Jumat, 29 Juli 2016

Happiness Laboratory-Quote

highlight : 
dua manusia bertumbuh bersama; it means saling membangun, saling menguatkan, saling bertumbuh.

"Kita baru bisa mengatakan bahwa cinta kita sejati jika hati kita bisa melepas dengan tulus, berjarak tanpa takut dilupakan, dan berpisah tanpa khawatir kesepian."

Happiness Laboratory-Urfa Qurrota 'Ainy
Cisitu Baru, 29 Juli 2016

Jerawat Fatih

"Mbak, jerawat Fatih sakit...!" Fatih teriak dari dalam kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka, ketika akan gosok gigi sebelum tidur.
Saya kaget dong. "Jerawat?!" Ini anak 8 tahun juga belom....
"Eh kok jerawat, apa Mbak itu namanya? Apa...?" Susah banget dia mau ngomong.
"Apaan Dek?"
"Sariawan, hehehe. Fatih salah. Mau ngomong sariawan, eh malah jerawat."

*ketawalahkamiberdua*

Rumah.
Tiga pagi bersama adik tanpa Ummi.

Selasa, 26 Juli 2016

Ayam Lada Hitam, Chef Hilmi, dkk.

-masakan chef Hilmi, Alwan, sama Reyhan

jadi ini saya disuruh mengendorse masakan chef Hilmi, Alwan, sama Reyhan. Sebenernya yang utama si Hilmi itu sih, wkwkwk. Ketiganya adalah dedek Astonic Dralen Relaston, adek angkatan yang lulus smpnya sama kaya saya lulus (S)MAN (baca : ngga pernah ketemu pas sekolah di IC), yang baru saya kenal dan temui waktu mampir ke Sendai.

Baiklah, intinya, itu ada ayam lada hitam yang super enak dan nagih (yang hanya bisa ditemui kalau kalian ketemu Hilmi-dan dianya mau masakin-.). Lalu ada capcay buatan Alwan, koor Imtaq OSIS merangkap pemain band(?). Juga tahu isi buatan Reyhan. Rasanya semuanya enak, ditambah kebersamaannya jadi super enak.

Untuk resep saya nggak bisa ngasih bocoran karena kalau nanya ke chef utama syaratnya harus jadi Hilmi dulu *itu kan susah banget-__-*. Jadi tujuan postingan ini pada akhirnya adalah saya mau promosi kalau tiga dedek ini pandai memasak (dipaksa kerasnya kehidupan Jepang #eh). Dan kalau kalian diberi kesempatan ketemu mereka, mintalah mereka memasak *terus mau spoiler ke angkatan @astonic.dr biar ditagih #ketawajahat.

Anyway, menyenangkan sekali ketemu dengan mereka. Meski baru kenal dan ketemu, sambutannya baik banget dan luar biasa banget #perlurepetisi. Terimakasih sudah menjamu kami dan nganter-nganter liat oleh-oleh dan nunjukin yang halal-halal. Sejujurnya, saya pengen makan ini lagi :9. Semoga dikasih kesempatan buat ketemu lagi, ya dedek-dedek (ini panggilan dari Ipeh btw).

Dan see, kebaperan Reyhan bakda kumpul bareng IAIC Sendai. Saya jadi terharu :")

mau ngasih bonus foto lagi
ki-ka atas : alim-alwan-reyhan, bawah : saya-ipeh-hilmi

ki-ka : salman-gian-hilmi-taqwa-reyhan-alwan-alim-saya-qarri-ipeh. minus akmal yang nyusul datangnya.

sama mau ngasih satu foto kebanggaan Gycen lah. 
Foto mahasiswa S2-imam masjid-koorjurnal-anakband-anakpuasadaud

Terimakasih berbagai jamuan dan sambutannya senpai :) !
Semoga lancar ujiannya, diberi berbagai kekuatan dan kemudahan, dikuatkan dalam menjalani hari, lancar penelitiannya, lancar baito, lancar rezekinya, dan semoga Allah mudahkan rezeki buat menyambung rindu pulang ke tanah air :')

salam jauh dari sudut Cibinong :)

Senin, 25 Juli 2016

Drinking Game

Ada satu hal yang sempat membuat saya shock selama summer program kemarin. Namanya drinking game. Terjadi di H+2 lebaran. Super sesuatu bangetlah lebaran tanpa rasa silaturahim-silaturahim khas Indonesia di hari H dan H plus-plusnya.

Jadi hari itu seorang teman Rusia saya ulang tahun ke-20. Kami diundang ke kamarnya pukul delapan malam, yang kemudian mundur jadi setengah sembilan atau pukul sembilan-lupa. Saya dan beberapa teman yang belum pernah ikutan keluar bareng buat cari makan menganggap ini sebagai salah satu cara untuk bisa membaur di waktu kosong karena biasanya kita bisa membaur cuma pas kelas lecture atau agenda kampus lainnya. Soalnya yang lain seringnya keluar buat cari makan dan kita tau banget lah ya makanan yang dicari kan beda banget. Ketika kita cari makanan halal yang kriterianya super susah karena kita masih ngga tau medannya dengan jelas, mereka cari apa yang mereka pengen tanpa pertimbangan apapun, atau mampir di tempat yang seketemunya. Jadilah bagi kami yang jarang keluar buat cari makan bareng benar-benar mengagendakan acara ulang tahun ini sebagai momen kebersamaan.

