Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Agustus 2023

Bagaimana Menceritakan Padamu

Bagaimana menceritakan padamu tentang gerimis tadi pagi?
Membanjiri tirus pipi dan lautan hati

Bagaimana menceritakan padamu tentang kuatnya jiwa mereka? 
Meskipun kutahu, mereka akan menyangkal, bilang aku tak sekuat itu. 

Dear My EG and SS, terima kasih sudah bertahan sampai hari ini :")


Rabu, 26 Juni 2019

Balasan untuk Ima




Halo Ima, terima kasih suratnya.

Surat yang hadir tanpa aku tahu apa sebabnya. Surat yang hadir tanpa kamu tahu apa yang terjadi kemarin sore yang membuatku tidak stabil bahkan kecewa sampai Allah berbaik hati menundukkan hatiku--juga waktu--untuk lebih tenang sepulang kantor tadi.

Surat yang membantuku menjadi cermin, atas hari-hari yang pernah berlalu. Atas cerita yang kusampaikan. Atas sedikit yang kau tahu dari keseluruhan isi hati dan hari. Atas sekian kecil diriku dalam seluruh semesta lingkaran pertemananmu.

Surat yang menjadi cermin bahwa aku patut menghargai diriku sendiri atas hal-hal yang terjadi. Baik atau buruk, kesal atau sedih, merasa dewasa sesekali dan merasa chilldish lebih sering lagi, aku tetplah aku. Tidak berkurang sesenti pun. Bukan orang lain, bukan orang yang paling kuidamkan untuk menjadi, pun juga mungkin bukan sosok yang suamiku kelak harapkan sepenuhnya. Tapi kita akan terus berjuang, kan, untuk menjadi hamba yang Allah sayang, yang Allah ridhai, yang Allah mau peluk dan beri senyuman. Iya kan?

Terima kasih sudah menjadi cermin. Aku mengingat hari-hari yang pernah berlalu. Kamu yang kena imbas ketika ada yang kecewa padaku, aku yang kamu sinari hari dan hatinya, aku yang menyiramimu keluh dan kesal suatu hari, aku yang kamu beri ruang untuk mengetahui, aku yang banyak terbantu, dan terakhir, aku yang sedikit mengeluh lalu kamu beri aku sederet kata, membentuk kalimat jitu yang telak memukul ulu hatiku; untuk fokus mensyukuri apa yang telah Allah anugerahi.

Terima kasih sudah menjadi cermin. Lewat ingatan itu, aku jadi belajar. Bahwa sesungguhnya diri ini telah melewati banyak sekali hal. Yang harus direnungkan, disyukuri, diambil pelajaran. Yang barangkali aku tidak pernah menyadarinya sendiri baahwa sudah banyak sekali hal yang telah berlalu, telah dihadapi, dengan segala suka dukanya, dengan segala hal baik dan barangkali, lebih banyak hal buruknya. Aih, maafkan aku ya Allah.

Ma, sedari September lalu-bahkan aku masih ingat, ingin sekali aku tulis panjang sesuatu tentangmu.

Ima terima kasih telah menjadi satu dari sekian banyak kasih sayang Allah untukku.

Aku,
yang tentu saja menangis kau sampaikan itu.
dan juga menangis menulis balasan ini

p.s kamu, siapapun yang membaca. tentu juga telah melewati banyak hal-yang kamu perjuangkan.
terima kasih ya. terima kasih untuk dirimu sendiri. Jangan menyerah, ya!

Rabu, 19 Juni 2019

Apa Kabar?

"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
...
"Kak Fitri, apa kabar?"
.
.
.
Dari seluruh pertanyaan yang aku perkirakan, tentang progress-progress dan hal terkait kerjaan, pertanyaan zaki yang pertama justru adalah tentang kabar. Terus aku nangis terharu ditanya ini. Cengeng banget ya, hahaha.


Senin, 27 Mei 2019

Pulang ke Rumah

Foto Jumat 3 Mei 2019

Jumat 3 Mei 2019, aku pulang dengan kecamuk perasaan tertentu. Ada sedikit lega karena beberapa hal tertentu. Meski demikian, kesempatan pelatihan dan karantina ini aku apresiasi karena sangat penting untuk milestone timku.

Setelah postingan rinduku yang ini dan beberapa tulisan setelahnya. Akhirnya aku pulang, meski belum ke rumah, tapi ke kantor yang bentuknya alhamdulillah rumah juga (hehe, kadang aku khawatir kalau pindah kantor terus bentuknya nggak se-homey yang sekarang). Segitu kangennya dan senangnya aku ke kantor, aku bicara banyak pantes ya kalau lagi ga mau bicara keliatan kenapa-napa). Aku share tentang cerita bangunin anak dan ganti lampu dari materi mbti ke orang di ruangan, aku hepi ketemu temen-temen, bahkan Nadung manggil aku Kak Gembul sepulang pelatihan pun aku hepi-hepi aja (yha gimana nad aku nginep di tempat yang provide makanan sangat banyak #alesan).

Sampai waktu antri wudhu maghrib, karena jumat itu ada KIP (aku masih ingat coba karena aku benar-benar pengen kajian tarhib ramadhan walau kurang sesuai ekspektasiku) dan ceciwi jamaahan maghrib di kantor, Mbak Dian tanya. Kayaknya karena aku keliatan sumringah banget.
"Fitri kenapa?"
"Ha, kenapa Mbak?"
"Iya, kayaknya lagi seneeeng banget." Atau apa gitu wordingnya aku lupa. Pekan lalunya waktu aku lagi ngobrol berdua sama Kak Citra juga Mba Dian bilang aku terlihat lebih glowing atau berseri-seri gitu. Padahal kan itu jabatan Abidah, susah juga ngalahin dia di bidang hepi kayaknya.
Aku bingung, gatau juga aku kenapa.
"Lagi jatuh cinta yaaa?"
Wakaka. Ini lebih membingungkan lagi. "Haaa, Mbak Dian pengalaman dan curhat yaa kalau lagi jatuh cinta kayak gitu." Aku menyerang balik. Orang-orang ketawa.
Lalu giliranku wudhu. Saat mau berwudhu, aku kepikir satu hal.
Kayaknya aku seneng banget, karena akhirnya aku pulang ke rumah deh....
Home is a place you can be yourself, right?

Lalu aku tersenyum. Pertanyaanku tentang kenapa aku seneng banget, yang juga tadinya aku gatau jawabannya, tuntas terjawab.

Cerita Pagi

Pagi ini antara sahur ke subuh baca tumblr salah seorang sahabat baik. Menangis haru, entah karena apa. Bisa jadi karena ceritanya, tapi yang lebih kurasakan adalah, karena aku merasa ia menjadi diri sendiri. Aku tahu sedikit tentang ceritanya sejak pekan lalu, yang diceritakan secara mendadak sambill satu dua tetes air mata yang mengalir. Kini kutahu sebagian besarnya. Penerimaan orang tuanya, persilakan atas dirinya yang ingin ke mana untuk melepas lelah, kehangatannya terhadap anak-anak dan orang kecil, dan kehangatan keluarga.

Tapi yang paling membuat haru, sepertinya, karena apa yang ia sampaikan dari hati, akan sampai ke hati pula. Sabarnya, syukurnya, rasa nyamannya terhadap dirinya sendiri. Karena ia jujur dalam menulisnya. Menjadi dirinya sendiri.

Lalu aku share link itu ke whatsappnya. Aku bilang
I am cry to read this
Thank you for sharing (my friend's name). Just be yourself, ya. Your most honest your own self.

Me, who love you. As always :)

Aku, bukannya tidak pernah ada kese-kesel lucu atau sedih terhadap respon temanku suatu waktu. Tapi aku menyayanginya, sebagaimana biasanya. Jadi tak ragu kutulis as always dalam pesanku. Yang itu, biarlah. Setiap orang satu dua punya perbedaan persepsi dan apa yang penting dalam hidupnya.

Kemudian aku beranjak shalat. Lalu aku teringat pesan seseorang, tentang menjadi diri sendiri. Mengingat momen pertama aku menangis setelah membaca pesannya. Aku menangis lagi. Sudah tak tahu porsi menangisnya karena yang mana. Karena cerita temanku, atau karena pesan itu. Syukurku rasanya penuh. Menjadi diri sendiri, dan diterima orang lain, mungkin adalah salah satu hal berharga dalam hidup. Dan semoga bisa menjadikan diri ini menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Tangis kecil yang kubawa pada qobliyah subuhku.

Diterima tanpa tuntutan, kata akun @rabbitholeid yang pernah saya baca di sini, justru membuat kita jadi terpacu, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku berpikir-pikir. Abi dan Ummi pernah menuntutku apa ya. Ah, sepertinya tidak. Justru di ketidaktuntutan itu mungkin aku lebih baik daripada ketika aku dituntut bisa sepeda di kelas yang sudah berbilang tinggi semasa SD. Entah, aku sulit mengingat-ingat. Tapi menjadi orang tua tentu super kompleks. Semoga Allah lapangkan sabarnya, Allah luaskan hatinya.

Pagi masih berjalan. Suatu hal terjadi di rumah. Tidak bisa aku ceritakan. Tapi batinku hanya satu, ternyata dari sekian banyak doa egois untuk diri sendiri, masih banyak doa yang dibutuhkan untuk keluarga ini. Hal-hal kecil-kecil. Doa yang spesifik-spesifik. Kadang, jadi pilu sendiri. Dan muncul ketakutan kalau terduplikasi. Semoga saja tidak. Pada beberapa case, menerima seseorang adalah termasuk menerima keluarganya juga. Ah, bahkan satu dua adalah berupa keluarga besar.

Aku mencuci piring. Usainya, aku membuka ponselku.

Temanku membalas
🥰❤ Thankyou fitri. Me, who also love you as always


Selasa, 14 Mei 2019

Takeaways Meetup Turki

iseng kubikin di gkeep
waktu mereka sharing
Waktu kita nyobain trial pitching yang bisa diikutin buat latihan-karena emang kita ngga dapat tiket pitching, sebelum maju, orang-orang ngafalin teks pitchingnya. Abidah baca quran sama istighfar.

Alhamdulillah, setelah Abidah presentasi, ketika sebelumnya banyak yang performanya masih kurang, secara Bahasa Inggrisnya, atau pakaiannya gelap, atau juri yang sudah bosan karena tapilannya biasa. Abidah datang dengan baju tosca, lalu jurinya seneng sama performanya Abidah.
"Excellent excellent!" kata juri yang seperti mendapat air di tengah gersangnya padang pasir. Beliau sampai membalikkan badan, bilang ke peserta lainnya kalau nanti tampilnya kayak gini, intinya begitu.

Masya Allah :")
***

Hari H pitching, kita udah malas-malasan karena ya emang  nggak pitching dan jaga stand aja. Tiket yang dipnya exhibiting startup.

Tapi terus tersadar, dariapada malas-malasan aja, masa udah sampai sini kita ga kasih manfaat? Setidaknya bisa bantuin latihan pitchingnya startup Indonesia yang lain.

Qadarullah, waktu nanya Elif (panitia), ternyata dia bilang panitia sudah mempertimbangkan. Karena waktu trial pitching kayak, orang ini dinotice banget sama juri. Masa dia ga ikut pitching? Karena kemarin bagus, takutnya nanti jurinya bertanya-tanya.

