Sabtu, 16 Februari 2019

Isa

"Maryam udah ada rencana nama anak?"
"Udah."
"Siapa?"
"Isa."
"Waw!!!"
.
Isa putra Maryam.
.
"Bingung aja sih nanti kalo lahirnya cewek gimana."
"Kasih N lah, jadi Nisa."
Kami tertawa.
"Terus nanti kalau nanya. Ummi  kenapa nama aku Nisa. Jadi dulu ceritanya...." kami tertawa lagi.
.
Sudah banyak lah ya cerita tentang Maryam di laman ini.
.
Ah jadi ingat tulisan setahun lalu, di Google Keep, belum dipos di sini. Di pagi menjelang pernikahannya. Waktu itu pukul 00.00 lewat di Makkah. Dan Maryam menuju gedung acara pernikahan, kalau tidak salah. Di tempat Maryam, sudah pukul 04.00 lewat.

----
[25/2/2018 03.46] fitri: Wkwk nyepam
[25/2/2018 03.46] fitri: Kamu ko ga bobo
[25/2/2018 03.46] Maryam Zakiyyah 2: Ini udh bangun sayyy
[25/2/2018 03.46] Maryam Zakiyyah 2: wqwq
[25/2/2018 03.48] fitri: Wqwq
[25/2/2018 03.48] fitri: Iya ding di sana kan jam 4 hampir
[25/2/2018 03.48] fitri: Baiklah
........
[25/2/2018 04.02] fitri: Jawab bsk aja gapapa drpd nnt malah ladenin chat aku
[25/2/2018 04.02] Maryam Zakiyyah 2: Isokay aku masih otw gedung ini wkwk

Saya sangat mensyukuri adanya percakapan  menjelang waktu superpenting Maryam. Saya yang saat itu belum tidur dan Maryam yang sudah bangun dan ada dalam perjalanan menuju gedung. Percakapan kecil itu, rasanya cukup membuat hari saya hangat. Senang sekali rasanya punya obrolan dengan teman dekat yang akan melangsungkan pernikahan (udah j-3 akad). Saat dia harusnya rempong dan gak ngecek hp. Tapi Allah menakdirkan kami bisa mgobrol walau singkat.

Obrolan itu rasa-rasanya dapat menjadi bentuk antar saya terhadap Maryam menjejaki kehidupan barunya. Pada blog ini bahkan, saya rupanya punya 2 tulisan khusus tentang Maryam. Sejak kenal dan dekat karena kelas lukis, jajan giliran tiap sabtu, ngobrol macam-macam sampai sudah lulus aliyah, ingin ke luar negeri lalu Allah dengan Maha Baiknya memberi kami pertemuan pada agenda masing-masing di tanah sakura, sama-sama menghadapi skripsi, cerita berbagai hal dari yang remeh sampai yang melibatkan emosi -perasaan-.

Hari ini Maryam menggenapkan separuh agamanya. Meluruhkan hari-hari yang dulu sekali saat masih tingkat 2 atau 3 sempat diisi dengan obrolan ringan soal jodoh dan kejutan perasaan. Memastikan hal yang ditanyakan pada akhirakhir masa perkuliahan. Memberikan keputusan besar yang akan mengikat di hidupnya sampai seumur hidup nanti.

Maryam adalah salah satu orang yang menyenangkan sepanjang saya kenal. Dan saya tahu pasti, banyak sekali teman Maryam yang menyayanginya.

--25 Februari lalu, tulisannya baru sampai sini

Sudah Saatnya

Sudah saatnya menutup ritsleting rapat-rapat.
Atau masuk ke kotak. Bersembunyi. Bukan untuk dicari. Tapi justru agar merasa cukup dan tidak mencari-cari.
Atau bersembunyi di balik selimut. Bukan untuk berimajinasi. Tapi menjelajahi relung pikiran sendiri.
Atau bersembunyi di kolong meja. Seperti yang pernah dilakukan ketika ada lonjakan-lonjakan pikiran di sela hal-hal. Tapi bukan untuk menghempaskan. Karena ini maksudnya membuat tak peduli.
Atau menenggelamkan diri di tengah kesibukan. Yang sialnya, perlu dibuat dan dicipta sendiri. Karena sejatinya, diri ini nahkodanya. Setidaknya saat ini. Belum jadi navigator.
Atau....
Sudah, terlalu banyak atau.
Ciptakan tenangmu, Nak.


Jalan tol jakarta cikampek
18.48


Jumat, 15 Februari 2019

Terima Kasih

untuk quotes ini, terima kasih. Aku ingat rasanya mendoakan orang yang aku sampai merasakan deg-degannya orang yang kudoakan. Quotes ini meningatkanku pada pengalaman itu. Terima kasih webtoon Pak Guru Inyong yang hadir dan memberi teladan dari hal-hal sederhana.


untuk hujan pagi ini, terima kasih. Biar hujan dan hal-hal yang menjadi pikiran melebur. Meski sulit dinikmati kala kerja mengejar-ngejar diri. Tapi hidup memang begitu kan? Kita selesaikan, ya. Satu-satu.


untuk lagu ini, terima kasih. Ngga tau kenapa kebawa dan kayak pengen menumpahkan cerita-cerita. sebentar tapi terngiang.


untuk obrolan makan siang soal menjadi orang tua yang tidak mudah, terima kasih. bahwa cerita soal rumah tangga teman lainnya yang dibangun dari tidak tahu apa-apa, belum bisa masak dan belajar parenting, semua bisa asal saling menerima dan saling dukung keduanya; suami dan istri; ibu dan ayah. Bahwa kita sama-sama sepakat soal bentakan yang meninggalkan luka (aku pun punya kenangan dibentak whether lawan bicaraku tidak). Pembicaraan soal peran orang tua yang masih kurang ikhlasnya, masih memaksakan ego sendiri, dan mencarikan aktivitas anak justru agar bisa ditinggal. Lain kali kuceritakan terpisah. Dan pertanyaan di langit-langit tentang apakah bisa jadi orang tua yang baik?
Semoga bisa, ya.
Kalau kata Tyank dulu, emang yakin akan jadi Ibu? Bukan maut yang duluan datang?
...
banyak benarnya...


