Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Februari 2026

A Little Note: Allah's Mercy


Feeling exhausted and desperate at the same time since my test result has been released. All my hope and confidence felt just like fading away. It is a hard time for me. 

I just continuing this first episode from the series The Name I Need from Omar Suleiman and can not hold back my tears. I am sobbing many times. 
How could I create a gap between Allah's rahman and rahiim toward myself? How can I not feel it that way? Ya Allah, Irhamni...rahmatilah aku...
===

Ya Rahman, from Your throne You wrote mercy upon yourself, You were merciful before there was anyone to receive mercy. Embrace every part of me with that mercy, my past with its scars, my present with its needs and my future with its uncertainty. 

Ya Raheem, let me taste the mercy You keep for those who return, reward me with the mercy I have yet to know and raise me to the highest place in Paradise despite my lows. 

Ya Ra’uf. Cover me from storms I don’t see coming. Mend me before I break. Spare me from trials of every kind. Let Your mercy reach me in ways I’ll only understand when I finally meet you.

 

Rabu, 16 Januari 2019

Bergantung (2)

Waktu Itu Abidah cerita, "Fit, kalau aku mau punya anak lima, suami aku mau nggak ya, ngebiayain 5 anak? Sekolah, (disebut hal-ha pengeluaran selain sekolah, yang sekarang kusudah lupa apa saja itemnya)."
Aku, juga pengen punya anak lima, wkwkwk. Aku lupa waktu itu aku bilang apa, tapi sepertinya kurang lebih begini (setelah aku juga mengatakan ingin punya anak lima). "Kalau percaya sama rezekinya Allah, kalau persoalannya ngebiayain (bukan kesehatan atau faktor yang lain), mestinya sih nggak keberatan Bid."

Lalu kami tertawa bersama.

Aku lalu cerita tentang Rias. Jadi Rias ini adik kelas ketemu di FLP. Angkatan 2013 yang sudah meniqa tengah tahun kemarin (eh Rias anak purwokerto aku jadi inget Hannan). Waktu itu aku baca blognya di sini. Ceritanya adalah ketika ia dan suaminya ke dokter kandungan untuk USG calon bayi mereka. Lalu Rias ini merasa bersalah karena biayanya ternyata lumayan. Tapi suaminya menenangkan dia dengan bilang bahwa itu rezekinya si calon anak, bukan milik Rias atau suaminya.
.
Ini sederhana, tapi bener juga.

Aku juga jadi ingat, kemarin seorang teman posting biaya TK di Bintaro yang katanya didapet dari twitter, in total dua tahun biayanya perbandingan 4 TK semua di atas 40 juta. Terus dia bilang lagi, dia share itu di grup sma, ada yang bales; Takut ga bisa nyekolahin anak juga termasuk menghina Tuhan."

Satu setengah tahun lalu waktu aku cerita ke Faizah temenku Aliyah, waktu aku takut cemas dan khawatir, dia bilang, Fit, kayak nggak punya Allah aja....

Jadi kepikir sama hal-hal yang menggelayuti pikiran. Ada Allah Fit, tenang saja. Kalau kata Ima, melanjutkan postingan sebelumnya, berdoa ke Allah tuh minta dititipi dan ditemani. Titipin masalahnya ke Allah sama minta Allah temenin diri ini melewati masalahnya.

Atas semua hal, ada hal yang nggak bisa Allah lakukan. Ialah mengingkari janji. Allah nggak mungkin mengingkari janjiNya. Maka, kalau rezeki itu adalah janji Allah. Tugas manusia tinggal percaya, sambil menjemputnya dengan usaha-usaha terbaik dalam koridor syara'

Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal mawla wa ni'man nashir

*quote mirip-mirip pernah saya pos di sini

seri bergantung -3 antara tentang skripsi atau nyampur dikit sama obrolan film searching ya

Senin, 09 Juli 2018

Berharap Mushala, Diberi Masjid

Waktu itu Kamis. Pagi menjelang siang, saya ingin sekali di kantor ada mushala. Ingin menyendiri. Meresap dan mencerna baik-baik segala yang terngiang dan memenuhi kepala. Mencari tenang. Aih, kadang perasaan seperti ini munculnya bisa tiba-tiba, ya. Padahal waktu berangkat baik-baik saja.

Tidak sampai dua puluh empat jam, Allah lebih dari cukup mengabulkan doa saya. Saya diberiNya masjid. Juga seorang teman untuk saling bercerita pada jeda yang cukup. Membuat memori masa-masa asrama dan berdiam di masjid menguar dekat sekali. Rindu. Sayang, tidak sempat merekam langit-langit masjid dalam lembaran foto. Waktu menjadi terlalu berharga untuk dijeda barang sebentar.

Di perjalanan pulang saya tercekat, sungguh dekat sekali Allah mengabulkan doa. Lalu tercenung pada hal-hal yang masih saja saya ragu terhadapnya.

Padahal sampai Allah pertemukan saya pada pembicaraan di masjid, Allah juga beri aku hadiah-hadiah kecil. Pada sapaan tanya yang dibuka oleh seorang teman-yang mulanya saya insecure sekali terhadapnya. Pada obrolan kecil dengan teman-teman lainnya yang menyeling pekerjaan.

Ya Allah, aku minta maaf jika masih saja menggantungkan penyelesaian masalah pada langit-langit  hati sendiri. Mengira-ngira penyelesaian muncul dari diri sendiri. Sombong sekali, ya? Bukankah Engkau penggenggam segala hati, pun jua yang menggenggam hati orang-orang di sekitarku yang boleh jadi aku satu dua punya perasaan bersalah terhadapnya.

Ah, kalau sama Engkau saja aku masih ragu, maka siapa lagi yang bisa aku percaya?

Catatan Kamis, 5 Juli 2018
untuk segala pihak, terima-kasih
banyak sekali aktor skenario Allah untuk momen dan fase ini



Senin, 30 Juni 2014

Allah Mempertemukan Kita untuk...

“Allah mempertemukan untuk satu alasan. Entah untuk belajar atau mengajarkan. Entah hanya untuk sesaat atau untuk selamanya. Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya. Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik diwaktu tersebut. Lakukan dengan tulus. Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan. Tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan.
repost via tumblrnya masgun 
dan...liat ini itu jadi sempurna inget...viedo ini :"
bertahun-tahun mendatang bisa jadi tiba-tiba kangen, ya... :')

Selasa, 12 November 2013

Kutipan : Haru BIru Hati Fatimah

Kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita. Tinggal kita memilih jalan mana yang akan kelak kita lalui. Engkau Ali, aku jatuh hati padamu sedari dulu. Namun sebelum itu aku telah mencintai Allah lebih dari apapun. Aku percaya, bahwa apa yang Allah rencanakan untukku adalah yang terbaik. Aku Fatimah, memang jatuh hati padamu, berkali-kali, namun izinkan aku untuk selalu mengheningkannya. Hingga kelak, biarlah Allah yang menyampaikannya kepada hati yang tepat. Entah engkau, entah siapa.   
-Haru Biru Hati Fatimah 

via http://akhwatodongsolihah.blogspot.com/2013/02/tentang-mengheningkan-cinta.html#more