Senin, 13 Agustus 2018

Hilang

Kenapa merasa kehilangan; bahkan justru pada apa-apa yang sejatinya bukan hak kita?

:')
belajar fit. bertumbuh .

Sabtu, 11 Agustus 2018

Kenapa Sibuk Sendiri Kalau Ada Anak?

A : "Eh headsetnya X ketinggalan."
B : "Kenapa? Mau pinjem? Bilang dulu kalau mau pinjem."
A : "Enggak. Ya siapa tau kan mau dengerin apa pake headset di rumah."
B : "Punya anaak (dengan penekanan nada bicara). Ngapain pakai headset kalau ada anak."
***
Wow. Dalam ya maknanya.
Soal pinjam barang ketinggalan yang perlu bilang dulu kalau mau pinjam. Dan yang lebih aku highlight adalah soal ngapain pakai headset kalau ada anak. Di kepalaku terjemahan dan tafsirannya jadi berupa-rupa yang intinya, ngapain sibuk sendiri kalau ada anak.
.
It was so true that put focus not just on our ownself is difficult.
.
Lalu ingat aku ke adik-adikku gimana ya.
Lalu berpikir apa kalau anak sendiri bakal beda ya.
Tapi hak anak di manapun kayaknya sama deh. Mendapatkan waktu orang dewasa di sekelilingnya. Juga adik, atau murid, atau anak-anak yang mungkin dibawa oleh teman, atau sepupu, atau saudara, atau anak-anak lainnya.

Sebagai pengingat
.
Setelah mendapat 13 card need to test
Hahaha
Tenang aja diri, kita selesaikan pelan-pelan ya :')

Tidak Merasa Lebih Baik

Yang sulit dari shaum barangkali bukan menahan lapar, haus, dan godaan lainnya. Tapi agar bagaimana tidak merasa lebih baik dari yang tidak puasa. Pun bisa jadi yang berat dari bangun malam untuk tahajud bukan berpayah-payah berusaha bangun dan menahan kantuk selama shalat. Tapi untuk tidak merasa lebih baik dari yang terlelap tidur, terlewat menunaikan sunnah sepertiga malamnya. 
- ya Allah, jauhkanlah kami dari perasaan sombong dan riya'

Jumat, 10 Agustus 2018

Alasan Keluarga

Suatu Sabtu, sebuah pesan masuk ke hp saya. Seorang teman yang kami punya suatu janjian keesokan harinya membatalkan kedatangannya karena ia harus datang dan menginap di rumah kakeknya. Aku tersenyum, mengiyakan.

Alasan keluarga seringkali membuatku respect pada seseorang. Saya respect sekali teman saya memilih meluangkan waktu untuk mendatangi kakeknya, berkunjung bahkan sampai menginap. Pun juga ketika tahu teman yang mengurusi kakek neneknya di rumah, atau mengurus kakek nenek yang sakit, atau mengantar jemput orang tua atau saudaranya. Meluangkan waktu untuk keluarga, bagi saya adalah precious things.

Apalagi di usia-usia saat kita sudah punya dunia bersama teman, atau komunitas, atau organisasi, yang sering kali menggeser prioritas-prioritas ada keluarga.

Saya pernah membaca di tumblr Masi, salah seorang teman yang kuliah di Bandung. Di tumblrnya waktu itu dia pernah cerita bahwa ketika hiruk pikuk teman-temannya memilih untuk mendaftar panita acara ramadhan di kampusnya atau panitia ospek sehingga mengorbankan waktu pulang-dengan alasan memaksimalkan waktu atas nama dakwah kampus, Masi memilih tidak mengambil amanah di situ dan memaksimalkan waktunya untuk keluarga. Baginya, keluarga juga tempat di mana ia bisa berdakwah. Maka ia mengambil jeda sejenak pada waktu liburan setelah rutinitas kuliah yang padat. Saya tidak bicara tentang benar salah di sini. Tapi kala itu saya menangkap dan belajar bahwa, ada hak keluarga pada jatah waktu yang dititipkan Allah pada kita. Masi menyebutkan beberapa aktivitas yang termasuk pada kebaikan di rumah seperti memaksimalkan meperdalam wawasan agama di rumah. Kegiatan lainnya bisa berupa mengajak keluarga berpartisipasi pada agenda-agenda ramadhan, berburu kajian, mengajak adik jalan-jalan atau mengikuti acara-acara ramadhan untuk anak, membantu menyiapkan sahur dan berbuka, itikaf bersama keluarga, dan lain sebagainya.

Juga ketika misal ada rekan yang izin pulang duluan untuk menjemput istri atau anaknya. Atau dari awal bilang tidak bisa datang terlalu pagi pada suatu hari tertentu karena ia harus mengantar anak dan istrinya. Atau juga alasan mengantar atau menjemput ibu, adik, kakak, dan anggota keluarga lainnya. Hal-hal seperti ini reflek membuat saya tersenyum, mengamini. Selama tidak mengganggu pekerjaan dan terkomunikasikan dengan baik, tentu saja, saya sangat respect dengan teman-teman yang mengutamakan keluarga. Saya dulu sekali pernah sempat tidak respect sama orang, tapi ketika suatu hari teman saya ini (ini saya sebut teman dan sebenarnya udah punya anak lebih dari satu) telponan sama anak-anaknya, lalu saya dengar celoteh riang anaknya yang keliatan banget anaknya ini sangat menganggap ayahnya ini hero. Heu, hilang dong ketidak respectan saya seketika. Saya jadi membayangkan posisi seseorang dalam keluarga itu sesuatu banget, ya. Teman saya ini tentu sangat disayang anak-istrinya di rumah. Sebagai ayah dan suami yang dinanti kepulangannya, bisa diajak main dan bercanda, dan menghibur anak-anaknya yang penuh celoteh itu. Pun saya jadi melihat dengan perspektif lain. Saya melihat seorang anak (teman-teman di sekeliling saya), pun juga pasti menjadi seseorang yang berharga di tengah keluarganya. Yang disayang ayah ibunya, yang dianggap sebagai seseorang yang ikut menjadi tulang punggung keluarga bagi yang turut mencari nafkah, yang membawa keceriaan di tengah keluarga, yang menjadi tempat bercerita bagi ibunya, yang menemani membeli keperluan rumah tangga, yang bisa ngemong adik-adiknya. Aih, ya Allah, betapa peran kita di tengah keluarga, siapapun kita dan apapun posisinya saat ni (anak, kakak/adik, istri/suami, ayah/ibu), sungguh precious. Berharga.

Mungkin karena itu pula, ndak pantas kalau kita sulit memberikan waktu untuk membantu, untuk ada di rumah, untuk mengantar jemput, untuk berwajah ceria, untuk mendengar cerita yang dibagi ayah ibu, untuk mendengar cerita adik-adik dan menimpalinya, untuk membantu urusan-urusan keluarga.

Nabil dulu pernah bilang (aku pernah sih cerita kata-kata ini sebelumnya di blog ini), waktu kita itu selama hidup akan lebih banyak sama keluarga kita kelak, bukan sama orang tua. Misal kita ambil umur manusia 63 tahun, terus ambillah nikah umur 25. 25 tahun kita sama orang tua, sisanya sama keluarga kita kelak. Belum lagi yang anak asrama atau anak rantau, berapa lama kita sama orang tua. Waktu itu kusedih sekaligus membenarkan kata-kata Nabil. Waktu akhir-akhir pulang dari Jogja umurku 21 tahunan, separonya kuhabiskan tidak di rumah. 6 tahun smp-sma dan 4,5 tahun kuliah. betapa sedikitnya. itu juga yang membuat aku ingin pulang dan di rumah selepas kuliah. Ini juga yang sering membuat semangat kalau lagi mode males-malesan bantu-bantu. Semacam, waktu nggak akan bisa dibalikin lagi. kesempatan untuk bisa maksimal menjalani peran sebagai anak ya saat sekarang ini. nggak jamin apakah esok lusa masih ada janji-janji itu. dari segi ita nggak tau kehidupan setelah menikah kelak bagaimana, juga ndak tau sisa usia kita maupun orang tua.

Kemudian Jumat lalu, di tengah kerisauanku terhadap suatu hal, aku tiba-tiba ingat orang tua dan asa asa sedih gitu kalau kelak sudah menikah (ya belum ada rencana-rencana sih tapi tetiba kepikiran aja) tentu waktu untuk orang tua jadi berkurang. lalu randomly inget tulisan-tulisannya bulek hana; kalau sudah menikah, istri tuh jangan sampai membuat bakti suaminya pada ibunya berkurang. dan baktinya istri sama suami itulah bentuk berbaktinya pada orang tuanya, yang telah mengajari dan mendidiknya. lalu randomly ingat juga kata-kata Suci watu telponan sebelum ia nikah, katanya "Kak, doaku tuh saat itu cuma, ya Allah berilah aku jodoh yang menyayangi aku dan keluargaku.udah itu aja." aku jadi berpikir tentang iya ya, menikahi seseorang adalah menikahi keluarganya juga. bagaimana agar orang tua juga tidak kehilangan kasih sayang anak-anaknya ketika mereka menikah tapi justru mendapatkan kasih sayang baru yang sama besarnya dari anak-anak barunya; menantunya. sempat terpikir khawatir juga, tapi buru-buru kutepis. Lalu karena waktu itu aku ingatnya di perjalanan pulang, aku nangis di perjalanan pulang ke rumah :")

"Kalau kamu mau njadiin keluarga kamu kelak tempat pulang, kamu harus bisa dulu menjadikan keluarga kamu sekarang tempat pulang."


10 Agustus 2018
lonjakan-lonjakan pikiran dari lama yang akhirnya kekumpul juga

Rabu, 08 Agustus 2018

Reblog

siang ini ketika secara  random membuka dashboard blog, menemukan reblog teman saya atas tumblr ini http://jndmmsyhd.tumblr.com/ karena di dashoard blog hanya muncul paragraf-paragraf awal, dan saya cukup penasaran (sejak tumblr diblokir, ga semua tumblr masuk updateannya di dashboard blogspot saya)

baru baca sebagian kecil, tapi cukup berkesan. sampai cukup mengganggu konsentrasi. sepertinya perlu baca lebih banyak lagi. belajar lebih banyak lagi.. merenung lebih banyak lagi. memperbaiki sikap lebih baik lagi. dari laman ini.

Selasa, 07 Agustus 2018

Bu Siapa?

"Mana ya dek nomernya Bu Siti...." Ummi, nanya retoris ke Fatih karena mau menghubungi wali kelasnya. Jemarinya sibuk mencari nomor kontak. Fatihnya udah mau bobok.

Terus aku random aja, "Kalo nomer Bu Romlah?" Nyomot nama asal, yha begitulah kerandoman kita.

Tapi ternyata Fatih lebih random dong. Dia nanya balik, gak nanggepin omonganku (yang berharap direspon ini). Kata dia...
"Kalo nomernya Bu...ronan?"

Zzzz.

Lalu kami tertawa.

Bakda rapat Tebi seharian,
12jam ada ni dari berangkat sampai rumah lagi

Senin, 06 Agustus 2018

Monolog Dua Orang

Mari menyedikitkan bicara dan tanya
Mari menjaga jeda
Mari menyeriusi cara menghamba
Biar cara Tuhan yang bekerja

Mari hilangkan asumsi dan prasangka
Mari sembunyikan curiga
Mari lapangkan sesak-sesak yang terasa
Biar waktu menjawab doa-doa

Mari memaksimalkan peran
Atas apa yang bisa dilakukan sekarang
Mari memberi hak pada yang berhak
Dan melupakan apa yang dikira hak-padahal tidak berhak

Ingin ini itu sulit sekali dibelenggu
Apalagi kalau hawa nafsu mulai mengganggu
Sehingga yang wajib menjadi terbengkalai
Malah berharap apa yang tak sesuai

Hari ini aku punya cerita
Ingin kubagi, kurasa
Tapi tiada celah yang perlu kucari
Karena sesungguhnya tiada perlu untuk saat ini

Suatu hari nanti, hari-hari ini semoga jadi pembelajaran berarti :')

13.menit.yang.lalu
monolog.dua.orang
p.s tolong tolong jangan pake bumbu asumsi bacanya wkwk

50 Tahun

Ummi, bagaimana rasanya 50 tahun?

Takut.
Takut belum cukup amalnya,
belum jadi ibu shalihah,
belum jadi istri shalihah,
belum jadi anak shalihah.

Ummi berdiri, hendak shalat sunnah.
Aku meneteskan air mata

Bakda Isya,
Sekian waktu yang lalu

Minggu, 05 Agustus 2018

Hidupi Hari Ini

Ada dua jalan yang sering digunakan oleh setan untuk menggelincirkan manusia ke dalam dosa
1. Terlalu bersedih terhadap masa lalu
2. Terlalu khawatir terhadap masa depan

Karena keduanya membuat manusia nggak fokus atau lupa terhadap hari ini. Hari yang harusnya bisa dia isi dengan kebaikan. Ingatlah bahwa hidupi hari ini.

