Senin, 22 Mei 2023

 Nulis buat project geng blogger IAIC, susah ya ternyata. Banyakan nostalgianya. 

Sabtu, 11 Februari 2023

Persiapan ujian. Obrolan kuliah masa lalu. Lalu sedih. Sedih banget rasanya. Tak lama hujan datang.


Kadang-kadang rasanya sendiri, padahal rahmat Allah sungguh banyak berdatangan tanpa henti. 


Dan jadi menyadari tentang masa yang ternyata ingin aku skip itu rupanya semacam belum ada penerimaan, haha. Bisa begitu rupanya. 

Jumat, 13 Januari 2023

 Rasanya belum pernah sampe beneran nangis berusaha nulis cerita anak. Kadang aku mikir, bu Eva (vavaynoe) kalau nulis naskah ini gimana ya? Bakal cerita apa ya? 

mixed feeling banget emang ketika lihat banyak buku baru hadir, dan aku rasanya masih merasa terperangkap oleh hal lain, there is no me in ramadhan book, no me in that publisher book, dan ngeliat bu eva aku sangat memanggil kenanganku dari 2014 daftar litara. hahaha bocah emang. 


Bingung sering, tapi ini kayak patah semangat, huhu. 

Bersyukur.  Bersyukur. Bersyukur. 

Sabtu, 08 Oktober 2022

Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik?

 Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 1)

Secara pribadi, saya tertarik dengan ilmu dan topik parenting sejak duduk di bangku kuliah. Meski entah kapan prakteknya, tapi ya tertarik saja. Menurut saya menarik sekali mempelajari sebab akibat atau akar dari perilaku anak. Atau misal perilaku dan respon yang seperti apa yang bisa menumbuhkan anak tumbuh sesuai fitrahnya, mencintai Allah dan rasulnya, menjadi individu yang utuh, merasa cukup dengan dirinya dan mengetahui peran kehidupannya selama di dunia dan menjalaninya sebagai tujuan kebermanfaatan penciptaannya. Berat? Yah ambillah satu saja, menumbuhkan ank yang pandai mengatur emosi, saja dulu. Untuk menumbuhkan seorang anak yang sampai dewasa mampu meregulasi emosinya, nggak kabur kalau ada masalah atau berlebihan nangisnya, itu rupanya nggak sederhana. 

Suami saya pernah mengatakan, suatu ketertarikan pada belajar tumbuh kembang anak adalah suatu privilese, karena tidak semua orang memiliki ketertarikan terhadapnya. Waktu mendengar kalimat itu, saya cukup kaget karena tidak menyangka seistimewa itu posisi mempelajari tumbuh kembang anak dengan serius. Namun seiring berjalannya waktu, saya makin menyadari mengasuh sangat butuh ilmu. Bagaimana ayat-ayat Al Quran yang terkait dengan pengasuhan, optimalisasi tumbuh kembang, bahkan kebutuhan gerak anak aja ternyata ada teorinya. Ini soal kebutuhan anak yang wajib dipenuhi orang tuanya, bukan sekadar cuma ikut-ikutan atau biar anaknya seneng.

Saya pernah memprediksi kalau urusan alasan pengasuhan saya pada Kaisa itu akan ditentang orang atau minimal dikomentari yang kurang lebih begini, "Dulu juga neneknya ngga begitu tapi anaknya pada sukses, ada yang  jadi dokter juga." atau "Dulu juga neneknya ngga begitu anaknya 'jadi' semua." atau "Dulu nggak pake teori-teori dan nggak aneh-aneh, sekarang juga anaknya pada berhasil." Yha, dan kejadian juga rupanya.

See, orang umumnya melihat tujuan pengasuhan adalah menjadikan anak yang berhasil dalam kacamata umum. Entah menjadi dokter atau ahli IT, businessman atau ustadz, penghafal Quran, masuk kampus terbaik, dapat kerja bonafit.

(lanjut di postingan setelah ini)


Apa yang dikatakan sebagai sukses mendidik? (Bagian 2)

Tidak pernah ada apresiasi untuk mereka yang mampu mengelola emosinya dengan baik, yang mengenali apa keinginannya dan mampu mengambil keputusan tanpa takut apa kata orang, yang bisa mengendalikan dirinya, yang memahami minatnya dan ingin berkontribusi dengan jalan yang ia yakini (dalam batasan syariat tentunya), yang terus menjadi pembelajar bahkan sammpai sudah tua kelak (iya kan? Bukannya lebih cepat mencap orang sukses karena kerja daripada dibandingkan yang senang sekali belajar). 

Kadang tuh rasanya kayak kita tuh berjuang banget lho tidak mengiyakan semua keinginan anak, tidak cepat membujuknya dengan 'nanti ibu/ayah sedih lho biar nggak jadi people pleasure', melatih urutan makannya anak biar misal cemilan atau susu nggak dekat sama jam makan, dan mengerem semua komentar atau pertanyaan saaat anak sedang asyik-asyiknya bekerja dan mengobservasi. Dan untuk itu semua, jalannya jauh dan seringkali memutar, bos. Karena ngasih iming-iming, ngasih ancaman bahkan sekecil nanti ibu sedih kalau kamu ngga makan, atau langsung kasih hal yang diinginkan pas anak udah mewek memang jalan pintas.

