Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2025

24 January 2025

 Today is the last day of CMCE scholarship registration. My preparation since Sept 2024 was submitted on the 10th of January. I got the result five days later: rejection. 

My heart sank and I am still sad until now. The reason was: that my undergraduate degree was not relevant to their program. Since I decided to apply this year, I just remembered my friend from Biology had successfully passed the selection for CLL so I can also pass the selection. However, it was not Allah's permit, at least for now. I still try to talk with them, at least they let me join their program and I struggle with other scholarships. 

Hi future, where do you want to take me?


Sabtu, 09 November 2024

Gagal

Gagal itu enggak apa-apa. 

Merasa sedih juga enggak apa-apa. 

Gagal juga bisa dirayakan, kalau kamu mau. Menghabiskan waktu bersama yang kamu sayangi, menikmati makanan murah meriah pinggir jalan. Ditemani bersama-sama, ada mereka yang kalah-menangmu tetap mendukungmu, kadang-kadang lebih dari cukup. 

Aku ngerti kamu punya keinginan, yang di saat yang sama, hadir bersama ketakutan, kekhawatiran, rasa minder, 

tapi aku juga tahu kamu enggak mau nyerah tanpa nyoba, 

buat orang-orang yang kamu sayang, kalah-menang, lulus-enggak, nggak akan mengubah definisi menyayangimu.

dari POV-nya Allah, usaha dan proses menjalani seluruh proses punya nilai yang lebih berharga ketimbang hasil. 

Kalau kamu tahu, dan yakin, bahwa memasrahkan semua kekhawatiran dan kebingungan pada Allah sudah jadi puncak pengalihan kegelisahan

dan mau terus berusaha berjuang, meski suka banyak kerikil menghadang, 

dan kamu paham betul yang kamu perjuangkan bukan buat dirimu sendiri, you have your own bigger purpose, to show Islam's light in your own way. 

Somehow, masa Allah nggak akan bantu? 

Kalaupun bukan jalan yang lagi diperjuangin saat ini, Allah akan kasih jalan lain. 

Tugasmu hanya yakin. Berserah, pasrah, berusaha, sebaik-baiknya. Memohon, seberat apapun rasanya. 

Sejauh ini masa mau nyerah? Capek nggak apa-apa. Istirahat nggak masalah. 

Tapi jangan pernah lelah buat terus berusaha ditemenin Allah, dalam segala lika-liku perjalanannya. 

  -Aku yang takut, November 2024. 


Selasa, 30 Januari 2024

Allah yang Mampukan

Ikutan kelas pertemuan pertama. Di satu sisi mikir ya Allah aku kok kecil banget ya, kayak jauh mencapai itu semua. Tapi di saat yang sama jadi mikir, aku punya Allah yang Maha Besar, yang Maha Memampukan, terus jadi kayak terasaaa banget selama Allah mau bantu hambanya, akan Allah bantu. Huhu. 

Allah, peluk aku, peluk aku. :""")


Senin, 23 Oktober 2023

Insight Bab Mengasah Rasa dan Perasaan

Catatan bacaan halaman 73-100, Buku Feminitas, Jalan Pulang Fitrah Bunda

Catatan Materi Kuliah 4 - Mengasah Rasa dan Perasaan, dituturkan oleh Kiki Barkiah 

Cara Mempertajam Rasa dan Perasaan

1. Mahabbatullah

- rasa terlahir dari cinta, menumbuhkan mahabbatullah sangat penting untuk mempertajam rasa

- meningkatkan mahabbatullah ddengan meyakini sifat utama Allah adalah pengasih dan penyayang -> memaknai kasih sayang Allah semakin timbul mahabbatullah

- mahabbatullah juga lair dari rasa syukur -> mendorong untuk optimis dan berprasangka baik

- mahabbatullah juga lahir dari sikap memudahkan, tidak mempersuli, memberi kabar gembira

tumbuhkan mahabbatullah pada diri kita dan anak-anak untuk mentarbiyah ruhiyah dan menghasilkan rasa dan perasaan yang halus dan peka


2. Dzikrullah

Orang yang senantiasa berzikir kepada Allah akan menjadi orang yang peka dan sensitif, serta mengingat Allah


3. Tazkiyatun Nafs

Bukan sekadar menjauhkan diri dari dosa, tetapi memperbanyak kebaikan.


4. Ibadah Mahdah


5. Berkumpul bersama orang saleh

Ruh tidak pernah salah bergaul, untuk membuat rasa dan perasaan semakin peka, kita perlu bergaul dengan orang sholeh.


6. Ibadurrahman

Hamba Allah yang berjalan dengan rendah hati di muka bumi, juga sering membaca surat Ar Rahman dan maknanya. 

----

Menghaluskan rasa

1. Tidak bergantung pada panca indera, melatih dan mengasah perasaan dengan menutup mata/ada di kegelapan, misalnya

2. Kontemplasi/muhasabah, termasuk memperbanyak menangis juga dengan mengingat kenikmatan Allah, bukan hanya kesedihan saja. 

3. Mengindra dengan kulit

4. Membaca tanda dan isyarat; termasuk simbol, emosi, emotikon, termasuk melatih anak-anak memahami simbol emosi

5. Beraktivitas di alam bebas. Semakin sering bersentuhan dengan alam, semakin terlatih kita untuk membaca simbol, tanda, dan isyarat sekaligus memperhalus rasa yang kita miliki. 

6. Mendalami bahasa, bahkan sampai ke level sastra. Bukan sekadar bercakap-cakap, namun mampu melahirkan karya literasi

7. Bersentuhan dengan seni; mengungkapkan ekspresi rasa dan perasaan pada karya seni bisa melatih rasa dan perasaan.


Semakin sedikit para Bunda menggunakan rasa dan perasaan dalam pengasuhan, maka semakin banyak manusia yang tumbuh dengan ketumpulan rasa dan perasaan, bahkan semakin banyak melahirkan manusia yang kehilangan rasa.



Selasa, 10 September 2019

Surga Itu Mahal

Ibu cuma bilang satu kalimat: Surga itu mahal.

Aku nangis mendengarnya, sambil mendengar kalimat-kalimat di kepala.

Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar terima kasihnya manusia.
Belajar ikhlas, belajar selalu berharapnya sama Allah. Usaha terbaik, Allah yang balas. Balasan terbaik selalu dari Allah, bukan dari manusia. Belajar terus memberi, belajar sabar dan ikhlas ketika (perasaan) yang (rasanya) tidak terbatas justru tidak terbalas.
Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar penerimaan manusia.
Belajar merendahkan ekspektasi. Belajar cukup. Belajar nggak papa tidak diterima. 
Surga itu mahal, dibeli pakai ilmu, diaplikasikan lewat taat, dijalani dengan istiqomah.
Surga itu mahal, kadang perasaan dunianya sakit, tapi Allah mau diri ini belajar.

Surga itu mahal. Semoga Allah mampukan sampai sana.

Tadi, 22.14an
10 Sept 2019

Jumat, 14 Juni 2019

Ayat Hari Ini: Tips Menghilangkan Takut dan Sedih (2)

Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.-QS Al Baqarah: 112

Bahwa, oh kalau nggak mau takut dan sedih itu, ya menyerahkan diri sepenuhnya sama Allah. Terus berbuat baik.

Menyerahkan diri sepenuhnya itu, bayanganku (dan mengingat sore tadi), mungkin seperti berpasrah, yang darinya lahir bentuk ridha atas takdir apa-apa yang Ia tetapkan pada diri ini.

Dan berbuat baik, ini mah jelas ya. Ndak perlu ditanya baik itu seperti apa.

Tulisan sebelumnya yang membahas cara untuk tidak takut dan sedih versi Alquran ada di postingan ini.

Rabu, 12 Juni 2019

Berdamai dengan Perubahan

Barangkali, hal yang tidak berubah adalah adanya perubahan itu sendiri.

Suasana hati bisa berubah, mulanya senang, tetiba sedih. Mulanya bahagia, tiba-tiba diuji dengan hal yang tak menyenangkan.

Perasaan juga. Senang jadi kesal. Maklum jadi keluh. Harap jadi ragu. Benci tapi rindu. Perasaan-perasaan tak menentu.

Siang dan malam berubah dalam hitungan waktu. Dalam hitungan detik, yang dirasa di hati mudah sekali terbolak-balik.

Manusia juga bisa berubah. Tadinya keras jadi lembut. Tadinya apa-apa dicounter, belajar jadi sabar. Tadinya diam, lalu bicara banyak. Tadinya menyepelekan, lalu menganggap penting. Tadinya melanggar lalu taat.

Isi kepala pun demikian. Untuk hal-hal yang sama, kadang bisa jadi pikiran banget, kadang biasa aja-bahkan bisa jadi masa bodoh.

Penerimaan juga bisa berubah. Awalnya heran jadi wajar. Awalnya menerima, jadi tak suka.
Di dunia ini, hal-hal bergerak. Berpindah. Berubah. Hal-hal yang terjadi menimpa adalah ketentuan, responnya-penerimaannya-kita yang tentukan.

Jadi, kalau ada hal yang membuat hati runyam, tenang saja. Terima. Kelak itu akan Allah ganti, insya Allah. Tidak akan lama. Nikmati saja sebagai fase kehidupan. Apa yang terbit akan tenggelam. Apa yang tenggelam, kelak akan terbit.

Dalam segala musim, Tuhan selalu penyayang.*
Dalam segala badai kehidupan, Tuhan selalu mendengar.
Dalam segala kecamuk perasaan, Tuhan selalu menawarkan peluk.

*dari buku Ayat-Ayat Cinta

Fitri, yang merasakan perubahan
ikut bahagia di pagi hari
lalu jadi sedih sekaligus kesal sorenya
dunia berputar, perasaan juga
semoga hal-hal baik tidak akan terganti dengan yang buruk

dunia sementara.
fokus saja sama yang selamanya.
:)
jangan berubah, kecuali jadi lebih baik.

Sabtu, 25 Mei 2019

Buku dan Keluarga


Couldn't be agree more. Ada banyaaaak sekali hal yang ingin aku tulis dan diskusikan tentang ini. Terutama setelah mengamati beberapa buku anak pekan ini dan dibilangi soal packaging buku Februari kemarin.
.
Semoga Allah jadikan kita pribadi-pribadi pembelajar, ya.

Aku, yang sedang tidak ingin menulis tapi dak bisa menahan kalau tentang ini :" ya walau gimmick dan spoilernya aja. Dan belum ngebahas juga si. Ini aja ga ada inti tulisan akunya.

Selasa, 21 Mei 2019

Mendahulukan yang Lain

Kemarin waktu bagi-bagi takjil, di kresek-kresek terakhir yang seseorang dari tim kami di #lampumerahgaknyebrang (wkwk) berikan, seorang perempuan berhijab, rapi, di balik maskernya bilang, "Nggak usah, buat yang lain aja, terima kasih." redaksinya mungkin gak sama persis tapi intinya begitu.

Terus habis itu karena gak lama kemudian udahan, aku ngobrol sama Kak Rifda. Inti obrolannya adalah, kami (atau aku) jadi belajar, bahwa ada lho orang yang mendahulukan orang lain, ketika ia sendiri merasa cukup dengan apa yang ia punya atau ia usahakan untuk nanti berbuka. Aku sendiri jadi belajar buat gak oportunis, kadang kan dibagiin apa pengen gitu yak. Terus sempet jadi kepikir juga sih, kalau dia mempersilakan jatah takjil (yang isinya juga ada makan beratnya) ke orang lain, dia dapat pahala memberi makan orang berbuka puasa juga nggak ya?

Wallahu a'lam bishshawab. Perhitungan amal dan pahala ada di sisi Allah. Tapi aku jadi belajar. Setidaknya, semoga mbaknya dapat pahala karena kami jadi belajar sesuatu. :)

R, yang Takut Tidak Sampai Usianya

Beberapa hari lalu sempat dapat cerita dari R, salah seorang teman yang sudah sekitar 30 bulan seatap. Lima belas juni esok dia insya Allah akan menikah. Sedikit kisahnya sudah pernah kami ketahui waktu dulu ia cerita-cerita ketika kami masih tinggal di bawah atap yang sama, di hari ulang tahunnya. Usianya lebih tua dariku sebenarnya, tapi karena sempat mengulang sbmptn jadinya angkatan kuliahnya dibawahku. Anaknya menyenangkan, suka belajar, dan luas pergaulannya. 

Ada kata-kata yang aku suka dari ceritanya waktu dia cerita tentang kekhawatiran menuju pernikahan.Katanya sih overall tidak ada, dan hanya tersisa satu hal.

"Tp ada ko kaa, smpe skrg msh khawatir sm 1 hal,
Nympe ga ya umurku? nympe ga ya umurnya? 
Soalnya apa ya ka, aku blm siap bekal ke kubur, sedangkan dr jalan menikah ini in sya Allah bs banyak pundi" pahala, kebaikan yg sama" akan kami dapat, smg masih Allah sampaikan ya ke ibadah terpanjaaang, jd ibu berjuangnya diitung kan ya ka sm Allah jg ka :')"

R yang suka dipanggil mama-chan. Terlihat bocil namun tidak. Kekhawatiran justru soal kematian, hal yang memang paling dekat dibanding apapun.

Semoga Allah sampaikan Ma. Biar seluruh pundi-pundi kebaikan bisa kamu dapatkan, menjadi bekal ke akhirat kelak. Aamiin.

Salam sayang,
Fitri yang kagum.

Kamis, 09 Mei 2019

Mencari Keberkahan Waktu

Waktu itu Abidah izin nelpon, dia bilang hanya 10 menit, rupanya jadi sekitaran 30 menit.
Maret, sebelum ke Klaten. Saat banyak deadline mampir dan menghampiri. Saat rasa-rasanya ragu, apakah bisa semua konten selesai sebelum April, lalu cetak dummy dsb. Apakah kalau ikut ke Klaten (tadinya aku pikir aku nggak ikut), aku tetap bisa submit naskah buat seleksi pelatihan, tetap bisa handle kepanitiaan acara. Dan apakah bisa semua berjalan sesuai timeline. Termasuk targetan testing dan development yang belum usai.

Lalu aku bilang soal mencari keberkahan waktu, yang kala itu pernah jadi status whatsappku. sekaligus reminder buat diri sendiri. "Bid," kubilang, "Di kayak gini aku cuma bisa berharap sama keberkahan waktu."

Aku ndak mau alasan-alasan kesibukan atau pekerjaan yang satu jadi mematikan pekerjaan yang lain, atau jadi alasan untuk ga jadi submit naskah, atau jadi alasan untuk membatalkan amanah yang sudah diambil sebelumnya. Is it easy? Tentu saja tidak. Nguatin diri sendiri bahwa ini sekarang waktunya buat aktivitas yang lain, bukan lagi kerjaan, kadang-kadang ya ada penolakan juga. Tapi memang perlu diingat lagi itu adalah hak tubuh yang lainnya. Kuatin niatnya, inget tujuannya. Kan hidup orientasinya nggak satu kerjaan aja terus hidup mati di sana. Ada aktivitas lainnya yang bisa jadi itu justru jadi pemberat amal kita.

***

Dulu waktu kelas 9, tarawih di masjid sekolah. Ramadhannya beririsan sama masa-masa UTS atau UAS entahlah, namun intinya sama: pekan ujian.

Ada sekumpulan adik-adik kelas, kelas 7 yang  hanya ikut takbiratul ihram, lalu saat jamaah sudah shalat--mungkin saat sudah mulai Al Fatihah, mereka membatalkan shalatnya, duduk, membaca buku. Aku ingat sekai cover hijau putih berjudul, IPS Terpadu. Aih, mungkin tidak tepat disebut bata kalau dari awa memang hanya berpura-pura, agar terlihat guru yang ikut shalat di masjid.

Adik-adik ini belajar. Untuk ujian. Meninggalkan tarawih dan mereka masih di shafnya. Nanti saat tarawihnya mendekati salam, mereka akan duduk umpama orang tahiyat, lalu ikutan salam. Sehingga guru asrama yang ada satu shaf depan mereka tidak akan menangkap kegiatan curi-curi waktu yang mereka gunakan selama shalat tarawih untuk belajar ujian. Sedih sekali melihatnya

Aku tidak ingat apakah momen ini atau ada momen lain, atau siapa yang memberi nasehat, yang memberikan aku insight bahwa semua punya waktunya masing-masing. Semua punya porsinya.

Ada waktu ibadah, ada waktu mendengar ceramah, ada waktu tilawah, ada waktu belajar di kelas, ada waktu diskusi, ada waktu belajar dalam forum, ada waktu mandiri, ada waktu makan, semua punya porsi waktunya.

Dan aku lupa momen apa yang membuatku berusaha menerapkannya.

Sehingga saat aliyah, saat ada kajian bada subuh di masjid sementara hari itu ulangan. Aku berusaha tidak membaca catatan kecil atau buku catatan-yang semula bisa dibawa ketika menunggu atau nanti dibaca di perjalanan. Ini waktunya kajian bada subuh. Dengarkan. Dengarkan dengan baik, tidak disambi.

Atau juga saat muhadharah bada zuhur. Dengarkan, tidak disambi belajar. Tidak ditinggal tilawah mengejar targetan. Usahakan. Atau ketika ceramah tarawih, kadang aku melihat ada saja orang yang memiih tidak mendengarkan dan mengejar targetan tilawahnya. Tapi aku berusaha menanamkan pada diri bahwa, ini sekarang haknya penceramah untuk didengar, haknya aku untuk mendapatkan pelajaran Jadwalnya saat ini ceramah tarawih, bukan waktunya tilawah. Sehingga, nggak jadi baper juga kalau tilawahnya udah kekejar sama yang lain. Toh ada yang kita penuhi haknya pada saat yang sama.

Karena setiap waktu punya porsinya, dan setiap agenda ada waktunya.

Kadang rasanya memang gemas, kayak, aku pengen banget belajar ini, tadi belum selesai belajarnya. Baca pas kajian aja apa ya? Menyingkir ke ruang permadani (perpustakaan masjid insan cendekia) aja apa ya habis shalat? Biar nggak keliatan-keliatan amat kalau ada yang di mimbar kalo lagi sibuk sendiri.

Tapi pengalaman tadi waktu mts atau entah pengalaman yang mana membuatku sampai hari ini percaya bahwa ada hak-hak dan kewajiban yang perlu ditunaikan. Hak untuk menuntut ilmu, kewajiban mendengarkan dan menghargai orang lain yang berbicara dan mengisi, hak tubuh untuk dicharge imannya, untuk belajar.

Apa tidak khawatir nanti ulangan nggak bisa? Atau sebel sendiri karena waktunya bisa dipakai (egois) untuk mengisi diri sendiri pelajaran yang mau diujianin?
Tentu saja khawatir.
Makanya berharapnya hanya pada keberkahan waktu. Minta sama Allah dikasih keberkahan waktu. Agar pada waktu yang sempit, yang sedikit, yang terbatas, Allah kasih keberkahan. Allah beri kemudahan. Karena diri ini mau berusaha memenuhi hak-haknya. Keberkahan waktu, udah itu aja satu-satunya alternatif biar masih bisa mengusahakan apa yang perlu diusahakan, dan memenuhi hak terhadap waktu yang sudah dijadwalkan, oleh sistem, oleh hal-hal yang diikuti, dan lain sebagainya.

