakuinya pun berat, walau menurutku perlu. Tempaan hidup barangkali belum seberapa, namun terkadang rasanya sudah lelah sekali hidup di dunia.
Tak punya banyak harap rasanya di usia ini. Sebagaimana memasuki ramadhan yang jujur aku sedih dan takut entah mengapa, i have no expectation at all. Ada harapan-harapan kecil tentu saja, yang masih takut bahkan ketika kuniati dalam hati, dan memang belum terwujud hingga hari ini. Ah apakah barangkali, memang belum memantaskan diri.
Rasanya, hanya syukur yang ingin terus kuingat untuk kulakukan setiap hari, lalu kulipatgandakan. Dan juga keluh yang kutekan, lalu kumusnahkan. Tumbuh menjadi ibu memang tak pernah kusangka seberat ini. Tapi semestinya sudah Allah instal kan kebaikan dan fitrah itu? Tinggal menjemputnya dengan persiapan dan praktik yang baik. Tinggal? Ahaha, aku tertawa nyinyir pada diriku sendiri.
Dear Allah, terima kasih sudah memberiku kesempatan sampai hari ini. Kesempatan untuk lebih baik setiap harinya walau tak melulu kupakai begitu. Terima kasih untuk kesempatan untuk menabung amal baik yang semestinya semakin kuresapi dengan baik dan kutuangkan dalam laku. Kesempatan untuk mengasah diri dan memperbanyak pengalaman gagal hingga kelak berhasil jika Allah izinkan.
Dear Allah, aku minta maaf atas segalla keluh, peluh, lelah, dan gundah. Beberapa mungkin manusiawi, tapi mungkin beberapa berlebihan juga. Beberapa lainnya barangkali seolah meragu padaMu, ah, menunjukkan masih banyaknya tambalan hubunganku denganMu yang harus senantiasa kurajut dengan baik.
Dear Allah, rasanya tak bisa berkata-kata lagi. Aku rindu . . .
Selasa, 08 Juni 2021
Perempuan dan ....
Entah harus ditutup judul apa tulisan kali ini. Perempuan dan apa?
Such a miracle pagi ini bisa nulis, di tengah deadline yang juga sudah lewat dan tak kunjung usai tugas menulisku yang lain. Anak dan suami yang kondusif, semoga sampai tulisan ini selesai bahkan sampai lekas menyiapkan sarapan dan usai tugasku yang lain. Allah maha mendengar, kan?
Pagi belum berjeda begitu lama sejak kuterbangun dan subuhku menyisakan gelisah. Tentang semalamku yang hanya mampu kuisi menidurkan anak nyaris satu jam dan berlanjut aku yang terlampau lelah meniti hari. Dan merasa ga guna ga ngerjain apa-apa selain itu huhu saddd. Meninggalkan anak yang terlelap dan suami yang begadang berupaya mencari tambahan pemasukan. Semoga Allah ridhai.
Masih kuingat perbincangan di atas motor Ahad lalu. Tentang circle Hilmy yang menyebutkan lingkaran pertemanannya di mana suaminya kerja di mana, istrinya kerja di mana. Yang jelas keduanya hi companies dan Hilmy ga kebayang gimana pemasukannya ya. Belum ada tanggungan anak. Suatu waktu kalau keadaan memaksa, mungkin yang menjadi pilihan bukan istri yang resign tapi nyari pengasuh. I don't talk this choice is bad. Semua punya pertimbangan masing-masing dan setiap keluarga akan choose their battle, with all consequencies.
Kemarin Hilmy cerita lagi, masih dalam lingkungan yang kusebut di atas. Tentang pasangan yang sebelum menikah berjanji, kalau yang lelaki tidak akan merokok lagi, dan yang perempuan tidak akan minum lagi. Even pas Hilmy ketemu, yang lelaki merokok juga. Entah sembunyi-sembunyi atau bagaimana. Bagiku sangat tidak make sense sih. Main belakang berarti siap dimainbelakangi juga. Apakah gapapa kalau istrinya kelak minum lagi? Entah.
Pagi ini sebelum subuh buka laptop. Entah bagaimana lupa, ada page yang belum kututup dan membawaku pada linkedin istri pasangan yang kuceritkan di atas. Kubaca satu per satu. Jiper lah. Ahaha. Sekolah rasanya level internasional semua. Dari elementary sampai s2. Bekerja level senior di company yang levelnya mantap lah. Seketika memang jadi minder der der. Ahaha. Lalu teringat perbincangan Ahad kemarin (belum kuceritain semuanya sih di sini). Juga perbincangan kemarin sama Hilmy.
Jadi, baiklah akan aku tuliskan resume isi obrolan kami dari Ahad, senin, sampai pikiran selasa pagi ini wkwkkw.
Di dunia kapitalis ini, mudah sekali kita membandingkan diri atau jangan membandingkan dulu lah, melihat dan terpapar saja dulu, dengan kesuksesan dunia. Pendidikan tinggi, kerja di company yang bagus, gaji tinggi, lingkaran pertemanan dan jaringan yang menguntungkan, tempat tinggal dan kendaraan yang nyaman, cantik modis atau percaya diri berpenampilan apa saja.
Sukses dunia. Bisa membuat iri siapa saja yang tak bersih hatinya.
Sampai di tahu fakta bahwa minum pernah jadi hal yang dilakukannya, entah kebiasaan atau level coba-coba. Bagiku selesai sudah. Berhenti sampai situ, cukup merasa jipernya. Aku sangat paham tentang memisahkan persoalan pribadi atau tetap menghargai ilmunya. Seratus persen aku setuju. Tapi menjadikannya sebagai panutan atau orang yang dikagumi atau orang yang di "waaaaw" itu memang tidak perlu sama sekali (bukan aku sih, tapi bagus aja buat memilih diksi wkkwkw). Yang teringat sama seperti perbincangan di keluarga dulu waktu memilih pasangan, kalau merokok, blacklist, wkwkwk. Duh tapi kalau kalian cuma baca tulisan ini sangat berpotensi salah sangka nih, bingung juga baiknya gimana menuliskannya.
Semua keluarga memilih their own battle. And every woman does. Setiap perempuan akan memilih karir atau tidak, berteman dengan siapa, dan segala keputusan lainnya terutama di situasi sulit. Aku bilang sulit karena memang begitulah perasaannya. Bagaimanapun terlihat mudah, tentulah terlatarbelakangi oleh banyak pertimbangan keputusan, emosi, jiwa, dan raga. Dalam case di atas, ketika asumsiku bermain, kita tidak pernah tahu apa yang melatar belakangi minum, misalnya. Bisa pola hidup keluarga, pertemanan, atau habit di luar negeri yang 'memaksanya' demikian. Aku pernah program summer di Jepang dan merasakan sendiri habit temen-temenku yang aku bisa bilang intelek wkwkwk untuk ketemu minum sebagai penghiburan mereka setelah stres belajar. Walaupun aku jadi ingat kata Buya Hamka kalau ga salah ya, bahwa kita akan ketemu yang kita cari. Toh, aku ingat juga Teh Karin jadi hijrah justru di luar negeri. Pun ada temenku yang lain yang kurasa jadi lebih jauh mempelajari Islam bahkan mengubah cara berpakaiannya menjadi lebih tertutup setelah belajar di luar negeri.
Aku hanya ingin menhighlight kata seorang ustadz, jangan kita iri sama orang yang bukan pengemban dakwah atas kemudahan hidupnya. Kalau by case yang sempat kita obrolin di motor, barangkali teman-teman itu ya incomenya banyak, didapat secara mudah, kek ga ada kesulitan hidup lah pokoknya. Tapi kalau kita melihat ya setiap orang pasti punya ujiannya kan, beda-beda aja ujiannya. Terus ((huaa terus Kaisa bangun)).
Okay mari kita lanjut.
Sisi lain, kita sama-sama paham kalau sistem sekarang ini kapitalis. Jadi ya udah sistemik. Media sosial dibangun oleh sistem kapitalis. Kita yang mengonsumsi makin mudah terpapar sama hal-hal duniawi (ya ukhrowi juga bisa jadi siih, tapi liat ajalah mayoritasnya apa buat kita dan mayoritas orang kek gimana nyerep informasinya). Jadi karena kita terpapar oleh hal-hal seperti itu, bisa muncul iri, ketidakpuasan dan ketidak-qanaah-an, pengen kaya a b c d yang bisa dan punya ini itu, merasa ingin macem-macem lah. Jadilah bisa jadi orang mikirnya ya kapitalis. Mana yang berpotensi cuan lebih banyak, karir mana yang easy dan gajinya gede (lupa sama aspek ketenangan dan lain sebagainya yang gabisa dinilai dengan uang), jadilah orang pada akhirnya berlomba di bagian kapital.
Sambil merenung juga sih kita. Kayak, ada temen, usia lebih muda dari kita, abis lahiran anak ketiga, aktif di dakwah dan mungkin secara ekonomi juga masih struggle. Tapi, dia tenang-tenang aja tuh hidupnya. Orangnya optimis, semangat buat dakwah, dan lain sebagainya. Teman lain juga abis lahiran anak keempat, belum ada mobil, dulu juga bertiga kemanamana naik umum atau motor anter jemput suami, tapi yaudah tenang aja tu hidup. Suami juga jadi flashback, waktu dulu pindah kantor pertama, gaji turun, tapi dapat temen soleh-soleh, tenang ga mikir macem-macem, bahkan dapet istri juga wkwkwk.
Yah begitulah, hidup berjalan. Kita perlu memilih mana yang kita mau berjuang di dalamnya dan mana yang tidak. Semacam gini deh gampangnya, mau ribet sama stimulus anak yang macem-macem misalnya, terus gasempet nyuci, akhirnya ada yang nyerahin ke laundry. Mau ribet ngurus makan anak sampe nyuapin yang sering menguras kesabaran tapi weeeey ningkatin bonding anak sampe dewasa, atau yaudah kasih aja ke orang lain atau pengasuhnya, tapi ya easy ga usah ribet dan ga menguras kesabaran, tapi ya...melewatkan sesi bonding itu. Choose your battle, mak. Choose your battle for our family. Bahkan sesederhana mau shalat di awal waktu atau enggak, juga choose your battle kan.
Akhir kata, setiap orang juga bisa berubah ke arah yang lebih baik. Allah berhak menunjukinya. Jadi tulisan ini tidak ada judgement pada pihak manapun dan aku percaya bahwa setiap orang bisa berubah ke arah lebih baik, termasuk cerita pengantar di atas. Legaan dikit euy cerita, jadi ingat masa-masa sebelum meniqa apa-apa diceritain di blog wkwkwk.
Terima kasih ya Allah sudah beri nikmat waktu dan kesempatan ini. Besok lagi, ya :")
Kamis, 04 Juli 2019
Hari Ini
Rencana hari ini pulang siang, bair bisa mampir ke tempat yang kalau pagi asumsiku akan kena macet di perjalanan. Tapi buyar, amanah pekerjaan ternyata menuntut banyak. Tidak apa.
Tadi pagi aku kena razia. Alhamdulillah berkasku lengkap. Aku jadi inget, pengen deh bisa nyetir mobil. Walau mesti ujian sim dan pake simulator di polres kalo sekarang.
Design challange hari ini berat dan banyak. Menjadi design challangeku terakhir di tim ini.
Kemudian amanah memimpin rapat-yang baru pertama kali kudapat, sudah begitu telat tau, baru tau sore. Membuatku makin berpikir, pr diri ini banyak sekali. Mendapat pertanyaan dari supervisor terkait amanah transfer knowledge yang ukuran porsinya berbeda antara beliau dan saya. Membuatku berpikir, susah sekali ya ternyata menyerahkan yang disayang ke orang atau pihak lain.
Tapi tugasku percaya, kan?
Seperti dulu aku yang berat sekali pisah ruang sama Nusa waktu pindah kamar asrama, begitu juga aku. Rasanya pengen transfer knowledge se-clean dan se-clear mungkin. Semuanya jelas, tidak tertinggal satupun termasuk kata tapi.
Namun masih sulit, banyak yang belum kubuat. Dan ukuran yang berbeda akan membuat porsi waktuku lama dan susah menyelesaikan amanah yang seharusnya kini. Pekan ini, memang semua hal seperti menuntut pagi. Menerima anggota tim baru, rapat yang dadakan diberi tahu untuk jam delapan, panitia acara pagi, diskusi design challange hari ini, dan review meeting esok yang barangkali aku tidak wajib lagi datang, tapi rasanya aku selalu ingin memastikan semua baik-baik saja, setidaknya satu kali review planning ini. Semoga ini bukan bagian tak percaya, ya. Aku, jelas sedari awal sangat percaya sama anak ini. Talenta dan passion yang hebat dan kuat, jiwa developer, manajer, dan detailing yang terangkum jadi satu. Ah, terima kasih Allah :") Aku hanya ingin meninggalkan pembelajaran yang baik, agar kelak bisa lebih baik lagi.
Jadi ingat seoarang adik magang yang dulu, yang PM aku kasih banyak sudut padnang dia gegara-entah apa, cemas kali yak-membaca postingan blogku belakangan ini. Juga temenku yang jadi ikut kepikiran kalo baca blogku terus mikir aku lagi sedih. Ternyata kadang aku menyusahkan banyak orang, ya. Maaf, ya-apalagi kalau kamu juga ikut kepikiran. Maaf, ya, sungguhan.
Sudah Kamis. Pekan lalu aku jatuh dari motor dekat rumah. Ada kucing loncat, padahal sudah tinggal 4-5 rumah lagi sampai. Sudah di jalan rumahku. Membuat tanganku ngilu. Sekarang juga belum sempurna rasanya. Buka gagang pintu kantor yang agak berat kerasa ngilu, putar kunci rumah dan angkat gayung penuh juga begitu.
Juga jadi ingat, sudah hampir sepekan. Duduk menunggu orang datang untuk membuka percakapan. Sampai akhirnya menyerah, bertanya kenapa menyepesialkan waktu menunggu. Lalu pulang duluan saat satu dua orang sudah datang lepas maghrib itu.
Tadi pasca maghrib, aku terpikir. Ternyata bukan keadaan yang harus diubah. Apapun, kalau ingin keadaan diubah, mulai dari diri sendiri. Meskipun responnya kadang atau mulanya pahit. Membuat sebal dan kepikiran, tapi yang bisa dalam kendali kan diri sendiri ya. Ngapain ya cuma dipikir atau dicurhatin atau segala ekspresi perasaan dalam diri yang seperti gak ada ujungnya. Harusnya ndak bergantung sama waktu, meski kadang-kadang waktu menyelesaikan. Tapi, diri sendiri kan ada dalam kendali, kalau kata Krisna, bukan apanya yang ada buat diri, tapi diri ini bisa berbuat apa untuk itu.
Tadi sekitar ashar, baca terjemah Ali Imran ayat delapan
(Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”Semoga Allah terus jaga, dalam kebaikan. Itu isi pikiranku dari kemarin. Yang kembali mencuat ketika aku membaca terjemah ini.
Semalam temanku minta doa. Tapi dia gabilang mau didoain apa. Kira-kira dia mau didoain apa, ya....
Hari ini K satu tahun. Aku ingat setahun lalu, menjelang kelahiran, seseorang berpesan kepada kawanku yang aku dengar pesannya tentang kelahiran. Lalu orang yang sama juga memberi pesan padaku. Tentang kelahiran juga.
Terus jadi ingin tulis kutipan fiksi
Aku jadi ingat hari itu, senin setelah kumpul keluarga besar. Seseorang, berbaju coklat duduk di sebelahku. Aku tahu hari itu bertambah usianya, namun aku diam saja. Pingin bicara tapi urung. Akhirnya aku tulis sesuatu, bukan tentang ia tentu saja. Topik yang sama di awal tahun. Lalu dia baca dan bertanya, dikira momen yang sama terjadi di hari yang sama. Aku hanya jawab tidak, tanpa dia tahu aku tahu hari itu hari apa.
.
Waktu berlalu.
Lalu aku ingat 11 Januari. 2017, aku jatuh dari motor, usai hujan dan aku mau jilid skripsi. Kupaksakan mampir print sebelum jilid di tempat lain, lalu menyerah saat darah rembes di bawahan. Setahun kemudian, aku jatuh di depan kantor. Padahal sudah mau parkir. Setahun kemudian, air mataku jatuh di perjalanan membaca tulisan.
Semalam hasil talent mapping keluar. Ada porsi warna merah di costing, estimating, dan bookeeping. awalnya aku kira bookeeping itu jagain buku. Ternyata ketiganya berhubungan sama uang. Aku ketawa sendiri, ini efek aku dua tahun lebih di aplikasi pencatatan keuangan apa gimana ya. Eh dulu aku juga pernah si jadi bendahara jaman aliyah, tiga tahun berturut-turut. Walau sebenarnya juga belum pernah beneran rapi dan keproyeksi gitu rencana keuangan yang gimana. Porsi-porsiin uang aja aku masih bingung. Jadi ingat kemarin baca blog kajay tentang ngatur porsi uang keluarga. Kayaknya kalau udah beneran jadi orang dewasa gitu, hal tersebut beneran menantang untuk dilakukan tapi mau gamau harus diterapkan ya. Kan, yang gabisa dilawan adalah waktu. Jadi ingat, habsi ngobrol sama ka citra dan niat hemat semakin kuat, yang bikin aku susah menahan diri itu bukan nahan beli makan (abis ngobrol ama kacita waktu itu bahkan niat banget gamau order-order buat makan siang kalo di kantor lagi ga ada makan siang, bekel terus aja), baju (kupunya baju yang dari aliyah masih kupakai bahkan), atau hal yang berkaitan sama style (bahkan kadang bukan nahan diri sih, emang dasarnya ga tertarik haha-ya kadang tertarik juga meski jarang), tapi yang susah nahan diri beli buku anak, wkwkwk. Duh semoga ga tambah parah, apalagi kalau udah jadi ibu (aamiin). Bikin sendiri aja semoga ya.
Duh bicara buku anak. Jadi ingat amanah yang belum selesai. Ingin ikut lomba ini itu yang belum kerealisasi. Aku kadang bingung, gimana sih atur prioritas yang gak kalah sama kerjaan gitu lho. Kok jadi kayaknya apa-apa dikerjain duluan. Kalau ini bentuk tanggung jawab ke orang lain, tanggung jawab ke diri sendirinya gimana? Ke Allah gimana? Banyak sekali ya rupanya pertanyaan dalam hidup....
Aku kadang suka iri kalau lihat teman yang ngobrol sama orang lain tu nyambung banget, kayak ada aja topik yang bikin mereka sama-sama serius dan bahas seru gitu. Walau ya sebenarnya mungkin ga dibilang iri gimana sih, mungkin pas aja momenya pengen cerita tapi sedang tidak bisa menuangkannya atau gatau sama siapa. Atau ada momen kadang aku jadi merasa tersisih gangerti sendiri apa yang dibahas. Padahal kalau menelusuri hal-hal lalu, aku juga ada kok cerita yang deep gitu sama orang lain.
Hmm, apa lagi ya.
Aku sekarang jadi suka pakai sepatu, entah kenapa. Tapi tadi pagi mau pakai sandal saja dicari malah nggak ketemu. Jadi pakai sepatu lagi. Padahal dulu beli sepatu ini biar ada sepatu kalau ke undangan gara-gara ga punya sepatu proper. Dulu kalo kuliah sih favoritnya sepatu karet 35ribuan warna krem yang minta dijait dulu ke abang sol sepatu biar awet. Kalau rusak minta dijait lagi. Sampe rusak bener, aku akan cari produk yang sama. Hahaha.
Semalam di rumah bertiga saja. Rasanya sepi, tapi ada yang bisa aku syukuri. Aku kayak punya waktu lebih buat cerita sama umi. Biasanya, habis shalat maghrib kalau di rumah, ada aja Umi mesti nyiapin makan abi atau adikadik. Terus kemarin bisa lebih banyak space waktunya. Memang senang ya kalau ada yang mau memberi ruang untuk mendengar. Ada juga sih siangnya cerita-cerita tentang orangtua, kubahas kapan-kapan saja ya.
Omong-omong, jadi orang tua itu hebat sekali, ya.
Akhir-akhir ini lifecycle harian tidak teratur, kenapa ya. Padahal harusnya makin besar, makin dewasa, makin rapi, makin tertata.
Sudahlah, sudah cukup ceritanya.
updated 20.31
Rabu, 19 Juni 2019
Merenungi Kata Cukup
Tiba-tiba saja, aku perlu berusaha menahan agar tangisku tidak keluar. Betapa Allah baik sekali sama aku. Keluarga, lingkungan, hal-hal yang entah karena apa Allah beri. Hal-hal baik yang juga barangkali sebenarnya ujian. Hal-hal yang membuat aku utuh. Hal-hal yang memberi definisi dan makna cukup bagiku hingga hari ini.
Lalu aku dhuha. Di tengah shalat, aku tak mampu menahan air mata. Mensyukuri segala hal yang dengan baik hati Allah beri. Mensyukuri segala hal yang Allah buat aku tumbuh di dalamnya dengan pengertian yang baik soal kata cukup. Menyadari bahwa karunia untuk selalu diarahkan ada pada kebaikan, ditumbuhkan dalam lingkungan yang baik, adalah kehendak Allah yang tak pernah aku bayangakan bisa ditukar dengan apa. Berharap semoga banyak hal baik itu Allah jaga, hingga nanti-nanti. Hingga cukup bekal selama di dunia mengantar ke surgaNya.
dan menulis ulang ini ternyata masih membawa perasaan haru yang sama
Minggu, 09 Juni 2019
Waktu
Namun kadang salah, justru bilang berpasrah pada waktu. Atau menunggu waktu yang menjawab.
Berpasrah itu tentu pada Allah. Menunggu jawaban juga. Namun kadang term menunggu waktu yang menjawab memang jadi satu-satunya obat. Sementara sesungguhnya, ada yang bisa kita coba.
Hari-hari ini rasanya berat. Tidak nyaman. Menimbulkan perasaan bersalah, atau bahkan berdosa. Tidak nyaman sekali.
Kemarin lepas zuhur, hanya ingin mengumpulkan ayat tentang sabar. Kucari keywordnya di aplikasi Alquran. Maka bersabarlah. Beberapa ayat keluar. Cukup menentramkan. Juga, kubuka tulisan lama tentang sabar.
Sabar itu banyak sekali. Sabar menjalankan kebaikan, sabar menghadapi situasi, sabar tidak berbuat maksiat. Kata Allah, balasan sabar adalah kebaikan. Itu.
Fashbir shabran jamiilaa.
Maka bersabarlah dengan sabar yang baik.
Semoga Allah mengampuni segala kesalahan.
Kamis, 23 Mei 2019
Senin, 20 Mei 2019
Menerima Diri Sendiri (2)
-menerima kalau diri ini capek, sehingga belum bisa seproduktif yang lain.
-menerima kalau aktivitas suatu hari melebihi hari yang lain, sehingga target tilawahnya jauh dari yang diinginkan (at that time aku kebayang, oh ini ya rasanya buibu yang target ngajinya gabisa kayak waktu single karena pasti adaaaa aja hal-hal yang meminta perhatian lebih dari anak, bahkan anak sebesar Fatih pun, sebagaiman aaku melihat Ummi sejak beberapa tahhun silam saat aku masih kuliah)
-menerima kalau diri ini bisa jauh lebih lelah dari baisanya, sehingga sisa harinya kepake buat tidur terus, tapi belajar biar nggak kebablasan
-menerima kalau agenda dakwah semestinya menjadi prioritas, dan belajar gimana ngaturnya biar bisa jadi prioritas-setidaknya sama pentingnya sama rutinitas sehari-hari
-menerima kalau diri ini memang tidak sempurna, dan sebagaimana demikian, karena berarti masih ada ruang untuk tumbuh
-menerima bahwa oh emang diri ini mudah sekali lelah, mungkin karena ternyata jarang ya olahraga
-menerima bahwa bolak balik sejak jam setengah enam kantor-tempat agenda pekanan yang lebih jauh dari rumahku lalu ke depok lagi yang lebih jauh dari jarak sebelumnya ke kantor, lalu mampir kantor untuk ambil barang dan sampai rumah, baru istirahat sejenak sudah harus pergi ke agenda sore, kayaknya kecil dan sepele, tapi buat tubuh ini emang mungkin nggak mudah melaluinya
-menerima bahwa setelah itu aku ketiduran berkali-kali sepanjang perjalanan pulang, setelah terakhir melakukannya Februari 2018
-menerima bahwa susah sekali memotong obrolan hanya untuk pulang duluan dan buka puasa
-menerima bahwa aku adalah kakak dari adik-adik yang kadang mereka berisik di saat aku butuh waktu yang tenang
-menerima bahwa aku adalah dominan i yang kalau sudah banyak sekali terserap energinya oleh kegiatan luar dan interaksi, aku butuh diam, menyendiri, menarik diri dari obrolan, memberi energi untuk diriku sendiri. tapi belum ada waktu untuk itu.
