Tampilkan postingan dengan label flp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label flp. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2019

Tentang (Musikalisasi) Puisi

Kalau kata judul buku Joko Pinurbo, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi

Kemarin baru tahu kalau ruangbaca ngeluarin album. Dulu terbangnya burung sempat menemani hari-hari saya mengetes statistik grup yang (juga) bermain dengan rumus di bilik kecil ruang yawme waktu masih disekat. Dulu saya pernah selintas menulis soal itu di sini. Itu videonya masihan rekaman pentas mereka disuatu acara. Sampe nyari teks puisi aslinya. Suka sekali alunan nadanya.

April 2018, dua pustakawan ini menikah~so they become pustakawin ceunah. Ikut senang waktu keduanya memutuskan untuk bersama :'). Dan pada momen ini, mereka merilis lagu bersama. Waktu itu baru ada di soundcloud. Dan dulupun masih pake foto mereka, sekarang gambarnya udah ilustrasinya. Kalo ga salah pas itu di IG mereka bilang soundcloud downloadnya terbatas dan sayapun bisanya denger streaming aja. Sukaaaa sama lagunya. Menggambarkan kehidupan perpustakaan dan pertemuan. Meninggalkan hingar bingar perkotaan dengan tenggelam pada buku-buku.

Dulu sempet mikir, kenapa karya mereka kesebar-sebar dan dari rekaman-rekaman pentas gitu. Kayak belum ada officialnya terus masih dikit. Eh lama gak mainan ige ternyata mereka bikin album ya. Finally.
.
Lalu tadi aku buka twitter. Ada retwetan Abdur Arsyad. Beliau ini standupcomedian yang menikah juga dengan standupcomedian. Saya awalnya tau dari retweetan temen soal video matematika yang dibuat oleh Abdur dan saya jadi kepo ke tulisan-tulisan masing-masing pasutri ini soal surat untuk anaknya. Manis sekali. Mereka pandai berkata-kata dan kalau nulis sura buat anak tuh ga keliatan standupcomediannya. Dulu ada kata-kata yang saya suk dari blog mereka dan saya kutip di sini.

Lama ga mainn ige (aha kasian jadi tumbal mulu, padahal saya juga baru follow mereka hari ini), saya kan penasaran ya kok lama ga ada edisi lanjutan surat untuk anak. Mestinya udah lahir dooong. Terus karena tadi gasengaja liat di twitter saya jadi buka ige mereka lagi dan kubaru tau mereka juga buat video-video puisi bersama gitu. Sok dilihat aja di igenya kalau penasaran Tapi kalau lagi puisi mode atau kata-kata mode gini emang gak keliatan standupcomediannya. Padahal mah berpasangan ya mereka, ga satu doang.

dua pasangan ini kayak apa yang dibilang ruangbaca di igenya:
Quote di hari sumpah pemuda
"semoga setiap pemuda dan pemudi saling menemukan dan mencintai agar gerakan berumur lebih panjang" 
-kak Nunu dan kak Mato, pengelola @thefloatingschool, pasangan yang belum sebulan menikah.

.----
Sampe aku kepikiran. Dulu ada temen kantor yang suka puisi. Tapi sebelum aku bahkan bilang mau pinjem buku puisinya,dia tidak bertahan lama di kantor. Lalu aku jadi kepikiran untuk beli di googleplay aja, lebih murah. Eh jadi kepikiran lagi, pinjem online di ipusnas aja deh buat lihat dan baca buku-buku kumpulan puisi.
.
Dulu pernah beberapa kali ikuta project musikalisasi puisi. Cuma dua sih, di musywil sama di milad nasional flp. Favorit aku waktu itu liat video musikalisasi Stasiun. Pas itu aku gak tahu apa-apa ada project itu. Tau-tau ada aja. Padahal artis utamanya FLP angkatanku.


the team, dan our multitalented pencipta puisi, lagu dan pemain gitar, drh. Lian
*inget banget pas latihan aku dapet cerita Mbak Lian magang di kebun binatang dan cerita soal sariawannya ular :")

our mentor, Uni Yova, yang membua kami percaya bahwa bisa cium lutut itu bukan soal berat badan orang, wkwk. Uni paling keras soal minta kita jaga makan dan no goreng-goreng. Yang paling lucu adalah, suatu malam habis latihan pernah aku makan sama Tyani di warung sop. Aku pesan sop telur. Pikirku kan telurnya ya telur rebus gitu ya, namanya juga sop. Dan udah bayangin makan makanan berkuah hangat. Etapi sopnya sop telur ceplok donggggg!!! Aku sama Tyani ketawa, terus ngabisin makan sambil ngerasa bersalah.

forte bersama geng akustik edsacoustic

semacam semacam inilah waktu itu. kangen ya main gini gini lagi.

lalu aku jadi ingat Sajak Februarinya Helvy Tiana Rosa (eh ini Februari pas banget!!!)
terus pas nyari link tulisan di atas nemu tulisan lama ini, hmm. Semoga kelak beneran bisa buka taman baca, lalu ingat pustakalana, ingat acara kemarin, ingat buku yang aku sebut di ruma Tante Ima atau Ifa, aku dapat buku secondnya.
Waktu berubah. Cita-cita masih sama. Cara mewujudkannya, semoga bisa terus diperjuangkan :")
Anak-anakkuuu maafkan aku yang tadi tidak ke perpus :""

Sabtu, 10 Maret 2018

[Repost]Tips Asma Nadia untuk (Calon) Penulis

inti dari kenapa saya (re)pos video ini (dari postingan Kak Nisa) adalah pesan di penghujung video

kangen sekali dengan aktivitas bersama FLP Jogja :")
*ditambah ada rasa-rasa menyesal duu tidak memaksimalkan perjuangan :""

terima kasih Kak Nisa, share videonya :")

Sabtu, 11 Juni 2016

Sampai Jummpa Besok, FLP-ku :")



sampai jumpa besok, FLP ranger!
#KatakanCinta;
kajian tentang agama dan cerita tentang apa saja
12-6-2016

Kamis, 11 Februari 2016

FLP Februari Ini

kalau hidup harus ada pemicu, adrenalin, tantangan, ada yang dimaenin, ada yang diurusin, ada yang diopeni, barangkali bulan-bulan ini adalah satu itu  : Forum Lingkar Pena Yogyakarta. Nggak paham lagi kalo sampe ketemu orang yang sama lima hari berturut-turut. ngitung uang yang sama hampir setiap hari, bahkan bisa ikut ketawa atas hal yang nggak aku ngerti :")

semangat yosh!
semangat miladnasional19FLP
semangat forumteaterFLP
semangat bendaharaeverythinginFLP
semaangat urusin data ke pusat
eh iya masi ada buletintinta
EH IYA BANGET MASIH ADA SKRIPSI :"") *danbimbinganjam11inih

Semangat menjadi penulis yang mencrahkan umat Fit :)
Aamiin^_^

Rabu, 10 Februari 2016

Make Up Karakter

hari ini belajar kosakata baru : make up karakter. nggak sabar pengen belajar teeater dan segala tetek bengeknya *coba diingat lagi fitri kosakata skripsi, iya s-k-r-i-p-s-i*. ya meskipun nggak punya modal such as makeup-makeup yang tadi disebutin uni *nggakmaunyebutsoalnyayangnggadiunyasemuanyabanyak:P*. kata uni, make up karakter lebih mahal belajarnya daripada belajar make up cantik. make up cantik belajarnya ngabisin 1,5. klau make up karakter sampe 2,5. make up karakter bisa membuat tokoh-tokohdalam pertunjukan berwajah tua, bahkan juga berwajah sebagaimana singa maupun buaya *susahbayanginya*

Uni bilang, uni mau ngajarin kami buat persiapan Forum Teater waktu penampilan milad besok.

Saya jadi kepikiran, wah, bahkan buat karakter bohongan saja, biayanya mahal ya? Dan dalam kenyataannya juga begitu bukan? Bukankah karakter seseorang harganya lebih mahal daripada penampilannya?

*edisi flp, bersambung sampai posting selanjutnya ya ;)

Jumat, 05 Februari 2016

[Review Film Ketika Mas Gagah Pergi] Pesan-Pesan Kebaikan Dari Film Ketika Mas Gagah Pergi

"Gimana film Mas Gagah?" tanya saya pada teman yang sudah menonton film ini.
"Ngga rekomended Fit," jawab teman saya. Saya tahu, ekspresinya menunjukkan bercanda.
"Kenapa?" tanya saya menyelidik.
"Dua alasan Fit, Pertama, soalnya ganteng (mungkin takut ngga bisa ghadul bashar). Kedua, soalnya gantung (soalnya ternayat masih ada lanjutannya)," jawabnya sambil nyengir.
"Yeee dasar," jawab saya.

***
Perkara apa opini orang soal film Ketika Mas Gagah Pergi, saya berpikir cepat atau lambat saya akan nonton. Selain karena penasaran dengan film yang akhirnya selesai setelah perjuangan panjang melahirkan film yang dilandasi idealisme tinggi, ajakan nobar dari teman-teman tentu tidak bisa dibendung.

Film Ketika Mas gagah Pergi (KMGP) merupakan film bernafaskan dakwah yang lahir dari novelet karya Helvy Tiana Rosa (pendiri Forum Lingkar Pena)  yang legendaris pada tahun 2000 (cetak ulang hingga 15 kali), setelah pertama kali muncul di Majalah Annida pada 1993, dan telah diterbitkan oleh Pustaka Annida pada 1997. Berbekal idealisme nilai yang dibawa pada film, film berasal dari novelet ini bahkan sampai dikemas dalam dua seri film, di mana film-film lain dari novel yang tebal dikurangi isinya agar cukup dalam satu film saja.

Film ini diawali dengan kisah ketika Mas Gagah (Hamas Syahid Izzuddin) ada di Ternate untuk mengambil data skripsi sebagai intro. Kemudian ditampilkan flashback keseharian Mas Gagah  bersama Gita (Aquino Umar) adiknya. Mas Gagah yang merupakan kakak kebanggan Gita adalah orang yang tampan, keren, modis, dan menjadi idola banyak gadis termasuk teman-teman Gita. Keduanya merupakan pasangan kakak adik yang akrab sekaligus sebagai partner in crime satu sama lain. Kepergian Mas Gagah ke Ternate untuk mengambil data skripsi sempat membuat Gita ngambek walau pada akhirnya ia bisa menerima.

Sepulang dari Ternate, Mas Gagah berubah. Penampilannya, tutur katanya, perilakunya, genre lagu yang didengarnya, kebiasaan-kebiasaannya, semua berubah drastis. Gita kesal. Baginya, Mas Gagah sekarang nggak asik, nggak seru, dan terasa aneh banget bagi Gita. Bahkan Gita memilih untuk tidak lagi diantar oleh Mas Gagah ke sekolah karena ia malu dengan perubahan Masnya itu.

Tidak hanya berubah bagi dirinya sendiri, lingkungan Mas Gagah pun berubah. Ia jadi sering mengkaji agama dan menjadi lebih peduli pada kondisi sekitar. Ia membantu pembangunan Rumah Cinta di daerah kumuh sebagai tempat belajar dan membaca anak-anak di sana. Ia pun mengajak Mamanya (Wulan Guritno) dan Gita untuk berubah ke arah lebih baik. Mamanya perlahan-lahan luluh dengan perubahan Mas Gagah ke arah kebaikan, meskipun baru taraf menerima dan masih berdoa untuk juga mendapatkan hidayah. Namun, Gita semakin hari semakin menunjukkan ketidaksukaan pada perubahan Masnya itu.

Ternyata, tidak hanya di rumah, di bus menuju sekolah Gita malah melihat orang yang mengingatkannya pada Mas Gagah, membuat kekesalannya terhadap orang-orang yang suka bicara kebaikan semakin memuncak. Orang itu seringkali naik turun bis-bis kota dan memberikan ceramah di dalamnya tanpa meminta uang. Dan entah bagaimana Gita seringkali bertemu dengan sosok itu. Kekesalan yang memuncak membuatnya memarahi laki-laki itu di depan umum. Tapi sama saja, laki-laki itu masih kerap ia temui di kendaraan umum. Belakangan, sosok yang diketahui bernama Yudi (Masaji Wijayanto) itu mulai menarik perhatiannya sejak Gita ditolong olehnya ketika ponselnya dicopet.

Kekesalan yang ia curhatkan pada Tika sahabatnya membuat Tika menlakukan klarifikasi pada Mas Gagah. Namun tak dapat disangka, Tika justru lambat laun malah belajar mengenal Islam hingga memutuskan untuk berkerudung. Gita semakin kesal, kenapa semua orang berubah dan seolah-olah tidak ada yang bsia mengerti dirinya?


***

Berbekal prinsip-prinsip yang diusung oleh penulisnya, film ini sukses menjadi film yang bebas pesanan perusahaan dalam adegan karena memang didanai secara patungan oleh banyak pihak, baik instansi maupun sahabat Mas Gagah. Dan karena noveletnya sempat booming di era tahun 2000-an, banyak orang yang sudah menunggu-nunggu film ini eksis di bioskop. Dan benar saja, dalam film ini adegan-adegannya tidak ada sentuhan kulit antara lai-laki dan perempuan. Usaha seleksi pemeran-pemeran utama dalam film ini saja menunjukkan bahwa Helvy Tiana Rosa selaku penulisnya memang menginginkan pemeran-pemeran utamanya adalah  orang-orang yang memang mendekati
dengan karakteristik tokoh-tokoh dalam noveletnya itu. Banyaknya artis ternama yang tidak menjadi pemeran utama justru menunjukkan bahwa film ini didukung oleh  banyak artis.

Film dengan visi dakwah ini meskipun tidak dibawahi oleh production house ternama layaknya film-film pada umumnya, mampu memuat kekuatan akting para pemain-pemain baru, pengambilan gambar, serta sound yang baik. Namun saya rasa masih ada akting yang kurang natural seperti ketika Mas Gagah telah pulang dari Ternate, di kamar ia memakai baju koko, dan kadang kata-katanya terasa kurang natural. Prolog yang oleh Gita yang terlalu panjang rasanya menjadi mendominasi bagian awal. Secara make up, jenggot Mas gagah juga terlihat tidak alami. Menurut saya pribadi sih,  perubahan menjadi lebih kenal agama tidak mesti ditonjolkan oleh jenggot, namun jika jenggot ini diperlukan pada adegan ketika teman-teman Mas gagah menyindir penampilannya sekarang termasuk juga jenggotnya, maka okelah kalau adanya jenggot ini diperlukan.

Spirit dakwah juga ditunjukkan oleh Mas Yudi yang berceramah dari bis ke bis. Idealisme yang ia tanamkan pada dirinya membuatnya belum menginginkan posisi yang ditawarkan Abahnya untuk mengelola perusahaan dan masih cenderung ingin melakukan aktivitas dakwahnya seperti biasa. Aktivitas Yudi ini meskipun menimbulkan pertanyaaan bagi para penonton apakah kebiasaan ini masih kerap ada di kendaraan umum terutama di ibukota, di sisi lain menunjukkan bahwa bahkan keberadaan kita di manapun sebisa mungkin tetap memberi manfaat, walaupun cara kita dan Mas Yudi boleh jadi berbeda. Saya sempat berpikir apakah kebiasaan berceramah di bus ini merupakan kebiasaan yang ada di era ketika Helvy Tiana Rosa menulis novelet ini. Jika iya, sebaiknya penggunaan gadget yang cukup ditonjolkan di film ini tidak perlu ditampilkan untuk menunjukkan kehidupan di era sekitar akhir tahun 1990-an atau awal tahun 2000-an.

Film yang dibuat dengan perjuangan yang cukup panjang dari mengumpulkan dana hingga masuk bioskop ini sudah sepatutnya mendapat dukungan dari masyarakat luas. Apalagi ini bukan film yang memuat konten yang tidak pantas ditampilkan. Ini berarti strategi marketing tidak boleh ditinggalkan untuk menarik massa turut menonton film ini. Saya dengar di awal film ini launching penontonnya cukup banyak. Namun sayang, ketika saya menonton kondisi bioskop cukup sepi. Saya berhusnuzon mungkin karena saya menonton pada jam kerja. Tapi di atas itu semua semoga orang-orang yang telah menonton juga dapat melakukan marketing agar kebermanfaatan film ini semakin bisa dirasakan banyak orang.

Satu hal yang membuat penasaran adalah lanjutan film ini. Meskipun sempat berpikir pasti seru kalau filmnya langsung ditayangkan sampai akhir, tapi tentu saja durasi film harus dibatasi dan ini juga dilakukan agar naskah dapat diakomodir mendekati naskah asli. Perbedaan yang saya lihat antara film dan buku sejauh ini hanya waktu kemunculan Mas Yudi dan adegan Mas Gagah yang terpeleset sehingga jatuh ke laut ketika ia berada di Ternate, selain itu filmnya sama dengan cerita pada bukunya.

Akhir kata, ada kalimat bagus yang dilontarkan Mas Gagah dalam film ini :
"Jika kita tidak setuju dengan suatu kebaikan yang belum kita pahami, cobalah untuk bisa menghargainya..."
Karena kita kadang masih merasa belum siap melakukan kebaikan, maka berarti cobalah untuk tidak protes mengapa Allah meminta manusia mengamalkannya. Hargai dulu, jangan malah cari celah untuk menentangnya :)

Semoga bisa terinspirasi dari film Ketika Mas Gagah Pergi :) !

--------------------------------
Cari tau lebih lanjut di situs Film Ketika Mas Gagah Pergi dan situs Forum Lingkar Pena :)

*foto selfie dengan tiket merupakan syarat lomba review Film Ketika Mas Gagah Pergi (bisa dicek di sini)

Sabtu, 19 Desember 2015

/tango-dan-surat-dari-devi/

dapet sesuatu dari Devi Lukita Sari. Something you found on your wardrobe/bed/pillow is something so surprise and so sweet. Saya sangat suka menemukan kejutan-kejutan kecil di atas pojok-pojok ruang saya di asrama. Sebagaimana mangga dari Jaden, buku dari Zayun, oat dan sari kacang hijau dari Nikari, dan masih banyak yang beelum sempat saya ceritakan.

to be honest, Devi adalah salah satu teman saya yang paling mudah memaknai suatu kejadian. Kalian bisa lihat di tumblrnya. Dia adalah tipikal perasa yang mudah menuai hikmah. Yang ngena kalo ngingetin orang masalah kedekatan sama Allah. Yang peka sama hal-hal kecil yan diceritakan orang lain dan bisa menuangkan itu ke blognya. Tipikal penyabar dan baik hati yang kalau kalian inget gimana Devi, rasanya malu banget sama kualitas ibadah pribadi #hiks.

*ps: kalo semenyenenangkan Nusa, saya kira kami sama-sama dekat karena saling menyenangkan dalam artian : kami sama-sama aneh dan menerima sisi aneh kita masing-masing. ahaha. everyone is special. just become you and i love yourself, the real you :)

ayuk kak Dev kita makan bareng :9

*p.s (lagi) : saya kenal Devi by name dari 2013 di FLP. Real ketemu 2014 awal kalo ga salah di GMIF. Dan sekarang kami seatap di Rumah Kepemimpinan Yogyakarta :")

Senin, 23 November 2015

[Repost]Menulis Sebagai Passion

hiks. lupa nemu di mana. kayaknya di wa flp jaman antah berantah *padahal punya wa juga baru kapan, wkwk

Minggu, 31 Mei 2015

Lalala~

Ini weekend. Tapi bukan rasa weekend. Mana ada weekend pergi pagi jam 5 dua hari berturut-turut ?

Saya berkecamuk. Saya lupa sebutkan alasan -yang mungkin jadi pertimbangan. Saya lupa tepat ketika maju ke depan.

Dua hal itu : konteks berbeda.

Ini weekend. Tapi bukan waktu luang untuk menuntaskan tugas yang saya dapat. Jadi, meskipun berlelah dan saya senang melakukannya, meraihnya, menghabiskan waktu dengannya. Walaupun saya harus menatap iba pada diri saya : tugas saya tidak juga kelar, atau bertambah satu senti pun kemajuannya. Bayangkan betapa zalimnya saya terhadap teman-teman saya.

Ini Minggu, tapi saya malah ada di ruangan, yang mungkin tidak pernah terbayang oleh teman-teman sejurusan. Atau terlintas, atau terpedulikan. Hahaha, biar saja.

Seringkali, saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang ingin saya capai dan dapat dengan semua hal yang  telah saya lakukan. Kadang-kadang mimpi tidak beririsan, dan saya terlalu bingung untuk memulai. Ada yang rasanya masih ingin diberikan untuk hal lain yang masih menuntut perhatian. Atau justru sebenarnya hal inilah mimpi yang sebenarnya saya inginkan?

Masih banyak tugas menunggu. Dan ini akhir bulan : tugas kuliah, tugas asrama. Dan laptop yang rusak masih menginap di servisan. Tuhan akan menguatkan, kamu harus tenang Fit. Dan berjuang.

Kalau kata kutipan quote di Mushala Teknik yang sedari kemarin saya kunjungi-meski saya lupa redaksi keseluruhannya (nanti kalau ingat saya ketik ulang mungkin).
Kamu lebih kuat dari masalahmu, lebih kuat dari sakitmu, selama kamu punya Allah.
Saya masih menungu, menunggu kepastian, dan juga kabar.

salam dari Jogja,
di luar ruang 2.5 KPFT
Musyawarah Wilayah FLP Wilayah D.I. Yogyakarta
16.45

Jumat, 15 Mei 2015

Jogja Kota Pelajar

Jogja kota pelajar. Ramai karena pelajar. Bukan hanya kampus yang penuh pelajar dari berbagai daerah, sekolah menengah atas pun sama. Bisnis kos-kosan tumbuh di mana-mana. Juga bisnis makanan. Mulai dari sekadar angkringan, jawa banget, lombok banget, china banget, sampai yang italia banget. Mulai dari tahu tempe, jamur jejamur, sampai makanan laut. Jogja kota pelajar, makanya harga makanan disesuaikan-meskipun ada juga yang tidak. Saya pernah beli nasi-ayam 4000-an dan jus 1000-an jaman 2012. Dan saya juga pernah tau temen beli paketan yang isinya bisa nasi, oseng cumi, dan jus, totalnya 10ribuan. Nggak ngerti lagi kadang-kadang.

Jogja kota pelajar. Isinya pelajar. Ramai di jalan raya dengan plat yang berupa huruf depan penunjuk kota asal. Pameran seni dan arsitektur juga ramai oleh pelajar. Seminar-seminar, pelatihan jurnalistik, training pengembangan diri, isinya pelajar. Pasar malam, awul-awul, bagi-bagi makanan gratis, isinya pelajar. Galang dana bakti sosial, konser-konser artis, bagik panitia maupun peserta, dominasinya anak jalanan. Setiap minggu di kampus mesti punya agenda sendiri-sendiri yang diikuti oleh pelajar. Organisasi tanpa batasan usia didominasi oleh pelajar. Semuanya pelajar.

Beakangan libur panjang. Para pelajar pada pulang. Tempat-tempat makan sepi kedatangan. Jalan raya lengang sepanjang mata memandang. Aku dan Tyani dua malam ini sepulang FU upgrading makan di tempat-tempat sepi, padahal biasanya ramai. Para pelajar pulang. Para pelajar pulang.

Jogja, benar-benar penuh oleh pelajar yang berdatangan.

Aku juga pelajar yang memenuhi Jogja-yang ingin pulang.

Perpus Pusat UGM
15 Mei 2015, 19.27

Minggu, 07 Desember 2014

Sajak Februari : Mencari

lihat tulisan dengan tinta oranyenya saja

*
Di dalam bis yang membawa banyak orang,
Kau cari aku hari itu.
Tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu sejak pertemuan pertama kita
Mengapa kau sisakan peta buram yang sama
hingga aku tak pernah bisa menatap punggungmu

Di antara dinding dingin di sekitar kita
kau cari aku hari itu
tapi kau tak tahu
aku telah mencarimu bermusim-musim
dan selalu hanya pilu
yang memeluk dan membujukku
Pulanglah, kau sudah begitu lelah

kutipan dari : Sajak Februari, Helvy Tiana Rosa
*

terima kasih kelompok HAMKA : Setyani, Irkham, Atikah, Mbak Ines, Upi, dan lainnya *maaf kalo aku gahafal kelompok kalian*

aku pengen punya video sama rekaman suara musikalisasi puisi kalian. sungguh.

terima kasih PDKT FLP D. I. Yogyakarta Angkatan XVI

kalau mau baca puisi lengkapnya bisa lihat disini

***

dulu sekali, sepulang dari Kebun Raya Bogor dengan teman-teman @gradiator15, saya selintas memikirkan hal yang sama soal perjalanan di bus

anyone wants to accompany me?
:')

Sabtu, 06 Desember 2014

Rintik Kata-Kata


Hujan adalah rintik kata-kata yang turun di atas kita. Berbahasa sama di sepanjang aspal dan pertokoan. Kita, menerjemahkan rintik itu dengan arti yang berbeda.
Satu kata mewakili canda pintu musim penghujan. Satu kata mewakili romansa di teras kenangan. Kata lain menyesakkan air mata di jalanan.
~
Hujan adalah rintik kata-kata yang turun di atas kita. Berbahasa sama tentang zaman pijakan kita.
Bercerita tentang kelaparan malam dan esok hari. Berkisah tentang jualan yang tak habis hari ini. Atau esok, dimana bumi hanya mimpi-mimpi bau terasi.
~
Aku adalah lelaki di emperan toko itu.
Menikmati rintik kata-kata dan menuliskannya bersamamu.
Kutuliskan keroncong perut penambal ban.
Kutuliskan rintihan nyawa tukang becak yang meregang.
Kutuliskan air mata pengamen yang sakit ibunya.
Aku lelaki di emperan toko itu. Ingin kutampung rintik kata-kata dimukamu. Agar jelas kau lihat kisah-kisah berbeda itu sejati adanya.
Hujan adalah rintik kata-kata...yang bercerita tentang saudara kita.
(Rintik kata-kata/H.H-11-2014)


Puisi Mas Haris. Seminggu yang lalu. Saat hanya lilin yang menerangi ruangan. Saat teater Monolog Sunyi Mas Agus. Benar-benar memecah sunyi yang tercipta karena kami hanya mampu diam tercekat menatap panggung sebagai layar utama.

terima kasih Mas Halama Haris, saya, kami semua suka puisinya :'). Puisi ini dibacakan benar-bear saat hujan, dan entah mengapa gaya Mas Haris, yang duduk di kursi pinggir jendela benar-benar menggambarkan lelaki di emperan toko. Saya benar-benar berhasil memvisualisasikan lelaki di emperan toko yang benar-benar memperhatikan bahwa banyak realita sosial yang terjadi dari emperan toko...dan tentu dari rintik hujan yang seringkali membolak-balik perasaan dan merekam jejak banyak hal. Termasuk keluh, dan kadang sesak yang mendominasi perasaan. Juga barangkali menjadi jeda sejenak bagi orang-orang yang sedang rusuh isi hatinya.

Terima kasih FLP Wilayah Yogyakarta :'). Terima kasih telah membuat hujan kali ini...begitu bermakna :")

seharusnya ditulis hari H saat usai mendengar puisi Mas Haris.
Malam selepas Isya, 6 Desember 2014.

gambar dari sini

Jumat, 01 Agustus 2014

Dari "Existere"

"Sebagai hamba Allah, keputusan menikah harusnya bukan didasarkan pada keinginan semata. Bukan pada kerinduan akan adanya teman berbagi dalam segala rasa : suka maupun duka, semangat maupun penat, sumringah maupun lelah. Lebih dari itu, menikah adalah memperluas peluang pahala yang berarti juga melakukan tugas diciptanya manusia sebagai makhluk : sebagai salah satu bentuk ibadah padaNya. Menikah adalah bentuk ibadah berupa pengabdian yang begitu lama –bahkan seumur hidupnya. Masanya lebih lama daripada enam tahun masa SD yang kadang suka bikin kangen, tiga tahun masa SMP yang katanya masa di mana bermulanya teman menjadi lebih dekat dari orang tua, atau tiga tahun SMA yang katanya masa terindah, atau masa kuliah sekalipun seseorang menempuh semester sampai ke semester keempatbelas. Akad membuat yang haram menjadi halal, yang tadinya neraka menjadi surga, yang tadinya bisa menjerumuskan berubah menjadi menentramkan. Menyadari hal demikian, seseorang seharusnya bisa selalu mengembalikan segala masalah pada tempat di mana seharusnya semua bermuara : Allah dulu, Allah lagi, Allah terus."
(entah kenapa memilih kalimat itu sebagai prolog : 
sekalipun saya tahu banyak orang yang tertarik pada topik ini :P)

Saya baru saja merampungkan Existere malam ini. Membaca novel setelah entah sekian lama tidak melakoninya. Kemudian, berbagai pikiran mencuat ke ujung kepala. Tentang tulisan. Tentang pernikahan. Ampun lah kenapa topik terakhir mencuat juga ke permukaan isi kepala. Mungkin selain karena isinya, ya karena masih suasana lebaran yang memungkinkan silaturahmi pada saudara-saudara yang tiap lebaran berulang kali saya tanya ini siapanya Ummi atau siapanya Abi karena tiap dikasih tau ga nyangkut ke kepala saking berjalin tali temalinya persaudaraan di antara mereka. Salah satunya serupa anak pakde nenek yang dulu diangkat anak selepas orang tuanya meninggal.

Baiklah, kita mulai dari tulisan dulu. Existere ditulis oleh penulis senior FLP, Sinta Yudisia, yang sekarang juga menjabat sebagai ketua umum FLP (Forum Lingkar Pena). Kualitas karyanya tidak diragukan ketika mengetahui penghargaan yang telah berhasil diraihnya. Maka Existere bukan karya yang asal buat, atau diterbitkan indie agar mempercepat waktu produksi—tanpa menyampingkan karya-karya yang diterbitkan secara indie yang juga bagus-bagus isinya. Sekalipun saya membeli buku ini bukan semata tertarik pada resensi di cover belakang. Saya tertarik setelah novel ini sedikit dibahas pada upgrading FLP. Cuma sedikit, hanya 3 persen malah.

Existre berlatar tempat Dolly—meski tidak keseluruhan. Novel yang cukup kompleks atas pergolakan batin seorang putri sulung keluarga miskin yang harus menghidupi keluarganya, seorang putri dari keluarga yang tidak harmonis orang tuanya dan hidup penuh tekanan karena jabatan ibunda yang terus melangit tak terbatas, serta kehidupan seorang Qoshirotu Thorfi, yang begitu baik dirinya namun entah apa pasal, Allah belum juga memercayainya untuk mengandung buah hati dalam rahimnya, sementara sahabatnya yang menjadi kupu-kupu malam begitu mudah mengandung dan begitu mudah pula berupaya menggugurkan satu demi satu kandungannya.

Terlepas dari bagaimana jalan ceritanya—tidak akan saya ceritakan di sini, saya jatuh cinta dengan sosok Qoshirotu Thorfi. Dalam surat Ar Rahman, Qoshirotu Thorfi berarti bidadari yang membatasi pandangan ketika sumber lain menyebutkan artinya sebagai bidadari bermata jeli. Tokoh Ochi (begitu panggilannya dalam novel ini) entah mengapa begitu menggambarkan sesosok wanita yang begitu kuat dalam artian sebenarnya sebagai istri sekaligus sebagai hamba Allah. Ia yang tidak mengutamakan harta, mau berjuang, mau berkorban, berharap akan keridhaan suami #ehem, mampu dengan tulus ikhlas memutuskan hal yang sulit sekalipun, mampu menyandarkan segalanya pada Ilahi ketika masalah datang menyerang, begitu lembut hatinya. Qoshirotu Thorfi benar-benar seorang bidadari.

Begitulah seharusnya perempuan, dalam kacamata saya saat ini. Sebagai istri juga sebagai hamba. Betapa lapang hatinya, betapa ia belajar banyak untuk menguasai diri dalam amarah, dan betapa keras ia belajar ikhlas, sekalipun hal yang harus dilalui bukan hal yang mudah. Dari sini saya juga melihat bahwa pernikahan, sebagaimana janji ridha suami adalah surga dan sebagaimana surga adalah hal yang mahal untuk dimiliki, maka ujiannya pun tidak mudah *kan katanya kalau ujiannya gampang, paling ya dapetnya doorprize perabot rumah tangga aja :P. Betapa rumah tangga tidak melulu berhias kebahagiaan selepas akad. Betapa ibadah yang lama ini punya ujian yang juga panjang dan tidak ada seorang pun yang dapat menebak potensi masalah apa yang mungkin terjadi di pernikahannya. Kembali ke tokoh Ochi yang bikin saya ngefans, padahal ini baru tokoh fiksi ya, belum kisah teladan para shahabiyah yang sangat patut untuk diteladani :”

Saya memahami bahwa novel ini telah melalui serangkaian riset yang panjang…dan mungkin melelahkan. Terbaca selain dari acara upgrading yang saya katakan di atas tadi serta dari catatan penulis yang ada di halaman belakang. Waktu yang panjang serta melawan rasa bosan, namun harus tetap ditulis karena didalamnya telah termuat niat kebaikan. Bahwa Dolly menyimpan permasalahan mengakar yang sedemikian kompleks yang tidak hanya terletak pada kupu-kupunya, tapi juga anak-anak yang tinggal di kawasan itu. Baiklah, MataNajwa edisi Bu Risma tentu membuka banyak hal juga buat kalian.

Kembali ke persoalan penulisan. Saya ingin sekali menjadi penulis. Walaupun saya tahu sampai sekarang belum ada laku yang cukup nyata sehingga ingin saya bisa dibuktikan tanpa diledek sebagai impian kosong tanpa usaha atau hanya bual berbusa. Dan menulis hal sekompleks yang bisa ditulis Sinta Yudisia bukanlah persoalan mudah. Saya pernah juga menyimak tulisan Rhein Fathia tentang risetnya untuk novel Seven Days yang meraih juara I Lomba Novel Romance Qanita. Betapa menulis merupakan proses panjang yang harus dilalui dengan penuh kesabaran serta tekad berlapis baja. Kemudia saya evaluasi diri. Halo Fit, bener pengen jadi penulis? Kamu masih gini-gini aja. Yakin mampu riset buat bikin novel? Kemudian niatan ini menciut : yaudah jadi penulis cerita anak aja. Bukankah cerpen anak-anak singkat dan tidak ribet? Tidak ada permasalahan rumah tangga yang kompleks, atau permasalahan bangsa yang tercecer pada kemiskinan  berbentuk pemukiman kumuh dan anak jalanan yang rumit, atau masalah lilitan hutang, cinta sepasang—atau bahkan lebih remaja, serta pemenuhan kebutuhan rumah tangga : baik materi maupun kasih sayang. Overall, cerita anak-anak lebih menyenangkan dibaca selama memuat nilai dan pelajaran yang mudah dicerna bagi anak-anak.

Kemudian saya kembali tertampar.
Halo Fit, udah berapa kali emang nulis cerpen buat anak-anak?
Tahun ini, tujuh bulan telah berjalan sementara saya sadar bahwa belum ada satupun cerpen anak lahir dari jemari. Mana yang katanya memperjuangkan mimpi? Menguar entah kemana. Tidak ada yang bisa saya salahkan selain diri sendiri yang tak mampu mengubah tekad menjadi laku. Ah, sedihnya. Nggak bisa cerita banyak tentang hal ini soalnya kayak belum menghasilkan apa-apa. Kenapa ya obsesi banget pengen bisa nulis. Jujur, di usia saya yang hamper kepala dua, saya masih menyukai cerpen anak. Saya suka baca cerpen majalah Bobo *apa Fit kamu masih suka baca Bobo?* juga mengagumi karya-karya KKPK, PBC, Fantasteen, serta serial lainnya, juga mengagumi bagaimana Enid Blyton bisa mengarang kisah-kisah Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, juga cerita pengantar tidur yang saya pinjam bukunya dari Pakde dan masih ada di rumah hingga sekarang. Cerita-ceritanya manis sekali, mengajarkan kebaikan dan keteladanan lewat cerita. Sekalipun saya berniat akan menceritakan kisah nabi serta sahabat sebagai cerita pertama bagi anak-anak saya kelak *ups ini kenapa sudah futuristik sekali. Tapi, saya masih menyukai kumpulan cerita itu. Mungkin ini efek masa kecil saya yang terlalu bahagia berada di benaman fiksi anak. Mungkin harusnya saya telah dibenamkan dalam-dalam pada Al Quran serupa Musa yang sudah hafal berjuz-juz sejak masih balita. Tapi baiklah, hidup tidak untuk disesali. Doakan saya ya, semoga bisa benar-benar jadi penulis, juga editor fiksi. Namun tetap bisa hafal Quran dan punya keturunan yang hafal Quran. Aamiin. *kalo minta didoain sekalian yang muluk-muluk, hehe. Kita tidak pernah tahu lisan mana yang menyebabkan Allah menganugerahkan nikmat yang kita inginkan tersebut terjadi pada kita, bukan?

Kemudian kedua, meski ini sedikit banyak udah diungkit di atas. Pernikahan.
Suasana lebaran di kampung kelahiran tentu berbanding lurus dengan agenda silaturahmi ke sanak saudara yang kadang saya lupa silsilah hubungan darahnya. Satu yang saya ingat sejak pernikahan Mbak Kiki 1 Juli 2012 lalu, bahwa pernikahan bukan hanya menyatunya dua insan. Lebih dari itu, pernikahan menyatukan dua keluarga besar. Ketika konsep keluargamu telah menjadi keluarga kita, maka ada kumpul keluarga besar pasangan pun kita harus sukarela datang walau tadinya tidak mengerti itu siapanya pasangan kita. Mending kalau masih sepupu dekat. Bayangkan ketika yang ditemui adalah sepupu dari karena kakak angkat sang nenek. Atau dulu ada leluhur yang cerai terus menikah lagi dengan orang yang bawa anak, yah semacam itulah. Keluarga kita berlipat menjadi dua. Semalas apapun datang ke acara yang ada di desa sekalipun, karena sudah menjadi keluarga ya tetap harus datang *ini baru ngalamin nih, kemudian saya mengamati perspektif pasangan yang memiliki ikatan dengan keluarga besar yang mengadakan perkumpulan setelah menikah dengan pasangannya saat ini. Mungkin ini masih perspektif yang rasanya sulit dibayangkan oleh saya. Kadang saya heran, Abi dan Ummi kenapa selalu punya topik ketika berkunjung silaturahmi. Sementara jika berkunjung ke sanak keluarga yang sudah terhitung jauh dalam perspektif saya, saya sering kali hanya memasang senyum, mengemili makanan, dan sekali dua mengangguk jika ditanya. Selebihnya, saya merasa tidak bisa masuk ke topik percakapan meskipun berupaya memperhartikan.

Novel ini mau tidak mau mencerminkan realita dunia yang kadang kita pikir hanya berada di panggung televisi dan cerita fiksi saja. Padahal sejatinya nyata. Ia ada, tersembunyi oleh ketaktahuan yang bisa jadi merupakan keengganan berinteraksi dengan lebih banyak orang. Buktinya Sinta Yudisia tahu banyak hal dari orang-orang yang juga dikenalnya. Bahwa kesimpulan Maida adalah kesimpulan yang masuk akal : rumah tangga yang tidak akur bisa jadi adalah karena mereka jarang –atau bahkan tidak pernah shalat berjamaah. Bahwa rumah tangga sekalipun kedua pasangan orang yang teramat baik pun tidak berarti akan luput dari cobaan. Kadang kalo baca hal begini jadi takut. Tapi kemudian saya berpikir, tiap hal ada resikonya. Demikianlah kenapa orang memutuskan untuk menikah.

Sebagai hamba Allah, keputusan menikah harusnya bukan didasarkan pada keinginan semata. Bukan pada kerinduan akan adanya teman berbagi dalam segala rasa : suka maupun duka, semangat maupun penat, sumringah maupun lelah. Lebih dari itu, menikah adalah memperluas peluang pahala yang berarti juga melakukan tugas diciptanya manusia sebagai makhluk : sebagai salah satu bentuk ibadah padaNya. Menikah adalah bentuk ibadah berupa pengabdian yang begitu lama –bahkan seumur hidupnya. Masanya lebih lama daripada enam tahun masa SD yang kadang suka bikin kangen, tiga tahun masa SMP yang katanya masa di mana bermulanya teman menjadi lebih dekat dari orang tua, atau tiga tahun SMA yang katanya masa terindah, atau masa kuliah sekalipun seseorang menempuh semester sampai ke semester keempatbelas. Akad membuat yang haram menjadi halal, yang tadinya neraka menjadi surga, yang tadinya bisa menjerumuskan berubah menjadi menentramkan. Menyadari hal demikian, seseorang seharusnya bisa selalu mengembalikan segala masalah pada tempat di mana seharusnya semua bermuara : Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.

Melandasi Allah dalam segala perbuatan harusnya bikin tenang ya. Karena bergantung padanya seharusnya tak pernah membuat kecewa. Hanya saja kalau dalam pernikahan seringkali emosi lebih diperturutkan, apalagi menyangkut perasaan—dan mungkin (meski saya benci mengatakannya) juga nafsu. Oleh karena itu saya ngefans banget sama Ochi yang begitu detil mengurai isi hatinya, begitu pasrah pada Tuhannya, dalam mencoba menjawab ujian rumah tangganya. Saya mengagumi tindakannya dan jadi berpikir jika suatu ketika ada masalah dalam rumah tangga kelak (karena kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di depan bukan?) mampukah kita berdiri kokoh bertameng keteguhan? Saya berharap bisa. Lebih berharap lagi tidak ada masalah sebenarnya. Tapi, dalam kadaan apapun, siapapun harus siap, bukan?

doakan saya bisa menjadi perempuan yang kuat, ya :")

ditulis dengan berbagai macam perasaan,
juga semacam rindu

Magelang, 1 Agustus 2014

Jumat, 27 Juni 2014

Gampangan Mana?

"Kayaknya kita gampangan rapat ya daripada nulis..."
Solli Murtyas, Ketua FLP Yogyakarta saat ini,
disebuah kumpul besar FLP Yogyakarta
Balairung Selatan, 12 Juni 2014

harus direnungin bangett :"

Minggu, 15 Juni 2014

Kenapa Sih Kalian Menulis?

Dengerin MQFM 92.3 FM pagi menjelang siang ini, ada tiga kakak FLP di sana. Yang menarik, saya pengen capture kata-kata mereka waktu ditanyain penyiarnya tentang kenapa menulis.

Mas Wimas : "Ya kata hati aja sih, ketika saya pengen nulis, ya saya nulis."
Mas Aulia : "Kalau Aulis menulis...supaya diakui keberadaannya. Pernah ada kejadian lucu aja sih, waktu tulisan saya dimuat di majalah di Kalimantan, teman saya mengira saya sedang pulang."
Mbak Muji : "Kalau saya...karena cinta."

Biasa aja emang, tapi entah kenapa kalau denger kalimat-kalimat dari kakak-kakak ini rasanya... :')

"Orang boleh pandai setinggi langit, Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

-Pramoedya Ananta Toer

Kamis, 27 Maret 2014

Quote : Menciptakan Kultur Berkarya

"Menciptakan kultur berkarya lebih keren daripada menciptakan karya. Menciptakan kultur adalah menciptakan jiwa, menciptakan karya adalah menciptakan benda."
Mas Solli Murtyas, Ketua FLP Wilayah Yogyakarta
UpGrading 2014 | Sabtu, 1 Maret 2014
Taman Buah Mangunan, Yogyakarta
inget kakak-kakak kaderisasi sekaligus pembina klub FLP
dan inget OTI, kalau denger Quote ini

Minggu, 19 Januari 2014

Mission Completed :') !


Mission Completed, Alhamdulillaah :')

ceritanya, nanti ya :D

-Ruang K1 Jurusan Teknik Arsitektur dan Perencanaan
16.52

masih terbata-bata dan kurang menguasai kegaduhan sih :"