Untuk email ini, terima kasih. Kadang-kadang Allah kasih jalan pada hal yang paling tidak diduga. Setelah itu dapat balasan email yang menyuaul selanjutnya. Email sapa-sapa aja sih. Tapi senang :')


untuk segala hitungan matematika, segala testing dan penantian, terima kasih. InsyaAllah malam ini rilis ya kita. Walaupun ternyata belum bisa pulang sore meski sudah mengusahakan datang pagi :') 
Gapapa, Allah selalu punya perhitungan atas segala kebaikan.

Juga untuk file ketikan yang belum selesai. Cerita-cerita yang kubaca ulang. Terima kasih. Aku sering merasa inferior di hadapan banyak orang. Tapi, menerima diri sendiri adalah kunci. Untuk terus bersyukur dan mengimprove diri. Semoga kelak juga ada saling menerima dan tumbuh bersama. 
Semoga.


Semalam mau nulis randomthings dan belajar syukur belum selesai dan jadi draft aja.

(Masih di) Badr
Tadi datang sepi. Sekarang juga.




Selasa, 12 Februari 2019

Central Park dan Anak-anak

Saya sampai di tempat pemberhentian Taman Anggrek pukul 9 lebih sekian belas menit. Tujuan saya central park. Sebuah frase tempat yang pertama saya tahu daru novel terbitan Noura berjudul Petang Panjang d Central Park; yang ketika itu saya tahu adalah nama taman di Amerika. Tidak tahu kalau ini (juga) nama mal di Indonesia. Seperti yang saya bilang sebelumnya di postingan blog lalu lalu. Saya jarang banget tertarik lihat-lihat mal. Kalau kata Abi, lihat mal tuh untuk nambah wawasan aja. Hahaha.

Saya jalan saja mengikuti dua orang di depan saya, yang setelah lama saya ikuti, saya bingung kenapa mereka ke basement lewat pintu kecil,. Lalu saya jadi tahu. Mereka karyawan mal ini dan tentu saja bukan masuk lewat pintu utama karena mal pun belum buka.

Saya berjalan sampai arah mushala dan ternyata mushala pun belum buka. Kehidupan mal baru mulai pukul sepuluh. Lampu-lampu masih gelap.

Saya duduk di kursi-kursi dekat toilet yang lampu depannya pun masih remang-remang. Membuka dashboard blog. Membuka blog kak marissa. Kembali, saya berkaca-kaca, menangis.

Saya merasakan cinta dan ketulusan besar di sana. Saya menangis. Membayangkan betapa besar cinta dan ketulusan yang disampaikan oleh anak-anak. Bukan sekadar cinta dan ketulusan kak marissa yang sampai pada saya. Tidak hanya itu.

Lima belas menit menjelang pukul 10. Saya memutuskan berjalan-jalan. Ada gramedia big sale di tengah-tengah yang sudah dibuka sebagian terpalnya. Saya mendekati rak buku impor anak. Ah tapi kalau lihat-lihat nanti khawatir ditegur. Karena saya adalah pengunjung yang datang bukan di waktu yang tepat. Mal belum buka.

Saya berjalan. Tiba-tiba saja saya mendengar suara celoteh riang anak-anak yang ramai. Dari arah atas. Saya ke selasar samping karena saya searah dengan alur jalan anak-anak itu sehingga tidak bisa melihat mereka. Saya menatap mereka yang berjalan beriringan. Duh, saya mulai baper lagi. Saya menyusul ke atas, menaiki eskalator yang mesinnya juga belum berjalan. Eskalator rasa tangga manual.

Ramai sekali anak-anak itu. Datang dengan riang gembira. Berceloteh. Saya baru tahu Jakarta Aquarium itu di sini. Rupanya perjalanan dalam basement saya yang panjang tidak mengantarkan saya ke central park, tapi juga neo soho di sebelahnya (buta arah lah lewat basement tu, di atas aja saya bingung....). Satu anak ada di paling belakang. Agaknya bisa dibilang tertinggal rombongan. Perempuan. Rambutnya keluar-keluar kerudungnya. Walau jauh, ia loncat-loncat. Riang. Gembira. Tak peduli soal dia datang lebih belakang. Toh ia akan sampai juga.

Lagi-lagi entah kenapa, saya kembali menangis melihat anak-anak itu. Tadi saat duduk saya begitu bingung kenapa saya mudah sekali menangis beberapa hari belakangan. Dulu waktu saya lagi banyak nangis, Kak Marissa baca pola saya menangis. Sekarang, saya kembali bertanya-tanya, pola apa sih yang bikin saya mudah sekali haru atau nangis kecil-kecil gini?


