Lama Ndak Nulis

Rabu, 25 Januari 2017

Lama dak nulis. Laptopnya beberapa tombol mati. Sepeti huruf a, q, z, angka 1 sekalgius tanda !-nya, tombol tab, serta simbol ` dan ~. Yang paling kerasa bagian huruf a, hmmm sama mugkin angka 1 dan ! (eaaa apakah tertebak aku nulis apa ya kalo pake huruf, angka, dan simbol tersebut?). 

Hanya segitu, tapi kadang dah jadi alasan aja untuk agak malas membuka laptop. Karena harus mempaste setiap mau nulis hal-hal yang error tersebut. Padahal esensinya mah ndak disitu. Sepekan lalu lumayan deadline sesuatu. Jadilah ku nulis pakai hp. Alhamdulillah tugas tersebut selesai juga :").

Padahal sejatinya, banyaaaak hal yang harus disyukuri. Kamu masih bisa mikir, ketikan tidak akan berlangsung tanpa nikmat kamu yang masih bisa mikir. Laptopmu masih ada, dengan segala data yang dijaga dengan sebaik-baiknya. Kamu masih punya smartphone, yang bisa kamu pake nulis walaupun formattingnya susah. Juga hamdallah, itu terjadi di detik-detik akhir urus revisi--termasuk jatuh dari motor saat mau jilid skripsi :""".  Somehow, that's all enough but we still ask for more. 

Sudahlah, ndak usah banyak-banyak. Ndak usah menyalahkan. Kangen nulis, kangen mbaca blog orang-orang. Biar ndak maenan sosmed, ngechat, ama scrolling ig mulu


Literally Rumah, 25 Januari 2017

rin.du

Sabtu, 14 Januari 2017




"Tidak semua rindu perlu diungkapkan. Namun tidak ada rindu yang perlu dipaksa untuk dilupakan. Barangkali pada beberapa hal...perlu dimaafkan."

-edisi habis baca kumcer agak berat  (makanya tulisan di atas mbingungi, abis ceritanya mbingungi...). lalu tetiba ingat sesuatu.

hari ini ada roadshow di IC. sudah tiga tahun berturut-turut tidak ikutan.
tanah itu. bangunan itu. kesan itu. pelajaran itu. perasaan itu. sikap itu. orang-orang itu. kebiasaan itu.
semua punya peran yang begitu besar rasanya. walau berkali-kali tengsin sama ke-'langit'-am teman-teman, tapi tetap saja....ha;-hal yang telah dilalui bersama selama tiga tahun masa aliyah selalu mans untuk dikenang :")
ada yang berbeda pada roadshow. ialah interaksi yang bisa terjadi langsung dengan adik-adik kelas (yang sekarang sudah tak kenal, tapi tetep aja pengen kenal), juga kesempatan liat ruangan-ruangan IC yang baru yang kalo kita nengok IC pas lagi hari biasa ndak mungkin dibuka. semoga ada usia untuk silaturahmi dan pulang kembali ke sana :)

sudah lah, nanti kepanjangan. kan...tidak semua rindu perlu diungkapkan .
dengan segala kenangan itu, kalian apa kabar?

Sakit di Indonesia, Negara dengan Muslim Mayoritas

Jumat, 13 Januari 2017

Salah satu 'hal mewah' dari sakit di Indonesia yang notabene muslimnya mayoritas, adalah ingatan perawat atau dokter yang sempat mengatakan hal-hal kecil namun bermakna seperti ini,
"Wah ini lututnya yang kena, tumpuan sujud ini," kata Mbak Perawat. Lalu dokternya mengiyakan. "Oh iya ya dipake sujud."
atau...
"Kalau puasa nanti saya kasih obatnya yang untuk 2x sehari saja."

Hal kecil, namun bagi saya ada kenikmatan yang tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana nikmat mendengar azan ataupun banyaknya muslimah yang menggunakan kerudung sehingga kita tidak perlu khawatir soal diskriminasi akibat kewajiban menutup aurat ini :").

Balada IG dan Dunia per-sosmed-an

Selasa, 10 Januari 2017

Habis banget baca tulisan bulek Hana yang judulnya Mengontrol Hati. Emang kerasa banget sih di antara belantara dunia per-IG-an dan per-sosmed-an, akun-akun itu menjadi diary yang terwakili dalam postingan-postingan. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Atau kalau pada beberapa hal ingin ada yang disalahkan, dua sisi bisa melihat dari sudut pandang berbeda. Semisal : Jangan terlalu sering pasangan muda gitu umbar kemesraan, kasihan yang masih memperjuangkan jodohnya. Dan kemudian yang lain : Tapi itu bagus menurutku, soalnya postingan kakak itu menggambarkan bagaimana pasangan muda dalam Islam, dapet nilai dakwahnya.

Yha, yha, semuanya bisa dilihat dari dua sisi. Antara yang namanya bahagia kan wajar mau dishare ya. Itu perwujudan dari naluri eksistensi diri yang namanya aja naluriah, emang datang dari sananya. Di sisi lain, kadang  postingan sosmed membuat kita merasa kecil, merasa ngga bisa dibandingin sama dia, merasa nggak ada apa-apanya, kalah jauh, dsb. dsb. Kalo dalam kasus foto pasangan muda dulu pernah ada diskusi antara ngebela si Kakak karena fotonya jadi media syiar sama ngebela kakak yang menyarankan untuk tidak pos foto terlalu sering karena bisa menimbulkan penyakit hati pada orang lain semisal iri.

Diskusi kita menimbulkan beberapa selentingan pemikiran. Semisal : ya itu kan gimana kita belajar memanage hati kita masing-masing, jangan gampang baper dan iri lah. Atau selentingan lain yang bilang : Ya mungkin kita ngerasa postingan itu fine-fine aja karena kita belum pada tahapan orang yang lagi mengusahakan jodoh. Dua-duanya benar. Kita barangkali nggak iri, seneng ngeliat postingan kakanya si pasangan muda. Dan bener juga emang pinter-pinter gimana kita ngelola hati juga sih gimana biar gak gampang baper liat postingan orang dan tetap bersyukur atas apapun yang ada pada diri kita.

Balada sosmed emang bermata dua sih. Antara kebebasan posting tapi juga bisa ikut bahagia atas kebahagiaan orang lain. Karena kebebasan berekspresi nggak boleh jadi bumerang buat kebahagiaan kita sendiri. Share kebahagiaan ndak dilarang untuk niatan syukur (baca terjemah Adh-Dhuha ayat 11) dan berbagi cerita. Syukur-syukur bisa menginspirasi. Tapi sosmed bukan segala-gala. Kalau saya sih lebih nyaranin kasih info kebahagiaan ke orang-orang terdekat dulu. Ke orang-orang spesial. Apresiasi dan berterima kasih atas doa dan kebaikan mereka, terutama orang tua, kakek nenek, kakak adik, dan semua supporting system. Kemudian kalau mau share ya ndak papa. Tapi itu dulu sih kabarin orang-orang dekat biar tau dari personal lebih dulu somehow lebih berkesan dibandingkan tau lewat sosmed. Tapi ini kalu yang sifatnya baru dapet kebahagiaan macam kerja, nikah, dedek bayi (yha tau sendiri lah kadang suka hits foto tespack gitu). Tapi eh kadang suka sedih juga kalau ada yang niatnya posting kebahagiaan dan perjuangan tapi (menurut saya) agak salah lokasi, misalnya foto semangat workingmom dan peralatan breastpumpnya. Oh men, menurut aku sosmed bukan tempatnya unjuk hal beginian :".

Dan kita sebagai orang yang dapet kabar bahagia dari orang, mari latih diri dan hati agar senantiasa bisa ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain dan nggak irian. Semoga Allah melimpahkan kebaikan juga untuk kita, hehehe.

Eh kok jadi panjang ya, padahal ide intinya cuma satu sih abis baca postingan Bulek Hana : bagaimana kita mengabari orang-orang dekat terlebih dulu ketimbang cepet-cepetan posting sosmed. Maap-maap kalo ganyambung dan banyak curcolannya, ehehehe.

Kadang eh pengen baca riset dampak sosmed ke kehidupan kita.

Sudah Terlalu Lama...

sudah terlalu lama tidak menulis (di sini). jadi, baiklah, mari kita mulai sedikit demi sedikit.

kemudian kujuga sedang ingin coba autopos ke tumblr ehehe.

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS