Tampilkan postingan dengan label rk ppsdms. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rk ppsdms. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2018

Zahra




once upon a time di depok, zahra, si penyuka pisang yang waktu sedang ngebut skripsian di bulan ramadhan 2016 kuberi donat minion rasa pisang, yang sekarang merantau di makassar sebagai pns, yang sedang prajabatan di jakarta, memata-matai aku di badr.

zahra ini anak jogja asli walaupun ibunya berasal dari Palu. anak kedua dari lima. smp di smp 4 pakem jogja yang arah ke kaliurang atas, depan rs panti nugroho. sma nya di teladan (ini nama kerennya sma n 1 jogja). kuliahnya di tphp tapi bukan teknik pemberi harapan palsu, melainkan teknologi pangan dan hasil pertanian. penyuka coklat sejati sampai-sampai dia tidak begitu prefer pada sereal honeystar kebangganku karena lebih menyukai sereal apapun selama itu sereal cokelat. skripsinya tentang cokelat, kkn di gorontalo karena cokelat. dan sewaktu penelitian menuju jenjang pns nya dia juga membuat beragam produk tentang cokelat. karena dia kini mengajar umkm umkm sulawesi aku bilang dia buat ngenalin tebi, wkwk.

zahra termasuk anak yang mau menerima dan memaklumi keanehanku (dan nusa, tentu saja B)). saat aku makan nasi goreng di gelas bekas air kelapa muda, aku lupa dia pernah makan apa di gelas bekas menyeduh minuman cokelatnya. tapi kami bersekongkol tidak hanya dalam hal keanehaan saja, juga dalam kabinet asrama. anaknya kritis dan suka membantu, untung saja tidak suka membanting. satu lagi, dia juga cukup bisa diandalkan.

sebelum keterima pns, zahra kerja di ternaknesia. ceo nya juara dua lomba startup astra dan abidah atas nama tebi juaraa tiga lomba yang sama. waktu hari h pengumuman, zahra pm aku terus bilang selamat ya kak, tapi maaf (karena dia juara dua). nggak persis sama sih tapi wordingnya gitu intinya hehe. makanya pas kami ketemu di badr dia bilang, kak, aku memata-matai badr nih? wkwwk. oya kami suka saling manggil kak gitu.

sejak lama zahra memang ingin kerja di sulawesi. karena di sana (sekali lagi) besar potensi cokelatnya. tapi kemarin saat bertemu dia bilang berat di tanah rantau. bukan karena sendirinya. dia bilang, kalo ngerasa sendiri, masih ada Allah Kak. siapa yang ga terharu coba dengernya. dia malah berat ke birrul walidain gitu katanya.

lalu aku cerita tentaang perpus katakerja di makassar yang aku ingin suatu waktu nanti singgah ke sana. aku juga cerita tentang ruangbaca, sepasang pustakawan di katakerja. dia segera mengecek dan dia bilang wah itu tidak terlalu jauh dari tempatnya.

aku suka pertemuan kami yang sederhana. tidak perlu mencari tempat makan mahal atau nongkrong  di kafe. cukup nasi kuning yang kata dia enak banget. lidah zahra nampaknya masih lidah jawa dan dia bilang rasa nasi kuning makassar tidak seperti itu. lalu kami juga mengupas mangga. dan aku dengan sumringah menaburkan gemintang honeystars ke mangga. zahra juga mengicip cilok dan kue ape, yang sudah sedari di jogja (it seems awal 2017) aku iming-imingi dia soal kue ape. sebagai anak pangan, dia punya interest mengetahui ragam makanan. oh iya dia juga pernah terlibat proyek dosen membuat buku tentang makanan yogyakarta.

hari ini jarak kami jauh sekali. semoga senantiasa kuat dengan kehidupan keseharian di sana ya kak.

ohya, ada satu percakapan yang zahra ungkit. dia ambil dari buku Teman Imaji yang pernah dia pinjam dariku.
"Aku ingin menyelamatkanmu...."
...
"dari rutinitas."
kata zahra itu berkesan banget. aku jadi ingin murojaah bukunya lagi.

bonus foto awal 2015 bersama zahra dan ammah tika (yang sudah tinggal di aceh :"))

untuk Rabu, sebelum suatu hal terjadi.


Minggu, 24 Juni 2018

Dari Tangerang (1): Kabar dari Suci

Waktu itu awal Juni, Suci memberitahukan rencana pernikahannya. 

Suci adalah adik bersama di asrama. Kelahiran 96, anak 2013. Di balik kesan pertama yang dewasa, Suci punya sisi bocil sampai-sampai hampir seasrama manggil dia Sucil alias Suci bocil. 