Tapi lagi-lagi karena ilmu, kita berusaha lagi dan lagi. Dan kadang orang dengan mudahnya memotong itu semua dengan dalih, dulu juga nggak pake teori-teorian sekarang anaknya 'jadi' tuh rasanya nggak enak banget ya ternyata. Memang kita butuh lingkungan untuk membesarkan seorang anak, it takes a village to raise a child. Tapi lebih butuh lagi ilmu, keteguhan hati, dan keyakinan serta terus memohon pada Allah buat dikuatkan di seluruh prosesnya. 

Peluk buat semua orang tua yang mau belajar dan terus mengiringi penngasuhan dengan doa dan tawakkal terbaik. Kalian luar biasa :")

Sabtu, 10 September 2022

Seminggu ini, 10 Sept 2022

Seminggu berlalu, kadang rasanya jadi cepat sekali. Sabtu lalu maraton di RS, antrinya super rame. Kaisa passien ke-34 dan perlu cek lab. Pulanglah kami sampai rumah jam 11.15 malam Alhamdulillah so far kondisi Kaisa sebenarnya baik-baik saja. Sedikit bapil dan nafasnya agak grok-grok serta BBnya stuck, entahlah apa benar ini permasalahan sejagat raya ibu-ibu anak usia dini: BB seret.

Aku juga berobat, Hilmy juga kepikiran berobat, dan akhirnya wkwk.

Hari itu melelahkan rasanya. Sampai RS sepi dan petugas lab nanya kenapa malam sekali ke dokternya. Lha kami dari setengah 5 di sana. Petugas lab sampai bilang, wah ini hampir satu shift. 

Sepekan berlalu. Aku mengerjakan draft yang masih sama. Hilmy yang kehabisan ide ajak main Kaisa akhirnya pergi dan rencana nginap ke nenek kakeknya Kaisa, tanpa aku. 

Tapi sore ini rasanya sepi dan mewek juga ditinggal. Padahal biasanya gak kayak gini. Seminggu lalu meluk Kaisa di penghujung malam di rumah sakit karena dia kecapekan (tentu saja), dan Hilmy harus menghadapi antrian kasir yang melelahkan. Alhamdulillah semua dimudahkan. 

Ditambah badan yang agak gak enak, mau tidur gak bisa, cuaca dingin, dengar lagu tutur batin dan lihat ucapan-ucapan seputar meninggalnya Reza Gunawan. Rasanya keluarga jadi apa ya, berasa banget the important thing in our life, yang ssejujurnya akhir-akhir ini aku rindu ssekali menikmati waktu bersama banyak orang. Karena begitu aku ada waktu kadang jadi fokus sama seluruh hal yang harusnya kukerjakan sebagai kewajibanku dengan instansi, yang sulit kukerjakan kalau aku pegang Kaisa. 

Kemarin kajian offline tentang pendidikan bareng Growtheseed. Dapet inssight menarik yang bikin mikir dan mewek seputar bagaimana para ilmuwan dan ulama terdahulu justru menemukan ilmu-ilmu lain karena kebutuhannya mempelajari dan memahami Al-Qur'an. Bahkan ilmu bahasa kayak nahwu, sharaf, balaghoh, dsb itu lahir karena keperluan mempelajari tafsir Al-Qur'an. Muqaddimah kitabnya Aljabar bercerita kalau ilmu ini lahir dari kebutuhan mempelajari waris, yang akan sulit kalau disimbolkan dengan angka romawi. Juga ilmu falak, bagaimana para ulama yang berdakwah sampai jauh harus tahu waktu shalat, dan ke mana arah kiblat. Halo, saya ada di mana?

Masya Allah ya, zaman dulu itu semangatnya karena masalah fardhhu ain, karena kebutuhan memahami Al-Qur'an, jadi munculnya bidang baru yang fardu kifayah. Yang kalau ga ada yang memahami ya jadi dosa juga buat orang muslim. 

"Di akhir kita harus tentukan, mana yang fardhu ain untuk anak kita, dan mana yang fardhu kifayah buat anak kita. Kalau anak kita belajar fardhu kifayah, jangan sampai melebihi fardhu ain dan atau tidak memberi nilai tambah buat fardhu ainnya. Contoh, apakah kalau belajar data sains, seseorang akan makin wara'; makin beirman atau tidak, makin takwa atau tidak, shalatnyaa bagaimana, lebih baik atau tidak?"

"Kita itu sering ga adil sama agama, kalau ilmu duniawi, kita rancang dari dasar sampai kuliah. Tapi kalau ilmu agama, ya kita ke taklim, denger yutub, podcast, dsb. Kita bingung menyusunnya kayak apa, 10 tahun berlalu mungkin kitab bisa mengukur ilmu apa yang nambah, tapi coba kita refleksi soal diniyah kita dari segi ilmu atau amal apakah bertambah?"

"Produktif itu harus dikaitkan dengan amal shalih, segala sesuatu yang tidak menemani kamu sampai akhirat, itu duniawi" -Al Ghazali

Lalu kemarin sore pulang naik motor, kena hujan. Kayaknya udah lamaaa banget ga pulang abis maghrib dan kena hujan kayak gitu. Sampe mikir apa terakhir kuliah ya? Terus kepikir lagi ah mungkin sebelum nikah ya, wkwkwk.

Sesorean inget Kaisa, inget Hilmy. Walau kadang rempong tapi kangen juga celoteh Kaisa, wkwk. Sehat-sehat kalian semua, ya. Sayang selalu <3.