Sabtu, 21 September 2013

Insan Cendekia dan Saya

Malem ini, entah untuk keberapakalinya saya benar-benar merasa bahwa bagaimanapun juga temen-temen IC emang yang paling ngerti~

Hari ini sebenarnya saya lelah. Dua kali menempuh perjalanan (kaki) kos ke MU serta ngerasa semi kecewa sama temen itu rasanya bener-bener nggak enak banget. Jadi intinya saya udah ada janji sama temen, eh ternyata entah sayanya yang gak peka (coba husnuzon) atau gimana dia malah ngira malem ini nggak jadi. Rencananya batal. Padahal demi janji saya sama temen ini, saya sampai merelakan diri nggak ikut acara IAIC Jogja. Sedih emang, tapi mau gimana lagi? Selain udah janji duluan dan...aaaah, ya sudahah.

Sebelnya karena temen saya nggak ngabari dari awal. Saya udah siap-siao mau berangkat, sms nanya gak dibales. Baru dibales setelah saya kirim sms kedua dengan jawaban dia pergi sama temen kosnya (padahal ke acara yang sama). Saya sebenernya nggak kecewa, atau iya kecewa tapi sedikit. Saya lebih kecewa karena dia nggak ngabarin (padahal entah gimana saya yakin dia ngerti janjian malem ini). Saya lebih suka diberi kejelasan daripada di-php-in atau digantung.

Akhirnya saya ngerasa pasrah aja sama Allah. Acaranya nggak jadi, IAIC nggak dapet (karena acara IAIC jam 18.30 dan saya nggak punya kendaraan buat kesana, sementara saya tahu temen-temen yang lain udah berangkat dari tadi-tadi dan saya nggak mungkin minta mereka jemput).

Jadi, saya memutuskan buat membahagiakan diri sendiri dengan cara sendiri. Meski tahu itu cuma semu :"

Uuuuh tapi Allah selalu punya rencana baik. Dan kebaikannya itu lewat temen-temen IC. Entah apa yang bikin Tyani sms dan kemudian tanpa tanya-tanya Tyani sama Pipeh lewat sms mereka masing-masing bilang kalo Nikari jemput saya. Ya Allaaaah nikmatMu sungguh terasa lewat mereka.

Rasanya nggak ngerti lagi kenapa temen IC bener-bener baik dan sungguh mengerti. Saya speechless beneran. Pas dateng saya cuma bisa diem, mandangin temen-temen yang lagi makan. Lebay? Terserah deh. Tapi mungkin kamu juga ngerasa kayak gitu kalau jadi saya. Setelah sekian lama nggak ketemu sebanyak ini teman IC(dari bulan puasa; bahkan saya nggak ikutan bukber IAIC Jogja sama ulang tahun Gycen bareng Gycen Jogja), gimana saya nggak ngerasa terharu ngelihat mereka semua? Kalau bisa, pengen saya peluk satu-satu deh yang ceweknya :"

Kakak-kakak Nozo cowok yang begitu solid sampe sekarang. Kakak ilkom yang langsung dipanggil-panggil begitu saya dateng. Anak-anak Foranza Jogja, Kak Zaim dengan senyum ramahnya pas saya sama Nikari datang, Kakak-kakak Axivic, Gycen cowok yang rame sendiri di meja makannya, Gycen cewek yang anteng-anteng makan; yang selalu saya kangenin.

Uuuuuh, terharu banget rasanya ketemu mereka. Sepanjang cerita masa pendidikan saya, saya ngerasa kalau temen IC-khususnya Gycen- yang paling ngerti dan mau mengerti. Oke kita nggak bisa hidup dengan bergantung selalu pengen dimengerti orang. Tapi kalau saya bisa kasih penghargaan ke mereka rasanya pengen bangeeeet. Bener kata Nadia AV di chat fb kemarin, di IC saya bisa menjadi diri saya sendiri. Saya tahu di kampus setelah setahun ke belakang saya banyak menjadi diri yang sesekali diliputi kebohongan. Bukan bohong sama orang lain, tapi saya banyak bohong sama diri saya sendiri. Saya tahu banget itu :"

Jadiiiii, terima kasih IC. Terimakasih atas kehidupan di dalamnya serta ukhuwah yang terus bisa dijaga smapai detik ini. Terima kasih Gycen, atas segala pengertian yang pernah ada. Atas segala kebaikan yang kalian punya. Atas segala rasa cinta yang ada di antara kita. Saya sayang kalian, dan semoga Allah selalu menjaganya atas nama persaudaraan dengan ikatan ukhuwah dan iman :)

Teruuuus (yaampun masih belum berakhir, Fit?), karena hari ini bertepatan sama Milad Insan Cendekia, kami semua nyanyiin Mars IC kesayangan. Sebenernya nggak semua, soalnya saya tahu saya sendiri nggak nyanyi. Aaaaah bagaimana mungkin bisa ikut nyanyi? Sementara badan saya bergetar hebat entah mengapa. Hahaha lebay ya? Biarin aja lah, terserah menilainya gimana. Akhirnya saya cuma menikmati getar itu sambil menunduk, memejamkan mata, dan akhirnya....mengingat IC; dari bangunan sampai segala buncah rasanya.

Halo Insan Cendekia Serpong, apa kabarmu kini? Semoga terus baik-baik saja ya. Nggak kayak saya, hehehe. Makin besar, makin pintar, semoga selalu menjiwai lagu marsnya. Saya sayang banget sama kamu, sama temen-temen yang kamu didik. Dan sangat berterimakasih sama Allah yang telah memberikan kesempatan untuk pernah berada di dalamnya : pernah belajar banyak hal di sana (aaaah jadi inget chatting sama Arum kemarin, tentang bagaimana IC bisa mendidik kita dari sisi apa yang kami dapat secara tidak langsung). Terimakasih Allah :).
kue Milad IC ke-17; diupload di grup IAIC oleh Pak Away :)

btw, nanti kalo yang IAIC Jogja udah pada ngupload foto saya revisi nih postingannya :)

Berharap Pada Allah

"Kalau kita memang sudah nggak bisa berharap pada manusia, berharaplah pada Allah..."

ini nasehat lama, yang entah kenapa hari ini benar-benar terasa oleh saya. Susah ya berharap pada manusia, kita mudah kecewa karenanya...ya Allah...kuatkan, kuatkan...

Kamis, 19 September 2013

Repost Quotes

"Obligations in life are far greater than the time we have to complete them" (Sheikh Hasan al Banna)


dari blognya Mbak Nurra

Apa Kabar Hati?


uuuuh, apa kabar hati? apa kabar hati? apa kabar hati?




gambar dapet dari sini yang katanya ngambil dari sini bisa juga dilihat di sini

Senin, 16 September 2013

Computer Science : Punah itu Tidak Selamanya

"Computer science, like many fields, is largely technology driven. The reason the ancient Romans lacked cars is not that they liked walking so much. It is because they did not know how to build cars. Personal computers exist not because millions of people had some long pent-up desire to own a computer, but because it is now possible to manufacture them cheaply. We often forget how much technology affects our view of systems and it is worth reflecting on this point from time to time.

In particular, it frequently happens that a change in technology renders some idea obsolete and it quickly vanishes. However, another change in technology could revive it again. This is especially true when the change has to do with the relative performance of different parts of the system. For example, when CPUs became much faster than memories, caches became important to speed up the “slow” memory. If new memory technology some day makes memories much faster than CPUs, caches will vanish. And if a new CPU technology makes them faster than memories again, caches will reappear. In biology, extinction is forever, but in computer science, it is sometimes only for a few years.

However, changes in the technology may bring back some of the so-called “obsolete concepts.” For this reason, it is important to understand why a concept is obsolete and what changes in the environment might bring it back again.

....The list goes on, but these examples should make the point: an idea that is obsolete today may be the star of the party tomorrow. "

page 77-78/1141-ebook Modern Operating Systems, Second Edition, by Andrew S. Tanenbaum

[edisi hari ini presentasi dan masih berjuang memahami materi; terus tadi nemu kutipan yang menurut saya cukup menarik-walaupun itu nggak dibahas di presentasi ini T^T. Di Computer Science, kepunahan itu tidak berlaku selamanya ! Mohon doa supaya paham ya teman-teman, supaya sukses juga presentasi SO-nya. Aamiin]

btw, obsolete-yang sering disebut-sebut di atas itu artinya kuno