Kamis, 05 November 2020

Paling Berkesan dari Materi Disiplin Positif

Materi yang paling berkesan dari modul Disiplin Positif adalah waktu aku baca di buku bagian Hukuman vs. Konsekuensi. Rasanya abis baca bagian itu pengen berhenti dan membagikannya ke siapapun juga. Bahkan sampai berhenti bacanya dan corat coret outline mau ngeshare dalam bentuk apa *tapi belum berlanjut sih hiks. Aku saat itu merasa, setiap orang harus paham ini. Paham bahwa pemilihan kata-kata itu sangat ngaruh terhadap efek kedepannya. Bahwa jangan-jangan saat emosi marah dan kesal dominan, yang terlontar dari mulut ini emang malah ga bisa bikin anak tenang dan punya dampak negatif berkepanjangan.⁣

Aku belum punya anak yang sudah bisa merajuk atau gak nurut, karena Kaisa masih bayi 2 bulan sekian hari. Tapi dari materi ini aku belajar banyak soal motivasi internal dalam diri anak-anak yang sangat besar untuk belajar, bereksplorasi, dan semangat mencoba hal baru, yang murni dari dalam dirinya. Orang dewasa di sekitarnya lah yang bisa jadi mematikan semangat belajar dari dalam diri anak-anak karena iming-iming hadiah sebelum melakukannya. Aku juga belajar soal konsekuensi yang sangat berkaitan dengan kesalahan dengan memberi refleksi dan pengalaman belajr, jauh dari hukuman yang justru malah menimbulkan kesan negatif bagi anak-anak sampai kelak dewasa di masa mendatang.⁣

Kalau pengalamanku kecil, aku tidak terlalu ingat sih. Yang aku ingat di cerita adik-adikku dan ternyata mirip-mirip sama adik-adik suami di keluarganya. Ini hal yang pernah saya tanyakan juga saat sesi live pelatihan keluarga kita. Adik-adik saya dan adik-adik suami saa-sama pernah dimotivasi orang tua untuk menulis. Setiap tulisan atau setiap halaman dihargai sekian rupiah. Di adik-adik saya, ini memotivasi untuk memperbanyak portofolio mereka. Di keluarga suami, bahkan adik-adiknya berhasil punya beberapa buku yang diterbitkan salah satu penerbit mayor di Indonesia.⁣

Saya dan suami kemarin sama-sama penasaran, apakah dalam rangka mengenali potensi serta minat bakat anak, boleh diberi motivasi eksternal agar ia memperbanyak jam terbangnya sehingga makin mengasah kemampuannya. Ternyata di bahasan kemarin, sebenarnya tujuannya bagus, dan mungkin kalau anaknya oke oke aja suka dengan kegiatannya gakpapa, tapi kalau anak gak suka berarti ada apa-apa. Tapi coba cari cara lain dulu nih gimana agar anak produktif berkarya dan menikmati karyanya. Nah dari sini ada poin yang kami dapat, bagaimana agar anak menikmati karyanya dan juga prosesnya itu. Jadi bekal untuk ayah ibunya buat pinter-pinter cari cara gimana biar kami bisa sangat mengenali potensi anak tanpa perlu memberi iming-iming di awal dengan janji. Begitu pula yang kami sepakati ke keluarga besar nantinya. Bismillah.⁣

Kalau dari pengalaman adik-adik kami waktu itu yang saya tahu, mereka tidak merasa terbebani malah tambah senang sih. Tapi kami sama-sama setuju untuk tidak lagi memakai cara itu untuk mengiming-imingi di awal. Kami sepakat untuk boleh saja memberikan hadiah sewaktu-waktu anak kami kelak menghasilkan portofolio-portofolio karyanya, tapi juga akan tidak memberikan apa-apa agar kami melihat dan mengenali, seberapa nikmat anak kami melakukan kegiatan yang disenanginya, tanpa hadiah apapun. Pun yang kami pelajari juga dari sesi pelatihan adalah contoh case melakukan amalan sunnah di usia dini. Kami mau coba untuk beri tahu pada keluarga besar bahwa anak-anak kami tidak diberi iming-iming untuk melakukan amalan seperti shalat dhuha, puasa senin kamis, dsb. Pada usia dini, mereka cukup dari melihat teladannya yaitu ayah ibu mereka dan diajak banyak ngobrol terkait amalan tersebut hingga akhirnya mereka mau melakukannya dengan keinginan dari dalam hati mereka sendiri.⁣⁣

#DisiplinPositif #MencintaiDenganLebihBaik⁣


Rabu, 04 November 2020

Worry and Prayer

Worry is a conversation you have with yourself about things you cannot change.