-menerima segala kekhawatiran dan menjadi titik untuk bergantung ke Allah, dengan lebih menghamba
-menerima bahwa tanggal merah barengan sama hari ahad, rasanya ga ikhlas karena aku pengen satu hari lagi buat istirahat
-menerima bahwa keinginan untuk cuti hanya karena pengen istirahat tidak semudah itu
-menerima bahwa orang lain bisa begitu mudah mengiyakan akad lalu mengcancelnya dengan alasan pribadi, yang sesungguhnya rasanya diri ini pun ingin kabur dari amanah yang ada, sesekali
-menerima kalau memang pada saat tertentu perempuan secara hormonal didesain untuk tidak stabil
-menerima bahwa memang ada fase hidup yang membutuhkan perhatian lebih, yang kadang lelah, tapi semestinya bisa senang menjalaninya
-menerima kalau ada teman yang pemahamannya masih jauh sehingga memang sulit menyampaikan hal yang di mata dia ga ideal
-menerima bahwa diri ini kadang kehasut hal-hal ga guna atau membuang waktu, hal-hal yang ga disukai Allah. putuskan kapan harus berhenti.
-menerima pikiran pikiran nanti gimana ya sepanjang materi
-menerima kegemasan diri ini pengen sharing ke orang lain setelah dapat materi kemarin dan hari ini (materi yang berbeda), tapi memang perlu ditahan. tidak bisa sekarang
-menerima kalau diri ini level berjuang dan anticapeknya belum setegar Ummi dan barangkali seluruh ibu di dunia, huhu ini supersalut sih sama semua ibu
-menerima bahwa ada notifikasi chat yang terlihat kuabaikan gegara kukebablasan tidurnya
-menerima bahwa kadang aku pengen rasanya keluar dari keramaian notifikasi wa, uninstal atau left semua grup sementara, saking crowdnya
-menerima kalau Allah kadang kasih hal yang tidak kita suka, justru itu bisa belajar dan membuat kita deket sama Allah, tidak melulu memintanya hilang adalah pilihan terbaik
nggakpapa ya diri, kita belajar ya.
maaf ya kalau aku meminta terlalu banyak, kalau aku menuntut terlalu ideal, kalau aku merasa kesel kenapa kok kayaknya gampang banget capek, kalau aku merasa nggak ada yang nemenin, kenapa aku berkutat di hal-hal dan pikiran itu-itu aja, kenapa aku dan kenapa aku lainnya....
Bersyukur
-Abi dan Ummi dukung kegiatan-kegiatan itu
-Abi dan Ummi kasih izin aku ngapa-ngapain
-Kantor memberi aku ruang untuk belajar hal baru
-Bisa belajar dari para guru dan ibu-ibu, ketika jawaban anaknya usia berapa tidak bisa aku jawab dengan angka, haha
-Abi mau kembali ke masjid lagi buat pinjem barang yang tadi lupa ketika aku sudah menitip
-Abi mau bukain pager
-Abi Ummi mau belajar dari orang lain
-Ummi mau maklum karena komitmen keluarga untuk menjadi pribadi yang bermanfaat buat sekitar, walaupun aku jadi nggak bantuin Ummi nyiapin takjil dan beberes rumah, dan ummi sama sekali nggak keberatan karena kembal lagi, semangat agar keluarga ini bisa kontribusi kebermanfaatan buat yang lainnya. di saat aku kesel sama orang yang cancel karena alasan bantu ibunya (dan aku berpikir, emang aku gamau bantu ibukuuuu huhu)
-Abi Ummi mau kasih spare time ngobrol habis shalat
-Icha mau bantu dan ngorbanin waktu rumahnya
-Ada teman yang mau menjawab dengan lapang hal-hal yang ditanyakan
-Ada anak-anak yang bisa dengan ringannya bilang mau jadi Kak Fitri
-Teteh kasih izin aku untuk ikut agenda di tempat yang lebih dekat dan tanpa sadar membuatku jadi perlu izin rapat
-Pertemuan nggak sengaja dengan Mbak yang dulu aku respect di Jogja
-Ada rumah yang hangat, ada pertemuan dengan adik walau tidak melulu menyenangkan, ada kebersamaan keluarga yang mungkin didambakan banyak orang
-Ada waktu sekedar untuk merem istirahat sejenak walau akhirnya setelahnya aku kebablasan tidur lagi
-Ada teman-teman dan lingkungan kantor yang menyenangkan dan kondusif yang nggak semua orang punya
-Ada teman yang tertarik buat belajar, dan semoga bisa kasih hal baik yang bisa dia pelajari
-Kemarin ketika aku mau cerita betapa capeknya,eh ketemu twitan orang yang doain calon anaknya sambil share hafiz indonesia. Yang aku udah takut kalo ngekik nanti air mataku tumpah saking malunya.
-Karena Allah hadirkan diri ini ke dunia dengan fisik yang sempurna (aku mengingat Naja yang tadi disebut Fahri, beberapa hari lalu aku baca kisah singkat dia. celebral palsy, jalan baru bisa usia dua tahun atau berapa gitu, tapi Allah muliakan ia dengan menitipkan hafalan 30 juz dalam dirinya)
-Ada orang yang mau mendengarkan, dan memberi dorongan semangat, yang aku rasakan sayangnya
-Ada perasan sedih ketika kondisi ruhiyah lagi jauh, lagi nggak khusyuk, lagi mudah mengantuk saat ibadah, lagi nggak ngaji selama tempo beberapa jenak waktu (more than 24hour). Sedih banget sebenernya, tapi seenggaknya, bersyukur masih Allah hadirkan rasa sedih itu.
-Ada pesan yang menyadarkan dari teman, yang rupanya masih mau berbagi sedikit ceritanya.
-Ada orang yang mau berbagi pengalamannya ke banyak orang, dan tanpa sengaja itu membuat aku belajar
-Ada kesempatan untuk kolaborasi bareng yang sudah lama aku inginkan
-Ada orang, yang entah bagaimana cerita di blog ini, udah terlalu banyak keluh dan ketidakfaedahan, masih mau baca ceritaku. Mungkin itu kamu salah satunya. Huhu, jadi terima kasih.
Jadi, terima kasih.
Terima kasih Allah, Abi Ummi, adik-adik, kantor, lingkungan sekitar, teman-teman, anak-anak, juga barangkali kamu, yang mau repot-repot maish main ke laman ini.
Terima kasih diri.
Penerimaan diri mungkin sulit. Tapi aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik yang support. Contohnya Ummi tadi, waktu aku kesel bilang, kenapa sih orang gampang banget cancel dengan alasan mau bantu ibunya di rumah. Emang aku ga mau bantu Ummi? Emang aku juga ga ngerasa bersalah ga bantu Ummi.
Ummi dengan sangat ringan bilang, kalau Ummi, kalau keluarga kita tahu bermanfaat buat orang lain juga salah satu tujuan. Ummi nggak keberatan siapin takjil nggak dibantu, karena tahu Mbak Fitri ke luar buat kebermanfaatan. Ada wajah-wajah yang senang dan kegembiraan untuk orang lain setelahnya. Contoh lain, misalnya. Ummi praktek sampe sore atau ngisi radio dan pulang mepet, yaudah satu dua kali beli nggak masak juga nggak masalah. Atau misalnya kondisi rumah yang berantakan yang bisa dimaklumi oleh kami semua. (Aku selalu kagum sih Abi hampir nggak pernah protes makan apa aja yang ada, beli atau umi masak cuma rebus-rebus aja, atau juga kondisi rumah yang berantakan) Selalu ada prioritas, dan selama tau apa yang dituju, hal-hal kecil tidak pernah jadi masalah.
Atau Ummi kemarin bilang. Mbak Fitri mungkin nggak dapat tilawahnya, ngerasa capek, tapi lihat agenda seharian ini, dapat ilmu baru, pengalaman baru. Lalu aku denial, bilang, tilawah aku masih bisa nerima. Tapi kenapa aku segini capeknya. Gini aja udah capek gimana nanti kalau udah lebih banyak tanggung jawabnya.
Ummi bilang sedikit, berdoa, minta dikuatin. Kupikir, ya bener sih itu aja senjata yang kita punya, ya nggak. Doa. Bergantung sama Allah. Minta dimampukan sebagaimaan doa yang juga ahir-akhir ini aku minta dalam term yang lebih general. Ternyata alau dispesifikkin bisa sampe segitunya ya.