Eskalator bergerak. Menjelang pukul 10 dan mal akan beroperasi sebagaimana adanya.
.
ditulis di tempat tadi, baru dirapikan sekarang.
.
.
.
belakangan saya bertanya pada diri sendiri,
bisa nggak ya apply seleksi 3 paragraf ini 
bisa nggak ya jadi penulis bacaan anak
bisa ngga ya kasih kebermanfaatan yang luas buat anak-anak
bisa nggak ya menjalani dan percaya itu semua bisa di tengah-tengah segala kehectican pekerjaan akhir-akhir ini (saya selalu berpikir untuk menjadi penulis itu bisa sambil kerja yang non penulis)
.
saya nggak mau ragu sama diri sendiri :"
jadi inget juga, kalau ngga bisa jaga perpus tuh suka sedih, kasihan sama anak-anak....
(tadi bilang ini juga sama kak marissa abis baca postingannya setelah yang tadi kubaca)

.
ah fit, kamu banyak pr yang belum selesai malah curhat di sini,
bukannya diselesein....

Senin, 11 Februari 2019

Farewell Hari Ini

Mungkin bukan kebetulan semalam saya mengulik lagi soal tipe kepribadian.

"Selamat berjuang total sebagaimana biasanya"

Hari ini hari terakhir Kak Kania di Badr. Kak Jay buat video yang merekam kesan terhadap kinerja Kak Kania, dan disaksikan kami se-Badr. Kak Kai menangis. Aku juga menangis.

Sebagai sesama ISFJ, dan kalau kalian baca deskripsi ISFJ, akan paham sekali betapa berkesannya sesuatu buat ISFJ jika dia sudah masuk jauh dan lama di dalamnya. Sudah menyayangi dan berusaha memberikan usaha terbaiknya. Setelah sedikit reda, kalimat yang tadi tertulis di atas itu (ada di videonya) juga membuatku kembali mengeluarkan air mata.

Selamat berjuang total sebagaimana biasanya, Kak Kai. Selamat memaksimalkan peran, menjadi ibu terbaik untuk Khalila, dan kelak adik-adiknya.

Yang menyayangimu,
Fitri

Sebelum Tidur

Pada akhirnya aku posting foto juga di instagram .
memposting foto di instagram tandanya aku terlalu spontan untuk berpikir, sepertinya sejauh ini demikian. Kalau dibilang berkesan, tentu saja ada yang sangat berkesan dan ada yang biasa saja. Dan, tidak semua yang sangat berkesan kuposting di instagram. Foto kemarin ingin aku pos Sabtu siang-siang di Andalusia. Setelah sempat menangis dengan kekhawatiran dan ketidakpercayadirian. Hei, tapi bukankah sinyal buruk yang disadari itu justru baik, untuk tahu apa yang mesti diperbaiki. Asal kau benar perbaikinya.

Instagram belum pernah jadi media ternyaman untukku. Baik aku sebagai pihak yang memposting, maupun pihak yang membaca postingan teman-teman. Jadi semalam(atau sedini hari?), setelah aku posting dan empat notifikasi masuk, aku logout. Keluar. Menghindar.

Semalam banyak sekali isi kepala berloncatan, tapi aku tunda menulisnya. Sekarang jadi lupa.

Tulisan-tulisan itu belum jadi. Project Yawme juga belum jadi kulanjutkan. Testing Tebi tidak kuapa-apakan di rumah. Begitu banyak yang perlu diselesaikan, tentu saja seperti kalian juga, bukan?

Semalam aku tumben sekali bisa begadang. Setelah belakangan jam 9 10 sudah meyerah dan tunduk pada kantuk dan lelah. Lalu aku bumerang diriku sendiri dengan pertanyaan, apa kamu justru stress dan tidak bisa tidur? Makanku juga akhir-akhir ini banyak. Aku tertawa. Lalu juga menertawakan aku yang kemarin-kemarin tidur terlalu cepat. Apa itu tanda flight, bukan fight seperti yang pernah disampaikan Kak Shanin?

Tadi aku dengar lagu fletch yang tiga pagi. Sempet kepikiran apa itu lagu tentang tahajud ya....wkwk

Entahlah. Ayo Fitri, berubah dan bergerak jadi lebih baik.


#sisasemalam
Alhamdulillah, banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan....

Minggu, 10 Februari 2019

MBTI: ISFJ

mbti 12 januari 2018
kuingat sekali, aku mengerjakan ini ketika menunggu kapal di muara angke, outing Badr tahun lalu. diselesaikannya pas udah di atas kapal buat nyebrangnya, pas gerimis, tapi belum berangkat.

hari ini aku baca ulang deskripsi penjelasannya. baru tahu ada versi Indonesia meski kayak semacam halaman pertamanya aja, tapi karena diterjemahinnya sama user, beberapa ada yang nggak pas. akhirnya aku baca versi inggrisnya dan kalo bingung pake bantuan google translate (ada yang artinya berkebalikan gitu, kayak di inggrisnya fully blossom in family, terjemah sananya kayak ga support di family, dan pas ngetranslate di google translate dia lebih ke yang fully blossom.
.
terus aku penasaran pengen tes lagi. nyobain tesnya bahasa Indonesia dan tanpa login (jadi gada historinya hiks). meski penjelasannya di halaman selanjutnya bahasa Inggris juga sih. 
ternyata hasilnya.....

sama tipe kepribadiannya!!!
(hebonya karena sama aja sih bukan bangga atau gimana karena setiap pribadi pasti unik)

ini udah tes yang ketiga kalinya dengaan tipe kepribadian sama. 
hanya saja di sini angka-angkanya berubah
yang paling kerasa I-ku nggak sedominan dulu. 
Kerasa sih perjuangan buat terbuka beberapa bulan ke belakang tuh sangat sesuatu :")
.
tadi baru baca ulang sampai poin relasi (ke3 dari 9), itu pun belum selesai. 
tapi menarik sih, so far mirip dan kalau kata komen-komennya user lain emang ada kaget gitu kok bisa menggambarkan diri banget. Walau aku juga belum baca sampe selesai dan mungkin aja ada hal yang bisa jadi berbeda. namanya juga penelitian manusia. yang penting yang paling baik di mata Allah adalah ketakwaannya, yegak?

ditulis untuk bagian dari sejarah tipe kepribadian diri ini.

tos dan salam hormat untuk sesama ISFJ; Maryam, Kak Kania, dan Kak Citra *rukuk
oh iya, dan yang LOL adalah, MBTI ini 100% bertolakbelakang dengan MBTInya Abidah, dia ENTP, hehe

Sabtu, 09 Februari 2019

Ngobrol sama Allah

M : Coba dibawa ngobrol sama Allah
A : Kakak biasanya ngobrol sama Allah gimana kaak. Abis shalat gitu apa tbtb menyingkir dr hirukpikuk keramaian?
M : Aku sambil bengong aja
Allah ini gimana ya aku bingung
Allah aduh aku gatau mau apa
Kayak ngobrol sama temen
Allah kan sayang sm kita
Ada dimana mana
Aku kmrin ga ke Bandung karena ada uang tp mepet hahahah sdgkan msh tgl sgini
Eh kmrin dpt lemburan bs dipake buat ke Bandung
Alhamdulillah :')
A : Kapanpun ya kaa
M : Iyaaa aku lg biasain itu sih
Biar ngarepnya ga sm makhluk

#ceritasiangtadi

Hal-hal Hari Ini 090219

Memang Allah paling jago bolak balikin perasaan, kondisi, atau apapun itu.
Kemarin bisa happy, alhamdulillah hari ini kembai diingatkan soal tidak berharap pada manusia.
Kembali diingatkan untuk kamu udah kasih usaha maksimal belum Fit? Biar sampe sama apa yang dipengenin. Kebawa baper sampe sempet nangis di motor. Padahal ya hal-ha yang masih daam lingkup kendali aja belum dimaksimalin naaak, kenapa keselnya berlebihan....
Lalu melow karena gatau kenapa kepikiran kalo bikin visi tuh apa ya, cita-cita besar, impian yang tinggi. Inget waktu-waktu one on one sama Abidah atau kawahyu aku pernah bilang, kayaknya aku ga visioner...lalu bidah bilang, menurutku, fitri melakukan ini ini ini itu udah menunjukkan visioner. kalau kawahyu dulu tuh apa ya pesannya, lebih ke setiap orang punya rolenya mungkin ya. kadang aku suka mikir pengen jadi best support system gitu di manapun bantu apa yang bisa dibantu, di kerjaan misalnya. mungkin ini juga karena lagi ada perasaan ngga produktif banget sekarang-sekarang ini, mana karyanya, kok main hape aja sih, pelarian capek apa alesan, apa ga inget sama cita-cita yang penting. tujuan akhir. ngomel sendiri. baper sendiri. malu. malu juga sama Allah. lalu nangis di kondangan orang. sendiri.
Lalu bersyukur, Allah kasih Andalusia buat chillin. Lama banget rasanya ga meneduh di masjid buat ambil jeda sesaat. Memikirkan hal-hal. Melangitkan tanya. Takut. Khawatir. Dan yaudah kayak pasrah aja gitu. Nulis-nulis sempet dikit. Air mata netesnya yang cukup nggak kusangka. Deras juga. Finally senyum, alhamdulillah. Lebih  membaik. Nggak pulang masih bawa kesal. Ikut senang juga waktu tau kabar hebat dari teman. Alhamdulillah. Sesenang itu juga dapat masjid yang nyaman.


Islamic Centre Andalusia,
tadi siang.

#sisakemarin: Hapiness Today 080219

Kemarin, sepanjang perjalanan masih kemana-mana pikirannya, sampai belokan RT lima masih keinget lagi pertanyaan, ada kecewa nggak?, belajar terlihat baik-baik saja (dan aku tahu banyak orang juga demikian), dan melangitkan syukur dan terima kasih Allah sudah memberi Abidah dan Ima around me yang mana mereka happy banget sepekan belakangan dan itu cukup mendongkrak dan mebuat aku kebawa hepi juga (jadi inget chatku ke mereka waktu itu*terlampir di bawah)
.
tapi yang tak disanggka adalah....
jadi kemarin aku pulang cepat. Hm, setengah 6 an sih dari Badr, tapi karena sekarang adzan jam  6 lebih banyak, jadinya ini keitung pulang cepat alhamdulillah, setelah Senin Rabu Kamis pulang malam terus (Selasa libur soalnya).

Sampai deket masjid terdekat dengan rumah, udah mau sampe rumah tuh, masih kebawa kesel keinget-inget hal-hal dan pertanyaan tadi yang kusebut di awal, ada anak-anak main yang gak ati-ati giu, selonong aja di tengah-tengah, padahal itu jalan Aku ngerem mendadak.

Tapi ternyata mereka adalah...anak-anak yang suka main ke perpus!

Raihan yang pertama sadar, dia langsung teriak, "Kakak! Kakak!" Lalu anak-anak main yang lain mendekat :")
Aku yang tadinya kesel langsung hepi. Mana pekan kemarin ngga bisa jaga sama sekali. Jadilah mereka pada ngerubungin aku yang mana aku tetiba berhenti di pintu perempatan jalanan komplek. Ngerubungin. Nanya-nanya.
Kakak kemarin ke mana Kak?
Kak besok nonton ya!
Kak jangan besok, Minggu aja!
Kakak pergi-pergi mulu ya
Kemarin aku ke rumah Kakak nyamperin
Kemarin ketemu siapa itu Kak namanya?
terus aku jawab, adiknya Kakak ya? Yang mukanya mirip?
Iya Kak tapi gendut. (Lol anak-anak emang selalu jujur, aku juga korban dikomen wajahnya :"))
Heboh deh mereka, andai ngga diperempatan, pengen deh aku ajak selfie, ehehe (dasar emang malu aja kamu sih Fit, ga niat, jangan berandai-andai gitu kali)
.
Alhamdulillah :")

Aku lho, lama ndak pulang sore. Belum pernah ketemu anak-anak sore-sore begini. Ya Allaah :")

*
Di rumah, aku bilang sama Ummi
"Mi, kasihan ya Fafa. Minusnya sekarang 3,5 (dia abis periksa mata). Padahal dulu dia pengen pake kacamata gara-gara mau ikutin aku sampe bikin dirinya jadi pake kacamata secara sengaja (aku sekarang sekitar minus 1,5 silinder 1, lebih kecil dari dia). "
"Ya namanya juga adik, pengen ikutin kakaknya."
Terus iseng, mau nanya Fatih.
"Gitu ya adik tuh ya. Kalau Fatih ngikutin siapa?" Kunebak sih dia ngikutin Fahri.
"Mbak Fitri juga. Soalnya Mbak Fitri bikin orang bahagia terus sih. Ngelawak terus."

Aku lho terharu dek :""", kamu bisa lihat sisi baik dari segala receh dan jokes atau selentingan tidak pentingku....

Fatih adalah orang termudah ketawa dengan segala jokes recehku. Jokes atau selentingan yang sampe bikin Ummi heran apakah aku bakal kayak gini juga sampe nanti-nanti kalo dah meniqa. Tapi kayaknya mah sekarang ini kelempar di rumah aja (temenku ada yang mengira aku orangnya tu serius bgt hehe). Tapi alhamdulillah ya dek kalau kamu seneng Aku kadang suka merasa bersalah kalau Fatih udah ngelempar jokes atau tingkah aneh, bahwa dia ketularan buruknya aku....

*
Malam alhamdulillah bisa makan ngampar di tengah. Abi ada konsumsi sisa rapat. Aku makan sepiring sama dikadik. Sampe akhirnya Ummi ikutan (padahal jam makan Ummi abis Isya, jadi ikutan ke abis maghrib).
Gara-gara obrolan sebelumnya tadi, aku tuh jadi mikir, di rumah aku sama adik cowok aja ya. Kadang aku khawatir mereka kelak meniru hal yang nggak perlu ditiru dari aku. Contohnya, aku khawatir mereka melihat pulang malam dari kerja itu kelak sebagai sesuatu yang wajar. Sebenarnya contoh ini pikiran lama sih, ter pop up lagi aja.

Alhamdulillah seseneng itu makan bareng mereka. Sebenarnya makan sepiring reramean sering sih. Tapi semalam benar-benar kerasa aja. Mulai yang dari nasinya dikit aja dulu (padahal kutau Fahri makannya banyak dan Fatih katanya si kenyang), sampe aku ambil nasi yang ketiga dan semua ikutan makan. Lauk udang yang tidak kumakan di kantor jadi dimakan bertiga dan ternyata seseneng itu bisa bagi udang bertiga. Juga perkedel Badr favorit Ima buatan Ibu Yeti yang sangat lembut yang mereka jadi ikutan sukaa (aku ndak terlalu suka perkedel hehe). Lalu Ummi juga ikut dengan piringnya yang akhirnya kami sambangi juga.

Kemudian cerita tentang Fatih yang jatuh sampe jalannya agak sulit. Lalu pengakuan dosa Fatih ke Ummi yang diceritain ke Abi kalau kemarin nendang temannya sampai temannya itu hari Jumat nggak masuk dan bengkak huhu. Fatih merasa bersalah banget. Tapi aku senang dia mau cerita pada akhirnya(abis deg-degan juga dia, awalnya Ummi sekedar tau temennya sakit dari grup buibu lalu nanya biasa aja gitu ke Fatih). Dan semoga dia juga belajar. Walau to be honest aku (kita semua sih)ndak nyangka juga. Dari awal makan aku suka lempar selentingan yang bikin mereka gemes banget. Aku seneng juga mereka nanggepin aku heuheu. Meskipun Fatih udah nahan diri banget buat ga nyubit saking gemesnya dia sama kakak yang selalu dia bilang tukang lawak ini dan Fahri berkali-kali bilang, Mbaaaak ih lagi serius. Aku seneng lihat Fahri ga serius, ga bete, dan ga spaneng :")

*
sebenernya niat postingannya sampai di atas itu aja, tapi ini menarik buat diceritain (dikenang sih ke diri sendiri, niatnya kan ngedokumentasiin)

Malamnya menarik deh. Waktu aku nemenin sebelum tidur setelah menonton Nussa Rara yang rilis hari itu.
"Mbak doain Yusuf ya biar segera sembuh."
Aku mau bawa agak bercanda. "Harusnya tadi setiap sujud Fatih doain Yusuf , Dek."
Dia ngangguk dong.
Aku kaget deh.
"Eh, serius Fatih doain Yusuf tidap sujud?"
"Iya Mbak. Kurang sekali aja waktu Ummi tadi ada yang sujudnya cepet banget sekali, jadi nggak sempet baca da (doi shalat di rumah karena kakinya sakit)."

Wah gak nyangka aku. Aku jadi ingat aku belum segitunya sama doa-doa yang kupanjatkan. Sama naskah buku yang aku masukin penerbit. Sama cita-citaku....

sudah sekian, 
perasaan bisa terbolak-balik
ada juga sih kesel baca ledekan di suatu grup
meski akhirnya didelete setelah kujapri
besoknya aka hari ini juga cukup sensi aku :")
masya Allah, hebat banget ya Allah


eh ini lampiran
senin kemarin, setelah aku sempat ga enak badan sampai pulang telat banget karena lemes bahkan buat pulang pun (pas itu juga gabawa motor karena tak bisa menyala)
dan ketika pertanyaan tentang kecewa masih ditanyakan


#journaling 

Thaha 31-35

اشْدُدْ بِهٖٓ اَزْرِيْ ۙ
usydud bihī azrī
teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia,
وَاَشْرِكْهُ فِيْٓ اَمْرِيْ ۙ
wa asyrik-hu fī amrī
dan jadikanlah dia teman dalam urusanku,
كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ
kai nusabbiḥaka kaṡīrā
agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,
وَّنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا ۗ
wa nażkuraka kaṡīrā
dan banyak mengingat-Mu,
اِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
innaka kunta binā baṣīrā
sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami.”

QS Thaha 31-35
*
tadi khilaf mainan instagram, masuk-masuk ke akun orang, sampai menemukan potongan doa ini yang menjadi kepsyen di foto orang saat khidmat (sepertinya) pasca akad di sini

da akunya mah dak kenal

Jumat, 01 Februari 2019

"Dan jawaban hari ini, adalah salah satu bentuk penjagaannya Allah buat kamu...."

-webseries hijabalila edisi terakhir

Selasa, 29 Januari 2019

Sumber Ketenangan

"Ala bidzikrillahi tatmainnal qulub"
Kalau ingat Allah kita akan tenang.
.
Waktu Mas Yuwono menyampaikan itu,  aku langsung teringat soal hubungan kalimat ini dengan kalimat Kak Big kemarin.

Kak Big kemarin bilang soal libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Tau apa relasinya?

Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita.  Kelak setelahnya, kalau sudah melibatkan Allah, maka kita akan tenang.

Jadi, sudah tau dari mana ketidaktenangan itu berasal, my dear?

fitri kepada fitri




Senin, 28 Januari 2019

Tentang Beberapa Hal

Tidak semua yang terlihat baik-baik saja sejatinya baik-baik saja. We never know what happen in every person and what she/he struggling for.

Aku tahu persis wajah lelah di gadis itu. Mata yang memaksakan untuk terjaga. Tanggung jawab yang tiada habisnya. Tanggungan amanah. Juga telinga yang dicari banyak orang.

Aku tahu wajah gadis lainnya yang sebisa mungkin dipasang ceria. Padahal hal-hal belakangan sangat membebani pikiran. Kadang ia menatap langit, hujan, pepohonan, atau benda apapun untuk mengalihkan pikiran-pikirannya.  Tuhan siapkan rencana apa, ia belum bisa membaca.

Aku menebak ekspresi kecewa di gadis itu.  Tapi aku selalu percaya bahwa kuatnya melawan keinginan-keinginan akan pengakuan. Dan ia selalu tulus dalam melangitkan doa, turut berbahagia, dan berupaya sekeras yang ia bisa. Aku saksi perjuangannya. Dan itu pun baru yang aku tahu. Masih banyak yang belum ku indra. Aku sangat tahu, dua tahun tidak pernah membuatnya keluar dari predikat lebih dari layak untuk menyandang apa yang memang menjadi going extra miles nya

Aku tahu sekarang soal menunggu. Kalau kamu bisa membayangkan rasanya seorang anak yang menunggu balasan surat dari ibunya,  ia kira ibunya belum mengirimkan, padahal sudah namun belum jua sampai, maka siapa yang lebih layak disebut sabar? Ibunya yang sudah sejak lama mengirim dan menurut perhitungannya seharusnya sudah sampai (dan bahkan menurut hitungannya ia sudah mendapat balasan dari si anak), atau si anak yang berpikir kenapa ibunya belum juga kirim surat balasan?
Entahlah, aku juga jadi tahu soal hubungan keluarga ternyata kadang-kadang pelik.  Tapi bagaimanapun,  keluarga adalah orang yang tidak pernah menyerah untuk mengusahakan yang terbaik, kan? 

Orang-orang kadang berupaya keras menyembunyikan apa yang dirasakan.  Lelah,  sudah mau menyerah, kesal, ingin protes, tidak nyaman, sakit, sulit, overload. Memaksa diri kadang baik, sebagai mastato'tum. Ihsanu amal. Namun perhatikanlah satu hal: kadang mudah sekali baik atau berupaya maksimal untuk orang,  kecuali satu:  diri sendiri. 
Hargai dan sayangi ia. Penuhi apa yang dibutuhkan. Wahai diri, jujurlah.

-padahal beberapa hari belakangan ingin menahan diri menulis.


Kunci

Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita.
.
Kuncinya hanya itu.

