Tampilkan postingan dengan label perasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perasaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Juni 2019

Kebaikan dari Hal-hal yang Mulanya Mengganjal

Jumat lalu, menyadari beberapa hal yang (mulanya) terasa mengganjal. Sangat mengganjal.
Lalu butuh tiga hari sampai Senin sepulang bekerja menyadari, bahwa hal-hal yang mulanya terasa tidak menyenangkan sejak Jumat malam adalah justru kebaikan hati Allah mewujudkan doa-doa untuk keselamatan dan kebaikan hati sendiri.

Allahu yarham.

Kadang sebegitu halusnya kasih sayang Allah sampai diri ini merasa beberapa hal yang mengganjal hanya memperunyam keadaan dan membuat beragam asumsi. Terlepas dari hal-hal yang terjadi setelahnya. Padahal, hanya hati yang perlu lebih peka untuk mensyukuri tiap senti kejadian yang Allah berikan, untuk dicari kebaikan apa yang tersembunyi di baliknya. Serta upaya setiap orang untuk tidak memperkeruh keadaaan, menjaga perasaan diri dan orang lain. Agar jika sedang keruh tidak memperkeruh yang lainnya. Karena sebagaimana bahagia yang menular, kondisi hati yang tidak baik pun juga.

Jadi, mari kita saling menularkan kebahagiaan saja :)
Dan juga, menjaga diri tentunya. Semoga Allah jaga. Semoga itu upaya tiap-tiap orang.

Senin, 13 Mei 2019

Percaya dan Yakin

Sabtu lalu siang-siang, seseorang bertanya sesuatu. Jawabannya sudah kusiapkan lama, meski ragu kusampaikan. Tapi akhirnya aku ketik juga.
Lalu waktu ragu-ragu kukirim, aku memilih diksi. Yakin atau percaya, percaya atau yakin ? Ah, keduanya sama kan? Atau beda? Atau sama?
Haha, repot banget aku emang sama term tu.
Tapi aku akhirnya piih kata percaya, karena dulu pun sudah pernah kutulis. Di sini.

Pesan terkirim, tidak ada respon tentang jawaban itu rupanya. Aku tidak tahu apakah seluruh perasaan(atau kalo jadi mikir aneh-aneh, pake term energi aja ya-seluruh energi)ku yang terwakili pada kata-kata itu, yang lama kupikirkan jawabannya ketika suatu hari aku berpikir, nanti kalau ditanya jawab apa ya-lalu aku memikirkan jawaban, sampai atau tidak sebagaimana aku merasakannya.

Tidak, tidak apa-apa. Tidak sampai pun yasudah tidak apa-apa. Mungkin nanti ada sendiri waktunya.
:)


Kamis, 28 Maret 2019

Nggak Mungkin

"Nggak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Nggak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan kalau kalian mencintai seseorang, atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu nggak mungkin.

Bukan hanya nggak mungkin. Bahkan Allah mengancam, dengan sebuah ancaman. Fatarabbasu. Hati-hati kalian, kata Allah. Artinya nggak boleh, seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk. Itu nggak boleh.

Kalau dia mencintai makhluk. Harus karena Allah. Kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah, Allah bilang fatarabbasu, hati-hati.

Kenapa kita nggak berani bertaruh untuk Allah. Ini masa depan nih saya pertaruhkan nih. Kalau saya nggak pacaran apakah saya tetap akan bisa menikah? 

Taruh aja pertaruhannya pada Allah. Allah bilang, siapa yang istiqomah, Kami tolong dia.
Duh, kalau saya putusin, ntar dia sama yang lain, gimana ya?

Nggak usah khawatir, udah aja pertaruhkan masa depan kita sama Allah. Nanti kita akan bilang, untung dulu saya putusin."

-Ust. Hanan Attaki
Tau saya dapat kata-kata ini dari mana?
push notif Yawme ke oase, artikelnya sebenarnya tentang empat perkara yang akan ditanya
lalu di bawah ada sumber ig yang bikin desainnya, saya buka, eh lalu lihat postingannya salahs satunya ada ini.

Sebenernya jarang-jarang klik push notif aplikasi. Tapi ya kayak it's all by designed gitu. Semoga jadi pengingat diri :)


Minggu, 23 Desember 2018

Ada Allah Tempat Bertanya

untuk semua kecamuk, 
ada Allah tempat bertanya




Jumat, 21122018
pom bensin perjalanan pulang
usai merasa banyak loncatan 
di perasaan karena ketidakstabilan diri
seperti pernah terjadi, dahulu .

Minggu, 07 Agustus 2016

Cinta Karena Allah

"Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti."
.
.
.
"Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain."
***

Sejujurnya saya cukup tertegun mendengarnya. Terutama yang tentang cinta karena Allah.
mendengar-mencatat-membaca-mengulang-berpikir.

Kadang hal kayak gini Allah datengin tepat pada waktunya.

Bukan soal sayanya (wkwkwk). Belakangan saya dapat cerita baik yang curhat maupun yang ngebantuin prosesnya orang. Ada curahatan temen yang saya salut banget, dihubungin terus sama kakak tingkat. Temen saya lagi berusaha keras menghindar, setelah dulu sempat dekat. Keduanya, uh saya tau banget aktif di mana ekstra kampusnya yang juga erat dengan aktivitas Islam-meski saya gapernah interaksi langsung sama kakaknya, tapi namanya cukup sering saya dengar-mungkin karena temen saya ini sering nyebut nama itu, baik sadar maupun tidak sadar, dalam cerita-ceritanya. Yah seaktivis Islam apa juga belum bisa menjamin bagaimana bersikap. Yatapi, kalo aktivis yang erat ama Islam aja masih bisa kegoda, apalagi yang belum banyak belajar Islam #hiks #ayobelajarislamlebihbanyak

Ada kisah proses, yang saya dengar lewat seorang kakak. Betapa si perempuan, begitu ada yang tertarik, langsung menghubungi orang yang bisa dijadikan perantara untuk membantu. Sebisa mungkin pengen terjaga. Dari ceritanya, prosesnya rumit. Apalagi ada latar belakang budaya si lelaki yang mengharuskan keribetan itu ada-bahkan untuk acc-nya. Tapi kalau jodoh-katanya sih-pasti Allah permudah. Meski tentu, cobaan itu ada.

Juga cerita lain yang sempat saya perhatikan, kisah orang yang saya cermati, juga cerita via LINE yang bisa menghabiskan tiga jam, yang kesemuanya, kadang suka sadar nggak sadar, akan merefleksikan juga pada diri saya sendiri-dan apa yang saya lihat dan saya maknai .

Terus saya denger kata-kata di atas pas kajian di Masjid LPP sebelah XXI. Kajian reramai yang diisi Ust. Felix Siauw, khusus ngomongin cinta, meski sebelumnya ngomongin dulu hijrah Islamnya karena ini berhubungan sama orang yang menjadi pacar beliau sebelum dan bahkan sampai masuk Islam, hingga apa yang terjadi sesudahnya. Di mana sebelum saya kesana, saya ngobrol sama orang, sayanya cerita apa, eh lawan bicara saya entah kenapa ngomongin ikhtilat.

Kadang saya ngerasa mestakung, ginian mah. Selain yang saya omongin soal obrolan temen tentang ikhtilat. Seluruh cerita yang saya dengar dan amati sebelumnya adalah kisah yang saya dengar literally seminggu belakangan. Entah kenapa bisa pas terjadinya sekarang-sekarang ini banget. Juga galau-galau yang soon to be alay di masa depan yang sempat dirasakan akhir-akhir ini, termasuk kebimbangan saya melakukan sesuatu.

Dulu pas saya denger cinta karena Allah, saya hanya berpikir bahwa itu adalah cinta pada seseorang yang (1)kita mencintai dia karena akhlaknya mengingatkan pada Allah dan (2)ia adalah seseorang yang bisa meningkatkan cinta kita juga ke Allah.

Barangkali itu bisa benar. Tapi terus saya merasa makin kaya dan sempurna pahamnya ketika dengar pengertian ini :
Cinta karena Allah adalah ketika kamu mencintai Allah dulu dibandingkan yang lain. Ketika mencintai Allah sudah jauh lebih lama dibandingkan yang lain. Menjadikannya prioritas utama dibandingkan yang lain.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu mencintai Allah dulu.
Artinya segala yang kamu lakukan, kamu timbang-timbang dengan matang : itu diridhain Allah nggak ya? Segala ah-nggak-papa, ah-kan-gini-doang, yaelah-ama-yang-lain-juga-gitu-kali itu apa emang udah verified diridhai Allah? #terusmenghelanafaspanjang. Perlakuan yang sama ke banyak orang aja belum tentu Allah ridha. Pada akhirnya emang hal ini menuntut kita buat tau dan mau gak mau harus belajar lagi soal apa aja yang boleh dan engga, dalam segala lini kehidupan.

