Senin, 31 Agustus 2020

Let kids be kids, just let them be⁣

sumber https://www.instagram.com/p/CB1m6iJpUgX/

Let kids be kids, just let them be⁣
Princesses, pirates, let the bath be the sea!⁣

Let them stare at the sky and find animals in the clouds.⁣
Let them dance in the rain and sing out loud.⁣

Let them dream really big and wish upon a star.⁣
Let them feel the wind in their hair from the window of a car.⁣

Smell their dandelion bouquet like it's your favorite flower,⁣
For they will grow up in what seems like just an hour.⁣

Tell them bedtime stories each and every night.⁣
Let them sleep in the middle when they awake with fright.⁣

Shield them from evil and keep them from danger,⁣
But teach them of acts of kindness for complete strangers.⁣

Don't hurry them, overschedule them, and make them feel lost.⁣

Let them build castles, do cartwheels, and find shells in the sand.⁣
If they need a little help, then please give them a hand.❤⁣

Let them walk barefoot and the grass tickle their feet,⁣
For it's the small things in life that will make them feel complete.⁣

Let them make couch cushion forts and sleep in a tent,⁣
For this is the way childhood was meant to be spent.⁣

Let them bring you breakfast in bed, let them burn your toast.⁣
Someday it will be times like this you will miss the most.⁣

Teach them how to serve others and be a good friend.⁣
If you teach all these things, their love will have no end.⁣

Teach them in life, not everyone will win.⁣
And when they lose they need to accept with a grin.⁣

It's not about the money you have and the things you have bought.⁣
Life is all about lessons that parents have taught.⁣

So let kids be kids, just let them be.⁣

❤ -a beautiful poem by jennifer caldwell, let kids be kids.

-dibawa ke sini 25 Juni 2020

Tentang Ayah, Nak (3)

Nak, tersebab menjalani peran Ayah pun tentu berat ssekali. Kemarin ibu baca tulisan teman ibu. Bunyinya begini:

https://www.instagram.com/p/CEW4zLmMv6j/

Menjadi Ayah
.
Di film Marriage Story, ada scene pengacara perempuan yang menggebu-gebu bilang bahwa tuntutan pada ibu itu tinggi sekali, sementara ayah tidak. Ayah boleh absen, boleh buruk, boleh tidak terlalu peduli pada anak; sementara ibu tidak. Sedih sekali nontonnya..
.
"Banyak yang bilang membesarkan anak laki-laki itu tidak sesulit anak perempuan, tapi itu karena tidak banyak anak laki-laki dididik dengan benar." utas sebuah akun di Twitter beberapa waktu lalu
.
Iya, mendidik tentang besarnya peran dan tanggung jawab ketika ia menjadi seorang ayah itu sulit sekali. Seorang laki-laki tidak bisa memilih untuk hanya menjadi ayah sebagaimana ibu bisa memilih fokus pada perannya sebagai ibu. Seorang ayah harus tetap bekerja, memegang peran penting memberi manfaat untuk sekitar dan menjemput rezeki. Ia wajib menjadi penjaga yang paling baik dan sayang pada istrinya. Ia juga seorang anak yang wajib menyayangi dan merawat ibunya. Ia juga seorang kakak, adik, sahabat, dan bagian dari masyarakat. Di agama Islam, justru banyak sekali contoh pendidikan yang dilakukan oleh ayah: Lukman, Ibrahim, Umar, Ya'kub, Rasulullah.. Menggambarkan bahwa pendidikan anak ya tugas ayah juga, bukan ibu seorang. Visi pendidikan kuncinya di Sang Ayah
.
Melihat perjuangan suamiku setiap hari, aku belajar bahwa jadi ayah itu berat sekali, jika dijalani dengan mindset dan pemahaman yang benar tentang peran seorang ayah. Dan ketika pemahaman ini dimiliki oleh semakin banyak laki-laki, aku rasa tidak akan ada lagi perempuan yang harus begitu berjuang dalam mendapatkan hak-haknya atau merasa terpuruk menjalankan perannya sebagai ibu sendirian
.
.
Bismillah ya Ayah @rizaherzego. Terima kasih sudah berjuang menjalankan semua peranmu dengan sebaik-baiknya. You'll be our forever hero.

