Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anak-anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Oktober 2022

Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik?

 Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 1)

Secara pribadi, saya tertarik dengan ilmu dan topik parenting sejak duduk di bangku kuliah. Meski entah kapan prakteknya, tapi ya tertarik saja. Menurut saya menarik sekali mempelajari sebab akibat atau akar dari perilaku anak. Atau misal perilaku dan respon yang seperti apa yang bisa menumbuhkan anak tumbuh sesuai fitrahnya, mencintai Allah dan rasulnya, menjadi individu yang utuh, merasa cukup dengan dirinya dan mengetahui peran kehidupannya selama di dunia dan menjalaninya sebagai tujuan kebermanfaatan penciptaannya. Berat? Yah ambillah satu saja, menumbuhkan ank yang pandai mengatur emosi, saja dulu. Untuk menumbuhkan seorang anak yang sampai dewasa mampu meregulasi emosinya, nggak kabur kalau ada masalah atau berlebihan nangisnya, itu rupanya nggak sederhana. 

Suami saya pernah mengatakan, suatu ketertarikan pada belajar tumbuh kembang anak adalah suatu privilese, karena tidak semua orang memiliki ketertarikan terhadapnya. Waktu mendengar kalimat itu, saya cukup kaget karena tidak menyangka seistimewa itu posisi mempelajari tumbuh kembang anak dengan serius. Namun seiring berjalannya waktu, saya makin menyadari mengasuh sangat butuh ilmu. Bagaimana ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan pengasuhan, optimalisasi tumbuh kembang, bahkan kebutuhan gerak anak aja ternyata ada teorinya. Ini soal kebutuhan anak yang wajib dipenuhi orang tuanya, bukan sekadar cuma ikut-ikutan atau biar anaknya seneng.

Saya pernah memprediksi kalau urusan alasan pengasuhan saya pada Kaisa itu akan ditentang orang atau minimal dikomentari yang kurang lebih begini, "Dulu juga neneknya ngga begitu tapi anaknya pada sukses, ada yang  jadi dokter juga." atau "Dulu juga neneknya ngga begitu anaknya 'jadi' semua." atau "Dulu nggak pake teori-teori dan nggak aneh-aneh, sekarang juga anaknya pada berhasil." Yha, dan kejadian juga rupanya.

See, orang umumnya melihat tujuan pengasuhan adalah menjadikan anak yang berhasil dalam kacamata umum. Entah menjadi dokter atau ahli IT, businessman atau ustadz, penghafal Quran, masuk kampus terbaik, dapat kerja bonafit.

(lanjut di postingan setelah ini)


Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 2)

Tidak pernah ada apresiasi untuk mereka yang mampu mengelola emosinya dengan baik, yang mengenali apa keinginannya dan mampu mengambil keputusan tanpa takut apa kata orang, yang bisa mengendalikan dirinya, yang memahami minatnya dan ingin berkontribusi dengan jalan yang ia yakini (dalam batasan syariat tentunya), yang terus menjadi pembelajar bahkan sammpai sudah tua kelak (iya kan? Bukannya lebih cepat mencap orang sukses karena kerja daripada dibandingkan yang senang sekali belajar). 

Kadang tuh rasanya kayak kita tuh berjuang banget lho tidak mengiyakan semua keinginan anak, tidak cepat membujuknya dengan 'nanti ibu/ayah sedih lho biar nggak jadi people pleasure', melatih urutan makannya anak biar misal cemilan atau susu nggak dekat sama jam makan, dan mengerem semua komentar atau pertanyaan saaat anak sedang asyik-asyiknya bekerja dan mengobservasi. Dan untuk itu semua, jalannya jauh dan seringkali memutar, bos. Karena ngasih iming-iming, ngasih ancaman bahkan sekecil nanti ibu sedih kalau kamu ngga makan, atau langsung kasih hal yang diinginkan pas anak udah mewek memang jalan pintas.

Tapi lagi-lagi karena ilmu, kita berusaha lagi dan lagi. Dan kadang orang dengan mudahnya memotong itu semua dengan dalih, dulu juga nggak pake teori-teorian sekarang anaknya 'jadi' tuh rasanya nggak enak banget ya ternyata. Memang kita butuh lingkungan untuk membesarkan seorang anak, it takes a village to raise a child. Tapi lebih butuh lagi ilmu, keteguhan hati, dan keyakinan serta terus memohon pada Allah buat dikuatkan di seluruh prosesnya. 

Peluk buat semua orang tua yang mau belajar dan terus mengiringi penngasuhan dengan doa dan tawakkal terbaik. Kalian luar biasa :")

Senin, 31 Agustus 2020

Let kids be kids, just let them be⁣

sumber https://www.instagram.com/p/CB1m6iJpUgX/

Let kids be kids, just let them be⁣
Princesses, pirates, let the bath be the sea!⁣

Let them stare at the sky and find animals in the clouds.⁣
Let them dance in the rain and sing out loud.⁣

Let them dream really big and wish upon a star.⁣
Let them feel the wind in their hair from the window of a car.⁣

Smell their dandelion bouquet like it's your favorite flower,⁣
For they will grow up in what seems like just an hour.⁣

Tell them bedtime stories each and every night.⁣
Let them sleep in the middle when they awake with fright.⁣

Shield them from evil and keep them from danger,⁣
But teach them of acts of kindness for complete strangers.⁣

Don't hurry them, overschedule them, and make them feel lost.⁣

Let them build castles, do cartwheels, and find shells in the sand.⁣
If they need a little help, then please give them a hand.❤⁣

Let them walk barefoot and the grass tickle their feet,⁣
For it's the small things in life that will make them feel complete.⁣

Let them make couch cushion forts and sleep in a tent,⁣
For this is the way childhood was meant to be spent.⁣

Let them bring you breakfast in bed, let them burn your toast.⁣
Someday it will be times like this you will miss the most.⁣

Teach them how to serve others and be a good friend.⁣
If you teach all these things, their love will have no end.⁣

Teach them in life, not everyone will win.⁣
And when they lose they need to accept with a grin.⁣

It's not about the money you have and the things you have bought.⁣
Life is all about lessons that parents have taught.⁣

So let kids be kids, just let them be.⁣

❤ -a beautiful poem by jennifer caldwell, let kids be kids.

-dibawa ke sini 25 Juni 2020

Kamis, 13 Juni 2019

Bantal bagi Anak-anak

Jatuh cintanya anak-anak itu sederhana. Kepemilikan bagi mereka sebegitu bermakna.*

"Dek, kalau tiga bantal ini dibeli dua ratus ribu, mau nggak?"
"Enggak. Orang satunya harganya seratus ribu."
"Kalau tiga ratus ribu?"
"Enggak juga."
Abi nyaut. "Itu satunya dua puluh ribu, Dek."
"Iya apa? Bukannya dua puluh atau lima puluh ribu gitu?"
"Kalau lima ratus ribu?"
"Enggak, kalau sejuta, baru mau. Nanti abis itu Fatih beli lima bantalnya."

Lucu saja obrolan tiba-tiba ini. Aku jadi ingat waktu pelatihan menulis dulu. Bu Sofi nunjukin satu cerita yang sederhana Tapi waktu aku baca, hangat rasanya. Sangat anak-anak. Sangat personal. Sangat kehidupan mereka.

Dulu Fahri waktu tidur amunisinya banyak. Bantal, guling, yang dipakai dan yang dibikin benteng karena dia takut kecoa (padahal kan kecoa bisa nanjak bantal/guling ya). Lalu kalau dititip ke tetangga repot pindahannya, hahaha.

Anak-anak Umi di rumah, waktu kecil, kayaknya semuanya, suka ribut kalau bantalgulingnya dipake orang lain pas mau dipake. Soalnya jadi anget, jadi ga dingin. Kan enak ya meluk bantal guling dingin tu.

Sampai suatu ketika, Fatih cerita ke aku, kalau di Majalah Bobo ada yang cerita kalau adiknya masukin bantal ke kulkas biar dingin. It's a real story! Dan itu juga pop up in mind ketika Bu Sofi cerita tentang cerita anak berjudul Bonta itu.

Penasaran sama ceritanya, bisa baca di sini ya: https://reader.letsreadasia.org/read/feefe99b-1698-4f7e-9eed-faf0c98a346c klik ikon oranye yang gambarnya buku itu.


aku menutup tulisan ini dengan mendengar
"umi pijetin"
lalu aku berusaha ambil bagian karena tau umi lagi ngerjain pr
"sini-sini"
lalu fatih bilang, "apa artinya tidur tanpa dikelonin?"
lalu tetap saja aku kalah duluan sama ummi
\

*esok lusa kita akan belajar tentang tidak menggenggam terlalu erat ya naak :)


updated:
jadi habis aku pos, aku nyamper fatih. fatih di kamar umi, meanwhile dia biasanya tidur di ruang tengah. 
ndak ada bantal yang tadi dia keep banget itu dong. ntah kenapa.
dia udah merem, aku tetep aja nanya
"bantalnya ke mana dek? kok ngga ada bantal fatih sama sekali?" lha orang tadi dia bangga-banggain
katanya sambil merem, "mulai dari nol"
aku nanya lagi, dan dia jawab dengan jawaban yang sama

sungguh, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, nak.

Kamis, 16 Mei 2019

Bermain dengan Ayyash dan Hanna

"Ayyash sama siapa ke sini?" Datang ke kantor, surprise melihat Ayyash dari belakang lagi duduk di beanbag.
"Sama Ayah.
Lalu aku cuci tangan.
Tiba-tiba muncul Hanna dari arah audit.
"Eh mau lihat kelinci nggak? Lihat yuk."
"Udah."
"Oh udah ya."
Aku memutar otak, lalu bingung ajakin apa ya.
"Emang kelincinya di mana?"
"Ada di belakang, yuk sini lihat."
Lalu ke kolam belakang, bertiga. Alih-alih melihat kelinci, malah lebih tertarik lihat kura-kura.
"Kok makanannya ada warna ijo sama merah?"
"Iya ya ada dua warna ya. Kayak bajunya Hanna nih merah sama Ayyash hijau."
"Tapi nggak ada warna kuningnya." Celana dia warna kuning.
"Lucu ya kura-kuranya kalau makan dia mulutnya ke atas-atas gitu dapetin makanannya."
"Eh itu ada apa?" Nunjuk sisa potongan wortel di dasar kolam.
"Oh itu wortel. Mungkin kura-kuranya pernah makan wortel terus nggak habis ya. Ayyash suka wortel nggak?"
"Suka, kan bikin sehat."
"Bikin sehat apa tau nggak?"
"Hmmm...." mikir
"Wortel bikin sehat mata. Kalau Hanna, Hanna suka wortel nggak?"
"Enggak."
"Wah padahal wortel sehat lho. Wortel makanan apa tadi Yash?"
"Hmm makanan..."
"Ber..." lupa juga tadi Ayyash ngomongnya apa ya. Tapi emang soalku susah sih ckck. Nyesel juga aku nanyanya bukan pake term yang dibilang Ayyash, makanan sehat..
"Ber..."
"Bergizi."
Kayaknya susah kata bergizi.
"Iya wortel bagus buat mata."
"Tadi ikut Ayah ambil uang."
"Oh ambil uang di mana?"
"Itu di depan sana."
"Jalan atau naik apa tadi?"
"Jalan aja, kan deket."
"Itu apa warna merah di kepalanya?"
"Mana? Oh yang dekat mata itu?"
"Iya, kayaknya aku tau deh. Kayaknya itu kupingnya. Soalnya waktu kita ngomong merahnya gerak-gerak."
"Ooh gitu ya, iya ya telingaya nggak kelihatan ya." Kataku sambil senyum. Hihi lucu ya dikira telinga. Tapi bsia jadi benar juga sih aku juga nggak tau.
"Ih itu tangannya kenapa?" Jadi ada kura-kura yang tangan kirinya gak gerak gitu, sebelahnya gerak.
"Oh ia ya, kenapa ya dia?"
"Kukunya cuma dua."
"Emang kuku tangan yang satunya lagi ada berapa?"
"Ada empat!"
"Kalau manusia jarinya ada berapa?"
"Lima."
"Kalau sama tangan yang satunya lagi?"
"Sepuluh."
"Kalau sama kaki ada berapa?"
"Ada dua puluh."
"Tangan dua sama kakinya ada dua. Jadinya lima."
"Eh, ko ada lima. Coba kita hitung lagi yuk."
"Sepuluh." Haha, ternyata dia jadi ngitung jari.
"Ini tangan kakak kan ada dua. Kalau sama kaki jadi berapa?"
"Sepuluh."
"Yaudah kita itung jari yuk. Satu, dua, tiga..." diikuti.
"Kalau kaki ada berapa coba pakai kakinya Ayyash. Kalau kakak pakai kaus kaki jadi nggak keliatan."
Tapi nggak jadi ngitung, balik ke topik semula, setelah Ayyash lihat kakinya.
"Tangannya ada dua, kakinya ada dua. Dua sama dua jadinya empat."
"Iya benaaar!"
"Eh Ayyash ingat nggak sih nama Kakak siapa?"
"Hmm nggak tau."
"Eh padahal kita pernah ketemu lho, waktu di atas itu."
"Di mana?"
"Di ruangan yang atas."
*Muka mikir. Mau jelasin waktu baca buku kayaknya lupa juga.
"Waktu Ayyash sebelum belajar ke BISA."
Heu, gak ingat juga kayaknya. Yaudah kenalan aja.
"Nama Kakak Kak Fitri." Maunya pake Kak, gamau pake Tante.
"Kalau ini siapa namanya?"
"Hanna." Sengaja ajak bicara Hanna, soalnya sedari tadi diam, dan dia lebih jarang ke kantor dibanding Ayyash.
"Eh itu apa?"
"Itu hmm...serangga. Hebat ya dia bisa jalan di atas air."
"Wah iya ya, ada banyak ya. Kalau yang ini nyamuk (nunjuk ke hewan yang lebih besar dan mengambang, sepertinya sudah mati), kalau yang itu yang bisa jalan di atas air."
"Siapa yang menciptakan hewan yang bisa jalan di atas air?"
"Allah." Jawab Ayyash, Hanna juga, bergantian menjawab.
"Hebat ya, Allah menciptakan hewan yang bisa jalan di air."
"Iya."
"Ini apa sih Kak?" nunjuk undakan air terjun di kolam belakang.
"Ini buat air terjun gitu. Jadi nanti kalau mesinnya dinyalain bisa ada air yang mengalir."
"Dinyalain?"
"Iya, jadi setau Kakak kalau disambungin ke listrik nanti dia ngalir gitu. Airnya yang udah sampai bawah dialirin lagi ke atas."
"Bawah atas bawah atas, jadi muter-muter." Hanna, sambil senyum.
"Iya benar." Ikut senyum.
"Kalau Hanna sukanya hewan apa?"
"Kelinci."
"Ooh kelinci. Itu ada kelinci." Tapi kelincinya mojok diem gitu jadinya kita nggak tertarik.
"Kalau Ayyash?"
"Ayyash sukanya rusa."
"Kalau rusa ada tanduknya ya?"
"Iya."
"Ayyash kenapa suka rusa?" Aku juga bingung sih nanya ini kenapa, kan kadang suka ngga ada alasan.
"Soalnya larinya cepet." Aku mau ngenalin hewan cem cheetah tapi dak jadi.
"Kalau Hanna kenapa suka kelinci?"
"Hmm soalnya lucu." Hanna jawab, malu-malu. Tapi senyum kecil, lucu deh dia.
"Hanna sukan kelinci, tapi kelincinya yang pink," Ayyash menanggapi sambil senyum separuh meledek.
"Itu kenapa makannya dilepeh?" Nunjuk kura-kura. Makan makanannya, lalu dilepeh.
"Oh iya ya ada yang dilepeh. Kenapa ya?"
"Kayaknya dia kekenyangan deh."
"Iya kayaknya dia kekenyangan."
"Hanna sukanya makan apa?"
"Ayam."
"Ayamnya diapain?"
Diam, mikir.
"Digoreng, di...(aku mikir direbus tapi kan ayam gak common ya direbus terus makan kan ya), dikecap, atau apa?"
"Hmm, digoreng."
"Kalau Ayyash sukanya makan apa?"
"Ayam juga."
"Ayamnya diapain?"
"Ayam rica-rica."
"Wah, kalau ayam rica-rica itu rasanya gimana sih?"
"Pedes."
"Ayyash suka pedes?"
"Iya suka."
"Kalau Hanna suka nggak?"
"Enggak."
"Iya soalnya nanti kalau Hanna, kalau Hanna makan ayam rica-rica nanti dilepeh." Ayyash yang ngomong.
"Kalau minum, Hanna suka minum apa?"
"Hmmm susu stroberi."
"Oooh, warnanya pink yaa..."
"Kalau Ayyash?"
"Ayyash sukanya susu coklat."
Lalu diralat ditambahin.
"Eh tapi susu putih juga. Kalau susu coklat kotor kayak air ini," nunjuk air genangan di undakan air terjun belakang. "Jadi Ayyash minumnya cuma sedikit terus taruh di kulkas."
"Terus yang habisin susunya siapa?"
"Hmmm Ayah!" mikir dulu dia, baru bilang ayah.
"Ayah mana sih, kok lama. Kan nanti Bunda nungguin di rumah."
Ganti arah ke area kolam deket ruang Skydu.
"Eh kura-kuranya ada di sini!"
"Wah iya ya ada di situ. Kok Kakak nggak liat waktu dia ke situ ya."
"Dia nanti jalan ke atas nggak sih?"
"Hmm Kakak pernah kok lihat dia jalan ke atas. Tapi ternyata dia masih suka berenang ya."
"Makanannya ditinggal." (makanannya tadi disebar Bu Yati di area kolam dekat dapur).
"Oh iya ya, dia jalan-jalan dulu."
"Kan mubazir. Ayyash aja kalau makan diabisin."
"Waaah pintar."
"Eh itu ada kamar mandi juga," Hanna, nunjuk ke kamar mandi belakang deket dapur.
"Oh iya bener."
"Itu di situ juga ada. Warna pink." Hanna nunjuk kamar mandi samping tangga. Emang ya kalau udah suka tuh anak-anak keinget terus, sampe tataran warna di kamar mandi.
"Hanna kalau ke kamar mandi milih yang mana?"
"Pilih yang warna pink."
"Eh, eh itu kura-kura atau patung sih? Kok diem aja?" Kura-kuranya kayak mau keluar kolam, tapi gak gerak.
"Hmm, kira-kira apa Yash? Patung atau kura-kura ya?"
"Kayaknya patung deh, soalnya dia diem aja. Atau...atau dia sadah mati ya dari penghidupan ini?" Aku menahan tawa, lucu sekali wordingnya 'penghidupan ini'. Ayyash tertawa. Aku juga. Kak Salingga abis ngomong apa sih ke anaknya? wkwk.
"Eh, ini ada serangga lagi! Serangga yang bisa jalan di atas air. Ada banyak!"
"Wah iya, masya Allah, hebat ya Allah! Bilang apa?"
"Masya Allah."
"Bisa kita hitung nggak ya hewan yang jalan di atas air ini?"
"Hmm kalau yang di sini banyak banget nggak bisa ngitungnya. Kalau yang di sana bisa." Nunjuk area air yang lebih sepi serangganya.
"Eh ini ada mangkok."
"Mana mangkoknya Yash?"
Ayyash nunjuk arah. Aku masih bingung awalnya, karena yang Ayyash bilang mangkok itu kayak potongan aluminium bekas kemasan makanan yang cuma sepotong dan bentuknya pun sebenernya nggak kayak mangkok. Tapi hebat ya imajinasi anak itu, ke mana-mana dan nggak takut salah dibilang apa. Kusalut :")
Lama-kelamaan setelah aku bilang kok Kakak nggak liat ya? Dan dia masih istiqomah nunjuk di si aluminium itu aku baru paham, haha.
"Kalau itu apa?" Nunjuk pompa biru di undakan air terjun.
Hmm, bingung juga nak aku menjelaskannya.
"Itu pompa, buat mengalirkan air." kayaknya kujawab begitu waktu itu.
"Eh itu kura-kuranya kayaknya mau keluar." Lalu Ayyash inisiatif mau nyamperin, langsung jalan di jalan setapak yang kelihatannya berlumut. Lalu aku yang panik, hahaha. Takut licin dan bikin kepleset.
"Hati-hati ya Ayyash. Nanti cuci kaki ya?"
"Hmm, kenapa? Kenapa mesti cuci kaki?"
"Kan kotor itu?"
Ayyash lihat kakinya, "Enggak, nggak kotor."
Lalu aku lupa bagaimana namun akhirnya dia mau cuci kaki nanti.
Tiga perempat jalan, dia balik badan, setengah berlari.
"Kenapa Yash?"
"Itu ada cacing-cacingnya banyak di situ" Nunjuk semacam tempat yang kalau kutebak mungkin ada air nggenang terus ada jentik nyamuk di sana.
"Ooh."
Terus kita masuk lagi ke ruangan dalam. Aku ingatkan Ayyash, "Ayyash cuci kaki dulu yuk!"
"Oh iya lupa," ia meringis, tertawa kecil.
Kami ke arah kamar mandi pink sebelah tangga.
"Itu apa Kak?"
"Itu tempat sabun."
"Warna pink." Hanna lagi.
"Iya, kalau di rumah ada nggak tempat sabun? Warna apa?"
"Ada." Aku lupa mereka menyebut warna apa. Sepertinya oranye dan biru.
"Di rumah Tante ada nggak?" Huhu kudipanggil tante hiks.
"Hmmm" Sebenarnya nggak ada di rumah yang persis kayak gitu, adanya tempat jenis lain. "Ada."
"Warna apa?"
Hihi, anak itu bener-bener suka meniru ya. Juga meniru pertanyaanku tadi.
"Warna ungu," jawabku.
Ayyash masuk kamar mandi. Aku dan Hanna menunggu di luar.
"Kok krannya nggak nyala?" tanyanya.
"Oh iya kadang krannya nggak nyala. Pakai air dari bak aja ya."
Si ayah kedua anak ini mengintip, tersenyum melihat kedua anaknya.
"Kak," kataku ke si ayah. "Katanya tadi, Ayah kok lama banget? Bunda kan nunggu..."
"Yuk, yuk kita pulang yuk ke Bunda."
"Nggak mau ah. Maunya main sama Tante Fitri."
Lah...kan aku jadi enak ga enak ya wkwk. Padahal aku yang laporan.
Terus ayahnya jadi bertaanya-tanya gitu lewat tatapannya. Dulu pernah jadi obrolan di ruangan dan beliau bilang, cemburu banget kalau anaknya ngerasa lebih nyaman sama orang lain dibandingan dirinya sebagai orang tua.
Lalu aku ke atas, naruh tas. Udah lewat jam rapat. Merasa nggak enak. Tapi yang mimpin rapat baru datang ketika tadi Ayyash selesai dari kamar mandi. Dan ketika ke atas ternyata jadinya diundur setengah jam karena yang freelance bisanya jam segitu. Aku menaruh tas di kursi, lalu aku memutar otak gimana agar mereka nggak nempel aku karena mau rapat huhu.
Aku ke mushala. "Mau main di sini nggak?"
"Kamar mandinya pink juga." Hanna ngeh aja deh. Pas aku cerita ke Ima, kata Ima, gimana dia liat kamar mandi di ruang skydu ya, pink semua bahkan ada bathtub sama wastafelnya.
Tapi bingung juga sih kalo berdua doang main-main di mushala mungkin bosen ya.
Akhirnya kukebawah, menawarkan buku. Bilang, "Ini baca bareng-bareng deket ayah ya." Waah mereka semangat banget, lari. Aku ke atas. Yang salah adalah: aku ndak pamit dulu ke mereka bilang mau rapat. Mereka jadi nyariin deh huhu.
.
Lalu saat mereka mau pulang, aku melihat dari jendela ruang tebi yang terbuka. Tapi mereka ndak ngeh saa arahku. Ndakpapa :)

Begitulah cerita pagi dan rencana kerja sebelum rapatku yang bergeser karena ketemu mereka. Sederhana, tapi menyenangkan. :)

ditulis dari jumat habis ketemu mereka, 10 Mei kemarin, akhirnya kelar walau gatau deh nanti ada revisi gak ya kalo ada yang tibatiba keinget

waktu awal nulis sambil bertanya-tanya. kenapa sih fit mau nulisin kayak gini yang sepanjang jalan obrolan aja.
entah. untuk mengenang, barangkali? untuk menyimpan kesan?





Senin, 13 Mei 2019

Helen

"Kak, tadi aku abis mencuri!" Helen bilang, hepi banget mukanya.
Aku terekejut, tapi menahan diri untuk nggak langsung memberondong tanya.
Aku tanya pelan-pelan. "Mencuri apa?"
"Mencuri...hati Kakak!" gak lama kemudian anaknya lari, meningalkan aku yang tersenyum.

-aku, yang mau cerita banyak hanya saja menulisnya butuh effort dan keknya bisa panjang
lalu malah menulis cerita singkat yang mau kutulis dua-tiga pekan lalu yang belum jadi-jadi ini.

Sabtu, 09 Maret 2019

Seexcited Anak-anak





Sesungguhnya sepanjang hari ini aku malas sekali. Menunda-nunda. Melakukan hal-hal yang tidak prioritas.

Kerjaan kontenku belum kelar. Rencana ke kantor kutunda dengan kemalasanku yang kusadari dan bodohnya kuturuti*laptopku kutinggal di kantor btw. Aku seharusnya sudah tidak terlarut lagi pada pikiran-pikiran rumit yang kuciptakan sendiri.

