Selasa, 24 November 2015

#Selamat6TahunGycen

#Selamat6TahunGycen
semoga semakin antiwacana dan bermanfaat buat sekitar


sebenernya ada foto anak-anak yang disiapin dalam rangka milad Gycen 6 September kemarin
tapi belum jadi dipos


nanti saya pengen pos deh, minta izin dulu sama Tyani, hehe :3

-6 September 2015-

Senin, 23 November 2015

hiks. lupa nemu di mana. kayaknya di wa flp jaman antah berantah *padahal punya wa juga baru kapan, wkwk

/GDRTR/
GRA.DI.A.TOR
saya lupa waktu itu dapet file ini dari mana, kalau nggak salah akun twitter entah siapa.
#1
foto paling atas kayaknya pas yel-yel mau UN *pergantian kepsek sangat ngefek ke tradisi menjelang UN kami kala itu.
#2
foto ruang kelas Bahasa Inggris (karena sistem kelas kami yang moving class sesuai mapel-baru dicoba pas kelas XI). artis beruntung foto itu adalah anak XII NS 5.
#3
foto jalan menuju sekolah habis apel pagi. entah ada hal apa yang membuat kami mengambil rute jalan haram yakni lewat gedung F aka asrama putra kelas XII.


haha, udah lama ya ini berlalu--3 tahunan lebih :')
/mau bersih-bersih file laptop/mohon maaf kalau akan ada semacam repost/

Sabtu, 21 November 2015

Mentafakuri Soal Ketuhanan

Tugas kita sebagai makhluk yang berIslam sejak lahir adalah mentafakuri soal ketuhanan.
Hidup kita akan jadi besar kalau bersama Allah. Kalau kita sudah punya keyakinan sama Allah semuanya mudah. Kalau kita nggak sama Allah, sesuatu yang kecil jadi besar. Maka selalu libatkan Allah dalam segala urusan kita. 
Perjuangan kita harus diukur bukan dengan usia ideologis, tapi dengan hitungan generasi. 
Daya tahan peradaban hadir ketika kita punya kedekatan dengan Allah. 
Masih bohong kalau kita belum berjihad di jalan Allah dengan menjadi SDM yang terbaik. 
Ah Allaaaaah :""""""

-lupa catetan kajian apa. Kayaknya LnL sama Bang Bachtiar

Jumat, 20 November 2015

Rumah dan Separuh Usia

Kajian malam ini membuat saya excited sekali. Pematerinya Eko Prasetyo, ketua Social Movement Institute. Bukan soal lembaga dan soal siapa beliau *meski itu mungkin juga matter karena pengalaman dan bacaan beliau tentu yang menjadikan materi Kajian Islam Progresifnya sangat menarik. Meski mungkin saya akna cari tahu, tai hari ini, semua itu belum perlu diketahui. At last, saya udah berniat, kalau ada kajian beliau di lokasi lain, saya mau dateng, heheu :3

Kajian hari ini soal dakwah kampus, tapi realita yang diceritakan banyak berimpact ke hal lain. Soal Islam dari masa lalu ke kini. Soal jihadis yang belajar bikin bom, soal parenting #eh, ilmuwan Islam, buku-buku kontemporer, sampe intinya adalah bagaimana seharusnya gerakan dakwah di kampus tidak melulu berkutat soal ritual agama. *mungkin satu-dua akan saya share di sini

Di atas itu semua, kemana-mananya cerita Mas Eko membuat saya kangen rumah dan ingin dengar banyak cerita dari ayah. Saya jadi pengen pulang dan lama di rumah untuk quality time dan mendiskusikan banyak hal. Meski seems gaya-gayaan karena biasanya jarang banget ada hal macem beginian. Tapi rasanya jadi pengen aja.

Baik, ini saya mau menarik garis agak jauh dari perbincangan sebelumnya. Kaalau dihitung-hitung, ini adalah tahun ke-sepuluh saya bukan lagi anak rumahan sejak saya sekolah asrama di bangku SMP Tahun ke sepuluh : it means itu hampir SEPARUH USIA SAYA--disamping selama ini saya jadi anak rumah cuman masa bocil. Hal ini membuat saya berpikir panjang dan bikin baper pengen menghabiskan waktu agak banyaak di rumah. Bukan soal manja, tapi soal bagaimana saya ingin memiliki banyak interaksi dengan orang rumah, terutama orang tua.

Time flies, sebagaimana banyaknya mal tumbuh di Cibinong, mungkin sebanyak itu pula kesempatan yang terganti dengan pendidikan yang dipercaya ayah ibu saya untuk menumbuhkembangkan saya. Saya jadi teringat ceita Ummi yang setelah sumpah dokter dan teman-temannya melamar kerja bahkan sampai Jakarta, tapi Ummi mikir soal waktu yang ingin beliau habiskan bersama Mbah di Magelang. Ummi pun pulang, mengajar TPA.

Saya kalau ditanya habis kuliah mau ngapain, sejujurnya masih bingung. Bahkan saya masih bingung dan takut soal lulus kapan *hiks*. Tapi saya jadi berpikir soal ada di rumah barang sejenak. Mengambil nafas panjang bersama kelurga. Entah kelak saya akan berkiprah di mana. Kalau kata Nabil sih, "Aku pernah ngitung tau, usia kita sama keluarga kita sekarang dan keluarga kita kelak tuh bakal banyakan sama keluarga kita nanti." #yahjadisedihkan.

Sudah ya, postingan ini segini dulu.
:")

Rabu, 18 November 2015

untuk Mentari

Mentari,
dunia kita telah berubah banyak kini. Orang-orang lebih nyaman bicara di dunia tanpa tatap muka : melalui media. Bisa media sosial, media cetak, media online. Semua orang bergerak pada akhirnya dengan persepsi. Karena bicara lebih banyak dianggap basa basi. Padahal kita sering bukan, memerlukan klarifikasi? Agar tak salah mengerti.

Mentari,
aku tidak tahu apa yang terjadi pada dunia di masa kamu dewasa kelak. Bahkan kalau Allah menakdirkan usiaku panjang, aku tidak pernah tahu bagaimana perkembangan masa dua puluh-empat puluh tahun lagi. Semoga semua kondisi membaik dan kehidupan akan berjalan damai sebagaimana yang kita dambakan.

Mentari,
ada kala di mana aku ingin mengabaikan segala kondisi yang meresahkan hati. Barangkali aku belum pandai mengontrol emosi dan terlalu takut akan hal-hal yang belum terjadi. barangkali aku terlalu takut pada ketidaktahuan, persepsi orang, dan apa yang orang kesankan padaku. Padahal hidup adalah pilihan dan setiap kita punya hak soal itu.

Mentari,
esok lusa tidak pernah bisa kita bayangkan akan seperti apa. Pun dengan segala macam interaksi yang mungkin ada dan dicipta. Kalau hari ini kita masih suka melihat beranda teman untuk tahu apa yang sedang ia pikirkan, untuk menebak tadi itu dia kenapa sih dengan kita, dan lain sebagainya. Aku jadi berpikir dunia seperti itu malah jadi penuh prasangka. Atau sebaliknya, kalau itu baik untuk kita, dunia kita jadi penuh keingintahuan--yang tidak perlu. Dunia kita jadi penuh informasi yang tidak semuanya penting--yang mau tidak mau memenuhi memori : baik memori kepala maupun hp. Aku tidak pernah bisa membayangkan ke mana sampah informasi itu pada akhirnya berlabuh. Dan belum pernah meneliti, banyak mana antara informasi yang sia-sia atau yang manfaat.

Mentari,
pada masa depan yang belum pasti, aku harus jujur bahwa aku takut. Tapi katanya, kita memang selalu takut pada apa-apa yang belum kita tahu. Jadi untuk menghilangkannya, yang kita perlukan hanya ketahuan--atau bisa dibilang persiapan untuk tahu. Apakah begitu? kalau begitu, persiapan yang bagaimana yang harus aku lakukan? Persiapan seperti apa yang harus aku pilih? Kalau itu tidak nyaman buatku, apa aku harus tetap melakukannya.

Mentari,
terima kasih telah mendengar kalimat-kalimatku sedari tadi. Mungkin jawaban itu belum ada detik ini. Tapi aku terus menanti.

Sampai jumpa kelak, Mentari :')


18 November 2015 21.04
Tulisan sekali duduk atas segala yang memenuhi rongga kepala
atas segala perasaan yang belum usai dan lega .
keyword : ceritasiang, keluarsore :""

Mahasiswa Baru, Sarjana Baru, Harapan Baru

Suatu hari di belakang, saya pernah berpikir begini.
Ada sepuluh ribu mahasiswa baru UGM ssetiap tahunnya. Itu berarti ada 10.000 janji kebaikan baru untuk Indonesia setiap tahunnya setidaknya, dari UGM saja. Baru dari UGM.

Kemudian kala itu saya pernah bertanya pada teman saya mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran. “Berapa jumlah mahasiswa baru pendidikan dokter setiap tahunnya?”
Teman saya menjawab, hampir dua-ratusan lah.
Saya membatin, berarti setiap tahunnya, minimal negeri ini punya nyaris dua ratus calon dokter baru dari UGM. Baru dari UGM. Saya tidak bisa membayangkan betapa sebenarnya negeri ini kaya akan banyak calon dokter baru yang siap membantu masyarakat dalam masalah kesehatannya. Banyak sekali, lho, pasti calon dokter di Indonesia.

Hari ini, ketika hari wisuda UGM gelombang ketiga. Saya mengingat perckapan saya kemarin dengan seorang kakak tingkat yang akan diwisuda hari ini.
“Berapa jumlah wisudawan besok, Mbak?”
Kakak itu menjawab. “Seribu-sembilan-ratus.” Saya ternganga.
“S1 doang?”—maksud saya tentu saja tidak termasuk S2 dan S3? Saya melupakan ada D3 kala itu.
“Iya S1 aja Fit. Nggak sama D3.”
Saya kaget karena tadi kalimat saya menanyakan S1 saja adalah include D3—yang tidak terpikirkan itu.

Saya membatin, ada seribu-sembilan-ratus sarjana hari ini. Seribu sembilan ratus intelektual yang menjadi harapan baru bagi Indonesia. Seribu-sembilan-ratus tangan yang seharusnya siap membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi.

Ah, berapa banyak sarjana yang sudah lulus sejauh ini? Berapa banyak yang bisa membawa kebaikan bagi bangsa ini?

#selftalk #liatcermin

Rabu, 11 November 2015

Tulisan yang Selesai

Berbulan-bulan yang lalu, teman sekaligus bos iCare saya dulu pernah japri nanya. "Fit, lo kalo nulis blog ad atarget nggak siapa yang baca?"

Zaman itu saya jawab begini kira-kira. Saya nggak narget siapapun. Cukup berbagi cerita dan kalau dibaca sama temen-temen pun udah seneng rasanta entah kenapa. Dan tetiba ingat Riri karena Riri suka tiba-tiba japri komen tentang blog. Kadang sebagian juga, seperti yang pernah saya baca dari blog lain baahwa menulis itu menerapi diri. Jdi ya...kadang-kadang nggak jelas juga nulisnya.

Saat ini saya punya jawabannya.
di blog, saya ngga narget siapa yang baca-meski kadang-kadang iya juga sih, haha.
lebih dari itu, lewat blog, saya belajar menulis suatu tulisan yang selesai.

ya, suatu tulisan yang selesai :')

Selasa, 10 November 2015

Tentang Skripsi

Malam, masih di Milan. It was sooooo long time ago. Sejak saya tidak lagi di himpunan dan di kelompok studi prodi, saya kayaknya ngga pernah lagi pulang malam dari milan. Kalau dari yang lain sih kadang sering juga, hheu.

Sore-sampai malam ini saya ikutan seminar TA. Semacam sosialisasi TA gitu, yang ngisi dosen dan alumni. Acara himpunan. Isinya lebih kurang isi TA, batesan skripsi kalo dibanding tesis sama disertasi, tips trik, alur sampe sidang, dsb, dll. Yang mungkin sebenernya lebih guna dan ngefek ke anak semester 5 *tapi ilmu bisa dipungut darimana aja toh? ;)

Sebenernya salah satu alesan ikut ini adalah saya pengen ketemu sama temen-temen ilkom12 aja yang udah lama ngga ketemu karena perbedaan jadwal yang udah beda banget sejak semester tujuh. Lama ngga ketemu euy. Bahkan, saya sampe ngancel agenda lain.

Sejak entah lupa semester berapa, sejak saya tahu posisi saya di mana di prodi ini, saya tidak menjadi orang yang ngoyo mau lulus kapan. Bukan berarti saya mau leyeh-leyeh pasrah bodo amat lulus kapan. Sudah hilang semangat ketigasetengahan saya layaknya semangat ideal maba unyu yang baru masuk dunia kampus. Tapi lebih ke saya ingin menikmati tiap detiknya *menghela nafas panjang.

Saya tahu, di sepanjang sejarah saya kuliah ini, ada banyak pemberhentian yang ingin mendewasakan kita. Saya kadang tidak tahu dan sulit menebak apa yang Allah sembunyikan di balik seluruh jalan hidup saya. Ilmu Komputer salah satunya. Ada banyak proses yang saya jalani selama saya mampir di Jogja ini. Bukan seberapa banyak lomba yang saya ikutin, bukan seberapa penting materi kuliah ini ngefek sama diri saya. Karena kalau kalian kenal saya, this three years not about that. Saya justru banyak dibesarkan oleh hal lain yang mungkin ada sebagai efek domino dari ilmu komputer ugm.

Saya tahu, berjuang masuk sini sulit *kalau saya mengenang masa snmptn dulu. saya ditolak undangan, masih aja ngoyo mau masuk jurusan yang sama. saya nyaris ngga terpengaruh sama saran jurusan saya di angket rekomendasi psikologi dari serangkaian asesmen jaman sekolah dulu. sekarang, saya mengerti kenapa psikolog dulu menyimpulkan begitu.

Tenang, saya sudah di sini sekarang. seperti yang sering kalian dengar. apa yang dimulai, harus diselesaikan. Dan skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai. Saya akan belajar berjalan pelan-pelan dan berusaha memalingkan kepala dari hal-hal yang suka mencuri perhatian *halah*. Semester ini saya belum mengambil skripsi, even many of my friends does. Saya mau belajar bergerak, pelan-pelan. Dan saya butuh doa serta dukungan dari kalian semua. Saya ngga pernah tahu Allah bakal ngabulin doa sebelah mana, Bahkan seluruh nilai di transkrip itu, entah bagaimana, saya yakini sebagai efek dari doa ibu. Karena kalau berkaca dari semester-semester yang sudah saya lalui, saya merasa jauh dari pantas....

Ah teman-teman, saling menyemangati ya :')
Salam sayang <3
-Fitri Hasanah Amhar
ditulis dengan sebegitu mengalir hanya berawal dari pengen cerita aja soal ngga mau ngoyo serta lagi di milan dan ikut seminar TA, tanpa tahu endingnya bakal ke mana