Jumat, 19 April 2019

Yang Didengar di Perjalanan

Ini awal mula pingin ceritanya sudah lama, tahun lalu.

Waktu itu di ruangan bahas tentang lagu. Tau sendiri kan di Indonesia lagu yang populer ya lagu tentang perasaan dan terutama antara lawan jenis gitu. Lalu satu-satunya orang yang sudah menikah di antara kami bilang. Katanya dulu waktu belum menikah beliau semacam 'apa sih' sama lagu-lagu macam ini. Kayak nonsense gitu aku nangkepnya.

Tapi abis nikah, beliau jadi suka nyari lagu yang pas, dibikin playlist dulu. Lalu diputar buat temen perjalanan kalau pergi bareng istrinya di mobil. Jadi emang udah mencari lagu yang bisa jadi ungkapan hati ke istri gitu dan menyampaiakn perasaan sayangnya ke istri, semacam itu hehe.

Terus kita yang jomblo-jomblo ini heboh gitu. Lebay deng. Intinya jadi komen, wah so sweet ya Kakak. Kepikiran ya ke sana. dsb. dsb. Aku pun begitu mendengar ceritanya, manis sekali ya.

Lain waktu aku pergi naik mobil omku dari Yogya ke Magelang. Mobilnya memutar radio. Sekali waktu ada lagu juga. Beberapa kali naik mobil beliau, ritme dan polanya memang memutar radio, yang memutar lagu di siaran radionya. Kalau ada lagu yang tahu, om (atau tanteku juga, ya) akan mengikuti nadanya lirih. Hehe malu kali ya ada ponakannya.

Lain waktu, berangkat outing. Kami berangkat pagi-pagi sekali, bahkan subuh di jalan dan sudah masuk Jakarta. Kelompokku naik mobil seorang Kakak yang memutar kajian Ustadz Abdus Somad sepanjang perjalanan.

Lain waktu lagi, lebaran tahun lalu kalau tidak salah. Aku naik mobil di Magelang. Begitu mobil dinyalakan, langsung terdengar murottal (nampaknya langsung nyala karena radionya juga ikut mati waktu mesin mobil dimatikan sebelumnya). Aku langsung mengingat kenangan cerita pertama yang kakaknya bikin playlist lagu buat istrinya itu. Aku nggak bicara benar salah ya, semacam preferensi aja apa yang didengar di perjalanan. Dan mungkin juga semua yang aku ceritakan di sini saling menyeling tentang apa yang diputar di perjalanan. Sekali waktu puter radio update kabar jalan, kali lain putar lagu, kali lainnya putar murottal, kali lain putar kajian, mungkin saja kan?

Tapi aku belajar satu hal sih.
Bahwa apa yang diputar di perjalanan, bisa jadi mencerminkan apa yang menjadi penting atau apa yang mau dituju, atau apa yang menjadi value dari suatu keluarga.
Sekali lagi, aku ga bisara soal benar salah yaaa. Kan ini preferensi aja.
Memutar lagu yang sampe seniat itu dibikin playlist tentu menjadi salah satu ungkapan sayang, apalagi ini udah buat yang halal yaaa. Jadi niatannya membahagiakan pasangan :") Dan tentu saja itu berpahala, kan?
Pun ketika aku masuk mobil yang udah memutar murottal. Itu kayak, definisi sayang mereka udah sama-sama dengerin murottal dan menguatkan hafalan bareng. Dan itu cukup buat menghibur sepanjang jalan. Haru aja aku dengernya pas itu. Kayak seolah-olah ngeh, ini tabungan cara ke surga kita.

Semoga apa-apa yang kita dengar menjadi jalan agar bisa dekat ke Allah, dekat dengan ridhaNya, dekat dengan surgaNya. Aamiin.

Yang Dilihat di Perjalanan

Waktu itu Kamis, ingat sekali 14 Maret 2019. Aku datang siang, menuntaskan beberapa hal dulu di rumah. Sampai di Badr mungkin sekitar jam 14 (and i also remember tentang kolam belakang dan mendesain kaos)

Waktu itu kalau tidak salah, temanku cerita. Dia biasanya keluar kosan itu jam 9an buat berangkat kantor sekalian sarapan. Lalu pagi itu, karena dia mau urus A5, dia pagi-pagi jam 7an keluar buat fotokopi. Katanya, saya melihat sesuatu yang gak biasa saya lihat. Say aihat orang-orang berangkat sekolah, saya melihat pagi. Begitu katanya, kira-kira.

Saya jadi nyambung. Saya juga cerita. Karena saya jarang berangkat siang banget, dan waktu itu saya berangkat sekitar jam 1 setengah 2 gtu dari rumah, saya ihat kehidupan siang. Anak-anak yang pulang sekolah, dan lain sebagainya. Lalu kita bertiga jadi menertawakan aja, hal-hal yang nggak biasa dilihat.

Saya jadi ingat, dulu saya juga pernah bilang ke temen. Coba deh kamu sekali-kali pulang kantor lebih cepat dari biasanya, nanti melihat hal yang nggak biasa kamu lihat. Waktu itu di hari sebelumnya napaknya saya juga pulang cepat. Saya melihat anak SD (yang masuk siang, sepertinya) pulang sekolah, saya berpapasan dengan wajah-wajah penjemput yang mencari-cari anaknya, juga wajah-wajah anak SD yang mencari penjemputnya. Wajah-wajah lega dan saling melempar dadah berpammitan. Satu dua menyeberang, pulang sendiri. Lalu saya juga lihat mobil tahanan lewat di depan SD itu. Saya sedih pas itu, lihat mobil tahanan lewatin SD dan mungkin cukup sering karena memang di situ ada arah ke rutan gitu.
Tapi waktu itu temen saya menggeleng, dia bilang jalan pulangnya ngga lewat hal-hal semacam itu. Baiklah.

Kamis itu juga, saya perlu ambil cetakan di margonda area detos. Saya ke sana habis buka puasa dan maghriban. Ingat waktu itu Pak Yatno nyiapin pisang dan singkong rebus yang cukup banyak. Saking banyaknya sampe nyisa banyak banget di kantor. Dua temen saya so lucky mendapatkan pisang turahan makan siang peserta shortcourse.

Waktu saya mau pulang, Kak Ardi nyuruh bungkus pisang dan singkong rebus itu. Saya menolak karena khawatir di rumah gak kemakan. Tapi Kak Ardi bilang, buat diagi-bagi Fit, ke orang yang gak kamu kenal yang ditemui di jalan. Tadinya saya ragu, kayak mikir, perasaan saya ngga pernah ketemu siapa-siapa di jalan. Beda sama Kak Ardi yang bilang sering melakukannya, karena bayangan saya waktu itu, Kak Ardi pulang lewat stasiun dan di stasiun banyak sekali orang yang mencari nafkah, mulai dari anak-anak kecil yang jualan tisu, pengemis, dan lain sebagainya. Tapi akhirnya, saya bawa aja. Satu bungkus.

Dan....saya pulang tapi kan ke percetakan dulu ya. Margonda. Suatu pola yang gak biasa saya tempuh mengingat arah pulang ke Bogor. Jadi saya melihat hal yang lain dari biasanya.
Margonda malam hari itu, rasanya miriiiiis sekali.
Entah berapa banyak orang-orang dengan hasil memulungnya, atau mengambil sampah plastik yang masih bsia dipakai, ada di pinggir-pinggir jalan Margonda. Ketika saya pergi dan pulang. Yang hanya berdua ibu dan anaknya, yang berempat; ayah ibu dan kedua anaknya. Atau mungkin juga yang sendiri. Banyak sekali jumlahnya. Saya sampai menyesal hanya bawa satu kresek waktu itu.

Ya Allah, rasanya sedih sekali. Semalam itu mereka sekeluarga baru pulang. Watu menyebut kata pulang, saya bahkan jadi ragu juga, apakah mereka betulan pulang atau tidak. Apakah mereka punya tempat berteduh? Atau ya sehari-hari bersama gerobaknya juga. Tinggal di sana, hidup di sana. Semoga mereka lekas Allah beri tempat dan penghidupan yang layak, ya.

Sepanjang perjalanan pulang, saya jadi mikir itu sih, yang jadi judul tulisan ini. Yang Dilihat di Perjalanan. Kalau temen saya Senin lalu bilang, orang lihat motor lewat di jalan aja, bisa beda apa yang dipikirinnya satu sama lain. Lalu saya jadi mikir aja, mungkin apa yang kita lihat selama perjalanan, berangkat atau pulang, dalam kantor atau di luar, itu yang membantu menjadikan diri kita saat ini. Meskipun ada juga kemungkinan terlalu biasa melihat sehingga tidak membuat hati menjadi peka.

Semoga kita termasuk menjadikan apa-apa yang dilihat sebagai tempat belajar dan menjadi priibadi yang lebih baik. Aamiin.

Tumbuh Bersama (dan Insight Menarik Lainnya dari Video Maudy-Najwa)

"Proses grow bareng-bareng itu sih yang bikin hubungan jadi kuat" - kata Najwa Shihab tentang dirinya yang nikah di usia 20.
*


selama sekolah, hampir aku gak pernah punya pengalaman ngerjain tugas diteemenin denger sesuatu. hari ini, setelah rabu kemarin ada pada percakapan,
"Mbak, katanya mau bantuin Fahri kan?" Fahri ngomong gitu sebelum berngkaat lagi ke sekolah untuk ngelanjutin camp sebelum UN nya, jenak sebentar karena libur pemilu.
"Iya, apa yang bisa Mbak Fitri bantu?"
"Tulisin semua rumus dong dari dua buku ini." Ngeluarin buku persiapan UN IPA sama Matematika wkwkwk.
.
Ya  intinya baru terealisasi Jumat pagi ini (belum selesai juga sih). Agak teat karena doinya juga ternyata dijemput dari sekolah Jumat pagi. Lalu aku cari temen ngerjain soal dari yutub. Sampai akhirnya nyetel ini juga setelah video lain. 
*
Tapi menarique sih, sebelum-sebelumnya emang yang bikin aku tertarik adalah postingan orang tentang gimana sih orang tua Maudy Ayunda mendidik beliau. No TV, menjadikan buku itu alat hiburan yang bahkan ayahnya bela-belain ke SG demi bawa buku-buku berkualitas. Lalu juga ibunya yang selalu mengajak Maudy ngobrol yang ngajak mikir. Maudy yang cinta belajar :") (ini lucu banget sih pas mereka berdua sama-sama awalnya bilang aku aneh banget kayaknya, tapi aku suka belajar, lalu ternyata keduanya sama-sama suka ujiaaan :D )

Sampai aku juga sempet terdiam aja pas Najwa bilang, mimpi itu nggak boleh nanggung. 
Aku kayak langsung diem, mikir. Apa ya mimpiku. Beneran gak ya itu mipiku. Apakah itu masih nanggung, padahal emang bener sih, katanya mimpi emang jangan setengah-setengah. Dan kalau memang menginginkannya, atanya semesta akan mendukung. Aku jadi nanya gitu, apakah aku udah sepenuh hati kalau aku punya keinginan? Apa udah didoain terus menerus habis shalat? Aku siap gak ya memperjuangkan mimpiku? Gimana kalau mimpiku berubah. Gimana kalau ternyata aku nggk seingin itu? Gimana kalau aku gak cukup berani untuk itu, gitudeh. Anyway, Maudy pun pengen masuk Harvard udah dari SD bayangin. Aku jadi merasa orang tuanya juga hebat sekali bisa membuat Maudy punya cita-cita yang ia kejar bahkan sedari kecil. 

Aku juga sempet kepikiran sih, apakah kelak aku akan S2? Kalau ternyata pengen belajar lagi, akan ada waktu, ruang, kesempatan, dan izin yang diberikan gak ya? 

Hehe jadi ke mana-mana, ya. Padahal pertama pengen ngepos quotenya Mbak Nana aja yang aku posting di awal itu. Bagus, hehehe. Jadi maaf kalau judulnya begitu. 

Kamis, 18 April 2019

Sampai kantor. Sepi. Sendiri.

Aku nggak ngerti energi apa yang menggerakkanku untuk tetap berangkat, sama halnya aku ngga ngerti juga energi dan niatan apa yang bikin kemarin sore aku tetep mau ngisi adik-adik, jadwal ganti ahad lalu. padahal badanku masih lemas. aku juga ngga ngerti sakit jenis apa ini yang walau demamku sudah turun, badanku masih aja lemes. masih kadang-kadang dingin gitu. masih kadang-kadang keringetan. batukku juga masih saja keras. dan yang aku heran, aku masih makan walau ukurannya memang berkurang, tapi badanku juga masih aja lemas.

aku menebak-nebak. buat bersosialisasi? biar kerjaan beres? buat mendapatkan energi dari sekeliling? biar bisa pulang cepet? biar proyekan yang menganggap hari libur masuk ini amanahnya lekas usai? biar hutang-hutang tentang targetan penjualan lunas? entahlah. hanya saja di jalan aku belajar ngebalikin lagi, niatnya, bismillahnya, dan lain sebagainya.

sejak sakit, aku malas sekali merespon pesan-pesan di hp. kecuali yang memang aku tunggu-tunggu balasannya. aku nampaknya selalu saja beralasan pengen bales dengan niat. pengen bales pas buka laptop karena mau ngetik panjang, dan lain sebagainya.
tapi aku paham itu hanya alasan.
maaf ya teman-teman.

sebagaimana juga banyak yang ingin aku tuangkan di laman ini. bahkan termasuk hal-hal yang aku pikirkan mungkin dari tahun lalu, hahaha. tapi ya gitu, masih alasan.

bismillah, semoga hari ini punya stok yang cukup untuk konsentrasi dan menunaikan amanah dengan baik. dear tubuh, kita bersahabat, ya :)

Rabu, 17 April 2019

Kuat, Yakin, dan Percaya

tadi nangis liat dan mencermati lirik ost ini
.
banyak banget kejadian orang tua yang jadi kuat karena melihat anaknya berjuang menghadapi kondisi spesianya ketika lahir, atau ketika sakit. seperti ketika aku dulu lihat kisah adam fabumi, lihat kisah illonaillonalona (total udah 40 operasi sampai usia 4 tahun bayangin :"", dan waktuu lihat ayahnya nangis, dia masih bisa bilang, don't be sad daddy, be strong like me).

orang dewasa selalu rasional ya. mungkin pengalaman hidup membuatnya demikian. tidak melulu salah, namun kadang bisa mematahkan semangat, kadang bisa mematikan harapan. ah, padahal dibandingkan anak-anak, orang dewasa yang justru lebih paham soal menggantungkan segalanya ke Allah. harusnya malu ya :"

coba lihat harapan dalam bola mata anak-anak yang selalu jujur itu :")
harapan yang yakin bisa. harapan yang optimis. harapan yang yakin bakal nyampe sama apa yang dicita-citakan. pertanyaannya, jika harapan mereka mati, jangan-jangan, orang dewasa atau justru kitalah yang membuatnya demikian, naudzubillahimindzaliik.

kalau tadi lihat lagi edisi filmnya ada kutipan kata-kata begini, "umma akan selalu percaya kalau nussa...bisa"

lagi-lagi tentang percaya, ya :")
Semalam kebangun jam dua, agak menyesal ketiduran dan kemungkinan melewatkan waktu yang mungkin menjadi tuan rumah untuk mengobrol bersama orang-orang rumah.

Lalu kepikiran suatu hal, meski ngga terlalu berkaitan sama paragraf sebelumnya
Kenapa ya manusia suka merasa kehilangan atas apa-apa yang tidak dimiliknya.....

Selasa, 16 April 2019

Sakit.
Waktu sakit rasanya hanya bisa tiduran. Grundel-grundel ga jelas di kasur. Bolak-balik kanan kiri. Dibawa dzikir, ketiduran, kebangun lagi, nanti tidur lagi. Banyak tidur sampe badan rasanya pegal-pegal. Kepikir, kalau sakit, nggak banyak yang bisa dilakukan ya. Tapi ya emang kondisi sakit itu begini. Bakan ada pada satu titik di mana aku takut minta sembuh sama Allah, takut kalau ini adalah cara Allah gugurin dosaku.

Lemes maksain kerja.
Setelah dijalani, eh ternyata lemes ya, padahal kemarin sudah lebih baik dan kupikir hari ini akan lebih baik lagi dari kemarin. Dan ternyata, harus siap sama komplain. Harus siap sama pihak yang tidak mengerti kalau aku ga di satu tim doang. Harus siap di-feedback orang. Harus siap sama orang yang gak paham aku ngerjain dokumen. Harus siap sama perasaan senggol bacok yang rasanya, ya Allah andai dirimu tahu aku sudah melakukannya kemarin tapi aku tahu susah laporan karena ingin memastikan langsung. Harus siap sama menyesuaikan kenyamanan kerja orang lain. Harus siap sama perasaan, itu baru sejam yang lalu diassign ke aku, waktu aku lagi shift di tempat lain, kenapa kayaknya aku salah banget huhu. Harus siap sama moodswing dan perubahan-perubahan hormon yang tak disangka.

Bersabar, bersyukur.
Banyak ujian hidup yang lebih berat dari ini Fitri. Semangat :)

Senin, 15 April 2019

Kenapa Mau Menikah?

Waktu itu Abi sama Fahri ngobrolin suatu profesi yang intinya profesi mereka tuh bisa dikejar, keluarganya bisa terancam. Aku nggak denger profesiya apa. Tapi waktu aku yang dengernya dari atas, waktu turun tangga, aku nanya.

"Kalau tahu profesinya bsia mengancam orang-orang di sekelilingnya, kenapa dia mau menikah Bi? Kan malah jadi mengancam kehidupan orang lain. Hidupnya gak tenang...."
"Lalu Abi bilang, karena ada sesuatu yang lebih besar yang dikejar sama dia dengan menikah."

Waw. Bisa gitu ya.
Saya selalu penasaran makanya sama orang yang ingin menikah. Pertanyaan sejak lamaaa sekali. Kenapa sih seseorang (atau mungkin kamu) mau menikah?

Panik

"Kamu tuh fit, paling rusuh, ekspresif, panik, udah gitu ngomong sendiri."

"Heu, gitu ya. A, B, C, D emang ga ada yang kayak gitu?" Saya menyebutkan beberapa nama, lupa berapa.

"X ekspresif, tapi nggak panik. Y hmmm, ekspresif, enggak sih. Iya kamu doang yang kayak gitu."

"Lalu, gimana biar saya bisa nggak kayak gitu?"

"Tarik nafas dari hidung, keluarin dari mulut."

*mempraktekkan*

"Kamu nggak pernah ya Fit nggak ngapa-ngapain?"

"Ha, maksudnya gimana?"

"Iya, kamu nggak pernah ya nggak ngapa-ngapain?"

"Nggak ngapa-ngapain itu apa? Bengong?"

"Iya, bengong 10 menit gitu pernah nggak?"

"Kalau bengong saya nggak inget. Tapi gimana mungkin nggak ngapa-ngapain? Lihat langit-langt aja kan ngapa-ngapain. Nafas juga ngapa-ngapain..."

"Saya dulu waktu kuliah, sering. Dengerin musik atau murottal gitu, di kampus hari sabtu, di pinggir lapangan sambil nonton basket. Sekian menit. Terus jadi tenang."

"Kok bisa jadi tenang?"

"Iya, kalau denger murottal kan gitu, jadi tenang" dijawab malu-malu.

"Kamu dengerin apa nonton basketnya?"

"Dua-duanya."

"Hoo, bisa gitu, ya dua-duanya. Terus efeknya apa ke kehidupan sehari-hari? Kalau itu kan ya emang nggak ada apa-apa. Ga ada deadline, kerjaan, dan lain sebagaianya."

"Kebawa kok Fit, kerasa."

"Wah, bisa gitu ya."

Kayaknya saya butuh banyak latihan biar gak panik, dalam hati.
***
Oh, sama butuh penawar yang bisa menenangkan, dari diri sendiri kooook. Yha, kalau mau bantuin juga boleh.

Kadang, saya khawatir kalau panik diri ini kebawa ke mana-mana, menyangkut ke kehidupan orang lain. Apalagi kalau Allah izinkan berkeluarga dan Allah izinkan punya anak (aamiin). Kebayang lucunya bayi, kadang takut baby blues. Kebayang masa tumbuh anak, kadang takut persaingan ibu-ibu yang yagitudeh. Takut sama perasaan gagal jadi ibu gara-gara baca curhatan orang-orang, haha. Padahal nikah aja belum. Heu, zaman generasi ibu saya, ga ada medsos, kayaknya dunia tentram damai ya :)
Tapi kan gitu ya kehidupan, selalu ada aja ceritanya. Dan kemarin kan saya nulis ya soal kekhawatiran yang bertingkat.
Kalo kata Ummi, jangan takut. Yakin bisa, dengan bantuan Allah.
Seringkali, yang ditakuti hari ini, nggak semenakutkan itu kok.

