Senin, 13 Oktober 2025

Tidurnya Ibuk

Aku melihat ibuku tertidur di waktu yang biasanya ia sibuk. Biasanya, waktu itu adalah masa beliau rapat. Lepas dari amanah yang membuatnya harus rapat, beliau mengurusi pernikahan adikku. Lepas nikahan adikku, masih harus urus bolak balik ke rumah sakit karena menantu barunya demam berdarah. 

Waktu kadang begitu jahat kepada para ibu. Meski kutahu mereka tak pernah berpikir begitu. Aku hanya coba saja mengetikkan diksi yang kupilih agar drmatisasinya lebih terasa. Karena kuyakin, seluruh waktu ibuku lebih banyak digunakan untuk memikirkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. 

Demi melihat ibuku terlelap tanpa niat. Mendengkur pelan serupa melepas kelelahan. Aku terharu tanpa tepi. Hanya tidur siang sejenak di waktu yang hampir mustahil kusaksikan beberapa tahun terakhir, membuatku mengenang banyak hal yang sudah terjadi di perjalanan ini. Meski aku sering merutuk tersebab waktu luang yang sulit karena mengurus anak kecil, rupanya istirahat ibuku juga jarang menjelma nyata. 

Istirahat Ibu, tubuhmu membutuhkannya. Sejenak saja, bukan? 

Sabtu, 11 Oktober 2025

OST Kehidupan

Di perjalanan pulang, rasanya kepala terngiang beberapa soundtrack yang aku ingat betul kejadiannya apa, momennya apa, dan perasaannya gimana. Sakitnya, sedihnya, nangisnya. Terus aku menyadari juga bahwa banyak banget momen yang aku biarkan hilang tanpa kenangan lewat tulisan. Meromantisasi momen kayak bukan keahlianku lagi. Rasanya hidup mendewasa terutama setelah berkeluarga kayak lebih bak bik buk dan tanpa jeda. Ga ada waktu buat mengukir kenangan meski memang yah...sekadar nulis di blog doang kayak dulu-dulu. Somehow, kalau dipikir-pikir mungkin itu sebenarnya katarsis atau ya membantu saya dalam memproses banyak hal. Di kehidupan mendewasa (dan sudah beranak) ini, hidup jadi terburu-buru dan kayak ga ngasih waktu buat memproses banyak hal 

1. Kukira, kita kan bersama... (lupalah lirki lengkapnya, ga deng, lirik banyaknya karena emang jelas aja ku ga pernah apal lirik lengkapnya), ini lagu tulus yg hits di 2022. Entah hits atau baru launching, ngga peduli-peduli amat juga. Tapi lagu ini ngingetin aku pas lolos dan ikut workshop daringnya Let's read x Litara. Kak Aldi sang host setia memutar lagu ini kalau lagi nunggu peserta zoom kumpul, ice breaking, etc. Sampe sekarang, denger lagu ini bukan cuma inget momennya, tapi inget nyeseknya karena aku gak lolos tahap selanjutnya. Uh, sedih banget masa-masa itu. Sampai sekarang jg masih sedih kalau inget, sekaligus bertanya-tanya, kapan ya bisa dapet kesempatan itu lagi dan lolos sampai booklab dan launching buku di Let's Read/Litara/Literacycloud? 

2. Anakku, ingatlah semua lelah, tak akan tersia...(ost jumbo)
Kayaknya bukan larik ini persisnya, tapi diriku udah ga mau meres otak lagi mengingat lirik baris yang mana. Aku nangis waktu denger anak-anak sekolah K nyanyi lagu ini di parade. No, bukan karena lagunya terharunya etc. Tapi lagu ini dinyanyiin tgl 21 Juni, meanwhile tanggal 19 aku baru saja ketolak LPDP.
Bukan ketolaknya yang bikin sedih, tapi mengingat bahwa demi memperjuangkan LPDP aku merasa banyak ngorbanin sesuatu termasuk hal-hal dan momen-momen sama Kaisa, termasuk pengorbanan mental, emosi, etc. Ga mudah banget menerima kekalahan dengan tahu harga yang harus dibayar soal momen dengan keluarga tuh sebesar dan seberat itu. Dan ini sefrekuensi banget sama Evi pas kita ngobrol, dia juga ada perasaan bersalah ke anak-anaknya. Tenryata ga gw doang dan ternyata ya valid ngerasa bersalah ke anak. Ga nyangka kegagalan ini justru membawa perasaan sedih yang ke arah sana. 

