Syukur yang Terlambat

Selasa, 29 Oktober 2013

Jadi himpunan mahasiswa prodi saya di kampus lagi ngadain acara lomba buat anak-anak. Karena prodi kami ilkom (cieh~) jadi lombanya ya berhubungan sama teknologi. Lomba gambar pakai aplikasi Tux Paint, intinya gitu. Karena inti postingan ini bukan promosi lombanya (atau malah promosi buat menarik hati para sponsor) makanya silakan cek disini buat kepo lebih lanjut.

Intinya, acara ini membuat kami para panitia harus ngadain roadshow ke SD-SD dan jemput bola alias jebol, bahasa kerennya buat nyebar undangan ke SD-SD se-Yogya.

Jemput bola kayak gini bukan acara pertama buat saya. Sebelumnya pernah juga publikasi acara-acara buat perguruan tinggi dan karena waktu itu saya KSK, saya jadi ngerasa ya Allah, banyak banget ya manusia di bumi ini. Banyak banget anak kuliahan kayak saya, yang masih mengenyam kuliah, yang jadi tumpuan perubahan bangsa ini kelak. Saat itu karena list-list univnya panjang dan banyak banget saya bener-bener ngerasa begitu.

Sama dengan saat ini. Diselingi UTS yang mendera dan kewajiban jemput bola. Kloter saya (berempat) dapet jatah 19 SD. Dan saya dapat jatah 1 SD buat roadshow, dan 1 SD lain buat ngasih surat permohonan roadshow. Kali pertama kunjungan saya ke SD adalah waktu datengin SD buat ngasih surat permohonan roadshow.

Kesan pertama setiap masuk ke sebuah SD itu (sebelumnya pernah pas peringatan acara hari bumi, kampus ke SD buat sosialisasi lingkungan gitulah) selalu perasaan nyess gimana gitu (susah dijelasin pokoknya) ngeliat para anak-anak SD. Kayaknya ada perasaan kayak ngeliat para generasi penerus bangsa ini. Hei, mereka para anak SD itu masih kecil. Jangankan sadar tentang generasi penerus bangsa, bahkan mereka mikir SMP SMA aja belum lho. Paling baru cita-cita anak SD yang distribusinya masih tidak uniform #aduh, efek kuliah.

Hari ini adalah hari yang paling menginspirasi tulisan ini. Sebenernya nggak gimana-gimana banget sih. Jadi tadi saya jemput bola ke 6 SD. Ada SD yang khusus Islam dan ada yang enggak. As you guess bahwa di Jogja itu banyak bangetttt SD Muhammadiyahnya. Jadi ya itu SD Islam yang saya datengin buat diundang, Muhammadiyah semua.

Jadi sekolah pertama yang kami kunjungin itu yang bukan Muhammadiyah. Saya agak kaget juga pas ketemu gurunya sementara rok yang dipakai ibu guru itu di atas lutut (FYI, di Jogja anak SMA aja nggak ada yang roknya pendek, semuanya panjang mau dia pakai kerudung atau nggak). Beberapa guru yang saya temui juga nggak pakai kerudung. Kemudian entah mengapa saya langsung tersirat banget pikiran tentang rasa syukur dulu saya masuk ke SD Islam.

Selanjutnya saya sampai ke Muhammadiyah (satu dari empat Muhammadiyah yang kami kunjungi). Pas nyampe sana pas banget murid-muridnya lagi belajar (mungkin semacam) seni gitu di aula. Jadi ada guru yang main keyboard dan murid-muridnya pada nyanyi. Nyanyinya apa? Lagu tentang syukur, tentang Allah, pokoknya islami gitu lagunya. Aaaah seneng banget rasanya pas banget gitu datengnya, hehe.

Terus saya ngeliat papan tentang jam maksimal sampai sekolah. Dan ada tulisannya : Aku malu terlambat. Di papan itu tulisannya kepala sekolah maksimal datang jam 06.15, dan itu paling pagi di antara jam kedatangan maksimal guru dan murid. Subhanallah...

