Selasa, 17 Juli 2018

Suatu Hari Dalam Hidup Ibu

Kak, suatu hari dalam hidup Ibu, Ibu datang pagi-pagi dan pergi ke taman belakang. Lalu Ibu menatap apa saja yang bisa diperhatikan di sana.

Sejatinya bersama dengan waktu, semua akan berlalu. Maka biarlah waktu menjadi penyembuh terbaiknya. Juga barangkali kesibukan, mengambil jeda yang cukup panjang, tenggelam dalam kebaikan dan upaya perbaikan, memilih sikap dan konsisten di dalamnya, serta melangitkan doa yang tak pernah putus berpilin hingga arasyNya; mengetuk malu pintu langit berharap petunjukNya.

Sebagai manusia, Ibu kadang kesal juga. Kenapa untuk urusan-urusan kecil Ibu sampai risau. Tapi barangkali Allah mau mengajarkan hal baru di sini. Atau memang Ibu belum pantas lulus ujian.  Kata teman Ibu, dipeluk saja; diterima. Semoga nanti Ibu bisa dapat penjelasan baiknya. Ibu tidak mau jatuh dua kali pada lubang yang sama.

Kak, Ibu lelah. Tapi sekali lagi, barangkali waktu akan menyembuhkannya. Kita lihat saja.
***

Hanya fiksi, setelah seharian ini lelah sekali untuk hal-hal yang kembali memenuhi isi kepala :') 
Esok lusa, hari ini akan jadi kenangan. Mungkin bisa lupa, mungkin juga terkenang.
Tadi Pak Insan investor Tebi hadir di review meeting. Banyak pesan mulanya, yang ketika mendengar, Ibu ingin menangis. Karena bukan hanya merefleksikan apa-apa yang diperjuangkan tim setahun terakhir. Tapi juga banyak hal mencuat di pikiran. Meminta janji-janji masa lalu. Meminta janji-janji keteguhan hati. 

Kak, kelak besar, semoga jadi anak yang kuat ya, juga sabar.

Selasa, 17 Juli 2018

Jumat, 13 Juli 2018

Senyum Orang Tersayang

Sayang yang tulus, adalah yang bisa ikut merasakan kebahagiaan orang yang disayang. Ikut bahagia, merasa hati lapang dan lega atas hal-hal yang membahagiakannya. Bisa ikut tersenyum walau sekadar melihat senyumnya dari jauh. Ah, jangankan sekadar dari balik pintu atau bilik ruang, bahkan jika hanya dari balik lembaran foto sekalipun. Tidak iri barang sesenti, walaupun kondisi hati lagi runyam sekali dan menginginkan kondisi bahagia yang sama.

Mungkin itu pentingnya bisa tertawa lepas, ikut tersenyum, ikut melempar canda dan masuk ke obrolan-obrolan. Orang tahu kita ada dalam kondisi baik-baik saja. Hati senang dan lapang. Riang gembira, serta yang paling penting; penuh oleh rasa syukur. Dan pada akhirnya orang lain akan turut merasa lega. Atau boleh jadi, kebahagiaan kita bisa menjalar pada kebahagiaan orang lainnya.

Walau kadang dalam hal lain, saat orang yang merasa lega atas kebahagiaan orang yang disayang, pada saat yang sama ia bisa sekaligus merasa hanya bisa melihat orang itu dari jauh. Seakan-akan dilupakan oleh orang yang ia sayang, yang sedang bahagia itu. Aih, tapi asumsi hanya akan memperburuk keadaan bukan? Lebih baik membuka percakapan, jika sulit, maka senantiasa mendoakan.

Begitulah barangkali orang tua...tehadap anak-anaknya.  Jika saat awal membacanya kamu ingat orang lain(ehem), tetaplah jangan lupa bahwa, orang tua juga menjadi bagian dari lingkaran itu :) Jika kamu menyayangi seseorang lain namun masih gusar dengan kebahagiaannya, tanya lagi rasa sayangmu. Hmm tapi, apa benar tidak boleh gusar? Tentu saja boleh; jika sudah bertentangan dengan ajaran agama :') Itu kan makna sayang yang karena Allah?

*lalu saya mendadak ingat ending film You are the apple of my eye. Waktu melihat tokoh utama perempuan bahagia di akhirnya.

Luar biasa ya sayang itu, bisa punya implikasi seperti itu. Mahasuci Allah yang menitipkan rasa sayang lewat kuasaNya.

Sebagai pengingat.

Badr, Jumat-jumat ruang sepi karena banyak yang rapat campaign. Tadi kudatang siang.
13 Juli 2018, ditemani Di Belantara Kata-nya Ruangbaca yang kuputar-putar ulang dan ingin kubahas lain waktu :) 

Memang menyenangkan ya lihat orang-orang tersayang hepi itu :')

Kesetiaan pada Prinsip

halaman pembuka Rembulan Tenggelam di WajahMu
"....Kesetiaan anak ini ada pada prinsip,  bukan pada orang atau kelompok. Di masa-masa sulit, hanya prinsip seperti itulah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya...."Salonga pada Tauke Besar, Buku Pulang, halaman 187.

Bahwa kesetiaan terbaik adalah pada prinsip-prinsip hidup, bukan pada yang lain.

Kalimat-kalimat itu yang begitu membekas pada saya selepas membaca Pulang.
Kesetiaan pada prinsiplah yang terbaik, yang bahkan dikatakan akan menjaga pada masa-masa sulit.
Saya langsung ingat obrolan dengan Teh Nijma, mungkin awal tahun ini atau akhir tahun lalu. Saat itu Teh Nijma sedang hamil. Terus kita ngobrol-ngobrol tentang rumah tangga, parenting, dan lain sebagainya. Sampai ketika Teh Nijma bilang kurang lebih begini, "Orang kalau liat anak kecil itu gemas, lucu gitu kan. Di sisi lain, orang tuanya yang menghadapai anak itu dari bayi banget sampai besar. Tahu kapan dia mulai rewel, banyak keinginan, satu dua hal bikin kesel, menguji kesabaran, tahu sisi gemas lucu dan juga sisi bikin marahnya. Kalau bukan karena Allah yang memerintahkan orang tua untuk mendidik anaknya menjadi anak yang shalih shalihah. Bisa jadi nggak akan awet kasih sayang orang tua ke anaknya. Atau bisa jadi keselnya orang tua terlampiaskan ke anak pda waktu yang tidak tepat. Pasangan juga. Suami pengen istrinya A, B C, padahal ada kewajiban suaminya juga dalam mewujudkan keinginan itu. Dan kalau dari sisi suami atau istrinya masing-masing mau bantu mewujudkan ditambah menjalaninya lewat syukur dan sabar, sebagai bentuk menjalani tuntunan Allah dalam berumah tangga, itu yang akan menjaga mereka."

Kesetiaan pada prinsip. Dalam case muslim, adalah kesetiaan pada prinsip-prinsip agama, yang telah Allah breakdown pada Al Quran dan haditsnya. Yang telah disebut dalam hadits, "Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Alquran) dan Sunnah(hadits)ku."

Apa-apa, balikin lagi ke agama. Islam melihatnya bagaim
ana. Seringkali, hal-hal sulit dalam hidup memang hanya perlu diselesaikan dengan merefleksi kembali bagaimana agama mengaturnya.

Tidak perlu berpanjang-panjang. Sebagai penutup, silakan baca kembali potongan gambar di atas. Saya suka kutipan itu :")

tulisan ini sebagai pengingat untuk hari-hari ke depan

laptopnya mulai sulit dipakai
semoga ndak kenapa-napa ya
Jumat, 13 Juli 2018
tebi lagi ngejar landing page dan memulai inventori management, 
yawme lagi fase backend persiapan redesign dan home

Kamis, 12 Juli 2018

Sederhana

Ada tiga tokoh-baiklah, fiksi-yang akhir pekan lalu mencuat ke ingatan. Ketiganya aku kagumi karena kesederhanaannya. Aku sebenarnya mikir-mikir lama juga mau pos ini karena khawatir orang nyinir dengan tokoh fiksi yang aku angkat (yha soksokan ada yang baca laman ini). Sampai akhirnya aku berpikir bahwa tokohnya memang fiksi. Tapi kesederhanaan adalah hal nyata, yang bisa diduplikasi.
Dan tentu saja aku punya keinginan untuk juga menuliskan kesederhanaan dari sisi shahabiyah maupun istri nabi di lain kesempatan. Mereka adalah panutan yang tak pernah lekang oleh waktu, tentu saja.

Aku akan memulainya dengan hitungan mundur yang paling belakangan kudapatkan experiencenya.

Pertama, Charity di film The Greatest Showman. Awalnya tidak begitu tertarik dengan film ini karena kok kayaknya rame-rame gitu awal filmnya. Walaupun Kak Septi waktu abis nonton apdet ig story bilang lagunya bikin teringat-ingat terus dan teman di kantor bilang ini bagus banget. Diagendakan menonton bersama Bidah dan Kak Shanin dan akhirnya aku mengalami akselerasi karena Fafa pengen nonton lagi (lalu aku sekalian ikutan untuk melegakan dia).

Yang paling aku suka pada film ini adalah bagian tentang keluarga. Dan Charity sebagai istri memegang peranan penting di sini. Ia yang mendukung penuh mimpi-mimpi suaminya sedari awal (lagu One Million Dreams) dan tidak keberatan dengan betapa kecil atau besarnya mimpi itu, ia akan mau ada menjadi bagian di dalamnya. Juga kesediaanya untuk terus mendukung pilihan suaminya. Dan Charity tidak menuntut kebahagiaan apa-apa berupa materi. Tidak juga rumah besar atau apapun. Keluarga kecil dan kebahagiaan yang dirasakan di dalamnya sudah cukup baginya. Satu adegan yang paling kusuka adalah saat Barnum pulang kantor dengan kabar bahwa ia dipecat.
"Kurasa kau tak cocok dengan pekerjaan itu"
"Atau pekerjaan apapun rupanya."
"Itu yang membuat hidup kita begitu menyenangkan."
"Charity, ini bukan hidup yang kujanjikan."
"Tapi semua yang kuinginkan ada"
"Bagaimana dengan keajaiban?"
"Kau sebut apa dua gadis itu?"
Lalu mereka; Barnum, Charity, dan kedua anaknya saling bercengkrama di lantai paling atas gedung apartemen kecil yang mereka tinggali. Hangat sekali melihatnya.
"Apa harapan Ibu?"
"Ibu harap mendapat kebahagiaan seperti ini selamanya. Untuk kau, aku, dan Ayah kalian."

Kedua, Catrina dalam novel Pergi. Novel ini selesai sehari sebelum nonton The Greatest Showman. Aku juga kagum dengan Catrina yang mau hidup sederhana, jauh dari hari-harinya dan rutinitasnya sebelumnya di Meksiko. Dan ketika Samad suaminya terkena kecelakaan, ia tidak pernah merasa direpotkan untuk merawat Samad di sisa hidupnya. Menemani sefrustasi apapun suaminya dengan keadaannya pasca kecelakaan. Dan kelak, walau Samad memintanya untuk pergi, Catrina tetap mengenangnya dengan baik. Memeluk semua cerita dan kejadian dari masa lalu.

Ketiga, istri Ray di Rembulan Tenggelam di WajahMu. Ketika Ray bertanya Apa lagi setelah semua ini? Ketika ia sudah menjadi pekerja hebat pada ranah konstruksi. Berhasil membalas ketidakberdayaan di masa lalu, membalas kemiskinan, nasib buruk, dan posisi yang rendah kala ia masih menjadi anak panti sekaligus anak jalanan. Setelah pencapaian-pencapaia karirnya, Ray kemudian bertanya, apa lagi setelah ini? Sampai akhirnya ia diingatkan soal merasa cukup. Soal istrinya yang tidak pernah meminta apa-apa. Hanya bertanya, Apakah engkau ridha padaku? Sebuah tanya sederhana, yang bagi istri, jawaban iya dari suami adalah tiket surga untuknya. Terus berulang-ulang pertanyaan ini sering ditanyakan. Saat mengandung, saat melahirkan, saat sakit, juga dalam keadaan senang. Bagiku, ini berkesan sekali.

Kesederhanaan itu sesuatu yang berharga. Semoga kelak bukan hanya bisa mengamalkannya, tapi istiqamah dalam mengamalkannya. Kadang aku takut jika kelak aku lupa soal menjadi sederhana, lalu menginginkan banyak hal yang sebenarnya tidak perlu. Semoga Allah bisa menjaga kita semua dalam kebaikan rasa qanaah.

Ah, semalam di tempat yang memasang harga cukup mahal untuk makanan, aku membatin. Dear Nak, sebesar apapun kamu nanti. Tetaplah bersikap sederhana, hidup sederhana. Di manapun berada. Di tengah orang berkecukupan pun, walau kamu berkecukupan, tetaplah sederhana. Semoga kita tidak menjadi orang yang lupa diri, yang ingat dari mana kita berasal dan akan ke mana kita kelak.

Sekian.


Nothing To Lose

Waktu itu di 104 Z, mungkin sekitar delapan tahun yag lalu. Ada percakapan yang saya ingat sampai hari ini....

"Aku bingung deh, katanya berdoa kan mesti spesifik, tapi katanya juga, minta yang terbaik sama Allah. Keduanya kayak berkebalikan. Antara minta sesuatu yang detail dengan minta yang umum dengan kata yang terbaik."

Lalu  di antara orang-orang yang ada di ruangan, jawaban Himmah yang paling saya ingat.
"Kata Heidi," sepertinya Heidi adalah tokoh di buku yang ia baca, "Kita boleh minta apa aja sama Allah, tapi kita harus yakin bahwa Allah selalu ngasih yang terbaik."

Yakin. Berarti selanjutnya menerima.
Minta apa saja. Karena Allah tempat bergantung. Dan Allah suka pada hambaNya yang meminta.
***

Sampai hari ini, saya masih mengingat jelas kata-kata Himmah.

Saya pernah suatu hari punya keinginan yang besar. Katakanlah saya ingin beli rumah yang spesifik. Sejak saya sekadar ingin, saya berdoa pada Allah untuk punya rumah yang spesifik itu. Saya berdoa kepada Allah dari yang mulanya umum sampai secara spesifik, sambil menyebut kalaupun ternyata rumah itu buruk untuk saya atau sebaliknya, semoga saya ikhlas dengan apapun keputusan Allah.

Waktu berjalan, rumah itu mulai ada kabar pembelinya. Baru desas desus, tapi asa udah hampir pasti. Terus saya liat diri saya kayak ga ada hawa-hawa bisa mencicil rumah itu dalam waktu dekat. Saya memikirkan berbagai kemungkinan tentang rumah itu. Tapi saya tetap melangitkan doa-doa. Desas desus hilang. Saya masih melangitkan doa yang sama. Hingga akhirnya ada kabar rumah itu sudah terjual. Tinggal tunggu peresmiannya. Saya masih berdoa, setidaknya saya berdoa untuk kebaikan rumah itu siapapun kelak penghuninya. Sampai ketika peresmian rumah itu pada pemiliknya, alhamdulillah, detik itu saya merasa lega. Allah telah menjawab tuntas doa-doa saya. Tuntas. Selesai untuk kalimat-kalimat pinta yang melangit untuk sekian lama.

Karena kalau meletakkan harapan pada Allah, manusia nggak akan pernah kecewa.

Cerita kedua, waktu Abidah mau final GVS.

Ini cerita Abidah pasca hari-hari perjuangan itu. Singkat cerita, runaway produk kami sudah nyaris surut. Kami perlu mencari sumber penghidupan yang dapat memperpanjang usia. Sampai saat Abidah Allah percayakan untuk mewakili tim dalam final kompetisi GVS.

Sehari sebelum final, di masjid UI, Abidah berdoa. Kurang lebih begini.
"Semoga uang yang menjadi hadiah adalah berkah untuk orang-orang yang baik. Orang-orang baik itu termasuk tim-tim lain yang memang niatnya membangun Indonesia, membangun Islam; bukan untuk memperkaya diri sendiri-dan bahkan Abidah juga menyebutkan nama startup-startup lainnya dalam doanya. Tapi kalau bukan berkah untuk orang-orang baik, memang Allah akan menunjukkan bahwa hadiahnya itu untuk orang yang memperkaya diri sendiri. Jadikan itu sebagai contoh bahwa energi dalam bentuk uang itu bukan untuk orang-orang baik. Sebagai gantinya, semoga orang-orang yang punya niat baik bisa mengumpulkan energi atau kekuatan lebih besar lagi di masa depan. Tapi dengan  kondisi tersebut, Tebi juga membutuhkan. Bukan karena apa-apa, tapi memang karena Tebi butuh itu. Dan kondisinya, adakah yang lebih baik selain energi itu diberikan untuk orang-orang baik?"

Dan Allah menjawabnya tuntas dengan kemenangan waktu itu :")

Lihat apa doa Abidah. Menyerahkan semua keputusan sama Allah. Siapapun yang berhak, selama untuk kebaikan, maka terserah Allah. Tapi kalau memang ternyata hadiah itu untuk pebisnis dengan niatan memperkaya diri sendiri, maka itu mungkin emang bukan uang yang berkah untuk orang-orang baik. Sesederhana itu doanya, memasrahkan seluruh keputusan tanpa memupuskan harapan. Dan Abidah pun tidak bisa bohong, tetap melangitkan secara spesifik kebaikan yang diharapkan untuk Tebi. Tapi atas apapun, Abidah meletakkan rasa percaya, jikalau bukan Tebi yang akhinya dapat, Allah sudah menyerahkan hadiahnya pada siapa yang memang berhak. Skup keyakinan Abidah siapa yang berhak ada pada doa-daonya. Sudah jelas tercantum di sana.
Doa yang ketika aku dengar, aku kembali ingat percakapan di 104 Z itu.

Berdoa sama Allah nggak akan pernah berujung kecewa kalau manusianya sudah benar-benar menaruh harapan pada AllahNya. Bukan pada manusianya, bukan pada kesempatannya, bukan pada tujuan dunianya, bukan pada barang incarannya, bukan pada posisi atau jabatannya, bukan pada besaran materinya. Dan hawa nafsu kadang masih mendahului akal sehat untuk kembali mengingat prinsip-prinsip ini. Ah, mungkin sulit dijelaskan. Perlu dialami. Walau mengalami berapa kali pun, Allah tetap akan menguji masalah penerimaan terhadap qadhaNya. Selesai diuji satu, ada lagi ujian lainnya. Sudah menunggu.  Karena berdoa pada Allah itu nothing to lose. Nggak akan pernah ada yang sia-sia. Toh kalaupun yang Allah kabulkan belum sesuai keinginan, mendekat pada Allah untuk berdoa dan merayuNya pun sudah bisa melahirkan pahala kebaikan sendiri. Insya Allah.

gambar dari sini
"I ask something to God. If God grants it to me, then I am happy. However, if God did not give it to me, then I am 10x happier. Because, the first is my choice. While the second is the choice of Allah SWT. " 
- Ali bin Abi Thalib

Hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal mawla wa ni'man nashir.

Sebagai pengingat,
Kamis, 12 Juli 2018
Tulisan ini awal ditulis 12 Mei 2018

Fafa

Suatu hari, adik saya menulis begini;

it's very nice to have a sister in your life but it sucks at the same time when you have to live hundreds km away from her

i was born four years after her, and it was just two of us back then until my brother born five years after. I got to see her everyday until my parents sent her to a boarding school when I was 7

she graduated from middle school and I thought she will be home again after 3 years but turned out she moved to another boarding school and I was like okay I wont get to see her everyday again for the next three years but that was truly okay because I entered boarding school too

I graduated middle school and continued to public school, it's been 6 years since the last time my sister and I live in the same roof but then my sister continued her study to a university which is hundreds km away from home, so 6 years will be 10 years

I graduated high school and continued to the same university as my sister and that was the first time we live in the same city after almost 11 years being separated

but it didnt last long because just few months after I entered uni, my sister graduated and she has to go back home

Mbak, 
maybe thats why we rarely took pics together
maybe thats why sometimes we cant understand each other
maybe thats why you don't get used to how I behave
maybe thats why I always ask you when will you visit me here
maybe thats why I always want to be with you everytime you're here
maybe thats why time becomes so valuable when you're here
maybe thats why I cant stop missing you

I'm just thinking that maybe I need more time with you, because as the time goes I'm getting older and so are you, and maybe in few years you'll be found by your truly one and you'll be his and dont have time for your siblings anymore

I love you from the deepest of my heart, you don't know how much I adore you

Happy belated 23rd birthday💓

walaupun tertulis bukan di hari ulang tahun saya.

***

Hari ini Fafa-yang menulis tulisan panjang itu-pulang ke Jogja. Liburan kuliahnya belum usai. Tapi dia masuk program asrama yang mewajibkan dirinya mengikuti program lebih awal. Dan tulisannya so true karena dengan umur kami masing-masing ini, sepertinya persentase barengnya lebih sedikit karena mulai pisah atap sejak saya umur sebelas-dan dia tujuh. Menjelang pulangnya Fafa ke Jogja, rasanya ada yang berbeda, dan tentu saja sedih.

Belum saja dia berangkat, saya sudah merasa kehilangan. Fafa adalah someone who always give me update about many things; trending topic, berita, tempat makan, film, lagu, isu terkini berita artis atau public figure-untuk tidak menyebutnya gosip, dan banyak hal lainnya. Paling gaul dan update sih dia emang. Paling suka foto jalan, dan ngaca. Tipikal E yang suka mengupdate sesuatu. Anak yang suka nginggris dan pernah berteman dengan stranger (trus brb ingat bidah dan ima). Seseorang yang saya sebenarnya ragu kalau dalam kepsyen di atas bilang 'i adore you' karena aku merasa bukan kakak seperti Nabil atau Bu Afia bagi Husna atau kakak-kakaknya Nida yang berjumlah enam atau Mbak Uca dan Mas Iqbalnya Tyani. Tapi seperti yang diketahui pada umumnya: bahwa tidak pernah selesai membandingkan diri dengan yang lain. Dan sebagaimana saya tidak pernah merasakan punya kakak, barangkali, bagaimanapun kakak adalah kakak bagi adiknya. Mungkin selalu terasa spesial, sekalipun hanya sesederhana hal kecil yang kakak tahu lebih dulu.

Seringkali, saya merasa sedikit sekali tugas kakak yang sudah saya lakukan. Sebagai anak pertama, khususnya pada Fafa, saya sering pengen dia merasakan banyak hal seperti saya dulu. Maksudnya seperti ketika saya baru ikut sesuatu yang saya blank sekali terhadapnya, ga punya informasi apa-apa, nggak dijemput atau diantar, nggak dapet bocoran ini itu Merasakan hal-hal pertama serupa yang saya rasakan saat ada di posisi yang sama. Padahal kalau maksain hal ini ujungnya capek sendiri juga. Padahal, ya itu hak dia, sebagai adik yang mendapatkan informasi, perhatian, atau hal lainnya dari kakaknya. Dan, itu juga kewajiban kakaknya. Dan, kalau saya mau melakukannya secara suka rela, insya Allah bernilai pahala. Hmm :""

Juga jarangnya saya cerita sampe harus dia tagih-tagih. Kepribadian I saya yang (sangat) dominan dan E dia yang dominan memang memberikan kesenjangan yang sangat terasa, hahaha. Waktu baca tulisan itu, aku sedih banget. Like me and she doesn't have any special sibling's time. Atuhlah aku sulit cerita duluan, kamu mulai atuh dek.

Mulai terasa juga hal-hal semacam ini. Kemarin semasa pulang salah satu yang sangat terasa adalah dia pengen aku melakukan sesuatu, misalnya nonton film lama di laptop. Jadi mungkin pernah terasa, ya, kalau kita ke tempat makan enak, jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan dan berkesan, atau misal abis nonton film bagus, rasanya tuh pengen ngajak orang yang kita sayang buat ikutan ngerasain hal yang kita alami tadi. Nah dalam case ini, kerasa banget Fafa maksa-maksa buat nonton film A, B, C, misalnya. Sampe ada film yang aku sisihin buat nonton bareng teman (bukan di bioskop juga sih nonton barengnya di pc gitu) akhirnya aku tonton juga, salah satunya buat ngelegain dia (masih utang satu film ya fa, maafin ya).

Di sisi lain, ada juga sih hal yang sama yang masih jadi utangku. Aku juga pengen ngajak dia ke suatu tempat makan(yang aku tau dia pengen), tapi belum kesampaian kemarin itu. Semoga bisa segera lain waktu, ya. Tapi atas semua hal, memang waktu itu ndak bisa dibeli. Mengobrol adalah hal yang precious dan kehadiran adalah hal yang tak tergantikan. Mungkin ini juga sebabnya saya ngerasa sedih banget waktu Fafa pulang ke Jogja. Liburan berikutnya dia hanya punya jatah pulang satu pekan. Depannya lagi dia KKN (tapi kayaknya KKN dia ada libur lebarannya dulu sih, ndak kayak jaman saya). Depannya lagi sepekan, depannya lagi...semoga dah lulus ya Dek.

Menjadi anak rumahan 15 bulan terakhir barangkali membuat saya lebih belajar menjalani peran sebagai kakak. Dan rupanya nggak mudah, ya. Bagaimana meluangkan waktu untuk orang lain itu memang such a challenge. Aih, bagaimana hebatnya orang tua, ya :")

Yha barangkali postingan ini sama ini berhubungan.
Mestinya dipos Senin kemarin
Kamis, 12 Juli 2018
Hari-hari berlalu cepat sekali, ya

Senin, 09 Juli 2018

Berharap Mushala, Diberi Masjid

Waktu itu Kamis. Pagi menjelang siang, saya ingin sekali di kantor ada mushala. Ingin menyendiri. Meresap dan mencerna baik-baik segala yang terngiang dan memenuhi kepala. Mencari tenang. Aih, kadang perasaan seperti ini munculnya bisa tiba-tiba, ya. Padahal waktu berangkat baik-baik saja.

Tidak sampai dua puluh empat jam, Allah lebih dari cukup mengabulkan doa saya. Saya diberiNya masjid. Juga seorang teman untuk saling bercerita pada jeda yang cukup. Membuat memori masa-masa asrama dan berdiam di masjid menguar dekat sekali. Rindu. Sayang, tidak sempat merekam langit-langit masjid dalam lembaran foto. Waktu menjadi terlalu berharga untuk dijeda barang sebentar.

Di perjalanan pulang saya tercekat, sungguh dekat sekali Allah mengabulkan doa. Lalu tercenung pada hal-hal yang masih saja saya ragu terhadapnya.

Padahal sampai Allah pertemukan saya pada pembicaraan di masjid, Allah juga beri aku hadiah-hadiah kecil. Pada sapaan tanya yang dibuka oleh seorang teman-yang mulanya saya insecure sekali terhadapnya. Pada obrolan kecil dengan teman-teman lainnya yang menyeling pekerjaan.

Ya Allah, aku minta maaf jika masih saja menggantungkan penyelesaian masalah pada langit-langit  hati sendiri. Mengira-ngira penyelesaian muncul dari diri sendiri. Sombong sekali, ya? Bukankah Engkau penggenggam segala hati, pun jua yang menggenggam hati orang-orang di sekitarku yang boleh jadi aku satu dua punya perasaan bersalah terhadapnya.

Ah, kalau sama Engkau saja aku masih ragu, maka siapa lagi yang bisa aku percaya?

Catatan Kamis, 5 Juli 2018
untuk segala pihak, terima-kasih
banyak sekali aktor skenario Allah untuk momen dan fase ini



Senin, 25 Juni 2018

Mencintai Sepenuhnya dan Mencintai Secukupnya

Ini lintasan pemikiran. Tidak ada lima menit sampai aku benar-benar menuliskannya di googlekeep setelah terlintas.

Mencintai sepenuhnya artinya mencurahkan segala sesuatu untuk yang dicintai. Memberi waktu, perhatian, tenaga, pikiran, usaha, bahkan barangkali barang atau materi; sebagai pembuktian. Karena cinta adalah kata kerja, begitulah adanya. Pembuktiannya tercipta dalam laku. Makanya kita kenal sekali pepatah itu, bukan? Kita bisa memberi tanpa cinta, tapi kita tidak bisa mencintai tanpa memberi. Memberi yang terbaik, bukan sisa-sisa.

Mencintai secukupnya berarti mencintai dengan batasan. Batasan yang dibuat oleh pencipta rasa cinta itu sendiri. Ketika Allah memerintahkan untuk meletakkan cinta padaNya dan pada RasulNya dibanding apapun, maka kita mengatur cinta yang cukup pada makhluk. Ketika Allah memerintahkan cinta pada akhirat yang melebihi cinta dunia, maka kita mengatur cinta yang hanya pada tangan untuk dunia, sementara meletakkan akhirat di hati, sebagai bukti cinta.

Ketika disodori uang haram, maka menolaknya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (karena paham hakikat haramnya uang tersebut) dan secukupnya (merasa qanaah, cukup atas sedikit yang dimiliki). Ketika memaksimalkan rakaat tahajud, maka itu cinta sepenuhnya (sebisa yang dimampu) dan secukupnya (tidak menzalimi diri sampai karena terlalu letih, malah melewati waktu subuh karena tertidur-mengorbankan yang wajib untuk melakukan yang sunnah).

Ketika Allah mengatur cinta yang berbatas untuk hamba yang belum terikat akad, maka, menjaga jarak adalah perwujudan cinta sepenuhnya yang bisa dilakukan, juga cinta secukupnya. Ketika kekurangan pasangan tampak, maka rasa syukur adalah perwujudan cinta sepenuhnya dan secukupnya. Ketika mendapat musibah--bahkan sesederhana kenyataan yang tak berpihak pada keinginan, maka meyakininya sebagai takdir terbaik adalah cinta sepenuhnya (meyakini qadha qadar sebagai bagian dari rukun iman), dan tidak mengumpat atau mengeluh adalah cara menanggapi secukupnya, sebagai bukti cinta. Ketika seorang anak meninggal, maka keikhlasan orang tua melepas anaknya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (yang dilanjut dengan doa-doa terbaik) dan secukupnya (karena menyadari bahwa anaknya lebih dicintai olehNya).

Ketika hampir satu kelas mencontek, maka menghindarinya adalah perwujudan cinta sepenuhnya (karena menyadari bahwa Rabbnya sangat tidak menyukai perbuatan curang) dan secukupnya (menyadari bahwa sekecil apapun nilainya, berkahlah yang utama). Ketika kesal dengan orang lain, memaafkan adalah cinta sepenuhnya yang secukupnya, karena menyadari memaafkan adalah kesukaan Allah, dan cintaNya adalah prioritas utama. Ketika punya tetangga  berlainan aqidah, maka berbuat baik satu sama lain, menolong ketika membutuhkan, membawakan oleh-oleh, adalah cinta sepenuhnya. Dan tidak menjadikannya teman setia atau teman kepercayaan, seperti yang tertulis dalam Quran, adalah cinta secukupnya.

Dear diri, milikilah cinta sepenuhnya, yang terjaga secukupnya. Cinta yang maksimal untuk mencukupkan diri ini agar pantas dengan cintaNya. Cinta yang penuh untuk meraih ridhaNya, dengan meletakkan kadarnya sesuai aturanNya; pada Allah, Nabi, orang tua, pasangan, keluarga, sahabat, makhluk hidup lainnya, umat, bahkan juga umat yang tak seaqidah. Cinta yang memberikan energi, namun cukup untuk menjaga diri.

Pikiran lintasan ini barangkali terinspirasi oleh QS Asy Syura 20 dan 36; tilawah badr siang ini; beserta hal-hal yang Fatih lakukan malam ini.

Sebagai pengingat.

25 Juni 2018,
tadi hari pertama masuk setelah libur panjang
halo,
kekhawatiran-kekhawatiran melangit. mungkin berlebihan, entahlah.
banyak hal yang tidak kita...baiklah aku, ketahui.
tidak banyak yang bisa aku bagi kali ini.
kurasa semakin panjang semakin tidak baik tulisan ini.
hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal mawla wa ni'man nashir.
hanya Allah yang bisa menggenggam hati manusia.
tugas kita tidak pernah menyerah untuk berharap, berdoa, dan berusaha.
berusahalah untuk baik-baik saja, fitri.

Minggu, 24 Juni 2018

[Quote]Teach Your Children Qur’an

“Teach your children Qur’an and Qur’an will teach them everything” (anonymous)

Dari Tangerang (2): Di Perjalanan Pulang

Semua Ikan di Langit-Ziggy Z.-hlm 141
Saya membaca halaman ini di pada suatu perjalanan kereta pulang dari pernikahan Suci. Yang membuat saya memikirkan beberapa hal. Terutama setelah membaca paragraf kedua (lalu tergerak untuk menangkap gambarnya).

Ah, tidak. Saya tidak akan membahas apa yang saya pikirkan.
***
Jeda beberapa jenak, dua undangan masuk pada menit yang sama. Dua adik asrama. Yang satu pernah seruang, yang akan menikah juga dengan teman asrama di gedung putra. Yang satu lanjut hingga jadi teman sekontrakan pasca asrama. Tanggal menikahnya pun sama. (Sebelumnya udah diomongin sama teman seperjalanan pulang, benar lagi ada undangan, dedek-dedek semua *maksudnya anak 2013)

Aku (yang masih sulit meyakinkan diri untuk memulai jenjang hidup baru ini) jadi menghubung-hubungkan kalimat di paragraf itu dengan kabar dua kawanku yang menyebar undangan ini (tiga bahkan, karena salah satunya menikah dengan teman kami juga). Pertanyaan saya selalu sama setiap mendapatkan undangan pernikahan. Apa yang membuat seseorang merasa mantap dan yakin untuk berjalan menuju jenjang pernikahan? Titik apa, saya bertanya-tanya. Ini juga yang saya tanyakan pada Suci tempo hari saat saya meneleponnya lama.

Dalam perjalanan menuliskan ini, aku membaca sebuah blog yang menuliskan bahwa ia tak mau menikah untuk bahagia jika ia belum bisa membahagiakan dirinya sendiri. Jadi, penulisnya simpulkan, kalau menikah untuk bahagia, sebaiknya jangan menikah dulu. Karena kebahagiaan pernikahan hanya temporer dan jika belum bahagia, pasangan dan anak-anaknya kelak bisa jadi korban ketidak bahagiaannya.

Waktu saya membaca kutipan di buku itu, saya belum meneukan kutipan paragraf yang saya kutip dari blog orang lain itu. Dan saya hanya menuliskan saja sih, bukan dalam rangka menyetujui sepenuhnya. Meski mungkin make sense juga. Tapi saya jadi ingat kata-kata di Sabtu Bersama Bapak yang saya amini sampai saat ini.  "Kata Bapak, membangunn hubungan butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan saling mengisi kelemahan."
.
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain."
***
Hari ini dan kemarin-kemarinnya barangkali saya menemukan dan mengetahui jawaban orang lain. Lalu saya berjanji pada diri sendiri, kelak kamu akan menemukannya, Fitri. Jangan  terburu-buru, jangan berputus asa.

22 Juni 2018
Kereta Angke-Nambo
dalam beberapa hal yang membenak


Dari Tangerang (1): Kabar dari Suci

Waktu itu awal Juni, Suci memberitahukan rencana pernikahannya. 

Suci adalah adik bersama di asrama. Kelahiran 96, anak 2013. Di balik kesan pertama yang dewasa, Suci punya sisi bocil sampai-sampai hampir seasrama manggil dia Sucil alias Suci bocil. 

Kabar ini cukup membuat kaget dan haru luar biasa. Selain soal kabar Suci-nya yang mau nikah, juga cerita prosesnya, juga cerita soal dengan siapanya. Suci menikah dengan kakak dari salah satu sahabat kami, Zahra, yang pernah saya ceritakan sebelumnya, salah satunya di postingan ini. Begitu mudahnya Allah lancarkan proses mereka yang hanya berkisar 1 Ramadhan-8 Syawal dari bertukar biodata sampai menikah. Begitu eratnya peluk Allah menuntaskan impian sederhana yang Suci lintaskan soal lifeplan pendidikan, suami alumni gontor, dan captionnya yang selintas menyebutkan jika Allah takdirkan aku menetap di Jogja. Allah jawab tuntas doanya. Padahal, mereka belum pernah kenal sebelumnya.

Kebersamaan saya dengan Suci jika dihitung dalam dimensi waktu tinggal bersama adalah 22 bulan pembinaan asrama ditambah hampir setahun masa kontrakan pasca asrama. Suci adalah partner piket masak sarapan tiap Selasa. Dan bagaimana pun, saya selalu tsiqoh soal memasak sama dia. Walaupun metode masak Suci sedikit berbeda sama Ummi, tapi tetep aja saya yang ngekor dia. Menu kesukaannya sayur lodeh. Aku masih mengingat janjian belanja di warung sayur dan lintasan obrolan-obrolan waktu memasak. Juga kebiasaan Suci menyapu sambil masak, karena katanya, mamanya juga begitu kalau masak sambil langsung beberes nyapu-nyapu. Cepat sekali waktu berlalu :")

Di asrama, Suci adalah salah satu teman yang paling baik tahsinnya. Sampai-sampai ketika angkatan asrama selanjutnya, ia diminta untuk membantu mengajar tahsin. Suci juga paling semangat belajar dan mengikuti kajian. Kelas bahasa arab dan tahfidz, kajian di Pogung, dan lain sebagainya. Bikin malu kakak-kakaknya :")

Sampai hari H tiba. Benarlah kata Abidah yang kurang lebih pernah mengatakan bahwa, salah satu barakah pernikahan tuh ada kebahagiaan yang juga dirasakan oleh tamu undangannya ketika menghadiri suatu pernikahan. Dan itu kami rasakan. 

Nasri 7, Zahra ada di paling kiri.
pingin foto berdua sama bukunya lupa kebawa

Barakallahu laka wa baraka alaikuma wa jama'a bainakumaa fii khair Suci dan Mas Imov. Semoga barakah dan rahmat Allah selalu menertai kalian berdua :")

Tangerang, 22 Juni 2018
Setelah disadari, sepertinya ini kali pertama naik kereta Duri Tangerang
p.s ini tulisan kedua karena yang sebelumnya ditulis belum kesimpan dan pagenya kerefresh
cerita dari sudut pandang Fahmmi bisa dilihat di sini

Sedikit Cerita di balik Mengukir Peradaban

Mengukir Peradaban, difoto tanpa persiapan
background alias di ruang Tebi
Waktu itu Selasa, atau Rabu. Saya sedikit lupa. Suatu paket sampai ke tempat bekerja. Gambarnya ada di sebelah. Buku, judulnya Mengukir Peradaban.

Awal tahun ini, di perjalanan ke FE UI, Zahra menawarkanku mengedit naskah buku yang ditulis bersama suaminya, Fahmi. Zahra dan Fahmi adalah pasangan adik tingkat dan adik kelasku. Zahra adik yang pernah seruang di asrama dan Fahmi adalah adik kelas SMA, yang juga adik tingkat di kampus. Keduanya menikah 7 Mei 2017 dan menjadi sepasang pasangan penghafal Quran. Fahmi telah hafal Quran sejak lulus SD dan Zahra sempat mengikuti karantina hafalan Quran di penghujung 2016. Fahmi saat ini sedang menempuh koas, menuju jenjang dokternya, dan Zahra sedang tahapan menuju wisuda untuk sarjana kedokteran giginya. Keduanya, seperti yang diakui teman-teman kami juga, adalah pasangan yang menginspirasi banyak orang dengan kebaikannya. Kalau mau kepo satu dua hal tentang mereka bisa mampir ke sini.

Dulu mulanya saya menolak dijadikan editor buku ini karena saya belum nikah, jadi kan khawatir gimana gitu kalau ngedit buku tentang nikah yak. Wong ndak pengalaman. Tapi setelah mengobrol lagi, akhirnya bismillah aku ambil tawaran ini buat belajar.

Sudah lama naskah editannya saya serahkan, lalu awal ramadhan (atau sebelumnya), Zahra meminta editing terakhir (untuk PO kedua, karena PO pertama sudah launching, demi mengejar tanggal 1st anniversary kayaknya, hehehe). Dan baru kelar beberapa hari yang lalu, sebagian besar kuselesaikan saat mudik. Membaca naskah buku ini kembali (dan bacanya selalu dalam bentuk digital biar bisa dikasih komen) rasanya berbeda. Ada kesan lebih dalam ketika membaca step-step pra-hari h-pasca menikah. Buku ini memang bukan menonjol pada soal fiqih nikah, tapi bagaimana membentuk diri yang siap dari segi pribadi, orang tua, life plan, soal hal-hal kecil yang dibutuhkan di awal-awal pernikahan, dan lain sebagainya yang kalau bahasa mereka, tidak banyak dibahas di buku lainnya.

Dan saat baca kedua kalinya aku merasa...ditampar bolak balik sih. Karena...hmm ya banyak sih. Mungkin orang bisa bilang ya ndak usah berpikir seribet itu. Even di sisi lain aku tau diriku ini banyak sisi inferiornya jadi aku memang tidak mudah percaya diri. Tapi anyway walaupun aku belum menikah (haha --"), aku menyarankan untuk baca buku ini.

Nulis postingan ini mulanya lebih ke perasaan yang lebih kerasa berkesan waktu ngedit kedua kalinya (terus brb pengen semua orang baca gitu). Sebenarnya dulu udah kepikiran mau nulis sih sekaligus promosi bukunya waktu PO. Tapi ya belum-belum. Jadi yasudah dicicil saja nulisnya sekarang.

PO keduanya belum kecium aromanya sih. Tapi kayaknya POnya bentar lagi. Kalau penasaran silakan kontak @fahmi.zahra.notes saja.


Ini hanya sedikit cerita di balik Mengukir Peradaban
Banyak sih mungkin yang pengen diceritain,
atau yang dikhawatirkan, sehingga ingin dibagi
tapi kulit-kulitnya saja dulu lah ya

Berjuang

Halo,
dear Fitri, ini, tulis untuk pengingat diri sendiri barangkali.
Sudah sering diucap dalam hati, buat pengingat diri sendiri

orang-orang berjuang. diketahui oleh orang lain maupun tidak, barangkali itu tidak begitu penting.
bahkan jika kita pikir orang lain sudah berhenti, atau meragukan kita berjuang,
tetaplah berjuang dan tidak menyerah
tidak berhenti
karena kita tidak pernah tau mana ujungnya.
yang harus dimiliki adalah,
keyakinan tanpa putus pada Allah,
bahwa semua ragu akan dijawab,
semua tanya akan dituntaskan,
semua tangis akan dibuat reda,
semua pasrah akan ditenangkan,
semua harap akan dipeluk erat-erat,
semua cinta akan ditemukan,
semua doa akan diberi jawaban

barangkali ada orang yang berpikir dirinya berjuang sendirian
ketika kamu membantunya, barangkali, orang pun tak peru tau.
cukup kamu simpan, dalam dirimu saja
dalam heningmu
bukankah dalam ekspresi bahagia, marah, atau sedihnya orang lain,
kita pun tidak bisa menebak benar-benar bagaimana perasaannya?
biar hanya Allah yang tahu
itu cukup.
karena tugasmu juga berjuang, kan?
kamu berjuang, Rabbmu yang menilai
setidaknya, kalau juangmu belum menemukan hasil yang diinginkan,
kamu berjuang agar dirimu kuat menerima hasil terakhirnya
apapun itu

akhir ramadhan-hari ini-dan barangkali, masih ada hari-hari setelahnya
sampai tak tahu kapannya


Jendela

aku menyukai jendela, terbuka atau tertutup tirainya, tetap saja jendelanya ada, kan?
melihat jendela seperti melihat ada janji sesuatu yang lebih luas di luar sana, sudut pandang yang lebih menyeluruh, penerimaan yang dalam, janji-janji baru, entah mengapa. 

waktu itu Ahad, mesti ke kantor mengantar device yang hendak digunakan. Tadinya kukira aku bisa menikmati jendela sendirian di ruangan. Sayang, kantor rupanya dikunci. Transaksi device hanya berakhir di depan.

kelak semoga, Allah beri kami jendela. Jikalau pun tidak secara fisik, yang paling penting, semoga hati kami memiliki jendela, yang dapat melihat sesuatu lebih lapang, luas, hingga menanamkan benih kesabaran tak bertepi


Juni 2018. 
masih ada foto-foto (di balik) jendela lainnya

Masuk Surga Sekeluarga

Sore itu rasanya begitu emosional. Di perjalanan yang macet menuju rumah sakit, hati saya ribut bicara sendiri soal masuk surga sekeluarga. Mata saya berkaca-kaca. Aih, surga itu mahal. Ndapetinnya buat diri sendiri aja susah, bagaimana pula jika untuk sekeluarga? Usahanya perlu ekstra. Mengabaikan rasa letih dan malas. Istilah masuk surga sekeluarga, dulu saya dengar menjadi tema suatu kajian di Jogja.

Iri sekali sama teman-teman yang bisa itikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan yang berharga. Juga kagum sekali dengan keluarga-keluarga yang bisa melaksanakan itikaf, sekeluarga, tidak tanggung-tanggung. Mengalahkan rasa letih selepas bekerja bagi sang ayah, rasa letih mengurus segala keperluan rumah tangga bagi ibu, serta rasa lelah sepanjang bermain dan sekolah bagi anak-anaknya. Juga, ketika itikaf, kagum sekali dengan para ayah dan ibu yang dengan sabar dalam menghadapi kebosanan anak-anak, atau barangkali permintaan ke kamar mandi, atau mengurusi ganti popok, jika anaknya masih ada yang menggunakan pampers. Karena, kalau sudah berkeluarga dan punya anak tentu ada tantangan sendiri dalam beribadah, terutama bagi ibu yang biasanya waktunya bersama anak cenderung lebih lama dibanding sang ayah. Makanya suka denger kalau tilawah dengan tenang itu salah satu hal yang sulit didapatkan oleh para ibu kalau sudah punya anak. Kalau ayah ibunya tidak bekolaborasi dan berbagi peran dengan baik, tentu sulit sekali dicapai waktu-waktu prime time untuk ibadah ini.  Masya Allah :")

Ini semua mengingatkan saya pada suatu kajian tentang Ramadhan dan keluarga. Terharu sekali membayangkan lingkaran keluarga yang saling hening menunggu berbuka ketika sang ayah memimpin untuk memanjatkan doa menjelang berbuka. Bukan menunggu dengan terpisah-pisah, masih main, buka hp, atau masih (terlalu) sibuk menyiapkan kudapan berbuka sehingga menghalangi kesempatan berdoa di waktu mustajab. Juga jika ayah mendrive keluarga untuk sama-sama berupaya keras mengejar surga. Mau mengajak anak untuk bersiap wudhu jauh sebelum adzan agar tidak terburu-buru di perjalanan ke masjid (karena kalau mendadak gitu kan suka ayahnya ga sabar, anaknya ga bersegera). Merencanakan dan mengatur persiapan baik mental maupun perintilan itikaf anak yang perlu dibawa (makanan bekal, susu, ganti baju, dsb) jauh hari sebelumnya. Menyiapkan dan menyuasanakan anak sehingga tidak rewel dan tidak malah main bersama temannya sampai meninggalkan ibadah di masjid. Orang tua yang mau menanggung rewel anak-anak dan sabar menghadapi beragam keinginan, ajakan, dan pertanyaaan anak-anaknya. Pasangan yang bisa bekerja sama gantian memegang sang anak agar dua-duanya bisa mengejar ibadah serupa shalat dan tilawah, sementara anaknya butuh ditemani pada usia-usia dini.

Orang tua yang menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Sehingga sedari kecil tertumbuh dari dalam hatinya, bagaimana meletakkan seluruh lelah dunia untuk mengejar apa yang tak fana.

Sedih sekali 10 hari terakhir ini belum bisa menemani Fahri yang ingin sekali itikaf. Walaupun akhirnya kesampaian juga Allah kasih kesempatan itu untuknya. Semoga Allah masih kasih umur di tahun depan ya Dek, buat aku ikut sama-sama itikaf.

Soal keluarga dan ramadhan ini emang bisa menimbulkan haru yang luar biasa. Semoga kelak Allah izinkan keluarga kami (baik yang aku sebagai anak maupun ketika sudah punya keluarga sendiri) menjadi salah satu pejuang itikaf di bulan mulianya. Semoga Allah mampukan aku menjadi kakak yang baik bagi adik-adikku, anak pertama yng bisa membantu kedua orang tuaku, dan juga peran-peran pada fase hidup selanjutnya kelak. Aamiin.

9 Juni 2018,
yang membuat duduk diam lama di bangku rumah sakit setelah urusan selesai

Anak dan Fitrahnya 2 : Mengaji bersama Ayyash

Suatu Jumat, terakhir sebelum libur panjang cuti lebaran.
Seorang kakak mengajak putra kecilnya ke kantor. Namanya Ayyash. Singkat cerita, siangnya, seteah asik main game, ayahnya meminta Ayyash untuk ngaji-atau tidur siang. Ayyash nggak mau, nolak terus. Pengennya main game, padahal anak segitu pasti ngantuk deh sebenernya. Cuma karena matanya udah asik sama game jadi ya ngga ngantuk (sama kayak Fatih, dia juga gini kalo kebanyakan nonton atau main game huhu). Sampai akhirnya dia aktif sekali lari-lari. Ngaji ndak mau. Tidur siang ndak mau. Dibujuk-bujuk boleh main game abis baca sekian halaman sampai uda ditawar-tawar ndak mau. Kejar-kejaran sama ayahnya. Sampai dia lari ke atas meja (yang dipenuhi laptop-laptop dan ayahnya sampai panik karena lari di atas meja yang penuh laptop kan bikin khawatir yak) dan kolong meja. Juga lari-lari yang sampai nutup pintu biar ayahnya ndak bisa masuk ruangan.

Sampai suatu waktu di tengah lari-lari itu, dia keluar dari kolong mejaku. Kutatap matanya, kuajak bicara.
"Ayyash mau liat kura-kura nggak?"
Mata sipitnya menatapku, mengangguk. "Mau."
Kami berjalan ke arah pintu ruang. Sebelum keluar, aku berbisik. "Liat kura-kuranya sambil ngaji mau nggak?"
Lalu tak disangka dia mengangguk (kuterharu:", tak disangka tapi aku berharap sih sebenarnya). Aku minta buku ngajinya ke ayahnya. Kami ke kolam.
Di kolam ada orang juga sebenarnya waktu itu, aku izin hendak ikut pakai kolamnya.

Aku dan Ayyash melihat kolam Tidak ada kura-kura yang keluar. Lalu aku bujuk dia mengaji. "Ayyash, mau nggak ngaji dulu. Abis ngaji kita liat lagi kura-kuranya."
Ayyash mengangguk. Dalam hati aku sungguh berharap usai mengaji kura-kuranya ke tepian sehingga Ayyash benar-benar bisa melihat kura-kura.

Aku menawarkan Ayyash kursi. Tadinya kupikir kami akan mengaji di tepi kolam. Tapi Ayyash mau kursi biru (yang jauh dari tepi kolam). Akhirnya kai duduk bersampingan. Buku ngaji Ayyash ada di meja.
Ayyash menunjuk halaman pertama di jilid duanya itu. Ia mulai mengaji.
Sampai di halaman dua, Ayyash bilang "Ngajinya 5 halaman aja, ya."
Aku sebenarnya terkejut karena ndak expect sampe 5 halaman. Kareena ini dari dia, maka kuiyakan saja.

Ayyash mengaji sampai halaman lima. Aku menyimak. Membenarkan satu dua jika ada yang salah. Di tengah-tengah atau selesai mengaji--aku lupa--kaami sempat mengobrol.
"Di rumah Ayyash ngaji sama siapa?"
"Sama Pak ustadz, sama Bunda, sama Teteh."
"Kalau sama Pak Ustadz kapan biasanya?"
"Habis ashar."
"Kalau sama Bunda atau sama Teteh?"
"Pagi-pagi atau enggak malam-malam."
Lalu Ayyash juga cerita kalau dia udah selesai jiid satunya, dan jilid satunya sekarang dipakai adiknya, Hanna.

Usai membaca 5 halaman, kami ke tepian kolam. Sudah ada kura-kura yang mendekat. Ayyash terlihat senang sekali. Dia bilang juga kura-kuranya senang sama Ayyash. Lalu aku tanya lagi.
"Mau ngaji lagi nggak di sini dekat kura-kura?"
"Mau," katanya. Aku senang, dan dalam hati berharap kura-kuranya tetap akan di situ menemani Ayyash mengaji.
Selesai halaman 6, Ayyash bilang lagi. "Ngajinya 5 halaman aja, ya." Aih, sesungguhnya ku terharu Yash. Aku nggak berpikir kamu bahkan dengan keinginanu sendiri mau ngaji 5 halaman.
Aku mengangguk mantap.
Kami melanjutkan mengaji. Satu dua kali saat jeda antar halaman kami kembali melihat kura-kura dan bicara soal kura-kura. Ayyash bilang, "Kura-kuranya senang dengar Ayysh ngaji." Aku juga seneng banget sesungguhnya Yash si kura-kura anteng di situ selama Ayyash ngaji. Bahkan kadang kura-kuranya kayak mau manjat gitu mendekat pada kami.
Ayyash menyelesaikan halaman sepuluhnya. Satu dua kali wajahnya keliatan capek saat pergantian halaman. Keliatan dari air mukanya. Mungkin antara lelah baca yang terakumulasi sama capek matanya liat game dan kejar-kejaran menghindar dari ayahnya tadi.

Padahal dari obrolan selanjutnya kalau dia ngaji sama Pak Ustadz, katanya biasanya satu halaman aja. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa aku tidak terharu? Fitrahnya untuk mendekat pada Rabbnya yang barangkali membimbingnya untuk eunculkan keinginan membaca 10 halaman siang itu. Dan fitrah itu terbentuk lewat perantara orang tuanya, tetehnya, guru ngajinya. Orang-orang di sekitarnya. Saya mah, hanya bantu-bantu aja, dan qadarullah dianya mau.

Lalu kami mengobrol lagi tentang kura-kura. Ayyash bertanya kura-kuranya makan apa, kenapa kolamnya warna hijau, tumbuhan apa di dalam kolam, dan terakhir...
"Lampunya kalau malam nyala nggak?" Ayyash menunjuk lampu taman belakang.
Saya yang kadang suka pulang malem, ngga tau jawabnyaaa T^T. Lalu dia juga nanya saklarnya di mana deh kayaknya, ku juga ndak tau. Aku bilang nanti aku cari tau, atau aku liat kalau malam. Dia bilang, "Jangan lupa, ya." Aku tertawa dalam hati, berharap tidak mengecewakan Ayyash saat nanti dia menanyakannya kembali menagih jawaban.

Catatan 8 Juni 2018
Foto bareng-bareng tim produk yang ada Ayyashnya ternyata udah ndak bisa didonlot di HP heu

Anak dan Fitrahnya 1 : Kata Fatih tentang Rumah

Suatu Kamis, saya dan Fatih menjadi dua orang terakhir di rumah. Saya masuk. Fatih tadinya antara mau dan males buat ikut. Mau karena dia takut bosen sendirian dan males karena ya males aja siap-siapnya. Jawaban awal yang tadinya, mau, lalu berubah nggak jadi, sampai berubah lagi jadi mau. Saya sebenernya degdegan juga sih bawa dia ke Badr.

Di perjalanan menuju Badr, kami melewati perumahan elit. Yang rumahnya bagus-bagus dan punya halaman luas. Karena dulu saya dan Fatih punya obrolan soal kalau mau sesuatu coba doa dan minta dengan shalawat, saya reflek aja ngomong ke dia, "Dek, rumah di sini bagus-bagus. Shalawatin."

Lalu jawabnya,
"Rumah kita juga bagus, Mbak, di mata Allah...."

wew, ni anak ada angin apa bisa ngomong begini.

"Rumah kita kan sering dibacain ngaji, diputerin murottal."
makin kicep dong saya, wkwk.

"Daripada kalau rumahnya besar tapi nggak pernah dibacain ngaji. Ya, walaupun bagus juga sih Mbak rumahnya besar...." wkwk, endingnya ada nada kepengennya juga sih.

Hahaha. Ketawa tapi super haru dengar kata-kata yang spontan keluar dari mulut dia. Lalu ingat, dulu waktu masih SD, adik pertama saya suka kepengenan kalau liat rumah besar yang bagus gitu. Tapi terus ditakut-takutin lucu gitu sama kalimat, nanti Fafa yang nyapu ya. Fafa yang beres-beres semuanya ya. Kalau rumah besar beresinnya susah. Atau juga kalau dia kepengen ac terus dibahas kalau pasang ac nanti bayar listriknya bisa dua kali sekarang wkwk. Udah lama banget obrolan itu.

Amaze banget sama kalimat Fatih. Barangkali, kalau memang sudah paham dan tau dikit-dikit aja tentang Islam, memang anak kecil itu bisa mengingatkan orang dewasa. Fitrahnya akan demikian Tapi tugas orang dewasa di sekelilingnya lah untuk mengarahkannya ke sana. Biar kebentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Semoga Allah bimbing kami menjadi contoh untuk hal baik ya Dek :")

Catatan 7 Juni 2018

Monolog 4 Juni 2018

Sama kayak postingan sebelumnya bahwa ini juga poin pembelajaran di googlekeep yang aku tulis dan jabarkan ulang di sini, sebagai pengingat. *Asa dulu mah nulisnya diary, wkwk. Sebenarnya menulis di blog itu sekaligus dalam rangka belajar membuat seasuatu yang sistematis.

Pertama, belajar memaksimalkan sesuatu. Memanage ekspektasi dari orang lain itu sulit. Tugas kita memaksimalkan apa yang kita bisa dalam meraihnya. Aih, sesungguhnya ekspektasi nggak cuma dari orang lain kan ya. Juga dari diri sendiri. Ekspektasi dari diri sendiri pun bisa yang sifatnya menyangkut diri sendiri, dan ada juga yang sifatnya ekspektasi soal ibadah ke Allah. Kalau yang sifatnya ibadah, kita nggak berharap dilihat oleh orang lain, tapi harapannya ada pada Allah melihat dan menerima amalan kita. Kalau yang berhubungan sama orang lain, misalnya kerjaan. Ada fase yang dibutuhkan atasan untuk tahu progress kerja bawahan, juga rekan kerja satu sama lain. Ini bukan dalam rangka nyombong, tapi untuk bisa mengukur, baik dalam menentukan pace kerja masing-masing (utamanya rekan kerja) maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan target (utamanya atasan). Jadi, dalam rangka memaksimalkan sesuatu, baik yang kita ekspert di dalamnya maupun belum, komunikasi, barangkali adalah jembatan penghubungnya. Komunikasikan upaya maksimal kita dan kalau ada hambatan atau hal apa yang bisa mentrigger upaya maksimal itu menghasilkan sesuatu yang besar.

Selanjutnya, kalau targetan atau upaya maksimal belum tercapai, komunikasikan alasannya. Juga misal ketika di awal diberi tanggung jawab, kita merasa ndak mampu. Kasih tau alasannya. Misal, dalam jangka waktu yang ditentukan, kerjaan yang diberikan pada kita belum bisa dituntaskan karena alasan kita yang belum ekspert di sana, perlu mencari referensi tambahan, kerjaannya terlalu gendut, atau bisa selesai namun butuh waktu lebih lama. Komunikasikan agar orang lain paham hal apa yang menghambat, atau mungkin bisa mentrigger (misal nambah orang, beli tools baru, dsb). Jangan denial dari awal bilang nggak bisa. Jelasin karena apa ngga bisanya, biar bisa diadjust dan dicari titik temunya. Entah dari ekspektasinya yang diturunin, waktu yang diperpanjang, atau mencari katalis untuk mempercepat eksektasi itu selesai sesuai timebox (yang tadi, bisa orang, tools, dsb). Dan orang lain mengetahuinya (saya jadi ingat ketika mandek skripsi lalu berat banget cerita ke dosen pembibing T^T). Kalau dari awal udah bilang ngga bisa, tanpa penjelasan, orang akan antipati dan tidak respect, karena kita menutup sesuatu tanpa penutup yang baik. Yha, semua orang juga ga suka kan sesuatu yang tanpa penjelasan, heu~

Komunikasikan dan bicarakan adalah kunci dari dua poin yang dibahas sebelumnya. Kalau misal kita bicara dengan orang yang tidak kita suka sekalipun, mengutip dari hadits, lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Tetap lakukan proses komunikasi dengan niatan mencari titik temu antara hal-hal yang perlu dikomunikasikan. Jangan ketika tahu dengan siapa harus bicara, sudah ada mindset yang mengunci diri kita dengan orang itu, lalu jadi males duluan. Tidak ada tembok yang perlu dibangun. Kalaupun kesal dengan seseorang, kita perlu bedakan mana ranah pribadi dan ranah profesional. Sabar, mulai dengan bismillah.

Terakhir, soal menjaga. Saat ada di fase terasa orang menjaga jarak dengan kita, barangkali emang ada jeda yang hendak diciptakan oleh orang tersebut. Kalau merasa ada salah dan perlu konfirmasi untuk minta maaf (takutnya ada kesalahan yang ga sadar dilakukan), silakan minta maaf. Tapi kalau tidak perlu, biarkan saja. Hormati jeda yang dibuat. Mungkin, orang tersebut pun berusaha keras sebenarnya dalam menjaga jarak dan menciptakan jeda. Dan kalau kita tahu emang itu yang dibutuhkan, berusahalah untuk sama-sama menjaganya.

It seems banyak muter-muternya. Sekian.


Waktu Orang Dewasa

Waktu itu puasa, sore-sore.
Fatih sulit diminta mengaji. Maunya main dan main. Diminta mandi juga sulit.
Habis mandi masih tidak mau mengaji, lalu kubujuk-bujuk baca buku cerita, daripada main game atau nonton kan --". Awalnya nggak mau, alhamdulillah lama-lama mau. Bukunya second, kubeli online karena dulu aku punya kesan mendalam terhadap buku itu semasa main ke rumah sepupu abi dan sepupuku. Kalau pernah tau sesuatu yang bagus tu rasanya kayak pengen semua orang tau dan ikutan baca. Kelak, ingin kujadikan inventaris perpustakaan anak yang kubuka (aamiin).

Dan, bahagia itu sesederhana dia juga tertarik sama bukunya. Bahkan selanjutnya bisa dibilang, ia merepotkan. Sibuk bertanya satu dua, sibuk memastikan apa yang ia lihat, sibuk bilang ini kan ini, itu bener kan, atau ini gambar apa, atau kenapa namanya begini. Baru nengok hp sedikit habis jawab pertanyaan sebelumnya, dia sudah melempar pertanyaan lagi. Tapi itu konsekuensinya, merepotkan yang menyenangkan.

Lalu Ummi memanggil, katanya sebentar lagi buka. Saat menunggu adzan yang masih 5 menit lagi(5 menit lama, kan?), Fatih sudah mengeluh, bilang harusnya biarin aja nunggnya sambil baca. Tuh dek, jadi keranjingan kan :") ?

Anak-anak selalu butuh waktu orang dewasa. Sementara aku sering sibuk sendiri dan masih kurang ngajak bermain. Fatih kalau protes aku pulang malam suka bilang, pulangnya sore aja Mbak. Lalu aku bertanya, biar apa? Dia jawab kalau nggak ya nggak papa biar ada di rumah aja, jawaban lainnya, main-main sama Fatih. Anak segitu kecanduan gadget sebenarnya ada faktor karena orang dewasa di sekitarnya juga. Maaf ya Dek :"

26 Mei 2018

Monolog 31 Mei 2018

Hari ini menote sesuatu, yang baru dijabarkan hari-hari setelahnya. Sebagaimana selftalkku di hari sebelumnya. Ada empat poin yang aku catat di google keep. Tapi ndak tau nanti merangkainya juga kayaknya ngga poin per poin.

Pertama, soal mengelola kekecewaan. Ada buku lama, second, dan langka yang aku incar belinya. Aku keep terus di cart dan ngga aku mulai-mulai proses bayarnya karena harganya lumayan :" jadi seacam nunggu promo gitu. Tapi finally, aku keduluan orang belinya. Kecewa sih, sampai beberapa hari masih kerasa heuheu. Berusaha mengalihkan harap emang agak sulit, konsep bukan rezeki saya emang perlu dikuatin. Dan juga ditambah penguatan dari kajian apa gitu yang awalnya buan tentang rizki sih, tapi ustadnya sempet bilang, kalau kita pengen sesuatu dan hars kelaksana, jangan-jangan itu hawa nafsu. Yah hari-hari kedepannya cukup berjuang sih mengurangi rasa kecewa itu. Ndakpapa fit, belajar.

Lalu aku juga belajar soal mengelola emosi. Kalau tanggal 30 aku sempat bilang aku berusaha untuk selalu tersenyum, ternyata, it is not as easy as that. Haha, kita emang akan diuji dengan hal yang kita perlu belajar darinya, ya. Hari ini aku berangkat dengan perasaan kesal, lupa juga sih sekarang mah keselnya kenapa. Sampai kantor, awal-awal masih irit bicara dan fokus sama diri sendiri. Tapi lambat laun, percakapan menunjukkan bahwa dibutuhkan respon dan perhatian lebih. Akhirnya aku belajar untuk mendrive hati dan emosiku agar bisa memberi respon yang lebih positif dan proaktif. Di kantor, aku juga ketemu sama manusia dan kita berurusan satu sama lain. Mau sampai kapan perasaan bt yang aku bawa dari rumah berefek pada orang lain (ini ternyata aku note bener tgl 31 itu dengan kata-kata inti yang serupa). Ini sulit, tapi somehow ada masa orang lain butuh kita dan ga mungkin kita jadi ga respon. Lah saya yang awalnya kesel, kenapa bawa-bawa dan merugikan orang lain. Dan selanjutnya setelah saya berusaha memberi tanggapan, ternyata jadi lega juga sih. Perasaan keselnya hilang sedikit demi sedikit.

Selanjutnya aku belajar soal make something clear as soon as possible. Ketika ada hal-hal yang belum jelas, konfirmasi segera. Walau menguras emosi buat konfirmasinya, pastikan apa yang kita perlu tau (ini bukan konteks kepo, konteksin kerjaan aja), pastikan dengan drive kia sendiri, bukan menunggu dikasih tau sama orang lain. Karena miskom itu berat, efeknya bisa jangka panjang. Ya keselnya, suuzonnya. Jadi, bakal tambah capek kalau gini terus. Pastikan sesuatu cler agar tidak menimbulkan asumsi bahkan suuzon. Di sisi lain, jika konfirmasi itu cukup menguras energi juga, sabar. Miskom bisa lebih menguras energi.

Terakhir, jangan menghindari masalah. Selain karena Allah ga akan ngasih masalah kecuali Allah mau kita belajar darinya, Allah ga akan melepas hambaNya dari suatu ujian kalau hambaNya belum lulus ujian itu. Karena ya Allah pengen kita belajar dan lulus untuk hal yang sama. Walau case ujiannya berbeda, kita bakal ketemu masalah yang sama sampai lulus. Selain ittu semua, menghindar juga ndak akan menyelesaikan masalah. Apalagi kalau masalahnya sama orang yang frequent ditemuin.

Empat hal besar ini yang aku tulis di googlekeep 31 Mei lalu. Semoga bisa jadi reminder buat diri sendiri.

Rabu, 30 Mei 2018

Monolog 30 Mei 2018

Hari ini pulang habis magrib, setelah dua pekan terakhir tidak menjalaninya. 

Malam ini purnama tak nampak, padahal malam ke-15.
Pikiranku jadi melayang ke seharian ini ketika di perjalanan....
Hari ini badanku rasanya rontok. Mungkin berlebihan menyebutkannya, tapi pegal di sana-sini. Lanjutan hari kemarin ternyata belum kembali pada kondisi normal sedia kala. Hal yang membaik alhamdulillah bersin-bersin hari ini sudah lumayan berkurang. Hanya masih mudah merasa kedinginan, rupanya. 
Tapi hari ini aku bisa tersenyum, dan (berusaha) merespon orang lain dengan (semoga) baik. Aku jadi belajar bahwa mengelola perasaan tanpa tergantung sama kondisi fisik itu sebenarnya bisa. Tapi kondisi fisik bisa berubah karena perasaan yang tak enak.

Mungkin itu kenapa, ada pasien yang ceria dan riang, walaupun dirawat sekian lama di rumah sakit dan belum terprediksi kapan sembuhnya. Sementara, kalau perasaannya sudah tak enak, badan juga rasanya capek. Mau ngapa-ngapain nggak enak. 

Jadi malu sendiri mengingat beberapa masa lalu saat aku sedang pada puncak load dan muncul banyak ga enakan ke teman-teman, bahkan senyum sedikit pun aku pelit....
Habis itu emang pengen belajar gimana caranya biar bisa ramah dan penuh senyum kembali. Ini mengingatkan ke masa aliyah sih. Dulu sampai ada teman yang mengapresiasi senyumku dan bilang kalau dia jadi belajar tersenyum untuk bahagia, ketika orang tersenyum karena bahagia. Sebenarnya aku mengulang-ulang kalimat ini sejak aku ada pada puncak load itu. Bisa kembali ke diri yang dulu sampe temenku bilang gitu mungkin emang belum mudah, tapi mestinya bisa diusahakan. 
Walau ya ditengah-tengah hari ini pun pikiranku satu dua juga kepikiran sama hal-hal lain. Pertanyaan-pertanyaan yang entah kapan aku paham jawabannya, hal yang membuat terkejut, hal yang membuat perlu menahan diri, hal yang membuat aku berpikir, hal yang membuat aku menerka. 

Tapi aku mau belajar, buat bisa masang senyum pada wajah. Terserah lawan bicaraku responnya gimana. Aku mau belajar tetap berusaha ramah ke orang, walau responnya mungkin ndak sesuai yang diharapkan. 
Walau tadi aku juga sempat mendongak dan melihat langit gelap yang tanpa rembulan itu, bagaimana mengelola wajah yang baik saat memang sedang sedih, sedang ada masalah, sedang ingin bercerita tapi tak bisa atau tak tahu pada siapa....
Aku jadi ingat temanku yang selalu tersenyum. Yang ada masalah ndak keliatan, yang disayang banyak orang. Di sisi lain aku juga bertanya, apa itu baik? Atau lebih baik menampakkan mood dan perasaan di wajah. Biar saja. Nyambung gak ya kalau aku hubungin dengan bulan yang, ya dia sebenarnya ada. Tapi ada waktunya kapan dia ketutup mendung, kapan benderang. Kapan hanya tersenyum dengan sabitnya, kapan memancarkam penuh sinarnya kala purnama. Entahlah....

Pertamyaan-pertanyaan itu masih membenak. Mungkin diredam dengan sabar dan syukur mestinya sudah cukup.

Malam ini bersin-bersin dan pusing lagi rupanya. Semoga besok sudah membaik....

Selasa, 29 Mei 2018

Today's Monolog

feeling very tired in the rest of the day. hope tomorrow will be better by finishing today's homework (at tomorrow), share the time and capability, and finishing the rev. meeting prep. and also, happy faces of all people:") *semoga ga da ga enak-ga enakan lagi

tepar banget rasanya hari ini, pulang depok cibinong di hari libur saat puasa ternyata padet banget jalanannya. berkali lipat dibanding hari biasa. habis maghrib rasanya pingin tidur karena berat banget kepalanya.

tapi tentu saja, ada yang harinya lebih lelah dari aku. jadi, selalu bersyukur ya fit :")