Minggu, 25 Mei 2014

Menjadi Muslim, Artinya Tidak Berputus Asa

".........
Dan ketika aplikasimu sudah terkirim.
Terlalu banyak kemungkinan dalam setiap tindakan hidup. Aplikasimu sudah terkirim. Ada kemungkinan ketlingsut, nggak kebaca, terlewat, dan seabrek kemungkinan negatif lainnya. Tetapi menjadi Muslim, artinya tidak berputus asa sebelum takdir itu datang. Kita tidak akan mendahului takdir bukan? Singkatnya, setelah aplikasi terkirim, bersiaplah untuk tiga hal, satu, tidak terbalas tanpa berita sama sekali, dua, terbalas dengan jawaban tidak terima, tiga, terbalas dengan Alhamdulillah diterima. Dan harus siap untuk ketiga hal itu sekaligus. Karena kita tidak pernah tahu, jawaban apa yang akan kita terima, dan kita harus ikhlas dengan itu semua, apa pun itu.
Pernah tidak terjawab? Pernah. Pernah ditolak? Pernah.
Bersiap untuk dua hal pertama lebih pada urusan hati. Tetapi yang terakhir, ada banyak hal yang perlu diurus. 
........"
via tulisan Kak Sarah
Hei, apa kabar kau, Amaris?
Saya nggak lagi ngirim aplikasi apapun, apalagi yang berhubungan sama paspor atau urusan-urusan yang terdengar hebat bagi mahasiswa seperti yang saya dengar akhir-akhir ini. Saya sungguh...penasaran dengan kabar Amaris. Itu saja.

Dan Kau, Adalah Salah Satu Kasih Sayangnya Allah Untukku :')

Malam ini, saya teringat akan sebuah gambar yang pernah dikirim teman via WA. Tulisannya so sweet banget :

Dan kau, 
adalah salah satu kasih sayangnya Allah untukku.

Mohon maaf buat pencipta gambar aslinya, saya bahkan nggak tahu sumber aslinya itu siapa. (Semoga Allah mengalirkan pahala atas bermanfaatnya gambar ini merekatkan ukhuwah makhluk-makhlukNya, Aamiin).

Kenapa tetiba ingat gambar ini? Karena Gycen :')

Hari ini hari pertama rencana kunjungan panti yang dibikin dari (kalau nggak salah November) akhir 2013 akhirnya benar-benar terlaksana. Walaupun dari keseluruhan 26-an anak Gycen Jogja yang bisa hadir hanya 10 orang, overall acaranya berlangsung dengan baik.

Acara ini pertama digagas oleh Dhila. Sampai sekarang saya masih kagum banget sama usulan Dhila. Leader selalu bisa mempelopori, bukan :) ? Kemudian dimatangkan oleh Umar, dan survei pun dilakukan beserta bantuan teman-teman lainnya. Sekalipun terkendala waktu, anak-anak yang udah jarang banget ketemu di kampus besar ini, dan alasan-alasan lain, saya super salut sama tim inti yang benar-benar menggodok acara ini, walaupun hitungan tadi masih sederhana.

Saya ingat Dhila pernah posting file doc di grup Gycentium Jogja yang diposting beserta tulisan : "Sungguh wacana ini ingin sekali saya wujudkan menjadi realita." Jarkom ke semua biar pada baca, ngajak rapat, dan lain-lain sebagainya. Alhamdulillah, terlaksana juga :')

Kami pergi ke Panti Asuhan Sinar Melati 2 di daerah Pakem. Harusnya pergi habis Zuhur, tapi karena tadi ada tunggu-tungguan dan Dhila yang ternyata nggak dibolehin keluar meskipun udah selesai tes asdos, berangkatnya jadi agak molor. Nggak agak sih sebenarnya, mungkin molor banget. Bahkan Nabil yang mikir telat banget dan nyusul tanpa tanya kita udah sampai atau belum, malah jadi orang yang pertama sampai. Diso sama Pipeh? Bikin kue. Kenapa bikin? Kan lama, mending beli biar cepet. Biasa, kita ini orangnya emang pengiritan banget._.

Karena hari ini hanya kenalan, acaranya lebih ke motivasi sama games. Meskipun acara inti dari kunjungan panti yang insya Allah akan berkelajutan ini adalah ngajarin adik-adiknya belajar. Di rundown ada nobar juga tapi tadi waktunya kurang memungkinkan karena dimulai juga habis ashar. Meski awalnya agak garing karena semacam serba mendadak, tapi Nabil yang kelewat kece itu bisa merubah suasana menjadi asik. Yah, bisa terbayanglah Nabil gimana kalo jadi anak acara *throwback to PTS (Pekan Taaruf Siswa) Al-Qolam :D

