Rabu, 26 Februari 2025

Dear, Langit

Sudah lama sepertinya tidak menulis seperti ini. Mengawalinya dengan: Dear, Langit.

Aku mau bilang kalau hidup itu lucu. Tapi otak rasionalku langsung membantah. Sebenarnya tidak begitu, bukan? Allah merencanakan hidup yang sesuai dengan kita, bukan buat lucu-lucuan. 

Yah, tapi kamu mengerti kan maksudnya.

Kadang hidup di atas, kadang di bawah. Sering nano-nano. 

Cuma satu yang Allah minta: bersabar dan bersyukur. Dua deng jadinya. 

Barusan aku telepon satu jam lebih bahas sesuatu sama teman. Kadang, hal yang enggak pernah terpikirkan olehku Allah sodorkan pelan-pelan. Kadang, hal yang diperjuangkan mati-matian gak ada hilalnya. Mungkin ada, tapi belum aja. Mungkin ada, entah kapan. Atau mungkin, tidak ada hilal ini adalah hilal untuk tegaknya diagnosa: belum jalannya. 

Manusia punya banyak keinginan. Sementara, rupanya ada masa bosan memperjuangkan keinginan. 

Kalau begitu, apa hal tersebut tidak pantas disbeut keinginan, bahkan mimpi?

Bukankah bosan itu wajar? Stuck dan gatau mau ngapain juga mungkin terjadi?

Entahlah, melelahkan memang jadi dewasa. 

Gelap terang bergiliran menjelang.

Ya Allah, rasanya aku sangat bodoh, dan masih banyak kurangnya. Tolong bimbing ya Allah, bersamai, bersamai.

Oya, hari-hari belakangan rasanya sepi sekali. Sepi, huhuhu. 

Senin, 24 Februari 2025

Makkah

 

dari blognya nida


dari sini dulu rame gambar ini dishare waktu covid, terus pas mau setting jadi bg nyarinya lumayan struggle

Ada satu lagi dari statusnya amal, ku ss di hp tapi karena ini aku buat tulisannya di laptop jadi mohon maaf jeda dulu hehehe. 

Sampaikanlah ya Allah, sampaikanlah. 


Senin, 17 Februari 2025

Menerjemahkan, Buku, Narasi, Pengalaman, Orang Tua (Ah, Harus Kuberi Judul Apa?)

Ada satu celetukan adikku yang belakangan menerjemahkan novel lebih dari 200 halaman dari Bahasa Spanyol ke Bahasa Indonesia. "Yang penting dari menerjemahkan itu, bahasa Indonesianya harus bagus, Mbak," begitu katanya. Membuatku diam dan tercenung lama. Aku baru sadar loh pas itu. Oh bener juga ya, makanya nggak semudah itu bisa menerjemahkan Indo ke Inggris lantas bisa menerjemahkan INggris ke Indo, berlaku untuk semua bahasa lain aku rasa. 

Pengalamanku menerjemahkan buku masih bisa dihitung jari, dan terjadi tanpa rencana dan kepikiran sama sekali. Pertama kalinya dan sangat kusuka di 2022, menerjemahkan buku berima. Sekarang, saat melihat adikku menyelesaikan terjemahan novelnya, setelah sebelumnya menerjemahkan manual mobil, aku seperti melihat benang merah yang sama. 

Menerjemahkan buku berima tak lepas dari peran ayah yang begitu menyukai puisi sejak bangku sekolah. Aku terstimulus mendengar kata berakhiran sama, bukan dalam bentuk cerita. Sense-ku menyala begitu saja dengan keindahan rima. Coba-coba buat puisi ya tak pernah seserius ayah, walau ia bukan pujangga bak penyair yang sering kita lihat bukunya di gramedia atau dikutip berkali-kali lantaran sangat berkaitan dengan film legendaris yang setelah dua puluh tahun muncul lanjutannya. 

Secara latar belakang pendidikan, Ayah orang teknik, yang menyukai puisi. Aku sepenuh hati cinta Matematika, dan sesadar diri kurang diasah. Itu yang membuatku bulat masuk kuliah bidang eksakta, tapi rupanya hati terus mencari dunia kata. Adikku tak tertarik eksakta, dan mati-matian belajar di jurusa IPA. Namun demikian, bakatnya soal bahasa sudah terlihat sejak dulu kala. Dulu semasa TK, ia hafal Surah An Naba hanya bermodal dengar, belum bisa baca mushaf sepertinya. Kuliah bulat ambil sastra Arab, sebelum lulus menggeluti Spanyol, dan sampai hari ini konsisten dengan kelasnya, @ayobelajarspanyol. 

Kemarin waktu sesi bersama Teh Afi dan Teh Afi menyebut peran ayahnya dalam dunia literasi, aku juga mengingat abi dalam perjalananku, terutama menerjemahkan buku. Siapa sangka abi pernah membuat kamus penyair, ia mengumpulkan kata dan mengurutkannya dari huruf belakangnya, mempermudah untuk mencari rima. Ia juga bilang, sekarang ini kalah sama internet dan sebangsanya, tapi aku tetap mengingat kesukaannya terhadap puisi dan rima yang luar biasa, terwarisi dalam diriku. 

Abi dan Ummi adalah dua orang yang sejak aku kecil kutahu gemar menulis. Semasa sekolah ikut lomba menulis, gemar berkirim surat, bahkan mengirimi kedutaan besar surat untuk dapat informasi dari mereka. Kala itu Abi dan Ummi belum kenal internet. Namun, kurasa itu pula yang menyuntikku untuk mencoba menulis. Aku juga pernah mengirim surat untuk kedubes seperti mereka, tentu saja mereka yang mengompori. First pieceku adalah rubrik Korcil di Republika, bercerita pengalamanku menonton pengantin Betawi. Tentu saja peran Abi banyak di dalamnya. Kecintaanku terus berlanjut terhadap media cetak dan buku. Koran, majalah, buku, semua aku suka. Semasa sekolah, ada masa aku menyengaja menyempatkan sela waktu istirahatku untuk ke perpustakaan dan membaca di dalamnya, mengikuti cerita bersambung di majalah ibu-ibu, atau selalu membaca rubrik anak muda dan membuatku rada ngasal ngide untuk masuk ke dalamnya. Dan, lolos dua kali. Menyenangkan sekali. 

Aku tahu, pengalaman jurnalistikku rada kentang. Nanggung. Sekolah di asrama dengan akses yang tidak seperti sekarang tidak menjanjikan banyak peluang. Tapi, aku tetap senang dengan semua itu. Semasa kuliah hattrickku adalah masuk cerpen Republika. Tahu dari mana ide ceritanya? Curhatan Ummi tentang berita yang ia sampaikan via telepon. 

Kisah seputar dunia jurnalistik dan tulis menulis ini juga tak lepas dari pengalaman membaca yang terlalu mengesankan selama aku kecil, yang entah mengapa seperti tak mau kulepaskan seiring aku mendewasa. Harapanku, semoga Allah ridha dengan jalan ini, dan bisa selalu menjadi jalan kebaikan untuk banyak orang ke depannya, banyak anak-anak dan jiwa-jiwa kecil menjadi pribadi yang merdeka berpikir dan berimajinasi serta senantiasa bahagia. 

Ah, aku sedih belum banyak berterima kasih pada Ummi dan Abi. 

Tulisan ini lahir dari mengagumi keindahan narasi dari buku yang sedang kubaca. 


I imagine I could write as good as this one, menyenangkan sekali membaca buku nonfiksi dengan tulisan yang indah, dengan metafora yang disampaikan dengan cukup sekaligus indah, dan berima. 




Sabtu, 01 Februari 2025

January 2025's Books

 

Bertanya2 itu aku ngapain ya kosong segitu lama, oh lalu inget, nonton film berkedok belajar padahal ikut challenge ibu membaca, ckck salah timing emang

Januari ini menyelesaikan 3 2024's DNF books dan baca banyak picbook, sayang kurang internalisasi karena menghadapi aplikasi beasiswa dan menghadapi kenyataan penolakan huhu. 



Jumat, 24 Januari 2025

24 January 2025

 Today is the last day of CMCE scholarship registration. My preparation since Sept 2024 was submitted on the 10th of January. I got the result five days later: rejection. 

My heart sank and I am still sad until now. The reason was: that my undergraduate degree was not relevant to their program. Since I decided to apply this year, I just remembered my friend from Biology had successfully passed the selection for CLL so I can also pass the selection. However, it was not Allah's permit, at least for now. I still try to talk with them, at least they let me join their program and I struggle with other scholarships. 

Hi future, where do you want to take me?


Senin, 06 Januari 2025

The Same Things as Quality Assurance and Editor

I've thought about this for a long time. My dream job in my childhood was to be a children's book editor. The answer is simple: I could read the book earlier than the other. However, I never thought deeply about taking a major around literature (because in my high school mind at that time, I could learn literature even though not from a formal major LOL). When the psychological test at high school told me to take Communication studies (I guess because my high passion related to writing and journalistic things), I did not realize that communication is a path to becoming a journalist or something like that, even a career somehow is not linear).

So, my love for Math at that time ended up my undergraduate major, Computer Science.

I started my career after graduating as an intern at Badr Interactive (I should mention the name of the company ofc), a software house that I had known since college because of Muslim culture and lovable vision. After around 3-4 months of internship, I just started my permanent employee contract as... Software Quality Assurance! That I also love at most!

Long story short, now I am a writer, editor, and translator of a children's picture book freelancer. Even though the field was sooo different, I found out that the basic activity was the same. I should find the bug (in the application) or the mistakes (in the logic story or the sentence structure). I also report when I find typos in both activities. Being an editor, especially for copy editor (even though I also tested the story logic) felt so nostalgic. I make sure the flow is okay and no wrong logic in the story (later I will discuss it with the senior editor), while in application testing, I make sure the flow is easy and understandable by the user, if not I will discuss later with the UI/UX or product designer and report and present it in the ending of the sprint.

These activities are fun for me. Attention to detail and knowledge are the keys to getting the perfect final that we all wanted (and the insight from Allah ofc). Even somehow I am insecure if I am too detailing, however, the decision is not on me, I entrust the rest to the team (PM/PO-developer-designer) or the redactional team. Somehow the tension is real but I love to check and ensure everything is well. Realize these all are likely the same made me surprised and grateful at the same time

Minggu, 05 Januari 2025

Wonder

 Being in the middle of my love for children's literature somehow made me feel alienated when I realized that I was a computer science student. (However, personally I am super proud that I came from this background!!!)

However, children's literature is easy to enjoy for all ages, even my friends from Computer Science, especially when they have their loved ones or want to give some prizes to their niece/nephew. 

A friend talked in his blog about books and library in his area right now in America, and I was burning with passion like, let's talk about children's picture books! Anybody can say that children's picture books can be in limited words or maybe silent books. However, much limited words, it will be complicated to create those books. I miss talking much with my friends in the university era, honestly. As my journey was not generally the same, somehow I couldn't find the best one to talk to LOL. Don't worry, I also have some, but I don't know why the feeling is not the same as in the old days. Many things change actually, haha.

I wonder to talk much about children's literature with my friends. Certainly, it is not only me who speaks, I wanna hear much about their literacy journey in developed countries also. Hope it would be true, someday^^

Kamis, 02 Januari 2025

Belajar Tidur sama Ayah (Lagi)

K: Aku tahu kok aku nggak bisa sama Ibu. Aku cuma ingin sama ibu di dalam hati aku saja. 

Kaisa's words in many times ... (to be continued)

Rabu, 01 Januari 2025

2024's books

Today is the first day of 2025. When many friends share their achievements of publishing some books, I don't know why I prefer to share my reading list, even if it is not much. However, it makes me happy. Here is my reading list, which was not arranged by time. 

  1. Kesetiaan Mr. X - Keigo Higashino - ipusnas
  2. MALICE: Catatan Pembunuhan Sang Novelis - Keigo Higashino - ipusnas
  3. Newcomer: Pembunuhan di Nihonbashi - Keigo Higashino - ipusnas
  4. Gadis Minimarket - Sayaka Murata - ipusnas
  5. Before the coffee gets cold (#1 from Funiculi Funicula series (in Indonesia), glad to read this as my first English finished novel)
  6. Before we say goodbye (#4 from Funiculi Funicula series (in Indonesia), because I have this first at the queue list from Libby)
  7. Dona Dona (#3 that I read physical book in Indonesian to join the book review competition LOL)
  8. Tales from the Cafe (#2 finally finishing the series when the #5 is coming, still Libby myluv)
  9. Burung-Burung Kecil - Kemanggisan (I read this after I read @langitabjad POV about children's book)
  10. Polaris Musim Dingin - Alicia Lidiwina - GPU di Gramedigi
  11. Teruslah Bodoh, Jangan Pintar, Tere Liye, physical book
  12. Sekolah untuk Timor - Muhammad Fauzi, my friend, SIBI
  13. Misteri Drumben Tengah Malam, Dian Kristiani,  SIBI
  14. Take My Hand - Ary Nilandari, Republika's physical book
  15. Nirmala - Jutta Nymphius - Gramedigi
  16. Misteri Rumah Bernyanyi - Erlita Pratiwi, temanku - SIBI
  17. Kepada Utara - Sabrina Ws, my friend, SIBI through Gramedigi
  18. Dimensi Langit Manusia - Astrida Hara, Gramedigi, ipusnas also have her book)
  19. Siulan dari Dalam Hutan - Adya Tuti, my friend, Forsen books's physical book

DNF - do not finish
  1. Days at Morisaki Bookshop - Satoshi Yagisawa (still remember when I read this and my screen was blank because the time is over!)
  2. The Whole Brain Child, Bentang, physical book
  3. Rumah di Mango Street - Sandra Cisneros, Gramedigi
  4. Sweet Bean Paste - Tetsuya Akikawa (The time was over and now I borrow again after queue for twice)
  5. Selasa Bersama Morrie - Mitch Albom (Gramedigi)
  6. Misteri Bukit Berkabut - Erlita Pratiwi, my friend - Gramedigi
  7. Kesatria Penjaga, Fransisca Emilia - physical book


So, the highlight is the Japanese novel! I finished 8 Japanese novels and 2 unfinished Japanese novels, more than a third of the total books this year. And almost all were helped by digital platform. I am so happy to have achieved this so far even it was difficult to list all children's book here.

However, this writing makes me realize that my achievement of the Qur'an is not that far, and not make me proud. Uh, so sad. Let's make the spiritual aspect of my life better a year ahead. 

I also intend to make this 2025: more English writing and speaking, more writing about daily activities in the blog, and more mindful. Make the small things done around. Being calmer day by day, and happier than before. Practicing shukr more to live my life to. the fullest, haha.