Kabar ini cukup membuat kaget dan haru luar biasa. Selain soal kabar Suci-nya yang mau nikah, juga cerita prosesnya, juga cerita soal dengan siapanya. Suci menikah dengan kakak dari salah satu sahabat kami, Zahra, yang pernah saya ceritakan sebelumnya, salah satunya di postingan ini. Begitu mudahnya Allah lancarkan proses mereka yang hanya berkisar 1 Ramadhan-8 Syawal dari bertukar biodata sampai menikah. Begitu eratnya peluk Allah menuntaskan impian sederhana yang Suci lintaskan soal lifeplan pendidikan, suami alumni gontor, dan captionnya yang selintas menyebutkan jika Allah takdirkan aku menetap di Jogja. Allah jawab tuntas doanya. Padahal, mereka belum pernah kenal sebelumnya.

Kebersamaan saya dengan Suci jika dihitung dalam dimensi waktu tinggal bersama adalah 22 bulan pembinaan asrama ditambah hampir setahun masa kontrakan pasca asrama. Suci adalah partner piket masak sarapan tiap Selasa. Dan bagaimana pun, saya selalu tsiqoh soal memasak sama dia. Walaupun metode masak Suci sedikit berbeda sama Ummi, tapi tetep aja saya yang ngekor dia. Menu kesukaannya sayur lodeh. Aku masih mengingat janjian belanja di warung sayur dan lintasan obrolan-obrolan waktu memasak. Juga kebiasaan Suci menyapu sambil masak, karena katanya, mamanya juga begitu kalau masak sambil langsung beberes nyapu-nyapu. Cepat sekali waktu berlalu :")

Di asrama, Suci adalah salah satu teman yang paling baik tahsinnya. Sampai-sampai ketika angkatan asrama selanjutnya, ia diminta untuk membantu mengajar tahsin. Suci juga paling semangat belajar dan mengikuti kajian. Kelas bahasa arab dan tahfidz, kajian di Pogung, dan lain sebagainya. Bikin malu kakak-kakaknya :")

Sampai hari H tiba. Benarlah kata Abidah yang kurang lebih pernah mengatakan bahwa, salah satu barakah pernikahan tuh ada kebahagiaan yang juga dirasakan oleh tamu undangannya ketika menghadiri suatu pernikahan. Dan itu kami rasakan. 

Nasri 7, Zahra ada di paling kiri.
pingin foto berdua sama bukunya lupa kebawa

Barakallahu laka wa baraka alaikuma wa jama'a bainakumaa fii khair Suci dan Mas Imov. Semoga barakah dan rahmat Allah selalu menertai kalian berdua :")

Tangerang, 22 Juni 2018
Setelah disadari, sepertinya ini kali pertama naik kereta Duri Tangerang
p.s ini tulisan kedua karena yang sebelumnya ditulis belum kesimpan dan pagenya kerefresh
cerita dari sudut pandang Fahmmi bisa dilihat di sini

Sedikit Cerita di balik Mengukir Peradaban

Mengukir Peradaban, difoto tanpa persiapan
background alias di ruang Tebi
Waktu itu Selasa, atau Rabu. Saya sedikit lupa. Suatu paket sampai ke tempat bekerja. Gambarnya ada di sebelah. Buku, judulnya Mengukir Peradaban.

Awal tahun ini, di perjalanan ke FE UI, Zahra menawarkanku mengedit naskah buku yang ditulis bersama suaminya, Fahmi. Zahra dan Fahmi adalah pasangan adik tingkat dan adik kelasku. Zahra adik yang pernah seruang di asrama dan Fahmi adalah adik kelas SMA, yang juga adik tingkat di kampus. Keduanya menikah 7 Mei 2017 dan menjadi sepasang pasangan penghafal Quran. Fahmi telah hafal Quran sejak lulus SD dan Zahra sempat mengikuti karantina hafalan Quran di penghujung 2016. Fahmi saat ini sedang menempuh koas, menuju jenjang dokternya, dan Zahra sedang tahapan menuju wisuda untuk sarjana kedokteran giginya. Keduanya, seperti yang diakui teman-teman kami juga, adalah pasangan yang menginspirasi banyak orang dengan kebaikannya. Kalau mau kepo satu dua hal tentang mereka bisa mampir ke sini.

Dulu mulanya saya menolak dijadikan editor buku ini karena saya belum nikah, jadi kan khawatir gimana gitu kalau ngedit buku tentang nikah yak. Wong ndak pengalaman. Tapi setelah mengobrol lagi, akhirnya bismillah aku ambil tawaran ini buat belajar.