Cinta karena Allah adalah cinta yang kamu sudah lebih lama mencintai Allah dibandingkan yang lain.
Jadi, sepanjang sejarah hidup kita ini, apakah kita sudah lebih lama cinta sama Allah? Iya gitu? Atuh pede banget. Seberapa banyak kemudian alokasi waktu yang terbuang untuk berinteraksi, mengingat, mengkepo, dan lain sebagainya kalau dibandingkan sama ibadah (dalam artian luas, ya-termasuk menjalankan amanah, menuntut ilmu, dst.).

Cinta karena Allah adalah ketika kamu sudah memprioritaskan Allah.
Yakinkah sudah bisa memprioritaskan Allah dengan usaha maksimal? Seberapa sering nggak menyegerakan shalat? Seberapa sering menolerir diri sendiri dan berpikir dua kali dalam melakukan amal kebaikan?

Itu susah? Jelas. Soalnya ngelawan nafsu. Soalnya ngelawan tren. Soalnya ngelawan kenyamanan. Soalnya ngelawan naluri, karena kecenderungan pada lawan jenis itu fitrah. Tapi Allah punya aturan tuh. Tugas kita sebagai orang yang yakin sama Allah dan Islam, ya ngejalanin aturannya.
.
Soalnya butuh tekad keras buat bisa konsisten.
Soalnya butuh membiasakan.
Soalnya butuh melawan kebiasaan sebelumnya :".
Soalnya, seperti kalimat pertamanya : Rasa sayang itu harusnya membuat kamu tidak rela orang yang kamu sayang masuk neraka. Karena sayang itu, peduli sekarang dan nanti.

*yang masih banyak belajar. mohon ingatkan kalau saya lalai.
duh, ini mah tamparan juga kok buat saya.
kalimat-kalimat tadi btw menjawab kebingungan atas keinginan plus minus beberapa hari sekitaran hari ini euy.
.
semuanya, biar melangit saja :")
karena yang mencintai Allah, akan saling mencintai dengan standar yang sama, yang akan mengembalikan dan memasrahkan seluruhnya padaNya.

Dari Anas radhiyallahu ’anhu , Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
“Tiga perkara yang membuat seseorang akan mendapatkan manisnya iman yaitu: Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya; mencintai saudaranya hanya karena Allah; dan benci kembali pada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan dalam api.”(HR Bukhari dan Muslim)

Selasa, 01 Maret 2016

Senin, 04 Januari 2016

24.28

24-28 adalah hari-hari pembelajaran. Tentang mengenal diri, mengidentifikasi apa yang terjadi, mentraining diri sendiri, sampai pada mendapat hal-hal yang tidak di sangka untuk pembelajaran diri.

*ini bikin sendiri tapi pake app :P

tentu saja, saya tidak akan gamblang bercerita soal apa yang terjadi. tapi barangkali kamu tahu. Saya tercenung dengan kata-kata yang disampaikan saat kajian pada tanggal 28. Kemenangan adalah tentang kesabaran-kesabaran kita di dalam ketaatan. Sejauh apa saya menahan diri selama ini dan seberapa level sabar yang saya lakukan sehingga terus saya jaga agar selalu dalam ketaatan? Ah, saya malu sama Allah. Betapa barangkali saya kurang berserah diri sama Allah kalau masih takut sama hal-hal yang seolah pada akhirnya membuat saya melanggar hal-hal yang sebenarnya justru tidak baik untuk dilakukan. Kalo udah di titik kayak gini, rasanya pengen nangis dan mengadu soalnya merasa nggak pantes banget di hadapan Allah. 

ini tulisan sebelum kajian itu berlangsung sih. hari sebelumnya atau dua hari sebelumnya malah. Tujuan yang baik harus diperoleh dengan cara yang baik. Kadang manusia emang banyak godaanya ya. Tapi emang harus gitu kali ya soalnya balasannya Surga, bukan cuma doorprize kipas angin. Kalo kata seorang kakak beberapa hari lalu, "Ya kita kan hidup emang diuji. Kalau nggak diuji, kita malah harusnya waswas dong ujian apa di depan yang akan menimpa kita. Jangan-jangan malah lebih besar ujiannya." Ah, kadang untuk beberapa case pengen saya sebutin. Tapi barangkali tidak sekarang :")

gambar via ini

Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Kalimat juga yang kembaali diingatkan ketika kajian tanggal 28. Cukuplah Allah sebagai penolong. Saya ulang-ulang kalimat itu di dalam hati biar tertanam, biar saya benar-benar sepenuhnya berharap hanya sama Allah, bukan sama manusia. Biar kalau pada akhirnya ada yang saya inginkan tidak Allah beri, saya bisa ikhlas dan berhusnudzan, walaupun harus saya akui bahwa detik ini, saya pun takut terhadap sesuatu itu. Kesabaran dalam ketaatan tidak akan mencipta memori yang saya takut suatu hari nanti malah jadi bumerang bagi diri sendiri-kalau ada hal-hal yang saya harapkan tidak terwujud-ternyata bukan Allah takdirkan untuk saya :"

ah, bingungin ya ? Ada hal-hal di masa depan yang kita takuti, barangkali. kuncinya, pasrahin semua ke Allah sambil teruss usaha lakukan perbaikan diri :" biar kita pantes di mata Allah.

latepost, tapi semoga tulisan ini bisa jadi benteng diri :")
sampai jumpa, masa depan!

note : terima kasih untuk segala hal pembelajaran (dan juga doa) yang saya dapat dari banyak pihak dari tanggal 24-28 ;)
/kalau merasa :"")/

Jumat, 25 Desember 2015

Matamu .

Tapi matamu, Fit.
Matamu penuh rindu.

-seseorang, semalam. saya tertegun membacanya. terbaca-kah?


Rabu, 29 April 2015

Aku Ingin


Aku ingin beretorika, tapi aku takut kamu mengira.
Aku ingin bicara, tapi aku takut kita berbeda.
Aku ingin bercerita, tapi aku takut kamu tidak turut merasa.
Aku ingin juga, tapi aku takut pikirku tak bisa kamu baca.

Aku ingin tenggelam, tapi takut di permukaan
Karena kolam yang kalian selam agak berbeda tepian dengan yang aku inginkan
Aku ingin masuk, sekalipun terpaksa jatuh ke dalam
Tapi di pintu saja aku bergeming, diam, dan ragu mengambil langkah panjang

Perasaanku meledak, tentu saja
Aku bahagia, tapi iri juga
Aku bahagia, tapi takut juga
Aku bahagia, tapi bertanya lagi pada diri sendiri juga
Agaknya aku belum mengenal diriku
Agaknya aku belum bisa sabar
Dan agaknya aku belum isa menempatkan segala ruas tujuan pada jalurnya

Aku takut :"

Aku ingin beretorika, tapi aku takut kamu mengira.

Aku ingin beretorika, tapi aku takut kamu mengira.

Aku ingin beretorika, tapi aku takut kamu mengira.

Belum bisakah kita bicara?
Lab Sistem Cerdas, 29 April 2015, 12:44
aku sayang kalian :')

gambar dari sini

Sabtu, 06 Desember 2014

Toko Buku (Lagi)


Hari ini, aku baru menyadari : entah sudah berapa kali aku eprgi ke toko buku tanpa membeli buku apapun.
Dan kemudian tanpa sadar perasaan-perasaan itu membuncah. Hadir. Aku jadi berpikir pergi ke toko buku semacam upaya menghadirkan perasaan-perasaan itu lagi. Entahlah, aku tidak pernah secara sadar memikirkannya. Dan tidak pernah secara sadar perasaan itu terlintas di benakku.

Hari ini aku pergi ke toko buku dengan rencana untuk membeli. Buku apa biar kupikirkan nanti sesampai di sana. Bukan pilihan yang bijak sebenarnya karena aku tahu aku masih punya stok buku yang belum dibaca di box bawah ranjangku di asrama.

Tapi sampai sana. Entah, seluruh perasaan itu lenyap seketika. Padahal aku mengantongi voucher pemberian Fahri. Voucher seratus ribu. Maka bukan karena tidak ada uang atau harga buku yang ingin kubeli terlalu mahal untuk kujangkau karena adanya voucher itu.

Entahlah. Entahlah. Entahlah.

Aku memikirkan banyak hal : yang tiba-tiba bermunculan di kepala.

harga buku mahal sekali, ya

buku ini desainnya bagus

buku ini menarik

wah ini buku Rene Suhardono yang waktu itu ngisi seminar Kompas di UGM!