Cerita Ummi dan Cerita Penerimaan yang Luas

Kemarin di perjalanan pulang, mata saya lelah sekali. Memang saya belum sehat sempurna setelah sakit. Saya menutupi mata saya ddengan tisu, karena pengen dibawa merem, tapi gabisa juga buat tidur. Seentara saya pun takut kalo tidur di jalan. Saya takut bangun-bangun saya jadi pusing, kayak waktu bangun pagi. Jadi saya paksain tetep bangun, tapi matanya merem.
.
Gak kerasa, saya malah nangis. Untung ketutupan tisu, jadi ga trlalu keliatan Meski sempet ngalir di pipi juga.

.
Hm, ada pemicunya sih. Bukan nangis yang nangsi gitu aja. Antara malu, kesel, bersyukur, haru.
***
Dari buku Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, saya belajar bahwa ulang tahun adalah saatnya mengucapkan terima kasih kepada orang-orang di sekeliling, yang telah menjadikan diri ini hari ini. Terutama orang tua. Jadi bukan soal perkara menunggu atau bahagia soal ada ucapan. Saya pun masa bodoh orang ingat atau tidak. Saya sudah menyembunyikan tanggal itu di identitas media sosial manapun-i more appreciate someone who remmeber because they remember, not bcs of medsos notification.
.
Saya juga pekan lalu pingin ngucapin teria kasih ke banyak orang. Namun rupanya saya belum seniat itu. Salah satunya tentu saja kepada Ummi.

Kemarin saya ingat Ummi. Dan saya ingat tulisan lama saya di 2015 (saat saya flashback, saya takjub juga ternyata yang komen ada beberapa :")). Kalau mau bisa baca di sini. Aih, bahkan saya pernah menulis keresahan soal kata cantik di jurnal harian saya waaktu aliyah. Saya tulis di kursi tepi lapangan bola sekolah. Hari Jumat kalau tidak salah, saya pakai seragam batik. 2012, sudah lama sekali :")

Ummi tidak pernah repot soal make up atau soal tas bagaimana yang dibawa. Bahkan sepanjang saya bisa mengingat, saya belum pernah rasanya melihat Ummi pakai lipstick di depan saya. Satu-satunya yang pernah diceritakan adalah waktu Ummi ada rekaman soal Islam, dan pakai lipstiknya diusap jari, diminta tim videografernya agar tidak kelihatan pucat di dalam video. Dalam rangka urusan dakwah. Itu pun hanya saya dengar lewat cerita. Saya tidak pernah lihat Ummi repot kalau mau undangan. Paling-paling repotnya nanya, ini matching gak ya warnanya, hehe #womanproblem. Jadi dulu waktu di kontrakan ngomongin dunia kerja, saya justru nanya ke adik-adik 2013, kenapa sih orang kerja pada pake make up? Emang harus ya? Lalu dijawab lah, katanya pakai make up itu menghargai lawan bicara, biar rapi, dsb gitu. Pas itu kayak belum bisa terima gitu sih. Lah emang menghargai orang lain harus dengan make up? Aku merasa gak make sense gitu, haha. Tapi ya paham sih, karena mindset dunia sekarang sampai situ. Alhasil ya demikianlah belief yang diercaya masyarakat. (dan saya bersyukur bekerja di tempat yang nggak melihat orang dari make up :"))
Dan saya bersyukur mengingat Ummi yang sederhana :")
Btw, make up is different with menjaga tubuh-atau case ini wajah-dengan baik, ya.

Sekali waktu, pernah teman saya nanya waktu akhir-akhir di asrama. Fit, nggak kepengen ganti tas pakai yang kayak prempuan dewasa gitu? Ah, mengingatnya saya mau ketawa sendiri. Pertama, saya anak ilkom (cie ngaku) yang waktu itu hampir selalu bawa laptop ke mana-mana. Pegel lah ya bawa laptop pake tas cewek gitu. Kedua, saya tahu persis ummi saya waktu itu ke mana-mana nyaris selalu bawa ransel. Kalo pergi ngaji, sih biasanya (mayoritas aktivitasnya itu sih hehehe). Bawa ransel apa aja bisa dimasukin. Terus kalo pulang dan mampir belanja, ummi bisa masukin belanjaanya ke ranselnya terus jdi ga rempong tenteng-tenteng. As it is. Kalau bawa ransel juga imbang gitu kan, pundak kanan kiri. Ya kalau ke undangan Ummi gabawa ransel sih. Dan mungkin sampai besar anak akan jadi peniru, ya rupanya. Saya merasa cukup dengan ransel. Dan nggak merasa butuh tas-tas perempuan yang ditenteng gitu (ini tas cewek yang rada gedean buat bawa agak banyak barang gitu untuk aktivitas). Aku tidak tahu ini cukup aneh atau tidak. Atau ya mungkin saja nanti-nanti berubah, wallahu a'lam. Ingatan saya terakhir Ummi bawa tas perempuan gitu waktu saya sd, pernah dua kali model tas. Dulu waktu saya SD pernah juga sih sekolah bawa tas yang ditenteng gitu pas hari eskul, wkwkwk. Belinya nitip temen umi yang tipikal matching dan pandai menawar. Seragamnya olahraga warna hijau, tasnya kalau nggak pink warna biru. Mengingatnya lucu juga, betapa tidak nyambungnya.

Lalu, apa yang bikin saya nangis di jalan mengingat hal-hal ini?
Hmm, apa ya kalau dilukiskan, saya jadi kebayang aja sih, nilai yang ditanam di keluarga, sadar tidak sadar akan terwariskan, dan mungkin juga akan menurun jika Allah izinkan. Baik perempuan atau laki-laki, ketika melihat mana yang penting bagi orang tuanya, mungkin itu yang juga akan diwariskan pada keluarga dan keturunannya kelak. Saya jadi ingat, dulu adik saya pernah rempong sekali milih baju. Terus abi gemes, sampe bilang yang intinya (lupa redaksinya), itu tuh nunjukin mana yang penting buat kamu, apa yang penting itu cuma penampilan/baju? Terus aku jadi merasa, ya Allah, keluarga tuh penting banget ya. Di sana loh ditanamkan nilai, dijadikan pembiasaan, disadarkan mana yang penting dan yang tidak, mana value keluarga mana yang bukan. Kalau arah keluarganya nggak tau ke mana, terombang-ambing di keluarga, anak akan cari kiblat lain di luar sana. Bisa lingkaran pertemanan (yang belum tentu baik), bisa media sosial, bisa artis, dan lain sebagainya.

Saya juga jadi terharu aja sih, soal penerimaan yang luas. Mungkin efek abis datang ke dua undangan, saya jadi berpikir, orang menikah itu, penerimaannya luas sekali, ya. Bayangin, ada satu sama lain yang mungkin dia baru tahu sedikiiiiit aja (katanya sebelum nikah tau banyak pun, abis nikah akan tetep banyak kagetnya). Lalu saling sepakat mengarungi hidup bersama, dengan segala konsekuensinya, senang sedihnya, tawa tangisnya, dan kebiasaan-kebiasaan yang berbeda. Tapi bersepakat artinya menerima. Segala lebih kurang, kebiasaan yang baik dan buruk. Bahkan soal fisik atau label atas sikap yang orang kadang gak pede tentangnya, lalu ada orang yang mau menerima dengan penerimaan yang luas.

Heu, nggak ngerti lagi, aku. Ada lho, yang siap menerima segala kekuranganmu(semoga benar begitu). Penerimaan yang luas yang terbungkus oleh sabar dan syukur :")
Aku nangis juga kayaknya bagian ini kemarin.

Semoga hal-hal tentang penerimaan itu awet, nggak cuma karena nafsu suka semata lalu karena mau nikah jadi mentolerir hal-hal tersebut. Lalu udahannya malah jadi hal yang diungkit-ungkit atau menimbulkan cekcok. Karena, katanya kalau nikah karena fisik atau sekedar cinta, dua tahun lalu perasaan-perasaan itu akan hilang. Katanya sih. Makanya perlu alasan yang lebih besar. Beyond that.
Tapi kembali, cinta yang baik adalah yang menumbuhkan, bukan yang apa adanya. Jadi ingat tulisan lama ini.

semalam sampai rumah, rekor suhu tertinggi selama beberapa hari terakhir
minum obat, kompres byebyefever andalan meski tulisannya unuk anak-anak, bawa tidur
pagi alhamdulillah sudah turun, walau masih lemes dan ngegrundel-grundel aja saat adikadik repot mau berangkat sekolah

Kamis, 11 April 2019

Halo Diri, Halo Hati

Halo diri, halo hati.
Hari ini, udah jujur sama diri sendiri?
Udah mengerjakan apa yang ingin dikerjakan?
Udah bersyukur sebagaimana harusnya?
Udah memberi hak pada yang berhak?
Udah menuntaskan kewajiban?
Udah menambah kapasitas diri, baik ilmu maupun keterampilan?
Udah menghargai orang lain?
Udah belajar hal baru?
Udah ngerasa bisa menerima pernyataan spontan yang barangkali kelak akan terulang setiap hari, dalam banyak keadaan?
.
Apa sih Fit yang dicari?
Gimana sih Fit memanage amanah waktu dengan segala hal kesibukan yang dikejar?
Gimana sih urutan prioritas kamu?
Berapa banyak alasan yang kamu buat hari ini?
.
--aku yang udah beler dan harusnya istirahat, tapi tidak tenang :(

Pulang


Kemarin aku nggak tahu kenapa pengen banget ubah whatsapp status jadi Pulang. Kayaknya ngubahnya juga udah di kantor sih. Lalu hari ini melhat postingan itu di dashboard blog. Aku jadi sedih. Tapi banyak benarnya.

Hari ini karena ngejar deadline caption habis zuhur, dan waktu aku selesai Ima lagi nanggung, kami ngaji jam dua di mushala. Aku bilang ke Ima, "Ma, gimana Ma ngajiku nggak teratur banget nih...." Rencana tilawah persiapan ramadhanku buyar. Sudah tertinggal jauh. Hariannya juga cuma dikit-dikit, bahkan pernah skip. Aku sedih banget rasanya.
Lalu Ima bilang, "Dahulukan urusan Allah. Nanti Allah yang urus urusan kita."
Me like: tertampar bolak-balik.
Ima bilang lagi soal tilawah sehabis subuh dan sehabis kerjaan. Aku sempat cerita aku lemah banget habis subuh tu. Tapi bener sih yang dia bilang habis dhuha. Itu bisa dicoba. Aku jadi sedih aja kayak nggak prioritasin Allah, padahal diri ini kan selalu butuh sama Allah. 
Mungkin karena itu juga kali ya, Allah kasih aku pilek, meler, tenggorokan ga enak, pusing, di tengah kerjaan yang tetiba jadi banyak ini. Lalu jadi kayak ingin  menarik diri dari segala yang ramai-ramai, meski kadang aku kangen obrolan-obrolan di ruangan. Maafin hambaMu ini ya Allah :"(
Bersyukur Fit, sudah disadarkan.
Tapi cara bersyukur terbaik adalah berbuat. Jangan lupa.

Kekhawatiran-kekhawatiran (yang Bertingkat)

Kekhawatiran tentu saja menyebalkan. Tapi ia tak berakhir begitu saja. Kekhawatiran barangkali umpama urusan yang tiada selesai. Setelah usai satu kekhawatiran, akan hadir lagi kekhawatiran lainnya. Begitu saja terus. Jadi ketika satu kehawatiran sudah terjawab, siap-siap saja, akan ada kekhawatiran lainnya yang menunggu. Seperti seorang anak yang sudah menyelesaikan kekhawatiran soal ujian nasional, lalu ia kembali khawatir dengan hasilnya, atau dengan ujian masuk SMA. Ya, mungkin saja. Seperti pasangan yang khawatir soal kapan momongan datang, lalu setelah datang, khawatir apakah mampu bisa menjadi orang tua yang baik atau tidak.
Maksudku bukan mengecilkan, tapi, nikmati saja tiada akhir kekhawatiran itu. Mungkin termsuk sunnatullah. Dan sebagaimana masalah yang membesar, kekhawatiran ungkin juga bagian dari itu, yang akan membuat kita naik kelas. Dan barangkali, khawattir juga membat sadar, bahwa diri ini perlu banyak sekali belajar, perlu banyak sekali menerima, perlu banyak sekali memberi, perlu banyak sekali memperbaiki.

-isi pikiran Sabtu beberapa pekan lalu, di jalan raya bogor, 
ketika mau menyebrang jalaan pagi-pagi pukul enam
aku, yang kemarin merinding sendiri karena hanya membatin lalu langsung Allah kabulkan
aku, yang lagi tahap merasa sedih karena pileknya dominan lagi, saat makan, saat shalat
aku, yang telah menunda banyak hal
aku, yang hari ini merasa mulai ga enak badan, khawatir kayaknya mau sakit
aku, yang membaca ulang sesuatu barusan lalu nangis entah mengapa

Rabu, 10 April 2019

Senin, 08 April 2019

Buku Harian Ummi-1995
















Tadinya aku tidak mau menulis apa-apa seputar hari ini. Lalu aku ingat buku yang kutemukan waktu smp dan memutuskan membacanya kembali. Buku yang sejak kutemukan, belum pernah kubilang ke Ummi kalau aku menemukannya.

Sabtu, 06 April 2019

Halo: Tentang Sepekan Terakhir

lama juga ya ngga nulis curhat gitu, gatau rasanya sedang malas sekali menulis. iya, malas aja gitu.

cerita-cerita saja ya
jumat lalu ke klaten, lewat halim. dadakan, menurutku. membuatku panik sendiri karena kerjaan konten belum selesai, lalu belum rekap peserta acara yang aku pjnya heuheu. belum mikir siapa yang jaga perpus. lalu di perjalanan cukup mengenang banyak hal, soal keberangkatan, soal bandara. soal obrolan, soal kejadian. terakhir naik pesawat lewat halim, susulan mudik yang juga banyak perubahan mendadaknya. jadinya sendiri, berangkat h-1. banyak cerita panjang, lalu concall small group, lalu sampai jogja dan terjaga sampai pukul satu. bicara jogja dan bandara, aku ingat berangkat kkn, berangkat ke jepang, lau juga saat menjemput dan mengantar umak bapak kkn yang ke jogja untuk wisuda anaknya di purwokerto.

tempat tidak pernah sekedar tempat. ia juga menyimpan banyak kenangan.

sampe jogja, langitnya jernih, bintangnya banyak. menyenangkan.

ke klaten. inget nana. inget nikahan pertama ilkom 12, yang sesama ilkom 12 di klaten. waktu itu temen kuliah masih banyak di jogja. meski udah pada wisuda. Inget konsep nikahan piring terbangnya solo.

sabtu. acara di balai desa. ketemu temen rk secara tak sengaja. inget kkn gegara acaranya di kantor desa. menjadi fasilitator. kagum dengan semangat abidah yang dia sebenernya lagi sakit, tapi masih bisa memberi banyak pada orang lain. pulangnya...ternyata lelah banget menjadi fasil separuh hari, mungkin ditambah ruangan kelas pelathan yang kurang kondusif sehingga mempercepat lelah. pulang. kalut sendiri karena penasaran. tapi yaudah. mungkin ga baik juga memburu-buru sesuatu.

ahad, acara remaja. ngeliat beberapa testimoni Nabi Muhammad dari tokoh-tokoh yang bukan muslim. lalu malu sendiri. malu juga karena merasa ga optimal. tau temen selingkaran mau nikah setelah sebelumnya ada juga januari :") datang ke kantor mengejar daftaar isi buku ramadhan dan naskah buat apply ke litara. menyelesaikannya di rumah. lagi ada shortcourse. ketemu temen siaware yang kutak menyangka dia ikutan shortcourse.
lalu yang warbbiasa juga. ngobrol sama seorang kakak yang udah deket hari nikahannya (terus kata beiau, iya fit tadi aku juga ditanyain, gimana rasanya, udah dua minggu lagi terus aku baru nyadar wah iya juga ya tinggal 2 pekan lagi)). Selain aku tanya sala kendala apa enuju hari H nya (katanya kan menuju hari H suka anyak godaan), yang sebelumnya pernah terobrolkan lalu kepotong, aku nanya juga, gimana kak rasanya sekarang?
Katanya:
"Rasanya tenang Fit."
"Wah kok bisa kak?" kutanya demikian, tak percaya.
"Iya Fit kayaknya dari Allah deh.
Heuheuheu haru deh dengernya, sampe kubilang, kak aku perlu catat ini kak. :")
Kakak ini dan calonnya pasti dah melewati banyak sekali tahapan yang sampai mempertemukan mereka kedua pada kata sepakat. Waktu aku tanya berapa lama sih kak prosesnya, si kakak bilang tiga minggu dari awal iya proses sampai netepin tanggal. Kelihatannya mudah, tapi aku yakin proses mereka melalui tahapana dengan sebeum-sebelumnya sampai yang ini tentu telah mendewasakan dan empersiapkan mereka jadi diri mereka yang sekarang. Barakallah ya kakak kakak :")


senin aku nonton video ini yang kudapat kemarin ahad dari tumblr jagungrebus. backsoundnya bikin haru dan pengen nangis gitu heu.


Lalu juga membahas ulang tahun. Jadi seorang kakak istrinya besoknya ulang tahun. Lalu nanya usulan kado. Salah seorang bilang, saya ga ngerayain ulang tahun. Kata kakaknya saya juga sih, cuma takut salah. Saya ketawa aja hehe. Saya tau kakaknya pasti mau ngasih yang terbaik buat istrinya. Aku pernah mikir, kayaknya soal ulang tahun itu kalo dah nikah perlu diobrolin dan disepakati bareng deh, mau ngejadiin momen ulang tahun momen yang gimana disikapinya di keluarga, karena nanti ngefek juga sih kayaknya ke anak-anak dan satu sama lain. Kayaknya yaaaa....

selasa kureview meeting dan membahas kemungkinan proyekan. Sebelum review meeting, kudiberi kabar naskahku ditolak. Dan kukira aku bakal biasa aja kalo fitolak. Ternyata dapet kabar naskah ga lolos seleksi menjelang review meeting itu sesuatu :"""" asa hampir nangis gitu aku pas set up setbup buat review. Reviewnya juga kurang lancar dan kurang persiapan akunya. Oh ya, hari ini pas dapet kabar ditolak juga bertepatan dengan hari buku anak internasional. MasyaAllah ya bisa pas gitu :") 2 april. Memang perlu banyak belajar lagi fittt :')

rabu tanggal merah. mengerjakan buku ramadhan dari rumah. ada jalan sehat di rw.
ini sebenernya pengen bikin postingan baru sih. tapi sini aja deh. judulnya....

Wondering
Sejak aku kuliah dan ke rumah bude-bude di Magelang, atau ketemu kakak sepupu yang udah punya anaka, atau keluarga lainnya (dulu aku pernah cerita di postingan 31 des 18 atau 1 jan 19 *males cari link), aku suka kepikir, anak-anak ini gimana ya diutmbuhkan di keluarganya. Kakak sepupuku gimana ya mendidikya. Atau apa aja ya yang udah jadi perjuangan mereka. Kalo lihat anak yang udah dibiasain kerudungan sejak kecil sama yang kalo kumpul pakenya baju pesta, aku mikir, mesti beda pendekatan pendidikannya di rumah, dsb dsb gitu deh. Ramai isi kepalaku kalo ketemu orang-orang itu.
Dan ternyata wondering ini berlanjut sampe ke mana-mana
Di jalan, waktu itu naik motor boncengin ummi. Pas papasan sama sepasang suami istri boncengan, aku bisa mikir, pasangan ini udah menghadapi apa aja ya selama menikah, mereka lagi seneng apa biasa aja ya boncengaan bareng, anak-anaknya gimana ya. Padahal gak kenal. Sama sekali.
Terus pas jalan sehat RW kemarin, ketemu ibu-ibu. Karena kumenempel ke Ummi, jadi ikut satu dua ngobrol ama ibu-ibu atau ya ikutan senyum aja. Atau hanya dari sekedar ngamain wajah ibu-ibu yang aku tau dari jaman aku kecil. Lalu aku wondering gitu, ibu-ibu ini mesti dulu juga seumuran aku. Gimana ya cerita mereka waktu fase-fase remaja. Waktu fase menjelang mereka menikah. Waktu awal-awal adaptasi. Waktu awal-awal menikah. Gimana ya perasaanya waktu anak-anaknya, temen main kecilku dulu, udah pada kuliah dan bekerja. Gimana ya perjuangan mereka dalam segala hal kehidupan rumah tangga. Lah aku sendiri bingung kenapa aku wonderingnya kek gitu ya. Hahaha.
Yaudah karena cuplikan aja takusah berkonklusi ya.

1. fatih nungguin doorprize dipanggil samping bapak ustad (dan suka diajak ngobrol)
2. antusiasme anak2 dapet doorprize 3. fatih dengan 4 kupon doorprize 4. abi minum duduk :")


Kamis, Rapat kuartal. Aku kangen este ngomongin target kuartal dan turunannya. Kangen. Kangen ambiencenya meskipun aku juga gamau ngulang. Tapi itu bener-bener pembelajaran berharga. Pengen dapet ambiencenya lagi. Semoga bisa mewujudkan biar aku galak ama diriku sendiri. Biar impian segera terwujud.

aku yang suda mengantuk semalam,
lalu sedih ketiduran dengan
pikiran-pikiran yg belum selesai :"(
Jumat. Aku pulang cepat. Dengan membawa banyak pikiran sampai aku udah niat dan sadar melewati jalan berbeda biar bisa isi bensin, tapi aku kelewat juga. Baru sadar waktu udah seperempat atau sepertiga perjalanan gitu. Heu, bisa-bisanya pikiran kemana-mana jadi lupa.. Alhamdulillah masih bisa jalan motornya. Malamnya ambil jahitan tapi tidak sesuai plan awal :"( lalu tiba-tiba mengantuk dan mesti melanjutkan cutting konten. konferens call bersama pejuang desain fillah.
oiya hari ini sebagai peneman kerja aku ga sengaja (atau tadi kenext gitu ya) denger kajian teh haneen akira istrinya ust. hanan attaki. tadinya mah niat dengerin hanan attaki aja. lalu karena males dan nanti jadi lama nyari man ayg mau didenger, jadi kupasrah aja dengerin itu. teh haneen bahas doa minta jodoh hampir 1,5 jam coba. tadinya aku heran kok bisa doa dibahasnya selama itu. Tapi ternyata emang banyak banget komponenya. mangga disimak di sini kalo mau. oiya hari ini juga lumayan banyak cerita-cerita sama kak citra.


Sabtu di Badr. Masih dengan banyak pertanyaan di kepala yang cukup mengganggu fokus dua pertemuan hari ini dan kayaknya udah perlu diberi batas cukup sih, kalo kata Abi beberapa waktu lalu. Menjadi sie bantu-bantu jadi rupanya dak terlalu in charge. Bisa menulis blog deh.
Tadi ke nikahan temen SD. Temen SD keempat yang menikah dalam dua bulan terakhir. Ada cerita setiap datang ke 3 nikahan teman SD dua bulan terakhir ini. Datang ke nikahan Tria dengan perasaan yang gatau kenapa aku pengen nangis itu. Ketemu temen SD  hits yang nanya kenapa aku gadatang ke nikahannya (aku gatau undangannya). Ketemu guru-guru yang lama ga ketemu dan mereka nanya, Fitri datang sama siapa? Kujawab dengan senyum, sama motor Bu... Tadinya kumau daang sama Ummi soalnya, tapi gajadi. Nikahan Erika, pertanyaanya bukan kapan nyusul kayak yang menstrim biasanya. Saking lamanya gaketemu sama guru-guru yang ke nikahan Erika, pertanyaanya, kamu udah nikah belum? wkwk itu lucu sih, karena yang ditanya bukan kayak biasanya dan mungkin saking lamanya ga datang ke SD jadi gaketauan kabarnya. Nikahan Kautsar tadi hmm apa ya. Baru tadi tapi lupa. Oiya beliau anak kepala sekolahku dulu. Nikahan ini mengingatkanku pada ingatan kelas 1 atau 2 gitu *bayanginlhoingatankecilituakumasihingatcckck, lalu ingat waktu sunatan hari sekolah jadi ke rumahnya kayaknya kita pada pake seragam. Oh iya tadi ketemu Bu Tini juga. Dulu aku inget Bu Tini habis lahiran, sekarang anaknya sudah SMA kelas 3 coba :") . Bu Tini juga ngga nanya soal nikah, nanyanya udah kerja berapa lama. Ketemu guru lain juga yang nanyanya Fitri sekarang di mana. Kubilang di rumah, kalo mereka terlihat bingung, baru kutambahkan, kerja di Depok.

selamat menjemput ahad dan pekan depan. semoga Allah selalu menguatkan :")


Kamis, 04 April 2019

Repost: Jaga Allah

Jaga Allah, Allah akan jaga kamu.

-itu inti dari segala nasihat.
Ust. Hanan Attaki dari video Ubah Ketakutan jadi Kejutan part 1, belum selesai juga sih aku mendengarkannya, ya bbaru sampai kalimat-kalimat itu aja.

Jaga hak Allah, Allah akan jaga hak kita. Jaga perasaan Allah, Allah akan jaga perasaan kita. Jaga panggilan Allah, Allah akan jaga panggilan kita.
Kalau ke Allah, nggak ada ceritanya kita akan kecewa. Beda urusan sama ke manusia. Kita ngecewain Allah. Tetap aja Allah datang ke kita.

Minggu, 31 Maret 2019

Dear Diri

Dear diri, terima kasih sudah berjuang. Hingga titik ini.
*Ngomong sama cermin

Rumah, sampai menjelang pukul dua belas
Sudah terlampau lelah
Pun juga orang-orang rumah
Untuk sekadar bertukar kisah
Yang tiada kutahu soal hari dan arah

Jumat, 29 Maret 2019

Tempat dan Kenangan

Kadang aku mikir, kenapa ya aku mudah teringat-ingat atau terkenang-kenang akan suatu hal.

Tadi kepikir juga. Tempat itu tidak pernah jadi sekadar tempat. Dia hadir bersama kenangan dan ingatan.

Hari ini di halim. Mungkin karena kak nuri juga tadi nanya di perjalanan. Pernah naik pesawat ke mana. Aku jadi mengingat-ingat hal deh.

Ingat naik pesawat Desember lalu dengan segala kehecticannya, concallnya, obrolan panjangnya, dadakan beli dan cashbacknya.

Ingat waktu ke Jepang. Sendirian. Malam-malam. Transit di KL. Mencari gerbang :') Perjalanan panjang di bulan Ramadhan. Lelah dan senangnya :')

Ingat waktu kkn. Bulan puasa. Ke Kalimantan. Koper besar. Buka di pesawat. Kehebohan yang ngangenin. Kehidupan desa yang sederhana.

Ingat waktu jogja ke jakarta. Karena abi dapat poin apa gitu, jadinya gratis. Nikahan mas aris.

Ingat waktu ke nikahan Mbak Peni. Izin sekolah. Permen hijau, rasa jeruk nipis. Biar nggak sakit gitu telinganya.

----
Aku lagi cari ide, batas kirimnya besok. Cerita tentang apa ya. Tadi kepikiran soal apa cerita tentang anak yang excited naik pesawat pertama kali. Tapi masih bingung jawab 6 poin pertanyaannya. Butuh dua cerita. Ternyata emang nggak mudah ya, lama nggak nulis.

Bismillah, semoga Allah izinkan.

dalam pesawat, 19.29

Pertemuan di Toko Buku

Hari ini kita bertemu. Ah, kuralat. Aku melihatmu. Karena sepanjang yang aku tahu kita belum pernah saling mengenal. Aku hanya menghafal kamu yang datang setiap senin pertama tiap bulan dan menyambangi rak buku yang sama.
Dan binar matamu yang selalu menyenangkan telah kutangkap setiap kamu terpaku di rak buku favoritmu. Dan itu telak membuatku ingin selalu memperhatikanmu dan memperhatikan buku mana yang menarik perhatianmu.

***
Hari ini kamu datang dan ada gurat sedih yang kutangkap waktu kamu berdiri di depan rak buku yang sama. Entah mengapa, aku tidak berani menebak-nebak. Aku mulai rindu melihat binar mata yang biasanya. Namun kamu tetap mengambil dan membaca beberapa buku. Menimbang-nimbang. Membuka ponsel mengecek sesuatu. Memutuskan. Lalu bergerak ke arahku.

Sekian sering kamu datang dan hari ini aku yang bertugas di kasir. Kamu membayar dengan kartu atm yang mengukir sebuah nama. Aku tersenyum, senang meski hanya mengetahui sebatas nama.

***

Hari ini aku menata buku-buku sebelum toko buka. Kemarin ada berkardus-kardus buku baru dari penerbit. Lalu aku terkesiap melihat sebuah nama yang amat kukenal. Hari ini bukan senin pertama tiap bulan. Tapi aku menjumpaimu, dalam sampul buku yang bisa kumiliki dan kubawa pulang.

***

Dalam suatu kesempatan aku kembali bertemu denganmu. Kamu membeli buku-buku dengan namamu di sampul depan. Aku mencari-cari celah. Lalu pura-pura mengamati kartu atmmu dan pura-pura terperanjat. Bahwa aku kaget mengetahui nama yang sama pada kartu atm dan buku yang kamu beli. Kamu tersenyum. Manis sekali. Berbicara satu patah dua kata tentang masa juang dan tunggu yang cukup lama. Jika bagimu itu basa-basi, bagiku itu cerita luar biasa yang kutunggu sekian purnama, untuk mengetahui lebih dari sekadar nama. Ternyata memang aku perlu berjuang menciptakan obrolan, menciptakan momen, bukan menunggu. Ah, dan baru saja aku menyadari itu juga yang terjadi pada cerita bukumu.

Satu orang mengantri di belakangmu. Kamu berterima kasih menerima struk belanja. Lalu menambahkan, maaf tadi jadi curhat, katamu. Aku mengangguk, juga tersenyum.

Dalam hati aku berdoa satu hal.
Semoga binar mata dan senyum manismu tidak akan pernah pudar.

Kamu tahu, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan. Jika kamu belum berjumpa, semoga Allah menjadikannya segera.
-
Jumat sore menjelang maghrib. Mari berdoa.

Hadits: Yang Mencintai Alquran

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).


Baca selengkapnya https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

tadi sore menemukan kutipan ini di antara sumber-sumber dan referensi, ingat pingin nyeritain obrolan tahun lalu dengan dua temanku di waktu yang berbeda tentang seseorang dengan Alquran. tapi belum. semoga segera kulengkapi ketika tiada malas :)

Kamis, 28 Maret 2019

Nggak Mungkin

"Nggak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Nggak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan kalau kalian mencintai seseorang, atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu nggak mungkin.

Bukan hanya nggak mungkin. Bahkan Allah mengancam, dengan sebuah ancaman. Fatarabbasu. Hati-hati kalian, kata Allah. Artinya nggak boleh, seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk. Itu nggak boleh.

Kalau dia mencintai makhluk. Harus karena Allah. Kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah, Allah bilang fatarabbasu, hati-hati.

Kenapa kita nggak berani bertaruh untuk Allah. Ini masa depan nih saya pertaruhkan nih. Kalau saya nggak pacaran apakah saya tetap akan bisa menikah? 

Taruh aja pertaruhannya pada Allah. Allah bilang, siapa yang istiqomah, Kami tolong dia.
Duh, kalau saya putusin, ntar dia sama yang lain, gimana ya?

Nggak usah khawatir, udah aja pertaruhkan masa depan kita sama Allah. Nanti kita akan bilang, untung dulu saya putusin."

-Ust. Hanan Attaki
Tau saya dapat kata-kata ini dari mana?
push notif Yawme ke oase, artikelnya sebenarnya tentang empat perkara yang akan ditanya
lalu di bawah ada sumber ig yang bikin desainnya, saya buka, eh lalu lihat postingannya salahs satunya ada ini.

Sebenernya jarang-jarang klik push notif aplikasi. Tapi ya kayak it's all by designed gitu. Semoga jadi pengingat diri :)


Rabu, 27 Maret 2019

Yang Tidak Memutuskan dengan Apa Yang Diturunkan Allah


44-وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ...

45-وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ...

47-وَمَنْ لَّمْ يَحْكُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ...

menarik sekali potongan terakhir QS Al Maidah ayat 44, 45, 47
semuanya sama, namun di akhir menyebutkan golongan yang berbeda

Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang:

kafir

zalim

fasiq

Padahal ayat-ayat awalnya beda-beda.

naudzubillahimindzalik.
-
Segala keputusan, kalau dilandasi taat, sedih atau gembira dalam kacamata manusia, semestinya akan membawa kebaikan Karena sandarannya sudah jelas: Rabb seluruh alam. Karena kata Mbak Dini waktu KIP gabungan di asrama dulu; Kemenangan adalah tentang kesabaran-kesabaran kita di dalam ketaatan.

*lalu saya takjub sendiri menemui postingan lama saya tentang quotes terakhir itu dan mengenang hal-hal masa itu yang menumbuhkan diri saya jadi sampai saat ini.

Rabu, selepas zuhur
kenapa ga langsung dipos aja ya abis ngetik kemarin

Semakin Kuat Iman Seseorang

Makin kuat iman seseorang, makin tough
Makin kuat iman seseorang, makin easy going sama masalahnya
Makin kuat iman seseorang, makin tenang ia
Gitu kondisi iman

Bosan itu indikasi iman kita bermasalah

-ust Hannan Attaki, sembari aku mencuci motor tadi pagi--yang udah jadi kemarin pagi ya ternyata. lama euy ndak dengar kajian ust Hannan Attaki via youtube.