Saya turun ke lantai 5 dan lagu "happy birthday" udah dinyanyiin. "Ah, kamu telat. Kuenya udah habis!" kata temen saya ketika ngeliat saya dan temen Indonesia yang baru keluar dari lift. Saya bersyukur dalam hati. Kalo kuenya masih ada saya juga bingung gimana mastiin halal dan mungkin ga enakan banget kalo nolak di depan yang ulang taun itu.

Kami masuk ke satu kamar yang dikorbankan jadi lokasi party. Kasur hotel udah diberdiriin. Kursi-kursi dibawa dari kamar yang dekat. Jendela hotel dibuka. Ada yang duduk di jendela. Gelas-gelas bertebaran di meja dan genggaman. Balon happy birthday udah dipegang temen saya.

Saya masuk ruangan dan...seisi ruangan lagi ngomong dengan begitu semangat.
"Drink, drink, drink, drink!"-terus semua orang yang ada di dalam memaksa temen saya yang ulang tahun buat minum alkohol. Karena ini ulang tahun dia ke-20 dan usia inilah usia legal buat minum alkohol di Jepang.

"So now you are already legal to drink in Japan!" temen saya yang lain bersorak. Ditanggapi dengan teriakan bahagia yang lainnya.

Saya masih kaget dengan apa yang saya liat di depan muka.
*Duh, maafkan kealayan ini ya. belom pernah liat orang minum soalnya.

Kami yang datang dipersilakan duduk. Speechless masihan. Yang lain sangat so-friendly banget mempersilakan kita.

"So, now we must have a drinking game!"-temen saya.
*oh men saya shock. game macem apa lagi ini*
temen-temen bersorak.

Intinya ada game tepuk-tepuk gitu. Kalau tepuknya begini nanti ke arah kanan, kalau tepuknya arah sebaliknya nanti arahnya arah kebalikan. Kalau tepuknya begini berarti loncat satu orang, gitu-gitulah. Barangsiapa yang salah maka ia harus menanggung akibat untuk minum.

*kita yang ga minum shock*

Terus temen saya anak Australia tiba-tiba mengeluarkan pertanyaan, "Anyone here who doesn't drink?"

Saya kira itu pertanyaan yang menyelamatkan. Beberapa anak Indonesia angkat tangan.

"Okay, dont worry. Dont worry. Because, when you do a mistake, he will drink for your mistake." temen Australi nunjuk ke temen Rusia yang  ulang tahun.
*oh men saya mulai panik-________-
soalnya saya keinget hadits yang intinya siapa yang menuangkan, menjual, dan lainnya saya lupa, dosanya sama kayak yang minum. Ini lagi kesalahan kita bikin orang lain minum, saya pikir ini termasuk dalam yang disebut di hadits itu meskipun saya lupa redaksi panjangnya.

"How if you always make a mistake so we will let him drink and drink anymore?!"-teman saya dari negeri gajah, ketawa. Berharap temen saya yang ulang tahun mabuk malam itu.

Kalau kita bawa air masing-masing mungkin kita bisa minum apa yang kita bawa. Tapi ini time limit.

Terus saya panik dan ngechat orang bahkan grup minta ditelepon.
*duh maafkan kealayan dan kepanikan ini.

menjelang satu menit, tidak ada respon.

akhirnya saya pura-pura telepon orang dan memilih keluar kamar hotel itu. Sampai luar saya baru usaha beneran nelpon orang dan cerita sepuas-puasnya pake Bahasa Indonesia. Yang mana kalau ada orang Indonesia keluar masuk saya kana reflek ganti topik bahasan sama sesuatu yang berbau urusan kampus *maafkan sungguh kepura-puraan alibi ini

at that time, sesungguhnya saya panik banget, karena baru pertama kaliii banget ngalamin pesta minum-minum depan kepala sendiri. dan karena nggak bawa amunissi minuman sendiri terus kalo kena harus meminta orang lain minum.

"kamu nggak bawa minum aja Fit?"
"udah kacau pikiran aku, tadi mikir gitu juga tapi kayak udah mau mulai gitu dan kami sserasa terperangkap di ruangan." -padahal sayanya juga bisa keluar kamar sih.

"selo aja tapi Fit. Mereka biasanya nggak terlalu mempermasalahkan dan ga baperan kok kalo misal kamu nggak ikut. emang mereka kayak kita apa-apa dibawa baper?"

"iya ya?"

Pada akhirnya saya masuk lagi dan permainan tepuk-tepuk itu hampir berakhir dan mereka segera googling untuk meneukan varian drinking ame yang lebih menarik dan asik.
kemudian kami pun hanya menonton.
.
.
.
.
kemudian temen saya dari negara yang sama dengan yang ulang tahun, dengan bangganya mengeluarkan vodka, alkohol 40% itu dari tasnya.
.
.
belum sempat melihat vodka itu dibagi-bagi, jam sepuluh lebih sedikit kami izin duluan kembali ke kamar. Alibi banget lah temen saya bilangnya kita mau istirahat. Tapi kita juga bingung mau ngapain lagi di sana cuma liat orang minum-minum dan ketawa-ketawa.

menjelang setengah dua belas dari kamar, kami mendengar mereka cari bar.
.
.
.