Buku Ollie yang itu belum ada ya? Masih 0 stoknya…

Seri buku Why…. Wah yang ini temanya menarik! Ah, satu saja harganya tujuh puluh lima ribu. Kapan aku bisa beli seluruh setnya?

eh ini buku yang popular dulu di asrama. Belum baca sampe sekarang L kapan ya bisa baca…

aaaah pengen beli serial supernovanya Dee yang masih kover lama. Ah Fit, buku yang sekarang aja masih banyak yang belum dibaca!

eh ini ada 99 Cahaya cover lama. Coba dulu Abi beli di sini, bukan cover film itu yang nantinya ada di rumah.

Waaaa ini buku cerita karyawan Microsoft yang mendirikan Room to Read. Aku baru tahu kalau pendiri Room to Read itu awalnya karyawan Microsoft. Amazing sekali dia memberantas buta aksara di belahan dunia *mupeng pengen beli*

Buku biografi Steve Jobs masih segini harganya. Dulu Arum pernah punya dan bikin pengen baca. Eh tapi kayanya kemarin di Toko Mizan yang di penerbit Bentang ada duadua serinya.

Wah ini buku biografi Hatta satu set sampai tiga buku *habis kagum gara-gara DT nonton MataNajwa tentang Hatta*

Aaaaah ada buku tentang Habibie yang warna-warni *tertarik*

Ah, kapan bisa beli dan disiplin baca banyak buku kayak gitu ya… L
.
.
.
Saya rindu zaman SD di mana saya sering sekali meluangkan waktu untuk baca buku…
.
.
.
Saya ingin jadi penulis
.
Dan untuk jadipenulis harus banyak baca. Saya tahu itu. Ahaha, baca Fit. Baca yang banyak. Liat tuh Kiki. Liat tuh Ditta. Lihat wawasan Mas “Multitalented” Dhama. Contoh Bang Bahtiar. Lihat tuh Andwi dengan bacaan 25 buku dan karyanya yang nyastra. Berguru sama anak-anak sastra. Masih ngimpi jadi penulis kalo bacaan cuma segini?

Mbak Arkandini bilang, kangen kan sama era Helvy Tiana Rosa dan Asma Nadia kala sastra islami tumbuh dan sedang pada puncak-puncaknya?

Belajar Fit. Kamu sudah banyak ketinggalan.

:”

ditulis di Rumah Cahaya, 
dengan banyak buncahan selepas dari Toko Buku dan Perpus Kota Jogja
pukul empat sore entah lebih berapa

Selasa, 11 Maret 2014

Kebetulan

Orang bijak bilang dalam hidup tidak ada yang kebetulan. Semua adalah rencana Tuhan. Aku percaya sampai suatu ketika aku duduk termenung dan memikirkan.

Apakah benar tidak ada hal yang merupakan kebetulan? Tiba-tba aku jadi berpikir bagaimana kalau pernyataan itu punya prasyarat. Dan entah mengapa, aku kemudian meyakini bahwa dalam hidup ada syarat yang membuatku memercayai adanya kebetulan.

Apakah pertemuan tak disengaja, kesamaan yang tak disengaja-bahkan pada waktu yang sama, dan hal-hal lain yang tidak disengaja bukan merupakan kebetulan? Jika memang semua rencana Tuhan, lalu apa maksudnya? a-p-a-m-a-k-s-u-d-n-y-a?

Kemudian aku memaksa diri bahwa aku memang harus memercayai kebetulan. Agar langit-langitku tidak usah menampung tanya akan hal yang terlalu ingin aku ketahui alasannya pada Tuhan. Agar aku tidak kembali belajar mengeja hal yang memang masih belum jelas terbaca. Agar aku tidak usah terus-terusan menebak-nebak maksud Tuhan.

Agar aku bisa membiarkannya sebagai angin lalu : ketidaksengajaan yang memang tercipta hanya untuk sejenak disapa. Lalu tak usah ditebak-tebak apa maksudNya. Agar kehidupan dapat kembali berjalan sepertimana seharusnya.

