Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 September 2022

Seminggu ini, 10 Sept 2022

Seminggu berlalu, kadang rasanya jadi cepat sekali. Sabtu lalu maraton di RS, antrinya super rame. Kaisa passien ke-34 dan perlu cek lab. Pulanglah kami sampai rumah jam 11.15 malam Alhamdulillah so far kondisi Kaisa sebenarnya baik-baik saja. Sedikit bapil dan nafasnya agak grok-grok serta BBnya stuck, entahlah apa benar ini permasalahan sejagat raya ibu-ibu anak usia dini: BB seret.

Aku juga berobat, Hilmy juga kepikiran berobat, dan akhirnya wkwk.

Hari itu melelahkan rasanya. Sampai RS sepi dan petugas lab nanya kenapa malam sekali ke dokternya. Lha kami dari setengah 5 di sana. Petugas lab sampai bilang, wah ini hampir satu shift. 

Sepekan berlalu. Aku mengerjakan draft yang masih sama. Hilmy yang kehabisan ide ajak main Kaisa akhirnya pergi dan rencana nginap ke nenek kakeknya Kaisa, tanpa aku. 

Tapi sore ini rasanya sepi dan mewek juga ditinggal. Padahal biasanya gak kayak gini. Seminggu lalu meluk Kaisa di penghujung malam di rumah sakit karena dia kecapekan (tentu saja), dan Hilmy harus menghadapi antrian kasir yang melelahkan. Alhamdulillah semua dimudahkan. 

Ditambah badan yang agak gak enak, mau tidur gak bisa, cuaca dingin, dengar lagu tutur batin dan lihat ucapan-ucapan seputar meninggalnya Reza Gunawan. Rasanya keluarga jadi apa ya, berasa banget the important thing in our life, yang ssejujurnya akhir-akhir ini aku rindu ssekali menikmati waktu bersama banyak orang. Karena begitu aku ada waktu kadang jadi fokus sama seluruh hal yang harusnya kukerjakan sebagai kewajibanku dengan instansi, yang sulit kukerjakan kalau aku pegang Kaisa. 

Kemarin kajian offline tentang pendidikan bareng Growtheseed. Dapet inssight menarik yang bikin mikir dan mewek seputar bagaimana para ilmuwan dan ulama terdahulu justru menemukan ilmu-ilmu lain karena kebutuhannya mempelajari dan memahami Al-Qur'an. Bahkan ilmu bahasa kayak nahwu, sharaf, balaghoh, dsb itu lahir karena keperluan mempelajari tafsir Al-Qur'an. Muqaddimah kitabnya Aljabar bercerita kalau ilmu ini lahir dari kebutuhan mempelajari waris, yang akan sulit kalau disimbolkan dengan angka romawi. Juga ilmu falak, bagaimana para ulama yang berdakwah sampai jauh harus tahu waktu shalat, dan ke mana arah kiblat. Halo, saya ada di mana?

Masya Allah ya, zaman dulu itu semangatnya karena masalah fardhhu ain, karena kebutuhan memahami Al-Qur'an, jadi munculnya bidang baru yang fardu kifayah. Yang kalau ga ada yang memahami ya jadi dosa juga buat orang muslim. 

"Di akhir kita harus tentukan, mana yang fardhu ain untuk anak kita, dan mana yang fardhu kifayah buat anak kita. Kalau anak kita belajar fardhu kifayah, jangan sampai melebihi fardhu ain dan atau tidak memberi nilai tambah buat fardhu ainnya. Contoh, apakah kalau belajar data sains, seseorang akan makin wara'; makin beirman atau tidak, makin takwa atau tidak, shalatnyaa bagaimana, lebih baik atau tidak?"

"Kita itu sering ga adil sama agama, kalau ilmu duniawi, kita rancang dari dasar sampai kuliah. Tapi kalau ilmu agama, ya kita ke taklim, denger yutub, podcast, dsb. Kita bingung menyusunnya kayak apa, 10 tahun berlalu mungkin kitab bisa mengukur ilmu apa yang nambah, tapi coba kita refleksi soal diniyah kita dari segi ilmu atau amal apakah bertambah?"

"Produktif itu harus dikaitkan dengan amal shalih, segala sesuatu yang tidak menemani kamu sampai akhirat, itu duniawi" -Al Ghazali

Lalu kemarin sore pulang naik motor, kena hujan. Kayaknya udah lamaaa banget ga pulang abis maghrib dan kena hujan kayak gitu. Sampe mikir apa terakhir kuliah ya? Terus kepikir lagi ah mungkin sebelum nikah ya, wkwkwk.

Sesorean inget Kaisa, inget Hilmy. Walau kadang rempong tapi kangen juga celoteh Kaisa, wkwk. Sehat-sehat kalian semua, ya. Sayang selalu <3.  

Kamis, 30 September 2021

Don't know how to express my mix feeling this night. Bersyukur dan terharu meskipun masih sering kesalnya. Berkeluarga, penyesuaian yang rasanya kadang masih mau tidak mau harus dilakukan. Keinginan yang banyak dan maish gatau gimana cara merangkumnya dalam target harian. Masya Allaah.

Jadi orang tua, kayak kata Mbak Inay tadi, banyak banget belajarnya. Banyak banget prosesnya, adaptasinya. 

Terima kasih untuk Allah telah menunjukiku banyak hal, telah membersamaiku dengan amanah yang sesungguhnya akan mendewasakan, dan juga pelengkap semestaku, suami dan anak-anak, serta tentu saja amanah yang masih ada: menjadi anak, hamba, cucu, dan multi peran lainnya. 

Semoga senantiasa bertumbuh, dear diri. 

Jumat, 18 Desember 2020

Cerita Malem-malem

 Kalimat terbaik dari Ayah kemarin (eh sudah kemarin aja yah, udah ganti hari soalnya) untuk menenangkan istrinya yang rungsing dan kesal karena hal-hall gak berjalan sesuai rencana adalah;

"Tau gak waktu abi kamu nerima aku apa yang aku rasain?
Aku merasa sempurna."

Sudah hampir 4 bulan usia Kaisa dan sudah seusia itu pula saya jadi ibu. Kalau kata @annisast, adaptasi terbesar adalah saat menjadi ibu. Dan kagetku adalah beliau nulis beliau butuh 3 tahun untuk adaptasi. Tapi ya ga ada salahnya sih, mari apresiasi diri dan berterima kasih sudah mau berjuang melewati ini semua. Kamu hebat!

Kadang-kadang doa tuh udah kayak curhat aja deh sama Allah saking gak terstukturnya kata-kata, bingung mau merangkai jadi permintaan yang bagaimana. Segala pasrah sekaligus syuur, sekaligus minta diberikan petunjuk. Kadang-kadang kesel sedih ngadu juga nangis. Yah, apa weh.

Sudah hampir 4 bulan saya lahir dalam keadaan menjadi ibu. Perjalanan yang jujur gak mudah. Tapi sejuta kali orang akan bilang bahwa itu worth it, untuk mendapatkan pahala mulia di sisi Allah kalau saya bener ngejalaninya. 

Aih, berjuang nih nahan nangis, lagi gamau nangis mewek haha.

Sekaligus melanjutkan postingan sebelumny kali ya markipel yang bukan mari kita ngepel tapi mari kita rapel hahaha.

Kaisa di usia 3 bulan sudah bisa ketawa ngekek-kalau ga salah ini di usia 3 bulan. Sudah...hm, jujur lupa dan kumenyesal dulu tak langsung nulis.

3 ke 4 bulan sudah suka mempertemukan tangan di depan dada dan meihatnya dengan seksama. etawa alau liat foto nikah umi sama abi yang dipasang di ruang tengah. akhir-akhir ini aku coba rutin nidurin dia setelah isya, perjuangan banget sih so true-tapi kadang yg lebih berjuang adalah menenangkan diri sendiri untuk menerima kalau aku ketiduran dan ga bisa ngapa-ngapain malemnya. Kaisa belum sempurna belajar miring-miring tapi ya mari kita apresiasi miringnya yang sedikit itu, semoga lancar ya nak belajar tengkurepnya meski masih secimit banget agak miringnya! Hehehe.

