Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Desember 2025

Tidak Apa-Apa

Sebuah chat pagi yang bikin nangis aku, dari Kak Dyna Fitria

 "Semoga kita bisa terus merasakan dan menjaga kasih sayang Allah lebih dari menjaga apapun ๐Ÿ˜ญ ๐Ÿ’ž"


kalaupun apa yang sedang dilakukan ternyata tidak berhasil... 

deadlinenya tidak terselesaikan..

hasilnya tidak seperti yang diharapkan.. 

(setelah mengoptimalkan semua)

Tidak apa2 juga, karena "masih menjadi hamba yang dicintai oleh Rabb yang punya semesta saja bukannya sudah lebih2 dari cukup?"


[Asinan Buah Kiamboy]

Sekitar beberapa pekan yang lalu, sy sempat penasaran pengen nyobain asinan kiamboy. Bukan pengen yang gimana2 banget sebenarnya, cuma penasaran mau tau kayak gimana rasanya asinan tsb.


Keinginan untuk makan asinan kiamboy, tidak saya ceritakan pada siapapun.


Dan sangat tidak disangka2.. pada suatu malam tiba2 suami pulang kerja, dan bawa asinan buah kiamboy!


Wah, bisa pas banget. 

Ternyata sedang ada tmn 1 kantor suami yang lagi nyoba bikin asinan kiamboy buat jualan.. masyaAllah.


Bukan hanya tidak menyangka kalau keinginan sederhana untuk nyobain asinan buah kiamboy terkabul, tapi Allah benar2 menghadirkan asinan kiamboy di waktu yang sangat tepat.

Karena hari-hari itu adalah hari dimana sy sedang padat2nya menyiapkan monev.

Hari-hari yang sungguh padat mengejar target pekerjaan 3 bulan untuk dilakukan hanya dalam waktu kurang dari 1 pekan.

Sambil mengurus bayi, mendampingi anak2 belajar dan menghandle pekerjaan rumah. Terkadang sampai bikin sy bingung mau ngapain dulu. Sama sekali sudah terpikir keinginan diri sendiri.. apalagi ingin makan asinan kiamboy.

Tapi ternyata Allah se notice itu.

Keinginan sepintas dan sereceh, yang ada di dalam hati hamba2Nya. Bahkan ada dalam pengetahuan, pengaturan dan kehendakNya :"

Malam itu, Allah melalui perantara asinan kiamboy membuat sy belajar..

(1) _Membangun kepekaan, bahwa sebagai hamba, kita dicintai_

Di tengah berbagai kesibukan, suka muncul keraguan terhadap diri sendiri (atau ga sadar meragukan kuasa Allah?)

"Ya Allah ini sy bisa ga ya ngerjainnya?" "waktunya akan keburu gak ya?"

Lupa..kalau terkadang yang diperlukan hati adalah belajar untuk lebih peka, bahwa "kita sebagai hamba dicintai, bahkan dalam hal-hal yang paling sederhana"

di tengah2 target yang diberikan dari UI untuk monev yang sudah di depan mata dan banyak yang belum selesai..

Tiba2 saja ada asinan kiamboy. Malam itu, sambil menikmati buah asinan, jadi merenung sejenak..

kalaupun apa yang sedang dilakukan ternyata tidak berhasil... 

deadlinenya tidak terselesaikan..

hasilnya tidak seperti yang diharapkan.. 

(setelah mengoptimalkan semua)

Tidak apa2 juga, karena "masih menjadi hamba yang dicintai oleh Rabb yang punya semesta saja bukannya sudah lebih2 dari cukup?"


2) _Terus menjaga hal niat baik, do'a baik, dan niat baik yang ada di dalam hati.._


Allah selalu melihat, bahkan apa2 yang tersimpan di dalam dada.


Sereceh keinginan di dalam hati untuk mencicipi asinan yang tiba2 terkabul, membuat sy kembali mengoreksi hati. Apakah isinya benar2 hal yang baik2, menjaga harapan2 yang baik 


Realita yang masih jauh dari harapan suka menjatuhkan dan membuat pesimis.. 


Kemerdekaan Palestina? Indonesia yang dipimpin orang2 yang amanah? 

Hafal Al-Qur'an 30 juz?..rasanya masih jauh.. Begitupun harapan tentang menjadi hamba Allah dan muslim yang baik, orang tua yang mendidik anak sholeh sholehah dst..


rasanya jauh panggang daripada api.

Tapi kalau Allah berkendak, dan Allah kabulkan?


meskipun sulit, jauh dan terlihat mustahil, tetap simpan keinginan yang baik2 tsb di dalam hati, karena Allah bisa saja mengabulkan dengan caraNya.. yang kadang tidak terduga2.


Begitupun, seharusnya berhati2 dengan hal2 buruk, bahkan hanya di dalam hati..


_"...Jangan sekali2 engkau berjalan, kecuali dengan niat, jangan pula sama sekali engkau makan satu suapan, kecuali dengan *niat"*_

- Ibnul Qayyim Al Jauziah


3) _Jarak antara kesulitan dengan RahmatNya, kadang lebih tipis dari kulit buah yang kita gigit.._


PertolonganNya selalu datang dari arah yang tidak disangka2, melalui perantara hamba2Nya..


Dengan waktu yang singkat dan mustahil bisa selesai semua, saya pikir awalnya tidak selesai. Sama sekali tidak menyangka begitu banyak pertolongan Allah dan keajaiban yang tiba2 hadir..


Alat retort yang tadinya harus PO selama 1 bulan dan ada yang jual langsung tapi pengiriman pun rata2 jauh dari luar jawa. Tiba2 saja nemu 1 orang yang jual alatnya di OLX. Bukan hanya menjual alat retortnya, tapi penjualnya bilang "sy ajarin mba, sampai berhasil", diberikannya semua materi ttg retort yang dipelajari langsung dari malaysia secara cuma2.. 


Dapat 1 orang tim pengganti yang langsung tek tokan buat produksi bareng.. untuk pertama kalinya masak berdua sampai setengah 12 malam selama 3 hari berturut-turut.


Bantuan dari orang2 di sekitar yang begitu tulus dan supportif.. mulai dari suami, anak2, mba tukang sayur yang bantu belanja, teteh di rumah yang bantu2, mereka yang benar2 tuluuus dan selalu adem banget sikapnya dalam membantu :"


Belum selesai bikin PT Perorangan, tiba2 lagi ngantri nunggu buat ttd pks lisesnsi, ada teman dari start up lain yang nawarin bantuin bikinin dan minjamin laptopnya.. Alhamdulillah langsung jadi saat itu juga sambil nunggu antrian.


Ngurus NPWP dan rekening bank yang Alhamdulillah dimudahkan hanya setengah hari selesai sambil bawa2 bayi..


Lagi nyari ahli gizi dan orang yang paham teknologi pangan, tiba2 aja keisengan untuk share story ig produk lauk.in di reply oleh kakak kelas yang kebetulan alumni FKM, dan akhirnya nanya2 tentang ahli gizi dan ahli teknologi pangan.. beliau langsung nyariin koneksi2 kenalan beliau yang bisa langsung dihubungin buat konsultasi.. dalam waktu monev yabg tinggal 2 hari


Percobaan retort produk pertama lauk.in langsung dipesan salah seorang kenalan pemilik travel haji & umrog yang mau perjalanan ke china dan juga ada salah seorang teman kenalan jauh yang padahal sudah lama sekali tidak kontak2an, mau pesan untuk dibawa kakaknya berangkat umroh. Padahal awalnya tidak berani janji apa2, karena memang waktunya mepet dan karena retort pertama ada khawatir gagal, produk menggembung dan basi. Tapi ternyata pas banget H-1 keberangkatan ke china produk retortnya selesai, langsung dibawa. Dimakan hari ketiga, aman dan testimoninya rasanya enaak :"๐Ÿ˜ Alhamdulillah..


Hingga proses menyusun laporan dan slide PPT di akhir2 sisa tenaga dalam kondisi sudah demam, Alhamdulillah Allah mudahkan untuk menyelesaikan laporan keuangan hingga tuntas dan membuat desain slide dari awal hingga selesai.


Allah... baik banget :""๐Ÿ˜ญ 


Alhamdulillah, dengan izin Allah, semuanya selesai.

Laa haula walaa quwwata illa billah.. 


Dalam setiap perjuangan, kelelahan, dan keterbatasan, belajar lagi menjadi hamba, merasakan daya upaya sebagai seorang manusia yang terbatas, tapi Allah Maha Baik, lagi Berkehendak..

.

.

.

Apa yang telah terjadi, adalah takdir Allah, dan takdir Allah selalu berjalan beriringan dengan hikmahNya ๐Ÿค

Jika asinan kiamboy saja Allah urus, 

_Maka, nikmat Allah manakah yang kau Dustakan?_


____

"Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir (padi-padian) dan biji (buah-buahan). Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Itulah (kekuasaan) Allah. Maka, bagaimana kamu dapat dipalingkan?"

QS. Al-An'aam: 95

Selasa, 10 September 2019

Surga Itu Mahal

Ibu cuma bilang satu kalimat: Surga itu mahal.

Aku nangis mendengarnya, sambil mendengar kalimat-kalimat di kepala.

Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar terima kasihnya manusia.
Belajar ikhlas, belajar selalu berharapnya sama Allah. Usaha terbaik, Allah yang balas. Balasan terbaik selalu dari Allah, bukan dari manusia. Belajar terus memberi, belajar sabar dan ikhlas ketika (perasaan) yang (rasanya) tidak terbatas justru tidak terbalas.
Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar penerimaan manusia.
Belajar merendahkan ekspektasi. Belajar cukup. Belajar nggak papa tidak diterima. 
Surga itu mahal, dibeli pakai ilmu, diaplikasikan lewat taat, dijalani dengan istiqomah.
Surga itu mahal, kadang perasaan dunianya sakit, tapi Allah mau diri ini belajar.

Surga itu mahal. Semoga Allah mampukan sampai sana.

Tadi, 22.14an
10 Sept 2019

Jumat, 14 Juni 2019

Ayat Hari Ini: Tips Menghilangkan Takut dan Sedih (2)

Tidak! Barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.-QS Al Baqarah: 112

Bahwa, oh kalau nggak mau takut dan sedih itu, ya menyerahkan diri sepenuhnya sama Allah. Terus berbuat baik.

Menyerahkan diri sepenuhnya itu, bayanganku (dan mengingat sore tadi), mungkin seperti berpasrah, yang darinya lahir bentuk ridha atas takdir apa-apa yang Ia tetapkan pada diri ini.

Dan berbuat baik, ini mah jelas ya. Ndak perlu ditanya baik itu seperti apa.

Tulisan sebelumnya yang membahas cara untuk tidak takut dan sedih versi Alquran ada di postingan ini.

Selasa, 21 Mei 2019

R, yang Takut Tidak Sampai Usianya

Beberapa hari lalu sempat dapat cerita dari R, salah seorang teman yang sudah sekitar 30 bulan seatap. Lima belas juni esok dia insya Allah akan menikah. Sedikit kisahnya sudah pernah kami ketahui waktu dulu ia cerita-cerita ketika kami masih tinggal di bawah atap yang sama, di hari ulang tahunnya. Usianya lebih tua dariku sebenarnya, tapi karena sempat mengulang sbmptn jadinya angkatan kuliahnya dibawahku. Anaknya menyenangkan, suka belajar, dan luas pergaulannya. 

Ada kata-kata yang aku suka dari ceritanya waktu dia cerita tentang kekhawatiran menuju pernikahan.Katanya sih overall tidak ada, dan hanya tersisa satu hal.

"Tp ada ko kaa, smpe skrg msh khawatir sm 1 hal,
Nympe ga ya umurku? nympe ga ya umurnya? 
Soalnya apa ya ka, aku blm siap bekal ke kubur, sedangkan dr jalan menikah ini in sya Allah bs banyak pundi" pahala, kebaikan yg sama" akan kami dapat, smg masih Allah sampaikan ya ke ibadah terpanjaaang, jd ibu berjuangnya diitung kan ya ka sm Allah jg ka :')"

R yang suka dipanggil mama-chan. Terlihat bocil namun tidak. Kekhawatiran justru soal kematian, hal yang memang paling dekat dibanding apapun.

Semoga Allah sampaikan Ma. Biar seluruh pundi-pundi kebaikan bisa kamu dapatkan, menjadi bekal ke akhirat kelak. Aamiin.

Salam sayang,
Fitri yang kagum.

Kamis, 16 Mei 2019

Menjadi Pendakwah

"Gimana mau nyambung, mau jadi pendakwah kalau aktivitas kita sehari-hari jarang ke arah sana?"

"Kebangkitan Islam nggak pernah terealisasi kalau kita usaha di waktu sisa, tenaga sisa, harta sisa. Kalau ini yang dilakukan, maka kita nggak mencontoh Rasulullah. Apa Islam bisa bangkit dengan yang sisa? Masa yang sisa-sisa yang kita gadaikan buat dapat Jannah? Emang sepadan?
Kalau iya itu yang kita lakukan, berarti kita lagi nego ke Allah, yaudah deh ya Allah, nggak usah Jannah juga nggak papa."

"Yang kita cari itu yang berharga di sisi Allah, masa mau kayak gitu pakenya waktu sisa. Ini bukan menjual diri dengan sesuatu yang receh seperti kebahagiaan dunia.

Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri mau-pun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung." - QS At Taubah:111

"Jadikan dakwah itu prioritas hidup kita. Dakwah itu mahkota kewajiban. Bukan berdakwah ketika ilmu kamu sudah banyak, tapi sampaikanlah walau 1 ayat."


#sisakemarin #sabtu
mau ditulis dari kemarin-marin gajadi-jadi

Ya Allah, jadikanlah kami istiqomah di jalanMu. Membela agamaMu. Menyampaikan kebaikan syariat lewat kata, laku, bahkan diamnya kami. Menjadi bagian dari pejuang kebangkitan Islam. Aamiin.

Selasa, 14 Mei 2019

Doa Khatmil Quran

doa khatmil di Alquran Syamil
Indah sekali doanya. Dulu yang membuat aku nangis di doa yang sebelah kiri. Sekarang sebelum mencapainya saja rasanya sudah haru--sekaligus malu karena interaksi yang masih kurang, ayat-ayat yang lari dari ingatan, sementara berharap Alquran berkenan memberi syafaat di hari penghitungan kelak. Betapa tidak sepadannya.

Mungkin memang sebaiknya doanya dibaca lebih sering.

Istiqlal Hari Ini-2: Anak dan Keluarga

Terlalu banyak insight yang bsia diraup hari ini. Dan rasanya sudah tidak mampu menuliskannya saking banyanya. Padahal sepengen itu ikut merangkum kajian yang di-re-tell sama Ima.
Coba buka link ini dan karena memang cukup panjang, bisa langsung klik menit ke 27.
Sebagai clue: peran ayah dalam menanamkan aqidah dan ibu dalam menanamkan akhlak, beserta hal-hal terkait keluarga dan anak-anak. Seberapa penting ayah dan seberapa penting ibu. Apa peran Ayah dan di mana peran Ibu. Bagaimana Ayah yang sedikit bicara dan banyak didengar, dan Ibu yang kebalikannya banyak bicara sedikit didengar. Ayah yang harus tega dan mengenalkan anak pada ego, agar anak punya prinsip, dan tidak mudah terpengaruh orang dan pemikiran lain. Tentang Ayah yang bercerita sebelum tidur.

Sampai bagaimana Ayah membelikan baju anak agar tahu perkembangan anak, juga tentang pemateri, Ust Ardiano Rusfi yang membeli rumah di usia 43, karena sepanjang anak-anaknya tumbuh uangnya ia prioritaskan untuk aktivitas bersama keluarga, bersama anak-anaknya.

Dan kata-kata Kay di akhir yang tidak terekam karena sudah keburu dimatikan.
"Siapa yang seharusya ke pasar coba?"
Kami terdiam. Zaki menebak, Ayah?
Kay mengangguk. "Iya Ayah."
Kami penuh tanya.
Katanya lagi, "Rasulullah juga dulu ke pasar. Perempuannya di rumah."
Lalu kami jadi nyambung, berkata-kata. oh iya ya, lagi pula, kalau laki-laki belinya to the point, nyarinya apa dibeli ya itu. kalau perempuan liat apa dikit jadi pengen, niat beli apa bawa pulangnya apa. bisa ganti atau nambah.
(please note aku bukan menceritakan ini karena berharap laki aja yang ke pasar perempuan ga usah, cuma dari gimana Rasulullah mencontohkan dan teladan orang shalih zaman dulu. Pun waktu aku cerita ke Ummi kata Ummi, di kitab yang membahas laki-laki dan prempuan (ijtima'i) disebutkan bahwa memang tugas ke luar itu tugas laki-laki. barusan aku baca majalah yang di covernya bertulisakan salah satu judul yaitu Mewjudkan Keluarga Islami, rupanya juga dicantumkan tentang itu.

Panjang tapi it's gonna be worth it. Aku rasanya pengen denger langsung kajian ustadznya.


Terima kasih teman-teman :")

#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Hari ini baca igs teman ternyata juga bahas mengenal pasangan, serta peran ayah dan ibu, juga kajian Ust. Budi Ashari yang belum jadi kutonton dari tahun lalu heuheu.

Istiqlal Hari Ini-1: Haru

Orang itu meyelesaikan tahiyatul masjidnya. Salam. Lalu berpikir, teringat nasehat seseorang tentang shalat hajat. Ia membulatkan tekad. Baiklah, kutunaikan shalat hajat, ujarnya dalam hati. Dia ingat pinta apa yang disarankan orang yang menyuruhnya menunaikan shalat hajat beberapa hari lalu. Lalu ia menyelami dasar hatinya. Dirinya juga punya pinta.

Ia berdiri, menunaikan takbir pertama. Tiba saat membaca surat pendek. Dirinya tertegun. Surat apa yang perlu dibaca?
Kemarin-kemarin waktu meminta petunjuk, ia baca surat Al Insyirah dan Al Ikhlas, berharap Allah beri kemudahan dan keikhlasan, apapun hasilnya. Kali ini, mesti baca apa? Sampai akhirnya memutuskan.

Pertama, Al Isra ayat 80
Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku). 482

482-Memohon kepada Allah agar kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari riya dan dari sesuatu yang merusakkan pahala....

(482 semacam indeks footnote)
Di Alquran Syamil, ada penjelasan footnotenya, masih ada lanjutannya. Dulu, tanpa sengaja ia menemukan ayat ini saat duduk di bangku aliyah, terkesan dengan maknanya. Ketika lupa surat apa ayat berapa, lalu bertanya pada temannya yang hafal Alquran. Lalu berusaha menghafalnya.

Ah, mengingat ayat ini sudah membuatnya meneteskan air mata dalam shalatnya

Lalu, ayat berikutnya. Ia memutar otak. Surat apa?
Terpikir, tiga ayat terakhir al baqarah.
Dulu waktu mengaji bersama, ia sempat terhenyak dengan potongaan arti,
"Jika kamu nyataan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah akan memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki...."

Lalu juga yang terkenal, ayat terakhir: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai engan kesanggupannya."

Mengingat segala kekhawatiran dan ketakutan, dan mengingat bahwa atas apapun, ia selalu punya Allah....
Tidak henti, menderas air matanya.

Lalu, QS Al A'raf ayat 23
Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Mau tidak mau ia sudah perlu menyeka air matanya, khawatir masuk mulut dan membatalkan puasa.

Sudah kehabisan kata-kata. Lama tidak merasa shalat senikmat ini. Lama tidak merasa diri sekecil ini. Lama tidak merasa sekerdil ini ia dan benar-benar tidak bisa apa-apa tanpa bantuanNya, dengan benar-benar perasaan yang terasa.

-------------------------

Shalat zuhur, ia kira, tangisnya sudah usai. Pun juga sudah bertemu rekan lainnya.
Tapi bakda shalat, tiga doa pertama yang dibacakan secara jahr oleh entah panitia atau siapa dari petugas masjid membuatnya kembali menangis.
Pertama,
rabbana taqabbal minna shalatana wa shiyamana wa ruku’ana wa sujudana wa qiyamana...

Ah, atas semua amal yang sudah dilakukan, mana yang sampai pada Allah? Mana yang Ia terima? Sebarapa banyak yang bisa Allah terima...membayangkannya membuat takut....

Doa kedua, Al Furqan 74,
Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

Doa ketiga, kalau tidak salah ingat, Al Kahfi 10
(Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.”

Dua doa yang sama-sama punya kesan dan makna tersendiri. Salah dua doa yang orang itu hafal dari begitu banyaknya doa dalam Alquran yang belum ia hafalkan.

Hari ini, di tengah megah dan besarnya Istiqlal, keciiiil sekali rasanya. Takuut sekali atas tidak diterima amalan-amalannya. Dan harap yang besar menjulang, menjunjung, menyemogakan banyak hal.

Hari ini, ia tidak pernah menangkan kedatangan ke Istiqlal akan semengharukan itu.

#sisakemarin
Istiqlal Hari Ini
Ahad, 12 Mei 2019

Kamis, 09 Mei 2019

Mencari Keberkahan Waktu

Waktu itu Abidah izin nelpon, dia bilang hanya 10 menit, rupanya jadi sekitaran 30 menit.
Maret, sebelum ke Klaten. Saat banyak deadline mampir dan menghampiri. Saat rasa-rasanya ragu, apakah bisa semua konten selesai sebelum April, lalu cetak dummy dsb. Apakah kalau ikut ke Klaten (tadinya aku pikir aku nggak ikut), aku tetap bisa submit naskah buat seleksi pelatihan, tetap bisa handle kepanitiaan acara. Dan apakah bisa semua berjalan sesuai timeline. Termasuk targetan testing dan development yang belum usai.

Lalu aku bilang soal mencari keberkahan waktu, yang kala itu pernah jadi status whatsappku. sekaligus reminder buat diri sendiri. "Bid," kubilang, "Di kayak gini aku cuma bisa berharap sama keberkahan waktu."

Aku ndak mau alasan-alasan kesibukan atau pekerjaan yang satu jadi mematikan pekerjaan yang lain, atau jadi alasan untuk ga jadi submit naskah, atau jadi alasan untuk membatalkan amanah yang sudah diambil sebelumnya. Is it easy? Tentu saja tidak. Nguatin diri sendiri bahwa ini sekarang waktunya buat aktivitas yang lain, bukan lagi kerjaan, kadang-kadang ya ada penolakan juga. Tapi memang perlu diingat lagi itu adalah hak tubuh yang lainnya. Kuatin niatnya, inget tujuannya. Kan hidup orientasinya nggak satu kerjaan aja terus hidup mati di sana. Ada aktivitas lainnya yang bisa jadi itu justru jadi pemberat amal kita.

***

Dulu waktu kelas 9, tarawih di masjid sekolah. Ramadhannya beririsan sama masa-masa UTS atau UAS entahlah, namun intinya sama: pekan ujian.

Ada sekumpulan adik-adik kelas, kelas 7 yang  hanya ikut takbiratul ihram, lalu saat jamaah sudah shalat--mungkin saat sudah mulai Al Fatihah, mereka membatalkan shalatnya, duduk, membaca buku. Aku ingat sekai cover hijau putih berjudul, IPS Terpadu. Aih, mungkin tidak tepat disebut bata kalau dari awa memang hanya berpura-pura, agar terlihat guru yang ikut shalat di masjid.

Adik-adik ini belajar. Untuk ujian. Meninggalkan tarawih dan mereka masih di shafnya. Nanti saat tarawihnya mendekati salam, mereka akan duduk umpama orang tahiyat, lalu ikutan salam. Sehingga guru asrama yang ada satu shaf depan mereka tidak akan menangkap kegiatan curi-curi waktu yang mereka gunakan selama shalat tarawih untuk belajar ujian. Sedih sekali melihatnya

Aku tidak ingat apakah momen ini atau ada momen lain, atau siapa yang memberi nasehat, yang memberikan aku insight bahwa semua punya waktunya masing-masing. Semua punya porsinya.

Ada waktu ibadah, ada waktu mendengar ceramah, ada waktu tilawah, ada waktu belajar di kelas, ada waktu diskusi, ada waktu belajar dalam forum, ada waktu mandiri, ada waktu makan, semua punya porsi waktunya.

Dan aku lupa momen apa yang membuatku berusaha menerapkannya.

Sehingga saat aliyah, saat ada kajian bada subuh di masjid sementara hari itu ulangan. Aku berusaha tidak membaca catatan kecil atau buku catatan-yang semula bisa dibawa ketika menunggu atau nanti dibaca di perjalanan. Ini waktunya kajian bada subuh. Dengarkan. Dengarkan dengan baik, tidak disambi.

Atau juga saat muhadharah bada zuhur. Dengarkan, tidak disambi belajar. Tidak ditinggal tilawah mengejar targetan. Usahakan. Atau ketika ceramah tarawih, kadang aku melihat ada saja orang yang memiih tidak mendengarkan dan mengejar targetan tilawahnya. Tapi aku berusaha menanamkan pada diri bahwa, ini sekarang haknya penceramah untuk didengar, haknya aku untuk mendapatkan pelajaran Jadwalnya saat ini ceramah tarawih, bukan waktunya tilawah. Sehingga, nggak jadi baper juga kalau tilawahnya udah kekejar sama yang lain. Toh ada yang kita penuhi haknya pada saat yang sama.

Karena setiap waktu punya porsinya, dan setiap agenda ada waktunya.

Kadang rasanya memang gemas, kayak, aku pengen banget belajar ini, tadi belum selesai belajarnya. Baca pas kajian aja apa ya? Menyingkir ke ruang permadani (perpustakaan masjid insan cendekia) aja apa ya habis shalat? Biar nggak keliatan-keliatan amat kalau ada yang di mimbar kalo lagi sibuk sendiri.

Tapi pengalaman tadi waktu mts atau entah pengalaman yang mana membuatku sampai hari ini percaya bahwa ada hak-hak dan kewajiban yang perlu ditunaikan. Hak untuk menuntut ilmu, kewajiban mendengarkan dan menghargai orang lain yang berbicara dan mengisi, hak tubuh untuk dicharge imannya, untuk belajar.

Apa tidak khawatir nanti ulangan nggak bisa? Atau sebel sendiri karena waktunya bisa dipakai (egois) untuk mengisi diri sendiri pelajaran yang mau diujianin?
Tentu saja khawatir.
Makanya berharapnya hanya pada keberkahan waktu. Minta sama Allah dikasih keberkahan waktu. Agar pada waktu yang sempit, yang sedikit, yang terbatas, Allah kasih keberkahan. Allah beri kemudahan. Karena diri ini mau berusaha memenuhi hak-haknya. Keberkahan waktu, udah itu aja satu-satunya alternatif biar masih bisa mengusahakan apa yang perlu diusahakan, dan memenuhi hak terhadap waktu yang sudah dijadwalkan, oleh sistem, oleh hal-hal yang diikuti, dan lain sebagainya.

Jadilah waktu itu, di tengah segala kekhawatiran dan ketakutan akan melewati deadline, akan banyak hal yang kelewat, akan banyak hal yang nggak memenuhi ekspektasi, akan batas watu yang semakin dekat sementara pekerjaan meminta banyak, juga amanah yang belum tuntas di suatu kepanitiaan, cuma bisa mengarahkanku pada: meminta keberkahan waktu sama Allah, meminta keberkahan waktu dari Allah.

Biar Allah yang kasih jalannya, dan diri ini masih bisa memenuhi amanah-amanah di berbagai tempat. Sekitaran ke Klaten itu, aku pusing banget rasanya. Load testing, load konten, deadline ikutan seleksi pelatihan menulis, load pegang amanah jadi ketua acara dan CP konfirmasi peserta yang meski ga gede-gede banget aku tahu aku nggak maksimal di situ, bahkan udah ga mampu merekap peserta sepulang dari bandara di Damri. Sudah terlalu lelah.

Tapi yang bisa diusahakan, hari H acara tetap standby sama acaranya, nggak nyambi ngerjain yang belum selesai. Habis itu ngejar targetan dan naskah buat seleksi, ke kantor, ngusahain biar kondusif. Berusaha nggak pake nyalah-nyalahin kenapa awalnya nggak perlu ke klaten jadi harus ikut, atau ngga pake nyalah-nyalahin kenapa aku mau jadi ketua dan ga izin aja, dsb dsb.

Yang aku akui masih belum mampu, belum bisa kayak yang Kak Ridho suka bilang, "Ane kerasa banget, kalau kualitas ibadahnya nurun, produktivitas kerjanya juga nurun." Ini senada sama postingan lalu-lalu yang aku nanya ke Ima gimana biar tilawahnya bsia teratur. PR banget ini masihan buatku.


Hem, mungkin ada yang melihat aku terlihat strict ya. Atau kok kayaknya kaku banget.
Tapapa. Hanya berusaha menempatkan hal-hal pada tempatnya.
Meski ku tahu kujuga masih proses belajar ke sana. Ke kondisi ideal itu. Banget.

Fitri,
yang masih belajar
sudah lama tulisan ini ingin ditulis

Minggu, 05 Mei 2019

Mempersiapkan (Kematian)

"Masih untung nikah itu (meski banyak repotnya) bisa dipersiapin, kalau meninggal itu Mbak, ngga bisa disiapin."

-Abi out of nowhere ngomong gitu kemarin. Di hari aku mendengar dua kabar meninggal. Anaknya guruku, yang dulu kukenal saat masih SD, dan kena kanker waktu SMA. Dan Ibunya temanku, yang mendadak info meninggalnya. Maksudnya ngga bsia disiapin tentu saj abukan soal memperbanyak bekal. Tapi karena nggak tau kapan jadi ngga bisa bener-bener ddisiapin menuju hari H kayak orang mau nikah gitu.

Jumat, 19 April 2019

Yang Didengar di Perjalanan

Ini awal mula pingin ceritanya sudah lama, tahun lalu.

Waktu itu di ruangan bahas tentang lagu. Tau sendiri kan di Indonesia lagu yang populer ya lagu tentang perasaan dan terutama antara lawan jenis gitu. Lalu satu-satunya orang yang sudah menikah di antara kami bilang. Katanya dulu waktu belum menikah beliau semacam 'apa sih' sama lagu-lagu macam ini. Kayak nonsense gitu aku nangkepnya.

Tapi abis nikah, beliau jadi suka nyari lagu yang pas, dibikin playlist dulu. Lalu diputar buat temen perjalanan kalau pergi bareng istrinya di mobil. Jadi emang udah mencari lagu yang bisa jadi ungkapan hati ke istri gitu dan menyampaiakn perasaan sayangnya ke istri, semacam itu hehe.

Terus kita yang jomblo-jomblo ini heboh gitu. Lebay deng. Intinya jadi komen, wah so sweet ya Kakak. Kepikiran ya ke sana. dsb. dsb. Aku pun begitu mendengar ceritanya, manis sekali ya.

Lain waktu aku pergi naik mobil omku dari Yogya ke Magelang. Mobilnya memutar radio. Sekali waktu ada lagu juga. Beberapa kali naik mobil beliau, ritme dan polanya memang memutar radio, yang memutar lagu di siaran radionya. Kalau ada lagu yang tahu, om (atau tanteku juga, ya) akan mengikuti nadanya lirih. Hehe malu kali ya ada ponakannya.

Lain waktu, berangkat outing. Kami berangkat pagi-pagi sekali, bahkan subuh di jalan dan sudah masuk Jakarta. Kelompokku naik mobil seorang Kakak yang memutar kajian Ustadz Abdus Somad sepanjang perjalanan.

Lain waktu lagi, lebaran tahun lalu kalau tidak salah. Aku naik mobil di Magelang. Begitu mobil dinyalakan, langsung terdengar murottal (nampaknya langsung nyala karena radionya juga ikut mati waktu mesin mobil dimatikan sebelumnya). Aku langsung mengingat kenangan cerita pertama yang kakaknya bikin playlist lagu buat istrinya itu. Aku nggak bicara benar salah ya, semacam preferensi aja apa yang didengar di perjalanan. Dan mungkin juga semua yang aku ceritakan di sini saling menyeling tentang apa yang diputar di perjalanan. Sekali waktu puter radio update kabar jalan, kali lain putar lagu, kali lainnya putar murottal, kali lain putar kajian, mungkin saja kan?

Tapi aku belajar satu hal sih.
Bahwa apa yang diputar di perjalanan, bisa jadi mencerminkan apa yang menjadi penting atau apa yang mau dituju, atau apa yang menjadi value dari suatu keluarga.
Sekali lagi, aku ga bisara soal benar salah yaaa. Kan ini preferensi aja.
Memutar lagu yang sampe seniat itu dibikin playlist tentu menjadi salah satu ungkapan sayang, apalagi ini udah buat yang halal yaaa. Jadi niatannya membahagiakan pasangan :") Dan tentu saja itu berpahala, kan?
Pun ketika aku masuk mobil yang udah memutar murottal. Itu kayak, definisi sayang mereka udah sama-sama dengerin murottal dan menguatkan hafalan bareng. Dan itu cukup buat menghibur sepanjang jalan. Haru aja aku dengernya pas itu. Kayak seolah-olah ngeh, ini tabungan cara ke surga kita.

Semoga apa-apa yang kita dengar menjadi jalan agar bisa dekat ke Allah, dekat dengan ridhaNya, dekat dengan surgaNya. Aamiin.

Kamis, 11 April 2019

Pulang


Kemarin aku nggak tahu kenapa pengen banget ubah whatsapp status jadi Pulang. Kayaknya ngubahnya juga udah di kantor sih. Lalu hari ini melhat postingan itu di dashboard blog. Aku jadi sedih. Tapi banyak benarnya.

Hari ini karena ngejar deadline caption habis zuhur, dan waktu aku selesai Ima lagi nanggung, kami ngaji jam dua di mushala. Aku bilang ke Ima, "Ma, gimana Ma ngajiku nggak teratur banget nih...." Rencana tilawah persiapan ramadhanku buyar. Sudah tertinggal jauh. Hariannya juga cuma dikit-dikit, bahkan pernah skip. Aku sedih banget rasanya.
Lalu Ima bilang, "Dahulukan urusan Allah. Nanti Allah yang urus urusan kita."
Me like: tertampar bolak-balik.
Ima bilang lagi soal tilawah sehabis subuh dan sehabis kerjaan. Aku sempat cerita aku lemah banget habis subuh tu. Tapi bener sih yang dia bilang habis dhuha. Itu bisa dicoba. Aku jadi sedih aja kayak nggak prioritasin Allah, padahal diri ini kan selalu butuh sama Allah. 
Mungkin karena itu juga kali ya, Allah kasih aku pilek, meler, tenggorokan ga enak, pusing, di tengah kerjaan yang tetiba jadi banyak ini. Lalu jadi kayak ingin  menarik diri dari segala yang ramai-ramai, meski kadang aku kangen obrolan-obrolan di ruangan. Maafin hambaMu ini ya Allah :"(
Bersyukur Fit, sudah disadarkan.
Tapi cara bersyukur terbaik adalah berbuat. Jangan lupa.

Kamis, 04 April 2019

Repost: Jaga Allah

Jaga Allah, Allah akan jaga kamu.

-itu inti dari segala nasihat.
Ust. Hanan Attaki dari video Ubah Ketakutan jadi Kejutan part 1, belum selesai juga sih aku mendengarkannya, ya bbaru sampai kalimat-kalimat itu aja.

Jaga hak Allah, Allah akan jaga hak kita. Jaga perasaan Allah, Allah akan jaga perasaan kita. Jaga panggilan Allah, Allah akan jaga panggilan kita.
Kalau ke Allah, nggak ada ceritanya kita akan kecewa. Beda urusan sama ke manusia. Kita ngecewain Allah. Tetap aja Allah datang ke kita.

Kamis, 28 Maret 2019

Nggak Mungkin

"Nggak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Nggak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan kalau kalian mencintai seseorang, atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu nggak mungkin.

Bukan hanya nggak mungkin. Bahkan Allah mengancam, dengan sebuah ancaman. Fatarabbasu. Hati-hati kalian, kata Allah. Artinya nggak boleh, seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk. Itu nggak boleh.

Kalau dia mencintai makhluk. Harus karena Allah. Kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah, Allah bilang fatarabbasu, hati-hati.

Kenapa kita nggak berani bertaruh untuk Allah. Ini masa depan nih saya pertaruhkan nih. Kalau saya nggak pacaran apakah saya tetap akan bisa menikah? 

Taruh aja pertaruhannya pada Allah. Allah bilang, siapa yang istiqomah, Kami tolong dia.
Duh, kalau saya putusin, ntar dia sama yang lain, gimana ya?

Nggak usah khawatir, udah aja pertaruhkan masa depan kita sama Allah. Nanti kita akan bilang, untung dulu saya putusin."

-Ust. Hanan Attaki
Tau saya dapat kata-kata ini dari mana?
push notif Yawme ke oase, artikelnya sebenarnya tentang empat perkara yang akan ditanya
lalu di bawah ada sumber ig yang bikin desainnya, saya buka, eh lalu lihat postingannya salahs satunya ada ini.

Sebenernya jarang-jarang klik push notif aplikasi. Tapi ya kayak it's all by designed gitu. Semoga jadi pengingat diri :)


Rabu, 27 Maret 2019

Semakin Kuat Iman Seseorang

Makin kuat iman seseorang, makin tough
Makin kuat iman seseorang, makin easy going sama masalahnya
Makin kuat iman seseorang, makin tenang ia
Gitu kondisi iman

Bosan itu indikasi iman kita bermasalah

-ust Hannan Attaki, sembari aku mencuci motor tadi pagi--yang udah jadi kemarin pagi ya ternyata. lama euy ndak dengar kajian ust Hannan Attaki via youtube.

Minggu, 24 Maret 2019

It's All By Designed 1: Tidak Menyangka Allah Sebagai Penolong

Jadi aku lagi merasa Ima sering ngomong it's all by designed. Tidak ada yang salah, justru bagus karena meang mengingatkan diri ini bahwa segala hal sudah ditakdirkan oleh Allah. Sudah begitu jalan ceritanya. Tapi tentu manusia punya pilihan atas apa-apa yang terjadi dihidupnya pada ranah yang memang bsia ia pilih.

Kalimat ini kembali muncul waktu Ima nunjukin aku surat al hajj ayat 15 di mushala.

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, ) lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.

Waktu itu aku merasa kok kayak pernah ngeh sama ayat ini ya....

Nah lalu waktu aku buka laptop di rumah, masi ada tab chrome yang ternyata aku buka tab LQTafsir isinya surat Al Hajj ayat 15 ini. Aku buka mungkin sudah sejak beberapa pekan lalu, tapi masih ada di tab chromeku. Aku PM Ima, bilang aku terkejut dsb dsb intinya dengan kesadaran kesamaan dua ayat tersebut, masih di hari yang sama.

Ima bilang it's all bu designed Fit.

Selasa, 19 Maret 2019

Belajar Sabar dari Ummu Sulaim

Aku nggak akan bererita panjang lebar soal Ummu Sulaim. Tapi tadi entah kenapa rasanya menarik aja waktu Kak Ridho cerita soal nama sprint yang baru saja dilalui, namanya Ummu Sulaim. Sprint 40 TemanBisnis.

Ummu Sulaim adalah ibu dari Anas Bin Malik. Tentang Anas ini sendiri pun Ima sudah pernah ceritakan sebagai nama sprint-sprint sebelumnya. Anas dipelihara bahkan sempat menempel pada Nabi. Kalau tidak salah tangkap pada akhirnya Ummu Sulaim (nama aslinya Rumaisha) berpisah dengan suaminya karena suainya tidak beriman. Ia pun membesarkan anaknya sendirian.

Waktu berselang, beberapa orang datang melamar Ummu Sulaim tapi ia tidak mau. Sampai suatu ketika Abu Thalhah dengan percaya diri datang melamar, karena ia orang terpandang yang kaya dan punya kedudukan. Tapi Ummu Sulaim juga tidak mau. Abu Thalhah kala itu belum beriman. Hingga akhirnya Abu Thalhah masuk Islam dan kemudian mereka pun menikah, dengan maharnya keislaman Abu Thalhah. Ummu Sulaim waku itu bilang, "Sungguh tidak ada alasanku menolakmu selain keislamanmu."

Ummu Sulaim dan Abu Thalhah benar-benar membela dan menjaga Islam. Aku mungkin kurang nangkap bagian ini, tapi kalau tidak salah tangkap, keduanya ikut berperang dan termasuk ada di garda terdepan.

Suatu ketika Abu Thalhah ikut berperang dan Ummu Sulaim menjaga anaknya yang sakit. Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim benar-benar memberikan pelayanan yang baik sebagai istri. Menyiapkan hidangan yang enak, dan lain sebagainya. Sehingga hilang lelah Abu Thalhah dan ia sangat senang hari itu. Ummu Sulaim tidak membahas kondisi anaknya yang pada saat itu sebenarnya sudah meninggal. Baru paginya ia tanya pada suaminya, "Apa pendapatmu jika ada orang yang meminjamkan uang, lalu ketika diminta ia tidak mau mengembalikannya?" Suaminya bilang, "Itu tidak benar." Lalu Ummu Sulaim berkata, "Sesungguhnya putra kita adalah pinjaman dari Allah dan Pemiliknya telah memintanya kembali." Kagetlah Abu Thalhah, namun ia sudah kehilangan kata-kata. Kecerdasan Ummu Sulaim barangkali telah membuatnya sadar akan siapa yang berhak atas putra mereka.

Ada poin yang dihighlight oleh Kak Ridho
Bahwa Ummu Sulaim sabar membesarkan anaknya sendirian, dan anaknya tetap menjadi anak yang taat, bahkan menjadi salah seorang yang dekat dengan nabi.
Bahwa Ummu Sulaim sabar ketika ada yang datang, dan melihat imanlah satu-satunya yang dapat menjamin dirinya
Bahwa Ummu Sulaim sabar ketika anaknya meninggal, tidak panik dan berlebihan dalam bersedih, di mana seringnya perempuan lebih histeris atau panik. Ini malah Abu Thalhah yang lebih kaget sebenarnya, tapi bisa teredam dengan ketenangan istrinya.

Terus tadi sebelum zuhur aku ihat ada buku berjudul Melangkah Searah: Asam Manis Rumah Tangga Muda. Aku jadi berpikir aja. Belum baca padahal.

Kesbaran itu luar biasa ya.
Rasanya kalau lagi melaluinya tuh panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang banget, ndak tahu ujungnya di mana. Ndak tahu tuntasnya kapan.

Tapi lalu aku mikir. Mungkin itu caranya Allah menyiapkan diri kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Contoh ya, gegara aku lihat buku tadi..
Orang yang berproses menuju menikah katanya sih ada aja ujiannya. Dan tentu ujian sabar sudah pasti menjadi bagian dari proses itu. Mungkin bagian besar malah. Sabar kan banyak, ya. Dari yang awal sampai yang misal udah jelas iya aja mungkin masih ada ujian-ujian kayak keluarga besar atau urusan macem-macem. Pantes Abidah dulu pernah bilang, orang yang jdi menikah itu udah hebat banget  lo Fit, karena udah banyak yang mereka lewatin pastinya. Nah, balik lagi ke tadi, ujian sabar itu mungkin akan mendewasakan dia, mempersiapkan sebelum mereka menjalani kehidupan sesungguhnya di pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Makanya, jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran Minta pertolongan agar dikuatin Allah biar nanti di medan selanjutnya juga lebih kuat.

Juga sama dengan ibu hamil. Mungkin perjuangan Ibu hamil beda-beda. Tapi umumya hamil kan berat banget ya. Perubahan hormon, mood, keinginan, sakit badan, pantang makan a b c d, disarankan makan e f g h, belum lagi apa kata orang. Nah mungkin itu untuk mempersiapkan sang Ibu agar kelak siap ketika anak udah lahir. Karena akan lebih banyak lagi ujian sabar ketika anak lahir. Sabar dalam merawat, menyusui, mendidik. Sabar dalam menghadapi hal-hal yang menjadi keaktifan si anak (untuk tidak bilang bandel). Sabar menjawab segala pertanyaan anak. Sabar dalam (lagi-lagi) mendengar apa kata orang. Belum nanti kalau di sekolahnya kalau di lingkungannya, atau perubahan zaman, dan lain halnya. Hebat banget ya sebenarnya kalau bisa lulus ujian sebelumnya, ke depannya akan lebih tough gitu ibunya. Dan kalau Ibunya sabar, anaknya juga mungkin akan lebih behave. Dan nggak mencontoh ketidaksabaran ibunya di kemudian hari. Masya Allah.

Jadi dear diri, yang lagi belajar sabar. Nikmatin aja ya. Kita nikmatin bareng-bareng, ya. Banyak banget sekarang yang mesti disinergiskan sabarnya. Kalian mungkin juga, ya. Yang di atas contoh aja sih dan kebetulan contohnya kek gitu karena lihat buku tadi. Kalau kata Kak Shanin, kita perlu fight, bukan flight. Berjuang, bukan kabur menghindar.

Dulu kamu pernah lho Fit nulis ayat tentang sabar di sini.

kali kedua nulis intinya dulu baru akhirnya diedit setelah postingan ali imran jumat kemarin

Minggu, 17 Maret 2019

Dear Nak: Bicara Cinta

Jumat, 15 Maret 2019
Assalamualaikum Nak,
Banyak sekali yang ingin ibu ceritakan akhir-akhir ini. Sampai-sampai rasanya tidak mampu mengetikkan semua hal. Ingin langsung diceritakan saja. Tentang pameran buku di London Book Fair, misalnya. Tapi bingung bagaimana dan ke siapa membaginya jika bercerita langsung.

Barusan saja, Ibu ingin bercerita tentang jatuh cinta. Lalu tiba-tiba Ibu membayangkan, kalau kamu kelak jatuh cinta, apakah kelak kamu cerita pada Ibu. Ibu harap begitu. Ibu harap kita bisa saling terbuka untuk saling percaya dan bercerita.

Tapi Ibu mendadak urung bercerita tentang jatuh cinta. Rasa-rasanya Ibu malu. Karena kalau dibandingkan dengan persoalan saudara kita di New Zealand, masalah Ibu tidak ada apa-apanya. Jauh sekali.

Nak, siang tadi saudara kita di New Zealand ditembaki. Di Masjid. Saat jumatan. Sedih sekali mendengar kabarnya. Kamu tahu Nak, di negara tempat Ibu tinggal saat ini, ibadah mudah sekali dilakukan. Meskipun ibadah individu belum yang bersifat komunal dan menyeluruh pada setiap aspek kehidupan. Di New Zealand, negara dengan tingkat keamanan yang baik, penembakan itu terjadi. Entah apa yang menjadi pikiran penembaknya. Entah apa yang jadi pikiran orang-orang yang membenci Islam.

Nak, kadang-kadang cinta terlihat rumit. Tapi kalau Ibu sedang merasa demikian-seperti tadi saat di jalan pulang, Ibu ingat Tere Liye--salah satu penulis favorit Ibu yang mengajarkan Ibu banyak hal tentang cinta lewat buku-bukunya--cinta sejati selalu sederhana. Cinta kita pada Islam mungkin juga demikian. Terlihat rumit dan banyak mengandung kewajiban. Tapi itu cara sederhana untuk memperoleh cinta Allah yang kekal di surgaNya. Sekedar itu, patuh pada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Pada penerapannya, sulit. Sama seperti jatuh cinta bukan Nak? Tahu-tahu semua rasanya rumit. Padahal kalau dilihat dari jauh dan kita tidak menjadi tokohnya, seharusnya rasanya bisa mudah saja dilalui bukan? Apalagi kalau jauhnya adalah kita di masa lalu dan masa depan. Mungkin kita akan merasa malu mengingat kita di masa lalu. Tapi, begitulah kehidupan. Yang berjalan, yang menumbuhkan. Mungkin kalau dalam pekerjaan, sama seperti hasil design challange yang sudah disepakati tapi saat dikerjakan developer, yang mana rasa-rasanya udah tinggal implementasi seperti itu aja, plek, persis. Nyatanya tidak mudah bagi developer membuatnya sama persis. Feedback minor seperti margin atau garis masih saja ada.

Begitu juga mencintai Islam Nak. Agama yang lengkap ini sudah dihadirkan lengkap dengan segala hal yang akan mencukupi hidup manusia Tapi bagi sebagian orang, rumit sekali memahaminya bahwa hanya dengan Islamlah kehidupan akan sejahtera. Bahwa hanya dengan Islamlah Allah menjamin keberkahan bagi seluruh alam. Bahwa manusia tidak perlu membuat-buat hukum dan aturan yang baru. Padahal, bisa jadi sesederhana memelajari dahulu, mencari tahu, meresapi, menghadirkan hati, melihat fakta bagaimana dahulu nabi dan sahabat. Kalau kelak yakin dan paham, tentu menyetujui bahwa dengan Islamlah solusi banyak hal yang menjadi permasalahan saat ini.

Atau barangkali yang lebih susah adalah menundukkan ego. Bahwa bukan manusia atau bahkan bukan kita yang secerdas itu sampai-sampai bisa membuat aturan yang lebih pantas digunakan ketimbang Allah. Cinta pada Islam-atau pada Allah lebih spesifiknya-pada akihrnya terkalahkan oleh cinta pada diri sendiri. Sehingga menyederhanakan konsep percaya pada apa yang telah Allah jamin menjadi tidak lebih sederhana daripada membuat sendiri hukumnya lalu menerapkannya. Kan mudah saja, lakukan usulan, kaji kaji kaji, terapkan. Mungkin begitu ya mikirnya..

Kalau manusia jatuh cinta, mungkin juga begitu. Ada hal yang ia inginkan untuk dilakukan. Ada penasaran yang ingin ditunaikan. Ada pertanyaan-pertanyaan yang entah jawabannya akan ada kapan. Ada kesabaran panjang yang dipasrahkan. Tapi manusia yang cerdas, yang bertanggung jawab atas pilihannya, yang sadar bahwa pilihannya saat ini akan Allah perhitungkan di yaumil hisab, akan menjadikan Islam sebagai standar yang menjadikan tindakan selanjutnya. Sehingga ia akan memilih tindakan yang akan menyelamatkan. Kalau manusia terlalu besar cintanya pada kekuasaan, pada dirinya sendiri, lalu sadar dan menjadikan standar cintanya pada Islam, ia akan sadar aturan siapa yang pantas ditegakkan. Tapi kalau poin penting standarnya lupa-atau sengaja ditinggalkan-ia akan masa bodoh terabas saja. Standar cintanya jadi kebermanfaatan, buat dirinya, buat kelompoknya. Sama kan, orang jatuh cinta juga begitu. Standar kebermanfaatannya jadi apakah menyenangkan hatinya-padahal sesungguhnya tidak menenangkan.

Nak, jatuh cinta selalu rumit. Yang sejati akan sederhana. Tapi tidak ada yang bilang ia hadir tanpa ujian.
Mencintai Islam, sesederhana menaati dan menjalankan, terlihatnya. Tapi ujiannya banyak. Saudara kita di New Zealand bukti terbarunya. Bagaimana menyikapi musibah bagi mereka, bagaimana dunia melihat Islam, bagaimana setidaknya penguasa negeri muslim menunjukkan kecaman. Itu menjadi ujian. Penangkapan OTT KPK yang baru-baru ini terjadi, membuktikan bahwa megamalkan apa yang dikatakan menjadi begitu sulit, apalagi kalau orang di sekeliling juga bukan orang-orang yang hidup tumbuh, dan memperjuangkan sistem yang baik. Orang-orang yang memilih untuk menyalurkan perasaan cintanya pada tindakan yang salah juga biasanya lingkungannya berbuat serupa. Semoga itu bukan lingkunganmu kelak tumbuh besar, ya Nak.

Yang sejati akan sederhana Nak. Kalau pikiranmu rumit, belajarlah menaklukkan pikiran itu sendiri. Kelak kita akan takjub bahwa kita bisa memenangi diri sendiri. Semoga.
Ibu juga sedang belajar.


Awalnya ditulis Jumat, saat semua hal rasanya banyak menyesakkan
Dari Jumat ke Jumat, dan perjalanan pulang yang meneteskan air mata
Aku pun heran menjadi mudah menangis akhir-akhir ini.
*tadinya postingan ini mau kubuat panjang cerita sepekan terakhir.
ternyata aku pernah buat dearnak juga di sini 

Jumat, 15 Maret 2019

Ali Imran 147

ูˆَู…َุง ูƒَุงู†َ ู‚َูˆْู„َู‡ُู…ْ ุงِู„َّุงٓ ุงَู†ْ ู‚َุงู„ُูˆْุง ุฑَุจَّู†َุง ุงุบْูِุฑْ ู„َู†َุง ุฐُู†ُูˆْุจَู†َุง ูˆَุงِุณْุฑَุงูَู†َุง ูِูŠْٓ ุงَู…ْุฑِู†َุง ูˆَุซَุจِّุชْ ุงَู‚ْุฏَุงู…َู†َุง ูˆَุงู†ْุตُุฑْู†َุง ุนَู„َู‰ ุงู„ْู‚َูˆْู…ِ ุงู„ْูƒٰูِุฑِูŠْู†َ

Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami(149) dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”-QS Ali Imran 147

(149)Melampaui batas-batas hukum yang telah ditetapkan Allah swt.

itu yang (149) kayak keterangan tambahan di footnote Alquran syamil.
-
Jumat ini cukup lelah bahkan sejak berangkat. Samai Badr aku bwa bekal sarapan tapi bahkan untuk makannya pun capek. Lalu aku mengantuk sekali. Alhasil, saat orang-orang sudah berangkat Jumatan, aku ingin sekali tidur sejenak. Tapi tak lama, ada teman yang masuk, maka kami bersiap shalat. dengan posisi aku takut kalau waktu shalat aku masih ngantuk. atau nanti waktu udahan shalat pas doa ketiduran.

Sebelum shalat dan sembari menunggu yang masih shalat sunnah, aku mengaiji lalu membaca ayat itu. Karena kelihatan doa, aku jadi lari ke artinya, baca artinya. Terus kayak tercenung. Ingat hal-hal yang kayaknya mah udah bukan boleh jadi lagi, tapi sudah pasti, berlebihan....

Habis shalat, aku tiba-tiba diem, aku awalnya ngira aku masih ngantuk. Tapi nggak kusangka. Mataku terus berkaca-kaca. Aku jadi ingat segala hal yang terasa rumit di kepala. Ingat gimana beratnya melewati segala hal ini dengan tetap normal dan biasa. Sulit....

Setelah sunnah dan menunggu al kahfi, aku membaca arti sehalaman itu. Lalu ternyata arti ayat-ayat sekelilingnya....
145
Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.

146
Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.

148
Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.
-
itu rasanya kayak,
fit, kamu dikasih Allah ujian. tapi akan ada balasannya. akan ada janji baiknya kalau kamu bisa melewati ini dengan baik. syukurin aja ujian ini. masih banyak orang dengan ujian yang lebih berat. jalani dengan baik.
kalau Allah kasih kamu ujian, bukan berarti kamu jadi pasrah, nyerah, terus jadi gak produktif, jadi susah fokus, jadi gak kelar-kelar kerjaan (Ini aku akhirnya switching konteks dari ngerjain kerjaan malam ini karena rasanya gelisah banget heu, lalu aku pengen menuliskan biar terurai rasanya, biar mikirnya satu-satu, semoga benar begitu, ya. rasanya kepalanya penuh pisan :(( ) Kalau kamu sabar, Allah sayang.
Dan pasti ada balasan kebaikan, atas segala jenis usaha kebaikan yang diusahakan. Kamu selalu percaya itu, kan Fit?
-
Malamnya ternyata aku masih  unstable dan belum bsia mengerjakan hal-hal yang direncanakan. Aku nguyel-uyel ummi lagi. Aku kalo ngerasa gini tuh ngerasa childish banget, kekanakan banget. Beberapa hari sebelumnya aku akhirnya cerita ke ummi. Lalu hari ini aku cerita lagi. Honestly, lelah rasanya. Tapi semoga bisa kuubah jadi pahala. Doain ya. Mungkin kalian juga, sedang berjuang keras untuk apapun itu. Semoga Allah juga kuatkan kalian, ya :)
--
dear langit, 
aku mau bilang aku capek. banget
maaf ya aku mengeluh
tapi aku pengen minta satu hal
temenin aku ya Allah, dan aku titip ujian ini. bantu aku melewatinya
Allah suka hambaNya yang meminta, kan?

diselesaikan Selasa, 19 Maret 2019

Minggu, 24 Februari 2019

Maryam: Amalan Ketika Hamil

Pekan lalu waktu ketemu Maryam, aku nanya amalan apa yang Maryam bangun sejak hamil.
Lalu dia jawab, aku ngebiasain tilawah satu juz sekali duduk setiap habis subuh. Kalau tidak salah dia menyebut angka setengah jam. Lalu katanya lagi, habis dia tilawah, biasanya lapar, lalu langsung masak untuk sarapan.
.
Luar biasa, ya. Me feel like apalah aku kalau tilawah habis subuh malah sering ketiduran, atau apalah aku yang masih mesti digenjot lagi tilawahnya. Terus tadi di jalan aku wondering, membuat suasana dan perasaan kayak ramadhan tiap hari itu susah ya....terus ingat sebentar lagi ramadhan, tapi kayak masih gini-gini aja. merasa faking gitu kalau ramadhan bisa segenjot itu tapi hari biasa gini leyeh-leyeh.... terus ngerasa lagi, heu, buat bisa kayak maryam gitu juga kan jangan nunggu hamil dulu ya....ingat kata seseorang, kalau mengubah kebiasaan itu susah....

Bismillaah....