Prayer is a conversation you have with God about thungs He can change.

-foto profil Kak Laili, ibunya Ayyash sama Hanna 

Sabtu, 31 Oktober 2020

Ibu-Anak; Anak jadi Ibu-dan Punya Anak


Bun, kalau saat hancur ku disayang⁣
⁣Apalagi saat ku jadi juara⁣
Saat tak tahu arah kau di sana⁣
Menjadi gagah saat ku tak bisa

 Lagu ini, lagi.

Tapi kali ini bukan tentang komentarnya. Tentang liriknya.

Entah kenapa dua hari ini bisa nangis kalau dengernya. Kadang lagi merasa rapuh sekali jadi diri sekarang ini. Auto dalem hati, lu kok cerita di sini yg sedih mulu sih fit? Kemarin mau nulis hal yang ga sedih tapi ya ketiduran lah apa lah. Tapi intinya, seperti media sosial yang sering kalian lihat lainnya, tidak ada media sosial yang bisa menunjukan kehidupan seseorang secara persis.

Masih nangis detik nulis ini.
Mulai dari Ummi.
Yang cintanya utuh setengah mati. Yang kuatnya tidak pernah bisa dikalahkan siapapun di rumah. Yang baiknya aku yakin akan memesona siapa saja.
Di buku ungu yang aku baca (males ngambil buat ulis ulang judulnya karena panjang dan bahasa inggris dan ga apal), di bab bab awal ada yang judulnya, Ma, Bagaimana Engkau Melakukannya? Berkisah tentang seorang anak yang udah jadi ibu dan dia masih sering wondering dan bertanya (aku bayanginya bertanya mengarah ke langit) "Ma, bagaimana dulu kau melakukannya?" setiap si ibu ini rungsing dengan kerjaan rumah. Meanwhile dulu ibunya adalah ibu dengan anak (kalau ga salah) berjumlah sebelas. Yah, kebayang lah ya. Eh salah, gak kebayang ding.

25 tahun hidup, jelas sering ngerepotin ummi. mau masih piyik ga bisa apa-apa, kecil yang mungkin belum paham kenapa diminta ini itu sama orang tua, beranjak remaja yang moodnya labil sebagaimana abege pada umumnya, bahkan nikah dan punya anak pun, masih sangat bergantung sama ummi.

Kalau sekarang beredar akun akun atau platform platform tentang kesehatan mental ibu, aku bahkan bertanya ke diriku sendiri danpernah tanya padanya, apakah ummi punya waktu buat diri sendiri? 

Kalau aku kesel, kalau aku runyam, kalau aku merasa aku ga guna dan ga produktif, aku jadi kembali bertanya juga seperti kalimat tadi. Apa ummi pernah begini? Misal aku kesal sama suami, mersa capek dan pengen nyerah ngurus anak, ingin diperhatikan dan diakui, merasa malas suatu waktu karena ingin mengerjakan hal lain, aku bertanya, ummi akan apa kalau di posisi ini?

Aih, ya Allah :"

Sedikit ku jelaskan tentang ku dan kamu⁣
Agar seisi dunia tau⁣
Keras kepala ku sama denganmu⁣
Cara ku marah cara ku tersenyum⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Aku masih ada sampai disini⁣
Melihatmu kuat setengah mati⁣
Seperti detak jantung yang bertaut⁣
Nyawaku nyala karna denganmu⁣
Bun aku masih tak mengerti banyak hal⁣
Semua nya berenang di kepala⁣
Dan kau dan semua yang kau tau tentangnya

Terlalu banyak kalau aku deskripsikan satu-satu. Aku takut tangisnya ga selesai karena tulisan ini belum selesai.



Kedua tentang Kaisa.
Usia dua bulan mungkin yang selama ini rasanya udah banyak dipelajari, tentang rutinitas nyuci popok, mandiin, ilmu nyusuin, ilmu gendong dan nyari gendongan, ilmu perclodian, dikit-dikit bocoran tentng mpasi, perkembangan motorik fisik dll dsb. Bahkan buat aku, nyari baju dia di marketplace aja butuh ilmu dan kesabaran panjang. Mohon maaf kalau lebay.

Nyatanya masih jauh yang harus dipelajari lagi. *tariknafaspanjang
Kadang kalau merasa gagal, merasa kesal, merasa kecewa, aku bahkan ada waktu-waktu pengen menyiksa diri. Kadang merasa seburuk itu aku jadi orang. Kadang kalau kecapean mudah tersulut emosi.