Sudah lama naskah editannya saya serahkan, lalu awal ramadhan (atau sebelumnya), Zahra meminta editing terakhir (untuk PO kedua, karena PO pertama sudah launching, demi mengejar tanggal 1st anniversary kayaknya, hehehe). Dan baru kelar beberapa hari yang lalu, sebagian besar kuselesaikan saat mudik. Membaca naskah buku ini kembali (dan bacanya selalu dalam bentuk digital biar bisa dikasih komen) rasanya berbeda. Ada kesan lebih dalam ketika membaca step-step pra-hari h-pasca menikah. Buku ini memang bukan menonjol pada soal fiqih nikah, tapi bagaimana membentuk diri yang siap dari segi pribadi, orang tua, life plan, soal hal-hal kecil yang dibutuhkan di awal-awal pernikahan, dan lain sebagainya yang kalau bahasa mereka, tidak banyak dibahas di buku lainnya.

Dan saat baca kedua kalinya aku merasa...ditampar bolak balik sih. Karena...hmm ya banyak sih. Mungkin orang bisa bilang ya ndak usah berpikir seribet itu. Even di sisi lain aku tau diriku ini banyak sisi inferiornya jadi aku memang tidak mudah percaya diri. Tapi anyway walaupun aku belum menikah (haha --"), aku menyarankan untuk baca buku ini.

Nulis postingan ini mulanya lebih ke perasaan yang lebih kerasa berkesan waktu ngedit kedua kalinya (terus brb pengen semua orang baca gitu). Sebenarnya dulu udah kepikiran mau nulis sih sekaligus promosi bukunya waktu PO. Tapi ya belum-belum. Jadi yasudah dicicil saja nulisnya sekarang.

PO keduanya belum kecium aromanya sih. Tapi kayaknya POnya bentar lagi. Kalau penasaran silakan kontak @fahmi.zahra.notes saja.


Ini hanya sedikit cerita di balik Mengukir Peradaban
Banyak sih mungkin yang pengen diceritain,
atau yang dikhawatirkan, sehingga ingin dibagi
tapi kulit-kulitnya saja dulu lah ya

Selasa, 01 Mei 2018

[Repost]Urusan Domestik

Urusan domestik itu kalau diurus sendiri kan bisa sambil didoakan dan diwiridkan. Misalnya, mencuci baju didoakan supaya orang yang memakai tambah percaya diri, tambah baik, dan sebagainya. Atau misalnya memasak makanan, ditambahi doa semoga yang memakan senantiasa diberikan kesehatan, tumbuh-kembang yang baik, dan sebagainya. Itu yang pertama.”
“Kedua, urusan domestik itu harus bisa supaya mengurangi ketergantungan kita terhadap faktor eksternal di luar diri kita. Misalnya, kita mampu masak, mencuci, bengkel, maka hal-hal di bidang itu kita nggak perlu merepotkan orang lain. Bahkan, syukur kita bisa membantu.”
“Ketiga, urusan domestik harus dikuasai supaya memperkuat daya tahan dan daya lenting keluarga. Tentu kita tidak bisa menjamin bahwa kita akan hidup serba cukup terus, ada saatnya kita di bawah. Ada suka dan dukanya. Dengan terampil manajemen urusan domestik, keluarga akan tetap bertahan dan relatif minimal gangguan meskipun kondisi ekonomi, kenyamanan, dan kesejahteraan berubah drastis.”
“Terakhir, perempuan yang terampil mengurusi pekerjaan domestiknya, maka pahalanya setara dengan jihad fii sabiilillaah.”



-dari sini, menginspirasi sekali terutama di bagian yang dibold (buka linknya aja bbiar semakin terinspirasi)

Zahra dan Fahmi dalam adik kelas saya. Zahra adik asrama di RK yang selisih usianya hanya 2 hari lebih dulu dari saya. Fahmi adalah adik kelas saya di IC. Keduanya menikah 7 Mei 2017. Keduanya adalah pasangan penghafal Quran. Mengharukan sih emang :" Dan mereka membuktikan bahwa dalam kurang dari 1 tahun, mereka sudah banyak sekali membuat banyak pencapaian dan menebarkan kebermanfaatan (itu aja baru yang tertangkap oleh mata, belum kebaikan yang hanya mereka rahasiakan berdua).

Mei tahun ini rencananya mereka akan melaksanakan launching buku mereka soal pernikahan. Waktu saya lihat tanggal perencanaan launching bukunya, 7 Mei 2018, saya langsung berpikir, pasangan ini dalam jangka setahun sudah bisa berbuat banyak sekali kebaikan, ya. Isi kajian, isi kelas dan seminar tentang munakahat, bikin buku, bikin blog berdua yang isinya menginspirasi pembacanya. Sungguh luar biasa (jadi kamu setahun ini ngapain aja Fit?).



diawali 21 April 2018,
perjalanan menuju UKM Center FEB UI

Kamis, 03 Agustus 2017

Ilmu dengan Adab

Ibu Sufyan Ats Tsauri merupakan salah satu dari wanita-wanita agung yang shalihah. Sang ibu pernah mengatakan kepada putranya, “Wahai anakku, carilah ilmu, aku akan mencukupimu dengan hasil tenunanku.”

Sang ibu juga berpesan, “Wahai putraku, jika engkau telah mencatat sepuluh huruf maka lihatlah dirimu, apakah itu mengubah cara jalanmu, keadaanmu, kelembutanmu serta ketenanganmu. Jika engkau tidak melihatnya, maka ketahuilah, bahwa itu membahayakan buatmu dan tidak memberikan manfaat bagimu.”

(Al Kawakib Ad Durriyah, 1/231)

Pada suatu masa di perjalanan dari warung sop-soto di Karangwuni, masih di atas jok motor, saya bersama Nusa, si calon ketua KAMMI Sleman  membicarakan kutipan ini. Bagaimana bisa ilmu dibilang dapat mengubah cara jalan, keadaan, kelembutan, serta ketenangan. Menambah hal-hal di luar pemahaman, wawasan, dan kebijakan.

Lalu Nusa berkata, karena ilmu, semestinya diperoleh dengan adab. Maka adab menuntut ilmu lah yang membuat kita mendapatkan hal-hal tersebut, sehingga tersebutlah ilmu itu memberikan manfaat; bukan justru membahayakan.

Semoga, adab dalam menuntut ilmu bisa terus kita ingat dan laksanakan dalam setiap kesempatan. Sehingga kita bisa memperoleh apa yang disebut sebagai ilmu yang bermanfaat dalam kutipan tersebut.

Yassarallahu amrana!

#ntms
Terima kasih berbagi insightnya, Nusa! Semangat kamu skripsinyaa :")

*ps: itu halaman motto di skripsi, dulu pertama banget nemu quote itu dari akun OA Dakwah Islam di line

Minggu, 30 Juli 2017

untuk Shofi


Rasanya masih tidak percaya ketika pertama kali mendengar kabar Shofi Jumat kemarin. Bukankah rasanya baru saja pagi atau semalam aku lihat update igstory kamu, Shof?

Dear Shofi,
aku kehabisan kata-kata sore itu. Jumat itu. Aku merinding dan bahkan sampai sekarang pun masih sesekali. Riangmu, semangatmu, ambisiusmmu, jurnal ilmiahmu, keimpulsifanmu, galaumu.
Barangkali aku belum sedekat itu sama Shofi. Tapi, aku belajar banyak hal soal kesungguh-sungguhan yang kau cerminkan. Aku mengagumi tekad kuatmu untuk jadi scientist. Aku heran kenapa energimu tidak pernah habis, kenapa kamu begitu betah baca jurnal ilmiah, kenapa kamu bisa terlihat sebegitu riang walaupun terkadang kamu tidak enak badan.

Perginya Shofi jadi teguran keras buat kami;
Apakah kematian tidak cukup menjadi pengingat?

Bukannya baru semalam kamu menempuh kereta Jakarta-Yogyakarta? Bukankah paginya pukul delapan kamu baru selesai mengirim email untuk deadlinemu? Bukankah beberapa teman kita baru saja berbalas komen denganmu dua jam yang lalu sebelum berita itu sampai pada kami?Bukankah rencana kembalimu dari Jogja tinggal senin besok? 

Tapi Allah memintamu pulang duluan. Lebih dulu dari rencanamu. Lebih abadi dibanding tujuan pulang awalmu.

Dear Shofi,
aku yang tidak sealmamater kampus saja menyaksikan bahwa betapa banyak yang kehilangan sosokmu. Apalagi mereka yang banyak irisannya denganmu, ya :"
Mereka mengenang kebaikan-kebaikanmu. Semangat juangmu yang terus menyala. Energi yang tidak pernah habis. Kontriubsimu yang jauh dari rasa lelahmu. Keinginanmu untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat lewat mimpi-mimpi penemuanmu.

Semoga rahmat dan ampunan Allah selalu ada padaMu Shof. Semoga kebaikanmu masih terus mengaalir, karena kami yang kamu tinggalkan, rasa-rasanya masih menerima itu semua. Kelak, semoga kita bisa berjumpa di surga,, ya Shof.


Kami sayang Kamu, Shof.


Selamat Jalan, Kepulangan. Selamat Datang, Kepergian..Kebanyakan dari kita selalu rindu kepulangan akan rumah. Menanti-nanti waktu berakhirnya hari dan menyambut lonceng tanda pulang dengan kebahagiaan. Akankah kelak kita menyambut dengan suka cita pula, saat Allah menyerukan panggilan untuk pulang menuju ke rumah keabadian?Pulang adalah hak bagi mereka yang pernah berangkat. Kepulangan seperti senja yang indah adalah akhir yang tenang dan membahagiakan. Mungkin ia adalah perpisahan, tetapi ia menjadikan kepergiannya membekas indah pada orang-orang yang ditinggalkannya.. -via Siti Nur Rosifah


Fitri-yang merasa kehilangan
semoga aku bukan menjadi orang yang merugi 
karena tidak menjadikan kabar ini sebagai pelajaran bagi diri sendiri





update
“Karunia yang Allah berikan lebih besar daripada musibah, karenanya kita harus bersyukur.” -Abinya Shofi-via tulisan indah 

Selasa, 18 Oktober 2016

Nulis untuk Orang Lain

Nulis buat orang lain itu jangan sampai bikin ndak nulis buat diri sendiri. #pelajaran5hariterakhir

Selasa, 27 September 2016

Zahra


Halo Zahra, apa kabar?
Tulisan ini kumulai pada 6 September 2016. Saat aku kangeeen banget sama kamu, kamunya lagi sibuk urusan Brunei dan banyak hal lainnya. Dan setelah kuobok-obok isi hardisk, satu setengah tahun terakhir kedekatan di asrama tidak pernah menelurkan foto kita yang berdua doang, ya. Padahal kita se-tim-sat lebih dari enam bulan. Dilanjut obrolan pas kamu mau nyiapin KKN dan setelahnya. Diskusi di kasur masing-masing sama teteh Ditta pas di kamar pojok nomor empat. Kamu yang suka numpuk buku, minta bangunin, begadang parah, sampai kamu yang sekarang.

Hari ini aku membaca postingan terakhirmu di blog. Maka aku selesaikan tulisan rindu ini untuk memelukmu dari kejauhan. Menyenangkan sekali membayangkan dirimu yang penuh ide dan sangat semangat memulai ide baru. Walau aku tahu ada saja yang bilang bingung sama kamu yang terlalu banyak ide dan urusan, tapi aku tahu, tahuuuu sekali semangatmu untuk perbaikan umat.

Halo Zahra, apa kabar?
Menyenangkan sekali sepertinya kehidupanmu akhir-akhir ini yang penuh gairah. Senang sekali mendengarnya, karena kalau aku melihat kaca, hal-hal itu yang sekarang kabur dari diriku untuk bersemangat memulai hal baru. Maafkan aku yang belakangan tidak menyapa, bahkan aku ragu menuliskan satu patah dua patah kata komentar di blogmu sebulan belakangan. Padahal kamu sendiri yang bilang, kan, kalau aku orang yang sangat senang komen di sana. Aku ikut mendoakan kebaikan untukmu, semoga Allah menguatkan pundakmu mewujudkan segala mimpi untuk perbaikan umat, beserta menemukan parter hidup terbaik untuk membantu bersinergi mewujudkannya.


Saling mendoakan dalam kebaikan ya Zahra.


Peluk jauh Deresan-Imogiri Timur.

untuk Zahratul Iftikar Jadna Masyhida,
di manapun ia berada saat ini.

Sabtu, 04 Juni 2016

Ada yang Tertinggal di Asrama

oleh: imamgination R1.7
dikutip dari share-an FB Dini dan ditulis oleh Devi


Ada lagu yang belum selesai kita nyanyikan
Sebuah tangga nada yang tak pernah usai

Ada lantai yang lupa kita bersihkan
Sekedar karena kelas dadakan, ketiduran, atau mungkin kau sudah dihubungi oleh orang-orang

Ada langkah kita yang belum sampai
Mungkin karena tujuan yang terlalu jauh
Atau mungkin karena langkah kita masing-masing yang akan berjauhan sekarang

Kami selalu ketakutan membicarakan masa depan
Beberapa terasa semu dan jauh dari kenyataan
Tapi kami tetap melakukannya
Karena akan terlambat membicarakan masa depan jika kau sudah ada di masa depan

Ada kantuk yang tertinggal di mushola asrama
Sebuah pijatan kawan dan tepukan lembut membangunkan
Mana lagi yang lebih romantis dari seorang kawan yang membangunkan?
Beberapa membangunkan fisik dan beberapa membangunkan mental

Ada wajah yang lupa kita bersihkan
karena.. ah, sudahlah
..

