Minggu, 23 Juli 2017

Kapan Waktu Terbaik Memulai Puasa Daud?

Saya baru tahu praktik puasa daud waktu di Insan Cendekia. Sebelumnya, saya tahu secara teori namun belum pernah tahu ada yang mempraktikannya. Di Insan Cendekia, saya mulai melihat orang-orang yang memulai puasa daud (maupun meneruskan kebiasaan shaumnya sejak sebelum masuk IC).

Singkat cerita, Bu Evi, wali asrama putri angkatan saya ketika itu pernah berkata.
"Kalau mau mulai puasa daud, waktu yang paling baik itu, setelah selesai puasa Ramadhan. Karena saat itu perutnya sudah terbiasa dengan ritme puasa."

(baca:tentunya setelah menyelesaikan tanggungan hutang Ramadhan dan menuntaskan syawal).

-edisi tetiba ingat karena besok sudah penghujung syawal
Terima kasih, Bu Evi :)

Rabu, 19 Juli 2017

19-7-2017:This Night Vibes❤

Sudah lama menunda menulis. Kadang takut orang berprasangka. Kadang takut orang berlebihan mehgira-ira. Kadang pingin nuangin apa yang udah jadi draft berpekan-pekan lalu. Kadang sesederhana tidak menyediakan waktu. Maka, untuk merayakan dua postingan ini, instead of saya pos di igstory atau wastory, ditaruh sini saja, ditaruh rumah.




Halo, apa kabar kalian semua?

Selasa, 11 Juli 2017

Di Stasiun (Cibinong)


Stasiun Cibinong, sebagaimana stasiun-stasiun lainnya. Menyimpan banyak cerita. Tentang berpindah. Tentang pergi dan kembali. Tentang peluk-tangis-berpisah. Tentang perjuangan pagi-pagi. Tentang berebut antri keluar dari loket tiket. Tentang banyaknya penjemput yang mencaricari. Tentang gelisah protes orangorang yang penjemputnya belum sampai. Terlebih, tentang kontemplasi.
Stasiun ini sebenarnya sudah lama. Baru beroperasi kembali sekitar 1-1,5 tahun terakhir, kalau tidak salah. Terakhir dulu waktu saya awal-awal SD. Selebihnya, karena tidak dipakai, maka dinikmati sebagai tempat jalan-jalan : jalan habis sahur, ngabuburit, atau ahad pagi sebagai pemuas penasaran anak-anak kecil yang ingin tahu bagaimana rupa kereta tapi belum pernah mengindaranya langsung dengan mata. Maka cukuplah rel menuntaskan penasarannya.

Stasiun ini kecil. Tak punya kedai roti rasa kopi, minimarket, atau penjual roti maryam. Bahkan mesin atm satupun ia tak punya. Pekarangannya yang dulu terbengkalai sering dipakai main bola-bahkan sampai sekarang. Satu dua kali ada orang belajar motor di sana. Parkiran hanya bisa menampung motor dan itu pun akhir-akhir ini. Tidak ada parkiran mobil sama sekali. Tidak dilalui angkot di depannya. Depan stasiun ada dua sekolah dasar sehingga ramai abang jualan. Dari jualan jajanan sampai makan besar. Ada saja yang jualan dari jam jual abang bubur pagi-pagi sampai pecel lele kala malam.

Stasiun ini menyenangkan. Setidaknya bagi saya yang cukup menempuhnya hanya dalam bilangan rerata 10 menit berjalan kaki dari rumah. Kadang kurang, kadang pula lebih. Walaupun jalannya menanjak. Tidak apa. Tapi bisa mengantar kemana-mana. Meskipun jadwalnya masih terbatas; hanya 9x satu hari. 

Di stasiun suatu ketika, seorang anak perempuan dilepas ayah bundanya. Bawaannya memperlihatkan ia hendak pergi ke tempat yang jauh karena tasnya yang besar dan berjumlah dua. Orang tuanya memeluk lekat-lekat. Erat. Dua satpam menelan ludah. Amboi, betapa lamanya dirnya tidak dipeluk lekat-lekat oleh orang tua. Wajahnya menyiratkan rindu yang tak terkira. Stasiun, sebagaimana biasanya, selalu melukiskan pisah dan jumpa, antar dan jemput, temu atau lalu.