Tadi, aku malas sekali buka perpus. Masih kebawa malas sebelum-sebelumnyalah. Dan dari beberapa yang kujapri, tidak bisa gantiin. Ummi juga mau pergi silaturahmi. Lalu aku dadakan dapat peng-iya-an dari kakak yang mau kuwawancara lewat telpon dan kakaknya bisanya sore.
Akhirnya, aku bilang nitip tempel tulisan buka jam setengah lima.

Jam setengah lima. Telpon selesai. Aku berkemas. Hujan turun super deras.
Aku hendak urung saja rasanya. Malas sekali ya ke perpus juga.
Tapi ingat kata-kata Ummi waktu tadi aku bilang tutup aja apa ya....
Kasihan anak-anak.

Akhirnya mantap aku ambil payung dan berjalan. Belum jauh dari rumah, baru sampai beberapa rumah samping rumahku saja, gamisku sudah basah di bagian depan bawah. Kaos kaki jangan ditanya.

Tapi mendekati perpus, anak-anak berhimpit meneduh. Ah, rasanya bersalah, sekaligus menghargai mereka. Mungkin tepat waktu pukul empat mereka sampai. Atau, untuk anak-anak yang sangat excited, biasanya sebelum waktunya sudah mondar-mandir tak sabaran. Mereka tentu baru tahu waktu buka diundur ketika sampai. Excited yang membuat dan menggerakkan mereka untuk datang.

Kita orang dewasa, punya gadget, mudah komunikasi untuk janjian waktu. Tapi sulit menghargai waktu. Telat. Bahkan lupa bilang dari awal izin jika telat. Sudah lupa kenapa penting menghadiri agenda yang butuh diri ini di sana.

Anak-anak. Seexcited itu mereka datang. Tidak sabaran mengembalikan dan mencari buku baru. Datang tepat waktu. Tahu betapa pentingnya buku, sekalipun hanya untuk kesenangan pribadi. Maka, mungkin mereka kecewa ketika tahu perpus bukanya telat. Dan baru tahu ketika sampai. Kita orang dewasa, yang punya gadget untuk bertukar kabar, seringkali lupa menghargai waktu dan orang lain untuk konfirmasi. Lupa betapa pentingnya waktu orang lain yang sudah lebih dulu ada. Lupa pentingnya adab berakad, berjanji, mengiyakan di awal bisa jam sekian.
Lalu pandai membuat alasan. Kalau tidak ada, ya dicari-cari. Untuk telat, bahkan tidak datang.

Excited mereka tertuang dalam laku. Bukan hanya bualan belaka kata-kata. Bukan yang kalau terhalang pun memilih bilangnya nanti saat sudah tiba saja, meskipun terlambat. Menzalimi hak-hak orang lain. Bukan excited yang hanya bilang mau tapi nggak gerak buat dapat kesempatan, nggak gerak buat mewujudkan.

Semoga kita mau merendahkan diri dan belajar dari anak-anak. Setua apapun kita.

Dan tentu saja, ini pelajaran untuk saya sendiri.

---
Jadi inget, suatu waktu temen cerita. Saya sekian tahun menikah, paling bersyukur sama omelan istri.
Lalu aku heran. Baru kali ini aku dengar yang sejenis itu. Waktu aku SMA (karena SMP tidak ada laki-laki) aku pernah menangkap gelagat tidak suka teman lelakiku waktu diingetin perempuan, pas praktikum Kimia apa Fisika gitu. Lalu aku langsung pars pro toto (oh itu nama majas), aku pikir semua laki-laki ndak suka diingetin perempuan. Entah, mungkin merasa harga dirinya jatuh. Terus kadang aku merasa nggak enak ngingetin cowok, kadang sampe kebawa takut nikah kalau nggak sama-sama mau nundukin ego buat perbaikan satu sama lain (bukan aku mau ngomel loh ya-,-), dan takut kalau punya masukan gak diterima.
Lalu aku bilang ke beliau, kalau dulu aku ngalamin itu dan aku bilang juga baru pertama kali denger bersyukur diomelin istri.

Kata dia, kata ustadz Salim A Fillah, kalau laki-laki  diingetin malah marah, itu laki-lakinya yang kurang soleh .

Kenapa cerita bawahnya lebih panjang, padahal kenapa inget cerita ini karena di ending si temen ini bilang, jadi siapapun yang ngingetin kita, bahkan anak sendiri, bahkan (sebutnamaanak) yang masih kecil, harusnya kita bisa nerima.

Ya, intinya belajar dari anak-anak sore ini.

Sekian, tulisan soal kemarin belum jadi. Belum ditulis bahkan. Hmm perlu nggak ya?

Masih hujan. Mari berdoa.

Selasa, 12 Februari 2019

Central Park dan Anak-anak

Saya sampai di tempat pemberhentian Taman Anggrek pukul 9 lebih sekian belas menit. Tujuan saya central park. Sebuah frase tempat yang pertama saya tahu daru novel terbitan Noura berjudul Petang Panjang d Central Park; yang ketika itu saya tahu adalah nama taman di Amerika. Tidak tahu kalau ini (juga) nama mal di Indonesia. Seperti yang saya bilang sebelumnya di postingan blog lalu lalu. Saya jarang banget tertarik lihat-lihat mal. Kalau kata Abi, lihat mal tuh untuk nambah wawasan aja. Hahaha.

Saya jalan saja mengikuti dua orang di depan saya, yang setelah lama saya ikuti, saya bingung kenapa mereka ke basement lewat pintu kecil,. Lalu saya jadi tahu. Mereka karyawan mal ini dan tentu saja bukan masuk lewat pintu utama karena mal pun belum buka.

Saya berjalan sampai arah mushala dan ternyata mushala pun belum buka. Kehidupan mal baru mulai pukul sepuluh. Lampu-lampu masih gelap.

Saya duduk di kursi-kursi dekat toilet yang lampu depannya pun masih remang-remang. Membuka dashboard blog. Membuka blog kak marissa. Kembali, saya berkaca-kaca, menangis.

Saya merasakan cinta dan ketulusan besar di sana. Saya menangis. Membayangkan betapa besar cinta dan ketulusan yang disampaikan oleh anak-anak. Bukan sekadar cinta dan ketulusan kak marissa yang sampai pada saya. Tidak hanya itu.

Lima belas menit menjelang pukul 10. Saya memutuskan berjalan-jalan. Ada gramedia big sale di tengah-tengah yang sudah dibuka sebagian terpalnya. Saya mendekati rak buku impor anak. Ah tapi kalau lihat-lihat nanti khawatir ditegur. Karena saya adalah pengunjung yang datang bukan di waktu yang tepat. Mal belum buka.

Saya berjalan. Tiba-tiba saja saya mendengar suara celoteh riang anak-anak yang ramai. Dari arah atas. Saya ke selasar samping karena saya searah dengan alur jalan anak-anak itu sehingga tidak bisa melihat mereka. Saya menatap mereka yang berjalan beriringan. Duh, saya mulai baper lagi. Saya menyusul ke atas, menaiki eskalator yang mesinnya juga belum berjalan. Eskalator rasa tangga manual.

Ramai sekali anak-anak itu. Datang dengan riang gembira. Berceloteh. Saya baru tahu Jakarta Aquarium itu di sini. Rupanya perjalanan dalam basement saya yang panjang tidak mengantarkan saya ke central park, tapi juga neo soho di sebelahnya (buta arah lah lewat basement tu, di atas aja saya bingung....). Satu anak ada di paling belakang. Agaknya bisa dibilang tertinggal rombongan. Perempuan. Rambutnya keluar-keluar kerudungnya. Walau jauh, ia loncat-loncat. Riang. Gembira. Tak peduli soal dia datang lebih belakang. Toh ia akan sampai juga.

Lagi-lagi entah kenapa, saya kembali menangis melihat anak-anak itu. Tadi saat duduk saya begitu bingung kenapa saya mudah sekali menangis beberapa hari belakangan. Dulu waktu saya lagi banyak nangis, Kak Marissa baca pola saya menangis. Sekarang, saya kembali bertanya-tanya, pola apa sih yang bikin saya mudah sekali haru atau nangis kecil-kecil gini?


Eskalator bergerak. Menjelang pukul 10 dan mal akan beroperasi sebagaimana adanya.
.
ditulis di tempat tadi, baru dirapikan sekarang.
.
.
.
belakangan saya bertanya pada diri sendiri,
bisa nggak ya apply seleksi 3 paragraf ini 
bisa nggak ya jadi penulis bacaan anak
bisa ngga ya kasih kebermanfaatan yang luas buat anak-anak
bisa nggak ya menjalani dan percaya itu semua bisa di tengah-tengah segala kehectican pekerjaan akhir-akhir ini (saya selalu berpikir untuk menjadi penulis itu bisa sambil kerja yang non penulis)
.
saya nggak mau ragu sama diri sendiri :"
jadi inget juga, kalau ngga bisa jaga perpus tuh suka sedih, kasihan sama anak-anak....
(tadi bilang ini juga sama kak marissa abis baca postingannya setelah yang tadi kubaca)

.
ah fit, kamu banyak pr yang belum selesai malah curhat di sini,
bukannya diselesein....

