Keluarga

Minggu, 28 Agustus 2016

Sebagaimana postingan sebelumnya, ingatan soal ini menstimulus saya untuk meninggalkan print-printnan yang sedang saya baca. Sudah gemas rupanya.

Bukan tentang keluarga saya (atau mungkin nanti ada sebagiannya). Tapi saya pengen cerita soal keluarga, secara umum, sepengamatan saya.

Suatu ketika saya menemukan realita kakak kelas saya, yang gaul banget tapi termasuk yang saya respect-in karena gaulnya bukan tipikal hedon. Yang sederhana, dan belakangan saya kagum karena cerita temen soal kehati-hatian kakanya milih makanan. Yang lebih paham dan tau menempatkan bagaimana bersikap sama tipikaal orang kayak begini dan begitu. Yang saya kira termasuk tipikal objektif yang nggak mudah misuh kalau ada isu baru, yang barangkali sekelilingnya lebih suka misuh duluan.

Terus randomly saya baru tau kakanya ini kakanya temennya temen saya di kampus lain. Terus saya jadi kepo kan #duh. Terus ada kesimpulan yang saya tarik. Soal keluarga. Ada sikap-sikap si kakak yang merupakan cerminan dari keluarganya.

Suatu waktu saya teringat sama cerita orang yang ibunya rajin banget sholat sunnah. Bukan cuma yang muakkad, bahkan yang ghairu muakkad juga dikerjain. Syukrul wudhu kalau bisa pun dikerjain. Belakangan, pasca sholat anaknya suka keinget ibunya yang nyaris selalu nambah sholat sunnah. Meski nggak selalu ngefek sama anaknya jadi serajin ibunya, tapi rajin dia secara otomatis jadi alarm tersendiri buat ngingetin dia soal keutamaan shalat sunnah sebagai penyempurna shalat wajib.

Saya keinget cerita temen, anak psdm di salah satu organisasi kampus yang sering dicurhatin temen-temen organisasinya. Dia bilang, rata-rata temen yang punya masalah adalah karena ada aja hal yang brmasalah di keluarganya. Temen saya ini meski sibuk banget tapi njaga hubungan sama orang-orang di sekitarnya cool banget. Termasuk keluaarga, bahkan se kakek neneknya. Dan boleh jadi, itu pula yang membuat dia sestabil itu di perhelatan dunia kampus dan bisa jadi tempat curhat yang baik buat anak-anak di sekitarnya. Karena di rumah dia juga sangat didengar dan dia punya tempat pulang yang nyaman di keluarga.

Saya juga teringat soal orang yang sebelum kuliah ibunya cerita kalau beliau pernah menarget usia 19 tahun untuk kurban pertama kali. Jadilah si anak berupaya menarget pada usia yang sama dengan ibunya, 19, sebagai target kurban pertamanya. Dan setelahnya dia tetap menjaga semangat berkurban itu agar tidak putus di usia selanjutnya.

Saya teringat teman saya yang punya cita-cita tinggi sekali soal sekolah, ayahnya dosen, dan juga sekolahnya tinggi, Saya ingat teman saya yang ayahnya termasuk pejabat publik, lalu ia juga ingin jadi pejabat publik, menjadi pemutus kebijakan yang baik untuk daerahnya. Saya ingat teman sya yang begitu bangga dengan ibunya yang ibu rumah tangga, yang bisa mengajari dia apa-apa lebih dulu daripada sekolah. Sehingga dia merasa ranking di sekolah yang dia peroleh itu wajar, karena itu memang hal yang ia pelajari di rumah. Semangat temen saya ini tinggi buat ikut sekolah calon ibu, yang katanya nanti kalau nggak secepet itu berguna buat dianya, dia bisa sharing ke ibunya materi yang didapat. Saya teringat foto-foto wisuda yang meluap-luap di sosial media, diupload foto yang  bersama orang tua, atau jika tidak, maka captionnya akan mebawa-bawa orang tua. Menyatakan terima kasih, menyatakan dedikasi, menyatakan merekalah alasan dan atau penyemangat terbesar di balik seluruh perjuangan ini.

Baiklah, barangkali ini memang tidak bisa terlalu di generalkan bagi semua orang. Tapi saya ingin menarik kesimpulan.

Bahwa keluarga memberikan efek yang sangat besar bagi anak-anaknya. Pola pikir, pola asuh, pola berpakaian, pola mengambil keputusan, bahkan yang remeh sampai pola ketawa, pola milih makanan, cara masak. Juga standar-standar dalam keluarga yang akan menurun pada anak-anaknya. Sekali lagi, boleh jadi memang tidak semua.

Dan....sesunggunya poin dari perenungan ini semua membawa saya pada satu titik pertanyaan besar, keluarga seperti apa yang kelak akan saya bangun :"

//habis baca ini jangan-jangan komennya yaelah fit--". Tapi saya sungguhan serius kepikiran ini dari hal-hal yang diurai di atas.

karena keluarga, dari pengamatan-pengamatan itu, adalah batas, adalah pengendali, adalah lingkungan pertama, adalah tempat pulang, adalah titik bangkit, adalah pijakan, adalah tempat menjadi diri sendiri. yang menjadi sekolah keseharian anak-anaknya, karena di sanalah ia melihat bagaimana keseharian orang tuanya. yang menjadi pola kopian yang akan mengganda. yang akan jadi pola sikap, atau bahkan pola hidup. jadi orang-orang, jadi lingkungan yang pertama kali diliat, dan dijadiin referensi.

makanya terus jadi mikir, bahkan terbersit takut. tapi memang nggak ada jawaban lain selain hadapi dan terus belajar sih, to be honest.

:")


6 komentar:

  1. drpd terus terusan mikirnya "gak kebayang kudu gimana"
    "nggak ada jawaban lain selain hadapi dan terus belajar" iya banget ya fit :"

    BalasHapus
    Balasan
    1. fitri sukanya dimana, ayok ketemu :3 atau kamu main rumahku aja :p

      Hapus
    2. Nana jam kerjanya gmn emang skrgg? Iya eh blm prnh main Klaten

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Kakak kelasmu yang kamu maksud di tulisan ini, apakah kakaknya Atikah Zahra?

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS