Kamis, 14 Juli 2016

Senin, 11 Juli 2016

Kedatangan

There are so many things happened these several days. Meskipun saya tahu actually saya mungkin bisa mendapat yang lebih banyak dari itu . Udah niat dicicil mau nulis dari kemarenan malah belom-belom.

Saya sampai di Bandara Kansai pada 27 Juni lalu. Melanjut ke Ibaraki, mampir ke rumah seorang alumni, rumah Kak Lia (IC 2002) dan Kak Vero (IC 2000). Kenapa atuh pake mampir Osaka segala, kan tujuan utamanya Sendai? Iya pokoknya mah ini udah pake itung-itungan dan pertimbanagn tiket *meskipun belakangan kami tahu ada yang dapat lebih murah. Tapi yasudahlah tidak apa-apa. Setidaknya saya dapat pengalaman...dan kenangan #eh.

Jepang gimana Fit?
-itu pertanyaan orang-orang selain soal lebarannya. Setelah beberapa hari awal tinggal di rumah Kak Lia, naik kereta hankyu *hiks kangen Akari* sama JR, jalan sama Mbak Ratri ketika nyampe di Sendai, liat jalanan-jalanan di Jepang. Jepang emang kayak di komik-komik. Banyak mesin jualan minuman otomatis di jalanan umum. Banyak tempat main pachinko. Ramalan cuaca akan sangat dipakai di sini, sebagaimana ayahnya Nobita kita lihat membicarakannya setelah nonton televisi. Tas anak sekolahan juga kayak tasnya Nobita.Jendela rumah atau apato biasanya digeser, kayak jendela rumah Nobita juga. Mesin tiket kereta juga kayak di kartun yang mana dimasukin di sebelah ujung terus nanti keluar di ujung lainnya. Anak-anak yang kayak Chibi Maruko Chan yang entah kenapa pipi mereka kok alamiah bisa bersemu merah gitu ya wkwk *dan kadang sampe gede juga ada yang pipinya massih keliatan merah, walaupun laki-laki. Topi sekolah anak kecil juga kayak topi Chibi Maruko Chan. Iket kepala penyemangat buat ujian masuk peruruan tinggi kayak di komik dan kartun yang dipakai sama kakak calon mahasiswa. Tempat-tempat naruh payung di tempat umum. Gantungan buat payung di depan setiap apato (mana ada di sini ngeringin payung dijembreng kayak di Indonesia).

Apato Kak Lia tidak besar seperti rumah-rumah keluarga di Indonesia tapi nyaman dan cukup untuk semua barang dan seluruhnya tertata dengan rapi. Kasur yang saya pakai namanya futon sebagaimana kasur Nobita yang bisa digulung. Alas lantainya tatami yang mana saya baru tau tatami itu kayak gitu. Tembok rumahnya bukan bata, dan biasanya dipakein wallpaper. Pintu kamar-kamarnya digeser kayk kita ngeliat bagaimana ruangan di rumah Nobita juga disekat dengan pintu geser. Lantai rumahnya belum pernah selama di sini saya nemu lantai keramik atau ubin kayak di Indonesia. Di apato Kak Lia lantainya empuk, motifnya kayu, sayang saya nggak tau nama bahannya. Kalau kata Kak Lia gelas jatuh nggak akan pecah. Toilet di Jepang toilet kering, dengan beragam model dan jenis tombol serta sensor lampu maupun sensor untuk toilet. Kamar mandinya bahannya plastik, kayak udah jadi satu set gitu dari bath tub sampai selantai-lantainya.

Semua akses yang memudahkan manusia suka sekali berbicara. Maksud saya di sini, kalo kita naik lift, nanti akan ada suara dalam bahasa Jepang yang bunyi kalo pintu mau ditutup sama pintu akan terbuka (ya intinya menyampaikan pesan itu). Begitu pula kalau naik bus atau kereta atau subway. Dan kalo naik bus sopirnya akan bilang arigato gozaimasu ke setiap penumpang yang turun.

Kalo kata Kak Lia sama Mbak Ratri (kaka sepupu saya yang kuliah di Jepang) mah, ngeliat Jepang kayak apa, ya mirip banget sama komiknya. Kehidupan yang diceritakan adalah kehidupan di sini. Bedanya mereka kalo bikin komik mata tokohnya sering gede gitu kan, padahal mah di sini orangnya sipit-sipit. Hehe.

Terus dapet apa aja Fit?
Kalau mau dibilang setelah di sini ternyata kotanya rapi, orang-orangnya tertib nyebrang, tertib antri, taat lalu lintas, bersih, nggak ada sampah. Itu mah biasa kali ya. Kayanya udah sering denger. Nggak perlu nunggu cerita langsung gitu.

Hal yang saya terasa saya dapat pertama kali adalah soal belajar dari sosok Kak Lia. Sebagai ibu, sebagai istri, sebagai pengelola rumah. Saya denger cerita Kak Lia soal bagaimana memutuskan kapan masukin Akari, putri beliau yang usianya 2,5 tahunan, ke sekolah dan bagaimana pertimbangannya. Kak Lia memilih nggak masukin Akari ke sekolah di usia yang terlalu dini karena menurutnya usia ini usia krusial buat penanaman kebiasaan yang  Islam ajarkan, doa, etika, dan lain sebagainya. Suatu saat ketika Akari ada di daycare, Kak Lia tau banget senseinya nungguin Akari sampe bener-bener ngomong itadakimasu sebelum makan. Nggak mau dong Kak Lia kalau itu yang lebih terpatri ketimbang baca doa sebelum makan. Saya belajar liat Kak Lia nemenin main Akari, ngasih tawaran pilihan lauk makan, nemenin main, ngajak Akari main ke taman, bagaimana bikin kesepakatan sama Akari, bagaimana perjanjian beli mainan sebelum pergi ke toko mainan, teknik ngerapiin mainan, dan sebagainya. Sebagai istri saya ngeh how dedicated she is meskipun saya hanya bisa menilai dari bagaimana beliau selalu siap ketika sahur dan buka which is subuh di Ibaraki itu jam 3 (mungkin kakanya jam 2 udh bangun). Dan dengan Isya yang mendekati jam 9, belum pas ada agenda bukber IAIC Kansai yang jadi malem banget, tapi Kak Lia kayak selalu beres gitu urusan rumah tangganya. Sebagai pengelola rumah tangga, saya belajar soal air buat anak, bagaimana teknik penggunaan toilet kering untuk anak di Jepang (yang mana usianya belum bisa benar-benar pergi ke toilet setiap harus ke toilet) sama bagaimana mengelola dapur agar mudah dibersihkan dan lebih awet kebersihannya (tips alumunium foil dan stiker dapur).

Di sini saya belajar jalan jauh. Transportasi umum bagaimanapun akan mengubah masyarakatnya sebagaimana saya pernah baca blog Zahra (terutama yang bagian transportasi) dan mengalaminya sendiri di Singapura. Kalau dulu orang bilang di kendaraan umum orang pada baca buku, sebenarnya perkembangan smartphone membuat saya melihat hal itu sih di Jepang. Tapi yang pernah membuat saya salut adalah kakek-kakek baca koran di kereta dan itu pake lup atau kaca membesar. Pernah juga liat nenek-nenek baca brosur gitu pake lup. Ah, tapi pembahasan orang-orang tua di Jepang ini juga ada bahasan tersendiri sih.

Orang-orang tua di sini sangat mandiri, mungkin karena dari muda biasa jalan ssehingga sampai tua pun masih kuat dan terbiasa demikian. Ke mana-mana sendiri. Saya pernah liat nenek-nenek masuk kereta dengn bawa belanjaan. Padahal badannya udah bungkuuuuk banget. Bahkan beliau juga bawa semacam kereta kecil buat bantu jalan. Ga ada banget lah yang kayak gitu di Indonesia.
Di sisi lain bahwa orang tua di sini begitu mandiri. Maryam pernah cerita bahwa jumlah orang tua Jepang lebih banyak dengan usia produktifnya apalagi dengan anak-anaknya. Piramidanya terbalik mengerucut ke usia yang semakin muda. Banyak orang tua dititip ke panti jompo. Bahkan suatu hari Kak Lia pernah naik kereta dan kaget karena segerbong isinya orang tua semua, sampe beliau mengira kalau beliau salah naik kereta. Ada juga cerita soal keluarga yang punya da anak, anak pertamanya udah berkeluarga, yang kedua masih kerja dan belum-atau entah memilih untuk tidak-berkeluarga. Tapi anak kedua ini memilih untuk hidup sendiri dan tidak bersama orang tuanya. Sedih yah. Ini mah kalau di Islam poinnya adalah birrul walidain atau berbuat baik pada orang tua yang mana sangat besar berpeluang untuk mengantarkan ke surgaNya :" (ada haditsnya kalo ga salah tapi harus dicari dulu. Intinya sungguh rugi orang yang masih hidup tapi tidak bisa mengantarkan orang tuanyaa kee surga atau menjadikan peluang untuk masuk surga, gitu)

itu dulu yah yang diceritain, maaf belum attach foto karena masih mager milihinnya. postingan ini pobably aku edit sih kayanya. sampai jumpa di tulisan berikutnya, semoga manfaat ya :)

Rabu, 06 Juli 2016

Quotes Ramadhan

“Live your life like every day is Ramadan, and the akhirah will become your Eid”
:"

Dari Putri untuk 1 Syawalku

Halo Putri, kabarku baik alhamdulillah :"
Too many things hal yang belum aku ceritakan.
Akan kucicil disini ya. Meski kalau ketemu kamu mungkin tetep akan diulang lagi.
.
.
Sama Temajuk, kangen ya, Put :"
Aku juga kangen.
Kalau Allah kasih kesempatan buat ke sana lagi. Anak-anak udah seberapa gede ya?

00.29 JST
Subuh tinggal 2 jam lagi :"

Sabtu, 02 Juli 2016

Maryam Zakkiyyah

*barangkali juga mau buka tulisan ini



Maryam Zakkiyyah
Teman Sabtu-kalo dulu selama di IC mah

Kita nggak pernah sekelas, nggak pernah sekamar,  bahkan segedung asrama cuma pas kelas tiga aja.
Tapi kita satu pilihan seni. Seni lukis-yang saya terplot tanpa bisa milih karena pas itu tipes dan pulang. Seni lukis setiap Sabtu. Terus pra kelas lukis kita suka beli gorengan saung 5000 dapet 7. Gantian tiap minggu jadwalnya siapa yang beli. Yang biasanya mesti terbeli adalah bakwan. Tidak lupa disiram kuah kacang encer yang lezat. Dan semuanya dikantongin kresek putih bening.

Sama-sama lebih menyukai malam Sabtu daripada malam Minggu karena kalau malam Sabtu, rasanya masih ada libur lagi. Kalau malam Minggu kan dekat sekali ke hari Seninnya :"
Terus kalo Jumat malam-dan ingat-kita akan mengucapkan, "Selamat Malam Sabtu!"

Maka karena kesempurnaan Sabtu itu kita menyebut satu sama lain Teman Sabtu.

Waktu bergulir. Maryam menjadi orang-yang kalo kata Himeh-yang seantero ITB pasti tau, hahaha.
.
.
Hingga suatu waktu pasca keseharian Sabtu yang dirindukan itu-saat kuliah-kami pernah cerita banyak via telepon.

Kemudian September 2015 lalu Maryam ada acara internasional di UGM. Kita sempat ketemu beberapa kali. Di Hotel UC. Di Fakultas Teknik.

Saat itu, saya tahu banget Maryam sangat ingin ke Jepang dan aku tau banget nangisnya dia pas program 10 hari sama mahasiswa ASEAN dan Jepangnya itu mau berakhir.

Saat itu juga Maryam pernah ngasih kartu yang isinya link buat exchange ke Tokyo Tech.

Actually link itu sering di pos di grup fb dosen-mahasiswa jurusan. Jadi saya udah tau sebenernya. Terus saya berpikir, seru kali ya kalau bisa exchange bareng Maryam.

Kira-kira November saya daftar program itu. Tapi ternyata Maryam nggak daftar. Dia daftar program lain di Universitas Ritsumeikan.

Akhir Desember 2015 di walimahan Nadia di Bandung, Maryam ngabarin kalau dia lolos program exchange ke Ritsumeikan. Antara bahagia karena dia keterima dan sedih karena aku belum jodoh sama Jepangnya :"

Maryam akan berangkat perengahan Maret 2016.
.
.
Saat itu aku berpikir, harus ke Bandung sebelum Maryam berangkat.

Tapi apa mau dikata. Karena hidup berasrama, saya harus punya izin yang layak dong buat ke Bandung. Izin layak itu semacam lomba atau...ada yang nikahan lagi#eh.
Terus jadinya beneran nggak bisa ke Bandung sebelum Maryam berangkat.

Akhir April kemarin kabar lolos summer program di Tohoku. Maryam adalah salah seorang yang saya kabari hari itu juga. Tapi saya nggak kebayang apakah akan ketemu Maryam atau nggak. Karena ke negara orang itu nggak kayak kamu ke Jogja terus bisa ada aja yang jemput.

Hunting tiket dan ternyata tiket kalo langsung ke Sendai mahal banget. Kalo via Tokyo ke Tokyonya aja 4jutaan :(. Akhirnya lewat Osaka terus nyambung Sendai. Selanjutnya ada pertanyaan, tinggal di mana di Osaka?

Ada alumni IC di Kyoto. Hmmm tapi mayan jauh juga katanya. Terus di tengah-tengah kebingungan itu, Annisa, teman saya yang kuliah di Nagoya bilang ada alumni IC di Osaka. Kontak-kontakanlah saya sama kakak itu. Kak Lia namanya. Di Osaka sama keluarga kecilnya. Angkatan jauuuh banget. Kak Lia lulus IC 2002. Kak Vero suaminya lulus IC 2000.

Sebulanan kali ada udah kontakan sama Kak Lia, Maryam nanya. Nanti tinggal di mana? Saya bilang, di Ibaraki. Ada alumni IC di sana. Maryam kaget. Ibaraki itu kampusku Fiiiit! Saya kaget. Haaaa berarti deket dong. Bisa ketemu :") Saya juga kaget. Bener-bener nggak nyangka :"

Maryam bilang Selasa 28/6 dia cuma kuliah pagi jadi akan mengajak keliling Osaka. Dan pada akhirnya keterusan hingga Rabu 29/6 nganter-nganter ke Kyoto dengan bolos groupworknya :". Bahkan nyamperin juga pas saya baru datang tanggal 27.

Dear Maryam,
Semoga kita nggak sekadar jadi teman Sabtu atau #SahabatSampaiJepang ya. Lebih dari itu, semoga kita bisa jadi #SahabatSampaiSurga.

 :")

nb : kata Maryam kemarin pas likenya 153, ini foto terbanyak like sepanjang dia maenan instagram *tambahan foto laon menyusul ya ;)