Lalu aku ingat kata-kata Kak Shanin menjalani kewajiban barunya. Katanya, dulu aku juga males banget ini itu, sekarang, kayak mau aja gitu. Aku gak ngerasa itu tanggung jawab. Aku seneng aja ngelakuinnya.
Menjadi suporter, memang harus selalu bisa melihat dari sisi yang tidak terlihat ya. Mendukung sepenuh hati, mengingat tujuan besar yang dicapai. Menenangkan kala orang lain sedang runyam dan mengeluh yang bisa aja sebenernya bukan keluh, tapi kayak pengen cerita aja, pengen didengar. Memahami kondisi hormonal atau lingkungan atau kondisi sekitar lawan bicaranya.
Ah, tapi suporter yang baik pun perlu bisa menerima dulu. Menerima dengan lapang dan luas lawan bicaranya. Karena kalau enggak, rebutan deh pengen dimengerti duluan. Tidak jadi menenangkan, namun membuat semakin runyam.
.
.
Dear diri,
Kita belajar lagi, ya.
Kamis, 16 Mei 2019
Dear Nak: Teman Perjalanan
masih ingat betapa harunya ibu saat tahu ima dan abidah dipasangkan menjadi teman perjalanan kan?
tadi di perjalanan pulang ibu tiba-tiba kepikiran,
teman perjalanan yang baik, barangkali tidak selalu menyenangkan. Tapi selama kita sama-sama tahu bahwa perjalanan kita sama-sama menuju arah yang baik, yang benar, kita akan sampai pada tujuan, jika Allah izinkan.
Seperti dulu ayahnya ibu waktu ibu dan adik-adik ibu masih kecil. Dalam perjalanan, yang ibu ingat kalau adik-adik ibu mulai nggak akur, ayahnya ibu akan bilang, "Kalau berantem terus, nanti Abi turunin di jalan." Lalu yang jahil akan mengurangi-bahkan mengnolkan-jahilnya, yang menangis berusaha meredakan tangisnya, yang komentar terus jadi belajar diam.
Terlepas itu kata-kata yang baik atau bukan, benar atau salah untuk proses mendidik. Saat sudah besar, ibu tahu bahwa ayahnya ibu nggak akan beneran tega nurunin dan ninggalin anaknya di jalan. Tidak akan. Tidak akan ditinggalkan.
Mungkin perjalanan juga begitu. teman yang baik bukan tidak pernah tidak menyenangkan, bukan tidak pernah salah, bukan tidak pernah kesal satu sama lain. Namun di saat yang sama, mereka saling mengingatkan, bahwa ada tujuan yang sama yang hendak mereka tuju. Tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Dan selama hal-hal masalah yang datang tidak membuat rute perjalanan kehilangan arah tujuan yang sama, atau berbelok arah, atau jadi berbeda arah tujuannya, ibu pikir, mestinya itu tidak akan menjadi persoalan besar.
Nak,
teman perjalanan yang baik, barangkali tidak selalu menyenangkan. Semoga ibu bisa jadi teman perjalanan yang baik ya. Untukmu, dan untuk siapapun dalam perjalanan yang ibu lalui di depan. Dan, tentu saja juga di lingkungan sekarang.
Nak,
dalam perjalanan, kalau kita sama-sama takut, gabungan orang yang takut semoga menjadi tim yang berani, ya. Yakin, dan percaya satu sama lain.
Senin, 13 Mei 2019
Percaya dan Yakin
Lalu waktu ragu-ragu kukirim, aku memilih diksi. Yakin atau percaya, percaya atau yakin ? Ah, keduanya sama kan? Atau beda? Atau sama?
Haha, repot banget aku emang sama term tu.
Tapi aku akhirnya piih kata percaya, karena dulu pun sudah pernah kutulis. Di sini.
Pesan terkirim, tidak ada respon tentang jawaban itu rupanya. Aku tidak tahu apakah seluruh perasaan(atau kalo jadi mikir aneh-aneh, pake term energi aja ya-seluruh energi)ku yang terwakili pada kata-kata itu, yang lama kupikirkan jawabannya ketika suatu hari aku berpikir, nanti kalau ditanya jawab apa ya-lalu aku memikirkan jawaban, sampai atau tidak sebagaimana aku merasakannya.
Tidak, tidak apa-apa. Tidak sampai pun yasudah tidak apa-apa. Mungkin nanti ada sendiri waktunya.
:)
Waktu
Ha, baru sebulan yang lalu ya ternyata. Kayaknya udah lama banget....Biasanya merasa apa-apa berjalan cepat. Kenapa sekarang rasanya pesan ini sudah cukup lama ya? Apa terlalu banyak hal yang terjadi dan berlalu sebulan terakhir ini?
-untuk orang-orang di dalamnya, terima kasih :)
Kamis, 09 Mei 2019
Mikir
#sisakemarin #rabumalam
sudah kadung ditulis meski belum selesai
Minggu, 05 Mei 2019
April-awal Mei
Bagaimanapun, Aprilnya berakhir.
Lalu Mei dimulai. Tadi aku tercenung mengingat Ahad ini. Ahad pertama Mei, dan seluruh kenangan. Perjalanan, mengalahkan diri sendiri, belajar, bersyukur, dan memaafkan kesalahan diri sendiri, serta ikut senang dan benar-benar sehepi itu dengan rasa bahagianya orang lain. Dan akhirnya di awal Mei ini aku pelan-pelan memahami bahwa teman monolog perlu benar-benar pergi. Bahkan aku juga ingat hal yang aku kenang di awal Mei semasa SD. Ah, juga bungkusan nasi kuning yang kubawa dan kutawarkan. Juga bagi-bagi takjil yang aku belum pernah ikutan.
Bagaimanapun, waktu berjalan.
Waktu bukanlah obat terbaik.
Obat terbaik adalah penerimaan. Keridhaan. Keikhlasan.
Apapun jalan hidupnya, Allah siapkan yang baik. Yang terbaik.
Ada yang mau Allah ajarkan. Apapun itu.
Sudah, segitu saja. Sekian.
Ridha dan Surga
kami minta ridhaMu dan surga
kami minta ridhaMu dan surga
Jumat, 26 April 2019
Lesson Learn 24-26 April 2019
2. Belajar ndak menyerah dan berjuang lebih keras
setelah segala lelah sepagian (u can guess from last post that i draft), sorenya aku dapat email kalau naskah yang aku ikutin seleksi belum rezekinya lagi :") Jadi emang judul April ini semacam bulan penolakan //gaboleh ngomong gitu nanti jadi doa *kata bedah buku magnet rezekinya kak big//, sampai tanggal 23 kemarin aja ya semogaaaaa. Ada naskah bardbook yang tahun ini aku kirim lagi ke penerbit lain setelah 2017 belum rezeki~yang ditolak waktu hari buku anak 2 april kemarin. ada naskah cerpen kartiniku yang aku mentorin lagi ke mas teguh dan itu idenya udah dikirim dari 2017 sebagai rubrik opini umum gitu, lalu 2018 aku kirim as cerpen juga cuman mungkin terlalu mepet ngirimnya, tahun ini aku sampakan lagi pada peraduan. tapi namanya belum rezeki ya gimana yaa. mungkin aku kelewat pede dan salah juga ga nyoba kirim ke media cetak lain (untuk yang mau kasi feedback boleh kasi email nanti kukirim insya Allah). lalu terakhir yang kemarin ditolak 23 april, waktu hari buku. naskahnya dulu sempat diapresiasi waktu pelatihan soal 3 paragraf pertama di Bandung Februari lalu, meski tetap ada masukan juga. kemarin aku kerjakan masukannya namun memang belum rezeki :")) Hanya lucu aja, semua momen penolakan naskahnya pas hari buku anak, hari di mana diperingati karena Kartini menulis, dan hari buku. Masya Allah, bagus sekali untuk dikenang.
Tapi ada teman pelatihanku yang lolos. Namanya Mas Dwi, dulu peserta pelatihan Si Bintang juga di Jogja November lalu. Positifnya jadi ada obrolan di grup itu lagi. Mas Dwi dulu juga bantu aku kasih masukan ke naskah boardbook yang aku kirim. Aku masih ingat wajah beliau yang runyam waktu mikir revisi berjenjang selama workshop. Namun memang pengalaman beliau sudah lebih banyak. Mas Dwi ini kalo aku liat mirip ayahnya temenku hihi. Aku minta belajar dari naskah mentah beliau tapi rupanya pihak pelatihan yang sekarang melarang ngeshare naskah mentahnya.