Nabil minta semua anak buat gambar tentang benda yang paling gambarin dirinya, terus jelasin di depan. Habis itu di halaman sebaliknya dengan instruksi yang sama, tapi yang digambar beda yaitu tujuan hidup *lebih ke cita-cita sih. Ada dua yang saya terkesan. Pertama gambar kotoran, anak ini mengaitkan dengan pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan. Kemudian anak itu bilang,
"seburuk-buruknya kita, pasti Allah menciptakan memiliki manfaat"
Yang kedua adalah gambarnya Rohim. Dia gambar maling gitu kan di kertas yag buat gambar cita-cita. Nah terus pas dia maju anak-anak lainnya pada nebak plus bingung kenapa dia gambar maling. Usut punya usut dia ini pengen jadi wartawan. Aduh ngingetin banget sama Upin Ipin deh (cari deh di Youtube yang judulnya Bila Aku Besar, ada 3 part, dan liat itu benar-benar tergambar bahwa profesi apapun bermanfaat dan harus dihargai :)). Aamiin ya adik-adik semoga tercapai :'). Selanjutnya ya Nabil memotivasi gitu deh. Sayang sekali Abid, mantan Kepala Sekolah Ahad semasa di IC dulu telat datang. Padahal motivatornya harusnya berdua, Abid sama Nabil.

Selanjutnya hias kue :D. Ini menurut saya ide sederhana yang asik. Soalnya selain game *abis ini lomba*, terus bisa makan juga. Salut buat Pipeh dan Nida; yang terinspirasi dari lomba mereka di pondoknya dulu, Ngruki. Mereka berkelompok 4-5 orang, terus dikasih bolu yang ukuran loyang memanjang, butter cream, chocochip, sama butiran yang warna-warni (aduh gatau namanya-_-). Diminta ngehias sebagus mungkin. Saya nggak ngerti lagi sama sekelompok anak cowok yang kreatif banget motong tengahnya terus disanggah sama dua kanan kiri bolunya biar bolunya jadi bertingkat! Kreatif banget deh. Sayang fotonya belum dicopy nih dari kamera orang-orang, jadi gabisa diliatin...

Kalo lihat anak-anak di Panti, saya jadi ingat bahwa saya jauh lebih beruntung. Masih ada rumah, masih ada orang tua, masih ada keluarga yang bisa mendukung saya secara materi maupun non materi. Ah, harusnya saya lebih banyak bersyukur lagi.... Bahkan saya ingat, Kak Lutfi, kakak tingkat saya di Ilkom pernah cerita kalau ada anak di suatu panti asuhan yang berasal dari Bangka. Orang tuanya bekerja meladang di tempat yang jauh dan bisa berbulan-bulan baru pulang. Selepas SD orang tua ini memberi tiket ke Jogja pada anaknya, kemudian ia berkata, "Nak, kamu ke Jogja, cari panti yang bisa menampung kamu." Ah, dengernya aja rasanya udah nyesek banget waktu itu. Bayangkan, anak sekecil itu, baru lulus SD, sudah disuruh jauh-jauh ke Jogja cuma buat nyari panti karena orang tuanya sudah nggak mampu lagi menghidupinya. Sendirian pula. Garisbawahi itu.

Saya sama Dhila tadi jadi kepikiran buat ngarahin daftar IC nih buat adek-adek yang masih kelas dua SMP. Tapi ya baru kepikiran aja sih. Belum diomongin secara matang.

Kalo bisa, pengen sih sebenarnya nobar film-film pendek yang udah didownload Diso. tapi habis Maghrib mereka ada muhadhoroh (latihan pidato gitu). Kagum juga saya sama podium yang didesain anak-anak panti ini jadi mimbar buat pidatonya tuh keren banget. Bahkan sampai ada bendera merah putihnya segala di bagian kiri mimbar. Kerenlah pokoknya niat banget. Saeju, Nabil, Umar, sama Abid sempat nutup acara di mimbar itu. Terus kita langsung keinget banget announcement-announcement Sabtu malam yang suka diumumin habis selesai serangkaian Shalat Maghrib selama di IC. Ah, nggak ini aja sih, dari tadi anak-anak juga udah ngomong, jadi inget IC ya, jadi inget IC ya. Hahaha, IC selalu bikin susah move on ya? Masih aja...

Kembali ke Gycen. Hidup berasrama emang bikin segalanya lebih dekat dan lekat. Selow selow bareng, rempong rempong bareng, susah susah bareng. Bahkan seperti udah tau satu sama lain pake banget *harus bangetlah sekarang ini nyantumin kata banget :P*, sampe seaib-aibnya. Jadi inget gaya sok natural Nida pas tadi mau foto yang malah aneh banget sangat gak natural pas diliat *bertahun mendatang, entah kenapa saya yakin Saeju bakal tetep ketawa Da' kalau inget tampang kamu tadi :P. Meski Nabil yang usul kemping bareng Gycen dan malah diserang balik sama pertanyaan, "Emang Nabil bisa dateng?" mengingat Nabil yang sibuk parah. Tapi cukup mengharukan juga kalo dia sampe ngosongin agenda demi kunjungan panti hari ini :'). Padahal semacam seluruh dunia juga tahu sibkunya Nabil. Jadi ingat, Selamat ke Jepang September nanti, Bil!

