Senin, 11 Desember 2017

Kangen

Sampai rumah mendekati pukul delapan.
"Mbak, tadi Fatih pulang shalat langsung nanya, Mbak Fitri udah pulang belum?"
"Pulang shalat apa, Mi?"
"Tadi, shalat isya."

Fatih lagi ngamplas (mainan) stik es krim (entah tujuannya apa, itu obsesinya beberapa hari terakhir).
"Kenapa Dek nyariin Mbak Fitri?"
"Kangen." Masih sambil ngamplas.
"...."
"Emang kenapa kangen?"
"Kangen aja, emang nggak boleh kangen aja?" Masih sambil ngamplas.


11/12/2017, 22.22
Rumah yang sedang ditukangin;
besok update tebi;
akhir-akhir ini kudatang siang ke badr untuk suatu alasan

Kamis, 07 Desember 2017

7/12/2016 dan Hari-hari Setelahnya

Menjejak Desember; maka saya tidak lupa hari-hari kala itu.
Suatu hari setelah sekian lama disemangati oleh dosen untuk submit Desember, tapi sempat merasa terabaikan beberapa waktu. Suatu Selasa, saya ingin pergi dari keramaian orang-orang kontrakan (yang ramai berisikan 11 orang) untuk menenangkan diri dan memaksa berprogress.

Lalu saya nginap di rumah Afifah.
Tapi, apa yang bisa dilakuakn bocah semester sembilan yang kemampuan ngodingnya belum fasih dan tidak punya data yang hendak diolah. Menatap nanar muka layar sambil ngga tau harus gimana :"""

Malam itu, yang awalnya diniatkan akan begadang, jadi gagal karena saya stuck tidak tau harus gimana. Besoknya pagi-pagi pulang ke kontrakan dengan rasa-rasa sedih gimana gitu. di prodi deadline akhir submit naskah unttuk bisa sidang Desember (dengan kata lain juga wisuda Februari) adalah tanggal 9 (malah sempat ada gosip tanggal 2). Saya pulang tanpa harapan. Lalu sempat saling menyemangati dengan +Maryam Zakkiyyah lewat DM instagram itu, kira-kira pukul 7 pagi, setelah sebelumnya mengirim postingan chibird yg unyu dan cukup mendongkrak diri.

Sekitar pukul 9 dosen saya tiba-tiba mengirim pesan untuk bertemu jam 11. Saya iyakan dengan setumpuk perasaan bersalah sekaligus bertanya-tanya dalam hati, Ibu, mana datanya yang harus saya olah Ibuuuu hiks hiks. Karena data yang saya olah itu semacam data dari lab ibunya kala S3 dulu dan ngambilnya dari server ibunya. Tapi sampai hari itu belum dapat juga.

Pukul 11 saya ke gedung S2/S3, bertemu ibu dosen pembimbing. Kalimatnya tidak panjang, tapi sangat berarti. Intinya, saya harap Fitri bisa sidang bulan ini. Dibuat dulu naskahnya, nanti sambil kita susul dengan yang ada hasil penelitiannya.

I dont have any words. Saya ngga tau harus gimana. Tapi tentu saja harus dipatuhi. Ibu dosen sudah berusaha membuat saya bisa tuntas skripsinya secepat mungkin. Dosen saya merencanakan akan menyanggupi hadir di hari-hari terakhir pekan sidang agar saya tetap bisa mempersiapkan naskah sampai hari terakhir banget sidang.

Tidak ada 24 jam, keputusasaan saya Allah ubah dengan secercah harapan.

Lalu pekan-pekan panjang dimulai. Tahu rasanya ngumpulin berkas naskah yang akan disiap sidangkan tapi belum selesai :" ? Ah, kekhawatiran saya dari hari ke hari memuncak. Saya menyembunyikan berita ini dari sesiapapun karena terlalu takut diselamatin mau sidang, dibarakallahin, diledekin bentar lagi lulus, karena saya tahu seberapa nekat sederhana naskah saya yang sesungguhnya belum selesai itu.

Mana awalnya sempat ngga boleh submit karena kartu bimbingan saya dari awal emang dipegang dosen pembimbing dan hari H ngumpulin berkas ibunya bilang nanti saya susulin sementara petugas TU kayak gak yakin gitu :""

suatu masa saya sempat baru
terbangun dan kaget karena
ada pesan dari dosen.
Jam 2 pagi cobaaaa :""
Perjuangan dosen yang juga
seorang ibu yang punya bayi kecil :")
Waktu berjalan. Saya dan dosen saya berpacu bareng-bareng. Ada masa saya ngintilin dosen banget sembari beliau waktu itu juga bimbing beberapa anak S3, atau sesi tambahan presentasi tugass akhir matkul adik-adik tingkat (seperti yang diketahui bersama Desember adalah masa ujung dari suatu semester di mana pengumpulan tugas mulai mainstream). Ada masa bimbingan di tempat penitipan anaknya (Dek kamu sekarang dah bisa apa Dek :"). Ada masa saya ngintilin ibunya sembari ibunya mempersiapkan persiapan ransum buat anaknya :")). Ada masa saya nanya temen cara pikir suatu algoritma tapi tetep aja ngga mudeng. Di kampus, di angkringan deket aula yang dipake bulu tangkis warga sekitar :"""

Ada masa saya tertekan banget nangis-nangis. Ada masa saling menguatkan sama anak ssidang Desember (thanks Amel, Denis, Deni, Rilut, Erwin). Ada masa saya ngga bisa tenang tidur karena sekali nge-run program bisa 3 jam. Kayak gamau rugi habis selesai ngerun satu harus kelar ngerun yang lain. Ada masa saya tambah sering ke perpus teknik sampe perpusnya mau tutup (ini udah agak mulai dari sebelum submit itu sih). Lalu ngerjain di KPFT (terus ke-gap temen gycen :")))).


Ingat sekali H-1, saya telpon Ummi sambil nangis sore-sore. Udah ngga bisa dibendung lagi khawatir dan paniknya, nangis depan perpus teknik. Paginya saya nyerahin draft terakhir, harapannya bisa dikasih feedback mana yang diperbaiki, tapi malah dikasih feedback mana yang ditambahin. Ditambahin cobaaaa gimana gak mau nangis dari mana lagi saya nyari sumbernya. Print naskah buat besok aja bbelum kelar. Apalagi mikirin slide huhu.

Lalu salah satu yang paling diingat, Ibu saya akhirnya bilang minta doa sama teman-teman. Akhirnya H-kurang dari 24 jam itulah saya kabari 2 grup; Gycen Jogja dan Srikandi. Meminta doa setelah meenjelaskan kondisi. Muncul cuma buat itu doang. lalu ga buka wa lagi (sebelumnya juga saya ga buka2 WA sama sekali setelah sempat uninstal WA dan instal lagi krn khawatir dosen saya tiba-iba hubungi ke WA).

Malamnya saya sempat berniat print draft. Tapi ujung-ujungnya belum selesai juga. Di KPFT udah lebih dari jam 8 malam. Saya ngga mau pulang dari kampus terlalu malam karena khawatir pada banyak hal. Akhirnya malem itu secara mendadak saya nginep kontrakan Nikari (karena di sana ada printer jadi kalau mendadak butuh bsia sewaktu-waktu). Dengan perasaan gak enaaak banget sama teman yang belum sidang di kontrakan itu :")

Pada akhirnya malam itu saya masih saja belum bsai menyelesaikan apa yang harus diprint. Saya edit-edit slide, kebangun-tidur secara random. Pada akhirnya nebeng print yang halamannya landscape (karena kalau di rentalan mesti susah ngatur-ngaturnya). Jam 7 ngeprint 4 bundel naskah fix di fotokopian GOR klebengan (favorit :")) dan jam 11.30an baru selesai slidenya. Saya gak nafsu makan tapi terpaksa beli sarapan karena saya gak mau sakit mendadak karena gak ada makanan masuk. Saya paksa diri menahan malu minta bantuan temen (yang saya tahu dia antara sedih dan senang waktu saya akan sidang) minta bantuan beli roti dan susu buat saya konsusi mendekati sidang (karena sidang siang dan tentu saja agak akan sempat makan siang).

Bada zuhur ke kampus. Ke ruangan ibu dosen, dapet briefing macem-macem. Jam 1 kurang sudah  di ruangan sidang. Sempat ketemu temen yang geleng-geeng kepala karena saya masih benerin slide :")

Ada dua kekhawatiran besar menjelang sidang. Pertama, saya takut nggak lulus, karena sebelumnya emang ada yang nggak lulus sidang dan itu tentu rasanya sedih banget :'. Tapi ini yang kemudian saya pasrahkan benar-benar ke Allah bahwa apapun hasilnya semoga saya ikhlas, dan bisa jadi lebih baik lagi. Kedua, saya takut banet ditonton orang banyak. Jadi sidang di ilkom itu sifatnya terbuka dan orang bisa keluar masuk kapan aja. Selain itu mengganggu konsentrasi, bagi saya yang sungguh merasa minder dengan hal-hal ilmiah dan takut nggak lulus ini, hal tersebut sangat mengkhawatirkan.

Tahu, bagaimana Allah beri saya kejutan?
Dosen penguji saya tiba-tiba banget bilang, "Saya nggak suka ada yang keluar masuk di tengah sidang" Lalu beliau ke TU, minta kertas dan spidol, lalu nempel tulisan yang tidak boleh masuk jika sidang sudah dimulai. Ya Allah ini seumur-umur aku nonton sidang kaka tingkat atau teman pas ada bapaknya, ngga pernah aku tau sekalipun bapaknya nulis larangan nonton sidang kalo udah mulai :"
Jadilah waktu itu yang nonton hanya 2 orang; Farah dan Erwin :"))

once upon a time


Waktu berlalu. Tibalah saya pada hari ini. Setelah nyaris satu tahun berlalu sejak kejadian-kejadian itu :")

Rabu, 29 November 2017

Kamu Berbeda

Kamu terlihat beda dari yang lain. Saat orang tersedot perhatiannya pada satu titik, kamu lebih tertarik pada apa yang tidak dilihat yang lain. Aku mencoba melihat arah yang kamu lihat. Tapi aku tak menangkap apapun. Apa yang menarik dengan jendela kaca besar dengan pemandangan malam yang biasa kita lihat sebelum-sebelumnya? Tidak ada yang tampak berbeda.

Belakangan aku tahu yang kamu lihat adalah percikan api dari tukang las pada gedung yang dibangun. Indah, bercahaya, dengan ukurannya yang kecil, katamu. Riuh rendah yang kita dengar di gedung ini, rupanya tidak menarik perhatianmu dibandingkan percik api itu.

Kamu berbeda. Teman-temanmu menyukai menonton saat makan. Tapi kamu lebih suka menikmati makananmu tanpa disambi apa-apa; kecuali barangkali melihat awan dan langit dari jendela. Selebihnya diam. Tidak membaca pesan dari sekian media sosial, tidak scrolling timeline instagram, apalagi sembari membaca headline line today.

Kamu berbeda. Orang-orang menyenangi pergi menghabiskan akhir pekannya. Kamu lebih suka menghabiskannya tanpa pergi kemana-mana. Di rumah, maka cukup. Mematikan ponsel. Memilih buku dari rak bacaanmu.  Bersenandung kecil dan menata apa-apa yang tertinggal berantakan sepekan belakangan. Ah, tentu saja ini bagian yang tidak aku suka. Kamu rapi pada sebagian hal, lalu berantakan pada sebagian yang lain.

Kamu berbeda. Kamu bisa tampak aneh sekaligus menggemaskan saat sedang berpikir keras. Raut wajah kebingungan yang tanpa sadar meggumamkan hal-hal yang kamu kerjakan. Lalu heboh sendiri, lalu bicara sendiri. Juga ekspresi serius yang sungguh menggoda sekali untuk diganggu.

Kamu berbeda. Tapi aku makin lama kesulitan mendeskripsikannya. Eh, barangkali, kalau aku justru tahu banyak perbedaanmu dengan yang lain, bukankah itu malah mencurigakan? Aku tidak perlu mengenalmu terlalu jauh.


dari berbagai hal, termasuk pemaknaan buku 
Mendengar Nyanyian Sunyi-nya Kak Urfa

tentu saja fiksi,
mulai ditulis di code margonda,
di lantai yang bisa lihat sekitar dari ketinggian

29/11/2016


foto ini foto 29 November 2016, tepat setahun lalu
saya masih ingat sekali, sebagaimana biasa saya dan beberapa teman masa itu sehari-hari ke lab untuk mengerjakan skripsi, walaupun akhirnya memang bisa berujung kemana-mana aktivitasnya; bisa saja tidak mengerjakan skripsi tapi malah ngapa-ngapain yang lain.

lalu pukul 5 sore lab tutup. saya belum mau pulang. teman-teman mau pulang.
sebagaimana orang introver, saat-saat seperti ini adalah saat tidak mau bertemu banyak orang.
skripsi tak kunjung kelar; dan bingung menuntaskannya, jika pulang saya akan bertemu orang, karena saya tinggal di kontrakan berisi 11 orang.

lalu saya ambil haluan ke gedung C. kala itu masih gedung baru yang kalau tidak salah baru dipakai jalan 1 semester. saya pun belum pernah merasakan kuliah di gedung baru itu. saya cari ruang yang sepi, ada colokan, dan jika duduk pandangannya berbelakangan dengan orang-orang; menghindari pertemun-pertemuan.

tentu saja tidak sepenuhnya berjalan mulus. saya bertemu satu dua adik tingkat yang saya kenal, hendak mengerjakan tugas kelompok :") bertemu jua dengan teman seangkatan. tetap ada saja yang bertemu lah :"")

lalu senja itu, lupa saya tuntaskan hingga pukul berapa saya pulang

dulu, emang suka ngedokumentasiin foto-foto saat ngerjain skripsi
hal-hal yang saya sendiri anggap sebagai pantas untuk dikenang :""

perasan tidak ingin bertemu banyak orangnya sama,
dengan yang akhir-akhir ini saya rasakan
i don't definetely know the reason
meskipun ada sebagiannya yang saya asumsikan jadi penyebab


Selasa, 28 November 2017

Waktu (yang Cepat Berlalu)

Kita tentu familiar sekali dengan selentingan-selentingan kalimat, "Lho, udah jam segini? Perasaan tadi baru jam sekian" atau "Lho, udah zuhur aja" atau "Cepet banget sih, kayaknya tadi baru datang/mulai". Pada beberapa aktivitas yang dilakukan, ada waktu yang rasanya berjalan cepat sekali tanpa terasa. Hingga tau-tau sudah sore atau bahkan sudah malam. Hingga tau-tau sudah sampai pada batas deadline.

Sama halnya dengan selentingan kalimat "Cepet banget ya udah sekian tahun kita lulus sekolah" saat reuni atau bertemu teman lama. Atau ketika mengunjungi sekolah kembali atau membaca berita dari sekolah yang baru saja menerima/meluluskan siswa angkatan sekian, yang rasanya jauh sekali dari angkatan semasa sekolah kita dulu.

Juga saat kita mengingat-ingat dulu sekolah tahun sekian. Terus tersadar, lho, itu ternyata sudah tujuh, sepuluh, dua belas, atau lima belas tahun yang lalu. Sekarang teman-teman sepantaran sudah banyak yang bekerja, menikah, kuliah lanjut, punya anak -bahkan sudah dua- dan lain sebagainya. Begitu cepatnya waktu berlalu.

Atas semua hal, setelah saya pikir-pikir, yang paling merasakan perubahan waktu ini tentulah orang tua kita. Orang terdekat yang tahu kita bukan hanya sejak kecil, tapi sejak dalam kandungan. Yang masih ingat kejadian-kejadian semasa kita kecil sampai saat ini. Saat lahir, ketika mungkin sakit yang membuat panik, ketika mulai berjalan, ketika barangkali jatuh dan luka, dan ketika-ketika lain yang terus orang tua rasakan sampai pada titik kita sekarang yang telah melalui berbagai hal-yang itupun sudah sering kita akui dengan frase 'cepat sekali' sebagaimana tadi dituliskan.

Ingatan itu semua jauh melampaui ingatan kita yang paling-paling ingat kejadian masa kecil pun tidak terlalu banyak. Yang mengingat masa sekolah menengah atas saja sudah merasa waktu begitu cepat. Bisa dibayangkan, bukan, bagaimana perasaan waktu berlalu cepat yang dirasakan orang tua kita?

Bagi orang tua kita, tentu saja, waktu sungguh cepat sekali berlalu. Pada waktu-waktu yang (akan) cepat berlalu itu, akan kita isi apa? Sebagai hal-hal yang kelak akan keduanya ingat di masa (barangkali) kita tidak lagi bisa selalu ada di sisinya.


ditulis di rumah, diselesaikan di Badr
Cibinong-Depok
tadi pagi hujan
-yang entah dari kapan rintik pertamanya turun itu-
nya awet sekali


Sabtu, 25 November 2017

Bekal

Belakangan, karena pintu belakang yang biasanya dijadikan pintu masuk utama di Badr ditutup untuk perluasan ruang, pintu depan dijadikan pintu utama akses keluar masuk. Dan karena meja tempat tim di mana saya berada ada di ruang depan, saya jadi sering banget ngelihat datang dan perginya orang-orang. Dan belakangan, yang menyita perhatian saya (secara tidak sengaja) adalah bekal.

Sebagai generasi anak sekolah asrama dan anak kuliah yang tidak mukim di rumah 10,5 tahunan, terakhir bawa bekal itu waktu SD. Dan itu pun nyaris nggak pernah nasi kayaknya karena saya dulu sih sok idealis pinginnya makan nasi itu anget. Jadi daripada nasi dingin mendingan bekal roti saja. Jadilah perbekalan jaman SD itu nyaris nggak pernah nasi.

Kemudian suatu ketika beberapa saat setelah wisuda saya ada agenda di Jakarta, Ibu saya bawain bekal. Rasanya aneh banget bawa bekal, wkwkwk. Selama SMP-SMA makan siang selalu ambil dari ruang makan. Selama kuliah juga nggak bekelan.

Waktu yang tadi ke Jakarta itu, awalnya rasanya aneh. Kayak, apa ni aku bawa kotak makan isi bekal. Biasanya kalau lagi libur kuliah dan adik-adik masuk sekolah, ngeliat sih mereka dibawain bekal sama Ummi. Apalagi Fafa (yang karena pingin ngerasain sekolah naik angkot) sekolahnya jauh jadi ga sempet sarapan dan sarapannya pun di sekolah. Bekalnya combo buat sarapan sekaligus makan siang.

Tapi sejak di Badr dan mukim di rumah, jadi tahu rasanya bawa bekal, hampir setiap hari. Tau Ummi nanyain pagi-pagi mau bekal apa. Tau gimana Ummi nyiapin bekal adik-adik. Tau rasanya nyiapin bekal sendiri atau disiapin. Tau rasanya bingung nakar nasi karenaa lebbar piring dan kotak bekal itu dimensinya beda wkwk. Tau rasanya bingung bekal apa ya hari ini. Tau perasaan gemesnya ketika udah nyuci cucian piring kotor rumah tapi kotak bekal sendiri lupa dicuci karena lupa ngeluarinnya.

Dan ketika posisi pintu masuk Badr jadi di depan kalau pas kebetulan datang pagi dan melihat orang-orang berseliweran masuk dan membawa tas tambahan yang isinya bekal. Ada yang di tas khusus bekal, di tas tenteng, atau yang di kantong keresek. Sampai suatu hari saya mengamati orang-orang masuk merasa terharu aja gitu. Bekal yang dibawa dari rumah seperti menyampaikan pesan kasih sayang dari rumah. Pesan yang menjaga yang membawanya, dalam bentuk makanan. Sesuatu yang diharapkan bisa menghilangkan rasa lapar yang membawanya. Sesuatu yang disiapkan ibu atau istri (atau diri masing-masing) dengan perasaan kasih sayang yang tertitip di dalam makanan itu. Rasa haru ini suka muncul saat liat orang bawa, sampai saya sesekali ngerasa terharu lagi waktu lihat orang makan pakai kotak bekalnya :')

Ehe, gatau kenapa, suka merhatiin hal kecil kayak gini. Mungkin ini salah satu ciri introvert person.

Minggu, 19 November 2017

Anak-anak Temajuk

foto dari +Nadiyatus Shofi
Via minta dikirimin suatu foto spesifik waktu di Temajuk. Lalu saya mencari-cari. Dan..ketika mencari nemu foto ini. Saya hitung anaknya, ada 6. Enam anak dalam satu motor. Yang nyetir namanya kalau gak salah Bela, kelas 5 SD kala itu.

Di Temajuk, anak SD naik motor itu biasa. Desa Temajuk sangaaat luas sementara SDnya hanya ada 2. Tidak ada angkutan umum di desa ini. Kalau tidak sekolah dengan diantar, beberapa anak perlu jalan jauh untuk sampai ke sekolah. Sehingga beberapa diantaranya, dengan berbagai tuntutan jadi bisa mengendarai motor. 

Psst, sini kuberi tahu rahasia lain lagi. Di Temajuk sangat biasa orang meninggalkan motor dengan kunci masih menggantung di motornya. Kalau kami para anak KKN naik motor dan reflek mengambil kunci setelah memarkir motor, anak-anak Temajuk akan melihat kami dengan heran.

Kangen sekali dengan Temajuk :')

Cibinong, 
kata gugel map 1100++ KM dari Temajuk
19/11/17

Sabtu, 18 November 2017

(Terbiasa) Berisik

Saya menulis ini saat sedang menunggu servis motor.  Tiba-tiba saja, ada suara cek sound. Awalnya saya kira hendak ada pengumuman atau tim sales hendak koar-koar promo produk atau kredit murah. Tebakan saya salah. Ternyata mereka memutar musik kencang sekali. Hiks, ketenangan sebelumnya yang saya manfaatkan untuk membaca buku menjadi terusik. Lalu saya ingat, kejadian sama sempat terjadi ketika saya menunggu servis motor (juga) sebelumnya. Kali itu pun saya hendak menuliskannya di blog namun ternyata teralih banyak hal dan terlupakan.