Lalu juga membuka obrolan soal peserta yang lulus Gerakan Literasi Nasional. Daeng Gegge yang lolos GLN juga dulu sempat kasih testimoni susah banget ya bikin naskah buku anak tuh. Waktu pelatihan di Jogja, Daeng sebagai salah satu petinggi di FLP yang udah nulis buku buat umum, pertama kali nulis buku anak di pelatihan ini dan mengungkapkan kesulitannya. Jadi ya sama-sama. Tapi Daeng meski belum punya portofolio, nekat bikin aja buku anak indie sendiri, ngusahsin nyetak sendiri dan urus ISBN, sama ya cantumin aja buku hasil pelatihan FLP di portofolionya walau belum jadi. Lalu Daeng lolos dooong peserta GLN yang kemarin seleksinya emang mengharuskan punya portofolio buku dulu :") Malah tempat beliau nyetak buku, juga ikut seleksi, lalu tidak lolos. Memang ya rezeki Allah itu ndak bisa ditebak, tapi selalu ada, dalam bentuk yang tepat untuk setiap hambanya :")
Aku ga kut seleksi GLN karena ga ada portofolio dan waktu itu udah japri panitia buat nanya, tapi ternyata gaes, masih ada jalan menuju Roma ya. Itu lihat Daeng Gegge juga ndak nyerah gitu aja, cobain aja tetep kirim berkas, usahain apa yang bisa diusahain. Emang kalo ga nyoba ya kemungkinan kalah langsung 100%, kalo nyoba kan seenggaknya punya modal awal menang alias lolos seleksi 50% :") Aku terharu sih sama perjuangan suhu-suhu dan senior-seniorku di grup ini.Lalu soal seleksi satunya juga aku belajar. Ini kegagalanku yang keempat. Tapi ya setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing menuju sukses. Aku japrian sama Kak Marissa dan Kak Marissa cerita tentag kata-kata Dinda, teman kami juga. Dia pernah bilang ke Kak Marissa tentang kegagalan Kak Mar, dibilang, "baru 8 kan Mar, yaudah coba lagi aja...."
Kata Kak Mar, mungkin rezeki kit nanti di percobaan ke 10, atau ke 12. Kalo berhenti sekarang gak ketemu, hahaha. Walau capek. Gapapa, niatnya karena senang kan?"
Kak Marissa pernah tanya aku beberapa kali kayaknya, tapi senang kan Fit ngelakuinnya?

Momen ini jug membuat aku dapat suntikan semangat dari orang-orang yang percaya gitu sama keinginanku. Huhu aku terharu dapet japrian. dapet virtual hug juga dari arum.

Kemarinnya juga habis baca tulisannya Masgun tentang mengejar mimpi. Lalu hari ini pas dapet pengumuman ini juga sempat bahas mimpi dan levelnya. Aku pun pernah ada pada pikiran, apakah ini bener yang aku pengen? Apakah aku betulan ingin menulis cerita anak? Bagaimana kalau nanti berubah? Bagaimana jika aku tiba-tba merasa nggak mau lagi mengejar impian ini? Bagaimana kalau ternyata hal itu mengecewakan orang, bahkan orang terdekat yang mendukungku? Atau bagaimana jika setelah terwujud, euforia membuatku berhenti? Atau bagaimana jika aku mentok kalau udah terwujud, kayak bingung habis ini apa ya?
Padahal mah ya jangan mikir gitu atuh Fit. Ayo menanam dan menumbuhkan pikiran baik dan positif biar hidupnya penuh energi positif. Kayaknya emang butuh banget ni aku pikiran-pikiran positif, perasaan-perasaan posiitif, dan motivasi positif.
Ohiya, ini dak terlau penting sih (kayak tulisan ini penting aja woi), kemarin waktu rasanya lagi sedih tu, denger lagu yang isinya ungkapan sayang ayah ke anak Kayak jadi oase aja dari kegersangan lagu yang kalo isinya perasaan antar lawan jenis seringnya. manis ya. terus di videoklipnya ada buku summerhill school yang dijadiin panduan dan referensi temenku dalam mendidik bahkan dia taruh di proposal nikahnya 2017 lalu. jadi penasaran sama isi bukunya (padahal umi lagi nyuruh baca macem-macem ehe). terus reflek sama lagu hatiku sedihnya film musikal sherina. emang yang reflek-reflek susah diboongin ya tentang isi hati dan perasaan. ckckck.
Kepikir mau cerita tentang tidak lolos ini tapi ternyata sarannya sebaiknya ga usah.
3. Momen Kecil yang Membahagiakan
Salah satu hal menyenangkan kalo lagi ngerasa down adalah dihubungin orang-orang. Pernah suatu ketika di tahun lalu perasaanku lagi ga enak banget, temen KKNku tiba-tiba weh nelpon. Aku langsung ke balkon dan aku kayaknya pas itu sampe nangis bentar gara-gara seneng banget disapa orang lama ngga ketemu dan ngga bertukar kabar di tengah segala perasaan lelah.
Lalu kemarin Selasa juga gitu. Tiba-tiba saja Ayah Umak KKN ku nelpon dari Madinah :") video call bahkan di perjalanan ke stasiun. Terus ada beberapa japri, ada diskusi kecil, ada inspirasi besar, ada perasaan senang membagi duniaku ke orang lain. Senang sekali rasanya dikelilingi teman-teman yang baik dan supportif. Senang sekali disapa, dijapri bahkan sesederhana, Fit kalu mau ngerjain di mushala nggakpapa, meski temenku ini nebaknya aku cukup down dengan hal satu, namun waktu itu aku lebih sedih lagi karena ditolak :"). Tapi yaudah, everything shall pass. And what doesn't kill you make you stronger.
4. Fokus
Rabu waktu aku pulang, aku kepleset di tangga. Sudah berdiri dari posisi semi jatuh dan melangkah lagi, aku kepleset lagi. Membuat panik kaka-kaka yang melihat saja....
Pulangnya di perjalanan hampir nyerempet atau kesrempet orang (entah mana yang hampir nyerempet mana yang diserempet)). Pagi kemarin hampir nabrak orang. Aku jadi bertanya-tanya kenapa ya aku? Susah fokus apa aku akhir-akhir ini?Tapi emang fokus lagi menjadi tantangan sih kalau aku coba merenungi beberapa tindakanku hari-hari belakangan. entah mengapa
5. Merenung
Aku butuh kontemplasi ni kayaknya. Butuh banyak ngobrol sama Allah.
Itu isi kepalaku di perjalanan pulang saat hampir sampai rumah, Selasa atau Rabu lalu. Belum done tapi huhuhu.
6. Belajar
Memang ya, Allah ga akan ngebiarin hambaNya ga diuji walau sedikit saja. Sedih ujian, senang juga ujain. Jadi emang lagi kerasa, saat membulatkan tekad, mau jadi lebih baik di suatu hal. Langsung Allah kasih aku ujiannya. Lalu aku gagal melewatinya :"""""
Lalu Allah kasih aku lagi ujian yang mirip karena aku ndak berhasil melewatinya.
Sungguh pas banget ujiannya sama apa yang sudah aku niatkan. Padahal waktu ga diniatin, ga ada tuh ujian kek gitu. Masya Allah ya :""""
Jadi kepikir, memang kalau mau menghindari atau lulus dari suatu ujian. Bisa jadi yang bisa diusahakan di skup kecil adalah menjauhi triggernya :")
7. Menjadi Orang Tua
Kemarin diskusi soal beberapa prinsip sama teman, tentang value yang diajarkan orang tua yang kok kayakanya kacamata manusia kita masih sulit ya nerapin itu di kehidupan sehari-hari. Lalu aku jadi kepikir, masya Allah, susah banget ya jadi orang tua. Bagaimana anak mau nurut tapi bukan karena takut, karena tau kalau itu memang perintang untuk menaati Allah. Soalnya kalo karena takut gitu nanti anak cari aman deh, yaudah gapapa kalo ga ketahuan, hihihi.
Tapi kata Ummi emang, jangan dipikir takutnya. Mirip semangat dari Kak Big waktu bedah buku magnet rezeki nih, ubah pikirannya jadi bisa. Insya Allah Allah mampukan.
8. Menjadi Orang Tua part 2
Tadi pagi lihat igstori kak Asti tentang GTM (Gerakan tutup mulutnya Hafshah). Terus ada beberapa poin soal minta ke Allah supaya anaknya mau makan. Tertulis, mungkin ini sebuah permintaan receh ke Allah, tapi kalau ga minta sama Allah terus sama siapa lagi?
Lihat juga wastory Suci tentang cerita keahiran anaknya (cepat sekali ci hampir setahun berlalu sejak kamu menikah :")). Yang masya Allah dimudahkan sekali Mulai dari afirmasi positif, dukungan keluarga, dan pengharapan ke Allah, usaha dan doa. Terharu :"). Luar biasa ya orang tua tuh. Tapi lebih luar biasa lagi orang tua yang sepenuh hati doa, ikhtiar, dan tawakal ke Allahnya kerja bareng-bareng. Semoga Allah kuatkan dan mampukan.



9. Doa yang Panjang
Tadi aku lihat seorang Kakak, yang baru saja usia menikahnya 11 harian. Doanya lama usai zuhur. Aku tersenyum haru bahkan sampe berkaca-kaca. Peran baru, amanah baru, keluarga baru. Aih, banyak sekali tentu pinta yang perlu dilangitkan, soal kesakinahan keluarga, soal kekuatan menjalani peran dan amanah baru, soal menjadi sebaik-baik istri untuk suaminya, soal kekompakan keluarga. Karena kalau ngga minta ke Allah, ke siapa lagi dong ya? :") Pantas saja ya doa ibu makin panjang Makin banyak anaknya juga mungkin akan bertambah panjang :"")
Ya itu tebakan dan kesoktauan aku aja sih. Tapi rasanya manis :")
10. Apa yang Disenangi
Aku pernah punya rasa penolakan dalam diri mengerjakan sesuatu yang aku tahu itu bukan pengejaranku jangka panjang Tidak ada dalam rencana-rencana atau keinginan.
Tapi kemudian tersadar aja kemarin, ah ternyata aku masih egois ya, menghindar karena itu. Padahal kan masih relate sama pekerjaan. Dan pekerjaan juga amanah. Dan akhirnya hal tersebut pun kuusahakan jua :")
Satu dua aku kadang sampai juga pada pertanyaan, apa sudah menjalani apa yang diinginkan? Walau ya aku senang dan sayang kok dengan pekerjaan sekarang Tapi kadang-kadang ada aja tu muncul momen begitu. Hehe, emang manusiaaa manusia. Bingung ya? Maksudku, kadang aku nanya, kenapa ngerjain ini itu tapi ga bisa ngebela-belain buat nulis. Kenapa willingnessku menambah skill di bidang kerjaan ngga semenggugah dan seinisiatif buat ikut dan daftar-daftar di bidang menulis. Duh apa aku mesti diwork on lagi kayak waktu itu. Nggak mau tapi adang rindu. Rindu semangatnya :") Ckckck, manusia. Hayo Fit, ga bisa apa emang ga agendain? ga bisa apa emang ga meluangkan waktu? ga bisa apa ga mau?
11. Fahri UN, Fatih Sakit
Fahri ujian nasional. Sebenarnya niatan aku dari pekan lalu, aku pengen pulang sore terus sepanjang Fahri UN. Tapi ternyata itu tidak kuusahakan maksimal. Aku masih menjadi budak bukan tuan pekerjaan dan ndak memprioritaskan huhuhu.
Apa ya, ada perasaan pengen nunjukin dukunganku ke Fahri. Kemarin-kemarin pun selama Fahri UN, kalau aku kalah oleh lelah, aku bahkan tidur duluan daripada dia. Meskipun hanya erbaring dan melihat langit-langit. Ngobrol sendiri maupun sama Allah. Jadilah mulai hari keberapa kemarin itu, pokoknya pagi harus salim, harus ngasih semangat, gitu kataku ke diri sendiri. Suka malu kalau dia belajar, atau pas liat aku pagi-pagi, akunya malah sibuk sama HP. Itu di aku perasaannya kayak, ini gue lagi berusaha, si kakak kok kayaknya enak banget ya. Kan kalo lagi berjuang enaknya dapet temen berjuang bareng-bareng ya :"), jadi aku tu niat awalnya pengen jadi temen berjuang dia... Dulu aku UN SMP SMA selalu sama temen-temen asrama. Jadi kerasa semua orang berjuang gitu. Aku senang juga dia pakai rumus yang kurangkumin dari bukunya :")
Memang being elder sister rasanya suka ngga mudah.
Fatih sakit. Tapi tadi pagi ngomongnya sudah banyak. Sudah bisa melucu. Sudah bisa ngasih soal ke aku tentang faktorial (padahal aku baru tau faktorial juga SMA). Kadang ngerasa bersalah kalau Fatih lagi banyak cerita akunya lagi balesin pesan jadi ga fokus sama dia. Dia di rumah libur UN. Tapi karena sakit ya ndak banyak aktivitas memang. Lucu tadi pagi tiba-tiba minta makan, tapi mintanya Indom**, katanya, alasannya kan lagi sakit. Hahaha, bisa ae emang anak ini. Atau salim tapi arahnya minta ke kompresnya, katanya biar keteken lagi kompresannya.
Pulang hari ini aku sembari pesan makanan. Tadinya mau kubeli tapi kalo aku mampir jatuhnya aku same rumahnya lebih lama. Niatnya beli mensyukuri Fahri yang sudah selesai UN. Fahri senang, alhamdulillah. Meski di akhir setelah Makasih ya Mbak, dia bilang, Fahri jadi takut kalau nilainya nggak sesuai harapan (memang ya rejection doesn't kill you, expectation does, ckckck). Tapi aku bilang ndak apa-apa. Kan sudah berusaha, sekarang waktunya berdoa. Aku senang sih dia terlihat hepi sekali waktu makan. Walaupun katanya maunya burger hihihi.
Pernah suatu waktu Fahri nih curhat sama aku. Dia merasa nggak diapresiasi sama Umi Abi. Aku tahu, bukan Umi ga apresiasi sih, tapi memang dia ni keliatannya minim banget belajarnya. Banyak main rubiknya. Pinjem HP Umi buat main game. dsb dll. Tapi dia sampe nunjukin akun ig sesuatu aku lupa yang isinya video sepasang orang tua dengan 2 anaknya. Yang satu nilainya bagussss banget yang satu jelek. Tapi si ibunya tau anak yang nilainya jelek ini usahanya keras, belajar sampe begadang, dsb. Terus waktu suasana ga enak di meja makan karena bahas nilai, ibunya alihkan pembicaraan dan nyendokin lauk yang enak gitu kalau ga salah ke anak yang nilainya jelek. Penghargaan atas usaha kerasnya.
Aku minta link video itu ke Fahri terus aku forward ke Umi. Aku bilang apa yang dia rasain. Aku pun menyadari sih, beda banget dia mau UN sama dulu aku mau UN Ya mungkin karena aku sekolah asrama juga ya jadinya kerasa banget, lha wong semuanya UN kan iklimnya iklim belajar. Dia nih kemarin waktu masa-masa TO, UASBN, dan pemantaan materi, ngga ada feel-feel UNnya sama sekali aku tu ngerasanya. Jadi aku paham, sudut pandang Umi kalau ngasih nasehat, kalo gemes, karena dia ngga keliatan belajarnya. Terus udah gitu alesan dia, kan udah belajar di sekolah. Ya kan kurang maaaas kalo hanya di sekolah aja. Lalu juga dengan hasil TO yang agak sedih kan Umi makin gemes ya. Memang ujian cem ujian nasional ini yang disiapkan dua sih, mental aanak dan mental orang tua. Karena kadang ada, yang anaknya biasa aja lalu orang tuanya yag panik, atau bahkan menekan. Ummi sebenarnya nggak ada sih kalo sampe menekan yang gimana gitu. Pengennya sih anaknya sadar, mau belajar dan meningktkan intensitasnya. Juga meningkatkan intensitas mendekat ke Allahnya. Kalau diingat-ingat aku pun dulu kayaknya Umi ajarin buat tahajud waktu menjelang UN SD deh. Ya mungkin telat juga, tapi ndak papa dari pada tidak sama sekali hehe.
Ya gitu sih, hanya sedikit makanan yang dibeli tapi dia senang alhamdulillah :")
Sudah malam, ikan bobo (ala-ala iklan taun berapa ya? hehe)
Eh tau ga funfact kalau ikan bobo ga merem loh. Karena dia ga punya kelopak mata.
Semoga jadi lebih baik setelah menuliskan hal-hal ini. Semoga menjadi pelajaran yang tertuang dalam laku.