Ada perbedaan kultur yang terasa sekali di sini. Juga mindset.

Besoknya pas saya ngobrol sama temen saya yang bawa vodka. Dia bilang di negaranya umur 18 tahun udah boleh minum soft alcohol. Kalau 20 baru boleh minum yang lebih kuat, vodka 40% alkohol itu kategori yang udah kuat. Dan itu emang biasa di negara dia. Cuma kalo mau minum nggak boleh di jalanan bebas dan dia nggak mau minum terlalu sering karena dia sadar itu akan merusak organ dalam dia.

"But i was drank yesterday, and also the day before yesterday, and also the day before. I drank this three days."
"So do you want to drink anymore this night?"
"I think...no. It is too much drink in this three days ."

***

Bagi kita yang anak Indonesia, kita akan merasa bahwa kalo orang minum, kita akan begitu mudah melabeli orang minum di Indonesia sebagai orang yang pergaulannya bebas, tidak mau diatur, bandel, males kuliah, nggak serius, dan lain sebagainya.

Tapi temen-temen yang saya lihat di sini, yang minum. Saya melihat mereka ada yang belajarnya rajin, antusias, pdkt sama dosennya oke, dan lain sebagainya. Pada akhirnya saya menyadari bahwa mindset tumbuh dan mempengaruhi bagaimana kita memandang orang lain. Toh temen saya waktu saya tanya-tanya tentang kebiasaan minum di negaranya dia menjawab dengan sangat enteng, PD, dan bahagia karena itu memang budaya di negaranya. Teman saya yang lain, ketika tugas kelompoknya sudah cukup berprogress, malam berikutnya dia nggak mau kumpul kelompok karena mau merayakannya dengan minum di kamarnya. Ya semudah itu memutuskan untuk minum. Coba di Indonesia-atau mungkin saya yang nggak tau dan terlalu kuper aja ya-_-, masih malu kali ya kita ngeshare ke orang lain kalo habis minum-minum gitu. Meskipun saya tau sih, tentu saja ada mahasiswa yang minum. It's just not common here.

Waktu saya ngobrol sama Kak Nita, senor yang pernah exchange satu tahun ke Jepang, kakaknya bilang biasanya orang Asia masih deket kulturnya sama kita. Tapi ya mungkin lagi pasnya aja orang Asia yang ikut program ini, selain dari Indonesia, pada minum juga. Pas ngobrol sama Maryam yang pernah ikut acara kayak gini di Indonesia, ternyata anak-anaknya juga nyari alkohol yang dari Indonesia. Hmm, mungkin penasaran rasanya.

Pada akhirnya saya mendapatkan dua poin.
Bahwa kita memang benar-benar tidak bisa menilai orang lain dari satu sisi saja.
Dan, betapa masih banyak PR kita menebarkan rahmat Islam ke seluruh penjuru dunia.



(Teh) yang Halal

credit to capture chat Mu'minah Mustaqimah
ini chat yang LOL banget XD
#ketikatemennanyamakananhalalpakaebahasasunda

*bahasa gampangnya, kalo bahasa Sunda teh itu kayak tuh mungkin ya. Ini teh ssusu, artinya ini susu. Kalu dijadiin arti tuh ya ini tuh susu. Demikian sih penjelasan singkatnya.

Rabu, 20 Juli 2016

Ipeh a.k.a Hanifah Winarto

Pada perjalanan ini, somehow saya ngerasa, hikmah perjalanan bisa bukan pada inti tujuan perjalanan itu sendiri. Tapi dari pertemuan dengan orang-orang di dalamnya.

*sampe rumah saya mau cari foto Ipeh pas PTS terus edit postingan ini dengan menambahkan fotonya

Kali ini saya pengen cerita tentang Ipeh. Nama lengkapnya Hanifah Winarto. Tapi biasa dipanggil Ipeh *namanya juga Indonesia apa aja bisa jadi nama panggilan-ketika tau ga ada yang manggil Ipeh di kelasnya.

Adik kelas jaman (S)MAN yang mudah sekali mengingatkan saya pada pekan taaruf siswa karena barisnya paling ujung depan karena paling tinggi seangkatan putri, yang pakai tompel lakban karena hukuman. Dan kenapa inget banget? Soalnya pas itu  saya jadi tatib, yang mau gak mau mengelilingi para anak baru dan pasti kalo ujung-ujung mah bisa banget ngingetin.

Ipeh lebih muda dua tahun dari saya kalau secara kelas sekolah. Waktu saya kelas tiga, Ipeh baru masuk kelas satu. Interaksi lebih kami barangkali ada di keluarga Divisi Jurnalistik OSIS. Saat kami serah terima jabatan OSIS, maka saat itu pula Ipeh jadi anak baru di Divisi Jurnalistik Agustus 2011 itu. Tapi itu juga paling foto bareng, ngobrol kecil, sama makan-makan traktiran (eh ada nggak sih emangnya?).

Ipeh menjemput saya dan Alim di bandara Sendai Kamis 30 Juni itu. Dia mahasiswa tahun kedua di Tohoku University jurusan International Mechanical and Aerospace Engineering Course Undergraduate (IMAC-U). Mesin lah gampangnya. Dia pake masker, rok jeans, kaos roadshow IAIC yang didesain Ariq, bergo khas Ipeh, dan menggenggam iphone putih dengan casing pokemon berumur satu tahun yang telinga panjangnya masih sehat wal afiat sampai sekarang. Tunggu, ini baru pengantar cerita kenapa udah panjang banget ya :".

Intinya sore itu Ipeh yang jemput saya dan nganter saya dengan selamat ke rumah Mbak Ratri, kakak sepupu saya yang juga mahasiswa Tohoku. Setelah sebelumnya mengajak kami ke Sevel dan nunjukin makanan apa aja yang boleh dan enggak, yang lagi boleh dan suatu hari bisa jadi nggak boleh lagi.

Karena saya di Sendai ada dua mingguan, dan sesekali ketemu anak PPI Sendai seperti ketika di masjid, bukber, dan halal bi halal. Saya sering ketemu Ipeh dong. Ngobrol-ngobrol dikit dan banyak. Nanya-nanya. Terus malam terakhir di Sendai juga ngerepotin numpang di dormnya Ipeh. Saya jadi tau dikit-dikit tentang Ipeh dan itu membuat saya belajar banyak buat diri saya sendiri meski satu dua hal ada juga yang lupa sayanya.

Ipeh kuliah di Tohoku dan dari dulu emang pengen banget kuliah di luar negeri. Meskipun kuliah beasiswa sering terdengar menarik, penuh beasiswa, dan lain sebagainya. Bagi saya cerita Ipeh menggambarkan perjuangan dia. Di Jepang, dia hidup dengan beasiswa uang kuliah yang kemudian dia mengajukan keringanan UKT sampai akhirnya UKTnya nol dan uang 300.000 yen bisa dia bagi buat menghidupi satu semester. Terus Ipeh baito (kerja paruh waktu) dengan pendapatan 10.000 yen sebulan. Sebenernya ini kalo dibandingin sama orang-orang yang beasiswanya lancar tanpa baito, perbulan 60.000 yen mungkin kecil. Juga tanpa kiriman bulanan dari orang tuam Adik kelas yang dapat beasiswa dari JASSO aja ada yang sebulan 120.000-an yen. Tapi kata Ipeh, "Aku mah bisa kak tahan makan nugget, sayur kasih mayonaise. Kalau temen-temen aku ya mungkin kalo bosen sekali-sekali butuh makan di luar."

Dan yang paling bikin kagum adalah...tabungan Ipeh udah cukup buat haji.
*ini harus bangetlah ditebelin.

Kedua, sejak saya tau cerita standar halal Ipeh yang cukup ketat dan logis (ya karena emang masuk akal sih harusnya begitu). Apa-apa saya tanya ke Ipeh. Saya nggak berani beli makanan sevel yang belum dibilang Ipeh halal. Meskipun di Family Market ada onigiri ikan juga, tapi karena produsennya beda saya juga nggak berani beli-dan belakangan saya tahu (dari Ipeh) meskipun sama-sama onigiri ikan, onigiri famima pake emulsifier dan itu bukan dari tumbuhan.

Sebenarnya kalau ngomongin betapa susahnya cari makanan halal di luar negeri, saya kebayang sejak temen saya pulang dari Taiwan dan bawain oleh-oleh camilan serta kue kacang dalam kemasan. Setelah dibagi-bagi, satu dua orang penasaran dan satu produk dicek komposisinya ke website, satunya pake translator kamera karena emang di kemasannya pake huruf (kayaknya China semua). Dan olala dua-duanya nggak halal karena ada yang mengandung anjing dan ada juga istilah yang menyambung dengan kata chicken yang ternyata artinya ayam mati. Saat itu saya menyadari bahwa betapa orang luar memang memerlukan kandungan itu sebagai bumbu masakan. Mungkin kalo kita mah kayak butuh bawang atau kalo buat kue vanili gitu kali ya. Karena kalau dipikir, ngapain bangeeeeet camilan apalagi kue kacang pake kandungan kayak gitu zzz.

Setelah tau susahnya karena ada hal yang nyelip-nyelip di masakan luar, kalau ada ajakan makan saya nggak berani ikut kalau itu belum pernah direkomendasin muslim Indonesia di Sendai. Atau kalau belum nanya Ipeh. Karena sayanya juga masih pusing baca ingredients dan nyamain sama daftar kanji yang haram. Karena judulnya bisa jadi ikan tapi minyaknya pakai minyak hewan. Judulnya tempura tapi masaknya bareng-bareng sama dedagingan lainnya. Susu atau milk tea bisa jadi keliatannya cuma susu doang tapi emulsifier bisa jadi  dari hewan-dan hewan sini nyembelihnya gimana juga secara umum nggak bakal pakai kaidah Islam kecuali dari toko halal. Kecap pun bisa dicampur sama mirin atau alkohol.

Dengan kaidah kehati-hatian yang Ipeh ceritakan secara nggak langsung, saya jadi mencermati dan takut kalau nyobain barang baru. Orang bisa jadi bilang nanti kita nggak bisa makan kalau gitu. Nah pertanyaannya balik lagi sih, makan itu karena kepengen ngicip apa karena nggak ada pilihan lain? Nahlho...