Bukan itu padahal niatan Abidah sama Ima datang. Niatnya pengen bantu yang lain, biar ga sia-sia kehadirannya. Dan sebelumnya udah nanya ke Buraq (panitia juga), dia bilang ga bisa Tebi ikutan pitching. Udah telat mau kirim pitchdecknya juga.
Dan ya mereka pun sadar sih kalau pitching tu bukan hak kita karena memang tiket kita tiket exhibiting, sudah habis tiket pitchingnya :")

Masya Allah :")

(dan cerita tentang kemenangan bisa dilihat di sini)
***
"Banyak banget yang terjadi hari itu. Mesti bolak-balik, nyasar, [termasuk ketemu orang di perjalannan yang selo banget ketika lagi rush yang kemudian nawarin bantuan cari rute/jalan lebih cepat tapi malah nyasar dan dia menyarankan untuk menikmati perjalanan (ketika mereka sudah buru-buru)], ditimpuk kotak rokok dari lantai empat karena dirasa berisik padahal kita nggak ngerasa segitu berisiknya...."

"Dan kita sadar di hari yang hectic itu kita sedikit banget tilawahnya."

Masya Allah :")
***

Apa yang kita rencanakan, kalau Allah izinkan akan terwujud juga.
Ini kan bumi Allah ya. Jadi bukan presentasi yang bagus yang bikin kita menang. Bukan slidenya. Bukan produknya. Bukan...

Sesederhana kalau Allah yang pengen, ya terjadi. 

Waktu di pesawat, kerasa banget kan lihat dari atas kalau bumi Allah itu luas. Kalau Allah mau bikin gempa bisa-bisa aja. Jadi refleksi, kenapa harus takut sama musik yg dibuat berdebar ketika acara (mau pitching)?

Doa aku (Abidah) waktu itu cuma satu, sama kayak doa waktu GVS dulu(pernah aku pos di sini versi lengkapnya).
"Izinkan yang menang adalah orang yang bisa ngasih banyak kebaikan."

Masya Allah :")
***

Dan yang aku baru sadari usai nulis ini adalah soal percaya.
Percayanya Kak Lili, kakaknya Abidah yang juga kukenal sejak 2015-an (sebelum aku tau kalau beliau kakaknya Abidah), tentang niatan adiknya ke Turki. Beliau yang dnegan semangatnya orderin tiket, juga ikut bantu cari sponsor. Padahal tiket dibel dengan kayak masih belum jelas. Aku pun jujur dulu ragu sama rencana Turki ini.

Tapi percayanya Kak Lili ngajarin aku,
bahwa itu memberi energi, selalu :")
Seperti yang pernah kupos di sini .

Badr, Meetup Senin 13 Mei 2019

Mencari Keberkahan Waktu (2)

"Karena waktu yang panjang, atau luang, yang bahkan kita usahain gak melakukan hal lain dulu (yang bisa jadi lebih wajib atau udah ada janjian duluan) biar suatu task bisa kelar, belum tentu jamin kita produktif di ngerjain task itu. Bisa jadi tergantung berkahnya waktu itu."
-seseorang Jumat lalu, dan, ternyata nyambung juga sama postingan ini.

Istiqlal Hari Ini-4: Menangkap Waktu





#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Istiqlal Hari Ini-3: Lingkungan yang Baik

Dari seantero perjanjian antara aku dan teman-temanku, rasanya baru kali ini disebutkan tepat bertemu: Istiqlal.
Bukan tempat makan, mungkin memang karena kami puasa.

Tapi benarlah kata orang-orang, pergilah ke tempat yang baik, maka kamu akan bertemu orang yang baik.

Dari awal Kay ngajak ketemu, Kay sudah bilang:
ketemunya pagi aja biar buka puasanya bisa sama keluarga dan sholat tarawih 💞

Aku senyum. Senang. Kay berbeda dengan orang-orang yang cenderung ingin ketemu untuk bukber ketika bulan puasa.

Lalu yang bikin aku amaze lagi, tempat ketemunya: Istiqlal. Memang benar sulit ketika lagi puasa ketemu siang-siang di public space. Terus juga orangnya dari mana-mana jadi perlu mencari titik tengah. Ketemu di masjid benar-benar mengingatkan pada masa-masa ideal di sekolah, atau masa-masa di Jogja. Aih, rindu.

Padahal, sebagaimmana orang tahu. Aku malas pergi-pergi. Udah gitu kalau ke Jakarta manapun entah kenapa rasanya jauh, hihi. Berkebalikan banget sama Ima yang bagi dia Jakarta manapun dekat.


#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Istiqlal Hari Ini-2: Anak dan Keluarga

Terlalu banyak insight yang bsia diraup hari ini. Dan rasanya sudah tidak mampu menuliskannya saking banyanya. Padahal sepengen itu ikut merangkum kajian yang di-re-tell sama Ima.
Coba buka link ini dan karena memang cukup panjang, bisa langsung klik menit ke 27.
Sebagai clue: peran ayah dalam menanamkan aqidah dan ibu dalam menanamkan akhlak, beserta hal-hal terkait keluarga dan anak-anak. Seberapa penting ayah dan seberapa penting ibu. Apa peran Ayah dan di mana peran Ibu. Bagaimana Ayah yang sedikit bicara dan banyak didengar, dan Ibu yang kebalikannya banyak bicara sedikit didengar. Ayah yang harus tega dan mengenalkan anak pada ego, agar anak punya prinsip, dan tidak mudah terpengaruh orang dan pemikiran lain. Tentang Ayah yang bercerita sebelum tidur.

Sampai bagaimana Ayah membelikan baju anak agar tahu perkembangan anak, juga tentang pemateri, Ust Ardiano Rusfi yang membeli rumah di usia 43, karena sepanjang anak-anaknya tumbuh uangnya ia prioritaskan untuk aktivitas bersama keluarga, bersama anak-anaknya.

Dan kata-kata Kay di akhir yang tidak terekam karena sudah keburu dimatikan.
"Siapa yang seharusya ke pasar coba?"
Kami terdiam. Zaki menebak, Ayah?
Kay mengangguk. "Iya Ayah."
Kami penuh tanya.
Katanya lagi, "Rasulullah juga dulu ke pasar. Perempuannya di rumah."
Lalu kami jadi nyambung, berkata-kata. oh iya ya, lagi pula, kalau laki-laki belinya to the point, nyarinya apa dibeli ya itu. kalau perempuan liat apa dikit jadi pengen, niat beli apa bawa pulangnya apa. bisa ganti atau nambah.
(please note aku bukan menceritakan ini karena berharap laki aja yang ke pasar perempuan ga usah, cuma dari gimana Rasulullah mencontohkan dan teladan orang shalih zaman dulu. Pun waktu aku cerita ke Ummi kata Ummi, di kitab yang membahas laki-laki dan prempuan (ijtima'i) disebutkan bahwa memang tugas ke luar itu tugas laki-laki. barusan aku baca majalah yang di covernya bertulisakan salah satu judul yaitu Mewjudkan Keluarga Islami, rupanya juga dicantumkan tentang itu.

Panjang tapi it's gonna be worth it. Aku rasanya pengen denger langsung kajian ustadznya.


Terima kasih teman-teman :")

#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Hari ini baca igs teman ternyata juga bahas mengenal pasangan, serta peran ayah dan ibu, juga kajian Ust. Budi Ashari yang belum jadi kutonton dari tahun lalu heuheu.

Istiqlal Hari Ini-1: Haru

Orang itu meyelesaikan tahiyatul masjidnya. Salam. Lalu berpikir, teringat nasehat seseorang tentang shalat hajat. Ia membulatkan tekad. Baiklah, kutunaikan shalat hajat, ujarnya dalam hati. Dia ingat pinta apa yang disarankan orang yang menyuruhnya menunaikan shalat hajat beberapa hari lalu. Lalu ia menyelami dasar hatinya. Dirinya juga punya pinta.

Ia berdiri, menunaikan takbir pertama. Tiba saat membaca surat pendek. Dirinya tertegun. Surat apa yang perlu dibaca?
Kemarin-kemarin waktu meminta petunjuk, ia baca surat Al Insyirah dan Al Ikhlas, berharap Allah beri kemudahan dan keikhlasan, apapun hasilnya. Kali ini, mesti baca apa? Sampai akhirnya memutuskan.

Pertama, Al Isra ayat 80
Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku). 482

482-Memohon kepada Allah agar kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala....

(482 semacam indeks footnote)
Di Alquran Syamil, ada penjelasan footnotenya, masih ada lanjutannya. Dulu, tanpa sengaja ia menemukan ayat ini saat duduk di bangku aliyah, terkesan dengan maknanya. Ketika lupa surat apa ayat berapa, lalu bertanya pada temannya yang hafal Alquran. Lalu berusaha menghafalnya.

Ah, mengingat ayat ini sudah membuatnya meneteskan air mata dalam shalatnya

Lalu, ayat berikutnya. Ia memutar otak. Surat apa?
Terpikir, tiga ayat terakhir al baqarah.
Dulu waktu mengaji bersama, ia sempat terhenyak dengan potongaan arti,
"Jika kamu nyataan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki...."

Lalu juga yang terkenal, ayat terakhir: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai engan kesanggupannya."

Mengingat segala kekhawatiran dan ketakutan, dan mengingat bahwa atas apapun, ia selalu punya Allah....
Tidak henti, menderas air matanya.

Lalu, QS Al A'raf ayat 23
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Mau tidak mau ia sudah perlu menyeka air matanya, khawatir masuk mulut dan membatalkan puasa.

Sudah kehabisan kata-kata. Lama tidak merasa shalat senikmat ini. Lama tidak merasa diri sekecil ini. Lama tidak merasa sekerdil ini ia dan benar-benar tidak bisa apa-apa tanpa bantuanNya, dengan benar-benar perasaan yang terasa.

-------------------------

Shalat zuhur, ia kira, tangisnya sudah usai. Pun juga sudah bertemu rekan lainnya.
Tapi bakda shalat, tiga doa pertama yang dibacakan secara jahr oleh entah panitia atau siapa dari petugas masjid membuatnya kembali menangis.
Pertama,
rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa qiyamana...

Ah, atas semua amal yang sudah dilakukan, mana yang sampai pada Allah? Mana yang Ia terima? Sebarapa banyak yang bisa Allah terima...membayangkannya membuat takut....

Doa kedua, Al Furqan 74,
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Doa ketiga, kalau tidak salah ingat, Al Kahfi 10
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Dua doa yang sama-sama punya kesan dan makna tersendiri. Salah dua doa yang orang itu hafal dari begitu banyaknya doa dalam Alquran yang belum ia hafalkan.

Hari ini, di tengah megah dan besarnya Istiqlal, keciiiil sekali rasanya. Takuut sekali atas tidak diterima amalan-amalannya. Dan harap yang besar menjulang, menjunjung, menyemogakan banyak hal.

Hari ini, ia tidak pernah menangkan kedatangan ke Istiqlal akan semengharukan itu.

#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Senin, 13 Mei 2019

Waktu

Kemarin mencari pesan, lalu ketemu. Namun aku terperanjat melihat tanggalnya, 5 April.
Ha, baru sebulan yang lalu ya ternyata. Kayaknya udah lama banget....Biasanya merasa apa-apa berjalan cepat. Kenapa sekarang rasanya pesan ini sudah cukup lama ya? Apa terlalu banyak hal yang terjadi dan berlalu sebulan terakhir ini?

-untuk orang-orang di dalamnya, terima kasih :)

Kamis, 09 Mei 2019

Mencari Keberkahan Waktu

Waktu itu Abidah izin nelpon, dia bilang hanya 10 menit, rupanya jadi sekitaran 30 menit.
Maret, sebelum ke Klaten. Saat banyak deadline mampir dan menghampiri. Saat rasa-rasanya ragu, apakah bisa semua konten selesai sebelum April, lalu cetak dummy dsb. Apakah kalau ikut ke Klaten (tadinya aku pikir aku nggak ikut), aku tetap bisa submit naskah buat seleksi pelatihan, tetap bisa handle kepanitiaan acara. Dan apakah bisa semua berjalan sesuai timeline. Termasuk targetan testing dan development yang belum usai.

Lalu aku bilang soal mencari keberkahan waktu, yang kala itu pernah jadi status whatsappku. sekaligus reminder buat diri sendiri. "Bid," kubilang, "Di kayak gini aku cuma bisa berharap sama keberkahan waktu."

Aku ndak mau alasan-alasan kesibukan atau pekerjaan yang satu jadi mematikan pekerjaan yang lain, atau jadi alasan untuk ga jadi submit naskah, atau jadi alasan untuk membatalkan amanah yang sudah diambil sebelumnya. Is it easy? Tentu saja tidak. Nguatin diri sendiri bahwa ini sekarang waktunya buat aktivitas yang lain, bukan lagi kerjaan, kadang-kadang ya ada penolakan juga. Tapi memang perlu diingat lagi itu adalah hak tubuh yang lainnya. Kuatin niatnya, inget tujuannya. Kan hidup orientasinya nggak satu kerjaan aja terus hidup mati di sana. Ada aktivitas lainnya yang bisa jadi itu justru jadi pemberat amal kita.

***

Dulu waktu kelas 9, tarawih di masjid sekolah. Ramadhannya beririsan sama masa-masa UTS atau UAS entahlah, namun intinya sama: pekan ujian.

Ada sekumpulan adik-adik kelas, kelas 7 yang  hanya ikut takbiratul ihram, lalu saat jamaah sudah shalat--mungkin saat sudah mulai Al Fatihah, mereka membatalkan shalatnya, duduk, membaca buku. Aku ingat sekai cover hijau putih berjudul, IPS Terpadu. Aih, mungkin tidak tepat disebut bata kalau dari awa memang hanya berpura-pura, agar terlihat guru yang ikut shalat di masjid.

Adik-adik ini belajar. Untuk ujian. Meninggalkan tarawih dan mereka masih di shafnya. Nanti saat tarawihnya mendekati salam, mereka akan duduk umpama orang tahiyat, lalu ikutan salam. Sehingga guru asrama yang ada satu shaf depan mereka tidak akan menangkap kegiatan curi-curi waktu yang mereka gunakan selama shalat tarawih untuk belajar ujian. Sedih sekali melihatnya

Aku tidak ingat apakah momen ini atau ada momen lain, atau siapa yang memberi nasehat, yang memberikan aku insight bahwa semua punya waktunya masing-masing. Semua punya porsinya.

Ada waktu ibadah, ada waktu mendengar ceramah, ada waktu tilawah, ada waktu belajar di kelas, ada waktu diskusi, ada waktu belajar dalam forum, ada waktu mandiri, ada waktu makan, semua punya porsi waktunya.

Dan aku lupa momen apa yang membuatku berusaha menerapkannya.

Sehingga saat aliyah, saat ada kajian bada subuh di masjid sementara hari itu ulangan. Aku berusaha tidak membaca catatan kecil atau buku catatan-yang semula bisa dibawa ketika menunggu atau nanti dibaca di perjalanan. Ini waktunya kajian bada subuh. Dengarkan. Dengarkan dengan baik, tidak disambi.

Atau juga saat muhadharah bada zuhur. Dengarkan, tidak disambi belajar. Tidak ditinggal tilawah mengejar targetan. Usahakan. Atau ketika ceramah tarawih, kadang aku melihat ada saja orang yang memiih tidak mendengarkan dan mengejar targetan tilawahnya. Tapi aku berusaha menanamkan pada diri bahwa, ini sekarang haknya penceramah untuk didengar, haknya aku untuk mendapatkan pelajaran Jadwalnya saat ini ceramah tarawih, bukan waktunya tilawah. Sehingga, nggak jadi baper juga kalau tilawahnya udah kekejar sama yang lain. Toh ada yang kita penuhi haknya pada saat yang sama.

Karena setiap waktu punya porsinya, dan setiap agenda ada waktunya.

Kadang rasanya memang gemas, kayak, aku pengen banget belajar ini, tadi belum selesai belajarnya. Baca pas kajian aja apa ya? Menyingkir ke ruang permadani (perpustakaan masjid insan cendekia) aja apa ya habis shalat? Biar nggak keliatan-keliatan amat kalau ada yang di mimbar kalo lagi sibuk sendiri.

Tapi pengalaman tadi waktu mts atau entah pengalaman yang mana membuatku sampai hari ini percaya bahwa ada hak-hak dan kewajiban yang perlu ditunaikan. Hak untuk menuntut ilmu, kewajiban mendengarkan dan menghargai orang lain yang berbicara dan mengisi, hak tubuh untuk dicharge imannya, untuk belajar.

Apa tidak khawatir nanti ulangan nggak bisa? Atau sebel sendiri karena waktunya bisa dipakai (egois) untuk mengisi diri sendiri pelajaran yang mau diujianin?
Tentu saja khawatir.
Makanya berharapnya hanya pada keberkahan waktu. Minta sama Allah dikasih keberkahan waktu. Agar pada waktu yang sempit, yang sedikit, yang terbatas, Allah kasih keberkahan. Allah beri kemudahan. Karena diri ini mau berusaha memenuhi hak-haknya. Keberkahan waktu, udah itu aja satu-satunya alternatif biar masih bisa mengusahakan apa yang perlu diusahakan, dan memenuhi hak terhadap waktu yang sudah dijadwalkan, oleh sistem, oleh hal-hal yang diikuti, dan lain sebagainya.

Jadilah waktu itu, di tengah segala kekhawatiran dan ketakutan akan melewati deadline, akan banyak hal yang kelewat, akan banyak hal yang nggak memenuhi ekspektasi, akan batas watu yang semakin dekat sementara pekerjaan meminta banyak, juga amanah yang belum tuntas di suatu kepanitiaan, cuma bisa mengarahkanku pada: meminta keberkahan waktu sama Allah, meminta keberkahan waktu dari Allah.

Biar Allah yang kasih jalannya, dan diri ini masih bisa memenuhi amanah-amanah di berbagai tempat. Sekitaran ke Klaten itu, aku pusing banget rasanya. Load testing, load konten, deadline ikutan seleksi pelatihan menulis, load pegang amanah jadi ketua acara dan CP konfirmasi peserta yang meski ga gede-gede banget aku tahu aku nggak maksimal di situ, bahkan udah ga mampu merekap peserta sepulang dari bandara di Damri. Sudah terlalu lelah.

Tapi yang bisa diusahakan, hari H acara tetap standby sama acaranya, nggak nyambi ngerjain yang belum selesai. Habis itu ngejar targetan dan naskah buat seleksi, ke kantor, ngusahain biar kondusif. Berusaha nggak pake nyalah-nyalahin kenapa awalnya nggak perlu ke klaten jadi harus ikut, atau ngga pake nyalah-nyalahin kenapa aku mau jadi ketua dan ga izin aja, dsb dsb.

Yang aku akui masih belum mampu, belum bisa kayak yang Kak Ridho suka bilang, "Ane kerasa banget, kalau kualitas ibadahnya nurun, produktivitas kerjanya juga nurun." Ini senada sama postingan lalu-lalu yang aku nanya ke Ima gimana biar tilawahnya bsia teratur. PR banget ini masihan buatku.


Hem, mungkin ada yang melihat aku terlihat strict ya. Atau kok kayaknya kaku banget.
Tapapa. Hanya berusaha menempatkan hal-hal pada tempatnya.
Meski ku tahu kujuga masih proses belajar ke sana. Ke kondisi ideal itu. Banget.

Fitri,
yang masih belajar
sudah lama tulisan ini ingin ditulis

Minggu, 05 Mei 2019

Obrolan Nik*h

"Aku nanya ke temen aku yang nikah muda, kalau bia mengulang waktu, apa yang mau disiapin. Soalnya ada, temen kita yang lain, nikah muda, lalu cerai setelah beberapa bulan."
"Temenku jawab, mau nyiapin mental. Soalnya kalau finansial dan lain sebagainya, bisa disiapin. Tapi kalau udah mental, itu sulit. Jadi ya sekarang kita sama-sama berjuang kok untuk selalu menyiapkan mental bahwa pernikahan ini memang layak ntuk dipertahankan."
-Cerita Abidah soal temennya yang nikah muda.

"Rima, kamu lamarannya emang kapan Rim?"
"Aku Fit? Lamaran maret, nikah April."
"Wah, kok cepet banget?"
"Iya, tadinya mau nanti aja abis lebaran. Tapi kata dianya juga gak baik kalaau diundur-undur. Kata Mamaku juga gitu."
"Temen aku nikah jarak lamaran sama nikahnya ada yang empat bulan. Ada juga yang cari gedung 6 bulan sebelum nikah."
"Ih iya aku juga Fit, susah cari gedung apalagi udah tinggal sebulan. Yaudah akhirnya di rumah."
"(ngobrol lagi)"
"Iya, kalau orang mentingin akadnya, yaudah akad aja gedungnya nggakpapa kalau emang ternyata harus di rumah. Kalau ada yang mentingin gedungnya, yaudah gedungnya yang diperjuangin, akadnya jadi ngikut gedung."
"Iya ya bener juga."
-Obrolan di motor sama Rima, yang umur nikahnya baru seminggu waktu itu

aya hiji deui tapi lupa

Pesan Rindu

Assalamualaikum Ima, Abidah. Besok insya Allah kita bertemu, ya.
Kemarin aku memeluk rindu. Sedari Senin aku baper banget entah mengapa. Zuhur-zuhur di mushala aku terbersit pikiran. Dalam perjalanan, tidak ada yang lebih menyenangkan dari mendapat teman perjalanan yang baik dan menyenangkan, bukan?

Bukan, ini bukan bicara tentang perjalananku. Ini tentang kalian. Murni tentang kalian.
Mungkin seperti Kak Wahyu yang pernah bilang, asik tuh kalau bisa jalan bareng Kak Big (apalagi waktu itu konteksnya umrah). Aku  merasa kalian saling melengkapi sebagai partner perjalanan. Walaupun aku hanya tahu sedikit satu dua tentang kalian dan kerempongannya sepanjang perjalanan. Tapi nggak tahu ya rasanya kenapa terharu banget gitu.

Aku suka kebersamaan kalian yang melengkapi. Kalian yang sama-sama rajin tilawah. Abidah yang suka bertanya dan berpikir, dan Ima yang mudah sekali menemukan hikmah dan merasakan. Kalian yang sama-sama sibuk namun berusaha dengan baik mengatur waktu. Kalian yang sama-sama sibuk namun selalu berusaha memenuhi hak-hak Allah. Jadi, tidak berlebihan kan aku merindukan kalian? Aih, mungkin bukan hanya rindu, tapi iri. Iri dengan segala peluang kebaikan yang kalian reguk. Iri dengan serakan hikmah yag bisa kalian panen. Iri dengan hak-hak Allah yang bisa kalian tunaikan dengan baik.

Aku rindu.
Tapi aku tahu kalian padat agendanya di sana. Pun aku di sini juga mungkin demikian.

Jadi, dengan segala saling melengkapinya kalian, bagaimana aku nggak baper karena ikut senang kalian adalah teman sekaligus partner perjalanan yang baik. Bagaimana aku nggak nanya kabar dan senang waktu dikirimin foto. Bagaimana aku bisa menahan untuk sekedar ngirim chat ke kalian cuma keisi Rindu, udah gitu doang. Bagaimana aku, di tengah nano-nano perasaanku di Senin malam kemarin, hanya bisa kirim pesan rindu dan berterima kasih atas segala usaha dan kerja keras Abidah selama ini, bahkan sebelum aku dapat kabar kalau usaha kalian mendapat juara dua. Atau aku yang hanya bilang ke Ima mau kirim pesan panjang, karena merasakan butuh pandangan pada posisi yang sama, lalu nggak jadi kulanjutkan. Dan nggak berani merusak bahagia itu dengan curhatku yang kalau kuterusin aku bisa nangis. Aku nggak mau merusak perasaan bahagia di tengah kalian.