Padahal bu, anaknya baru dua bulan.

Dulu pas masih newborn banget dan akunya fluktuatif, aku pengen dia gedean dikit udah bisa paham diajak berkomunikasi. Sekarang juga kayak udah ngerti sih, tapi maksudku tadi kaya yang udah ngerti beneran paham gitu.

Sekarang, kayak mau gini terus rasanya.
Kayak belum siap menghadapi anak ini tumbuh dan menghadapi milestone yang rasanya aku belum punya ilmu di sana, belum menambah stok sabar di sana, dan kok kayak-kayaknya ga kuat duluan :(

ya ya kalian benar bahwa ini semua ketakutan di kepala aja, kzl kan yha.

semakin belajar tentang  milestone tahap perkembangan anak, belajar pengasuhan di kelas pelatihan keluarga kita (kalau ini udah tertarik dari belom nikah sih), jadi semakin paham ramainya dunia per-orang tua-an dan masya Allah :")

speechless adang sampe gatau mau ngomong apa terus nyerocos aja di mari.

Tapi hebatnya, ada Allah yang bisa kapan aja kita minta kekuatan, kita minta kesabaran.

:")

Halo Nak, kita siap menghadapi banyak langkah kehidupan di depan ya :")

*gatau cara mengakhirinya, udah basah lengket ini muka nangis dari tadi. bahkan refleksi liriknya terhadap kehidupanku belum ada yang ditulis sepeserpun

Sabtu, 24 Oktober 2020

Cerita-Cerita Malam

Malam, sudah ganti hari.
Kaisa agak lama baru bisa tidur tadi, alhamdulillah gak kebablasan ikut ketiduran. 
Ada kerjaan belum kelar sebenernya, tapi entah kenapa pengen corat coret di sini.

Tiba-tiba aja kepikiran dan terkenang masa-masa remaja #halah yang masih nyari-nyari jalan. Masih sih sampe sekarang juga. 

Kayak keinget aja malam-malam kosong dan sendiri, entah pulang jalan dari kampus utara ke kosan sebrang milan, atau tetiba inget malam-malam menempuh perjalanan di motor. Atau perjalanan naik kereta jarak jauh.

Kangen.

Kadang kangen masa-masa mikir. Kadang kangen sama kehidupan-kehidupan yang pernah dijalani. Entah kenapa tetiba jadi mikir lagi mau ngisi hidup ini dengan apa. Bisa gak ya? Sempet gak ya?

Tadi sore Hilmy cerita *wgwg btw dari dulu aku bingung kalau nulis suami itu di blog apa ya, sekarang dahlah tulis nama aja* tentang temennya yang merasa bosan di kerjaannya di salah satu startup unicorn (eh masa aku nangis nulisnya, tanda pikiran udah kemana-mana duluan sebelum kecepatan menulis). Padahal sebelumnya dia juga udah kerja di kantor lain yang besar. Jadi kayak udah kerja gitu loh.

Terus Hilmy wondering gitu, kayak gitu apa ujungnya ya? Kita masih umur segini, nanti berhentinya sama apa ya. Sebelumnya doi abis ngomong gini, hidup kalau ga ada yang dikejar emang gitu-gitu aja ya, bosen ya.

Terus aku bilang, ya emang mesti netepin batas cukup. 
Terus aku tanggepin ke kalimat sebelumnya karena aku mikir itu relate sama cerita si temenya itu. Mungkin kalau udah berkeluarga misalnya, mau gak mau ada yang dikejar. Kayak misalnya ayah mesti menghidupi keluarganya, ibu yang istlahnya apa ya, hidup demi anak-anaknya.

At that time aku mikir kalau pada batasan tertentu yang gak sampe depresi gitu yah, mungkin motivasi hidup seorang ibu tuh ya keluarganya. Kayak, kalau ga ada ibu, keluarganya akan gimana ya, anaknya akan gimana ya, dsb. Entah hilmy mikir apa atau ga mikir apa-apa haha. Tapi itu pikiran selintas aku saat itu. Alasan-alasan untuk hidup bahkan ketika ga ada dunia yang dikejar sama sekali kayak masih idealis ala-ala anak mahasiswa dan remaja.

Kadang kalau merenungi hidup (ya Allah ini ngalir banget tanpa direncanain nulis ini), aku suka mikir, aku mau ngapain ya. Mau ngelakuin hal sesederhana yang bukan cita-cita kayak baca buku aja kok sekarang kayaknya susah. Atau inginku tuh sebenernya apa sih. Entah, kadang kayak gak punya ingin. Menjalani hari itu dengan baik-baik saja aja kayaknya udah alhamdulillah dan seneng banget :" 

Sampe tadi pun pas ngomong gitu ke Hilmy, ingetnya ya Kaisa. Entahlah hidup akan berjalan bagaimana ke depannya. Ah, mana belakangan ini banyak berita meninggal yang aku bilang pas baca beritanya kan, terus Hilmy bilang. Kok kayaknya belakangan ini banyak siapanya temen kamu yang meninggal Fit? Me like, eh iya ya. Wah, jangan-jangan itu sebaik-baik pengingat dari Allah....

Tadi juga lupa kenapa, terus scroll galeri hp dan lihat foto-foto Kaisa. Entah ada perasaan yang menelusup di hati dan ga bisa aku gambarin dengan kata-kata di sini. Tapi ya itu lah menambah campur aduk perasaan malam ini. 

Oh ya sama tadi baca ini di ignya kak ifah, ada tulisan Najelaa Shihab dari bukunya yang berjudul Cinta untuk Perempuan yang Tidak Sempurna. Begini bunyinya

Menjadi dewasa bersama ibu, bkn hanya soal bertukar baju dan sepatu, ttapi saling meminjamkan hati di saat yang lain butuh. Menjadi tua bersama putri sendiri, bukan hanya soal berbagi memori atau mimpi, tetapi saling menumbuhkan percaya di saat yang lain belum berani.

Auto inget Ummi dan Kaisa :""""



Sepanjang nulis ini, ada kalanya aku pengen temen ngobrol ampe chat nadia dan laura. Ada kalanya aku keinget apa gitu atau kangen orang-orang sampe chat kak marissa bilang kangen, pm kak suci kasih doa. Kadang keinget hal-hal kecil bikin terharu dan sedih jadi nangis sendiri lagi :"

Dah ah fit balik lagi ngerjain kerjaan yok.

Malam, teman-teman.
Selamat rehat, selamat istirahat.
Dari aku yang masih punya banyak garapan tapi mulai puyeng ini heuheu.


Kamis, 22 Oktober 2020

Cerita Malem-Malem ft. Anakku - Vina Panduwinata


Semalam nangis denger ini sambil bobokin Kaisa. Dan tentu saja nangis dong hiks. Ingat awal-awal adaptasinya berasa lamaaaaa banget padahal usia Kaisa juga masih seiprit. Padahal nanti kalau udah berjalan bahkan Kaisa makin besar juga mungkin akan kerasa cepet bahkan gak berasa. Gak kebayang kalau dia sudah makin besar, remaja, bahkan dewasa :"

Lalu nangiss juga karena kebayang dan keinget Ummi. Dulu aku masih kecil, ditimang-timang. Lalu beranjak jadi anak kecil, remaja, dewasa. Tentu banyak sekali dalam perkembangannya anak tuh bikin kesel, bikin sedih orang tuanya, dan lain sebagainya. Gak kebayang gimana ya emosi ortu terutama ibu tuh keaduk-aduk sepanjang perjalanan jadi orang tua masya Allah :""" auto berasa banyak dosa sampai usia saat ini T^T

Bismillah, pengen mulai esok (which means hari ini) dengan lebih baik ke orang tua, dan detik itu juga langsung baper liat Kaisa yang sekarang masih kecil banget dan bergantung sepenuhnyaaa penuh sama orang di sekelillingnya. Kaisa yang gak ngelawan dibopong mandi meski ayah ibunya aja bisa jadi gak mandi dua kali sehari, Kaisa yang gak ngelawan diganti popok. Digendong bopong bawa ke sana ke sini. Bener-bener utuh pasrah sama orang sekitar. Kelak dia bisa menjelajah sendiri, bisa nurut bahkan bisa menolak, huhu. Semoga Allah mampukan Ibu Ayah mengisi setiap detik hidupmu dengan ikhtiar terbaik yang selalu sesuai dengan maunya Allah ya Nak, semoga Allah ridha <3


-semalam so suprisingly ayah juga dataang pas nidurin Kaisa dan tiba-tiba bijak gitu ayo Kaisa tidur udah malam (padahal sebelumnya doi bobo malem bahkan pagi), ibu ikut ketiduran dan hari ini alhamdulillah kebangun sekitar jam setengah dua, bisa nana nini dikit lah, salah satunya nulis ini :") soale kadang bahkan sering deng syulit mau nulis blog begini :"