Kedua, kesedihan gw dengan lagu ini adalah gw membayangkan ketika kelak K tumbuh dan mengalami kegagalan demi kegagalan. Yah, namanya manusia pasti ada aj kan momen gagalnya. Gw tahu rasany apatah hati gagal LPDP dengan semua effort udah sebegininya, gimana dengan nanti ketika gw melihat anak gw gagal dan sedih. Orang bilang, orang tua tuh lebih sedih ketika liat anaknya gagal. I can't imagine tapi menurut gw valid sih. Even we believe that it is a development moment buat bocah, tapi yah namanya ortu, pasti pengen anaknya baik-baik aja, ada di jalan yang mulus, meski ga denial juga bahwa proses gagal itu menumbuhkan. Gw ga nyangka bakal nangis pas denger anak-anak sekolaan nyanyiin lagu jumbo, ah bahkan nulis ini aja rasanya pengen nangis. 

3. Ruangbaca banyak sih lagunya
Entah ya, gw rasanya ga bisa bilang kecintaan gw pada dunia membaca, literasi, menulis etc mengantarkan gw pada pertemuan dengan Ruangbaca. Gw sadar kesadaran literasi gw blm sebanyak dan sekaya itu. Pas inget ini aja gw langsug inget circle AAS (padahal blm ketemu) yang keren-keren dan gw dengan asalnya mikir, mereka mungkin liat gw yg menekuni dunia menulis amaze, tapi gw yg udah liat kolam para penulis jiper parah coy karena gw masih sejauh itu sama mereka (mana ngide lagi pake S2 segala, ngapain sih Fit?). Yah intinya tapi gw ketemu Ruangbaca di 2019 dan itu termasuk playlist yang sering gw dengerin saat mau nikah. 
di perhentian, dan menemukan perjalanan, yang kau tahu ... dengan hal-hal yang kau tahu (aneh banget padalah tadi di perjalanan inget liriknya terus sekarang buyar wkwk)

Yah itu dia. Rada aneh sejujurnya menemukan diri gw ngeblog lagi, ngasal dan random lagi, mengingat masa lalu lagi. Bisa ditebak gw lagi banyak problem hahaha. Sekarang lagi tren 10 buku to know me, entah malah tadi di perjalanan gw mikirnya playlist/song to know me. Abis itu w sedih karena kenapa sih diriku ingetnya lagu bukan hafalan quran huhu. 

Yaudahlah see ya bye makasih banyak ~

Rabu, 24 September 2025

Insecure + Inferior

 Kehidupan bergerak, berjalan, beserta orang-orang yang kulihat hebat-hebat. 

Tapi dari dulu rasa-rasanya mimpiku sama. Menjadi penulis dan editor, yang karyanya disenangi anak-anak. Sekarang ketika sudah lihat dunia yang luas sekali soal itu, mimpinya jadi bertambah. Pengen dapet penghargaan (bukan sekadar materi atau penghargaannya, aku rasa ini memang karena ingin punya karya yang benar-benar disuka banyak orang), pengen bisa ke mana-mana bahkan keliling dunia karena buku, pengen bisa meneliti sesuatu yang terkait sama buku anak (dan jujur gatau ga kebayang caranya since aku ga ada background pendidikan soal ini).

Jujur insecurenya ada banget. Di antara semua penerima beasiswa, kayaknya cuma aku yang minat ke bidang nulis buku anak (plus editing translating publishingnya), udah gitu skor ielts kurang pula. Rasa-rasanya kayaknya cuma aku yang  ibu rumah tangga dan kerjaannya freelance/part time as ada proyek aja (yah meski mungkin ini juga karena belum ketemu penerima jalur ETG yang lain). Rasa-rasanya kesiapan lanjut sekolahku cemen banget. Yah gitulah, feel inferior. Rasanya pengen escape maraton drakor aja, huft.

Ditambah segala hal yang kayak bikin makin insecure. Gak deng, bikin makin pengen growth (kayak orang-orang, padahal mah ya tiap orang punya jalannya masing-masing). 

Sejak kapan aku nulis? Seserius apa aku nulis? Somewhat yang gue tanyakan tapi gue gantung jawabannya. Aku mebayangkan wajahku di korcil Republika 2004 silam. Senyum, pakai seragam pramuka. Hal-hal yang terasa kecil dan ga ada apa-apanya dibanding orang-orang/ Tapi, lagi-lagi, kenapa harus dibandingin? 

Kadang gue takut bagaimana kehidupan di depan sana. Di saat yang sama ada orang-orang yang gue wondering pengen kalau nanti jadi kayak mereka. Huft, hidup, hidup. 

Somehow, perih rasanya tahu mimpi itu kayak jauh, dan lama. Kayak tertinggal, dan sendirian. Padahal ya ... gak gitu-gitu amat. 

Nangis aku, jadinya aku nulis ini. 

Momennya lagi ada iibf, promotor sastra, penghargaan buku anak, liat cll clmce baru mulai tahun ajaran, liat anak cll clmce presentasi di negara mana-mana.