Rabu, 07 Agustus 2013

Repost#3 : Doa Berbuka Puasa

Doa berbuka puasa yang sering dijarkan di sekolah-sekolah maupun ditampilkan di televisi yang sering juga kita dengar adalah doa berikut :
Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa alaa rizkika aftortu birahmatika yaa arhamar raahimiin
ternyata hadits yang menyatakan bahwa doa tersebut adalah doa buka puasa merupakan hadits dhaif atau hadits yang derajatnya lemah.

Lantas, apa  doa buka puasa yang kuat dasarnya?

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan, jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buka puasa, beliau membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”

Nah doa ini yang kemudian oleh para ulama dianggap sebagai doa berbuka yang berasal dari hadits yang derajatnya hasan dan bahkan ada juga ulama yang mengatakan bahwa hadits ini shahih. Kita coba biasakan yuk !

artikel terkait silakan lihat di http://www.fimadani.com/seputar-hadits-doa-buka-puasa-yang-shahih/


via : http://secangkir-ramadhan.blogspot.com/2013/07/doa-berbuka-puasa.html

Repost#2 : [Resensi Buku] Udah Putusin Aja!; Memilih Taat atau Maksiat?

Ramadhan sudah hari keberapa teman-teman? Kalau tilawah pasti sudah sering dong ya.... Nah kalau buku islami sudah ada yang dibaca belum nih? Perlu juga lho untuk menambah wawasan ilmu agama kita. Kali ini, secangkir-ramadhan akan menampilkan resensi dari bukunya Ustadz Felix Y Siauw, Udah Putusin Aja!

[Resensi Buku]

Udah Putusin Aja!; Memilih Taat atau Maksiat?



gambar dari sini
Identitas Buku
Judul                    : Udah Putusin Aja!
Penulis                 : Felix Y. Siauw
Visual                  : Emeralda Noor Achni
Penerbit               : Mizania
Tebal                   : 180 halaman
Cetakan/Tahun    : II/2013

Katanya, pacaran merupakan ungkapan kasih sayang. Ada juga yang bilang pacaran untuk mengenal sebelum sampai tahapan menikah. Eits apa benar begitu? Coba kita tengok buku yang satu ini dulu. Dijamin, pemahaman kita akan diluruskan selurus-lurusnya. Karena lewat buku ini kita akan jadi paham bagaimana seharusnya kita mengendalikan diri plus panutan untuk mempersiapkan pribadi menjadi lebih baik lagi.

Mudah ditebak, buku ini membahas tentang perasaan suci bernama cinta. Perasaan yang diberikan Allah pada seluruh hambaNya. Dianugerahkan sebagai salah satu naluri yang otomatis akan menuntut pemenuhan. Nah, kabar baiknya naluri itu ada dibawah kontrol manusia. Ia tidak seperti kebutuhan jasmani yang tidak bisa ditawar. Sehingga, bagaimana kita memaknai cinta diserahkan pada diri kita. Karena cinta bermakna luas, dapat dimaknai sebagai potensi taat, juga dapat dimaknai sebagai potensi maksiat.

Islam sendiri tidak pernah mengharamkan cinta, ketika ia berada pada koridor yang semestinya. Justru Islam melarang keras segala bentuk cinta yang tidak halal. Tujuannya tentu mulia, yaitu untuk memuliakan manusia dan mencegah kerusakan-kerusakan yang dapat terjadi pada manusia itu sendiri. Sayangnya, pemahaman masyarakat kita sudah bergeser hingga memaknainya dengan perlakuan-perlakuan yang melanggar batas syariat. Ada yang menyebutnya pacaran, teman tapi mesra, kakak-adik, ataupun sebutan lainnya yang bermakna sama.

Banyak yang tidak menyadari bahwa hubungan pacaran merupakan hubungan yang dilarang dalam Islam karena perbuatannya termasuk pada perbuatan yang mendekati zina. Sebagian yang lain tahu bahwa pacaran tidak diperkenankan agama tapi mencari-cari alasan untuk memperbolehkannya. Bilang tapi kan...tapi kan.... Nah! Memang bukan anak muda namanya kalau tidak mencari alasan. Maka, buku ini juga hadir dengan menuliskan berbagai pergolakan batin yang terjadi pada orang-orang pacaran yang mencari-cari pembenaran pada tingkah laku perbuatannya beserta jawabannya. Bilang pacaran hanya cuma katakan sayang, cuma telepon, cuma pegangan tangan, dan berbagai cuma lainnya. Sering tidak disadari, banyak perbuatan berbahaya yang berasal dari kata ‘cuma’. Dan faktanya telah dipaparkan oleh buku ini dalam bentuk presentase remaja-remaja yang malah sudah beradegan dewasa. Nyatanya? Pacaran kemudian bukan menjadi tanda pelakunya sudah dewasa, namun malah membuat mereka jadi beradegan dewasa. Mengutip dari buku ini dikatakan bahwa pacaran memang tak selamanya berujung pada zina, namun semua zina berawal dari pacaran.