Nanti kalian datang mungkin banyak cerita yang tak habis diceritakan. Dan aku sebagai orang I akan mendengarkan dan memperhatikan mimik wajah kalian yang sama-sama E dengan sekesama. Memberikan perhatian terbaik yang aku bisa. Sebagaimana biasanya. Semoga aku bisa, ya, fokus dengan cerita kalian. Besok aku punya targetan di ruang sebelah yang belum selesai.

Kemarin Jumat waktu Ima salah tanya ke aku dan ujungnya membahas ke kantor atau tidak, yang aku tangkap Ima bilang iya. Jadilah aku sebelum ke ruang sebelah menunaikan banyak kewajibanku yang tertunda, aku ke ruangan kita dulu. Bergegas. Mau peluk, peluk aja, dak usah ngobrol dulu. Cukup.

Tapi aku sampai ke ruangan dan memeluk...rasa kecewa. Karena ternyata yang kucari tidak ada :")

Tapi ndak papa. Rindu itu bisa disampaikan lewat doa kan?

Fitri,
hampir separuh bulan tidak bertemu
Aku sayang kalian, dan semoga selalu Allah yang menjadi alasan
Tidak ada yang lebih menyenangkan di perjalanan daripada perjalanan dengan teman terbaik, bukan?

Peluk hangat :")
.
Mengirimkan ini dalam rangka memenuhi hadits nabi, yang katanya, kalau kamu menyayangi saudaramu, sampaikan padanya.

Senin, 15 April 2019

Panik

"Kamu tuh fit, paling rusuh, ekspresif, panik, udah gitu ngomong sendiri."

"Heu, gitu ya. A, B, C, D emang ga ada yang kayak gitu?" Saya menyebutkan beberapa nama, lupa berapa.

"X ekspresif, tapi nggak panik. Y hmmm, ekspresif, enggak sih. Iya kamu doang yang kayak gitu."

"Lalu, gimana biar saya bisa nggak kayak gitu?"

"Tarik nafas dari hidung, keluarin dari mulut."

*mempraktekkan*

"Kamu nggak pernah ya Fit nggak ngapa-ngapain?"

"Ha, maksudnya gimana?"

"Iya, kamu nggak pernah ya nggak ngapa-ngapain?"

"Nggak ngapa-ngapain itu apa? Bengong?"

"Iya, bengong 10 menit gitu pernah nggak?"

"Kalau bengong saya nggak inget. Tapi gimana mungkin nggak ngapa-ngapain? Lihat langit-langt aja kan ngapa-ngapain. Nafas juga ngapa-ngapain..."

"Saya dulu waktu kuliah, sering. Dengerin musik atau murottal gitu, di kampus hari sabtu, di pinggir lapangan sambil nonton basket. Sekian menit. Terus jadi tenang."

"Kok bisa jadi tenang?"

"Iya, kalau denger murottal kan gitu, jadi tenang" dijawab malu-malu.

"Kamu dengerin apa nonton basketnya?"

"Dua-duanya."

"Hoo, bisa gitu, ya dua-duanya. Terus efeknya apa ke kehidupan sehari-hari? Kalau itu kan ya emang nggak ada apa-apa. Ga ada deadline, kerjaan, dan lain sebagaianya."

"Kebawa kok Fit, kerasa."

"Wah, bisa gitu ya."

Kayaknya saya butuh banyak latihan biar gak panik, dalam hati.
***
Oh, sama butuh penawar yang bisa menenangkan, dari diri sendiri kooook. Yha, kalau mau bantuin juga boleh.

Kadang, saya khawatir kalau panik diri ini kebawa ke mana-mana, menyangkut ke kehidupan orang lain. Apalagi kalau Allah izinkan berkeluarga dan Allah izinkan punya anak (aamiin). Kebayang lucunya bayi, kadang takut baby blues. Kebayang masa tumbuh anak, kadang takut persaingan ibu-ibu yang yagitudeh. Takut sama perasaan gagal jadi ibu gara-gara baca curhatan orang-orang, haha. Padahal nikah aja belum. Heu, zaman generasi ibu saya, ga ada medsos, kayaknya dunia tentram damai ya :)
Tapi kan gitu ya kehidupan, selalu ada aja ceritanya. Dan kemarin kan saya nulis ya soal kekhawatiran yang bertingkat.
Kalo kata Ummi, jangan takut. Yakin bisa, dengan bantuan Allah.
Seringkali, yang ditakuti hari ini, nggak semenakutkan itu kok.

Kamis, 11 April 2019

Pulang


Kemarin aku nggak tahu kenapa pengen banget ubah whatsapp status jadi Pulang. Kayaknya ngubahnya juga udah di kantor sih. Lalu hari ini melhat postingan itu di dashboard blog. Aku jadi sedih. Tapi banyak benarnya.

