Minggu, 31 Maret 2019

Dear Diri

Dear diri, terima kasih sudah berjuang. Hingga titik ini.
*Ngomong sama cermin

Rumah, sampai menjelang pukul dua belas
Sudah terlampau lelah
Pun juga orang-orang rumah
Untuk sekadar bertukar kisah
Yang tiada kutahu soal hari dan arah

Jumat, 29 Maret 2019

Tempat dan Kenangan

Kadang aku mikir, kenapa ya aku mudah teringat-ingat atau terkenang-kenang akan suatu hal.

Tadi kepikir juga. Tempat itu tidak pernah jadi sekadar tempat. Dia hadir bersama kenangan dan ingatan.

Hari ini di halim. Mungkin karena kak nuri juga tadi nanya di perjalanan. Pernah naik pesawat ke mana. Aku jadi mengingat-ingat hal deh.

Ingat naik pesawat Desember lalu dengan segala kehecticannya, concallnya, obrolan panjangnya, dadakan beli dan cashbacknya.

Ingat waktu ke Jepang. Sendirian. Malam-malam. Transit di KL. Mencari gerbang :') Perjalanan panjang di bulan Ramadhan. Lelah dan senangnya :')

Ingat waktu kkn. Bulan puasa. Ke Kalimantan. Koper besar. Buka di pesawat. Kehebohan yang ngangenin. Kehidupan desa yang sederhana.

Ingat waktu jogja ke jakarta. Karena abi dapat poin apa gitu, jadinya gratis. Nikahan mas aris.

Ingat waktu ke nikahan Mbak Peni. Izin sekolah. Permen hijau, rasa jeruk nipis. Biar nggak sakit gitu telinganya.

----
Aku lagi cari ide, batas kirimnya besok. Cerita tentang apa ya. Tadi kepikiran soal apa cerita tentang anak yang excited naik pesawat pertama kali. Tapi masih bingung jawab 6 poin pertanyaannya. Butuh dua cerita. Ternyata emang nggak mudah ya, lama nggak nulis.

Bismillah, semoga Allah izinkan.

dalam pesawat, 19.29

Pertemuan di Toko Buku

Hari ini kita bertemu. Ah, kuralat. Aku melihatmu. Karena sepanjang yang aku tahu kita belum pernah saling mengenal. Aku hanya menghafal kamu yang datang setiap senin pertama tiap bulan dan menyambangi rak buku yang sama.
Dan binar matamu yang selalu menyenangkan telah kutangkap setiap kamu terpaku di rak buku favoritmu. Dan itu telak membuatku ingin selalu memperhatikanmu dan memperhatikan buku mana yang menarik perhatianmu.

***
Hari ini kamu datang dan ada gurat sedih yang kutangkap waktu kamu berdiri di depan rak buku yang sama. Entah mengapa, aku tidak berani menebak-nebak. Aku mulai rindu melihat binar mata yang biasanya. Namun kamu tetap mengambil dan membaca beberapa buku. Menimbang-nimbang. Membuka ponsel mengecek sesuatu. Memutuskan. Lalu bergerak ke arahku.

Sekian sering kamu datang dan hari ini aku yang bertugas di kasir. Kamu membayar dengan kartu atm yang mengukir sebuah nama. Aku tersenyum, senang meski hanya mengetahui sebatas nama.

***

Hari ini aku menata buku-buku sebelum toko buka. Kemarin ada berkardus-kardus buku baru dari penerbit. Lalu aku terkesiap melihat sebuah nama yang amat kukenal. Hari ini bukan senin pertama tiap bulan. Tapi aku menjumpaimu, dalam sampul buku yang bisa kumiliki dan kubawa pulang.

***

Dalam suatu kesempatan aku kembali bertemu denganmu. Kamu membeli buku-buku dengan namamu di sampul depan. Aku mencari-cari celah. Lalu pura-pura mengamati kartu atmmu dan pura-pura terperanjat. Bahwa aku kaget mengetahui nama yang sama pada kartu atm dan buku yang kamu beli. Kamu tersenyum. Manis sekali. Berbicara satu patah dua kata tentang masa juang dan tunggu yang cukup lama. Jika bagimu itu basa-basi, bagiku itu cerita luar biasa yang kutunggu sekian purnama, untuk mengetahui lebih dari sekadar nama. Ternyata memang aku perlu berjuang menciptakan obrolan, menciptakan momen, bukan menunggu. Ah, dan baru saja aku menyadari itu juga yang terjadi pada cerita bukumu.

Satu orang mengantri di belakangmu. Kamu berterima kasih menerima struk belanja. Lalu menambahkan, maaf tadi jadi curhat, katamu. Aku mengangguk, juga tersenyum.

Dalam hati aku berdoa satu hal.
Semoga binar mata dan senyum manismu tidak akan pernah pudar.

Kamu tahu, tujuan yang sama akan mempertemukan orang-orang dalam perjalanan. Jika kamu belum berjumpa, semoga Allah menjadikannya segera.
-
Jumat sore menjelang maghrib. Mari berdoa.

Hadits: Yang Mencintai Alquran

عَنْ عَبْدِ اللهِ بن مسعود رضى الله عنه ، أنه قَالَ: ” مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ فَلْيَنْظُرْ، فَإِنْ كَانَ يُحِبُّ الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ “

“Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Siapa yang ingin mengetahui bahwa dia mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka perhatikanlah jika dia mencintai Al Quran maka sesungguhnya dia mencintai Allah dan rasul-Nya.” (Atsar shahih diriwayatkan di dalam kitab Syu’ab Al Iman, karya Al Baihaqi).


Baca selengkapnya https://muslim.or.id/8669-keutamaan-membaca-al-quran.html

tadi sore menemukan kutipan ini di antara sumber-sumber dan referensi, ingat pingin nyeritain obrolan tahun lalu dengan dua temanku di waktu yang berbeda tentang seseorang dengan Alquran. tapi belum. semoga segera kulengkapi ketika tiada malas :)

Kamis, 28 Maret 2019

Nggak Mungkin

"Nggak mungkin kalian akan bahagia kalau kalian mencintai sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul.

Nggak mungkin kalian akan dapat apa yang kalian inginkan kalau kalian mencintai seseorang, atau sesuatu melebihi cinta kalian kepada Allah dan Rasul. Itu nggak mungkin.

Bukan hanya nggak mungkin. Bahkan Allah mengancam, dengan sebuah ancaman. Fatarabbasu. Hati-hati kalian, kata Allah. Artinya nggak boleh, seorang hamba itu menduakan cintanya kepada Allah dengan cintanya kepada makhluk. Itu nggak boleh.

Kalau dia mencintai makhluk. Harus karena Allah. Kalau dia mencintai makhluk bukan karena Allah, Allah bilang fatarabbasu, hati-hati.

Kenapa kita nggak berani bertaruh untuk Allah. Ini masa depan nih saya pertaruhkan nih. Kalau saya nggak pacaran apakah saya tetap akan bisa menikah? 

Taruh aja pertaruhannya pada Allah. Allah bilang, siapa yang istiqomah, Kami tolong dia.
Duh, kalau saya putusin, ntar dia sama yang lain, gimana ya?

Nggak usah khawatir, udah aja pertaruhkan masa depan kita sama Allah. Nanti kita akan bilang, untung dulu saya putusin."

-Ust. Hanan Attaki
Tau saya dapat kata-kata ini dari mana?
push notif Yawme ke oase, artikelnya sebenarnya tentang empat perkara yang akan ditanya
lalu di bawah ada sumber ig yang bikin desainnya, saya buka, eh lalu lihat postingannya salahs satunya ada ini.

Sebenernya jarang-jarang klik push notif aplikasi. Tapi ya kayak it's all by designed gitu. Semoga jadi pengingat diri :)