-Kak Big
Citra Alam Riverside
Bogor, 28 Januari 2019
Halo dunia :)
Kuatkan langkah dan mendewasalah, dear myself :)

Sabtu, 26 Januari 2019

Kamis, 24 Januari 2019

[Repost] Tentang Pernikahan


Kalau kau berpikir bahwa menikah akan menyelesaikan semua masalah yang kau miliki saat ini, kamu salah besar. Kau bahkan akan menambah daftar jumlah masalah yang kamu punya dalam hidup.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan membuatmu terbebas dari perintah ayah dan ibu, kamu salah besar. Karena ibumu tetap tidak akan tinggal diam ketika melihat anaknya terlihat hidup susah. Ketika kamu merasa cukup pun, mungkin masih akan selalu kurang di matanya.
Kalau kau berpikir bahwa menikah akan melepaskanmu dari rentetan pertanyaan orang lain seputar kehidupan, kamu salah besar. Mereka tidak akan pernah berhenti dan akan selalu bertanya dan terus menanyakan apa yang tidak mereka ketahui.
Tidak perlu terlalu terburu-buru.
Tetapi juga jangan terlalu menuntut kesempurnaan.
Sampai kapanpun tidak akan pernah kau temui sebuah sempurna, bahkan menikah dengan yang kau anggap sempurna pun akan tetap kamu temui celah kekurangannya.
Tetapi bila telah kau niatkan bahwa menikah adalah sebuah ibadah yang akan menyempurnakan separuh agamamu, maka kau akan mengerti. Bahwasanya separuh agama itu memang berat, namun harus dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Bahkan sholat 5 waktu saja terkadang sulit untuk ditegakkan secara khusyu’ dan tepat waktu, padahal ia tidak disebutkan sebagai separuh yang lainnya.
Menikah adalah ibadah seumur hidup. Kau tidak akan pernah tau saat yang tepat itu kapan, tetapi Allah yang akan memberi sinyal dan semesta yang akan menunjukkan kepadamu. Tenang saja.
Jangan pula kau anggap orang yang menikah itu adalah sebuah hal yang gampang, hanya perkara ijab dan qobul. Tetapi, makna dibalik itulah yang sesungguhnya sangat berat. Tak selamanya yang menikah lebih cepat darimu itu tak mengalami pergumulan hebat dihatinya, mungkin tak mudah baginya untuk sampai dikeputusannya saat ini, maka jangan pernah kau anggap itu mudah.
Latihlah dirimu untuk siap menerima. Karena mungkin ia, yang akan mendampingimu, sifatnya tidak akan persis seperti bayanganmu. Latihlah dirimu untuk berbesar hati. Karena mungkin kesalahan kecilnya sebenarnya membuatmu kecewa. Latihlah dirimu selalu menjadi yang paling sabar. Karena mungkin ia akan egois dan tak mau dikalahkan. Latihlah dirimu menjadi seseorang yang kuat. Karena mungkin ia akan butuh pundak untuk bersandar dan pelukan hangat untuk meredamkan emosinya.
Setiap pilihan itu memiliki konsekuensi, dan seharusnya kamu telah mempersiapkan menghadapi semua itu.
Tak ada yang salah untuk memilih cepat atau lambat. Tetapi memang, setiap pilihan itu ada pengorbanannya.
Yang terpenting adalah memahami bahwa menikah bukan hanya karena atas dasar cinta dan mencari kebahagiaan, tetapi berdasarkan iman dan mencari keberkahan.
“Barakah adalah keajaiban. Keajaiban yang hanya terjadi pada orang beriman. Jadi, yang dicinta di sisi Allah tak selalu mereka yang senantiasa tertawa dan gembira, tersenyum dan terbahak semata karena nikmat, kemudahan hidup, kekayaan, dan kelimpahan. Sebagaimana bukan berarti dibenci Allah jika senantiasa merasakan kesempitan, kelemahan, kekurangan, dan kefakiran. Di dalam sebuah pernikahan, barakah menjawab, barakah menjelaskan, menenangkan, dan menyemangati. Bahwa apapun kondisinya, kemuliaan di sisi Allah bisa diraih. Apapun keadaannya, pernikahan adalah keindhan dan keagungan, kenikmatan dan kemuliaan, kehangatan dan ketinggian. Jika dan hanya bila kita senantiasa membawanya kepada makna barakah.”
-Ust. Salim A. Fillah, dalam buku “Baarakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta”
Selamat berjuang yang masih bertanya-tanya akan kedatangan dan selamat meluaskan sabar bagi yang telah menemukan.
Dalam ruang kotak berpetak, diiringi deras hujan dan angin badai, 24 Januari 2019.
Dari aku, yang baru saja memulai.
shafiranoorlatifah quote aksara wordsntms selfreminder life muhasabahdirisalimafillah tulisan pernikahan menikahbarakah hijrah ustadsalim bahagia cinta

Sumber dari sini.

Terus kemarin aku baca ini dan, aku suka.

Cerita saya nemu blog Mbak Fira lumayan panjang. Dari 2014 kalau tidak salah. Jadi ceritanya, kapan-kapan saja, ya.

Rabu, 23 Januari 2019

Dekat dengan Quran (1)

Alquran isinya kebenaran
Kepala kita isinya prasangka
Aku perlu dekat-dekat sama Quran. Biar diisi banyak-banyak sama kebenaran

-Ima, tadi di mushola

Minta Maaf

kemarin gambar banyak bintang selama planning-review

nggak tau, tiba-tiba di perjalanan berangkat tadi aku merasa bersalah khawatir orang nggak nyaman baca tulisan-tulisan di blog ini. 
jadi aku semacam mau...minta maaf kalau ada isi blog ini yang seolah-olah terasa membuat tidak nyaman, seolah menyudutkan, atau membuat berprasangka. sesungguhnya semoga hanya upayaku merilis hal-hal yang aku rasakan, yang keinget, yang pengen diceritain, tapi semoga tidak bawa pengaruh buruk ke siapapun yang baca....semoga nggak ada yang merasa nggak nyaman sih. dan semoga juga nggak membuat orang jadi ngerasa gimana tentang dirnya maupun tentangku.
kalaupun ada, aku mohon maaf  ya. semoga tidak mengubah apapun, kecuali hal-hal yang lebih baik....

mungkin perlu pamit sejenak (?)