Ibu selalu berpikir bahwa Ayah banyak sekali menyembunyikan perasaannya. Walaupun sekaligus juga Ayah orang yang suka terang-terangan. Tapi kalau ditanya Ayah suka kesulitan jawabnya. Atau menjawab, ya biasa aja, atau jawawan singkat lain yang terang namun mengndang tanya seanjutnya bagi ibu, hehehe. Bingung ya? Ibu juga, hehehe...

Tapi biar bagaimanapun, sependek usiamu saat ini, Ayah adalah pahlawan terbaik untuk kita Nak. Yang menenangkan Ibu saat kalut. Yang menenangkan Kaisa saat menangis. Yang sayang sekali dengan kita sampai tak bisa rasanya ibu tulis satu-satu di tulisan ini. 

Semoga Allah jaga Ayah selalu, ya. Semoga Ayah selalu jadi pribadi yang lebih baik, semakin dekat dengan Allah, dan bisa menjadi imam keluarga yang membawa kita juga semakin dekat dengan Allah.

Sabtu, 29 Agustus 2020

Tentang Ayah, Nak (2)

 Tersebab waktu tidak mampu menggambarkan keseluruhan apa yang terjadi hari ini, izinkan ibu menuliskan ini untukmu, suatu waktu.

Kamu mungkin sudah tahu tulisan ibu sebelumnya dengan judul yang sama. Tidak apa-apa ibu beri judul yang sama karena ini memang tentang ayahmu.

Kamu tahu Nak, ibu belakangan sering menangis terharu kalau melihat kebersamaan kamu dan Ayah.

Tiga yang paling ibu ingat sepanjang 10 hari pertama kehidupanmu:

Pertama, saat Ibu sarapan atau baru saja beberes, dan saat ibu kembali, kamu sudah digendong Ayah, yang menyambi sembari rapat kantornya. Tahu apa yang reflek ibu lakukan? Menangis. Terharu. Sebersyukur itu kelak Nak kamu begitu tahu bagaimana ayahmu.

Kedua, saat ibu baru saja beberes sore. Ibu menghampirimu yang baru saja diganti popok kain yang sudah basah pup oleh Ayah. Saat itu Ayah buru-buru keluar kamar untuk membedongmu. Kamar belum dibereskan. Mungkin ayah sedikit panik karena ruangannya kurang dan Ayah mau membedong kamu. 

Ketiga, saat kamu sulit sekali tidur. Ibu makan siang saat kamu anteng dan bisa ditinggal. Tapi kamu menangis keras. Ibu selesaikan makan ibu. Ibu datang padamu dan ada ayah yang sedang mengusahakan segala cara untuk menenangkanmu. Ah, meleleh hati ibu Nak. Ayah letakkan kamu di bouncer hadiah dari keluarga omnya ibu, lalu kamu masih menangis. Entah mengapa hari ini kamu cukup banyak menangis dan tidak tidur. Lalu ayah angkat kamu, ayah ajak berputar-putar dalam gendonganya. Ayah bergerak mengikuti irama dari bouncer. Kalau saja kamu sudah melihat dengan jelas dan tidak blur, mungkin kamu akan tertawa. Ibu saja jadi tertawa sambil menangis. Lama ayah angkat kamu dan ajak kamu ikut dalam gerakan-gerakan (aneh) Ayah danekspresi wajahnya yang sedemikian rupa. Kamu tenang dalam gendongannya. Sampai-sampai Ibu iri kamu bisa setenang itu (dalam joget-joget gak jelas ayah hihihi) :")

Nak, tentang Ayah, ialah manusia yang paling tidak pernah bosan melihatmu. Ialah manusia yang selalu ingin menempel denganmu. Ialah manusia yang sangat mencintaimu.

Kelak besar kalau kau kesal padanya karena satu dua urusan, ingatlah selalu kebaikan Ayah pada kita ya Nak :")

Ibu, yang menyayangi mudan ayahmu.

Ibu, Ibuknya Ibu, dan Ibuknya Ibuknya Ibu

Nak, tersebab waktu tidak pernah mengizinkan kita mampu merekam semua kejadian dalam perangkat yang kita miliki-entah sampai kapan-sekalipun kita inginkan, kita tidak akan bisa meraba-raba curahan kasih ibu dalam detak kehidupan kita.

Tidak pernah kita tau apa yang ia bisikkan semasa ia timang kita dalam buaian. Tidak tahu berapa banyak ungkapan kasih sayang yang tiada malu-malu dilafalkan. Tidak terhitung rapalan doa yang ia ucapkan ketika menatap wajah kita sebagai anaknya, selain doa-doa di waktu sujud panjang dan selepas shalatnya.

Untuk refleksi ibu, misalnya. Tidak pernah ibu tahu berapa banyak sungging senyum ibuknya ibu saat ibu kecil dahulu, yang selepas besar mudah sekali ibu balas dengan cemberut atau gurat kecewa saat yang ibu inginkan tidak ibu peroleh. Atau tidak pernah ibu tahu dosis ungkapan sayang yang terlafalkan, yang saat besar kadang terlalu segan ibu remaja mengucapkannya padanya. Sekarang sudah lebih baik untuk belajar pelan-pelan mengungkapkan sayang dengan kata-kata. Mungkin awalnya malu, tapi, tidak pernah ada kata terlambat untuk mengungkapkan sayang, bukan?

Mungkin sebagian orang yang tidak terbiasa bilang sayang akan bilang bahwa sayang  tidak harus diungkapkan dengan kata-kata. Memang benar, tapi kalau bisa diusahakan, mengapa tidak? Bukankah ucapan itu menghadirkan perasaan tenang dan sayang yang makin memupuk? Bukankan dalam hadits saja disebutkan untuk mengatakan kata sayang pada yang kita sayang?

Tidak pernah ibu bisa ukur sebanyak apa harapan ibuknya ibu pada ibu sejak dahulu. Atau impian akan anaknya menjadi anak berbakti dan taat pada Allah. Menjadi perwujudan kata shalihah. Tidak pernah ibu ketahui dari manapun apa saja yang ibuknya ibu ucapkan selama ibu kecil dan belum bisa merekam apapun, kecuali direkam oleh cairan tubuh, oleh organ tubuh, atau oleh alam bawah sadar, yang menjadikan ibu saat ini. Ibu percaya pada kekuatan kata-kata, sugesti, dan doa orang tua yang bahkan tak pernah ibu tahu dan ibu sadari sewaktu kecil. Bahkan sejak ibu masih nyaman dalam rahim ibuknya ibu.

Dan sejak jadi ibu, ibu bahkan rasanya tak mampu merangkum ini semua.

Waktu tidak pernah bisa mengizinkan ibu merekam setiap detik hari-hari ibu denganmu. Setiap kata harap yang terucap, rapal doa yang melangit, atau ungkapan sayang tiada henti yang terlafalkan saat menatap jernih bola matamu, atau kuucapkan saat kau tertidur, atau kusampaikan saat engkau minum dan ibu menahan lelah atau pegal sementara ibu tahu sekali itu waktu yang baik untuk kita berdua menghabiskan waktu bersama. Quality time kalau kata orang-orang sekarang.

Waktu tidak pernah bisa mengizinkan ibu merekam gerak gerik polosmu yang sering menerbitkan sungging senyum pada wajah ibu dan ayah. Tidak pernah bisa mengizinkan merekam tiap kata positif yang kami sampaikan padamu. Tidak pernah bisa mengizinkan merekam setiap detik momen yang kami lalui bersamamu. Dan kelak akan ada hal-hal yang kamu tahu dan tidak, tentu saja. 

Dan terang, jelas, seperti itu pulalah ibuknya ibu dulu pada ibu.

Atau ibuknya ibuknya ibu pada ibuknya ibu.

Dan sebagaimana ibuknya ibu padamu, juga tentu begitu pula ibuknya ibuknya ibu pada ibu.

Juga ibuknya ayah pada ayah. Dan Ibuknya ibuknya ayah pada ayah.

Setelah 25 tahun ibu menjadi anak, ibu baru tahu persis momen-momen seperti ini.
Tersebab demikian, ibu baru menyadari tentu saja ibu sekarang adalah perwujudan harap, dan kata-kata, dan pengabulan doa, dan usaha ibunya ibu untuk lebih baik dari hari ke hari. Dan dari itu semua, lebih banyak yang ibu tidak tahu ketimbang yang ibu tahu.

Dear Nak, tersebab waktu tidak pernah mengizinkan kita mengetahui semua hal. Bersyukurlah, paham agamalah, bersabarlah, taatlah pada syariat. Kelak kita akan mengisi hidup kita dengan sebaik-baik bekal. Menyayangi orang yang menyayangi kita tanpa perlu tahu apa yang mereka lakukan dahulu, karena kadang itu memang tidak terlalu penting dibanding karena Allah lah kita melakukan semua hal. Menjadi sebaik-baik pribadi karena kecintaan kita yang besar pada Allah sebagaimana isi kultum Kakekmu sore tadi. 

Namun tentu saja, dear Nak, apapun yang terjadi, seletih bagaimanapun hari-hari ini dilewati, semenantang apapun hari-hari kemudian, kami akan berjuang terus menyampaikan kata-kata baik untukmu, melangitkan doa-doa terbaik bagimu, meyakinkan bahwa kamu mampu untuk hal-hal yang bisa diusahakan manusia, dengan berserah pada Allah.

Dear Nak, kelak insya Allah, kamu akan paham ini melalui pengalaman, bukan dari tulisan ini. Doakan ibu dan ayah ada usia sampai waktu itu tiba, ya.
Dear Nak,
Ibu sayang Kaisa. Ayah juga sayang Kaisa. 
Ibu dan Ayah saling sayang. Ibu dan Ayah sayang Kaisa. 
Tumbuh shalihah, sehat, bermanfaat ya Nak. Taat pada Allah, berbakti pada orang tua. Semoga Allah mampukan Ibu dan Ayah menjadi orang tua yang baik untuk Kaisa, dan adik-adiknya kelak. 

Ibu amini beserta banyak doa lain yang tak ibu tulis di sini.

Salam sayang, Nak.
Ibu, di hari ke sepuluh kehadiranmu.
Sabtu, 29 Agustus 2020.

Kamis, 27 Agustus 2020

Keajaiban

Kemarin ibu menangis karena lelah-ibu harus jujur pada setiap perasaan kan?
Hari ini Ibu pikir Ibu tidak akan menangis lagi, tapi rupanya Ibu salah.
Hari ini Ibu menangis karena memikirkan keajaiban saat menatap wajah Kaisa. 

Dulu Kaisa kecil sekali, dalam tubuh Ibu. Lalu Allah tumbuhkan perlahan. Disempurnakan anggota tubuhnya.
Dulu kepala Kaisa pernah di atas, pernah di samping.
Tapi Kaisa hebat sekali. Dengan izin Allah, Kaisa akhirnya posisi kepala di bawah. Kaisa memudahkan Ibu menuju persalinan.
Kaisa juga bantu Ibu dalam banyak hal. Pintar sekali. Hebat kamu, Nak.
Tadi juga, sepanjang perjalanan kontrol ke bidan, Kaisa anteng sekali di perjalanan. Saat pulang menangis sedikit, tapi sedikit saja. 
Allah izinkan Ibu menjadi sumber makanan Kaisa. Meski masih terasa berjuang, Allah mudahkan produksinya dan Kaisa mengonsumsinya. Masya Allah.

Ibu menangis, betapa hebat Allah izinkan ini semua terjadi pada kita. Allah tumbuhkan Kaisa sempurna. Allah bantu Kaisa ada pada posisi optimal. Allah bantu proses persalinan dengan baik. Kalau dipikir-pikir semua ini kayak keajaiban. Kaisa yang tadinya kecil sekali itu, sekarang ada dalam dekapan Ibu. Bisa Ibu lihat dan Ibu ajak bicara walaupun belum merespon yang gimana karena Kaisa masih kecil sekali baru satu minggu. Tapi Ibu yakin, Kaisa mulai mendengar, mencerna, memahami, dan belajar mengerti. Setidaknya tubuh Kaisa yang meresponnya.