Rabu, 21 November 2018

Saya dan Konten Kebaikan untuk Anak-anak

Saya begitu melankolis akhir-akhir ini. Mudah sekali menangis, sebabnya masih saya terka-terka. Bisa jadi multi alasan, bisa jadi hanya satu alasan terkuatnya. Belum ditemukan.
Dan saya pikir saya akan menahannya sampai Januari, baru bercerita banyaak.

Tapi barusan saya makan sendirian di ruang tebi yang sepi karena pada wfh dan ke wisma mandiri. Lalu saya yang (ngakunya) tidak suka makan sambil disambi, memutuskan buka youtube. Sebenernya bingung mau nonton apa. Kepikiran dengerin kajian kali ya, udah lama banget ga dengerin kajian. Tapi ada notifikasi episode launching perdana Nussa. Bukan, bukan yang animasinya, tapi yang kayak ada sepatah dua patah kata dari kreatornya.

I don't expect i will cry, di tengah-tengah menonton sambil memitili daging ikan oleh tangan. Yha, rasanya itu posisi nangis yang gak banget. Alhamdulilah sendirian di ruangan.
Saya nangis bagian mereka bahas soal konten untuk anak. Soal korelasi maling dan kisah kancil, maling dan kisah mencuri kain bidadari lalu menikahinya. Bukan, ini bukan pertama kalinya saya dengar soal korelasi itu. Saya nangis, ngga tau kenapa. Tapi rasanya campur aduk antara saya pengen banget bisa contribute soal buat konten yang baik untuk anak-anak. Dan Nussa dengan kerennya sangat percaya diri membranadingkan diri sebagai Islamic Edutainment Series. Selalu bangga liat orang yang bangga dengan keislamannya. Kayak flip yang kalo jam shalat dia ngasih tau usernya kalau mereka lagi break shalat.

Mungkin ini juga berkorelasi sama perasaan saya terhadap adik-adik.
Beberapa hari belakangan saya punya perasaan gagal sebagai kakak. Saya kadang merasa gagal saat nggak bisa membatasi adik bungsu saya menonon video review game, menonton youtube atau tv kelamaan, sulit mengajaknya ke masjid atau sikat gigi, nggak bisa memberi alternatif kegiatan untuk ia mengisi waktunya, belum bisa menstimulus otak cerdasnya. Merasa gagal menjadi kakak yang bsia menjadi teman buat adik kedua saya. Saat ia pulang dengan lelah dan saya merasa bertanya baik--baik tapi ia bentak. Dan saya merasa lelah atas itu semua. Lelah yang nonsense mungkin. Tapi ya itulah. Saya juga manusia, sebagai tambahan barangkali, yang melankolis.

Semalam, sebelum tidur, saya menonton Serial pertama Nussa bersama Fatih. Hepi sekali saya yang telat pulang dari Jakarta sampai rumah dan Fatih belum tidur (padahal harusnya udah). Dan dia belum nonton juga, padahal tadi sebeluum berangkat dia bilang mau nonton meski gakpapa nonton lagi sama saya. Seperti biasa Fatih sulit sikat gigi, tapi senangnya dia mau tidur saya temani. Kadang-kadang dia nolak aku gituloh milih sama Ummi aja. Lalu kami berkemas mengeluti kasur (istilah Jawa-menebah dengan sapu lidi). Memasang posisi yang cukup nyaman, lalu menonton Nussa.
Pas sekali Nussa episode pertamanya soal tidur sendiri. Lebih dalam lagi, itu adalah tentang adab sebelum tidur.

Usai menonton, saya reflek mengingat usaha saya kala menulis cerita yang masih sebutir jagung. Udah mah sebutir jagung, jiper banget karena ngerasa ini kok ceita biasa aja. Padahal kalau saya lihat Nussa, dia juga cerita anak-anak biasa. Bukan yang penuh drama atau pake plot twist dan konfliknya super sederhana. Even saya juga bertanya-tanya apakah wajar kakak laki-laki yang juga masih kecil mau menemani adiknya tidur (sungguh itu mulia dan manis sekali), mengajari adab tidur, small talk sebelum tidur. Yang saya tahu yang biasa demikian adalah orang tuanya. Tapi peduli apa? Buat saja kontennya, itu bisa diurus belakangan. Niat baik, konten yang baik, ada banyak sekali yang menyukainya.

Kalau saya menulis cerita, saya sering sekali merasa ini kok biasa aja sih, ga ada konfliknya, ga ada klimaksnya, gitu-gitu aja. Tapi ya dari ngobrol bersama teman saya suatu waktu, saya jadi belajar soal nulis yaudah nulis aja. Ga usah kebeban sama harus beda dari yang lain, harus unik, harus punya plot yang menarik. Ah, nggak nulis-nulis kalo gitu.

Ingatan setelah nonton Nussa juga terbang pada ingatan ketia saya mengikuti seminar nulis cerita anak oleh Litara saat FDII 2017 di perpusnas. Saya ingat saat itu ada peserta yang berasal dari Serial Sopo Jarwo mendatangi pembicara saat usai acara. Mereka menawari pembicara untuk membuat naskah script untuk serial Sopo Jarwo selanjutnya. Di detik yang sama semalam saat mengenangnya, to be honest, i am envy. Saya iri sama semua pembuat konten kebaikan itu. Yang kontennya bisa dirasakan manfaatnya sama anak-anak. Membangun karakter karena mudah sekali anak-anak mengidolakan tayangan visual saat ini. Saya mengenang masa kecil saya yang diisi oleh cerita sebelum tidur dengan 5 huruf vokal (misal saya minta tokoh Botol, maka Ummi akan membuat cerita dengan 5 tokoh: Batal, Bitil, Butul, Betel, Botol, (yang saya ingat tokoh yang lain adalah pintu), begitu seterusnya) dan dongeng di kaset warisan kakak sepupu saya yang saya dengarkan sepulang sekolah, barangkali masih mengenakan seragam saat itu.

Saat ini, badan saya merinding, merinding yang kayak pengen nangis gitu.

Ingin sekali bisa berkontribusi membuat kebaikan untuk anak-anak. Yang bisa menjadi investasi bagi karakter dan akhlak baik untuk anak-anak kelak. Yang nggak cuma sendiri, tapi punya tim, dan boleh jadi itu keluarga. Tadi saya ingat Devi Raissa sang pembuat buku anak Rabithole yang bekerja sama dengan suaminya dalam pembuatan buku. I don't say it is a must. Tapi saya pikir kolaborasi seperti itu akan menyenangkan. Tapi nggak usah muluk-muluk ke sana sih. Menjadi tim bersama diri sendiri pun mesti diusahakan, meski punya tim tentu menyenangkan (sepaket dengan segala tantangannya). Sedalam apa niatan saya untuk membuat konten-konten kebaikan dan hubungan orang tua-anak yang seperti apa yang saya inginkan. Bukan bergantung dari orang lain. Why besar yang datang dari diri saya sendiri. Saya kembali bertanya pada diri sendiri.

Mohon doanya agar bisa berkiprah di dunia konten kebaikan untuk anak-anak, ya :) Kalau mau kolaborasi boleh bangeeeet :")))
ohya, karena ini dilanjut malam hari dan kemudian saya jadi ingat saran teman untuk mencoba membuat blog yang isinya cerita anak (walaupun saya pikir itu ngga perlu pas itu), tapi ada baiknya saya coba. Silakan kalau mau berkunjung ke mari. *Sungguh tidak terpikir awalnya akan ngeshare ini.

dimulai dan diakhiri di ruang yawme, sepi juga sih
dimulai setelah makan siang-sekitar magrib

//terus aku lanjutin lagi
salah satu hal gemas yang menjadi pemicu aku nulis ini adalah kejadian kemarin, inget tadi siang tapi pas menyelesaikan tulisan ini malah ketinggalan ditulis

"Dek mau masak ager lagi nggak?" tanyaku ke Fatih.
"Mau Mbak," jawab Fatih, di tengah bujukan sikat gigi.
"Bikin di loyang yuk, buat syukuran ulang tahun Mas Fahri," kataku. Pikirku, Fatih itu lagi seneng-senengnya sama ager. Pasti dia semangat deh akan ager banyak. Seloyang kan banyak banget.
"Nggak mau Mbak." Aku kecewa. Kenapa nggak mau?
"Fatih maunya seember," katanya polos.
Hahaha, Dek, gemes aku.

