Kamis, 22 September 2016

Maka barangkali, jika Allah pemilik segala. Jika Allah penentu segala. Lupa kita pun ada maksudnya. Lalai kita ada tujuannya.
Mempercayai Allah sebagai konsekuensi keimanan berarti yakin setelah kesulitan ada kemudahan. Meyakini Allah menilai segala usaha kebaikan, walaupun itu kecil. Yakin seyakin-yakinnya.  Setelah usaha panjang, yang jika hasil dunianya tak nampak, semoga Allah ganti sebagai bekal hadapi akhirat.
Karena selama segalanya ada pada koridor syariat, ridha Allah lah sebaik-baik jawabnya.
Senyum itu harus senantiasa terkembang sebagai bentuk upaya tabungan sedekah. Walau akhir-akhir ini, tetiba rasanya jadi berat. Kadang-kadang setelah memupuk semangat, perjumpaan satu dua meruntuhkan dinding pertahanan lawan sifat kekanakan. Kadang-kadang, setelah menabung percaya diri, obrolan kanan kiri patahkan keyakinan. Padahal, kata Nadiyah yang penting kita yakin.
Hari ini, saya menyadari. Saya bukan takut ditinggal karena saya takut pergi sendirian.
Saya takut ditinggal
.
.
.
karena saya takut tidak bisa menyusul....


Masih di Jogja.
Masih bingung besok ikut ke IC dan nikahan eja atau enggak. Padahal sudah beli tiket pp.

Terimakasih : kabar buruknya, dir; kabar bahagianya, lim; teleponnya, fah; obrolannya, cep; optimismenya, kakfin, pertemuannya, dis. Semoga ini semua melahirkan kebaikan.
Siang menuju sore ini, terlalu banyak hal yang terjadi .

2 komentar:

  1. Kak fitri semangaaaaat. Jan galau2 mba, kata umiku putus asa cuma buat orang kafir muah muah

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS