Menunggu Hujan

Rabu, 22 April 2015

Chika duduk bangku bambu panjang di teras rumahnya. Ia memandang sebal hujan deras yang turun sejak subuh tadi. Padahal dari minggu lalu ia sudah janjian dengan Nina, teman yang rumahnya hanya beda dua rumah dari rumahnya, untuk bersepeda keliling komplek. Sudah ditunggu-tunggu satu minggu karena waktu kosong pagi-pagi untuk anak sekolah hanya ada di hari Minggu. Eh, malah hujan. Uh, Chika kesal sekali. Sudah pukul sepuluh sekarang dan hujan masih saja deras. Siang nanti keluarganya akan pergi mengunjungi tantenya tang baru saja melahirkan. Pasti akan sampai sore. Ia ingin bersepeda, tapi kapan? Ia menunggu hujan reda. Tapi kapan?

Hujannya awet sekali.
***
Pak Joko sedih menatap sawahnya. Kering kerontang sepanjang hari. Musim kemarau masih saja setia menemani kampung tempat tinggalnya. Menemani sawah dan ladang penduduknya. Mencegah tanah bersedia menjadi tempat yang baik untuk tumbuhnya bibit-bibit.

Pak Kyai di kampung sudah memimpin shalat istisqa lima kali. Tuhan belum juga beri kabulkan permintaan. Ah, apakah dewa yang menerima tumbal jauh lebih baik dari Tuhan? Hatinya seketika membatin. Bertanya. Hush, cepat-cepat ia menepis pikiran itu. Pak Kyai bilang tumbal tidak pernah diajarkan Tuhan. Percaya pada mengorbankan tumbal berarti dosa. Dan Tuhan akan marah apabila penduduk desa melakukannya.

Bukan hanya Pak Joko yang merindukan hujan di kampung itu. Teman-temannya sesama petani, sawah dan ladangnya, bahkan istrinya juga merindu hujan untuk bisa mencuci dengan lancar.

Hujan, kapan datang?
***
Tatya mengendarai motornya teramat pelan. Ia bersyukur hujan datang sehingga air matanya kabur oleh hujan yang lembut menyapu wajahnya. Ia tak perlu lagi menyeka air mata setiap berhenti saat lampu merah karena malu dengan pengendara lain atau ketika pandangannya sudah buram dan tak jelas memandang jalan. Baginya, hujan membantunya meluruhkan sebagian perasaan sedih. Melarutkan kesal, mengencerkan pekat amarah.

Ya Tuhan, biarkan saja hujan turun terus. Setidaknya, sampai aku sampai rumah, batinnya.
***
Ami pernah menyesal ketika panas sepanjang hari dan ia tidak mencuci. Ia juga pernah menyerapahi hujan yang tiba-tiba seenaknya turun deras padahal cuciannya baru saja dijemur pagi tadi sebelum kuliah. Hujan turun tepat pukul tiga sore, padahal tadi ia jemur bajunya pukul tujuh pagi. Pastilah tadi sebelum hujan bajunya sudah kering, pikirnya.

Hei hujan, tidak bisakah kau memberi tahu kapan jadwal turunmu?
***
Ashim sedang berada di ruang kuliah ketika hujan deras turun setelah geluduk besar terdengar. Dalam hati ia mengeluh, padahal sepuluh menit lagi kuliah selesai dan ia ingin cepat-cepat pulang. Hujan besar begini bukan situasi yang baik untuk diterabas. Mengingat kemarin-kemarin berita mengabarkan soal orang yang tewas tertimpa pohon tumbang saat hujan tiba. Lebih baik ia menunggu saja.

Tiga puluh menit, intensitas hujan masih sama saja. Tidak mereda, tidak juga bertambah menjadi lebih deras. Hujan yang konsisten, pikirnya. Ia bingung harus menunggu sambil melakukan apa. Ia tak bawa buku yang bisa dibaca sembari menunggu. Baterai ponselnya tak memungkinkan untuk berselancar di dunia maya. Di tasnya hanya ada catatan kuliah dan ia terlalu malas untuk membuka lembarannya.

Ah! Ia terkesiap. Ashim ingat bahwa hujan adalah kondisi di mana Tuhan mengijabah doa. Mungkin Tuhan memerangkapnya dalam hujan berkepanjangan untuk memberinya kesempatan untuk berdoa banyak-banyak. Mukanya sontak menyunggingkan senyum optimis dan ia segera merapal doa. Diingat-ingatnya semua keinginan, harapan, dan cita-cita. Mendadak, ia takut hujan reda saat doanya belum melangit semua.
***
Salli si anak jalanan menggerutu ketika tetes pertama hujan jatuh ke bumi. Setelah panas yang begitu terik sepanjang siang tadi, ia langsung bisa memprediksi bahwa hujan akan turun deras sekali. Dan ia tidak pernah suka hujan yang turun terlalu deras ke muka bumi.

Ia tidak pernah suka hujan karena ia tidak pernah punya tempat tinggal tetap. Salli memang biasa tidur di pinggir jalan atau di balik baliho-baliho besar yang dipasang tidak terlampau tinggi. Ia memang biasa dengan dinginnya malam. Tapi kalau hujan, rasanya dingin menusuk lebih dalam. Badannya menggigil dan kaus yang tidak pernah ia ganti itu akan kuyup dan lama sekali keringnya. Hujan juga akan membuatnya berkali lipat merasa lebih iri pada mobil yang lalu lalang di depan matanya.

Penjagaan pasar tradisional kini makin ketat. Pak Satpam berkumis tebal tidak pernah toleran dengan tunawisma seperti Salli. Sekali dua kali Salli masih bisa menyelinap dan dapat tidur di dalam pasar. Tapi satu dua kondisi yang tidak memungkinkan membuatnya harus rela kena basah air hujan. Meneduh di emperan toko atau restoran sudah pasti kena marah satpam. Ah, apa hanya aku yang membenci hujan? batinnya.

Tuhan, setelah Kau jauhkan aku dari kebahagiaan, tolong jauhkan aku dari hujan, ucapnya lirih.
***
Ada banyak pemaknaan ketika hujan turun menyapa bumi. Banyak kesan, banyak prasangka, banyak gerutu. Katanya hujan berarti rezeki, namun tidak semua dapat memaknainya demikian. Katanya hujan berarti rezeki. Namun hanya sebagian orang yang mengucap syukur atas kedatangannya.

Selamat malam. Selamat berkemul malam ini; malam di mana hujan masih saja turun basahi bumi. Kalau mau, berdoalah banyak-banyak malam ini. Mungkin Tuhan masih berbaik hati mendengar doa yang agak terlambat diucapkan karena tadi sewaktu hujan datang, yang hadir malah keluh kesah duluan. Mungkin Tuhan masih beraik hati mengijabahnya.

Rabu, 22 April 2015; 23.27.
Selamat malam.
Hujan malam ini deras sekali. Deras sekali.
Yang habis terperangkap banjir di perempatan Pascasarjana, perempatan MIPA Selatan, dan bundaran UGM, terguyur hujan, print-nan materi dalam tas terkena basah sampai kertasnya terkelupas oleh kulit tas, dan softcase laptopnya pun sebagian basah tembus hingga laptopnya, dan ponselnya kedap-kedip habis terkena air hujan.
Alhamdulillah tidak apa-apa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS