Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Oktober 2025

Tidurnya Ibuk

Aku melihat ibuku tertidur di waktu yang biasanya ia sibuk. Biasanya, waktu itu adalah masa beliau rapat. Lepas dari amanah yang membuatnya harus rapat, beliau mengurusi pernikahan adikku. Lepas nikahan adikku, masih harus urus bolak balik ke rumah sakit karena menantu barunya demam berdarah. 

Waktu kadang begitu jahat kepada para ibu. Meski kutahu mereka tak pernah berpikir begitu. Aku hanya coba saja mengetikkan diksi yang kupilih agar drmatisasinya lebih terasa. Karena kuyakin, seluruh waktu ibuku lebih banyak digunakan untuk memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. 

Demi melihat ibuku terlelap tanpa niat. Mendengkur pelan serupa melepas kelelahan. Aku terharu tanpa tepi. Hanya tidur siang sejenak di waktu yang hampir mustahil kusaksikan beberapa tahun terakhir, membuatku mengenang banyak hal yang sudah terjadi di perjalanan ini. Meski aku sering merutuk tersebab waktu luang yang sulit karena mengurus anak kecil, rupanya istirahat ibuku juga jarang menjelma nyata. 

Istirahat Ibu, tubuhmu membutuhkannya. Sejenak saja, bukan? 

Senin, 17 Februari 2025

Menerjemahkan, Buku, Narasi, Pengalaman, Orang Tua (Ah, Harus Kuberi Judul Apa?)

Ada satu celetukan adikku yang belakangan menerjemahkan novel lebih dari 200 halaman dari Bahasa Spanyol ke Bahasa Indonesia. "Yang penting dari menerjemahkan itu, bahasa Indonesianya harus bagus, Mbak," begitu katanya. Membuatku diam dan tercenung lama. Aku baru sadar loh pas itu. Oh bener juga ya, makanya nggak semudah itu bisa menerjemahkan Indo ke Inggris lantas bisa menerjemahkan INggris ke Indo, berlaku untuk semua bahasa lain aku rasa. 

Pengalamanku menerjemahkan buku masih bisa dihitung jari, dan terjadi tanpa rencana dan kepikiran sama sekali. Pertama kalinya dan sangat kusuka di 2022, menerjemahkan buku berima. Sekarang, saat melihat adikku menyelesaikan terjemahan novelnya, setelah sebelumnya menerjemahkan manual mobil, aku seperti melihat benang merah yang sama. 

Menerjemahkan buku berima tak lepas dari peran ayah yang begitu menyukai puisi sejak bangku sekolah. Aku terstimulus mendengar kata berakhiran sama, bukan dalam bentuk cerita. Sense-ku menyala begitu saja dengan keindahan rima. Coba-coba buat puisi ya tak pernah seserius ayah, walau ia bukan pujangga bak penyair yang sering kita lihat bukunya di gramedia atau dikutip berkali-kali lantaran sangat berkaitan dengan film legendaris yang setelah dua puluh tahun muncul lanjutannya. 

Secara latar belakang pendidikan, Ayah orang teknik, yang menyukai puisi. Aku sepenuh hati cinta Matematika, dan sesadar diri kurang diasah. Itu yang membuatku bulat masuk kuliah bidang eksakta, tapi rupanya hati terus mencari dunia kata. Adikku tak tertarik eksakta, dan mati-matian belajar di jurusa IPA. Namun demikian, bakatnya soal bahasa sudah terlihat sejak dulu kala. Dulu semasa TK, ia hafal Surah An Naba hanya bermodal dengar, belum bisa baca mushaf sepertinya. Kuliah bulat ambil sastra Arab, sebelum lulus menggeluti Spanyol, dan sampai hari ini konsisten dengan kelasnya, @ayobelajarspanyol. 

Kemarin waktu sesi bersama Teh Afi dan Teh Afi menyebut peran ayahnya dalam dunia literasi, aku juga mengingat abi dalam perjalananku, terutama menerjemahkan buku. Siapa sangka abi pernah membuat kamus penyair, ia mengumpulkan kata dan mengurutkannya dari huruf belakangnya, mempermudah untuk mencari rima. Ia juga bilang, sekarang ini kalah sama internet dan sebangsanya, tapi aku tetap mengingat kesukaannya terhadap puisi dan rima yang luar biasa, terwarisi dalam diriku. 

Abi dan Ummi adalah dua orang yang sejak aku kecil kutahu gemar menulis. Semasa sekolah ikut lomba menulis, gemar berkirim surat, bahkan mengirimi kedutaan besar surat untuk dapat informasi dari mereka. Kala itu Abi dan Ummi belum kenal internet. Namun, kurasa itu pula yang menyuntikku untuk mencoba menulis. Aku juga pernah mengirim surat untuk kedubes seperti mereka, tentu saja mereka yang mengompori. First pieceku adalah rubrik Korcil di Republika, bercerita pengalamanku menonton pengantin Betawi. Tentu saja peran Abi banyak di dalamnya. Kecintaanku terus berlanjut terhadap media cetak dan buku. Koran, majalah, buku, semua aku suka. Semasa sekolah, ada masa aku menyengaja menyempatkan sela waktu istirahatku untuk ke perpustakaan dan membaca di dalamnya, mengikuti cerita bersambung di majalah ibu-ibu, atau selalu membaca rubrik anak muda dan membuatku rada ngasal ngide untuk masuk ke dalamnya. Dan, lolos dua kali. Menyenangkan sekali. 

Aku tahu, pengalaman jurnalistikku rada kentang. Nanggung. Sekolah di asrama dengan akses yang tidak seperti sekarang tidak menjanjikan banyak peluang. Tapi, aku tetap senang dengan semua itu. Semasa kuliah hattrickku adalah masuk cerpen Republika. Tahu dari mana ide ceritanya? Curhatan Ummi tentang berita yang ia sampaikan via telepon. 

Kisah seputar dunia jurnalistik dan tulis menulis ini juga tak lepas dari pengalaman membaca yang terlalu mengesankan selama aku kecil, yang entah mengapa seperti tak mau kulepaskan seiring aku mendewasa. Harapanku, semoga Allah ridha dengan jalan ini, dan bisa selalu menjadi jalan kebaikan untuk banyak orang ke depannya, banyak anak-anak dan jiwa-jiwa kecil menjadi pribadi yang merdeka berpikir dan berimajinasi serta senantiasa bahagia. 

Ah, aku sedih belum banyak berterima kasih pada Ummi dan Abi. 

Tulisan ini lahir dari mengagumi keindahan narasi dari buku yang sedang kubaca. 


I imagine I could write as good as this one, menyenangkan sekali membaca buku nonfiksi dengan tulisan yang indah, dengan metafora yang disampaikan dengan cukup sekaligus indah, dan berima. 




Senin, 18 November 2024

Juggling

 Juggling with, juggling without. 

Afraid with, afraid without. 

All of this needs struggling, in many different forms.

Just keep faith in Allah's way.

##menahan diri enggak nyamper Kaisa huhu

Senin, 16 September 2024

Growing - Tumpahan Pikiran Sesore-Malam 15 Sept 2024

Her.

My daughter is growing. And also my heart. 

My mind discovers my past. Finding myself beneath all my struggle and sorrow. 

===

Sore ini Kaisa mengajakku main anak-anakan. Kaisa dengan anaknya, seekor oneka unicorn bernam Loli-Lolipop. Dan aku bersama Buci, boneka beruang wisuda punya tantenya. 

Aku memperhatikan bagaimana ia memperlakukan anaknya, dan menyadari bahwa itu semua bagaimana ia menyerap interaksi ibu-anak yang terjadi di antara kami. Hatiku terharu menyadari semua berlalu dengan begitu banyak hal membekas yang kadang tak disadari. Kerunyaman hari, ketidakstabilan emosi, parenting is so big thing for me. 

Aku melihat anakku memperlakukan anaknya dengan sangat baik, penuh kelembutan dan kasih sayang. Air mataku kutahan kuat-kuat. Anakku tumbuh, dan berkembang. Lalu aku merefleksi seluruh masa lalu yang kulewati bersamanya. Kusebut masa lalu padahal baru 4 tahun hidup bersamanya. Empat tahun yang mengubah dan memperjuangkan banyak hal-untuk tak bilang mengorbankan. Empat tahun aku berjuang beradaptasi dengan segala motherhood ini-dan begitu juga dengannya. Empat tahun yang menumbuhkannya sebagai seorang anak, sebagai seorang individu, sebagai seseorang yang mengetahui baik buruk versinya-versi keluarga kami, sebagai seseorang yang gaining knowledge dari interaksi harian kami. 

My daughter is growing. 

Aku mengingat fase-fase berat melewati adaptasi di awal menjalani peran sebagai ibu. Juga fase-fase berat saat ini yang kadang membayang. Bayangan yang tidak perlu dan melawan diri sendiri. Ah Nak. 

Cerdasmu, riangmu, celotehmu, kadang kutahu hal-hal itu kelak akan kurindukan. Sangat. Meski kadnag di saat yang sama pula aku tak berimbang membersamaimu. Aku melihatmu ingin meraih perhatianku dengan permainan tadi. Dengan cara dan strategi yang baru. Boneka-boneka itu merepresentasi perasaanmu, barangkali. Atau hanya tebakan dan cocoklogiku saja? Entahlah, siapa yang tahu. 

Hei Nak, kehidupan kadang berjalan tak menyenangkan dan tidak terasa menyenangkan. Ibu juga kadang menangis atau merasa tak nyaman karena suatu hal. Tak mudah, terus berjuang. Ah, apapun yang muncul di benak kutulis saja walau rasanya tak beraturan. 

Menyenangkan melihatmu tumbuh dengan kecintaan pada dua hal, buku atau membaca, dan menggambar. Merunut balik proses kita sampai di titik ini. Ah, entah bagaimana rasanya menggambarkan perasaanku. Kebanggaanmu menunjukkan buku demi buku di telepon, pertanyaan spontanmu, imajinasi yang kau tuangkan di atas kertas dengan definisimu sendiri. 

Aku mengingat hari-hari panjang di masa lalu ketika menyusui menjadi hal baru yang kadang membosankan. Ilmuku tahu menyusui sebaiknya dibersamai dengan apa tapi sebagian hatiku iri dengan yang lain-lainnya. Aku mengingat hari-hari membaca buku kita di bawah. Dan yang menurutku juga punya banyak kontribusi, atas izin Allah, merumput yang tak terhitung banyaknya di lapangan atas, sering juga bersama ayah. Hari-hari ini aku sering berpikir kok bisa ya dulu kayak seluang itu merumput di atas. Tak peduli banyaknya pandangan bingung orang kotor-kotoran di rumput bahkan lumpur. Hujan-hujanan dan nyeker. Kalau kubilang semua butuh perjuangan ya memang butuh. Ilmu dan amal, tak ada yang instan. Mematangkan refleks, memuaskan motorik kasar, memberi ruang luas untuk bebas bergerak. Semua yang kusyukuri menjadi pembentuk harimu kini, atas izin Allah. Pencil grip, toilet training, less tantrum, artikulasi bicara yang baik. Hai Nak :") 

Apalagi yang ingin kubicarakan padamu? 

Ah, kalau itu sih biasanya kusampaikan langsung, ya. Tak berlama-lama. Di sini aku hanya menuliskan apa yang membenak sepanjang sore-malam. Oh ya, tadi aku terngiang kata-kata mbak penjual jamu ke salah satu tetangga yang sudah bekerja lagi 3 bulan belakangan. Putrinya SD dan seumur Kaisa. Mbak itu bilang, sayang sekolah tinggi-tinggi kalau nggak kerja. 

Klise sekali memang. Aku tertawa dalam hati, meskipun setiap menatapi hal yang sama biasanya juga aku meringis. Buatku, kerja terasa jauh berkali lipat lebih mudah dari pada membersamai anak. Mungkin karena kerjaku less berhadapan dengan manusia meski tetap menuntut empati. Dan membersamaimu adalah pilihan sadar yang telah kutabung jauh sebelum aku menikah. Namun, memang menjalaninya penuh perjuangan dan tak mudah. Walau demikian, insyaAllah aku tak pernah menyesalinya. Menyenangkan sekaligus bangga melihatmu bertumbuh dengan semua yang Allah titipkan padamu saat ini. Ingatan-ingatanku tentang kakak gurumu, pikiranku yang penasaran tentang persepsi kakak guru tentangmu, ingatan tentang cerita Mbak N bedanya ketika ia bekerja dan tidak dengan anak-anaknya. Aku tahu, aku memperjuangkan hal yang, setidaknya aku percaya ini hal yang benar bagi nilai dan paham yang kuamini. 

Berat, tapi berjuang. Allah kan lihat semua perjuangan itu ya. 

Walau kadang kuakui, aku juga kadang mager untuk berjuang. Dasar manusia zaman sekarang. 

Nak, kelak, kamu jadi seperti apa ya? 

Semoga Allah jaga Kaisa selalu, ya. Ibu sayang Kaisa. 


Uncountable tears. Countless exhaustion. 

Semoga, yang lebih banyak tetap cinta, dan kemauan mengejar ridhaNya. 

Selasa, 28 November 2023

Perjalanan Mengantar Pagi Ini

Hari ini di motor, aku menahan nangis. 

Bukan nangis karena lelah seperti yang lebih dominan kulakukan. Tapi aku menahan nangis saat Kaisa memintaku mengulang-ulang Surah Al A'la. Tanpa diselang-selingi lagu yang biasanya ia suka.

Juga karena sebelum berangkat sekolah Kaisa sangat-sangat mandiri berusaha berganti kaus panjang ke pendek, lalu memakai gamisnya sendiri. Kuperhatikan lama tanpa distraksi, ia pakai, lepas, pakai lagi, putar-putar, barangkali dilepas lagi entah berapa kali. Semua ia lakukan dalam diam, tak bertanya, tak meminta. Penuh konsentrasi. Lalu memakai kerudungnya rapi. Baru mencari-cari wajahku. 

Bukan aku terharu karena ia memakai baju menutup aurat. Tapi kesungguhannya memperjuangkan apa yang ia suka sekaligus apa yang ia inginkan. Sudah biasa kaisa meminta dipakaikan baju, celana, padahal ia bisa. Rasanya beribu kali ia minta aku melakukan padahal ia mampu. Tapi melihatnya penuh konsentrasi tadi pagi, sungguh haru dan bangga. 

Pun juga ketika berulang kali minta aku mengulangi Surah Al A'la. Tanpa selingan lagu karena biasanya itu yang ia minta. Bernyanyi sepanjang jalan hingga aku berpikir aku yang harus menawari diselang-selingi surah yang ia suka. Aku tidak terharu karena merasa wah anakku sudah lebih cinta Al Quran daripada lagu, sama sekali tidak. Karena biasanya memang aku yang menawarkan menyelingi lagu karena merasa bersalah soal dominasi lagu di masa kanak-kanaknya. Tapi melihat respon spontannya yang mau terus-terusan dibacakan Al A'la membuatku merasa, oh, seperti ini ya perasaan orang tua yang anak-anaknya mau terus dibacakan Al Qur'an. Oh seperti ini ya perasaan teman-temanku yang anaknya, di usia sepataran Kaisa, nyaris hafal Juz Amma. Oh seperti ini ya perasaan terharu ketika secara fitrahnya, manusia itu menyukai Al Quran dan ingin terus-terusan bersamanya.

Pagi tadi, di sela membaca Al A'la aku harus menahan tangis haruku. 

Kaisa sampai di Surah Al A'la bukan urut dari depan atau belakang. Sejauh ini ia suka suatu surah secara random. Suka Al Adiyat karena lihat gambar kuda, suka Al Ghasyiyah karena ada nama teman baiknya-Ainun, juga kali ini tanpa sengaja bertemu surah Al A'la karena menyebutkan dua nama dalam satu ayat terakhirnya: Ibrahim dan Musa, yang selain nama nabi, juga nama dua temannya di sekolah. 

Bahkan sampai di gerbang perumahan tempat sekolah Kaisa berada, ia masih memintaku baca Surah Al A'la. Padahal waktu ia sedang suka-sukanya Al Ghasyiyah, ia akan menolak baca surah itu. Ia akan minta baca surah yang lebih pendek saja karena sudah mau sampai. Tapi kali ini, ia tetap minta Al A'la, tanpa penawaran lain. 

Kami sampai, Kaisa belum berniat turun. Kulihat sudut matanya seperti berkaca-kaca. Aku khawatir ia menolak skeolah lagi kali ini. Tapi kupikir, mungkin karena batuknya juga. Entahlah. 

Lalu turun, ia menarik tanganku ke teras sekolah. Aku bersiap dengan skenario terburuk. Aku berusaha pelan-pelan melepasnya, agar ia tak berubah pikiran seperti kemarin-kemarin-kemarin. Kami berpelukan, lama sekali, lebih lama dari biasanya. Aku agak panik, tapi berusaha tetap tenang. Aku tarik duluan badanku lalu ia mau juga melepasnya. Aku membisiki nanti akan menjemputnya. Lalu aku pergi keluar. Tak seperti biasanya, ia juga tak banyak bicara. 

Di jalan, aku melepas tangisku. Juga teringat akan Kaisa yang akhir-akhir ini menolak sekolah. Entah apa yang ia pikirkan atau yang terjadi di alam bawah sadarnya. Entah apakah karena masuk kerjanya ayah ke kantor dari kebiasaan WFH atau mungkin alasan lainnya, tapi aku menyadari satu hal. Menolaknya ia sekolah menandakan ia adalah anak yang bisa menyampaikan apa yang ia inginkan, apa yang ia butuhkan. Menandakan ia percaya dan tahu ia akan diterima orang tuanya-walau mungkin ada kecewa atau rasa tak nyaman. Ia bukan robot yang senantiasa menuruti kemampuan orang tuanya.


Sabtu, 30 September 2023

Insight Bab Mendidik dengan Cinta dan Kasih Sayang

Buku Feminitas Jalan Pulang Fitrah Bunda


Halaman yang dibaca: 57-66, Bab Mendidik dengan Cinta dan Kasih Sayang

Insight yang didapat: 

- Tingkat perasaan paling rendah adalah takut, paling tinggi adalah cinta/mahabbah

- Rasa takut berlawanan dengan cinta, dan tidak ada jalan pintas untuk tumbuhnya cinta. Banyak orang tua yang tergesa-gesa ingin melihat hasil sehingga menakut-nakuti anak bahkan mengancam atas nama mendidik anak

- Penting bagi kita menghidupkan cinta dan kasih sayang, karena setiap ibu rawan terkikis cintanya akibat kesibukan. Penyakit rutinitas (aktivitas harian ibu) sering membuatnya kehilangan makna. 

-Allah adalah sumber cinta, maka mintalah cinta pada Allah, agar kita mendapatkan cinta dari sumbernya. Jika kita mengambil sumber cinta dari Allah, tidak mungkin rasa cinta kita kepada selain Allah lebih tinggi dari pada cinta kita pada Allah. Inilah tanda iman kita benar. 

- Jika kita menginginkan diri dan rumah tangga kita serta pendidikan anak-anak dapat dilakukan dengan penuh cinta dan kasih sayang, maka kita perlu mendidik diri dan keluarga kita untuk mencintai Allah dulu. 

-Jika kita mencintai dan memuliakan Allah, maka cinta dan kemuliaan itu kembali ke kita. 

- Iman atau aqidah adalah akar bagi tumbuh tegaknya cinta. Maka, pendidik perlu menjadikan hal ini sebagai prioritas pertama dna utama dalam pendidikan. Ketika pendidikan iman tebengkalai, maka aspek cinta dan kasih sayang ikut terkikis, karena sumber dari subutnya cinta dan kasih sayang dalam diri kita adalah iman. 

- Jika kita menguatkan pendidikan cinta kepada Allah, maka sebenarnya ita bisa membuat anak nantinya takut pada Allah. Sebagaimana orang yang jatuh cinta takut membuat orang yang disayanginya marah, sebal, atau tidak suka. Pecinta sejati adalah penakut yang luar biasa. Oleh karena itu kita tidak perlu khawatir mengajarkan cinta Allah pada anak-anak kita. 

Syaangnya, salah satu kesalahan pendidikan kita adalah ragu-ragu dan penuh cemas mengedepankan pendidikan penuh cinta dan kasih sayang. Ketakutan kita sebenarnya didahului perasaan buruk sangka pada Allah. Sebagian orang mengutamakan pendidikan dengan menakuti anak agar dalam beragama, juga lebih mengutamakan indikator yang terukur (jumlah hafalan, shalat, dsb-ketika cinta bukanlah sesuatu yang terukur). Sikap menakuti anak akan sulit melahirkan anak yang cinta pada Allah. 

-Sumber kedua dari cinta dan kasih sayang adalah rasa syukur. Syukur bukan hanya ucapan, melainkan justru perbuatan mendayagunakan nikmat yang sudah Allah beri agar nilai kebaikannya bertambah. Orang-orang yyang kurang atau tanpa syukur akan kesulitan melahirkan rasa cinta dalam dirinya. 

-Dahulukan sykur dan prasangka baik agar tidak terlalu waspada atau mudah berpikir negatif. Apalagi ibu adalah sumber cinta dalam keluarga. Banyak bersyukur akan membuat cinta dalam diri semakin menguat. 

Jumat, 25 Agustus 2023

Bagaimana Menceritakan Padamu

Bagaimana menceritakan padamu tentang gerimis tadi pagi?
Membanjiri tirus pipi dan lautan hati

Bagaimana menceritakan padamu tentang kuatnya jiwa mereka? 
Meskipun kutahu, mereka akan menyangkal, bilang aku tak sekuat itu. 

Dear My EG and SS, terima kasih sudah bertahan sampai hari ini :")


Senin, 21 Agustus 2023

Tiga Tahun Kaisa

Assalamualaikum...

Halo, Nak. 

Harinya sudah lewat. Tiga tahun lalu, kita ada di kasur ruangan inap di klinik bidan kecil yang cukup ramai di pinggiran Depok sana. Mataku menatapmu kelu menakjubi setiap inci dirimu yang lahir dari diriku. Kamu, anakku. 

Hari ini, genap tiga tahun berlalu. Lewat nyaris satu hari. Usia unconscious mind-mu resmi lewat. Tiga tahun yang penuh berkah dari Yang Kuasa. Tiga tahun yang menjadikanku belajar sangat banyak hal, terutama tentang merawat sabar. Tiga tahun yang jelas sangat berdinamika. Tiga tahun yang mengubah hidup kami sebagai Ayah Ibumu. Tiga tahun pula Allah janjikan peluang pahala yang begitu besar--sekaligus menantang, kalau boleh kubilang. 

Aku mengambil jeda usai naskah sibi-ku kutunaikan 12 babnya. Menyimak videomu kala dua bulan yang Ayah compile waktu itu. Tubuhmu yang begitu kecil dan kurus. Tulang kakinya terlihat begitu jelas. Ayah yang membacakan buku di kasur. Kamu yang tummy time di punggung Ayah. Fatih yang ikut seumpama dirijen saat Ayah menggendongmu-mungkin kala itu Ayah mendendangkan shalawat. Aku mereka ulang jejak langkah yang kutunaikan beriringan dengan hadirnya dirimu. Adaptasiku, belajarku, kelas-kelas yang kuikuti, resignku, pergolakan emosiku, hingga dirimu yang ceria dan banyak bicara, juga hari-hari negoisasi panjang dan keluhanku yang kadang serupa tak berujung. 

Betapa panjang kasih sayang Allah pada kita, ya, Nak. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Melihatmu yang riang gembira membuka Al Quran, mencari surat yang dipilih, berpura-pura membaca arab dan artinya, persis seperti kelas-kelas Alkindi yang kita lalui.

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Jujur aku kagum pada dirimu menahan diri. Paham saat bukan waktunya beli balon atau jeli. Meski kamu sulit juga jika tergoda makanan bergula. Tapi kita sama-sama belajar, kan? Menantang memang hidup di masa kini yang mana upf dianggap normal sana-sini. Ibu tahu masih banyak yang belum bisa ibu hadirkan untukmu, terima kasih sudah belajar ya Nak. Terima kasih sudah kooperatif. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Hari-hari yang berat, ya Rabb ... semoga selalu bisa kami lalui dengan syukur. Hari-hari yang rasanya ingin kamu tidur sangat lama, atau waktu di mana aku kesal karena rasanya sudah berupaya sebegitu rupa tapi kam tak tidur juga. Egoku bermain, aku mulai rush karena ingin punya waktu juga. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Terima kasih sudah berupaya jujur di lomba makan kerupuk kemarin. Aku tak bicara apapun soal lomba, karena memang tak mau mengenalkan persaingan di enam tahun pertama. Tapi, aku tak menyangka kamu seberusaha itu ketika kulihat anak lain pegang kerupuk dengan tangannya. 

Kalau bukan karenaNya, tak akan kita sampai pada hari ini. Ibu yang compang camping dan masih jauh dari sempurna. Belum belajar yang gimana-gimana untuk merinci iman islammu. Ah Nak, masih banyak PR Ibu, semoga Allah kuatkan dan mudahkan selalu ya Rab....

Kaisa, melihatmu begitu mengesankan. Betapa kuasa Allah menanamkan pada dirimu fitrah iman serta fitrah-fitrah lainnya. Betapa kuasa Allah mempertemukan Ibu dan Ayah, juga pada ilmu-ilmu yang kami tekuni sebagai upaya mendidikmu sebaik-baiknya. Kami tahu masih jauh dari sempurna. Namun, melihat bicaramu, polahmu, gayamu, sungguh hanya Allah yang mampu hadirkan itu semua pada kita, Nak. 

Nak, Ibu minta maaf jika ada yang tak pantas ibu lakukan di depanmu, teladan yang tidak baik, atau hal-hal yang melukai dirimu. Semoga Allah ampuni dan maafkan dalam memorimu. Tiga tahun yang saat ini rasanya pendek, namun sesunggunya terdiri dari hari=hari panjang yang melelahkan. Ya Allah, semoga Engkau ridha, semoga Engkau ridha. 

Masih banyak yang ingin dituang, tapi kok rasanya banyak yang ingin dipikir sendirian. 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik?

 Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 1)

Secara pribadi, saya tertarik dengan ilmu dan topik parenting sejak duduk di bangku kuliah. Meski entah kapan prakteknya, tapi ya tertarik saja. Menurut saya menarik sekali mempelajari sebab akibat atau akar dari perilaku anak. Atau misal perilaku dan respon yang seperti apa yang bisa menumbuhkan anak tumbuh sesuai fitrahnya, mencintai Allah dan rasulnya, menjadi individu yang utuh, merasa cukup dengan dirinya dan mengetahui peran kehidupannya selama di dunia dan menjalaninya sebagai tujuan kebermanfaatan penciptaannya. Berat? Yah ambillah satu saja, menumbuhkan ank yang pandai mengatur emosi, saja dulu. Untuk menumbuhkan seorang anak yang sampai dewasa mampu meregulasi emosinya, nggak kabur kalau ada masalah atau berlebihan nangisnya, itu rupanya nggak sederhana. 

Suami saya pernah mengatakan, suatu ketertarikan pada belajar tumbuh kembang anak adalah suatu privilese, karena tidak semua orang memiliki ketertarikan terhadapnya. Waktu mendengar kalimat itu, saya cukup kaget karena tidak menyangka seistimewa itu posisi mempelajari tumbuh kembang anak dengan serius. Namun seiring berjalannya waktu, saya makin menyadari mengasuh sangat butuh ilmu. Bagaimana ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan pengasuhan, optimalisasi tumbuh kembang, bahkan kebutuhan gerak anak aja ternyata ada teorinya. Ini soal kebutuhan anak yang wajib dipenuhi orang tuanya, bukan sekadar cuma ikut-ikutan atau biar anaknya seneng.

Saya pernah memprediksi kalau urusan alasan pengasuhan saya pada Kaisa itu akan ditentang orang atau minimal dikomentari yang kurang lebih begini, "Dulu juga neneknya ngga begitu tapi anaknya pada sukses, ada yang  jadi dokter juga." atau "Dulu juga neneknya ngga begitu anaknya 'jadi' semua." atau "Dulu nggak pake teori-teori dan nggak aneh-aneh, sekarang juga anaknya pada berhasil." Yha, dan kejadian juga rupanya.

See, orang umumnya melihat tujuan pengasuhan adalah menjadikan anak yang berhasil dalam kacamata umum. Entah menjadi dokter atau ahli IT, businessman atau ustadz, penghafal Quran, masuk kampus terbaik, dapat kerja bonafit.

(lanjut di postingan setelah ini)


Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 2)

Tidak pernah ada apresiasi untuk mereka yang mampu mengelola emosinya dengan baik, yang mengenali apa keinginannya dan mampu mengambil keputusan tanpa takut apa kata orang, yang bisa mengendalikan dirinya, yang memahami minatnya dan ingin berkontribusi dengan jalan yang ia yakini (dalam batasan syariat tentunya), yang terus menjadi pembelajar bahkan sammpai sudah tua kelak (iya kan? Bukannya lebih cepat mencap orang sukses karena kerja daripada dibandingkan yang senang sekali belajar). 

Kadang tuh rasanya kayak kita tuh berjuang banget lho tidak mengiyakan semua keinginan anak, tidak cepat membujuknya dengan 'nanti ibu/ayah sedih lho biar nggak jadi people pleasure', melatih urutan makannya anak biar misal cemilan atau susu nggak dekat sama jam makan, dan mengerem semua komentar atau pertanyaan saaat anak sedang asyik-asyiknya bekerja dan mengobservasi. Dan untuk itu semua, jalannya jauh dan seringkali memutar, bos. Karena ngasih iming-iming, ngasih ancaman bahkan sekecil nanti ibu sedih kalau kamu ngga makan, atau langsung kasih hal yang diinginkan pas anak udah mewek memang jalan pintas.

Tapi lagi-lagi karena ilmu, kita berusaha lagi dan lagi. Dan kadang orang dengan mudahnya memotong itu semua dengan dalih, dulu juga nggak pake teori-teorian sekarang anaknya 'jadi' tuh rasanya nggak enak banget ya ternyata. Memang kita butuh lingkungan untuk membesarkan seorang anak, it takes a village to raise a child. Tapi lebih butuh lagi ilmu, keteguhan hati, dan keyakinan serta terus memohon pada Allah buat dikuatkan di seluruh prosesnya. 

Peluk buat semua orang tua yang mau belajar dan terus mengiringi penngasuhan dengan doa dan tawakkal terbaik. Kalian luar biasa :")

Minggu, 13 Juni 2021

These Day are My Hardest



these day are my hardest.

terima kasih Kaisa, sudah mudah tidurnya malam ini. Sudah aktif dan begitu ceria sepanjang malam tadi. 

terima kasih Ayah, yang sedang berjuang cuci clodi detik ini.

dan tak lupa, last but never least. 

Terima kasih diri, sudah berjuang sejauh ini. Kita pahami pelan-pelan, dan cari solusi lagi ya.

Aku sayang kalian.


Yang tak pernah habis sayangnya, terima kasih Allah, curahan peluk sayangnya, yang membuat detik ini kami masih lengkap bertiga. Tak kurang suatu apapun.

Semoga semakin hari, makin bijak jiwa kami. Makin baik perilaku kami. 

Peluk hangat erat. Aku tanpaMu sungguh bahkan lebih kecil dari butiran debu. 

Ahad, 13 Juni 2021

-sejatinya sejak Rabu 9 Juni 2021

Sabtu, 31 Oktober 2020

Ibu-Anak; Anak jadi Ibu-dan Punya Anak


Bun, kalau saat hancur ku disayang⁣
⁣Apalagi saat ku jadi juara⁣
Saat tak tahu arah kau di sana⁣
Menjadi gagah saat ku tak bisa

 Lagu ini, lagi.

Tapi kali ini bukan tentang komentarnya. Tentang liriknya.

Entah kenapa dua hari ini bisa nangis kalau dengernya. Kadang lagi merasa rapuh sekali jadi diri sekarang ini. Auto dalem hati, lu kok cerita di sini yg sedih mulu sih fit? Kemarin mau nulis hal yang ga sedih tapi ya ketiduran lah apa lah. Tapi intinya, seperti media sosial yang sering kalian lihat lainnya, tidak ada media sosial yang bisa menunjukan kehidupan seseorang secara persis.

Masih nangis detik nulis ini.
Mulai dari Ummi.
Yang cintanya utuh setengah mati. Yang kuatnya tidak pernah bisa dikalahkan siapapun di rumah. Yang baiknya aku yakin akan memesona siapa saja.
Di buku ungu yang aku baca (males ngambil buat ulis ulang judulnya karena panjang dan bahasa inggris dan ga apal), di bab bab awal ada yang judulnya, Ma, Bagaimana Engkau Melakukannya? Berkisah tentang seorang anak yang udah jadi ibu dan dia masih sering wondering dan bertanya (aku bayanginya bertanya mengarah ke langit) "Ma, bagaimana dulu kau melakukannya?" setiap si ibu ini rungsing dengan kerjaan rumah. Meanwhile dulu ibunya adalah ibu dengan anak (kalau ga salah) berjumlah sebelas. Yah, kebayang lah ya. Eh salah, gak kebayang ding.

25 tahun hidup, jelas sering ngerepotin ummi. mau masih piyik ga bisa apa-apa, kecil yang mungkin belum paham kenapa diminta ini itu sama orang tua, beranjak remaja yang moodnya labil sebagaimana abege pada umumnya, bahkan nikah dan punya anak pun, masih sangat bergantung sama ummi.

Kalau sekarang beredar akun akun atau platform platform tentang kesehatan mental ibu, aku bahkan bertanya ke diriku sendiri danpernah tanya padanya, apakah ummi punya waktu buat diri sendiri? 

Kalau aku kesel, kalau aku runyam, kalau aku merasa aku ga guna dan ga produktif, aku jadi kembali bertanya juga seperti kalimat tadi. Apa ummi pernah begini? Misal aku kesal sama suami, mersa capek dan pengen nyerah ngurus anak, ingin diperhatikan dan diakui, merasa malas suatu waktu karena ingin mengerjakan hal lain, aku bertanya, ummi akan apa kalau di posisi ini?

Aih, ya Allah :"

Sedikit ku jelaskan tentang ku dan kamu⁣
Agar seisi dunia tau⁣
Keras kepala ku sama denganmu⁣
Cara ku marah cara ku tersenyum⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Aku masih ada sampai disini⁣
Melihatmu kuat setengah mati⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Bun aku masih tak mengerti banyak hal⁣
Semua nya berenang di kepala⁣
Dan kau dan semua yang kau tau tentangnya

Terlalu banyak kalau aku deskripsikan satu-satu. Aku takut tangisnya ga selesai karena tulisan ini belum selesai.



Kedua tentang Kaisa.
Usia dua bulan mungkin yang selama ini rasanya udah banyak dipelajari, tentang rutinitas nyuci popok, mandiin, ilmu nyusuin, ilmu gendong dan nyari gendongan, ilmu perclodian, dikit-dikit bocoran tentng mpasi, perkembangan motorik fisik dll dsb. Bahkan buat aku, nyari baju dia di marketplace aja butuh ilmu dan kesabaran panjang. Mohon maaf kalau lebay.

Nyatanya masih jauh yang harus dipelajari lagi. *tariknafaspanjang
Kadang kalau merasa gagal, merasa kesal, merasa kecewa, aku bahkan ada waktu-waktu pengen menyiksa diri. Kadang merasa seburuk itu aku jadi orang. Kadang kalau kecapean mudah tersulut emosi.

Padahal bu, anaknya baru dua bulan.

Dulu pas masih newborn banget dan akunya fluktuatif, aku pengen dia gedean dikit udah bisa paham diajak berkomunikasi. Sekarang juga kayak udah ngerti sih, tapi maksudku tadi kaya yang udah ngerti beneran paham gitu.

Sekarang, kayak mau gini terus rasanya.
Kayak belum siap menghadapi anak ini tumbuh dan menghadapi milestone yang rasanya aku belum punya ilmu di sana, belum menambah stok sabar di sana, dan kok kayak-kayaknya ga kuat duluan :(

ya ya kalian benar bahwa ini semua ketakutan di kepala aja, kzl kan yha.

semakin belajar tentang  milestone tahap perkembangan anak, belajar pengasuhan di kelas pelatihan keluarga kita (kalau ini udah tertarik dari belom nikah sih), jadi semakin paham ramainya dunia per-orang tua-an dan masya Allah :")

speechless adang sampe gatau mau ngomong apa terus nyerocos aja di mari.

Tapi hebatnya, ada Allah yang bisa kapan aja kita minta kekuatan, kita minta kesabaran.

:")

Halo Nak, kita siap menghadapi banyak langkah kehidupan di depan ya :")

*gatau cara mengakhirinya, udah basah lengket ini muka nangis dari tadi. bahkan refleksi liriknya terhadap kehidupanku belum ada yang ditulis sepeserpun

Selasa, 10 September 2019

Surga Itu Mahal

Ibu cuma bilang satu kalimat: Surga itu mahal.

Aku nangis mendengarnya, sambil mendengar kalimat-kalimat di kepala.

Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar terima kasihnya manusia.
Belajar ikhlas, belajar selalu berharapnya sama Allah. Usaha terbaik, Allah yang balas. Balasan terbaik selalu dari Allah, bukan dari manusia. Belajar terus memberi, belajar sabar dan ikhlas ketika (perasaan) yang (rasanya) tidak terbatas justru tidak terbalas.
Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar penerimaan manusia.
Belajar merendahkan ekspektasi. Belajar cukup. Belajar nggak papa tidak diterima. 
Surga itu mahal, dibeli pakai ilmu, diaplikasikan lewat taat, dijalani dengan istiqomah.
Surga itu mahal, kadang perasaan dunianya sakit, tapi Allah mau diri ini belajar.

Surga itu mahal. Semoga Allah mampukan sampai sana.

Tadi, 22.14an
10 Sept 2019

Jumat, 07 Juni 2019

Nasihat Fatih-10th (Kalau Aku Jadi Orang Tua)

Semalam main sama Muhammad, anak keduanya Mbak Kiki. Baru ketemu setelah usianya 2 tahun. Sehari-hari mereka di Bontang.

Kami main mobil-mobilan. Mobilan yang bisa diurai berubah bentuknya jadi robot. Mobilnya parkir di atas kursi kayu. Ada empat jumlahnya. Lalu Muhammad lihat ke kolong kursi. Lalu mengalihkan pandang ke atas. Terus kejedot.

Raut mukanya udah bersiap nangis. Aku buru-buru berusaha menenangkan sebelum suaranya pecah. Kuusap dahinya.

"Nggak papa yaa. Sakit sedikit. Muhammad kuat yaa."
Kuulang-ulang tiga kalimat itu, sampai ekspresi wajahnya lebih tenang dan Alhamdulillah tangisnya tak jadi pecah.

Fatih mengamatiku.
Katanya, "Mbak Fitri itu udah bagus tau Mbak kalau jadi orang tua."
Jeda.
"Cuman kurang satu...aja."
Aku penasaran. Lucu juga anak ini mengamatiku dan memberi nasehat keparentingan. Anak 10 tahun loh.
"Harusnya tadi ditambahin Mbak; lain kali, lebih hati-hati ya. Biar nggak kejedot lagi, Mbak. Masa nanti kejedot lagi kejedot lagi. Kan kasihan."
Aku: antara mau menahan tawa dan tersenyum bangga.

:')
Cerita dari Solo,
kota ini membuatku ingat banyak hal
#sisasemalam yang sengaja tidak kutulis semalam

Ditulis di Salatiga.

Senin, 27 Mei 2019

Ibuk

Ibuk, dalam bahasaku Ummi.

"Mbak, pulang jam berapa?"
Sampai rumah.
"Itu tadi buat Mbak Fitri belum digorengin, soalnya Mbak Fitri kan suka yang anget jadi gorengnya pas udah pulang aja."
Kadang-kadang akunya yang malah belum balas jam berapa, sehingga Ummi jadi gatau mesti goreng jam berapa. Padahal, untuk alasan semengharukan itu Ummi nanya jam. Karena tau anaknya suka banget makanan anget baru mateng huhu. Mau gorengin sebelum aku pulang banget biar aku nyampe masih anget.

atau.
"Buat Mbak Fitri yang masih ada di serokan (peniris minyak) deket wajan ya. Tadi digorengnya paling belakangan biar anget."

atau.
"Punya Mbak Fitri yang ada di serokan (peniris minyak) deket wajan, itu semua pakai tepung pedes."

atau.
"Kangkung buat Mba Fitri yang diwajan ya. Yang di sana cabe rawitnya Ummi hancurin biar pedes. Kasian kalau dicampur sama adik-adik."
Padahal ga pernah rikues. Tapi Ummi tau aku suka bilang ga pedes untuk takaran yang kata Ummi udah pedes.

atau.
"Mbak, tadi Ummi beli ini." Nunjukin semacam risol yang dibikin pake kulit lumpia, yang tepungnya terlihat krispi sekali dan membuat gaya hidup sehatku ramadhan ini goyah, wkwkwk.
Tapi di piring-piring buat buka puasa juga ada.
"Ummi pisahin, soalnya ini keliatannya paling crispy. Mbak Fitri kan sukanya yang tepungnya kayak gini."