Malam ketika saya nginap di tempat Ipeh, saya mau nyuci kotak bekal yang saya pakai buat bekal nasi pas makan siang di kampus. Karena sistem dorm Ipeh satu unit berdelapan dengan sharing dapur dan toilet, saya nanya, "Ini nyuci pake spons ini peh?" Sembari saya nunjuk spons yang ada di wastafel cuci piring. Terus Ipeh bilang "Biasanya aku nggak pake yang di dapur Kak soalnya itu punya umum, nggak tau kan itu tadi dipake nyuci apa dan bisa jadi nggak bersih juga."

Saya tertarik sampai kehati-hatian ini, di mana sejauh ini saya nggak pernah kepikiran sampai hati-hati pada spons. Setelah saya tanya lebih jauh, ternyata Ipeh juga punya teflon dan sodet sendiri. Terus saya nanya,
"Kok kamu bisa sih Peh bener-bener sehati-hati itu?"
"Hmm gimana ya Kak, bawaan rumah sih. Soalnya di rumah Abi juga kalau ada ayam yang nggak tau asalnya dari mana nggak akan di makan."
"Terus kalau beli ayam gitu biasanya gimana?"
"Ya kalau nggak di tempat yang udah dipercaya kayak misal dari temen Abi gitu, Abi harus lihat sendiri nyembelihnya gimana."
Pada titik itu saya jadi paham bahwa kehati-hatian Ipeh berasal dari bagaimana ia melihat orang tuanya. Sejauh saya berinteraksi sama Ipeh di Jepang, saya memang jadi mengenal tipe-tipe standar halal yang berbeda pada tiap orang dan melihat tipe Ipeh tataran ideal. Ketika orang ada yang apa aja gapapa yang penting bukan anjing, babi, dan alkohol, ada yang kalo daging di onigiri gak papa, ikan tanpa status halal gak papa tanpa ngecek dulu, yang yaudah kalo daging ga boleh tapi kalo emulsifier gak papa, Ipeh memilih berhati-hati dengan semua itu. Belanja yang halal, bawa kecap sendiri, alat masak sendiri, bilang ke sekretaris lab dia bisanya makan apa aja kalau ada party di lab-nya.

Saya jadi belajar bahwa apa-apa yang dilakukan orang tua memang akan menjadi contoh bagi anaknya. Betapa Abinya Ipeh sangat ingin memastikan bahwa yang halal yang akan sampai pada keluarganya, yang akan menjadi darah dan pembentuk dagingnya, dan yang kemudian akan menjadi apa yang Ipeh terapkan dalam keseharian dan keluarganya kelak. Bahwa barangkali orang boleh aja salah atau nggak sengaja makan yang haram, tapi sungguh Allah akan menilai dari seberapa besar upaya kehati-hatian dan penjagaan diri seseorang.

Ada hal lain lagi sih yang saya dapat dari Ipeh. Tentang gycen, divisi jurnalistik OSIS IC, dan kisah perjuanganya selama di IC. Dua di awal semacam quote aja sih jadi pengen saya tulis di postingan terpisah. Yang terakhir,  saya denger soal cerita perjuangan jatuh bangun Ipeh pas di IC. Pernah urutan rangking nyaris terakhir dari seangkatan, dan lain sebagainya. Tapi saya belajar kalau Ipeh punya kemauan dan tekad juang yang keras yang siapapun bisa belajar dari Ipeh. Itulah yang kemudian mengantarkan Ipeh kemudian sampai di gerbang Tohoku University dan semoga Eropanya dapet ya Peh buat S2 :)
suka banget sama spot-spot ini

Terima kasih Ipeh, you're my Favourite!

p.s. : maaf ya kalau agak berkepanjangan dan kemana-mana :") Kalian harus ketemu Ipeh !

16-20 Juli 2016
Dari Bus Sakura Sendai-Tokyo sampai saat menunggu delay double di KLIA2

Ada di Mana-Mana

suatu hari seseorang pergi,
lalu tiba-tiba ia ada di mana-mana.

-caption terinspirasi dari puisi Aan Mansyur; Akhirnya Kau Hilang

btw, jangan pergi dengan hati gloomy :P

Dari dan Mau ke Mana?

 “It doesn’t matter where I came from. As long as I know where I have to go..”
— Iwan Setyawan, 9 summers 10 autumns

Berangkat selalu adalah sebuah perpindahan, bukan soal besaran jarak. Berangkat selalu bukan hanya soal apa yang dibawa, tapi juga apa yang ditinggalkan. Berangkat adalah soal apa yg perlu disimpan soal kemarin, yang dijalani hari ini, dan yang akan dicapai esok hari.


sejujurnya, dua quotes ini sanagt menggambarkan perasaan pas mau berangkat kemarin.

Dimulai dari temen yang cerita kalau ada temen lain yang punya kesan terhadap saya soal, ya dia kan dari IC. Aku sih apa. Sedih saya sebenernya. Nggak penting aku dari mana. IC mungkin memang banyak membuat saya belajar. Tapi apapun yang saya pos, yang saya tulis, yang saya ceritakan tentang IC, benar-benar bukan bangga-banggaan. Saya cerita IC karena it really means in my life. Sama kayak SMA masing-masing kan? Saya yakin siapapun dan dari manapun kita di masa lampau, yang penting kita tau di depan mau ke mana, mau ngapain, mau bermanfaat dengan cara apa. Dan pada titik inilah sebenarnya saya masih mencari dan meminta bantuan juga doa dari orang-orang dalam memilih lifepath.
.
.
suka sedih kalo orang merasa IC sangat sesuatu, dan saya pribadi ngerasa belum bisa memenuhi ekspektasi itu. Be your self sih emang kuncinya. Orang saya aja masih suka baper kalo liat temen-temen macem Nabil Satria *parametergycenugm, profesionalnya Faradisa, dan Amel. Padahal mah. Hmmm, tanggung jawab alumni sih ya yang lebih besar daripada ketika masih jadi siswa.

Quote kedua, sebagaimana yang saya ceritakan di tulisan sebelumnya. Hmmm, nggak mau memaparkan lebih dalam. Silakan dibaca dan diresapi aja quotesnya :")

Kamis, 14 Juli 2016

Senin, 11 Juli 2016

Kedatangan

There are so many things happened these several days. Meskipun saya tahu actually saya mungkin bisa mendapat yang lebih banyak dari itu . Udah niat dicicil mau nulis dari kemarenan malah belom-belom.

Saya sampai di Bandara Kansai pada 27 Juni lalu. Melanjut ke Ibaraki, mampir ke rumah seorang alumni, rumah Kak Lia (IC 2002) dan Kak Vero (IC 2000). Kenapa atuh pake mampir Osaka segala, kan tujuan utamanya Sendai? Iya pokoknya mah ini udah pake itung-itungan dan pertimbanagn tiket *meskipun belakangan kami tahu ada yang dapat lebih murah. Tapi yasudahlah tidak apa-apa. Setidaknya saya dapat pengalaman...dan kenangan #eh.

Jepang gimana Fit?
-itu pertanyaan orang-orang selain soal lebarannya. Setelah beberapa hari awal tinggal di rumah Kak Lia, naik kereta hankyu *hiks kangen Akari* sama JR, jalan sama Mbak Ratri ketika nyampe di Sendai, liat jalanan-jalanan di Jepang. Jepang emang kayak di komik-komik. Banyak mesin jualan minuman otomatis di jalanan umum. Banyak tempat main pachinko. Ramalan cuaca akan sangat dipakai di sini, sebagaimana ayahnya Nobita kita lihat membicarakannya setelah nonton televisi. Tas anak sekolahan juga kayak tasnya Nobita.Jendela rumah atau apato biasanya digeser, kayak jendela rumah Nobita juga. Mesin tiket kereta juga kayak di kartun yang mana dimasukin di sebelah ujung terus nanti keluar di ujung lainnya. Anak-anak yang kayak Chibi Maruko Chan yang entah kenapa pipi mereka kok alamiah bisa bersemu merah gitu ya wkwk *dan kadang sampe gede juga ada yang pipinya massih keliatan merah, walaupun laki-laki. Topi sekolah anak kecil juga kayak topi Chibi Maruko Chan. Iket kepala penyemangat buat ujian masuk peruruan tinggi kayak di komik dan kartun yang dipakai sama kakak calon mahasiswa. Tempat-tempat naruh payung di tempat umum. Gantungan buat payung di depan setiap apato (mana ada di sini ngeringin payung dijembreng kayak di Indonesia).

Apato Kak Lia tidak besar seperti rumah-rumah keluarga di Indonesia tapi nyaman dan cukup untuk semua barang dan seluruhnya tertata dengan rapi. Kasur yang saya pakai namanya futon sebagaimana kasur Nobita yang bisa digulung. Alas lantainya tatami yang mana saya baru tau tatami itu kayak gitu. Tembok rumahnya bukan bata, dan biasanya dipakein wallpaper. Pintu kamar-kamarnya digeser kayk kita ngeliat bagaimana ruangan di rumah Nobita juga disekat dengan pintu geser. Lantai rumahnya belum pernah selama di sini saya nemu lantai keramik atau ubin kayak di Indonesia. Di apato Kak Lia lantainya empuk, motifnya kayu, sayang saya nggak tau nama bahannya. Kalau kata Kak Lia gelas jatuh nggak akan pecah. Toilet di Jepang toilet kering, dengan beragam model dan jenis tombol serta sensor lampu maupun sensor untuk toilet. Kamar mandinya bahannya plastik, kayak udah jadi satu set gitu dari bath tub sampai selantai-lantainya.

Semua akses yang memudahkan manusia suka sekali berbicara. Maksud saya di sini, kalo kita naik lift, nanti akan ada suara dalam bahasa Jepang yang bunyi kalo pintu mau ditutup sama pintu akan terbuka (ya intinya menyampaikan pesan itu). Begitu pula kalau naik bus atau kereta atau subway. Dan kalo naik bus sopirnya akan bilang arigato gozaimasu ke setiap penumpang yang turun.

Kalo kata Kak Lia sama Mbak Ratri (kaka sepupu saya yang kuliah di Jepang) mah, ngeliat Jepang kayak apa, ya mirip banget sama komiknya. Kehidupan yang diceritakan adalah kehidupan di sini. Bedanya mereka kalo bikin komik mata tokohnya sering gede gitu kan, padahal mah di sini orangnya sipit-sipit. Hehe.

Terus dapet apa aja Fit?
Kalau mau dibilang setelah di sini ternyata kotanya rapi, orang-orangnya tertib nyebrang, tertib antri, taat lalu lintas, bersih, nggak ada sampah. Itu mah biasa kali ya. Kayanya udah sering denger. Nggak perlu nunggu cerita langsung gitu.

