Senin, 31 Desember 2018

Cerita Kemarin: Fatih Memperbanyak Langkah

Depan kandang soang sama ayam yang dicampur.

Abis lomba lari di karasidenan. Fatih lagi semangat memperbanyak langkah karena merasa gemuuk ehehehe. Habis ini mampir beli sate keong dan mangut lelee. Enyaak. Padahal tak direncanakan dan gatau juga di toko snerek (snerek is sup kacang merah) jualan itu. Makannya mah di rumah mbah. Lalu setelah makan, ga lama kemudian fatih muter-muter halaman rumah mbah beserta push up sit up kalo ga salah. Kata dia sih berdasar samsung health dia udah sampe 9000 langkah, hahaha. Sorenya mampir ke toko juga dia maunya keliling-keliling. Katanya, biar langkahnya banyak.

Sisa Kemarin : Kritik Naskah Cerpen

I wrote a short story and sent it to newspaper.
Sebenarnya untuk topik yang sama, sudah pernah kirim 2 tahun berturut-turut. Tapi emang dasar belum diniatin dan jadinya keburuburu padahal ini momentual, kesempatannya suliit. Semoga bisa rezekinya dimuat tahun depan yaaa.

Semoga bisa jadi jalan kebaikan.

*credit comment to: Arimu-san

Tentang Keluarga (Besar) (Post ke-n mestinya)

Sejak kuliah tahun-tahun akhir, ke Magelang, hampir selalu memberikan banyak catatan tersendiri. Tentang pakde bude yang mulai menua, tentang sakit dan obatnya, tentang cerita-cerita cucu, tentang bagaimana berkeluarga, tentang menjaga sinergi dengan pasangan sampai usia tua.
.
.
Tapi ndak pernah ditulis. Selalu terngiang aja.
.
Jadi yaudahlah kucoba menulis saja. Meskipun mungkin hanya catatan hari ini. Yang lalu-lalu, antri dulu, ya.

Tentang Magelang yang sederhana. Yang rolling door toko dan rukonya dari kayu. Yang jalanan pecinannya lebar dan menyenangkan.
Oh, bukan itu.

Jadi catatan soal keluarga hari ini adalah
1. Kepala ayam
Hahaha kok kayaknya gak nyambung ya. Ini sebenernya aku lagi agak mellow sih. Hanya tadi pop up in mind aja soal makanan kesukaan ornag yang udah berkeluarga tuh mungkin asa tebak-tebak berhadiah ya. Ada yang ternyata sama-sama penyuka makanan apa gitu. Tapi mungkin juga ada yang bertolak belakangan banget.
Aku baru menyadari bahwa di keluarga mbah dari ibu, makan ceker, kepala, leher, jeroan kayak babat iso, itu hal biasa. Dan bagi sepupuku yang lain, itu nggak biasa. Padahal kita satu nenek kakek. Terus aku mikir, apa karena di sini aku dari pihak ibu yang mana masakan ibu mungkin ngikut nenekku dan sepupuku itu senenek dari ayah, jadi mungkin pola makannya agak beda. Tadi aku makan kepala bisa sampe dibela-belain ngeremukin tengkoraknya pake muntu (ulekan) biar dapet otak, setelah aku menghabiskan mata ayam. Makan ceker pun sepupuku ndak terlalu suka, padahal ceker itu bisa jadi menu sendiri bukan pendukung, hahaha. Sepwrti ceker kecap atau sop ceker. Bahkan, aku baru tau nyebutnya ceker itu pas sd karena diketawain temenku. Dari dulu aku nyebutnya cakar, karena di keluarga pun kayak gitu nyebutnya. Ohya mungkin dari ibuku juga aku belajar mretelin kepala lele sampe batas maksimal yang dimampu, hehe.

2. Tentang Memberi Masa Liburan ke Cucu
Ini agak kompleks sih kalo diceritain. Dan mulanya mungkin akan kuceritakan kapan-kapan. Tapi intinya ada salah satu budeku mengurus dua cucu di rumahnya. Anaknya dinas di luar pulau beserta suami dan 3 anak lainnya. Di satu sisi, budeku sekarang tidak bisa atau katakanlah sulit meninggalkan suaminya karena suaminya sedang diuji Allah menghadapi lupa, dan aku baru ngeh akhir-akhir ini kalau lupa ini bisa separah itu ngefeknya ke mana-mana.
Pelajaran dari kisah sederhana yang sulit diungkapkan ini, sebagai saudara lainnya yang datang, mestinya kita ngeh dan peka untuk sewaktu ada di sini ngajakin ponakan-ponakan itu buat jalan-jalan, bahkan sesederhana jalan buat silaturahmi ke saudara lainnya. Karena ternyata itu menjad concern budeku buat ngasih liburan ke mereka ketika beliau sedang belum.bisa memberi fasilitas itu. InsyaAllah besok akan dimulai, semoga lancar yaa.

3. Mengurus Keluarga
Budeku yang tadi aku ceritakan, saat ini tentu mengurus pakdeku. Secara fisik pakde tampak sehat dan masih tegap. Namun demensia atau lupanya bisa membuatnya pergi entah kemana, bingung cara makan, dan lain sebagainya. Mendengar ceritanya saja sudah sedih rasanya. Aku merasakan betapa budeku ini sabar sekali mengurus orang lain. Sebelumnya, bude mengurus mbah sampai beliau meninggal di rumahnya. Perlahan kondisi fisik mbah menurun, dari yang bisa di kurai roda sampai hanya di kasur saja. Setelah mbah meninggal, perlahan kondisi Pakde menurun. Bude kayak nggak ada capeknya :")
Aku wondering jika itu adalah masa-masa tua orang di sekitarku. Seberapa sabar dan telaten ya? Seberapa jauh mau berkorban buat orang lain ya? Ah, tentu itu support sistem juga. Kalo aku udah berkeluarga, seberapa jauh keluarga mau sama-sama merawat orang tua? Tentu banyak deh di dunia ini yang berjuang seperti itu
Semoga Allah berikan kesehatan dan keluarga yang saling sayang :)

Sudah ya, lelah juga mengetik dengan keypad hp. Kapan-kapan dilanjut lagi part aebelumnya~
#nahloh. Sungguh baca ulang untuk mengeceknya saja aku sedang lelah euy

Jumat, 28 Desember 2018

Tempe

Fahri : Abi, Ummi, Mbak Fitri jangan kasih tahu ya. Fahri mau nanya ke Fatih. Dek siapa yang menemukan Nobel?
Fatih : Hah?
Fahri : Siapa yang menemukan nobel? Jangan kasih tahu ya (ngomong ke yang lain).
Fatih : Mas Fahri mau tempe?
Aku : Hah, apa dek? Kok mau tempe?
Fatih : Iya. Katanya Mas Fahri tadi jangan kasih tahu. *pasang muka polos

Ish. Kesal kali. Wkwkwk.

Kamis, 27 Desember 2018

Terhubung

Sebenarnya ini judulnya memminjam istilah beberapa teman yang konteksnya orang saling kenal.

Tapi, pernahkah kamu merasa tertarik atau mungkin lebih tepatnya respect, hormat, kagum, atau bahkan sayang gitu dengan seseorang yang belum pernah ketemu dan berinteraksi sebelumnya? Bisa taunya lewat cerita yang didengar, lewat tulisan-tulisannya, lewat berita yang dibaca. *pls note bahwa ini bukan soal suka-sukaan lawan jenis

Jadi saya pernah. Mungkin belum sampe memuncak. Dan belakangan tau bahwa orangnya ternyata tahu saya juga. Bahkan pernah menyebut dalam beberapa waktu tertentu.

Entah, kayak merasa terhubung dan dapet rasa sayang balik aja meskipun kayaknya ini kepedean. Hehe. Ya kalau ada peluang silaturahmi dan kenal untuk kebaikan (silaturahmi sesama muslim aja udah kebaikan), kenapa enggak? :")

Sekian .

Solo, 27 Desember 2017
Setelah melihat dari lantai tinggi di mantan sekolah tyani

Halo, Langit

Halo langit,
Banyak sekali hal yang terjadi belakangan. Kalau dikerucutkan, dua hari belakangan lah kubilang. Meskipin sejatinya sejak beberepa jenak terakhir. Mungkin sepekan.

Allah kasih ujian itu ndak pernah selesai, ya. Seperti apa yang kubilang ke diriku soal lega ketila menjemput September kala Agustus selesai. Lalu tersedak sendiri. Karena September hadir dengan tantangannya. Pun juga saat ini, Desember. Esok Januari, Allah punya kejutan apa?

Ah, aku jadi ingat kerunyaman Desember yang lalu-lalu :") Hari-hari ke Bandung, hari-hari di Jogja, bahkan saat libur sekolah di tahun-tahun sebelumnya. Sidang skripsiku beserta nangis-nangisnya juga dulu Desember :")

Dua hari belakangan juga belum selesai, rupanya dan tentunya. Semoga Allah kuatkan. Semoga Allah khusyukkan shalat dan doanya.


Solo, 27 Desember 2017
Setelah melihat dari lantai tinggi di mantan sekolah tyani

Selasa, 25 Desember 2018

Hari Berganti, Rencana Berubah

Hari berganti. Rencana berubah. Suasana juga.
.
Tapi yang terpenting tujuannya sama kan? Saling mendoakan kan? Saling bertukar kabar kan?

Senin, 24 Desember 2018

Randomtalk di Kantor yang Sepi

Banyak banget diskusi soal keluarga dan turunanya berawal dari ngomongin film Searching sama Mas Salingga sama Abid sore ini. Awalnya bakda ashar ngomongin requirement lalu berlanjut ke obrolan ini dan baru kelar 17.36. Okesip. Sampe bingung ceunah mau nulisinnya. Tapi pengen ditulis. Worth it banget buat diperhatiin dan jadi bekal buat jadi ornag tua dan anak ke depannya :")

Kantor yang sepiii~

Minggu, 23 Desember 2018

Fatiha dan Ibunya (serta teman-teman pejuang lainnya)

Hari ini ke yayasan kanker. Ngobrol dengan Rangga dan Fatiha. Main dengan Fatiha.

Usia Fatiha 6 tahun. Sudah 1.5 tahun dirawat di sana. Leukimia ALL. Awalnya muntah di sekolahnya di PAUD di Lampung. Ia memakai masker. Tidak terlihat lemas dan sedang sakit.

Kami mengobrol. Fatiha pernah ke monas. Sama ibu, Azzam, dan ayah. Di sana melihat lampu dan layangan. Dia menyebut warna pink. Entah itu warna lampu atau layangan aku tak menangkap. Aku tanya ia mau ke mana lagi. Dia bilang sesuatu. Aku tak dengar. Aku minta dia ulang. Dia ulang dan aku tetap tak menangkap apa yang dia omongkan. Karena tak enak, aku tanya di sana lihat apa. Kelihatannya pertanyaan itu lebih baik.

Aku tanya Fatiha mau apa. Dia bilang menggambar. Syukurlah aku membawa buku dan pulpen. Aku merelakan kertas kosong tanpa baris terkahirku untuk Fatiha. Dia ingin mewarnai tapi aku tak bawa pewarna. Lalu aku kembali tanya, Fatiha mau baca buku? Ia mengangguk.

Kami menghampiri rak buku. Fatiha menunjuk buku biru. Rupanya buku cerita dengan ilustrasi yangbtersusun oleh puzzle. Kami total membongkar pasang dua halaman puzzle di sana. Fatiha terbuka, ia tak ragu bilang butuh bantuan kala membutuhkan.


Lalu ia minta main twister. Semacam karpet warna dan jam putar yang meminta tangan dan kaki meraih warna-warna itu. Setelahnya ia bilang mau mewarnai, tapi usah kertas berpola dikeluarkan dari laci lemari, kebuntuan menemukan alat warna membuatnya shifting ingin main susun puzzle balok kayu.

Aku memberi ruang pada temanku untuk bermain bersama Fatiha, agar ia juga tidak pusing jika dikerubungi banyak orang. Aku mendekati ibu Fatiha dan Rangga. Keduanya dari Sumatera. Fatiha Lampung dan Rangga Batam. Jauh jauh ke Jakarta untuk berobat di Dharmais. Kemoterapi, infus obat yang membuat alergi, ambil sumsum tulang belakang, cek lab yang barangkali sudah puluhan kali, pun dengan perjuangan lain yang tidak bisa saya bayangkan.

"Kita mah udah nggak kepikir sekolah. Liat dia sehat aja udah seneng...."
Sempat terlintas bagaimana anak-anak ini belajar. Belajar sama ibunya? Anak-anak ini juga tidak boleh terlalu lelah secara pikiran.... kelak pasca sembuh, bagaimana anak-anak ini menyesuaokan diri dengan teman-teman sebayanya? Ah, aku tidak bisa membayangkan...

Kalau kondisi stabil, total 5 tahun pengobatan. Ditambah dua tahun pasca pengobatan. Jika dua tahun itu baik-baik saja, maka baru dinyatakan sembuh. Kalau tidak, bisa-bisa mengulang pengobatan dari awal....

Hmm ini agak oot, tapi sudah pukul 23 dan aku memilih istirahat. Postingan ini belum selesai karena aku masih ingin cerita soal
Kerja sama orang tua
Perjuangan orang tuanya
Ayah ibu yang berjuang

Hmmm kok intinya sama ya. Baik, pamit sekedap.

Ada Allah Tempat Bertanya

untuk semua kecamuk, 
ada Allah tempat bertanya




Jumat, 21122018
pom bensin perjalanan pulang
usai merasa banyak loncatan 
di perasaan karena ketidakstabilan diri
seperti pernah terjadi, dahulu .

Kamis, 20 Desember 2018

Dengarkan

Halo, sudah lama aku ingin bercerita.
Hari ini juga,
Tentang temanku, perempuan yang baik dan lembut hatinya.
Perempuan penyayang yang berjuang.
Penyayang anak-anak yang akhir-akhir ini kurasa ia takut hadapi sesuatu.
Yang sangat kusayang.
Yang aku yakin kalau aku bercerita, kamu pasti suka mendengarnya.
Jadi, dengarlah kisahku....di waktu baik yang Allah izinkan, dan ridhoi,
padamu
Semoga :)

republish 21122018 01.24

Selasa, 18 Desember 2018

Kepala Satu

Anak ini. Hari ini sepuluh tahun :")
Alhamdulillah, tadi pagi masih kuat gendong 28kilo di pundak. 

Makannya lagi banyak-banyaknya. Kemarin ikut ke Badr bawa bekal makan siang dimakan jam 9 pake nambah bekal nasiku juga hahaha. Siang beli bakso, pake nasi bekalku juga. Aku beli gado-gado. Abis bakso dia abis, ikut makan gado-gadoku juga. Ultramilk dua dan kue2an lainya ditambah jajan temil. Sebelum pulang minta mampir beli makan. Hujan neduh bersyukurnya karena secara ga sengaja deket warung makan. Sampe rumah bilang laper, Ummi sampe goreng-goreng dulu sebelum shalat. Malamnya jam setengah sepuluh minta makan. 

Betapa blackholenya naak :))

Shalih ya Nak  :D

Minggu, 16 Desember 2018

Jumat, 14 Desember 2018

Syukur Hari Ini

Hari ini alhamdulillah
-pulang jam 17 dan tidak kehujanan :")
-ngobrolin buku lost and found oliver jeffer dan ka salingga bilang itu orisinil banget
-kubarutau ternyata ada yang punya adik kembar hihihi
-bikin video buat nikahan nabil besok
-nonton yutub don't let pigeon drive the bus bareng zaki, cerita yang dibilang rekomen di luar karena lucu dan di indo belum ada atau jarang ada gitu cerita kek gitu
-ngobrol siangsiang sama ima
-akhirnya dapet buku yang umi cari setelah nyari dua hari tapi sayang kelamaan mikir jadinya belum sampe grabsendnya
-bekal roti meses pisang dan bisa ngasih ke orang juga
-testing web lokal dan dapet apk testing juga

Kemairn alhamdulillah
-bisa cerita-cerita soal buku anak sama zaki, hebat euy zaki dkk udah mau produksi buku kedua aja
-denger cerita belajar sholatnya ayyash yang aku bilang ke zaki, bikinin bukunya yuk tentang itu, moga ga wacana dan kujadi ingin dengar ulang ceritanya biar semakin ngena feel bacanya
-fatih udah banyak ngomongnya. walau diwanti2 buat ga banyak2 omong tapi dia terlihat semakin sehat, lucu, dan jenaka
-baca lost and found bareng zaki
-naroh barang belanjaan temil baru

terus jadi ngeh, ternyata kalau ngelist to do syukur hari ini langsung bisa jadi banyak, ya. kalau kemarin mungkin ada yang lupa. hari ini tetu ada juga nggak enaknya. tapi ngga usah dilist ya.
terima kasih ya Allah

sama satu lagi, pengen minta shalat dna ibadah yang khusyuk. boleh ya, ya Allah.
terima kasih :)

Kamis, 13 Desember 2018

Umur

"Mbak fitri sekarang sudah semakin besar," kata Fatih.
"Sekarang umurnya berapa Mbak? Dua puluh berapa...?"
Saya menyebutkan angka.
"Mickey mouse aja umurnya udah 90 tahun, Mbak," jawab Fatih entah kenapa aku dibandingin ama usia tikus, wkwkwk.

Rabu, 21 November 2018

Saya dan Konten Kebaikan untuk Anak-anak

Saya begitu melankolis akhir-akhir ini. Mudah sekali menangis, sebabnya masih saya terka-terka. Bisa jadi multi alasan, bisa jadi hanya satu alasan terkuatnya. Belum ditemukan.
Dan saya pikir saya akan menahannya sampai Januari, baru bercerita banyaak.

Tapi barusan saya makan sendirian di ruang tebi yang sepi karena pada wfh dan ke wisma mandiri. Lalu saya yang (ngakunya) tidak suka makan sambil disambi, memutuskan buka youtube. Sebenernya bingung mau nonton apa. Kepikiran dengerin kajian kali ya, udah lama banget ga dengerin kajian. Tapi ada notifikasi episode launching perdana Nussa. Bukan, bukan yang animasinya, tapi yang kayak ada sepatah dua patah kata dari kreatornya.

I don't expect i will cry, di tengah-tengah menonton sambil memitili daging ikan oleh tangan. Yha, rasanya itu posisi nangis yang gak banget. Alhamdulilah sendirian di ruangan.
Saya nangis bagian mereka bahas soal konten untuk anak. Soal korelasi maling dan kisah kancil, maling dan kisah mencuri kain bidadari lalu menikahinya. Bukan, ini bukan pertama kalinya saya dengar soal korelasi itu. Saya nangis, ngga tau kenapa. Tapi rasanya campur aduk antara saya pengen banget bisa contribute soal buat konten yang baik untuk anak-anak. Dan Nussa dengan kerennya sangat percaya diri membranadingkan diri sebagai Islamic Edutainment Series. Selalu bangga liat orang yang bangga dengan keislamannya. Kayak flip yang kalo jam shalat dia ngasih tau usernya kalau mereka lagi break shalat.

Mungkin ini juga berkorelasi sama perasaan saya terhadap adik-adik.
Beberapa hari belakangan saya punya perasaan gagal sebagai kakak. Saya kadang merasa gagal saat nggak bisa membatasi adik bungsu saya menonon video review game, menonton youtube atau tv kelamaan, sulit mengajaknya ke masjid atau sikat gigi, nggak bisa memberi alternatif kegiatan untuk ia mengisi waktunya, belum bisa menstimulus otak cerdasnya. Merasa gagal menjadi kakak yang bsia menjadi teman buat adik kedua saya. Saat ia pulang dengan lelah dan saya merasa bertanya baik--baik tapi ia bentak. Dan saya merasa lelah atas itu semua. Lelah yang nonsense mungkin. Tapi ya itulah. Saya juga manusia, sebagai tambahan barangkali, yang melankolis.

Semalam, sebelum tidur, saya menonton Serial pertama Nussa bersama Fatih. Hepi sekali saya yang telat pulang dari Jakarta sampai rumah dan Fatih belum tidur (padahal harusnya udah). Dan dia belum nonton juga, padahal tadi sebeluum berangkat dia bilang mau nonton meski gakpapa nonton lagi sama saya. Seperti biasa Fatih sulit sikat gigi, tapi senangnya dia mau tidur saya temani. Kadang-kadang dia nolak aku gituloh milih sama Ummi aja. Lalu kami berkemas mengeluti kasur (istilah Jawa-menebah dengan sapu lidi). Memasang posisi yang cukup nyaman, lalu menonton Nussa.
Pas sekali Nussa episode pertamanya soal tidur sendiri. Lebih dalam lagi, itu adalah tentang adab sebelum tidur.

Usai menonton, saya reflek mengingat usaha saya kala menulis cerita yang masih sebutir jagung. Udah mah sebutir jagung, jiper banget karena ngerasa ini kok ceita biasa aja. Padahal kalau saya lihat Nussa, dia juga cerita anak-anak biasa. Bukan yang penuh drama atau pake plot twist dan konfliknya super sederhana. Even saya juga bertanya-tanya apakah wajar kakak laki-laki yang juga masih kecil mau menemani adiknya tidur (sungguh itu mulia dan manis sekali), mengajari adab tidur, small talk sebelum tidur. Yang saya tahu yang biasa demikian adalah orang tuanya. Tapi peduli apa? Buat saja kontennya, itu bisa diurus belakangan. Niat baik, konten yang baik, ada banyak sekali yang menyukainya.

Kalau saya menulis cerita, saya sering sekali merasa ini kok biasa aja sih, ga ada konfliknya, ga ada klimaksnya, gitu-gitu aja. Tapi ya dari ngobrol bersama teman saya suatu waktu, saya jadi belajar soal nulis yaudah nulis aja. Ga usah kebeban sama harus beda dari yang lain, harus unik, harus punya plot yang menarik. Ah, nggak nulis-nulis kalo gitu.

Ingatan setelah nonton Nussa juga terbang pada ingatan ketia saya mengikuti seminar nulis cerita anak oleh Litara saat FDII 2017 di perpusnas. Saya ingat saat itu ada peserta yang berasal dari Serial Sopo Jarwo mendatangi pembicara saat usai acara. Mereka menawari pembicara untuk membuat naskah script untuk serial Sopo Jarwo selanjutnya. Di detik yang sama semalam saat mengenangnya, to be honest, i am envy. Saya iri sama semua pembuat konten kebaikan itu. Yang kontennya bisa dirasakan manfaatnya sama anak-anak. Membangun karakter karena mudah sekali anak-anak mengidolakan tayangan visual saat ini. Saya mengenang masa kecil saya yang diisi oleh cerita sebelum tidur dengan 5 huruf vokal (misal saya minta tokoh Botol, maka Ummi akan membuat cerita dengan 5 tokoh: Batal, Bitil, Butul, Betel, Botol, (yang saya ingat tokoh yang lain adalah pintu), begitu seterusnya) dan dongeng di kaset warisan kakak sepupu saya yang saya dengarkan sepulang sekolah, barangkali masih mengenakan seragam saat itu.

Saat ini, badan saya merinding, merinding yang kayak pengen nangis gitu.

Ingin sekali bisa berkontribusi membuat kebaikan untuk anak-anak. Yang bisa menjadi investasi bagi karakter dan akhlak baik untuk anak-anak kelak. Yang nggak cuma sendiri, tapi punya tim, dan boleh jadi itu keluarga. Tadi saya ingat Devi Raissa sang pembuat buku anak Rabithole yang bekerja sama dengan suaminya dalam pembuatan buku. I don't say it is a must. Tapi saya pikir kolaborasi seperti itu akan menyenangkan. Tapi nggak usah muluk-muluk ke sana sih. Menjadi tim bersama diri sendiri pun mesti diusahakan, meski punya tim tentu menyenangkan (sepaket dengan segala tantangannya). Sedalam apa niatan saya untuk membuat konten-konten kebaikan dan hubungan orang tua-anak yang seperti apa yang saya inginkan. Bukan bergantung dari orang lain. Why besar yang datang dari diri saya sendiri. Saya kembali bertanya pada diri sendiri.

Mohon doanya agar bisa berkiprah di dunia konten kebaikan untuk anak-anak, ya :) Kalau mau kolaborasi boleh bangeeeet :")))
ohya, karena ini dilanjut malam hari dan kemudian saya jadi ingat saran teman untuk mencoba membuat blog yang isinya cerita anak (walaupun saya pikir itu ngga perlu pas itu), tapi ada baiknya saya coba. Silakan kalau mau berkunjung ke mari. *Sungguh tidak terpikir awalnya akan ngeshare ini.

dimulai dan diakhiri di ruang yawme, sepi juga sih
dimulai setelah makan siang-sekitar magrib

//terus aku lanjutin lagi
salah satu hal gemas yang menjadi pemicu aku nulis ini adalah kejadian kemarin, inget tadi siang tapi pas menyelesaikan tulisan ini malah ketinggalan ditulis

"Dek mau masak ager lagi nggak?" tanyaku ke Fatih.
"Mau Mbak," jawab Fatih, di tengah bujukan sikat gigi.
"Bikin di loyang yuk, buat syukuran ulang tahun Mas Fahri," kataku. Pikirku, Fatih itu lagi seneng-senengnya sama ager. Pasti dia semangat deh akan ager banyak. Seloyang kan banyak banget.
"Nggak mau Mbak." Aku kecewa. Kenapa nggak mau?
"Fatih maunya seember," katanya polos.
Hahaha, Dek, gemes aku.

Lalu lebih malam lagi, usai menemani Fatih tidur. fahri lagi nyalin catatan gitu dari buku tulis ke bindernya.
"Dek, nulis apa?" maksudku sebenarnya adalah dia lagi nyatet apa, materi apa, pelajaran apa.
"Fahri tuh kayak dulu lho Mbak, pas zaman Rasul. Pas Quran turun kan pada nulis di mana-mana. Nah sebelum punya binder Fahri juga nulis di mana-mana. Sekarang mau disatuin."
Yha, ini anak memang kadang lucu juga :")

Sudah, sekian. 
Tadi di jalan bulannya purnamaaa. Kayak udah lama banget ga liat bulan bulet meskipun tadi samar gitu, kayaknya langit cukup berawan.

Rabu, 14 November 2018

Dengan Rendah Hati dan Rasa Takut

Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.-Al A'raf 205
tilawah hari ini
badr, ruang tebi yang jadi ruang ciwi

Selasa, 13 November 2018

Halo Nak,
Ibu cuma mau cerita sebentar. Tidak lama-lama.
Hari ini ibu membaca buku yang spontan disodorkan teman Ibu. Ibu baca sambil berdiri di tepi jendela. Sampai hujan selesai pada waktunya, kemudian diperpanjang sedikit, bukunya selesai ibu baca. Tadinya ibu hanya ingin lihat hujan di tepi jendela.

Esok lusa kita lihat bersama, ya, hujannya.
is it me?

Selasa, 06 November 2018

Renung

"Allah tuh mau aku belajar apa ya?"
-Ima
sepuluh hari belakang suka terngiang

"Ya Allah, apapun yang terjadi, jadikan ini caraku menemukan Allah."
-Abidah
sejak beberapa jenak kemarin

Ada Banyak

Ada banyak sekali kebahagiaan yang ingin aku ceritakan padamu. Tentang anak-anak yang suka bernyanyi, tentang anak-anak yang mau mencoba ikut lomba menggambar, tentang mempersiapkan anak agar tidak menggambar dua puncak gunung beserta satu jalan di tengah yang kanan kirinya ada sawah sebelum ia masuk sekolah, tentang lampu petromak yang kian padam, tentang pangeran kecil yang diminati banyak orang di ruangan, tentang tanggal bersejarah yang kami catat nyaris setiap harinya karena ada saja hal baru yang (akhirnya) bisa diselesaikan.

Tapi kamu, entah suka atau tidak mendngar cerita bahagiaku yang bukan bersamamu. Atau memang menghindar karena perih menahan iri, ingin ada di dimensi yang sama pada tiap hela cerita.

Selasa, 16 Oktober 2018

Pintar Menyembunyikan

barangkali ini kali ketiga, atau bisa jadi lebih
dulu pada suatu waktu, waktu baru saja tau suatu fakta tentang diriku, salah satu teman baikku kaget. katanya, aku terlalu pintar menyembunyikan sesuatu, sampai dia tidak bisa menebak apa yang aku rasakan atau alami (aku lupa), dari beberapa tahun sebelumnya sampai hari itu aku cerita padanya. jadi ya itu tadi, dia se-nggak-menyangka itu.

suatu waktu yang lain, temanku menyebutkan aku dan temanku yang lain (yang sama-sama pencemas) kalau ketemu orang tampak baik-baik saja. sepertinya dia cem nggak mengira kalau kita berdua tergolong panikan dan mudah berasumsi-asumsi yang sebenernya belum tentu kebukti tapi membut takut diri sendiri :"
tapi ya...itulah

hari ini, temanku mengapresiasi sikapku yang katanya terlihat lebih ceria. aku sejujurnya kaget sih, karena aku merasa banget ada sesuatu dalam diri ini yang berusaha aku lawan. hari ini, aku banyak berjuang melawan diri sendiri (dan aku tahu, aku masih saja kalah untuk itu). lalu aku reflek berpikir, apa aku terlalu pintar ya menyembunyikan sesuatu(?) *aku kira tadi temanku malah mengcapature ke-tidak-well-an-ku hari ini, hahaha

aku tidak tahu mana yang lebih baik. ingin cerita tapi mungkin malu, bahkan mungkin mengakui untuk diri sendiri pun malu, mengaku ke Allah pun juga malu (tapi kalau ke Allah mah mau gimana lagi ya, hanya Ia sebaik-baik tempat mengadu :" ). aku tidak tahu mana yang lebih baik, jujur atau menyembunyikan. atau, bagaimana kalau jujur adalah dengan menyampaikan, dan malah mempersulit orang lain? atau, ya dengan atau-atau lainnya. terus kalo lagi kayak gini aku suka kepikir, kenapa ya oranag ekstrovert tu kayaknya enak banget cerita ke orang lain, mudah aja gitu(ku udah lama pengen bikin tulisan ini khusus di postingan berbeda), istilahnya tanpa tedeng aling-aling (hayo pernah denger gak istilah ini?). entahlah mungkin aku taut mengeluh, mungkin aku takut dijudge orang, mungkin aku takut persepsi orang terhdapku berubah. entah.

jadi kalau mantemanyangbudiman punya sejumput saran atau pengalaman, aku sangat terbuka untuk itu. tapi japri aja ya, sms atau email sepertinya lebih baik (emailnya url blog ini et gmail dot com), ehehehe. aku juga sedang baca buku oranye berjudul hitam besar-besar pemberian seorang teman, semoga kelak membantu :")



Senin, 15 Oktober 2018

Perempuan dan Rasa Malu

"Perempuan dan rasa malu." Kamu tiba-tiba membatin.
"He?" Dahiku berkerut. Bingung tiba-tiba kamu menggumam.
"Iya, aku abis liat suatu video. Terus dua kata itu terngiang-ngiang banget."
"Hm, seperti iffah, izzah, dan muru'ah ya."
"Iya."

Bicara

Pernahkah kamu, menyusun kata-kata sepanjang perjalanan, atau pertanyaan, atau bahan topik obrolan. Tapi ketika sudah bertemu orang yang semula kamu berencana ajak bicara. Pun jika semuanya telah tersusun ketika berhadapan-atau bersisian. Semua kata-kata itu tertahan. Bisa karena apapun, karena kondisi, suasana, kesempatan, waktu, atau bahkan karena dirimu memaksa untuk menahan semua rencana kata-kata itu; walau semua kata rasa-rasanya sudah di ujung mulut meminta dikeluarkan.

Nggak ada yang mudah. Terlebih, jika sudah sesulit itu perjuangannya, ternyata si lawan bicara atau orang-orang di sekeliling justru menganggap, kamu membatasi diri, atau kamu insecure, atau kamu nggak mau bicara sama aku. Padahal, jikapun asumsi mereka itu keluar karena keyword-keyword dari mulutmu sendiri, itu hanya karena panik dan terlalu bingung menjelaskan kekompleksannya.

Mereka nggak tahu perjuangan di baliknya :")


Minggu, 14 Oktober 2018

Jomblo Fii Sabilillah

Fatih liat sarang laba-laba yang besar.
"Mbak itu besar banget tau Mbak sarang laba-labanya. Terus dia cuma sendiri nggak ada pasangan nggak ada anaknya." Sambil matanya ngeliat sarang laba-laba. Mataku mengikuti.

"Yang lebih baik apa dek?" Kukira dia akan jawab ada pasangan ada anak tapi rumahnya sederhana.

Eh dia malah jawab
"Jomblo fii sabilillah...."

Zzz, setelah ditanya dia juga gaktau sih apa arti jomblo fii sabilillah, wkwk. Iya jadi dia denger istilah jomblo fiii sabilillah itu dari ust. Hanan Attaki.

***

Ini bonus~

"Dek Mbak Fitri mau ketemu temen. Temen Mbak Fitri mau nikah." Aku rencana mau ketemu temen yang baru sebat undangan jumat kemarin.
"Sekarang nikahnya?" Tanyanya polos.
"Enggak lah deek masa sekarang nikahnya."
"Ya kalo nikah semuanya juga mau nikah mbak."
"Iya deeh bukan mau. Akan. Temen mbak Fitri akan segera menikah. Emang Fatih mau nikah?"
"Mau, tapi nanti."
"Kenapa?"
"Kata ustad Hanan Attaki menikah itu paling mudah amalnya."
"Paling mudah amalnya itu gimana?"
"Nggak tau deh, lupa."

Kangen Ummi

Jumat kupulang ummi sudah tak ada di rumah karena menginap.
Sabtu ummi pulang malam dari seminar. Aku menjemput, lalu aku mengerjakan sesuatu di laptop. Aku ketiduran. Belum ada ngobrol apa-apa.
Hari ini ummi seminar dan sampai malam juga. Kayaknya singkat banget pagi ini ketemu bentar, bantu-bantu, dan ummi udah mau berangat lagi. Heu, kok rasanya jadi kangen ummi ya....

((Baca; mi kayaknya ku mau ngobrol deh, wkwkwk))

Rabu, 10 Oktober 2018

Untuk Pertanyaan-Pertanyaan

untuk pertanyaan-pertanyaan yang sudah diberikan jawaban, namun masih terus terpikir apa rahasia langit setelahnya, apa jawaban sejati dari jawaban-jawaban yang sudah diberikan, apakah ada hal-hal yang akan berubah. untuk yang mungkin orang lain pikir sudah selesai tapi tidak semudah itu bagi diri ini. wahai pikiran, ayo belajar menempatkan.



hari ini, setelah menaruh barang dagangan temil 
dan bermain bersama khalila sampai menggendongnya

aku duluan ke ruangan, sepi, sendiri
menatap jendela
kemudian kembali bertanya-tanya

sampai ima masuk dan memfotoku
pas aku liat, kok sedih amat ya wajahnya,
hahaha :")

Fokus Di Mana?

tapi mau fokus di rasa takut atau apa tujuannya.
-Kak Ucit

Membuang Makanan

Suau pagi aku mampir ke tempat teman. Lalu pagi-pagi kami membeli sarapan. Alhamdulillah ada abang nasi kuning gerobakan yang khas di Jawa Barat (aku nggak pernah nemu ini selama hidup di Jogja). Jadi kami pesan nasi kuning dan kalau di abang nasi kuning gerobakan itu lauknya macem-macem sedikit-sedikit. Beda sama nasi kuning di ibu-ibu jual sarapan dekat rumah.

Setelah makan, kami kebali ke tempat teman dan makan di sana. Mendekati selesai, temanku ke dapur dan mengambil air. Kulihat di kertas nasinya tinggal sisa-sisa lauk campuran tempe orek, kacang, telur yang dipotong panjang-panjang, dan apalagi ya kayaknya masih ada tapi lupa. Kupikir simpel aja, wajar ya nyisain lauk gitu, buat digado kali ya, pikirku.

Lalu dia bungkus ulang kertas nasinya. Oh mungkin kenyang, mau dibawa pulang, batinku. Lalu aku tawari kresek dari abang nasi kuning yang tadi (di aku kreseknya, soalnya aku makan terakhiran). Karena kalau mau bawa pulang enak dikresekin gitu kan, aman masuk tas. Lalu dia ke dapur. Kupikir wajar karena mungin mau balikin gelas yang tadi dipakai. Aku mikir, tapi kenapa kresek nasinya dibawa juga ya? Oh aku husnuzon aja, ya mungkin kepalang nanggung udah kepegang sekalian aja, ntar juga dibawa ke sini lagi dimasukin tasnya.

Lalu aku dengar suara injekan tempat sampah dinjek, lalu ada suara kresek mblesek gitu kedalemnya. Aku...speechless dari dalam ruangan. Sedih rasanya denger makanan dibuang, apalagi itu kondisinya masih bisa dibawa pulang dan ya kita bukan ada di acara yang kepaksa makan atau makan sesuatu yang gak disuka gitu kan. Heu, sedih taunya.

Intinya itu kok panjang amat ya ceritanya -,-
Intinya, mari menjaga diri dari membuang atau menyia-nyiakan makanan. Sesuatu yang mungkin masih banyak terjadi di sekitar kita. Kalau makan bareng di kantin, di resto, di kondangan juga kan sering liat makanan yang kebuang. Padahal ada rahmat Allah di sana, ada banyak yang belum bisa makan serupa kita, dan ada adab muslim unuk tidak berlebihan dan tidak membuang makanan. Semoga Allah melindungi kita dari menyianyiakan rizki yang sudah Ia beri dan membuat kita mudah mengontrol hawa nafsu jadi gak laper mata, aamiiin.

Selasa, 09 Oktober 2018

Sibuk

Orang-orang terlihat sibuk akhir-akhir ini.
Dan aku suka sedih kalau lagi kayak gitu.
Kadang aku makan di tengah orang-orang yang sibuk dengan devicenya. Tidak ada percakapan di udara. Hanya terdedengar suara denting sendok dan garpuku. Kadang karena menyambi mereka pun makannya jadi lama, jadi aku ngambil makan terakhiran, aku juga balikin awalan *kadang nyekalianin bawa piring yang lain. Ya nggak papa sih sebenernya. Tapi kerasa aja sepi. Semua orang kayak punya urusannya masing-masing. Lalu tiba-tiba rasanya jauh dari orang-orang di sekitar. Somehow kayak nggak tau apa-apa sendiri. They talk something i don't understand. Sebenernya yaudah sih. Tapi yagitu kadang sedih aja hahaha.
.
.
Waktu berjalan. Banyak hal berubah. Semoga bagaimanapun, selalu Allah jaga dalam kebaikan .


Pikiran-pikiran hari-hari kemarin-kemarin

Cemas

Suatu hari aku cemas. Cemas sekali sedari pagi, sedari subuh. Muncul banyak pertanyaan di kepalaku. Dan aku takut dengan pertanyaan-peranyaan itu. Aku takut dengan kemungkinan-kemungkinan.

Mulanya aku mau konfirmasi ke temanku karena kupikir dia bisa menjawab pertanyaan yang muncul. Tadinya mau ke X, urung. Terus aku pikir apa ke Y aja ya, urung lagi.

Maka mulailah aku menjalani hari dengan perasaan cemas dan perasaan bertanya-tanya karena aku tidak menemukan jawaban sementara diriku bahkan mulai memunculkan pertanyaan lainnya.

Sampai ada akhirnya yang kutanyakan Pertanyaannya bukan pertanyaan awal sedari subuh yang muncul. Tapi ternyata aku salah bertanya. Ternyata malah menimbulkan masalah baru, yang bikin aku tambah nggak tenang.

Lalu aku menchat dua teman, salah satunya Kak Shanin. Aku bertanya bagaimana mengatasi cemas. Kak Shanin nanya beberapa hal, sampai akhirnya menjawab ini;

dan ada beberapa chat setelahnya, tapi yang kucopy ini aja ya

Aku pernah stress juga. Bahkan sampe maag kambuh, padahal udh lama gak kambuh.
Sampe waktu ngaji aku baca ayat : "Segala yg ada di langit dan di bumi milik Allah. Allah maha berkehendak atas segala sesuatu". Dulu kalau baca ini yaudah selewat aja. Tp waktu itu aku coba renungin. Allah maha berkehendak atas segala sesuatu. Bahkan daun yg jatuh aja atas izin Allah. Habis itu belajar ikhlas buat menerima semua ketentuanNya.
Kemudian aku jadi berpikir. Pertama, dari skrinsut yang dishare Kak Shanin; apa yang  menjadi responku ketik cemas? Pada hati, pada lisan, pada tangan. Apa aku jadi melayangkan doa, jadi sibuk dengan kebaikan, jadi sabar, jadi meyakini bahwa balasan untuk kebaikan adalah kebaikan pula? Atau aku malah sibuk kesel sendiri, marah, protes, masih sibuk melakukan dosa? Menyadarinya akan membuat saya tahu harus bagaimana setelah ini. Seharusnya

Kedua, dari sharing Kak Shanin.
Kalau Allah nggak berkehendak, nggak akan terjadi apa yang terjadi itu.
Bahkan kalau yang aku khawatirkan itu terjadi, mungkin memang Allah pengennya itu terjadi ke aku. Nggak mengenakkan, mungkin. Tapi kalau Allah sudah berkehendak mau bagaiana? Allah inginnya gitu kok.
Kabar baiknya, apa yang dari Allah insya Allah selalu ada kebaikannya. Tinggal manusianya aja yang perlu melebarkan jangkauan pandang.
Bayangan-bayangan buruk muncul. Tapi terus ada konsep, kalau Allah nggak berkehendak juga nggak akan terjadi kok; kalau berkehendak, kayak gimanapun, pasti jadi. Terus bener yang Kak Shanin bilang. Lalu jadi lega. Jadi pasrah. Jadi berserah.

Esok lusa, semoga aku bisa mengingat apa-apa yang aku dapat di atas ini. Belajar nggak cemas berlebihan yuk Fit! Juga belajar untuk menahan diri mengonfirmasi kalau memang tidak seurgen itu. Jangan-jangan setelah dapat jawaban konfirmasinya malah bikin makin cemas.

ini chat  20-21 oktober 2018


Senin, 08 Oktober 2018

Ibu dan Kehidupan

I don't have any idea where the pure and sincere love from mom to their children came from

(yeah, it always came from Allah. tentu saja. ini maksudnya lebih ke kalimat retoris gitu saking besarnya cinta ibu).
***
sudah mau menulis ini sejak entah kapan. belum jadi. kayaknya pas itu di perjalanan berangkat aku gatau kenapa tiba-tiba kepikiran kalau ibu tuh kayak sumber kehidupan gitu, ya. selain karena kromosom X yang merupakan kromosom kehidupan yang berasal dari perempuan (kenapa jadi ilmiah ya(?) tapi bener loh kat Tyani sang dokter muda begitu), tapi menurutku doa ibu itu powerful sekali. kayak sumber kehidupan gitu. tentu saja semua sikapnya juga.

lalu ingin menulis juga saat ummi nanya aku pulang jam berapa biar goreng bakwannya pas masih anget kalau aku sampe rumah :""" terharu aku.

lalu semakin ingin menulis lagi pada suatu hari ketika aku sudah pamit dan salim ke ummi. tapi pas mengantarku di depan pintu, ummi bilang aku belum salim.. reflek lah yaa kubilang udah kemudian menyebutkan waktu salamannya. meski pada akhirnya aku tetap turun lagi dari motor dan salim. terus ummi bilang sambil ketawa, nggak salim juga didoain kok mbak... disitu aku terenyuh, kayak nanya gak percaya gitu dalem hati; ummi doain aku tiap aku berangkat?

lalu semakin ingin menulis setelah menjalani hari-hari tanpa ummi.

sama abis ummi pulang aku nonton Be With You versi korea dan cukup menangis nontonin Ji Ho kecil yang segitu sayang sama orang tuanya, yang pengen bisa bareng ibunya terus, yang mirip Ayyash anaknya Mas Salingga *loh

***
jadi kamis sampai sabtu kemarin ummi ke magelang nengokin mbah sama om. aku sebenarnya sudah pernah ditinggal begini. bahkan kayknya lebih lama, pas itu kamis sampai ahad di bulan april. bertiga sama adik-adik dan tanpa abi (ada ding bentaran abi sempet pulang jumat sore dan sabtu paginya pergi kalo gasalah. kali ini lebih sebentar, tapi kerasa capeknya masya Allah :")

bermula dari kamis yang mana paginya aku mengantar ummi ke stasiun sekalian aku berangkat pagi. lalu sorenya aku pulang dengan titipan ayam sabana dari adik-adik. di jalan sempet kepikir, gimana ya yang ibunya kerja dan anaknya masih kecil-kecil.... sampai rumah udah magrib lewat. mesin cuci sedang berputar (tentu saja aku menebak abi yang nyalain). fatih menangis karena kangen ummi. dia ccerita tadi pas pulang ke rumah langsung keinget ummi yang nyiapin teh dan dia jadi sedih. aku hanya bisa menaruh ayam itu di piring sambil kemudian siap-siap shalat. selesai shalat, beberes meja, nyiapin buah, dsb dsb. perutku laper banget sebenernya tapi aku ngga bisa buru-buru makan karena mesti menyiapkan ini itu. terus aku jadi semakin menyadari kenapa ummi berusaha nyaipin makan malam sebelum magrib; biar magribannya tenang dan ga keburu-buru, dan juga jadi menyadari kenapa akhirnya ummi kebiasa makan habis isya bahkan jika shaum; karena nyiapin saja gak selesaaaaai. perutku sakit menahan itu semua sampai akhirnya aku makan pas azan isya apa lewat ya, sudah lupa.

lalu aku nanya adik-adik malamnya mau bekal dan sarapan apa. fatih bilang, besok aja napa mbak nanyanya. aku sedikit memaksa biar besok gak kelimpungan-kelimpungan amat. akhirnya mereka menjawab. oke kucatat. lalu mesin cuci sudah selesai. abi mengambil cucian dan menaruh di ember, memintaku jemur sampai akhirnya
...
...
abi mencuci dan lupa gak pake sabun . . .
jadi, mari kita masukin ke mesin cuci lagi, wkwkwk.

kamis malam ini juga aku mungkin karena efek kecapean dan ada sedikit masalah dengan teman, fatih susah banget diminnta sikat gigi (hampir selalu susah sih emang --"), jadi kebawa gak sabar. dia akhir-akhir ini memang selalu berdalih dengan tidur sebentar nanti bangunin ya tapi kami tahu itu hanya akan memberikan efek kebablasan. tapi dia beneran susah banget sampe akhirnya aku kesal dan yaudah gitu dia maunya apa terserah. ters kayaknya dia jadi sadar gitu, meski gak langsung sikat gigi.

aku pergi sejenak dari fatih, kemudian aku datang lagi ke ruangan yang sama. dia udah melek, gak pasang style mau tidur-tidur ayam lagi. gak lama kemudian dia sikat gigi, aku nyiapin baju ganti karena dia kalau sikat gigi bajunya pasti basah. pas dia nyamperin, bete dia kayaknya sama aku. nyuruh pergi, heu. okelah aku pergi beneran saja (masih jadi kebawa juga itu aku). akhirnya aku hampiri lagi dia saat udah tertidur. aku gak tau dia udah tidur apa belum, kusamper, kubilang minta maaf di telinganya sambil mijit sedikit-sedikit. ternyata dia belum tidur. lalu dia juga bilang, "Fatih juga mita maaf ya mbak...." habis itu aku...nangis. sudahlah merasa bersalah sama dia, masalah dengan temanku juga belum kelar. salahku sih emang....
***
keesokan harinya dengan rahmat dan kasih sayang Allah aku tiba-tiba bisa bangun lebih pagi dari biasanya. mulailah aku mencicil motong-motong sayur. tapi sedihnya pagi itu aku tidak berhasil membangunkan adikku biar siap subuh di masjid :(( akhrinya karena yang satu bangun pas azan dan menolak berangkat, dan yang satu bangunnya masya Allah sulitnya, jadilah kedua adik lelaki itu shalat di rumah :((

selanjutnya kumenyiapkan sarapan adikadik dn rupanya terlalu cepat. kan subuh sekarang makin awal ya, jadi ternyata jadinya kecepetan. yang aku sedih adalah, sudah bisa nyiapin sarapan dan bekal lebih awal, sayur yang kumasak matang setelah abi selesai makan -,-. memang tidak bisa diprediksi abi ini kapan mulai makan dan kapan tergerak untuk menambah atau mengambil sayur. kusedih sebenarnya tapi  bagaimana lagi. hanya boleh berharap sama Allah :"

kemudian aku pergi sambil menyiapkan notes di meja makan. menyebutkan apa yang bisa di makan bersama nasi, menyiapkan minuman, dan ada kue apa di kulkas yang juga bisa dimakan.
***
pagi itu aku sudah diwanti-wanti untuk pulang lebih cepat. kata abi maksimal jam 5 sampe rumah lah, kasian fatih kelamaan sendiri di rumah karena si adik smp pulng sore latihan pramuka dan abi ada rapat sampai isya katanya paling cepet. aku usahakan sambil deg-degan karena ada plan rilis update app. sorenya memang nggak seideal itu sih. alhamdulillah rilisnya berjalan sesuai rencana, tapi ada yang perlu kutanya dan alasan lainnya adalah, fatih pada akhirnya main ke teman dan tetangga (aku nelpon ke rumah berkali-kali ngga diangkat dan akhirnya tau kalau dia main), jadi aku ada perasaan aman dia nggak bosen gitu. selesai memastikan satu dua hal, aku segera pulang dan aku sampai saat langit masih cukup terang. lumayan lah.

jeng jeeeng, azan maghrib tiba, abi juga pulang. aku yang awalnya udah tenang karena abi rapat sampai malam jadi pasti makan di rapat doong, mulai panik harus menyiapkan makan apa buat abi wkwkwk. pas aku pulang tadi tuh keadaannya punggungku pegal sekali dan rasanya capek banget. akhirnya aku kembali mengulang hari sebelumnya di mana aku menyiapkan apa yang ada (dan aku bisa) sambil menahan lapar. akhir-akhir ini aku juga mudah lapar entah mengapa. belum lagi fatih-yang mengaku perutnya seperti blackhole itu-yang sore udah makan abis magrib masih lapar lagi juga ingin makan.

sempet fatih nelpon ummi dan menyatakan kekhawatirannya seperti takut nggak ketemu lagi, atau kamis pagi adalah pertemuan terakhir. dia kayaknya emang agak drama anaknya. tapi aku pahamm dia khawatir dan cemas. aku bilang drama adalah karena memang wording-wording dia kurasa cukup berlebihan untuk meyatakan kangen tapi aku apresiasi dia karena itu tandanya dia punya banyak kosakata :D

habis isya aku udah mulai ngantuk banget banget. tapi ada agenda yang aku harus nyiapin minuman untuk jam 10 dan i have no idea how i can sleep for a moment and wake up around 9.30. dan mana kadang tiba-tiba selesai gitu pula sebelum jamnya. waktu april kemarin aku udah bikin sekian cangkir lalu abi bilang udah mbak ga usah, minum aqua aja (aku lho terperanjat dan kayak patah hati gitu rasanya. tapi sekali lagi emang yang bisa dijadiin tempat berharap itu hanya Allah. pas itu aku bingung ini teh sekian gelas mau kuapain sampai akhirnya dicicil minum buat besoknya). akhirnya kutahan-tahan nyiapin itu semua sambil juga memutar cucian (kali ini langsung pake sabun kok), jemur,, masak air, dan cuci piring. Lalu aku sempat muntah dan apa yang kusebut makan malam keluar. Tampaknya aku bener bener nggak enak badan. dan pas udah lumayan siap tehnya, aku tidur duluan sampe abi beneran mengangkut nampannya. maaf abi kutaksanggup menunggu hiks....
***
besok paginya...aku mesti berangkat pagi dan yaudah mengusahakan bisa nyiapin sarapan sebelum aku berangkat. pulng menjelang zuhur, abi nitip beli makan buat adik-adik. aku nanya abi gak nitip? katanya ngga usah karena udah makan lalu kuterperanjat abi makan apa karena aku ya tadi pergi cuma nyiapin makan pagi, yang sayurnya pun adalah hasil menghangatkan sayur kemarin. lalu abi sebutin apa yang belau makan dan aku jadi merasa nggak enak gitu. setelah aku minta maaf karena hanya itu aja yang ada, abi hanya bilang anggep aja lagi di new zealand, eh ini lebih baik deng. lau kuberhusnuzon meskipun sangat sederhana makannya seenggaknya lebih mending daripada di luar negeri. entah karena susah cari yang halal, atau harganya mahal, atau dimasakinnya. saya ga berani nanya lebih lanjut wkwk.

waktu bergerak hingga aku akhirnya menjemput ummi di depan. masya Allah kugaktau lagi bagaimana ummi menjalani ini semua tanpa keluhan berarti :"(( dan gatau kenapa ini jauh lebih capek dari april kemarin padahal lebih bentar dan aku ga dibantu abi. kerasa banget ummi tu sumber kehidupan. asa sedih kalau ada kebiasaan kecil yang kelewat lalu adikku protes. dulu waktu april kalau aku gak sesuai sama apa mau fatih, dia bilang, "ummi ngak kayak gitu, mbak" sedih hatiku tu dibilang gitu. pas april kemarin yang kuterharu sampe detik ini adalah ketika aku goreng ayam, gatau karena kenapa ayamnya tu nggak sesuai ekspektasi goreng ayam biasanya. nah sedih lah aku goreng doang yang biasanya juga baik-baik aja kenapa ini banyak kena item-item gitu, padahal gak gosong. tapi fahri dengan lapang dadanya membuatku tenang, "gakpapa mbak, yang penting bisa makan. dek, terharu loh aku kamu bilang gitu. terus kemarin juga fatih nanya, "Umi kenapa pergi sih, kan ummi bisa bikinin faih sarapan..." terus ummi jawab, "mbak fitri kan juga bisa dek..." tapi fatih bilang, "iya sih, tapi kan ummi ang ngerti adat istiadat fatih...." aku ngersa lucu tapi sedih juga. lucu karena term adat istiadat, sama sedih yang, aku ada ummi ikutan bantu pagi-pagi siapin sarapan, bekal snack, bekal nasi, seragam atau kaos kaki. meski kadang skip juga. tapi lhoo masih aja gatau kebiasaan fatih dia biilang :"" so sad kayak ternyata masih belum juga bisa sepaham itu sama adik sendiri.
***
bagaimana pun juga, ibu adalah sumber kehidupan anak-anaknya. paling tau, paling ngerti. hafal kebiasaan satu sama lain. gak akan bisa adik-adikku ngerasa aku mampu gantiin tugas ummi, pun juga ga akan bisa abi ngerasa begitu. dan juga tentu saja, paling tidak putus doanya.

i cant describe semua peasaan yang kudapat hari-hari kemarin. tapi sungguh aku salut sama semua ibu, ibu-ibuknya teman-temanku (karena aku kenal anaknya, jadi kayak ngawang-ngawang gitu ibunya x, y, z ngadepin x, y, z gimana ya...), juga teman-temanku yang sudah jadi ibu.

semoga aku kelak bisa jadi ibu yang kuat, yang bisa mendidik dengan baik dan sabar, yang bsia jadi tempat pulangnya keluarga .

mohon maaf ini banyak iklan dan ucrhatnya *emang biasanya apa fit
tanpa dibaca ulang bener-bener. mungkin banyak yang mbingungi~


Sorot Mata

Aku barangkali bukan penebak yang baik.
.
.
Tapi tebakan maryam pada sorot mataku yang katanya penuh rindu.
.
Atau kata-kata orang tentang mata bisa mencerminkan apa yang dirasa. Mencerminkan isi hati.
.
Membuatku pernah tahu bahwa aku mengenali sorot mata hangat yang suatu hari redup dari biasanya. Tapi aku hargai itu, pikirku, mungkin ada yang sedang ia jaga.
.
Dan juga sorot mata yang penuh usaha menyembunyikan perasaan sedih. Di usahanya melemparkan obrolan yang seperti biasa. Nampak di antara ekspresi wajah yang nampak selalu riang gembira; tak pernah sedih yang kuindra selama ini.
Akhir-akhir ini .

Minggu, 07 Oktober 2018

/untuk segala pertanyaan

/untuk segala pertanyaan
/yang menginginkan jawaban
/untuk segala kata-kata
/yang tersumbat di mulut atau jemari
/yang ragu
/untuk bertanya atau ditahan
/untuk menjawab atau membiarkan
/yang punya berjuta alasan pembenaran
/yang sesungguhnya tahu bahwa
/ada lebih banyak alasan untuk tidak

wahai hati, bersabarlah
dengan kesabaran yang baik
sehingga Allah memberimu apa yang pantas untukmu
dengan upaya-upayamu menjemput jawaban
maupun merespon pertanyaan-pertanyaan
dan kamu wahai isi kepala,
cukup ya, memikirkannya
.
tidakkah kau lelah?

untuk dua pekan ke belakang .
tapi semua yang terjadi itu pasti karena izin Allah .
jadi, pasti. pasti. pasti.
ada hikmahnya . ada pembelajarannya .

Zahra




once upon a time di depok, zahra, si penyuka pisang yang waktu sedang ngebut skripsian di bulan ramadhan 2016 kuberi donat minion rasa pisang, yang sekarang merantau di makassar sebagai pns, yang sedang prajabatan di jakarta, memata-matai aku di badr.

zahra ini anak jogja asli walaupun ibunya berasal dari Palu. anak kedua dari lima. smp di smp 4 pakem jogja yang arah ke kaliurang atas, depan rs panti nugroho. sma nya di teladan (ini nama kerennya sma n 1 jogja). kuliahnya di tphp tapi bukan teknik pemberi harapan palsu, melainkan teknologi pangan dan hasil pertanian. penyuka coklat sejati sampai-sampai dia tidak begitu prefer pada sereal honeystar kebangganku karena lebih menyukai sereal apapun selama itu sereal cokelat. skripsinya tentang cokelat, kkn di gorontalo karena cokelat. dan sewaktu penelitian menuju jenjang pns nya dia juga membuat beragam produk tentang cokelat. karena dia kini mengajar umkm umkm sulawesi aku bilang dia buat ngenalin tebi, wkwk.

zahra termasuk anak yang mau menerima dan memaklumi keanehanku (dan nusa, tentu saja B)). saat aku makan nasi goreng di gelas bekas air kelapa muda, aku lupa dia pernah makan apa di gelas bekas menyeduh minuman cokelatnya. tapi kami bersekongkol tidak hanya dalam hal keanehaan saja, juga dalam kabinet asrama. anaknya kritis dan suka membantu, untung saja tidak suka membanting. satu lagi, dia juga cukup bisa diandalkan.

sebelum keterima pns, zahra kerja di ternaknesia. ceo nya juara dua lomba startup astra dan abidah atas nama tebi juaraa tiga lomba yang sama. waktu hari h pengumuman, zahra pm aku terus bilang selamat ya kak, tapi maaf (karena dia juara dua). nggak persis sama sih tapi wordingnya gitu intinya hehe. makanya pas kami ketemu di badr dia bilang, kak, aku memata-matai badr nih? wkwwk. oya kami suka saling manggil kak gitu.

sejak lama zahra memang ingin kerja di sulawesi. karena di sana (sekali lagi) besar potensi cokelatnya. tapi kemarin saat bertemu dia bilang berat di tanah rantau. bukan karena sendirinya. dia bilang, kalo ngerasa sendiri, masih ada Allah Kak. siapa yang ga terharu coba dengernya. dia malah berat ke birrul walidain gitu katanya.

lalu aku cerita tentaang perpus katakerja di makassar yang aku ingin suatu waktu nanti singgah ke sana. aku juga cerita tentang ruangbaca, sepasang pustakawan di katakerja. dia segera mengecek dan dia bilang wah itu tidak terlalu jauh dari tempatnya.

aku suka pertemuan kami yang sederhana. tidak perlu mencari tempat makan mahal atau nongkrong  di kafe. cukup nasi kuning yang kata dia enak banget. lidah zahra nampaknya masih lidah jawa dan dia bilang rasa nasi kuning makassar tidak seperti itu. lalu kami juga mengupas mangga. dan aku dengan sumringah menaburkan gemintang honeystars ke mangga. zahra juga mengicip cilok dan kue ape, yang sudah sedari di jogja (it seems awal 2017) aku iming-imingi dia soal kue ape. sebagai anak pangan, dia punya interest mengetahui ragam makanan. oh iya dia juga pernah terlibat proyek dosen membuat buku tentang makanan yogyakarta.

hari ini jarak kami jauh sekali. semoga senantiasa kuat dengan kehidupan keseharian di sana ya kak.

ohya, ada satu percakapan yang zahra ungkit. dia ambil dari buku Teman Imaji yang pernah dia pinjam dariku.
"Aku ingin menyelamatkanmu...."
...
"dari rutinitas."
kata zahra itu berkesan banget. aku jadi ingin murojaah bukunya lagi.

bonus foto awal 2015 bersama zahra dan ammah tika (yang sudah tinggal di aceh :"))

untuk Rabu, sebelum suatu hal terjadi.


Private Mode

Somehow akhir-akhir ini saya kepikiran mau buat blog ini mode privat sementara. Kayak pengen banyak yang ketulis tapi khawatir, ragu. Padahal lagi ngerasa butuh nulis untuk healing. Hmm ngga tau juga sih sebenernya beneran healing atau enggak. Yakali ada yang masih mau bacabaca tulisan healing bisi japri emailnya ke emailku (url blog ini terus et gmail dot com). Nanti bisa dibikin ga privat ke email tertentu, tapiyagituisinya. Kalo jadi dan mau tapi ya ehehe.

Bahagia

Ikut bantu-bantu panitiain kajian remaja. Temanya tentang bahagia.
.
Setiap peserta diminta nulis definisi bahagia mereka.
.
Lalu menebak arah materi. Pemahaman bahwa bahagia itu ketika dapat ridhaNya Allah. Itu harusnya standar bahagia seorang muslim.
.
Sudah sebesar ini. Seberapa jauh mencari bahagia dengan definisi itu. Seberapa jauh menjadikan ridha Allah sebagai standar kebahagiaan, standar ketenangan, standar merasa cukup.

Saya tahu definisi bahagia itu. Tapi seberapa sering saya merasa mendapatkan bahagia dengan standar itu. Atau seberapa sering saya mencari kebahagiaan lewat selain itu. Betapa mudah bahagia karena hal kecil, tapi bisa jadi merasa bahagia dengan mudah karena hal-hal yang Allah atur itu sulitnya masya Allah :"

Seperti yang diperjuangkan akhir-akhir ini. Seberapa kuat saya menahan diri. Seberapa kuat merasa cukup dan tidak perlu mencari tahu lebih. Sebetapa tenang saya dengan hal-hal yang sudah saya tahu, lalu merasa cukup. Seberapa merasa cukup saya untuk menyimpan banyak hal sendiri untuk beberapa alasan. Seberapa pasrah saya sama Allah sebagai jalan yang saya yakini akan ngasih kebahagiaan hakiki.

Ah, Allah....


Kamis, 04 Oktober 2018

Nasehat Suatu Hari

"Perempuan itu jadi sebaik-baik support untuk keluarganya kelak."

"Pelajarin apa-apa yang dilakukan oleh para perempuan yang disebut di Quran. Udah itu aja. Dibikin listnya mereka ngapain dan bagaimana biar bisa meneladaninya."

"Cari juga skill-skill yang dibutuhkan bagi perempuan. Misal dulu ada yang belajar tahsinnya, hafalannya. Atau bisa juga bagaimana tentang manajemen keuangan.

"Nggak mungkin Fit nggak ada masalah. Saya kalau ada konflik, pegangan saya cuma satu. Saya tahu setan itu paling nggak suka sama pernikahan. Maunya dibikin cerai kan orang yang udah menikah tuh sama mereka. Kalau saya berkonflik, saya ingetnya itu aja. Oh ini setan nih lagi ngegoda manusia. Biar nggak kebawa ke mana-mana konfliknya. Biar inget bahwa itu memang lagi diuji."

"Kondisi ini nggak ideal (istri mengurusi 3 hal: anak, kerja, dan kuliah). Untuk urusan kantor, saya nggak mau ikut campur (karena sekantor). Itu bukan hak saya, maka biarkan ia mengurusinya sama supervisornya. Tapi setiap hari saya memastikan, ngerjain apa hari ini? Karena saya nggak mau dong dia nggak amanah. Saya harus memastikan dia amanah."

"Fitri sekarang mungkin gampang nih minta maaf ke teman-teman. Kalau sudah menikah, belum tentu semudah itu minta maaf ke pasangan."

"Akan beda Fit baru menikah, dengan setahun menikah, dengan pernikahan yang sudah bertahun-tahun."

"Menikah itu bukan untuk bahagia, Fitri. Menikah itu untuk kebaikan. Ada banyak sekali kebaikan dalam pernikahan, dalam keadaan bahagia maupun tidak :)"

Suatu jeda waktu di Kamis





Rabu, 03 Oktober 2018

Baik-baik Saja

Dear fitri,
Berhentilah untuk bilang aku baik-baik saja. Saat memang tidak baik-baik saja.
Belajar jujurlah .

Lagipula dari pada,
dipikirkan sampai besok-besok
bukankah lebih baik diselesaikan di hari yang sama.

lagi merasa kecil, merasa bocah, merasa kekanakan
lagi merasa gini aja kenapa kesel sih fit
lagi merasa semakin jauh dan tidak terlibat, tapi berlebihan sih
belajar mendewasa ya fit

nggak semua hal berarti seburuk yang kau pikirkan .







Selasa, 02 Oktober 2018

Tidak Mencela Makanan

jadi inget, kalau kata Fahri;
"Jangan bilang makanannya nggak enak. Tapi bilangnya, aku nggak suka makanannya."

karena itu sesungguhnya berbeda .

Minggu, 30 September 2018

Anak yang Menunggu Ayahnya

"Tau ga..." Mas Salingga diam sejenak, menarik perhatian kami. "Kalo pas pulang nih, udah deket rumah, suara motor udah kedengeran dari rumah tuh. Terus markir motor, standarnya diturunin. Anak-anak lari keluar, teriak, Ayah, Ayah! Ayah pulang! " jeda sejenak.
.
.
"Itu precious banget."

***
Saya tiba-tiba saja ingat kembali kalimat itu. Kayaknya udah lama banget deh Mas Salingga cerita itu di ruangan. Mungkin pas Yawme masih di bawah. Ndak tau kenapa ingat itu. Kemudian jadi ingat juga entah igstory Kak Reqgi atau wastory Kak Amri yang Kak Amri ada di dalam sarung terus Zayd sama Aqila teriak, "Ayah, Ayah hilang! Ayah hilang!" Hangat sekali melihatnya.

Anak-anak tidak pernah berbohong. Dalam menunggu waktu berharga dari orang tuanya. Their pure willingness  :")

Jadi inget juga video ini yang dishare di grup tebi pas temen-temen nyari inspirasi konsep video campaign.





Ingatan soal cerita Mas Salingga tadi membuat saya jadi mengingat Abi yang belakangan bolak-balik keluar kota. Mungkin dalam setengah bulan terakhir, tidak ada sampai setengah hari ketemu abi kalau ditotal, atau bahkan sepertiga hari juga tidak sampai. Di usia saya yang sekarang, kalau Abi pulang, apakah saya sungguh-sungguh menyambutnya? Heu. Jangan-jangan malah sibuk sendiri, main HP misalnya.

Terus saya jadi kepengen bikin konsep buku yang isinya tentang menunggu seseorang pulang ke rumah. Dulu pernah liat-liat di gramed pas masih di jogja (mungkin hampir dua tahunan yang lalu berarti) ada buku anak terjemahan dari Jepang kalau nggak salah, berjudul Nanti itu Kapan? Isinya tentang seorang anak yang ibunya lagi sibuk menjaga dan melayani pembeli di toko sehingga seringkali saat anaknya minta atau bertanya sesuatu, ibunya menjawab, "Nanti." Lalu si anak wondering gitu nanti itu apa dan kapan. (kalau mau cari, keywordnya Nanti itu Kapan? Satoko Miyano atau liat spoiler isi dalamnya secara online di sini)

Kepikirannya  semacam bagaimana anak menunggu Ayahnya pulang dari ia masih kecil sampai ia dewasa. Dan bagaimana juga yang berlaku sebaliknya; bagaimana orang tua menunggu anaknya pulang, dari si anak kecil sampai dewasa. Yang paling penting adalah eksekusinya sih. Karena menyedihkannya aku ini udah lama sekali ngga nulis. Hiks :((


jadi ingin menghambur meluk abi kalau abi pulang .
dan...
jadi ingin punya suporter dalam masalah tulis menulis ini .



Sabtu, 29 September 2018

Beng-beng dari Nadia

Waktu itu menjelang maghrib sepertinya, Nadia datang ke ruangan tebi mencariku. Di ruangan sebenarnya sepi, hanya tiga orang. Tapi sepertinya setelah pintu terbuka dan aku sudah unjuk diri, Nadia terlalu ragu untuk masuk ke dalam. Dia tarik mundur dirinya dari longokan di daun pintu.

Bakda shalat aku menemukan beng-beng dengan secuplik tulisan di atasnya. Ternyata itu dari Nadia. Tadi waktu ashar memang dia ingin segera shalat agar bisa melanjutkan persiapan presentasi market researchnya-dan dia sangat cemas dengan itu. Lalu kutemani shalat duluan (dengan menepok dia yang udah shalat duluan, tapi emang udah direncanain gitu dari awal), satu kloter lebih dulu dibanding teman-teman lainnya. Sebenarnya sederhana dan wajar, tidak lebih spesial atau bagaimanalah shalat duluan dengan tidak menunggu semua jamaah putri siap. Dan selama bisa berjamaah, kupikir juga gakpapa shalat jamaah duluan. Tapi ternyata Nadia menghargai itu lebih dari yang kukira :')

Waktu aku bilang terima kasih secara langsung ke Nadia. Aku tanya dia kenapa tadi nyari aku ke ruang tebi. Dia bilang kurang lebih, gakpapa, abis presentasi, kayak mau meluk melepas lega. Huaaa kurasanya merasa sama gitu haha aku juga kadang kalo abis ngerasa sesuatu jadi pengen meluk gitu. Terus rasanya kayak punya temen yang tau rasa senengnya meluk atau dipeluk /haha naon.

Ya begitulah, kadang menemukan secuil kesamaan dalam hal yang mungkin gak banyak orang ngerasainnya such a treasure. Gatau sih it will be bertahan sampai aku lebih dewasa lagi atau enggak. Tapi kalau kata Faizah, temen saya di aliyah dulu, manusia butuh 12 pelukan sehari, untuk ngerasa bahagia atau apa gitu. Ada penelitiannya, seriusan,wkwk.

Kayaknya Senin pekan kemarin,
kalo iya berarti 17 September 2018

Racau Kacau

lima dari tujuh hari terakhir, mengunjungi puskesmas dan rumah sakit. sibuk dengan mengantri. belajar menyabarkan diri. alhamdulillah aala kulli hal hasil cek ceknya negatif. sebelumnya sudah pasrah sampai aku rasanya ngga berani doa minta dikasih sehat karena khawatir ini teguran dari Allah, atau sakitnya bener-bener dimaksudkan untuk jadi penggugur dosa. udah itu aja husnuzonnya sama Allah pas itu; waktu doa, waktu jalan ke ruangan ambil hasil lab (yang ternyata gabisa langsung ambil dan harus mengantri dsb dsb dulu). Alhamdulilah Allah jawab dengan membebaskan aku yang jika saja hasilnya positif perlu pengobatan runtut enam bulan. sekarang memulihkan diri dengan kondisi saat ini. kalo inget nasehat-nasehat dokter di puskesmas tu rasanya campuran terharu sama menyesal. dokternya nanya banyak dari soal nafsu makan sampai kantornya di mana, kerjanya biasanya gimana, jam kerja, bawa beban biasanya berapa kilo, kerjanya ada angkat-angkat yang berat ga, nyuruh banyak minum susu buat pemulihan. rasanya, beberapa nasehat kayak familiar tapi ndak aku perhatiin :"

***

Rumah sakit dan puskesmas biasa membuatku berpikir banyak banget ya orang sakit. orang yang rawat jalan, rawat inap. wajah-wajah cemas, wajah-wajah pias, wajah-wajah pasrah, wajah-wajah berharap, wajah-wajah bersyukur masih Allah beri kesempatan. wajah istri dan anak perempuan kecilnya yang untuk masuk poli saja suaminya ada di atas kasur rumah sakit yang didorong di lorong-lorong sampai di antara kami yang menunggu antrian poli. wajah ibu muda yang mengetahui gejala pada tubuhnya. wajah bapak tua yang sudah menunggu lama sekali. wajah ibu hamil yang menghabiskan waktu menunggu dengan makan keripik. wajah ibu bermakeup tebal yang marah ketika anaknya membuka tutup udara balon-balonan yang dibeli di luar puskesmas, yang bertanya padaku soal jaminan kesehatan. wajah keluarga yang bicara dengan bahasa cina selama menunggu. wajah-wajah ibu-ibu yang penuh perjuangan membuat anak kecilnya nyaman menunggu antriannya dipanggil.

semoga Allah menguatkan setiap orang yang berjuang, ya.

***

September mau berakhir. dan ternyata juga tidak sederhana. kemarin kukira di akhir agustus kusudah melewati bebrapa hal yang cukup challenging untuk diri sendiri terus mau nulis blog gitu tentang agustus yang berakhir. tapi tak kusangka september datang dengan ceritanya sendiri. membuatku kemudian berpikir, Allah mau kasih aku kejutan apa lagi ya selanjutnya. apapun itu semoga kubisa menghadapainya dengan baik dan membuat diri ini jadi bertambah baik. semoga kalian juga, ya <3 p="">


<3 p="">***

kemarin abidah bilang, dia sama ima bilang aku kamis kemarin kayaknya lagi seneng. kutau sih memang agak overekspresi kayaknya pas itu heuheu. padahal di saat yang sama aku juga sebenarnya sedang kepikiran sesuatu. aku jadi berpikir apa overekspresiku itu sebenarnya pelarian ya biar ngga kepikiran hal itu lagi heu.

***

beberapa hari yang lalu aku kepikiran, kenapa ada orang yang berpikir untuk melakukan hal yang kita have no idea samasekali tentang itu, dan dia melakukannya ke kita? dan membuat aku berpikir berkali-kali tentang itu. sampai hari ini, barangkali.
<3 p="">tapi mungkin Allah nggak akan menakdirkannya tanpa ada alasan. semoga aku bisa belajar tentang itu.

ceritanya jumat, 28 sep 2018

Gugur akan Menyapa Senja

Gugur akan menyapa senja, untuk kali pertama
Daun yang menguning, memerah, mengering
Akan larut dalam warna yang sama di pelataran langit sana
Menemani tapak-tapak yang beranjak pulang
Dalam pikiran yang terngiang-ngiang

Belum usai
atau mungkin
Tidak pernah usai
Tidak ada habisnya.

untuk September :')
ditulis dari dua atau tiga hari yang lalu
saat kabarnya, di Jepang masuk hari pertama musim gugur

Buku Tulis

Ummi ikut ke sekolah Fatih. Hari ini ada semacam pembekalan skl gitu katanya. Semacam bimbel abis uts buat persiapan un. Hm aku sesungguhnya bingung juga kenapa anak kelas empat udah ada persiapan un.

"Dek tadi kata Naima ke ibunya nyatetnya banyak banget ya. Emang iya dek nyatetnya banyak?"
"Hm..." Fatih senyum "Fatih nggak bawa buku tulis" Nyengir dia.
.
Dek. Gemes dek aku ni kamu sekolah ndak bawa peralatan sekolah.

Jumat, 28 September 2018

Maryam .

Maryam. Aku kangen.
Jadi ingat malam Sabtu. Aku kangen merasakan perasaan senengnya malam Sabtu kayak dulu yam.

-foto 26 nov 2017

Tenang dalam Testing

That kind of things that i want right now.
/tidak ada penjelasan panjang, mari dilanjutkan :)

untuk segala pikiran yang suka tiba-tiba muncul, menyingkirlah

Sabtu, 22 September 2018

Kekal

Nama anak berusia tiga tahun itu Kekal. Kekal Harapan Bunda. Matanya bulat. Badannya gemuk sehat. Rambutnya tegak-tegak berwarna hitam legam yang cukup lebat. Wajahnya penuh senyum. Kala itu aku bertemu ibunya yang memakai gamis putih dan kerudung hijau motif kotak-kotak yang bahannya agak tebal menyerupai pashmina. Usia ibunya 24 tahun waktu itu, kalau tidak salah.
Ibunya mengenalkan Kekal pada kami, "Ini Kekal, itu kendaraannya." Sambil menunjuk pada sepeda yang bodonya mirip kuda-kudaan di pinggir tembok. Wajah Ibu Kekal menyenangkan, meski kuakui cukup sendu. Wajah yang ramah senyum namun terkadang menahan perasaan sedih setiap bertemu dengan pertanyaan, "Ayah Kekal di mana?".

Bukan. Bukan ia sedih jika harus menjawab pertanyaan orang lain tentang itu.
Ini tentang perasaannya yang membenak, bagaimana jika Kekal sudah paham dan menanyakan pertanyaan itu dengan sungguh-sungguh. Ah, bagaimanalah menjelaskannya sembari menatap mata bulatnya?


Kamis, 20 September 2018

Dan Bersegeralah .

133. Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

134. (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan,

135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu sedang mereka mengetahui.

136. Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal.

QS Ali Imran: 133-136

Sabtu, 15 September 2018

Di Kereta

Saya duduk dan terdiam memandang keluar jendela kereta. Melihat rumah petak kontrakan. Melihat lapangan. Melihat pohon pohon pisang. Melihat kawasan perumahan kecil yang sedang dibangun. Melihat rumah petak kontrakan lagi. Melihat rumpun-rumpun bambu. Melihat seorang ayah di kursi depanku, yang sedikit-sedikit melihat putri kecil dan istrinya yang ada di sudut gerbong wanita. Ya, ia sedikit terpisah gerbong karena keduanya ada di kursi prioritas gerbong wanita. Syukurlah pintu pembatas gerbong dan pinggirnya terbuka kebar. Sekali kudengar ada panggilan, Ayah...!

Aku berpikir tentang keluarga. Keluarga seperti apa yang kelak ingin aku bangun. Keluarga seperti apa yang ingin aku tumbuhkan. Ladang amal apa yang hendak kami semai. Senjata sabar dan syukur bagaimana yang kelak bisa selalu mengingatkanku bahwa orientasi apapun adalah untuk ridha Allah.

Mataku berkaca-kaca.

 Cibinong-Citayam
 14.58
Saat tulisan ini dipos, si Ayah berdiri, mengendong putri kecilnya di dekat pintu perbatasan antar gerbong 

Kamis, 13 September 2018

Ujian Sabar

kemarin dengan segala emosi yang tidak cukup baik, stnk motor terbawa ayah. kereta sudah terlewat dan kereta selanjutnya cukup lama jadwalnya. akhirnya aku jalan ke depan, menunggu bis bogor depok lama sekali tak datang-datang. begitu memutuskan naik angkot, angkot jurusan tsb ga lewat-lewat. akhirnya berangkat jam 8, sampai kantor 9.10an. sampai badr juga how to deal with stabilitas diri gitu  yang udah kemulai dari berangkat sebenarnya.
hari ini alhamdulillah meski agak buru-buru bisa nyempetin mampir ke rumah teman menitip barang, ke asrama teman yang dia jadi musyrifahnya mengobrol sebentar dan mendapat insight, lalu dilanjut ke badr. tes, ks, design challenge, acc test, dsb dsb. merasa bersalah masuk ke obrolan orang. deal dengan perasaan khawatir orang ada feel gak enak sama aku (never mind, it is okay). pulang gak fokus. mau pulang lewat depan akhirnya muter ulang lewat jalan dalam. lupa harus mampir maketin titipan lalu balik arah untuk kedua kalinya. mampir ganti lampu. dan platku sudah tak ada di tempatnya :")
setelah nanya ke tiga orang mereka tidak ada yang lihat. akhirnya pasrah dengan baiklah harus mencari ganti plat lewat alur lapor kehilangan karena ayah khawatir ada yang menyalahgunakan plat tsb. asa malas juga sebenarnya perlu urus-urus dengan skema birokrasinya. tapi ya sudah takapa. belajar nerima, sabar.
kemudian berpikir. akhir-akhir ini kayak dikasih Allah medan belajar sabar. harusnya bersyukur ya. karena kalau lulus, insya Allah akan jadi pribadi yang  lebih baik.

terima kasih ya Allah. semoga ku sabar menjalani ujian kesabaran dan keikhlasan ini :")
dan alhamdulillah hari ini Allah sempatkan ketemu dengan tiga teman yang sudah lama tak bersua. semoga kertas putihnya bisa selalu terlihat dibanding titik hitamnya ya fit.

"ternyata adikku juga  punya bukunya...."
.
.
.
(ini ada di tas, kubawa)
cuma terucap dalam hati, hahaha.

habis itu menyesal, salah deh kayaknya masuk-masuk ke obrolan orang.

Obrolan Haru

Fatih pulang ngaji, pintu pagernya ga ditutup lagi.
"Dek pintunya ditutup."
"Lho, Mbak Fitri udah pulang? Fatih kira belum pulang makanya pagernya dibukain."

***

"Mbak kenapa sih Mbak Fitri pulangnya malem terus."
"Emang kenapa?"
"Ya kan kita bisa main-main gitu, ngobrol..."
*mode terharu
"Eh tapi nggak papa sih kalau pulang malem, misalnya pas ada jus jadi nanti bawa jus ke rumah."

***

*lagi gak nginep rumah baru semalem
"Mbak kangen."
*dua malam gak nginep rumah, pas jalan kaki ke rumah dari depan, vcall wa
"Mbak sampe mana?"
"Ini lagi jalan kaki ke rumah."
"Cepetan ya Mbak jalannya. Fatih kangen."

sampe rumah udah iqamah magrib. ga ketemu dia soalnya dah ke masjid

"Mbak kok lama sih tadi. Padahal pas di jalan Fatih tunggu loh di ujung gang."

***

Pas lagi pulang malam.
"Mbak, tadi hampir setiap ada bunyi motor Fatih ke depan lho ngeliat."

***

"Mbak kenapa sih pulangnya malem?"
"Iya dek ada yang msih harus dikerjain."
"Kenapa nggak dikerjain besoknya aja?"
"Dek kalau mau milih, mending Mbak Fitri pulang cepet ngerjain di rumah, atau pulang telat tapi ga ngerjain kerjaan?"
"Pulang cepet dan gak ngerjain kerjaan."
"..."
"Kan bisa main-main sama Fatih."

Obrolan Receh

"Dek, tol itu terdiri dai huruf apa aja?" waktu itu macet. di tol.
"Hmm.." Mikir. "To dan La" (hijaiyah mode, pls)
"Ih, kok tau yang Mbak Fitri maksud?"
"Iya, Mbak Fitri kan suka menyimpang gitu."

zzz, menyimpang lebih tepatnya nyeleneh kali ya dek.

***

*habis menebak sesuatu yang ngasal gitu*
"Mbak, Fatih kan mau nebak itu juga"
"Beneran?"
"Kita kayaknya satu otak deh Mbak."

***

"Ini tu makanan kesukaan abi dek. Ummi belajar dari Mbah dulu cara bikinnya."
"Emang iya Mbak?"
"Iya. Nanti juga kali ya istri Fatih naya ke Ummi Fatih sukanya makan apa."
"Fatih mah gampang Mbak. Kan makanan kesukaan Fatih Indomi."
-___________-

***

 Punya PR kliping blum dikerjain, yang heboh Ummi (sama Abi) urus kliping. Fatih sarapan. Kubantuin nyiapin bekal.
"Ini paling nggak diperiksa sama gurunya."
"Emang Iya," jawab dia dengan pd dan santainya.
*semua ketawa
Dek aku SD gak pernah mikir gitu zzz. Kalo aku mikir gitu aku dak usah kerjain aja ini.

***

"Uang sepuluh juta kalo buat itu (lupa apa) sedikit ya..."
"Tapi kalau buat Indomi bisa jadi banyak tau Mbak."
"Ih, tadi aku juga mikir gitu tau dek."
"..."
"Oiya ya kata Fatih kan kita satu otak."

***

"Dek, gimana caranya kipas itu terdiri dari empat huruf."
Mikir. Nebak. Salah. Mikir. Nebak. Salah. Menyerah.
"Ganti ka sama i pake huruf q, jadi qpas. Empat huruf kan.
*ketawa*

***

"Mbak pijetin..." mau tidur dia.
Mijetin, terus nyanyi nina bobo ninanya diganti fatih.
"Fatih bukan bobo Mbak."
Nyanyi lagi. Nina nya diganti Fatih. Bobonya diganti coreng (adiknya bobo).
"Ih, Mbak Fitri gak jelas."
"Kita cari ya lagu Nina Bobo." *mencari di yutub
*muter lagu
"Mbak ih berisik gabisa bobo."
*muter lagu yang dua jam
"Nih dek katanya ini pengantar ttidur sampe dua jam tu."
*masih intro
"Jangan-jangan yang rekaman juga ketiduran sama lagunya sendiri makanya sampe dua jam."

***

"Fatih selamat Mbak sekarang udah kelas empat."
"Selamat dari apaan?"
"Itu Fatih kan suka ditanya. Misalnya kelas berapa? Kalau Fatih jawab tiga suka ditanya tiga apa? SMA? SMP?"
*ketawa*

***

Malem-malem
"Dek belajar, pekan depan UTS kan?"
"Mmm, Fatih belajar kalau besoknya ulangan aja."
"Iiih kok gitu?"
"Fatih selalu melakukan itu lho Mbak dari kelas satu." *muka sok yakin gemes gitu

Perjalanan

suatu ketika kita berada di sepanjang jalan yang kanan kirinya lorong-lorong pertokoan. menyusuri dengan tapak kaki yang tak kenal lelah sehabis seharian menapaki jalan. lalu salah seorang dari kita melemparkan kalimat dari puisi aan mansyur, yang semakin terkenal namanya lepas rilis film aadc kedua: suatu hari seseorang pergi, lalu tiba-tiba ia ada di mana-mana

kita kembali mengenang banyak hal yang kita lalui dalam perjalanan. bukan soal kitanya. tapi orang yang kita masing-masing ingat sepanjang perjalanan. yang barangkali ingin kita ajak. yang barangkali ingin ia membersamai. tapi lagi-lagi. suatu hari seseorang pergi, lalu tiba-tiba ia ada di mana-mana. kita menyebut sosok-sosok yang pergi tanpa kita tahu kabarnya lagi. mereka pergi, kita menerimanya tapi begitu kita menyadari mereka pergi, mereka justru muncul di mana-mana.

agustus 2016
***

sekian jenak berlalu. hari ini aku yang pergi. tapi frase itu kembali berlaku; untukku, bahkan yang pergi. maka frasenya menjadi; suatu hari aku pergi, tapi seperti tidak ke mana-mana. betapapun pemandangan indah di depan, terjal jalan dilalui, banyak orang baru dikenali, pengalaman yang mengasyikkan, aku seolah tidak ke mana-mana. isi kepalaku terpaut satu. mengambil alih dominasi pikiran-pikiran. menggelayuti sudut yang harusnya bisa kuisi dengan apapun hal baru yang kuindra.

bahwa betapa banyak hal yang ternyata ingin kuceritakan.
dan kutanyakan.
agustus 2018
***

keduanya sama
untuk berujung pada; halo, apa kabar?
yang urung disampaikan


*sebenarnya aku ga ingin menambahkan notes ini, tapi daripada salah kaprah.
bias-bias kata ini mencampurkan nyata dan imaji, juga tebakan akan empati terhadap orang lain
 (sok memosisikan merasakan perasaan orang lain) yang bisa jadi juga salah
ini sering ad pada tulisan-tulisanku tanpa aku menulis note ini

ibu ceo dan gambarnya :")

ibu ceo dan gambarnya :")

17 oktober 2017

Rabu, 12 September 2018

Melupakan Keresahan

cara terbaik melupakan keresahan selain sibuk adalah membuat kesibukan itu sendiri. bersosialisasi, mengobrol, membantu orang, membuat kegiatan kecil sederhana, bukan menyendiri dan memikirkan terus-terusan keresahan itu dengan alasan yang ingin sok menenangkan diri. memilih menyingkir justru menimbukan kekhawatiran orang lain, dan barangkali membuat suasana di antara kalian jadi tidak nyaman.
awalnya mungkin memaksa, berpura-pura. tapi kadang sesuatu yang dipaksakan bisa berakhir baik juga :") dan bahkan lama-lama tidak terasa berat lagi.

everything was just being okay .


everything was just being okay .

ada beberapa kalimat yang sering saya katakan pada diri sendiri belakangan ini. semua baik-baik aja, atau juga, aku gakpapa-seperti jawabanku ketika seorang tanya apakah aku sakit hari itu menjelang shalat zuhur.

Dua kalimat itu barangkali sugesti sekaligus menyembunyikan diri sendiri.

sesungguhnya, aku benci saat-saat diriku seperti ini. begitu gelisah tak tau sebabnya. Atau mungkin tau, tapi alam bawah sadarku enggan mengakuinya. Atau juga tau, tapi tak tahu harus bagaimana. i feel being childish dan sesungguhnya aku malu sekali seperti ini :"

lalu efek sampingnya aku perlu berusaha lebih keras untuk konsentrasi, merespon obrolan, mengontrol emosi. berusaha keras untuk menahan tangis jika di depan orang atau sebaliknya, berusaha mengeluarkan tangis saat kondisi sepi tapi justru sulit sekali ledakan dalam diri ini dikeluarkan. seperti yang kukatakan tadi, aku benci saat diriku seperti ini. beberapa kali tertangkap mual mau muntah oleh teman atau ibu. kayaknya bukan karena sakit perut, lebih ke karena ada pikiran.

i am being unproductive today. lalu aku mencari wajah senyum di folder-folder foto. berharap menemukan satu untuk kupasang foto profilku guna mensugesti diri agar tetap bersyukur sehingga memunculkan bahagia yang lega; daripada aku pasang foto objek yang malah mendukung unstableku. di tengah mencarinya, aku ingat kata-kata temanku. kalau lagi sedih, coba ingat betapa banyak sebenarnya senyum yang pernah tercipta. tapi pada akhirnya aku gak ganti foto profil juga. Haha gak konsisten ya.

aku malu temanku pernah bilang aku jarang mengeluh. Mungkin tulisan ini buktinya. Aku selemah itu dan malah healing dengan menulis ini. mungkin saat ia bilang sesuatu yang dia lihat yang mana gak aku lihat (kadang kita butuh cermin kan untuk menilai diri sendiri). dan mungkin aku juga melihat apa yang gak ia lihat. membingungkan ya? entahlah. maaf ya teman jika penilaianmu ternyata mengecewakan. being introvert is so difficult when you wanna someone knowing you so well without telling something. aku selalu khawatir memulai cerita. khawatir diberi respon negatif mungkin. padahal respon negatif sekalipun adalah pembelajaran yang mungkin baik bagiku...

everything shall pass. semua akan berlalu, dan barangkali waktu adalah teman terbaik untuk melaluinya. dan Allah pasti ngasih sesuatu di waktu yang terbaik menurutNya.
dua hal itu juga yang kubisikkan akhir-akhir ini.

hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. 

*monmaap netijen jika merasa tidak nyaman dengan isi ini silakan beritahu saya untuk membuat blog ini privat atau silakan tidak mampir ke sini.

don't worry, i am really okay :)

Senyum

Apa tidak cukup hadits 'senyum di hadapan saudaramu adalah sedekah' untuk membuatmu urung menampilkan muka tidak enak dan menunjukkan bahwa perasaanmu sedang tak karuan?


Senin, 13 Agustus 2018

Hilang

Kenapa merasa kehilangan; bahkan justru pada apa-apa yang sejatinya bukan hak kita?

:')
belajar fit. bertumbuh .

Sabtu, 11 Agustus 2018

Kenapa Sibuk Sendiri Kalau Ada Anak?

A : "Eh headsetnya X ketinggalan."
B : "Kenapa? Mau pinjem? Bilang dulu kalau mau pinjem."
A : "Enggak. Ya siapa tau kan mau dengerin apa pake headset di rumah."
B : "Punya anaak (dengan penekanan nada bicara). Ngapain pakai headset kalau ada anak."
***
Wow. Dalam ya maknanya.
Soal pinjam barang ketinggalan yang perlu bilang dulu kalau mau pinjam. Dan yang lebih aku highlight adalah soal ngapain pakai headset kalau ada anak. Di kepalaku terjemahan dan tafsirannya jadi berupa-rupa yang intinya, ngapain sibuk sendiri kalau ada anak.
.
It was so true that put focus not just on our ownself is difficult.
.
Lalu ingat aku ke adik-adikku gimana ya.
Lalu berpikir apa kalau anak sendiri bakal beda ya.
Tapi hak anak di manapun kayaknya sama deh. Mendapatkan waktu orang dewasa di sekelilingnya. Juga adik, atau murid, atau anak-anak yang mungkin dibawa oleh teman, atau sepupu, atau saudara, atau anak-anak lainnya.

Sebagai pengingat
.
Setelah mendapat 13 card need to test
Hahaha
Tenang aja diri, kita selesaikan pelan-pelan ya :')

Tidak Merasa Lebih Baik

Yang sulit dari shaum barangkali bukan menahan lapar, haus, dan godaan lainnya. Tapi agar bagaimana tidak merasa lebih baik dari yang tidak puasa. Pun bisa jadi yang berat dari bangun malam untuk tahajud bukan berpayah-payah berusaha bangun dan menahan kantuk selama shalat. Tapi untuk tidak merasa lebih baik dari yang terlelap tidur, terlewat menunaikan sunnah sepertiga malamnya. 
- ya Allah, jauhkanlah kami dari perasaan sombong dan riya'