Minggu, 24 Juni 2018

[Quote]Teach Your Children Qur’an

“Teach your children Qur’an and Qur’an will teach them everything” (anonymous)

Dari Tangerang (2): Di Perjalanan Pulang

Semua Ikan di Langit-Ziggy Z.-hlm 141
Saya membaca halaman ini di pada suatu perjalanan kereta pulang dari pernikahan Suci. Yang membuat saya memikirkan beberapa hal. Terutama setelah membaca paragraf kedua (lalu tergerak untuk menangkap gambarnya).

Ah, tidak. Saya tidak akan membahas apa yang saya pikirkan.
***
Jeda beberapa jenak, dua undangan masuk pada menit yang sama. Dua adik asrama. Yang satu pernah seruang, yang akan menikah juga dengan teman asrama di gedung putra. Yang satu lanjut hingga jadi teman sekontrakan pasca asrama. Tanggal menikahnya pun sama. (Sebelumnya udah diomongin sama teman seperjalanan pulang, benar lagi ada undangan, dedek-dedek semua *maksudnya anak 2013)

Aku (yang masih sulit meyakinkan diri untuk memulai jenjang hidup baru ini) jadi menghubung-hubungkan kalimat di paragraf itu dengan kabar dua kawanku yang menyebar undangan ini (tiga bahkan, karena salah satunya menikah dengan teman kami juga). Pertanyaan saya selalu sama setiap mendapatkan undangan pernikahan. Apa yang membuat seseorang merasa mantap dan yakin untuk berjalan menuju jenjang pernikahan? Titik apa, saya bertanya-tanya. Ini juga yang saya tanyakan pada Suci tempo hari saat saya meneleponnya lama.

Dalam perjalanan menuliskan ini, aku membaca sebuah blog yang menuliskan bahwa ia tak mau menikah untuk bahagia jika ia belum bisa membahagiakan dirinya sendiri. Jadi, penulisnya simpulkan, kalau menikah untuk bahagia, sebaiknya jangan menikah dulu. Karena kebahagiaan pernikahan hanya temporer dan jika belum bahagia, pasangan dan anak-anaknya kelak bisa jadi korban ketidak bahagiaannya.

Waktu saya membaca kutipan di buku itu, saya belum meneukan kutipan paragraf yang saya kutip dari blog orang lain itu. Dan saya hanya menuliskan saja sih, bukan dalam rangka menyetujui sepenuhnya. Meski mungkin make sense juga. Tapi saya jadi ingat kata-kata di Sabtu Bersama Bapak yang saya amini sampai saat ini.  "Kata Bapak, membangunn hubungan butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan saling mengisi kelemahan."
.
"Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing. Bukan tanggung jawab orang lain."
***
Hari ini dan kemarin-kemarinnya barangkali saya menemukan dan mengetahui jawaban orang lain. Lalu saya berjanji pada diri sendiri, kelak kamu akan menemukannya, Fitri. Jangan  terburu-buru, jangan berputus asa.

22 Juni 2018
Kereta Angke-Nambo
dalam beberapa hal yang membenak


Dari Tangerang (1): Kabar dari Suci

Waktu itu awal Juni, Suci memberitahukan rencana pernikahannya. 

Suci adalah adik bersama di asrama. Kelahiran 96, anak 2013. Di balik kesan pertama yang dewasa, Suci punya sisi bocil sampai-sampai hampir seasrama manggil dia Sucil alias Suci bocil. 

Kabar ini cukup membuat kaget dan haru luar biasa. Selain soal kabar Suci-nya yang mau nikah, juga cerita prosesnya, juga cerita soal dengan siapanya. Suci menikah dengan kakak dari salah satu sahabat kami, Zahra, yang pernah saya ceritakan sebelumnya, salah satunya di postingan ini. Begitu mudahnya Allah lancarkan proses mereka yang hanya berkisar 1 Ramadhan-8 Syawal dari bertukar biodata sampai menikah. Begitu eratnya peluk Allah menuntaskan impian sederhana yang Suci lintaskan soal lifeplan pendidikan, suami alumni gontor, dan captionnya yang selintas menyebutkan jika Allah takdirkan aku menetap di Jogja. Allah jawab tuntas doanya. Padahal, mereka belum pernah kenal sebelumnya.

Kebersamaan saya dengan Suci jika dihitung dalam dimensi waktu tinggal bersama adalah 22 bulan pembinaan asrama ditambah hampir setahun masa kontrakan pasca asrama. Suci adalah partner piket masak sarapan tiap Selasa. Dan bagaimana pun, saya selalu tsiqoh soal memasak sama dia. Walaupun metode masak Suci sedikit berbeda sama Ummi, tapi tetep aja saya yang ngekor dia. Menu kesukaannya sayur lodeh. Aku masih mengingat janjian belanja di warung sayur dan lintasan obrolan-obrolan waktu memasak. Juga kebiasaan Suci menyapu sambil masak, karena katanya, mamanya juga begitu kalau masak sambil langsung beberes nyapu-nyapu. Cepat sekali waktu berlalu :")

Di asrama, Suci adalah salah satu teman yang paling baik tahsinnya. Sampai-sampai ketika angkatan asrama selanjutnya, ia diminta untuk membantu mengajar tahsin. Suci juga paling semangat belajar dan mengikuti kajian. Kelas bahasa arab dan tahfidz, kajian di Pogung, dan lain sebagainya. Bikin malu kakak-kakaknya :")

Sampai hari H tiba. Benarlah kata Abidah yang kurang lebih pernah mengatakan bahwa, salah satu barakah pernikahan tuh ada kebahagiaan yang juga dirasakan oleh tamu undangannya ketika menghadiri suatu pernikahan. Dan itu kami rasakan. 

Nasri 7, Zahra ada di paling kiri.
pingin foto berdua sama bukunya lupa kebawa

Barakallahu laka wa baraka alaikuma wa jama'a bainakumaa fii khair Suci dan Mas Imov. Semoga barakah dan rahmat Allah selalu menertai kalian berdua :")

Tangerang, 22 Juni 2018
Setelah disadari, sepertinya ini kali pertama naik kereta Duri Tangerang
p.s ini tulisan kedua karena yang sebelumnya ditulis belum kesimpan dan pagenya kerefresh
cerita dari sudut pandang Fahmmi bisa dilihat di sini

Sedikit Cerita di balik Mengukir Peradaban

Mengukir Peradaban, difoto tanpa persiapan
background alias di ruang Tebi
Waktu itu Selasa, atau Rabu. Saya sedikit lupa. Suatu paket sampai ke tempat bekerja. Gambarnya ada di sebelah. Buku, judulnya Mengukir Peradaban.

Awal tahun ini, di perjalanan ke FE UI, Zahra menawarkanku mengedit naskah buku yang ditulis bersama suaminya, Fahmi. Zahra dan Fahmi adalah pasangan adik tingkat dan adik kelasku. Zahra adik yang pernah seruang di asrama dan Fahmi adalah adik kelas SMA, yang juga adik tingkat di kampus. Keduanya menikah 7 Mei 2017 dan menjadi sepasang pasangan penghafal Quran. Fahmi telah hafal Quran sejak lulus SD dan Zahra sempat mengikuti karantina hafalan Quran di penghujung 2016. Fahmi saat ini sedang menempuh koas, menuju jenjang dokternya, dan Zahra sedang tahapan menuju wisuda untuk sarjana kedokteran giginya. Keduanya, seperti yang diakui teman-teman kami juga, adalah pasangan yang menginspirasi banyak orang dengan kebaikannya. Kalau mau kepo satu dua hal tentang mereka bisa mampir ke sini.

Dulu mulanya saya menolak dijadikan editor buku ini karena saya belum nikah, jadi kan khawatir gimana gitu kalau ngedit buku tentang nikah yak. Wong ndak pengalaman. Tapi setelah mengobrol lagi, akhirnya bismillah aku ambil tawaran ini buat belajar.

Sudah lama naskah editannya saya serahkan, lalu awal ramadhan (atau sebelumnya), Zahra meminta editing terakhir (untuk PO kedua, karena PO pertama sudah launching, demi mengejar tanggal 1st anniversary kayaknya, hehehe). Dan baru kelar beberapa hari yang lalu, sebagian besar kuselesaikan saat mudik. Membaca naskah buku ini kembali (dan bacanya selalu dalam bentuk digital biar bisa dikasih komen) rasanya berbeda. Ada kesan lebih dalam ketika membaca step-step pra-hari h-pasca menikah. Buku ini memang bukan menonjol pada soal fiqih nikah, tapi bagaimana membentuk diri yang siap dari segi pribadi, orang tua, life plan, soal hal-hal kecil yang dibutuhkan di awal-awal pernikahan, dan lain sebagainya yang kalau bahasa mereka, tidak banyak dibahas di buku lainnya.

Dan saat baca kedua kalinya aku merasa...ditampar bolak balik sih. Karena...hmm ya banyak sih. Mungkin orang bisa bilang ya ndak usah berpikir seribet itu. Even di sisi lain aku tau diriku ini banyak sisi inferiornya jadi aku memang tidak mudah percaya diri. Tapi anyway walaupun aku belum menikah (haha --"), aku menyarankan untuk baca buku ini.

Nulis postingan ini mulanya lebih ke perasaan yang lebih kerasa berkesan waktu ngedit kedua kalinya (terus brb pengen semua orang baca gitu). Sebenarnya dulu udah kepikiran mau nulis sih sekaligus promosi bukunya waktu PO. Tapi ya belum-belum. Jadi yasudah dicicil saja nulisnya sekarang.

PO keduanya belum kecium aromanya sih. Tapi kayaknya POnya bentar lagi. Kalau penasaran silakan kontak @fahmi.zahra.notes saja.


Ini hanya sedikit cerita di balik Mengukir Peradaban
Banyak sih mungkin yang pengen diceritain,
atau yang dikhawatirkan, sehingga ingin dibagi
tapi kulit-kulitnya saja dulu lah ya

Berjuang

Halo,
dear Fitri, ini, tulis untuk pengingat diri sendiri barangkali.
Sudah sering diucap dalam hati, buat pengingat diri sendiri

orang-orang berjuang. diketahui oleh orang lain maupun tidak, barangkali itu tidak begitu penting.
bahkan jika kita pikir orang lain sudah berhenti, atau meragukan kita berjuang,
tetaplah berjuang dan tidak menyerah
tidak berhenti
karena kita tidak pernah tau mana ujungnya.
yang harus dimiliki adalah,
keyakinan tanpa putus pada Allah,
bahwa semua ragu akan dijawab,
semua tanya akan dituntaskan,
semua tangis akan dibuat reda,
semua pasrah akan ditenangkan,
semua harap akan dipeluk erat-erat,
semua cinta akan ditemukan,
semua doa akan diberi jawaban

barangkali ada orang yang berpikir dirinya berjuang sendirian
ketika kamu membantunya, barangkali, orang pun tak peru tau.
cukup kamu simpan, dalam dirimu saja
dalam heningmu
bukankah dalam ekspresi bahagia, marah, atau sedihnya orang lain,
kita pun tidak bisa menebak benar-benar bagaimana perasaannya?
biar hanya Allah yang tahu
itu cukup.
karena tugasmu juga berjuang, kan?
kamu berjuang, Rabbmu yang menilai
setidaknya, kalau juangmu belum menemukan hasil yang diinginkan,
kamu berjuang agar dirimu kuat menerima hasil terakhirnya
apapun itu

akhir ramadhan-hari ini-dan barangkali, masih ada hari-hari setelahnya
sampai tak tahu kapannya


Jendela

aku menyukai jendela, terbuka atau tertutup tirainya, tetap saja jendelanya ada, kan?
melihat jendela seperti melihat ada janji sesuatu yang lebih luas di luar sana, sudut pandang yang lebih menyeluruh, penerimaan yang dalam, janji-janji baru, entah mengapa. 

waktu itu Ahad, mesti ke kantor mengantar device yang hendak digunakan. Tadinya kukira aku bisa menikmati jendela sendirian di ruangan. Sayang, kantor rupanya dikunci. Transaksi device hanya berakhir di depan.

kelak semoga, Allah beri kami jendela. Jikalau pun tidak secara fisik, yang paling penting, semoga hati kami memiliki jendela, yang dapat melihat sesuatu lebih lapang, luas, hingga menanamkan benih kesabaran tak bertepi


Juni 2018. 
masih ada foto-foto (di balik) jendela lainnya

Masuk Surga Sekeluarga

Sore itu rasanya begitu emosional. Di perjalanan yang macet menuju rumah sakit, hati saya ribut bicara sendiri soal masuk surga sekeluarga. Mata saya berkaca-kaca. Aih, surga itu mahal. Ndapetinnya buat diri sendiri aja susah, bagaimana pula jika untuk sekeluarga? Usahanya perlu ekstra. Mengabaikan rasa letih dan malas. Istilah masuk surga sekeluarga, dulu saya dengar menjadi tema suatu kajian di Jogja.

Iri sekali sama teman-teman yang bisa itikaf di sepuluh hari terakhir ramadhan yang berharga. Juga kagum sekali dengan keluarga-keluarga yang bisa melaksanakan itikaf, sekeluarga, tidak tanggung-tanggung. Mengalahkan rasa letih selepas bekerja bagi sang ayah, rasa letih mengurus segala keperluan rumah tangga bagi ibu, serta rasa lelah sepanjang bermain dan sekolah bagi anak-anaknya. Juga, ketika itikaf, kagum sekali dengan para ayah dan ibu yang dengan sabar dalam menghadapi kebosanan anak-anak, atau barangkali permintaan ke kamar mandi, atau mengurusi ganti popok, jika anaknya masih ada yang menggunakan pampers. Karena, kalau sudah berkeluarga dan punya anak tentu ada tantangan sendiri dalam beribadah, terutama bagi ibu yang biasanya waktunya bersama anak cenderung lebih lama dibanding sang ayah. Makanya suka denger kalau tilawah dengan tenang itu salah satu hal yang sulit didapatkan oleh para ibu kalau sudah punya anak. Kalau ayah ibunya tidak bekolaborasi dan berbagi peran dengan baik, tentu sulit sekali dicapai waktu-waktu prime time untuk ibadah ini.  Masya Allah :")

Ini semua mengingatkan saya pada suatu kajian tentang Ramadhan dan keluarga. Terharu sekali membayangkan lingkaran keluarga yang saling hening menunggu berbuka ketika sang ayah memimpin untuk memanjatkan doa menjelang berbuka. Bukan menunggu dengan terpisah-pisah, masih main, buka hp, atau masih (terlalu) sibuk menyiapkan kudapan berbuka sehingga menghalangi kesempatan berdoa di waktu mustajab. Juga jika ayah mendrive keluarga untuk sama-sama berupaya keras mengejar surga. Mau mengajak anak untuk bersiap wudhu jauh sebelum adzan agar tidak terburu-buru di perjalanan ke masjid (karena kalau mendadak gitu kan suka ayahnya ga sabar, anaknya ga bersegera). Merencanakan dan mengatur persiapan baik mental maupun perintilan itikaf anak yang perlu dibawa (makanan bekal, susu, ganti baju, dsb) jauh hari sebelumnya. Menyiapkan dan menyuasanakan anak sehingga tidak rewel dan tidak malah main bersama temannya sampai meninggalkan ibadah di masjid. Orang tua yang mau menanggung rewel anak-anak dan sabar menghadapi beragam keinginan, ajakan, dan pertanyaaan anak-anaknya. Pasangan yang bisa bekerja sama gantian memegang sang anak agar dua-duanya bisa mengejar ibadah serupa shalat dan tilawah, sementara anaknya butuh ditemani pada usia-usia dini.

Orang tua yang menjadi teladan utama bagi anak-anaknya. Sehingga sedari kecil tertumbuh dari dalam hatinya, bagaimana meletakkan seluruh lelah dunia untuk mengejar apa yang tak fana.

Sedih sekali 10 hari terakhir ini belum bisa menemani Fahri yang ingin sekali itikaf. Walaupun akhirnya kesampaian juga Allah kasih kesempatan itu untuknya. Semoga Allah masih kasih umur di tahun depan ya Dek, buat aku ikut sama-sama itikaf.

Soal keluarga dan ramadhan ini emang bisa menimbulkan haru yang luar biasa. Semoga kelak Allah izinkan keluarga kami (baik yang aku sebagai anak maupun ketika sudah punya keluarga sendiri) menjadi salah satu pejuang itikaf di bulan mulianya. Semoga Allah mampukan aku menjadi kakak yang baik bagi adik-adikku, anak pertama yng bisa membantu kedua orang tuaku, dan juga peran-peran pada fase hidup selanjutnya kelak. Aamiin.

9 Juni 2018,
yang membuat duduk diam lama di bangku rumah sakit setelah urusan selesai

Anak dan Fitrahnya 2 : Mengaji bersama Ayyash

Suatu Jumat, terakhir sebelum libur panjang cuti lebaran.
Seorang kakak mengajak putra kecilnya ke kantor. Namanya Ayyash. Singkat cerita, siangnya, seteah asik main game, ayahnya meminta Ayyash untuk ngaji-atau tidur siang. Ayyash nggak mau, nolak terus. Pengennya main game, padahal anak segitu pasti ngantuk deh sebenernya. Cuma karena matanya udah asik sama game jadi ya ngga ngantuk (sama kayak Fatih, dia juga gini kalo kebanyakan nonton atau main game huhu). Sampai akhirnya dia aktif sekali lari-lari. Ngaji ndak mau. Tidur siang ndak mau. Dibujuk-bujuk boleh main game abis baca sekian halaman sampai uda ditawar-tawar ndak mau. Kejar-kejaran sama ayahnya. Sampai dia lari ke atas meja (yang dipenuhi laptop-laptop dan ayahnya sampai panik karena lari di atas meja yang penuh laptop kan bikin khawatir yak) dan kolong meja. Juga lari-lari yang sampai nutup pintu biar ayahnya ndak bisa masuk ruangan.

Sampai suatu waktu di tengah lari-lari itu, dia keluar dari kolong mejaku. Kutatap matanya, kuajak bicara.
"Ayyash mau liat kura-kura nggak?"
Mata sipitnya menatapku, mengangguk. "Mau."
Kami berjalan ke arah pintu ruang. Sebelum keluar, aku berbisik. "Liat kura-kuranya sambil ngaji mau nggak?"
Lalu tak disangka dia mengangguk (kuterharu:", tak disangka tapi aku berharap sih sebenarnya). Aku minta buku ngajinya ke ayahnya. Kami ke kolam.
Di kolam ada orang juga sebenarnya waktu itu, aku izin hendak ikut pakai kolamnya.

Aku dan Ayyash melihat kolam Tidak ada kura-kura yang keluar. Lalu aku bujuk dia mengaji. "Ayyash, mau nggak ngaji dulu. Abis ngaji kita liat lagi kura-kuranya."
Ayyash mengangguk. Dalam hati aku sungguh berharap usai mengaji kura-kuranya ke tepian sehingga Ayyash benar-benar bisa melihat kura-kura.

Aku menawarkan Ayyash kursi. Tadinya kupikir kami akan mengaji di tepi kolam. Tapi Ayyash mau kursi biru (yang jauh dari tepi kolam). Akhirnya kai duduk bersampingan. Buku ngaji Ayyash ada di meja.
Ayyash menunjuk halaman pertama di jilid duanya itu. Ia mulai mengaji.
Sampai di halaman dua, Ayyash bilang "Ngajinya 5 halaman aja, ya."
Aku sebenarnya terkejut karena ndak expect sampe 5 halaman. Kareena ini dari dia, maka kuiyakan saja.

Ayyash mengaji sampai halaman lima. Aku menyimak. Membenarkan satu dua jika ada yang salah. Di tengah-tengah atau selesai mengaji--aku lupa--kaami sempat mengobrol.
"Di rumah Ayyash ngaji sama siapa?"
"Sama Pak ustadz, sama Bunda, sama Teteh."
"Kalau sama Pak Ustadz kapan biasanya?"
"Habis ashar."
"Kalau sama Bunda atau sama Teteh?"
"Pagi-pagi atau enggak malam-malam."
Lalu Ayyash juga cerita kalau dia udah selesai jiid satunya, dan jilid satunya sekarang dipakai adiknya, Hanna.

Usai membaca 5 halaman, kami ke tepian kolam. Sudah ada kura-kura yang mendekat. Ayyash terlihat senang sekali. Dia bilang juga kura-kuranya senang sama Ayyash. Lalu aku tanya lagi.
"Mau ngaji lagi nggak di sini dekat kura-kura?"
"Mau," katanya. Aku senang, dan dalam hati berharap kura-kuranya tetap akan di situ menemani Ayyash mengaji.
Selesai halaman 6, Ayyash bilang lagi. "Ngajinya 5 halaman aja, ya." Aih, sesungguhnya ku terharu Yash. Aku nggak berpikir kamu bahkan dengan keinginanu sendiri mau ngaji 5 halaman.
Aku mengangguk mantap.
Kami melanjutkan mengaji. Satu dua kali saat jeda antar halaman kami kembali melihat kura-kura dan bicara soal kura-kura. Ayyash bilang, "Kura-kuranya senang dengar Ayysh ngaji." Aku juga seneng banget sesungguhnya Yash si kura-kura anteng di situ selama Ayyash ngaji. Bahkan kadang kura-kuranya kayak mau manjat gitu mendekat pada kami.
Ayyash menyelesaikan halaman sepuluhnya. Satu dua kali wajahnya keliatan capek saat pergantian halaman. Keliatan dari air mukanya. Mungkin antara lelah baca yang terakumulasi sama capek matanya liat game dan kejar-kejaran menghindar dari ayahnya tadi.

Padahal dari obrolan selanjutnya kalau dia ngaji sama Pak Ustadz, katanya biasanya satu halaman aja. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa aku tidak terharu? Fitrahnya untuk mendekat pada Rabbnya yang barangkali membimbingnya untuk eunculkan keinginan membaca 10 halaman siang itu. Dan fitrah itu terbentuk lewat perantara orang tuanya, tetehnya, guru ngajinya. Orang-orang di sekitarnya. Saya mah, hanya bantu-bantu aja, dan qadarullah dianya mau.

Lalu kami mengobrol lagi tentang kura-kura. Ayyash bertanya kura-kuranya makan apa, kenapa kolamnya warna hijau, tumbuhan apa di dalam kolam, dan terakhir...
"Lampunya kalau malam nyala nggak?" Ayyash menunjuk lampu taman belakang.
Saya yang kadang suka pulang malem, ngga tau jawabnyaaa T^T. Lalu dia juga nanya saklarnya di mana deh kayaknya, ku juga ndak tau. Aku bilang nanti aku cari tau, atau aku liat kalau malam. Dia bilang, "Jangan lupa, ya." Aku tertawa dalam hati, berharap tidak mengecewakan Ayyash saat nanti dia menanyakannya kembali menagih jawaban.

Catatan 8 Juni 2018
Foto bareng-bareng tim produk yang ada Ayyashnya ternyata udah ndak bisa didonlot di HP heu

Anak dan Fitrahnya 1 : Kata Fatih tentang Rumah

Suatu Kamis, saya dan Fatih menjadi dua orang terakhir di rumah. Saya masuk. Fatih tadinya antara mau dan males buat ikut. Mau karena dia takut bosen sendirian dan males karena ya males aja siap-siapnya. Jawaban awal yang tadinya, mau, lalu berubah nggak jadi, sampai berubah lagi jadi mau. Saya sebenernya degdegan juga sih bawa dia ke Badr.

Di perjalanan menuju Badr, kami melewati perumahan elit. Yang rumahnya bagus-bagus dan punya halaman luas. Karena dulu saya dan Fatih punya obrolan soal kalau mau sesuatu coba doa dan minta dengan shalawat, saya reflek aja ngomong ke dia, "Dek, rumah di sini bagus-bagus. Shalawatin."

Lalu jawabnya,
"Rumah kita juga bagus, Mbak, di mata Allah...."

wew, ni anak ada angin apa bisa ngomong begini.

"Rumah kita kan sering dibacain ngaji, diputerin murottal."
makin kicep dong saya, wkwk.

"Daripada kalau rumahnya besar tapi nggak pernah dibacain ngaji. Ya, walaupun bagus juga sih Mbak rumahnya besar...." wkwk, endingnya ada nada kepengennya juga sih.

Hahaha. Ketawa tapi super haru dengar kata-kata yang spontan keluar dari mulut dia. Lalu ingat, dulu waktu masih SD, adik pertama saya suka kepengenan kalau liat rumah besar yang bagus gitu. Tapi terus ditakut-takutin lucu gitu sama kalimat, nanti Fafa yang nyapu ya. Fafa yang beres-beres semuanya ya. Kalau rumah besar beresinnya susah. Atau juga kalau dia kepengen ac terus dibahas kalau pasang ac nanti bayar listriknya bisa dua kali sekarang wkwk. Udah lama banget obrolan itu.

Amaze banget sama kalimat Fatih. Barangkali, kalau memang sudah paham dan tau dikit-dikit aja tentang Islam, memang anak kecil itu bisa mengingatkan orang dewasa. Fitrahnya akan demikian Tapi tugas orang dewasa di sekelilingnya lah untuk mengarahkannya ke sana. Biar kebentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Semoga Allah bimbing kami menjadi contoh untuk hal baik ya Dek :")

Catatan 7 Juni 2018

Monolog 4 Juni 2018

Sama kayak postingan sebelumnya bahwa ini juga poin pembelajaran di googlekeep yang aku tulis dan jabarkan ulang di sini, sebagai pengingat. *Asa dulu mah nulisnya diary, wkwk. Sebenarnya menulis di blog itu sekaligus dalam rangka belajar membuat seasuatu yang sistematis.

Pertama, belajar memaksimalkan sesuatu. Memanage ekspektasi dari orang lain itu sulit. Tugas kita memaksimalkan apa yang kita bisa dalam meraihnya. Aih, sesungguhnya ekspektasi nggak cuma dari orang lain kan ya. Juga dari diri sendiri. Ekspektasi dari diri sendiri pun bisa yang sifatnya menyangkut diri sendiri, dan ada juga yang sifatnya ekspektasi soal ibadah ke Allah. Kalau yang sifatnya ibadah, kita nggak berharap dilihat oleh orang lain, tapi harapannya ada pada Allah melihat dan menerima amalan kita. Kalau yang berhubungan sama orang lain, misalnya kerjaan. Ada fase yang dibutuhkan atasan untuk tahu progress kerja bawahan, juga rekan kerja satu sama lain. Ini bukan dalam rangka nyombong, tapi untuk bisa mengukur, baik dalam menentukan pace kerja masing-masing (utamanya rekan kerja) maupun menjadi pertimbangan dalam menentukan target (utamanya atasan). Jadi, dalam rangka memaksimalkan sesuatu, baik yang kita ekspert di dalamnya maupun belum, komunikasi, barangkali adalah jembatan penghubungnya. Komunikasikan upaya maksimal kita dan kalau ada hambatan atau hal apa yang bisa mentrigger upaya maksimal itu menghasilkan sesuatu yang besar.

Selanjutnya, kalau targetan atau upaya maksimal belum tercapai, komunikasikan alasannya. Juga misal ketika di awal diberi tanggung jawab, kita merasa ndak mampu. Kasih tau alasannya. Misal, dalam jangka waktu yang ditentukan, kerjaan yang diberikan pada kita belum bisa dituntaskan karena alasan kita yang belum ekspert di sana, perlu mencari referensi tambahan, kerjaannya terlalu gendut, atau bisa selesai namun butuh waktu lebih lama. Komunikasikan agar orang lain paham hal apa yang menghambat, atau mungkin bisa mentrigger (misal nambah orang, beli tools baru, dsb). Jangan denial dari awal bilang nggak bisa. Jelasin karena apa ngga bisanya, biar bisa diadjust dan dicari titik temunya. Entah dari ekspektasinya yang diturunin, waktu yang diperpanjang, atau mencari katalis untuk mempercepat eksektasi itu selesai sesuai timebox (yang tadi, bisa orang, tools, dsb). Dan orang lain mengetahuinya (saya jadi ingat ketika mandek skripsi lalu berat banget cerita ke dosen pembibing T^T). Kalau dari awal udah bilang ngga bisa, tanpa penjelasan, orang akan antipati dan tidak respect, karena kita menutup sesuatu tanpa penutup yang baik. Yha, semua orang juga ga suka kan sesuatu yang tanpa penjelasan, heu~

Komunikasikan dan bicarakan adalah kunci dari dua poin yang dibahas sebelumnya. Kalau misal kita bicara dengan orang yang tidak kita suka sekalipun, mengutip dari hadits, lihat apa yang dikatakan, bukan siapa yang mengatakan. Tetap lakukan proses komunikasi dengan niatan mencari titik temu antara hal-hal yang perlu dikomunikasikan. Jangan ketika tahu dengan siapa harus bicara, sudah ada mindset yang mengunci diri kita dengan orang itu, lalu jadi males duluan. Tidak ada tembok yang perlu dibangun. Kalaupun kesal dengan seseorang, kita perlu bedakan mana ranah pribadi dan ranah profesional. Sabar, mulai dengan bismillah.

Terakhir, soal menjaga. Saat ada di fase terasa orang menjaga jarak dengan kita, barangkali emang ada jeda yang hendak diciptakan oleh orang tersebut. Kalau merasa ada salah dan perlu konfirmasi untuk minta maaf (takutnya ada kesalahan yang ga sadar dilakukan), silakan minta maaf. Tapi kalau tidak perlu, biarkan saja. Hormati jeda yang dibuat. Mungkin, orang tersebut pun berusaha keras sebenarnya dalam menjaga jarak dan menciptakan jeda. Dan kalau kita tahu emang itu yang dibutuhkan, berusahalah untuk sama-sama menjaganya.

It seems banyak muter-muternya. Sekian.


Waktu Orang Dewasa

Waktu itu puasa, sore-sore.
Fatih sulit diminta mengaji. Maunya main dan main. Diminta mandi juga sulit.
Habis mandi masih tidak mau mengaji, lalu kubujuk-bujuk baca buku cerita, daripada main game atau nonton kan --". Awalnya nggak mau, alhamdulillah lama-lama mau. Bukunya second, kubeli online karena dulu aku punya kesan mendalam terhadap buku itu semasa main ke rumah sepupu abi dan sepupuku. Kalau pernah tau sesuatu yang bagus tu rasanya kayak pengen semua orang tau dan ikutan baca. Kelak, ingin kujadikan inventaris perpustakaan anak yang kubuka (aamiin).

Dan, bahagia itu sesederhana dia juga tertarik sama bukunya. Bahkan selanjutnya bisa dibilang, ia merepotkan. Sibuk bertanya satu dua, sibuk memastikan apa yang ia lihat, sibuk bilang ini kan ini, itu bener kan, atau ini gambar apa, atau kenapa namanya begini. Baru nengok hp sedikit habis jawab pertanyaan sebelumnya, dia sudah melempar pertanyaan lagi. Tapi itu konsekuensinya, merepotkan yang menyenangkan.

Lalu Ummi memanggil, katanya sebentar lagi buka. Saat menunggu adzan yang masih 5 menit lagi(5 menit lama, kan?), Fatih sudah mengeluh, bilang harusnya biarin aja nunggnya sambil baca. Tuh dek, jadi keranjingan kan :") ?

Anak-anak selalu butuh waktu orang dewasa. Sementara aku sering sibuk sendiri dan masih kurang ngajak bermain. Fatih kalau protes aku pulang malam suka bilang, pulangnya sore aja Mbak. Lalu aku bertanya, biar apa? Dia jawab kalau nggak ya nggak papa biar ada di rumah aja, jawaban lainnya, main-main sama Fatih. Anak segitu kecanduan gadget sebenarnya ada faktor karena orang dewasa di sekitarnya juga. Maaf ya Dek :"

26 Mei 2018

Monolog 31 Mei 2018

Hari ini menote sesuatu, yang baru dijabarkan hari-hari setelahnya. Sebagaimana selftalkku di hari sebelumnya. Ada empat poin yang aku catat di google keep. Tapi ndak tau nanti merangkainya juga kayaknya ngga poin per poin.

Pertama, soal mengelola kekecewaan. Ada buku lama, second, dan langka yang aku incar belinya. Aku keep terus di cart dan ngga aku mulai-mulai proses bayarnya karena harganya lumayan :" jadi seacam nunggu promo gitu. Tapi finally, aku keduluan orang belinya. Kecewa sih, sampai beberapa hari masih kerasa heuheu. Berusaha mengalihkan harap emang agak sulit, konsep bukan rezeki saya emang perlu dikuatin. Dan juga ditambah penguatan dari kajian apa gitu yang awalnya buan tentang rizki sih, tapi ustadnya sempet bilang, kalau kita pengen sesuatu dan hars kelaksana, jangan-jangan itu hawa nafsu. Yah hari-hari kedepannya cukup berjuang sih mengurangi rasa kecewa itu. Ndakpapa fit, belajar.