Dan Gycen...adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah pada saya.....pada kita semua !

Lain kali, saya cerita game werewolf Gycen Joglosemar, ya^^!

gambar dari akun resmi @IAICbdg,
yah ini sih cuman seruseruan aja kali ya. Alumni IC belum banyak kok. Ini aja yang jadi alumni paling muda angkatan ke 16.

Kamis, 22 Mei 2014

Ada Saatnya...

“Ada saatnya dalam hidupmu, engkau ingin sendiri saja bersama angin, menceritakan seluruh rahasia, lalu meneteskan air mata.”
(Bung Karno, 1933)
via masitohmasi dari sumber asli terlampir di sana.  

Senin, 19 Mei 2014

#Quote : Takutlah kepada Para Sejarawan

"Takutlah kepada para sejarawan yang akan menulis di kemudian hari, bukan pada jurnalis yang menulis hari ini."
-Anies Rasyid Baswedan
dikutip dari buku Melunasi Janji Kemerdekaan
halaman 180

Yogyakarta ~ :')



Yogyakarta -Kla Project- 

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

(Instrumental)

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...

Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi (untuk s'lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu yang nan abadi)
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi (s'lalu pulang lagi)
Bila hati mulai sepi tanpa terobati

Reff:
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali (tak kembali)
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi (senyummu abadi)

(Music Ending)



Saya pertama kali dengar lagu ini kemarin, saat acara #MimbarInspirasi di FK UGM. Yang nyanyi Suara Bhineka, grup akustik yang isinya tiga orang, anak Psikologi, Gizi, sama FEB. Terus baru denger saya langsung semacam tercuri perhatian *apasih fit, bahasanya-_-. Pertama, mereka nyanyinya bagus banget, terus entah kenapa, saya (yang akhir-akhir ini mendegar isu tentang peran kepemudaan) langsung mikir :

1. Banyak anak muda keren sebenernya di negara ini. Bahkan jangan jauh-jauh negara. Saya langsung flashback ke kampus saya yang isinya banyaaaak banget mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu yang di pundak kitalah tersimpan harapan akan kemajuan bangsa. Aduh mikirnya jadi kemana-mana ya padahal cuman ngeliat mereka bertiga doang. Itu pun mereka cuma nyanyi. Tapi seriusan, lagunya bagus, dan suaranya bagus *nggak sampe kayak video di atas itu lah, itu mah banyak yang nyanyi. Ini cuma satu orang vokalisnya, tapi baguuuus :3 Dan bakat ini bisa jadi suatu saat punya dampak besar buat sekitar. Siapa tahu? :)

2. Lagu ini isinya tentang Jogja. Saya sebenernya langsung keinget Cibinong sih. Hihi, agak ga nyambung ya? Jadi gini, saya ngebayangin ini adalah perasaan orang Jogja atau setidaknya pernah tinggal dalam jangka waktu tertentu di Jogja dan sudah mencintai tanah istimewa ini. Nah terus suatu saat dia kangen banget gitu sama Jogja. Terus lagu ini kayak membangkitkan kenangan gitu deh.

Saya jadi keinget Cibinong karena kalo saya inget-inget, ini menginjak tahun kedelapan saya nggak sekolah dekat rumah. Cuma bisa pulang jarang-jarang dan...ya gitu deh ngga gitu up to date sama keadaan Cibinong Jadi kalo misalnya pulang ke rumah itu, misal libur sekolah atau sekarang libur kuliah pulang ke Cibinong, rasanya tuh semacam ada perasaan yang...aduh susah lah diungkapinnya :P. Saya benar-benar menikmati Cibinong. Angkotnya, macetnya, pemandangannya, kenangannya *uhuk padahal mah biasa aja, cuma dramatisir :P . Ujung jalanan Pemda yang kini beridiri mall besar. Bahkan mal yang kian tumbuh di sisi-sisi Jalan Raya Jakarta Bogor, ruko-ruka Jalan Mayor Oking, perumahan-perumahan mini, pembangunan di mana-mana. Walaupun saya akui kalau nggak suka juga sih jadi banyak mall gini. Dan kata Abi, Cibinong itu bukan wilayah yang penduduknya banyak kayak Bandung atau Jogja misalnya yang penduduknya makin banyak sama mahasiswa. Tapi ngeliat Cibinong sedang tumbuh itu rasanya... :')

Kadang kalau lagi pulang dan di kendaraan umum, saya suka kepikiran, Cibinong beberapa tahun lagi, 20 tahun lagi, misalnya, udah kayak apa ya? Sekarang aja pasar kaget pagi hari Pemda *semacam sunmornya Cibinong, lah* udah nggak ada gegara pembangunan mall. Saya nggak kebayang rasanya ketika beberapa tahun lagi ada di sana suasananya sudah jauh berubah. Kadang-kadang aja pulang-pulang udah ada pembangunan mall, atau ITC yang namanya jadi ganti jadi Cibinong Mall. Atau Gramedia yang udah ga ada di Cibinong T^T *yang ini sedih. Harapannya sih makin banyak taman dan kawasan hijau, terus ada kereta lagi di stasiun deket rumah yang udah lama banget gak aktif itu.

That's really something ketika lewat jalanan setu, jalanan depan RSUD, jalanan ke Al-Ishlah, jalanan belakang Al-Ishlah, jalanan tempat saya nyari nomer enambelas tapi gaketemu-ketemu sampe sekarang, jalanan perpustakaan umum, bahkan jalanan lewat depan kantor polisi sekalipun. Saya bersyukur ada di Cibinong yang notabene ibu kota Kabupaten Bogor. Ujian SIM (yang ngulang berkali-kali T^T) setidaknya nggak jauh-jauh amat dari rumah. Saya nggak kebayang yang tinggal di Cileungsi sana kalo mau ujian SIM mesti ke Cibinong. Hemh, harusnya emang ujian SIM nggak usah terpusat gini kai ya, di Cileungsi misalnya ada juga tempat buat ujian SIM. Tapi mungkin emang nggak mudah ngurus hal itu.

Cibinong ngangenin. Beneran. Saya kangen jalan sama Ummi dari rumah sampai gang depan. Kangen liat tukang-tukang depan gang itu. Kangen jemput Fatih di sekolahnya. Ah, sekalipun mungkin menghabiskan waktu di Cibinong juga cuman 8-9 tahunan (yaampun, berarti waktu saya di Cibinong dan diluar itu sudah hampir mendekati sama!). Bahkan lebih up to date-an adek tentang daerah dan jalanan kemana-kemana dan tentang bapak ibu tetangga yang rumahnya agak jauh. Ah, tapi bagaimanapun, saya selalu suka...dan rindu :')

3. Yogyakarta Istimewa
Saya sebenarnya belum cinta-cinta amat sama Jogja. Iya, cinta kan butuh proses *aish._. . Tapi kalo dari lagu ini rasanya jadi inget lagi tentang sisi Jogja yang udah pernah saya tau (iya emang baru sedikit sih). Kalo kata Pak Anies Baswedan, "Jogja itu setiap sudutnya romantis." Dan kalo kata Pipeh (dikasih tau Nikari), "Kalau udah nikah nanti kesini (Malioboro) sama suami!" Yah, kalo makna tersiratnya sih soalnya Malioboro pas malem bagus banget dan kalo kesana bareng suami mungkin seru dan so sweet kali yah (mungkin yah, Pipeh lo yang bilang bukan saya :P). Ah tapi kan emang yang penting bukan di mana tapi sama siapa *aduh, fokus Fit, fokus!

Seperti yang dibilang, ada banyak musisi jalanan yang kreatif di sini. Mereka nggak ngamen pakai kecrekan kayak di angkot-angkot Cibinong. Mereka kayak paduan angklung yang kece banget (bahkan kalo ikut Avalanche -acara Divisi Bahasa OSIS IC- kayanya bakalan menang). Bahkan terkenal sampe kalo ada acara ada yang dipanggil buat jadi bintang tamu. Ga bakal tau sih kalo belum liat sendiri. Orang saya aja yang di sini belum pernah merhatiin banget dari awal sampe akhir *ketauan jarang kemana-mana*. 

Terus apa ya, ramai kaki lima. Kalo ini sih saya inget nasi kucing deket kosan. Harganya seribu, terus enak :) *abis ini ditanyain di mana itu jualannya* Iya kalo makan satu kurang kenyang sih, makanya belinya lebih dari satu :P. Tapi selain inget itu jadi keinget juga cerita Najwa Shihab pas kemarin beli nasi kucing depan kantor KR di Jalan Mangkubumi. Pengen deh kapan-kapan nikmati suasana malma Jogja kayak gitu, hehe.

Apalagi ya? Kalau liat lagunya yang disorot selain rasa haru dalam rindu itu ya musisi jalanan sama ramai kaki lima. Banyak sudut Jogja yang memang belum pernah saya kunjungi, sih. Overall, saya yakin setiap tempat memiliki kenangan dan kesannya masing-masing. Terutama buat penduduk asalnya, suatu tempat pasti punya kesan tersendiri. Eh nggak penduduk asal juga, sih. Pendatang juga *inget dua asrama yang pernah saya huni sebelum kuliah :')