Hari ini karena ngejar deadline caption habis zuhur, dan waktu aku selesai Ima lagi nanggung, kami ngaji jam dua di mushala. Aku bilang ke Ima, "Ma, gimana Ma ngajiku nggak teratur banget nih...." Rencana tilawah persiapan ramadhanku buyar. Sudah tertinggal jauh. Hariannya juga cuma dikit-dikit, bahkan pernah skip. Aku sedih banget rasanya.
Lalu Ima bilang, "Dahulukan urusan Allah. Nanti Allah yang urus urusan kita."
Me like: tertampar bolak-balik.
Ima bilang lagi soal tilawah sehabis subuh dan sehabis kerjaan. Aku sempat cerita aku lemah banget habis subuh tu. Tapi bener sih yang dia bilang habis dhuha. Itu bisa dicoba. Aku jadi sedih aja kayak nggak prioritasin Allah, padahal diri ini kan selalu butuh sama Allah. 
Mungkin karena itu juga kali ya, Allah kasih aku pilek, meler, tenggorokan ga enak, pusing, di tengah kerjaan yang tetiba jadi banyak ini. Lalu jadi kayak ingin  menarik diri dari segala yang ramai-ramai, meski kadang aku kangen obrolan-obrolan di ruangan. Maafin hambaMu ini ya Allah :"(
Bersyukur Fit, sudah disadarkan.
Tapi cara bersyukur terbaik adalah berbuat. Jangan lupa.

Minggu, 24 Maret 2019

Ai, Aku, dan Kenangan Masa Kecil

Senin saat meetup, Ai pm aku di line. Ngajak ketemu.
Ai adalah teman SDku. Terakir ketemu mugkinn waktu buka puasa SD yangg saat itu kami semua lulus SMA. 2012 kalau begitu. Nikahan Tria kemarin di Andalusia dia sakit. Ai ngajar les bahasa Jepang di Depok juga, nggak jauh dari kantorku. Aku baru tahu beberapa waktu lalu waktu kami berencana datang ke nikahan namun Ai tidak jadi bisa datang.

Waktu aku datang, Ai baru dapat telepon. Rupanya pihak perusahaan tempat Ai melamar yang menelepon. Meminta Ai mengirim CV lengkapnya untuk diteruskan ke perusahaan Jepang.

Dulu Ai adalah murid pindahan. Ia masuk di kelas empat saat kami hendak ujian kenaikan kelas ke kelas lima. Ai pindahan dari Jepang dan seharusnya sudah naik kelas lima. Tapi kalau dia ke kelas lima, akan sulit ssekali ikut ujian kenaikan kelas ke kelas enam. Ai di Jepang dari TK besar. Waktu Ai baru masuk, Ai masih kesulitan berbahasa Indonesia. Bekalnya pun masih gaya Jepang. Makannya masih pakai sumpit. Aku juga ingat waktu menemukan komik conan yang tebalnya kayak Nakayoshi kalau di Indonesia. Lalu aku baca dan berpura-pura menebak apa dialog gambar yang menunjuk pulpen di saku. Lau benar. Dan kami tertawa kala itu.

Kami juga sempat pada fase-fase seneng banget ngobrolin conan the movie yang tayang panjang hari minggu sekitar waktu maghrib. Bahkan bisa ngobrolinnya via telepon waktu iklan. Ckckck, segitu nggak bisa tahannya ya ngorolin filmnya. Padahal besok di sekolah juga ketemu.

Dia juga sempat cerita setiap malam ibunya semacam ngebimbelin dia dan kakak adiknya buat belajar bahasa Indonesia. Bahkan Ai sempat muntah-muntah karena stres dengan pelajaran di sini. Luar biasa ya perjuangan Ai. Bahkan ayah ibuku-ayahku kenal ayahnya Ai ternyata-sampe nyebut Ai itu Aisyah Jepang, padahal nama aslinya juga bukan Aisyah, tapi Aisyiyah

Ai bercerita dengan semangat sekali tentang melamar kerja di Jepang. Tentang inginnya Ai bekerja di Jepang. Tentang bayangannya. Kalau aku tanya, kenapa Ai ingin bekerja di Jepang, Ai tidak bisa menjawab. Tapi aku jadi sadar, Ai mirip aku.

Kesenanganku soal masa kecil yang menyukai buku anak cukup merasuki alam bawah sadarku. Sehingga aku ingin menjadi penulis buku anak sampai sekarang. Mimpi yang entah kapan aku akan mengusahakannya demikian keras *huft. Mimipi yang masih aku inginkan dengan malu-malu. Semoga saja terwujud, aamiin.

Kupikir, Ai juga begitu. Ia punya keterikatan masa kecil dengan Jepang, sehingga sepenasaran itu ia ingin kembali ke Jepang. Sejak pulang ke Indonesia waktu SD, Ai sudah pernah dua kali ke Jepang. Waktu menang lomba pidato Bahasa Jepang dan liburan dengan nabung. Tapi mungkin begitu ya, namanya ingatan masa kecil... Entah apa yang terjadi pada kami. Sehingga punya ingatan masa kecil yang masuk dalam alam bawah sadar, mengetuk-ngetuk dan meletup-letup minta diwujudkan.

Tadinya pengen nyari foto aku SD sama Ai. Ada beberapa. Tapi aku malas beranjak dan membuka file-file lama yang tidak di laptop ini....

Semoga lancar ya Ai :)
Semoga kelak aku juga bisa ke Jepang dan mengunjungi Ai di sana :")

It's All By Designed 1: Tidak Menyangka Allah Sebagai Penolong

Jadi aku lagi merasa Ima sering ngomong it's all by designed. Tidak ada yang salah, justru bagus karena meang mengingatkan diri ini bahwa segala hal sudah ditakdirkan oleh Allah. Sudah begitu jalan ceritanya. Tapi tentu manusia punya pilihan atas apa-apa yang terjadi dihidupnya pada ranah yang memang bsia ia pilih.

Kalimat ini kembali muncul waktu Ima nunjukin aku surat al hajj ayat 15 di mushala.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, ) lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.

Waktu itu aku merasa kok kayak pernah ngeh sama ayat ini ya....

Nah lalu waktu aku buka laptop di rumah, masi ada tab chrome yang ternyata aku buka tab LQTafsir isinya surat Al Hajj ayat 15 ini. Aku buka mungkin sudah sejak beberapa pekan lalu, tapi masih ada di tab chromeku. Aku PM Ima, bilang aku terkejut dsb dsb intinya dengan kesadaran kesamaan dua ayat tersebut, masih di hari yang sama.

Ima bilang it's all bu designed Fit.