Lalu aku juga belajar soal mengelola emosi. Kalau tanggal 30 aku sempat bilang aku berusaha untuk selalu tersenyum, ternyata, it is not as easy as that. Haha, kita emang akan diuji dengan hal yang kita perlu belajar darinya, ya. Hari ini aku berangkat dengan perasaan kesal, lupa juga sih sekarang mah keselnya kenapa. Sampai kantor, awal-awal masih irit bicara dan fokus sama diri sendiri. Tapi lambat laun, percakapan menunjukkan bahwa dibutuhkan respon dan perhatian lebih. Akhirnya aku belajar untuk mendrive hati dan emosiku agar bisa memberi respon yang lebih positif dan proaktif. Di kantor, aku juga ketemu sama manusia dan kita berurusan satu sama lain. Mau sampai kapan perasaan bt yang aku bawa dari rumah berefek pada orang lain (ini ternyata aku note bener tgl 31 itu dengan kata-kata inti yang serupa). Ini sulit, tapi somehow ada masa orang lain butuh kita dan ga mungkin kita jadi ga respon. Lah saya yang awalnya kesel, kenapa bawa-bawa dan merugikan orang lain. Dan selanjutnya setelah saya berusaha memberi tanggapan, ternyata jadi lega juga sih. Perasaan keselnya hilang sedikit demi sedikit.

Selanjutnya aku belajar soal make something clear as soon as possible. Ketika ada hal-hal yang belum jelas, konfirmasi segera. Walau menguras emosi buat konfirmasinya, pastikan apa yang kita perlu tau (ini bukan konteks kepo, konteksin kerjaan aja), pastikan dengan drive kia sendiri, bukan menunggu dikasih tau sama orang lain. Karena miskom itu berat, efeknya bisa jangka panjang. Ya keselnya, suuzonnya. Jadi, bakal tambah capek kalau gini terus. Pastikan sesuatu cler agar tidak menimbulkan asumsi bahkan suuzon. Di sisi lain, jika konfirmasi itu cukup menguras energi juga, sabar. Miskom bisa lebih menguras energi.

Terakhir, jangan menghindari masalah. Selain karena Allah ga akan ngasih masalah kecuali Allah mau kita belajar darinya, Allah ga akan melepas hambaNya dari suatu ujian kalau hambaNya belum lulus ujian itu. Karena ya Allah pengen kita belajar dan lulus untuk hal yang sama. Walau case ujiannya berbeda, kita bakal ketemu masalah yang sama sampai lulus. Selain ittu semua, menghindar juga ndak akan menyelesaikan masalah. Apalagi kalau masalahnya sama orang yang frequent ditemuin.

Empat hal besar ini yang aku tulis di googlekeep 31 Mei lalu. Semoga bisa jadi reminder buat diri sendiri.

Rabu, 30 Mei 2018

Monolog 30 Mei 2018

Hari ini pulang habis magrib, setelah dua pekan terakhir tidak menjalaninya. 

Malam ini purnama tak nampak, padahal malam ke-15.
Pikiranku jadi melayang ke seharian ini ketika di perjalanan....
Hari ini badanku rasanya rontok. Mungkin berlebihan menyebutkannya, tapi pegal di sana-sini. Lanjutan hari kemarin ternyata belum kembali pada kondisi normal sedia kala. Hal yang membaik alhamdulillah bersin-bersin hari ini sudah lumayan berkurang. Hanya masih mudah merasa kedinginan, rupanya. 
Tapi hari ini aku bisa tersenyum, dan (berusaha) merespon orang lain dengan (semoga) baik. Aku jadi belajar bahwa mengelola perasaan tanpa tergantung sama kondisi fisik itu sebenarnya bisa. Tapi kondisi fisik bisa berubah karena perasaan yang tak enak.

Mungkin itu kenapa, ada pasien yang ceria dan riang, walaupun dirawat sekian lama di rumah sakit dan belum terprediksi kapan sembuhnya. Sementara, kalau perasaannya sudah tak enak, badan juga rasanya capek. Mau ngapa-ngapain nggak enak. 

Jadi malu sendiri mengingat beberapa masa lalu saat aku sedang pada puncak load dan muncul banyak ga enakan ke teman-teman, bahkan senyum sedikit pun aku pelit....
Habis itu emang pengen belajar gimana caranya biar bisa ramah dan penuh senyum kembali. Ini mengingatkan ke masa aliyah sih. Dulu sampai ada teman yang mengapresiasi senyumku dan bilang kalau dia jadi belajar tersenyum untuk bahagia, ketika orang tersenyum karena bahagia. Sebenarnya aku mengulang-ulang kalimat ini sejak aku ada pada puncak load itu. Bisa kembali ke diri yang dulu sampe temenku bilang gitu mungkin emang belum mudah, tapi mestinya bisa diusahakan. 
Walau ya ditengah-tengah hari ini pun pikiranku satu dua juga kepikiran sama hal-hal lain. Pertanyaan-pertanyaan yang entah kapan aku paham jawabannya, hal yang membuat terkejut, hal yang membuat perlu menahan diri, hal yang membuat aku berpikir, hal yang membuat aku menerka. 

Tapi aku mau belajar, buat bisa masang senyum pada wajah. Terserah lawan bicaraku responnya gimana. Aku mau belajar tetap berusaha ramah ke orang, walau responnya mungkin ndak sesuai yang diharapkan. 
Walau tadi aku juga sempat mendongak dan melihat langit gelap yang tanpa rembulan itu, bagaimana mengelola wajah yang baik saat memang sedang sedih, sedang ada masalah, sedang ingin bercerita tapi tak bisa atau tak tahu pada siapa....
Aku jadi ingat temanku yang selalu tersenyum. Yang ada masalah ndak keliatan, yang disayang banyak orang. Di sisi lain aku juga bertanya, apa itu baik? Atau lebih baik menampakkan mood dan perasaan di wajah. Biar saja. Nyambung gak ya kalau aku hubungin dengan bulan yang, ya dia sebenarnya ada. Tapi ada waktunya kapan dia ketutup mendung, kapan benderang. Kapan hanya tersenyum dengan sabitnya, kapan memancarkam penuh sinarnya kala purnama. Entahlah....

Pertamyaan-pertanyaan itu masih membenak. Mungkin diredam dengan sabar dan syukur mestinya sudah cukup.

Malam ini bersin-bersin dan pusing lagi rupanya. Semoga besok sudah membaik....

Selasa, 29 Mei 2018

Today's Monolog

feeling very tired in the rest of the day. hope tomorrow will be better by finishing today's homework (at tomorrow), share the time and capability, and finishing the rev. meeting prep. and also, happy faces of all people:") *semoga ga da ga enak-ga enakan lagi

tepar banget rasanya hari ini, pulang depok cibinong di hari libur saat puasa ternyata padet banget jalanannya. berkali lipat dibanding hari biasa. habis maghrib rasanya pingin tidur karena berat banget kepalanya.

tapi tentu saja, ada yang harinya lebih lelah dari aku. jadi, selalu bersyukur ya fit :")

Rabu, 23 Mei 2018

Dear Setyani

dear setyani, hari ini, di perjalanan motor yang cukup panjang karena rute yang tidak biasa, aku senang sekali mengingat kamu hari ini wisuda. mengingat kamu yang sudah berhasil melewati berbagai tahapan dan fase dunia perkuliahan. mengingat kebersamaan hari-hari di gycen jogja dan forum lingkar pena. mengingat kamu yang menaklukan ketakutan dan kecemasan. dan hari ini, namamu disebut di gedung yang sama dengan gedung pertama yang menyambut kita untuk tes toefl kala daftar ulang itu.

dear setyani, di perjalanan tadi ketika aku mengingat kamu, aku kerap terngiang kata-kata yang kamu lontarkan kala kita ke iec di seturan(atau pulangnya ya ty?). saat itu kita ga dapet pinjeman motor, padahal hari sebelumnya dapat. tapi katamu, aku mau naik transjog aja sama fitri. biarin lama, kan jadi bisa ngobrol banyak sama fitri :")

dear setyani, hari ini kamu membuktikan kesungguhanmu untuk sesuatu. dan percayalah bahwa, Allah punya kado tak terduga buat kamu. tunggu aja tanggal mainnya.

dear setyani, nani kalo aku ke Jogja, kita makan pisang kaget yang di pandega ya. aku mau bikin di cibinong tapi belum nyari nemu gula aren. kita makan di mana ya set kira-kira? oiya, aku jadi ingat kehebohan kita nemu kue ape di bandung setelah sekian lama tak pernah menemukannya di jogja (bikin kedai kue ape aja apa ty kita di jogja, obat rindu hehehe).

dear setyani, terima kasih telah membersamai bermain-main sambil belajar. terima kasih sudah tinggal di depok (lah) jadi aku punya teman main kalau kamu pulang. aku punya banyak doa buatmu. kusampaikan padaNya saja ya. selamat sung ke cilacap untuk koas!


Rabu, 23 Mei 2018
Malam H8 Ramadhan 1439H

Ujian (2)

"...Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat." QS.Al-Furqan(25):20

Dulu pernah nulis tentang manusia yang bisa jadi ujian satu sama lain. Detailnya ada di sini. Nggak nyangka pada suatu hari saya nemu terjemah ayat yang secara letterlek menyebutkan hal itu. Dan jadi kembali mengingat bahwa Allah nggak akan berhenti menguji hambaNya sampai dia lulus dari ujian tersebut. Jadi kalau kita lari, ya Allah akan ngasih ujian yang sama bertujuan sama biar kita naik kelas ke level berikutnya(lengkapnya ada di tulisan yang pertama itu).
.
.
Dan untuk kesekian kalinya...diingatkan tentang bersabar. Lagi dan lagi.
(juga tentang Allah Maha Melihat, relate ke postingan beberapa menit lalu yang ini)


Rabu, 23 Mei 2018
Malam H8 Ramadhan 1439H

Takut Kepada Siapa(?)

"...dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti..." QS. Al-Ahzab(33):37.
ga terlalu nyambung sih, tapi jadi inget kata-kata Jajang. "Ga usah sedih kalo karena kerjaan lagi banyak. Sedih tuh kalau kerjaan jadi ganggu ibadah, shalat atau ngaji misalnya, jadi keganggu...."
Kira-kira begitu.

Rabu, 23 Mei 2018
Malam H8 Ramadhan 1439H

Balasan Kebaikan dan Kejahatan

"Barang siapa datang dengan (membawa) kebaikan, maka dia akan mendapat (pahala) yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan barang siapa datang dengan (membawa) kejahatan, maka orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu hanya diberi balasan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." QS.Al-Qasas:84

Allah itu baik banget ya. Buat yang baik dikasih lebih. Buat yang jahat, dikasih (pake hanya pula) seimbang.

"(Lukman berkata), "Wahai anakku! Sungguh jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Mahahalus, Mahateliti." QS.Luqman:16.

Tadinya hanya mau pos sampe angka 16 itu. Tapi jadi keinget. Dulu aplikatif ayat ini terasa waktu aliyah. Padahal mungkin gak ngeh-ngeh banget kalau diajarin ngaplikasiin ayat ini (yang familiar kan biasanya 2 ayat terakhir surat Al Zalzalah). Sadarnya juga baru sekarang-sekarang ini. Dari ngebiasain matiin lampu, ngecek air, makan dan minum sambil duduk, makan diabisin, bertukar salam kalau berpapasan, membiasakan term maaf, tolong, dan terima kasih, sampai menepati akad janjian secara datang tepat waktu dan membiasakan menghargai forum (dengan tidak menyambi forum dengan kegiatan lain). Contoh terakhir kerasa berat, apalagi kalau ada kajian abis subuh atau bakda isya dan hari itu atau besoknya tes blok :(( asa mau kabur pulang asrama belajar aja (kalo pas bawa catetan ke mesjid). Tapi, aku lupa siapa, yang menyadarkan soal menghargai forum, menghargai yang bicara di depan, berusaha mengalokasikan waktu. Jadi berusaha berbesar hati buat menempatkan diri pada agenda yang mana sebenarnya ada hal lain yang ingin diselesaikan. Dan ini (semua) masih terus proses belajarnya. Sama kayak di kantor ada agenda wajib dan kalau berhalangan mesti izin. Kadang keliatan kaku banget kalau kayak gini, tapi ya menghargai aturan aja, berharap ada ridho Allah di sana atas kebaikan-kebaikan kecil yang mungkin hanya seberat biji sawi. Mengusahakan bisa proporsional antara yang dikejar (persiapan ujian atau penyelesaian kerjaan) dengan kesepakatan terkait hal-hal yang mengikat sebagai murid maupun karyawan (lebih luasnya lagi hamba Allah sih).

Semoga bisa istiqomah.

Rabu, 23 Mei 2018
Malam H8 Ramadhan 1439H

Tentang Sabar (2)

Dulu pernah ngepos ayat tentang sabar di sini. Lalu pada waktu yang lain aku menemukannya lagi.

"Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata, "Celakalah kamu! Ketahuilah pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hnya diperoleh orang-orang yang sabar." Al-Qasas(28):80

Allah tuh ngasih banyak banget janji kebaikan buat orang yang sabar, Fit. Kenapa hawa nafsu masih sering mengalahkan keinginan untuk mendapatan pahala yang besar itu?
Atur emosi lagi, atur skala prioritas lagi, benahi amal perbuatan lagi, sabar pada setiap prosesnya, sabar menghadapi segala dinamikanya, sabar sama ujian-ujiannya. Kalau janji Allah aja nggak kamu kejar penepatannya, lalu siapa lagi yang bisa kamu percaya? Bukannya berharap sama Allah nggak akan menuai penyesalan?

#superntms
Rabu, 23 Mei 2018
Malam H8 Ramadhan 1439H

Rabu, 09 Mei 2018

Rin/du

Ketika kamu kangen sama orang yang sebenernya bisa kamu ajak ngobrol atau tumpahin banyak hal, tapi waktu seolah gak kasih kesempatan itu :"

Sedang rindu banyak hal. Termasuk kesempatan, waktu, obrolan, curhatan, suasana, ah bahkan bisa jadi rindu pada hal yang sedang langka, padahal bisa jadi nyaris tiap hari bertemu.

Juga termasuk, aku yang dulu :")


Tumben masih terjaga jam segini(akhir-akhir ini)

Minggu, 06 Mei 2018

Bertemu Gycen Kembali

akhirnya ke nikahan anak gycen, setelah lama tak hadir pada acara semacam ini.
menyenangkan sekali bertemu teman-teman kembali. bercengkrama satu dua, mengetahui kabar satu dua. juga bertemu nilam, teman rk sekaligus teman kantor hamzah, yang sudah lama tak bertemu (kenapa kita ga foto ya nil).
bertemu satu dua teman yang perhatian karena sempat mengkhawatirkan aku atas apa yang sempat mereka baca di rumah ini. meskipun kekhawatiran dan praduga mereka salah, tapi aku terharu sampe ditanyain begitu :" sempet sih pengen ngapus lagi tulisan yang bernada mengkhawatirkan, tapi pas banget mau ngapus baca blog yang nyebut bahwa nulis itu semacam memperhatikan hal detail mana yang dialami, memaknai kejadian kecil bahkan semacam kayak hidup benar-benar penting. dan temenku bilang  ga perlu dihapus, kalo dibaca ulang lucu dan bikin kangen, akhirnya aku memutuskan untuk tak dihapus.
barakallahulaka wa jama'a bainakuma fii khair hamzah dan muti, selalu senang rasanya melihat dua orang baik dipersatukan :")
dan goals juga ke bekasi naik motor (ga pernah kebayang sebelumnya naik motor ke bekasi), alhamdulillah bekasinya masih perbatasan, jadi gak berasa keluar planet #eh

Rabu, 02 Mei 2018

Being Overthinking

Akhir-akhir ini, saya terbangun dan terlelap dengan mengingat hal yang sama, terpikir hal yang sama, tergerak untuk melakukan hal yang sama. Meski tahu itu semua belum akan menimbulkan jawaban, atau kabar lanjutan, atau ketenangan, atau keberanian. Kadang sampai pingin cepat-cepat tidur agar tidak memikirkan hal yang sama. Tapi bagaimanapun, bangun pun teringat jua.
.
Overthinking does.
Dan ini membuat saya sedih.
Ditambah perasaan menghadapi hal-hal ini sendiri, terutama setelah tahu orang-orang di sekitar saya lebih tahu duluan dari sisi yang berbeda. It's like, "Oh, jadi aku...sendirian ya...." Lalu kembali jadi anak cengeng. Aku menertawakan diri sendiri. Gini aja rupanya bisa membuat nangis ya. Lemah sekali sedihku dibanding orang-orang yang sedih karena hal yang jauh leih penting, prioritas, dan menyangkut hidup orang banyak.

Meskipun di ujung aku berusaha juga memberanikan diri untuk bercerita dan meminta pendapat teman. Diawali intro yang (juga) sulit aku usahakan karena mungkin sifat I yang dominan. Aku memang sedang belajar untuk tidak menyimpan semuanya sendiri. Takut meledak :"


untuk hari-hari di April
awal Mei ini masih terasa
semoga waktu segera mendamaikan apa yang dioverthinkingkan
dengan jawaban yang baik :")
kan punya Allah Fit :'

Selasa, 01 Mei 2018

TemanBisnisApp dan Global Ventures Summit 2018



 Tadi di dashboard, Kak Lili di tumblrnya me-reblog isi tumblr Abidah. Udah lama ini updatean Abidah gak masuk ke dashboardku ternyata (apa ini efek peblokiran tumblr di Indo ya, punya Kak Lili soalnya postinganya dari Belanda dan itu muncul-muncul aja).

Jumat kemarin adalah hari yang mengharukan. Ditambah kalau mengenang masa-masa rapat projection Tebi akan dibawa ke mana ke depannya. Bagaimana membuat revenue stream untuk tebi. Rapat-rapat yang menguras emosi (dan memenciptakan tangis). Surat cinta dari Abidah untuk kami semua. Review meeting yang menyadarkan kami bahwa tak semudah itu memikirkan fitur berbayar. Latihan pitching Abidah sebelum hari H, dan lain sebagainya.

Jumat ini (27/04) Abidah ikutan pitch battle di acara yang diadakan Google Ventures Summit. Ini adalah salah satu ikhtiar untuk memperpanjang masa perjuangan Tebi. Sebelum meetup Badr, kami melihat pitching Abidah dari JW Mariott walaupun secara kualitas gambar dan suara memang tidak terlalu baik, ditmbah Abidah maju lebih cepat dari perkiraan waktu.

Di tengah sesi meet up, Kak Jay ngabarin, "Abidah juara." diam sejenak "Juara satu." Teman Bisnis menang Global Ventures Sumit 2018 untuk Kota Jakarta (GVS 2018 dilaksanain di 4 kota dunia). Lalu kata-kata alhamdulillah keluar berhamburan dari teman-teman Badr dan kemudian selesai sesi deep sharing meet up kami melakukan sujud syukur bersama-sama. Haru banget rasanya. Kak Jay juga menambahkan cerita bahwa paginya di dashboard tim poduk, Abidah menginput nilai investment (sebagai bentuk doa) yang Tebi peroleh ditambah notes "la haula wa la quwwata illa billah".

Artikel in app yang membahas reportase pitching Teman Bisnis di Global Ventures Sumit kemarin

Dear Tebi, Allah itu baik banget sama kita, ya :" Semoga Allah selalu menjaga kita dan teman-teman Badr ada pada jalan yang Allah ridhai dan penuh berkah.




[Repost]If You Really Love Someone, Don't Give Them Yourself, Give Them Jannah!





tau dari sini yang direblog dari sumber awalnya di sini
lalu saya ingat postingan saya yang ini
Kamis, 26 April 2018