Saya sampai di sekolah selanjutnya saat jam istirahat. Lagi jam istirahat. Anak-anaknya lagi pada makan bekal. Ada perasaan...apa ya namanya...susah jelasinnya, semacam...kayak pengen banget deket sama anak-anak itu semua gitu deh. Hehe :)

Intinya sih ngebandingin sekolah pertama sama sekolah selanjutnya tadi. Betapa saya bersyukur dulu sempat masuk sekolah dasar Islam, yang lingkungannya islami. Dari kecil setidaknya saya dibiasakan melihat orang-orang yang berbusana rapi dan tertutup. Pelajaran agama yang baik dan lebih lengkap daripada sekolah dasar umum lainnya. Dan guru-guru yang mengajarkan doa serta adab-adab yang remeh tetapi penting.

Saya tahu, tidak semua lingkungan baik menjamin muridnya juga baik. Tapi saya paham, di situ setidaknya ada peran penanaman nilai-nilai yang baik. Kepekaan anak-anak mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi mereka melihat dan merasa, bahkan mengambil pelajaran dan kesimpulan tanpa kita sadari.

Ada dua yang bisa diperhatikan antara pertanyaan seorang anak berkerudung yang hanya ia satu-satunya yang berkerudung di antara teman-teman satu sekolahnya lebih dari sepuluh tahun lalu, saat pemakaian kerudung mungkin belum semarak sekarang. Yang satu bilang, "Ummi, kenapa yang lainnya tidak pakai kerudung?" dan anak yang lain bilang "Ummi, mengapa hanya aku yang pakai kerudung?" Beda makna lho keduanya.

Saya bersyukur dulu pernah sekolah di lingkungan yang baik. punya contoh-contoh ibu guru yang baik dalam mengamalkan nilai-nilai Islam. Masa kecil adalah masa di mana anak-anak suka sekali mencontoh. Saya dulu mana pernah sadar tentang atmosfer SD Islam yang sangat kondusif sehingga mensyukurinya. Tahunya cuma sekolah, udah. Padahal dulu saya masuk SD Islam karena nggak diterima di SD Negeri gara-gara umur (Tau SD Islam itu juga belakangan sih). Coba kalau dulu diterima di SD Negeri, saya nggak akan mengalami 6 tahun yang sekarang tengah saya rasakan sekali nikmatnya ini :"

Tidak ada yang menjamin kita akan jadi baik gara-gara apa. Toh, hidup tidak hanya dibalik pagar SD, bukan? Tapi hari ini saya sangat merasakan kebermanfaatan 6 tahun yang dulu itu. Guru-guru saya bukan guru yang roknya di atas lutut seperti yang saya lihat tadi. Karena guru itu bisa jadi role model juga, lho. Dan masa anak-anak adalah masa dimana karakter juga dibentuk. Dan seperti yang saya bilang di awal...mereka adalah...para penerus bangsa ini juga :) *ah saya jadi ingat postingan Kak Suci yang ini.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah :)

Membalas Kejahatan dengan Kebaikan

Sabtu, 26 Oktober 2013

"The golden rule of design : Don't do to others what others have done to you. Remember the things you don't like in software interfaces you use. Then make sure you don't do the same things to users of interfaces you design and develop." --Tracy Leonard (1996) 
--dikutip dari Chapter 5 : The Golden Rules of User Interfaces Design, The Elements of User Interfaces Design (c) John Wiley & Sons, 1997; Theo Mandel, Ph.D. [materi kuliah Interaksi Manusia Komputer pertemuan terakhir sebelum UTS]

Hei, bukankah ini sama dengan apa yang agama kita ajarkan?
Tentang kejahatan yang dibalas dengan kebaikan.
Lihatlah Rasulullah betapa banyaknya beliau dulu disakiti secara lahir maupun batin oleh para Kafir Quraisy. Sementara betapa mulianya perlakuan beliau kepada mereka.
Karena membalas tidak akan memberi kebaikan apapun, malah mempersulit masalah yang ada.



Urusan membalas,,,biar Allah saja :)

Karena Belajar dan Tidak Belajar, Tidak Pernah Sama

catatan kecil setelah mendengar temen ngomong gini.