Jadilah waktu itu, di tengah segala kekhawatiran dan ketakutan akan melewati deadline, akan banyak hal yang kelewat, akan banyak hal yang nggak memenuhi ekspektasi, akan batas watu yang semakin dekat sementara pekerjaan meminta banyak, juga amanah yang belum tuntas di suatu kepanitiaan, cuma bisa mengarahkanku pada: meminta keberkahan waktu sama Allah, meminta keberkahan waktu dari Allah.

Biar Allah yang kasih jalannya, dan diri ini masih bisa memenuhi amanah-amanah di berbagai tempat. Sekitaran ke Klaten itu, aku pusing banget rasanya. Load testing, load konten, deadline ikutan seleksi pelatihan menulis, load pegang amanah jadi ketua acara dan CP konfirmasi peserta yang meski ga gede-gede banget aku tahu aku nggak maksimal di situ, bahkan udah ga mampu merekap peserta sepulang dari bandara di Damri. Sudah terlalu lelah.

Tapi yang bisa diusahakan, hari H acara tetap standby sama acaranya, nggak nyambi ngerjain yang belum selesai. Habis itu ngejar targetan dan naskah buat seleksi, ke kantor, ngusahain biar kondusif. Berusaha nggak pake nyalah-nyalahin kenapa awalnya nggak perlu ke klaten jadi harus ikut, atau ngga pake nyalah-nyalahin kenapa aku mau jadi ketua dan ga izin aja, dsb dsb.

Yang aku akui masih belum mampu, belum bisa kayak yang Kak Ridho suka bilang, "Ane kerasa banget, kalau kualitas ibadahnya nurun, produktivitas kerjanya juga nurun." Ini senada sama postingan lalu-lalu yang aku nanya ke Ima gimana biar tilawahnya bsia teratur. PR banget ini masihan buatku.


Hem, mungkin ada yang melihat aku terlihat strict ya. Atau kok kayaknya kaku banget.
Tapapa. Hanya berusaha menempatkan hal-hal pada tempatnya.
Meski ku tahu kujuga masih proses belajar ke sana. Ke kondisi ideal itu. Banget.

Fitri,
yang masih belajar
sudah lama tulisan ini ingin ditulis

Jumat, 26 April 2019

Lesson Learn 24-26 April 2019

1. Hubungan manusia ke manusia itu cerminan hubungan manusia sama Allah
-kata-kata my fav girls yang saat ini tidak menemani di ruangan. Jadi ingat ingin menulis obrolan sama mereka tentang dekat dengan Alquran belum jadi-jadi.

2. Belajar ndak menyerah dan berjuang lebih keras
setelah segala lelah sepagian (u can guess from last post that i draft), sorenya aku dapat email kalau naskah yang aku ikutin seleksi belum rezekinya lagi :") Jadi emang judul April ini semacam bulan penolakan //gaboleh ngomong gitu nanti jadi doa *kata bedah buku magnet rezekinya kak big//, sampai tanggal 23 kemarin aja ya semogaaaaa. Ada naskah bardbook yang tahun ini aku kirim lagi ke penerbit lain setelah 2017 belum rezeki~yang ditolak waktu hari buku anak 2 april kemarin. ada naskah cerpen kartiniku yang aku mentorin lagi ke mas teguh dan itu idenya udah dikirim dari 2017 sebagai rubrik opini umum gitu, lalu 2018 aku kirim as cerpen juga cuman mungkin terlalu mepet ngirimnya, tahun ini aku sampakan lagi pada peraduan. tapi namanya belum rezeki ya gimana yaa. mungkin aku kelewat pede dan salah juga ga nyoba kirim ke media cetak lain (untuk yang mau kasi feedback boleh kasi email nanti kukirim insya Allah). lalu terakhir yang kemarin ditolak 23 april, waktu hari buku. naskahnya dulu sempat diapresiasi waktu pelatihan soal 3 paragraf pertama di Bandung Februari lalu, meski tetap ada masukan juga. kemarin aku kerjakan masukannya namun memang belum rezeki :")) Hanya lucu aja, semua momen penolakan naskahnya pas hari buku anak, hari di mana diperingati karena Kartini menulis, dan hari buku. Masya Allah, bagus sekali untuk dikenang.

Tapi ada teman pelatihanku yang lolos. Namanya Mas Dwi, dulu peserta pelatihan Si Bintang juga di Jogja November lalu. Positifnya jadi ada obrolan di grup itu lagi. Mas Dwi dulu juga bantu aku kasih masukan ke naskah boardbook yang aku kirim. Aku masih ingat wajah beliau yang runyam waktu mikir revisi berjenjang selama workshop. Namun memang pengalaman beliau sudah lebih banyak. Mas Dwi ini kalo aku liat mirip ayahnya temenku hihi. Aku minta belajar dari naskah mentah beliau tapi rupanya pihak pelatihan yang sekarang melarang ngeshare naskah mentahnya.

Lalu juga membuka obrolan soal peserta yang lulus Gerakan Literasi Nasional. Daeng Gegge yang lolos GLN juga dulu sempat kasih testimoni susah banget ya bikin naskah buku anak tuh. Waktu pelatihan di Jogja, Daeng sebagai salah satu petinggi di FLP yang udah nulis buku buat umum, pertama kali nulis buku anak di pelatihan ini dan mengungkapkan kesulitannya. Jadi ya sama-sama. Tapi Daeng meski belum punya portofolio, nekat bikin aja buku anak indie sendiri, ngusahsin nyetak sendiri dan urus ISBN, sama ya cantumin aja buku hasil pelatihan FLP di portofolionya walau belum jadi. Lalu Daeng lolos dooong peserta GLN yang kemarin seleksinya emang mengharuskan punya portofolio buku dulu :") Malah tempat beliau nyetak buku, juga ikut seleksi, lalu tidak lolos. Memang ya rezeki Allah itu ndak bisa ditebak, tapi selalu ada, dalam bentuk yang tepat untuk setiap hambanya :")

Aku ga kut seleksi GLN karena ga ada portofolio dan waktu itu udah japri panitia buat nanya, tapi ternyata gaes, masih ada jalan menuju Roma ya. Itu lihat Daeng Gegge juga ndak nyerah gitu aja, cobain aja tetep kirim berkas, usahain apa yang bisa diusahain. Emang kalo ga nyoba ya kemungkinan kalah langsung 100%, kalo nyoba kan seenggaknya punya modal awal menang alias lolos seleksi 50% :") Aku terharu sih sama perjuangan suhu-suhu dan senior-seniorku di grup ini.

Lalu soal seleksi satunya juga aku belajar. Ini kegagalanku yang keempat. Tapi ya setiap orang punya jatah gagalnya masing-masing menuju sukses. Aku japrian sama Kak Marissa dan Kak Marissa cerita tentag kata-kata Dinda, teman kami juga. Dia pernah bilang ke Kak Marissa tentang kegagalan Kak Mar, dibilang, "baru 8 kan Mar, yaudah coba lagi aja...."
Kata Kak Mar, mungkin rezeki kit nanti di percobaan ke 10, atau ke 12. Kalo berhenti sekarang gak ketemu, hahaha. Walau capek. Gapapa, niatnya karena senang kan?"
Kak Marissa pernah tanya aku beberapa kali kayaknya, tapi senang kan Fit ngelakuinnya?



Momen ini jug membuat aku dapat suntikan semangat dari orang-orang yang percaya gitu sama keinginanku. Huhu aku terharu dapet japrian. dapet virtual hug juga dari arum.





Kemarinnya juga habis baca tulisannya Masgun tentang mengejar mimpi. Lalu hari ini pas dapet pengumuman ini juga sempat bahas mimpi dan levelnya. Aku pun pernah ada pada pikiran, apakah ini bener yang aku pengen? Apakah aku betulan ingin menulis cerita anak? Bagaimana kalau nanti berubah? Bagaimana jika aku tiba-tba merasa nggak mau lagi mengejar impian ini? Bagaimana kalau ternyata hal itu mengecewakan orang, bahkan orang terdekat yang mendukungku? Atau bagaimana jika setelah terwujud, euforia membuatku berhenti? Atau bagaimana jika aku mentok kalau udah terwujud, kayak bingung habis ini apa ya?
Padahal mah ya jangan mikir gitu atuh Fit. Ayo menanam dan menumbuhkan pikiran baik dan positif biar hidupnya penuh energi positif. Kayaknya emang butuh banget ni aku pikiran-pikiran positif, perasaan-perasaan posiitif, dan motivasi positif.


Ohiya, ini dak terlau penting sih (kayak tulisan ini penting aja woi), kemarin waktu rasanya lagi sedih tu, denger lagu yang isinya ungkapan sayang ayah ke anak Kayak jadi oase aja dari kegersangan lagu yang kalo isinya perasaan antar lawan jenis seringnya. manis ya. terus di videoklipnya ada buku summerhill school yang dijadiin panduan dan referensi temenku dalam mendidik bahkan dia taruh di proposal nikahnya 2017 lalu. jadi penasaran sama isi bukunya (padahal umi lagi nyuruh baca macem-macem ehe). terus reflek sama lagu hatiku sedihnya film musikal sherina. emang yang reflek-reflek susah diboongin ya tentang isi hati dan perasaan. ckckck.
Kepikir mau cerita tentang tidak lolos ini tapi ternyata sarannya sebaiknya ga usah.

3. Momen Kecil yang Membahagiakan
Salah satu hal menyenangkan kalo lagi ngerasa down adalah dihubungin orang-orang. Pernah suatu ketika di tahun lalu perasaanku lagi ga enak banget, temen KKNku tiba-tiba weh nelpon. Aku langsung ke balkon dan aku kayaknya pas itu sampe nangis bentar gara-gara seneng banget disapa orang lama ngga ketemu dan ngga bertukar kabar di tengah segala perasaan lelah.
Lalu kemarin Selasa juga gitu. Tiba-tiba saja Ayah Umak KKN ku nelpon dari Madinah :") video call bahkan di perjalanan ke stasiun. Terus ada beberapa japri, ada diskusi kecil, ada inspirasi besar, ada perasaan senang membagi duniaku ke orang lain. Senang sekali rasanya dikelilingi teman-teman yang baik dan supportif. Senang sekali disapa, dijapri bahkan sesederhana, Fit kalu mau ngerjain di mushala nggakpapa, meski temenku ini nebaknya aku cukup down dengan hal satu, namun waktu itu aku lebih sedih lagi karena ditolak :"). Tapi yaudah, everything shall pass. And what doesn't kill you make you stronger.

4. Fokus
Rabu waktu aku pulang, aku kepleset di tangga. Sudah berdiri dari posisi semi jatuh dan melangkah lagi, aku kepleset lagi. Membuat panik kaka-kaka yang melihat saja....
Pulangnya di perjalanan hampir nyerempet atau kesrempet orang (entah mana yang hampir nyerempet mana yang diserempet)). Pagi  kemarin hampir nabrak orang. Aku jadi bertanya-tanya kenapa ya aku? Susah fokus apa aku akhir-akhir ini?Tapi emang fokus lagi menjadi tantangan sih kalau aku coba merenungi beberapa tindakanku hari-hari belakangan. entah mengapa

5. Merenung
Aku butuh kontemplasi ni kayaknya. Butuh banyak ngobrol sama Allah.
Itu isi kepalaku di perjalanan pulang saat hampir sampai rumah, Selasa atau Rabu lalu. Belum done tapi huhuhu.

6. Belajar
Memang ya, Allah ga akan ngebiarin hambaNya ga diuji walau sedikit saja. Sedih ujian, senang juga ujain. Jadi emang lagi kerasa, saat membulatkan tekad, mau jadi lebih baik di suatu hal. Langsung Allah kasih aku ujiannya. Lalu aku gagal melewatinya :"""""
Lalu Allah kasih aku lagi ujian yang mirip karena aku ndak berhasil melewatinya.
Sungguh pas banget ujiannya sama apa yang sudah aku niatkan. Padahal waktu ga diniatin, ga ada tuh ujian kek gitu. Masya Allah ya :""""
Jadi kepikir, memang kalau mau menghindari atau lulus dari suatu ujian. Bisa jadi yang bisa diusahakan di skup kecil adalah menjauhi triggernya :")

7. Menjadi Orang Tua
Kemarin diskusi soal beberapa prinsip sama teman, tentang value yang diajarkan orang tua yang kok kayakanya kacamata manusia kita masih sulit ya nerapin itu di kehidupan sehari-hari. Lalu aku jadi kepikir, masya Allah, susah banget ya jadi orang tua. Bagaimana anak mau nurut tapi bukan karena takut, karena tau kalau itu memang perintang untuk menaati Allah. Soalnya kalo karena takut gitu nanti anak cari aman deh, yaudah gapapa kalo ga ketahuan, hihihi.
Tapi kata Ummi emang, jangan dipikir takutnya. Mirip semangat dari Kak Big waktu bedah buku magnet rezeki nih, ubah pikirannya jadi bisa. Insya Allah Allah mampukan.

8. Menjadi Orang Tua part 2
Tadi pagi lihat igstori kak Asti tentang GTM (Gerakan tutup mulutnya Hafshah). Terus ada beberapa poin soal minta ke Allah supaya anaknya mau makan. Tertulis, mungkin ini sebuah permintaan receh ke Allah, tapi kalau ga minta sama Allah terus sama siapa lagi?
Lihat juga wastory Suci tentang cerita keahiran anaknya (cepat sekali ci hampir setahun berlalu sejak kamu menikah :")). Yang masya Allah dimudahkan sekali Mulai dari afirmasi positif, dukungan keluarga, dan pengharapan ke Allah, usaha dan doa. Terharu :"). Luar biasa ya orang tua tuh. Tapi lebih luar biasa lagi orang tua yang sepenuh hati doa, ikhtiar, dan tawakal ke Allahnya kerja bareng-bareng. Semoga Allah kuatkan dan mampukan.


9. Doa yang Panjang
Tadi aku lihat seorang Kakak, yang baru saja usia menikahnya 11 harian. Doanya lama usai zuhur. Aku tersenyum haru bahkan sampe berkaca-kaca. Peran baru, amanah baru, keluarga baru. Aih, banyak sekali tentu pinta yang perlu dilangitkan, soal kesakinahan keluarga, soal kekuatan menjalani peran dan amanah baru, soal menjadi sebaik-baik istri untuk suaminya, soal kekompakan keluarga. Karena kalau ngga minta ke Allah, ke siapa lagi dong ya? :") Pantas saja ya doa ibu makin panjang Makin banyak anaknya juga mungkin akan bertambah panjang :"")
Ya itu tebakan dan kesoktauan aku aja sih. Tapi rasanya manis :")

10. Apa yang Disenangi
Aku pernah punya rasa penolakan dalam diri mengerjakan sesuatu yang aku tahu itu bukan pengejaranku jangka panjang Tidak ada dalam rencana-rencana atau keinginan.
Tapi kemudian tersadar aja kemarin, ah ternyata aku masih egois ya, menghindar karena itu. Padahal kan masih relate sama pekerjaan. Dan pekerjaan juga amanah. Dan akhirnya hal tersebut pun kuusahakan jua :")
Satu dua aku kadang sampai juga pada pertanyaan, apa sudah menjalani apa yang diinginkan? Walau ya aku senang dan sayang kok dengan pekerjaan sekarang Tapi kadang-kadang ada aja tu muncul momen begitu. Hehe, emang manusiaaa manusia. Bingung ya? Maksudku, kadang aku nanya, kenapa ngerjain ini itu tapi ga bisa ngebela-belain buat nulis. Kenapa willingnessku menambah skill di bidang kerjaan ngga semenggugah dan seinisiatif buat ikut dan daftar-daftar di bidang menulis. Duh apa aku mesti diwork on lagi kayak waktu itu. Nggak mau tapi adang rindu. Rindu semangatnya :") Ckckck, manusia. Hayo Fit, ga bisa apa emang ga agendain? ga bisa apa emang ga meluangkan waktu? ga bisa apa ga mau?

11. Fahri UN, Fatih Sakit
Fahri ujian nasional. Sebenarnya niatan aku dari pekan lalu, aku pengen pulang sore terus sepanjang Fahri UN. Tapi ternyata itu tidak kuusahakan maksimal. Aku masih menjadi budak bukan tuan pekerjaan dan ndak memprioritaskan huhuhu.
Apa ya, ada perasaan pengen nunjukin dukunganku ke Fahri. Kemarin-kemarin pun selama Fahri UN, kalau aku kalah oleh lelah, aku bahkan tidur duluan daripada dia. Meskipun hanya erbaring dan melihat langit-langit. Ngobrol sendiri maupun sama Allah. Jadilah mulai hari keberapa kemarin itu, pokoknya pagi harus salim, harus ngasih semangat, gitu kataku ke diri sendiri. Suka malu kalau dia belajar, atau pas liat aku pagi-pagi, akunya malah sibuk sama HP. Itu di aku perasaannya kayak, ini gue lagi berusaha, si kakak kok kayaknya enak banget ya. Kan kalo lagi berjuang enaknya dapet temen berjuang bareng-bareng ya :"), jadi aku tu niat awalnya pengen jadi temen berjuang dia... Dulu aku UN SMP SMA selalu sama temen-temen asrama. Jadi kerasa semua orang berjuang gitu. Aku senang juga dia pakai rumus yang kurangkumin dari bukunya :")
Memang being elder sister rasanya suka ngga mudah.

Fatih sakit. Tapi tadi pagi ngomongnya sudah banyak. Sudah bisa melucu. Sudah bisa ngasih soal ke aku tentang faktorial (padahal aku baru tau faktorial juga SMA). Kadang ngerasa bersalah kalau Fatih lagi banyak cerita akunya lagi balesin pesan jadi ga fokus sama dia. Dia di rumah libur UN. Tapi karena sakit ya ndak banyak aktivitas memang. Lucu tadi pagi tiba-tiba minta makan, tapi mintanya Indom**, katanya, alasannya kan lagi sakit. Hahaha, bisa ae emang anak ini. Atau salim tapi arahnya minta ke kompresnya, katanya biar keteken lagi kompresannya.

Pulang hari ini aku sembari pesan makanan. Tadinya mau kubeli tapi kalo aku mampir jatuhnya aku same rumahnya lebih lama. Niatnya beli mensyukuri Fahri yang sudah selesai UN. Fahri senang, alhamdulillah. Meski di akhir setelah Makasih ya Mbak, dia bilang, Fahri jadi takut kalau nilainya nggak sesuai harapan (memang ya rejection doesn't kill you, expectation does, ckckck). Tapi aku bilang ndak apa-apa. Kan sudah berusaha, sekarang waktunya berdoa. Aku senang sih dia terlihat hepi sekali waktu makan. Walaupun katanya maunya burger hihihi.

Pernah suatu waktu Fahri nih curhat sama aku. Dia merasa nggak diapresiasi sama Umi Abi. Aku tahu, bukan Umi ga apresiasi sih, tapi memang dia ni keliatannya minim banget belajarnya. Banyak main rubiknya. Pinjem HP Umi buat main game. dsb dll. Tapi dia sampe nunjukin akun ig sesuatu aku lupa yang isinya video sepasang orang tua dengan 2 anaknya. Yang satu nilainya bagussss banget yang satu jelek. Tapi si ibunya tau anak yang nilainya jelek ini usahanya keras, belajar sampe begadang, dsb. Terus waktu suasana ga enak di meja makan karena bahas nilai, ibunya alihkan pembicaraan dan nyendokin lauk yang enak gitu kalau ga salah ke anak yang nilainya jelek. Penghargaan atas usaha kerasnya.

Aku minta link video itu ke Fahri terus aku forward ke Umi. Aku bilang apa yang dia rasain. Aku pun menyadari sih, beda banget dia mau UN sama dulu aku mau UN Ya mungkin karena aku sekolah asrama juga ya jadinya kerasa banget, lha wong semuanya UN kan iklimnya iklim belajar. Dia nih kemarin waktu masa-masa TO, UASBN, dan pemantaan materi, ngga ada feel-feel UNnya sama sekali aku tu ngerasanya. Jadi aku paham, sudut pandang Umi kalau ngasih nasehat, kalo gemes, karena dia ngga keliatan belajarnya. Terus udah gitu alesan dia, kan udah belajar di sekolah. Ya kan kurang maaaas kalo hanya di sekolah aja. Lalu juga dengan hasil TO yang agak sedih kan Umi makin gemes ya. Memang ujian cem ujian nasional ini yang disiapkan dua sih, mental aanak dan mental orang tua. Karena kadang ada, yang anaknya biasa aja lalu orang tuanya yag panik, atau bahkan menekan. Ummi sebenarnya nggak ada sih kalo sampe menekan yang gimana gitu. Pengennya sih anaknya sadar, mau belajar dan meningktkan intensitasnya. Juga meningkatkan intensitas mendekat ke Allahnya. Kalau diingat-ingat aku pun dulu kayaknya Umi ajarin buat tahajud waktu menjelang UN SD deh. Ya mungkin telat juga, tapi ndak papa dari pada tidak sama sekali hehe.

Ya gitu sih, hanya sedikit makanan yang dibeli tapi dia senang alhamdulillah :")

Sudah malam, ikan bobo (ala-ala iklan taun berapa ya? hehe)
Eh tau ga funfact kalau ikan bobo ga merem loh. Karena dia ga punya kelopak mata.

Semoga jadi lebih baik setelah menuliskan hal-hal ini. Semoga menjadi pelajaran yang tertuang dalam laku.

Rumah, 1.59
tadi aku udah tepar duluan.

Kamis, 21 Maret 2019

Tentang Percaya

Catatan 12 Maret 2019

You would be a great mother.
-
Seseorang mengulum kalimat itu. Ia tulis sembari dibisikkan. Ia menulis kalimat itu pada sebuah kertas yang kemudian dilipat dua kali menjadi ukuran seperempat ukuran semula. Ia simpan di common placenya.
Kalimat itu bisa dituliskan oleh siapa saja untuk perempuan yang dipercayainya. Hubungan keluarga, ayah atau ibu pada anak perempuannya, suami pada istrinya, atau hubungan persahabatan, kepada sahabat perempuannya.

Kalimat itu beserta potongan-potongan kisah selanjutnya terngiang sepanjang perjalanan pulang Selasa pekan lalu saat memotong belok di tole iskandar. Yang membuat saya membenak tentang percaya. Iya, tentang percaya.
-
Ada salah satu hal yang disampaikan di sesi sharing keluargakita yang berbunyi, sama anak itu, percaya aja dulu, nanti dia akan menunjukkan sendiri pada kita bahwa ia bisa melakukannya. Percaya dulu bahwa anak akan bisa berjalan. Walau ia masih tertatih, nanti ia akan tunjukkan bahwa ia bisa berjalan. Percaya anak akan memberikan kemampuan dirinya yang terbaik saat mengikuti lomba, tampil di penampilan, dan lain sebagainya. Nanti anak akan tunjukkan.

Bukan kebalikannya. Bukan baru percaya saat anak melakukannya, sementara sisanya kita meragukan dan bahkan malah menunjukkan ketidak percayaan kita pada anak sebelum anak itu melakukannya. Hemat saya, saya jadi berpikir bahwa rasa percaya memberi energi, jauh dari yang semula dibayangkan.

Dulu waktu skripsi, saya ada pada ambang batas nggak ngerti lagi harus diapain. Kalau pernah baca cerita saya di sini (terus jadi nemu banyak cerita menarik dengan keyword skripsi, bahkan yang ga berhubungan sekalipun), saya udah nggak tahu lagi akan ada takdir apa setelahnya. Saya berdoa kalau saya layak buat lulus, semoga Allah luluskan. Kalau saya nggak layak, semoga Allah kuatkan dan ikhlaskan hati saya jika harus mengulang sidang (beberapa bulan sebelumnya ada yang nggak lulus sidang soalnya dan itu jadi kekhawatiran sendiri untuk saya), dan semoga nggak ada temenyang nonton, saking takutnya waktu itu.

Saya ingat setakut itu sama skripsi, sampai nggak mau kabarin siapapun saya sidang saking takutnya malah diledek padahal mereka nggak tahu bahwa saya ngumpulin draft sekedar untu mendaftar. Draft itu belum ada hasil penelitiannyaaaaa, bahkan datanya pun belum dapat lengkap kalau tidak salah :") can you imagine betapa paniknya? Setakut dan sekhawatir itu. Menelepon Ummi hanya menangis isinya. Berdoa kuat-kuat di mushala teknik yang sepi (sidang saya mendekati libur natal sekaligus minggu tenang ujian) dan berpikir udah sepasrah itu, terserah Allah kasih apa, saya percya itu yang terbaik.

Allah kasih saya lulus sidang dengan revisi. Itu keputusan Allah. Malamnya, saat mengobrol dengan Afifah di parkiran motor, aku cerita segala turun naik fase skripsi itu. Dan kami sampai pada kalimat yang intinya, sepaasrah itu aku sama Allah udah nggak ngerti lagi harus bagaimana.. Tapi di atas itu semua, membuatku berpikir, bagaimana membangun kepercayaan sama Allah dalam menumbuhkan anak. Karena itu tentu dibangun perlahan sedari kecil. Kepercayaan yang seyakin itu apapun Allah kasih, pasti yang terbaik untuk hambaNya dalam kacamataNya. Obrolan kami menggantung di langit-langit. Tanpa kesimpulan dan jawaban Tapi masih teringat sampai saat ini, menumbuhkan kepercayaan itu penting sekali pada setiap manusia. Dan percaya itu, makna iman bukan? Yang punya banyak konsekuensi ketaatan setelahnya. Alhamdulillah kala skripsi saya pada akhirnya memasrahkan segalanya ke Allah, tapi itu belum menjamin apaka saya bisa selalu begitu bahkan pada titik terendah saya. Tidak menjamin saya bisa menanamkan hal yang sama pada anak-anak saya kelak. Namun tentu saya berharap, semoga kelak Allah mampukan. Aamiin.

Lalu aku jadi ingat cerita seorang teman. Ia pernah cerita bahwa ayahnya kerjanya jauh, di ujung Sumatera kala itu kalau tidak salah, sementara keluarganya di Depok. Ayahnya pulangnya jarang-jarang. Lalu ia pernah bertanya pada ibunya,,"Bu, kok bisa sih Ibu percaya kalau Ayah nggak akan macam-macam, nggak akan nyeleweng di sana?" Aku lupa jawaban persisnya, tapi intinya ibunya ini percaya sama ayahnya dan bilang, kalau ibu mikir gitu ibu jadi suuzon dong, malah dosa. Ya Ibu mikir yang baik-baik aja. Itu kepercayaan Ibunya teman saya dan temen saya bilang, iya juga ya kalau suuzon malah dosa nanti. Hm, bener juga.

Saya jadi ingat suatu ketika menjelang suatu acara, salah seorang teman baik saya tidak ada kabar. Padahal acara itu sangat penting. Saya tahu sesuatu yang besar mesti terjadi padanya. Sampai saya berangkat hari Jumat (acaranya Sabtu Ahad), dia sama sekali tidak ada kabar. Rasanya apa? Sedih sekali. Apalagi saya waktu itu semacam punya tanggung jawab lebih atas teman saya ini. Pun semua orang yang tak tahu kabarnya bertanya pada saya. Ya Allah rasanya tuuuuh.

Cuma satu yang saya punya selain mendoakan, entah bagaimana, saya percaya saja ia akan datang. Entah gimana akhirnya. Kalau Allah gak kabulin saya hanya mikir yaudah. Saya bahkan gak berpikir ini akan memberi energi, tapi itu yang terjadi. I don't think of it but it would be. Cuma itu yang akhirnya saya curhatin ke Kak Mars waktu itu, aku cuma percaya, gak tahu gimana.

Pada akhirnya, temen saya ngabarin dan meminta saya mengkeep kabarnya, bahwa ia akan datang hanya untuk Sabtu dan sampai sore saja. Jeder. Dilema lagi saya. Teman saya hanya bisa datang sepersekian acara dan sisanya ia akan kabur gitu? Aku benar-benar bingung. Tapi singkat cerita, dia pamit baik-baik dan ternyata akhirnya bisa dilobi, pulang dengan kendaraan paling malam hari itu. Aku bantu mencarikan. Kami dapat untuk jam 23.15, kalau tidak salah. Aku lega, dan berterima kasih pada segala pihak yang telah membantu.

Lalu aku juga jadi keikir, kalau orang memilih sesuatu itu, titik beratnya kayaknya bukan hanya soal memilihnya, tapi tentang percayanya. Memilih kuliah di suatu tempat, karena percaya bidang itu yang akan ia geluti, atau bidan itu yang ia betah terhadapnya. Orang tua memilih sekolah anaknya, karena percaya sekolah inilah yag terbaik untuk anaknya tumbuh, belajar, mengenal Allah dan Islam, berinteraksi dengan teman-teman yang baik pula pada suatu institusi yang kondusif. Teman saya memilih kerja di Badr bukan di perusahaan lain yang juga menerimanya, karena jawaban istikharahnya. Dan saya entah bagaimana berpikir bahwa ia percaya bahwa dari jawaban istikharahnya itu Badr akan menjadi tempat bekerja yang  mendekatkan dia sama Allah (karena waktu itu ia sempat bilang juga mau belajar Daud). Percaya bahwa ada kebaikan yang dipilihkan Allah. Juga ketika seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak baik, karena percaya bahwa i berhak atas sesuatu yang lebih baik. Ketika seseorang memutuskan dan memilih untuk menghubungi teman lamanya, meminta maaf. Karena ia percaya, nanti akan melegakan. Respon temannya bagaimana, ia mungkin sudah tak peduli. Ia lakukan saja dulu apa yang membuatnya percaya. Juga seperti saat supervisor memberikan amanah pekerjaan, atau perusahaan sedang seleksi karyawan. Tentu memilih seseorang pada role tertentu karena percaya ia layak dan cakap pada role tersebut, insya Allah. Sehingga pede lah si perusahaan manggil salah satu atau salah sekian di antara orang-orang yang diinterview.
Pun pada urusan memilih-memilih yang lainnya. Pada akhirnya, akan memilih sesuatu karena percaya akan sesuatu. Semoga jika kelak kita yang diberikan kepercayaan, kita tidak menyianyiakan kepercayaan yang diberikan. Aamiin

Saya waktu terngiang-ngiang kalimat yang pertama itu (yang great mother), saya ingat cerita-cerita yang saya tulis setelahnya ini. Bahwa percaya seperti memberikan kekuatan lebih gitu, ya rupanya. 
Lalu ini kan pikiran Selasa 12 Maret lalu. Tapi terlalu lelah waktu itu untuk menuliskan dan mengeposnya setelah pulang. Lalu jumatnya aku melihat tulisan Icas di instagramnya.
• Trust and Appreciate •
Semakin hari Saya menyadari bahwa menikah dapat memunculkan kebaikan dan potensi diri yg belum pernah ada atau belum terasah sebelumnya. Hal2 yg tdk bsa kta lakukan, tdk kta sadari, atau tdk kta sukai sebelumnya, perlahan bisa berubah. Seperti ketika sebelum menikah, bsa dipastikan Saya hanya ke dapur untuk masak mie dan goreng telor (meskipun sudah cukup sering membuat roti-donut-pizza). Lebih banyak menghabiskan wkt di luar rumah seolah jd pembenaran diri Saya untuk tidak mencoba belajar salah satu skill yg penting bagi perempuan dan calon ibu, yaitu memasak (jgn ditiru yaa :p). 
Saat ta'aruf, Saya sampaikan di CV bahwa salah satu kekurangan diri adalah belum bisa memasak. Sampai H-1 menikah Saya ke dapur dan 'training' sama Ummi cara memasak sayur dan Ummi mengajari dg cara yg mudah Saya pahami. Hingga akhirnya Saya menikah, dan tinggal hanya berdua dg suami di Surabaya selama bbrp pekan. Suami tahu bahwa Saya blm bsa memasak, tp dari wajahnya sama sekali tdk ada ekspresi meragukan istrinya ini. Masih ingat betul kami belanja sayur dan lauk pauk ke warung pagi itu, lalu suami pasang2 kompor dan gasnya sedangkan Saya meracik sayur dan lauknya.
Masakan pertama Saya, dicicipi langsung oleh suami. Katanya enak, meskipun Saya tahu dia hanya memuji, tp melihatnya makan dg lahap dan cara dia menghargai masakan Saya membuat Saya sangat bahagia saat itu. Dan rasa bahagia itu terulang setiap harinya sampai hari ini, setiap Saya memasak utknya. Tdk cukup sampai di situ, suami jg memberi Saya challenge utk memasak masakan yg berbeda setiap harinya (lalu mengabadikan masakan Saya dlm foto yg masih disimpan di hpnya), entah mengapa Saya sangat bersemangat menjalankan challenge itu dan bsa tercapai jg alhamdulillah :) 
Hingga saat ini kami tinggal di Swedia, dg bahan makanan tdk selengkap di Indonesia, makanan halal yg sangat terbatas, tdk ada warung makan pinggir jalan apalagi go-food dsb membuat diri ini harus lebih kreatif mengolah masakan. Namun kembali Saya menyadari, bahwa mungkin saja Saya tdk akan seantusias ini utk belajar memasak dan mencoba menu masakan baru tanpa kepercayaan dan apresiasi darinya, yg tercinta :) #IcasTyar 
sumber: https://www.instagram.com/p/Bu_E1QElkfw/
Waktu baca tulisan Icas, kerasa banget percaya bisa menjadikan apa yang sebelumnya tidak bisa jadi terwujud. Dengan izin Allah tentunya. Dukungan pasangannya yang kuat sangat membantu. Tekad untuk berubah yang lebih baik dari Icasnya juga tentu menjadi syarat wajib untuk bisa menciptakan berubah itu. Anyway, aku pos ini karena ngepas aja. Kalau Selasa pekan lalu udah ketulis tulisan ini pun aku insya Allah akan pos tanpa perlu lihat ig Icas dulu.

Tapi kerasa, rasanya kekuatan percaya :")

*btw, boleh aja sih ga setuju, hehe. Ini lintasan-lintasan pikiran sepanjang perjalanan pulang aja waktu itu.

terngiang sejak Selasa, 12 Maret
pulang bakda magrib dan abis KIP
masih ada terngiang-ngiangku soal Alquran 
obrolan sama teman tahun lalu
yang kembali tertrigger KIP kemarin
ckck, obrolan tahun lalu loh

Selasa, 19 Maret 2019

Belajar Sabar dari Ummu Sulaim

Aku nggak akan bererita panjang lebar soal Ummu Sulaim. Tapi tadi entah kenapa rasanya menarik aja waktu Kak Ridho cerita soal nama sprint yang baru saja dilalui, namanya Ummu Sulaim. Sprint 40 TemanBisnis.

Ummu Sulaim adalah ibu dari Anas Bin Malik. Tentang Anas ini sendiri pun Ima sudah pernah ceritakan sebagai nama sprint-sprint sebelumnya. Anas dipelihara bahkan sempat menempel pada Nabi. Kalau tidak salah tangkap pada akhirnya Ummu Sulaim (nama aslinya Rumaisha) berpisah dengan suaminya karena suainya tidak beriman. Ia pun membesarkan anaknya sendirian.

Waktu berselang, beberapa orang datang melamar Ummu Sulaim tapi ia tidak mau. Sampai suatu ketika Abu Thalhah dengan percaya diri datang melamar, karena ia orang terpandang yang kaya dan punya kedudukan. Tapi Ummu Sulaim juga tidak mau. Abu Thalhah kala itu belum beriman. Hingga akhirnya Abu Thalhah masuk Islam dan kemudian mereka pun menikah, dengan maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim waku itu bilang, "Sungguh tidak ada alasanku menolakmu selain keislamanmu."

Ummu Sulaim dan Abu Thalhah benar-benar membela dan menjaga Islam. Aku mungkin kurang nangkap bagian ini, tapi kalau tidak salah tangkap, keduanya ikut berperang dan termasuk ada di garda terdepan.

Suatu ketika Abu Thalhah ikut berperang dan Ummu Sulaim menjaga anaknya yang sakit. Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim benar-benar memberikan pelayanan yang baik sebagai istri. Menyiapkan hidangan yang enak, dan lain sebagainya. Sehingga hilang lelah Abu Thalhah dan ia sangat senang hari itu. Ummu Sulaim tidak membahas kondisi anaknya yang pada saat itu sebenarnya sudah meninggal. Baru paginya ia tanya pada suaminya, "Apa pendapatmu jika ada orang yang meminjamkan uang, lalu ketika diminta ia tidak mau mengembalikannya?" Suaminya bilang, "Itu tidak benar." Lalu Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya putra kita adalah pinjaman dari Allah dan Pemiliknya telah memintanya kembali." Kagetlah Abu Thalhah, namun ia sudah kehilangan kata-kata. Kecerdasan Ummu Sulaim barangkali telah membuatnya sadar akan siapa yang berhak atas putra mereka.

Ada poin yang dihighlight oleh Kak Ridho
Bahwa Ummu Sulaim sabar membesarkan anaknya sendirian, dan anaknya tetap menjadi anak yang taat, bahkan menjadi salah seorang yang dekat dengan nabi.
Bahwa Ummu Sulaim sabar ketika ada yang datang, dan melihat imanlah satu-satunya yang dapat menjamin dirinya
Bahwa Ummu Sulaim sabar ketika anaknya meninggal, tidak panik dan berlebihan dalam bersedih, di mana seringnya perempuan lebih histeris atau panik. Ini malah Abu Thalhah yang lebih kaget sebenarnya, tapi bisa teredam dengan ketenangan istrinya.

Terus tadi sebelum zuhur aku ihat ada buku berjudul Melangkah Searah: Asam Manis Rumah Tangga Muda. Aku jadi berpikir aja. Belum baca padahal.

Kesbaran itu luar biasa ya.
Rasanya kalau lagi melaluinya tuh panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget, ndak tahu ujungnya di mana. Ndak tahu tuntasnya kapan.

Tapi lalu aku mikir. Mungkin itu caranya Allah menyiapkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Contoh ya, gegara aku lihat buku tadi..
Orang yang berproses menuju menikah katanya sih ada aja ujiannya. Dan tentu ujian sabar sudah pasti menjadi bagian dari proses itu. Mungkin bagian besar malah. Sabar kan banyak, ya. Dari yang awal sampai yang misal udah jelas iya aja mungkin masih ada ujian-ujian kayak keluarga besar atau urusan macem-macem. Pantes Abidah dulu pernah bilang, orang yang jdi menikah itu udah hebat banget  lo Fit, karena udah banyak yang mereka lewatin pastinya. Nah, balik lagi ke tadi, ujian sabar itu mungkin akan mendewasakan dia, mempersiapkan sebelum mereka menjalani kehidupan sesungguhnya di pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Makanya, jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran Minta pertolongan agar dikuatin Allah biar nanti di medan selanjutnya juga lebih kuat.

Juga sama dengan ibu hamil. Mungkin perjuangan Ibu hamil beda-beda. Tapi umumya hamil kan berat banget ya. Perubahan hormon, mood, keinginan, sakit badan, pantang makan a b c d, disarankan makan e f g h, belum lagi apa kata orang. Nah mungkin itu untuk mempersiapkan sang Ibu agar kelak siap ketika anak udah lahir. Karena akan lebih banyak lagi ujian sabar ketika anak lahir. Sabar dalam merawat, menyusui, mendidik. Sabar dalam menghadapi hal-hal yang menjadi keaktifan si anak (untuk tidak bilang bandel). Sabar menjawab segala pertanyaan anak. Sabar dalam (lagi-lagi) mendengar apa kata orang. Belum nanti kalau di sekolahnya kalau di lingkungannya, atau perubahan zaman, dan lain halnya. Hebat banget ya sebenarnya kalau bisa lulus ujian sebelumnya, ke depannya akan lebih tough gitu ibunya. Dan kalau Ibunya sabar, anaknya juga mungkin akan lebih behave. Dan nggak mencontoh ketidaksabaran ibunya di kemudian hari. Masya Allah.

Jadi dear diri, yang lagi belajar sabar. Nikmatin aja ya. Kita nikmatin bareng-bareng, ya. Banyak banget sekarang yang mesti disinergiskan sabarnya. Kalian mungkin juga, ya. Yang di atas contoh aja sih dan kebetulan contohnya kek gitu karena lihat buku tadi. Kalau kata Kak Shanin, kita perlu fight, bukan flight. Berjuang, bukan kabur menghindar.

Dulu kamu pernah lho Fit nulis ayat tentang sabar di sini.

kali kedua nulis intinya dulu baru akhirnya diedit setelah postingan ali imran jumat kemarin

Sabtu, 09 Maret 2019

Seexcited Anak-anak





Sesungguhnya sepanjang hari ini aku malas sekali. Menunda-nunda. Melakukan hal-hal yang tidak prioritas.

Kerjaan kontenku belum kelar. Rencana ke kantor kutunda dengan kemalasanku yang kusadari dan bodohnya kuturuti*laptopku kutinggal di kantor btw. Aku seharusnya sudah tidak terlarut lagi pada pikiran-pikiran rumit yang kuciptakan sendiri.

Tadi, aku malas sekali buka perpus. Masih kebawa malas sebelum-sebelumnyalah. Dan dari beberapa yang kujapri, tidak bisa gantiin. Ummi juga mau pergi silaturahmi. Lalu aku dadakan dapat peng-iya-an dari kakak yang mau kuwawancara lewat telpon dan kakaknya bisanya sore.
Akhirnya, aku bilang nitip tempel tulisan buka jam setengah lima.

Jam setengah lima. Telpon selesai. Aku berkemas. Hujan turun super deras.
Aku hendak urung saja rasanya. Malas sekali ya ke perpus juga.
Tapi ingat kata-kata Ummi waktu tadi aku bilang tutup aja apa ya....
Kasihan anak-anak.

Akhirnya mantap aku ambil payung dan berjalan. Belum jauh dari rumah, baru sampai beberapa rumah samping rumahku saja, gamisku sudah basah di bagian depan bawah. Kaos kaki jangan ditanya.

Tapi mendekati perpus, anak-anak berhimpit meneduh. Ah, rasanya bersalah, sekaligus menghargai mereka. Mungkin tepat waktu pukul empat mereka sampai. Atau, untuk anak-anak yang sangat excited, biasanya sebelum waktunya sudah mondar-mandir tak sabaran. Mereka tentu baru tahu waktu buka diundur ketika sampai. Excited yang membuat dan menggerakkan mereka untuk datang.

Kita orang dewasa, punya gadget, mudah komunikasi untuk janjian waktu. Tapi sulit menghargai waktu. Telat. Bahkan lupa bilang dari awal izin jika telat. Sudah lupa kenapa penting menghadiri agenda yang butuh diri ini di sana.

Anak-anak. Seexcited itu mereka datang. Tidak sabaran mengembalikan dan mencari buku baru. Datang tepat waktu. Tahu betapa pentingnya buku, sekalipun hanya untuk kesenangan pribadi. Maka, mungkin mereka kecewa ketika tahu perpus bukanya telat. Dan baru tahu ketika sampai. Kita orang dewasa, yang punya gadget untuk bertukar kabar, seringkali lupa menghargai waktu dan orang lain untuk konfirmasi. Lupa betapa pentingnya waktu orang lain yang sudah lebih dulu ada. Lupa pentingnya adab berakad, berjanji, mengiyakan di awal bisa jam sekian.
Lalu pandai membuat alasan. Kalau tidak ada, ya dicari-cari. Untuk telat, bahkan tidak datang.

Excited mereka tertuang dalam laku. Bukan hanya bualan belaka kata-kata. Bukan yang kalau terhalang pun memilih bilangnya nanti saat sudah tiba saja, meskipun terlambat. Menzalimi hak-hak orang lain. Bukan excited yang hanya bilang mau tapi nggak gerak buat dapat kesempatan, nggak gerak buat mewujudkan.

Semoga kita mau merendahkan diri dan belajar dari anak-anak. Setua apapun kita.

Dan tentu saja, ini pelajaran untuk saya sendiri.

---
Jadi inget, suatu waktu temen cerita. Saya sekian tahun menikah, paling bersyukur sama omelan istri.
Lalu aku heran. Baru kali ini aku dengar yang sejenis itu. Waktu aku SMA (karena SMP tidak ada laki-laki) aku pernah menangkap gelagat tidak suka teman lelakiku waktu diingetin perempuan, pas praktikum Kimia apa Fisika gitu. Lalu aku langsung pars pro toto (oh itu nama majas), aku pikir semua laki-laki ndak suka diingetin perempuan. Entah, mungkin merasa harga dirinya jatuh. Terus kadang aku merasa nggak enak ngingetin cowok, kadang sampe kebawa takut nikah kalau nggak sama-sama mau nundukin ego buat perbaikan satu sama lain (bukan aku mau ngomel loh ya-,-), dan takut kalau punya masukan gak diterima.
Lalu aku bilang ke beliau, kalau dulu aku ngalamin itu dan aku bilang juga baru pertama kali denger bersyukur diomelin istri.

Kata dia, kata ustadz Salim A Fillah, kalau laki-laki  diingetin malah marah, itu laki-lakinya yang kurang soleh .

Kenapa cerita bawahnya lebih panjang, padahal kenapa inget cerita ini karena di ending si temen ini bilang, jadi siapapun yang ngingetin kita, bahkan anak sendiri, bahkan (sebutnamaanak) yang masih kecil, harusnya kita bisa nerima.

Ya, intinya belajar dari anak-anak sore ini.

Sekian, tulisan soal kemarin belum jadi. Belum ditulis bahkan. Hmm perlu nggak ya?

Masih hujan. Mari berdoa.

Rabu, 16 Januari 2019

Bergantung (2)

Waktu Itu Abidah cerita, "Fit, kalau aku mau punya anak lima, suami aku mau nggak ya, ngebiayain 5 anak? Sekolah, (disebut hal-ha pengeluaran selain sekolah, yang sekarang kusudah lupa apa saja itemnya)."
Aku, juga pengen punya anak lima, wkwkwk. Aku lupa waktu itu aku bilang apa, tapi sepertinya kurang lebih begini (setelah aku juga mengatakan ingin punya anak lima). "Kalau percaya sama rezekinya Allah, kalau persoalannya ngebiayain (bukan kesehatan atau faktor yang lain), mestinya sih nggak keberatan Bid."

Lalu kami tertawa bersama.

Aku lalu cerita tentang Rias. Jadi Rias ini adik kelas ketemu di FLP. Angkatan 2013 yang sudah meniqa tengah tahun kemarin (eh Rias anak purwokerto aku jadi inget Hannan). Waktu itu aku baca blognya di sini. Ceritanya adalah ketika ia dan suaminya ke dokter kandungan untuk USG calon bayi mereka. Lalu Rias ini merasa bersalah karena biayanya ternyata lumayan. Tapi suaminya menenangkan dia dengan bilang bahwa itu rezekinya si calon anak, bukan milik Rias atau suaminya.
.
Ini sederhana, tapi bener juga.

Aku juga jadi ingat, kemarin seorang teman posting biaya TK di Bintaro yang katanya didapet dari twitter, in total dua tahun biayanya perbandingan 4 TK semua di atas 40 juta. Terus dia bilang lagi, dia share itu di grup sma, ada yang bales; Takut ga bisa nyekolahin anak juga termasuk menghina Tuhan."

Satu setengah tahun lalu waktu aku cerita ke Faizah temenku Aliyah, waktu aku takut cemas dan khawatir, dia bilang, Fit, kayak nggak punya Allah aja....

Jadi kepikir sama hal-hal yang menggelayuti pikiran. Ada Allah Fit, tenang saja. Kalau kata Ima, melanjutkan postingan sebelumnya, berdoa ke Allah tuh minta dititipi dan ditemani. Titipin masalahnya ke Allah sama minta Allah temenin diri ini melewati masalahnya.

Atas semua hal, ada hal yang nggak bisa Allah lakukan. Ialah mengingkari janji. Allah nggak mungkin mengingkari janjiNya. Maka, kalau rezeki itu adalah janji Allah. Tugas manusia tinggal percaya, sambil menjemputnya dengan usaha-usaha terbaik dalam koridor syara'

Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal mawla wa ni'man nashir

*quote mirip-mirip pernah saya pos di sini

seri bergantung -3 antara tentang skripsi atau nyampur dikit sama obrolan film searching ya

Selasa, 15 Januari 2019

Senja

Senja Rabu itu pergi tanpa permisi
Tapi cukup diakhiri dengan sapa pamit hati-hati
selesai mari sudahi
kelak mari lihat bagaimana semesta menutup dengan rapi

Senja kala itu mempertemukan tanpa sengaja
di area perempatan yang tak pernah diduga sebelumnya
menerbitkan gegas tanya tak berkesudahan dan kesan cukup lama
rikuh kubilang sampai semesta beri jawab sampai lega

Senja di tempat ramai tanpa rencana lebih dahulu
dari aksi laku sampai tangis yang tergugu tanpa malu
pembicaraan terlontar tanpa sadar tidak ada yang tahu
semesta bisa saja membawa dan mencipta rencana baru

ada banyak senja yang tidak pernah tahu berujung apa
kadang mendung kadang hujan kadang cerah tanpa diminta
kadang terburu sampai lupa tak mendengar kata hati sendiri
padahal dari sanalah sumber energi yang membuat langkah jadi berani
dan tanggung jawab atas pilihan yang dibuat secara mandiri

hati bisa bilang
jangan terburu
wajar jika malu
jalani saja
kelak akan jumpa
jawaban terbaiknya
pasrahkan seluruhnya
minta bimbinganNya
mulai dengan berani
pertanyaan kelak datang bertubi
jawaban perlahan kan mengiringi
karena Ia tak pernah tinggalkan sendiri
titipkan dan minta ditemani

JawabanNya adalah jawaban terbaik
untuk menemani proses pendewasaan siapapun yang terlibat
yakini saja
tugasmu hanya itu, setelah berupaya dengan upaya terbaik
da kalau kata ustad kemarin mah,
apapun keriweuhannya, pahala
doanya pahala
cemasnya pahala
harapnya pahala
sabarnya pahala
syukurnya pahala
lamanya pahala
dak sesuai keinginan pun bisa jadi pahala
selama ada di koridor syariatnya,
ceunah

untuk segala senja, 
sebaik-baik manusia, yang mengambil pelajaran, kan?
.
monmaap bukan sedang kumaha kumaha
hanya connecting the dots beberapa hal aja
terus belajar nuangin ke kata-kata
hehe

Minggu, 13 Januari 2019

Menolong Diri Sendiri

Sekuat apapun orang-orang mendukung mimpi saya, menolong saya, kalau saya tidak mau memperjuangkan mimpi itu, tidak akan terwujud.

Merupakan kata-kata lain dari
Kamu nggak akan bisa menolong orang lain kalau orang itu tidak mau menolong dirinya sendiri.

*paragraf pertama itu mau nulis kita. Tapi akhirnya diedit pakai sudut pandang orang pertama; saya.

Kadang-kadang, orang lain bisa sepengen itu, bisa lebih ingin impian diri ini terwujud. Sementara diri ini, sudah seberapa jauh usahanya?


Masih hujan sedari siang, 
padahal sudah di perjalanan
mungkin diminta berdoa

Dah dari Oktober, 
baru dipos .


12 Pekan Terakhir

12 Pekan terakhir officially berakhir. Meskipun masih sisa besok. Tapi semalam sudah ditutup secara resmi.

12 Pekan yang jadi jalan saya ingin secara random dan spontan menya mpaikan pada teman bahwa dirinya berharga, karena sejak pelatihan pertama di 2017, setiap diri berharga adalah value yang diulang-ulang.

12 Pekan yang jadi jalan buat saya bilang "kejar dong" ke teman waktu dia ngomong lalu ditinggal lawan bicaranya. Kupikir, itu bisa berimpact banyak dan berlaku pada banyak hal.

12 Pekan yang jadi jalan buat saya bilang ke teman. Do whatever it takes. Lakukan saja apapun resikonya.

12 Pekan yang mengingatkan saya bahwa, saya tidak bisa mengubah orang lain. Bahkan jika saya ingin orang lain berubah, saya tidak punya kendali 100% atas dirinya. Caranya? Coba, apa dari sayanya yang dapat diubah, sehingga orang ternyata bisa berubah terhadap saya?

12 Pekan yang jadi jalan buat saya bilang lakuin terus, nanti tahu responnya. Lakuin terus, kalau gagal, coba lagi dengan cara lain. Waktu seorang berputra dua ingin memecahkan barrier dengan ayahnya. Karena saya berkaca dari cerita teman tentang memecah barrier dengan orang tuanya.

12 Pekan yang membuat saya ingin sekali bilang soal, kejar. Kejar apa yang memang kamu inginkan. Coba cara a tidak works, cari cara lain. Karena pada dasarnya bukan seberapa cepat atau lambat. Tapi seberapa jauh kamu untuk itu. Hasil hanya feedback. Dia bisa menunjukkan apakah yang dilakukan sudah efektif atau belum. Apa yang belum dilakukan untuk mendapatkan yang diinginkan, maka lalukan. Kejar. Kejar kalau kamu tahu kamu lakukan dengan segenap hati dan tujuan baik. Coba segala cara. Melaju lebih jauh. Dan ini bukan soal menyalahkan atau being victim. Ada hal-hal yang dapat dilakukan tanpa menunggu kepastian dari orang lain. Perjuangkan apa yang bisa diperjuangkan dari sisi setiap orang.

12 Pekan yang mengajarkan saya bahwa rapat tepat waktu itu mungkin. Janjian jam 14, selain pagi diingatkan, 14 kurang 10 telpon sampai mana yang belum datang. Cek koneksi juga 10 menit sebelum untuk yang hadir online. Kalau dalam kehidupan sehari-hari it doesn't happen, ya antara kamu gak benar-benar menginginkannya, atau emang kamu pasang standar rendah, bahkan untuk hal penting buat dirimu.

12 Pekan untuk memasang standar tinggi, dengan segala dramanya, bisa ditempuh. Apalagi kalau bareng-bareng :)

12 Pekan tentang berusaha dan belajar sampai titik akhir.
.
.
.
Hari ini :")


*terbuka untuk diskusi yaa :D
diskusi lho, bukan nanya saya abis ngapain :p

Lembang, 13 Januari 2018
01.00
Semoga bisa menuangkan dan yang paling penting menerapkan dalam kehidupan seharihari

Minggu, 23 Desember 2018

Fatiha dan Ibunya (serta teman-teman pejuang lainnya)

Hari ini ke yayasan kanker. Ngobrol dengan Rangga dan Fatiha. Main dengan Fatiha.

Usia Fatiha 6 tahun. Sudah 1.5 tahun dirawat di sana. Leukimia ALL. Awalnya muntah di sekolahnya di PAUD di Lampung. Ia memakai masker. Tidak terlihat lemas dan sedang sakit.

Kami mengobrol. Fatiha pernah ke monas. Sama ibu, Azzam, dan ayah. Di sana melihat lampu dan layangan. Dia menyebut warna pink. Entah itu warna lampu atau layangan aku tak menangkap. Aku tanya ia mau ke mana lagi. Dia bilang sesuatu. Aku tak dengar. Aku minta dia ulang. Dia ulang dan aku tetap tak menangkap apa yang dia omongkan. Karena tak enak, aku tanya di sana lihat apa. Kelihatannya pertanyaan itu lebih baik.

Aku tanya Fatiha mau apa. Dia bilang menggambar. Syukurlah aku membawa buku dan pulpen. Aku merelakan kertas kosong tanpa baris terkahirku untuk Fatiha. Dia ingin mewarnai tapi aku tak bawa pewarna. Lalu aku kembali tanya, Fatiha mau baca buku? Ia mengangguk.

Kami menghampiri rak buku. Fatiha menunjuk buku biru. Rupanya buku cerita dengan ilustrasi yangbtersusun oleh puzzle. Kami total membongkar pasang dua halaman puzzle di sana. Fatiha terbuka, ia tak ragu bilang butuh bantuan kala membutuhkan.


Lalu ia minta main twister. Semacam karpet warna dan jam putar yang meminta tangan dan kaki meraih warna-warna itu. Setelahnya ia bilang mau mewarnai, tapi usah kertas berpola dikeluarkan dari laci lemari, kebuntuan menemukan alat warna membuatnya shifting ingin main susun puzzle balok kayu.

Aku memberi ruang pada temanku untuk bermain bersama Fatiha, agar ia juga tidak pusing jika dikerubungi banyak orang. Aku mendekati ibu Fatiha dan Rangga. Keduanya dari Sumatera. Fatiha Lampung dan Rangga Batam. Jauh jauh ke Jakarta untuk berobat di Dharmais. Kemoterapi, infus obat yang membuat alergi, ambil sumsum tulang belakang, cek lab yang barangkali sudah puluhan kali, pun dengan perjuangan lain yang tidak bisa saya bayangkan.

"Kita mah udah nggak kepikir sekolah. Liat dia sehat aja udah seneng...."
Sempat terlintas bagaimana anak-anak ini belajar. Belajar sama ibunya? Anak-anak ini juga tidak boleh terlalu lelah secara pikiran.... kelak pasca sembuh, bagaimana anak-anak ini menyesuaokan diri dengan teman-teman sebayanya? Ah, aku tidak bisa membayangkan...

Kalau kondisi stabil, total 5 tahun pengobatan. Ditambah dua tahun pasca pengobatan. Jika dua tahun itu baik-baik saja, maka baru dinyatakan sembuh. Kalau tidak, bisa-bisa mengulang pengobatan dari awal....

Hmm ini agak oot, tapi sudah pukul 23 dan aku memilih istirahat. Postingan ini belum selesai karena aku masih ingin cerita soal
Kerja sama orang tua
Perjuangan orang tuanya
Ayah ibu yang berjuang

Hmmm kok intinya sama ya. Baik, pamit sekedap.