Minggu, 31 Mei 2015

Lalala~

Ini weekend. Tapi bukan rasa weekend. Mana ada weekend pergi pagi jam 5 dua hari berturut-turut ?

Saya berkecamuk. Saya lupa sebutkan alasan -yang mungkin jadi pertimbangan. Saya lupa tepat ketika maju ke depan.

Dua hal itu : konteks berbeda.

Ini weekend. Tapi bukan waktu luang untuk menuntaskan tugas yang saya dapat. Jadi, meskipun berlelah dan saya senang melakukannya, meraihnya, menghabiskan waktu dengannya. Walaupun saya harus menatap iba pada diri saya : tugas saya tidak juga kelar, atau bertambah satu senti pun kemajuannya. Bayangkan betapa zalimnya saya terhadap teman-teman saya.

Ini Minggu, tapi saya malah ada di ruangan, yang mungkin tidak pernah terbayang oleh teman-teman sejurusan. Atau terlintas, atau terpedulikan. Hahaha, biar saja.

Seringkali, saya bertanya pada diri sendiri. Apa yang ingin saya capai dan dapat dengan semua hal yang  telah saya lakukan. Kadang-kadang mimpi tidak beririsan, dan saya terlalu bingung untuk memulai. Ada yang rasanya masih ingin diberikan untuk hal lain yang masih menuntut perhatian. Atau justru sebenarnya hal inilah mimpi yang sebenarnya saya inginkan?

Masih banyak tugas menunggu. Dan ini akhir bulan : tugas kuliah, tugas asrama. Dan laptop yang rusak masih menginap di servisan. Tuhan akan menguatkan, kamu harus tenang Fit. Dan berjuang.

Kalau kata kutipan quote di Mushala Teknik yang sedari kemarin saya kunjungi-meski saya lupa redaksi keseluruhannya (nanti kalau ingat saya ketik ulang mungkin).
Kamu lebih kuat dari masalahmu, lebih kuat dari sakitmu, selama kamu punya Allah.
Saya masih menungu, menunggu kepastian, dan juga kabar.

salam dari Jogja,
di luar ruang 2.5 KPFT
Musyawarah Wilayah FLP Wilayah D.I. Yogyakarta
16.45

Senin, 18 Mei 2015

Bantu Jaga Hati

teman kita jatuh hati. lalu, dia sibuk menjaga hati.
bantu dia supaya tidak tambah kesulitan menjaga hatinya.
 
dengan apa? nggak usah banyak ngeledek-ledek, ngata-ngatain, jodoh-jodohin, ngeceng-cengin, atau apalah itu namanya.


#renungan #belajarbantuoranglain
KIP hari ini
21.52
18 Mei 2015

Jumat, 15 Mei 2015

Jogja Kota Pelajar

Jogja kota pelajar. Ramai karena pelajar. Bukan hanya kampus yang penuh pelajar dari berbagai daerah, sekolah menengah atas pun sama. Bisnis kos-kosan tumbuh di mana-mana. Juga bisnis makanan. Mulai dari sekadar angkringan, jawa banget, lombok banget, china banget, sampai yang italia banget. Mulai dari tahu tempe, jamur jejamur, sampai makanan laut. Jogja kota pelajar, makanya harga makanan disesuaikan-meskipun ada juga yang tidak. Saya pernah beli nasi-ayam 4000-an dan jus 1000-an jaman 2012. Dan saya juga pernah tau temen beli paketan yang isinya bisa nasi, oseng cumi, dan jus, totalnya 10ribuan. Nggak ngerti lagi kadang-kadang.

Jogja kota pelajar. Isinya pelajar. Ramai di jalan raya dengan plat yang berupa huruf depan penunjuk kota asal. Pameran seni dan arsitektur juga ramai oleh pelajar. Seminar-seminar, pelatihan jurnalistik, training pengembangan diri, isinya pelajar. Pasar malam, awul-awul, bagi-bagi makanan gratis, isinya pelajar. Galang dana bakti sosial, konser-konser artis, bagik panitia maupun peserta, dominasinya anak jalanan. Setiap minggu di kampus mesti punya agenda sendiri-sendiri yang diikuti oleh pelajar. Organisasi tanpa batasan usia didominasi oleh pelajar. Semuanya pelajar.

Beakangan libur panjang. Para pelajar pada pulang. Tempat-tempat makan sepi kedatangan. Jalan raya lengang sepanjang mata memandang. Aku dan Tyani dua malam ini sepulang FU upgrading makan di tempat-tempat sepi, padahal biasanya ramai. Para pelajar pulang. Para pelajar pulang.

Jogja, benar-benar penuh oleh pelajar yang berdatangan.

Aku juga pelajar yang memenuhi Jogja-yang ingin pulang.

Perpus Pusat UGM
15 Mei 2015, 19.27

Cerpen : Menanti Tulisanmu


Aku selalu menanti tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang apa yang sedang kamu pikirkan bila tidak dari sana. Kita tidak pernah bercakap-cakap tentang sesuatu yang dalam, hanya sebuah sapaan. Aku selalu menunggu tulisanmu. Karena darimana lagi aku bisa tahu tentang jalan pikiranmu, tentang masalah yang sedang kamu hadapi, atau tentang perasaan yang sedang kamu rasakan. Meski tulisan itu tidak sepenuhnya mewakili perasaan, setidaknya aku tahu perasaanmu masih hidup untuk nantinya aku cintai. Itu pun bila kamu mengijinkan.

Aku selalu membaca tulisanmu. Dari halaman satu hingga halaman yang aku yakin akan terus bertambah. Karena darimana lagi aku bisa mengenalmu dengan leluasa bila tidak dari sana. Aku bahkan tidak kuasa menyebut namamu di hadapan temanmu. Aku harus menunggu sepi atau malam hari untuk bisa leluasa memandang layar dan membaca berulang-ulang setiap kata yang lahir dari pikiran dan hatimu.

Aku menyukai cara jatuh cinta seperti ini. Tidak kamu tahu dan aku pun tidak harus repot-repot bertanya kesana kemari tentangmu hari ini. Teruslah menulis, karena suatu hari salah satu tulisanmu akan kuwujudkan. Tentang resahmu menunggu seseorang yang tak kamu tahu siapa, tapi kamu percaya pasti datang. Aku pasti datang.
Rumah, 10 Mei 2015 | ©kurniawangunadi

(Kata) Cinta (pada) Buku

Salah satu hal terbaik yang dimiliki oleh orang yang suka membaca buku adalah bila ia jatuh cinta dan sulit mengungkapkan perasaannya, ia bisa memilihkan buku terbaik yang mewakili perasaan itu untuk dihadiahkan kepada seseorang yang ia cintai. Sesederhana itu :)