Hal-hal demikian seringkali mengingatkan saya saat menempuh perjalanan Sendai-Tokyo bersama Alim usai ikut TSSP. Tsani, adik kelas saya memesankan kami bus untuk menuju Tokyo. Karena dipesan jauh-jauh hari, kami mendapati nomor kursi 1A dan 1B kalau tidak salah. Intinya 2 kursi itu ada di paling depan sekaligus posisinya ada di belakang supir.

Tentu saja ada-dan mungkin banyak- hal-hal yang ingin kami perbincangkan selama di perjalanan. Tapi suasana di bus sangat sepi dan kami berusaha bercerita dengan suara sepelan yang kami bisa.

Sampai pada suatu pemberhentian lampu merah, supir bus berdiri dan menoleh pada kami (lokasi duduk sopir bus lebih rendah daripada penumpang). Ia tentu saja bisa menebak bahwa kami bukan penduduk Jepang. Lalu dengan bahasa isyarat, ia meminta maaf dan meminta kami agar tidak berisik sehingga tidak mengganggu penumpang lain. Kami yang saat itu diperingatkan, dengan malu sekaligus kaget seketika mengatakan, "Summimasen, summinasen". Lalu bus kembali berjalan ketika lampu sudah hijau.

Seelah itu, saya dan Alim memang tidak otomatis diam seribu bahasa selama perjalanan menuju Tokyo. Tapi tentu saja kami jadi lebih tahu diri. Kami dengan suara pelan yang kini tidak mengeluarkan suara atau dengan bahasa tulisan hp mengobrol. Kami sama-sama sangat mengagumi penghormatan orang Jepang terhadap privasi orang lain. Ketenangan barangkali sudah dimiliki sebagai hak asal yang dimiliki tiap orang, sehingga mengganggu ketenangan adalah hal yang perlu izin. Bukan sebaliknya. Pada umumnya kita sering merasa orang lain berisik sehingga kita perlu menegur jika merasa terganggu. Dan melihat apa yang orang Jepang lakukan (dan ketika menulis hal ini) saya jadi sadar bahwa itu terbalik. Yang berperan sebagai awalan harusnya adalah kondisi tenang itu sendiri, sehingga, untuk mengusiknya kita perlu meminta izin.

Oh ya, bus yang kami naiki ini bukan bus yang paling bagus tentu saja. Tapi sedikit cerita, bus yang nyaman sekali seperti willer, punya semacam tudung kepala seperti kereta bayi agar dalam perjalanan jauh penumpang sangat nyaman an terlibdungi privasinya. Di bus yang kami naiki (dan tentu saja lebih murah) ini, tambahan untuk perlindungan privasi pun ternyata tetap ada :"" yakni ada korden pada kursinya. Jadi dalam bus pun penumpang tetap punya ruang privasi :')

Saya dan Alim kala itu juga membicarakan tentang kondisi di negara asal. Ketika musiklah yang justru disetel oleh supir untuk membuatnya tidak mengantuk. Dan sejak kejadian ini, kalau saya naik bis dan supirnya menyetel lagu (dan biasanya dvd bajakannya yang disetel ada tampilan visualnya), ingatan saya akan reflek pada kejadian di bis saat itu :') Seperti saat saya naik bis dari Bandung dalam keadaan mual dan tidak enak badan, suasana perjalanan malah menyetel musik yang membuat istirahat (bagi saya sendiri sih) tidak nyaman.

Ini kalo dibahas panjang, bisa sampe tampilan tidak menyenangkan dari visual yang ditampilkan di bus-bus dan memberi masukan yang tidak baik, apalagi kalo buat anak-anak. Padahal kita semua menginginkan transportasi umum yang nyaman-juga baik untuk pertumbuhan anak, ya :')


tempat servis motor
11.45

Senin, 13 November 2017

Oleh-oleh FDII

Sudah lama sekali rasanya nggak model-model yang habis ikut sesuatu terus share ke blog, ehehe.
Tapi momen FDII 2017 kemarin rasanya spesial sekali :")

I gain many inspirations and bunch of feelings there. Sejak masuk di gedung perpusnas, melihat para panitia yang dresscodenya adalah celemek bertuliskan "Penjaga Mimpi", dan melihat banyaaak sekali anak-anak di sana. Beserta ayah bundanya :") Rasanya terharu sekali, nggak cuma karena liat anak-anak dan kebahagiaan mereka di sana, tapi juga melihat perjuangan orang tuanya mau berlelah-lelah ke tempat acara untuk nganter dan ndampingin anaknya.

Kelas pertama yang saya ikuti adalah kelas membaca nyaring. Istilah ini diadaptasi dari istilah read aloud yang diambil dari buku berjudul Read Aloud-nya Jim Trelease. Jadi Bu Rosie, yang suka banget sama buku ini dan menggagas buku ini untuk diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, bilang kalau mendongeng itu kan nggak pakai buku, nah read aloud ini pakai buku. Dan ya tentu saja membacanya tetap dengan intonasi yang sesuai dengan ekspresi dan tanda baca. Oh ya, Bu Rosie ini dari Komunitas Reading Bugs yang mengingatkan kerjaan saya untuk mencari bug di aplikasi wkwk dan beliau ini sudah punya cucu. Sungguh by the way aku terinspirasi untuk bagaimana tetap produktif di usia sudah punya cucu.

Buku yang Ibunya bawa menarik-menariiiiik :")) jadi nambah wawasan tentang buku anak dan kuingin mengoleksinya jadinya. Kabar baiknya beliau bilang suka ndapetin di toko buku bekas, tapi di Pasmod BSD *dulu pernah ke sana jaman masih jadi anak tangsel. Nama yang jual Pak Husni kalau nggak salah. Kabar buruknya, nggatau kapan bisa ke sana. Ibunya dapet 1 buku Franklin dengan arga 5000 cobaaa.

Oh ya dari Bu Rosie juga aku tau kalau buku anak itu sebaiknya ditulisnya bukan dengan huruf a ang kayak di font Times New Roman, tapi a yang bulet itu yang gendut dan garisnya di samping kanan.

Mengapa demikiaaaan...salah satu alasannya juga adalah karena membaca dari buku itu akan megenalkan anak pada huruf, meskipun mereka belum bisa membaca. Sebagaimana manusia lebih mudah menangkap sesuatu melalui gambar, begitu pula kata juga kumpulan dari gambar; gambar huruf.
"Anak itu maunya bukan dibacainnya, tapi mau waktu orang tua."
Satu hal yang aku suka juga dari konsep membaca nyaring ini adalah. Membaca nyaring ini cukup 15 menit setiap hari. Dan yang penting itu prosesnya. Jadi kalau misal satu buku dibacainnya tiap 4 halaman terus dilanjut besok ya gakpapa. Anak akan penasaran dan itu memang prosesnya. Juga dengan ngobrol banyak tentang isi buku, detil gambar buku, apapun. Itu prosesnya. Anyway ada lo picture book ang isinya pure emang gambar ajaa tanpa teks. Ehh tapi ya kalau mau baca sebuku juga nggak ada larangan.
"Di otak itu ada bagian limbik yang berhubungan dengan perasaan. Limbik ini punya pintu yang tertutup di usia seitar 6 tahun.  Kalau bagian itu tertutup dengan suara orang tua yang menyenangkan, kelak besar keika ia punya masalah, yang ia cari adalah suara orang tuanya. Dia tidak akan cari kemana-mana lagi." 
-Bu Rosie Setiawan
((quote yang gini-gini nih yang menstimulus pingin jadi fulltime mother kelaak :"))

Oh ya dari sesi kelas ini ada buu yang menarik perhatian: Emillia Belum Mau Tidur dan Coba Lagi Coba Lagi yang diilustrasi oleh Mbak Gina. Ilustrator ini aku sebut karena  ada hubungannyaa nanti di akhir :")

((sapai jumpa di tulisan kedua))

ini slesai sampai sini Senin lalu kayanya, 6/11. Entah kenapa kemarin ga langsung dipos

Senin, 06 November 2017

Tidak Akan Ke Mana-mana

"Di otak itu ada bagian limbik yang berhubungan dengan perasaan. Limbik ini punya pintu yang tertutup di usia sekitar 6 tahun.  Kalau bagian itu tertutup dengan suara orang tua yang menyenangkan, kelak besar ketika ia punya masalah, yang ia cari adalah suara orang tuanya. Dia tidak akan cari kemana-mana lagi." 
-Bu Rosie Setiawan
((quote yang gini-gini nih yang menstimulus pingin jadi fulltime mother kelaak :"))

Tantangan Media Sosial

Tantangan media sosial masa kini itu bukan hanya dikit-dikit upload atau waktu kepo yang kelamaan, tapi juga memperlihatkan di mana keberpihakan kita saat orang-orang bertentangan dengan prinsip-prinsip kita. Contoh mudahnya;

Ada teman posting foto dengan pacarnya; prinsip kita tidak sepakat dengan pacaran.
Tapi masih me-like, atau bahkan dikomen dengan komen yang mendukung kegiatan tersebut semacam "Suka deh liat kalian bareng" atau "Semoga langgeng ya" atau "Awet banget berdua".

Kalau mau doakan agar segera menikah, langsung saja to the point. Kalau nggak enak lewat komen, ucapkan dalam hati. Rasa sayang kita sama temen termasuk pada tidak mendukung kegiatan yang kita tahu itu tidak disukai Allah.

#ntms

Sabtu, 04 November 2017

Sabtu 4/11/2017

Sudah lama tidak meracau *introvertproblem

Belakangan banyak hal berloncatan di kepala, dan itu sesuai sama buku yang sedang kubaca soal introver. Bukunya Kak Urfa; Mendengar Nyanyian Sunyi. Walaupun tanpa buku itu pun, ya keniscayaan introver ini memang demikian adanya dan aku tidak bermksud mengotak-ngotakkan kepribadian yang merupakan pemberian Allah subhanahu wa ta'ala ini.

Entahlah dimulai dari kapan. Barangkali saat pekan lalu saya kebagian sesi asdul dan kemudian merecall kejadian-kejadian di masa lampau. Mengingatkanku tentang keinginan-keinginan soal menulis cerita anak yang tak pernah padam tapi minim pembuktian ini, hiks.

Loncat ke bagian cerita anak. Dari kecil, rasanya selalu suka cerita anak. Sampai sebesar ini. Entah mengapa. Lalu sempat tergabung sejenak di suau rumah dongeng di Jogja, yang sekarang terpisah jarak jauhnya. Ingin sekali ikutan kegiatan dongeng gitu. Tapi kalau nyari komunitas lumayan juga sih kalau harus ke Bogor Kota nun jauh di sana :' atau Depok. Dan sebagai anak rumah yang senin sampai jumat biasanya ngga ada di rumah. Berat rasanya kalau ikut komunitas-komunitas gitu dan jarang di rumah saat weekend. Karena sebagai anak pun tentu ada kewajiban dan hak-hak rumah yang perlu dipenuhi :)

Kemudian pekan kemarin, saat hendak mendaftar ke agenda festival dongeng, rasanya euh sedih banget. Antara sedih pingin aktif di acara-acara kayak gitu, sedih mau ke sana gaada temen (walaupun ku adalah tipikal introvert yang gas aja sendiri juga), sedih gatau siapa temen yang seneng dunia cerita anak di sini, sedih minim karya, dll dsb entah apa ada pengaruh masalah lain yang cukup membuat mood buruk menjelang weekend ini. Tapi gabisa cerita, cerita pun gatau ke siapa, tau ke siapa pun gatau gimana memulai; wkwkwk, di titik ini aku merasa: kenapa akhir pekan ini aku merasa begituuuuu introvert.

Hm, yausdahlah. Tapi hari ini, hari pertama FDII pun akhirnya berlalu juga dengaan ke sana sendiri:'). Dan Allah ngasih aku kejutan ga sengaja ketemu Erma, temen yang dikenalin Deta dulu buat lomba bareng (sampai berkas aja sih kita ga lolos tahap selanjutnya), dapat wawasan dari kelas-kelas, dengar lagu Ayo Dongeng Ayo Cerita (akhirnya!), dan ga sengaja ketemu Mas Hadi di sini sampe dibilang "Niat amat ke sini sendiri" setelah dikomentarin soal tulisan yang perlu...diperbaiki lagi :"). Hahaha.

Terima kasih, sampai jumpa esok hari :")






Kamis, 02 November 2017

Dongeng-Naura



temukan saja imajinasi
lihatlah jauh, dalam hatimu, cinta
dongeng terindah dunia

*bisanya inget lirik yang dinyanyiin naura, hari ini inget lirik yang dinyanyiin ibunya.
dulu pernah juga dipos di sini :')

Jumat, 27 Oktober 2017

Standard

Let's take a good deal with standard, dear Fitri :')
#whenpplstarttocampaignandyoustillstuckindealwithstandardtostandardize
#somanythingsmoreimportaanttowriteandyoujustchoosethistowrite:'

Rumah, 0.25

Sabtu, 07 Oktober 2017

Ujian

Kemarin di sekitaran magrib. Lupa sebelum atau sesudah. Saya buka beranda rumah (baca:blog) dan menemukan kutipan update dari tumblr Maryam. Saya tentu saja terperanjat membaca tulisan yang tak lain dan tak bukan adalah repost-an saya yang ini.

Bukan hanya karena saya membaca kembali tulisan saya. Saya lebih terperanjat melihat waktu tulisan itu dibuat. Sudah sepekan. Tidak terasa. Dan saya kembali bertanya-tanya kemajuan apa yang sudah saya buat sejak tulisan itu saya buat. Karena kemarin saya ingat persis kejadiannya dan perasaan kesal pada pagi itu. Kesal dan kecewa pada diri sendiri yang berujung terlintas kalimat-kalimat doa itu.

Dulu mentor saya di SXI Badr pernah bilang soal ujian. Pernah saya pos di sini. Intinya, Allah nggak akan berhenti menguji kita sampai kita lulus dari ujian itu. Pekan lalu bisa jadi saya merasakan salah satu peak dari apa yang saya sebut sebagai ujian ulang. Ujian yang saya sangat tidak berharap terjadi lagi tapi Allah beri. Saya kira yang dulu itu, setelah sekian lama prosesnya, saya sudah lolos. Tapi ternyata belum :")

Tadi saya kembali kepikiran. Waktunya sama-sama sekitaran magrib. Bedanya malam ini hujan.
Dalam hidup, ada orang-orang yang ketemu kita sebagai ujian. Ujian apapun. Kesabaran, mengalahkan rasa takut, ketaatan pada pemimpin, percaya pada orang lain, perasaan, respect, menumbuhkan empati, dan lain sebagainya. Ada banyak ragam. Yang kita perlu berusaha untuk bisa memosisikan diri menerima setiap orang dengan porsi yang cukup. Saya sebut yang cukup dengan mengingat aturan Allah sebagi bentengnya.

Lalu tiba-tiba saya merasa terhenyak.
Vice versa.
Maka bisa jadi-sangat boleh jadi, bahkan- saya juga menjadi ujian bagi orang lain. Ujian dalam banyak hal.
Bukankah kita pernah belajar hukum aksi-reaksi?
Dan banyak hal yang terjadi pada kita, adalah respon balik atas hal yang kita lakukan sebelumnya. Lalu terkait ujian yang saya rasakan itu tadi saya merefleksi. Berapa banyak andil saya turut ambil bagian dalam persoalan yang pada akhirnya jadi saya alami sendiri...?
Kemudian randomly jadi berpikir ulang dan terpikir juga case ini;
Berapa banyak saya belajar dan menahan diri untuk tidak menjadi bagian dari ujian orang lain....?


Hei, Kamu tahu? Sifat buruk bisa jadi ujian. Tapi baik pun bisa jadi ujian.
Bisakah kita sama-sama tidak menjadi ujian bagi yang lainnya?


Rumah, 7102017
*tanggalnya bisa dibaca dari depan dan belakang

masih banyak pr-nya. mohon kuatkan, ya Allah .


Rabu, 04 Oktober 2017

Baju Hari Ini (2)

Tadi pagi saya kira, cerita baju ini hanya akan selesai pada nostalgia saya dengan Memey dan Farah. Tapi ternyata tidak.

Surprisingly, ketika semua anak temanbisnis tidak datang kecuali saya dan Abidah, kami justru pakai baju dengan tone warna sama yang selingan gitu. Toska-abu. Itu difoto keliatannya item ya wkwk. Maklum udah mah abunya abu gelap,  foto disininya juga dapet dari motoin foto hehe. Hari ini hari yang cukup sesuatu :")
Tapi nggakpapa. Banyak hal di depan yang perlu kita pelajari. Semangat untuk kita, ya, team!
Untuk ibuk PO, Abidah, kuat-kuat :')

penasaran kita lagi nggarap apa? bisa buka bit.ly/temanBisnis atau kepoin temanbisnisapp.com
#whyujungujungnyaendorse

Baju Hari Ini

 hari ini pakai baju ini lagi setelah sekian lama. terakhir pakai di Jogja.
lalu ingat foto waktu sidang farah lalu ingat foto bertiga bareng farah dan memey. lalu kangen.
Farah sekarang di Jakarta, Memey tentu belum lama mendarat di tanah Jerman. Melanjutkan kuliah s2nya.
Dulu Farah cerita lagu ending Doraemon. Terus kita baru tahu. Terus jadi suka soalnya baru tau ternyata bermakna :"). Apalagi bagian kutipan kata 'berikhtiar' (walau ada yang sumber yang nyebut ber-hip riang juga sih).
Farah sama Memey mundur lulusnya karena keduanya exchange. Farah ke Irlandia 6 bulan. Memey ke Itali 10 bulan. Aku? Ahaha, emang telat sih lulusnya :")
Suka bareng di lab SC. Dari yang ngerjain skripsi, cuma wifian, sampai Memey yang belajar ielts buat menuhin syarat daftar S2.
Kuingat sekali waktu masih suka nebeng Farah ke kelas Pancasila di Fakultas Filsafat. Dan kujuga ingat waktu nemenin Memey nge-transate ijazah dan berkas-berkas lain buat daftar exchange kala itu.
Kuingat sekai waktu Memey jadi koor acara Crayon. Lalu rapat di macam-macam tempat. Termasuk di KFC (yang modal memey beli minum 5000an sama satu lagi lupa siapa beli krim sup yang 5000an juga). Lalu gatau diri rapat sampe kfcnya tutup, wkwk. Kuingat sekali pagi-pagi ke Taman Pintar ditebengin Farah, juga pulangnya. Hari itu senang sekali kepanitiaannya :)
Kuingat sekali, bareng Memey nyari mahkota bunga buat sidang Farah. Inspired by wisudaan Itali yang kata Memey mereka suka pada pake flower crown gitu.
Kuingat sekali Google lagi ke Jogja ada event traktiran sepekan dan hari Selasa itu traktirannya di Gelato. Waktu di lab udah bodo amat soalnya males, gelatonya jauh arah Jalan Parangtritis. Tapi sekitar magrib Farah ngeline dan akhirnya kita kesana wkwkwk demi cup gelato (kalo beli bisa 25rebuan sih 1nya).
Kuingat Memey cerita keterima exchange di tengah kuliah SPK. Pak Yoyok masih jelasin di depan. Lalu aku tanya, Memey jadi daftar exchange (yang lain pokoknya). Lalu Memey berbisik, "Alhamdulillah Aku udah keterima erasmus, Fit."
Kuingat pinjam komik Conan Farah, tapi baru 1-30. Masih pingin pinjem sisanya sampai edisi terbaru aku Far :"
Kuingat sekali awal-awal tau berita nikahnya Nana dan Rian. Lalu kami ketemu Nana di warung nasi goreng deket mandiri, bareng Deffi juga. Ah kangen ya :" Lalu hari H berangkat Farah ngajakin aku biar bisa bareng sama rombongannya yang naik mobil :')
Kuingat sekali waktu aku ke Jogja di tengah magang untuk mubes FLP. Lalu ketemu Memey dan Farah. Padahal dadakan 500an. Lalu Farah cerita perjuangan lamar kerjanya dan Memey cerita sidang dan berita S2nya.
Kuingat sekali mereka suka bilang, "Tuh kan temennya Fitri keren-keren" kalo aku abis cerita tentang siapa gitu. Its like mereka ga sadar...mereka kan temen aku juga wkwkwk. Dan proven sih, meeka keren-keren B)
Ahaha, kangen ya. Terima kasih pertemanannya :') Terimakasih untuk obrolan apapuuun yang sering kita obrolin dari jaman masih sering masuk kuliah sampai obrolan karena bingung di lab mau ngapain saking stucknya :") Semoga bisa jadi pertemanan sampai kelak di surga, ya :) Aamiin
Selamat melanjutkan perjuangan Papamu di Jerman dulu Mey! Banyak cerita, ya.
Dan Farah, aku tau kamu juga kepengen S2. Selesaikan papermu atau kamu minta rekomendasi dari spv di tempat kerja! Kuat-kuat ya kamu yang 20an tahun hidup di Jogja sekarang jadi anak ibukota! wkwkwk.

Salam sayang,
Fitri-yang baper diawali dari baju


Halo @setyanich

halo set, 
teman seruang kala pertama masa aliyah
lalu teman bareng di jogja 
lalu teman rapat di perpustakaan kota

teman yang sama-sama punya cita pingin kerja di penerbitan, wkwk
*makanya seneng bisa foto dengan gambar itu 
(dan di teknik grafika dan penerbitan lagi wkwk)

selamat mempersiapkan kembali pulang ke jogja ya ty
semangat ayam (s)krispinya 
semoga kepulangan ini bisa ngecas semangat yak

yay, aku sangat senang bisa main ke rumah tyani
sendirian, setelah 8 tahun++ berteman

seminggu lalu berawal dengan motoran ke nikahan aisyah di cibubur
dan diakhiri main ke tgpfest
*duaduanya punya ekor sesuatu di belakangnya sih
tapi nggapapa :")

semoga bisa jalan-jalan bareng lagi yak, dear @setyanich :")


suatu kamis, 29 sepember 2017
kemarin rabu hujannya awet banget

Pola (dan Modus)

jadi itu susunan botol, yang ternyata emang keliatannya dari jauh polanya apa

Saya ngeliat dari deket, ngira bebotolan itu bisa disusun-susun biar polanya terserah kita. Udah megang salah satu botol dan berusaha ngambil.
Tapi ternyata enggak, udah nempel jadi satu rangkaian satu sama lain.

Saya menjauh dari kumpulan botol itu, mendekati Tyani.
F : "apa sih bacanya? Oh, i love you."
T : "Love you too."
F : "Eh? Hah?"
F & T : *diem sebentar* "Ahahaha."
F : "Bisa juga ya ginian buat modus" -masih ketawa

Lalu perbincangan kami pun menjadi ide modus lain berkaitan dengan pola botol itu. 

#random #tgpfest2017 #akuinginkeartjogtapiudahlewatdaneffortnyasusahjugasekarang:"



Jumat, 29 September 2017

Jauhkan

Ya Allah, jauhkan aku dari kecenderungan-kecenderungan yang perlahan menjauhkanku dariMu. Kecenderungan pada urusan-urusan dunia yang menyibukkan. Kecenderungan pada manusia yang membuat tidak tenang. Kecenderungan pada hal-hal fisik yang membuang waktu. 


Rabu, 27 September 2017

Dunia yang Semakin Ramai

Belakangan, saya merasa dunia semakin bising. Grup-grup berbunyi tanpa henti. Tiba-tiba saja notifikasi sudah ratusan. Diskusi/sosialisasi tentang sesuatu rasanya sudah tiada sempat terjamah. Tiba-tiba notifikasi 700an. Belum sempat terbaca, beberapa hari kemudian sudah narasumber kedua. Detik ini, notifikasinya 1.353. Entah saya yang terlalu banyak ikut grup, atau memang di sisi lain ini adalah konsekuensi logis dari kondisi kekinian di mana ukhuwah lebih mudah tersambung tanpa batas jarak dan waktu lagi.

Postingan igstori atau wastori pun demikian. Makin hari rasanya makin banyak saja yang posting sesuatu yanag disengaja hanya untuk 24 jam saja. Saya kadang lucu ingat betapa dulu orang-orang suka bilang "Nggak suka sama WA pake ada fitur stori segala. Nyama-nyamain IG aja." Tapi sekarang, yang bilang demikian juga ada yang jadi rajin posting di wastori. Saya beberapa kali pun menemui beberapa orang yang mengepos gambar yang sama baik di igstori maupun wastorinya.
Belakangan, saya merasa dunia semakin ramai secara visual. Dan saya, masih saja seringkali menyengaja menginvestasikan waktu untuk menjadi penikmat update-an itu (saya nggak bilang aktivitas ini salah, cuman kadang niat refreshing buka igstory, misalnya, jadi kebablasan).

Belakangan saya jadi nanya sih sama diri sendiri. Mana yang imbalance? Saya yang nggak bisa bagi waktu untuk memantau aktivitas yang tejadi di grup-grup itu, atau memang load tanggung jawab sedang pada peak-peaknya. Atau ya emang sesimply aku nggak niat buka grup-grup itu (dari yang mulai  ngobrol aja sampai yang emang grup dengan bahasan berbobot)? Ehm, kalau pernah belajar niat=hasil sih opsi ini yang paling ngena. Cuman di sisi lain, i feel sad when it's like i late to know something semacam si X sidang atau baca bahasan-bahasan diskusi yang  sesunggunya bisa memperkaya diri.

And it's also happen sama kebiasaan saya beberapa bulan lalu. Jadi ada momen di mana akun IG rasanya kupake cuman buat ngepoin akun-akun penerbit/produsen/reseller/perpustakaan/penulis buku anak. Ya Allah itu senengnyaaa dari liat update-an tentang sisi parenting, sisi berkolaborasi bersama anggota keluarga, ilustrasi, konten buku, sampe promo buku anak mana yang bisa kubeli dengan harga murah wkwkwk. Tapi belakangan itu kayak hilang gitu aja. Dan sama seperti paragraf sebelumnya, sih. Saya kembali mempertanyakan soal imbalance dan apa yang salah belakangan ini terhadap diri saya.

Di sisi lain, dengan semaraknya media sosial (simply ini mengacu ke igstory wastory; mungkin bisa juga baca tulisan ini). Saya kadang jadi nanya ke diri sendiri. Am I too introvert? Kalau baca posingan yang barusan saya link mungkin akan sedikit paham maksud statement barusan. Di fitur story, orang (termasuk saya juga) kadang mengepos hal yang gak penting sampai penting, yang nostalgic sampai yang so update, yang aib sampai yang inspiratif, yang ditujukan buat banyak orang atau sebenernya cuma ditujukan ke satu orang (terus kenapa ampe bikin story segala wkwk, tentunya ini saluran naluri eksistensi diri sih). Ini tentu saja mengesampingkan akun-akun endorse ya. Tapi sungguh, saya tertarik sih masihan dengan fenomena ini. Motivasi dibalik setiap postingan IG sampai refleksi ke diri sendiri, diri saya, jarang pos-pos gitu apa terlalu introvert, apa less expression (padahal kalo orang udah kenal banget bisa bilang saya nih suka heboh gitu-__-), apa gimana sih? Wkwk. Ini ga gitu penting (kalo ada yang baca), tapi bagi saya ini part of rasa penasaran sih. Seenggaknya penasaran sama diri sendiri. Buat identify diri sendiri biar lebih kenal.

Ya baik sekian curcol random (yang saya rindukan)  di blog ini yeay!


Salam,
Fitri
yang belakangan kerjaanya ngecekin stori-stori yang bukan igstori atau wastori (tapi kadang disambi), wkwkwk.

Rumah, 27 Sept 2017
23.43

Jumat, 25 Agustus 2017

Bukit Sleker Asri; Wisata Baru Hutan Pinus Magelang

Salah satu objek wisata yang belum lama ini saya datangi adalah Bukit Sleker Asri. Mulanya, dalam rangka halal bi halal kami sekeluarga mengunjungi rumah budenya Abi di daerah Soropaten, Bandongan, Magelang. Rumah yang terletak dekat sawah membuat adik-adik saya tertarik untuk mengeksplor sawah. Jadilah Ibu, saya, dan adik-adik berjalan ke sawah dekat rumah yang kami kunjungi sementara Ayah masih mengobrol dengan budenya. Maklum, di Bogor kami tidak tinggal di daerah persawahan. Sampai di sawah, kami disguhkan pemandangan yang indah memanjakan mata. Termasuk sekumpulan pohon pinus yang berjejer rapi yang terihat dari kejauhan.

itu yang padat berdempet-dempet di tengah pohon pinusnya waktu dilihat dari kejauhan

Selesai mengeksplor sawah, Ayah mengajak kami mengunjungi Bukit Sleker Asri. Dari budenya Ayah, kami jadi tahu kalau Bukit Sleker Asri itu serupa dengan hutan pinus. Saat beberapa hari setelah idul Fitri lalu tempat wisata ini baru 4 bulan dibuka. Karena ternyata letaknya cukup dekat, maka kami sekeluarga dadakan memutuskan untuk mengunjunginya. Sayang, tempat ini belum bisa diakses oleh kendaraan umum di Magelang.