Beberapa ketakutan saat hujan datang
Beberapa lagi senang karena ini saatnya berkumpul dengan kawan yang sulit ditemukan di luar sana

Ada yang ketakutan melangkah menanjak
Menanjaki anak tangga yang bisa jatuh suatu saat
..dan menanjaki dunia karena merasa dirinya bukan apa-apa

Banyak yang berpindah di dalam asrama
Buku yang berpindah
Orang yang berpindah
Baju yang berpindah
Atau bahkan sandal yang berpindah entah kemana dan kembali 5 minggu kemudian ke tempat asalnya

Ada yang akan berpindah dari asrama
Gerombolan langkah yang menyebar ke segala arah
Menapaki ribuan bumi
Hingga gerbang yang dulu kita lewati,
suatu saat nanti
..menunggu kita untuk kembali

Kamis, 02 Juni 2016

Speechless

Saya tidak bisa menafikan kalau saya adalah tipikal melankolis. Dan sejak istilah 'baper' menjadi populer, barangkali saya jadi lekat dengan istilah itu kalau masa-masa begini.

Sama kayak apa yang mas Adi bilang kemarin. Ketika Zahra, Alfath, Ibnu, Ufai, masing-masing bikin postingan blog. Temen-temen saya upload foto (yang banyak yang sama) serta caption yang macem-macem. Saya bingung apa yang pengen saya tulis, apa yang pengen saya sampaikan. I am speechless. Saya nggak bisa ngomong apapun rasanya pasca 31 Mei kemarin terkait berakhirnya masa pembinaan ini. Too much i got dan hmm.... *menariknafas

Ada yang saya sayang. Namanya kalian. Tempat belajar, tempat bertanya, tempat bicara. Tempat mendengar, tempat berpendapat, tempat berbagi : tawa, gagasan, pikiran, curhatan, bacaan, bahkan oleh-oleh.

Sedari kemarin saya wara-wiri ngurusin sesuatu, Terus semalam ke Magelang dan malam ini saya di rumah Bude. Dua malam tidak di asrama dan tadi bada Magrib rapat di Nakula. Ini bukan rapat pertama di Nakula yang bada Magrib di mana Nakula sepi. Biasanya juga sepi. Tapi yang hari ini kerasa banget sepinya. Sepi yang berbeda.

Terus karena sejak kemarin juga ngga buka laptop dan medsos, udah tau saya lagi kayak gini malah juga buka medsos-termasuk lovely dashboard blog. Hahaha, makin baper dong saya. Info a-b-c udah sidang. Kenyataan bahwa tanggal iniiiii banget empat tahun lalu saya wisuda SMA-yang sekarang udah makin sepi kemampuan mengingat momennya hiks :". Balasan email dari Zahra. Obrolan rapat tadi. Sesuatu dari Ayah. Dan saya yang pada titik ini masih suka ragu dan ngga yakin sama banyak hal tentang diri saya sendiri.

Ada yang harus beranjak, bergerak, berpindah, ada yang harus diajak bicara. Ada yang harus berusaha lebih keras.

Mohon doanya.
maaf kalo ngga jelas ya :"

Selasa, 24 Mei 2016

Rindu, Menunggu

debu jalan adalah bumbu
yang kau kenakan sambil lalu
dalam gemetar dan semburat bisu
senantiasa kau kecup walau kelu

irama waktu geletar pilu
masih menunggu
kala rindu mulai hasilkan candu
ketika bercerita hanya bisa pada langit-langit pengantar tidurku

gedung oranye,
tengah badan yang tidak nyaman
24 Mei 2016 sekitar pukul delapan

Senin, 23 Mei 2016

Nasri7 #SemingguTerakhir...

ada yang aku sayang,
namanya : kalian


Tinggal 7 hari lagi loh kita di asrama, hmm baper yah 😢
Yuk kita liat-liat file-file lama, saat kamu begitu lucunya, saat aku begitu jahatnya, saat kita begitu bahagianya. Boleh juga kalau ada pesan yang belum tersampaikan, kisah-kisah heroik sampai memalukan yang belum diceritakan, ataaau sekedar sesi haha hihi bareng orang-orang aneh yang 22 bulan ini seatap bareng kamu 😴Dateng yak malam ini, di jam biasa di tempat biasa 😊Kutunggu kehadiranmu, enggak juga sih, biar jatah coklatmu bisa buatku 🙈~Tata Program Nakula Srikandi~

habis ini pinjem buku, copy film, nitip oleh-oleh, pinjem abc, xyz, def, pqr, apapun;
.
.
ngga semudah : besok pas tahsin, nanti pas kajian, pas apel aja, nanti aku rapat di nakula kok sekalian aja, etc. etc.

credit picture to : ibnufajri
temen dari jaman gmif.yang dua taun sefakultas tapi kok baru liat muka ini di gmif.yang pas mau daftar ppsdms katanya jarang baca tapi baca bukunya langsung malcolm apa gladwell gitu, yang pas dikasitau lolos ppsdms gayakin dan bilang, "yang bener Fit?" terus "webnya ngga bisa dibuka" terus "akhirnya aku jadi santriiii....!"

Rabu, 11 Mei 2016

Ngga Papa Patah Hati

"Aku nggak papa (mbak) Fit kalau patah hati berkali-kali. Urusan suka sama orang, urusan apalah yang lain. Tapi jangan sampai aku patah hati sama urusan mimpi dan cita-citaku. Termasuk soal penelitian."

*ada mbak yang dikurungin untuk mengaburkan ini siapa orangnya dan angkatan berapa.

Semangat ya! Semoga Allah memudahkan dan menguatkan jalanmu ke Swedia :'). Kalo kata Ummi, ketika usaha kita udah-wawancara dsb, sekarang ruhiyahnya harus terus dikuatin. Semoga ini jadi jalan Allah memberi peluang-peluang kebaikan dan perbaikan untukmu ya :')

Terima kasih telah menginspirasi ;) #SaudaraSampaiSurga

Selasa, 10 Mei 2016

Haflah Kesayangan :')

Sampai semalam tadi, haflah masih jadi topik hangat yang diomongin di asrama putri. Entah karena pesonanya, karena perjuangannya, karena bahagianya, karena ke-bareng-barengannya, ke-amazingan-nya, atau kesederhanaannya. Tapi yang jelas, bicara soal haflah masih menjadi kebahagiaan tersendiri buat kami-kami yang susah move-on ini. Terbukti, video haflah masih diputer dan ditonton bareng-bareng semalem.

Ada yang membahagiakan soal haflah. Saya juga bingung kalau ditanya apanya. Bahagia saja. Senang saja. Sayang saja. Rasanya menyenangkan memperjuangkan haflah bareng temen-temen. Kalau via Ara dari Kholqi, haflah itu yang membuktikan kekompakan kita.

Saya yang masuk tim naskah (meski dari awal menolak mentah-mentah kalau ditawarin buat bantuin tim awal Ara-Kholqi) merasakan kejumudan banget-banget pas rapat nentuin alur dan apa yang akan dibawa. Rapat berkali-kali yang ujung-ujungnya bahkan bisa melupakan secara tiba-tiba konsep kemarennya. Belum lagi pelurusan-pelurusan ketika konsep udah difloorin. Dan karena ada urusan yang mengharuskan saya pulang, saya kepikiran banget ini gladi haflah kayak apa, pengen liat bangetlah intinya.

Dan sampailah Jumat itu. Ketika siang tadinya mau kumpul tapi kayanya terlalu mendadak. Ketika yang putri istirahat, ternyata yang putra latihan *terharu*. Sorenya pas kumpul lagi, saya baper ngeliat lingkaran ini kumpul. Semacam ada perasaan sedih karena menyadari kalau ini kumpul akhir-akhir. Karena abis ini, alasan apa yang reramean bakal bikin kita kumpul lagi?

Kemudian latihan per scene. Bangga dan haru rasanya liat temen-temen yang ngebela-belain tampil padahal sakit, rela jadi pengganti padahal baru dibriefing, kompakin gerakan, padahal mah itu gerakan apa banget (thx to AKBri48 ;), you made it awesome guys). Juga saya merasa sangat berutang ketika tau perjuangan tim kostum yang detil dan bahkan tim perkap yang sangat prepare. Saya kagum banget waktu tau keseriusan Ifdhal ngumpulim anak perkap dan minta keseriusan mereka, "Tolong sini sekarang semuanya fokus, aku minta sekarang aja kita fokus bareng-bareng...." :"

Juga terharu kalau ingat penampilan Jogja yang sebenernya mah sederhana. *brb terimakasih pada daster yang dipake pemain X)

Karena saya nggak ikut gladi akhir-akhir yang it means gladi yang lebih matang daripada yang saya liat, saya cukup takjub liat tampilan stage panggung awal. Saya (yang jarang ngestatus ini) sampe pengen ngepos sesuatu dan akhirnya terposkan di line sesaat sebelum tampil. Entah ya, rasanya sayang banget sama seluruh kerja keras dan anak-anak ini. Dan karena tampil terakhir serta sudah liat penampilan yang lainnya, saya ngeposnya dengan berupaya membesarkan hati. Intinya, apapun yang terjadi di panggung, kita udah bareng-bareng menikmati prosesnya dari awal. Saya tahu persis kita belum pernah ngukur waktu penampilan (yag mestinya cuma 12 menit), beberapa hal belum serapi regional lain, dan saya tau kalo unsur budaya (sebagaimana tema haflah adalah tentang budaya nusantara) belum sekental regional lain karena memang lebih ke meaning soal fenomena masa kini yang mau diselipkan. Saya merasa pesimis sebenernya pas liat tampilan haflah awal-awal. Yasudahlah, maka saya mikir pokoknya apapun yang terjadi di panggung, ini hasil kerja kerasa dan kebareng-barengan kita bersama. Apapun yang terjadi, let it flow. Usaha maksimal bareng-bareng ini sudah membayar semuanya bukan?

Daaaan. Ketika Ibnu Fajri selaku ketua oprec turun panggung setelah mengambil penghargaan untuk Jogja yang indeks pendaftarnya paling tinggi. Pengumuman haflah adalah hal paling mengharukan-membuat bangga-bahagia-dan tidak terdefinisi lagi. Saya inget banget ada yang langsung sujud syukur pas denger bahwa Jogja adalah haflah terbaik :")


Ibnu Fajri, someone behind all about the sound (baca : DJ-literally DJ)


Dan haflah actually nggak berakhir sampai disitu aja. Grup putri yang masih aja bahas soal banyak hal yang terjadi di haflah, dari yang cuma di panggung sampai yang filosofis. Dari pertanyaan retoris yang bagi saya itu bermakna, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang ingin menjaga satu sama lain di antara keluarga Nasri7. Semacam : koe ki koncoku, yo ojo sampe koyo ngono juga *hahaha bahasa saya amburadul banget :P

Karena kalian semua, matter :")

This Last Week

Satu minggu terakhir saya tidak di Jogja. Terhitung sejak Sabtu 30 April sampai Ahad 8 Mei. Kalau diingat-ingat, ini rekor terlama ada di Bogor-Depok-Jakarta lebih dari seminggu dalam rekam jejak nyaris dua tahun terakhir.

Ada banyak hal yang terjadi, termasuk keriwehan dan kenaik-turunnya emosi. Kebahagiaan, kenyataan rempong, bingung memutuskan sesuatu, bete-bete lucu, bahagia, kumpul, sayang, ngga mau pisah, bangga, sekaligus takut.

Dalam seminggu.

Many things happen. Dari jaman pulang, lama nunggu kereta, ke wisuda adik tanpa abi, ngobrol panjang sama Ummi, main sama fatih (yang sedih banget gegara kangen sama Abi (yang lagi ngga di rumah) padahal pengen main catur atau ular tangga dianya-bahagia anak kecil yang sangat sederhana, ya?). Main ke IC setelah-mungkin 2-3 tahunan ngga kesana. Dikirimin data dan ada DL ketika saya ngga bawa laptop selama pulang itu. Urus form online yang abisnya tanggal 6 (sampe akhirnya nitip temen). HAFLAH SUPER KEREN, kesayangan! NLC2016; SaudaraSampaiSurga untuk RK7, esp. rasa bangga-sayang-haru sama RK3Jogja. Berita adik yang lolos SNMPTN-perasaan amaze yang reflek juga dan membuat saya jadi merasa, saat inilah fungsionalitas saya sebagai kakak benar-benar bekerja (bcs saya sama dia sejak SD selalu hidup di dua dunia berbeda). Ah iya, juga baper-baperan masalah susah mengontrol kemelankolisan saya soal kenang-mengenang hiks.

--Everything will be okay in the end. If it's not okay, it's not the end.

Nanti yang bisa saya tumpahkan saya tumpahkan, ya. Tapi barangkali tulisan mini atau sekadar foto. Kalau nyamah ngga usah dibaca, kan saya udah bilang ini mah writing like no one's watching.

Selasa, 26 April 2016

Mengakui Kesalahan

"Mengakui kesalahan adalah separuh dari perbaikan."
-Ammah Tika, as always mengingatkan kami :"