Jadi bagaimana? Udah, putusin aja! Itu solusi yang ditawarkan di buku ini sesuai judulnya. Putus disini merupakan keputusan yang kemudian jika dilakukan sudah berlandaskan pada pemahaman. Kalau jadi galau? Tenang, buku ini tahu juga jawaban dan solusinya. Lengkap dibahas dari naluri cinta sebagai fitrah manusia, poin-poin yang seharusnya dipikirkan untuk mengambil keputusan antara mana yang boleh dilakukan dan harus dihindarkan, solusi terbaik bagi yang sudah merasa siap, bahkan sampai mengulas sedikit tentang khitbah dan ta’aruf. Juga dibahas tentang rasa galau, bahkan dispesifikkan galau karena cinta, baik ketika harus meninggalkan aktivitas pacaran dan masih sering terngiang-ngiang maupun bagi yang merasa sudah siap menikah namun belum dipertemukan Allah dengan jodohnya. Satu lagi, buku ini membantu pembacanya untuk mempersiapkan diri mendapatkan pasangan dunia akhirat. Kalau sudah begini, siapa yang tidak tertarik?

Dengan cakupan pembahasan yang cukup luas, maka buku ini cocok untuk berbagai kalangan usia dan latar belakang. Cocok untuk yang pacaran, agar segera sadar sebelum terlambat, sehingga pisahnya karena Allah. Cocok untuk jomblo, supaya kesendiriannya karena Allah, bukan karena yang lain. Cocok untuk yang sudah menikah, agar dapat memahami bagaimana cinta karena Allah dan dapat menerapkannya dalam kehidupan. Cocok untuk ABG, dengan agar dapat paham dan jaga-jaga. Juga cocok bagi yang mau menikah, didalamnya dibahas mengenai ta’aruf dan tentang memilih pasangan.

Dengan visualisasi dan desain tata letak buku yang menarik, pembaca tidak akan bosan membacanya. Diselipi ayat-ayat Quran maupun kutipan hadits yang menjadi landasan isi buku ini juga fakta-fakta yang memperkuat pembahasan yang disampaikan. Juga ada komik-komik dan tulisan-tulisan berupa pergolakan batin yang pada umumnya seringkali terjadi. Di buku ini berbagai pergolakan batin tersebut akan mendapatkan jawabannya.


Segera baca bukunya dan putuskan, pilih yang mana, kesenangan dunia atau ridha Allah semata? Semuanya tergantung kamu :) !

via : http://secangkir-ramadhan.blogspot.com/2013/07/resensi-buku-udah-putusin-aja-memilih.html
dulu tulisan ini aku buat sekalian buat ngerjain tugas resensi yang ternyata salah (soalnya ternyata bukunya ditentuin). Happy reading !

Repost#1 : Marhaban Yaa Ramadhan

Gema Ramadhan sudah mulai terdengar saat bulan hijriyah memasuki bulan Rajab. Lewat doa Allahuma baarik lanaa fii rajab wa sya'ban wa ballighnaa Ramadhaan... orang-orang meminta kepada Allah agar disampaikan usianya sampai kepada Bulan Ramadhan. Siapa yang tidak mau berjumpa dengan Ramadhan? Bulan yang didalamnya dijanjikan begitu banyak kebaikan yang dilipatgandakan.

Orang-orang bersiap, dengan caranya masing-masing. Sebagian menyiapkan diri dengan cara meningkatkan amal ibadahnya agar kelak sudah terbiasa ketika Ramadhan tiba. Membiasakan tilawah dengan jumlah halaman yang lebih banyak dari biasanya, membiasakan merutinkan shalat rawatibnya, membiasakan mendisiplinkan shalat malamnya, membiasakan memperbanyak sedekahnya dan puasa sunnahnya, dan segala upaya membiasakan agar kelak ketika ramadhan tiba semua yang dibiasakan itu menjadi otomatis terlaksana.

Sebagian lagi juga bersiap. Menyiapkan rencana-rencana sinetron-sinetron dan segala macam hiburan yang akan ditayangkan ketika Ramadhan. Menyiapkan pakaian apa yang akan ikenakan ketika Ramadhan. Pembawa acara di televisi kemudian punya konsep busana baru edisi spesial ramadhan. Pun dengan banyak orang lainnya yang sering muncul di televisi. Ramadhan memang begitu besar pengaruhnya.

Semua persiapan itu pilihan. Dan tidak mempersiapkan juga pilihan. Karena kesuksesan Ramadhan bergantung pada persiapannya. Maka jangan ditanya mengapa jumlah khatam kita masih sangat sedikit ketika Ramadhan—atau jangan jangan malah tidak sampai satu kali pun. Tengok lagi persiapan kita. Sudah terbiasakah diri kita sebelum Ramadhan untuk memperoleh pertambahan capaian yang signifikan sehingga Kita kemudian menjadi terbiasa? Sementara Imam Syafi’i bisa mencapai 60x khatam Quran ketika Ramadhan diluar shalatnya.[1]

Maka mengapa Ramadhan selalu menggunakan kata Marhaban, bukan ahlan wa sahlan sebagai kata penyambutnya. Faktanya, para ulama tidak menggunakan ahlan wa sahlan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, melainkan marhaban. Ternyata, ahlan terambil dari kata ahl yang berarti "keluarga", sedangkan sahlan berasal dari kata sahl yang berarti mudah. Juga berarti "dataran rendah" karena mudah dilalui, tidak seperti "jalan mendaki". Ahlan wa sahlan, adalah ungkapan selamat datang, yang dicelahnya terdapat kalimat tersirat yaitu, "(Anda berada di tengah) keluarga dan (melangkahkan kaki di) dataran rendah yang mudah."

Sementara marhaban diambil dari kata rahb yang berarti "luas" atau "lapang", sehingga marhaban menggambarkan bahwa tamu disambut dan diterima dengan dada lapang, penuh kegembiraan serta dipersiapkan baginya ruang yang luas untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Dari akar kata yang sama dengan "marhaban", terbentuk kata rahbat yang antara lain berarti "ruangan luas untuk kendaraan, untuk memperoleh perbaikan atau kebutuhan pengendara guna melanjutkan perjalanan."

Marhaban ya Ramadhan berarti "Selamat datang Ramadhan" mengandung arti bahwa kita menyambutnya dengan lapang dada, penuh kegembiraan; tidak dengan menggerutu dan menganggap kehadirannya "mengganggu ketenangan" atau suasana nyaman kita. Marhaban ya Ramadhan, kita ucapkan untuk bulan suci itu, karena kita mengharapkan agar jiwa raga kita diasah dan diasuh guna melanjutkan perjalanan menuju Allah SWT[2]

Begitulah, maka kenapa disebut Ramadhan, karena peluang pahala yang luas dan tantangannya tentu tidak sahl atau mudah. Maka menyadarinya seharusnya menambah kesadaran kita untuk mempersiapkannya. Marhaban yaa Ramadhan, berkaca, kemudian bertanya pada diri sendiri, sudah siapkah saya menemuinya?




[1] Disampaikan oleh Ustadz Talqis Nurdianto, pada acara Tarhib Ramadhan Kluster Sains UGM, Jumat, 21 Juni 2013
[2] http://muhammadmawhiburrahman.blogspot.com/2013/06/arti-dan-makna-marhaban-ya-ramadhan.html

via : http://secangkir-ramadhan.blogspot.com/2013/07/marhaban-yaa-ramadhan.html

Repost

Repost dari http://secangkir-ramadhan.blogspot.com/ dari pada artikelnya sayang di blog itu karena emang harus dibuat blog baru buat ikutan lomba dan di peraturannya blog jadi milik panitia. Btw, tapi hak cipta artikelnya tetap pada saya kan? Hehe, di repost di blog ini dengan tetap mencantumkan sumber aja ya :) Meski kalo di repost dari jamannya Marhaban ya Ramadhan rasanya udah basi bangeeet -_- hehe

Ah, Ramadhan.... :")

Minggu, 04 Agustus 2013

Mencari

mencari kadang bikin sakit hati, meski sekaligus pada saat yang sama juga membuat terinspirasi.
nggak usah sakit hati sama langkah-langkah yang udah diambil.
jalani saja, pahami, lakukan selalu hal yang baik.

Semoga jawaban yang baik juga selalu menyertaimu.

#catatan random blogwalking, tumblrwalking, kepoanakbaruwalking, dan lainnya. sadar banget diri ini masih kedepak jauh banget di pinggir jalan.