Selasa, 22 Januari 2019

Kemarin aku tiba-tiba cemas sama sesuatu. Lalu takut dan khawator jadi satu.

Jadi sepanjang perjalanan selain memikirkan soal case contoh yang dibilang temanku, aku hanya menguatkan diriku soal konsep takdir, ikhlas, pasrah, dan apa yang sudah menjadi ketetapan tidak akan pernah tertukar....
.
Lalu jadi ingat bahasan qadha qadar yang sampai saat ini pun perlu direfresh lagi....
Hari ini badanku rasanya ndak enak. Sampe pas di tengah rapat izin berdiri segala.
Tapi ternyata sore aku makin menyadari bahwa bukan hanya fisik yang tidak nyaman. Nadung sampai tanya aku kenapa. Aku bingung, kenapa dia ngeh dan mengcapture. Aku hanya jawab; nggak tahu. Sampai akhirnya aku bilang; aku malu sama diri sendiri. Lalu aku tarik nafas. Aku kembali bilang. Mestinya jangan gitu ya. Terima dulu diri ini. Its okay being not okay. Terima. Bersyukur.
Oh ya tadi juga kepikir soal, "seseorang melekat pada keluarganya."
Di jalan pulang kepalaku kembali dipenuhi pikiran yang belum usai...lalu ingat lagi, aku masih punya utang sama hannan.

Bolak Balik

Bagaimana jika aku seperti anak kecil
yang menunggu majalah favoritnya diantar oleh loper koran
atau yang menunggu janji pergi jalan-jalan pekan depan
atau yang tak sabaran menanti kedatangan ayah di pagar
bolak-balik mengecek
mondar-mandir tanpa capai

yang sebenarnya tahu,
waktunya bukan saat ini
bisa dicek nanti-nanti
bisa ditunggu
tapi aku cek lagi dan lagi
bosan pun tetap saja dilakukan

hei nak, lelah bukan.
sudahlah berhenti

*
tadi umi nanya, mbak foto profilnya itu apa kok lucu
hihi iya kan mi gemay kaan
fafa juga bilang smpe ditunjukin ke adek-adek
kaget juga bisa juga umi bilang foto profilnya lucu haha
oiya tadi berkali-kali ditanya dan konfirmasi, kenapa sih punya kakak gini amat ehehe
tapi kalo ga bareng kangen kan deek :p
*
awal-awal januari maryam ngechat, bilang Fitri januari nulisnya kok udah banyak aja
ya Allah ini kayaknya udah jadi pesakitan random banget yang kupos-pos belakangan inih
*
ohiya tadi liat video ini dipos sama follower baru tumblrku yang isinya hanya autorepost-autorepost blog ini dan kalaupun reblog langsung dari tumblrpun super jarang. Lumayan haru :")
*
tadi sepanjang perjalanan keinget contoh yang temanku kasih kemarin hmm. takjub juga  kalo mengingat contoh yang dia kasih kok asa pas soal jangan sampai menumpuk masalah dari awal walau kecil (ini bikin mikir banget sih). dan lucu juga pertemanan tanpa ketemu kita ini bisa berujung sampai titik berbalas email sampe 28 email in total (walau kadang singkat isinya sekalimat dah kayak chat doang). walau sempat kepending lama dan aku masi utang cerita ey.
*
sepekan belakangan aku meng-unpin dua orang dari watsap~ satu dipin karena kewajiban periodik, satunya karena penasaran. tapi baiklah, sudahlah, nanti balik lagi ke tulisan-tulisan di atas. hidup harus terus berjalan. semoga senantiasa diisi kebaikan. dan hal bermanfaat.

-di kantor nanti review (udah nanti aja, tadi mau nulis besok)
tadi yang satu lagi mau daftar csr google berhubungn sama ai
yang satu lagi banyak dapet laporan bug terus kusedih heu :'
kantor mau outing pekan depan
dan yey, pr ku meski belum sempurna selesai!
kukirim ke mbak uti
kemarin pas baca lagi panduan naskah kaget,
soalnya inen ramli usianya 32 ramli 9
.
lah berarti waktu ngelahirin ramli umurnya seumur aku dong -_-

.
bismillah untuk semua
semoga yang sedang banyak pikiran, Allah bukakan jalan

Senin, 21 Januari 2019

HRD

"Fitri kenapa nggak jadi HRD aja?" tanya Abidah di sela-sela suapan gado-gado pesona.
Aku terkejut.
"Tinggal ngejar urus-urus administrattif, pajak bpjs, penggajian."
Aku tertawa. Mengiang-ngiang apa ya dari akunya sehingga Abidah bertanya kenapa aku nggak jadi HRD. Lalu aku ingat quote yang pernah Bu Devi beri ke aku. Yang katanya orang-orang, itu personal sekali tentang pribadi tiap orang yang diberi.
.
hmm atau cerita tadi pemicu awalnya, bid(?)

-tadi ditulis di ruang yawme yang berisi dikadik smk.
sepi sekali.