Kalau ditempuh dari pusat kota Magelang, Bukit Sleker Asri dapat dicapai setelah kira-kira memakan waktu sektar 30-40 menit menggunakan kendaraan pribadi. Arahnya kalau dari tugu Pasar Bandongan belok kanan, lalu setelah lapangan kecamatan lurus. Setelah tanjakan ambil kiri arah SMAN 1. Lurus terus dan setelah jembatan belok kanan, lurus terus lalu sampai. Sebagai tempat wisata baru, area parkir kendaraannya tidak cukup luas dan sehingga agak sulit bagi mobil. Namun jangan khawatir, ada petugas parkir yang siap memandu dan  membantu kelancaran parkir.

Mendekati lokasi, kami baru tahu kalau Bukit Sleker Asri ini merupakan pepohonan pinus yang kami lihat sebelumnya di sawah. Tempat wisata ini mematok harga tiket masuk sebesar 4.000 per pengunjung (harga akhir Juli 2017). Di sini, pengunjung dapat melihat hutan pinus yang telah dipasangi beberapa bangku-bangku untuk bersantai dan area-area untuk aktivitas bermain anak. Tidak ketinggalan juga, gapura bunga, hiasan-hiasan gantung. dan payung-payung yang sengaja didesain sebagai spot foto. Kita juga bisa melihat kejauhan dari gardu pandang dan bisa bersantai di hammock-hammock yang tersedia.


Di Bukit Seker Asri terdapat juga arena-arena yang biasa digunakan untuk outbond seperti flying fox, jalan di tali, dan lain sebagainya. Waktu saya berkunjung ini, saya terpikir bahwa tentu seru dan asyik jika tempat ini digunakan sebagai lokasi family gathering. Apalagi saat mudik begini. Karena selain lokasinya yang sejuk, daerah yang tidak dipasangi wahana juga masih cukup luas untuk menggelar tikar, bersantai, mengobrol, makan bersama, bermain game keluarga dan juga menikmati arena-arena bermain yang ada di tempat wisata ini. Suasana yang rimbun dan teduh membuat betah berlama-lama sambil melihat pepohonan pinus yang tinggi sembari bercengkrama bersama keluarga. Anak-anak pun bisa lebih intens berinteraksi fisik di lingkungan bebas. Sayangnya mudik kemarin keluarga besar belum sempat melaksanakan. Semoga kumpul keluaga berikutnya bisa dilaksanakan. Aamiin.

Banyak spot menarik yang sayangnya kemarin belum sempat tertangkap kamera (baru sadar waktu sudah pulang). Kayaknya saya keburu terpesona sama dekorasi tempat wisatanya, hehehe. Tapi tenang, buat teman-teman yang penasaran dengan foto-foto yang lebih menarik bisa cek langsung IG-nya Bukit Sleker Asri di sini.

#KelasNgeblogSeru2 #NgeblogBersamaNaqiyyahSyam

Senin, 21 Agustus 2017

Shalat Sendiri Apa Jamaah?

Gejala asma Fatih muncul lagi sejak Sabtu sore. Batuk-batuk, agak sesak, nafasnya berat. Jadi nggak shalat ke masjid dan shalat sendiri di rumah (karena kalau ikut jamaah nanti either Ummi yang nggak tenang shalatnya karena takut Fatih nggak kuat dan jadi nyepetin shalat dan dia bisa ngukur dirinya sendiri).

Terus tadi Isya karena Fahri belum pulang dari ngaji di RT lain, Ummi sempet ragu mau shalat sekaraang apa nunggu anak itu balik karena dia gakbawa kunci, kasihan kalau nunggu kelamaan di luar.
Fatih abis wudhu datang ke tempat kami hendak shalat.
Terus awalnya agak ragu Fatih mau ikut shalat jamaah nggakpapa nih? Apa Fatih nungguin Fahri pulang aja ya jadi sahlatnya gantian.
Fatih nanya, "Gimana Mi Fatih jadinya shalatnya?"
"Terserah Fatih."

Lalu Fatih bilang, "Jamaah sama Ummi aja deh. Udah terlalu banyak Fatih shalat sendiri."

Ummi tersenyum haru.

-Karena jawaban Fatih itu tentu lahir dari pehamahan yang nggak sederhana soal pentingnya shalat jamaah, dan saya nggak tahu bagaimana itu bisa perlahan tumbuh di kepalanya, maasya Allah  :')

Apa Yang Saya Pelajari Sebulan Belakangan

I have met many things in a month (until today).
Dan banyak sekali hal baru yang saya dapat.

Saya belajar mengenal orang-orang yang mimpinya bukan hanya kebermanfaatan sesaat. Tapi yang rasa-rasanya unbelievable. Orang-orang yang ingin punya portofolio kebaikan yang bisa dirasakan sekian juta orang dua tahun lagi. Saya belajar untuk menjadi bagian dari mereka. Saya belajar untuk bisa mengasah sense lebih dari sekadar 'aplikasi ini akan bermanfaat untuk pedagang UMKM dan bisa berpotensi menscaling usaha mereka' ke 'kalau usaha mereka sudah terbantu, mereka akan punya waktu lebih untuk mengenal Tuhannya, untuk mempelajari agamanya'. Kala itu, kumerasa malu karena belum kepikir sampek sana semangatnya :""

Saya belajar mengenal orang-orang yang bilang, "saya tuh kalau kepikiran ide nggak bisa ngak dipikirin jangka panjangnya". Lalu ia bercerita soal mimpi sekian ribu kebermanfaatan yang bisa diberikan di 2012, lalu terwujud. Sedikit demi sedikit ditingatkan. Lalu puluh (atau ratus-saya lupa) ribu kebermanfaatan, dan ia mulai mencari cara bagaimana agar kebermanfaatan yang ia hasilkan bisa semakin sustain. Dan sebagaimana niatnya yang 100%, maka Allah tunjukkan banyak cara meraihnya. Saya belajar untuk bisa membantu mewujudkannya.

Saya belajar dari ketulusan seorang kakak yang mau-maunya meluangkan waktu untuk membina adik-adik yang punya minat yang sama. Padahal kakanya kerja. Padahal kakanya juga punya projek pribadi. Dan kakanya fast response, mau nanggepin bocil-bocil (yang sebenernya udah gede ini) kalo nanya atau komen.

Saya belajar dari managing peoplenya seorang kakak yang megang product. Dari bagaimana mengapresiasi para anggota timnya bahkan untuk urusan kecil kehadiran pada waktu yang dijanjikan. Dari bagaimana cara ia menghandle ketidakhadirannya dengan -seniat itu- bikin video buat briefing. Dari bagaimana ia memanage diri padahal target di depan mata dan requirementnya banyak printilanya. Dari bagaimana nggak cuma 1 project yang dihandle tapi sebisa mungkin bisa memenuhi hak keduanya. Dari -kalo kata temen saya- how to coping stress. Manage banyak orang tentu nggak mudah; perangainya macem-macem, maunya beda-beda, belum kalo berhubungan sama third party. Juga meluangkan waktu di luar jam kantor untuk tercapainya target yang lebih baik.

Terima kasih kakak-kakak dan teman-teman semua, kalian luar biasa :') Semoga Allah senantiasa menjaga dan membalas kebaikan kalian dengan yang lebiiih baik lagi.

Semoga besok launch PAnya sukses :")

#liveatbadrinteractive
#liveatbookprojectgemabi
#liveatgrupbimbingankaknovi
#liveatpaproduct