Aku tulis karena haru gegara barusan saja Ummi pamit mau beli sayur.

Baru jalan beberapa jenak, lalu kembali ke rumah. Tergopoh-gopoh.
"Lupa, janji bangunin Fafa jam setengah tujuh."
Lalu bergegas mengambil ponselnya. Menelepon.


Cerita Pagi

Pagi ini antara sahur ke subuh baca tumblr salah seorang sahabat baik. Menangis haru, entah karena apa. Bisa jadi karena ceritanya, tapi yang lebih kurasakan adalah, karena aku merasa ia menjadi diri sendiri. Aku tahu sedikit tentang ceritanya sejak pekan lalu, yang diceritakan secara mendadak sambill satu dua tetes air mata yang mengalir. Kini kutahu sebagian besarnya. Penerimaan orang tuanya, persilakan atas dirinya yang ingin ke mana untuk melepas lelah, kehangatannya terhadap anak-anak dan orang kecil, dan kehangatan keluarga.

Tapi yang paling membuat haru, sepertinya, karena apa yang ia sampaikan dari hati, akan sampai ke hati pula. Sabarnya, syukurnya, rasa nyamannya terhadap dirinya sendiri. Karena ia jujur dalam menulisnya. Menjadi dirinya sendiri.

Lalu aku share link itu ke whatsappnya. Aku bilang
I am cry to read this
Thank you for sharing (my friend's name). Just be yourself, ya. Your most honest your own self.

Me, who love you. As always :)

Aku, bukannya tidak pernah ada kese-kesel lucu atau sedih terhadap respon temanku suatu waktu. Tapi aku menyayanginya, sebagaimana biasanya. Jadi tak ragu kutulis as always dalam pesanku. Yang itu, biarlah. Setiap orang satu dua punya perbedaan persepsi dan apa yang penting dalam hidupnya.

Kemudian aku beranjak shalat. Lalu aku teringat pesan seseorang, tentang menjadi diri sendiri. Mengingat momen pertama aku menangis setelah membaca pesannya. Aku menangis lagi. Sudah tak tahu porsi menangisnya karena yang mana. Karena cerita temanku, atau karena pesan itu. Syukurku rasanya penuh. Menjadi diri sendiri, dan diterima orang lain, mungkin adalah salah satu hal berharga dalam hidup. Dan semoga bisa menjadikan diri ini menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Tangis kecil yang kubawa pada qobliyah subuhku.

Diterima tanpa tuntutan, kata akun @rabbitholeid yang pernah saya baca di sini, justru membuat kita jadi terpacu, untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Aku berpikir-pikir. Abi dan Ummi pernah menuntutku apa ya. Ah, sepertinya tidak. Justru di ketidaktuntutan itu mungkin aku lebih baik daripada ketika aku dituntut bisa sepeda di kelas yang sudah berbilang tinggi semasa SD. Entah, aku sulit mengingat-ingat. Tapi menjadi orang tua tentu super kompleks. Semoga Allah lapangkan sabarnya, Allah luaskan hatinya.

Pagi masih berjalan. Suatu hal terjadi di rumah. Tidak bisa aku ceritakan. Tapi batinku hanya satu, ternyata dari sekian banyak doa egois untuk diri sendiri, masih banyak doa yang dibutuhkan untuk keluarga ini. Hal-hal kecil-kecil. Doa yang spesifik-spesifik. Kadang, jadi pilu sendiri. Dan muncul ketakutan kalau terduplikasi. Semoga saja tidak. Pada beberapa case, menerima seseorang adalah termasuk menerima keluarganya juga. Ah, bahkan satu dua adalah berupa keluarga besar.

Aku mencuci piring. Usainya, aku membuka ponselku.

Temanku membalas
🥰❤ Thankyou fitri. Me, who also love you as always


Sabtu, 25 Mei 2019

Buku dan Keluarga


Couldn't be agree more. Ada banyaaaak sekali hal yang ingin aku tulis dan diskusikan tentang ini. Terutama setelah mengamati beberapa buku anak pekan ini dan dibilangi soal packaging buku Februari kemarin.
.
Semoga Allah jadikan kita pribadi-pribadi pembelajar, ya.

Aku, yang sedang tidak ingin menulis tapi dak bisa menahan kalau tentang ini :" ya walau gimmick dan spoilernya aja. Dan belum ngebahas juga si. Ini aja ga ada inti tulisan akunya.

Selasa, 14 Mei 2019

Istiqlal Hari Ini-2: Anak dan Keluarga

Terlalu banyak insight yang bsia diraup hari ini. Dan rasanya sudah tidak mampu menuliskannya saking banyanya. Padahal sepengen itu ikut merangkum kajian yang di-re-tell sama Ima.
Coba buka link ini dan karena memang cukup panjang, bisa langsung klik menit ke 27.
Sebagai clue: peran ayah dalam menanamkan aqidah dan ibu dalam menanamkan akhlak, beserta hal-hal terkait keluarga dan anak-anak. Seberapa penting ayah dan seberapa penting ibu. Apa peran Ayah dan di mana peran Ibu. Bagaimana Ayah yang sedikit bicara dan banyak didengar, dan Ibu yang kebalikannya banyak bicara sedikit didengar. Ayah yang harus tega dan mengenalkan anak pada ego, agar anak punya prinsip, dan tidak mudah terpengaruh orang dan pemikiran lain. Tentang Ayah yang bercerita sebelum tidur.

Sampai bagaimana Ayah membelikan baju anak agar tahu perkembangan anak, juga tentang pemateri, Ust Ardiano Rusfi yang membeli rumah di usia 43, karena sepanjang anak-anaknya tumbuh uangnya ia prioritaskan untuk aktivitas bersama keluarga, bersama anak-anaknya.

Dan kata-kata Kay di akhir yang tidak terekam karena sudah keburu dimatikan.
"Siapa yang seharusya ke pasar coba?"
Kami terdiam. Zaki menebak, Ayah?
Kay mengangguk. "Iya Ayah."
Kami penuh tanya.
Katanya lagi, "Rasulullah juga dulu ke pasar. Perempuannya di rumah."
Lalu kami jadi nyambung, berkata-kata. oh iya ya, lagi pula, kalau laki-laki belinya to the point, nyarinya apa dibeli ya itu. kalau perempuan liat apa dikit jadi pengen, niat beli apa bawa pulangnya apa. bisa ganti atau nambah.
(please note aku bukan menceritakan ini karena berharap laki aja yang ke pasar perempuan ga usah, cuma dari gimana Rasulullah mencontohkan dan teladan orang shalih zaman dulu. Pun waktu aku cerita ke Ummi kata Ummi, di kitab yang membahas laki-laki dan prempuan (ijtima'i) disebutkan bahwa memang tugas ke luar itu tugas laki-laki. barusan aku baca majalah yang di covernya bertulisakan salah satu judul yaitu Mewjudkan Keluarga Islami, rupanya juga dicantumkan tentang itu.

Panjang tapi it's gonna be worth it. Aku rasanya pengen denger langsung kajian ustadznya.


Terima kasih teman-teman :")

#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Hari ini baca igs teman ternyata juga bahas mengenal pasangan, serta peran ayah dan ibu, juga kajian Ust. Budi Ashari yang belum jadi kutonton dari tahun lalu heuheu.

Selasa, 07 Mei 2019

Peluk

"Mbak, mau peluk nggak?" kata Abi tadi pagi. Sudah rapi dan bersiap berangkat.
Aku yang kerudungnya belum rapi mengabaikan, lari ke ruang tamu, memeluk Abi.

Peluk sebelum berangkat menjadi kebiasaan beberapa bulan terakhir ini. Lupa triggernya apa, sepertinya fase-fase setelah aku belajar terbuka dan menjalani hari-hari penuh tangis yang awalnya kurasa aneh tapi pada akirnya bisa kuterima. Memeluk selalu menyenangkan.

Dulu aku masih kuliah dan Abi ada agenda di Jogja, pas mau pamit aku sempat ragu memeluk Abi. Ingat sekali depan kopma belakang shelter transjogja. Tapi akhirnya aku beranikan diri, aku peluk Abi. Erat. Sejak saat itu, kalau ketemu dan mau pisah pas Abi ke Jogja, hampir selalu ada pelukan. Hangat :") Meskipun belum berlaku kalau menjalani hari-hari dengan aktivitas biasa di rumah.

Kemudian beberapa bulan belakangan ini sejak November mungkin ya, memang jadi ngebiasain meluk gitu. Ke Ummi juga. Pamitan mesti salim, sebisa mungkin memeluk. Kalau kelewat salim rasanya kecewaa heuheu. Pernah ada fase di mana malah Abi yang nyariin aku akhir tahun lalu atau awal tahun ini, terus aku ngerasa jadi kayak, wah ini malah Abi yang nyamperin duluan. Sesenang itu :")
Padahal dulu aku pernah di fase yang Abi pergi yaudah, akunya sibuk sendiri aja. Atau ya salim seadanya.

Kalau dulu kata Faizah teman aliyahku, memeluk itu memunculkan hormon-hormon yang meningkatkan kebahagiaan. Terus ada penelitian gitu sehaari minimal sekian peluk. Lupa aku udahan, 7 tahun yang lalu itu obrolannya. Kalau ndak salah 7 atau 12 pelukan perhari, gitu.
.
Eh terus tadi ndak sengaja lihat kakak kelasku yang sudah punya anak dua menshare ini di wa statusnya.

Jumat, 19 April 2019

Yang Didengar di Perjalanan

Ini awal mula pingin ceritanya sudah lama, tahun lalu.

Waktu itu di ruangan bahas tentang lagu. Tau sendiri kan di Indonesia lagu yang populer ya lagu tentang perasaan dan terutama antara lawan jenis gitu. Lalu satu-satunya orang yang sudah menikah di antara kami bilang. Katanya dulu waktu belum menikah beliau semacam 'apa sih' sama lagu-lagu macam ini. Kayak nonsense gitu aku nangkepnya.

Tapi abis nikah, beliau jadi suka nyari lagu yang pas, dibikin playlist dulu. Lalu diputar buat temen perjalanan kalau pergi bareng istrinya di mobil. Jadi emang udah mencari lagu yang bisa jadi ungkapan hati ke istri gitu dan menyampaiakn perasaan sayangnya ke istri, semacam itu hehe.

Terus kita yang jomblo-jomblo ini heboh gitu. Lebay deng. Intinya jadi komen, wah so sweet ya Kakak. Kepikiran ya ke sana. dsb. dsb. Aku pun begitu mendengar ceritanya, manis sekali ya.

Lain waktu aku pergi naik mobil omku dari Yogya ke Magelang. Mobilnya memutar radio. Sekali waktu ada lagu juga. Beberapa kali naik mobil beliau, ritme dan polanya memang memutar radio, yang memutar lagu di siaran radionya. Kalau ada lagu yang tahu, om (atau tanteku juga, ya) akan mengikuti nadanya lirih. Hehe malu kali ya ada ponakannya.

Lain waktu, berangkat outing. Kami berangkat pagi-pagi sekali, bahkan subuh di jalan dan sudah masuk Jakarta. Kelompokku naik mobil seorang Kakak yang memutar kajian Ustadz Abdus Somad sepanjang perjalanan.

Lain waktu lagi, lebaran tahun lalu kalau tidak salah. Aku naik mobil di Magelang. Begitu mobil dinyalakan, langsung terdengar murottal (nampaknya langsung nyala karena radionya juga ikut mati waktu mesin mobil dimatikan sebelumnya). Aku langsung mengingat kenangan cerita pertama yang kakaknya bikin playlist lagu buat istrinya itu. Aku nggak bicara benar salah ya, semacam preferensi aja apa yang didengar di perjalanan. Dan mungkin juga semua yang aku ceritakan di sini saling menyeling tentang apa yang diputar di perjalanan. Sekali waktu puter radio update kabar jalan, kali lain putar lagu, kali lainnya putar murottal, kali lain putar kajian, mungkin saja kan?

Tapi aku belajar satu hal sih.
Bahwa apa yang diputar di perjalanan, bisa jadi mencerminkan apa yang menjadi penting atau apa yang mau dituju, atau apa yang menjadi value dari suatu keluarga.
Sekali lagi, aku ga bisara soal benar salah yaaa. Kan ini preferensi aja.
Memutar lagu yang sampe seniat itu dibikin playlist tentu menjadi salah satu ungkapan sayang, apalagi ini udah buat yang halal yaaa. Jadi niatannya membahagiakan pasangan :") Dan tentu saja itu berpahala, kan?
Pun ketika aku masuk mobil yang udah memutar murottal. Itu kayak, definisi sayang mereka udah sama-sama dengerin murottal dan menguatkan hafalan bareng. Dan itu cukup buat menghibur sepanjang jalan. Haru aja aku dengernya pas itu. Kayak seolah-olah ngeh, ini tabungan cara ke surga kita.

Semoga apa-apa yang kita dengar menjadi jalan agar bisa dekat ke Allah, dekat dengan ridhaNya, dekat dengan surgaNya. Aamiin.