Nak, terima kasih ya, telah jadi keajaiban yang luar biasa. Telah menjadi salah satu bentuk kasih sayang Allah pada kami. Telah menjadi bukti nyata perwujudan ke-Maha Besaran-Nya. 

Terima kasih telah memudahkan Ibu ya Nak. Terima kasih ya Allah. Terima kasih telah mengizinkan keajaibanMu hadir dalam hidup kami. Terima kasih telah memudahkan kami. 


Tentang Ayah, Nak

 Nak, kelak kalau kamu dewasa dan berbeda pendapat dengan ayah,

ketahuilah bahwa Ayahmu adalah satu dari dua yang sangat mencintaimu di dunia ini-tentu saja selain ibu.

Ibu terbersit kalimat ini, dan kelak kalimat-kalimat setelahnya, saat kamu berusia 36 atau 40 minggu di dalam kandungan-ibu sedikit lupa. Tapi sepertinya 40 minggu karena rasanya seperti baru saja kemarin. 

Ibu kadang suka berpikir, baik sekali ya ayahmu. Mau mengantar ibu ke mana-mana. Kontrol ke dokter, bidan, senam hamil, dan lain sebagainya. Mengantar ke yang dekat dan yang jauh. Menunggui sekian lama dengan sabar dan mencari sendiri aktivitas tunggunya. Atau pergi pagi demi nomor antrian jaminan sosial yang terus terang-menyebalkan tapi sayang jika tidak digunakan.

Ayah yang mengusahakan berbagai buah-buahan, nutrisi, vitamin yang disarankan. Meminta minum susu, air kelapa, dan segala kerelaaannya membelikan makanan yang dibutuhkan-kadang-kadang juga yang diingiinkan. Ayah yang menyapamu sejak dalam kandungan. Ayah yang kesal karena ibu terlalu santai memikirkan hal-hal yang seharusnya sudah waktunya dipikirkan. Dan juga Ayah yang barangkali menahan kesal dan gemasnya dengan pikiran-pikiran ibu yang seharusnya tidak perlu.

Ayah yang ibu tebak memikirkan keuangan, tapi berusaha tak ditampakkan. Ayah yang mau mengusahakan yang terbaik demi kenyamanan kita menuju persalinan. Ayah yang mau menggunakan nyaris setiap akhir pekan untuk memastikan kamu baik-baik saja, atau ibu memberdayakan diri demi kamu yang baik-baik saja dan lancar ketika persalinan.

Ayah yang berupaya menenangkan Ibu saat panik ketika tau kondisimu tidak optimal. Ayah yang menghibur Ibu saat kondisi hati seperti jungkir balik. Mempersilakan ibu memilih makanan yang ibu suka, padahal ibu perhitungan sekali kala itu. Ayah yang mencari jalan dan mau berupaya mencari second opini jauh-jauh demi ketenangan ibu dan posisimu yang baik. Ayah yang mau berupaya agar kita bisa melalui persalinan normal. Ayah yangbarangkali semakin akhir kehamilan berupaya keras agar Ibu tidak kesal padanya agar (lagi-lagi) kamu baik-baik saja dalam alam rahim sana. Siap mendatangi semesta dunia dengan sebaik-baik kondisi.

Nak, kelak besar, sebagaimana jutaan anak di muka bumi ini, tentu saja ada kemungkinan kamu berbeda pendapat dengan Ayah. Atau kesal. Atau tidak setuju. Atau marah. 

Tentu Ibu harap tidak terjadi. Tapi bila itu maklum dan wajar adanya, semoga sedikit saja porsinya ya.

Sediakan ruang hati untuk mengenal sosok Ayah yang luas sekali hatinya untuk mencintaimu sejak kamu masih dalam kandungan. Ayah yang senantiasa mengharapkan keselamatanmu. Ayah yang menyayangimu lewat tingkah laku dan kata-katanya. Saat engkau bertumbuh dan emosi muncul, mungkin tidak mudah mengenalinya. Namun, semoga komunikasi dan kasih sayang selalu memenuhi ruang hati dan rumah kita agar senantiasa merasakan hembus nafas kasih sayang yang kadang rupa-rupa bentuknya.

Tentang Ayah, Nak. Ia selalu mencintaimu. Percayalah. Bahkan kalau ibu tangkap dari tulisan yang pernah dibuatnya, ia mencintai calon anaknya dari sebelum ibu menjadi calon ibumu. 

Pertama membenak di 40 minggu, kalau tidak salah.
Selesai saat Kaisa berusia 1 minggu.
Ahaha, mewek nulisnya Nak :") berderai-derai nih sebagaimana Ibu yang menangis usai shalat zuhur jamaah bersama Ayah hari Ahad sepulang senam itu dan menghampiri Ayah yang hendak berdoa lepas shalat, saat tiba-tiba ibu membenak betapa baiknya Ayah pada kita, Nak.

Rabu, 26 Agustus 2020

Ibu dan Waktu

Nak, menjelang siang tukang perabot lewat. Mobil bak terbuka dengan pengeas suara. Sementara Ibu baru saja baca komen-komen di video Bertaut punyanya Nadin Amizah. 


Ibu jarang baca komen postingan di youtube. Kali ini baca karena rekomendasi seorang teman. Semua orang di sana bicara tentang waktu dan ibu. Ibu menangis, tentu saja, sebagaimana kelak kau bisa tebak. Tapi ibu menangis bukan tentang ibu, tapi tentang kamu. Lalu tentang Ibu.

Ah, perih sekali rasanya menuliskan ini karena hanya akan menerbitkan air mata kembali. Tapi tak apa-apa. Biar saja kita mengenal berbagai jenis emosi kali ini.

Hari ini ibu punya amanah. Juga berhari hari ke depan jika Allah izinkan. Kalau rata-rata komentar di sana membahas betapa inginnya mengisi waktu bersama ibunya dengan baik, waktu adalah apa yang bisa ibu isi bersamamu, dengan baik atau tidak, itu pilihan yang bisa ibu ambil, dari sisi ibu.

Kecilmu hanya bisa menangis syahdu, atau merengek yang Ibu tak mengerti tentangnya. Entah beranjak besarmu seperti apa, tapi menyenangkan dan menggemaskan adalah hal yang selalu ibu bayangkan bersama ayahmu. Kami tahu segalanya tentang sekarang tidak menjadi mudah. Ada banya pengorbanan yang perlu dilakukan. Tapi sekali lagi, tentang waktu, ibu menyadari bahwa itulah yang kini bisa ibu usahakan agar terus terisi dengan hal yang menyenangkan, kepadamu. 

Ibu kini bukanlah sekadar anak-anak yang ketika membaca komentar-komentar di laman youtube itu jadi berpikir bahwa ah aku perlu lebih banyak lagi berbakti pada ibunya ibu, dekat, banyak cerita, membantu, dan lain semacamnya. Kini saat membacanya, terbersit pula keinginan bisa membersamaimu setiap waktu dengan kualitas terbaik. Sehingga tidak pernah ada sesal di waktu kemudian.

Banyak yang cerita kehilangan ibunya atau bahkan kedua orang tuanya saat masih kecil. Baik karena maut maupun karena perpisahan. Tentu saja tidak ada yang memilih maut memisahkan kita dengan orang tersayang, tapi pendek pikiran ibu tadi membersit bahwa, sependek apapun sisa waktu yang jelas kita tak ketahui bersama orang tersayang, semisal denganmu atau dengan ibunya ibu jika dikontekskan dengan lagu itu-dan tentu saja dengan ayahmu atau keluarga besar kita semua,jangan sampai menyesal karena tidak mengisi waktu yang ada dengan kebaikan, dengan rukun, dengan tanpa pertengkaran yang memang bahkan tidak perlu.

Nak, pagi tadi ibu capek sekali. Izinkan ibu belajar menjadi ibu yang lebih baik lagi setiap waktunya ya.

Ibu sayang kamu, selalu.

Rumah, Rabu siang, 26 Agustus 2020.