Kamis, 08 Oktober 2015

Seberapa Berguna [Tentang Rafi]

Pagi ini saya mengembalikan tupperware ke rumah Bude di daerah Minomartani. Tidak langsung pulang, TV yang dinyalakan sejak sarapan masih menyiarkan tayangan. Sampai pada tayangan yang detik ini meminta saya menyelesaikan tulisan ini sekarang juga; menunda kepulangan saya.

Kompas TV hari ini menyiarkan berita soal Rafi, anak kelahiran 2013 (it means sekarang baru jalan 3 tahun) yang lahir tanpa usus dan anus, serta alat kelaminnya tidak sempurna. Kalau dilihat wajahnya, tidak tampak bahwa Rfi tidak seperti anak-anak lainnya *wajahnya aja lucu banget*. Ibundanya dengan sabar memasangkan kantung kolostomi sehari kurang lebih sampai tiga kali untuk menampung fesesnya. Satu bulan bisa dua sampai tiga kali bolakbalik ke rumah sakit. Dan baru-baru ini, dokter mengatakan ada alternatif untuk Rafi, sebuah operasi untuk memasang anus dan menyempurnakan alat kelamin Rafi. Sayangnya, selain biaya yang tidak sedikit, alat kelaminnya kelak akan jadi alat kelamin perempuan; tidak bisa operasi agar alat kelaminnya jadi alat kelamin laki-laki. Ibunda Rafi begitu khawatir sebenarnya soal kondisi Rafi. Bagaimana jika nanti kelak sampai besar ia harus memakai kantung kolostomi?

Pernah suatu kali, ibundanya bercerita, Rafi kelupaan bernafas. Perlu diingat bahwa pada usia anak-anak, mungkin nafas belum bisa dimaknai sebagai suatu yang dilakukan sebagai makhluk hidup. Tubuh Rafi mulai membiru, dokter meminta Ibu Rafi untuk memegang tangannya. Ibunya memegang tangan Rafi. Ia berdoa sekuat yang ia mampu. Saat itu, ia pun membatin bahwa ia belum siap kehilangan Rafi. Kemudian Rafi ditangani oleh NICU dan akhirnya Rafi bisa bernafas kembali.

Saya menangis mendengar cerita Ibu Rafi. Tidak terbayang bagaimana perjuangan hidupnya tiga tahun belakangan mengurusi anak seistimewa Rafi. Presenter TV tadi mengatakan, kalau kita punya anak seperti Rafi, pasti juga mengerahkan apapun untuk Rafi. Kejadian Rafi adalah kejadian langka di dunia. Kalau tadi saya tidak salah dengar, hanya satu dibanding satu juta. Dulu pernah terjadi juga di Bangladesh, tapi anaknya tidak bertahan hidup lama.

Ibunda Rafi tadi bilang kalau tadinya ia ingin menutupi apa yang terjadi pada Rafi. Tapi semakin dipikir, untuk apa juga menyembunyikan Rafi. Anaknya sehat (bahkan di studio TV pun tadi Rafi terlihat sangat lincah dan ngga bisa diem).

Ibu dan Ayah Rafi kemudian membuat kaos yang bertulisakan "Aku Akan Terus Berjuang". Tadinya hanya dibuat untuk menyemangati diri sendiri. tapi lama kelamaan akhirnya dijual juga via akun media sosial instagram @sayangrafi. Dijual dengan harga seratus ribu rupiah per kaos mungkin tidak membantu banyak utuk memenuhi biaya operasi Rafi. Tapi, yang juga sangat menyentuh bagi saya adalah, harapan Ibunda Rafi agar kaos itu dapat turut mengembangkan semangat orang lain. Ketika kaos itu dijual begitu banyak orang yang pesan, bahkan juga orang-orang yang berada dalam kondisi kesehatan tidak baik. TKI di Malaysia pun ada yang pesan.

Selain terharu karena perjuangan dan kesabaran kedua orang tua Rafi, saya terharu pada bagaimana Rafi, seorang anak yang lahir dengan kondisi istimewa dapat membuat orang lain turut bangkit semangat dengan mengenakan kaos yang dijual ayah bundanya yang desainnya hanya tulisan Aku Akan Terus Berjuang. Sesederhana itu, tapi entah mengapa efeknya luar biasa. Harapan Ibunda Rafi agar kaos itu menularkan semangat bagi saya terlihat seperti bagaimana agar kondisi Rafi bukan sekadar membuat orang prihatin, tapi bagaimana ia menggugah semanga orang lain.

Saya jadi berpikir, selama hidup, seberapa berguna saya ada di dunia. Seberapa besar efek positif yang saya berikan pada sekitar. Rafi masih anak-anak. Kondisinya tidak sesempurna kita. Tapi ia (tentu dengan peran orang tuanya yang begitu besar) mampu mendongkrak semangat orang lain. Ah..Rafi cepat sembuh ya Dek :')

instagramnya dapat dicek di sini : https://instagram.com/sayangrafi/
cerita tentang Rafi dapat dibaca lebih lengkap di sini : http://adasena.blogdetik.com/2015/01/11/akun-instagram-sayangrafi-sebarkan-semangat-terus-berjuang/


Tidak ada komentar:

Posting Komentar