-Nikari dari Mas Isnan 

Jumat, 03 Agustus 2018

Selftalk

24 jam terakhir terhitung dari kemarin, ada tiga air mata yang kukenal. dua milik temanku, satu milikku sendiri. setelah tulisan ini terpending, menjadi bertambah satu. dua diantaranya terbagi, karenanya aku tahu. milikku kusimpan sendiri. terlalu sulit untuk mulai membaginya.
.
setiap orang berjuang, pada masa dan ujiannya masing-masing. satu dengan yang lain berbeda. kekhawatiranya berbeda. tapi bagaimanapun, muaranya harus sama. mencari ridha Allah. bukan manusia. bukan sesiapa. bukan dunia. tujuannya tidak pernah sesederhana itu jika mau jawaban jangka panjang; yang melegakan, yang menenangkan...
.
semua ini perjalanan. journey. kamu harus siap. tidak pernah ada yang tahu apa yang membuatmu esok lusa barangkali menangis lagi, merayu Allah lagi. kamu boleh lelah. lelah dengan kepikiran-kepikiran ini. lelah dengan doa. lelah dengan upaya-upaya yang kamu bisa. tapi kamu nggak boleh berhenti yakin. Allah nyiapin sesuatu yang baik sesudahnya. sesudah banyak hal ini berhasil terlewati. sesuatu yang akan membuatmu tersenyum dengan syukur yang lebih banyak lagi, karena dulu waktu kamu berjuang melewatinya, bukan berarti tidak bersyukur kan?

-fitri, hanya bicara dengan diri sendiri:
aku mengingat banyak jumat dengan potongan ceritanya masing-masing

Harap; Sebuah Ralat

Kenapa berharap; bahkan justru pada apa-apa yang sejatinya bukan hak kita?

ternyata yang lebih tepat itu hak, bukan milik
.
tadi, sepanjang Margonda rasanya lengang. jarang-jarang ngerasa begini 

Kamis, 02 Agustus 2018

Harap

Kenapa berharap; bahkan justru pada apa-apa yang sejatinya bukan milik kita?
.
.
ah, seharusnya kamu banyak bersyukur fit....

Sabtu, 28 Juli 2018

28 Juli

Ada banyak hal yang terjadi seputaran 28 Juli. Tahun lalu.

1. Aku mengirim paket ke Tangsel untuk Maryam. Mengirim kemarinnya, sampai 28 malam. Aku masih mengingat bertanya soal nama kecamatan atau kelurahan di sekitaran Ciputat, karena aku memastikan kode pos alamat Maryam yang kucomot dari buku tahunan. Buku tentang kota karena terpikir Maryam anak planologi. Sempat kupos di IGstory dan ada dua DM yang aku ingat lahir dari situ. Tentang buku anak obrolannya.

2. Kabar duka Shofi.
Rasanya masih sedih mengingat kabar duka sore itu. Hari ini, saya masih mengingat semangat Shofi yang terpancar jelas di wajahnya. Yang kalau kata Indah, Shofi nggak melewatkan kesempatan berbuat kebaikan begitu saja. Dia akan ambil. Seseorang yang bercita-cita tinggi yang bukan peragu. Shof, semoga Allah mengizinkan aku untuk meneladanimu. Semoga Allah memberi rahmat tak terhingga serta kasih sayangNya jadi pelindungmu.

3. Kelahiran Migu, putri Ammah Intan.
Sebagaimana lawan kata, Allah tunjukkan kuasaNya hari itu. Ada garis kabar kehidupan yang selesai. Dan ada yang baru dimulai. Masih teringat cerita Ammah Intan soal membangun bonding keluarga (bertiga antara Ammah Intan, suaminya, serta putri kecilnya) pasca melahirkan (masih di RS). Semoga tumbuh menjadi anak shalihah ya Migu :)

4. Bekup-Perpustakaan Kota Depok-Menerabas Genangan untuk Servis HP
Di bulan pertama setelah lebaran, Tebi udah mulai daftar-daftar agenda-agenda startup. Kalau dipikir-pikir ternyata cepat juga ya. Agenda pertamanya semacam sosialisasi sama materi awal di perpuskota Depok. Aku dan Abidah jadi bagi tugas, Abidah takziah ke rumah Shofi, aku ke agenda bekup ini. Lalu baru pertama kali ke perpuskota Depok dan cukup membuat tertarik. Pulangnya hujan dan aku kira ngga segede itu, jadilah aku  ke tempat servis HP dan cukup basah sampai lokasi. HP ditinggal dan karena tanpa kabar, rupanya cukup membuat khawatir.

28 Juli tahun ini,
poin 1, aku mengirim lagi untuk Maryam. dan surprisingly aku ndak perlu mencari alamat Bandung dan alhamdulillah kiriman dadakan kemarin bisa sampai tepat hari ini. Aih jadi refleksi juga karena tahun lalu Maryam belum ada kabar-kabar menikah (selanjutnya dia menikah Februari ini). Kemarin aku terharu sekali waktu nulis doa yang lain dari sebelumnya; semoga jadi istri shalihah :"
poin 2, aku sedih mengingat setahun belakang, progress baik apa yang sudah kulakukan yang kubenchmark dari Shofi? Sudah seberapa serius mengingat kematian?
poin 3, lama nggak menjenguk Ammah Intan, dan refleksi juga soal berkeluarga jadinya. Aku masih ingat cerita Ammah dari soal proses, kemudian menikah, galau karena jam kerja yang berbeda denga suaminya, perjuangan buah hati, sampai akhirnya dikaruniai Migu.
poin 4, baru nambah sekali sih ke perpus kota depok lagi, sisanya, aku jadi mengingat bahwa banyak juga yang terjadi di sebulan pertama development tebi rupanya

sekian.

Ada Allah.

"...Apa yang engkau kira dengan nasib dua orang, sementara yang ketiganya adalah Allah?" 
Kata Rasulullah pada Abu Bakar dalam Gua Tsur, ketika bersembunyi dalam perjalanan hijrahnya, sementara ada orang Quraisy di depan gua yang sedang mencari keduanya.

-sebuah penggalan hadits Muttafaq 'alaih

Jumat, 27 Juli 2018

Beberapa Hari Belakangan Ini


"Fitri senyum dong...."
.
.
"Yeeey Fitri akhirnya senyum..."
.
.
"Sehat Fit?"
.
.
"Ummi, ummi lagi di mana?"
.
.
"Mi, kalo aku ngaji aku jadi inget Ummi. Paling ngerti emang...."


Terima kasih sudah meminta senyum, padahal aku tahu yang bertanya lebih runyam pikirannya. Terima kasih untuk tidak pernah menyerah mendapat kabar baik, juga sepotong senyum. Terima kasih sudah memberi kejutan yang menyenangkan. 


Aku,
Yang kadang di Depok ini merasa asing
Terima kasih telah menjadi begitu bersahabat
Terima kasih untuk beberapa hari ini
Nasehat-nasehat yang pernah kutulis memang sulit untuk diimplementaskan rupanya

p.s : Ummi di situ bukan bermakna ibuku dan bukan kata-kataku

Selasa, 24 Juli 2018

Menahan

Hidup ini sejatinya menahan. Menahan diri dari rasa enggan melaksanakan perintahNya. Dan menahan diri melakukan laranganNya. 
--seseorang, Jumat kemarin
Fitri,
sedang menahan tiga pertanyaan pekan lalu

Sabtu, 21 Juli 2018

The Little Prince; A Heartwarming Movie

Le Petit Prince, salah satu film yang berkesan. A heartwarming movie. Film yang lebih kumengerti daripada bukunya. Bukunya termasuk buku yang paling banyak diterjemahkan di dunia; konon pernah disadur dalam 230 bahasa asing. Aku sendiri punya versi Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris; yang Bahasa Inggris dikasih Arum, koor Jurnalistkku masa Aliyah sekaligus roommate dan salah satu tempat nebeng kalau ke Bandung. Waktu lihat terjemahannya di toko buku Jepang juga sempet foto. Padahal waktu itu belum tahu ceritanya.























































Ditonton 1 September 2017. Kayaknya waktu itu idul adha deh. Libur. Lalu tak lama kemudian ke Tasik nikahan Kak Kai dan Kak Wahyu. Padahal diceritain film ini sama temen-temen FLP udah lama, mungkin belum ambil skripsi kali ya pas itu.

Time flies, waktu berjalan cepat sekali.