Lalu lebih malam lagi, usai menemani Fatih tidur. fahri lagi nyalin catatan gitu dari buku tulis ke bindernya.
"Dek, nulis apa?" maksudku sebenarnya adalah dia lagi nyatet apa, materi apa, pelajaran apa.
"Fahri tuh kayak dulu lho Mbak, pas zaman Rasul. Pas Quran turun kan pada nulis di mana-mana. Nah sebelum punya binder Fahri juga nulis di mana-mana. Sekarang mau disatuin."
Yha, ini anak memang kadang lucu juga :")

Sudah, sekian. 
Tadi di jalan bulannya purnamaaa. Kayak udah lama banget ga liat bulan bulet meskipun tadi samar gitu, kayaknya langit cukup berawan.

Minggu, 30 September 2018

Anak yang Menunggu Ayahnya

"Tau ga..." Mas Salingga diam sejenak, menarik perhatian kami. "Kalo pas pulang nih, udah deket rumah, suara motor udah kedengeran dari rumah tuh. Terus markir motor, standarnya diturunin. Anak-anak lari keluar, teriak, Ayah, Ayah! Ayah pulang! " jeda sejenak.
.
.
"Itu precious banget."

***
Saya tiba-tiba saja ingat kembali kalimat itu. Kayaknya udah lama banget deh Mas Salingga cerita itu di ruangan. Mungkin pas Yawme masih di bawah. Ndak tau kenapa ingat itu. Kemudian jadi ingat juga entah igstory Kak Reqgi atau wastory Kak Amri yang Kak Amri ada di dalam sarung terus Zayd sama Aqila teriak, "Ayah, Ayah hilang! Ayah hilang!" Hangat sekali melihatnya.

Anak-anak tidak pernah berbohong. Dalam menunggu waktu berharga dari orang tuanya. Their pure willingness  :")

Jadi inget juga video ini yang dishare di grup tebi pas temen-temen nyari inspirasi konsep video campaign.





Ingatan soal cerita Mas Salingga tadi membuat saya jadi mengingat Abi yang belakangan bolak-balik keluar kota. Mungkin dalam setengah bulan terakhir, tidak ada sampai setengah hari ketemu abi kalau ditotal, atau bahkan sepertiga hari juga tidak sampai. Di usia saya yang sekarang, kalau Abi pulang, apakah saya sungguh-sungguh menyambutnya? Heu. Jangan-jangan malah sibuk sendiri, main HP misalnya.

Terus saya jadi kepengen bikin konsep buku yang isinya tentang menunggu seseorang pulang ke rumah. Dulu pernah liat-liat di gramed pas masih di jogja (mungkin hampir dua tahunan yang lalu berarti) ada buku anak terjemahan dari Jepang kalau nggak salah, berjudul Nanti itu Kapan? Isinya tentang seorang anak yang ibunya lagi sibuk menjaga dan melayani pembeli di toko sehingga seringkali saat anaknya minta atau bertanya sesuatu, ibunya menjawab, "Nanti." Lalu si anak wondering gitu nanti itu apa dan kapan. (kalau mau cari, keywordnya Nanti itu Kapan? Satoko Miyano atau liat spoiler isi dalamnya secara online di sini)

Kepikirannya  semacam bagaimana anak menunggu Ayahnya pulang dari ia masih kecil sampai ia dewasa. Dan bagaimana juga yang berlaku sebaliknya; bagaimana orang tua menunggu anaknya pulang, dari si anak kecil sampai dewasa. Yang paling penting adalah eksekusinya sih. Karena menyedihkannya aku ini udah lama sekali ngga nulis. Hiks :((


jadi ingin menghambur meluk abi kalau abi pulang .
dan...
jadi ingin punya suporter dalam masalah tulis menulis ini .



Sabtu, 11 Agustus 2018

Kenapa Sibuk Sendiri Kalau Ada Anak?

A : "Eh headsetnya X ketinggalan."
B : "Kenapa? Mau pinjem? Bilang dulu kalau mau pinjem."
A : "Enggak. Ya siapa tau kan mau dengerin apa pake headset di rumah."
B : "Punya anaak (dengan penekanan nada bicara). Ngapain pakai headset kalau ada anak."
***
Wow. Dalam ya maknanya.
Soal pinjam barang ketinggalan yang perlu bilang dulu kalau mau pinjam. Dan yang lebih aku highlight adalah soal ngapain pakai headset kalau ada anak. Di kepalaku terjemahan dan tafsirannya jadi berupa-rupa yang intinya, ngapain sibuk sendiri kalau ada anak.
.
It was so true that put focus not just on our ownself is difficult.
.
Lalu ingat aku ke adik-adikku gimana ya.
Lalu berpikir apa kalau anak sendiri bakal beda ya.
Tapi hak anak di manapun kayaknya sama deh. Mendapatkan waktu orang dewasa di sekelilingnya. Juga adik, atau murid, atau anak-anak yang mungkin dibawa oleh teman, atau sepupu, atau saudara, atau anak-anak lainnya.

Sebagai pengingat
.
Setelah mendapat 13 card need to test
Hahaha
Tenang aja diri, kita selesaikan pelan-pelan ya :')

Minggu, 24 Juni 2018

Anak dan Fitrahnya 2 : Mengaji bersama Ayyash

Suatu Jumat, terakhir sebelum libur panjang cuti lebaran.
Seorang kakak mengajak putra kecilnya ke kantor. Namanya Ayyash. Singkat cerita, siangnya, seteah asik main game, ayahnya meminta Ayyash untuk ngaji-atau tidur siang. Ayyash nggak mau, nolak terus. Pengennya main game, padahal anak segitu pasti ngantuk deh sebenernya. Cuma karena matanya udah asik sama game jadi ya ngga ngantuk (sama kayak Fatih, dia juga gini kalo kebanyakan nonton atau main game huhu). Sampai akhirnya dia aktif sekali lari-lari. Ngaji ndak mau. Tidur siang ndak mau. Dibujuk-bujuk boleh main game abis baca sekian halaman sampai uda ditawar-tawar ndak mau. Kejar-kejaran sama ayahnya. Sampai dia lari ke atas meja (yang dipenuhi laptop-laptop dan ayahnya sampai panik karena lari di atas meja yang penuh laptop kan bikin khawatir yak) dan kolong meja. Juga lari-lari yang sampai nutup pintu biar ayahnya ndak bisa masuk ruangan.

Sampai suatu waktu di tengah lari-lari itu, dia keluar dari kolong mejaku. Kutatap matanya, kuajak bicara.
"Ayyash mau liat kura-kura nggak?"
Mata sipitnya menatapku, mengangguk. "Mau."
Kami berjalan ke arah pintu ruang. Sebelum keluar, aku berbisik. "Liat kura-kuranya sambil ngaji mau nggak?"
Lalu tak disangka dia mengangguk (kuterharu:", tak disangka tapi aku berharap sih sebenarnya). Aku minta buku ngajinya ke ayahnya. Kami ke kolam.
Di kolam ada orang juga sebenarnya waktu itu, aku izin hendak ikut pakai kolamnya.

Aku dan Ayyash melihat kolam Tidak ada kura-kura yang keluar. Lalu aku bujuk dia mengaji. "Ayyash, mau nggak ngaji dulu. Abis ngaji kita liat lagi kura-kuranya."
Ayyash mengangguk. Dalam hati aku sungguh berharap usai mengaji kura-kuranya ke tepian sehingga Ayyash benar-benar bisa melihat kura-kura.

Aku menawarkan Ayyash kursi. Tadinya kupikir kami akan mengaji di tepi kolam. Tapi Ayyash mau kursi biru (yang jauh dari tepi kolam). Akhirnya kai duduk bersampingan. Buku ngaji Ayyash ada di meja.
Ayyash menunjuk halaman pertama di jilid duanya itu. Ia mulai mengaji.
Sampai di halaman dua, Ayyash bilang "Ngajinya 5 halaman aja, ya."
Aku sebenarnya terkejut karena ndak expect sampe 5 halaman. Kareena ini dari dia, maka kuiyakan saja.

Ayyash mengaji sampai halaman lima. Aku menyimak. Membenarkan satu dua jika ada yang salah. Di tengah-tengah atau selesai mengaji--aku lupa--kaami sempat mengobrol.
"Di rumah Ayyash ngaji sama siapa?"
"Sama Pak ustadz, sama Bunda, sama Teteh."
"Kalau sama Pak Ustadz kapan biasanya?"
"Habis ashar."
"Kalau sama Bunda atau sama Teteh?"
"Pagi-pagi atau enggak malam-malam."
Lalu Ayyash juga cerita kalau dia udah selesai jiid satunya, dan jilid satunya sekarang dipakai adiknya, Hanna.