3 ke 4 bulan ini belajar lebih mengenal diri sendiri lagi setelah sempat ada konflik sama pasangan. masalahnya sepele, tapi aku pun heran kenapa diriku bisa kayak gitu. kita belajar lagi ya sayangku, dear diri!

sebulan terakhir daftar banyak kelas onlen sampe munek rasanya wkwkwk. ikhtiar belajar, doain ya sahabat semua.

hmm apa lagi ya.

ukuran baju kaisa agak oversize. alhamdulilah target BB bulan ke3 tercapai walau menuju bulan ke-4 agak deg-degan juga karena ditimbang kasar pakai berat ibu/uti gendong dikurang bb penggendong baru naik se-ons, mohon doanya ya semua heuheu. di usia 3 bulan ini karena telah banyak baju yg naik kalau dia udah berubah-ubah posisi, kaisa dapat beasiswa baju dari Ayah, wkwkwk. aku beli ukuran 9 bulan, bahkan ada merk yg aku ga nemu celan apanjangnya akhirnya beli celana pendek (yg mana adanya) ukuran 1 tahun, yaaa baiklah, pantes aja sih menurutku wk.

perasaan dan mood ibu berusaha lebih jujur mengenali diri di masa-masa terakhir ini. jujur kadang merasa iri kalau suami bisa rapat dengan khidmat atau ngobrol/diskusi seru sama temen-temennya. Dunia ibu kadang ya hanya itu-itu aja. mungkin bosan ya, atau butuh sosialisasi. cuma kadang aku jadi merasa apa ada hal lain yang belum selesai dalam diriku?

hm, apa lagi ya.

oh ya beberapa kali bocor pakai clodi malam membuatku lebih mencoba gimana caranya biar gak bocor kalau bobok malam. Alhamdulillah pekan ini lebih baik.

btw, ada hal yang menarik dan aku suka sebenarnya dari suami. mau belajar tapi belum ahli nih, pelan-pelan ya. hal itu adalah menerima keadaan dan tidak menyesali yang telah berlalu. 

dari dulu aku selalu kesal kalau ketiduran, apalagi kalau udah merasa gak ngapa-ngapain karena ketiduran huhu. 

tapi suami gak gitu, dia selalu menerima, dan merasa cukup, let it flow dan let it go. ringan banget hatinya, makanya ga jadi beban. ini yang aku lagi pengen belajar banget. gimana agar bisa melihat semuanya dari kacamata syukur. alhamdulillah it's happened dan okay let's be better next. jadi fokus ke depan dan ga menyesali masa lalu. 

jujur aku struggle banget di sini heuheu.

karena bersama anak, ada ekspektasi yang mesti disesuaikan, di adjust, diterima bukan berarti mukul mundur diri, tapi yaudah ayo melatih hati agar ringan dan menerima segala kondisi baik, belajar reflek untuk bersyukur.

karena bisa jadi bukan karena gak bersyukur, tapi gimana biar syukur itu jadi reflek, jadi kebiasaan baik.

hm apa lagi ya.

oh ya akhir-akhir ini kayak rame banget temen-temen main saham, bahas naik turunnya.sebenernya udah dari lama sih, cuman mungkin aku sama hilmy baru bahas aja. cuman, berdasar hal-hal yang kami pelajari, amini, dan teladani dari ayah kami, kami gak mengambil jalan investasi di saham untuk mengelola keuangan. dengan beberap aobrolan finansial akhir-akhir ini kadang mikir juga, rumah itu kapan ya bisa diperoleh, apalagi kalau udah mikir gimana nanti kondisi keluarga, apakah ada adik yang perlu didukung biaya sekolahnya, keluarga yang perlu dibantu perihal finansialnya, dsb. kadang kayak wondering gitu nanti bakal gimana ya.

kadang satu sama lain di antara kita saling ngingetin soal ada Allah, sholawatin kalau lagi ragu liat rumah-rumah gitu, atau ya menenangkan satu sama lain biar ga terlalu dipikir-dipikir amat. well, perihal finansial, menabung, mengelola, ini memang kadang dari matematika manusia kayak waw besar ya, jauh ya. tapi kan ada matematika Allah :")
btw, soal saling ngingetin ada Allah ini baru kepikir pas nulis ini loh. aku jadi inget momen-momen di mana Hilmy yang wondering atau mikir uangnya dari mana terus aku kayak enteng banget bilang, ada Allah atau bilang, udah solawatin dulu aja (sampe lucu bgt pas hilmy ada acara di sentul dan liat rumah-rumah bagus terus chat aku laporan liat rumah bagus dan bilang, udah aku sholawatin). dan ada juga momen aku menelisik keadaan dan perkiraan kebutuhan keluarga lalu aku yang kepikiraaan terus seharian, lalu hilmy yang nenangin dan bilang udah ada Allah ga usah terlalu dipikirin.

jadi ingat tulisan mbak Lia iip (yang aku gagal lanjut transcity wkwk), nulis ulang kata-kata ust. Syatori (ya Allah kujadi kangen jogjaaaa),

"Ya Allah jadikanlah mudah urusan duniaku karena aku tidak mau pusing karenanya." kata beliau ini doa yang diajarin Ust. Syatori supaya bisa fokus ngejar akhirat :")

nulis apa lagi, ya...

Sampai sini dulu aja kali ya. Senang juga ya nulis, jadi ngerinci satu-satu meski mungkin belum banyak. Terima kasih blog :")

Awalnya wondering nulis pas menyadari kalau murottal juz 4 sebentar lagi akan ke Juz 5 :") 
Masya Allah :")

Senin, 05 Oktober 2020

Sedari Pagi: Ingin Menulis Saja

Rupanya 1,5 bulan belum cukup untuk serta merta senantiasa beradaptasi dengan semua ini.Masih kadang nangis,masih suka bingung, masih bertanya-tanya ini itu bagaimana, juga soal mengenal diri yang kok kayak tiada akhir ya, ckckck.

 Let's describe this feeling another way
disclaimer: yng saya rasakan hari-hari belakangan ini
  1. Saya kecewa karena merasa tidak diperhatikan
  2. Saya sedih karena terganggu saat sesi praktek di kelas online
  3. Saya bingung dengan apa yang menjadi kebutuhan diri saya
  4. Saya capek
  5. Saya pengen nangis
  6. Saya tidak tahu mau jadi apa saya ke depannya
  7. Saya bingung dengan masa depan
  8. Saya kecewa dengan diri saya sendiri
  9. Saya khawatir disalahkan dalam pengasuhan anak
  10. Saya takut dan overthinking dengan komentar-komentar terhadap anak saya karena didikan saya
  11. Saya kesal dengan stigma dan label bahwa pengasuhan seolah-olah tanggung jawab ibu padahal itu tanggung jawab bersama
  12. Saya takut disalahkan dalam hal semisal mandi, makan, dan tumbuh kembang anak yang hanya menyudutkan saya. Padahal haloooo, pengasuhan itu tanggung jawab bersama kedua orang tuanya
  13. Saya takut ditinggalkan
  14. Saya takut anak saya punya kenangan buruk di alam bawah sadarnya karena perlakuan yang tanpa sengaja saya lakukan yang kecilnamun tanpa sadar itu berdampak
  15. Saya iri dengan suami atas waktu luang yang dimilikinya
  16. Saya kesal kalau suami main game kelamaan
  17. Saya malu sama ibu saya, kok hebat banget tulus ikhlasnya, saya pengen bisa kayak gitu
  18. Saya takut diabaikan
  19. Saya takut menyampaikan apa yang saya butuhkan meski sudah belajar menyampaikanya terus dan terus
  20. Saya kesal jika orang yang saya sayang ngobrol dan asik banget lamaaa sama lingkaran temannya dengan volume keras dan ketawa-tawa yang unfaedah dan malam-malam
  21. Saya kadang merasa tidak nyaman karena sakit pinggang kalo nunduk-nunduk angkat gendong atau pegal di punggung dan pundak
  22. Saya gemes kalau tau orang-orang berpotensi besar kelamaan main gamenya dan sampai menggeser hal produktif lain. Ditambah, saya lama kelamaan jadi itu dengan waktu luangnya.

Apa yang saya inginkan?
disclaimer: btw, yang saya tulis saya ingin apa bukan berarti ga dapat ya. Ya pengen nulis aja lah 
  1. Saya dipeluk tiap hari
  2. Saya diperhatikan
  3. Saya menikmati waktu berharga bersama orang yang saya sayang, dan juga sebaliknya
  4. Saya bahagia
  5. Saya ikut kelas tanpa gangguan
  6. Sesekali dapet popok yang ga ada pupnya biar gampang tinggal dibilas
  7. Saya mengenal diri saya
  8. Saya tahu kebutuhan diri saya
  9. Saya cukup
  10. Saya dicintai
  11. Saya diberi hadiah kejutan
  12. Saya rileks
  13. Saya tidak overthinking (mau nulis lawannya tapi gatau apa sih lawan overthinking)
  14. Saya ingin liburan tanpa pikiran kerjaan
  15. Saya ingin pacaran lagi sama suami haha
  16. Kami sepasang orang tua yang rajin menimba ilmu mempersiapkan bekal untuk pengasuhan
  17. Saya bisa tenang dan tidak terburu dalam shalat dan berdoa
  18. Saya bisa shalat khusyuk
  19. Saya ingin bisa ngobrol seru
  20. Saya ditemani
  21. Saya dihargai dengan cara waktu yang saya gunakan untuk perintilan urusan anak dan rumah tangga ini orang lain yang punya waktu luang gunakan dengan hal bermanfaat atau produktif. Jika tidak membuat sesuatu, bisa dengan belajar, mengaji, membaca buku, atau hal-hal lain yang sungguh sebenarnya ingin saya lakukan namun terhalang hal-hal tadi itu.

Apa yang saya syukuri?
  1. Alhamdulillah kami sehat sekeluarga
  2. Alhamdulillah masih bisa makan, masih ada pekerjaan
  3. Alhamdulillah Kaisa sehat (this so spesific)
  4. Alhamdulillah keluarga rukun
  5. Alhamdulillah bisa gantian jagain Kaisa saat mau makan, shalat, ke toilet
  6. Alhamdulillah masih bisa konek ke internet, bisa cari info, kirim kabar, belajar
  7. Alhamdulillah masih hari-hari cuti, sekarang latihan manage waktunya
  8. Alhamdulillah suami wfh, bisa nemenin di sela-sela kerjanya juga
  9. Alhamdulillah masih terbantu banyak oleh Ummi :"
  10. Alhamdulillah masih bisa bernaung di rumah orang tua
  11. Alhamdulillah ada laptop bisa nulis ini
  12. Alhamdulillah meski rasanya masih patah-patah, belajar terus komunikasi sama Allah
  13. Alhamdulillah asi lancar
  14. Alhamdulillah ada mesin cuci, ada bantuan nyetrika belakangan
  15. Alhamdulillah ada gendongan stretchy wrap
  16. Alhamdulillah Ayah Kaisa suka bacain buku
  17. Alhamdulillah gumaman Kaisa makin banyak
  18. Alhamdulillah ada grup belajar nyusuin, belajar clodi
  19. Alhamdulillah umi kadang-kadang beliin kue
  20. Alhamdulillah dikelilingi orang baik
  21. Alhamdulillah bisa bangun pagi walau masih cari pola agar bisa comeback again bangunnya lebih pagi
  22. Alhamdulillah Allah kasih kesempatan belajar secara online
  23. Alhamdulillah Allah kasih waktu nulis ini
  24. Alhamdulillah Allah titipkan Kaisa pada kami, Allah mudahkan proses persalinannya dan Allah takdirkan ia lahir dengan sehat dan selamat
  25. Alhamdulillah Ayah baik mau kasih beasiswa buat ibuk
Tadinya mau nulis pagi, sambil minum coklat hangat dan makan roti. Tapi tentu saja tidak bisa nyambi ketiga hal itu. Coklat hanya tersisa sedikit, makan roti butuh tangan dan jadi agak susah ngetik. Qadarullah Allah kasih waktu malam ini. Nulis apa saja tapa rencana. Mengalir begitu aja di teks box kosong blog ini. Berusaha (banget rupanya!) menuliskan lebih banyak syukur daripada meleburkan apa yang dirasakan belakangan ini. Atas ketidaksempurnaan diri, terima kasih. Atas tangis senguk yang hebat semalam tadi, terima kasih. Atas kesal, tidak berdaya, perasaan terbebani yang pernah terasa, terima kasih. Atas kecewa yang pernah ada terima kasih. Atas salah tangkap, terima kasih. Atas ketidakberdayaan diri dan perasaan ingin ngomong tapi segan lalu meledak bum dalam hati, terima kasih. Atas rasa sayang yang besaaaar sekali, terima kasih. Atas capek dan lelah dan kesal, dan iri dan pasrah, terima kasih. Kamu hebat, dear Fitri. Semua berproses dan berjalan. Bismillah, pelan-pelan, bisa ya.

Cerita
365 hari jadi istri. 
46 hari jadi ibu.

365 hari jadi istri. Terima kasih Hilmy, sudah membersamai sejauh ini. Sudah bersabar dengan segala drama kehidupanku yang belum selesai sampai sekarang. Tolong bantu aku menyelesaikan dan menguraikannya pelan-pelan ya. Ayo kita belajar jadi lebih baik yuk. Pelan-pelan belajar, ya.

46 hari jadi ibu. Terima kasih Kaisa, sudah mau bersabar atas ibu yang jauh dari sempurna ini. Tentu saja perlu super banyak ilmu membersamaimu pada fase-fase kehidupan berikutnya. Ibu tidak mau menyesal, bantu ibu ya Nak. Mudahkan kami ya Nak. 

Rabu, 26 Juni 2019

Puasa-puasa Fatih

Waktu menulis ini, Fatih baru saja berbuka puasa. Haru melihatnya. Serumah, Fatih saja yang puasa hari ini.

Apakah Fatih puasa 6 hari syawal? Bukan. Fatih shaum qadha. Puasanya Ramadhan kemarin bolong lima. Sesak, batuk, dan asma membuatnya terpaksa tidak puasa-atau membatalkannya.
Fatih tahu ia masih kecil. Tahu bahwa pahalanya akan ke umi abi, bukan ke dirinya. Tapi suka rela dia menjalankannya. Menjalankan puasa qadha.

Fatih sudah kuat puasa penuh sejak TK. Meanwhile, aku kelas tiga esde saja masih puasa setengah hari, mana niat pula berencana makan siang apa waktu buka habis zuhur.

Kadang aku mikir, apa ya yang bisa membuat Fatih kuat dan mau ikut puasa segitu lama. Apa karena ia anak terakhir lalu melihat lebih banyak contoh puasa (ada orang tua dan kakak-kakaknya, ketika dulu aku hanya melihat orang tua). Atau karena lingkungan sekolahnya yang leih kondusif. Tapi waktu tahu dari cerita Ummi, Ummi bilang waktu Fatih sekolah TK (TKnya dulu sekaligus penitipan anak yang bisa dijemputt sore), tema-teman TKnya makan siang, dia main sendirian. Aku gak kebayang betapa kuatnya dia kala itu :")

Setelah ini Fatih mau shaum syawal. Semoga niatmu makin kuat ya Nak.
Tumbuh dengan shalih dan sehat ya Nak :)


Minggu, 16 Juni 2019

Celoteh Fatih

*Ngomongin kloter haji*
"Temen abi pengumuman kloter tanggal 30 Juni."
"Wah lama, ya."
"Kemarin bi, waktu aku sama Ummi ke tempat Bu Ai, ada orang yang datang juga, cerita juga kalau belum keluar jadwal kloternya. Terus beliau ....(berlanjut cerita)"
"Emang tau Mbak, nunggu kloter haji itu paling lama. Fatih rasa nunggunya itu sampe setahun gitu saking lamanya." Fatih yang bilang.
"Ha? Emang Fatih paham kloter haji?"
"Fatih itu kalau nunggu kloter manasik haji itu lama lho Mbak. Bisa sampai setahun."
Hoalah...kloter manasik haji taaa maksudmu le le ckck.
Lalu dilanjutkan dengan dia cerita sistem manasik haji di sekolah dia, antri dari anak TK. Antrian waktu dia kelas tiga. Antrian waktu kelas empat.
"Dek, emang satu kloter berapa kelas?"
"Hmm setengah kelas."
Pantesan aja itu sih dek lama antriannya.
"Pas kelas tiga itu, sampe ekor antriannya nggak keiatan mata gitu, sepuluh detik kemudian baru jalan lagi. Tapi waktu kelas empat enggak lho Mbak, lebih cepet jalannya. Habis kloter sebelumnya jalan, terus langsung jalan lagi."


*Bahas biometrik."
Jadi demi membebaskan adikadik dari membajak hp umi uat main game, aku sarankan umi pasang kunci yang pake sidik jari. Diapply kan ya.
Eh, mbuh piye carane, Fatih bisa tau password angkanya lalu dia masuk dan...dafarin sidik jari dia dong.
"Ummi aja nggak ngerti, dibantuin Mbak Fitri. Kamu kok ngerti sih Dek?"
"Anak akhir zaman ini."
"Dek, kalau kamu kayak gini, anakmu nanti kekmanaa?"
Kan kalau anak, tiruannya bsia makin canggih yak. Kayak peribahasa yang guru dan murid ituloh.
Abi udah ingetin jangan sampe keliatan, tapi ya kan ya, namanya anak jaman sekarang. Kayaknya dia emang udah terlalu canggih sih. Selama kita bahas, bahasa dia udah nyebut biometrik, mengambil sidik jari pakai plastik bukan kresek, dsb.

*Ummi kedinginan.*
Udah lama banget Ummi gak kedinginan. Lalu tadi tiba-tiba kedinginan lagi, gigil banget gitu.
"Ummi, rasakan pelukan anak." (ngomongnya ala-ala superhero).
"Ayo, zammiluni zammiluni" (itu isi ceramah Hanan Attaki yang  Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam pulang dari gua hira abis dapat wahyu dari Malaikat Jibril, terus ngomong zammiluni zammiluni biar diselimutin oleh Khadijah. Si Fatih mengajak Fahri menyelimuti Ummi. Ini tu selimutannya sampe yang kayak bikin bukit gitu lho, karena segala hal yang ada di kasur akan ditumplekin. Ya selimut, ya bantal, ya guling, semua disusun biar anget.
"Mi, sini fatih pegang pipi Ummi. Walau tangan Fatih juga dingin, tapi tangan Fatih itu menyerap dingin karena sering cuci tangan." sungguh aku taktau hubungannya ._.
"Mi, Fatih kasih koyo mau nggak mi? Biar panas." yha dek, masa pake koyo di pipi karena kedinginan._.
"Mi mau pake hot n cream gak biar anget?" *itu merk semacam konterpen
"Abi, eh Mas Fahri. Eh Mas Fahri atau Abi siapapun yang bersedia (bahasanya ckck), tolong casin bantal panas buat umi." Ini kerasa banget dia peniru ulung. Ini biasanya Umi yang minta tolong kalau Fatih mulai batuk-batuk, sesak, dan asmanya kambuh
Ummi, udah kayak gimana gitu, menahan dingin sambil ketawa gegara Fatih.

*Kemarin-kemarin*
Jadi Fatih lagi main patahan antena radio.
Entah nemu dari mana. Sampai dia nempelin patahan antenanya di rubik terus bikin gerakan memutar kayak Abang arum manis.
"Fatih pengen deh jualan arum manis." sambil tangannya gaya muter-muter bikin arum manis.
"Kenapa dek?"
"Nanti Fatih bisa kasih pesen ke anak-anak yang beli."
"Emang Fatih mau kasih pepsen apa?"
"Eh, kamu baca buku Tere Liye, ya." Katanya nagsih contoh sambil bersuara pelan malu-malu.
Ketawa dong aku. Jualan arum manis biar bisa mempengaruhi anak-anak untuk baca buku Tere Liyye Betapa sederhana ingin dia.
"Iya lah Mbak, Fatih tuh udah baca sekian buku Tere Liye." Fahri yang bilang. Nyebut angka, tapi karena gak yakin akhirnya diitung ulang.
Setelah itung ulang, Fatih udah baca 21 buku Tere Liye. Sekarang lagi baca Sunset bersama Rosie. Sebenernya Umi agak berat gitu dia baca yang judul itu.
"Apa yang Fatih tangkap dari buku itu?"
"Ada bom tau Mbak."
"Ih, itu bener lho dek bomnya. Beneran waktu itu ada bom bali."
"Iya, kan kasihan ya. Banyak orang yang ikut meninggal padahal nggak bersalah. Kayak Natan." Malah nyebut nama tokoh novel.
Lalu jadi bahas kejadian itu sejenak.


Fatih, seminggu terakhir bikin gemes banget. Kata-katanya banyak. Cerewet abis. Semua dikomentarin. Obrolan apa aja pengen ikut serta.Vocabnya banyak. Penasarannya sampe bikin dia belajar persilangan golongan darah di perjalanan pulang mudik dan sistem periodik unsur kimia. Terus dia kaget kalau ternyata sistem persilangan golongan darah itu baru dipelajarin SMP. Kek masih lama banget gitu. Lalu nanya, yang materi kelas lima aja ada nggak? Mumpung jarang-jarang ini Fatih bosen mau belajar. Celetukan soal kambingmen tadi waktu Fafa telpon. Pernah aku nanya sinonim suatu kata ke orang rumah, dia duluan yang jawab. Bener lagi. MBTI anak ini apa yak wkwk.

Dek, kamu aku jadiin sovenir mau ga? Biar banyak orang merasa bahagia dengan adamuuu di sekitar mereka <3 p="">

Senin, 27 Mei 2019

Pulang ke Rumah

Foto Jumat 3 Mei 2019

Jumat 3 Mei 2019, aku pulang dengan kecamuk perasaan tertentu. Ada sedikit lega karena beberapa hal tertentu. Meski demikian, kesempatan pelatihan dan karantina ini aku apresiasi karena sangat penting untuk milestone timku.

Setelah postingan rinduku yang ini dan beberapa tulisan setelahnya. Akhirnya aku pulang, meski belum ke rumah, tapi ke kantor yang bentuknya alhamdulillah rumah juga (hehe, kadang aku khawatir kalau pindah kantor terus bentuknya nggak se-homey yang sekarang). Segitu kangennya dan senangnya aku ke kantor, aku bicara banyak pantes ya kalau lagi ga mau bicara keliatan kenapa-napa). Aku share tentang cerita bangunin anak dan ganti lampu dari materi mbti ke orang di ruangan, aku hepi ketemu temen-temen, bahkan Nadung manggil aku Kak Gembul sepulang pelatihan pun aku hepi-hepi aja (yha gimana nad aku nginep di tempat yang provide makanan sangat banyak #alesan).

Sampai waktu antri wudhu maghrib, karena jumat itu ada KIP (aku masih ingat coba karena aku benar-benar pengen kajian tarhib ramadhan walau kurang sesuai ekspektasiku) dan ceciwi jamaahan maghrib di kantor, Mbak Dian tanya. Kayaknya karena aku keliatan sumringah banget.
"Fitri kenapa?"
"Ha, kenapa Mbak?"
"Iya, kayaknya lagi seneeeng banget." Atau apa gitu wordingnya aku lupa. Pekan lalunya waktu aku lagi ngobrol berdua sama Kak Citra juga Mba Dian bilang aku terlihat lebih glowing atau berseri-seri gitu. Padahal kan itu jabatan Abidah, susah juga ngalahin dia di bidang hepi kayaknya.
Aku bingung, gatau juga aku kenapa.
"Lagi jatuh cinta yaaa?"
Wakaka. Ini lebih membingungkan lagi. "Haaa, Mbak Dian pengalaman dan curhat yaa kalau lagi jatuh cinta kayak gitu." Aku menyerang balik. Orang-orang ketawa.
Lalu giliranku wudhu. Saat mau berwudhu, aku kepikir satu hal.
Kayaknya aku seneng banget, karena akhirnya aku pulang ke rumah deh....
Home is a place you can be yourself, right?

Lalu aku tersenyum. Pertanyaanku tentang kenapa aku seneng banget, yang juga tadinya aku gatau jawabannya, tuntas terjawab.

Ibuk

Ibuk, dalam bahasaku Ummi.

"Mbak, pulang jam berapa?"
Sampai rumah.
"Itu tadi buat Mbak Fitri belum digorengin, soalnya Mbak Fitri kan suka yang anget jadi gorengnya pas udah pulang aja."
Kadang-kadang akunya yang malah belum balas jam berapa, sehingga Ummi jadi gatau mesti goreng jam berapa. Padahal, untuk alasan semengharukan itu Ummi nanya jam. Karena tau anaknya suka banget makanan anget baru mateng huhu. Mau gorengin sebelum aku pulang banget biar aku nyampe masih anget.

atau.
"Buat Mbak Fitri yang masih ada di serokan (peniris minyak) deket wajan ya. Tadi digorengnya paling belakangan biar anget."

atau.
"Punya Mbak Fitri yang ada di serokan (peniris minyak) deket wajan, itu semua pakai tepung pedes."

atau.
"Kangkung buat Mba Fitri yang diwajan ya. Yang di sana cabe rawitnya Ummi hancurin biar pedes. Kasian kalau dicampur sama adik-adik."
Padahal ga pernah rikues. Tapi Ummi tau aku suka bilang ga pedes untuk takaran yang kata Ummi udah pedes.

atau.
"Mbak, tadi Ummi beli ini." Nunjukin semacam risol yang dibikin pake kulit lumpia, yang tepungnya terlihat krispi sekali dan membuat gaya hidup sehatku ramadhan ini goyah, wkwkwk.
Tapi di piring-piring buat buka puasa juga ada.
"Ummi pisahin, soalnya ini keliatannya paling crispy. Mbak Fitri kan sukanya yang tepungnya kayak gini."

Aku tulis karena haru gegara barusan saja Ummi pamit mau beli sayur.

Baru jalan beberapa jenak, lalu kembali ke rumah. Tergopoh-gopoh.
"Lupa, janji bangunin Fafa jam setengah tujuh."
Lalu bergegas mengambil ponselnya. Menelepon.


Cerita Pagi

Pagi ini antara sahur ke subuh baca tumblr salah seorang sahabat baik. Menangis haru, entah karena apa. Bisa jadi karena ceritanya, tapi yang lebih kurasakan adalah, karena aku merasa ia menjadi diri sendiri. Aku tahu sedikit tentang ceritanya sejak pekan lalu, yang diceritakan secara mendadak sambill satu dua tetes air mata yang mengalir. Kini kutahu sebagian besarnya. Penerimaan orang tuanya, persilakan atas dirinya yang ingin ke mana untuk melepas lelah, kehangatannya terhadap anak-anak dan orang kecil, dan kehangatan keluarga.

Tapi yang paling membuat haru, sepertinya, karena apa yang ia sampaikan dari hati, akan sampai ke hati pula. Sabarnya, syukurnya, rasa nyamannya terhadap dirinya sendiri. Karena ia jujur dalam menulisnya. Menjadi dirinya sendiri.

Lalu aku share link itu ke whatsappnya. Aku bilang
I am cry to read this
Thank you for sharing (my friend's name). Just be yourself, ya. Your most honest your own self.

Me, who love you. As always :)

Aku, bukannya tidak pernah ada kese-kesel lucu atau sedih terhadap respon temanku suatu waktu. Tapi aku menyayanginya, sebagaimana biasanya. Jadi tak ragu kutulis as always dalam pesanku. Yang itu, biarlah. Setiap orang satu dua punya perbedaan persepsi dan apa yang penting dalam hidupnya.

Kemudian aku beranjak shalat. Lalu aku teringat pesan seseorang, tentang menjadi diri sendiri. Mengingat momen pertama aku menangis setelah membaca pesannya. Aku menangis lagi. Sudah tak tahu porsi menangisnya karena yang mana. Karena cerita temanku, atau karena pesan itu. Syukurku rasanya penuh. Menjadi diri sendiri, dan diterima orang lain, mungkin adalah salah satu hal berharga dalam hidup. Dan semoga bisa menjadikan diri ini menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Tangis kecil yang kubawa pada qobliyah subuhku.

Diterima tanpa tuntutan, kata akun @rabbitholeid yang pernah saya baca di sini, justru membuat kita jadi terpacu, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku berpikir-pikir. Abi dan Ummi pernah menuntutku apa ya. Ah, sepertinya tidak. Justru di ketidaktuntutan itu mungkin aku lebih baik daripada ketika aku dituntut bisa sepeda di kelas yang sudah berbilang tinggi semasa SD. Entah, aku sulit mengingat-ingat. Tapi menjadi orang tua tentu super kompleks. Semoga Allah lapangkan sabarnya, Allah luaskan hatinya.

Pagi masih berjalan. Suatu hal terjadi di rumah. Tidak bisa aku ceritakan. Tapi batinku hanya satu, ternyata dari sekian banyak doa egois untuk diri sendiri, masih banyak doa yang dibutuhkan untuk keluarga ini. Hal-hal kecil-kecil. Doa yang spesifik-spesifik. Kadang, jadi pilu sendiri. Dan muncul ketakutan kalau terduplikasi. Semoga saja tidak. Pada beberapa case, menerima seseorang adalah termasuk menerima keluarganya juga. Ah, bahkan satu dua adalah berupa keluarga besar.

Aku mencuci piring. Usainya, aku membuka ponselku.

Temanku membalas
๐Ÿฅฐ❤ Thankyou fitri. Me, who also love you as always


Rabu, 08 Mei 2019

Fatih dan Kata-katanya (2)

Fahri sama Fatih lagi main, terus gatau gimanalah intinya Fahri membuat Fatih merasa sakit.
Fatih: "Kalau nggak puasa udah fatih gebukin nih"
Ummi: "Eh nggak boleh gitu Dek, nahan marah itu lagi puasa maupun nggak puasa."
*
Telpon Fafa, Ramadhan hari pertama.
Ummi: Fatih lagi berusaha biar menahan marah. Fatih bilang:
"Iya, ini Fatih merasa dalam diri Fatih kayaknya ada dua bagian, deh. Sisi yang mau maah sama sisi yang nggak mau marah. Fatih kayaknya kalau mau marah itu berasal dari dalam diri Fatih deh, bukan karena orang lain."
.
Hihi, lucu.
*
Obrolan lama, sebelum libur pemilu keknya. Dapet diceritain Umi.
Kemarin Ummi iseng nanya Fatih Mbak,
Ummi: Dek, kalau Mbak Fitri nikah, pengennya suaminya kayak gimana?"
Fatih: (Ummi meragain nada mikirnya Fatih) Yang beneran suka sama Mbak Fitri.Yang baik sama Mbak Fitri. Ya, yang paling penting berjodoh sih.

Terus aku nanya sendiri,
Fitri: Dek, emang kalau Mbak Fitri nikah pengennya suaminya yang kayak gimana?
Fatih: Mmmm gimana ya? Sama yang telah dijodohkan oleh Allah Mbak. Kalau nggak jodoh gimana hayo? *terus pasang ekspresi gemes*, dia ga nyebut yang lain-lain itu sih yang diceritain Ummi

Waktu ngobrol sama Ummi
Ummi: "Iya, nggak nyangka aja jawaban Fatih gitu. Kirain jawabannya yang sholeh. Tapi ya semoga yang beneran suka, yang baik, sudah mencakup juga yang sholeh, baik, (dsb nyebutin sifat-sifat baik yang lama-lama samar terdengar)."
*
Buka puasa
Fitri ke semua: Aku kok sekarang males ya ikut buker-bukber gitu. Ada bukber abc, bukber xyz, bukber fgh. (Di pikiranku bukber biasanya banyakan ngobrol, shalat kadang jadi telat juga, terus ya nyampur gitu laki perempuan, kuingin belajar menghindari hal-hal demikian. dan sayang juga waktu ramadhannya)
Abi: Emang bukbernya di mana?
Aku: Jakarta. Aku udah bilang sih ndak mau ke Jakarta malam-malam (wkwk kenapa ya, buatku Jakarta semuanya jauh rasanya). Walau udah ditawarin **** nginep juga di rumahnya.
(Obrolan berlanjut lalu usai)

Tiba-tiba Fatih ngajak aku ngobrol.
Fatih: Mbak, kalau diajakin buka di CCM jangan mau Mbak
Aku: Kenapa emang dek?
Fatih: Ramai, terus porsinya dibatesin (wkwkwk, kataku dalam hati), terus shalatnya juga kadang jadi telat gitu kan (heu kuterharu anak kicik ini udah bisa ngomong gini)
Aku: Emang porsinya dibatesin itu gimana dek maksudnya?
Fatih: Iya kalau di sana kan porsinya dibatesin. Kalau di rumah enak nggak dibatesin. (Mungkin maksudnya bsia nambah makan gitu kali ya, ckck)

Part 1 ada di sini

Selasa, 07 Mei 2019

Peluk

"Mbak, mau peluk nggak?" kata Abi tadi pagi. Sudah rapi dan bersiap berangkat.
Aku yang kerudungnya belum rapi mengabaikan, lari ke ruang tamu, memeluk Abi.

Peluk sebelum berangkat menjadi kebiasaan beberapa bulan terakhir ini. Lupa triggernya apa, sepertinya fase-fase setelah aku belajar terbuka dan menjalani hari-hari penuh tangis yang awalnya kurasa aneh tapi pada akirnya bisa kuterima. Memeluk selalu menyenangkan.

Dulu aku masih kuliah dan Abi ada agenda di Jogja, pas mau pamit aku sempat ragu memeluk Abi. Ingat sekali depan kopma belakang shelter transjogja. Tapi akhirnya aku beranikan diri, aku peluk Abi. Erat. Sejak saat itu, kalau ketemu dan mau pisah pas Abi ke Jogja, hampir selalu ada pelukan. Hangat :") Meskipun belum berlaku kalau menjalani hari-hari dengan aktivitas biasa di rumah.

Kemudian beberapa bulan belakangan ini sejak November mungkin ya, memang jadi ngebiasain meluk gitu. Ke Ummi juga. Pamitan mesti salim, sebisa mungkin memeluk. Kalau kelewat salim rasanya kecewaa heuheu. Pernah ada fase di mana malah Abi yang nyariin aku akhir tahun lalu atau awal tahun ini, terus aku ngerasa jadi kayak, wah ini malah Abi yang nyamperin duluan. Sesenang itu :")
Padahal dulu aku pernah di fase yang Abi pergi yaudah, akunya sibuk sendiri aja. Atau ya salim seadanya.

Kalau dulu kata Faizah teman aliyahku, memeluk itu memunculkan hormon-hormon yang meningkatkan kebahagiaan. Terus ada penelitian gitu sehaari minimal sekian peluk. Lupa aku udahan, 7 tahun yang lalu itu obrolannya. Kalau ndak salah 7 atau 12 pelukan perhari, gitu.
.
Eh terus tadi ndak sengaja lihat kakak kelasku yang sudah punya anak dua menshare ini di wa statusnya.

Minggu, 05 Mei 2019

Mempersiapkan (Kematian)

"Masih untung nikah itu (meski banyak repotnya) bisa dipersiapin, kalau meninggal itu Mbak, ngga bisa disiapin."

-Abi out of nowhere ngomong gitu kemarin. Di hari aku mendengar dua kabar meninggal. Anaknya guruku, yang dulu kukenal saat masih SD, dan kena kanker waktu SMA. Dan Ibunya temanku, yang mendadak info meninggalnya. Maksudnya ngga bsia disiapin tentu saj abukan soal memperbanyak bekal. Tapi karena nggak tau kapan jadi ngga bisa bener-bener ddisiapin menuju hari H kayak orang mau nikah gitu.

Kangen (Juga)

My Mom was in rush beberapa hari terakhir. Waktu aku nextdev dan bertanya, Ummi belum bisa menjelaskan, katanya masih fokus ngerjain PRnya. Kemarin juga, sibuk sekali seharian sedari Jumat aku pulang sampai Sabtu malam. PR-PRnya, bikin jawaban diskusi online, nyiapin arisan, haflah di sekolah fahri, dsb dll.

Saya selalu tahu, Ummi sibuk dalam kebaikan. Ga ada ceritanya Ummi scroll instagram atau main twitter kayak saya. Palingan yang agak takes time karena Ummi bacain notifikasi WA yang sudah terlanjur banyak karena Ummi jarang-jarang lihat HP, sudah terlau sibuk dengan segala urusan rumah tangga dan amanah-amanahnya. Atau menghapus pesan yang tak diperlukannya, satu per satu.

Tapi, aku kangen.

Kemarin waktu bantu nyiapin a b c d arisan, misalnya. Aku merasa Ummi rush banget. Bahkan sampe Ummi bingung dengan hal-hal kecil kayak mau yang mana makanan yang disajiin yang mana yang dimasukin kotak. Hal kecil yang biasanya gak Ummi ribetin, tapi jadi sangat dipikirin ketika lagi rush. Aku jadi ngeh kalau aku juga ribet nurun siapa, hehehe. Atau Ummi jadi salah sebut, atau salah instruksi, atau kalau bukan salah jadi nggak lengkap, atau kalau lagi perfeksionis. Dan lain sebagainya. Pada beberapa hal aku jadi oh Ummi gitu juga ya, aku nurun Ummi nih kayaknya sifat-sifatnya, hehe.

Aku jadi ingat waktu Desember Fatih dirawat di RS, lalu Ummi mesti isi acara sosialisasi kesehatan remaja. Nggak ada cerita dicancel. Gantian jaga Fatih, bagi tugas buat beli snack, nyapu ruang sosialisasi, dan lain sebagainya. Lalu kemarin pun, Alhamdulillah Abi mengerti dan ikut bantu, cuci piring, dan maklum jika adabeberapa urusan rumah yang belum beres.

Waktu Abi nyempetin ngobrol sama aku, aku sampe bilang, Ummi sibuk banget ya Bi. Waktu itu Ummi masih sibuk di depan laptop. Detik ini pun begitu. ((Namun Ummi sibuk dengan urusan dakwah, lalu aku malah ngeblog -__-).

Ada masa-masa aku kangen sama Ummi. Kangen denger cerita apa aja dari Ummi. Kangen mau cerita tapi susah nemu waktunya (apalagi kalau pengennya ga ada yang ganggu atau maunya sekali cerita ke Ummi Abi barengan). Ada masa-masa aku iri sama adik-adik yang di-sun saat sudah tidur. Ada masa-masa aku pengen ngabisin waktu bareng Ummi.

Atau kadang waktunya ndak match. Saat Ummi udah selesai amanahnya, akunya yang pulang malam, atau lembur, atau jaga perpus, dan lain sebagainya.

Tapi Ummi akhir-akhir ini memang sedang banyak pikiran, tugas, dan urusan. Amanah-amanah yang banyak. Untuk amanah dakwah, yang aku tahu terutama. Selalu ngak habis pikir sama tekad dan kontribusi Ummi, yang aku rasanya jauh sekali masihan.

Semoga Ummi sehat selalu, ya. Semoga lelah Ummi selalu dihilangkan sama Allah :")

Pesan Ummi dari dulu satu,
minta sama Allah kekuatan dalam menjalani hidup, bukan hidup yang mudah.

Senin, 08 April 2019

Buku Harian Ummi-1995
















Tadinya aku tidak mau menulis apa-apa seputar hari ini. Lalu aku ingat buku yang kutemukan waktu smp dan memutuskan membacanya kembali. Buku yang sejak kutemukan, belum pernah kubilang ke Ummi kalau aku menemukannya.

Minggu, 10 Maret 2019

Kata-kata di Papan Tulis

tadi menghapus papan tulis di ruangan karena hendak diisi tulisan lain. dua tulisan ini sejak tahun lalu. diabadikan dulu.
yang atas saya lupa kenapa ditulis. yang bawah, dulu kata-kata Abi, waktu itu ditulis di sini pas telponan sama Abidah. dia yang ngomong. Wah kapan ya itu, udah lama banget kayaknya. mungkin ada setahun (gimana kapan Abi bilangnya, udah jauh lebih lama berarti.).ditulisnya pun miring gitu sambil telponan, beneran.

lalu difoto, buat kenang-kenangan.

Selasa, 05 Maret 2019

Kecoa

"Dek, tau nggak, kecoa bisa hidup 9 hari tanpa kepala," kata Abi di tengah-tengah bujuk Fatih agar makannya segera. Aku juga di dekat mereka.

Kukira Fatih akan berekspresi kaget atau semacam, emang iya? Ga percaya gitu.

Tapi tanggapan Fatih....
"Bukannya 7? Eh apa 8 gitu...."
Dia jawab juga dengan angka dong. Meanwhile aku aja baru tahu fakta itu. Abi dak mengcounter.

Lalu kutanya, "Fatih tau dari mana emang?" Aku masih ga percaya. Kirain dia ngelucu aja atau biar seru.

"Dari Bobo." Lalu tinggal aku yang takjub karena anak ini memang berdasar data dan sumber. Semoga tumbuh cerdas ya Deek :')

Lalu aku minta dia cariin majalah Bobonya, padahal katanya sudah tahun lalu, hehehe.

Lalu waktu aku cerita ke Ummi, Ummi ketawa. Sama-sama nggak nyangka kita. Ummi bilang, Fatih nggak sekedar baca ya. Ternyata dia menangkap dan mengingatnya.

Sabtu, 09 Februari 2019

#sisakemarin: Hapiness Today 080219

Kemarin, sepanjang perjalanan masih kemana-mana pikirannya, sampai belokan RT lima masih keinget lagi pertanyaan, ada kecewa nggak?, belajar terlihat baik-baik saja (dan aku tahu banyak orang juga demikian), dan melangitkan syukur dan terima kasih Allah sudah memberi Abidah dan Ima around me yang mana mereka happy banget sepekan belakangan dan itu cukup mendongkrak dan mebuat aku kebawa hepi juga (jadi inget chatku ke mereka waktu itu*terlampir di bawah)
.
tapi yang tak disanggka adalah....
jadi kemarin aku pulang cepat. Hm, setengah 6 an sih dari Badr, tapi karena sekarang adzan jam  6 lebih banyak, jadinya ini keitung pulang cepat alhamdulillah, setelah Senin Rabu Kamis pulang malam terus (Selasa libur soalnya).

Sampai deket masjid terdekat dengan rumah, udah mau sampe rumah tuh, masih kebawa kesel keinget-inget hal-hal dan pertanyaan tadi yang kusebut di awal, ada anak-anak main yang gak ati-ati giu, selonong aja di tengah-tengah, padahal itu jalan Aku ngerem mendadak.

Tapi ternyata mereka adalah...anak-anak yang suka main ke perpus!

Raihan yang pertama sadar, dia langsung teriak, "Kakak! Kakak!" Lalu anak-anak main yang lain mendekat :")
Aku yang tadinya kesel langsung hepi. Mana pekan kemarin ngga bisa jaga sama sekali. Jadilah mereka pada ngerubungin aku yang mana aku tetiba berhenti di pintu perempatan jalanan komplek. Ngerubungin. Nanya-nanya.
Kakak kemarin ke mana Kak?
Kak besok nonton ya!
Kak jangan besok, Minggu aja!
Kakak pergi-pergi mulu ya
Kemarin aku ke rumah Kakak nyamperin
Kemarin ketemu siapa itu Kak namanya?
terus aku jawab, adiknya Kakak ya? Yang mukanya mirip?
Iya Kak tapi gendut. (Lol anak-anak emang selalu jujur, aku juga korban dikomen wajahnya :"))
Heboh deh mereka, andai ngga diperempatan, pengen deh aku ajak selfie, ehehe (dasar emang malu aja kamu sih Fit, ga niat, jangan berandai-andai gitu kali)
.
Alhamdulillah :")

Aku lho, lama ndak pulang sore. Belum pernah ketemu anak-anak sore-sore begini. Ya Allaah :")

*
Di rumah, aku bilang sama Ummi
"Mi, kasihan ya Fafa. Minusnya sekarang 3,5 (dia abis periksa mata). Padahal dulu dia pengen pake kacamata gara-gara mau ikutin aku sampe bikin dirinya jadi pake kacamata secara sengaja (aku sekarang sekitar minus 1,5 silinder 1, lebih kecil dari dia). "
"Ya namanya juga adik, pengen ikutin kakaknya."
Terus iseng, mau nanya Fatih.
"Gitu ya adik tuh ya. Kalau Fatih ngikutin siapa?" Kunebak sih dia ngikutin Fahri.
"Mbak Fitri juga. Soalnya Mbak Fitri bikin orang bahagia terus sih. Ngelawak terus."

Aku lho terharu dek :""", kamu bisa lihat sisi baik dari segala receh dan jokes atau selentingan tidak pentingku....

Fatih adalah orang termudah ketawa dengan segala jokes recehku. Jokes atau selentingan yang sampe bikin Ummi heran apakah aku bakal kayak gini juga sampe nanti-nanti kalo dah meniqa. Tapi kayaknya mah sekarang ini kelempar di rumah aja (temenku ada yang mengira aku orangnya tu serius bgt hehe). Tapi alhamdulillah ya dek kalau kamu seneng Aku kadang suka merasa bersalah kalau Fatih udah ngelempar jokes atau tingkah aneh, bahwa dia ketularan buruknya aku....

*
Malam alhamdulillah bisa makan ngampar di tengah. Abi ada konsumsi sisa rapat. Aku makan sepiring sama dikadik. Sampe akhirnya Ummi ikutan (padahal jam makan Ummi abis Isya, jadi ikutan ke abis maghrib).
Gara-gara obrolan sebelumnya tadi, aku tuh jadi mikir, di rumah aku sama adik cowok aja ya. Kadang aku khawatir mereka kelak meniru hal yang nggak perlu ditiru dari aku. Contohnya, aku khawatir mereka melihat pulang malam dari kerja itu kelak sebagai sesuatu yang wajar. Sebenarnya contoh ini pikiran lama sih, ter pop up lagi aja.

Alhamdulillah seseneng itu makan bareng mereka. Sebenarnya makan sepiring reramean sering sih. Tapi semalam benar-benar kerasa aja. Mulai yang dari nasinya dikit aja dulu (padahal kutau Fahri makannya banyak dan Fatih katanya si kenyang), sampe aku ambil nasi yang ketiga dan semua ikutan makan. Lauk udang yang tidak kumakan di kantor jadi dimakan bertiga dan ternyata seseneng itu bisa bagi udang bertiga. Juga perkedel Badr favorit Ima buatan Ibu Yeti yang sangat lembut yang mereka jadi ikutan sukaa (aku ndak terlalu suka perkedel hehe). Lalu Ummi juga ikut dengan piringnya yang akhirnya kami sambangi juga.

Kemudian cerita tentang Fatih yang jatuh sampe jalannya agak sulit. Lalu pengakuan dosa Fatih ke Ummi yang diceritain ke Abi kalau kemarin nendang temannya sampai temannya itu hari Jumat nggak masuk dan bengkak huhu. Fatih merasa bersalah banget. Tapi aku senang dia mau cerita pada akhirnya(abis deg-degan juga dia, awalnya Ummi sekedar tau temennya sakit dari grup buibu lalu nanya biasa aja gitu ke Fatih). Dan semoga dia juga belajar. Walau to be honest aku (kita semua sih)ndak nyangka juga. Dari awal makan aku suka lempar selentingan yang bikin mereka gemes banget. Aku seneng juga mereka nanggepin aku heuheu. Meskipun Fatih udah nahan diri banget buat ga nyubit saking gemesnya dia sama kakak yang selalu dia bilang tukang lawak ini dan Fahri berkali-kali bilang, Mbaaaak ih lagi serius. Aku seneng lihat Fahri ga serius, ga bete, dan ga spaneng :")

*
sebenernya niat postingannya sampai di atas itu aja, tapi ini menarik buat diceritain (dikenang sih ke diri sendiri, niatnya kan ngedokumentasiin)

Malamnya menarik deh. Waktu aku nemenin sebelum tidur setelah menonton Nussa Rara yang rilis hari itu.
"Mbak doain Yusuf ya biar segera sembuh."
Aku mau bawa agak bercanda. "Harusnya tadi setiap sujud Fatih doain Yusuf , Dek."
Dia ngangguk dong.
Aku kaget deh.
"Eh, serius Fatih doain Yusuf tidap sujud?"
"Iya Mbak. Kurang sekali aja waktu Ummi tadi ada yang sujudnya cepet banget sekali, jadi nggak sempet baca da (doi shalat di rumah karena kakinya sakit)."

Wah gak nyangka aku. Aku jadi ingat aku belum segitunya sama doa-doa yang kupanjatkan. Sama naskah buku yang aku masukin penerbit. Sama cita-citaku....

sudah sekian, 
perasaan bisa terbolak-balik
ada juga sih kesel baca ledekan di suatu grup
meski akhirnya didelete setelah kujapri
besoknya aka hari ini juga cukup sensi aku :")
masya Allah, hebat banget ya Allah


eh ini lampiran
senin kemarin, setelah aku sempat ga enak badan sampai pulang telat banget karena lemes bahkan buat pulang pun (pas itu juga gabawa motor karena tak bisa menyala)
dan ketika pertanyaan tentang kecewa masih ditanyakan


#journaling 

Minggu, 06 Januari 2019

Home

Kemarin pagi masak nasi begitu semangat, karena tahu orang rumah pulang, dan yeay masak nasi untuk orang banyak bisa semenyenangkan ini, hahaha. kalau masak nasi buat sendiri di rice cooker ukuran keluarga tuh banyak khawatirnya. Abis gak ya, atau gimana kalau aku malas makan? Dan gimana-gimana lainnya.

Lalu aku pulang dan sampai area rumah saat masjid bubaran maghrib. Aku menanti-nanti papasan sama dikadik sehingga mereka membonceng dan kami pulang bersama. Tapi tidak nemu.

Saya masuk rumah, tidak lama kemudian. Fatih pulang dari masjid dan masuk dari pintu rumah belakang. Dia melihat saya dari kejauhan, lalu berlari, meluk. Saya terharu, walau kalau ditanya, kangen Mbak Fitri yaaa dia suka tegas jawab, enggak. Hei dek, kangenmu itu loh keliatan dalam laku, dah gaperlu lagi aku kata-kata wkwkwk (boong deng, perempuan kan suka diakui :P)

Home is not a building. It is people. 

Lalu ingatan saya terseret pada masa-masa saya tetiba keinget sama quotes ini, ingatnya pas itu lagi di depan tumpukan cucian piring, di wastafel dapur. Entah quote ini apa triggernya kala itu. Lupa juga euy dah dipos dimari atau belum. (omo ini paragraf napa ga penting bgt wkwk)

Kalau kamu mau menjadikan rumahmu kelak sebagai tempat pulang, jadikan dulu rumah saat ini sebagai tempat pulang.

Aku pernah bertemu orang, yang belakangan saat menyiapkan pernikahan, ia sadar, menikahnya karena pelarian, karena ada kenangan masa kecil dan kesan tidak involve d rumah. Padahal itu kenangan masa kecil banget, sesederhana usia lima merasa tidak dilibatkan dalam pemberitahuan agenda keluarga saat wiken. Begitu ngaruhnya dalam diri dia karena dia merasa, kenapa gue ga dilibatkan dalam acara weekend keluarga, tapi abang dikasih tahu? Walaupun kala itu Mbak Ane bilang, kalau anak kecil dikasih tau mau kemana, biasanya dia ga sabar, maunya berangkat hari itu juga. aku gak paham bagaimana itu bisa membangun mindset batasnya dengan keluarga, tapi itulah. Mungkin banyak hal lain yang aku tidak tahu.

Kadang kita meminta janji-janji masa depan, tanpa berupaya memperbaiki apa yang dimiliki saat ini.
Padahal mungkin ini modalnya. Bahan bakarnya. Amunisinya.

Keluarga adalah lingkaran terkecil, terdekat, terintim, termenerima apapun kondisi di dalamnya sebobrok apapun isinya. Kalau kata Lilo (dari Nikari ini quotenya buat BPH iCare, da aku mah belum nonton Lilo and Stich), Ohana means family, family means nobody gets left behind or forgotten.
Jalan tiga bulan ke belakang saya berusaha lebih untuk bisa terbuka, bisa menemani tidur adik, berusaha untuk ada, bisa melibatkan mereka dalam cerita anak yang saya buat, berusaha meningkatkan komunikasi dan menanyakan kabar. Aih, jangan ditanya sulitnya. Saya pernah menangis tanpa sadar sebab utamanya nyaris dalam...mungkin...dua pekan. Meski ga berturut-turut, tapi  it's like kind a masa tercengeng saya seumur hidup. Baru kali itu bisa nangis depan umi abi kayak gitu. Dan selain segala cerita yang bisa saya ceritakan kala itu, bersamaan juga dengan kehadiran perasaan-perasaan gagal. Gagal jadi kakak yang baik, bahkan buat one in one person tiap adik. Gagal terlibat, gagal menjadi anak yang baik, gagal gak bikin repot. Tapi mereka bilang soal wajar, soal itu tugas umi dan abi, soal umi jadi lebih tahu. Ah, saya pun belajar. Banyak, semestinya.

Berhenti menyalahkan keadaan. Soal apa-apa yag sudah jadi qadha Allah. Responnya yang bisa diubah. Diri sendiri yang bisa diubah. Apa diri ini bsia mengontrol respon orang lain? Tanggapan orang lain? Sikap orang lain? Tentu saja tidak. Hanya diri sendiri yang bisa diri sendiri ubah perilakunya, sikapnya, strateginya, upaya-upayanya. Kalau ternyata tidak works, ganti strategi lain. Kalau bahasan kami setelah nonton searching, perbanyak komunikasi, hasilnya apa terserah nanti, ketimbang membiarkan dinding yang telah lama terbangun perlahan antara diri dan orang tua, atau bisa jadi dengan orang penting yang  kita terlalu segan untuk memulai percakapan dengannya. Karena biarpun sulit, keluarga ingin tahu kabar satu sama lainnya. Ingin mendoakan satu sama lain. Ingin yang terlihat baik-baik saja memang karena baik-baik saja.
Bukan membangun barrier, dinding, yang perlahan terbangun sejak kecil dan dewasa sulit sekali dihancurkan. Pun ketika dinding besar ini baru disadari saat besar, well, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Masih ada waktu memperbaiki (trims obrolannya!)
Dan oh tentu saja sayang, tidak gampang untuk itu semua. Paragrafku sebelumnya sudah menjelaskan. Dan aku masih perlu terus berjuang juga untuk itu. Hubungan itu dinamis, bukan?

Aku jadi ingat temanku yang mau belajar tahsin karena alasannya dulu ayahku nggak ngajarin aku ngaji. Dia juga bilang sih aku pengen perbaiki bacaan karena ngga lancar ngajinya, bisa jadi ayah yang baik buat anak-anak. Aku nggak mau anakku punya pengalaman yang sama, kecewa nggak diajarin ngaji sama ayahnya sendiri. Tau apa tanggapan temanku yang lain? Dia larang temenku belajar ngaji kalau cuma hanya karena itu. Hey boy, katanya, kalau lu cuma mau balas dendam sama masa lalu, nggak usah. Buat nyari apa itu semua? Pengakuan? Kalau kamu bisa lebih baik dari ayahmu?
Aku lupa detil percakapannya dan ingin aku tanya lagi. Tapi kala itu aku melihat benang yang tipis antara tulus ingin belajar dengan balas dendam akan masa lalu. Aku jujur tidak tahu batasnya. Temanku bilang nggak ada ujung baiknya dari alasan-alasan balas dendam. Ah, aku sungguh masih sulit melihat perbedaannya. Di titik mana alasannya bukan balas dendam, tapi semata ingin kehidupan yang lebih baik. Aku ingin bertanya lagi tapi belum jadi. Tapi yang kutebak, mungkin kalau sudah mencapai titik pembalasan balas dendam, setelah itu lalu sudah, tidak berkembang jadi lebih baik lagi. Atau barangkali kalau gagal jadi menyalahkan keadaan atau kondisi yang dulunya sama. Entah. Tapi memang temanku juga menghighlight soal pengakuan. Dengan tegas dia tanya, Terus kalo lo lebih baik dari bokaplo dulu kenapa? Aku masih takjub ada di antara percakapan mereka.
Jawaban mendasar selalu penting dipertanyakan, dan dijawab.

Kembali ke quotes ini : Kalau kamu mau menjadikan rumahmu kelak sebagai tempat pulang, jadikan dulu rumah saat ini sebagai tempat pulang.

Kadang kita meminta janji-janji masa depan, tanpa berupaya memperbaiki apa yang dimiliki saat ini.
Padahal mungkin ini modalnya. Bahan bakarnya. Amunisinya.
Kita mungkin bisa menumbuhkan cinta di tempat lain. Tapi tanpa cinta dari mana kita berasal, barangkali energinya tidak akan cukup kuat untuk menjaga cinta yang kita bangun. Hari ini, ego masa remaja menumbuhkan diri menjadi sosok yang fokus pada diri sendiri. Karena yang ingin dibangun adalah masa depan, lupa mengisi energi orang-orang di belakang. Support system terbaik, yang saat ini lebih berhak atas diri kita ketimbang masa depan yang belum tahu di mana Allah tambatkan. Saat ini.


aih, ini harusnya hasil refleksi setelah minggu depan
sambung refleksi nonton searching yang belum jadi kuceritain
tapi pelajaran juga sih buat diri ini
semoga bisa jadi support system yang baik untuk keluarga
kini, dan kelak
dah h-7, bismillah

ni kenapa mau ngepost quote doang bumbunya jadi banyak yak
kalau ada yang baik semoga bisa diambil
kalau ada yang buruk, kasih tau saya ya



Selasa, 25 Desember 2018

Hari Berganti, Rencana Berubah

Hari berganti. Rencana berubah. Suasana juga.
.
Tapi yang terpenting tujuannya sama kan? Saling mendoakan kan? Saling bertukar kabar kan?