Hal yang saya terasa saya dapat pertama kali adalah soal belajar dari sosok Kak Lia. Sebagai ibu, sebagai istri, sebagai pengelola rumah. Saya denger cerita Kak Lia soal bagaimana memutuskan kapan masukin Akari, putri beliau yang usianya 2,5 tahunan, ke sekolah dan bagaimana pertimbangannya. Kak Lia memilih nggak masukin Akari ke sekolah di usia yang terlalu dini karena menurutnya usia ini usia krusial buat penanaman kebiasaan yang  Islam ajarkan, doa, etika, dan lain sebagainya. Suatu saat ketika Akari ada di daycare, Kak Lia tau banget senseinya nungguin Akari sampe bener-bener ngomong itadakimasu sebelum makan. Nggak mau dong Kak Lia kalau itu yang lebih terpatri ketimbang baca doa sebelum makan. Saya belajar liat Kak Lia nemenin main Akari, ngasih tawaran pilihan lauk makan, nemenin main, ngajak Akari main ke taman, bagaimana bikin kesepakatan sama Akari, bagaimana perjanjian beli mainan sebelum pergi ke toko mainan, teknik ngerapiin mainan, dan sebagainya. Sebagai istri saya ngeh how dedicated she is meskipun saya hanya bisa menilai dari bagaimana beliau selalu siap ketika sahur dan buka which is subuh di Ibaraki itu jam 3 (mungkin kakanya jam 2 udh bangun). Dan dengan Isya yang mendekati jam 9, belum pas ada agenda bukber IAIC Kansai yang jadi malem banget, tapi Kak Lia kayak selalu beres gitu urusan rumah tangganya. Sebagai pengelola rumah tangga, saya belajar soal air buat anak, bagaimana teknik penggunaan toilet kering untuk anak di Jepang (yang mana usianya belum bisa benar-benar pergi ke toilet setiap harus ke toilet) sama bagaimana mengelola dapur agar mudah dibersihkan dan lebih awet kebersihannya (tips alumunium foil dan stiker dapur).

Di sini saya belajar jalan jauh. Transportasi umum bagaimanapun akan mengubah masyarakatnya sebagaimana saya pernah baca blog Zahra (terutama yang bagian transportasi) dan mengalaminya sendiri di Singapura. Kalau dulu orang bilang di kendaraan umum orang pada baca buku, sebenarnya perkembangan smartphone membuat saya melihat hal itu sih di Jepang. Tapi yang pernah membuat saya salut adalah kakek-kakek baca koran di kereta dan itu pake lup atau kaca membesar. Pernah juga liat nenek-nenek baca brosur gitu pake lup. Ah, tapi pembahasan orang-orang tua di Jepang ini juga ada bahasan tersendiri sih.

Orang-orang tua di sini sangat mandiri, mungkin karena dari muda biasa jalan ssehingga sampai tua pun masih kuat dan terbiasa demikian. Ke mana-mana sendiri. Saya pernah liat nenek-nenek masuk kereta dengn bawa belanjaan. Padahal badannya udah bungkuuuuk banget. Bahkan beliau juga bawa semacam kereta kecil buat bantu jalan. Ga ada banget lah yang kayak gitu di Indonesia.
Di sisi lain bahwa orang tua di sini begitu mandiri. Maryam pernah cerita bahwa jumlah orang tua Jepang lebih banyak dengan usia produktifnya apalagi dengan anak-anaknya. Piramidanya terbalik mengerucut ke usia yang semakin muda. Banyak orang tua dititip ke panti jompo. Bahkan suatu hari Kak Lia pernah naik kereta dan kaget karena segerbong isinya orang tua semua, sampe beliau mengira kalau beliau salah naik kereta. Ada juga cerita soal keluarga yang punya da anak, anak pertamanya udah berkeluarga, yang kedua masih kerja dan belum-atau entah memilih untuk tidak-berkeluarga. Tapi anak kedua ini memilih untuk hidup sendiri dan tidak bersama orang tuanya. Sedih yah. Ini mah kalau di Islam poinnya adalah birrul walidain atau berbuat baik pada orang tua yang mana sangat besar berpeluang untuk mengantarkan ke surgaNya :" (ada haditsnya kalo ga salah tapi harus dicari dulu. Intinya sungguh rugi orang yang masih hidup tapi tidak bisa mengantarkan orang tuanyaa kee surga atau menjadikan peluang untuk masuk surga, gitu)

itu dulu yah yang diceritain, maaf belum attach foto karena masih mager milihinnya. postingan ini pobably aku edit sih kayanya. sampai jumpa di tulisan berikutnya, semoga manfaat ya :)

Rabu, 06 Juli 2016

“Live your life like every day is Ramadan, and the akhirah will become your Eid”
:"

Dari Putri untuk 1 Syawalku

Halo Putri, kabarku baik alhamdulillah :"
Too many things hal yang belum aku ceritakan.
Akan kucicil disini ya. Meski kalau ketemu kamu mungkin tetep akan diulang lagi.
.
.
Sama Temajuk, kangen ya, Put :"
Aku juga kangen.
Kalau Allah kasih kesempatan buat ke sana lagi. Anak-anak udah seberapa gede ya?

00.29 JST
Subuh tinggal 2 jam lagi :"

Sabtu, 02 Juli 2016

Maryam Zakkiyyah

*barangkali juga mau buka tulisan ini



Maryam Zakkiyyah
Teman Sabtu-kalo dulu selama di IC mah

Kita nggak pernah sekelas, nggak pernah sekamar,  bahkan segedung asrama cuma pas kelas tiga aja.
Tapi kita satu pilihan seni. Seni lukis-yang saya terplot tanpa bisa milih karena pas itu tipes dan pulang. Seni lukis setiap Sabtu. Terus pra kelas lukis kita suka beli gorengan saung 5000 dapet 7. Gantian tiap minggu jadwalnya siapa yang beli. Yang biasanya mesti terbeli adalah bakwan. Tidak lupa disiram kuah kacang encer yang lezat. Dan semuanya dikantongin kresek putih bening.

Sama-sama lebih menyukai malam Sabtu daripada malam Minggu karena kalau malam Sabtu, rasanya masih ada libur lagi. Kalau malam Minggu kan dekat sekali ke hari Seninnya :"
Terus kalo Jumat malam-dan ingat-kita akan mengucapkan, "Selamat Malam Sabtu!"

Maka karena kesempurnaan Sabtu itu kita menyebut satu sama lain Teman Sabtu.

Waktu bergulir. Maryam menjadi orang-yang kalo kata Himeh-yang seantero ITB pasti tau, hahaha.
.
.
Hingga suatu waktu pasca keseharian Sabtu yang dirindukan itu-saat kuliah-kami pernah cerita banyak via telepon.

Kemudian September 2015 lalu Maryam ada acara internasional di UGM. Kita sempat ketemu beberapa kali. Di Hotel UC. Di Fakultas Teknik.

Saat itu, saya tahu banget Maryam sangat ingin ke Jepang dan aku tau banget nangisnya dia pas program 10 hari sama mahasiswa ASEAN dan Jepangnya itu mau berakhir.

Saat itu juga Maryam pernah ngasih kartu yang isinya link buat exchange ke Tokyo Tech.

Actually link itu sering di pos di grup fb dosen-mahasiswa jurusan. Jadi saya udah tau sebenernya. Terus saya berpikir, seru kali ya kalau bisa exchange bareng Maryam.

Kira-kira November saya daftar program itu. Tapi ternyata Maryam nggak daftar. Dia daftar program lain di Universitas Ritsumeikan.

Akhir Desember 2015 di walimahan Nadia di Bandung, Maryam ngabarin kalau dia lolos program exchange ke Ritsumeikan. Antara bahagia karena dia keterima dan sedih karena aku belum jodoh sama Jepangnya :"

Maryam akan berangkat perengahan Maret 2016.
.
.
Saat itu aku berpikir, harus ke Bandung sebelum Maryam berangkat.

Tapi apa mau dikata. Karena hidup berasrama, saya harus punya izin yang layak dong buat ke Bandung. Izin layak itu semacam lomba atau...ada yang nikahan lagi#eh.
Terus jadinya beneran nggak bisa ke Bandung sebelum Maryam berangkat.

Akhir April kemarin kabar lolos summer program di Tohoku. Maryam adalah salah seorang yang saya kabari hari itu juga. Tapi saya nggak kebayang apakah akan ketemu Maryam atau nggak. Karena ke negara orang itu nggak kayak kamu ke Jogja terus bisa ada aja yang jemput.

Hunting tiket dan ternyata tiket kalo langsung ke Sendai mahal banget. Kalo via Tokyo ke Tokyonya aja 4jutaan :(. Akhirnya lewat Osaka terus nyambung Sendai. Selanjutnya ada pertanyaan, tinggal di mana di Osaka?

Ada alumni IC di Kyoto. Hmmm tapi mayan jauh juga katanya. Terus di tengah-tengah kebingungan itu, Annisa, teman saya yang kuliah di Nagoya bilang ada alumni IC di Osaka. Kontak-kontakanlah saya sama kakak itu. Kak Lia namanya. Di Osaka sama keluarga kecilnya. Angkatan jauuuh banget. Kak Lia lulus IC 2002. Kak Vero suaminya lulus IC 2000.

Sebulanan kali ada udah kontakan sama Kak Lia, Maryam nanya. Nanti tinggal di mana? Saya bilang, di Ibaraki. Ada alumni IC di sana. Maryam kaget. Ibaraki itu kampusku Fiiiit! Saya kaget. Haaaa berarti deket dong. Bisa ketemu :") Saya juga kaget. Bener-bener nggak nyangka :"

Maryam bilang Selasa 28/6 dia cuma kuliah pagi jadi akan mengajak keliling Osaka. Dan pada akhirnya keterusan hingga Rabu 29/6 nganter-nganter ke Kyoto dengan bolos groupworknya :". Bahkan nyamperin juga pas saya baru datang tanggal 27.

Dear Maryam,
Semoga kita nggak sekadar jadi teman Sabtu atau #SahabatSampaiJepang ya. Lebih dari itu, semoga kita bisa jadi #SahabatSampaiSurga.

 :")

nb : kata Maryam kemarin pas likenya 153, ini foto terbanyak like sepanjang dia maenan instagram *tambahan foto laon menyusul ya ;)