Selasa, 10 September 2019

Surga Itu Mahal

Ibu cuma bilang satu kalimat: Surga itu mahal.

Aku nangis mendengarnya, sambil mendengar kalimat-kalimat di kepala.

Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar terima kasihnya manusia.
Belajar ikhlas, belajar selalu berharapnya sama Allah. Usaha terbaik, Allah yang balas. Balasan terbaik selalu dari Allah, bukan dari manusia. Belajar terus memberi, belajar sabar dan ikhlas ketika (perasaan) yang (rasanya) tidak terbatas justru tidak terbalas.
Surga itu mahal, nggak bisa dibeli sama sekadar penerimaan manusia.
Belajar merendahkan ekspektasi. Belajar cukup. Belajar nggak papa tidak diterima. 
Surga itu mahal, dibeli pakai ilmu, diaplikasikan lewat taat, dijalani dengan istiqomah.
Surga itu mahal, kadang perasaan dunianya sakit, tapi Allah mau diri ini belajar.

Surga itu mahal. Semoga Allah mampukan sampai sana.

Tadi, 22.14an
10 Sept 2019

Rabu, 04 September 2019

Halo langit, terima kasih sudah ada.
Halo Fitri, kapan mau berbenah diri?

Sabtu, 24 Agustus 2019

Fitri sedang capek. Sedang pusing. Beberapa hari terakhir kayak kambuhan gejala-gejala sakit tiap malam.
Sedang malu dan mulai kecewa sama diri sendiri.
Sedang ingin bisa baca buku lebih banyak dari baca media sosial.
.
.
.
Tapi Abi, yang mestinya lebih capek dari pada aku, masih bisa menjalani dan merespon dengan mood yang baik. Masih bisa bantu umi angkat jemuran tanpa diminta.
Ya Allah aku harus apa...?

Umi dan Abi, dua yang sering menerima kekesalan Fitri yang childish ini. Tapi, biar kesal bagaimanapun, mereka tetap idola.


Maafin Fitri mi, bi. Belum bisa Masih belajar dewasa dan sabar.

Senin, 08 Juli 2019

“Kita itu tidak bisa membandingkan waktu, timeline kita dengan orang lainnya.” Tiba-tiba Abidah bicara.
“Aku bisa bilang waktu ini adalah waktu ideal dan terbaik buat aku S2.” Abidah menyebutkan banyak alasan. Tentang teman keberangkatan, kakaknya yang mau pindah ke UK, tema yang diambil oleh rata-rata awardee tentang bisnis, aplikasi pendaftarannya yang ketiga, ibunya yang mau berangkat ke UK waktu Kak Lili lahiran tapi sendirian. Dan banyak lagi katanya.
Lalu Abidah menambahkan. “Tapi kalau maunya Allah nggak ngasih izin aku S2 Chevening tahun ini, aku nggak bisa bayangin apa yang lebih baik dari Allah untuk aku ini. Padahal secara waktu sudah baik sekali. Alasan penndukungnya juga banyak.” Ia berkata sambil tersenyum. Ringan sekali. Segala usaha dia merawat mimpinya, terutama akhir-akhir ini sudah jauh lebih mendewasakannya.
Begitu katanya.
Lalu ia jeda sebentar.
“Juga, kalau Allah sudah menetapkan sesuatu untukmu, itu berarti yang kata Allah baik buat kamu. Yang nggak bisa kamu bandingin lagi apa yang lebih baik dari itu bagi Allah untukmu.”

Abidah menangkapku sedih malam ini.

Kemudian Abidah menambahkan lagi.
“Bersyukur itu ahsanu amala.
Dia ayatnya muncul setelah 'Sesungguhnya Allah menciptakan mati dan hidup.' Mati duluan lho yang disebut, bukan hidup duluan. Artinya yang dibandingkan kehidupan setelah mati, dan di sana dikatakan akan dibandingkan supaya menguji siapa yang baik amalnya, bukan bandingin ke orang lain, tapi dengan diri sendiri di masa lalu.
Bukan ahsanu amala di antara kalian. Tapi diri sendiri dengan sebelumnya . Itu ahsanu amala-nya.”

Abidah tidak menyebutkan ayat. Aku tahu itu Al Mulk ayat 2. Tadi pagi baru saja aku membacanya bersama adik-adik.

"Terima kasih ya Bid."
"Tidak lebih banyak dari apa yang kamu katakan padaku di mushala waktu itu," katanya.

Ah Bid, ini terlalu relate apa yang kamu sampaikan. Padahal kamu tidak tahu apa yang sedang kupikirkan sepanjang tadi bertemu sampai tiba dan menghabiskan malam di sini.Juga apa yang tidak aku dengar setelahnya meski tidak seperti yang tadi,

“Nikmat sekecil apapun disyukuri. Allah kan sudah janji, kalau bersyukur, sekecil apapun, nanti akan ditambah nikmatnya.”

“Pada akhirnya kita akan ketemu suatu kesimpulan, kalau yang bikin hati nggak tenang itu sumbernya cuma dua: manusia atau jin. Makanya kita disuruh baca surat An Nas, karena kita akan selalu berpikir apa yang orang liat ke kita. Di surat An Nas, kita minta perlindungan Allah tuh sampai tiga kali. Beda dengan di Al Falaq yang hanya sekali. Kalau jin, ya sebagaimana jin yang bertugas menggoda manusia.”
“Dan...jangan salah, kita ini manusia juga.”
“Berarti kita juga diuji diri sendiri, ya?”
“Iya.”