Usai membaca 5 halaman, kami ke tepian kolam. Sudah ada kura-kura yang mendekat. Ayyash terlihat senang sekali. Dia bilang juga kura-kuranya senang sama Ayyash. Lalu aku tanya lagi.
"Mau ngaji lagi nggak di sini dekat kura-kura?"
"Mau," katanya. Aku senang, dan dalam hati berharap kura-kuranya tetap akan di situ menemani Ayyash mengaji.
Selesai halaman 6, Ayyash bilang lagi. "Ngajinya 5 halaman aja, ya." Aih, sesungguhnya ku terharu Yash. Aku nggak berpikir kamu bahkan dengan keinginanu sendiri mau ngaji 5 halaman.
Aku mengangguk mantap.
Kami melanjutkan mengaji. Satu dua kali saat jeda antar halaman kami kembali melihat kura-kura dan bicara soal kura-kura. Ayyash bilang, "Kura-kuranya senang dengar Ayysh ngaji." Aku juga seneng banget sesungguhnya Yash si kura-kura anteng di situ selama Ayyash ngaji. Bahkan kadang kura-kuranya kayak mau manjat gitu mendekat pada kami.
Ayyash menyelesaikan halaman sepuluhnya. Satu dua kali wajahnya keliatan capek saat pergantian halaman. Keliatan dari air mukanya. Mungkin antara lelah baca yang terakumulasi sama capek matanya liat game dan kejar-kejaran menghindar dari ayahnya tadi.

Padahal dari obrolan selanjutnya kalau dia ngaji sama Pak Ustadz, katanya biasanya satu halaman aja. Kalau sudah begitu, bagaimana bisa aku tidak terharu? Fitrahnya untuk mendekat pada Rabbnya yang barangkali membimbingnya untuk eunculkan keinginan membaca 10 halaman siang itu. Dan fitrah itu terbentuk lewat perantara orang tuanya, tetehnya, guru ngajinya. Orang-orang di sekitarnya. Saya mah, hanya bantu-bantu aja, dan qadarullah dianya mau.

Lalu kami mengobrol lagi tentang kura-kura. Ayyash bertanya kura-kuranya makan apa, kenapa kolamnya warna hijau, tumbuhan apa di dalam kolam, dan terakhir...
"Lampunya kalau malam nyala nggak?" Ayyash menunjuk lampu taman belakang.
Saya yang kadang suka pulang malem, ngga tau jawabnyaaa T^T. Lalu dia juga nanya saklarnya di mana deh kayaknya, ku juga ndak tau. Aku bilang nanti aku cari tau, atau aku liat kalau malam. Dia bilang, "Jangan lupa, ya." Aku tertawa dalam hati, berharap tidak mengecewakan Ayyash saat nanti dia menanyakannya kembali menagih jawaban.

Catatan 8 Juni 2018
Foto bareng-bareng tim produk yang ada Ayyashnya ternyata udah ndak bisa didonlot di HP heu

update 27 Januari 2019, ada ayyashnyaaa



Anak dan Fitrahnya 1 : Kata Fatih tentang Rumah

Suatu Kamis, saya dan Fatih menjadi dua orang terakhir di rumah. Saya masuk. Fatih tadinya antara mau dan males buat ikut. Mau karena dia takut bosen sendirian dan males karena ya males aja siap-siapnya. Jawaban awal yang tadinya, mau, lalu berubah nggak jadi, sampai berubah lagi jadi mau. Saya sebenernya degdegan juga sih bawa dia ke Badr.

Di perjalanan menuju Badr, kami melewati perumahan elit. Yang rumahnya bagus-bagus dan punya halaman luas. Karena dulu saya dan Fatih punya obrolan soal kalau mau sesuatu coba doa dan minta dengan shalawat, saya reflek aja ngomong ke dia, "Dek, rumah di sini bagus-bagus. Shalawatin."

Lalu jawabnya,
"Rumah kita juga bagus, Mbak, di mata Allah...."

wew, ni anak ada angin apa bisa ngomong begini.

"Rumah kita kan sering dibacain ngaji, diputerin murottal."
makin kicep dong saya, wkwk.

"Daripada kalau rumahnya besar tapi nggak pernah dibacain ngaji. Ya, walaupun bagus juga sih Mbak rumahnya besar...." wkwk, endingnya ada nada kepengennya juga sih.

Hahaha. Ketawa tapi super haru dengar kata-kata yang spontan keluar dari mulut dia. Lalu ingat, dulu waktu masih SD, adik pertama saya suka kepengenan kalau liat rumah besar yang bagus gitu. Tapi terus ditakut-takutin lucu gitu sama kalimat, nanti Fafa yang nyapu ya. Fafa yang beres-beres semuanya ya. Kalau rumah besar beresinnya susah. Atau juga kalau dia kepengen ac terus dibahas kalau pasang ac nanti bayar listriknya bisa dua kali sekarang wkwk. Udah lama banget obrolan itu.

Amaze banget sama kalimat Fatih. Barangkali, kalau memang sudah paham dan tau dikit-dikit aja tentang Islam, memang anak kecil itu bisa mengingatkan orang dewasa. Fitrahnya akan demikian Tapi tugas orang dewasa di sekelilingnya lah untuk mengarahkannya ke sana. Biar kebentuk pola pikir dan pola sikapnya.

Semoga Allah bimbing kami menjadi contoh untuk hal baik ya Dek :")

Catatan 7 Juni 2018

Jumat, 28 Juli 2017

#KomikPalestina : Rekomendasi Buku Anak Edisi Hari Anak 2017

Ahad lalu bertepatan dengan tanggal 23 Juli 2017. Tentu kita sudah tidak asing mengenal tanggal ini sebagai hari anak yang diperingati setiap tahunnya di Indonesia. Saya yang kebetulan banyak follow akun media sosial penerbit buku anak dan penulis buku anak pun melihat banyak postingan yang berkenaan dengan hari anak ini. 

Bagi beberapa orang, suatu tanggal diabadikan jadi tanggal peringatan suatu momen mungkin tidak terlalu penting. Saya pribadi juga nggak menganggap itu penting yang gimana banget gitu sih. Tapi, bagi saya momen peringatan adalah waktu untuk kita jadi semcam dikasih alokasi waktu untuk ngeh sama hal-hal yang berkaitan dengan momen itu. Kayak dikasih porsi khusus gitu, lho.


Khusus pada momen hari anak kemarin, selain peringatan hari anak, di media sosial juga lagi gencar soal Palestina. Bukan hanya konten berita, tapi juga komen-komen soal Palestina. Salah satunya soal anak-anaknya. Karenanya saya sempat terbayang tentang momen hari anak di Palestina.

Rabu, 11 Maret 2015

Agar Idola Mereka adalah Tokoh-Tokoh Muslim

Orang-orang yang menghancurkan Islam tidak membuat orang-orang keluar dari agama Islam. Tapi mereka membuat orang tidak kenal dengan sejarah Islam di masa lalu. Ini akan menyebabkan orang Islam tidak bangga dengan agamanya dan mereka akan mencari idola-idola alternatif. 
Padahal kepentingan menceritakan sejarah masa lalu dengan cara yang benar akan membangkitkan semangat, dan membuat orang Islam mengidolakan tokoh-tokoh yang memberi kontribusi besar pada peradaban Islam.
-Kutipan Kajian Epistemologi Islam dengan Ust. Anton semalam

Kelak saat kita jadi orang tua, cerita soal sirah nabi lengkap dengan sejarah Islam itu penting banget. Cerita biografi para keluarga nabi, sahabat, khalifah, ilmuwan muslim, para ahli hadits dan fiqih juga penting banget. Kita mesti menanamkan pada anak-anak soal kehebatan mereka--juga kontribusinya buat dunia Islam. Agar rasa bangga yang ada dalam diri mereka terhadap agama ini membuat mereka ingin menjadi penerus tokoh-tokoh kebanggaan Islam itu.

Sebagaimana ibunda Muhammad Al Fatih yang terus cerita berulang-ulang soal kata-kata Rasulullah bahwa sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang menaklukkan Konstantinopel.

#pengingat #selftalk
Yuk Fit, Bundanya juga harus belajar !

Selasa, 29 Oktober 2013

Syukur yang Terlambat

Jadi himpunan mahasiswa prodi saya di kampus lagi ngadain acara lomba buat anak-anak. Karena prodi kami ilkom (cieh~) jadi lombanya ya berhubungan sama teknologi. Lomba gambar pakai aplikasi Tux Paint, intinya gitu. Karena inti postingan ini bukan promosi lombanya (atau malah promosi buat menarik hati para sponsor) makanya silakan cek disini buat kepo lebih lanjut.

Intinya, acara ini membuat kami para panitia harus ngadain roadshow ke SD-SD dan jemput bola alias jebol, bahasa kerennya buat nyebar undangan ke SD-SD se-Yogya.

Jemput bola kayak gini bukan acara pertama buat saya. Sebelumnya pernah juga publikasi acara-acara buat perguruan tinggi dan karena waktu itu saya KSK, saya jadi ngerasa ya Allah, banyak banget ya manusia di bumi ini. Banyak banget anak kuliahan kayak saya, yang masih mengenyam kuliah, yang jadi tumpuan perubahan bangsa ini kelak. Saat itu karena list-list univnya panjang dan banyak banget saya bener-bener ngerasa begitu.

Sama dengan saat ini. Diselingi UTS yang mendera dan kewajiban jemput bola. Kloter saya (berempat) dapet jatah 19 SD. Dan saya dapat jatah 1 SD buat roadshow, dan 1 SD lain buat ngasih surat permohonan roadshow. Kali pertama kunjungan saya ke SD adalah waktu datengin SD buat ngasih surat permohonan roadshow.

Kesan pertama setiap masuk ke sebuah SD itu (sebelumnya pernah pas peringatan acara hari bumi, kampus ke SD buat sosialisasi lingkungan gitulah) selalu perasaan nyess gimana gitu (susah dijelasin pokoknya) ngeliat para anak-anak SD. Kayaknya ada perasaan kayak ngeliat para generasi penerus bangsa ini. Hei, mereka para anak SD itu masih kecil. Jangankan sadar tentang generasi penerus bangsa, bahkan mereka mikir SMP SMA aja belum lho. Paling baru cita-cita anak SD yang distribusinya masih tidak uniform #aduh, efek kuliah.

Hari ini adalah hari yang paling menginspirasi tulisan ini. Sebenernya nggak gimana-gimana banget sih. Jadi tadi saya jemput bola ke 6 SD. Ada SD yang khusus Islam dan ada yang enggak. As you guess bahwa di Jogja itu banyak bangetttt SD Muhammadiyahnya. Jadi ya itu SD Islam yang saya datengin buat diundang, Muhammadiyah semua.

Jadi sekolah pertama yang kami kunjungin itu yang bukan Muhammadiyah. Saya agak kaget juga pas ketemu gurunya sementara rok yang dipakai ibu guru itu di atas lutut (FYI, di Jogja anak SMA aja nggak ada yang roknya pendek, semuanya panjang mau dia pakai kerudung atau nggak). Beberapa guru yang saya temui juga nggak pakai kerudung. Kemudian entah mengapa saya langsung tersirat banget pikiran tentang rasa syukur dulu saya masuk ke SD Islam.

Selanjutnya saya sampai ke Muhammadiyah (satu dari empat Muhammadiyah yang kami kunjungi). Pas nyampe sana pas banget murid-muridnya lagi belajar (mungkin semacam) seni gitu di aula. Jadi ada guru yang main keyboard dan murid-muridnya pada nyanyi. Nyanyinya apa? Lagu tentang syukur, tentang Allah, pokoknya islami gitu lagunya. Aaaah seneng banget rasanya pas banget gitu datengnya, hehe.

Terus saya ngeliat papan tentang jam maksimal sampai sekolah. Dan ada tulisannya : Aku malu terlambat. Di papan itu tulisannya kepala sekolah maksimal datang jam 06.15, dan itu paling pagi di antara jam kedatangan maksimal guru dan murid. Subhanallah...

Saya sampai di sekolah selanjutnya saat jam istirahat. Lagi jam istirahat. Anak-anaknya lagi pada makan bekal. Ada perasaan...apa ya namanya...susah jelasinnya, semacam...kayak pengen banget deket sama anak-anak itu semua gitu deh. Hehe :)

Intinya sih ngebandingin sekolah pertama sama sekolah selanjutnya tadi. Betapa saya bersyukur dulu sempat masuk sekolah dasar Islam, yang lingkungannya islami. Dari kecil setidaknya saya dibiasakan melihat orang-orang yang berbusana rapi dan tertutup. Pelajaran agama yang baik dan lebih lengkap daripada sekolah dasar umum lainnya. Dan guru-guru yang mengajarkan doa serta adab-adab yang remeh tetapi penting.

Saya tahu, tidak semua lingkungan baik menjamin muridnya juga baik. Tapi saya paham, di situ setidaknya ada peran penanaman nilai-nilai yang baik. Kepekaan anak-anak mungkin tidak terlalu terlihat. Tapi mereka melihat dan merasa, bahkan mengambil pelajaran dan kesimpulan tanpa kita sadari.

Ada dua yang bisa diperhatikan antara pertanyaan seorang anak berkerudung yang hanya ia satu-satunya yang berkerudung di antara teman-teman satu sekolahnya lebih dari sepuluh tahun lalu, saat pemakaian kerudung mungkin belum semarak sekarang. Yang satu bilang, "Ummi, kenapa yang lainnya tidak pakai kerudung?" dan anak yang lain bilang "Ummi, mengapa hanya aku yang pakai kerudung?" Beda makna lho keduanya.

Saya bersyukur dulu pernah sekolah di lingkungan yang baik. punya contoh-contoh ibu guru yang baik dalam mengamalkan nilai-nilai Islam. Masa kecil adalah masa di mana anak-anak suka sekali mencontoh. Saya dulu mana pernah sadar tentang atmosfer SD Islam yang sangat kondusif sehingga mensyukurinya. Tahunya cuma sekolah, udah. Padahal dulu saya masuk SD Islam karena nggak diterima di SD Negeri gara-gara umur (Tau SD Islam itu juga belakangan sih). Coba kalau dulu diterima di SD Negeri, saya nggak akan mengalami 6 tahun yang sekarang tengah saya rasakan sekali nikmatnya ini :"

Tidak ada yang menjamin kita akan jadi baik gara-gara apa. Toh, hidup tidak hanya dibalik pagar SD, bukan? Tapi hari ini saya sangat merasakan kebermanfaatan 6 tahun yang dulu itu. Guru-guru saya bukan guru yang roknya di atas lutut seperti yang saya lihat tadi. Karena guru itu bisa jadi role model juga, lho. Dan masa anak-anak adalah masa dimana karakter juga dibentuk. Dan seperti yang saya bilang di awal...mereka adalah...para penerus bangsa ini juga :) *ah saya jadi ingat postingan Kak Suci yang ini.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah :)

Selasa, 11 Juni 2013

Anak-anak Adalah Mesin Fotokopi Terhebat

Anak-anak adalah mesin fotokopi terhebat.

gambar dari sini
gambar dari sini

saya berkaca pada Fatih, aidk bungsu saya, yang akhir-akhir ini dengan semangat menyanyikan suatu yel-yel jargon perjuangan. Mana dia tahu apa arti sebaris kalimat bahasa arab itu. Tapi peduli apa, mungkin baginya, kalimat itu terdengar keren.

Tapi sekali lagi, anak-anak adalah mesin fotokopi terhebat.
Maka mengajarkannya dengan arahan yang benar dan jelas, juga sesuai apa yang Allah perintahkan akan besar sekali dampaknya bagi kehidupan selanjutnya. Mengajarkan shalat, lama-lama akan jadi kebiasaan. membiasakan menyetel senandung asmaul husna, murattal, al-ma'tsurat, lama-lama hafal.

Saya ingat, dulu waktu SD harus menghafal An-Naba, Fafa adik pertama saya bisa menghafalnya penuh, tanpa melihat Al Quran sedikitpun. Masih duduk di bangku TK ia saat itu.

Anak-anak adalah mesin fotokopi terhebat.
Itu pula yang menjadikan alasan sepasang suami istri mencari seorang pengajar untuk kedua anaknya. Teman saya, NH (memang panggilannya demikian) beberapa kali dalam seminggu pergi ke rumahnya malam-malam. mengajari pelajaran sekolah, mengajari mengaji. Sepasang suami istri itu tidak mau mencari sembarangan pengajar. Yang mereka cari adalah seseorang yang juga kuat agamanya. Agar apa? Jelas agar anak-anaknya bisa turut menguasainya :)

Maka, jadilah contoh yang baik di depan anak-anak. Kita tidak pernah terbayang bagaimana proses mengingat dan diingat membenak di kepala maisng-masing mereka. Mereka belum pernah membayangkan ini benar dan ini salah. Mereka hanya melihat, kemudian mengikuti. Maka dari itu, pengertian yang baik selalu bermakna banyak :)

Adik #1

"Mbak, Fatih udah tua tau Mbak," kata Fahri dari ruang tamu.
"Lho, kenapa emang?"
"Ini Fatih kumisan habis minum susu."

:")

#anak-anak, #fahrifatih