Senin, 20 Januari 2014

Aku Suka Saat Kamu Tersenyum :')

私はあなたの笑顔が大好きです 
Watashi wa anatanoegao ga daisukidesu 
"Aku suka saat kamu tersenyum" 
*ah, inget banyak-atu (sesuatu yang banyak, ceritanya :P)

Senin, 25 November 2013

Selasa, 12 November 2013

Kutipan : Haru BIru Hati Fatimah

Kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita. Tinggal kita memilih jalan mana yang akan kelak kita lalui. Engkau Ali, aku jatuh hati padamu sedari dulu. Namun sebelum itu aku telah mencintai Allah lebih dari apapun. Aku percaya, bahwa apa yang Allah rencanakan untukku adalah yang terbaik. Aku Fatimah, memang jatuh hati padamu, berkali-kali, namun izinkan aku untuk selalu mengheningkannya. Hingga kelak, biarlah Allah yang menyampaikannya kepada hati yang tepat. Entah engkau, entah siapa.   
-Haru Biru Hati Fatimah 

via http://akhwatodongsolihah.blogspot.com/2013/02/tentang-mengheningkan-cinta.html#more

Kamis, 10 Oktober 2013

Perkara Paling Sweet :)

Nggak ngerti kenapa adek kelas (S)MAN pada ngashare ginian, terus dalam suatu chat saya juga disuruh ngeshare. Dan karena nggak mau menstrim *dan takut dikiralagi galau padahal engga* , di share disini aja lah. Bagus kontennya soalnya :)


hayoloh, jangan jadi galau #eaaaaa :P 

“Tidaklah berdoa seorang muslim terhadap saudaranya secara ghaib (tanpa diketahui oleh saudaranya itu) melainkan akan berkatalah para malaikat, engkau juga beroleh yang seumpama dengannya.” (HR. Muslim)
Yuk, doain banyak orang. Jangan cuma 'dianya' aja #eh#eh#eh. *peace ^^v*


-diambil dari sini

Tahu Diri (Lagi)

Masih ingat postingan saya tentang Tahu Diri? Kemarin saya buka Blognya Kak Himsa, tentang tahu diri juga.


Ah, Kak Himsa ngerti banget tentang definisi tahu diri yang ini. Aku tahu apa yang didefinisikan disini. Tahu banget :" Mungkin ya...karena pernah ngerasain juga;

Kamis, 19 September 2013

Apa Kabar Hati?


uuuuh, apa kabar hati? apa kabar hati? apa kabar hati?




gambar dapet dari sini yang katanya ngambil dari sini bisa juga dilihat di sini

Rabu, 04 September 2013

Senin yang Sama

"Tanpa disadari, rupa-rupanya Senin ini sama dengan Senin beberapa waktu lalu. Lokasi yang sama, pada masing-masing kita. Dan setidaknya, masih hati yang sama, pada posisiku. Bedanya apa? Hahaha, sebenarnya kalimat ini yang lebih banyak jawabannya, bukan?"

Begitulah orang-orang yang sibuk dengan urusan hati mereka, Tania. Ada yang lebih penting untuk dipikirkan. Banyak, sungguh banyak. Urusan sepele berakibat besar ini lebih baik kau serahkan saja pada yang Kuasa. Titipkan padanya, biar Ia yang mengaturnya. Kadang, ada hal yang tak perlu rusuh kita urusi saat ini. Biarkan saja doa-doa itu terus terucap, sesekali air mata boleh turun juga--meski kita sama-sama tahu, penyebabnya masih saja hal sepele-. Tapi lebih penting lagi, yang Berkehendak tahu mana yang baik. Bagimu, baginya.
Setidaknya sedikit kabar-tidak-langsung-itu membuatmu sedikit lega, bukan?

--Depok, masih saja disana.

::Buat Tania, yang masih tercengang tentang bagaimana Depok membuatnya bertemu realita yang mirip untuk kedua kalinya; bagaimana Tuhan mengaturnya menjadi seperti itu; membuatnya ingat.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Prasangka (terhadap) Perasaan

"Semoga rahasia perasaan ini sampai pada jawabannya..."
--twit Maryam hari ini, dimention ke saya.

Pikiran saya segera melayang pada sms kami beberapa minggu lalu. Berbicara tentang perasaan selalu menarik, bukan? Mengidentifikasinya satu-satu, membicarakannya berlama-lama. Menebak-nebak, apa yang sesungguhnya terjadi pada diri kita. Dan Maryam selalu menjadi teman yang menyenangkan ketika sama-sama membahasnya. Ah, tentang mendefinisikan perasaan, saya jadi ingat tulisan ini.

Fit, perasaan suka itu banyak prasangkanya ya. Tapi menurutku, perasaan jadi menarik karena prasangka itu. Iya gak Fit? Menurutmu gimana?

Kalimat itu mengawali sms-an kami beberapa minggu yang lalu itu. Kalimat yang cukup mengagetkan sebenarnya. Kenapa nih Maryam tiba-tiba ngomong begini? Tapi mungkin saya sama saja dengan dia. Terkadang, terinspirasi, hanya mendengar, atau terlintas beberapa kalimat atau bahkan sekadar beberapa kata yang menarik untuk didiskusikan selalu membuat kita gatal untuk membaginya pada teman, bukan?

Prasangka dan perasaan. Dua hal yang sebenarnya dekat. Orang-orang yang memiliki perasaan (you know what the context lah :P) seringkali berprasangka, bukan? Nah, jeleknya adalah prasangka kadang membuat seseorang terbang dengan prasangkanya sendiri. Padahal bisa jadi apa yang ditebak-tebak jauh dengan kenyataannya. Dan terlalu banyak berprasangka bisa jadi malah melenakan : membuang waktu dengan hal-hal yang sesungguhnya terlalu remeh untuk kita pikirkan. Lagi-lagi perasaan saja yang membuat prasangka itu seolah penting untuk dipikirkan. Ada yang lebih berhak dipikirkan, padahal :)

Gatau random mikir gitu, hehe. Tapi coba kalau kamu suka sama orang, terus bilang aja gitu gapake rahasia2an, trs dianya jg. Kan jd gaseru*lah hehe.
Karena perasaan suka sama orang itu jadi menarik ketika ada prasangka2, pertanyaan2 di benak. Ya ga sh?
Tp emg kdg ada hal2 yg kt ga bs ketahui kan? Seperti perasaan manusia.

Maryam benar. Bagi orang-orang yang memahami dengan baik konsep perasaan ini-atau setidaknya sedang belajar menuju arah sana : memahami urusan perasaan dengan sederhana diliputi pemahaman-pemahaman baik yang ada pada jalurNya, menyatakan perasaan bukanlah pilihan. Apa yang bisa didapat dengan menyatakan suka? Setelah bilang, lantas apa? Kelompok ini tidak akan memilih jalan pacaran sebelum menikah. Karena janji Allah adalah semua akan mendapat yang setara : baik untuk baik, dan buruk untuk buruk. Walaupun-kami juga membahasnya dalam alur sms kami- pasti ada juga orang-orang yang meminta dipasangkan dengan seseorang. Ah, tiba-tiba saya jadi ingat percakapan lainnya dengan seorang sahabat tentang hal ini, tentang memaknai firman ini dengan pemaknaan yang salah(akan saya pos di tulisan lain). Janji itulah yang ajaibnya membuat seseorang terus berusaha memantaskan diri untuk seseorang yang dipersiapkan Allah kelak.

Kemudian pembicaraan kami malah berujung pada betapa masih jauh dari siapnya kita buat ke arah sana. Ya iya juga sih, wajar, umur kita juga rasa-rasanya belum memadai Tapi kalau denger cerita orang yang udah berani ngambil jalan menikah-apalagi yang masih muda- itu rasanya jadi pelecut diri sendiri. Umur segini udah bisa ngapain coba? Setidak-tidaknya berbicara persiapan adalah berbicara soal akhirat juga. Sekalipun misalnya, cuma sekadar baca buku-buku sirah nabi maupun sahabat-sahabat beliau maupun para shahabiyahnya. Begitu banyak yang bisa diteladani dari beliau-beliau, bukan?
Karena bicara jodoh adalah bicara hal yang jauh : akhirat, surga, ridha Allah. Bukan semata-mata dunia.
Kalimat ini saya dapet dari sini. Subhanallah banget kata-katanya :)

Wah, kenapa malah jadi bicara menikah? Melenceng sedikit dari masalah prasangka terhadap perasaan nggak papa ya :) Semoga tetap bisa diambil hikmahnya :)

btw, dear Maryam Zakiyyah, suatu saat nanti kita akan merindukan percakapan-percakapan macam ini lagi :")

Minggu, 25 Agustus 2013

Menjaga :)

"Bukan berarti menjauh, tapi menjaga jarak. Bukan berarti tidak suka, tapi menjaga hati. Bukan berarti tidak memberi alasan, tapi menjaga lisan. Bukan berarti tidak peduli, tapi mencoba yang terbaik."
--desktop laptopnya Kiki-Tadzkia Nurshafira :")