Tampilkan postingan dengan label menulis tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis tulisan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 November 2025

Respect

Nat looked nervous. She knew she had avoided something. I realized her gesture. 

Gim realized Nat's friend was coming. He reflexively find Nat ... and just a second, he consciously realized that he should not. 

Nat told me that she felt wrong ... and a little bit guilty. 

I realized one thing.

"It is not love, Nat. It is respect."

===

Just for a long, long time, I did not got any idea about adult short story. Today, I met diverse people with their own background. This environment looked unusual for me actually. However, i trust it is the best Allah gave for me. 

It might become many ideas of writings, my dear Fitri. 

Love, xoxo.

Senin, 17 Februari 2025

Menerjemahkan, Buku, Narasi, Pengalaman, Orang Tua (Ah, Harus Kuberi Judul Apa?)

Ada satu celetukan adikku yang belakangan menerjemahkan novel lebih dari 200 halaman dari Bahasa Spanyol ke Bahasa Indonesia. "Yang penting dari menerjemahkan itu, bahasa Indonesianya harus bagus, Mbak," begitu katanya. Membuatku diam dan tercenung lama. Aku baru sadar loh pas itu. Oh bener juga ya, makanya nggak semudah itu bisa menerjemahkan Indo ke Inggris lantas bisa menerjemahkan INggris ke Indo, berlaku untuk semua bahasa lain aku rasa. 

Pengalamanku menerjemahkan buku masih bisa dihitung jari, dan terjadi tanpa rencana dan kepikiran sama sekali. Pertama kalinya dan sangat kusuka di 2022, menerjemahkan buku berima. Sekarang, saat melihat adikku menyelesaikan terjemahan novelnya, setelah sebelumnya menerjemahkan manual mobil, aku seperti melihat benang merah yang sama. 

Menerjemahkan buku berima tak lepas dari peran ayah yang begitu menyukai puisi sejak bangku sekolah. Aku terstimulus mendengar kata berakhiran sama, bukan dalam bentuk cerita. Sense-ku menyala begitu saja dengan keindahan rima. Coba-coba buat puisi ya tak pernah seserius ayah, walau ia bukan pujangga bak penyair yang sering kita lihat bukunya di gramedia atau dikutip berkali-kali lantaran sangat berkaitan dengan film legendaris yang setelah dua puluh tahun muncul lanjutannya. 

Secara latar belakang pendidikan, Ayah orang teknik, yang menyukai puisi. Aku sepenuh hati cinta Matematika, dan sesadar diri kurang diasah. Itu yang membuatku bulat masuk kuliah bidang eksakta, tapi rupanya hati terus mencari dunia kata. Adikku tak tertarik eksakta, dan mati-matian belajar di jurusa IPA. Namun demikian, bakatnya soal bahasa sudah terlihat sejak dulu kala. Dulu semasa TK, ia hafal Surah An Naba hanya bermodal dengar, belum bisa baca mushaf sepertinya. Kuliah bulat ambil sastra Arab, sebelum lulus menggeluti Spanyol, dan sampai hari ini konsisten dengan kelasnya, @ayobelajarspanyol. 

Kemarin waktu sesi bersama Teh Afi dan Teh Afi menyebut peran ayahnya dalam dunia literasi, aku juga mengingat abi dalam perjalananku, terutama menerjemahkan buku. Siapa sangka abi pernah membuat kamus penyair, ia mengumpulkan kata dan mengurutkannya dari huruf belakangnya, mempermudah untuk mencari rima. Ia juga bilang, sekarang ini kalah sama internet dan sebangsanya, tapi aku tetap mengingat kesukaannya terhadap puisi dan rima yang luar biasa, terwarisi dalam diriku. 

Abi dan Ummi adalah dua orang yang sejak aku kecil kutahu gemar menulis. Semasa sekolah ikut lomba menulis, gemar berkirim surat, bahkan mengirimi kedutaan besar surat untuk dapat informasi dari mereka. Kala itu Abi dan Ummi belum kenal internet. Namun, kurasa itu pula yang menyuntikku untuk mencoba menulis. Aku juga pernah mengirim surat untuk kedubes seperti mereka, tentu saja mereka yang mengompori. First pieceku adalah rubrik Korcil di Republika, bercerita pengalamanku menonton pengantin Betawi. Tentu saja peran Abi banyak di dalamnya. Kecintaanku terus berlanjut terhadap media cetak dan buku. Koran, majalah, buku, semua aku suka. Semasa sekolah, ada masa aku menyengaja menyempatkan sela waktu istirahatku untuk ke perpustakaan dan membaca di dalamnya, mengikuti cerita bersambung di majalah ibu-ibu, atau selalu membaca rubrik anak muda dan membuatku rada ngasal ngide untuk masuk ke dalamnya. Dan, lolos dua kali. Menyenangkan sekali. 

Aku tahu, pengalaman jurnalistikku rada kentang. Nanggung. Sekolah di asrama dengan akses yang tidak seperti sekarang tidak menjanjikan banyak peluang. Tapi, aku tetap senang dengan semua itu. Semasa kuliah hattrickku adalah masuk cerpen Republika. Tahu dari mana ide ceritanya? Curhatan Ummi tentang berita yang ia sampaikan via telepon. 

Kisah seputar dunia jurnalistik dan tulis menulis ini juga tak lepas dari pengalaman membaca yang terlalu mengesankan selama aku kecil, yang entah mengapa seperti tak mau kulepaskan seiring aku mendewasa. Harapanku, semoga Allah ridha dengan jalan ini, dan bisa selalu menjadi jalan kebaikan untuk banyak orang ke depannya, banyak anak-anak dan jiwa-jiwa kecil menjadi pribadi yang merdeka berpikir dan berimajinasi serta senantiasa bahagia. 

Ah, aku sedih belum banyak berterima kasih pada Ummi dan Abi. 

Tulisan ini lahir dari mengagumi keindahan narasi dari buku yang sedang kubaca. 


I imagine I could write as good as this one, menyenangkan sekali membaca buku nonfiksi dengan tulisan yang indah, dengan metafora yang disampaikan dengan cukup sekaligus indah, dan berima. 




Senin, 06 Januari 2025

The Same Things as Quality Assurance and Editor

I've thought about this for a long time. My dream job in my childhood was to be a children's book editor. The answer is simple: I could read the book earlier than the other. However, I never thought deeply about taking a major around literature (because in my high school mind at that time, I could learn literature even though not from a formal major LOL). When the psychological test at high school told me to take Communication studies (I guess because my high passion related to writing and journalistic things), I did not realize that communication is a path to becoming a journalist or something like that, even a career somehow is not linear).

So, my love for Math at that time ended up my undergraduate major, Computer Science.

I started my career after graduating as an intern at Badr Interactive (I should mention the name of the company ofc), a software house that I had known since college because of Muslim culture and lovable vision. After around 3-4 months of internship, I just started my permanent employee contract as... Software Quality Assurance! That I also love at most!

Long story short, now I am a writer, editor, and translator of a children's picture book freelancer. Even though the field was sooo different, I found out that the basic activity was the same. I should find the bug (in the application) or the mistakes (in the logic story or the sentence structure). I also report when I find typos in both activities. Being an editor, especially for copy editor (even though I also tested the story logic) felt so nostalgic. I make sure the flow is okay and no wrong logic in the story (later I will discuss it with the senior editor), while in application testing, I make sure the flow is easy and understandable by the user, if not I will discuss later with the UI/UX or product designer and report and present it in the ending of the sprint.

These activities are fun for me. Attention to detail and knowledge are the keys to getting the perfect final that we all wanted (and the insight from Allah ofc). Even somehow I am insecure if I am too detailing, however, the decision is not on me, I entrust the rest to the team (PM/PO-developer-designer) or the redactional team. Somehow the tension is real but I love to check and ensure everything is well. Realize these all are likely the same made me surprised and grateful at the same time

Sabtu, 10 September 2022

Seminggu ini, 10 Sept 2022

Seminggu berlalu, kadang rasanya jadi cepat sekali. Sabtu lalu maraton di RS, antrinya super rame. Kaisa passien ke-34 dan perlu cek lab. Pulanglah kami sampai rumah jam 11.15 malam Alhamdulillah so far kondisi Kaisa sebenarnya baik-baik saja. Sedikit bapil dan nafasnya agak grok-grok serta BBnya stuck, entahlah apa benar ini permasalahan sejagat raya ibu-ibu anak usia dini: BB seret.

Aku juga berobat, Hilmy juga kepikiran berobat, dan akhirnya wkwk.

Hari itu melelahkan rasanya. Sampai RS sepi dan petugas lab nanya kenapa malam sekali ke dokternya. Lha kami dari setengah 5 di sana. Petugas lab sampai bilang, wah ini hampir satu shift. 

Sepekan berlalu. Aku mengerjakan draft yang masih sama. Hilmy yang kehabisan ide ajak main Kaisa akhirnya pergi dan rencana nginap ke nenek kakeknya Kaisa, tanpa aku. 

Tapi sore ini rasanya sepi dan mewek juga ditinggal. Padahal biasanya gak kayak gini. Seminggu lalu meluk Kaisa di penghujung malam di rumah sakit karena dia kecapekan (tentu saja), dan Hilmy harus menghadapi antrian kasir yang melelahkan. Alhamdulillah semua dimudahkan. 

Ditambah badan yang agak gak enak, mau tidur gak bisa, cuaca dingin, dengar lagu tutur batin dan lihat ucapan-ucapan seputar meninggalnya Reza Gunawan. Rasanya keluarga jadi apa ya, berasa banget the important thing in our life, yang ssejujurnya akhir-akhir ini aku rindu ssekali menikmati waktu bersama banyak orang. Karena begitu aku ada waktu kadang jadi fokus sama seluruh hal yang harusnya kukerjakan sebagai kewajibanku dengan instansi, yang sulit kukerjakan kalau aku pegang Kaisa. 

Kemarin kajian offline tentang pendidikan bareng Growtheseed. Dapet inssight menarik yang bikin mikir dan mewek seputar bagaimana para ilmuwan dan ulama terdahulu justru menemukan ilmu-ilmu lain karena kebutuhannya mempelajari dan memahami Al-Qur'an. Bahkan ilmu bahasa kayak nahwu, sharaf, balaghoh, dsb itu lahir karena keperluan mempelajari tafsir Al-Qur'an. Muqaddimah kitabnya Aljabar bercerita kalau ilmu ini lahir dari kebutuhan mempelajari waris, yang akan sulit kalau disimbolkan dengan angka romawi. Juga ilmu falak, bagaimana para ulama yang berdakwah sampai jauh harus tahu waktu shalat, dan ke mana arah kiblat. Halo, saya ada di mana?

Masya Allah ya, zaman dulu itu semangatnya karena masalah fardhhu ain, karena kebutuhan memahami Al-Qur'an, jadi munculnya bidang baru yang fardu kifayah. Yang kalau ga ada yang memahami ya jadi dosa juga buat orang muslim. 

"Di akhir kita harus tentukan, mana yang fardhu ain untuk anak kita, dan mana yang fardhu kifayah buat anak kita. Kalau anak kita belajar fardhu kifayah, jangan sampai melebihi fardhu ain dan atau tidak memberi nilai tambah buat fardhu ainnya. Contoh, apakah kalau belajar data sains, seseorang akan makin wara'; makin beirman atau tidak, makin takwa atau tidak, shalatnyaa bagaimana, lebih baik atau tidak?"

"Kita itu sering ga adil sama agama, kalau ilmu duniawi, kita rancang dari dasar sampai kuliah. Tapi kalau ilmu agama, ya kita ke taklim, denger yutub, podcast, dsb. Kita bingung menyusunnya kayak apa, 10 tahun berlalu mungkin kitab bisa mengukur ilmu apa yang nambah, tapi coba kita refleksi soal diniyah kita dari segi ilmu atau amal apakah bertambah?"

"Produktif itu harus dikaitkan dengan amal shalih, segala sesuatu yang tidak menemani kamu sampai akhirat, itu duniawi" -Al Ghazali

Lalu kemarin sore pulang naik motor, kena hujan. Kayaknya udah lamaaa banget ga pulang abis maghrib dan kena hujan kayak gitu. Sampe mikir apa terakhir kuliah ya? Terus kepikir lagi ah mungkin sebelum nikah ya, wkwkwk.

Sesorean inget Kaisa, inget Hilmy. Walau kadang rempong tapi kangen juga celoteh Kaisa, wkwk. Sehat-sehat kalian semua, ya. Sayang selalu <3.  

Kamis, 13 Juni 2019

Bantal bagi Anak-anak

Jatuh cintanya anak-anak itu sederhana. Kepemilikan bagi mereka sebegitu bermakna.*

"Dek, kalau tiga bantal ini dibeli dua ratus ribu, mau nggak?"
"Enggak. Orang satunya harganya seratus ribu."
"Kalau tiga ratus ribu?"
"Enggak juga."
Abi nyaut. "Itu satunya dua puluh ribu, Dek."
"Iya apa? Bukannya dua puluh atau lima puluh ribu gitu?"
"Kalau lima ratus ribu?"
"Enggak, kalau sejuta, baru mau. Nanti abis itu Fatih beli lima bantalnya."

Lucu saja obrolan tiba-tiba ini. Aku jadi ingat waktu pelatihan menulis dulu. Bu Sofi nunjukin satu cerita yang sederhana Tapi waktu aku baca, hangat rasanya. Sangat anak-anak. Sangat personal. Sangat kehidupan mereka.

Dulu Fahri waktu tidur amunisinya banyak. Bantal, guling, yang dipakai dan yang dibikin benteng karena dia takut kecoa (padahal kan kecoa bisa nanjak bantal/guling ya). Lalu kalau dititip ke tetangga repot pindahannya, hahaha.

Anak-anak Umi di rumah, waktu kecil, kayaknya semuanya, suka ribut kalau bantalgulingnya dipake orang lain pas mau dipake. Soalnya jadi anget, jadi ga dingin. Kan enak ya meluk bantal guling dingin tu.

Sampai suatu ketika, Fatih cerita ke aku, kalau di Majalah Bobo ada yang cerita kalau adiknya masukin bantal ke kulkas biar dingin. It's a real story! Dan itu juga pop up in mind ketika Bu Sofi cerita tentang cerita anak berjudul Bonta itu.

Penasaran sama ceritanya, bisa baca di sini ya: https://reader.letsreadasia.org/read/feefe99b-1698-4f7e-9eed-faf0c98a346c klik ikon oranye yang gambarnya buku itu.


aku menutup tulisan ini dengan mendengar
"umi pijetin"
lalu aku berusaha ambil bagian karena tau umi lagi ngerjain pr
"sini-sini"
lalu fatih bilang, "apa artinya tidur tanpa dikelonin?"
lalu tetap saja aku kalah duluan sama ummi
\

*esok lusa kita akan belajar tentang tidak menggenggam terlalu erat ya naak :)


updated:
jadi habis aku pos, aku nyamper fatih. fatih di kamar umi, meanwhile dia biasanya tidur di ruang tengah. 
ndak ada bantal yang tadi dia keep banget itu dong. ntah kenapa.
dia udah merem, aku tetep aja nanya
"bantalnya ke mana dek? kok ngga ada bantal fatih sama sekali?" lha orang tadi dia bangga-banggain
katanya sambil merem, "mulai dari nol"
aku nanya lagi, dan dia jawab dengan jawaban yang sama

sungguh, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, nak.

Selasa, 21 Mei 2019

Racau Malam Hari, Membaca Kembali, Menulis, Sabtu Bersama Bapak

menemukan gambar ini, di sela-sela pencarian akan sesuatu. tertanggal 3 april 2016, tanggal yang sama tiga tahun kemudian, ada file yang dikirim, dan baru saya baca tadi pagi, karena penerimanya lupa meneruskan. tapi tidak apa-apa.

kenapa pengen pos? ga kenapa-napa. dan bukan karena kebetulan sama tanggalnya. saya nyadar sama juga pas udah mau upload. saya jadi mengenang buku ini. salah satu buku yang baik untuk dibaca. Sabtu Bersama Bapak. Sebelumnya, saya pernah pos di sini, beserta pesan yang amat manis yang saya tulis kembali di bagian akhir. karena fotonya sangat terbatas, dengan hp sekenan dari abi, yang sebenarnya dulunya juga abi beli seken di 2011 (jadi da akunya mah pengguna ketiga kayaknya). buram, sulit dibaca, tapi masih menyimpan kenangan.

Filmnya udah ada. tapi hasil ngobrolin sama Abidah, saya yang belum pernah nonton filmnya menyimpulkan bagusan bukunya daripada film. Karena ada part yang saya ingat namun tidak ada di film, kata Abidah yang sudah nonton tapi belum baca. Jadi dak lengkap. Saya ada bukunya kalau mau pinjam.

omong-omong kenangan, terkait file yang baru tadi pagi saya baca itu. Sempat menyebut blog saya. lantas tadi siang saya pergi ke blog saya di Maret 2019, sekiaran tulisan itu dikirim.

Waktu berlalu, Maret ke Mei baru berjeda sejenak. Tapi kadang saya jadi bisa mengingat kembali perasaan-perasaan yang ada lewat tulisan. Ada tulisan tentang keberkahan waktu yang akhirnya muncul juga di Mei ini. tulisan interaksi dengan Alquran yang belum ada. Dan tulisan-tulisan lain. Yang saya ingat perasaannya. Harapnya, cemasnya, ingin ikut berjuangnya, rindunya, momen dngerin ust Hanan Attakinya, dan lain sebagainya.

Tulisan tadi juga membuat saya membuka kembai file yang pernah saya tulis sebelumnya yang membuat dokumen yang lupa diforward itu ada. Lalu mengingat file lain sebelumnya. Takjub dengan hal-hal yang saya tulis sendiri.

Setiap tulisan menyimpan informasi. Satu dua menyimpan harapan besar.
Momen waktu kita, atau baiklah, diri ini membaca, tentu punya kesan tersendiri. Kemudian setelah jeda lama, mungkin sudah lupa lagi.
Jadi berpikir, ada baiknya, meluangkan waktu, untuk membaca kembali apa yang pernah dituliskan. Sendiri atau bersama, umpama target-target kuartal kantor. Agar ingat kembali, ke mana harapan pernah dibawa, dan ditambatkan, untuk mengejar ridha yang kuasa. Dengan cara apa, yang sempat dicanangkan masing-masing, untuk diwujudkan, sendiri atau bersama-sama.
Benar-benar merasa perlu, membaca kembali sesuatu yang barangkali sudah dilupa. Agar diri ini ingat, berpikir sebab akibat dan serius itu memang perlu. #ntms

***

Tadi pulang kepikir, kenapa ya aku suka sekali menulis hal-hal. Walau yang gini-gini aja. Sekedar racau atau coretan.
Dulu jaman sekolah aku punya buku harian. Ada sampai aliyah walau waktu SD ga sering diisi, SMP awal lumayan, lalu jarang karena surat-suratan sama kaka kelas kali ya wkwkwk (cewek kok, uwe kan smp cewe semua), dan aliyah, apalagi menjelang akhir, deras sekali tinta pulpennya. Tidak ada laptop yang kubawa, dan menjadi i dengan sulit memulai cerita, sekaligus menjadi orang yang suka mengenang, butuh media menuangkan isi kepalanya. Kadang nulis blog juga sih kalau dapat komputer perpus atau labsis yang berinternet. Atau saat libur reguler maupun panjang.
Lepas aliyah, pegang laptop. Nulis di buku ujungnya ketiduran. Akhirnya jadi lari ke blog kembali. Walau kalau di blog emang ga bisa se ga disaring buku harian ya. Namun setidaknya, membantu melegakan. Dan membantu mengingat banyak hal, termasuk perasaan saat mengalami a b c kehidupan. Cuman ya gitu, kadang kasihan yang baca, kalau ada itu juga.
Jadi intinya mah blog ini emang bukan dibuat untuk menginspirasi. Meski jika kamu sudah terlanjur mampir, semoga ada manfaat yang bisa diambil.

Salam, Fitri
Hari ini nggak ada masalah berarti alhamdulillah
namun rupanya aku masih kalah
sama pertanyaan di ujung jari yang membuat aku bolak balik dan berpikir berlebihan
sama pertanyaan nyebelin sok-sok minta cerita
sama diri ini yang manja sama diri sendiri.
.
Terima kasih Allah



Jumat, 26 April 2019

Lesson Learn 24-26 April 2019

1. Hubungan manusia ke manusia itu cerminan hubungan manusia sama Allah
-kata-kata my fav girls yang saat ini tidak menemani di ruangan. Jadi ingat ingin menulis obrolan sama mereka tentang dekat dengan Alquran belum jadi-jadi.

2. Belajar ndak menyerah dan berjuang lebih keras
setelah segala lelah sepagian (u can guess from last post that i draft), sorenya aku dapat email kalau naskah yang aku ikutin seleksi belum rezekinya lagi :") Jadi emang judul April ini semacam bulan penolakan //gaboleh ngomong gitu nanti jadi doa *kata bedah buku magnet rezekinya kak big//, sampai tanggal 23 kemarin aja ya semogaaaaa. Ada naskah bardbook yang tahun ini aku kirim lagi ke penerbit lain setelah 2017 belum rezeki~yang ditolak waktu hari buku anak 2 april kemarin. ada naskah cerpen kartiniku yang aku mentorin lagi ke mas teguh dan itu idenya udah dikirim dari 2017 sebagai rubrik opini umum gitu, lalu 2018 aku kirim as cerpen juga cuman mungkin terlalu mepet ngirimnya, tahun ini aku sampakan lagi pada peraduan. tapi namanya belum rezeki ya gimana yaa. mungkin aku kelewat pede dan salah juga ga nyoba kirim ke media cetak lain (untuk yang mau kasi feedback boleh kasi email nanti kukirim insya Allah). lalu terakhir yang kemarin ditolak 23 april, waktu hari buku. naskahnya dulu sempat diapresiasi waktu pelatihan soal 3 paragraf pertama di Bandung Februari lalu, meski tetap ada masukan juga. kemarin aku kerjakan masukannya namun memang belum rezeki :")) Hanya lucu aja, semua momen penolakan naskahnya pas hari buku anak, hari di mana diperingati karena Kartini menulis, dan hari buku. Masya Allah, bagus sekali untuk dikenang.

Tapi ada teman pelatihanku yang lolos. Namanya Mas Dwi, dulu peserta pelatihan Si Bintang juga di Jogja November lalu. Positifnya jadi ada obrolan di grup itu lagi. Mas Dwi dulu juga bantu aku kasih masukan ke naskah boardbook yang aku kirim. Aku masih ingat wajah beliau yang runyam waktu mikir revisi berjenjang selama workshop. Namun memang pengalaman beliau sudah lebih banyak. Mas Dwi ini kalo aku liat mirip ayahnya temenku hihi. Aku minta belajar dari naskah mentah beliau tapi rupanya pihak pelatihan yang sekarang melarang ngeshare naskah mentahnya.

Lalu juga membuka obrolan soal peserta yang lulus Gerakan Literasi Nasional. Daeng Gegge yang lolos GLN juga dulu sempat kasih testimoni susah banget ya bikin naskah buku anak tuh. Waktu pelatihan di Jogja, Daeng sebagai salah satu petinggi di FLP yang udah nulis buku buat umum, pertama kali nulis buku anak di pelatihan ini dan mengungkapkan kesulitannya. Jadi ya sama-sama. Tapi Daeng meski belum punya portofolio, nekat bikin aja buku anak indie sendiri, ngusahsin nyetak sendiri dan urus ISBN, sama ya cantumin aja buku hasil pelatihan FLP di portofolionya walau belum jadi. Lalu Daeng lolos dooong peserta GLN yang kemarin seleksinya emang mengharuskan punya portofolio buku dulu :") Malah tempat beliau nyetak buku, juga ikut seleksi, lalu tidak lolos. Memang ya rezeki Allah itu ndak bisa ditebak, tapi selalu ada, dalam bentuk yang tepat untuk setiap hambanya :")

Aku ga kut seleksi GLN karena ga ada portofolio dan waktu itu udah japri panitia buat nanya, tapi ternyata gaes, masih ada jalan menuju Roma ya. Itu lihat Daeng Gegge juga ndak nyerah gitu aja, cobain aja tetep kirim berkas, usahain apa yang bisa diusahain. Emang kalo ga nyoba ya kemungkinan kalah langsung 100%, kalo nyoba kan seenggaknya punya modal awal menang alias lolos seleksi 50% :") Aku terharu sih sama perjuangan suhu-suhu dan senior-seniorku di grup ini.

Lalu soal seleksi satunya juga aku belajar. Ini kegagalanku yang keempat. Tapi ya setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing menuju sukses. Aku japrian sama Kak Marissa dan Kak Marissa cerita tentag kata-kata Dinda, teman kami juga. Dia pernah bilang ke Kak Marissa tentang kegagalan Kak Mar, dibilang, "baru 8 kan Mar, yaudah coba lagi aja...."
Kata Kak Mar, mungkin rezeki kit nanti di percobaan ke 10, atau ke 12. Kalo berhenti sekarang gak ketemu, hahaha. Walau capek. Gapapa, niatnya karena senang kan?"
Kak Marissa pernah tanya aku beberapa kali kayaknya, tapi senang kan Fit ngelakuinnya?



Momen ini jug membuat aku dapat suntikan semangat dari orang-orang yang percaya gitu sama keinginanku. Huhu aku terharu dapet japrian. dapet virtual hug juga dari arum.





Kemarinnya juga habis baca tulisannya Masgun tentang mengejar mimpi. Lalu hari ini pas dapet pengumuman ini juga sempat bahas mimpi dan levelnya. Aku pun pernah ada pada pikiran, apakah ini bener yang aku pengen? Apakah aku betulan ingin menulis cerita anak? Bagaimana kalau nanti berubah? Bagaimana jika aku tiba-tba merasa nggak mau lagi mengejar impian ini? Bagaimana kalau ternyata hal itu mengecewakan orang, bahkan orang terdekat yang mendukungku? Atau bagaimana jika setelah terwujud, euforia membuatku berhenti? Atau bagaimana jika aku mentok kalau udah terwujud, kayak bingung habis ini apa ya?
Padahal mah ya jangan mikir gitu atuh Fit. Ayo menanam dan menumbuhkan pikiran baik dan positif biar hidupnya penuh energi positif. Kayaknya emang butuh banget ni aku pikiran-pikiran positif, perasaan-perasaan posiitif, dan motivasi positif.


Ohiya, ini dak terlau penting sih (kayak tulisan ini penting aja woi), kemarin waktu rasanya lagi sedih tu, denger lagu yang isinya ungkapan sayang ayah ke anak Kayak jadi oase aja dari kegersangan lagu yang kalo isinya perasaan antar lawan jenis seringnya. manis ya. terus di videoklipnya ada buku summerhill school yang dijadiin panduan dan referensi temenku dalam mendidik bahkan dia taruh di proposal nikahnya 2017 lalu. jadi penasaran sama isi bukunya (padahal umi lagi nyuruh baca macem-macem ehe). terus reflek sama lagu hatiku sedihnya film musikal sherina. emang yang reflek-reflek susah diboongin ya tentang isi hati dan perasaan. ckckck.
Kepikir mau cerita tentang tidak lolos ini tapi ternyata sarannya sebaiknya ga usah.

3. Momen Kecil yang Membahagiakan
Salah satu hal menyenangkan kalo lagi ngerasa down adalah dihubungin orang-orang. Pernah suatu ketika di tahun lalu perasaanku lagi ga enak banget, temen KKNku tiba-tiba weh nelpon. Aku langsung ke balkon dan aku kayaknya pas itu sampe nangis bentar gara-gara seneng banget disapa orang lama ngga ketemu dan ngga bertukar kabar di tengah segala perasaan lelah.
Lalu kemarin Selasa juga gitu. Tiba-tiba saja Ayah Umak KKN ku nelpon dari Madinah :") video call bahkan di perjalanan ke stasiun. Terus ada beberapa japri, ada diskusi kecil, ada inspirasi besar, ada perasaan senang membagi duniaku ke orang lain. Senang sekali rasanya dikelilingi teman-teman yang baik dan supportif. Senang sekali disapa, dijapri bahkan sesederhana, Fit kalu mau ngerjain di mushala nggakpapa, meski temenku ini nebaknya aku cukup down dengan hal satu, namun waktu itu aku lebih sedih lagi karena ditolak :"). Tapi yaudah, everything shall pass. And what doesn't kill you make you stronger.

4. Fokus
Rabu waktu aku pulang, aku kepleset di tangga. Sudah berdiri dari posisi semi jatuh dan melangkah lagi, aku kepleset lagi. Membuat panik kaka-kaka yang melihat saja....
Pulangnya di perjalanan hampir nyerempet atau kesrempet orang (entah mana yang hampir nyerempet mana yang diserempet)). Pagi  kemarin hampir nabrak orang. Aku jadi bertanya-tanya kenapa ya aku? Susah fokus apa aku akhir-akhir ini?Tapi emang fokus lagi menjadi tantangan sih kalau aku coba merenungi beberapa tindakanku hari-hari belakangan. entah mengapa

5. Merenung
Aku butuh kontemplasi ni kayaknya. Butuh banyak ngobrol sama Allah.
Itu isi kepalaku di perjalanan pulang saat hampir sampai rumah, Selasa atau Rabu lalu. Belum done tapi huhuhu.

6. Belajar
Memang ya, Allah ga akan ngebiarin hambaNya ga diuji walau sedikit saja. Sedih ujian, senang juga ujain. Jadi emang lagi kerasa, saat membulatkan tekad, mau jadi lebih baik di suatu hal. Langsung Allah kasih aku ujiannya. Lalu aku gagal melewatinya :"""""
Lalu Allah kasih aku lagi ujian yang mirip karena aku ndak berhasil melewatinya.
Sungguh pas banget ujiannya sama apa yang sudah aku niatkan. Padahal waktu ga diniatin, ga ada tuh ujian kek gitu. Masya Allah ya :""""
Jadi kepikir, memang kalau mau menghindari atau lulus dari suatu ujian. Bisa jadi yang bisa diusahakan di skup kecil adalah menjauhi triggernya :")

7. Menjadi Orang Tua
Kemarin diskusi soal beberapa prinsip sama teman, tentang value yang diajarkan orang tua yang kok kayakanya kacamata manusia kita masih sulit ya nerapin itu di kehidupan sehari-hari. Lalu aku jadi kepikir, masya Allah, susah banget ya jadi orang tua. Bagaimana anak mau nurut tapi bukan karena takut, karena tau kalau itu memang perintang untuk menaati Allah. Soalnya kalo karena takut gitu nanti anak cari aman deh, yaudah gapapa kalo ga ketahuan, hihihi.
Tapi kata Ummi emang, jangan dipikir takutnya. Mirip semangat dari Kak Big waktu bedah buku magnet rezeki nih, ubah pikirannya jadi bisa. Insya Allah Allah mampukan.

8. Menjadi Orang Tua part 2
Tadi pagi lihat igstori kak Asti tentang GTM (Gerakan tutup mulutnya Hafshah). Terus ada beberapa poin soal minta ke Allah supaya anaknya mau makan. Tertulis, mungkin ini sebuah permintaan receh ke Allah, tapi kalau ga minta sama Allah terus sama siapa lagi?
Lihat juga wastory Suci tentang cerita keahiran anaknya (cepat sekali ci hampir setahun berlalu sejak kamu menikah :")). Yang masya Allah dimudahkan sekali Mulai dari afirmasi positif, dukungan keluarga, dan pengharapan ke Allah, usaha dan doa. Terharu :"). Luar biasa ya orang tua tuh. Tapi lebih luar biasa lagi orang tua yang sepenuh hati doa, ikhtiar, dan tawakal ke Allahnya kerja bareng-bareng. Semoga Allah kuatkan dan mampukan.


9. Doa yang Panjang
Tadi aku lihat seorang Kakak, yang baru saja usia menikahnya 11 harian. Doanya lama usai zuhur. Aku tersenyum haru bahkan sampe berkaca-kaca. Peran baru, amanah baru, keluarga baru. Aih, banyak sekali tentu pinta yang perlu dilangitkan, soal kesakinahan keluarga, soal kekuatan menjalani peran dan amanah baru, soal menjadi sebaik-baik istri untuk suaminya, soal kekompakan keluarga. Karena kalau ngga minta ke Allah, ke siapa lagi dong ya? :") Pantas saja ya doa ibu makin panjang Makin banyak anaknya juga mungkin akan bertambah panjang :"")
Ya itu tebakan dan kesoktauan aku aja sih. Tapi rasanya manis :")

10. Apa yang Disenangi
Aku pernah punya rasa penolakan dalam diri mengerjakan sesuatu yang aku tahu itu bukan pengejaranku jangka panjang Tidak ada dalam rencana-rencana atau keinginan.
Tapi kemudian tersadar aja kemarin, ah ternyata aku masih egois ya, menghindar karena itu. Padahal kan masih relate sama pekerjaan. Dan pekerjaan juga amanah. Dan akhirnya hal tersebut pun kuusahakan jua :")
Satu dua aku kadang sampai juga pada pertanyaan, apa sudah menjalani apa yang diinginkan? Walau ya aku senang dan sayang kok dengan pekerjaan sekarang Tapi kadang-kadang ada aja tu muncul momen begitu. Hehe, emang manusiaaa manusia. Bingung ya? Maksudku, kadang aku nanya, kenapa ngerjain ini itu tapi ga bisa ngebela-belain buat nulis. Kenapa willingnessku menambah skill di bidang kerjaan ngga semenggugah dan seinisiatif buat ikut dan daftar-daftar di bidang menulis. Duh apa aku mesti diwork on lagi kayak waktu itu. Nggak mau tapi adang rindu. Rindu semangatnya :") Ckckck, manusia. Hayo Fit, ga bisa apa emang ga agendain? ga bisa apa emang ga meluangkan waktu? ga bisa apa ga mau?

11. Fahri UN, Fatih Sakit
Fahri ujian nasional. Sebenarnya niatan aku dari pekan lalu, aku pengen pulang sore terus sepanjang Fahri UN. Tapi ternyata itu tidak kuusahakan maksimal. Aku masih menjadi budak bukan tuan pekerjaan dan ndak memprioritaskan huhuhu.
Apa ya, ada perasaan pengen nunjukin dukunganku ke Fahri. Kemarin-kemarin pun selama Fahri UN, kalau aku kalah oleh lelah, aku bahkan tidur duluan daripada dia. Meskipun hanya erbaring dan melihat langit-langit. Ngobrol sendiri maupun sama Allah. Jadilah mulai hari keberapa kemarin itu, pokoknya pagi harus salim, harus ngasih semangat, gitu kataku ke diri sendiri. Suka malu kalau dia belajar, atau pas liat aku pagi-pagi, akunya malah sibuk sama HP. Itu di aku perasaannya kayak, ini gue lagi berusaha, si kakak kok kayaknya enak banget ya. Kan kalo lagi berjuang enaknya dapet temen berjuang bareng-bareng ya :"), jadi aku tu niat awalnya pengen jadi temen berjuang dia... Dulu aku UN SMP SMA selalu sama temen-temen asrama. Jadi kerasa semua orang berjuang gitu. Aku senang juga dia pakai rumus yang kurangkumin dari bukunya :")
Memang being elder sister rasanya suka ngga mudah.

Fatih sakit. Tapi tadi pagi ngomongnya sudah banyak. Sudah bisa melucu. Sudah bisa ngasih soal ke aku tentang faktorial (padahal aku baru tau faktorial juga SMA). Kadang ngerasa bersalah kalau Fatih lagi banyak cerita akunya lagi balesin pesan jadi ga fokus sama dia. Dia di rumah libur UN. Tapi karena sakit ya ndak banyak aktivitas memang. Lucu tadi pagi tiba-tiba minta makan, tapi mintanya Indom**, katanya, alasannya kan lagi sakit. Hahaha, bisa ae emang anak ini. Atau salim tapi arahnya minta ke kompresnya, katanya biar keteken lagi kompresannya.

Pulang hari ini aku sembari pesan makanan. Tadinya mau kubeli tapi kalo aku mampir jatuhnya aku same rumahnya lebih lama. Niatnya beli mensyukuri Fahri yang sudah selesai UN. Fahri senang, alhamdulillah. Meski di akhir setelah Makasih ya Mbak, dia bilang, Fahri jadi takut kalau nilainya nggak sesuai harapan (memang ya rejection doesn't kill you, expectation does, ckckck). Tapi aku bilang ndak apa-apa. Kan sudah berusaha, sekarang waktunya berdoa. Aku senang sih dia terlihat hepi sekali waktu makan. Walaupun katanya maunya burger hihihi.

Pernah suatu waktu Fahri nih curhat sama aku. Dia merasa nggak diapresiasi sama Umi Abi. Aku tahu, bukan Umi ga apresiasi sih, tapi memang dia ni keliatannya minim banget belajarnya. Banyak main rubiknya. Pinjem HP Umi buat main game. dsb dll. Tapi dia sampe nunjukin akun ig sesuatu aku lupa yang isinya video sepasang orang tua dengan 2 anaknya. Yang satu nilainya bagussss banget yang satu jelek. Tapi si ibunya tau anak yang nilainya jelek ini usahanya keras, belajar sampe begadang, dsb. Terus waktu suasana ga enak di meja makan karena bahas nilai, ibunya alihkan pembicaraan dan nyendokin lauk yang enak gitu kalau ga salah ke anak yang nilainya jelek. Penghargaan atas usaha kerasnya.

Aku minta link video itu ke Fahri terus aku forward ke Umi. Aku bilang apa yang dia rasain. Aku pun menyadari sih, beda banget dia mau UN sama dulu aku mau UN Ya mungkin karena aku sekolah asrama juga ya jadinya kerasa banget, lha wong semuanya UN kan iklimnya iklim belajar. Dia nih kemarin waktu masa-masa TO, UASBN, dan pemantaan materi, ngga ada feel-feel UNnya sama sekali aku tu ngerasanya. Jadi aku paham, sudut pandang Umi kalau ngasih nasehat, kalo gemes, karena dia ngga keliatan belajarnya. Terus udah gitu alesan dia, kan udah belajar di sekolah. Ya kan kurang maaaas kalo hanya di sekolah aja. Lalu juga dengan hasil TO yang agak sedih kan Umi makin gemes ya. Memang ujian cem ujian nasional ini yang disiapkan dua sih, mental aanak dan mental orang tua. Karena kadang ada, yang anaknya biasa aja lalu orang tuanya yag panik, atau bahkan menekan. Ummi sebenarnya nggak ada sih kalo sampe menekan yang gimana gitu. Pengennya sih anaknya sadar, mau belajar dan meningktkan intensitasnya. Juga meningkatkan intensitas mendekat ke Allahnya. Kalau diingat-ingat aku pun dulu kayaknya Umi ajarin buat tahajud waktu menjelang UN SD deh. Ya mungkin telat juga, tapi ndak papa dari pada tidak sama sekali hehe.

Ya gitu sih, hanya sedikit makanan yang dibeli tapi dia senang alhamdulillah :")

Sudah malam, ikan bobo (ala-ala iklan taun berapa ya? hehe)
Eh tau ga funfact kalau ikan bobo ga merem loh. Karena dia ga punya kelopak mata.

Semoga jadi lebih baik setelah menuliskan hal-hal ini. Semoga menjadi pelajaran yang tertuang dalam laku.

Rumah, 1.59
tadi aku udah tepar duluan.

Senin, 18 Februari 2019

Showing Not (Only) Telling

kalo kesimpulan foto bukunya yang paing bawah: Ternyata I Love You  banyak sinonimnya

tulisan yang atas adalah catatan belajar kemarin. Bahwa showing not tell. bukan bercerita bahwa tokoh itu baik dermawan, cerewet. tapi tunjukkan aksinya. aksi apa yang membuat anak-anak tokoh dari cerita memang benar punya sifat demikian. contohnya Wuri di Aku Suka Caramu. Anaknya nanya-nanya mulu, nawarin bantuan mulu. Kukira itu bentuk helpful people. Ternyata itu showingnya cerewet (mungkin helpful juga, tapi ga dibahas). tidak ada satupun kata cerewet di sana.

Lalu waktu nulis aku ingat buku yang aku baca tadi di perjalanan. Buku yang hmmm tiga minggu terakhir kubaca (lama juga ya), karena cerita dari seorang kakak di mushala, dan cerita teman seruangan. Menentukan Arah, Kurniawan Gunadi. Tapi bukan berarti ga boleh juga telling, karena itu juga salah satu cara kan. Bahkan kalau tipe bahasa cintanya words of affirmation. Tulisan Maryam ini mengingatkan saya pertama tahu tentang Love Language dari Abidah dan Ima.
.
waktu nulis catatan di buku itu langsung ingat si buku yang dibaca ini.
pas banget.

Sabtu, 26 Januari 2019

Senin, 31 Desember 2018

Sisa Kemarin : Kritik Naskah Cerpen

I wrote a short story and sent it to newspaper.
Sebenarnya untuk topik yang sama, sudah pernah kirim 2 tahun berturut-turut. Tapi emang dasar belum diniatin dan jadinya keburuburu padahal ini momentual, kesempatannya suliit. Semoga bisa rezekinya dimuat tahun depan yaaa.

Semoga bisa jadi jalan kebaikan.

*credit comment to: Arimu-san

Minggu, 30 September 2018

Anak yang Menunggu Ayahnya

"Tau ga..." Mas Salingga diam sejenak, menarik perhatian kami. "Kalo pas pulang nih, udah deket rumah, suara motor udah kedengeran dari rumah tuh. Terus markir motor, standarnya diturunin. Anak-anak lari keluar, teriak, Ayah, Ayah! Ayah pulang! " jeda sejenak.
.
.
"Itu precious banget."

***
Saya tiba-tiba saja ingat kembali kalimat itu. Kayaknya udah lama banget deh Mas Salingga cerita itu di ruangan. Mungkin pas Yawme masih di bawah. Ndak tau kenapa ingat itu. Kemudian jadi ingat juga entah igstory Kak Reqgi atau wastory Kak Amri yang Kak Amri ada di dalam sarung terus Zayd sama Aqila teriak, "Ayah, Ayah hilang! Ayah hilang!" Hangat sekali melihatnya.

Anak-anak tidak pernah berbohong. Dalam menunggu waktu berharga dari orang tuanya. Their pure willingness  :")

Jadi inget juga video ini yang dishare di grup tebi pas temen-temen nyari inspirasi konsep video campaign.





Ingatan soal cerita Mas Salingga tadi membuat saya jadi mengingat Abi yang belakangan bolak-balik keluar kota. Mungkin dalam setengah bulan terakhir, tidak ada sampai setengah hari ketemu abi kalau ditotal, atau bahkan sepertiga hari juga tidak sampai. Di usia saya yang sekarang, kalau Abi pulang, apakah saya sungguh-sungguh menyambutnya? Heu. Jangan-jangan malah sibuk sendiri, main HP misalnya.

Terus saya jadi kepengen bikin konsep buku yang isinya tentang menunggu seseorang pulang ke rumah. Dulu pernah liat-liat di gramed pas masih di jogja (mungkin hampir dua tahunan yang lalu berarti) ada buku anak terjemahan dari Jepang kalau nggak salah, berjudul Nanti itu Kapan? Isinya tentang seorang anak yang ibunya lagi sibuk menjaga dan melayani pembeli di toko sehingga seringkali saat anaknya minta atau bertanya sesuatu, ibunya menjawab, "Nanti." Lalu si anak wondering gitu nanti itu apa dan kapan. (kalau mau cari, keywordnya Nanti itu Kapan? Satoko Miyano atau liat spoiler isi dalamnya secara online di sini)

Kepikirannya  semacam bagaimana anak menunggu Ayahnya pulang dari ia masih kecil sampai ia dewasa. Dan bagaimana juga yang berlaku sebaliknya; bagaimana orang tua menunggu anaknya pulang, dari si anak kecil sampai dewasa. Yang paling penting adalah eksekusinya sih. Karena menyedihkannya aku ini udah lama sekali ngga nulis. Hiks :((


jadi ingin menghambur meluk abi kalau abi pulang .
dan...
jadi ingin punya suporter dalam masalah tulis menulis ini .



Senin, 25 Juni 2018

Mencintai Sepenuhnya dan Mencintai Secukupnya

Ini lintasan pemikiran. Tidak ada lima menit sampai aku benar-benar menuliskannya di googlekeep setelah terlintas.

Mencintai sepenuhnya artinya mencurahkan segala sesuatu untuk yang dicintai. Memberi waktu, perhatian, tenaga, pikiran, usaha, bahkan barangkali barang atau materi; sebagai pembuktian. Karena cinta adalah kata kerja, begitulah adanya. Pembuktiannya tercipta dalam laku. Makanya kita kenal sekali pepatah itu, bukan? Kita bisa memberi tanpa cinta, tapi kita tidak bisa mencintai tanpa memberi. Memberi yang terbaik, bukan sisa-sisa.

Mencintai secukupnya berarti mencintai dengan batasan. Batasan yang dibuat oleh pencipta rasa cinta itu sendiri. Ketika Allah memerintahkan untuk meletakkan cinta padaNya dan pada RasulNya dibanding apapun, maka kita mengatur cinta yang cukup pada makhluk. Ketika Allah memerintahkan cinta pada akhirat yang melebihi cinta dunia, maka kita mengatur cinta yang hanya pada tangan untuk dunia, sementara meletakkan akhirat di hati, sebagai bukti cinta.

Ketika disodori uang haram, maka menolaknya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (karena paham hakikat haramnya uang tersebut) dan secukupnya (merasa qanaah, cukup atas sedikit yang dimiliki). Ketika memaksimalkan rakaat tahajud, maka itu cinta sepenuhnya (sebisa yang dimampu) dan secukupnya (tidak menzalimi diri sampai karena terlalu letih, malah melewati waktu subuh karena tertidur-mengorbankan yang wajib untuk melakukan yang sunnah).

Ketika Allah mengatur cinta yang berbatas untuk hamba yang belum terikat akad, maka, menjaga jarak adalah perwujudan cinta sepenuhnya yang bisa dilakukan, juga cinta secukupnya. Ketika kekurangan pasangan tampak, maka rasa syukur adalah perwujudan cinta sepenuhnya dan secukupnya. Ketika mendapat musibah--bahkan sesederhana kenyataan yang tak berpihak pada keinginan, maka meyakininya sebagai takdir terbaik adalah cinta sepenuhnya (meyakini qadha qadar sebagai bagian dari rukun iman), dan tidak mengumpat atau mengeluh adalah cara menanggapi secukupnya, sebagai bukti cinta. Ketika seorang anak meninggal, maka keikhlasan orang tua melepas anaknya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (yang dilanjut dengan doa-doa terbaik) dan secukupnya (karena menyadari bahwa anaknya lebih dicintai olehNya).

Ketika hampir satu kelas mencontek, maka menghindarinya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (karena menyadari bahwa Rabbnya sangat tidak menyukai perbuatan curang) dan secukupnya (menyadari bahwa sekecil apapun nilainya, berkahlah yang utama). Ketika kesal dengan orang lain, memaafkan adalah cinta sepenuhnya yang secukupnya, karena menyadari memaafkan adalah kesukaan Allah, dan cintaNya adalah prioritas utama. Ketika punya tetangga  berlainan aqidah, maka berbuat baik satu sama lain, menolong ketika membutuhkan, membawakan oleh-oleh, adalah cinta sepenuhnya. Dan tidak menjadikannya teman setia atau teman kepercayaan, seperti yang tertulis dalam Quran, adalah cinta secukupnya.

Dear diri, milikilah cinta sepenuhnya, yang terjaga secukupnya. Cinta yang maksimal untuk mencukupkan diri ini agar pantas dengan cintaNya. Cinta yang penuh untuk meraih ridhaNya, dengan meletakkan kadarnya sesuai aturanNya; pada Allah, Nabi, orang tua, pasangan, keluarga, sahabat, makhluk hidup lainnya, umat, bahkan juga umat yang tak seaqidah. Cinta yang memberikan energi, namun cukup untuk menjaga diri.

Pikiran lintasan ini barangkali terinspirasi oleh QS Asy Syura 20 dan 36; tilawah badr siang ini; beserta hal-hal yang Fatih lakukan malam ini.

Sebagai pengingat.

25 Juni 2018,
tadi hari pertama masuk setelah libur panjang

Minggu, 24 Juni 2018

Monolog 4 Juni 2018

Sama kayak postingan sebelumnya bahwa ini juga poin pembelajaran di googlekeep yang aku tulis dan jabarkan ulang di sini, sebagai pengingat. *Asa dulu mah nulisnya diary, wkwk. Sebenarnya menulis di blog itu sekaligus dalam rangka belajar membuat seasuatu yang sistematis.

Pertama, belajar memaksimalkan sesuatu. Memanage ekspektasi dari orang lain itu sulit. Tugas kita memaksimalkan apa yang kita bisa dalam meraihnya. Aih, sesungguhnya ekspektasi nggak cuma dari orang lain kan ya. Juga dari diri sendiri. Ekspektasi dari diri sendiri pun bisa yang sifatnya menyangkut diri sendiri, dan ada juga yang sifatnya ekspektasi soal ibadah ke Allah. Kalau yang sifatnya ibadah, kita nggak berharap dilihat oleh orang lain, tapi harapannya ada pada Allah melihat dan menerima amalan kita. Kalau yang berhubungan sama orang lain, misalnya kerjaan. Ada fase yang dibutuhkan atasan untuk tahu progress kerja bawahan, juga rekan kerja satu sama lain. Ini bukan dalam rangka nyombong, tapi untuk bisa mengukur, baik dalam menentukan pace kerja masing-masing (utamanya rekan kerja) maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan target (utamanya atasan). Jadi, dalam rangka memaksimalkan sesuatu, baik yang kita ekspert di dalamnya maupun belum, komunikasi, barangkali adalah jembatan penghubungnya. Komunikasikan upaya maksimal kita dan kalau ada hambatan atau hal apa yang bisa mentrigger upaya maksimal itu menghasilkan sesuatu yang besar.

Selanjutnya, kalau targetan atau upaya maksimal belum tercapai, komunikasikan alasannya. Juga misal ketika di awal diberi tanggung jawab, kita merasa ndak mampu. Kasih tau alasannya. Misal, dalam jangka waktu yang ditentukan, kerjaan yang diberikan pada kita belum bisa dituntaskan karena alasan kita yang belum ekspert di sana, perlu mencari referensi tambahan, kerjaannya terlalu gendut, atau bisa selesai namun butuh waktu lebih lama. Komunikasikan agar orang lain paham hal apa yang menghambat, atau mungkin bisa mentrigger (misal nambah orang, beli tools baru, dsb). Jangan denial dari awal bilang nggak bisa. Jelasin karena apa ngga bisanya, biar bisa diadjust dan dicari titik temunya. Entah dari ekspektasinya yang diturunin, waktu yang diperpanjang, atau mencari katalis untuk mempercepat eksektasi itu selesai sesuai timebox (yang tadi, bisa orang, tools, dsb). Dan orang lain mengetahuinya (saya jadi ingat ketika mandek skripsi lalu berat banget cerita ke dosen pembibing T^T). Kalau dari awal udah bilang ngga bisa, tanpa penjelasan, orang akan antipati dan tidak respect, karena kita menutup sesuatu tanpa penutup yang baik. Yha, semua orang juga ga suka kan sesuatu yang tanpa penjelasan, heu~

Komunikasikan dan bicarakan adalah kunci dari dua poin yang dibahas sebelumnya. Kalau misal kita bicara dengan orang yang tidak kita suka sekalipun, mengutip dari hadits, lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Tetap lakukan proses komunikasi dengan niatan mencari titik temu antara hal-hal yang perlu dikomunikasikan. Jangan ketika tahu dengan siapa harus bicara, sudah ada mindset yang mengunci diri kita dengan orang itu, lalu jadi males duluan. Tidak ada tembok yang perlu dibangun. Kalaupun kesal dengan seseorang, kita perlu bedakan mana ranah pribadi dan ranah profesional. Sabar, mulai dengan bismillah.

Terakhir, soal menjaga. Saat ada di fase terasa orang menjaga jarak dengan kita, barangkali emang ada jeda yang hendak diciptakan oleh orang tersebut. Kalau merasa ada salah dan perlu konfirmasi untuk minta maaf (takutnya ada kesalahan yang ga sadar dilakukan), silakan minta maaf. Tapi kalau tidak perlu, biarkan saja. Hormati jeda yang dibuat. Mungkin, orang tersebut pun berusaha keras sebenarnya dalam menjaga jarak dan menciptakan jeda. Dan kalau kita tahu emang itu yang dibutuhkan, berusahalah untuk sama-sama menjaganya.

It seems banyak muter-muternya. Sekian.


Selasa, 01 Mei 2018

Kembali

Menemukan bahwa diri ini akhir-akhir ini jauh sekali dari menulis -sampe kapan Fit ngomong begitu mulu di blog-. Akhir--akhir ini, 2 bulan ke belakang sebenarnya mau tumpah. Tapi kabar buruknya, saya takut sekali menulis dan memilih menghindar. Hari ini saya mau posting banyak tulisan, isi hati maupun repost. Tulisan lama maupun baru. Hampura jika memenuhi linimasa. Silakan diskip saja, saya memang menulis seolah-olah tak ada yang membaca.


libur hari buruh, 1 Mei 2018

Kamis, 05 April 2018

5 April 2015

5 April 2015. Tiga tahun berlalu, cepat sekali.
banyak hal yang bisa dituang, tapi memilih ini karena tanggal. ketimbang pada akihrnya ndak jadi-jadi seperti ucapan selamat hari icare 2-3 april kemarin

Sabtu, 10 Maret 2018

[Repost]Tips Asma Nadia untuk (Calon) Penulis

inti dari kenapa saya (re)pos video ini (dari postingan Kak Nisa) adalah pesan di penghujung video

kangen sekali dengan aktivitas bersama FLP Jogja :")
*ditambah ada rasa-rasa menyesal duu tidak memaksimalkan perjuangan :""

terima kasih Kak Nisa, share videonya :")

Sabtu, 03 Februari 2018

GoogleKeep-ing

Saya sering sekali meng-keep apa-apa di google keep. Instead of menggunakan aplikasi notes bawaan hp, mencatat di google keep menyenangkan karena bisa sync ke mana-mana selain hp; di aplikasi laptop maupun di browser.
Sudah lama sekali rasanya pingin mengkliping apa-apa yang ditulis di sana ke sini. Mengklip apa-apa yang tercapture dalam cerita sehari-hari, daripada tidak menulis sama sekali.

Semoga tidak jadi wacana. Dan, maaf maaf kalau kadang jadi banyak tumpah. Lha, itu kan di atas udah ada slogannya; writing like no one's watching.


Kamis, 21 Januari 2016

Ada Bunga yang Menghias Malam

saya sedang memutar otak untuk menemukan kata-kata yang pas untuk menggambarkan sejenis perasaan yang rasakan dini hari. tadinya saya mau menulis dengan gaya ala-ala pemilik akun ditapalbatas. sampai akhirnya saya mengingat lagu ini.


"...
Di malam hari
menuju pagi
sedikit cemas
banyak rindunya
..."
-Untuk Perempuan yang Sedang dalam Pelukan, Payung Teduh

/saya mau belajar menulis dengan mode seperti pemilik akun ditapalbatas/

Ada bunga yang berhasil menghias malam. Beretorika dan bermain drama. Melibatkan emosi yang tengah merindu. Melibatkan orang-orang terdekat. Hampir tidak percaya. Saya pun bertanya-tanya. Pada Tuhan tentang maksud, pada langit-langit tentang jawaban, pada waktu meminta kejelasan, dan pada kamu yang tak mendengar apalagi bisa menjawab karena telingamu tak disini-tapi barangkali hatimu tahu.
Barangkali malam adalah rekan baik bagi perenungan. Soal tanya yang melayang-layang di udara layaknya balon gas merah kesukaan adik kecil yang lepas dari genggaman. Genggaman itu periode waktu. Bedanya, kita bisa melacak balon gas itu kemana pergi, dan kempisnya sewaktu-waktu bisa kembang lagi.
Usahlah kau tanya, atau barangkali aku yang seharusnya diberi tahu begitu. Karena seringkali tanpa bertanyapun, pak pos seperti selalu mengantar surat yang sudah aku harap-harap. Meski datang sekali waktu, aku selalu bahagia tiap ia datang mengantar kabar. Sederhana, namun ajaib tak terkira.
Barangkali periode yang selama ini aku pun sulit menyangka. Makanya aku sering bertanya pada Tuhan soal maksud. Tapi mungkin Ia tersenyum mendengarnya lalu membiarkan aku berenang-renang mencari jawaban. Aku menyenangi kerlip cahaya malam dan remang lampu oranye taman kota. Semoga kamu juga bisa merasakan syahdunya.
Kembali pada soal bunga. Bagaimana jika mahkota bunga itu kelak benar adanya. Menghias kepala, menjadi saksi kuluman senyum yang sulit ditahan-tahan-juga haru. Tidak tidak tidak, Tuan. Tentu saja aku bukan berbual berlebihan, aku hanya berlatih mendeskripsi. Karena seorang Nona di pinggir jalan yang terlalu takut untuk menyeberang cuma butuh ditemani agar ia percaya : ia tak sendiri.

Dan barangkali, kamu serendipiti.

--
Terima kasih Tuhan, Terima kasih malam. Terima kasih untuk bunga dan cerita perjalanan kakak-kakak berdua yang membangkitkan kisah ini bermula :")

Ada yang dirindu. Ada. Karena barangkali, ini tentang kita.

/ah, tetap saja tidak bisa menyamai diksi ditapalbatas :")
harusnya gue kik, yang minta lo ajarin nulis :"

Rabu, 11 November 2015

Tulisan yang Selesai

Berbulan-bulan yang lalu, teman sekaligus bos iCare saya dulu pernah japri nanya. "Fit, lo kalo nulis blog ad atarget nggak siapa yang baca?"

Zaman itu saya jawab begini kira-kira. Saya nggak narget siapapun. Cukup berbagi cerita dan kalau dibaca sama temen-temen pun udah seneng rasanta entah kenapa. Dan tetiba ingat Riri karena Riri suka tiba-tiba japri komen tentang blog. Kadang sebagian juga, seperti yang pernah saya baca dari blog lain baahwa menulis itu menerapi diri. Jdi ya...kadang-kadang nggak jelas juga nulisnya.

Saat ini saya punya jawabannya.
di blog, saya ngga narget siapa yang baca-meski kadang-kadang iya juga sih, haha.
lebih dari itu, lewat blog, saya belajar menulis suatu tulisan yang selesai.

ya, suatu tulisan yang selesai :')