Jumat, 19 April 2019
Yang Didengar di Perjalanan
Waktu itu di ruangan bahas tentang lagu. Tau sendiri kan di Indonesia lagu yang populer ya lagu tentang perasaan dan terutama antara lawan jenis gitu. Lalu satu-satunya orang yang sudah menikah di antara kami bilang. Katanya dulu waktu belum menikah beliau semacam 'apa sih' sama lagu-lagu macam ini. Kayak nonsense gitu aku nangkepnya.
Tapi abis nikah, beliau jadi suka nyari lagu yang pas, dibikin playlist dulu. Lalu diputar buat temen perjalanan kalau pergi bareng istrinya di mobil. Jadi emang udah mencari lagu yang bisa jadi ungkapan hati ke istri gitu dan menyampaiakn perasaan sayangnya ke istri, semacam itu hehe.
Terus kita yang jomblo-jomblo ini heboh gitu. Lebay deng. Intinya jadi komen, wah so sweet ya Kakak. Kepikiran ya ke sana. dsb. dsb. Aku pun begitu mendengar ceritanya, manis sekali ya.
Lain waktu aku pergi naik mobil omku dari Yogya ke Magelang. Mobilnya memutar radio. Sekali waktu ada lagu juga. Beberapa kali naik mobil beliau, ritme dan polanya memang memutar radio, yang memutar lagu di siaran radionya. Kalau ada lagu yang tahu, om (atau tanteku juga, ya) akan mengikuti nadanya lirih. Hehe malu kali ya ada ponakannya.
Lain waktu, berangkat outing. Kami berangkat pagi-pagi sekali, bahkan subuh di jalan dan sudah masuk Jakarta. Kelompokku naik mobil seorang Kakak yang memutar kajian Ustadz Abdus Somad sepanjang perjalanan.
Lain waktu lagi, lebaran tahun lalu kalau tidak salah. Aku naik mobil di Magelang. Begitu mobil dinyalakan, langsung terdengar murottal (nampaknya langsung nyala karena radionya juga ikut mati waktu mesin mobil dimatikan sebelumnya). Aku langsung mengingat kenangan cerita pertama yang kakaknya bikin playlist lagu buat istrinya itu. Aku nggak bicara benar salah ya, semacam preferensi aja apa yang didengar di perjalanan. Dan mungkin juga semua yang aku ceritakan di sini saling menyeling tentang apa yang diputar di perjalanan. Sekali waktu puter radio update kabar jalan, kali lain putar lagu, kali lainnya putar murottal, kali lain putar kajian, mungkin saja kan?
Tapi aku belajar satu hal sih.
Bahwa apa yang diputar di perjalanan, bisa jadi mencerminkan apa yang menjadi penting atau apa yang mau dituju, atau apa yang menjadi value dari suatu keluarga.
Sekali lagi, aku ga bisara soal benar salah yaaa. Kan ini preferensi aja.
Memutar lagu yang sampe seniat itu dibikin playlist tentu menjadi salah satu ungkapan sayang, apalagi ini udah buat yang halal yaaa. Jadi niatannya membahagiakan pasangan :") Dan tentu saja itu berpahala, kan?
Pun ketika aku masuk mobil yang udah memutar murottal. Itu kayak, definisi sayang mereka udah sama-sama dengerin murottal dan menguatkan hafalan bareng. Dan itu cukup buat menghibur sepanjang jalan. Haru aja aku dengernya pas itu. Kayak seolah-olah ngeh, ini tabungan cara ke surga kita.
Semoga apa-apa yang kita dengar menjadi jalan agar bisa dekat ke Allah, dekat dengan ridhaNya, dekat dengan surgaNya. Aamiin.
Yang Dilihat di Perjalanan
Waktu itu kalau tidak salah, temanku cerita. Dia biasanya keluar kosan itu jam 9an buat berangkat kantor sekalian sarapan. Lalu pagi itu, karena dia mau urus A5, dia pagi-pagi jam 7an keluar buat fotokopi. Katanya, saya melihat sesuatu yang gak biasa saya lihat. Say aihat orang-orang berangkat sekolah, saya melihat pagi. Begitu katanya, kira-kira.
Saya jadi nyambung. Saya juga cerita. Karena saya jarang berangkat siang banget, dan waktu itu saya berangkat sekitar jam 1 setengah 2 gtu dari rumah, saya ihat kehidupan siang. Anak-anak yang pulang sekolah, dan lain sebagainya. Lalu kita bertiga jadi menertawakan aja, hal-hal yang nggak biasa dilihat.
Saya jadi ingat, dulu saya juga pernah bilang ke temen. Coba deh kamu sekali-kali pulang kantor lebih cepat dari biasanya, nanti melihat hal yang nggak biasa kamu lihat. Waktu itu di hari sebelumnya napaknya saya juga pulang cepat. Saya melihat anak SD (yang masuk siang, sepertinya) pulang sekolah, saya berpapasan dengan wajah-wajah penjemput yang mencari-cari anaknya, juga wajah-wajah anak SD yang mencari penjemputnya. Wajah-wajah lega dan saling melempar dadah berpammitan. Satu dua menyeberang, pulang sendiri. Lalu saya juga lihat mobil tahanan lewat di depan SD itu. Saya sedih pas itu, lihat mobil tahanan lewatin SD dan mungkin cukup sering karena memang di situ ada arah ke rutan gitu.
Tapi waktu itu temen saya menggeleng, dia bilang jalan pulangnya ngga lewat hal-hal semacam itu. Baiklah.
Kamis itu juga, saya perlu ambil cetakan di margonda area detos. Saya ke sana habis buka puasa dan maghriban. Ingat waktu itu Pak Yatno nyiapin pisang dan singkong rebus yang cukup banyak. Saking banyaknya sampe nyisa banyak banget di kantor. Dua temen saya so lucky mendapatkan pisang turahan makan siang peserta shortcourse.
Waktu saya mau pulang, Kak Ardi nyuruh bungkus pisang dan singkong rebus itu. Saya menolak karena khawatir di rumah gak kemakan. Tapi Kak Ardi bilang, buat diagi-bagi Fit, ke orang yang gak kamu kenal yang ditemui di jalan. Tadinya saya ragu, kayak mikir, perasaan saya ngga pernah ketemu siapa-siapa di jalan. Beda sama Kak Ardi yang bilang sering melakukannya, karena bayangan saya waktu itu, Kak Ardi pulang lewat stasiun dan di stasiun banyak sekali orang yang mencari nafkah, mulai dari anak-anak kecil yang jualan tisu, pengemis, dan lain sebagainya. Tapi akhirnya, saya bawa aja. Satu bungkus.
Dan....saya pulang tapi kan ke percetakan dulu ya. Margonda. Suatu pola yang gak biasa saya tempuh mengingat arah pulang ke Bogor. Jadi saya melihat hal yang lain dari biasanya.
Margonda malam hari itu, rasanya miriiiiis sekali.
Entah berapa banyak orang-orang dengan hasil memulungnya, atau mengambil sampah plastik yang masih bsia dipakai, ada di pinggir-pinggir jalan Margonda. Ketika saya pergi dan pulang. Yang hanya berdua ibu dan anaknya, yang berempat; ayah ibu dan kedua anaknya. Atau mungkin juga yang sendiri. Banyak sekali jumlahnya. Saya sampai menyesal hanya bawa satu kresek waktu itu.
Ya Allah, rasanya sedih sekali. Semalam itu mereka sekeluarga baru pulang. Watu menyebut kata pulang, saya bahkan jadi ragu juga, apakah mereka betulan pulang atau tidak. Apakah mereka punya tempat berteduh? Atau ya sehari-hari bersama gerobaknya juga. Tinggal di sana, hidup di sana. Semoga mereka lekas Allah beri tempat dan penghidupan yang layak, ya.
Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi mikir itu sih, yang jadi judul tulisan ini. Yang Dilihat di Perjalanan. Kalau temen saya Senin lalu bilang, orang lihat motor lewat di jalan aja, bisa beda apa yang dipikirinnya satu sama lain. Lalu saya jadi mikir aja, mungkin apa yang kita lihat selama perjalanan, berangkat atau pulang, dalam kantor atau di luar, itu yang membantu menjadikan diri kita saat ini. Meskipun ada juga kemungkinan terlalu biasa melihat sehingga tidak membuat hati menjadi peka.
Semoga kita termasuk menjadikan apa-apa yang dilihat sebagai tempat belajar dan menjadi priibadi yang lebih baik. Aamiin.