Di stasiun suatu ketika, seorang nenek bingung bagaimana tiket kartu bekerja. Maka petugas membantu dengan sukarela. Rombongan keluarga kerepotan hendak pergi ke rumah saudara. Petugas membantu dengan sukarela. Berulangkali orang bertanya memastikan arah. Maka sebanyak itu pula petugas menjawab. Di atas itu semua, barangkali hati petugas sering juga membatin: kapankah aku bisa ajak orang tua di kampung coba kereta antar kota? Kapankah bisa bersama berlibur naik kereta antar kota? Kapankah aku memijak tempat-tempat yang tadi ditanya.

Orang-orang terburu. Memenuhi loket keluar untuk segera mencapai tujuannya masing-masing. Ada yang ingin bergegas shalat karena tadi kereta berangkat persis waktu azan. Ada yang ingin lekas mampir beli oleh-oleh untuk buah hati: sekadar jajanan SD yang masih ada di dekat sekolah. Ada yang menunggu temannya. Ada yang ingin segera melepas penat di rumah. Ada yang ingin buru-buru melepaskan segala tumpah ruah pikiran dan perasaan di sudut ruang ternyamannya.
Cerita-cerita itu barulah yang tertampak mata. Runyamnya hati orang-orang disana tentu jauh lebih banyak. Berbagai pikiran memenuhi benak, mengisi ruang hati. Ada yang menimbulkan sesak, ada yang menaburkan bunga. Ada yang ingin dipendam sendirian, ada yang ingin segera diceritakan. Ada yang menyebabkan diam, memilih duduk lama di pinggir. Ada yang memburu-buru harus segera sampai.

Stasiun (Cibinong) selalu menyimpan banyak cerita.

Stasiun Cibinong,
17.17
11-7-17
*tanpa rekayasa waktu



Senin, 10 Juli 2017

Sepuluh Kebaikan

Saya menemukan ayat ini di Quran. Lalu, saya ingat postingan lama di sini. Waktu itu nggak nemu ayat ini jadinya pake ayat di Al Baqarah yang tentang sedekah.
Sekalian saya repost di sini. Postingan ini 2014 (meskipun lupa kejadian eksaknya lebih lama lagi). Kala itu umur Fatih barangkali 5 tahun lebih sedikit.
Matematika Kebaikan
Di rumah, Ummi pernah ngajarin Fatih kalau berbagi itu akan dapet 10 kebaikan.
Sampai pada suatu hari Ummi gorengin bakso buat Fahri sama Fatih. Bakso yang digoreng ini ukurannya masing-masing dipotong dulu, jadi per buah udah ukuran 1/2.
Kemudian bakso jatah Fahri udah habis. Sedangkan Fatih belum. Sisa empat buah (bakso ukuran 1/2) di piringnya.
Ummi : "Fatih udah nggak mau?"
Fatih : "Enggak, Mi."
Ummi : "Kasih Mas Fahri, ya?"
Fatih : "Yaudah deh Mi buat Mas Fahri aja."
Ummi pun udah mau ngasih baksonya buat Fahri, sampai kemudian Fatih ngomong lagi.
Fatih : "Dipotong-potong dulu deh Mi baksonya. Satu-satu dipotong-potong jadi dua aja." *(jadi ukurannya masing-masing 1/4 maksudnya)
Ummi : "Lho, kenapa ? Fatih masih mau?"
Fatih : "Enggak, Mi. Biar Fatih dapet pahalanya delapan puluh." *ngebayangin wajah polos anak ini
Ummi senyum, jelas gemes banget sama anak ini.
Ini cerita udah lumayan lama. Saya sendiri diceritain pas liburan kemarin. Jadi dalam kenyataannya mungkin redaksi kata-katanya ada yang beda, tapi insya Allah inti ceritanya tetap sama.
Mungkin Fatih emang itung-itungan jadinya, tapi secara logika, walapun masih kecil, Fatih ngerti kalau makin banyak berbagi, maka kita akan semakin banyak dapet kebaikan dari Allah. Meski ya emang aplikasinya kelihatannya kecil banget, cuma bakso yang kalo dipotong-potong lagi pun nggak akan nambah total pemberiannya.
Hayo, kita yang udah gede dan ngerti prinsip berbagi yang dijanjiin Allah ini, masih suka pelit dan perhitungan nggak?
"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al Baqarah : 261)
btw, mungkin dengan mengajarkan hal seperti ini belajar Matematika buat anak kecil akan terasa lebih menyenangkan #eh #salahfokus
Renungan buat diri sendiri juga
kangen kamu, Dek :')

Al A'raf : 23; Doa

Untuk yang belakangan terjadi dan terpikirkan :"

pas banget buka, pas banget ayat ini :"

Stasiun Cibinong, Kereta Nambo-Angke