Tentang ADA I (Analisis Desain Algoritma I, beberapa kampus menyebut matakuliah ini DAA), sejujurnya saya sempat mikir hal yang sama : belajar nggak belajar sama aja, entah saya yang belum paham juga apa gimana, tapi rata-rata emang belum bisa nangkep apa yang dosen kami ajarkan di matakuliah ini. Nggak paham kalau nanti dapat soal bagaimana kami harus menjawab, bahkan hanya tahu kami setengah semester ini belajar apa, bukan paham-setidaknya belum. Apalagi malam sebelumnya saya demam sampai 39 derajat-Betapa tidak menyenangkannya kombinasi sakit, di kosan, serta ujian ADA esok hari :(

Tapi kemudian setelah -entah kenapa- 35 menit sebelum ujian tiba-tiba saya tersentak hal tersebut (yang saya tulis di atas), saya reflek mencari kertas untuk menulisnya, dan terpilihlah halaman cover dalam binder itu, bahkan saya merasa jleb banget waktu pikiran itu terlintas. Dan otomatis...alhamdulillah bisa menyemangati :)

Percayalah, usaha kita punya nilai sendiri di mata Allah, selama kita ikhlas :")


Tentang 10 November

Minggu, 20 Oktober 2013


Halo ! Jadi saya ngepost foto ini bukan karena saya lolos seleksi sebagai lima besar yang beruntung. Pengumuman ini termasuk pengumuman yang saya tunggu-tunggu BANGETTTT sejak 30 September kemarin. Pengumuman yang menentukan keadaan saya buat 10 November besok. Yang jelas, saya pengen hadir di acara yang bisa dihadiri kelima orang beruntung itu.

Tapi, mungkin memang bukan rezeki saya. Atau kabar baiknya, ini rezeki yang Allah berikan pada saya dengan caraNya. Allah tahu mana yang terbaik, bukan? Mungkin memang saya yang kurang persiapan, kurang bahan materi, kurang banyak hal lah. Tapi overall, ikut lomba ini setidaknya membuat saya membuat satu karya. Tidak dirugikan, insya Allah :")


Bismillah, tetap semangat, tetap menulis Fitriii. Semoga kamu bisa lolos di lain kesempatan. Meski 10 November itu sebenernya sesuatu yang kamu inginkan pake banget, pangkat sekianlah pokoknya, hehe. Tapi Allah memberi begini, ya syukuri. Kehidupan terus berjalan, bukan? Dan harus dengan dirimu yang makin produktif!

Semangat menulis, semangat berbagi dan menebar kebaikan :) !

Ohya, bacaan keren hari ini : http://azaleav.wordpress.com/2013/10/20/tentang-mimpi-no-20/
Mohon bantuan doanya juga ya, saya pengen bisa jadi seorang penulis :) , yang bisa berbagi rahmat ke seluruh alam pokoknya *inget Teh Karin, ceritanya bahkan belum saya post* aamiin

Terimakasih buat semua yang mau baca dan ikut mendoakan ^^

Terima Kasih Allah :)

Sabtu, 19 Oktober 2013

Terima kasih Allah, terima kasih atas kadiv PHP dan telepon durasi 45 menit padahal jam udah jam setengah sebelasan gini :D . Juga tambahan atas kabar menyenangkan dari seberang sana. Setidaknya semua baik-baik saja dan semua berpacu untuk terus mengembangkan diri, bukan ?

Untuk besok, saya tunggu kabar baiknya juga, ya Allah. Aamiin. Aamiin. Aamiin :)

Terlalu Banyak Ironi

Tiba-tiba banyak yang mencecar isi kepala saya. Tentang acara, prinsip, serta tujuannya. Tentang cara dan untuk apa. Tentang banyak hal. Tentang betapa tidak enaknya mendengarkan -secara tidak sengaja karena saya emmang ada di tempat itu- omongan ghibah bahkan sindiran pada teman yang sebenarnya ada di tempat.

Dan ujung-ujungnya adalah, betapa susahnya menyatukan hati-hati orang berbagai karakter ini .

Betapa susahnya ketika orang-orang tidak menjaga komunikasi, kurang konfirmasi.
Betapa susahnya ketika orang-orang sulit untuk mengendalikan dirinya dari suudzan.
Betapa sulitnya jika seseorang tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyindir atau berghibah.
Betapa sulitnya ketika seseorang tidak memahami alasan-alasan yang berlandaskan atas nama agama.
Betapa sulitnya semua hal dilalui tanpa hati yang saling mengerti dan memahami. Tidak hanya main satu pihak saja.

Barusan saya merasakannya, makanya terlahirlah tulisan ini. mana ada orang yang betah jika pertemuan yang dihadiri malah jadi bumerang bagi diri sendiri. Nggak datang diomongin, datang malah disindir. Saya nggak habis pikir, jika demikian, siapa yang akan betah, kawan-kawan?

Saya mungkin memang salah karena cuma bisa diam dan membantu teman saya -yang dipojokkan itu-sedikit-sedikit. Telinga saya panas denger sindira-sindiran kayak gitu. Kalau memang salah, bicarakanlah baik-baik, jangan lewat sindiran. berbicaralah dengan hati, karena toh kalian perempuan dan saya yakin sebenarnya itu tidak menjadi masalah. Saya nggak suka kalau malah ada gap seperti ini. Tidak nyaman, bukan.

Milikilah perasaan yang menyeluruh dan universal. Bukan seenaknya sendiri, seenaknya diri sendiri yang menjalani. Sehingga tidak peduli pada yang lain. Ada banyak ironi yang terjadi pada dunia kita, bukan? Seperti rasa peduli pada anak panti namun tidak peka pada teman sendiri. Semangat menjalani kewajiban yang dibuat ada tanpa aksi nyata pada kewajiban yang sudah ada dari dulu kala. Banyak sekali ironi di dunia ini. Yang secara sadar atau tidak kita jalani sehari-hari.

Saya berusaha memahami kedua pihak teman yang -saya rasa- seperti memiliki gap di antara keduanya. Mungkin saya nggak paham masalah inti yang menyebabkan keduanya terpisah jarak sampai saat ini. Bisa dibayangkan ketika yang satu sudah berusaha memahami, yang lain seolah tak mau tahu. Kemudian ketika ia dalam kondisi tidak bisa memahami -karena memang suatu alasan tertentu- yang lain mengungkit-ungkit, membesar-besarkan, membicarakan. Sinis depan semua orang. Betapa pahitnya.

Milikilah pemahaman yang luas, dan etika bergaul yang baik. Kalau dipikir-pikir, aturan agama sudah lebih dari lengkap untuk mengatur semuanya. Aaaah, betapa sedikit sekali dari kami yang menyadari aturan-aturan agama itu. Kalaupun ada masih sedikit sekali penerapannya. Masih berpikir ini hanya kewajiban, belum berpikir bahwa keseluruhannya adalah kesempurnaan kehidupan.


#random, disela ke-hectican orang-orang hectic.
Allah memang akan membantu kita kalau kita mau membela orang lain. Perkaranya adalah, apa kita mau untuk sekadar memenuhi permintaannya ?

di 78C, ditengah panas Jogja yang makin panas karena obrolan orang-orang
renungan untuk diri sendiri juga
semoga hiayah Allah masih layak sampai pada kita semua, Aamiin

Tujuan Hidup

Kamis, 17 Oktober 2013

Ada yang harus ditanyakan pada diri sendiri. Dan ini besar, cakupannya luas, menyeluruh, universal.

Apa tujuan kita hidup di dunia ini?

Jangan-jangan kita terlalu sombong untuk sekadar menyadarinya;
Tujuan sesungguhnya, bukan semena-mena aku ingin begini dan aku ingin begitu.

Malam Ini, Semua Orang Melewatinya dengan Cara Masing-masing.

Senin, 14 Oktober 2013

Malam ini, semua orang melewatinya dengan cara masing-masing.

Lihat, Jogja sepi di hari Senin. Parkiran vokasi sepi. Bahkan Milan tutup. Transjog sepi, sekalipun sore-sore. A, B, C yang entah sudah pulang dari hari apa. Hanya dua orang dikosan sepanjang siang. Lihat.

Sudah keenam atau ketujuh nggak di rumah pas Idul Adha, saya sampe lupa ini yang keberapa. Tidak apa .

Malam ini, semua orang melewatinya dengan cara masing-masing.

Sebagian bertakbiran di masjid, sebagian berkeliling. Ah, mau nggak mau saya jadi ingat lomba takbiran pas masih jaman-jaman di IC, jadi kangennnnn pake banget :"). Sebagian bertakbiran di tanah suci. Mungkin untuk bener-bener membangkitkan lagi rasa ingin dan harapan buat haji itu, nonton berita emang salah satu cara yang pas buat itu semua. Ngeliat gambar secara riil, juga jamaah haji yang thawaf ngelilingi ka'bah. Ah, betapa...siapa yang tidak mau?

Malam ini, semua orang melewatinya dengan cara masing-masing.

Betapa seorang Ayah tetap berjuang agar bisa pulang meskipun shift malamnya yang menyebalkan tidak bisa ditolak. Betapa seorang kakak tetap menyebrangi lautan demi janji pada adiknya. Betapa bis malam pun rela dinaiki demi keluarga. Betapa antri tiket dua jam tetap tak ada harganya dibanding hari raya bersama keluarga.

Malam ini, semua orang melewatinya dengan cara masing-masing.

Pengamen terminal tetap mengamen seperti biasa. Tak peduli penumpangnya tengah bersiap hendak buka puasa. Seseorang terbawa ingatan pada masa lalunya. Merogoh receh hanya untuk berterima kasih telah membangkitkan ingatan-ingatan itu. Lalu membisikkan doa kecil. Pelan saja, ia tahu Yang Kuasa tak pernah tak mendengar.

Sebelahnya lelah pulang bekerja. Masih saja bekerja di hari kejepit seperti ini, gerutu kecil dalam hati. Tapi toh, hari sudah berlalu. Biarlah, setidaknya besok hari raya dan ia tak perlu masuk kerja. Sebelahnya lagi, mahasiswa yang terlihat lelah sekali matanya. Sepertinya ia punya berurusan dengan bertumpuk tugas yang harus dikerjakan dengan komputer. Lihat, sepanjang perjalanan ia melepas kacamatanya, berusaha tidur namun apa daya, tak bisa. Bis ini penuh. Semua orang ingin kembali, pulang, ke pelukan hangat dan nyaman keluarga.

Malam ini, semua orang melewatinya dengan cara masing-masing.

Sebenarnya, setiap malam juga begitu. Bukankah tiap orang melewati tiap detiknya dengan cara masing-masing? Tapi idul adha jelas membuat semua perasaan dan pilihan terhadap dengan apa waktu akan dihabiskan menjadi berbeda. Setidaknya, sedikit berbeda.

Selamat Idul Adha, 
setidaknya saya kangen idul Adha bareng keluarga; rumah maupun Gycen :)
banget .

Perkara Paling Sweet :)

Kamis, 10 Oktober 2013

Nggak ngerti kenapa adek kelas (S)MAN pada ngashare ginian, terus dalam suatu chat saya juga disuruh ngeshare. Dan karena nggak mau menstrim *dan takut dikiralagi galau padahal engga* , di share disini aja lah. Bagus kontennya soalnya :)


hayoloh, jangan jadi galau #eaaaaa :P 

“Tidaklah berdoa seorang muslim terhadap saudaranya secara ghaib (tanpa diketahui oleh saudaranya itu) melainkan akan berkatalah para malaikat, engkau juga beroleh yang seumpama dengannya.” (HR. Muslim)
Yuk, doain banyak orang. Jangan cuma 'dianya' aja #eh#eh#eh. *peace ^^v*


-diambil dari sini

Tahu Diri (Lagi)

Masih ingat postingan saya tentang Tahu Diri? Kemarin saya buka Blognya Kak Himsa, tentang tahu diri juga.


Ah, Kak Himsa ngerti banget tentang definisi tahu diri yang ini. Aku tahu apa yang didefinisikan disini. Tahu banget :" Mungkin ya...karena pernah ngerasain juga;

Kepada Meyna

Meyna diam. Ia bingung, aku tahu. Ia gamang. Ia tak biasa menghadapi situasi seperti ini. Perasaan bersalahnya atas salaman yang tadi itu. Bukan muhrim, ia tahu. Tapi tetap menggugu.

Mey, ada banyak yang rasa-rasanya belum kau tahu. Segala topeng yang kau lihat selama ini dari warna biru yang mereka banggakan. Entah apakah ini hanya masalah persepsi. Kalau kau bilang masalah restu, ini berbeda. Aku yakin jika orang tuamu tahu pun mereka tidak akan pernah mendukung. Mana mau mereka anak gadis kesayangannya ada di tengah lingkungan tidak baik-yang kau kira baik-.

Percayalah Mey, percayalah padaku. Dengarkan kata dua orang itu. Dan maaf, lagi-lagi aku belum bisa menyampaikannya dengan baik padamu.

-H2; Ruang T2.01, kelas ADA yang entah kenapa belum masuk sampai sekarang.

#SoRandomLalala~*ditengahyangpadatmerayapbelakanganini*

Kamis, 03 Oktober 2013

Kamu tahu nggak sih blog? Saya kangen . Kangeeennn. Pake Banget :") .

SuperMotivasi : Mbak Birrul Qodriyyah

Uwoooo, lama banget rasanya nggak nyapa blog ini,,,,dan cuma ngiler pengen bacain satu-satu semua update-an yang muncul di dashboard blog #efekterlalubanyaksiteyangdifollow; abis mereka bagus bangus siiih *gamaukalah, hehe.

Yap, jadi sekarang saya mau cerita tentang . . .super motivasi yang saya dapat di minggu pertama kuliah kemaren. Capek-capeknya ngga usah diceritain lah ya, apalagi bolos kuliahnya --a.
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Oke,, jadi motivasi pertama didapat dari Mbak Birrul Qodriyyah. Siapa mbak Birrul ini ? Jengjeng....Mbak Birrul ini mapres alias mahasiswa berprestasi UGM (tingkat univ, bukan sekadar fakultas lagi) 2012. Sip, basa-basina kelamaan, langsung aja ya...

Kali ini Mbak Birrul ngisi acaranya kemuslimahan. Ini agenda rutin dua minggu sekali(biar selang-seling sama acara kerajinan tangan akhwat gitu setiap minggunya) yang dilaksanain khusus buat muslimah dari pukul 11 sampai nyaris sekitar jam 1 siang. Ya,, kajian jumatan buat akhwatlah istilahnya, hehe.

Judul slide Mbak Birrul itu padet banget; Muslimah Mandiri, Prestatif, Organisatoris. Beliau bahkan mengakuinya sendiri. Ya kalau nggak diakui saya juga nggak mengira seberat itu sih kontennya, hehe... Katanya, harusnya kalau ngisi acara masing-masing poin itu dibahas jadi satu bahasan utama, nggak sekali ketemu langsung tiga poin gini. Tapi nggak papa, Mbak Birrul yang semangat ini akan membahas semuanya *ciaaat

Pertama, Mbak Birrul ngomongin tentang mandiri. Beliau cerita bahwa beliau bukan berasal dari keluarga mampu. Bahkan nggak puny/minta uang jajan karena sadar bahwa orang tuanya juga susah payah mencari uang. Nah suatu ketika Mbak Birrul pengen sekali punya komputer dan di tengah gelisahnya itu cerita sama orangtuanya. Orangtuanya cuma nyuruh beliau buat nabung. Tinggallah Mbak Birrul yang kebingungan karena bagaimana bisa nabung? Orang uang saku aja nggak punya...

Akhirnya Mbak Birrul memutar otak dan menemukan jawaban bahwa ia bisa menabung lewat hadiah lomba. Ahirnya Mbak Birrul (ini cerita waktu SMA ya...) ikut-ikut lomba dan alhamdulillah Allah ngasih rezeki menang. Selang waktu kemudian, Mbak Birrul berhasil mengumpulkan uang. Namun setelah berpikir ulang, Mbak Birrul nggak jadi beli komputer karena Mbak Birrul pengen kuliah. Katanya, saat itu kalo orang mau kuliah minimal harus punya uang lima juta.

Alhamdulillah, Mbak Birrul diterima kuliah dengan beasiswa bahkan sampai lulus. Subhanallah sekali ya :) . Akhirnya uangnya tadi itu dibelikan motor yang dikendarainya sampai saat ini. Motornya itu ia beri nama Mosi alias Motor Prestasi. Rumah Mbak Birrul kalo nggak salah di Bantul. Jadi ya lumayan jauh juga kalau sampe UGM.

Mbak Birrul bilang, ada banyak cara untuk mandiri secara finansial. Bisa lewat beasiswa, part time work, dan juga lomba. Mbak Birrul ini dapet dari tiga-tiganya lho, subhanallah banget ya>.<. Mbak Birrul bilang gini, "Kalau ada mahasiswa kuliah di UGM dan tidak dapat beasiswa, maka saya meragukan dia mahasiswa". Kenapa Mbak Birrul bilang gitu? Soalnya beasiswa di kampus itu banyak banget. Mau buat orang kurang mampu sampai yang mampu(misal beasiswa prestasi yang nggak mandang tingkat finansial keluarga) itu ada. Tinggal kita mau atau tidak.

"Apa kerja part time itu mengganggu? Saya kan kuliah, terus kerja juga, memangnya sempat Mbak?" Mbak Birrul menirukan pertanyaan yang mungkin sering membenak dalam hati mahasiswa. Kata Mbak Birrul gini,"Biar sejalan, bekerjalah sesuai dengan cita-cita; sama dengan tujuan kuliah. Misal saya ingin jadi dosen, ya saya kerja yang sesuai dengan cita-cita saya (kayak jadi asdos, asprak, bimbel, dll itulah). Bekerja cerdas bisa mengalahkan bekerja keras. Saya butuhnya cuma semangat!"

Kemudian yang masalah lomba, Mbak Birrul bilang ikut lomba itu bisa meningkatkan passion. Kalau gagal ya coba lagi. Gagal itu biasa, tapi membuat jadi bisa. Kalau nggak mau bergerak yasudah berhenti; karena konsep utamanya adalah : mau bergerak.

Nah, bagaimana kalau kita belum bisa mengenali potensi diri? Padahal ini penting lho sebelum melecutkan diri sendiri. Kita bisa mengenalinya lewat orang lain. Inget nggak kalo pelajaran BK suka ada kertas yang diisi teman untuk menilai kelebihan dan kekurangan? Nah bisa dengan metode itu. Atau dengan ikut lomba. Berkali-kali lomba, berkali-kali kalah, maka akan tahu bagaimana potensi diri kita. Kembangkan passion untuk bermanfaat bagi orang lain. Manajemen diri tidak akan tercapai dengan baik jika belum mengenali diri sendiri. 

Kalau sudah punya kelebihan, maka tunjukkan! Kalau tidak, maka tidak ada orang yang tahu. Mbak Birrul mencontohkan dari hal-hal yang kecil. Misalnya saat di kelas mencari celah yang bisa dijadikan bahan pertanyaan pada dosen. Ini suatu hal kecil yang gratis yang bisa dijadikan bahan untuk melatih diri secara mentalitas dan kualitas. Kenapa mentalitas? Karena nggak gampang untuk berani bertanya di tengah-tengah kelas. Dan kenapa kualitas? Karena agar pertanyaan kita tidak ditertawakan oleh orang lain, maka tentunya pertanyaan yang diajukan harus berbobot. Super sekali :) !

"Saya itu badannya kecil. Setidaknya kalau saya bertanya saya jadi terlihat lebih tinggi daripada teman-teman saya. Mengapa demikian? Soalnya teman-teman saya duduk, sementara saya yang bertanya berdiri. Otomatis saya jadi terlihat lebih tinggi dan ini membangkitkan percaya diri saya."

Oh iya tentang prestasi aku jadi inget kata-katanya begini, "Dari awal kuliah kita harus pasang target IP kita berapa. Mungkin banyak orang yang bilang IP nggak penting. Yang penting punya soft skill. Itu benar memang. Tapi kalau kita mau apply beasiswa, syaratnya ada minimum IP. Mau ngelamar kerja juga butuh IP. Lha terus apa-apa butuh IP. Jadi ya mau dibilang nggak penting sekalipun, bagaimanapun juga IP itu ya tetap penting..."

"Sukses itu dimulai dari langkah pertama. Tanpa langkah pertama tidak akan ada langkah kedua dan seterusnya. Sukses itu konsisten.Kita harus punya range & prestasi yang jelas. Pilih organisasi yang mana yang bagus Pilihlah sesuai dengan cita-cita kita (aduh jleb banget) . Jika kita melakukannya dengan tepat, maka kita tidak akan merasa lelah karena ini adalah ikhtiar untuk mencapai apa yang kita cita-citakan."

Mbak Birrul sendiri menyarankan kita untuk melakukan trik lama namun manjur. Apa triknya? Tulis mimpi-mimpi, cita-cita kita. Kemudian tempel di dinding kamar. Tambah lagi tulis di post it dan tempel di laptop. Atau bisa juga tulis di sticky notes. Tulis di cover buku tulis. Tulis di cover binder. Biar kita ingat.

Tulis target-target dengan jelas. Mbak Birrul sendiri punya track hidup yang jelas. Setiap tahunnya ia punya suatu goal besar seperti ini :
Tahun pertama tahun organisasi, tahun kedua prestasi, tahun ketiga skripsi, tahun keempat luar negeri. Sekarang beliau sedang proses menyelesaikan skripsinya. Doakan yuuuk :) !

Kemudian setelah kita tulis target-target itu, maka selanjutnya kita harus berpikir positif dan husnuzon pada Allah. Dilengkapi kerja keras dong ya pastinya. Mbak Birrul pernah stress? Pernah. Down? Pernah juga. Manusiawi kok. Mbak Birrul sendiri kalau lagi stress biasanya nulis. Nulis bisa mencurahkan stress, katanya. Nanti setelah itu Mbak Birrul langsung nulis taget-target dan rencana lagi. Biar semangatnya kepompa terus. Aduuuuh, kalau kalian denger, ketemu, dan dengerin materinya langsung dari Mbak Birrul, kalian akan tercengang-cengang liat Mbak Birrul yang super enerjik! Mbak Birrul sendiri cerita kalau kadang yang ditulisnya itu gini : "Mau ngalahin si X(nama orang)". Jadi ya rincinya itu bener-bener sampe ke nama orang aja disebut. Ckckck... "Kita punya target besar capaian kita selama hidup. Kemudian setiap tahunnya juga kita punya rencana besar yang ingin dicapai pada tahun itu. Pikirkan cara-cara mencapainya. Kalau bisa tulis juga!"

Nah kalau masih stress, cari orang yang bisa memotivasi. Lebih pas lagi kalau orang yang kita ajak bicara atau curhat itu orang yang lebih stress dari kita namun dia bisa bangkit. Maka itulah pentingnya komunitas baik yang bisa mengingatkan kita. Ayo lingkari diri kita dengan komunitas yang baik^^.

Mungkin kesempatan cuma datang sekali. Dan kemudian kita menyesalinya jika ia terlewat atau kita kalah di perjuangan mendapatkannya. Betul kesempatan hanya ada sekali. Tapi masih ada yang lainnya. Ingat : ada yang lainnya. Mbak Birrul juga kadang-kadang gugup. Tapi Mbak Birrul tawakkal. Beliau cerita suatu ketika waktu lagi ikut lomba dan udah tinggal beberapa menit lah istilahnya sebelum lomba mulai. Orang-orang pada belajar, sibuk. Nah beliau bilang, kalau lagi gugup dan semua berambisi untuk menang, kadang orang lupa dengan siapa yang membuat peluang menang itu. Ingat itu, Mbak Birrul cuma diem, zikir, ngucap la haula sama doa Nabi Musa. Oh iya jadi inget, Mbak Birrul nyaranin kita punya bacaan rutin.Misal baca QS Al Mulk tiap pagi atau abis Maghrib(lupa), tapi saya jadi inget rutinitas temen-temen pas kelas XII yang rajin banget baca al ma'tsurat. Secara medis, punya bacaan rutin itu akan mengurangi kepikunan, lho :)

Hidup itu hanya sekali. Maka hidup harus direncanakan. Semua orang juga punya tujuan sama, yakni ke surga. Masalahnya adalah bagaimana kita mencapainya? Shalat tiap hari, ibadah rajin, belum tentu Allah ridha dengan amalan kita, bukan? Buat strategi yang jelas dan kuat pondasinya. Laksanakan! Raih ridha Allah!

--Inspirasi dan Motivasi dari Mbak Birrul Qodriyyah, Ilmu Keperawatan UGM 2010
kalo mau buka blognya bisa klik disini

*kalau ngeliat muslimah yang berprestasi keren kayak gini itu rasanya.... :")
--tunggu edisi SuperMotivasi selanjutnya ya :)! *padahal jarak kejadian nyatanya ngga ada 24 jam --a;
maaf ya kalau susunan tulisannya nggak rapi, alurnya aak aneh dan nggak jelas. Tapi semoga yang baca semua bisa dapet intinya, manfaatnya, dan semangatnya, bahkan syukur-syukur disampaikan juga ke orang lain. Semangat berbagi dan menebar kebaikan :) !
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS