Minggu, 13 Agustus 2017

Transfer Antar Bank Tanpa Biaya? Di-Flip-in aja!

Sejak punya rekening sendiri, saya sering melakukan kegiatan transfer uang. Mulai dari kegiatan yang berhubungan dengan akademik seperti ikut seminar berbayar yang diadakan oleh jurusan, beli buku kuliah online, donasi, sampai juga membeli kebutuhan pribadi maupun keluarga. Karenanya, kegiatan transfer sering saya lakukan. Alhamdulillah fasilitas online banking yang saya aktifkan sangat menunjang aktivitas ini sehingga saya tidak perlu selalu mampir ke ATM atau Bank untuk melakukan transfer.

Seiring berjalannya waktu, saya sadar bahwa transfer antar bank  yang memiliki konsekuensi biaya transfer sebesar 6.500, 7.500, 2.000, dan biaya yang disepakati antar bank itu, kalau dikumpul-kumpul banyak juga. Saya yang merasa sayang dengan uang yang harus dialokasikan hanya untuk biaya transfer berpikir bahwa lebih baik saya datang ke bank tujuan untuk setor di teller. Antri sedikit biarlah tak apa. Yang penting uang di rekening tidak terpotong biaya untuk transfer.

Kala itu, saya selalu melakukan strategi tesebut untuk mengantisipasi pengeluaran tambahan untuk biaya transfer. Fasilitas online banking saya gunakan untuk antar bank jika memang kepepet dan tidak sempat datang ke bank tujuan. Lama-lama saya merasa ribet juga. Dan tentu saja, tetap ada biaya transfer yang saya harus keluarkan.
tampilan website flip.id

Suatu hari, saya dikenalkan dengan Flip. Saat itu flip masih merupakan aplikasi berbasis website yang membantu melakukan transfer antar bank tanpa biaya. Wah, saya langsung tertarik dong. Saya coba dan ternyata cara kerjanya adalah saya transfer melalui rekening perantara yang satu bank dengan bank yang saya gunakan. Nanti dari admin akan meneruskan transfer saya ke bank tujuan.

Kala itu Flip masih baru. Rekening perantara yang digunakan juga belum rekening perusahaan. Namun saya percaya karena direkomendasikan oleh teman yang telah menggunakan Flip. Transfer melalui flip biasanya ditambah kode unik. Tapi tenang saja, nominal kode unik ini nantinya akan menjadi saldo yang disimpan di setiap akun menjadi deposit dan dapat diambil.

Sejauh ini, Flip sangat membantu saya dalam melalukan kegiatan transfer. Kabar baiknya, setelah survive dalam bentuk website, Flip juga hadir dalam bentuk aplikasi mobile. Terasa sekali manfaat Flip yang telah saya rasakan. Karena selama saya menggunakan Flip, ada juga teman saya yang menggunakan akun saya untuk transfer, tertera pada halaman depan bahwa selama  menggunakan Flip, saya (dan orang-orang yang menitip) telah melakukan penghematan sebesar 162.500.

Nggak sadar kan ternyata dari biaya-biaya transfer itu kalau dikumpulkan bisa menghasilkan angka besar. Tertarik? Cobain yuk!

Tulisan Ini Adalah Tugas Dari Kelas Ngeblog Seru #2 Bersama Naqiyyah Syam




Selasa, 08 Agustus 2017

Al Hadid#3:Edisi

Kemarin waktu jadwal tilawah, notice hanya ke Al Hadid ayat 11 dan 21 yang ada di postingan sebelumnya di Al Hadid#1 dan Al Hadid#2. Eh, malamnya lihat postigan IG Kak Septi yang mengutip ayat lain.

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (Al Hadid 22-23) 

Allah knows best. Tapi kitanya-bahkan yang sudah tahu-, memang harus senantiasa diingatkan :')



Al Hadid#2:Edisi Surga Seluas Langit dan Bumi

"Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar."-Al Hadid:21

Saya pernah baca di notes Dina* di Qurannya, kurang lebih kalimatnya begini  Betapa sedih ketika kita mengetahui bahwa surga luasnya seluas langit dan bumi, tapi belum tentu kita ada di dalamnya...




*Dina ini musyrifah saya di suatu agenda, alumni aliyah HK, aslinya sekolahnya seangkatan. Sedang masa penjagaan hafalan 30 juz :')


dibaca di Badr,
7 Agustus 2017


Al Hadid#1:Edisi Pinjaman Kepada Allah

"Barang siapa meminjamkan kepada Allah denan pinjaman yang baik, maka Allah akan mengembalikannya berlipatganda untuknya, dan baginya pahala yang mulia," -Al Hadid:11 
"Sesunggunya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia."-Al Hadid:18

Belakangan, setiap ke Badr lewat jalan dalam, saya selalu melihat kambing dan domba. Gak terasa sudah kurang dari sebulan lagi, idul adha akan diselenggarakan. Setiap lihat kayak gini tuh inget jaman masih di PPSDMS lewatin Jl. Kaliurang area tertentu yang di sana berderet jual kambing untuk kurban. Jadi ancang-ancang kalau nggak mau nyium baunya dari jauh-jauh udah nahan nafas. Dan tahun ini pun-untuk pertamakalinya setelah 2007-ngerasain suasana pra-idul adha di sekitar Cibinong (baca: baru Depok, ding).

Terus kemarin waktu jam tilawah di Badr terjemah ayat ini yang dibaca. Sempet diem sebentar dan tercenung. Kita itu, dari seluruh nikmat yang sudah Allah beri, seberapa bisa ya meminjamkannya kembali ke Allah. Padahal mah semua yang kita punya juga pinjaman sih. Tapi kita teh masih suka itung-itungan ke Allah. Belum bisa setotalitas para sahabat yang dulu mah sampe rela miskin karena nyumbangnya banyak untuk keperluan dakwah Islam.

Di sisi lain, momen menjelang idul adha ini saya teringat kisah yang pernah saya dengar. Kisah ini kisah asli. Alkisah ada seorang mahasiswa berusia 19 tahun yang udah niat pengen kurban. Dan alhamdulillah, Allah berikan ia kemampuan kurban di usia tersebut. Bertahun-tahun kemudian, ia punya anak yang mau masuk kuliah. Kala itu si ibu sempat bercerita tentang niat kurbannya jaman kuliah itu. Setelahnya, si anak punya azzam yang sama. Bisa kurban sendiri sejak usia 19 dan kalau bisa setelah-setelahnya. Singkat cerita, anak itu berhasil mewujudkan niatnya.

Dalam perkara cerita tersebut, barangkali teman-teman juga pernah mendengar kisah yang sama, mirip, atau bahkan lebih heroik dalam artian perjuangan yang lebih sulit. Tapi di atas itu semua, saya ingin menekankan pada teladan orang tua bagi anaknya. Saya tidak tahu apakah terselip harapan baahwa si anak akan mengikuti jejaknya ketika sang Ibu bercerita. Namun, yang saya tangkap, sang anak merasa terinspirasi oleh niatan ibunya yang mengazzamkan diri untuk berkurban di usia 19, sehingga ia pun memiliki tekad yang sama.

Hal ini sama dengan bagaimana Ismail rela disembelih oleh Nabi Ibrahim ketika tahu bahwa tu adalah perintah Allah. Tentu ada suatu metode pendidikan dari Ibrahim yang membuat Ismail sedeikian taatnya pada Ayahnya atas dasar ketaatan pada Allah.

Hm, awalnya mau nulis yang intinya 2 ayat tadi sih, tentang pinjaman kepada Allah. Tapi ternyata ini jadi nyambung ke keteladanan orang tua. Untuk menutup, semoga kita bisa jadi orang yang dermawan untuk berinfaq di jalan Allah, dan semoga kelak bisa juga memberikan teladan yang baik bagi anak-anak kita (takut eh nulis yang terakhir). Semoga kita bisa terus nabung sampai eksekusi untuk bisa senantiasa ikut berkurban da menunaikan haji (karena idul adha kan momennya momen ibadah haji juga).

Aamiin.

Baca juga : Merencanakan Makkah

Badr-Rumah
7-8 Agustus 2017



Minggu, 06 Agustus 2017

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle

happy daily: Pendapat tentang sukses dan struggle: Kalau ada orang bisa menghafal satu halaman Qur'an hanya dengan 10 menit dan ada orang yang baru bisa menghafal satu halaman Qur'an ...

"Ketika orang bisa sukses dengan mudah, bisa memiliki pencapaian hidup dengan cepat, maka dia haru segera berpindah menuju pencapaian sebelumnya. Supaya ga banyak waktu sia-sia yang terbuang. Itu rezeki dia, dengan segala akselerasi dalam hidupnya, dia bisa memiliki banyak hal dan mencapai banyak hal dalam hidup. Tapi, kalau cepat sukses naun gampang terlena, waktunya habis untuk banyak kesia-siaan. Menikmati kemewahan hidupnya.


Sedangkan orang yang struggle dan tidak menyerah dengan tujuannya, maka kemungkinan besar hidupnya selalu diisi oleh attempt-attempt yang baik, selalu bersyukur, bersabar sambil menikmati proses menuju pencapaiannya. Bisa jadi dalam perjalanannya dia mendapat pelajaran hidup yang banyak, dikasi kesempatan untuk beramal yang banyak dulu, berdoa yang banyak, beribadah yang banyak, sehingga prosesnya selalu diisi oleh hal-hal yag bermanfaat.

So, that's okay kalo struggle. Ga perlu iri dengan keberhasilan orang, karena untungnya Allah nilai kita dari proses, bukan hanya dari hasil. But for some people out there who are lucky enough to achieve success quickly, segeralah berpindah mencari proyek kebaikan selanjutnya karena keerhasilan kadang emang melenakan. "


thank you, anisah!

Lika Liku Awal Belajar Tata Letak Blog

Tulisan ini ingin saya mulai dari pendahuluan bahwa saya mulai punya blog dari kelas 5 SD.

Dulu, platformnya pakai multiply. Alasannya, karena banyak penulis-penulis FLP yang saya tahu lewat profil penulis di buku-bukunya, punya blog di multiply. Jadilah blog pertama saya yang berdomain multiply, dibuat kelas 5 SD. Posting tulisan pertama, lalu selesai, tidak pernah disentuh lagi.

Sampai ketika saya kelas 8 (2 SMP), kalau tidak salah, laboratorium komputer baaru di SMP saya selesai dibangun dan sudah boleh dioperasikan. Ketika akses internet mulai bisa kami lakukan, maka saya teringat dengan blog itu, dan mulai coba-coba merawatnya.

Blog dengan platform multiply itu tampilannya memang seperti kita punya rumah besar dengan banyak ruang. Kita punya teras (home), punya tempat album sendiri, punya rak untuk daftar link, punya rak daftar video, bisa buat daftar lagu yang ingin didengar, punya bagian khusus untuk agenda, dan punya bagian khusus kalau kita mau me-review buku ataupun film. Nah, untuk yang pertama, karena punya home, dan waktu itu media sosial friendster lagi ngetren, jadilah sekali dayung dua pulau terlampaui untuk belajar "menghias" bagian home dengan hiasan alay ala-ala yang hits waktu itu; glitter, jam, teks dengan segala efeknya (efek gerak efek ilang timbul, dsb), formatting berbeda tiap ada penekanan pada kalimat tertentu, dan lain sebagainya.

tampilan blog ketika itu :" itu judulnya gerak-gerak gitu jalan dari kanan ke kiri

Dan di sini perjuangan selanjutnya adalah mencari template blog yang pas dan sesuai dengan mau kita.

Kamis, 03 Agustus 2017

Ilmu dengan Adab

Ibu Sufyan Ats Tsauri merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.”

Sang ibu juga berpesan, “Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah itu mengubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.”

(Al Kawakib Ad Durriyah, 1/231)

Pada suatu masa di perjalanan dari warung sop-soto di Karangwuni, masih di atas jok motor, saya bersama Nusa, si calon ketua KAMMI Sleman  membicarakan kutipan ini. Bagaimana bisa ilmu dibilang dapat mengubah cara jalan, keadaan, kelembutan, serta ketenangan. Menambah hal-hal di luar pemahaman, wawasan, dan kebijakan.

Lalu Nusa berkata, karena ilmu, semestinya diperoleh dengan adab. Maka adab menuntut ilmu lah yang membuat kita mendapatkan hal-hal tersebut, sehingga tersebutlah ilmu itu memberikan manfaat; bukan justru membahayakan.

Semoga, adab dalam menuntut ilmu bisa terus kita ingat dan laksanakan dalam setiap kesempatan. Sehingga kita bisa memperoleh apa yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat dalam kutipan tersebut.

Yassarallahu amrana!

#ntms
Terima kasih berbagi insightnya, Nusa! Semangat kamu skripsinyaa :")

*ps: itu halaman motto di skripsi, dulu pertama banget nemu quote itu dari akun OA Dakwah Islam di line

Picture : Kodomo Raiburari

when i suddenly found this pict and...i wanna post these all
-perpus yang jauuuh banget dari stasiun, dibela-belain bujuk temanjalan waktu itu kesana setelah ke beberapa tujuan dan ternyata perpusnya....tutup hari itu :")

*kumenyesal ndak foto bersama gambar sebelumnya. eh tapi di yang di sparklingin itu masih keliatan ding :") Semoga Allah kasih kesempatan di lain waktu untuk masuk dan mengeksplor.

btw, setelah kepo, nama website perpus ini id URL nya kodomo (gemes banget gak sih, kodomo tu artinya anak-anak :")


dilihat dari pintunya aja, kita bisa menebak bahwa dalamnya akan banyak petualangan :")

once upon a time, kita harus ketemu lagi, ya :')

tambahan bonus
-perpuskota Jogjakarta; setelah dikasih blokade area khusus yang lumayan tinggi itu, belum pernah baca-baca lagi. Dulu mah, masuk aja dan baca buku-buku di sana. Ada beberapa buku anak yang ngga biasa ceritanya; tapi matter dan bisa ngasih pandangan soal case kehidupan yang ngga biasa jadi konten bacaan anak. Sayang, terakhhir nyari di toko buku ndak ada :"

-perpus Magelang, depannya doang soale masih tutup libur lebaran

-There is a reason why I posted these pictures after accidentally finding the first photo that evokes my memories :')

-Rumah, 3 Agustus 2017




Minggu, 30 Juli 2017

untuk Shofi


Rasanya masih tidak percaya ketika pertama kali mendengar kabar Shofi Jumat kemarin. Bukankah rasanya baru saja pagi atau semalam aku lihat update igstory kamu, Shof?

Dear Shofi,
aku kehabisan kata-kata sore itu. Jumat itu. Aku merinding dan bahkan sampai sekarang pun masih sesekali. Riangmu, semangatmu, ambisiusmmu, jurnal ilmiahmu, keimpulsifanmu, galaumu.
Barangkali aku belum sedekat itu sama Shofi. Tapi, aku belajar banyak hal soal kesungguh-sungguhan yang kau cerminkan. Aku mengagumi tekad kuatmu untuk jadi scientist. Aku heran kenapa energimu tidak pernah habis, kenapa kamu begitu betah baca jurnal ilmiah, kenapa kamu bisa terlihat sebegitu riang walaupun terkadang kamu tidak enak badan.

Perginya Shofi jadi teguran keras buat kami;
Apakah kematian tidak cukup menjadi pengingat?

Bukannya baru semalam kamu menempuh kereta Jakarta-Yogyakarta? Bukankah paginya pukul delapan kamu baru selesai mengirim email untuk deadlinemu? Bukankah beberapa teman kita baru saja berbalas komen denganmu dua jam yang lalu sebelum berita itu sampai pada kami?Bukankah rencana kembalimu dari Jogja tinggal senin besok? 

Tapi Allah memintamu pulang duluan. Lebih dulu dari rencanamu. Lebih abadi dibanding tujuan pulang awalmu.

Dear Shofi,
aku yang tidak sealmamater kampus saja menyaksikan bahwa betapa banyak yang kehilangan sosokmu. Apalagi mereka yang banyak irisannya denganmu, ya :"
Mereka mengenang kebaikan-kebaikanmu. Semangat juangmu yang terus menyala. Energi yang tidak pernah habis. Kontriubsimu yang jauh dari rasa lelahmu. Keinginanmu untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat lewat mimpi-mimpi penemuanmu.

Semoga rahmat dan ampunan Allah selalu ada padaMu Shof. Semoga kebaikanmu masih terus mengaalir, karena kami yang kamu tinggalkan, rasa-rasanya masih menerima itu semua. Kelak, semoga kita bisa berjumpa di surga,, ya Shof.


Kami sayang Kamu, Shof.


Selamat Jalan, Kepulangan. Selamat Datang, Kepergian..Kebanyakan dari kita selalu rindu kepulangan akan rumah. Menanti-nanti waktu berakhirnya hari dan menyambut lonceng tanda pulang dengan kebahagiaan. Akankah kelak kita menyambut dengan suka cita pula, saat Allah menyerukan panggilan untuk pulang menuju ke rumah keabadian?Pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat. Kepulangan seperti senja yang indah adalah akhir yang tenang dan membahagiakan. Mungkin ia adalah perpisahan, tetapi ia menjadikan kepergiannya membekas indah pada orang-orang yang ditinggalkannya.. -via Siti Nur Rosifah


Fitri-yang merasa kehilangan
semoga aku bukan menjadi orang yang merugi 
karena tidak menjadikan kabar ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri





update
“Karunia yang Allah berikan lebih besar daripada musibah, karenanya kita harus bersyukur.” -Abinya Shofi-via tulisan indah 

Jumat, 28 Juli 2017

#KomikPalestina : Rekomendasi Buku Anak Edisi Hari Anak 2017

Ahad lalu bertepatan dengan tanggal 23 Juli 2017. Tentu kita sudah tidak asing mengenal tanggal ini sebagai hari anak yang diperingati setiap tahunnya di Indonesia. Saya yang kebetulan banyak follow akun media sosial penerbit buku anak dan penulis buku anak pun melihat banyak postingan yang berkenaan dengan hari anak ini. 

Bagi beberapa orang, suatu tanggal diabadikan jadi tanggal peringatan suatu momen mungkin tidak terlalu penting. Saya pribadi juga nggak menganggap itu penting yang gimana banget gitu sih. Tapi, bagi saya momen peringatan adalah waktu untuk kita jadi semcam dikasih alokasi waktu untuk ngeh sama hal-hal yang berkaitan dengan momen itu. Kayak dikasih porsi khusus gitu, lho.


Khusus pada momen hari anak kemarin, selain peringatan hari anak, di media sosial juga lagi gencar soal Palestina. Bukan hanya konten berita, tapi juga komen-komen soal Palestina. Salah satunya soal anak-anaknya. Karenanya saya sempat terbayang tentang momen hari anak di Palestina.

Two Mates of This Week

Juli ini memang sesuatu :")

Kamis, 27 Juli 2017

Al Fath : 11; Hati dan Mulut Kita


(
((mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya))

Halo, seberapa sering mengatakan (se)suatu doa karena kebiasaan, bukan memang karena sungguh-sungguh ingin dikabulkan isi bacaannya?

Seberapa sering membaca bacaan hanya karena yahu harus dibaca saja, tanpa paham apa makna bacaannya?


Badr, 25 Juli 2017

Minggu, 23 Juli 2017

Kapan Waktu Terbaik Memulai Puasa Daud?

Saya baru tahu praktik puasa daud waktu di Insan Cendekia. Sebelumnya, saya tahu secara teori namun belum pernah tahu ada yang mempraktikannya. Di Insan Cendekia, saya mulai melihat orang-orang yang memulai puasa daud (maupun meneruskan kebiasaan shaumnya sejak sebelum masuk IC).

Singkat cerita, Bu Evi, wali asrama putri angkatan saya ketika itu pernah berkata.
"Kalau mau mulai puasa daud, waktu yang paling baik itu, setelah selesai puasa Ramadhan. Karena saat itu perutnya sudah terbiasa dengan ritme puasa."

(baca:tentunya setelah menyelesaikan tanggungan hutang Ramadhan dan menuntaskan syawal).

-edisi tetiba ingat karena besok sudah penghujung syawal
Terima kasih, Bu Evi :)

Rabu, 19 Juli 2017

19-7-2017:This Night Vibes❤

Sudah lama menunda menulis. Kadang takut orang berprasangka. Kadang takut orang berlebihan mehgira-ira. Kadang pingin nuangin apa yang udah jadi draft berpekan-pekan lalu. Kadang sesederhana tidak menyediakan waktu. Maka, untuk merayakan dua postingan ini, instead of saya pos di igstory atau wastory, ditaruh sini saja, ditaruh rumah.




Halo, apa kabar kalian semua?

Selasa, 11 Juli 2017

Di Stasiun (Cibinong)


Stasiun Cibinong, sebagaimana stasiun-stasiun lainnya. Menyimpan banyak cerita. Tentang berpindah. Tentang pergi dan kembali. Tentang peluk-tangis-berpisah. Tentang perjuangan pagi-pagi. Tentang berebut antri keluar dari loket tiket. Tentang banyaknya penjemput yang mencaricari. Tentang gelisah protes orangorang yang penjemputnya belum sampai. Terlebih, tentang kontemplasi.
Stasiun ini sebenarnya sudah lama. Baru beroperasi kembali sekitar 1-1,5 tahun terakhir, kalau tidak salah. Terakhir dulu waktu saya awal-awal SD. Selebihnya, karena tidak dipakai, maka dinikmati sebagai tempat jalan-jalan : jalan habis sahur, ngabuburit, atau ahad pagi sebagai pemuas penasaran anak-anak kecil yang ingin tahu bagaimana rupa kereta tapi belum pernah mengindaranya langsung dengan mata. Maka cukuplah rel menuntaskan penasarannya.

Stasiun ini kecil. Tak punya kedai roti rasa kopi, minimarket, atau penjual roti maryam. Bahkan mesin atm satupun ia tak punya. Pekarangannya yang dulu terbengkalai sering dipakai main bola-bahkan sampai sekarang. Satu dua kali ada orang belajar motor di sana. Parkiran hanya bisa menampung motor dan itu pun akhir-akhir ini. Tidak ada parkiran mobil sama sekali. Tidak dilalui angkot di depannya. Depan stasiun ada dua sekolah dasar sehingga ramai abang jualan. Dari jualan jajanan sampai makan besar. Ada saja yang jualan dari jam jual abang bubur pagi-pagi sampai pecel lele kala malam.

Stasiun ini menyenangkan. Setidaknya bagi saya yang cukup menempuhnya hanya dalam bilangan rerata 10 menit berjalan kaki dari rumah. Kadang kurang, kadang pula lebih. Walaupun jalannya menanjak. Tidak apa. Tapi bisa mengantar kemana-mana. Meskipun jadwalnya masih terbatas; hanya 9x satu hari. 

Di stasiun suatu ketika, seorang anak perempuan dilepas ayah bundanya. Bawaannya memperlihatkan ia hendak pergi ke tempat yang jauh karena tasnya yang besar dan berjumlah dua. Orang tuanya memeluk lekat-lekat. Erat. Dua satpam menelan ludah. Amboi, betapa lamanya dirnya tidak dipeluk lekat-lekat oleh orang tua. Wajahnya menyiratkan rindu yang tak terkira. Stasiun, sebagaimana biasanya, selalu melukiskan pisah dan jumpa, antar dan jemput, temu atau lalu.

Di stasiun suatu ketika, seorang nenek bingung bagaimana tiket kartu bekerja. Maka petugas membantu dengan sukarela. Rombongan keluarga kerepotan hendak pergi ke rumah saudara. Petugas membantu dengan sukarela. Berulangkali orang bertanya memastikan arah. Maka sebanyak itu pula petugas menjawab. Di atas itu semua, barangkali hati petugas sering juga membatin: kapankah aku bisa ajak orang tua di kampung coba kereta antar kota? Kapankah bisa bersama berlibur naik kereta antar kota? Kapankah aku memijak tempat-tempat yang tadi ditanya.

Orang-orang terburu. Memenuhi loket keluar untuk segera mencapai tujuannya masing-masing. Ada yang ingin bergegas shalat karena tadi kereta berangkat persis waktu azan. Ada yang ingin lekas mampir beli oleh-oleh untuk buah hati: sekadar jajanan SD yang masih ada di dekat sekolah. Ada yang menunggu temannya. Ada yang ingin segera melepas penat di rumah. Ada yang ingin buru-buru melepaskan segala tumpah ruah pikiran dan perasaan di sudut ruang ternyamannya.
Cerita-cerita itu barulah yang tertampak mata. Runyamnya hati orang-orang disana tentu jauh lebih banyak. Berbagai pikiran memenuhi benak, mengisi ruang hati. Ada yang menimbulkan sesak, ada yang menaburkan bunga. Ada yang ingin dipendam sendirian, ada yang ingin segera diceritakan. Ada yang menyebabkan diam, memilih duduk lama di pinggir. Ada yang memburu-buru harus segera sampai.

Stasiun (Cibinong) selalu menyimpan banyak cerita.

Stasiun Cibinong,
17.17
11-7-17
*tanpa rekayasa waktu



Senin, 10 Juli 2017

Sepuluh Kebaikan

Saya menemukan ayat ini di Quran. Lalu, saya ingat postingan lama di sini. Waktu itu nggak nemu ayat ini jadinya pake ayat di Al Baqarah yang tentang sedekah.
Sekalian saya repost di sini. Postingan ini 2014 (meskipun lupa kejadian eksaknya lebih lama lagi). Kala itu umur Fatih barangkali 5 tahun lebih sedikit.
Matematika Kebaikan
Di rumah, Ummi pernah ngajarin Fatih kalau berbagi itu akan dapet 10 kebaikan.
Sampai pada suatu hari Ummi gorengin bakso buat Fahri sama Fatih. Bakso yang digoreng ini ukurannya masing-masing dipotong dulu, jadi per buah udah ukuran 1/2.
Kemudian bakso jatah Fahri udah habis. Sedangkan Fatih belum. Sisa empat buah (bakso ukuran 1/2) di piringnya.
Ummi : "Fatih udah nggak mau?"
Fatih : "Enggak, Mi."
Ummi : "Kasih Mas Fahri, ya?"
Fatih : "Yaudah deh Mi buat Mas Fahri aja."
Ummi pun udah mau ngasih baksonya buat Fahri, sampai kemudian Fatih ngomong lagi.
Fatih : "Dipotong-potong dulu deh Mi baksonya. Satu-satu dipotong-potong jadi dua aja." *(jadi ukurannya masing-masing 1/4 maksudnya)
Ummi : "Lho, kenapa ? Fatih masih mau?"
Fatih : "Enggak, Mi. Biar Fatih dapet pahalanya delapan puluh." *ngebayangin wajah polos anak ini
Ummi senyum, jelas gemes banget sama anak ini.
Ini cerita udah lumayan lama. Saya sendiri diceritain pas liburan kemarin. Jadi dalam kenyataannya mungkin redaksi kata-katanya ada yang beda, tapi insya Allah inti ceritanya tetap sama.
Mungkin Fatih emang itung-itungan jadinya, tapi secara logika, walapun masih kecil, Fatih ngerti kalau makin banyak berbagi, maka kita akan semakin banyak dapet kebaikan dari Allah. Meski ya emang aplikasinya kelihatannya kecil banget, cuma bakso yang kalo dipotong-potong lagi pun nggak akan nambah total pemberiannya.
Hayo, kita yang udah gede dan ngerti prinsip berbagi yang dijanjiin Allah ini, masih suka pelit dan perhitungan nggak?
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah : 261)
btw, mungkin dengan mengajarkan hal seperti ini belajar Matematika buat anak kecil akan terasa lebih menyenangkan #eh #salahfokus
Renungan buat diri sendiri juga
kangen kamu, Dek :')

Al A'raf : 23; Doa

Untuk yang belakangan terjadi dan terpikirkan :"

pas banget buka, pas banget ayat ini :"

Stasiun Cibinong, Kereta Nambo-Angke


Rabu, 28 Juni 2017

Cerita Puasa : Cipratan Saos

Ini postingan yang udah pengen ditulis dari jaman kemarin puasa itu.
Singkatnya, buka pertama puasa di ruamh tiga tahun belakangan sejak 2015, jatuh pada hari ke 10 puasa Ramadhan ini.

Waktu itu, pas sekali Abi dan Ummi pulang sore. Saya diminta nemenin adek-adek nyari buka di luar. Ummi mah nyuruhnya cuma sampai ke ujung gang. Tapi karena adik-adik mah udah niat pisan nyari jajanan favorit (yang ujungnya nggak nemu abang milung-cilung), akhirnya mantep banget kami bertiga jalan ke stasiun.

Abangnya nggak ketemu, tapi dekadek nemu jajanan lain yang akhirnya jadi kayak harta karun mereka. Ada abang takoyaki (yang biasa mangkal di depan SD). Ini abang takoyaki standar jajanan SD, jadi harganya murah 1000 per bulatan takoyaki. Kalo biasa yang suka dijual pas bazaar atau pameran gitu kan biasanya 10.000 dapet 4. Semangatlah adek-adek itu, walau isinya juga bukan gurita. Dan karena ini untuk pertama kalinya kami beli takoyaki di abang-abang mangkal SD, adik saya -terutama yang bungsu- excited banget. Sampai mepet-mepet abangnya demi melihat seluruh proses pembuatan takoyaki dari nuang adonan sampai packaging.

Waktu si abang tako ngasih saos, saosnya sempet muncrat. Ngenain kerudung putih yang saya pakai, ngenain kaos putih yang Fatih pakai. Heu, saya yang sudah besar ini sesungguhnya agak kesel, karena mikirin pikiran standar, heu ini bekas saos ngilanginnya susah gak ya? Mana putih kerudungnya. Harus langsung direndem nih? Baru dipake juga.

Tapi adik saya si Fatih tiba-tba nyeletuk. "Untung kenanya ke kaos, bukan masuk mulut. Kalo masuk mulut, bisa batal puasa Fatih." 

Si abang yang tadinya minta maaf, terus ketawa "Wah, bisa dosa nanti Abang, Dek."

Saya geli sekaligus malu. Malu eh, masa saya yang udah besar ini kurang syukurnya. Iya ya ini kan cuma kena baju. Nah kalo masuk mulut kan lebih repot.
*Dek, makanya mulutnya mingkem, wkwkwk. Suka gitu ya bocil kalo terpesona sama sesuatu mulutnya kebuka tanpa sadar, wkwkwk.

Makasih, ya, Dek :")

Senin, 26 Juni 2017

Ayat of The Day : Keburukan yang Menarik Hati


di Quran syamil yang kubaca disebutkan : hai orang-orang yang berakal sehat (ada sehatnya). Jadi kepikir euy, selama ini berakal sehat nggak ya saya. Kok kadang masih khilaf ngelakuin hal yang menarik hati padahal mah tau itu buruk :"

Selasa, 13 Juni 2017

Jalan

Captionnya antara :
Quarter-life-crisis sama "Duhai Allah, aku mohon bantuan-Mu"

Cibinong, 13 Juni 2017
Iya, sudah lama tidak menulis. Sudah lama ngedraf doang di kepala.

Jumat, 05 Mei 2017

Jakarta dari Balik Jendela

Jakarta adalah rumah-rumah pinggir yang dilihat dari jendela kereta sekaligus bangunan tinggi menjulang gagah yang dilihat dari jendela bus kota. Jakarta adalah banyak cerita yang tersimpulkan dari dua jendela itu.

-Jakarta, 5 Mei 2017
Terlintas di kereta kedua hari ini
Ditulis di kereta keempat hari ini
//masih hutang satu tulisan fit tentang Jakarta

Impact Doing The Best

"Doing the best itu impactnya banyak, dan kadang bukan dari kacamata yang mampu kita pandang saat ini."
-Kak Jay, 5 Mei 2017
pekan lalu pas CEO Talk di MeetUp Badr

Saya menuliskan ini pada catatan di Google Keep sewaktu meetup. Suka lupa ya sama Allah akan menilai segala usaha kebaikan. Sekecil apapun. Dan kita masih suka menilai balasan yang harusnya Allah beri dari kacamata materi saja. Lupa sama nikat-nikmat lainnya. Ya Allah, mampukan kami menjadi hambaMu yang terus penuh syukur....

Senin, 01 Mei 2017

Doa Air Zam-zam

Fatih : "Mbak ini ada air zam-zam", sambil nunjuk oleh-oleh Himmah yang belum saya minum itu.
Saya : "Iya nih Dek dikasih temen."
Fatih : "Mbak, boleh gak Mbak kalo nanti Mbak Fitri minum, Fatih minta sedikiiiit aja satu tetes."
Saya : "Biar doanya dikabulin ya Dek? Emang Fatih mau doa apa?"
Fatih : "Fatih mau berdoa biar Allah kasih rezeki yang banyaaa banget ke Palestina, ke Suriah, ke Rohingnya, pokoknya ke negeri-negeri muslim." Besoknya dia cerita kalau kemenangan itu termausk ke rezeki, makanya mintanya rezeki.
Saya : "Terus mau doa apa lagi?"
Fatih : "Fatih mau doa...semoga semua dosa berubah jadi pahala."
Saya : *terharu, meski yang terakhir lucu juga mintanya, tapi minta kan gratis ya? "Nanti kita minum airnya sama-sama ya..."
Fatih : "Mbak kita boleh nggak sih Mbak minta buat dunia?"
Saya : "Boleh dong Dek, waktu Mbak Fitri minta doa biar lulus, itu buat dunia 'kan?"
Fatih : "Oh, iya juga ya Mbak..."
Saya : *dalam hati * Ya Allah Dek, seumur Kamu bahkan nanya boleh nggak doa buat dunia? Aku seumurmu malah mungkin doanya buat dunia aja :"

redaksi mungkin agak berbeda (karena keterbatasan ingatan), tapi insya Allah konten overall sama

5 Weeks Behind (3)

Hm, harusnya sih 6 weeks behind. Tapi ini udah kepiirannya dari pekan lalu.

Khusus postingan inni pengen cerita soal pertemanan aja sih.

Di tempat baru di Cibinong-Depok ini, sesungguhnya saya tidak punya daily friend sebelumnya.
Sekolah SMP-SMA di lingkungan asrama dan kuliah di Jogja membuat saya kalau pulang suka bingung mau pergi ke mana ata janjian ama siapa. Ada tapi jauh, atau mager, atau ya momen tertentu aja. Paling di rumah juga ya main-main aja sama adik di rumah. Makanya jarang keluar dan kalaupun keluar kalo ada kebutuhan aja. Maka aktvitas tetap selama di rumah adalah dengan daily routine pulang pergi ke kantor Badr, dan ini untuk pertama kalinya setelah hal rutin di rumah saya adalah sekolah SD, wkwkwk.

Di Badr, kebanyakan anak UI. Founder Badr juga alumni Fasilkom UI 3-3nya, yang dua orang satu angkatan, yang satunya jauh lebih senior. Dan sekarang keluarga di Badr sudah hampir 40 orang. Lama-lama saya jadi penasaran sama pertemanan kakak-kakak di Badr, penasaran sama kehidupan kampusnya dulu, juga misalnya eh ternyata Kak ini kenal Kak ini, dsb, hehehe. Penasaran sama asrama apa aja yang ada di sekeliling UI, penasaran sama lingkungan sekitar, penasaran sama kultur kampus UI, dan hal-hal  yang pernah membesarkan Kakak-kakak yang saya kenal di Badr.

Terus kalo abis tau certa pertemanan, misalnya. Saya jadi flashbck ke kampus saya dulu (berasa dah lama --"). Sama juga ketika tau pola organisasi, pola oh Kakak ini dulunya saingan pas di kampus?,  pola oh ternyata Kakak ini dulunya udah temenan?, pola oh Kakak itu pasangannya anak UI juga? Fakultas apa?. atau Eh ternyata ada juga yang sama temen SMA-nya. Wkwkwk gakpentinglah ini sebenernya. Tapi penasaran aja.

Penasaran karena tempat sekolah/kuliah adalah salah satu tempat yang berkontribusi membesarkkan orang-orang yang saya kenal (dan juga kita) hari ini. Budaya sekitar, budaya pertemanan, kultur kampus/sekolah. Dan akan memberi efek juga mana yang memberi kita kesan paling dalam dari seluruh cerita hidup kita, bahkan yang akan berdapak bagi kehidupan setelahnya.

Dan di hari terakhir SxI kemarin, saya sempet bilang salah satu teman (yang sebelum-sebelumnya banget sempat bilang Kalian kok mau sih temenan sama aku, aku kan galak...). Saya bilang, "Terima kasih ya sudah mau temenan sama aku.... :') Karena kalo boleh jujur, saya semacam nggak punya temen di sini. Maksudnya lebih ke yang bisa saya temui dan ajak ngobrol setiap hari, ajak diskusi, dan lain sebagainya. Soalnya pulang ke rumah dan dateng ke Depok tu kayak adaptasi sama lingkungan baru :"").

Terima kasih ya Allah atas pertemuan-pertemuan ini :")


Rabu, 26 April 2017

5 Weeks Behind (2)

Postingan ini mungkin akan lebih ngalor ngidul dan tidak punya alur yang cukup jelas dibanding postingan sebelumnya.

5 pekan berlalu di Cibinong-Depok. 5 pekan bertemu orang-orang baru. 5 pekan belajar mengidentifikasi sesuatu. 5 pekan yang membuat ada kembali pada titik, seteah program ini berakhir, apa yang akan aku lakukan?

Lima pekan belakangan, selain saya menemui banyak perbedaan fisik dari keseharian saya sebelumnya di Jogja, saya bertemu juga dengan lingkungan baru. Teman-teman baru, cara berpikir baru, pengenalan terhadap insight-insight dan metode-metode baru. Tentu saja kebanyakan berasal dari teman-teman selama SXI dan hal-hal yang terjadi di dalamnya. Overall, hal ini menyenangkan. Ohya, lingkungan rumah meski nggak baru tetap memberikan pemahaman baru soal keseharian.

Ada di rumah dalam waktu lama memberikan pemahaman bahwa, sebagai anak di rumah, waktu yang kamu miliki tidak sebebas waktu masih di kosan. Ada di rumah, dengan dua adek yang masih sekolah (kelas 7 dan 2) menuntut peran saya sebagai anak sulung sekaligus kakak untuk adik-adik. Dari nyiapin makan, nyuapin, nemenin main, ngingetin mandi, bahkan sekedar untuk dateng disambut dan ditanyain, “Mbak Fitri kok pulangnya lama banget sih?”. Ya walaupun gak begitu juga sih tiap hari. Wkwkwk.

Saya kadang berpikir, teman-teman yang bungsu, atau mungkin adeknya udah pada gede, mungkin tidak merasakan dinamika ini. Dinamika di mana rumah nggak bisa sunyi sesuai keinginan. Nggak bisa selalu tenang ngelakuin sesuatu tanpa gangguan. Bukan berarti nggak bersyukur kok, cuman sharing aja hehehe. Di rumah dengan adek-adek membuat saya belajar dari Ummi untuk memikirkan selalu provide makanan di rumah. Ibarat Ummi pulang telat pun Ummi sudah memikirkan dari hari kemarinnya besok ini adek-adek pulang harus sudah ada makanan apa yang mereka bisa makan. Punya adik kecil juga membuat saya yang kalo dikosan makannya variasinya nggak terlalu banyak, jadi kenal sama makanan bocil –mulai dari daging olahan cem nugget dan bakso ikan, sampai menu olahan sederhana yang adek-adek dapetin dari majalah anak-anak (contoh : bola-bola nasi). Lucu kalo keinget ginian :”)

Hal ini baru kerasa misal saya main ke tempat temen yang udah gak ada adek kecilnya. Misal saya pernah main ke rumah temen yang di rumah hanya berdua saja sama ibunya. Ayahnya lagi ke luar kota dan adiknya kuliah dan ngekos. Karena ibunya lagi diet ceritanya, ya nanti provide makan buat temen saya kalo ada yang lewat. Ini make sense sih secara masak nasi kalo cuma buat satu orang mungkin rasanya nanggung gitu ya hehehe. Beda sama yang kalo di rumah isinya masih banyak orang. Tapi ini share aja kok no offense terhada tipikal keluarga manapun.

Kemudian di tempat SXI. Part paling menambah pengalaman menurut saya dalah validasi produk yang berbasis dengan kebutuhan (dan keinginan) user. Bagaimana membuat produk yan emang sesuai dengan behavior user. Dan understanding user tuh kayak understanding manusia. Lucu, seru, dan melihat beapa diversenya manusia ciptaan Allah :")

Tapi pelajaran tentu saja nggak cuma saya dapat dari bangku kelas (dah kayak kuliah wkwk). Saya pun belajar bertemu orang baru, belajar berkenalan, belajar berinteraksi. Ini nih sesuatu loh btw. Soalnya dulu sempet saya takut ketemu orang baru. Tapi dak usah diceritainlah kenapanya hehehe. Saya belajar mendengar dan belajar bertemu orang yang karakteristiknya belum pernah saya jumpai sebelumnya. Saya belajar untuk memvalidasi asumsi yang kadang tu kita kayak suuzonan gitu lho sama orang. Belajar juga untuk mengetahui tipe-tipe belajar orang. Belajar juga dengan ikim yang volatile dan agile dan segala dinamika yang kadang udah dipikirin kayak apa tau eh ternyataaa :"" semalam *bahkan dalam hitungan jam* segala bisa terjadi mengubah keadaan.

Maha suci Allah yang memberikan saya kesempaan berada di sini :")